Dari 30 Ribu Kaki Di Atas Permukaan Laut

Maybe love is like playlist.

Maybe falling in love is like making playlist.

You do not want to reuse songs you used before for your previous past.
You search for new melodies to capture your heart.
You constantly try think of tunes that best represent the moment and the mood.

You may find one perfect song. That soon is followed by another track. Then you find another. Then you are stuck. Your creativity runs out, it seems. You run out of songs to fill your intended playlist.

You choose to sleep on it. You hope to dream a good dream. You may do, you may not.

Then you wake up. You look at your created playlist.
Suddenly you think of a new song to add. This time you only find one song. Just one that complements the other, and completes the playlist.

And that is love.

You grow the feeling. You nurture the patience.
You don’t rush the completion.
You only know when the entire journey begins to feel like a good playlist: great to listen to with a perfect amount of time.

That’s love. That’s your playlist.

Advertisements

Konsistensi dan Ketetapan Hati

SEPERTI biasa, selalu ada masa-masa ketika bingung dan tak tahu ingin menulis apa buat Linimasa. Terus saja terjadi, meski sudah empat tahun dijalani. Makanya, tak aneh bila soal ganjalan ini kembali diobrolkan saat makan malam dalam rangka hari jadi, Jumat kemarin. Tetap saja buntu, dan akhirnya kembali kami biarkan berlalu.

Awalnya, sempat tergoda menulis tentang topik berikut.

Namun, setelah dipikir-pikir malam tadi, mungkin ada baiknya disimpan saja untuk nanti-nanti. Agak jemu juga rasanya bila kembali menulis tentang Buddhisme, dan hal-hal lain yang berkenaan dengannya. Toh, saya pun hanya seorang pembelajar Buddhisme biasa, bukan pembabar ajaran, pemuka agama, apalagi Pandita. Cukup kabari saja nanti, jika memang benar-benar penasaran tentang ihwal di atas.

Masih berhubungan dengan obrolan saat makan malam Jumat kemarin, saya justru tertarik dengan konsistensi. Tanpa disadari, sikap tersebut selalu mampu memberikan dorongan, tambahan tenaga, ide dan pemikiran, sekaligus tantangan yang mesti dihadapi. Contohnya, ya, Linimasa dan para penulisnya, yang secara berkala selalu berbagi cerita, pandangan, persepsi, walau jedanya kian menjarang. Padahal jelas-jelas kegiatan mingguan yang satu ini memang ranahnya di waktu senggang, atau manakala ada sesuatu yang terasa ingin diluapkan oleh para penulisnya.

Eh, tapi bener, lho, Gon, kita kan jadinya selalu berusaha untuk tetap menulis setiap minggu. Mau menulis apa, itu masalahnya,” kata Mas Nauval, saya amini.

Biar cuma berdua, yang penting suasananya. #shameless 🤪

Pada bagian inilah, konsistensi akan bertubrukan dengan ketetapan hati, menempatkan kita sebagai insan dengan kesempatan dan kemampuan memilih. Kondisi itulah yang membuat Linimasa saat ini telah memiliki total lebih dari 1.300 tulisan, dikumpulkan satu demi satu sejak pertama kali mengudara sebagai blog gotong royong pada 24 Agustus 2014 lalu … dan saya berkukuh, sebagian besar di antaranya masih cukup relevan dan menyegarkan bila dibaca sekarang.

Menurut saya, yang membedakan antara konsistensi dan ketetapan hati adalah fokus dan tujuan yang dikejar. Konsistensi mengarahkan pandangan kita ke titik imajiner, menjadi arah langkah demi hasil yang telah dipertimbangkan. Menjadikan kita yakin sampai ke sana. Sedangkan ketetapan hati lebih bertumpu pada keteguhan, membuat kita seakan-akan menyatakan: “Apa pun hasilnya, aku akan tetap menjalankan ini.” Serupa tetapi tak sama, kan?

Di sisi lain, baik konsistensi maupun ketetapan hati yang dijalankan, bakal membawa serta segala aral dan hambatan. Selain kebuntuan ide di atas, juga ada kebosanan atau kejenuhan, kesan ketidakjelasan, munculnya kesan bahwa ini adalah suatu keharusan, pudarnya rasa asyik dan gemar, serta bermacam-macam lainnya. Saya malah membayangkan, akan bagaimanakah kiranya andai seorang Goenawan Mohamad minta izin untuk tidak menulis Catatan Pinggir barang satu edisi saja. Ada berapa banyak pembacanya yang merasa kehilangan?

Kendati rasanya kurang pas dibanding-bandingkan, memang sih, tulisan-tulisan di Linimasa tidak sekaliber Catatan Pinggirnya Goenawan Mohamad. Hanya saja, tetap ada pembaca Linimasa yang selalu menantikan obrolan-obrolan Ko Glenn, Mas Gandrasta, Kang Agun, Mbak Leila, Mas Nauval, serta Mas Roy, yang dibekukan dalam bentuk tulisan.

Untungnya saja, menulis di Linimasa bukanlah aktivitas yang mengawang-awang. Di antara seribu tiga ratusan artikel yang telah ada, hampir semuanya ditutup dengan baik, tidak dibiarkan menggantung, menyisakan ketidakjelasan. Ibarat habis makan seporsi menu, ditutup dengan beberapa teguk air. Bukan untuk menambah rasa kenyang, melainkan untuk melegakan tenggorokan.

Lagipula, bilamana ada tulisan di Linimasa yang menyisakan keraguan dan pertanyaan, telah tersedia kolom komentar, atau pada beberapa kasus, sejumlah pembaca sudah sangat leluasa menghubungi si penulis langsung lewat media sosial.

Jika sudah menyangkut ketetapan hati, saya cenderung setuju dengan pernyataan Mas Roy dalam beberapa tulisan lalu. Dia, sebagai “bapaknya anak-anak”, sepenuhnya memperlakukan Linimasa bak diary, buku catatan harian tempat si empunya bebas menuliskan apa saja. Mulai dari kegelisahan eksistensial sampai kegilaan konseptual, dari perenungan spiritual sampai kelakar seksual. Oleh karena itu pula, Linimasa telah jadi taman bermain pribadi para penulisnya. Suka-suka. Sebuah prasyarat untuk kebebasan yang menggembirakan. Ada yang membaca atau tidak, terserah.

Tak pelak lagi, untuk setiap pertanyaan: “Linimasa ini sebenarnya mau diapakan, sih?” Kami, selain Mas Roy, akan serempak menjawab: “Ya, enggak tahu, terserah Mas Roy.” Untuk kemudian dijawab oleh yang bersangkutan: “Ya suka-suka gue, mau diapain, kek. Punya ide seru? Boleh dicoba, kalau mau, dan punya waktu.” Kurang lebih demikian.

… dan kalaupun keliru, ya Mas Roy tinggal membetulkan. Hahaha! 😄 Namanya juga taman bermain milik pribadi, yang kebetulan bisa ditengok oleh siapa saja yang lewat.

Dalam hal ini, kalau boleh saya bilang, Linimasa telah menjadi blog yang berketetapan hati tanpa peduli beragam situasi yang terjadi. Setidaknya selama empat tahun berjalan, dan entah sampai kapan. Semoga kita semua tak terbelenggu rasa bosan.

Semoga kita semua selalu punya hati untuk dibagi, setidaknya di sini, karena internet selalu butuh lebih banyak hati.

[]

Tak Esai Maka Tak Sayang

the-social-network-1200-1200-675-675-crop-000000

Aku kok merasa jleb baca tulisan Nauval soal mengisi waktu dengan menonton dan membaca ya. Karena pekerjaan yang tidak mengharuskan menonton film, jadi merupakan escape saja film buat saya. Tapi bukan berarti aku tidak cinta. Saking cintanya rasanya kurang kalau hanya menonton saja, sejak beberapa tahun yang lalu bertemu dengan sahabat dan rekan satu minat, dan mendapat kesempatan mengikuti pelatihan singkat menulis skenario dan mempelajari produksi sampai praktik segala! Sejak itu jika bertemu dengan sebuah film yang sangat mengesankan (mencetus kekaguman atau malah sebaliknya, membuat ingin segera film selesai dan segera keluar) (Tak lupa sedikit mengomel ke arah layar sedikit) ingin rasanya bertanya dan membedah apa yang membuat film begitu tak terlupakan? Apakah dari segi tulisan, editing, adegan, atau kombinasi semuanya?

Berawal dari membaca esai dalam tulisan dari kritik film favorit Film Critic Hulk yang dalam tapi sayangnya tidak seproduktif itu dalam membuat post. Ternyata YouTube juga gudang essayist keren dalam bentuk video. Kalau Anda penasaran dan ingin juga tahu lebih banyak soal film sambil terhibur mungkin bisa cek daftar essayist yang menurut saya begitu keren sampai saya berlangganan dan hampir semua update baru mereka saya tonton – terutama kalau membahas film yang membuat saya terkesan.

  • Every Frame a Painting
    Kurang ingat apakah pertama kali menemukan ini karena rekomendasi teman atau tidak sengaja ketemu. Hal yang dibahas sangat mengagumkan, dari cara Steven Spielberg membuat one long shot dibandingkan pembuat film lain, sampai bagaimana Edgar Wright membuat visual comedy. Sayangnya sudah setahun kanal ini tidak lagi update. Tetapi tetap saja saya suka menonton kembali beberapa videonya. Terutama yang satu ini.
  • Nerdwriter1
    Sepertinya masih rekan dari pemilik kanal Every Frame a Painting, untungnya yang satu ini masih aktif membuat content baru, walaupun tidak seminggu sekali. Essayist ini tidak membatasi diri membahas film, tetapi referensinya sangat mengagumkan. Salah satunya adalah bagaimana dia membuat perandaian film The Passengers yang disusun ulang, dan jadinya sungguh jadi film berbeda dibandingkan film aslinya yang ketika menontonnya saya ingin marah.
  • The Closer Look
    Esainya lebih sering membahas soal menulis karakter, dan mengapa membuat karakter yang menarik untuk penonton lebih penting dibandingkan memimpikan adegan atau moment di sebuah film yang akan terlihat cool (HUH untuk Zack Snyder). Karena sudut pandang yang lebih kecil bukan berarti kalah penting, karena apalah kita ini kalau bukan seorang fan yang hanya ingin karakter yang bisa mewakili kita dalam petualangan yang tidak mungkin kita alami di kehidupan ini?
  • Lessons from Screenplay
    Seperti namanya, esai yang dibuat kanal ini banyak membedah pelajaran yang bisa diambil dari naskah-naskah film. And they are BRILLIANT! Dia juga banyak mengambil referensi dari buku Story oleh Robert McKee, dan memang sampai sekarang buku itu masih saja menjadi semacam kitab suci panduan hidup penulis naskah. Favorit saya ketika dia menganalisa bagaimana Coen Brothers bercerita tentang karakter bukan hanya dari apa yang mereka lakukan tapi bagaimana mereka melakukannya di No Country for Old Man dan membedah kolaborasi Alan Sorkin dan David Fincher di The Social Network yang sampai sekarang tetap membuat menganga dan ingin nonton lagi dan lagi (baik film maupun esai).

Maaf kalau post kali ini terlalu geeky for your taste, tapi siapa tau akhir pekan ini kurang tantangan atau agenda mungkin bisa iseng melihat video yang saya rekomendasi ini, siapa tahu seru.

