Rutinitas Itu Membunuh Makna

Secara total saya membantahnya! Iya, pakai tanda seru. Satu hal yang membunuh makna adalah “ketidaksadaran”.

Kalimat rutinitas membunuh makna, adalah kalimat yang manja. Keluar dari pengalihan dari ketidakberdayaan untuk selalu sadar atas apa yang dilakukan. Lebih fatal lagi karena makna justru sejatinya bukan “hasil” tapi ia adalah “sebuah usaha”.

Setiap hal dapat dimaknai. Rutinitas pun dapat dimaknai. Ketika rutinitas dilakukan dengan kesungguhan hati, dengan prinsip “mengerjakan lebih baik” dari sebelumnya, maka makna tak akan hilang barang sedikitpun. Bahkan rutinitas yang secara sadar dilakukan menambah jam terbang dan pada gilirannya apa yang dilakukan membuahkan hasil melebihi apa yang diduga.

David Beckham lebih sering melakukan latihan tendangan untuk memperoleh hasil yang memuaskan dalam karir sepakbolanya. Stephen Curry berlatih setiap hari soal men-dribble bola, menembaknya ke ring, melatih kelincahan kedua tangannya jauh lebih banyak dari pemain basket lainnya.

Beberapa orang tak setuju dengan tulisan Malcolm Gladwell dalam Outliers tentang the beatles yang telah lebih dari 10.000 jam manggung untuk menghantarkannya terkenal dan mempertajam ide lagu.

Akan tetapi belum ada yang membantah prinsip Kaizen Jepang yang memaknainya sebagai tak ada yang terbaik melainkan hanya ada “menjadi dan melakukan lebih baik”. Inilah yang diyakini Jiro, pembuat sushi paling hakiki di Jepang dengan “3 bintang michelin” yang setiap hari meracik dan menyajikan sendiri sushi terbaik buatannya di restoran miliknya yang terletak di bawah stasiun Tokyo. Untuk 20 buah sushi beragam jenis, minimal ia menghargainya dengan bandrol paket seharga Rp4,2juta.

Rutinitas yang membunuh makna bisa saja diklaim, tapi sebatas hanya dan jika dilekatkan para seniman. Karena para seniman yang merasa dan bisa jadi betulan kreatif itu sebagian besar beranggapan dan meyakini kreatifitas bukan dipertajam dari latihan, melainkan jiwa, bakat, inspirasi dan ide yang muncul tanpa diduga.

Oleh karenanya seniman lebih banyak akhirnya membuat tubuhnya jadi benda sendiri itu sendiri. Tato disana-sini, penampilan harus beda, anting di semua pinggiran telinga, atau gaya bicara yang sulit dimengerti orang awam.

Satu hal lagi yang terlupa.

Makna adalah sebuah azasi setiap insan yang sungguh privat. Memaknai adalah sebuah kegiatan yang begitu subyektif dan tak bisa diganggu gugat oleh orang lain. Sehingga dengan tuduhan bahwa rutinitas membunuh makna, adalah sebuah klaim yang sungguh subyektif karena dirinya yang meyakini itu mengidap hal demikian. Rutinitasnya membuat dirinya kehilangan makna. Tapi bagi orang lain yang melakukan hal yang sama, belum tentu.

Rutinitas khusus yang diklaim oleh orang tertentu adalah perkara rutinitas menulis. Baginya menulis adalah sebuah kreativitas. Sebuah penilaian sekaligus penghargaan yang patut diapresiasi. Tapi bagi sebagian yang lain menulis bisa jadi adalah sebuah terapi. Sebagian lain adalah sebuah proses berbagi. Sebagian lain menulis adalah sebuah kewajiban kerja. Sebuah etos kerja.

Menulis akan indah jika disertai renjana. Saya sepakat. Menulis dengan penuh hasrat menjadikannya tulisan lebih hidup. Perasaan dan pemikirannya menjelma deretan huruf. Lalu menjadi rangkaian kata-kata yang menggugah selera.

Tapi adakalanya menulis bukanlah sebuah kegiatan menjahit adibusana. Menulis bisa jadi adalah proses membuat seragam sekolah. Membuat baju kerja. Menjahit kerudung. Merangkai kain perca menjadi keset. Menjahit emblem seragam pramuka.

Lalu apakah rutinitas selalu identik dengan kerja teratur ciri khas industri, yang menjadikannya rangkaian kalimat hasil pabrikan? Sebuah dugaan yang tipis dan begitu ringkih. Apakah ketikannya menjadi semacam mesin pemintal? Tentu saja tidak.

Saya tidak yakin benar GM akan rela dirinya yang setiap minggu menyisihkan waktu menulis catatan pinggir adalah bagian dari industri. Saya tak yakin benar apakah kolumnis surat kabar yang rutin menulis adalah bagian dari kerja pabrik.

Makna justru dikerjakan dalam proses kreatif menulis itu sendiri. Bukan memaknai kegiatan menulisnya. Namun memaknai apa yang dipikirkannya. Apa yang dialaminya. Atau bahkan memaknai apapun yang sama sekali sedang tidak dikerjakannya.

Rutinitas dapat membunuh makna?

Masih bisa dibantah.

Namun, rutinitas tidak melakukan sesuatu apakah dapat dikatakan sudah pasti tak memberi makna apa-apa merupakan sesuatu yang dapat disanggah?

Selamat pagi, Glenn. Apa kabarmu hari ini?

salam anget,

roy

Advertisements

Karena Kita Perlu Rumah

Kalau memang kita menganggap pasangan kita sebagai rumah, a home, maka:

• kita perlu waktu untuk mencari tempat calon rumah tersebut. Tidak bisa memilih sembarang lokasi. Demikian pula dengan calon pasangan sebagai rumah kita. Kadang ada yang bisa mendapatkannya secara cepat dalam sekejap, didorong oleh intuisi, kadang ada yang perlu waktu lama. Dan yang penting: saling cocok. Sama-sama available, and willing.

• Begitu dapat lokasi, maka kita perlu waktu lagi untuk membangun fisik bangunan rumah tersebut. Ada yang berbentuk rumah sederhana, rumah mewah, apartemen tipe studio, dan beragam jenis bangunan lainnya. Demikian pula dengan hubungan inter personal kita. Saat memutuskan untuk menjalin hubungan, maka di situlah pondasi awal mulai dibangun. Kalau masih terasa kosong, mari kita isi dengan usaha mengenali satu sama lain. Kalau masih terbuai di awang-awang, ibarat sejuta rencana dan ide tentang rumah yang belum jadi, maka kita mau tak mau terjungkal ke tanah saat melihat budget dan progress pengerjaan rumah.

keyhole-tomas-castelazo

• Sambil menunggu bangunan rumah selesai, kita masih mencicil pembayaran, dan mengurus semua keperluan administrasi rumah. Proses yang sepertinya tak pernah berhenti, dan mungkin tak akan pernah terhenti. Demikian juga mengenali keluarganya, teman-teman dekatnya, yang selalu berubah dan berevolusi, baik dari tingkah laku, pemikiran, dan untuk urusan teman, mungkin juga pergantian teman, seiring dengan berjalannya waktu.

• Saat rumah selesai, maka kini perlu mengisinya. Tak perlu buru-buru, yang penting sudah direncanakan dengan matang. Tak perlu buru-buru membombardir isi hati dan pikirannya dengan hal-hal yang kita sukai dan kita benci. Pelan-pelan saja. Let the other party start picking up. Lalu menemukan hal-hal lain yang disuka dan dibenci bersama.

• Saat rumah sudah terisi, kita tetap harus merawatnya dengan baik. Membersihkan secara rutin, merenovasi secara berkala. Merawat diri dan pikiran kita agar kita betah sama diri kita dulu sebelum pasangan kita juga betah. Mengganti barang yang sudah usang. Mengganti hobi dan kesukaan yang sudah lama tidak dilakukan, sambil mencari hal baru yang bisa dilakukan bersama.

• Kadang kita bosan dengan rumah kita sendiri. Saatnya pergi sejenak. Kadang kita perlu waktu sendiri, agar saat kita kembali, kita bisa lebih menghargai kebersamaan yang ada. Maka kita pun pergi untuk kembali.

• Mungkin kita perlu waktu lebih lama untuk kembali. Bisa jadi sangat lama. Mungkin rumah sudah terlalu rusak untuk diperbaiki. Biayanya sudah tidak masuk akal lagi. Sometimes the cost of fixing a relationship is too great to bear.

• Ada kalanya rumah kita jauh lebih baik saat ditempati dan dirawat oleh orang lain. Maka pelan-pelan kita belajar untuk melepaskannya.

• Kita pun mencari rumah baru, yang berbeda dengan rumah yang lama. Tak perlu disamakan, dan tak perlu berharap akan menjalani kehidupan yang sama. Toh umur kita sudah tidak sama lagi. Kalau kita tidak bisa menjadi lebih dewasa, paling tidak pengalaman hidup kita sudah bertambah, sehingga bisa jadi pegangan.

Sometimes, it takes a lifetime to build a home.

10-18-2-19-0-36-25m

(Source: artpal.com)

Dan Dunia Pun Semakin Kejam Kepada Orang-orang Jelek

YANG jelek wajahnya, terutama. Sebab itu yang bisa dilihat sejak pertama kali berjumpa. Bertemu langsung, atau melalui dunia maya. Bukan jelek pemikirannya, jelek hati dan kehendaknya, apalagi jelek keimanannya.

Bukan salahnya manusia pula memiliki mata yang berfungsi untuk melihat benda-benda kasatmata, mengetahui dan mengenali apa yang dilihat, lalu memiliki perasaan atau kesan terhadap sesuatu yang dilihat tersebut. Indah/jelek, menarik/biasa saja, suka/benci, gandrung/tak acuh, senang/jijik, dan lain-lain.

Berbekal perasaan dan kesan tadi, si manusia akan bertindak sesuai konteks maupun keinginannya. Mereka akan cenderung mendekati dan menyukai segala yang indah-indah dan menarik perhatian. Sebaliknya, mereka akan cenderung menjauhkan diri, bahkan membenci yang buruk dan jelek. Kecenderungan ini kita lakukan sejak masih bayi, dan biasanya bakal menguat seiring bertambahnya usia. Membentuk preferensi dan selera.

