Membayar (untuk) Ego

TERASA sangat menyenangkan, buaian ego berhasil menaklukkan hampir semua orang. Sensasi yang disuguhkannya hampir mirip candu; membuat kita selalu ingin merasakannya lagi, dan lagi, dan bahkan lebih lagi.

Seperti yang sempat ditulis beberapa pekan lalu, ego selalu lapar agar bisa menjadi besar. Ia butuh asupan secara konsisten, dan dengan rakus melahap apa yang ada di hadapannya.

“Makanan” bagi ego adalah segala hal yang membuat kita merasa penting dan signifikan secara positif. Sesuatu yang bisa bikin bangga, atau gembira. Oleh sebab itu, permintaan terhadap pemenuhannya pun selalu tinggi. Uang menjadi sesuatu yang sangat penting, demi kebutuhan-kebutuhan pembuai ego.

Berikut beberapa di antaranya, dan ini bukan perkara benar atau salah.

  1. Ego Trip

Sudah gamblang dari nama program yang ditawarkannya. Paket perjalanan ini bukan sekadar untuk berwisata, titik beratnya justru pada foto-foto yang dijanjikan ada di akhir kegiatan.

Berlatar belakang panorama dan pemandangan yang indah, atau objek monumental dengan komposisi fotografis, para pembeli paket bisa mendapatkan sekurang-kurangnya belasan foto Instagram materials. Tujuannya tentu agar layar Instagram terlihat lebih kece dan dikagumi orang lain. Dihujani likes dan komentar pujian, untuk kemudian bikin mereka kepingin juga.

Efek sampingnya, tidak sedikit peserta paket wisata yang malah menyembunyikan informasi tentang program ini. Biar ekslusif dan tidak pasaran. Dalihnya.

 

  1. Fotografer Pribadi

Asalinya, fotografi bertujuan untuk mengabadikan sesuatu. Menghasilkan penanda dan pengingat visual yang tak lekang zaman. Fungsinya bergeser seiring waktu, menjadi penghasil cenderamata yang menampilkan keindahan objek di dalam gambar, termasuk para manusia.

Berbeda dengan pejabat publik, yang demi keterbukaan dan transparansi dituntut dapat terpantau khalayak, makin banyak orang memerlukan fotografer demi rasa senang dan pembesaran ego. Bukan lagi untuk menghasilkan kenang-kenangan sebagai tujuan utamanya.

Fotografi pranikah, menghasilkan foto-foto pelengkap dekorasi lokasi pesta—mungkin itu sebabnya tidak ada foto post-wedding, atau juga membuat pasangan mempelai merasakan sensasi bak fotomodel. Begitu pula dengan fotografi kehamilan, yang tetap saja terfokus pada penampilan sang calon ibu dengan perutnya yang sudah membesar sedemikian rupa. Terkadang juga didampingi sang suami. Sekali lagi, ini tidak salah. Setiap orang berhak difoto dalam kondisi apa saja. Misalnya, satu paket. Pre-wedding, saat pemberkatan pernikahan, saat resepsi, saat malam pertama, fotografi kehamilan, saat melahirkan, dan seterusnya. Bebas.

  1. Jual Followers dan Likes Instagram

Entah, apakah ini menjadi latar belakang penggunaan sebutan follower di ranah media sosial, atau kebetulan belaka. Pastinya, istilah follower atau pengikut punya dampak khayali yang cukup kuat sebagai efek sampingnya.

Sejak awal, sudah banyak pengguna media sosial yang terjebak ilusi merasa signifikan dan penting melalui angka pengikut. Tanpa sadar telah keliru, mereka menganggap para pengikut tersebut adalah penggemar, orang-orang yang sebegitu sukanya dengan pemikiran dan tingkah laku digital mereka.

Tak heran gelombang “folbek dong…” mustahil surut, dan banyak yang menganggapnya serius. Tidak followback di media sosial bisa memengaruhi pertemanan di dunia nyata. Sekali lagi, ini menunjukkan betapa membuai sekaligus menipunya angan-angan tentang jumlah pengikut dan kesan signifikan.

Kebutuhan akan angka pengikut ini pun ditangkap sebagai peluang bagi sekelompok orang. Mereka beternak akun yang siap menjadi followers konsumen. Harganya pun jauh dari mahal, bisa dimulai dengan seharga segelas teh susu ala Taiwan untuk penambahan seratus pengikut.

Efek dominonya, tren ini ditangkap sebagai gejala baru pemasaran digital, dan landasan penambahan fitur platform media sosial itu sendiri. Para pemilik akun media sosial berpengikut banyak digelari Selebgram, Selebtwit, sekaligus Influencer—para pemengaruh publik. Mereka memasang tarif iklan, pengiklan pun mengalokasikan bujet bagi mereka. Maka, jangan heran mengapa Awkarin menjual akun kepada … dirinya sendiri. Suka-suka dialah. Toh, tetap banyak juga followers-nya.

 

  1. Penyedia Penonton Bayaran

Khusus yang satu ini, tidak semata-mata untuk membesarkan ego penggunanya. Dalam beberapa kasus, penonton bayaran dihadirkan supaya memeriahkan suasana dan studio, sekalian agar tampak cantik di foto dan hasil siaran.

Di luar itu, kehadiran penonton bayaran tentu diperlukan penyelenggara guna mendapatkan suasana ramai bagi bos atau atasannya. Terserah apa sebutannya, penonton bayaran seringkali dikenal juga sebagai fans atau anggota komunitas pengguna merek tertentu. Praktik ini biasanya terlihat saat acara peluncuran apa pun.

  1. Pengajar Kursus Seni Sekaligus Juri

Kerap dilakukan para orang tua muda kepada anak-anaknya, umumnya dengan alasan yang mudah dibelokkan. Di satu sisi, mereka mengaku ingin memberikan pendidikan keahlian terbaik bagi putra putri mereka. Di sisi lain, mereka sendiri yang sebenarnya haus rasa bangga dan keinginan memamerkan anak-anak mereka dibanding orang lain.

Diikutkan kursus menggambar dan mewarnai, lalu memenangkan lombanya. Begitupun pada kursus musik, modeling, dan sebagainya. Apakah mereka pernah bertanya atau berusaha mencari tahu apa bidang yang sungguh-sungguh diminati oleh anak-anak mereka, sebelum menjejalinya dengan agenda yang padat?

Ada juga kasusnya, kala si anak memiliki bakat di bidang lain, tetapi dikelabui dan agak dipaksa mengikuti kursus tarik suara. Tanpa ia sadari sama sekali, suaranya sumbang. Sang pengajar, atas dorongan si orang tua, terpaksa memuji dan membesarkan hati si anak. Waktu terus berjalan, sampai akhirnya si anak terhenyak dan sadar bahwa suaranya tidak sebagus yang ia kira, lewat ejekan orang. Kasihan, kan?

  1. Jasa Titip Pre-order

Bagi sebagian orang, ada kebanggaan tersendiri menjadi pemilik pertama sejumlah barang yang tidak atau belum beredar di negara atau kota sendiri. Kendati uang yang harus dikeluarkan 30-40 persen lebih tinggi dibanding banderol aslinya, mereka terkesan tidak peduli. Pokoknya harus jadi yang awal.

Sementara, tidak ada jaminan dia bakal puas dan bertahan dengan barang yang dibelinya tersebut untuk waktu lama. Termasuk di daerah (luar pulau Jawa), ketika teknologi baru sekadar dilihat dari sisi gengsi. Namun, saat produknya datang dan siap digunakan, si empunya malah kebingungan.

Beda cerita kalau yang bersangkutan membeli untuk memanfaatkan momen ekonomi, dan melihat kesempatan menjualnya pada harga lebih tinggi di kemudian hari. Itu namanya investasi.

Apple Store queue.

Foto: Business Insider

  1. Personal Trainer

Pembesaran ego bisa terjadi lewat banyak hal. Termasuk anggapan atau merasa memiliki kondisi fisik yang bagus. Demi tujuan yang satu ini, tak ayal banyak pusat kebugaran yang kebanjiran pelanggan baru. Baik yang paham dan tahu apa yang mereka inginkan, maupun yang sekadar ingin merasa sudah berolahraga, selanjutnya bisa memiliki bentuk tubuh yang rupawan.

Untuk yang satu ini, pelatih pribadi bertugas mengajari, mengawasi, memastikan semua aspek bagi kliennya. Jasanya dibayar oleh klien dengan beragam pemikiran dan pertimbangan. Ada pelanggan yang siap dikerasi, ada pula yang justru gampang tersinggung manakala dikerasi sedikit saja. Risikonya, minta ganti pelatih atau bahkan pindah gym.

Sebagai personal trainer, apa yang mesti dilakukan?

  1. Concierge

Pada dasarnya, profesi ini terbentuk sebagai wujud pelayanan tertinggi dan berkelas bagi kalangan atas. Singkat kata, apa pun yang diinginkan pasti bisa diatur dan disediakan oleh mereka. Seekstrem, sesulit, seekslusif apa pun permintaan yang disampaikan pelanggannya.