Qodar

Jika hari ini pun aku ndak nulis lagi buat linimasa, maka praktis hanya dua orang aja yang nulis bergantian tanpa jeda, Nopal dan Naga. Nah, karena itulah di pagi hari ini sembari menunggu si kecil berangkat sekolah dan sebelum kerja aku menyisihkan waktu lain untuk linimasa.

Kemarin, Nopal cerita soal bahwa “mengalami” tidak mungkin dirasakan semua dalam sekali hidup. Tapi bisa dirasakan lewat apa yang dikisahkan orang lain lewat berbagai media:bisa filem, novel, podcast, atau radio.

Aku coba memahami apa yang disampaikan atas apa yang dialami Nopal. Karena hidup memang pilihan untuk menempuh panggung mana yang kita pilih. Semacam karnaval, arena permainan mana yang akan kita ambil antrean dan naiki. Atau festival musik dengan banyak panggung, artis mana yang akan kita nantikan aksi panggungnya. Ndak semuanya kudu dan bisa kita saksikan.

Kalau para saintis bilang, dari 30 trilyun microba yang dikenali, masih trilyunan lainnya yang belum dikenali dan masih “asing”. Mereka menganggapnya sebagai “Dark Matter”. Sesuatu yang ada tapi sungguh Big Unknown. Lantas bagaimana mengenalinya? Beberapa peneliti melakukan berbagai percobaan termasuk membangun fasilitas laboratorium fisik khusus di bawah gunung. Kenapa? Untuk mengurangi distraksi atau gangguang ion kosmis. Mereka menyebutnya sebagai “Cosmic Silence”. Mereka (para sainstis) menganggap apa yang kita ketahui dan kita “yakini” tentang dunia ini dan seisinya hanya sebagian kecil dari apa “yang ada dan hadir” sesungguhnya.

Demikian juga apa yang kita jalani sehari-hari. Apa yang kita miliki tak ada artinya bagi ukuran skala ekonomi makro. Apa yang kita tempuh setiap hari, bisa jadi ndak spesial dan banyak orang lain melakukannya. Apa yang kita pilih sebagai pasangan hidup, bisa jadi tidak terlalu istimewa jika dibandingkan individu lain. Anak kita, bisa jadi bukan yang paling unggul dibanding kawan sepermainannya dalam hal akademis.

Tapi ketika bahasa yang digunakan adalah: Menjalani apa yang sudah hadir dan berupaya menjadikannya yang terbaik, maka serba kekurangan dan ketidaksempurnaan hidup kita menjadi sedikit memiliki makna.

Dengan segala keterbatasan waktu tersisa, kita merayakan setiap momen dengan diawali serba tanda tanya, walau dengan rencana, dan dilalui segera. Bisa jadi menjadi suka. Atau duka. Judul besarnya adalah merayakan hidup.

Tapi banyak hal-hal di luar kekuasaan kita yang menjadikan kita mengalami banyak hal di dunia ini. Bagi yang relijius, “Dark Matter” ini adalah kuasa tangan Sang Pencipta. Kehadiran Tuhan.  Bagi para ekonom, semacam the Invisible hand. Bagi kaum rasionalis, banyak variabel, faktor lain, baik yang dapat dikendalikan oleh kita sendiri maupun faktor eksternal yang menjadikan sesuatu tak dapat dihalang-halangi.


 

Lantas apa yang dapat diperbuat oleh kita dalam menikmati hidup? Boro-boro menikmati, Om. Ini masih berjuang hidup. Ciyan deh lu.

Running_KineticEnergy-58ac6fa53df78c345b601ef2

Ah. Coba sekali lagi, kamu audit diri sendiri beserta seluruh dan segala apa yang melekat dalam diri, hidup ini dan apa yang sudah dialami dan saat ini lalui.

Jangan-jangan kita akan malu sendiri jika yang selalu kita pikirkan adalah selalu serba kekurangan. Kurang follower, kurang penghasilan, kurang kurus, kurang mulus, kurang tokcer karirnya. Bisa jadi jika didalami, hal paling istimewa dari serba kekurangan adalah nilai sikap kita yang terus menerus berupaya menjadikan semuanya menjadi lebih baik. Ada sebuah nilai mulia dari “sikap nrimo” dengan ikhlas, dengan lapang dada, dengan penuh kesadaran bahwa kita menjadi manusia istimewa dengan terlebih dahulu kita sepakat adalah hanya manusia biasa yang tidak istimewa dan sama seperti lainnya. Yang membedakan adalah soal bagaimana kita menyikapi segala situasi yang ada secara bijaksana.  Menjadi istimewa ketika kita secara fair dan konsekuen menerima nasib yang ditakdirkan dengan suka cita dan tanpa patah semangat terus menjadikannya lebih baik.

Hari ini linimasa genap 4 tahun. Dia bukan bayi. Dia juga bukan benda mati. Meminjam jargon dalam lagu tema Asian Games di Jakarta kali ini, maka linimasa adalah semacam energi: sebut saja “Energy of Manusia”. Hanya sebagian kecil dari energi semesta jagad raya. Ndak terlalu istimewa. Tapi setidaknya, kita menyadari akan adanya energi itu, dan berupaya menyalurkan energi tersebut untuk hal-hal yang lucu, gemesin, dan enak-enak.

Hahaha!

Selamat ulang tahun linimasa. Semoga selalu hangat.

Roy

 

 

Karena Kita Tidak Bisa Mengalami Semuanya

Di suatu malam di pertengahan minggu saat kami pulang dari bekerja, mengarungi lalu lintas yang tidak macet, teman saya, yang mengantar saya pulang, bertanya:

“Jadi kalau kamu pulang ke rumah, trus ngapain?”

“Kalau udah malem banget kayak gini ya paling tinggal ganti baju, cuci muka gosok gigi, trus tidur. Kalo agak susah tidur ya paling gue Youtube-an sambil tiduran.”

“Kalo pulangnya agak sorean?”

“Kalo masih sore banget, gue olahraga dulu sekitar sejam-an lah. Abis itu pulang, beli makan, makan malam sambil Netflix-ing atau nonton apapun di koleksi film gue, atau baca buku sambil dengerin apapun di Spotify.”

“Wow. Tipikal lajang sekali ya kamyu.”

“Hahahaha. Sialan!”

“Nggak ada siapa gitu yang dateng buat masakin atau makan bareng?”

“Kalau ada, gue gak akan nebeng pulang bareng elo, bukan?”

“Ya siapa tau, sudah ada yang nungguin di rumah.”

“Bantal guling gue?”

“Hahahahaha. Lumayan masih ada yang bisa dipeluk.”

“Amin!”

1

“Emang elo setahun bisa nonton berapa film?”

For leisure apa for work, nih?”

Both.”

“Hmmm. Kalo for work kan ya elo tau sendiri lah ya kira-kira berapa. Ditambah kalo for leisure, mungkin adalah sekitar 400-an in total.”

“Busyet! Dan belum baca buku. Setahun kira-kira berapa?”

“Wah, buku ini yang terus terang susah. Bisa konsen baca buku cuma kalo pas traveling. Atau kalo maksain banget ngeluangin waktu. Let’s say gue cuma bisa nyelesaiin 2-3 buku per bulan. Jadi dalam setahun ya 24-36 buku. Put it 30 aja lah.”

Not bad, not bad. Elo masih punya waktu buat nonton, baca, dengerin musik, that’s good.”

“Namanya juga single. Hahahaha.”

“Ih kamu! Hahahaha. Ya kan bisa juga cari pasangan yang suka apa yang kamu suka lakuin.”

“Tapi kan pasti ada waktu yang terpotong juga. Lagian juga, buku, film, musik, any work of art itu kan bisa bikin kita feel less lonely.”

“Bener sih.”

Loneliness sih tetep, kadang-kadang creeps you in sampe bikin nyesek. Tapi ya udah, sadar dan acknowledge aja rasa itu, sedih sesaat, dengerin lagu, nonton film apapun yang bikin gue escape dari misery, trus jadi baik lagi.”

10

“Jadi itu yang membuat elo selalu mengisi waktu dengan nonton film, baca buku, dengerin musik dan lain-lain?”

That, and other thing.”

What other thing?”

“Gini. Gue menyadari bahwa ada hal-hal dalam hidup yang either by nature or by choice, itu tidak mungkin gue lakukan. Misalnya, by nature tentu saja gue tidak tahu bagaimana rasanya menstruasi pertama kali, gimana rasanya melahirkan lalu menyusui. By choice, mungkin gue akan melewatkan bagaimana rasanya deg-degan mau menikah, mengucap ikrar janji sehidup semati. Definitely by choice, misalnya, gue gak tau rasanya jadi bandar narkoba atau buronan yang hidup dalam pelarian terus. Gue juga gak akan tau rasanya jadi presiden atau pengemis atau pengungsi, karena saat ini, profesi gue bukan seperti itu. Dengan segala keterbatasan itulah, maka gue seek refuge and knowledge di buku, film, lagu, atau foto yang gue liat di pameran. Gue mencoba merasa menjadi mereka lewat buku yang gue baca, film yang gue tonton, lagu yang gue denger. Sesimpel sekarang. Gue single, udah lama banget gak pacaran. But at least, gue bisa mencoba merasakan apa yang dilalui pasangan yang lagi in love to each other banget, lewat novel yang memang gue pilih untuk gue baca, lewat film rom-com yang emang gue pilih untuk gue tonton, just to be able to feel.”

Wow. That is some whole other thing. But what about talking to real person?

“Ya kan terbatas. Emang gue bisa gitu langsung telpon Jokowi apa Barack Obama gitu yang, “Oom, cerita-cerita dooong”, kan ya enggak. Dengerin elo curhat aja ya paling gitu-gitu doang isinya.”

“Sialaaan! Hahahaha!”

“Ya kan? Makanya gue selalu berharap ada something I can get dari setiap buku, film, foto, musik yang gue nikmati.”

“Kalo nggak ada?”

At least gue tidak merasa sendiri saat menikmati setiap karya itu.”

Nice!”

“Eh udah nyampe. Thanks for the ride, thank you for listening whatever nonsense I just said, and safe ride home as well ya! See you!

See you!

output_6YEXiO

Manusia Kejam Kepada Sesama Manusia, Apalagi Kepada Hewan dan Binatang

EH, ini kadal kalau disate rasanya gimana, ya?

Refleks saya langsung bereaksi selepas mendengar celetukan itu; berhenti mengunyah potongan daging ayam bakar Jumat siang dua pekan lalu. Mendadak cemplang rasanya, tak lagi gurih, manis, pedas, yang beraroma agak hangus.

Bercelana pendek, mereka kemungkinan besar masih murid SD atau baru masuk SMP. Berjumlah sekitar empat orang, salah satunya terlihat sedang memegang kadal berukuran tanggung dari ekornya. Panjangnya terlihat lebih dari 20 cm, warnanya kecokelatan, spesies tipikal yang kerap ditemui di kebun maupun pemukiman warga.