Cakep itu relatif, jelek itu mutlak.

Mekanisme di atas terjadi begitu saja, dan secara alamiah membuat kita takluk pada rupa. Tanpa kita sadari, sayangnya kita memberikan penilaian serta perlakuan berbeda berdasarkan pandangan mata, dan inilah yang membuat dunia seakan tidak adil bagi sebagian orang. Mendorong mereka untuk lebih mengejar hal-hal yang fana.

Dengan gampangnya, kita bisa memperolok-olok orang (yang dianggap berwajah) jelek sebagai polusi pemandangan. Seolah-olah tampilan wajah mereka memberi efek mengganggu ketertiban lingkungan setempat. Dalam posisi ini, si pengejek tentu merasa dirinya lebih cantik atau tampan ketimbang sasarannya.

Tak usahlah saya tampilkan cuplikan video komentar juri dalam ajang menyanyi yang viral belakangan ini.

Mendapat perlakuan tidak menyenangkan seperti itu, ada yang tak acuh dan bahkan yang tidak sadar tentang hal tersebut. Selebihnya, ada pula yang terdampak cukup keras. Mereka mengiyakan olok-olok tersebut, menganggap diri mereka memang jelek, kemudian mengusahakan berbagai cara untuk “menghilangkan” faktor-faktor yang membuat mereka jelek.

Kulit gelap? Maka jangan heran mengapa produk pemutih kulit dari berbagai rentang harga, termasuk layanan suntik putih selalu banyak peminatnya. Wajah berminyak dan berjerawat? Maka jangan heran mengapa produk perawatan wajah juga laris manis. Beraneka produk kosmetik dan riasan untuk perubahan total dan berlebihan. Sampai operasi plastik di luar negeri berbiaya fantastis.

Tak sedikit kasus ketika perubahan wajah juga menimbulkan perubahan perlakuan. Kala jelek dihina-hina dan disepelekan, setelah berubah (menjadi tidak jelek lagi), orang yang dahulunya mengejek malah berusaha mendekat.

Duh, sudah cakep, baik, wangi, pinter pula…

Bagi yang belum berpasangan, berharapnya bisa mendapat pacar yang rupawan. Karena itu, selalu ada anggapan bahwa yang cakep-cakep pasti sudah ada yang “punya”, kalaupun sendirian berarti baru habis putusan, atau malah bikin berpikir yang bukan-bukan. Buka Instagram, Tinder, dan beraneka media sosial lainnya pun, pasti tertarik dengan wajahnya terlebih dahulu. Setelah sekali dua kali jalan bareng, atau berkencan, baru mulai ketahuan kekurangannya, untuk dipertimbangkan berlanjut atau udahan.

Bagi yang sudah punya pasangan, dan merasakan sedikit ketidakpuasan atau rasa bosan, pasti bisa membandingkan sang pasangan dengan orang lain. Kebanyakan, para suami yang mengkritisi penampilan istri. Harus cantiklah, harus berdandanlah, harus seksilah, harus wangilah, harus langsinglah, dan seterusnya. Namun, sebaliknya, para suami-suami tersebut pun bukannya memiliki profil fisik yang menawan. Para pemuda tetap akan menjadi om-om, dan kakek-kakek pada waktunya. Masalah ini kadang makin pelik dengan keterlibatan orang tua dan orang-orang di sekelilingnya. Para orang tua berharap memiliki menantu yang rupawan. Demi kepantasan. Dalihnya.

Kenapa mesti diakhiri “… hati suami udah tertaut pada anda“? Lah, kalau suaminya jelek juga, bagaimana? Dicuplik dari twit: https://twitter.com/inganggita/status/1020314541580681217

Mundur, Mas. Kamu jele…”

Ada yang tidak tahu bahwa mereka cakep.
Ada yang tahu bahwa mereka cakep.
Ada yang biasa-biasa saja setelah tahu bahwa mereka cakep.
Ada yang tidak tahu bahwa mereka jelek.
Ada yang tahu bahwa mereka jelek.
Ada yang bisa menerima bahwa mereka jelek.
Ada yang tidak bisa menerima bahwa mereka jelek.

Ada yang lemah terhadap orang cakep.
Ada yang biasa saja terhadap orang cakep.
Ada yang risi terhadap orang jelek.
Ada yang biasa saja terhadap orang jelek.

Walau bagaimanapun juga, perkara perbedaan perlakuan lantaran wajah cakep versus wajah jelek ini pasti tak akan berakhir dan hilang begitu saja sampai akhir zaman. Di tingkatan yang paling dasar sekalipun, selalu ada pengecualian untuk orang-orang cakep. Tak adil memang, hanya saja, lagi-lagi manusia sudah terkondisi secara alamiah untuk begitu: menggandrungi yang indah, dan menjauhi yang buruk.

Untung cakep…”

Para orang tua, guru dan lembaga pendidikan, maupun lingkungan keagamaan memang mengajarkan don’t judge the book by its cover kepada anak-anak mereka. Harapannya, agar anak-anak tersebut bisa berlaku baik kepada siapa saja, tanpa membeda-bedakan penampilan. Namun, pengajaran ini baru bersifat normatif, sesuatu yang dilakukan demi kepantasan sosial. Selanjutnya, anak-anak tersebut pun tetap akan tumbuh memiliki preferensi dan selera fisik masing-masing. Mulai menaksir seseorang lantaran wajah dan penampilannya, tingkat kekerenannya, dan lain-lain.

Jangan lupa, media dan suguhan-suguhan audiovisual pun mengumandangkan nuansa yang sama. Menonton televisi, ada acara yang menjadikan wajah orang lain sebagai objek kelakarnya, lalu memunculkan anggapan massa bahwa wajah si orang lain tersebut bisa disebut jelek. Dahulu ada Zainal Abidin Zetta, yang kemudian malah lebih terkenal sebagai Diding Boneng. Padahal boneng itu sendiri merujuk pada keadaan yang bisa dijadikan bahan olok-olok. Berlanjut ke sederetan nama-nama tokoh lainnya yang justru diidentikkan sebagai hinaan bersifat fisik. Tampilan muka, lebih tepatnya.

… dan dunia pun bersikap semakin kejam terhadap orang-orang yang dianggap kurang rupawan.

Tuh, baca caption-nya. Foto: Tribunnews

Dari sini, kita semestinya memahami bahwa setiap orang memiliki tingkat kedewasaan dan kebijaksanaan yang berbeda-beda, termasuk diri kita sendiri. Mustahil untuk dijadikan sama rata. Ada yang benar-benar mengerti bahwa wajah dan tampilan fisik hanya sebatas kulit. Namun, meski setipis-tipisnya kulit, tetap saja bisa membuat orang tergila-gila. Menyukai maupun membenci.

Kalau begitu, janganlah terburu-buru mencibir apalagi mengutuk kedangkalan pemikiran dan sikap orang lain. Lebih baik memerhatikan diri sendiri terlebih dahulu, dan memastikan agar kedewasaan sikap yang sudah kita punya tidak tergerus, dan malah terikut arus, merasakan keseruan dengan mengolok-olok wajah orang. Bila bertemu dengan orang lain, entah seperti apa pun tatanan wajahnya, ya sudah, biarkan saja dan tetap berharap yang terbaik untuk dia. Tetaplah bersikap layaknya manusia yang berbudi dan beradab. Andai tak tahan ingin tertawa, cobalah untuk mohon diri. Kamu barangkali memang tidak sekuat itu.

 

 

 

 

 

Tertanda,

Orang jelek.

[]

Apakah Guna Payudara?

you-know-youre-a-breastfeeding-mom-when-you-decide-what-to-wear-based-on-how-easily-accessible-you-breasts-will-be-1cd68

Kalau bukan dari Tweet di atas saya lumayan lupa kalau masih ada orang yang mempermasalahkan perempuan yang menyusui bayinya di tempat umum. Bukan karena saya tidak peduli, tapi karena sepuluh tahun lewat saya termasuk di antaranya. Bukan yang mempermasalahkan, tetapi yang menyusui di tempat umum (jika perlu).

Selama ini saya kira sebagian besar ibu sudah lebih baik nasib saya dulu. Yang untuk mencari atasan yang “breastfeeding friendly” saja sulit sekali. Sampai saya sempat ingin membuat lini pakaian khusus untuk itu.

Tetapi rupanya saya tidak begitu bakat bisnis dan memberikan brief ke tukang jahit, akhirnya tak terlaksana ide tersebut. Walhasil saya sering harus mengalah menggunakan dua lapis atasan, bagian dalamnya tanktop supaya kulit perut saya tidak seperti kulit bedug yang diangin-anginkan di siang hari bolong.

Kain penutup ibu menyusui? Dulu belum ada. Lagian jika saya coba menutup anak dulu, setelah dia lewat 7 bulan, dia belajar menyingkap apa pun yang membuat dia tidak bisa melihat dunia sekitarnya.

Tapi rupanya pilihan untuk produk semakin banyak untuk ibu menyusui. Tetapi sayangnya pilihan manusianya tetapi itu itu saja. Jika menilik thread di atas, cukup banyak yang mendukung ibu menyusui di mana saja, tetapi tidak sedikit pula yang merasa tak nyaman, bahkan terganggu dengan bayi menetek di sekitarnya.

Ada pula yang menyamakan proses ini dengan buang air besar di tempat umum (hello?). Mengutip salah satu jawaban di thread itu juga, if you feed someone with your shit, then you can compare those two processes. 

Sulit rasanya berempati dengan orang-orang yang menegur seorang perempuan karena hal ini. Paling tidak dengan hanya mengingat bahwa dia punya ibu, kemungkinan besar pernah disusui, bagaimana bayi jika lapar tidak bisa menunggu, betapa alaminya proses tersebut, dan itu adalah fungsi utama payudara sebelum dibuat seksual oleh PRIA, mereka harusnya belajar untuk menggigit lidahnya dan diam saja jika tak bisa menawarkan hal baik ke ibu tersebut. Bukan malah mengusulkan untuk mereka menyusui di WC (kecuali kalau mereka lapar membawa makanan ke WC dan makan di sana).