Sejauh ini—setidaknya dari informasi dan gambaran yang didapatkan—permintaan dan pelayanan terkait concierge lekat dengan kesan elegan. Bukan norak. Konsumennya pun bukan orang yang kagetan, setidaknya. Hanya saja, tingkat keruwetannya berubah drastis terhadap riche nouveau, alias Orang Kaya Baru (OKB). Turis-turis Tiongkok, contohnya.

Concierge adalah yang membantu, bukan pembantu, terlebih babu. Idealnya dianggap seperti itu.

Concierge bell.

Foto: growthinvestingresearch.com

Orang-orang kita pun bisa mengarah ke sana. Ditandai celetukan: “Ya biarin aja. Kan kita bayar juga…” Merasa penting karena sebagai pemilik uang, dan pembayar jasa layanan.

[]

Advertisements

What good is a heart in words?

Dear you,

Before the answer to the title above is revealed, and before the fate of this letter ends up in its disappearance from the mailbox, I hope there are some precious seconds you are willing to spare to read this through the end.

And I wonder if the request has now become some sort of soft force I make you do. If it is, you have every right to divert your eyes from this space.

As much as I have my right to continue writing this, and liking you along the way.

In fact, it has been going on for some time now, in which you may choose to acknowledge in silence, or you keep it in heart by yourself .

Either way, it gives yours truly some sort of assurance, that what is not spoken in person eventually reaches out to you. This is something I consider as a purely personal achievement.

The other achievement lies on how you have made me a complete human being just by falling for you.

In my attempt to keep you in my thought, I’ve kept thinking of you as I close my eyes for the day, and open them to start another.

Injecting you in my mind as a flickering flame has warmed me up when my bitter, cold self turns up in many circumstances.

You are present in my mind as a detractor to keep me away from things I might have done on the first place that would only harm myself.

Dear you,

I don’t need to wonder if I were ever present in your dream, let alone in your full consciousness.
The fact is, relationship begins as a selfish act when one lonely heart desperately seeks another to avoid loneliness.
The loneliness leads one to despair, often shown in cranky, twisty traits that further makes one hardly likeable.

Thus, it is fine when one shuns unfavourable person to occupy heart, albeit the mystery that always surrounds this sentence: “we cannot choose who we fall in love with.”

Yet, this is not love.

This is only me, a human being with nothing else to offer but his heart, telling you that you have made me fall for you, without wishing anything in return.

This is only me, a man thanking you for finally making me believe that, by liking you wholeheartedly, you have given life again to once heartless self.

The heart is full of life again.

And that makes a good heart worth expressing in words, for you.

Sincerely,

Yours.

Poetry

Keliru Kutip, Anti LGBTIQ, atau Jurnalisme yang Bias?

BILA mengacu pada tulisan saya sebelumnya, entah, apakah saya masih kompeten dan berhak berbicara tentang topik yang satu ini, atau sebaiknya menelan semua unek-unek dan diam saja. Pasalnya, ini tentang praktik jurnalisme arus utama (mainstream) di Indonesia, serta risiko terjadinya persepsi bias. Soalnya, saya bukan lagi seorang jurnalis, pun bukan pekerja di bidang ini.

Urusan LGBTIQ dan jurnalisme. Mulai definisi dan batasannya, spektrumnya dalam pandangan psikologi, sampai kepada orang-orang yang berkenaan dengannya, baik para pemilik preferensi seksual tersebut maupun para heteroseksual simpatisan. Barulah kemudian pemberitaan yang dilakukan berpijak pada pemahaman-pemahaman itu, demi menghindari bias dan pengarahan persepsi massa ke kekeliruan.

Tulisan ini tidak mengarahkan pada pembelaan atau penolakan LGBTIQ, atau kembali menanyakan apakah LGBTIQ itu salah atau tidak salah, beserta semua alasannya. Namun, lebih fokus pada praktik jurnalisme yang berbobot dan berwawasan, bebas bias, profesional, dan manusiawi.

Berawal dari sini.

Seorang wartawan di Balikpapan—atau barangkali Samarinda—salah mengutip pernyataan narasumbernya yang pegiat hak-hak perempuan, dan termasuk advokasi LGBTIQ. Intinya, wartawan menulis bahwa sang narasumber seolah-olah mengidentikkan praktik pedofilia dengan homoseksualitas. Padahal, tidak.

Meskipun akhirnya diralat, kesalahan pengutipan ini tetaplah sesuatu yang tak sepantasnya terjadi dalam praktik jurnalisme. Baik secara tidak sengaja—karena tidak teliti membaca, menyimpulkan dengan asumsi, keliru konteks, atau memang minim referensi—apalagi kalau disengaja, dan melibatkan peran redaktur sebagai penyunting isi sebelum publikasi.

Kesalahan pengutipan adalah satu hal. Sedangkan isi artikel berita itu sendiri—sinyalemen bahwa homoseksualitas harus ditindak hukum supaya menghindarkan terjadinya pedofilia; yang secara tak langsung membentuk asumsi bahwa pedofilia selalu dilakukan oleh homoseksual—tentunya merupakan hal yang berbeda. Semestinya dibahas terpisah.

Salah Kutip

Pengumpulan dan pengolahan data, hingga penyajiannya dalam bentuk berita berada di aspek teknis. Bisa dilatih, ditingkatkan, dan dipertajam sampai membentuk karakter individu yang khas. Demi menghindari kesalahan kontekstual, para pewarta pun menggunakan notes dan perekam yang dipegang olehnya sendiri. Dalam kasus di atas, syukurnya wawancara tercatat oleh kedua belah pihak lewat percakapan digital. Narasumber bisa menunjukkan pesan yang ia sampaikan di awal, di sebelah hasil tulisan. Lazimnya, si pewarta harus disanksi, dan untuk kembali belajar kemampuan dasar jurnalistik. Redakturnya pun bisa ditegur, agar lebih mendalami tulisan dan poin yang disampaikan, tak sekadar memperbaiki tipo dan tata bahasa.

Asumsi Tindak Pedofilia

Di sisi lain, berkenaan dengan konten yang disampaikan dalam berita itu sendiri. Artikel di atas membicarakan tentang kejahatan seksual dan prosedur hukum sebagai alternatif penanganannya, tetapi menempatkan pedofilia dan homoseksualitas sama-sama sebagai tindak kriminal.

Bagi kebanyakan masyarakat Indonesia yang konservatif, tidak ada yang keliru dengan kalimat di atas. Pedofilia dan homoseksualitas beserta seluruh komponen LGBTIQ ialah kesalahan, jadi seharusnya ditindak. Titik. Sentimen ini menjadi opini populer, diiyakan oleh banyak orang melalui beragam sudut pandang. Terutama narasi agama. Berita keliru kutip di atas pun tetap dapat diterima oleh mayoritas pembacanya dengan baik, tanpa kritik maupun penolakan.

Selebihnya, setiap pendapat yang berseberangan pun akan dianggap sama salahnya; “Pokoknya, kalau kamu tidak anti dan menolak LGBT, berarti kamu mendukung mereka, dan jadi bagian dari mereka.” Dengan tulisan ini, misalnya, bisa saja Linimasa dianggap sebagai blog yang mendukung aktif LGBTIQ. Saya pun mungkin dikira atau diduga seorang homoseksual. Pandangan monokromatik semata.

Dari kasus di atas, tentu akan lebih mengkhawatirkan apabila artikel di atas ternyata dihasilkan oleh pewarta dan redaktur yang berpandangan konservatif, termasuk dalam kelompok masyarakat yang mengelompokkan pedofilia dan homoseksualitas di “kotak” yang sama: kejahatan.

Tak menutup kemungkinan, si pewarta dan redaktur sama-sama beranggapan bahwa sang narasumber—seorang tokoh publik—pasti sependapat dengan mereka dan anggapan kebanyakan orang. Sehingga mereka salah membaca pesan di WhatsApp, serta menganggap ketidakcocokan tadi hanya salah ketik. Atas dugaan ini, wajib dipastikan langsung kepada si pewarta dan redakturnya.

Namanya juga jurnalistik arus utama, yang salah satu prinsipnya adalah fakta serta kondisi apa adanya dengan mempertimbangkan banyak aspek. Contohnya, pedofilia termasuk kriminalitas berupa aksi seksual terhadap anak kecil, dan telah tertera dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Sementara homoseksualitas tidak tergolong kejahatan pidana. Sejijik atau setidak suka apa pun si wartawan dan redaktur atas realitas hukum ini, tidak sepatutnya ditumpahkan dalam produk berita mainstream.

Lain halnya jika artikel tersebut dimuat dalam media komunitas, terafiliasi pada agama tertentu, atau pun mengusung tujuan khusus, dan secara terbuka menyatakan sikap menolak LGBTIQ. Contohnya, mustahil bagi penyusun buletin mingguan di gereja, atau redaksi mading di universitas Islam menyuguhkan berita legalisasi pernikahan homoseksual di Taiwan baru-baru ini. Kalaupun dimuat, akan cenderung dibarengi kecaman dan ancaman keagamaan.

Begitu pula gejalanya kala membahas soal agama.