Kadal

Itu kadalnya

Takut kadal

Takut kadal

Berjalan dari arah seberang warung ayam bakar, para bocah tadi rupanya baru bubaran sekolah, menjelang salat Jumat. Bukan tanpa alasan mereka membawa-bawa kadal tersebut entah dari mana asalnya, untuk kemudian duduk berhimpun dan menongkrong di depan warung. Setiap ada yang lewat, terutama siswi dan anak-anak sebaya, mereka gunakan kadal yang tersungsang itu untuk menakut-nakuti. Banyak cewek yang teriak, bahkan berlari menghindari si pembawa kadal sampai ke jalan raya. Untungnya cuma nyaris terjadi kecelakaan. Setelah kurang lebih 15 menit, si bocah kadal bersama teman-temannya pun beranjak. Mendapat teguran, barangkali.

Antara sudah bisa merasa lega atau masih khawatir, saya berharap semoga si kadal tadi terlepas dari tangan anak-anak tersebut, berhasil melarikan diri, dan akhirnya mendapat lokasi menetap yang relatif lebih aman. Kalaupun sudah saatnya untuk mati, semoga kadal tersebut mati akibat hal-hal alamiah dan apa adanya (juga mencakup mati dimangsa, mati terjepit, mati terjatuh, mati terbakar bukan dibakar, dan sebagainya), bukan lantaran disiksa atau dijadikan mainan oleh manusia. Misalnya saja, dimutilasi hidup-hidup, diputar-putarkan macam laso dari buntut, dibakar hidup-hidup, ditusuk, serta skenario-skenario kejam lainnya—yang hampir semuanya lazim terlintas di benak anak-anak Indonesia.

Perihal yang satu ini, soal kekejaman terhadap binatang, judul di atas memang berpotensi tidak adil. Tak semua orang yang kejam terhadap binatang juga punya kecenderungan bersikap jahat kepada manusia lainnya. Begitu pula sebaliknya, ada sebagian orang yang bisa lebih lemah lembut dan berperasaan terhadap binatang, tetapi malah benci sekali kepada manusia lain.

Di sisi lain, tanpa terlampau menggampangkan perkara dan langsung menuding manusia sebagai sang antagonisnya, urusan kekejaman terhadap binatang ini didorong oleh banyak hal. Sebut saja adat dan budaya, sejumlah pandangan agama, tabiat, keingintahuan, keserakahan industrial dan uang, dan sebagainya. Hal-hal itu bukan hanya diajarkan sejak kecil, diteruskan dari generasi ke generasi, sengaja dilakukan secara sadar setelah dewasa, dan dengan kontra argumentasi yang relatif minim. Memunculkan, menguatkan, lantas mengekalkan anggapan keliru bahwa:

Itu tidak salah, kok… Di mana kesalahannya?

Ini menjadi masalah utama. Bagaimana memperbaiki, mengubah, mengkoreksi sesuatu yang tidak dianggap salah oleh pelakunya. Namun, sebelum kita bicarakan lebih lanjut, ada batasan-batasan persepsi—menurut saya—agar tidak menggantung dan melayang tak tentu arah.

> Setiap makhluk hidup (manusia dan binatang) pasti akan mati.
> Ada banyak faktor penyebab dan pendorong terjadinya kematian.
> Ada kematian yang tidak disebabkan oleh makhluk lain (insiden, sakit).
> Ada kematian yang disebabkan oleh makhluk lain.
> Hanya manusia yang memiliki kemampuan berpikir.
> Setiap kematian makhluk lain yang disebabkan oleh manusia, pasti memiliki motif dan alasan (mulai untuk bertahan hidup secara langsung, sampai sekadar iseng).
> Setiap kematian makhluk lain yang disebabkan oleh binatang, selalu karena insting.
> Kondisi “sengaja/tidak sengaja” hanya ada pada tindakan manusia.
> “Sengaja” berarti punya niat melakukannya, dan dilakukan secara sadar.
> “Tidak sengaja” berarti tidak punya niat melakukannya, atau malah tak disadari.
> Kondisi “puas” dan “nikmat” hanya bisa dirasakan oleh manusia.

Dari poin-poin di atas saja, sudah bisa menjelaskan adanya istilah animal cruelty, kekejaman (manusia) terhadap binatang, dan bukan kekejaman (binatang) terhadap manusia. Yang ada justru kekejaman manusia terhadap sesama manusia. 😓

“Manusia Adalah Makhluk Termulia”

Pernyataan ini berkutub ganda. Benar, jika dimaksudkan bahwa manusia adalah makhluk dengan fitur-fitur hidup yang canggih. Terutama mampu berpikir dan merenung, serta menindaklanjuti hasil pemikiran dan perenungan tersebut menghasilkan sesuatu. Oleh karena itu, manusia bisa “menjadi ikan” tanpa insang dan sirip; bisa “menjadi burung” tanpa sayap dan tungkai. Manusia membuat perubahan pada alam, bukan diubah secara natural oleh alam.

Keliru, jika dimaksudkan bahwa gara-gara kemuliaannya, manusia merasa berhak melakukan apa saja terhadap makhluk lain, yang dianggap rendah dan tak bernilai. Pokoknya, semua makhluk (selain sesama manusia, idealnya) dapat dijadikan objek untuk memenuhi kebutuhan, keinginan, serta “kesejahteraan” manusia semata. Dianggap hidangan lezat yang bikin candu, musuh atau monster, sampai dianggap sebagai mainan, persis seperti yang dilakukan bocah dan kadal tadi, atau para juragan topeng monyet, atau para pemburu gajah, atau para penjual gantungan kunci ikan hidup … menghela napas panjang

Topeng monyet

Pemandangan dalam perjalanan menuju Tangkuban Perahu, dua tahun lalu. Kasihan, ya.

Kenapa pandangan kedua disebut keliru? Sebab berpotensi menyebabkan malapetaka lingkungan, dan justru mengarahkan manusia menuju sifat-sifat negatif. Berikut ilustrasinya.

Manusia mengkonsumsi daging hewan: wajar (untuk nutrisi).
Manusia menjagal hewan secara massal karena ingin makan daging tiga kali sehari seumur hidup: serakah (tak mau/tak punya pengendalian diri).

Manusia melempar tombak pada buaya: wajar (mempertahankan diri).
Manusia membasmi semua buaya: benci (menunjukkan superioritas).

Cuplikan dari Time.

Manusia menghalau belalang: wajar (merasa terganggu)
Manusia menangkap belalang dan memutus tungkainya satu per satu: jahat (menghibur? Tak jelas) malah terkesan bodoh.

Manusia mengusir biawak: wajar (menjaga lingkungan)
Manusia menangkap biawak, mengikatnya, melemparkannya ke jalan agar dilindas: berlebihan (balas dendam? Tak jelas) juga terkesan bodoh.

Sebagai penjaga atau penguasa alam, silakan pilih peran yang tepat bagi manusia.

Manusia Berhak Menjadi Algojo bagi Makhluk Lain?

Sejatinya, manusia membunuh makhluk lain untuk tiga alasan: bahan makanan, mempertahankan diri, dan keperluan lain di luar dua hal tersebut. Pertanyaannya, mengapa manusia berhak melakukannya?

Oh, saya ubah sedikit pertanyaannya, apakah manusia berhak melakukannya?

Lagi-lagi, manusia sejatinya adalah binatang yang berpikir dan emosional. Jauh sebelum membangun peradaban dan kebudayaan, manusia telah melihat bagaimana kolega spesies mereka di planet ini—binatang-binatang lain—mencari makanan. Termasuk memangsa makhluk lain. Sedari awal, manusia mengetahui bahwa mereka adalah omnivora. Saat mengalami perasaan tidak nyaman di perut, mereka dapat menyantap daging dan tumbuhan. Di situasi yang ekstrem, bahkan bisa melakukan kanibalisme. Jadilah manusia makhluk pelahap flora, fauna, dan sesama manusia (secara harfiah).

Pengalaman mereka bertumbuh seiring pengetahuan. Beberapa di antaranya, menyantap daging segar lebih baik dibanding daging bangkai, bisa menyebabkan sakit perut dan muntah-muntah; api bisa membuat daging mengeluarkan aroma berbeda yang menarik, dan membuat daging lebih mudah dikunyah; lalu terus berkembang sampai sekarang bersama seperangkat standar maupun aturan tata boga.

Sama halnya dalam upaya mempertahankan diri, dan keperluan lain (pakaian, kesehatan dan kecantikan, interior, rumah tangga, dan lain-lain). Hanya manusia yang berkemampuan memanfaatkan makhluk lain guna berbagai tujuan, selain dimakan.

Hemat saya, ketika seorang manusia menyantap daging ayam, ikan, sapi, kambing, babi, atau jenis binatang-binatang lain, idealnya sama seperti ular memangsa kodok, elang memangsa ikan, harimau memangsa rusa, dan sebagainya. Persoalan muncul saat manusia tak lagi memangsa hewan lain, tetapi menguasai mereka. Beternak, mengembangbiakkan hewan-hewan konsumsi sedemikian rupa, mengkondisikan hewan-hewan tersebut agar hidup bukan demi kehidupan itu sendiri, melainkan untuk dimakan pada akhirnya. Bukan hanya itu, hewan-hewan tersebut pun disediakan untuk dijual, untuk mendapatkan uang, untuk memenuhi berbagai keinginan. Termasuk yang bernuansa ibadah.

Inilah penandanya, bahwa manusia telah menjadi algojo bagi makhluk lain. Penentu kehidupan, dan kematian. Sebuah efek samping dari anugerah kemampuan berpikir dan bersiasat. Itu sebabnya, kebiasaan atau perilaku berterima kasih “kepada” hewan yang kita santap sungguhlah terpuji. Bagi mereka yang religius, rezeki dan makanan enak memang berkah dari tuhan. Hanya saja, jangan lupa bahwa tetap ada penyembelihan, perebusan hidup-hidup, penggetokkan agar makanan enak tersebut hadir di hadapan kita.

Realitasnya, ada profesi bernama “tukang jagal”, dan kita masih berada dalam lingkungan sosial ekonomi dengan permintaan terhadap daging serta produk-produk hewani. Apakah pada hari itu kita membeli daging atau pun tidak, sang jagal tetap akan menjajakan dagangannya, dan PASTI ada yang membelinya. Dunia tanpa penjagal boleh dikata hampir utopia.

Apa yang dapat kita lakukan untuk menuju ke sana, atau setidaknya mengurangi arus permintaan daging (supaya mengurangi kematian)? Kendalikan diri, makan seperlunya, tak usahlah kemaruk.

Sanggup berdiet vegetarian? Jadilah seorang vegetarian, asal jangan bikin risi dan menganggap rendah orang lain yang masih mengkonsumsi daging. Lagipula, Anda bervegetarian atas dasar belas kasihan dan lingkungan, kan? Bukan ikrar keagamaan (iya, ada kok). Pasalnya…

Belas Kasihan Berlaku Menyeluruh

Teramat mudah bagi kita merasa iba, kasihan, dan peduli kepada kucing atau anjing, terlebih jika mereka masih kecil, daripada kepada … katakanlah kadal dalam kejadian di atas. Soalnya, anak kucing atau anak anjing terlihat lebih lucu dibanding anak kadal.

Namanya juga makhluk hidup, sehingga hak untuk hidup, mempertahankan hidup, dan meneruskan kehidupan (melalui generasi berikutnya) berlaku tanpa terkecuali. Apakah itu seekor gajah, seekor ular, seekor anak kucing, seekor tikus, seekor cacing, atau pun seekor nyamuk. Sebesar atau sekecil apa pun; sejinak atau seliar apa pun; selucu atau semenakutkan apa pun; seaman atau semengganggu apa pun makhluk tersebut, kita seyogianya tidak mematikan mereka. Apalagi kalau sampai merasakan kesenangan, kepuasan, serta keriaan waktu melakukan pembunuhan.