Saya berharap kalau ini eksklusif terjadi di Amerika Serikat, dan bukan di sini. Tetapi kembali lagi, saya tidak tahu keadaannya bagaimana sekarang. Sepuluh tahun yang lalu saya akan menyusui di mana saja anak minta. Mungkin tidak ada yang berani menegur karena muka judes saya. Atau ada yang memelototi atau melihat payudara sambil terangsang, but I didn’t care. I just want to feed my child. And she was hungry. Mungkin ada yang punya pengalaman dan ingin share keadaan di sini sekarang bagaimana? Saya ingin dengar!

Kalau Kita Pikir Kita Tahu Semuanya, Well …

the truth is, we hardly know anything.

Seorang penulis ternama pernah menulis di akun media sosialnya, bahwa “I believe we only show 10% of our life in social media”. Kurang lebih isinya seperti itu.

Saya mengamini pendapatnya. Bahwa tidak mungkin kita menampilkan seluruh kehidupan kita, atau seluruh aktifitas seharian kita, ke media sosial untuk dilihat dan ditelaah orang-orang asing yang tidak kita kenal. Meskipun kenyataannya sekarang, jauh lebih banyak yang berusaha mati-matian untuk melakukan hal tersebut, demi viral, eksistensi, kepopuleran dan alasan-alasan lain.

Jangankan untuk media sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, kita patut bertanya, yakinkah kalau kita tahu persis kehidupan orang yang dekat dengan kita?

Saat kita berpisah dengan pasangan kita setiap hari untuk saling berangkat kerja, tahukah kita apa yang pasangan kita lihat, rasakan dan lakukan sepanjang menuju tempat kerja, di tempat kerja, dan waktu mau pulang ke rumah? Saat anak selesai mencium tangan orang tuanya dan pamit berangkat sekolah, yakinkah orang tua benar-benar tahu kegiatan anaknya, dan anak benar-benar tahu rutinitas orang tuanya?

cache_6699210

Climber watching sunrise

Ada banyak sisi dalam diri kita yang mungkin sebagian dari kita sudah tahu apa saja sisi tersebut, dan mungkin ada yang belum secara penuh mengenali isi dalam diri. Adalah hak kita untuk mengungkap sisi mana yang mau kita bagi. Dan juga hak kita untuk membagi sebagian diri kita dengan orang-orang tertentu, agar ada kelompok-kelompok individu lain yang melihat sisi kita yang lain pula.

Sampai di sini apakah Anda masih bingung?

Saya mau bercerita sedikit.

Beberapa tahun lalu, salah satu teman terdekat saya akan menikah. Tentu saja saya dan beberapa teman lain ikut semangat menyiapkan diri untuk menghadiri pernikahan tersebut.

Namun beberapa hari menjelang acara besar, saya dilanda keresahan yang luar biasa. Sumber kegelisahan saya datang dari setitik keraguan mengenai hidup baru yang akan ditempuh teman saya. Dari mana keraguan itu muncul? Datangnya dari ketidaktahuan saya terhadap calon pasangan hidup teman saya tersebut.

Bukan sepenuhnya tidak tahu, hanya tidak dekat. Atau lebih tepatnya, tidak sedekat pertemanan kami.
Saya ungkapkan keraguan tersebut kepada beberapa teman lain. Semuanya memberikan tanggapan yang kurang lebih senada, yaitu agar saya wish them well saja. Tentu saja tidak meredam kegelisahan saya.

Sampailah di hari perhelatan acara.

Rangkaian prosesi pernikahan, mulai dari menyerahkan seserahan, duduk di belakang calon pengantin, semua kami ikuti sesuai aturan. Kami duduk mendengarkan petuah dari para pemuka agama, dan juga sambutan dari masing-masing orang tua. Tentu saja saya mendengarkan semuanya sambil membiarkan pikiran ini menari-nari sendiri dengan berbagai macam lamunan dan pemikiran tentang keraguan saya.

Sampai pundak saya ditepuk salah satu panitia.

“Mas, bawa kan flash disk yang dititipkan minggu lalu?”

“Oh iya. Hampir lupa. Sebentar ya.”

Saya bergegas ke mobil yang mengantar kami. Saya hampir lupa, kalau seminggu sebelumnya, ada seorang video editor yang menitipkan sebuah flash disk. Katanya itu berisi video dan foto calon pengantin. Sempat saya tanya, “Pre-wedding video?” Lalu editor itu menggeleng dan tersenyum. Katanya, “Nanti lihat saja sendiri.”

Of course saya belum sempat melihatnya dari saat menerima flash disk tersebut sampai hari pernikahan tersebut. Lalu saya serahkan flash disk tersebut ke panitia, dan kembali ke tempat duduk mengikuti rangkaian resepsi.

Sampai pada akhirnya MC memimpin pembacaan doa, lalu acara inti pernikahan selesai. Teman saya telah sah menikah, baik di mata agama maupun hukum. Para tamu mulai kasak-kusuk berdiri untuk antri foto bersama pengantin baru. Kami masih duduk-duduk santai sambil mengecek ponsel masing-masing.

thinking-about-life

Lalu MC berkata, “Sambil menikmati hidangan yang ada, kami akan memutar cuplikan video dan foto pasangan baru kita hari ini.”

Mata saya lalu beranjak ke dua layar televisi berukuran cukup besar yang sudah dipasang. Live feed sudah diganti dengan montage foto-foto teman saya dan, waktu itu, pacarnya. Saya tersenyum. Lalu cuplikan foto-foto berganti dengan video yang dibuka dengan tulisan “Sehari Bersama Mereka”.

Saya tertawa kecil sendiri, melihat teman saya memakai kaos yang pernah saya berikan sebagai hadiah ulang tahun. It looks familiar. Namun perasaan familiar tersebut hanya berhenti sampai di situ.

Saya tertegun melihat video itu. Di situ saya melihat sosok teman saya yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Yang sangat attentive dalam mendampingi pasangannya. Yang berbicara dalam nada suara yang berbeda, dan terlihat sungguh-sungguh, seakan tidak ada kamera yang mengikutinya. Yang memandang dan berbicara kepada pasangannya dengan tatapan seolah-olah tidak ada orang lain di sekitar mereka.

Yang berbeda dengan cara interaksi terhadap saya dan teman-teman kami lainnya selama lebih dari satu dekade kami berteman.

Di momen itu saya sadar bahwa seberapa lama pun kita mengenal orang lain, selalu ada bagian lain dari orang itu yang tidak pernah kita tahu sebelumnya. We never fully know a person. We can only know a glimpse of a person, and sometimes, that’s all we need to know.

Terus terang saya terharu saat video itu selesai, dan kembali memutar cuplikan foto-foto. Tidak ada yang tepuk tangan. Namun ada perasaan lega dalam hati seusai melihat video tersebut. Tiba-tiba keraguan saya hilang begitu saja. Yang ada adalah keyakinan, even just a hunch, bahwa teman saya telah memilih keputusan yang tepat. Dan akhirnya saya bisa memeluk mereka berdua di pelaminan saat sebelum kami foto bersama dan mengatakan dengan penuh keyakinan tanpa ragu, “Congratulations!

how-do-i-truly-know-if-god-is-calling-me

Seperti layaknya kita tidak pernah mengetahui secara penuh jati diri orang lain, kita pun tidak bisa mengharapkan orang lain tahu keseluruhan diri kita. Tetapi kita bisa selalu memilih, apa yang kita perlu tahu dari orang lain, dan apa yang orang lain perlu tahu dari kita.

And that is enough.

Mass singing One Love

Semua Agama Itu Sama

SAMA-SAMA tergantung dan diarahkan oleh interpretasi manusia, para penganutnya. Baik yang termasuk (1) golongan orang-orang terpilih, para ulama, para pandit, para pembabar ajaran, dan mereka yang mendalami segala aspek dalil-dalilnya agar bisa lebih mudah dipahami oleh; (2) umat awam sebagai golongan pendengar dan pelaksana, yang jumlahnya akan selalu lebih banyak dibanding para pemuka.

Kendati berasal dari tuhan langsung, keterlibatan manusia berperan penting dalam pembentukan agama. Pasalnya, setiap manusia diciptakan dengan pemahaman spiritual yang berbeda-beda. Agak disayangkan, agama tidak diturunkan tuhan berupa seperangkat sistem utuh, terstruktur, dan sistematik. Melainkan potongan demi potongan yang mesti disatukan sendiri.

Apa pun karakteristiknya—berasal dari wahyu maupun non-wahyu, petunjuk dari tuhan atau pengalaman adikodrati—yang kemudian dijadikan agama—pada awalnya pasti disampaikan kepada atau dialami perorangan. Kala itu, detail peristiwa atau interaksi antara pencipta dan ciptaannya hanya benar-benar diketahui oleh yang terlibat di dalamnya. Ya … oleh tuhan dan manusia pilihannya tersebut. Termasuk firman ilahi yang disampaikan atau berbunyi secara verbatim, kata per kata.

Beberapa waktu setelahnya, barulah pengalaman ilahiah tersebut dibagikan kepada orang lain. Umumnya orang-orang dari lingkar terdekat sang manusia pilihan tersebut. Entah nabi atau guru. Misalnya, antara Yesus dan 12 muridnya, atau antara Buddha dan Pancavagiya (lima petapa yang jadi pengikut pertamanya). Dari sinilah interpretasi manusia mulai berpengaruh dalam pemaknaan landasan agama.

Terbagi atas sejumlah fase.

Diawali dengan pencatatan pengalaman atau kejadian ilahian tadi. Sang manusia pilihan akan bertutur, orang-orang lain dari lingkar terdekatnya pun akan berusaha mengingat, atau bahkan mencatatnya ke medium tertulis. Menghasilkan catatan suci dan dikultuskan, lantaran diutarakan oleh atau melalui manusia pilihan, manusia yang pernah berhubungan langsung dengan tuhan. Tujuan dasarnya adalah sebagai bentuk penghargaan, keyakinan dan keimanan, serta selalu diingat dan diteruskan ke generasi berikutnya. Dari perspektif sejarah, tidak ada satu pun kitab suci yang langsung diturunkan berwujud buku; bersampul, berjilid, berhalaman-halaman, dan seterusnya. Setebal atau setipis apa pun kitab suci sebuah agama, tetap merupakan hasil pencatatan ulang. Katakanlah Mazmur (Psalm atau Zabur) memang berasal dari Daud, sang raja dan nabi dalam tiga agama samawi utama, tetapi bukan Daud yang mencatat dan membukukannya.