Fish Huang and You Yating, first lesbian couple in Buddhism matrimony.

Fish Huang dan You Yating, pasangan lesbian pertama di Taiwan yang menikah secara Buddhis. Foto: buddha.by

Lalu, apa yang sepatutnya dilakukan guna mencapai praktik jurnalisme bebas bias tentang topik ini?

  • Dimulai Dari Atas

Pola kerja dan arahan kepada pewarta maupun redaktur berasal dari pemimpin redaksi, serta dewan senior yang ada di belakangnya. Setiap perusahaan pers dan manajemennya berhak menentukan posisinya terhadap isu LGBTIQ, baik ditinjau dari sisi bisnis maupun idealisme yang diusung.

Berlabel media massa umum dan mainstream, idealnya berlakulah netral dan berupaya menjunjung tinggi profesionalisme dan kemanusiaan. Setidaknya sampai ada pernyataan resmi bahwa perusahaan tersebut anti LGBTIQ. Agak percuma memiliki reporter dan editor yang netral terhadap hal tersebut, bila atasannya bertentangan.

Di manakah posisi Dewan Pers, dan organisasi-organisasi wartawan yang ada? Sejauh ini, Dewan Pers mensyaratkan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) sebagai standar profesi. Hanya saja tidak terlalu spesifik, dan selanjutnya bergantung pada kapasitas individu.

  • Pemetaan Personel

Pendapat mengenai LGBTIQ masuk di ranah pribadi. Setiap orang berhak menentukan posisinya masing-masing: mendukung, simpatik, netral, menolak, benci. Berkaitan dengan mata pencarian, pemecatan atau dorongan untuk mengundurkan diri terasa kurang elok.

Makanya, akan lebih baik apabila para pemimpin redaksi mengetahui posisi personel-personelnya, dan terhindar dari produk berita berpolemik akibat menugasi orang yang kurang tepat. Lebih baik ditanya langsung, tak perlulah mengintai akun media sosialnya.

  • Bimbingan dan Panduan

Perihal LGBTIQ bersifat majemuk. Tak hanya sudut pandang agama, mesti pula memerhatikan ilmu kedokteran, psikiatri, psikologi modern, sosiologi, kriminologi, politik, dan berbagai disiplin ilmu lain saat membahasnya.

Pekerja pers pun berasal dari beragam latar belakang dan kadar pemahaman, sehingga wajar memerlukan pengenalan, dan sosialisasi dari para ahlinya. Bisa pula berlanjut pada proses bertukar pikiran dan berdiskusi untuk berusaha saling memahami, bukan untuk memengaruhi, atau mengelabui. Wartawan harus tahu lebih banyak, sebab dari tangan merekalah informasi menjangkau khalayak.

Tak ada salahnya menyusun panduan peliputan dan pemberitaan tema-tema terkait LGBTIQ. Bukan dijadikan tambahan peraturan, melainkan bahan pengaya hasil warta. Biar makin tahu, dan tidak terperosok dalam kekeliruan berdampak masif. Baik di Jakarta, markasnya media-media massa berprivilese nasional, terlebih lagi di daerah. Ya… seperti contoh kasus di atas tadi.

[]

Writing on trash bin

Siapa yang Berhak Berbicara?

NOTIFIKASI pesan WhatsApp mencuat di layar ponsel waktu bus TransJakarta baru naik jalur Flyover Pesing, Sabtu siang kemarin. Kirain ngajak ketemuan, ternyata bukan.

Lebih menarik, malahan.

A WhatsApp chat snippet.

Sebagai seorang Tionghoa, yang kebetulan juga antusias terhadap tulisan Cina, permintaan teman dari Samarinda tadi terasa menggoda untuk ditindaklanjuti. Bisa dengan mengamati aksaranya satu demi satu, mencari kesamaannya, kemudian menyusun dan mencoba membacanya.

Sempat lihat pesan WhatsApp-nya sekali lagi, dan tertahan di bagian ini.

A WhatsApp chat snippet.

Terpikirkan sesuatu, dan merasa sudah bersikap sok tahu.

Tidak pernah mengambil pendidikan bahasa Tionghoa atau belajar secara formal, pengetahuan dan pemahaman saya mengenai topik tersebut tentu tidak sekomprehensif adiknya si teman, yang jelas-jelas telah bersekolah di sana sampai mendapat gelar sarjana.

Dengan demikian pula, kebisingan saya tentang tulisan Cina selama ini boleh-boleh saja dibilang sekadar pencitraan.

Melalui media sosial, blog, termasuk di Linimasa ini, saya mencitrakan diri seolah-olah cukup tahu dan berilmu. Padahal ketika melafalkan atau diajak bercakap-cakap dalam bahasa Tionghoa, saya belum tentu bisa. Intonasinya keliru, perbendaharaan kata yang sedikit, tetapi lumayan luwes menulis aksaranya lantaran gemar coret-coret sejak kecil.

Orang Indonesia pun terbiasa menanggapinya pakai celetukan: “Halaaah… Kamu tahu apa sih?

Kapasitas personal, dan validasi kemampuan. Dua konsep ini yang dijadikan standar kepantasan seseorang dalam berpendapat dan bertindak. Sri Mulyani, misalnya. Dia mempunyai legitimasi berbicara perkara kondisi ekonomi negara karena kapasitasnya adalah Menteri Keuangan Republik Indonesia (RI). Jabatan dan rekam jejaknya sejauh ini pun bisa digunakan memvalidasi argumentasi-argumentasinya.

Wajar bila Sri Mulyani diberi podium-podium untuk berbicara tentang ekonomi. Pernyataannya bisa dikutip dan disebarluaskan ke publik, maupun didiskusikan selepasnya.

Di samping itu, semua orang memang berhak untuk bersepakat atau justru menolak pernyataannya. Namun, tatkala ketidaksetujuan muncul, maka seyogianya tetap dilandasi dasar dan alasan yang konkret. Mengingat tentangan itu disasarkan kepada kapasitas dan ketokohannya. Baik sebagai menteri, atau pun sebagai pakar ekonomi.

Fair, kan?

Sri Mulyani

Foto: WartaKota.co

Di sisi lain, bolehkah Sugeng, seorang tengkulak bawang (nama dan pekerjaan cuma reka-reka) berbicara tentang kondisi ekonomi Tanah Air? Boleh! Dia bebas berbicara sampai sejauh topik kebijakan fiskal dan moneter Indonesia kalau mau, tetapi kerangka referensi yang dipakai Sugeng tentu berbeda dibanding ibu menteri. Kapasitasnya sebatas masyarakat awam yang tetap patut didengarkan, tetapi bukan penyusun kebijakan.

Sri Mulyani dan Sugeng sama-sama warga negara, memiliki kesetaraan hukum dan kesempatan berbicara yang sejajar. Hanya saja, mengacu pada kapasitas personal dan validasi kemampuan di bidang ekonomi, sangat wajar apabila respons dan jawaban Sri Mulyani untuk banyak pertanyaan bisa lebih dipertanggungjawabkan.

Masalahnya, orang-orang yang memiliki kapasitas personal dan tervalidasi, sepertinya malah irit bicara.

Lalu, bagaimana dengan contoh kasus saya di atas? Apakah saya terus saja berbicara dan menawarkan pandangan tentang tulisan Cina tadi, atau sebaiknya menyerahkan pembahasan kepada ahlinya (bila ada)? Toh, saya sendiri pun belum mampu menjamin bebas dari kekeliruan, dan bebas dari potensi informasi bohong.

Ini baru soal tulisan Cina, yang dampaknya barangkali bisa dihitung minim. Belum lagi masalah Buddhisme dan konsep-konsepnya (saya bukan Pandita atau Dhammaduta); budaya Tionghoa dan teori-teorinya (saya bukan pakar budaya atau sarjana antropologi budaya); kehidupan masyarakat di Samarinda (saya hanya warga biasa, bukan figur tokoh); topik-topik sosial dan humanistis; serta bahasan lain yang kerap saya angkat via media sosial dan blog.

Di sinilah pentingnya kecermatan mendengar, kejelian mencerna informasi, kritis dan cakap membangun landasan berpikir, berani berdiskusi—bukan berdebat, serta mampu dan mau bersikap adil.

Siapa yang berhak berbicara? Siapa saja. Dibarengi kewajiban berlaku patut; tidak berdusta, tidak berniat menjatuhkan atau mencelakakan, tidak menghina dan merendahkan, tidak sombong dan berbesar hati apabila sanggup, serta menjawab sebenar-benarnya ketika ditanya.

Selanjutnya, para pendengar pun berhak setuju atau tidak dengan yang disampaikan oleh orang lain, atau bahkan tidak peduli sama sekali. Asal tetap dibarengi kewajiban berlaku patut; tidak mengada-ada (ikut-ikutan reaktif padahal belum mendengar sendiri), tidak menghina dan merendahkan pendapat yang berbeda, serta selalu memiliki alasan atau dasar yang jelas. Tidak membabi-buta, dan mau bertanya, bukan asal menyimpulkan atau berasumsi.