Bisa saja muncul pertanyaan: “Lho, jadi kalau ada binatang yang berbahaya, kita diam saja? Pasrah? Biar digigit, lalu malah kita yang mati. Bagaimana kalau ada hama, menyerang tanaman kita, lalu gagal panen, kita rugi, kita kekurangan bahan makanan…

Di sinilah bedanya. Sebagai makhluk yang lebih mulia dan pandai, kita punya pilihan untuk tidak melakukan pembunuhan. Terutama pembunuhan tanpa alasan dan latar belakang yang jelas, atau yang sekadar iseng. Alih-alih mematikan binatang lain, kita mampu memikirkan beragam metode untuk menghalau, menghindari kontak, dan mengurangi potensi gangguan yang dapat ditimbulkan. Lebih jauh lagi, kita bisa mencari tahu apa penyebab kemunculan binatang-binatang itu, dan mencegahnya. Di situlah ilmu biologi beserta percabangannya berfungsi bagi kebaikan semua.

Contoh, nyamuk betina mengisap darah manusia untuk bereproduksi. Rentang hidupnya pun sangat singkat, dengan risiko mati ditepuk, terinjak, dilahap cecak atau katak, dan lain-lain. Sebagai manusia, kita tentu terganggu dengan dengung nyamuk dan rasa gatal yang disebabkannya. Agar kita dijauhkan dari nyamuk saat tidur, digunakanlah kelambu. Praktis, kita tak perlu membunuh nyamuk saat itu. Akan lebih cerdas lagi bila kita mencari sumber-sumber genangan, dan membersihkannya supaya nyamuk betina tak bisa bertelur di sana. Lagi-lagi, kita tidak melakukan pembunuhan, karena jentik-jentiknya saja belum sempat ditetaskan.

Hindarilah pembunuhan semaksimal mungkin; hanya jika benar-benar terpaksa, bukan suka-suka dan sengaja. Kecuali bila Anda memilih berprofesi sebagai penjagal, tukang daging, peternak, dan sejenisnya. Profesi yang bertumpu pada kehidupan dan kematian makhluk lain. Paling tidak, kita jangan sampai jadi manusia yang menggemari penyiksaan dan menyenangi kematian makhluk lain.

Sementara itu, tak perlulah kita beralih dari satu ekstrem ke ekstrem yang lain. Dari seorang “pembantai”, menjadi seseorang yang sangat kaku, terisolasi, dan terlalu memaksa. Carilah jalan tengahnya dan tetap menapak ke bumi.

[]

Inilah 17 Film Indonesia Favorit Selama 17 Tahun Terakhir (2001 – 2017) Yang Nyaris Jadi #RekomendasiStreaming

Apakah anda mengernyitkan kening membaca kata “nyaris” di judul di atas? Jangan khawatir. Anda tidak sendiri. Kata “nyaris” di atas terpaksa saya gunakan dalam judul, karena tidak ada pilihan.

Kok bisa begitu?

Awalnya saya berniat menulis film-film Indonesia pilihan saya yang ada di aplikasi video streaming. Kalau tahun lalu saya sudah menulis tentang 17 film pendek Indonesia pilihan, maka tahun ini saya ingin menulis tentang 17 film cerita fiksi panjang Indonesia yang ada di OTT platform. Hitung-hitung sebagai #rekomendasistreaming untuk teman-teman menonton di libur panjang akhir pekan 17-an ini.

Tapi setelah melihat koleksi film Indonesia yang ada di beberapa aplikasi legal, saya mengernyitkan kening.

Ternyata cukup banyak film Indonesia, film panjang yang telah dirilis di bioskop sebelumnya, yang tidak tersedia di aplikasi-aplikasi tersebut.
Mungkin ada beberapa pertimbangan dari pemilik film untuk tidak atau belum membuat film-film mereka available di sana. Mungkin juga kontrak sudah berakhir. Mungkin juga masih disimpan untuk aplikasi yang baru nantinya. Entahlah.

Akhirnya saya berganti tujuan penulisan kali ini, dan merasa untuk lebih baik jujur ke diri sendiri: menulis tentang 17 film Indonesia yang paling saya sukai selama 17 tahun terakhir. Tujuh belas tahun pertama di abad ke-21. Sengaja memang tidak mengikutsertakan film-film yang dirilis tahun 2018, karena tahun 2018 belum selesai.

Dan ini murni pilihan saya pribadi, tidak mewakili teman-teman lain di Linimasa. Pilihan yang semoga terasa jujur, sejujur saya mengakui bahwa daftar ini jauh dari sempurna (hey, what is perfect, after all?).

Ini juga termasuk jujur mengatakan, bahwa sampai sekarang susah buat saya mengakui bahwa horor adalah genre film favorit saya. Saya bisa mengapresiasi film horor yang baik, tapi ketika mengapresiasi film horor, terpaksa saya redam rasa takut saya, dan sepanjang menonton film-film horor tersebut, saya malah sibuk berpikir menganalisa aspek pembuatan film dalam film-film itu. Dengan kata lain, nontonnya pakai mikir, sehingga lupa merasakan. Tapi tak urung saya mengapresiasi film horor Indonesia yang dibuat dengan baik, seperti Pocong 2 (2006), Hantu (2007), dan Pengabdi Setan (2017).

Film-film yang saya sukai, berarti sudah ditonton lebih dari sekali. Dan kata “suka” di sini memang sangat subyektif, karena melibatkan emosi, hati dan perasaan saat menonton dan seusai menonton. Film-film ini, lagi-lagi menurut saya, are timeless. They stand against the time, dan masih meninggalkan kesan yang sama, beberapa malah lebih, saat kita tonton ulang.

Kalau mereka tersedia di aplikasi video streaming, maka saya akan informasikan nama aplikasinya. Kalau belum tersedia, maka saya berharap supaya film-film ini bisa segera tersedia buat kita tonton lagi.

Masih banyak judul lain yang belum disebutkan di sini. Di catatan saya ada sekitar 71 judul film Indonesia yang saya sukai selama 17 tahun terakhir. Tapi dalam suasana kemerdekaan RI, let’s stick to our independence date.

Inilah film-film tersebut (all images are from filmindonesia.or.id):

• Di urutan nomer 17 ada film The Photograph (2007) karya Nan Achnas. A very powerful and intimate film tentang kesepian dan kesendirian seorang fotografer tua yang akan membuat hati kita trenyuh. Sejauh ini, penampilan terbaik Shanty ada di film ini. (available in iflix)

poster_photograph

No pun intended, but there’s earnestness in Ernest Prakasa’s Cek Toko Sebelah (2016) yang mau tidak mau membuat kita tersenyum sepanjang film ini. A good hearted comedy is hard to find in our cinema, and this is a rarity. Inilah pilihan saya di nomer 16. (available in HOOQ)

cektokosebelah-poster

• Saya suka film-film dengan set-up cerita dan kejadian dalam satu kurun waktu dan tempat. Banyak yang bisa diungkap dari cerita yang hanya terpusat pada singular time and place. Ini juga menunjukkan kedisiplinan tinggi dalam pembuatan filmnya. Pilihan saya di nomer 15, Lovely Man (2012) menunjukkan hal ini. Ditambah dengan penampilan gemilang Donny Damara dan Raihanuun, siapa yang tidak terharu melihat perjalanan emosi mereka? (not available anywhere yet)

Poster_Lovely_Man

• Sederhana, bersahaja dan jujur. Slogan politik? Bukan. Tapi tiga kata itu yang bermain di benak saya saat menonton film panjang perdana karya Eugene Panji, Cita-Citaku Setinggi Tanah (2012), di nomer 14. Ditambah pula film anak-anak ini benar-benar bercerita dari sudut pandang anak-anak, sesuatu yang masih jarang berhasil dibukukan di perfilman kita. It’s an underrated gem. (not available anywhere yet)

cita-citaku-setinggi-tanah_poster_lf-c023-12-476991_img_photo

• Sebagai generasi yang masa remajanya dihabiskan tanpa ada film Indonesia yang layak tonton di bioskop, saya senang melihat adik-adik kelas saya menyerbu bioskop saat Ada Apa Dengan Cinta? (2002) dirilis. Tren sesaat? Tidak juga. Saat ditonton lebih dari satu dekade berikutnya, film AADC? masih membuat kita tersenyum. A proof that a good film lasts. Lucky number 13. (available in iTunes)

poster_AdaApaDgnCinta

• Di nomer 12 ada film badminton King (2009) yang akan terus saya ingat sebagai film yang menunjukkan bahwa almarhum Mamiek Prakoso adalah aktor hebat. Lebih dari sebagai komedian ternama, di film ini Mamiek bermain prima sebagai ayah seorang calon atlet yang perasaannya terbagi antara mendukung anaknya menjadi atlet, atau mengingatkan tentang realita hidup. Such an understated performance worth being studied. (not available anywhere yet)

poster_king

Whatever happens to us now? Kita pernah membuat film cerdas yang menggelitik seperti Arisan! (2003), pilihan nomer 11 saya, yang rasanya tidak mungkin akan dibuat di era sekarang. Let this film be a reminder then, that open minded-ness and acceptance shall prevail. (not available anywhere yet)

poster_arisan

• Betapa beruntungnya judul film di nomer 10, Alangkah Lucunya Negeri Ini (2010). Mau dibuat kapan pun, judul filmnya masih applicable. Ditambah lagi dengan cerita komedi satir yang sedikit mengingatkan kita dengan cerita-cerita Charles Dickens, film ini layak saya sebut sebagai salah satu film black comedy paling sukes yang pernah dibuat dalam dua dekade terakhir. Duet sutradara dan penulis Deddy Mizwar dan Musfar Yasin yang jauh lebih baik dibanding Nagabonar Jadi 2. (not available anywhere yet)

poster_alangkah_lucu

• Tidak sekedar menghadirkan a kick-ass revenge film, namun Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017) juga menghadirkan cross-genre yang relatif baru di film Indonesia, yaitu western noir. Relatif baru, karena western sebelumnya hadir lewat komedi parodi film-film Bing Slamet dan Benyamin S. di tahun 70-an. Film pilihan saya di nomer 9 ini adalah film karya Mouly Surya dengan a fearless performance oleh Marsha Timothy yang akan menjadi catatan tersendiri tidak hanya di perfilman Indonesia, tapi juga dunia. (available in HOOQ)

marlina-sipembunuhdlm4babak-poster

• Di nomer 8 ada Berbagi Suami (2006), film tentang female empowerment yang menurut saya susah dipercaya bisa berhasil. But it did, and we’re all the better of it. Film yang menempatkan semua karakter utamanya dengan empati, sehingga kita yang menontonnya pun bisa terbawa dengan jalinan emosi yang dibangun. Film yang sangat menggugah. (not available anywhere yet)

poster_berbagisuami

• Ah, Love (2008). Saya sempat terperanjat saat menyadari bahwa sudah lebih dari satu dekade, kita belum membuat lagi film antologi tentang cinta yang berhasil seperti Love. Pilihan saya di nomer 7, film Love tidak sekedar adaptasi (it is) atau reka ulang dari film-film serupa, tapi film ini seperti dibuat dengan hati, yang mau tidak mau membuat kita masih merasakan kehangatannya saat menontonnya lagi, dan lagi. (available in iflix)