Selain itu, hanya ada sedikit nabi atau guru yang berkemampuan untuk mencatatnya sendiri. Contohnya Laozi, pendiri ajaran Daoisme, atau Konfusius, nabi ajaran Konghucu. Keduanya menulis buku-buku yang selanjutnya dianggap sebagai kitab suci ajaran masing-masing.

Statue of Laozi, Henan, China.

Patung Laozi dan Daodejing, Gunung Laojün, Henan. Foto: foxdw.com

Catatan-catatan suci tidak dihasilkan dalam bentuk yang mudah dipahami begitu saja. Seringkali berbentuk syair, atau pernyataan-pernyataan bernuansa sastrawi yang perlu ditelaah lebih lanjut. Ditambah lagi keterbatasan akses publik di masa itu, ketika rakyat jelata yang buta huruf mustahil menyentuh apalagi membacanya kembali. Sehingga di fase berikutnya, para pemikir dan pembelajar agama menyampaikan buah-buah pikiran mereka, baik untuk tujuan keilmuan maupun mempermudah ibadah dan perilaku religius dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah mengkaji serta mendalami catatan-catatan suci, mereka menggariskan intisari, penjelasan tafsir, dan komentar guna memperjelas ayat demi ayat yang ada. Karena berkaitan dengan hal-hal yang disukai dan dibenci tuhan, ada juga sejumlah cendekiawan yang merumuskan peraturan. Poin-poin ini yang diajarkan dan disosialisasikan kepada umat awam, dengan tujuan penyederhanaan, kemudahan, dan kepraktisan menerapkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Mereka seakan-akan berujar: “Daripada kebingungan, keliru, dan tidak sanggup mengkaji sendiri, nih, saya sudah bikin formulasinya. Cukup jalankan saja yang ini.

Setiap buah pikiran yang disampaikan tentu tidak diterima bulat-bulat begitu saja. Ada mekanisme verifikasi yang dijalankan oleh sesama ahli agama. Mana yang dianggap cocok, pantas, dan patut akan disebarluaskan, bahkan diajarkan kepada masyarakat. Sebaliknya, yang dianggap bertentangan, tercemar, dan menyesatkan akan diberedel, disita, dan terlarang untuk dipublikasikan. Itulah sebabnya ada empat Injil dalam Alkitab Perjanjian Baru, serta menempatkan Injil-Injil lainnya sebagai Apokrifa, atau pun proses kategorisasi hadis yang sahih, hasan, dan daif.

Nicea Council.

Lukisan Konsili Nicea pertama, seleksi ajaran yang termasuk dalam dasar kekristenan modern. Foto: newyorkapologetics.com

Pokok-pokok ajaran dan aturan-aturan keagamaan baku yang diterima melalui kesepakatan golongan alim tadi, disodorkan kepada umat awam. Seyogianya supaya dijalankan dengan baik dan menyeluruh. Tokoh-tokoh agama tersebut pun memposisikan diri mereka sebagai para penjaga; menjaga agar agama dijalankan sebaik-baiknya, menjaga agar aturan agama dipatuhi sepenuhnya, serta menjaga kaidah dan mencegah munculnya penafsiran liar yang berpotensi menyesatkan. Kondisi ini menjadikan mereka cenderung konservatif, dan kerap memiliki pendapat berbeda tentang fleksibilitas dalam beragama; dalam memaknai dan pengamalan ajaran serta peraturan agama.

Namanya juga interpretasi manusia. Dalam hal ini, ada kelompok pemuka agama dengan pemahaman yang keras, ada pula kelompok yang relatif lebih luwes dalam berpendapat. Adu dalil, argumentasi, dan ayat kitab suci ada di tataran mereka. Sedangkan umat awam sebagai pengikut, sesuai kenyamanan religius mereka akan memilih mengikuti kelompok ulama yang mana. Fase inilah yang menyebabkan potensi konflik atau kisruh internal dalam semua agama. Saling menyalahkan antarsesama penganutnya sendiri. Praktik keagamaan pun menjadi bising. Ini yang menyebabkan terjadinya Great Schism, memisahkan Katolikisme dan Protestanisme.

Sekali lagi, semua bermula dari interpretasi manusia.

Agama. Dari manusia, oleh manusia, untuk manusia.


Sebuah Analogi

Biasanya, hampir semua penumpang Kereta Api Listrik (KRL) atau bus TransJakarta pasti ingin duduk selama perjalanan. Kenapa? Karena posisi duduk terasa lebih santai dan nyaman. Saking nyamannya, seringkali malah sampai berebutan atau bahkan tidak peduli keadaan orang lain. Apalagi jika bisa mendapat kursi di pojokan. Lebih enak. Duduk sambil menyandarkan punggung dan sisi tubuh.

Agama pun kurang lebih demikian, menjadi tempat bersandar sekaligus kendaraan ke pelbagai jurusan. Tidak usah melulu berdiri, menahan lelah letihnya badan sepanjang jalan. Namun bagaimanapun juga, kendaraan tetap harus ditinggalkan setibanya di tujuan.


Sebuah Intermeso

Manusia yang membutuhkan ritual agama, atau ritual agama yang membutuhkan manusia?

Saat sebuah robot di India berhasil diprogram untuk melaksanakan aarti (bagian dari prosesi pemujaan Hindu India), apakah persembahan yang dijalankannya bernilai ibadah? Ataukah justru dinilai sebagai penyimpangan?

Mirip pula dengan ini.

Pemutar rekaman mengaji di kuburan. Buat kirim doa, katanya. Foto: radarislam.com


Sebuah Penutup

Kita masih ingat, riuhnya pujian dan cercaan dari berbagai pihak kepada Kiai Haji Yahya Cholil Staquf yang hadir serta berbicara di forum American Jewish Committee (AJC), Israel.

… dan inilah yang terjadi kala seribuan umat Muslim (termasuk Kiai Haji Yahya Cholil Staquf), umat Kristen, dan umat Yahudi menyanyikan lagu bernuansa perdamaian secara massal bergantian menggunakan bahasa Inggris, bahasa Arab, dan bahasa Ibrani.

Menurut saya—yang bukan Muslim, Kristen, atau Yahudi ini, videonya bagus dan bikin merinding.

[]

22

Beberapa hari yang lalu saya genap berusia 22 tahun. Rasanya sungguh ajaib bahwa ternyata saya masih bisa terus lanjut sampai hari ini sebab beberapa tahun yang lalu sekitar dua minggu sebelum ulang tahun ke 17, saya pernah melakukan percobaan bunuh diri dengan menenggak lotion nyamuk rasa jeruk.

Ada banyak hal yang membuat saya melakukan hal tersebut. Yang paling utama adalah saya takut dengan usia 17 tahun. Saya takut dengan sebuah tanggungjawab. Saya takut dengan masa depan, tidak tau harus berbuat apa dan bagaimana menghadapinya nanti. Masa depan terlihat sangat menyeramkan karena tidak ada panduan bagaimana menjalaninya dengan baik.

Masalah lain yang membuat saya semakin berani melakukan hal tersebut karena saya memiliki masalah keluarga yang cukup pelik, lalu untuk pertama kalinya saya jadi ranking 2 di kelas (iya cuma turun 1 ranking saja tapi sudah stress), dan saya masih dihantui mantan pacar saya yang cukup posesif.

Saat usia 16 tahun saya pernah pacaran dengan seseorang yang cukup sakit dan meninggalkan trauma yang cukup membekas hingga saat ini. Saat akhirnya bisa lepas, rasanya senang sekali. Tapi rupanya ia tidak tinggal diam. Masih kerap mengejar saya dan membuat ketakutan. Parahnya, ketika itu saya tidak pernah berani untuk cerita pada siapapun.

Karena gabungan beberapa masalah dan ketakutan itulah saya memutuskan untuk mengakhiri hidup. Kala itu saya tidak takut dosa, masuk neraka atau hal-hal sejenis itu. Saya hanya ingin berlari. Menyudahi semua ketakutan dan rasa sakit karena merasa sendiri dan tidak mampu melewati. Menenggak lotion nyamuk saya pilih karena kala itu saya memiliki pikiran tidak ingin menyakiti tubuh fisik saya.

Mental dan hati saya sudah sakit dan tidak saya rawat dengan baik, saya tidak ingin melakukan hal yang sama untuk fisik saya. Menenggak lotion nyamuk juga saya pilih karena beberapa bulan sebelumnya, tetangga saya ada yang melakukan hal serupa juga karena masalah cinta yang cukup pelik dan ia memutuskan mengakhiri rasa sakit dengan menenggak anti nyamuk tapi versi cair. Saya memilih yang berbentuk lotion karena waktu itu saya sudah tidak memiliki waktu lagi untuk membeli dulu yang versi cair. Jadi saya memilih yang berbentuk lotion. Yang ada di kepala saya hanya satu: ini sama-sama anti nyamuk dan racun, jadi pasti bakal mati.

Proses eksekusi terjadi pada suatu hari Minggu sore yang sepi. Hanya ada saya di rumah. Saudara dan keluarga sedang bepergian dan memiliki aktivitas masing-masing. Saya melakukan eksekusi di kamar, langsung saya minum dua bungkus lotion nyamuk rasa jeruk. Saya ingat bahwa rasa panas langsung terasa sampai membuat telinga perih ketika pertama kali lotion tersebut menyentuh lidah. Setelah itu hitam. Saya pingsan dan baru tersadar empat hari kemudian.

Yang pertama kali saya rasakan ketika tersadar adalah sensasi rasa super panas di perut. Bukan panas seperti kalau terlalu banyak makan pedas. Tapi panas yang benar-benar seperti akan meledak. Lalu yang kedua adalah rasa haus tak terperi. Tenggorokan rasanya perih, panas tapi juga kering dehidrasi seperti sudah lama sekali tidak kena air. Dan yang ketiga adalah rasa perih di lidah, hidung dan telinga disusul dengan sensasi aroma Jeruk yang aneh. Ketika saya membuka mulut, menyeka hidung, menguap dan mencoba bersuara, aroma jeruk memabukkan langsung menguar hebat dan membuat saya pusing dan mual.