Kan, lebih enak kalau bisa saling bicara… Ngobrol, ya ngobrol aja…

[]

We Need Painkillers

me-why-am-l-always-cold-googles-web-md-youre-6996128
Sekarang saya punya kanal podcast kesayangan untuk didengar sambil lari lari ganteng; Doctor’s Farmacy. Dokter Hyman baru memulai podcast ini awal tahun 2018 dan dengan rutin setiap seminggu sekali menyajikan tamu yang kadang menarik kadang kurang, tetapi sekalinya menarik sering saya dengar lebih dari satu kali.

Mark Hyman dan teman-temannya ini adalah pengikut functional medicine yang memang sebagai sekumpulan yang memiliki profesi dokter dianggap pembelot, karena mereka menolak memberikan obat dari pharmaceutical ke pasien mereka. Menurut dr. Hyman, dokter seharusnya mengobati manusia, bukan mengobati penyakit. Kemudian penyakit itu juga umumnya tidak bisa diobati dan dilihat satu per satu secara terpisah, tetapi harus dipandang secara komprehensif dan diketahui sejatinya penyebabnya apa dan diperbaiki dari situ. Jadi intinya tidak seperti dunia kedokteran sekarang yang, contohnya jika Anda memiliki kolesterol tinggi, akan ada obatnya untuk itu, lalu tambahannya jika tekanan darah Anda tinggi juga ada obatnya dan seterusnya. Tetapi tidak dirunut kenapa pasien bisa memiliki keluhan seperti ini dan coba diperbaiki dari sumbernya. Menurut mereka juga kalau makanan itu jika dikonsumsi yang benar justu bisa jadi obat. Thus the channel name; “farm”acy not “pharmacy”. Permainan kata yang cukup pandai, bukan? Bukan? FINE.

Anyway.

Enggak pengin cerita soal ini intinya, tapi tentang salah satu kenyataan yang saya dengar dari satu episode dr. Hyman dengan dokter Aseem Malhotra yang satu aliran dengannya. Satu kalimat yang membuat saya manggut-manggut dan lalu agak menyambungkan dengan keadaan yang ada sekarang, di sekitar saya, mungkin juga di sekitar Anda, di sini dan mungkin di mana-mana.

Dr. Malhotra mengatakan kalau di dunia kedokteran, yang mereka butuhkan adalah “more humility and less hubris” alias lebih banyak kerendahan hati dan lebih sedikit keangkuhan. Beliau juga bercerita kalau salah satu dokter kenamaan yang jadi pengajar ketika dia masih menjadi mahasiswa kedokteran mengatakan bahwa, separuh ilmu yang mereka dapatkan di sekolah kedokteran ini akan menjadi salah dan atau ketinggalan zaman lima tahun ke depan, tetapi tidak ada yang pernah tahu setengah yang mana.

Karena itu sesungguhnya mengherankan kalau ada dokter yang dengan angkuhnya menganggap kedokteran itu ilmu pasti yang haram dipertanyakan, apalagi dibantah. Mungkin itu sebabnya banyak teman-teman kita yang memilih konsultasi ke Google MD daripada langsung ke dokter agar kurang lebih bisa mendiagnosa diri sendiri sebelum seolah terpaksa menerima mentah-mentah diagnosa dokter di rumah sakit dan terpaksa menebus resep yang tidak selalu kita ketahui juga obatnya apa.

Baru beberapa minggu lalu terjadi, seorang dokter membalut luka saya yang diakibatkan kecelakaan olahraga sambil bercerita dia baru pulang kerja sukarela dari Lombok merawat cedera korban gempa, kemudian memberikan saya resep painkiller (yang tadinya saya pikir setara Ponstan) tapi ternyata membuat saya setengah hari tak bisa bangun di kondisi bangun dan tidur (alias fly hampir seharian). Whyyyy yang luka hanya tulang kering saya, doook!

Sementara itu, di kutub ujung sana ada orang yang sampai kurang gizi karena setelah membaca referensi sana sini, menyimpulkan sendiri bahwa hampir semua makanan tak layak konsumsi dan atau akan menyebabkan penyakit, seperti yang diceritakan dr. Tan Shot Yen di sini. Mungkin jika semua dokter seperti Mark Hyman atau paling tidak banyak dari dokter seperti beliau, sebagai pasien kita akan semakin pandai dan tidak segan meminta rekomendasi, juga dr. Tan akan menjadi tidak terlalu grumpy? (Just kidding, dok!)

Anyway.

Kalau dilihat di bidang motivational speaker ya, seperti juga kasusnya di bidang kedokteran, dibutuhkan juga lebih banyak kerendahan hati dan lebih sedikit keangkuhan. Contohnya ketika diminta berbicara di sebuah forum kecil atau besar mungkin lebih banyak introspeksi dan mengakui kalau sepertinya semua orang akan bisa belajar dari semua orang, dan ilmu pembicara belum tentu lebih banyak dari audience, dan harus lebih banyak kerendahan hati untuk tidak membicarakan keberhasilan yang terjadinya sudah berpuluh tahun yang lalu dan belum ada contoh skenario terbaik yang terjadi lebih dekat dari 5 tahun yang lalu. Siapa sih yang jadi contoh itu? Enggak ada orangnya kok, hanya contoh karakter fiksi he he he.

Netflix, Quincy, dan Perbedaan Hikmah dalam Kehidupan

p15807992_v_v8_aa

Siapa sangka, cara menonton film pada akhirnya adalah berlangganan via internet. Bahkan sekelas bioskop yang menjadi tumpuan utama laris-tidaknya sebuah film dirilis harus mempercantik toilet dengan lampu sorot yang membuat kita para lelaki merasa 50% pipis dan setengahnya lagi merasa sedang konser tunggal. Juga mau ndak mau pengelola bioskop berjualan penganan ringan, kudapan dan pernak-perik film demi menambah pemasukan. Sebelum film dimulai, iklan juga bertaburan di layar perak. Sehingga bioskop bukan saja sebagai tempat pemutaran film, namun juga semi restoran, tempat hiburan, dan media iklan. Dulu, saat saya masih berseragam merah putih, nonton filem juga dapat dilakukan melalui pemutar vidio dalam ukuran betamax. Kemudian ada versi VHS. Saat saya bertandang ke rumah Pakdhe di Jakarta saya disuguhi film dalam format Laser Disk. Ini menarik karena jaman itu kalimat semacam “laser disk ndak bisa disensor“, adalah kalimat indah bagi telinga bocah lelaki nanggung yang sepadan dengan para pekerja yang mendengar kalimat “duit gajiannya uda masuk“.   Bagi saya yang menyukai penyewaan kaset vidio karena disana ada pahlawan jagoan seperti Gaban, Sarivan, dan Lion Man serta dimana sendal bertebaran di dekat keset welcome menandakan ada pemutaran film paling anyar di dalam rumah, maka munculnya netflix di era kekinian adalah suatu anugrah. Kita disuguhi semua film, termasuk kategori yang telah rapi ditata. Nonton sebentar, bosan, boleh pilih film lain. Bedakan dengan nonton bioskop. Bosan sedikit mau kemana? Juga bedakan dengan sewa kaset betamax. Bosan, harus tukar dan itu perlu jarak dan waktu tempuh. Zaman betamax, kalau kasetnya sudah dipinjam orang lain, kita kudu antre. Bedakan dengan era streaming. Mau yang nonton jutaan orang secara bersamaan, tak ada masalah. Selain kemudahan menonton dan kurasi film yang cukup mumpuni, Netflix juga menyajikan film dokumenter yang menakjubkan. Mana mungkin kita menonton film dokumenter di bioskop, kecuali film G30SPKI atau pada saat digelarnya festival film. Beberapa sajian film dalam layar internet juga diberikan oleh Viu dan beberapa situs indi yang memanjakan para penggemar drama korea, termasuk istri saya. namun tak ada film dokumenter disana. Bisa jadi ada, tapi jarang. Saya sungguh menikmati film dokumenter. Apalagi film dokumenter yang bercerita soal kehidupan pesohor namun dari kacamata lain. Kisah Nina Simone dalam film “What Happened, Miss Simone?” dari kacamata respon atas tindakan opresi negara atas perbedaan warna kulit di masanya. Hal ini sama-sekali tidak ditemui dalam kisah Quincy Jones dalam film “Quincy“. Nina Simone merasa hitam dan sadar atas kehitamannya dia banyak menderita dan menerima pil pahit. Hal ini berbeda dengan Quincy. Ia justru menaklukan perbedaan warna kulit. Ketiga istrinya adalah “white”. Satu perempuan Swedia dan dua lainnya warga Amerika. Rupanya bagi sesama kulit hitam pun perbedaan isu warna kulit tidak sama rata dirasa. Bahkan Quincy memimpin orkestra bagi Sinatra. Siapa sih kulit hitam yang senang orkestra? Mungkin banyak. Tapi siapa yang berhasil memimpin orkestra, dan menaklukan dunia musik Amerika? Inilah sejatinya persoalan hidup. Satu peristiwa besar sekalipun belum tentu dirasakan hal yang sama oleh setiap manusia. Gempa Bali, bagi yang tidur di hotel bintang lima di Surabaya, maka gempa itu adalah sekadar goyangan belaka. Gempa ini bisa jadi bahan perbincangan baginya saat kembali bekerja di Jakarta. Sedangkan bagi seorang pria yang tewas di Madura karena tertimpa rumahnya yang roboh, gempa Bali bukan hanya goyangan, tapi berhasil mencabut nyawanya. satu peritiwa, gempa, namun berbeda rasa. Banyak perspektif dalam setiap peristiwa. Inilah sejatinya kehidupan paralel yang sesungguhnya. Banyak kotak hikmah. Tinggal pilih mau pilih kotak yang mana. Bagi Rothschild, waktu krisis ekonomi adalah waktunya panen raya, karena pada saat itulah dirinya yang memiliki simpanan uang dan emas bisa dengan leluasa membeli properti dengan harga murah. Tapi bagi orang lain, krisis adalah hilangnya pekerjaan dan perubahan nasib ke arah yang lebih buruk. Sama halnya seperti macetnya kota Bandung. Bagi warga lokal, ada yang menganggapnya sebagai fenomena buruk dari serbuan warga Jakarta yang cari hiburan di Bandung. Bagi sebagian lain, macetnya Bandung yang diserbu warga Jakarta adalah kesempatan ekonomi untuk menawarkan sesuatu. Penginapan, makanan atau hal lain yang bernilai ekonomis. Tuhan itu satu, agama saja yang membuatnya berbeda. Sama halnya dengan peristiwa. Dia pun hanya satu, namun tinggal bagimana kita meresponnya. Kesempatan pun bisa jadi tidak akan datang dua kali, karena mungkin setiap hari datang. Namun, kitanya saja yang tak menyadari.

