Yang Pandai Diam-diam Saja… Yang Dungu Malah Berisik…

BARU ketemu satu twit video menarik beberapa hari lalu. Disimak, deh.

Kalau twitnya tidak termuat sempurna, bisa langsung lihat di sini:

Intinya, para sarjana pun kerap berpandangan keliru. Gelar akademis bukanlah jaminan mampu berpikir runut, teratur, sistematis, dan berimbang, agar terbebas dari pemikiran yang timpang.

Iya. Tulisan di Linimasa hari ini kembali tentang berpikir dan bersikap kritis, manfaat berpandangan skeptis dalam berkehidupan, dan pentingnya bertindak adil (imbang) terhadap diri sendiri maupun segala hal. Terlebih menyangkut pilihan dan keputusan untuk percaya atau tidak percaya pada sesuatu, serta bagaimana kita menindaklanjutinya*.

Komponen-komponen (beserta contohnya) sebagai berikut:

Ada sesuatu
“Planet bumi berbentuk bulat.”

● Sesuatu tersebut dipercaya, atau tidak dipercaya. Dipercaya berarti diiyakan, sedangkan tidak dipercaya berarti ditentang
“Ya, planet bumi itu memang berbentuk bulat.” atau
“Tidak, planet bumi itu tidak berbentuk bulat.”

● Mempercayai sesuatu, seseorang cenderung menyebarluaskannya, baik dengan atau tanpa menjabarkan alasan terverifikasi
“Pokoknya planet bumi itu berbentuk bulat.”

● Tidak mempercayai sesuatu, seseorang juga cenderung menyebarluaskannya, baik dengan atau tanpa menjabarkan alasan terverifikasi
“Pokoknya planet bumi itu tidak berbentuk bulat.”

● Yang mempercayai sesuatu tersebut, akan menyalahkan pendapat yang tidak mempercayai
“Kamu/dia salah! Planet bumi itu berbentuk bulat.”

● Yang tidak mempercayai sesuatu tersebut, akan menyalahkan pendapat yang mempercayai
“Kamu/dia salah! Planet bumi itu tidak berbentuk bulat.”

Sampai di tahap ini, atas nama gengsi dan ego, biasanya hanya ada kemungkinan kecil bagi kedua pihak untuk membuka pikiran, menilik argumentasi sisi seberang, membedahnya tanpa dorongan emosional (suka/tidak suka), dan sungguh-sungguh membuktikan benar/tidak benarnya pernyataan yang sedang dipermasalahkan. Agar kemudian disepakati sebagai sesuatu yang tidak keliru, bisa diterima, dan secara akal sehat memang sewajarnya diterima, sampai nantinya ada fakta baru yang mesti didiskusikan. Persis seperti yang disajikan dalam video pembuka di atas.

Tahu Secara Menyeluruh

Singkatnya, seseorang yang benar-benar tahu dapat menjelaskan sesuatu dari segala aspek dasarnya. Tidak setengah-setengah menjabarkan mengapa “situasi ini” bisa disebut benar, sedangkan “situasi itu” bisa disebut salah. Bukan asal mengklaim benar dan salah, menyerukan orang lain agar percaya pandangannya, serta mencela pandangan-pandangan yang berseberangan, tanpa diskusi lebih lanjut.

Pengetahuan sejatinya mengarah pada kebenaran. Dalam artian, pengetahuan terdiri atas sekumpulan informasi yang menunjukkan bahwa “ini memang demikian adanya” versus “sesuatu itu tidaklah demikian”.

Berangkat dari dua kalimat sederhana di atas, selalu ada kondisi dan alasan yang menyebabkan “ini” “memang demikian adanya”, dan “sesuatu itu” “tidaklah demikian”. Kondisi dan alasan tersebut bisa diamati sendiri melalui kelima indra dalam proses yang alamiah, atau pun disampaikan oleh orang lain yang telah mengamatinya terlebih dahulu.

Bersikap dan berpikir kritis memiliki fungsi penting, yakni untuk benar-benar memastikan bahwa keadaan yang “memang demikian adanya” memang sungguh-sungguh demikian adanya, begitu pun sebaliknya. Tanpa terganggu pandangan yang bias, kesimpulan yang keliru, apalagi ketidaksukaan dan sabotase.

Dengan semua karakteristik di atas, pengetahuan bersifat menyeluruh. Mencakup semua kondisi, baik yang benar maupun tidak benar; yang semestinya maupun tidak semestinya. Sebab semua argumentasi sudah teruji, hingga kemudian dapat dikelompokkan sebagai “benar” dan “tidak benar”, “semestinya” dan “tidak semestinya”.