Saya menandai bahwa masa setelah saya siuman adalah salah satu masa terrrrrrrr terrrrr dalam hidup saya. Saya kurang suka buah Jeruk. Tapi karena tragedi itu, setiap saya mau beraktivitas apapun (bahkan buang air) jadi bau jeruk! Yang paling epik sih pas saya coba makan, Makanan pertama yang saya konsumsi kala itu adalah telur balado pedas dan nasi putih hangat. Tapi ketika saya coba makan, rasa pedasnya hilang malah berganti jeruk. Pokoknya dulu saya bingung banget setiap merasa lapar atau haus. Soalnya yang masuk mulut semua jadi rasa jeruk dan menimbulkan rasa mual.

Drama jeruk ini baru bisa hilang selama hampir seminggu kemudian dengan bantuan banyak cairan pencuci mulut dan sikat gigi tak terhitung berapa kali dalam sehari. Tidak ada satu pun pihak keluarga saya mengetahui tentang ini. Pada saat saya tidak sadarkan diri hingga empat hari, kebetulan orang rumah tidak ada semua. Ada satu orang rumah tapi mengira saya pergi. Kebetulan beliau tidak main atau mampir ke kamar saya juga jadinya tidak tau. Sampai kini kisah ini juga tidak saya ceritakan kepada keluarga. Malu.

Tapi pihak sekolah dan beberapa teman saya tau. Soalnya saya sempat dipanggil wali kelas karena saya membolos lebih dari tiga hari. Waktu saya menghadap wali kelas saya dulu, entah kenapa saya langsung jujur dan cerita semua. Padahal tadinya saya mau alasan ada acara keluarga atau apa gitu. Tapi guru saya sudah curiga juga sih soalnya badan saya bau lotion nyamuk rasa jeruk banget. Saya ingat sekali saat saya cerita sambil menangis, guru saya menatap saya dengan pandangan campuran ingin tertawa, marah, heran dan berbagai ekspresi lainnya. Ketika saya selesai cerita, kepala saya langsung dipukul meledek dan saya dipeluk.

Jangan ulangi lagi” begitu katanya dulu.

Karena takut saya masih belum stabil dan mengulangi lagi, wali kelas saya memanggil dua teman yang menurut beliau sangat dekat dengan saya. Sejak dulu saya tidak memiliki teman sekelas yang benar-benar dekat, saya kaget kenapa guru saya tersebut memilihkan dua orang itu sebagai orang yang menurutnya dekat dengan saya. Reaksi dua orang tersebut setelah dipanggil dan diceritakan kisah saya sangat ajaib. Mereka berdua memarahi, memukul dan malah meledek menyumpahi padahal hubungan kami bertiga tidak dekat-dekat amat.

”Kenapa gak mati sekalian aja lo?” begitu reaksi mereka dengan nada gemas dan kesal yang sampai sekarang masih selalu membuat saya malu sendiri dan menimbulkan perasaan hangat di dada kalau mengingat.

Saya tidak tau apa saja yang disampaikan wali kelas saya pada dua orang itu. Tapi kini dua orang tersebut menjadi sahabat baik saya hingga saat ini meski terpisah jarak. Bersama mereka, saya tidak lagi merasa sendiri. Bersama mereka, saya tidak lagi ingin berlari, melakukan percobaan bodoh dan konyol yang membahayakan diri. Bersama mereka, saya ingin hidup lebih lama lagi.

***

Sudah hampir lima tahun berlalu sejak kasus itu terjadi. Pada setahun pertama menuju usia 18 tahun, kadang pikiran ingin mengakhiri hidup masih kerap hadir. Beberapa kali saya juga masih suka menulis ”ingin mati” ketika menulis curhatan di buku diari. Tapi seiring berjalannya waktu dan banyaknya orang baru yang saya kenal dan temui, keinginan untuk mengakhiri hidup sudah tidak hadir lagi.

Ada banyak kegiatan yang saya lakukan setelah tragedi itu terjadi. Saya mengawali dengan mencoba membuka diri pada orang lain, mencoba menjalin hubungan pertemanan dengan beberapa orang. Saya mencoba untuk berani jatuh cinta lagi dan melakukan keberanian menyatakan penolakan ketika mantan pacar saya yang sakit masih menghantui. Kalau mengingat itu kadang saya suka kagum dan suka tidak percaya kalau saya ternyata bisa dan berani untuk bersuara.

Setelah tragedi itu, saya mencoba banyak aktivitas baru. Ikut berbagai komunitas hobi, membaca banyak buku, menonton banyak film, belajar menekuni kegiatan memotret, mencoba menghabiskan waktu lebih banyak bersama keluarga, bertemu banyak orang dengan berbagai macam latar belakang pendidikan, budaya dan usia yang berbeda. Dan yang terakhir saya lakukan dan membuat saya menjadi ingin terus bertahan hidup: saya akhirnya melanjutkan kuliah.

Keinginan ingin mengakhiri hidup masih saya rasakan ketika saya tamat sekolah dan terpaksa tidak lanjut karena keterbatasan biaya dan juga saat mendapati bahwa dunia kerja ternyata begitu menyeramkan. Tapi untung saya segera mendapat atasan yang menyenangkan meski pekerjaannya masih membuat pusing.

Dari beberapa kali pindah kerja, saya jadi menyadari bahwa atasan dan rekan kerja yang menyenangkan jauh lebih penting dari jenis pekerjaan yang kamu lakukan. Atasan dan rekan kerja saya yang sekarang sangat baik dan mendukung perkembangan saya. Karena hal ini, beban kerja yang berat kadang jadi tidak terasa soalnya malah timbul motivasi ingin terus hidup dan memberikan yang terbaik untuk perusahaan. Apalagi ketika saya akhirnya sudah memiliki biaya untuk kuliah dan atasan saya mendukung dengan baik. Rasanya jadi ingin terus hidup lebih lama lagi.

***

Beberapa minggu lalu sebelum saya ulang tahun ke 22, saya pergi ke supermarket untuk membeli kebutuhan rumah tangga. Saat melewati etalase pelengkap rumah tangga, saya tertegun saat melihat bahwa kini anti nyamuk rasa jeruk yang pernah saya pakai itu kini memiliki versi cair dalam kemasan spray. Sejak tragedi itu kebetulan saya berhenti menggunakan berbagai macam anti nyamuk, takut kalau suatu hari kalap. Jadi pas menemukan varian baru tersebut, saya langsung tertawa terpingkal-pingkal sampai membuat beberapa pengunjung supermarket di sekitar menatap ke arah saya dengan heran.

capture-20180622-123337

Saya memutuskan untuk membeli anti nyamuk berbentuk spray tersebut. Setelah sampai rumah, segera saya potret dan kirim melalui pesan ke sahabat saya. Responnya luar biasa, salah satu sahabat saya langsung melakukan panggilan telepon karena mengira saya akan mengulangi tragedi itu lagi. Setelah ia puas memarahi saya karena membuat dia kaget, kami akhirnya malah tertawa puas menertawakan kebodohan yang pernah saya lakukan kala itu. Saat teman saya menutup telepon, ia sempat mengancam,

Awas kalau habis telepon ini mati trus lo ikutan mati”

Yang membuat saya mau tidak mau jadi tersenyum sangat lebar. Tuhan, saya beruntung sekali masih diberi kesempatan hidup.

Setelah hari itu, banyak sekali hal ajaib yang terjadi pada hidup saya. Banyak juga masalah lain yang tidak kalah berat dari masalah dulu. Tapi ternyata saya bisa melalui semuanya dengan baik. Kalau ada satu masalah yang sudah beres, kadang saya kerap membatin, kenapa dulu kok rasanya bodoh banget ya pengen lari dan mengakhiri hidup? Tapi di satu sisi, kadang saya sedikit bersyukur karena saya pernah melakukan percobaan bunuh diri itu.

Karena setelah tragedi itu, saya jadi lebih terbuka pada orang lain. Saya juga tidak malu menceritakan ini pada orang-orang. Tapi tetap sih masih saya rahasiakan ke pihak keluarga. Tidak siap dengar reaksi mereka soalnya meski sudah berlalu. Cerita ke keluarga takut tapi cerita ke kenalan atau orang asing malah berani. Kadang malah suka saya jadikan trivia dan bahan obrolan.

Saya tau ini agak bodoh. Hal memalukan gitu kok ya malah diumbar. Tapi saat melihat orang yang mendengar cerita saya tertawa lepas dengan tatapan tak percaya bahkan tanpa sadar malah membuat mereka jadi ceria, saya malah jadi bersyukur karena pernah melakukan kebodohan itu. Tragedi saya bisa membawa tawa untuk orang lain. Dan, hei, bukannya memang tragedi, hal bodoh dan memalukan yang sudah pernah kita lakukan itu memang harusnya kita tertawakan ya? Iya, harus kita tertawakan. Kita tertawakan dan tutup dengan rasa syukur karena ternyata masa itu sudah berlalu dan ternyata kita bisa melaluinya dengan baik.

Karena cerita pada orang lain juga saya jadi belajar hal baru. Beberapa orang yang pernah mendengar cerita saya ternyata banyak memiliki keinginan yang serupa juga tapi mereka semua tidak pernah berani melakukan eksekusi. Sampai saat ini, ada sekitar delapan kenalan yang sudah mendengar cerita saya ini dan memberi label bahwa saya adalah orang pemberani karena berani sampai melakukan eksekusi langsung. Karena obrolan ini juga kami malah sampai membuat diskusi panjang lebar membahas ”jangan-jangan pas lo pingsan empat hari itu sebenarnya mati suri ya?” yang membuat saya kebingungan. Gak tau juga ya kalau soal ini. Pokoknya saya pingsan empat hari dan rasanya seperti tidur tidak ingat apa-apa.

Tapi bukan berarti saya jadi merekomendasikan untuk melakukan percobaan bunuh diri juga ya, hhh, jangan!