salam anget,

QuincyRoy

Teman Yang Tak Selalu Ketemuan

Seberapa sering kita perlu bertemu dan berbicara dengan teman kita?

Pertanyaan di atas cukup mengusik pikiran saya sesekali dalam beberapa minggu terakhir ini. Dan ketika sedang berpikir tentang hal itu, mau tidak mau saya “terpaksa” jujur kepada diri sendiri, bahwa sudah jarang sekali saya bertemu dengan teman-teman saya.

Kalau sudah jarang bertemu, apa masih dianggap teman?

Pembahasan tentang teman dan pertemanan ini sudah cukup sering dibahas di situs Linimasa ini, oleh sebagian besar penulisnya. Silakan cari saja tulisan-tulisan dengan kata “teman”, “friends”, “sahabat”, atau “friendship” di sini.

Yang saya ingat, Leila pernah menulis soal kemampuan kita yang semakin ahli dalam membuat kompartemen pertemanan yang berbeda-beda. Artinya, kita bisa memilah jenis teman berdasarkan kemiripan minat. Ada teman yang sama-sama suka menonton film, teman-teman untuk berolahraga bareng, teman-teman untuk urusan wisata kuliner, dan lain-lain.

Saya sependapat dengan semakin mahirnya kita melakukan hal itu, seiring dengan seringnya frekuensi kita berinteraksi dengan berbagai macam jenis orang, dan tentunya, dengan semakin bertambahnya usia.

Saya juga sependapat dengan salah satu tulisan Dragono dulu, tentang semakin sedikitnya pertemanan baru yang kita buat seiring dengan usia kita yang semakin menua. Semakin selektif pula dalam menyaring orang yang bisa masuk dalam kehidupan kita.

Friendship-Girls-uhd-wallpapers

Demikian pula dengan urusan menyaring teman-teman lama yang terbentuk dari kesamaan latar belakang pendidikan atau pekerjaan. Tak semuanya tetap menjadi teman. Kalaupun masih berinteraksi, tak lebih sekedar basa-basi semata karena terpaksa masuk WhatsApp grup, terpaksa datang reuni, hadir di buka bersama, dan sejenisnya.

Ada kalanya beberapa teman lama kita masih menjadi teman sampai sekarang. Bahkan ada sebuah ungkapan yang dulu pernah saya temukan, yang mengatakan kalau kita sudah berteman lebih dari 7 tahun, kemungkinan besar dia atau mereka ini akan menjadi teman seumur hidup.

Toh buat saya, seperti layaknya jenis hubungan yang lain, it’s not about how long. It is always about how deep.

famous-friendship

Batasan atau arti pertemanan sendiri tentu berbeda-beda. Biasanya teman adalah orang atau orang-orang yang kita prioritaskan saat kita ingin berbagi, baik dalam duka atau suka.

Dan karena itulah maka tak urung saya merasa sedih, karena sering kali belum bisa being there untuk orang-orang yang saya anggap teman saat mereka sedang dalam keadaan yang kurang menguntungkan. Mungkin ini preferensi personal, hanya saja kadang diri ini merasa berkomunikasi lewat ponsel tidak cukup. Inginnya bertemu langsung, bertatap muka langsung, berbicara langsung. Tapi apa daya, we all have our lives to live.

Kalau sudah begitu, biasanya saya hanya akan menunggu. Menunggu sampai mereka mulai berbicara. Memberikan ruang dan waktu sendiri untuk teman kita juga bagian dari pertemanan.

Karena setelah melalui masa sendiri, akan lebih banyak cerita yang bisa dibagi saat ketemuan.

Pedestrian lawn area Jakarta

Dari Titik Singgah ke Titik Singgah Lain

ADALAH transit-oriented development (TOD), sebuah konsep perencanaan urban yang mendorong manusia—para warga sebuah kota—lebih bergerak ketika beranjak. Idealnya, alih-alih duduk sendirian dalam bilik yang sejuk dan lumayan lega tetapi berlangsung lebih dari dua jam, skema berdasarkan TOD akan berpotensi memangkas durasi perjalanan. Meski bakal diselingi aktivitas menunggu sambil duduk atau berdiri, berjalan kaki, maupun agak berlari.

Dari namanya saja, sudah cukup menggambarkan ide dasar konsep perencanaan urban ini; pembangunan yang berorientasi pada titik-titik singgah. Andaikan boleh sedikit filosofis, kita pergi dari dan pulang ke rumah. Sekolah, kampus, kantor, toko, tempat usaha, mal, tempat rapat, restoran dan kafe, tempat-tempat publik dan pusat keramaian lain, rumah ibadah, pemakaman, rumah sakit, serta lain-lainnya merupakan lokasi berkegiatan dalam kurun waktu tertentu. Bisa dianggap sebagai titik-titik singgah, dan untuk bisa sampai ke sana mesti melalui titik-titik singgah pula. Katakanlah halte, stasiun, terminal, atau areal parkir.

Pertanyaannya, maukah kita begitu? Bersediakah menjalani keseharian dengan gaya hidup TOD?

Belum tentu, atau malah tidak akan mau.

1. Kota kita bukan kota untuk para pejalan kaki, dan pengguna moda transportasi umum.

Dilematis seperti masalah telur dan ayam. Mana yang harus diadakan terlebih dahulu? Perubahan pola pikir dan kebiasaan para warga kota, ataukah situasi dan penataan kotanya sendiri?

Perencanaan urban berdasarkan konsep TOD tentu bertujuan untuk efisiensi, tanpa menghilangkan sebagian besar kenyamanan hidup. Waktu tempuh perjalanan bisa dihemat setidaknya hingga sekian puluh persen, begitu pula dengan tingkat kepadatan lalu lintasnya (efektivitas tergantung rencana, implementasi, dan modifikasi).

Dengan TOD, dari satu titik singgah ke titik singgah yang lain akan memakan waktu sekitar sepuluh hingga 45 menit. Baik dengan berjalan kaki, bersepeda, maupun menggunakan moda transportasi umum. Sayangnya, jangankan Samarinda, Banjarmasin, Pekanbaru, Batam, Medan, dan kota-kota provinsi di luar pulau Jawa; Jakarta, Bandung, Semarang, atau Surabaya pun—tampaknya—belum bisa diacu ke prinsip-prinsip TOD sepenuhnya.

Di lima kota luar pulau Jawa di atas, jarak dari satu titik singgah ke titik singgah lain relatif lebih jauh. Pun begitu, sarana transportasi publik belum mampu diandalkan secara menyeluruh. Mau tidak mau, warga harus bergantung pada kendaraan pribadi, atau moda transportasi personal seperti taksi, ojek, mobil sewaan. Terlebih di waktu-waktu istirahat. Mau berjalan kaki? Sangat tidak mangkus sangkil. Kecuali sangat terpaksa.

Sementara itu, di empat kota besar pulau Jawa, kendala yang dihadapi kurang lebih sama. Moda transportasi umumnya memang sudah dikembangkan sedemikian rupa, hanya saja, sejauh ini, baru TransJakarta yang beroperasi 24 jam sehari. Kendati di atas pukul 10 malam, jumlah armada yang beroperasi tidak banyak.

Di sisi lain, belum banyak ruas jalan yang memiliki trotoar lebar dan nyaman. Baru sebatas di kawasan wisata dan area populer dalam kota, belum menyentuh pemukiman. Kegiatan berjalan kaki pun masih identik dengan ketidaknyamanan, walaupun hanya urusan ke minimarket di ujung gang untuk beli cemilan.