poster_LOVE

• Sebagai pecinta film, menonton Janji Joni (2005) mau tidak mau membuat kita tersenyum. Seolah-olah film ini memberikan validasi atas kecintaan kita terhadap film dan bioskop. Meskipun jalan ceritanya bukan tentang itu, dan dengan jalan penceritaan yang belum sempurna, menonton film pilihan saya di nomer 6 ini seperti mengafirmasi bahwa “hey, it’s okay to spend your life liking films and stuff’. Saya ingat betul, menonton film ini pertama kali dan kedua kali menimbulkan efek “wow! That was cool!” Terima kasih sudah membuat film ini, Joko Anwar. Film ini masih menjadi karya Joko Anwar yang paling saya suka. (not available anywhere yet)

poster_janjijoni1

• Sampai di sini, anda pasti sudah bisa menebak kalau saya sangat menyukai film romansa. Benar: I’m a sucker for good romance. Dan film Ruang (2006), film nomer 5 di daftar ini, adalah film yang saya sebut sebagai salah satu film romansa terbaik yang pernah ada di sinema kita. It never wastes any minute to go straight to drama and romance, membuat sebagian besar adegan di film ini indah dan dapat diikuti dengan baik. Film yang menghadirkan rasa “klangenan” di hati. (not available anywhere yet)

poster_ruang

• Dan inilah film yang seusai menonton pertama kali di bioskop membuat saya terperangah, “What was that I just watched?!” Begitu menontonnya lagi, saya masih terkesima. Posesif (2017), film nomer 4, adalah film yang simply knocked it out of the park. Dan saya percaya bahwa the less you know in advance about the film, the better. What a powerful film that leaves you stunned. (available in iflix)

posesif-poster2

• Apa yang anda ingat saat pertama kali menonton The Raid (2011), film nomer 3, di bioskop? Kalau anda menontonnya di penutupan INAFFF 2011 bersama saya, tentunya anda masih ingat riuh rendah penonton bertepuk tangan dan berteriak. It’s brutal, violent and it spares no nonsense. Film yang harus kita akui telah menempatkan nama Indonesia di peta perfilman dunia, in a very awesome way. (not available anywhere yet)

TheRaid-Poster

• Tidak hanya sepanjang 17 tahun terakhir, namun film Sang Penari (2011), film nomer 2 di daftar ini, adalah salah satu film terbaik Indonesia yang pernah dibuat. Period. Tidak setiap tahun film Indonesia dengan craftsmanship tingkat tinggi seperti ini bisa hadir. Dan adegan terakhir film ini, seperti sudah pernah saya bahas sebelumnya, adalah salah satu final scene paling indah yang pernah dibuat. (available in iflix)

poster-sangpenari

• Dan inilah film Indonesia yang paling saya sukai selama ini. Eliana, Eliana (2003), karya Riri Riza. Lima belas tahun sejak film ini dirilis, dan ternyata kisah perjalanan satu malam ibu dan anak perempuannya menyusuri Jakarta masih menggetarkan hati. Setiap bagian film bertutur dengan efektif. Setiap ekspresi dari raut muka Jajang C. Noer dan Rachel Maryam menyiratkan emosi yang tidak harus diucapkan dengan kata-kata, namun kita bisa merasakan secara mendalam. Watching this film is such a rewarding experience one may struggle with words to express it. A beautiful film. (available in iflix)

poster_eliana

Apa film Indonesia favorit anda selama ini?

Inovasi untuk Mencegah Pencopetan, atau Menemukan Dompet yang Dicopet

SEBAGAI seseorang yang kerap bicara (dan menulis) tentang detachment atau ketidakmelekatan pada banyak hal, perasaan tidak menyenangkan yang muncul setelah mengalami kecopetan untuk pertama kalinya ternyata memang sukar diabaikan begitu saja. Dimulai ketika menghadapi keterkejutannya, mengurus kerugiannya, dan menghadapi kerepotan-kerepotan yang mesti dijalani sesudahnya.

● Menghubungi satu demi satu call center bank untuk memblokir kartu ATM dan kartu kredit. Bisa dibayangkan, jika satu sesi telepon pelaporan ke call center bank untuk proses blokir membutuhkan 10 sampai 15 menit lengkap dengan prosedur pencocokan data dan sebagainya, maka dibutuhkan 40 sampai 60 menit apabila memiliki empat kartu berbeda. Seperti berjudi dan berpacu dengan waktu, tetap ada peluang bagi si pencopet menyalahgunakan kartu yang dicurinya.

Langkah pencegahan: Cara terbaik untuk menghindari pencopetan adalah jangan bawa dompet. Apanya yang mau dicopet, kalau dompet pun tidak bisa ditemukan? Cuma, kan mustahil tidak membawa dompet, ya. Sebab sebagai Warga Negara Indonesia (WNI), selalu ada kesempatan tak terduga saat kita diminta menunjukkan Kartu Tanda Penduduk (KTP), Surat Izin Mengemudi (SIM), dan berbagai kartu identitas lain. Bedanya, kartu-kartu tersebut tidak bisa diuangkan, tak berguna bagi para pencopet.

Sayangnya, pencopet mengambil dompet beserta seluruh isinya. Kartu-kartu identitas tadi akan dibuang, sementara kartu-kartu pengganti uang tunai lainnya yang akan mereka coba manfaatkan (dalam kasus saya, mereka berhasil melakukan sepuluh kali transaksi pembelian rokok, tanpa filter pengecekan kesamaan tanda tangan oleh kasir). Jadi, alangkah baiknya bila tidak perlu membawa semua jenis kartu perbankan. Cukup satu ATM, dan satu kartu kredit kalau diperlukan. Selebihnya, tinggalkan saja di rumah.

Namun, percayalah, mengurus pencetakan ulang kartu-kartu identitas di negara ini jauh lebih meletihkan dan merendahkan semangat hidup dibanding urusan perbankan.

● Melakukan klaim kehilangan, dan mengganti kartu-kartu identitas yang diperlukan di semua kantor terkait. KTP yang hilang, urusannya mulai dari pengurus apartemen, ketua RT, sampai Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) tingkat provinsi. SIM yang hilang, urusannya tentu ke kantor Satuan Pelayanan Administrasi (Satpas) setempat dengan liku-likunya. Beruntung kartu Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) bisa dicetak di mana saja, dan kartu penanda keanggotaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan sudah berbasis digital dengan kode QR.

Langkah mempermudah: Tak semua orang mampu menghafal Nomor Induk Kependudukan (NIK) di KTP, apalagi ditambah nomor SIM. Pindai atau foto semua kartu-kartu administrasi, agar saat terjadi kehilangan tetap dapat melampirkan salinannya. Pengurusan pun dimungkinkan lebih lancar (dalam kasus saya, SIM tak berhasil dicetak di Jakarta, sehingga menjadwalkan diri pulang ke Samarinda pertengahan September mendatang. Daripada membayar dan berpeluang gagal dalam ujian-ujian pengurusan SIM baru, atau pun membayar Rp1,3 juta untuk dua SIM yang ditawarkan oleh calo di sekitar kantor).

Tidak berkendaraan pribadi di Jakarta, idealnya SIM A dan SIM C bisa ditinggal saja di rumah. Namanya juga kebiasaan, semua kartu dibawa. Untungnya, selama berkeliling mengurus surat-surat tersebut dengan meminjam kendaraan teman (terima kasih!), tak ada pemeriksaan lalu lintas.

Dalam mengurus pencetakan ulang kartu-kartu tersebut, semuanya pasti dimulai dengan pengetahuan yang minim tentang apa yang harus diajukan, ke mana harus pergi, dan seterusnya. Pastikan bertanya dan mendapatkan informasi sejelas-jelasnya sebelum meninggalkan sebuah kantor, yang petugasnya berkata: “Oh, kalau mengurus ini bukan di sini, tetapi di sana…” supaya tidak buang-buang waktu di jalan (dalam kasus saya, tempat-tempat yang didatangi adalah kantor kelurahan, kantor Suku Dinas Dukcapil kota, diarahkan ke Disdukcapil provinsi. Data KTP elektronik sudah ada dan sama persis, tetapi harus melengkapi syarat di kantor kecamatan, lanjut ke pengurus apartemen, mencari ketua RT yang tinggal di kawasan berbeda termasuk memberikan “sumbangan” Agustusan, dan begitu seterusnya).

Apa fungsinya kartu ini?

Saya #penasaran, mengapa mereka cenderung suka memberikan informasi yang sepotong-sepotong? Apa karena “Ya, situ tidak tanya, sih…” begitu?

Hanya dua hal di atas, cukup membuat saya lumayan dysfunctional atau tak berfungsi sebagaimana mestinya dalam sepekan terakhir kecuali terkait urusan kantor, termasuk bolos menulis pekan lalu kendati tulisannya sudah hampir jadi (kecopetannya pun terjadi saat ingin pulang dari kafe tempat mengetik 😅). Berbagai aktivitas dijalani dengan penuh godaan untuk mengeluh, meratap, dan suasana hati yang tidak menyenangkan … sesuatu yang semestinya bisa saya lalui dengan lebih ringan, lantaran sekeras dan sesering apa pun keluhan dilontarkan, tak mengubah fakta bahwa saya harus menyelesaikannya. Berat? Bring it on! Sampai selesai, pokoknya.

Dari pengalaman tidak menyenangkan tersebut, ada beberapa hal yang saya sadari. Pertama, saya menjadi seseorang yang jauh lebih selfish dan relatif buta-tuli dengan kondisi di sekitar. Fokus hanya pada ketidaknyamanan dan kemalangan pribadi; agak tidak peduli dengan bencana gempa bumi yang terjadi, lumayan bodoamat dengan riuh soal calon presiden dan siapa calon wakil presiden masing-masing, serta terlampau sering melontarkan keluhan kepada siapa saja yang diinginkan. Entah apa dampaknya terhadap kenyamanan diri, tetapi ya tetap saja dilakukan. Mungkin sampai lawan bicara berganti perasaan, dari kasihan, jadi bosan.

Terlepas dari itu, saya terpikir beberapa hal yang tampaknya menarik dan cukup oke mengantisipasi tindak pencopetan, serta mengurangi kerepotan yang dapat terjadi setelahnya.

Pemantauan Belakang
Bisa berupa kamera pantau, bisa juga berupa sinyal pendeteksi gerakan yang memenuhi kondisi tertentu. Kurang lebih seperti memiliki mata di belakang kepala, bisa berupa topi, liontin yang menghadap ke belakang, atau komponen tertentu di tas ransel. Agar si pemilik dompet bisa mendapatkan peringatan, dan punya kesempatan mengecek atau memindahkan dompetnya ke posisi yang lebih aman. Akan lebih keren lagi bila ditambahkan fitur memotret wajah pelaku, dan langsung mengirimkannya ke pihak berwenang terdekat sebagai langkah pengamanan.

Tas atau Dompet Beralarm
Bagaimana pun mekanismenya, dompet dan tas akan mengeluarkan bunyi nyaring saat dipegang atau dibuka paksa oleh orang asing. Tujuannya, kan, pengamanan. Bunyi yang nyaring, seberapa pun mengganggunya, berfungsi dengan baik mencegah terjadinya tindak pencopetan. Bahkan membuat orang lain di sekeliling turut waspada. Tak lebih repot daripada tak atau dompet berkunci gembok, yang lebih merepotkan saat digunakan.

