Menghakimi dan Menghukum Orang Lain Itu Memang Nikmat

MANUSIA memang makhluk yang istimewa. Baik pandangan agama maupun sains sama-sama menyepakatinya.

Menggunakan akal, manusia menjadi satu-satunya spesies di muka bumi ini yang mampu berpikir dan menimbang, menghasilkan kehendak untuk bertindak.

Manusia juga bisa mengenali dan merasakan sensasi yang dihasilkan dari tindakannya tersebut, tahu mana yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Yang kemudian memunculkan keinginan untuk dapat merasakannya lagi, atau justru berusaha menghindarinya lain kali.

Termasuk tindakan yang satu ini; nikmatnya menghakimi dan menghukum orang lain.

Ya, hanya manusia yang bisa melakukan ini terhadap sesamanya. Terlebih kepada orang asing, orang-orang yang tidak memiliki kedekatan subjektif. Makin mudah saat melakukannya, tanpa beban. Maka jangan heran jika internet dan media sosial akan selalu ramai dengan urusan yang satu ini. Lantaran siapa saja dapat bebas berbicara, menyampaikan alasan, pemikiran, serangan, dan penghakiman.

The more the merrier. Tambah “meriah” ketika timbul tanggapan yang bertentangan. Kedua kubu mendapatkan gelombang dukungan. Begitu aja terus, sampai akhirnya reda, terlupakan, dan beralih ke drama berikutnya.

Photo by Kristopher Roller on Unsplash

Photo by Kristopher Roller on Unsplash

Manusia mempunyai kecenderungan untuk ingin melibatkan diri dalam urusan manusia lain, bahkan dengan kadar terendah sekalipun (dengar sekilas, dan ditanggapi: “Oh, begitu…”). Ini mungkin ada kaitannya dengan sifat instingtif manusia yang penasaran dan selalu ingin tahu sejak awal, alias kepo.

Penghakiman sosial identik dengan komentar pedas dan menjatuhkan, atau nyinyiran di media sosial. Berawal dari sebuah pernyataan atau celetukan seseorang, diikuti pernyataan setuju yang tak kalah nyelekitnya.

Tanpa bermaksud merendahkan kaum ibu rumah tangga, di ranah analog, penghakiman sosial seperti ini terjadi di “majelis” gerobak tukang sayur keliling. Ada yang berbicara, ada yang menyimak, ada yang menimpali. Sedangkan yang tidak setuju akan merasa kurang nyaman, dan mempercepat aktivitas berbelanjanya.

Di Facebook atau Twitter, seseorang menuliskan sesuatu. Sedang tren dibikin thread atau rangkaian twit, bisa juga berupa posting-an panjang di Facebook. Ada yang me-Retweet, ada yang memberikan komentar, ada yang membagikannya ke laman sendiri dengan atau tanpa pernyataan tambahan. Terkadang malah lebih heboh dan berapi-api, memanas-manasi. Tak terlalu berbeda dengan “majelis” ibu-ibu kompleks tadi, kan? Hanya saja, informasi yang disampaikan di media sosial bisa dibaca publik, termasuk oleh yang tidak setuju. Umumnya, tulisan berbalas tulisan, nomention berbalas nomention, ujung-ujungnya pun jadi tweet war.

Third-Party Punishment

Berbeda dengan binatang, manusia menggunakan manusia lain guna penyelesaian konflik. Bukan pertarungan langsung. Di antara dua individu yang bermasalah, selalu ada pihak lain yang berada di tengah-tengah. Dalam bentuk yang formal, sebagai lembaga, ada perangkat peradilan. Terdapat seseorang atau sekumpulan orang yang berwenang memberikan ganjaran.

Nah, masalahnya ada pada sekumpulan orang yang tidak berkedudukan sebagai hakim, tetapi menikmati bertingkah laku selayaknya hakim.

Mengapa tindakan menghakimi dan menghukum orang lain terasa nikmat?

Sebab dengan menghakimi orang lain, kita merasa telah menjadi individu yang lebih baik dibanding si “terdakwa”; tiada bercela, berpijak di pihak yang benar, menjunjung tinggi kepatutan sosial, memiliki kualitas moral yang terpuji. Pokoknya mengedepankan hal-hal yang menggembirakan ego kita, membuat keberadaan kita seolah amat berharga dibanding orang lain, yang kebetulan tengah melakukan kesalahan. Tak peduli sekecil apa pun kesalahan tersebut, tak peduli sudah semenyesal apa pun yang bersangkutan meminta maaf, dan sebagainya.

Aku lebih baik daripada kamu. Titik.

Dilanjutkan dengan memberikan hukuman. Bukan sanksi formal, melainkan hukuman sosial, yang maraknya ya berupa cemoohan tertulis dan cuplikan twit, status, atau pesan pribadi (DM). Bertujuan awal agar yang bersangkutan menyadari kesalahan dan mengubah perilakunya (tetap dengan pendekatan “Kamu salah. Lihat aku dong, aku kan benar.”) atau ya … ingin mempermalukan orang lain saja.

Tambah asoi lagi jika dilakukan rame-rame, keroyokan. Pasalnya, selain merasa mendapat dukungan, semua orang ingin tampil dan bersuara, dan karakteristik media sosial yang terbuka seakan kian menyemangati banyak orang untuk unjuk diri. Sehingga respons yang muncul seringkali terlihat berlebihan, ya jumlahnya, ya isi pesannya. Melenceng dari niat awal.

Ini bersifat alamiah. Kajian “The Neural Basis of Altruistic Punishment” yang dirilis 2004 lalu bahkan menunjukkan bahwa kegiatan menghukum orang lain berdampak pada bagian tertentu di otak manusia, khususnya yang berhubungan hadiah atau ganjaran (reward). Indikasi sederhananya, sedari kecil kita terkondisi untuk merasa senang saat menerima hadiah, dan seperti itulah yang kita rasakan setelah berhasil menghukum orang lain.

Jangan lupa, kenikmatan yang digandrungi secara berlebihan, apalagi sampai bikin kecanduan, bisa berujung pada kerugian. Seseorang yang terlalu suka menghakimi, menghukum, dan mempermalukan orang lain secara terbuka, tetap berpotensi melakukan kesalahan. Dia—seseorang yang awalnya dianggap benar, suci, tak ternoda—pun tetap bisa menjadi sasaran penghakiman massa selanjutnya.

Celaan balik yang dilancarkan khalayak bakal tanpa tedeng aling-aling. Mirip air bah. Terang-terangan dan banyak. Sampai berlebihan. Oleh sebab itu wajib punya mental yang kuat untuk sanggup menghadapinya.

Dulunya menghantam, eh kini gilirannya kena hantaman serupa. Sakit hati gara-gara rasa malunya lebih gede. Harga diri dan gengsi ikut kebanting.

Benar banget sih, memang paling enak ngomongin orang lain. Cuma, alangkah baiknya ditinjau dan ditanyakan ke diri sendiri terlebih dahulu sebelum melakukannya: “Apa sih tujuanku (dengan ngomongin orang lain itu)?” Kalau hanya pengin mempermalukan orang lain di depan umum, ya apa bedanya dengan iseng ikut-ikutan mukulin maling. Merasakan kegembiraan dari perbuatan jahat.

Masih banyak hal yang lebih penting untuk dilakukan, dan kamu bukan juru selamat peradaban, kok.

[]

Advertisements

Leave a Reply