2. Kendaraan pribadi adalah perlambang kemakmuran dan kemapanan.

Tak ada yang salah dari pernyataan di atas. Setiap orang berhak membeli dan memiliki kendaraan pribadi, sebanyak atau semahal apa pun. Namun, jangan lupa bahwa kepemilikan kendaraan pribadi akan diikuti sejumlah konsekuensi. Mulai dari harga yang harus dibayar, segala jenis biaya yang timbul, lahan parkir pribadi yang seyogianya ada, risiko-risiko, termasuk potensi terjebak macet dan mengalami ketidaknyamanan emosional yang muncul saat itu.

Sebaliknya, justru keliru apabila beranggapan bahwa kepemilikan kendaraan sama dengan kualitas kehidupan seseorang. Hal tersebut memang dapat dijadikan parameter, tetapi bukanlah poin mutlak.

Commuter line train Jakarta

KRL terakhir, dengan mereka yang sudah lelah dan ingin pulang.

Sah-sah saja jikalau seseorang memiliki kendaraan pribadi, dan hanya digunakannya di akhir pekan atau hari libur lantaran malas terjebak macet dari dan ke kantor. Ketika keputusannya seperti itu, kendaraan pribadi tadi pun berubah fungsi dari aset menjadi kewajiban. Ya … setiap orang boleh punya pertimbangan berbeda-beda, sih. Lagi-lagi, sayangnya, suasana di dalam kendaraan umum—TransJakarta dan KRL—pada hari kerja pun tak selalu nyaman. Berdesak-desakan, juga selalu dihantui pencoleng dan perogoh.

Dengan demikian, salah satu cara yang cukup masuk akal untuk dicoba demi gaya hidup ala TOD adalah membiasakan jalan kaki sebisa mungkin. Tak perlu jauh-jauh, semampunya saja. Maklum saja, udara Indonesia cenderung gerah dan panas. Mana ada yang betah berkeringat barang sedikit pun, khawatir terlihat dekil, tak wangi lagi, dan seterusnya. Belum banyak pula kantor-kantor yang menyediakan bilik mandi di kamar kecil, yang semestinya bisa mengakomodasi pegawai pesepeda. Belum lagi di kota-kota sarat tambang macam Samarinda, dengan jalanan berdebu yang bisa bikin kulit sarat daki.

Padahal, jujur saja, berjalan kaki itu romantis, lho. Menjadi terbiasa berjalan kaki di Jakarta dan mengamati-menikmati setiap momen yang ada di depan mata, membuat saya cukup nyaman berjalan kaki di luar kota. Termasuk di Samarinda, saat pulang kampung. Sensasi ini barangkali saja memang bukan untuk semua orang. 😊

3. Hidup sudah melelahkan, jangan sok ide!

Pemandangan yang lazim, sekawanan manusia berebut masuk ke bus TransJakarta dan KRL. Terkesan agak beringas, mereka berusaha mendapatkan tempat duduk atau setidaknya posisi yang nyaman sepanjang perjalanan. Buru-buru mereka naik, buru-buru pula mereka turun. Seolah-olah hanya itulah kesempatan mereka untuk melanjutkan hidup. Padahal, mereka pasti berhadapan dengan suasana yang sama keesokan harinya. Begitu lagi, dan lagi. Mungkin sampai mati.

Apakah urusan yang satu ini termasuk sebagai permasalahan hidup? Mungkin. Mungkin tidak.

Bagaimana bila justru kita sendiri yang menjadikannya sebuah masalah? Respons dan cara kita menanggapinyalah yang membuatnya terasa tidak menyenangkan, menambah beban kehidupan dengan sesuatu yang diada-adakan. Tanpa sadar, kita diperbudak oleh perasaan sendiri. Salah satu komponen kehidupan yang semestinya menjadi “milik kita”.

Tubuh lelah, alamiahnya memang begitu setelah berkegiatan. Hati lelah, siapa yang menyebabkannya? Kita sendiri, atau orang lain? Ataukah kita “mengizinkan” orang lain untuk bikin hati kita lelah? Manusia bisa jadi memang selemah itu.

Jadi terpikir. Apabila TOD adalah konsep perencanaan urban, dari satu titik singgah ke titik singgah lain, kita pun sebenarnya sedang berpindah-pindah dalam menjalani kehidupan ini. Dari satu momen singgah ke momen singgah lainnya … cuma, ada yang tersisa dan terus dibawa-bawa. Entah kenangan, kepahitan, kegembiraan, syahwat, atau kerinduan.

Memberatkan dan berusaha ingin ditinggalkan (baca: dilupakan), atau malah bikin kita kecanduan dan mencari-cari agar bisa menikmatinya kembali.

[]

Andai TTS Termasuk Ujian CPNS

“Kalo mau lulus ujian Bahasa Indonesia, banyakin isi TTS.”

Itulah pesan Bapak suatu kali ketika saya menghadapi ujian Bahasa Indonesia. Pesan yang hingga saat ini sering saya lakukan tiap Kamis dan Minggu. Maklum saja, pada hari-hari itu, beberapa media cetak seperti koran selalu menghadirkan TTS di satu halaman.

Mulanya, TTS atau yang sering biasa disebut Teka-Teki Silang hadir karena pada tahun 1913 sebuah perusahaan di Amerika Serikat membutuhkan permainan yang membuat karyawannya bahagia. Sebab, direktur itu menilai karyawannya banyak yang suntuk bahkan tidak fokus dalam menyelesaikan pekerjaan.

Arthur Wynne adalah pemuda brilian yang menciptakan permainan itu. Dia ditunjuk oleh direkturnya membuat permainan yang unik. Kemudian, ia merancang sebuah permainan. Permainan seperti teka-teki. Mengisi dalam beberapa kotak. Ada yang tersusun secara menurun dan ada yang mendatar. Dia berhasil membuat para karyawan bahagia. Lalu, permainan itu populer.

Akhirnya, salah satu media cetak ternama di Amerika Serikat, New York Times menduplikasikan permainan itu ke halaman khusus. Rubrik TTS. Mereka membuat tatanan baku. Minimal harus ada tiga huruf yang terisi pada kotak.

Seiring berjalannya waktu, tidak harus tiga. Bahkan, dua huruf pun boleh. Dan itu bisa kita lihat pada TTS di media cetak hari ini.

Mulanya, saya hanya melihat kesibukan Bapak menyelesaikan TTS saban Minggu siang. Mengisi dan menyusun kata demi kata agar bisa tersusun dengan baik. Saya pun nimbrung.

Melihat saya yang sepertinya ingin mencoba mengisi TTS, Bapak langsung memberikan koran itu kepada saya. Memberikan satu kata. Kotak berjumlah lima. Dengan kotak ketiga berhuruf T.

Petunjuknya, tiga mendatar. MATA. Saya berpikir keras. Apa ini maksudnya? Lima huruf yang ada hubungannya dengan mata dan ada huruf T di kota ketiga.

Karena saat itu belum zaman bertanya kepada Mbah Google, saya mencoba mencari di tumpukan koran yang berada di meja. Ketika saya akan meraihnya, bapak menahan tangan saya.

“Gak boleh, kamu harus berpikir. Coba, kira-kira kata apa yang berhubungan dengan mata.”

Saya berpikir. Cukup lama. Wong, hampir lebih dari 15 menit. Dan hasilnya nihil. Saya pun tak bisa mengisi kotak itu.

Bapak hanya tersenyum. Kemudian berkata,

“Makanya banyak baca. Apa pun itu. Ga hanya baca koran atau buku. Ga semua yang ada di situ, bisa membantu kamu mengisi TTS. Bisa aja dari kertas di botol obat atau dari iklan di tiang listrik, kamu bisa menemukan kata yang jarang terdengar.”

Saya termenung. Hanya bisa menundukkan kepala. Kemudian, Bapak mengambil pulpen dan mengisi kotak yang saya pikirkan.

NETRA.

Brilian! Saya kagum sekaligus heran. Kok ya saya ndak kepikiran dengan kata itu. Dalam pikiran saya, mata berhubungan dengan bulu, lensa, atau kelopak. Ga pernah terpikir untuk menyebut kata netra.

Padahal netra dari kata tuna netra. Orang yang tidak bisa melihat. Dan itu identik dengan mata.

Semenjak itu, agar mahir dan menguasai banyak kata, saya selalu mencoba mengisi TTS. Walaupun tentu saja, kalo ada kata-kata yang tidak mengerti, saya akan bertanya kepada Bapak. Sebab, bagi saya, Bapak adalah kamus berjalan. Sepertinya segala kata pun, dia paham. Macam Ivan Lanin, kalo era sekarang.

Selain TTS di koran, kadang saya juga mengisi TTS di buku yang berkaver mbak-mbak seksi nan semlohay. Saya ga tahu sejak kapan buku TTS di Indonesia identik dengan kaver yang seperti itu.