Belajarlah untuk berani terbuka pada orang lain. Jangan takut untuk membuka diri, meminta pertolongan dan mulai bercerita. Akan selalu ada orang yang bersedia menyediakan waktunya untukmu.

Jangan menyerah, yang menunggu di depan sana itu hal-hal yang menyenangkan. Ayo, terus berjalan.

***

Sudah hampir lima tahun berlalu sejak hari itu. Saya sudah tidak lagi takut dengan usia 17 tahun. Sekarang sudah tidak lagi bisa disebut sebagai anak kecil. Sekarang sudah mencoba banyak masalah lain yang jauh lebih serius dan berat dari masalah yang dulu rasanya terasa sangat berat.

Tidak banyak yang saya pinta pada usia baru ini.

Kepada kamu yang beberapa hari lalu tepat berusia 22,

Semoga di usia baru ini, kamu terus diberi nikmat sehat dan kekuatan untuk terus selalu berjalan. Banyak petualangan ajaib yang menunggu di depan sana. Saya yakin, seperti yang sudah-sudah: kamu pasti bisa melaluinya dengan baik.

Menjadi dewasa itu sulit, maka jalanilah dengan penuh rasa riang gembira dan ceria. Sesekali menangis tak apa, menangis terus juga tidak masalah. Tidak ada yang salah dengan mengeluarkan semua perasaan yang kamu miliki dan rasakan. Menangis bukan tanda kamu lemah. Berani mengeluarkan apa yang kamu rasakan bukan suatu kesalahan.

Menjadi dewasa itu tidak pernah mudah. Hidup itu keras dan akan ada banyak terus cobaan dan petualangan dengan level-level baru yag terus menunggu di depan sana. Selalu ingat untuk terus bersyukur dan berusaha untuk memberikan yang terbaik.

Beranjak dewasa itu sulit,
maka kamu harus riang dan gembira menjalaninya.

Dan seperti yang sudah-sudah, saya tau kamu pasti bisa.

Sepakbola Dan Political Correctness

Kemarin adalah terakhir kita melihat event empat tahunan Piala Dunia di Rusia. Sepakbola walau bagaimanapun adalah olahraga paling populer di seluruh dunia. Penggemarnya banyak. Kita sudah mempunyai pemenangnya, Prancis. Untuk kali kedua mereka menjadi Juara Dunia. Pertama kali, 20 tahun lalu, Didier Deschamps yang menjadi kapten memenangi kejuaraan ini. Kali ini bertindak sebagai pelatih, Deschamps memenangi kembali kejuaraan ini. Deschamps adalah legenda. Karena hanya ada dua orang sebelumnya yang bisa memenangi kejuaraan ini sebagai pelatih dan pemain. Franz Beckenbauer dari Jerman dan Mario Zagallo dari Brasil. Sekarang tambah orang Prancis. Tidak sembarang orang bisa masuk kategori ini.

Maker:0x4c,Date:2017-12-12,Ver:4,Lens:Kan03,Act:Lar01,E-Y

Tapi ada satu yang mengganjal dari Piala Dunia kali ini. VAR, yang kependekan dari Virtual Assistant Referee, ini mulai diperkenalkan pertama kali, setelah sebelumnya Liga Italia dan Amerika Serikat sudah mulai menggunakan teknologi ini. VAR ini dipergunakan untuk meminimalisasi kesalahan yang dilakukan oleh wasit di lapangan. VAR terdiri dari beberapa asisten wasit yang berada di dalam ruangan yang mengamati pertandingan melalui beberapa monitor TV. VAR bisa memberi rujukan ke wasit di lapangan jika terjadi pelanggaran yang berpotensi kartu merah atau penalti. Di sini masalah timbul. VAR belum bekerja maksimal. Mungkin VAR sudah berhasil mengurangi kesalahan yang di buat oleh wasit. Tapi ada yang lebih penting, VAR dianggap membunuh permainan sepakbola itu sendiri. Karena prosesnya yang relatif lama itu bisa membunuh tempo permainan. Sepakbola yang di mainkan 2 x 45 menit adalah permainan strategi dan tidak mengenal kata time out. Tempo permainan bisa berhenti seketika ketika proses VAR berjalan. Ini artinya permainan kembali ke nol. Serangan yang sudah dibangun tiba-tiba bisa hancur seketika. Ini pun dirasakan oleh penonton yang ketika VAR diberlakukan. Saya menyebutnya dijitalisasi emosi. Mengambil emosi dengan alasan tidak perlu. Tidak organik. Untuk gampangnya bayangkan jika anda sedang menonton film yang sedang tegang-tegangnya lalu tiba-tiba ada iklan di televisi. Ngedrop kan. Lalu film mulai lagi. Tapi kita sudah memiliki emosi yang berbeda. Itu kenapa nonton film itu lebih enak di bioskop. Nyaris tidak ada gangguan. Kecuali kalo ada yang maen hape atau nendang-nendang kursi. Nah ini yang membedakan sepakbola dan bola basket yang terdiri dari 4 babak dan permainan bisa berhenti sesuka hati. Hitungan detik bisa menjadi poin tapi tempo tetap terjaga. Tapi tidak begitu dengan sepakbola.

VAR

Ini kenapa FA, PSSI-nya Liga Inggris musim ini pun menolak penggunaan VAR ini karena bukannya mengurangi masalah tapi malah menambah masalah baru. Kita lihat di ajang Piala Dunia ini. Di babak 16 besar sangat sedikit sekali VAR campur tangan dan hasilnya kita mendapatkan permainan yang enak ditonton. Mengalir sampai jauuh.. dan di final dan kita menemukan lagi VAR beraksi di babak pertama. Di sini kontroversi mulai. Kedudukan ketika itu 1-1 dan VAR menunjukan ada handsball oleh Perisic, pemain Kroasia. Wasit membutuhkan waktu lama untuk memutuskan. Dia sempat balik lagi ke layar VAR untuk meyakinkan keputusannya dan terjadilah penalti. Perancis menang 2-1 di babak pertama. Banyak pundit yang mempertanyakan keputusan ini. Wasit pun nampak tidak yakin dengan keputusannya. Tidak penalti pun tidak apa-apa. Tidak ada pemain Prancis di sekitar Perisic yang bisa membahayakan dan berakibat gol. Jika wasit memang tidak begitu yakin dengan VAR lalu buat ada VAR. Jika dibiarkan VAR itu akan menjadi norma dan ini berbahaya.

VAR ini buat saya semacam political correctness yang masuk ke ranah sepakbola. Maksudnya tentu baik agar sepakbola berjalan dengan adil dan lancar. Tapi yang terjadi adalah kebalikannya dan banyak yang menganggap VAR ini bisa merusak jiwa sepakbola. Kita memang hidup di abad 21 di mana semuanya menggunakan sentuhan teknologi. Tetapi bukan berarti semuanya harus menggunakan teknologi. Digital Line Technology itu tepat digunakan di sepakbola untuk melihat apakah bola masuk atau tidak ke gawang. Rugby sudah lama menggunakan VAR dan banyak keluhan yang datang kalau rugby sudah tidak menarik lagi. Saya tidak mengikuti MLS ataupun Liga Italia tapi saya memilih wasit yang tidak sempurna daripada teknologi yang malah membuat rumit seperti saya lebih memilih customer service yang improvisasi kata-kata daripada mereka yang kaku dengan protokol membuat saya seperti bicara dengan robot.

PC1

Political correctness itu gampangnya polisi bahasa atau polisi pikiran. Ada sekelompok orang yang mengatur bagaimana sebaiknya bersosialisasi dan berbahasa yang baik tentu saja dengan tujuan yang luhur atas nama minoritas atau mereka yang tertindas. Mereka itu musuh dari free-speech. Tetapi banyak penggemarnya karena bersembunyi dalam balutan kebaikan dan belas kasih.  Saya pernah bahas di sini sedikit. Dalam sepakbola itu masih dugaan saja jika VAR adalah bagian dari political correctness. Tapi gejala ke sana sudah saya rasakan walaupun hanya melalui riset kecil-kecilan.

Minggu depan ya saya lanjut.

Karena Semua Ada Asal-Muasalnya

Kemarin siang, di Pengadilan Negeri Surabaya, salah satu pengacara lokal, Sudiman Sidabukke, bertanya apakah ada bedanya antara “perbuatan melawan hukum” dengan “perbuatan melanggar hukum“.

Ahli, yang saya lupa namanya, menjawab pertanyaan itu dengan sigap.

“Sepanjang yang Bapak maksud adalah Onrechtmatige daad, maka keduanya sama.” Kemudian ia menjelaskan lebih lanjut,

“Bedanya kalau Bapak baca terjemahan Wiryono  (Wiryono Prodjodikoro) maka akan menggunakan istilah “melanggar”, sedangkan Subekti akan dimaknai sebagai “melawan hukum”.

Jawaban yang sederhana. Ahli yang mengembalikan perbedaan tafsir kepada kata asal. Soal hukum Indonesia adalah soal warisan Belanda. Maka ketika ada beda makna, ia mengembalikannya pada sang muasal: Bahasa Belanda. It’s so simple.

Jika saja kita membiasakan diri kepada yang asal, maka percabangan makna – bahkan awam menganggapnya sebuah pertentangan- dapat dihindari.

Sama halnya dengan feeling, perasaan senang. Kita menyebutnya bahagia. Apakah bahagia juga sejatinya adalah hal sederhana jika kita mengetahui asal-muasal darimana bahagia dalam diri itu muncul.

Ada yang bilang bahagia itu setelah kita banyak duit. Mau beli apa-apa mudah. Hidup mudah, ndak susah. Ada yang bilang materi ndak penting, tapi soal menyusukuri nikmat. Ada yang beranggapan selama sehat, fisik prima, rohani dan mental baja, maka hidup akan baik-baik saja dan gemah ripah loh jinawi.

Ketika itu ditanyakan dalam Quora, seseorang menjawab dengan mengembalikan asal muasalnya.

I am rich, fit, and I have mastered almost everything I wanted to master. Why am I still not happy and still not satisfied?

Seorang pengguna Quora, Karim Elsheikh, menjawab demikian:

Human happiness (as we know it) is caused by 4 basic chemicals:

  • Dopamine
  • Endorphins
  • Serotonin
  • Oxytocin

On your journey to become fit, your body released endorphins to cope with the pain of physical exercise.