Analoginya seperti ini.

“Ada sesuatu, bentuknya benda cair”
“Benda cair itu air”
“Semua yang cair belum tentu air”

Beranjak dari dialog di atas, seyogianya dilanjutkan dengan adu argumentasi, pengamatan, dan pembuktian apakah benda cair tersebut ialah air atau bukan. Bukan malah bertengkar atau bertikai memperebutkan predikat sebagai pihak yang benar.

Pengetahuan Selalu Berkembang

Satu temuan mengantarkan kepada temuan baru yang lain. Satu pemahaman berujung kepada pemahaman baru yang lain. Proses berpikir, berhitung, mengamati, dan beragam metode lain yang diperlukan pun mesti dilakukan lebih mendalam.

Persis seperti semesta berdasarkan Hukum Hubble: terus berkembang (tentu saja masih berupa teori, sebab belum ada satu orang pun yang sanggup mengamati langsung gerakan semesta mengembang dengan matanya sendiri). Jika ditarik mundur satu atau dua abad lalu, mustahil bisa berpikir begitu konkret soal ini.

Demikianlah pengetahuan, berupa kumpulan-kumpulan fakta saling terkait dan akan selalu bertambah. Tak akan berhenti. Oleh sebab itu, agak kurang bijak apabila satu poin pengetahuan dijadikan titik henti mutlak, dan menolak untuk beranjak ke perkembangan pengetahuan berikutnya. Padahal, mekanisme verifikasi tetap tersedia dan siap digunakan dalam memastikan benar/tidak benarnya sesuatu tersebut.

Pastinya, pengetahuan itu tak pernah mandek. Maka, pikiran manusia pun seharusnya tidak mandek, dibuat mandek, apalagi dipaksa mandek.

Teruslah Menyelidiki dan Mempertanyakan

Meminjam serangkaian petuah.

  • Jangan begitu saja mengikuti apa yang telah diperoleh karena berulang kali didengar;
  • atau yang berdasarkan tradisi;
  • atau yang berdasarkan desas-desus;
  • atau yang ada di kitab suci;
  • atau yang berdasarkan dugaan;
  • atau yang berdasarkan aksioma;
  • atau yang berdasarkan penalaran yang tampaknya bagus;
  • atau yang berdasarkan kecondongan ke arah dugaan yang telah dipertimbangkan berulang kali;
  • atau yang kelihatannya berdasarkan kemampuan seseorang;
  • atau yang berdasarkan pertimbangan bahwa hal itu disampaikan guru.

Pasti ada yang bertanya: “Lho, itu kok nyebut-nyebut kitab suci supaya jangan begitu saja diikuti. Ini petuah apaan?”

Itu tadi adalah ucapannya Sang Buddha (ini bukan Buddhaisasi, lho, ya, daripada saya sok tahu mengutip pernyataan dari tokoh agama lain, lebih baik mengambil dari agama sendiri, hehehe…) yang disampaikan kepada para anggota suku Kalama, dan dicatat sebagai Kalama Sutta.

Mengapa Buddha menyampaikan hal tersebut? Lantaran para anggota suku Kalama ketika itu bingung dengan banyaknya ajaran, opini, dan pandangan yang beredar dan dikumandangkan di kota mereka setiap hari. Tak hanya banyak, ajaran, opini, dan pandangan tersebut saling berbantahan satu sama lain.

Serangkaian petuah di atas menjadi semacam panduan awal sebelum memilih sesuatu untuk ditelaah dan didalami lebih jauh. Menurut saya, kurang lebih begini.

  • Sesuatu yang berulang kali didengar belum tentu benar;
  • Sesuatu yang berdasarkan tradisi belum tentu benar;
  • Sesuatu yang berdasarkan desas-desus jelas belum tentu benar;
  • Sesuatu yang ada di kitab suci belum tentu seharfiah itu, tetap memerlukan tafsiran dari banyak ahli;
  • Sesuatu yang berdasarkan dugaan belum tentu benar;
  • Sesuatu yang berdasarkan aksioma belum tentu benar, kan masih berupa aksioma;
  • Sesuatu yang berdasarkan penalaran yang tampaknya bagus belum tentu benar;
  • Sesuatu yang berdasarkan kecondongan ke arah dugaan yang telah dipertimbangkan berulang kali masih berpeluang bias;
  • Sesuatu yang kelihatannya berdasarkan kemampuan seseorang belum tentu benar;
  • Sesuatu yang berdasarkan pertimbangan bahwa hal itu disampaikan guru sendiri juga belum tentu benar.