Yang jelas, pertama kali membelinya di kios daerah Terban. Dekat dengan tempat saya melanjutkan pendidikan di esempe. Sayangnya, kios itu kini tutup. Sudah beralih menjadi ruko.

Waktu itu, harganya cukup murah. Dengan embel-embel “Berhadiah”, saya membeli dengan harapan tinggi. Mengisinya hingga tuntas kemudian dapat hadiah. Minimal sepeda. Saya sih berharap kalo TTS ini sepertinya lebih mudah daripada di koran.

Ternyata nggak juga. Susah, mylov~

Ada 10-15 TTS. Dan sebagian besar pertanyaannya berbeda. Saya kira seharusnya kita patut memberikan apresiasi tinggi kepada pembuat TTS ini.

Gak mudah lo membuat TTS. Menurut saya, pembuatnya harus memiliki cakrawala pengetahuan yang luas. Sebab, tak mudah membuat 20-30 pertanyaan. Mendatar dan menurun. Kemudian bisa jadi satu kesatuan.

Saya pun hanya dua kali dari puluhan buku dan koran untuk menyelesaikan sebuah TTS. Cukup menyedihkan. Dan mengisi TTS adalah pelajaran melelahkan.

Fakta itu bisa jadi benar untuk saya. Tapi tidak untuk Keira Knightley dalam film Imitation Game. Dia adalah salah satu orang dan satu-satunya wanita yang berhasil menyelesaikan tantangan dari Benedict Cumberbatch. Luar biasa, salah satu ujian untuk menjadi pendamping si Benedict adalah mengisi TTS! Film yang diadaptasi dari buku berjudul The Enigma: Alan Turing ini, saya kira sungguh brilian.

Dan saya selalu percaya, jika orang yang pandai mengisi TTS, pasti pintar bahasa Indonesia karena mampu menguasai banyak kata. Itu juga seperti yang Bapak katakan, “mampu mengisi TTS, maka mudah mengerjakan ujian Bahasa Indonesia.”

Selain itu, andai mengisi TTS adalah salah satu ujian dalam CPNS, barangkali tak banyak pemuda-pemudi Indonesia yang mau mendaftarkan diri jadi PNS~

Dan bisa jadi, yang diterima adalah orang-orang yang cakap, cakrawala pengetahuan luas, dan tepat dalam pengambilan keputusan.

Setujukah kalian jika TTS dimasukkan dalam ujian CPNS?

Telpon Ibuku

20180919192251.159-2127057299

Beberapa hari yang lalu ibuku menelpon. Tentu saja lewat audio call milik Whatsapp. Intinya ibuku cerita jika ayahku penglihatannya mulai berkurang. Setelah diperiksa ke dokter mata ayahku harus lakukan operasi katarak. Itulah sebabnya ibuku menelpon. “Ayahmu takut. Katanya ada beberapa temannya  yang lensanya ndak pas sehingga usai operasi untuk melihat pun rasanya masih berkabut“. Aku baru tahu kalau setelah operasi mata ayah harus dipasangi lensa. “Kalau BPJS lensanya mungkin kurang bagus, jadi teman-teman ayah seperti itu“, lanjut ibuku. Sembari mendengarkan cerita ibu, aku berusaha mengingat-ingat berapa saldo tabunganku . Harusnya aku bertanya pada istriku, karena dia pasti hapal sisa tabungan kami. Karena aku ragu, maka aku mengurungkan niat untuk menawarkan ayah untuk operasi di Jakarta saja. Ini bukan soal lensa, atau BPJS, aku percaya ini soal keterampilan dokternya. Sayangnya untuk saat ini untuk ongkos ke jakarta, biaya dokter dan berobat jalannya aku ndak punya. Mungkin bukan tak punya. Ini soal ndak pasti saja. “Mas, masih dengerin Ibu ndak? Halo? Halo?“. “Iya bu“. Walau sebetulnya aku ndak tahu bicara apa pada beberapa kalimat terakhir yang Ibu ucapkan. “Nah, sekarang ibu mau cerita soal ibu sendiri. Akhir-akhir ini di bagian belakang betis ibu suka nyeri kenapa ya. Nyut-nyut-nyut begitu Mas. Ibu bingung mau ke dokter mana untuk periksa. Mau tanya pamanmu, dia dokter THT. Akhirnya Ibu datang ke Mbak Lely, itu lho anak Bu Edah, yang rumahnya dekat sekolahan kamu dulu.”. Kali ini aku berusaha konsentrasi dan ndak memikirkan soal berapa tabunganku. Ini soal Ibu, tanpa tabungan pun aku harus menanggapinya serius dan segera. “Nah waktu diperiksa, betis Ibu seperti kulit jeruk. Jendol di sana dan disini. Kata Mbak Lely ini lemak. Wah Ibu ndak percaya, kok lemak di betis. Bukan di pinggul, perut, atau bagian mana begitu yang biasanya jadi gudang lemak. Ibu kalau mau segera hilang nyerinya ditawari sedot lemak, Mas. Liposaksyen.“. Aku masih mendengarkan sembari mengingat-ingat bagaimana bentuk betis ibuku. Pasti ndak seindah Ken Dedes, Drupadi atau Heidi Klum. Tapi kenapa harus sedot lemak? “Mas, tapi Ibu ndak mau. Kata teman-teman pengajian Ibu juga sedot lemak itu bagian dari operasi plastik. Itu dosa. Ibu tahu. Makanya Ibu sekarang  sering minum lemon hangat“. “Buat apa Bu?”, tanyaku. “Lemon itu asam. Lemak nanti kan ikut larut.“, jawab ibuku penuh optimis. Saat hendak mengomentari soal kisah lemak, sedot lemak dan dosa ini, ibu kembali bicara. “Oh iya, bagaimana kabar anak-anakmu Mas? Ibu kangen. Kalau sudah selesai ujian, nanti kirim saja ke sini. Naik kereta saja. Sampai di Stasiun Cirebon, Ibu akan suruh Masmu untuk jemput. Gimana?”. Aku selalu berpikir apakah ini efek dari ndak bayar pulsa, sehingga ndak perlu menunggu waktu siaran Dunia Dalam Berita atau setelah subuh untuk menelpon anak-anaknya. Dan semua hal akan sempat dibicarakan tanpa resah dengan tagihan pulsa. “Bu, soal betis Ibu yang terasa sakit. Ibu rutinkan saja lagi berenangnya. Kan kemarin sudah dibelikan baju renang muslim. Dan bukannya di Ciperna setiap Selasa Jumat dibuka khusus untuk ibu-ibu saja? Nah mungkin dengan berenang betis Ibu membaik.” Ibuku agak hening sebentar. Apakah karena sebenarnya Ibuku ingin liposuction? Apakah ini kode keras supaya aku membayarinya biaya sedot lemak? Aku bingung dengan apa yang sebetulnya menjadi kemauan ibuku. “Ini sebetulnya mudah juga sih Mas. Kemarin Budhe Ita kirim serabi. Juga kemarinnya lagi kirim emping melinjo. Juga bawa bolu. Pokoknya kalau lagi ada pesanan apa, Ibu juga dikirimi. Ini mungkin yang bikin Ibu mudah gemuk.  Bikin lemak menumpuk. Nanti Ibu larang saja Mbakmu itu untuk kirim-kirim makanan. Ibu tahu katering buatannya enak. Tapi kalau dikirim terus, betis ibu jadi sakit. Ya sudah. Ibu mau sholat ashar dulu. Salam buat anak-anak dan Kiky. Oh ya, kamu laki-laki Mas. Sholatnya di masjid. Jangan lupa!

Mengakui Rasa, Bukan Ratna

Saat tulisan ini dibuat, saya sedang sakit. Agak aneh menulis kalimat barusan.
Mari kita ulang lagi.

Saat tulisan ini dibuat, saya sedang dalam masa istirahat karena sedang sakit. Okay, that is somewhat better.

Mendadak di awal minggu ini, rasa sakit yang menyerang persendian di kaki saya muncul lagi. Ini penyakit tahunan yang sudah saya alami sekitar hampir satu dekade terakhir ini. Jadi memang kemunculannya, meskipun tidak pernah saya tunggu-tunggu, sudah tidak mengagetkan lagi. Dan selama tiga tahun terakhir, memang serangannya selalu muncul di bulan-bulan ini. Tahun 2016, munculnya pas pemilihan Presiden Amerika Serikat di awal November. Tahun lalu, maju lebih awal, di bulan September. Dan tahun 2018 ini, di minggu pertama bulan Oktober.

Oh, by the way, penyakitnya adalah asam urat. Tubuh saya mempunyai kadar asam urat di atas normal, yang kalau sudah mengkristal akan mengendap di persendian, menghasilkan sensasi ngilu dan nyeri luar biasa yang membuat saya tidak bisa bergerak.

Kalau sudah begitu, mengingat penyakitnya datang setiap tahun dalam periode yang nyaris teratur, apakah sudah mempersiapkan diri sebelumnya?
Jawabannya “ya” dan “tidak”.

Young woman sleeping in bed beside the window

Young woman lying in bed, looking towards through the window – black and white photo.