Tas atau Dompet Berpelacak
Kayaknya sudah ada yang menjual produk ini. Memanfaatkan koneksi Bluetooth, pemilik bisa mengecek di mana posisi dompet mereka. Tantangannya tentu saja ketersediaan daya pada dompet, agar sanggup memancarkan sinyal Bluetooth selama digunakan. Jadi, walaupun isi dompet sudah dikuras pencopet, setidaknya bisa berharap supaya KTP dan SIM tetap ditinggalkan di slotnya.

Bisa juga memadukan pelacak dengan alarm. Pada saat dompet terpisah dari pemiliknya sampai jarak tertentu, alarm berbunyi. Layar ponsel juga menunjukkan notifikasi serta lokasi terkini dompet tersebut. Pencopet bisa dikejar.

Tombol Panik
Aktivitas perbankan yang kian digital saat ini, memungkinkan adanya keterkoneksian secara langsung. Akun-akun bank dan kepemilikan kartu kredit terpantau serta bisa dipantau melalui ponsel. Dengan verifikasi sedemikian rupa, pemilik bisa langsung menekan tombol darurat memblokir status aktif kartu. Selepas itu, barulah tim bank menghubungi dan mengkonfirmasi tindakan pemblokiran itu. Toh, dalam kondisi diblokir sekalipun, pemilik kartu tetap mendapatkan pernyataan tagihan, kan? Pemilik pun bisa meminta pembukaan blokir setelahnya, baik dengan nomor kartu yang sama atau berbeda. Intinya, langkah sigap mencegah terjadinya kerugian lebih lanjut.

Dari sisi teknologi KTP elektronik—yang katanya sudah dipasangi cip tertentu itu—sudah mentok. Tak mungkin dilengkapi pelacak lokasi. Begitu hilang, tentu harus menyediakan tenaga, waktu, dan biaya untuk mengurusnya kembali. Terlebih lagi SIM, yang memang hanya berupa kartu penanda identitas pengendara.

Sementara itu, belum semua mesin Electronic Data Capture (EDC) di kasir-kasir toko dikhususkan hanya untuk menerima Personal Identification Number (PIN) atau kode One-Time Password (OTP) saat digunakan berbelanja. Ketika tanda tangan tidak dicocokkan kasir, selesailah sudah. Notifikasi pembelanjaan yang biasanya dikirim lewat SMS pun baru masuk setengah jam setelah kejadian. Bisa dipastikan, kartunya pasti sudah dibuang. Menyisakan pemilik sah kartu harus berurusan dengan bank, pun dengan peluang tetap diwajibkan membayar tagihan yang timbul.

Padahal transaksi-transaksinya terjadi sekitar pukul 20.45 Wib.

Ya, apa pun itu, semoga saya, dan kita semua tidak mengalami hal seperti ini (lagi). Lebih penting lagi, semoga makin banyak orang yang menyadari bahwa mencopet atau menjadi pencopet bukanlah hal yang patut dilakukan. Dampaknya pun tidak menyenangkan.

Cepat atau lambat, ya … bakal mati juga, sih.

[]

#2019GantiBuah

Memang sepertinya sulit dan mahal ya, kalau ingin sehat di Indonesia. Mencari referensi artikel yang meyakinkan sumber penelitiannya saja jarang sekali. Sebagian besar malah merupakan saduran dari artikel media luar yang juga menggunakan referensi penelitian dari badan atau universitas luar negeri.

Maka dari itu, ketika bicara tentang rekomendasi makanan sehat, yang disebutkan kembali lagi adalah; kacang almond, ikan salmon, dan minyak zaitun. Jika membicarakan buah lagi-lagi yang disebut adalah buah beri, seperti blueberry, raspberry, blackberry. Mungkin yang menulis atau menyadur jarang piknik ke supermarket dan melihat berapa harga blueberry sekotak kecil. Mana yang masuk ke sini sudah mahal, tawar lagi rasanya. Tak rela mengeluarkan segitu banyak uang.

Seperti biasa, saya sedang di tengah membaca buku tentang makanan, kali ini oleh Dr. Mark Hyman, judulnya Food: WTH Should I Eat? Dr. Hyman ini penganut konsumsi makanan dalam bentuk aslinya, kurang lebih seperti Michael Pollan. Dia juga punya Podcast The Doctor’s Farmacy yang seru banget (tolong dikalibrasi standar seru saya ya).

Bab di buku ini dibagi per jenis makanan, dan ketika membahas buah, selain rekomendasi buah yang kadar gulanya minimal seperti (what else) berries, dia juga mengimbau untuk mencari buah-buah eksotis seperti snake fruit (salak kita tercinta), dan rambutan. Lalu kita yang memiliki buah musiman seperti ini masa cari blueberry?

Saya memang suka sekali buah lokal, dan terkadang sedih kalau beberapa jenis sudah sulit dicari. Dulu di Cirebon kalau mengunjungi (almarhum) nenek saya, kalau menemukan jamblang (atau duwet?) yang sepat masam itu girang sekali rasanya. Kalau jambu air sedang musim, saya bisa ngemil jambu seharian. Zaman dulu ke Bali rasanya kurang lengkap  kalau belum makan salak Bali paling tidak satu kilo. Ketika kami tinggal di Prabumulih, dua jam dari Palembang, senang rasanya ketika musim duku. Waktu di Sumatera Utara, giliran musim rambutan yang ditunggu.

Sampai sekarang juga gemar mencari buah di pinggir jalan, pasar atau tempat selain supermarket supaya banyak pilihan buah lokal. Walau terkadang dari kualitas sulit mendapat yang konsisten, tapi tak apalah.

Kadang penasaran juga, kandungan nutrisi buah kita seperti apa sih? Informasi yang sering didapat hanya berbentuk khasiat buah tersebut, mencegah ini itu, tetapi informasi mengenai GI (Glycemic Index) dan GL (Glycemic Load) buah lokal Indonesia tak bisa ditemui. Karena buah biar bagaimana sebutannya kan nature’s candy. Mungkin ada baiknya kalau buah khas Indonesia masih banyak yang belum dimodifikasi, jadi kandungan gula dan rasa manisnya masih sama dengan yang nenek kita konsumsi jamdul.

Tapi jika tidak ada demand dari pasar, tentu bukan hanya tidak dilakukan penelitian dan pengukuran soal buah, jangan-jangan semua orang jadi malas menanamnya, sehingga punah. Mungkin ada baiknya kita tambahkan agenda tahun depan, kurangi cari mudah dengan apel fuji, anggur red globe atau jeruk ponkam, tapi kita ganti buah jadi lokal punya!

Thiel, Helena dan Filosofi Sudah Mati?

“Apa hakikat kenyataan? Dari mana segalanya berasal? Apakah alam semesta memerlukan pencipta? 

Kebanyakan kita tak menghabiskan waktu merenungkan segala pertanyaan itu, namun nyaris semua di antara kita pernah merenungkannya sekali-sekali.

Secara tradisional, semua yang tadi adalah pertanyaan filosofi, tapi filosofi sudah mati. Filosofi sudah tidak mengimbangi kemajuan terkini dalam sains terutama fisika.

– Grand Design – Stephen Hawking

Bagi Stephen (Hawking), para ilmuwan telah menjadi pemegang obor penemuan dalam perjalanan pencarian pengetahuan.

488710135_1280x720

Bagi saya pendapat Stephen tak mudah untuk didebat. Pada kenyataannya hingga saat ini makin banyak sosok Tony Stark dalam wujud nyata. Dalam upaya penyelamatan pesepakbola cilik di gua-gua pedalaman Thailand beberapa bulan lalu, kita diperlihatkan kembali sosok Elon Musk yang bahu membahu dengan para ahli susur gua terbaik dunia. Sebelumnya, konon katanya Osama Bin Laden pun persembunyiannya di sebuah kota di Afganistan diketemukan secara akurat oleh sekelompok anak “Palantir” asuhan Peter Thiel.

Anak muda dengan tingkat pencapaian inovasi dan kebetulan ternyata sungguh dapat dikomersilkan, menjadikannya sosok Tony Stark. Jenius dan kaya raya. Perpaduan lengkap semacam Nasionalis-Relijius ala #Join.

Lihat saja anak sekolahan semacam Larry Page dan Sergey Brin yang menciptakan Google. Atau kisah klasik Mark Zuckerberg dengan Facebook-nya. Kemudian Evan Spiegel dengan Snapchat-nya, atau bintang idola yang makin bersinar dan terus diperbincangkan: Vitalik Buterin, dengan proyek Ethereum-nya.

Bicara soal anak-anak muda “jelmaan Tony Stark”-ini, sejatinya tidak hanya didukung dengan intelejensi yang keren, joss, dan mumpuni, melainkan juga adanya keberuntungan pertemuan dengan sosok tertentu yang menjadikannya meroket.

Masih ingat bagaimana Zuckerberg dibimbing oleh Sean Parker, pendiri Napster? Atau bahkan pertemuan antara Larry dan Sergey yang membentuk Google. Jangan ditanya dengan pertemuan Elon Musk dan Peter Thiel, karena mereka sama-sama jebolan Paypal.

Yang menjadikan ekosistem keilmuwan tumbuh subur adalah minat anak muda dunia barat semakin kentara untuk mencintai bidang ilmu yang digelutinya. Dahulu para intelektual bidang sains cukup dengan menjual paten atau malah sibuk di ruang laboratorium. Sekarang, ilmuwan sains juga merangkap sebagai pengusaha. Mereka tak segan untuk mengkomersilkan karyanya kepada khalayak dan sekaligus mendirikan bidang usaha untuk nantinya dikembangkan terus-menerus.

Selain itu, konsep guru dan murid. Mentoring dan lain sebagainya terus berlangsung dengan terukur dan menimbulkan daya rangsang bagi generasi muda. Peter Thiel menyisihkan dananya untuk mendirikan The Thiel Foundation dan kemudian memberikan dana bantuan bagi anak muda di bawah usia 20 tahun yang memiliki minat dan bakat dalam bidang ilmu pasti, teknologi dan hal lain yang sekiranya merupakan lompatan baru bagi peradaban, bahkan untuk kemajuan jangka panjang masa depan. Bantuannya jelas: Selama dua tahun akan diberikan dana bagi anak yang “kebetulan” memang drop-out dari sekolah, untuk terus berkarya dan menyumbangkan pemikiran maupun karyanya yang berguna bagi (sekali lagi) peradaban.

Dalam 2 (dua) tahun lembaga ini akan  mendanai satu orang pilihannya (yang usianya di bawah 20 tahun atau lebih sedikit), drop-out dari sekolahnya, dengan dana sebesar 100.000 USD atau setara dengan kurang lebih 1,4 milyar rupiah.

Sebuah ekosistem yang cantik bukan?

Vitalik Buterin adalah contoh jebolan The Thiel Foundation. Dari wikipedia bisa diketahui beberapa penerima bantuan dari Thiel ini.