Pertanyaan: “Kalau isi kitab suci belum tentu seharfiah itu, berarti kitab suci agama Buddha juga dong?”
Jawaban: Saat Buddha masih hidup, belum ada kitab suci agama Buddha (Tipitaka/Tripitaka). Kemudian, yang disebut sebagai kitab suci dalam agama Buddha, sesungguhnya adalah kumpulan khotbah dan ceramahnya selama hidup, kumpulan peraturan-peraturan kedisiplinan, dan tambahan penjelasan analitis terhadap topik-topik khusus. Fungsinya bukan untuk dianggap suci, disakralkan, atau diperlakukan secara khusus selayaknya pusaka, melainkan untuk dibaca, didiskusikan, dipahami, dan dipraktikkan. Berbeda dengan kitab suci-kitab suci agama Samawi yang berasal dari wahyu.

Pertanyaan: “Kalau kita diminta jangan mengikuti begitu saja sesuatu yang disampaikan guru sendiri, berarti termasuk ucapan Buddha, dong?”
Jawaban: Iya, memang. Selama hidup dan mengajar, lalu wafat dan ajarannya menjadi sebuah institusi agama, Buddha tidak menyarankan murid dan pengikutnya agar percaya dia. Yang Buddha lakukan, kasarnya adalah membagikan hal-hal yang telah membuatnya berhasil merealisasi kebuddhaan; menjadi seorang Buddha. Mau diikuti silakan, tidak mau diikuti ya tidak apa-apa. Buddha justru mendorong murid dan pengikutnya supaya membuktikannya sendiri atas dasar skeptisisme netral (demi menghindari fanatisme, menjadi bigot, kepercayaan membuta, dan intoleransi, kata Bhikkhu Soma Thera). Melakukan penyelidikan apakah ajaran Buddha memang mampu membuat orang lain menjadi Buddha, atau tidak. Caranya, yaitu dicoba dan dipraktikkan.

Bukan sekadar tidak suka atau ragu, tetapi aktif mencari tahu.

Pertanyaan: “Lalu mengenai problemnya suku Kalama, yang bingung memilih ajaran yang benar dan harus diikuti, apa saran dari Buddha? Kan Buddha tidak mempromosikan ajarannya sendiri.”
Jawaban: Setelah memilah, kemudian diselidiki sendiri dengan cara dicoba dan dipraktikkan, seseorang pasti mendapatkan pengalaman, pemahaman, dan pandangan atas apa yang dijalankannya. Di bagian ini, ada satu kalimat penutup dari Buddha kepada Kalama;

▶︎ bila kalian sendiri mengetahui: ‘Hal-hal ini buruk; hal-hal ini salah; hal-hal ini dicela oleh para bijaksana; bila dilakukan dan dijalankan, hal-hal ini akan menuju pada keburukan dan kerugian’, tinggalkanlah hal-hal itu.”
▶︎ “… bila kalian sendiri mengetahui: ‘Hal-hal ini baik; hal-hal ini tidak dapat disalahkan; hal-hal ini dipuji oleh para bijaksana; bila dilakukan dan dijalankan, hal-hal ini akan menuju pada keuntungan dan kebahagiaan’, masuklah dan berdiamlah di dalamnya.”

Sebagai catatan, keuntungan di sini tentu bukan soal materi dan hal-hal duniawi lainnya. Dalam terjemahan bahasa Inggris, kata yang dipilih adalah “benefit” dan lebih menitikberatkan pada faedahnya. Menurut Buddha, faedah tertinggi dari sesuatu adalah kemajuan batin. Terkikisnya keserakahan (ketidakpuasan), kebencian (ketidaksukaan), dan kebodohan rohani (ketidaktahuan).

Oke. Sekarang mari kita lupakan tentang Buddha dan Buddhisme. Pertanyaannya, bisakah napas skeptisisme dan prinsip-prinsip penyelidikan tadi kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari? 😊

[]

*Bacaan lain di Linimasa yang terang-terangan soal skeptisisme:
– “Meringis Skeptis” dari Mbak Leila.
– “Jadilah Pendukung yang Biasa-Biasa Saja” dari Kang Agun.
Advertisements

Leave a Reply