Sebisa mungkin saya memang menghindari makanan-makanan pemicu naiknya kadar asam urat. Kacang tanah sudah saya jauhi, lalu durian, emping dan kepiting sudah tidak pernah dikonsumsi lagi. Toh makanan hanya salah satu pemicu, bukan yang utama. Buktinya kejadian ini terjadi setelah saya lari dan olahraga selama 3 hari berturut-turut.

Selain persiapan di atas, jawaban “ya” muncul ketika kita mendengar apa yang dialami tubuh kita. Entah bagaimana saya menerangkan ini kepada anda, tapi kadang kita bisa merasakan apa yang tubuh kita alami, berikut perubahan-perubahannya, saat kita mau sakit.

Hari Minggu yang lalu, saat saya mulai merasakan gejala tidak beres, intuisi saya langsung mengatakan, “Here it comes. That time of the year.
Dari situ saya langsung beli obat-obat yang diperlukan. Beli tambahan air mineral, dan bahan makanan untuk seminggu ke depan. Ambil uang tunai yang cukup. Membuat “mini station” di dekat tempat istirahat, seperti pernah disarankan Glenn dulu, karena mobilitas saat sakit jadi jauh berkurang.

Favim.com-35077

Yang saya tidak siap, dan tidak pernah siap, adalah pekerjaan. Mendadak minggu ini banyak meetings dan acara yang harus dihadiri. Untuk meetings, mau tidak mau harus didelegasikan ke orang lain, atau dilakukan lewat email. Untuk acara-acara, mau tidak mau harus absen dari kehadiran. Mengerjakan hal-hal lain yang tetap membuat otak tidak berhenti berpikir, meskipun badan sedang istirahat.

Kalau dilihat dari pengalaman-pengalaman pribadi saat terkena serangan asam urat di tahun-tahun sebelumnya, memang agak dramatis. Hampir semuanya ended up di ruang unit gawat darurat. Pernah pingsan tahun lalu. Perlu waktu cukup lama untuk bisa jalan secara normal lagi.

Makanya, tahun ini, at the very moment waktu sudah merasa mau sakit, saya bertekad habis-habisan untuk sebisa mungkin tidak mengalami hal-hal parah seperti dulu. Walaupun cuma sekedar ke toilet atau dapur yang sangat dekat, saya berjalan dengan tongkat, supaya energi tidak banyak terbuang, karena masih harus memulihkan diri dalam waktu cepat. Memilah obat-obatan mana yang harus dikonsumsi segera, dan mana yang bisa dikurangi dosis pengkonsumsiannya. Minum lebih banyak air putih. Istirahat lebih lama.

Waktu tulisan ini dibuat, saya masih belum pulih 100%. Perasaan saya saja yang mengatakan kalau kondisi saya sudah mendingan. Tapi “mendingan” saja tidak cukup. Harus benar-benar pulih sebelum bisa beraktivitas secara normal lagi.

clipart-sleeping-bedrest-8

Dan percaya atau tidak, momen favorit saya waktu sakit ini adalah saat bangun tidur di pagi hari. Waktu beranjak tidur, penderita sakit seperti ini perlu waktu lama untuk terlelap, karena rasa ngilu dan nyeri yang masih ikut “melek”. Lalu saat bangun pertama kali, untuk mematikan suara alarm, kadang saya merasa takjub, karena rasa sakit di persendian seolah-olah hilang. Hanya ada rasa hampa di kaki saya. Lalu saya setengah terlelap sebelum benar-benar membuka mata. Saat benar-benar bangun, seperti ada desiran yang mengalir di bawah kaki, mengembalikan rasa sakit seperti sedia kala. Terus terang saya tersenyum mengamati dan merasakan sendiri hal ini beberapa hari lalu. Seolah-olah rasa ngilu dan nyeri itu ikut tidur, ikut beristirahat sejenak bersama si empunya badan.

Di situlah saya merasa bahwa kita hanya perlu mengakui rasa sakit yang kita alami tanpa perlu merasa kesakitan.

Akun Alter Ego Non Prostitusi

https://i0.wp.com/images.8tracks.com/cover/i/010/303/237/154417_300878139990580_151011474977248_693980_1602364401_n-6468.jpg?w=492&ssl=1

IALAH Dionysus, dewa bertopeng dari asal yang asing dan misterius.

Dia disebut sebagai “dewa yang datang”, sebab hadiratnya selalu memunculkan antusiasme pada manusia, perasaan gembira yang menggejolak (excitement), sensasi ekstase, serta dorongan hasrat. Karena itu pula, dewa berwajah cantik ini identik dengan minuman anggur. Yang tak hanya memabukkan, tetapi juga mampu mengubah (altering) kepribadian seseorang. Maka dari itu, bangsa Yunani kuno percaya ada sang dewa dalam tubuh mereka saat mengalami mabuk alkohol. Mereka menjadi seseorang yang berbeda.

Mungkin serupa tetapi tidak sama. Tanpa perlu mabuk anggur, ada banyak individu yang menikmati menjadi sosok yang berbeda. Bukan lewat Dionysus, melainkan via media sosial.

Mengenakan topeng-topeng digital, mereka lebih bebas berekspresi dan leluasa dalam tindak tanduknya. Kendati apa yang mereka lakukan cenderung provokatif terhadap kaidah kepatutan dan kelaziman sosial. Tak ada yang salah, pun tidak melanggar hukum formal, tetapi di luar kebiasaan umum saja.

Di semesta maya, mereka dapat ditemui sebagai akun-akun alter ego. Tanpa mengganti identitas atau pun menyaru personalitas orang lain (seperti pada akun-akun role play [rp] selebritas Korea), mereka riuh bermain-main dengan kepribadian dan tubuh mereka sendiri, beserta rekan. Bisa pasangan suami/istri, pacar, sekadar teman, maupun sesama pemilik akun alter ego.

Dengan akun alter ego tersebut, mereka tentu saja menyembunyikan nama. Sesekali menampilkan sesisi wajah, terkadang juga ditutupi stiker. Ada lebih banyak area tubuh lain yang disingkap dan bisa dilihat secara terbuka di lini masa mereka, selain kelamin. Ya, mereka tidak pamer genitalia. Lebih aman—dan nyaman?—bagi mereka menunjukkan lekukan tubuh, meskipun tak semua dari mereka telah terbebas dari insecurity bernama “standar keindahan tubuh”. Setidaknya melalui akun alter ego tersebut, mereka merayakan kehidupan. Bebas dari penilaian orang lain, bebas dari ketidakpercayadirian, bebas dari keluhan atas kekurangan yang dimiliki.

(Pemuatan twit video di atas telah diketahui dan diperkenankan oleh pemiliknya.)

Mengapa selain kelamin? Karena itu merupakan pornografi, dan mereka bukanlah pemilik akun-akun alter ego prostitusi, yang berjualan terang-terangan. Sangatlah tak adil bila keduanya disamaratakan. Akun-akun alter ego non prostitusi tidak bertransaksi … atau setidaknya terlihat demikian.

Dari yang teramati sejauh ini, memiliki akun alter ego non prostitusi berarti akan dihadapkan pada risiko “didekati dan ingin dibeli”. Mereka yang tampil sendirian, bisa ditanya: “Berapa semalam?” Sedangkan mereka yang tampil berpasangan, bisa ditanya: “Mau threesome?” atau dikira pasangan swinger, atau dikira pasangan kumpul kebo semata. Padahal, ada yang (mengaku) sudah beranak tiga, dan bentuk tubuh mereka terlalu proporsional untuk dipersamakan dengan kerbau.

Cuplikan twit yang diambil dari thread. Dimuat dengan persetujuan pemilik.

Kemudian, pasti ada yang berkomentar: “Makanya, kalau tidak mau dikira begitu, ngapain pamer-pamer foto sensual? Biarpun sama pasangan sendiri.

Apabila saya adalah mereka, langsung saya jawab: “Memangnya kenapa?” Pasalnya, siapa saja, si empunya foto maupun mereka yang melihatnya, tetap punya kuasa kendali diri. Menjaga dan bertahan agar tidak melanggar aturan terkait konten pornografi (kecuali jika akunnya dikunci, dan materi hanya dikonsumsi pribadi).

Bagi penonton, agar tidak kagetan dan langsung kalang kabut mencari pelampiasan, atau malah merasa berhak menghakimi si pemilik foto. Sekaligus iri, kepingin bisa begitu juga. Ya punya bentuk badannya, ya mengalami adegan yang sama. Hahaha!

Nah, kalau yang ini belum sempat minta izin sama pemiliknya. Namun, tertampil dan bisa dibaca secara umum.

Terakhir, hanya ada satu hal yang membuat saya #penasaran. Mengapa, dan apa alasannya mereka membuat serta menikmati menjadi akun-akun alter ego non prostitusi tersebut? Apakah menjaga reputasi? Apakah pertimbangan orang tua dan keluarga? Dengan fisik dan kepercayaan diri yang mereka tunjukkan, bukan mustahil mereka tetap bisa merayakan kehidupan sebagai diri sendiri.

Perhatian. Barangkali.

[]