Notable recipients include:[9]

  • Adam Munich, an experimental physicist currently working to mobilize radiography.[10]
  • Boyan Slat, founder and CEO of The Ocean Cleanup[11].
  • Ben Yu, founder of Sprayable[12] and creator of Sprayable Energy[13] and Sprayable Sleep.[14]
  • Dale J. Stephens, founder of UnCollege, a social movement that aims to change the notion that going to college is the only path to success.[15]
  • Eden Full, founder of Roseicollis Technologies, and inventor of a solar panel tracking system called SunSaluter. After the completion of her two-year fellowship period, Full decided to return to Princeton University (where she had secured admission prior to becoming a Thiel Fellow) to pursue mechanical engineering.[16]
  • James Proud, founder of Hello and creator of Hello Sense, a personal sleep tracker.[17]
  • Ritesh Agarwal, founder and CEO of OYO Rooms, which raised $250 million in 2017.[18]
  • Taylor Wilson, the youngest person to produce nuclear fusion.[19]
  • Vitalik Buterin, co-creator of Ethereum.[20]
  • Austin Russell, founder of Luminar, a company that develops high performance LIDAR systems.
  • Thomas Sohmers, founder of REX Computing, a company which develops high performance, energy efficient computer processors.

 

Nah, hal yang lebih menarik lagi saat menyimak deretan nama saintis muda di atas, adalah saat saya iseng mengetahui lebih jauh mengenai masing-masing pencapaian mereka.

Taylor_Wilson_-_02 (1)

Taylor Wilson

Taylor Wilson, bukan kecil-kecil cabe rawit, melainkan kecil-kecil mainannya nuklir.  Lebih menarik lagi ketika saya dapati ia juga merupakan anggota dari Helena Group, sebuah kelompok non pemerintah yang kira-kira siapa dan ngapainnya sebagai berikut:

Helena, Helena GroupThe Helena Group, or The Helena Group Foundation is a global non-governmental organization and think-tank composed of prominent leaders from multiple generations of society.[1][2] Its membership includes senior military and political figuresFortune 500 executivesNobel Laureatesentertainment figures, leading scientiststechnology leaders and philanthropists.[3][4] Helena is structurally designed to produce initiatives that address global issues, which are devised and executed during frequent meetings between its members.[5][6][7]

Helena’s current members include Nicolas BerggruenBrian GrazerRt Hon. David MilibandBeth ComstockEvan SpiegelZoe SaldanaGen. Norton A. SchwartzMax TegmarkBassem YoussefTaylor WilsonChloe Grace MoretzSylvia EarleDynamoMyron ScholesAlaa MurabitGen. Stanley McChrystalSabrina Gonzalez PasterskiDeepak Chopra, and Yeonmi Park.[8][4]

 

Ternyata perkumpulan orang pintar semakin majemuk dan mulai keluar dari zona nyaman untuk lintas disiplin ilmu membicarakan isu-isu global.

Jika pada akhirnya kita mau mengakui bahwa apa yang sudah kita pikirkan, kita perbuat, adalah masih jauh dari nilai kebermanfaatan, maka kita mau ndak mau berani untuk menengok apa yang “mereka” kerjakan.

Bagi saya Indonesia itu ndak kalah pinter. Namun bagaikan pemain alat musik, masing masing asyik ngulik alatnya masing masing. Si A, yang jago gitar ya main gitar aja sendirian sampai maghrib. Si B yang piawai main piano terus aja sampai nangis berdarah-darah menyanyikan lagu sendu. Tapi tidak muncul keberanian untuk saling berkomunikasi dan menekan ego diri. Menunjuk salah satunya menjadi konduktor, dan sepakat emmainkan lagu dengan cara orkestra. Manajemen ilmu yang belum terlatih di negeri tercinta ini.

Para orang kaya membangun yayasan. Kemudian menjadi “patron” bagi para ilmuwan. Orang pandai saling berkomunikasi untuk membahas isu terkini. Para individu tetap mengemban misi dan ambis masing-masing menciptakan sesuatu yang bermakna bagi peradaban. syukur-syukur produknya laku dan menjadikannya kaya raya. Lalu ia akan memposisikan diri sebagai orang kaya yang filantropis. Begitu terus.

Sebuah majelis Ilmu sejati.

 

salam anget,

Roy

 

Ternyata Kita Tidak Perlu (Terlalu) Banyak

Saat tulisan yang sedang Anda baca ini dibuat, saya berada di salah satu sudut di pulau Bali.
Demikian pula saat gempa bumi berskala 7.0 skala Richter terjadi di pulau Lombok pada hari Minggu, tanggal 5 Agustus lalu, saya sudah berada di pulau Bali. Lebih tepatnya, saya baru saja keluar dari kamar mandi di kamar hotel setelah buang air kecil. Baru selesai cuci tangan di wastafel, tiba-tiba saya terhuyung-huyung seperti kehilangan keseimbangan. Saya merasakan getaran di lantai. Sontak saya berpikir, “Gempa!”

Tanpa berpikir panjang lagi, saya berjalan ke meja tulis di belakang sofa di kamar hotel. Saya ambil telpon genggam dan kunci kamar, mengenakan sandal, dan berjalan keluar. Sempat terbersit niat untuk melindungi diri dengan meringkuk di bawah meja. Namun dari sekelebatan mata, ruang di bawah meja terlalu kecil. Tidak ada pilihan lain, cuma ambil ponsel dan kunci, lalu keluar ke arah lobi hotel.

Sampai di lobi, saya melihat sudah banyak orang berkumpul. Tidak banyak raut muka yang menunjukkan kepanikan. Mungkin karena staf hotel sudah sangat sigap mengarahkan sekaligus menenangkan tamu-tamu. Mungkin juga karena sebagian besar tamu, seperti saya, masih belum reda merasakan ketegangan, sekaligus juga excitement merasakan gempa di Bali. Ini yang pertama kali buat saya. Atau mungkin juga tamu-tamu ini malah penasaran mencari rute ke JFC terdekat berkat kunjungan pasangan John Legend dan Chrissy Teigen di warung ayam goreng ini di malam sebelumnya.

earthquake-clipart-earthquake-clip-art

Di lobi saya bertemu beberapa teman yang memang sedang menginap di hotel yang sama untuk urusan pekerjaan kali ini. Kami saling bertukar cerita tentang apa yang sedang kami lakukan saat gempa terjadi beberapa menit sebelumnya, dan bagaimana reaksi kami.

Salah satu dari teman saya berkata, “Masih mending kamu sempat ambil kunci kamar hotel. Lha ini aku tadi buru-buru keluar, kunci kamar ketinggalan di dalam!”

Kami pun tertawa, sambil bertukar cerita soal gempa barusan, dan beberapa kejadian serupa sebelumnya selama ini. Lalu setelah dirasa aman, tidak ada tanda-tanda gempa susulan malam itu, kami pun kembali ke kamar masing-masing.

Waktu kembali ke kamar, saya sempat berpikir, kenapa insting mengatakan untuk mengambil ponsel dan kunci kamar ya? Kenapa tidak mengambil tas punggung yang sedang tergeletak di meja depan televisi, atau mengambil power bank di meja? Dompet juga kenapa tidak diambil?

Pemikiran saya simpel saja: ponsel saya perlukan untuk menghubungi orang-orang terdekat, memastikan dan mengabarkan keadaan saya. Di saku celana masih ada uang, dan saya sempat ingat juga bahwa ada aplikasi di ponsel yang memungkinkan saya mengambil uang di ATM.
Kunci kamar saya ambil karena, apapun yang terjadi dengan kamar saya pasca gempa, saya ingin memastikan bahwa saya bisa masuk mengambil barang-barang saya yang lain saat keadaan sudah memungkinkan. Semua identitas diri, seperti KTP, paspor dan kartu keluarga, sudah saya scan, disimpan dalam bentuk foto, dan upload di cloud service. Sempat terpikir bagaimana nanti kalau batere ponsel habis. Tapi saya meyakinkan diri kalau sebelum batere ponsel habis, sudah menghubungi orang-orang yang memang paling penting untuk dihubungi terlebih dahulu.

Dan di saat itulah saya berpikir bahwa sebenarnya kita tidak butuh terlalu banyak barang untuk hidup. Atau untuk terus melanjutkan hidup.

Image-vignette-Post-Taiwan-Epicenter-EN-300x300

Sering kita mendapat pertanyaan, atau bermain kuis yang mengajak kita memilih, “kalau kamu cuma bisa membawa 5 barang untuk hidup di pulau terpencil, apa yang kamu pilih?” Atau seperti “sebutkan 5 barang berharga yang kamu bawa selama traveling!”
Terus terang saya suka malas menjawab kuis-kuis seperti itu, karena biasanya tidak berhadiah apa-apa, dan perlu waktu untuk berpikir cukup lama. Ternyata, saat dihadapkan pada situasi yang menuntut kita untuk langsung bertindak serupa, kita benar-benar mengandalkan intuisi kita. Intuisi yang dibentuk dari cara kita untuk menentukan prioritas dalam hidup.

Saya teringat film Swedia berjudul Force Majeure (2014) karya Ruben Östlund. Konflik cerita yang sudah tersaji dari awal film bermula dari tokoh ayah yang terkesima saat melihat badai salju, lalu buru-buru menyelamatkan dirinya, sebelum menyelamatkan anak-anaknya, yang telah diselamatkan sang istri terlebih dahulu.
Perseteruan antara suami dan istri, berikut anak-anak mereka, dari kejadian itu, yang akhirnya mengungkap perbedaan cara pandang karakter suami dan istri dalam memilih prioritas hidup, membuat film ini sangat menarik untuk disimak dari awal sampai akhir. Bahwa sebuah kejadian besar yang mengharuskan kita untuk bertindak at the spur of the moment bisa mengungkapkan karakter kita yang sesungguhnya, yang mungkin tidak pernah diketahui oleh orang yang paling dekat dengan kita sekalipun.

damage-earthquake-clipart-explore1

Pada akhirnya memang kita tidak perlu banyak dalam hidup, untuk hidup, dan supaya bisa tetap hidup. Dan biarkan pengalaman hidup yang akhirnya menentukan prioritas kita, apa saya yang kita paling perlukan supaya hidup kita bisa “hidup”.

Persoalan Personal dan Personifikasi Asian Games 2018

Di suatu masa (gak usah ditanya kapan) ada sebuah iklan dengan headline “Dipersembahkan untuk Semua Perempuan Indonesia”. Visualnya cakep lah pada masanya. Sayangnya, riset setelah kampanye menyatakan iklan tersebut gagal. Tidak berhasil membuat konsumennya, yang pastinya perempuan Indonesia untuk tersentuh, apalagi tergerak. Setelah diusut, ternyata kesalahannya ada pada kalimat “semua perempuan Indonesia” yang menimbulkan pertanyaan dalam batin konsumen “perempuan Indonesia yang mana?”

Padahal jelas, maksud iklan tersebut ya untuk semua perempuan Indonesia dari Sabang sampai Merauke, berjajar pulau-pulau. Lalu mengapa kalimat itu tidak merangkul malah menyingkirkan?

Sebuah iklan skala Nasional lagi, menggunakan kata “lo” dan “gue”, langsung mendapat penolakan di kota Jogja. Alasannya, di kota itu para remajanya tidak memanggil temannya dengan “lo” dan “gue”. Terlontar saat survey seorang remaja Jogja berkata “tolong, jangan samakan kami dengan kalian, anak Jakarta. Jangan pula memaksa kami menjadi seperti kalian. Kami ingin menjadi diri kami sendiri.” Sebuah pengalaman yang tak terlupakan sepanjang hidup. Kecuali gue, eh, aku pikun di tengah jalan.