You probably began to enjoy exercise as you got more into it, and the endorphins made you happy – temporarily.

On your journey to become rich, you probably completed many tasks and goals.

You probably bought all the things you’ve ever wanted. Nice cars, beautiful clothes, and a perfect home.

This released dopamine in your brain when you achieved your goals and bought these things, which once again contributed to your happiness – temporarily.

So what about the other two chemicals?

It turns out that human happiness is incomplete without all 4 chemicals constantly being released in the brain.

So now you need to work on releasing serotonin and oxytocin.

How do I do that, Karim?”

Serotonin is released when we act in a way that benefits others. When we give to causes beyond ourselves and our own benefit. When we connect with people on a deep, human level.

Writing this Quora answer is releasing serotonin in my brain right now because I’m using my precious time on the weekend to give back to others for free.

Hopefully I’m providing useful information that can help other people, like yourself.

That’s why you often see billionaires turning to charity when they have already bought everything they wanted to, and experienced everything they wanted to in life.

They’ve had enough dopamine from material pleasures, now they need the serotonin.

Oxytocin, on the other hand, is released when we become close to another human being.

When we hug a friend, make love to our partner, or shake someone’s hand, oxytocin is released in varying amounts.

Oxytocin is easy to release. It’s all about becoming more social!

Share your wealth with your friends and family to create amazing experiences.

Laugh, love, cooperate, and play with others.

That’s it my friend!

I think it all comes down to the likelihood that you are missing two things: contribution and social connection.

Itulah bahagia secara ilmiah. Mengembalikan asal muasal kesenangan secara kimiawi dari dalam tubuh kita. Hal yang patut diperhatikan adalah jawaban Karim dengan mengulang satu kata: “Temporarily“.

Dari penjelasan dia, saya menyadari bahwa “perasaan anget” dalam dada, bukanlah soal “hati”, tapi reaksi kimiawi otak yang mengakibatkan reaksi tubuh menghangat sekitar dada. Perubahan detak jantung, keluarnya zat tertentu dalam otak, laju darah yang berubah, menimbulkan sebuah efek yang “menyenangkan”.

Karena memang rasa senang, atau orang menyebutnya bahagia, tidak akan langgeng. Dan jika kita menyadarinya mengapa, maka kita akan memakluminya.

Jadi,.. jika ada yang bertanya apa bedanya senang dan bahagia dan mengapa bisa mengalami perasaan itu, maka jawabannya adalah soal “reaksi dalam otak”. Ahahaha.

salam anget,

Roy

(Capres RI 2024-2029)

 

Katanya “I Travel Because I Have to, I Come Back Because I Love You”

Judul tulisan di atas adalah judul film dari Brazil produksi tahun 2009 karya Marcelo Gomes dan Karim Ainouz. Menurut saya, ini salah satu judul paling romantis yang pernah dibuat untuk sebuah produksi film.

Apakah filmnya romantis? Well, kalau Anda tidak terbiasa menonton film-film arthouse yang serius, pasti penasaran ingin menekan tombol fast forward di sebagian besar adegan.
Namun paling tidak, judul filmnya sendiri sudah mengundang rasa penasaran kita.
Terutama bagi mereka yang sering bepergian.

Anda pernah nonton film Up In the Air?
Film ini menceritakan pengalaman George Clooney sebagai seorang eksekutif profesional yang bertugas menyampaikan langsung penghentian kerja kepada karyawan yang terkena PHK tersebut. Pekerjaannya membuat tokoh ini harus bepergian lebih dari 300 hari dalam setahun. Hampir tidak pernah ada di rumah, bahkan mulai mengaburkan konsep rumah sebagai tempat tinggal.

Toh dia lebih sering menghabiskan waktu di pesawat dan di hotel. Di beberapa adegan kita melihat apartemennya nyaris kosong, hanya ada beberapa perabotan seadanya. Makanya tokoh ini tidak pernah betah saat dia lagi “off days”. Ada rasa kecanduan tertentu yang dia dapatkan saat bepergian.

tumblr_nuc4frLsPx1ubc3b0o4_500

Saya yakin Anda kenal atau punya beberapa teman atau saudara dengan aktivitas bepergian seperti ini. Atau mungkin Anda sendiri yang menjalaninya?

Kebetulan beberapa teman dekat saya menjalani kehidupan seperti ini. Demi urusan pekerjaan, bukan sekedar update akun media sosial, mereka sering bepergian, baik ke luar kota, luar pulau, atau luar negara.

Ada yang lajang, ada yang sudah berpasangan, ada yang menikah. Tentu saja perspektif mereka tentang “pulang” berbeda satu sama lain.

Teman saya yang lajang bilang, “Kayak semacam ada hollow gap yang gak bisa gue jelaskan tiap kali gue pulang bepergian. Mungkin karena gue pulang ke apartemen gue yang kosong karena tinggal sendiri. Udahlah tinggal sendiri, pulang pasti apartemen jadi pengap karena berhari-hari ketutup dan listrik dimatiin ‘kan. Jadi kayak makin males untuk pulang.”

Sementara teman-teman yang berpasangan atau menikah kurang lebih memiliki pandangan yang sama.

“Pulang, karena ada yang nungguin. Ada yang nanyain kapan pulang.”

“Ada yang ngangenin.”

“Bener. Ada yang gak bisa tidur, sampe harus naruh kaos gue di bawah bantal.”

“Persis kayak anak gue. Tiap hari harus nonton video gue ama dia supaya dia bisa tidur.”

“Ya kayak gitu yang akhirnya bikin kita harus pulang. Rutinitas kecil yang gak bisa gue tinggal.”

“Bisa sih elo tinggal, tapi apa elo mau? Itu kan masalahnya?”

“He eh. I mean, it’s nice to have a break, traveling to other places, dikelilingi suasana baru, pengalaman baru …”

” … Selingan baru, bro?”

“Heh! Hahahaha. Well, anyway …”

” … Hahaha …”

“Pada akhirnya ada semacam kekuatan yang menarik diri elo untuk gak berlama-lama pergi. Call it attachment or whatever ya, saat elo sudah memutuskan untuk commit to a life with the one or the ones you love, tanpa ada paksaan elo akan kembali. Pada akhirnya, elo kangen rutinitas hidup elo yang elo biasa jalani, yang elo tahu, yang elo hapal di luar kepala.”

Teman saya yang lain mengangguk.

IMG_20180710_104418_1

Rutinitas. Ternyata ini juga yang diamini teman saya yang lajang. Tentu saja rutinitas yang berbeda.

“Gue kan cenderung jadi light traveler minimalis borderline pemalas ya kalo bepergian. Hahahaha. Jadi ya gak gue bawa lah segala macem sepatu lari dan peralatan olahraga lainnya. Makanya gue selalu look forward to doing my usual activities lagi kalo pulang dari bepergian. Lari pagi keliling kompleks dua hari sekali. Kelas-kelas di gym every other day juga. Yoga pas weekend sebelum ketemu ponakan-ponakan gue. I always miss those routines. Ternyata kita orangnya gak bisa lepas dari rutinitas ya? I mean, no matter how far and free we go, we miss that orderly life. Oh, satu lagi ding. Makanan Indonesia, maaan! Segala macem ghoulash atau steak paling enak, gak ada yang ngalahin nasi Padang bungkusan! Beneran. I love it! I can marry nasi Padang so I can always come back to the one I love. Hahahaha!”

Saya ikut tertawa.
Sambil diam-diam berpikir, apa yang sudah kita cintai sampai membuat kita selalu ingin kembali?

IMG_20180707_103029

Photo by Felix Russell-Saw on Unsplash

Menghakimi dan Menghukum Orang Lain Itu Memang Nikmat

MANUSIA memang makhluk yang istimewa. Baik pandangan agama maupun sains sama-sama menyepakatinya.

Menggunakan akal, manusia menjadi satu-satunya spesies di muka bumi ini yang mampu berpikir dan menimbang, menghasilkan kehendak untuk bertindak.

Manusia juga bisa mengenali dan merasakan sensasi yang dihasilkan dari tindakannya tersebut, tahu mana yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Yang kemudian memunculkan keinginan untuk dapat merasakannya lagi, atau justru berusaha menghindarinya lain kali.

Termasuk tindakan yang satu ini; nikmatnya menghakimi dan menghukum orang lain.

Ya, hanya manusia yang bisa melakukan ini terhadap sesamanya. Terlebih kepada orang asing, orang-orang yang tidak memiliki kedekatan subjektif. Makin mudah saat melakukannya, tanpa beban. Maka jangan heran jika internet dan media sosial akan selalu ramai dengan urusan yang satu ini. Lantaran siapa saja dapat bebas berbicara, menyampaikan alasan, pemikiran, serangan, dan penghakiman.

The more the merrier. Tambah “meriah” ketika timbul tanggapan yang bertentangan. Kedua kubu mendapatkan gelombang dukungan. Begitu aja terus, sampai akhirnya reda, terlupakan, dan beralih ke drama berikutnya.

Photo by Kristopher Roller on Unsplash

Photo by Kristopher Roller on Unsplash

Manusia mempunyai kecenderungan untuk ingin melibatkan diri dalam urusan manusia lain, bahkan dengan kadar terendah sekalipun (dengar sekilas, dan ditanggapi: “Oh, begitu…”). Ini mungkin ada kaitannya dengan sifat instingtif manusia yang penasaran dan selalu ingin tahu sejak awal, alias kepo.

Penghakiman sosial identik dengan komentar pedas dan menjatuhkan, atau nyinyiran di media sosial. Berawal dari sebuah pernyataan atau celetukan seseorang, diikuti pernyataan setuju yang tak kalah nyelekitnya.

Tanpa bermaksud merendahkan kaum ibu rumah tangga, di ranah analog, penghakiman sosial seperti ini terjadi di “majelis” gerobak tukang sayur keliling. Ada yang berbicara, ada yang menyimak, ada yang menimpali. Sedangkan yang tidak setuju akan merasa kurang nyaman, dan mempercepat aktivitas berbelanjanya.

