Mengakui Rasa, Bukan Ratna

Saat tulisan ini dibuat, saya sedang sakit. Agak aneh menulis kalimat barusan.
Mari kita ulang lagi.

Saat tulisan ini dibuat, saya sedang dalam masa istirahat karena sedang sakit. Okay, that is somewhat better.

Mendadak di awal minggu ini, rasa sakit yang menyerang persendian di kaki saya muncul lagi. Ini penyakit tahunan yang sudah saya alami sekitar hampir satu dekade terakhir ini. Jadi memang kemunculannya, meskipun tidak pernah saya tunggu-tunggu, sudah tidak mengagetkan lagi. Dan selama tiga tahun terakhir, memang serangannya selalu muncul di bulan-bulan ini. Tahun 2016, munculnya pas pemilihan Presiden Amerika Serikat di awal November. Tahun lalu, maju lebih awal, di bulan September. Dan tahun 2018 ini, di minggu pertama bulan Oktober.

Oh, by the way, penyakitnya adalah asam urat. Tubuh saya mempunyai kadar asam urat di atas normal, yang kalau sudah mengkristal akan mengendap di persendian, menghasilkan sensasi ngilu dan nyeri luar biasa yang membuat saya tidak bisa bergerak.

Kalau sudah begitu, mengingat penyakitnya datang setiap tahun dalam periode yang nyaris teratur, apakah sudah mempersiapkan diri sebelumnya?
Jawabannya “ya” dan “tidak”.

Young woman sleeping in bed beside the window

Young woman lying in bed, looking towards through the window – black and white photo.

Sebisa mungkin saya memang menghindari makanan-makanan pemicu naiknya kadar asam urat. Kacang tanah sudah saya jauhi, lalu durian, emping dan kepiting sudah tidak pernah dikonsumsi lagi. Toh makanan hanya salah satu pemicu, bukan yang utama. Buktinya kejadian ini terjadi setelah saya lari dan olahraga selama 3 hari berturut-turut.

Selain persiapan di atas, jawaban “ya” muncul ketika kita mendengar apa yang dialami tubuh kita. Entah bagaimana saya menerangkan ini kepada anda, tapi kadang kita bisa merasakan apa yang tubuh kita alami, berikut perubahan-perubahannya, saat kita mau sakit.

Hari Minggu yang lalu, saat saya mulai merasakan gejala tidak beres, intuisi saya langsung mengatakan, “Here it comes. That time of the year.
Dari situ saya langsung beli obat-obat yang diperlukan. Beli tambahan air mineral, dan bahan makanan untuk seminggu ke depan. Ambil uang tunai yang cukup. Membuat “mini station” di dekat tempat istirahat, seperti pernah disarankan Glenn dulu, karena mobilitas saat sakit jadi jauh berkurang.

Favim.com-35077

Yang saya tidak siap, dan tidak pernah siap, adalah pekerjaan. Mendadak minggu ini banyak meetings dan acara yang harus dihadiri. Untuk meetings, mau tidak mau harus didelegasikan ke orang lain, atau dilakukan lewat email. Untuk acara-acara, mau tidak mau harus absen dari kehadiran. Mengerjakan hal-hal lain yang tetap membuat otak tidak berhenti berpikir, meskipun badan sedang istirahat.

Kalau dilihat dari pengalaman-pengalaman pribadi saat terkena serangan asam urat di tahun-tahun sebelumnya, memang agak dramatis. Hampir semuanya ended up di ruang unit gawat darurat. Pernah pingsan tahun lalu. Perlu waktu cukup lama untuk bisa jalan secara normal lagi.

Makanya, tahun ini, at the very moment waktu sudah merasa mau sakit, saya bertekad habis-habisan untuk sebisa mungkin tidak mengalami hal-hal parah seperti dulu. Walaupun cuma sekedar ke toilet atau dapur yang sangat dekat, saya berjalan dengan tongkat, supaya energi tidak banyak terbuang, karena masih harus memulihkan diri dalam waktu cepat. Memilah obat-obatan mana yang harus dikonsumsi segera, dan mana yang bisa dikurangi dosis pengkonsumsiannya. Minum lebih banyak air putih. Istirahat lebih lama.

Waktu tulisan ini dibuat, saya masih belum pulih 100%. Perasaan saya saja yang mengatakan kalau kondisi saya sudah mendingan. Tapi “mendingan” saja tidak cukup. Harus benar-benar pulih sebelum bisa beraktivitas secara normal lagi.

clipart-sleeping-bedrest-8

Dan percaya atau tidak, momen favorit saya waktu sakit ini adalah saat bangun tidur di pagi hari. Waktu beranjak tidur, penderita sakit seperti ini perlu waktu lama untuk terlelap, karena rasa ngilu dan nyeri yang masih ikut “melek”. Lalu saat bangun pertama kali, untuk mematikan suara alarm, kadang saya merasa takjub, karena rasa sakit di persendian seolah-olah hilang. Hanya ada rasa hampa di kaki saya. Lalu saya setengah terlelap sebelum benar-benar membuka mata. Saat benar-benar bangun, seperti ada desiran yang mengalir di bawah kaki, mengembalikan rasa sakit seperti sedia kala. Terus terang saya tersenyum mengamati dan merasakan sendiri hal ini beberapa hari lalu. Seolah-olah rasa ngilu dan nyeri itu ikut tidur, ikut beristirahat sejenak bersama si empunya badan.

Di situlah saya merasa bahwa kita hanya perlu mengakui rasa sakit yang kita alami tanpa perlu merasa kesakitan.

Advertisements

6 thoughts on “Mengakui Rasa, Bukan Ratna

  1. Masss..terima kasih banyak udah nulis pengalaman sakitnya..Aku sendiri juga lagi dalam pemulihan sakit bronkitis dan untuk pertama kalinya menelan kenyataan kalau satu-satunya yang bisa aku andalkan adalah diri sendiri. Aku sedih sekaligus merasa ikut pahit baca ini, Ngerasain merangkak-rangkak kesakitan krn otot dada dan diafragma udah ketarik parah sambil batuk darah campur dahak.. masih ngusahain mandi buat anter diri sendiri ke RS sambil ngefly codeine. Banyak lagi deh huhuhu curhat maafin :'( I feel so lonely for being weak and permanently sick. Being vulnerable sucks.. Cepet pulih dari asam uratnya ya, Mas!! Semoga bisa bergerak bebas lagi seperti sedia kala :))

    • Hey, no worries. Thank you juga udah sharing di sini. And you’re never lonely. Kalau lagi sakit, teman terbaik kita kadang memang dunia maya. Sekedar mencurahkan rasa sakit ke “publik”, paling tidak akan membuat kita lega sedikit. Semoga lekas membaik ya.

Leave a Reply