Komunikasi personal sepertinya jadi kunci utama. Manusia selamanya ingin dinilai spesial. Tak ingin disamaratakan sebagai “seluruh perempuan” atau “hai anak muda”. Penyebutan seperti ini selain menyamaratakan juga membuat komunikasi jadi tidak efektif.

Lalu apa yang bisa menyatukan warga negara ini? Pengalaman mengatakan kita adalah manusia yang tergerak untuk membantu sesama. Membantu perorangan. Sebuah organisasi penggalangan dana sosial suatu ketika pernah presentasi soal bagaimana aktifnya warga saling membantu untuk menolong seorang nenek naik haji. Atau membantu remaja yang ingin membelikan motor untuk ayahnya. Atau keinginan seorang remaja yang bercita-cita membangun sebuah warung di daerahnya. Keinginan, harapan, cita-cita perorangan Mungkin karena kata sejenis “bangsa” terlalu besar untuk dikunyah. Apalagi seluas Asia.

Dari pemahaman ini pula sebenarnya ide BolBal berasal. Saat 2009 bom meledak di kawasan Mega Kuningan membangkitkan semangat “nasionalis” di Twitter. Semua terasa mengambang sampai ajakan untuk membantu Pak Yayan, seorang pedagang kaos yang terkena dampaknya. Memudahkan kita untuk mengunyah dan bertindak.

Banyak pertemuan yang mengajak untuk menyukseskan Asian Games 2018. Secara garis besar tujuannya ada satu: mengajak dan menyentuh warga, terutamanya Jakarta dan Palembang, untuk turut serta menyukseskan acara besar olahraga ini. Dengan pemahaman di atas, tantangannya pun menjadi satu: menjadikan acara ini personal.

Ilustrasinya begini, untuk mendukung acara sebesar ini sepertinya akan membingungkan. Bikin gamang. Untuk mendukung atlet Indonesia yang bertanding, mulai lebih jelas walau masih kurang jelas. Atlet yang mana? Cabang olahraga apa? Tapi misalnya untuk mendukung I Gede Siman sepertinya akan lebih jelas. Yuk beri semangat untuk Siman supaya semangat bertanding dan memenangkan emas, akan lebih mudah ditelan ketimbang yuk beri semangat untuk atlet Indonesia bertanding dan jauh lebih jelas ketimbang yuk sukseskan Asian Games 2018.

Aksi dukungan pun akan lebih mudah tersalurkan. Misalnya dengan memberikan komentar menyemangati di akun-akun media sosial pribadi para atlet. Ada 800 atlet yang akan bertanding. Bisa dipandang sebagai sarana ajakan yang besar. Jelas hanya beberapa yang terkenal dan eksis di media sosial. Tantangannya jadi memperkenalkan atlet-atlet yang bertanding sebanyak mungkin. Bisa jadi membangun personifikasi yang lebih mudah ketimbang memperkenalkan Bhin-Bhin, Atung dan Kaka.

Contoh dari Korea yang sedang bersiap menyambut Olimpiade musim dingin di PyeongChang. Dengan cerdas mereka menggunakan Yuna Kim sebagai personifikasi. Yuna memang atlet skat peraih medali emas Olimpiade yang juga menjadi “darling” publik di Korea. Di komunikasinya, Yuna diperkenalkan secara personal. Soal perjuangannya, kemenangan dan ditutup dengan ajakan untuk menyukseskan Olimpiade musim dingin ini.

Tak hanya atlet yang bertanding. Kita bisa mengkomunikasikan orang-orang yang berusaha keras menyukseskan Asian Games 2018. Bagaimana cerita tukang rumput yang menjaga GBK? Apa cerita orang tua atlet yang ditinggalkan anaknya masuk Pelatnas? Salah satu seremoni penting yang dilupakan adalah pemasangan mesin penghitung waktu yang menjadi sarana vital dan mahal semua pertandingan olah raga.

Kegagalan menciptakan rasa memiliki ini, bisa jadi penyebab utama perusakan kursi baru di GBK saat baru awal dibuka. Kursi dilihat sebagai kursi. Benda mati. Padahal ada banyak cerita dibalik kursi yang didatangkan dari luar agar sesuai standar internasional dan dipasang dengan perhitungan. Mengapa tidak diangkat cerita tukang rumput, tukang cat, arsitek, dan berbagai profesi lainnya. Dan mereka adalah bagian dari kita. Jadi ajakan merawat gedung akan lebih personal kalau diganti menjadi ajakan merawat hasil kerja orang-orang yang merupakan bagian dari kita. Mereka adalah ayah dari temanmu, saudara dari tetanggamu, kerabat sekampung, dan semua kedekatan-kedekatan lainnya.

Ini baru satu pemikiran untuk menjadikan event Asian Games 2018 masuk ke dalam relung-relung personal dan keintiman yang menggerakkan. Pastinya ada banyak ide lain. Tapi sebelumnya perlu untuk sejenak melupakan “kebesaran skala” Asian Games 2018, tapi mulai membangun jembatan yang mendekatkan.

Dalam sebuah perbincangan dengan seseorang yang kenal banyak komunitas, dia berkata “ada banyak komunitas yang sebenarnya ingin membantu untuk menjadikan Asian Games 2018 ini sukses. Tapi banyak yang bingung harus bagaimana, ke mana, ngapain”. Seharusnya dengan kanal-kanal personal dibuka, bentuk dukungan akan mengalir dengan sendirinya. Seperti air yang sekarang punya saluran untuk mengalir sampai jauh dan kemudian berkumpul di laut besar, Asian Games 2018.

Lalu bagaimana dengan urusan kebesaran sebuah acara? Tak kenal maka tak sayang, percayalah itu benar adanya. Hakiki.

Acara yang dimulai sejak 1978 ini, memang sepertinya tak lagi menarik para milenia apalagi Gen Z. Jangankan Asian Games, Olimpiade saja tak lagi menarik perhatian. Mungkin nanti 2020 saat Olimpiade di Jepang baru akan membuat mereka tertarik. Kok bisa? Yaiyalah, mulai dari demam Pokemon, orang Indonesia liburan ke Jepang yang semakin banyak, anime, acara Ennichisai yang semakin ramai pengunjung, lokalisasi rasa Sushi, dan semua yang berbau Jepang perlahan membangun kedekatan emosional ke warga kita. Bayangan Hello Kitty yang bertugas menyalakan obor Olimpiade saja sudah bisa bikin kita tersenyum.

Asian Games 2018 yang sebenarnya sudah dimulai cukup lama sejak pemugaran GBK, sepertinya lupa untuk membangun jembatan kedekatan personal ini. Lebih fokus pada mengkomunikasikan pembangunan kemegahan gedung daripada kemegahan dalam hati. Belum terbangunnya jembatan ini terbukti dari banyaknya netijen yang merasa harga tiket pembukaan dan penutupan Asian Games 2018 kelewat mahal. Padahal semua pasti sudah paham, mahal dan murah adalah soal persepsi. Bisa diciptakan.

Sehingga sampai acara yang tinggal beberapa minggu ini lagi, gaung Asian Games 2018 belum bisa dirasakan cukup besar. Kalau pun ada, pasti banyak yang merasakan agak “maksa”. Padahal para KOLs dan influencer kelas kakap telah dikerahkan dan orang tertinggi di negara ini sudah turun tangan. Lagi-lagi kita terlalu sibuk dengan seremoni dengan harapan bergaung lama di media sosial. Bukan bergaung di dalam hati.

Hilang harapan? Tidak juga.

Ibu saya tinggal di sebuah kampung Betawi. Warga sana sehari-hari hidup masing-masing. Tak bermusuhan tapi juga tak akrab sangat. Lalu apa yang menyatukan dan menggerakkan warga? Saat banjir datang. Semua warga saling tolong menolong, bahu membahu untuk menyelamatkan. Tak berhenti di situ, sesama warga pun saling menyemangati. Saling menghibur. Seketika rasa memiliki muncul.

Jadi kita perlu “banjir” untuk membuat warga Jakarta dan Palembang antusias dan mendukung Asian Games 2018? Semoga bukan banjir bencana, tapi banjir ide dan semangat untuk segera membangun jembatan kedekatan. Masih ada waktu. Walau tak lagi cukup untuk membangun jembatan bata, tapi mungkin jembatan Tarzan.

Suasana

Pernahkah suatu suasana begitu menyenangkan dan kamu ingin memakannya agar terasa semakin dalam dan tahan lama?

Suasananya yang ngepas dengan mood, sampai bau udaranya, sentuhan sinar mataharinya, tatapan orang-orang di sekitarmu, dan bebunyian sekitar yang tak mau dihilangkan dari ingatan.

Bisa saja kamera hape mengabadikan secara visual, tapi alat apa yang bisa mengabadikan keseluruhan ini?

Bahkan earphone pun sama sekali tak dikenakan demi meraup seluruh suara yang ada. Menghirup udara dalam-dalam hingga dada membusung. Mata menatap dengan sempurna atas warna-warna dengan spektrum cahaya yang diterimanya.

Demikian juga dengan kulit tubuh kita yang merasakan hembusan angin, terpaan sinar, dan apapun yang beri teraksi dengannya.

Bisa jadi ini adalah reaksi sementara dan awal dari sebuah hal baru yang menghinggapi tubuh. Namun kebanyakan pengalaman membuktikan, ini bukan soal respon fisik, namun lebih masuk daripada itu. Ini soal pengalaman psikologis dan alam batin.

Panca indera hanya pintu depan. Setelah kuncinya terbuka, maka selanjutnya ruang hati, meja kalbu, dapur batin, dan loteng psikologis kita ikut diselami.

Inilah yang bagi Mulla Sadra, dianggap sebagai pengetahuan juga. Pengetahuan yang bukan saja alam fisik, rasional, namun juga batin dan pikiran. Bagi seorang Dora, ini adalah petualangan yang membuatnya semakin dewasa. Bagi Nobita, ini adalah episode lanjutan yang bisa jadi merupakan usahanya lepas dari ketergantungan pada Doraemon.

Jika kemudian sesuatu yang baru ini terulang beberapa kali, dan menjadi rutinitas, apakah fenomena ketakjuban tubuh, hati dan pikiran akan tetap terjadi?

Bisa ya, bisa tidak.

Seorang Albert Einstein yang saat itu bekerja pada pemeriksa pengajuan hak paten bertubi-tubi setiap hari harus memeriksa pengajuan model arloji. Setiap hari ia melihat stasiun kereta. Setiap hari ia, dari ruang kerjanya diterpa cahaya matahari. Komorebi. Lambat laun, lamunannya berbuah teori yang mengikutsertakan cahaya, waktu dan ruang. Teori Relativitas lahir dari sebuah rutinitas yang dimaknai.

Dan jika setiap orang memiliki keunggulan dan minat tertentu pada hal tertentu. Punya alasan tertentu atas aktivitas yang dilakukannya, maka di lingkaran itulah ia akan beranjak bangun, beraktivitas, dan kembali ke peraduan. Begitu privat dan intim. Kita, individu lain, tidak memiliki otoritas atas apa yang hendak dipilih dan apalagi dipikirkan orang lain.

Karena setiap orang ingin merasakaan apa yang ada di paragraf pertama.

Sesering mungkin.

Salam anget,

Roy