Di Facebook atau Twitter, seseorang menuliskan sesuatu. Sedang tren dibikin thread atau rangkaian twit, bisa juga berupa posting-an panjang di Facebook. Ada yang me-Retweet, ada yang memberikan komentar, ada yang membagikannya ke laman sendiri dengan atau tanpa pernyataan tambahan. Terkadang malah lebih heboh dan berapi-api, memanas-manasi. Tak terlalu berbeda dengan “majelis” ibu-ibu kompleks tadi, kan? Hanya saja, informasi yang disampaikan di media sosial bisa dibaca publik, termasuk oleh yang tidak setuju. Umumnya, tulisan berbalas tulisan, nomention berbalas nomention, ujung-ujungnya pun jadi tweet war.

Third-Party Punishment

Berbeda dengan binatang, manusia menggunakan manusia lain guna penyelesaian konflik. Bukan pertarungan langsung. Di antara dua individu yang bermasalah, selalu ada pihak lain yang berada di tengah-tengah. Dalam bentuk yang formal, sebagai lembaga, ada perangkat peradilan. Terdapat seseorang atau sekumpulan orang yang berwenang memberikan ganjaran.

Nah, masalahnya ada pada sekumpulan orang yang tidak berkedudukan sebagai hakim, tetapi menikmati bertingkah laku selayaknya hakim.

Mengapa tindakan menghakimi dan menghukum orang lain terasa nikmat?

Sebab dengan menghakimi orang lain, kita merasa telah menjadi individu yang lebih baik dibanding si “terdakwa”; tiada bercela, berpijak di pihak yang benar, menjunjung tinggi kepatutan sosial, memiliki kualitas moral yang terpuji. Pokoknya mengedepankan hal-hal yang menggembirakan ego kita, membuat keberadaan kita seolah amat berharga dibanding orang lain, yang kebetulan tengah melakukan kesalahan. Tak peduli sekecil apa pun kesalahan tersebut, tak peduli sudah semenyesal apa pun yang bersangkutan meminta maaf, dan sebagainya.

Aku lebih baik daripada kamu. Titik.

Dilanjutkan dengan memberikan hukuman. Bukan sanksi formal, melainkan hukuman sosial, yang maraknya ya berupa cemoohan tertulis dan cuplikan twit, status, atau pesan pribadi (DM). Bertujuan awal agar yang bersangkutan menyadari kesalahan dan mengubah perilakunya (tetap dengan pendekatan “Kamu salah. Lihat aku dong, aku kan benar.”) atau ya … ingin mempermalukan orang lain saja.

Tambah asoi lagi jika dilakukan rame-rame, keroyokan. Pasalnya, selain merasa mendapat dukungan, semua orang ingin tampil dan bersuara, dan karakteristik media sosial yang terbuka seakan kian menyemangati banyak orang untuk unjuk diri. Sehingga respons yang muncul seringkali terlihat berlebihan, ya jumlahnya, ya isi pesannya. Melenceng dari niat awal.

Ini bersifat alamiah. Kajian “The Neural Basis of Altruistic Punishment” yang dirilis 2004 lalu bahkan menunjukkan bahwa kegiatan menghukum orang lain berdampak pada bagian tertentu di otak manusia, khususnya yang berhubungan hadiah atau ganjaran (reward). Indikasi sederhananya, sedari kecil kita terkondisi untuk merasa senang saat menerima hadiah, dan seperti itulah yang kita rasakan setelah berhasil menghukum orang lain.

Jangan lupa, kenikmatan yang digandrungi secara berlebihan, apalagi sampai bikin kecanduan, bisa berujung pada kerugian. Seseorang yang terlalu suka menghakimi, menghukum, dan mempermalukan orang lain secara terbuka, tetap berpotensi melakukan kesalahan. Dia—seseorang yang awalnya dianggap benar, suci, tak ternoda—pun tetap bisa menjadi sasaran penghakiman massa selanjutnya.

Celaan balik yang dilancarkan khalayak bakal tanpa tedeng aling-aling. Mirip air bah. Terang-terangan dan banyak. Sampai berlebihan. Oleh sebab itu wajib punya mental yang kuat untuk sanggup menghadapinya.

Dulunya menghantam, eh kini gilirannya kena hantaman serupa. Sakit hati gara-gara rasa malunya lebih gede. Harga diri dan gengsi ikut kebanting.

Benar banget sih, memang paling enak ngomongin orang lain. Cuma, alangkah baiknya ditinjau dan ditanyakan ke diri sendiri terlebih dahulu sebelum melakukannya: “Apa sih tujuanku (dengan ngomongin orang lain itu)?” Kalau hanya pengin mempermalukan orang lain di depan umum, ya apa bedanya dengan iseng ikut-ikutan mukulin maling. Merasakan kegembiraan dari perbuatan jahat.

Masih banyak hal yang lebih penting untuk dilakukan, dan kamu bukan juru selamat peradaban, kok.

[]

Persamaan Virgil dan Dia

Di sebuah masa 30-40 tahun yang lalu, para orang tua berbelanja barang fesyen berkualitas untuk keluarganya. Berkualitas saat itu dimaknai sebagai tahan lama. Awet. Inget sepatu Kickers atau sepatu sendal Birkenstock misalnya. Atau celana jeans Levi’s 501, yang menjanjikan bisa dipakai ratusan tahun. Ah, saya sudah lupa label yang lain. Yang pasti, nasehat orang tua untuk rela mengeluarkan uang sedikit asal tahan lama, menempel dan kemudian menjadi panutan.

Maju ke depan ke tahun 2000-an, hadirlah label-label macam Zara yang menawarkan desain. Zara tidak pernah menjanjikan kualitas tahan lama. Tapi desain yang mengikuti zaman, atau lebih tepatnya desain pakaian yang sedang dikenakan peragawati untuk dikeluarkan di musim berikutnya, Zara pun akan menawarkan desain serupa. Perlahan, awet dilupakan. Kalau kebetulan awet ya alhamdulillah, enggak juga gapapa.

Pemikirannya sederhana, buat apa beli barang fesyen yang tahan lama. Sebentar lagi juga akan ketinggalan zaman. Ganti tren, tinggal beli baru lagi. Begitu seterusnya sampai menumpuk di lemari pakaian. Kemudian Marie Kando, ratu bebenah asal Jepang, mengajarkan untuk bebenah dan meniadakan barang-barang tak terpakai di rumah. Beramai-ramailah masyarakat kekinian melepas barang-barang fesyennya yang tak lagi bisa dipakai. Tentunya, memberikan ruang kosong di lemari pakaian untuk diisi dengan benda fesyen baru lagi. Gitu aja terus lah sampai Indonesia menang Piala Dunia.

2012, Virgil Abloh mengeluarkan label OFF.WHITE yang berkembang di kalangan pencinta street-wear dan dikenakan oleh para selebriti dunia macam Rihanna, Beyonce, Justin Bieber, Kendall & Kylie Jenner dan lain-lain. Virgil dan Kanye West pernah sama-sama magang di rumah fesyen FENDI. Mereka terus berteman dan sekarang masing-masing punya label pakaian yang ngehits. Kanye dengan sepatu Yeezy dan Virgil dengan OFF.WHITE.

Kehadiran Off.White ditanggapi dengan sinis oleh tak hanya oleh para pencinta fesyen tapi dunia desain pada umumnya. Mereka sama-sama merasa tak ada nilai desain yang pantas untuk dihargai mahal. Dan semuanya adalah hasil kerja keras marketing, bukan karena nilai desain.

Terserah setuju atau tidak setuju, yang pasti sekarang bisa disebut sebagai era desain. Desain menentukan apakah sebuah produk bisa laku atau tidak. Strategi marketing tentu membantu, tapi akan berhenti di suatu titik saat desainnya tidak bisa diterima. Ada banyak contoh kerja keras marketing yang gagal mengangkat sebuah karya desain yang tak diterima. Mau teriak sampai jontor kalo jelek ya jelek aja.

Sejak memulai jualan tote mangkok ayam 4 tahun yang lalu karena iseng-iseng, belakangan saya banyak belajar soal desain yang bisa diterima oleh pembeli. Tak semua produk langsung laris. Ada yang pergerakannya lamban. Dari situ saya belajar desain seperti apa yang digemari orang. Karenanya, mengapa produk-produk saya jual di toko off-line seperti Aksara, JKT Creative, dan terakhir Museum Macan karena saya percaya dari sanalah saya bisa belajar sesungguhnya.

Di toko, barang produksi saya tak berjualan sendirian seperti di akun Instagram, tapi berdampingan dengan banyak produk karya lain. Di toko pula, orang lalu-lalang dan kemudian berhenti untuk melihat, memegang, merasakan sebelum memutuskan untuk membeli. Dan di toko pula, kata sold-out menjadi terukur. Kalau dagang di Instagram bilang sold-out tak ada yang pernah tau berapa stock yang disediakan. Jangan-jangan cuma setengah lusin. Tapi di toko, ada catatan berapa barang masuk dan berapa barang keluar.

Berjualan di toko, juga membungkam prasangka kalau pembelinya hanya teman-teman penjualnya. Yang lalu lalang di toko kan bisa dibilang “masyarakat umum” yang kemungkinan besar tidak tahu siapa kreatornya kecuali artis yang biasanya malah sengaja mencantumkan namanya sebagai daya jual.

Kemudian saya iseng memposting desain tas ini di IG Story dengan polling YAY or NAY. Bisa diduga 80% bilang Nay. Tak sedikit yang langsung DM dan dengan keras melarang untuk memproduksinya. Secara garis besar alasannya sama, desain yang gak ok. Ikut-ikutan. Gak asik. Keluar dari pakem Mangkok Ayam selama ini. Sampai ada yang mengancam kalau diproduksi akan memboikot HAHAHAHAHAHA. Tentunya semua pendapat tadi menarik. Karena sekarang semua bicara soal desain. Dan hanya desain. Bukan fungsi. Bukan kualitas.

Kan tidak ada yang bertanya tas itu terbuat dari bahan apa? Ukurannya berapa? Ada warna lain gak? Harganya berapa? Semua membicarakan desain. Buat saya, tentu ini menjadi menarik. Saya harus berterima kasih kepada semua yang selama ini sudah menghadirkan beragam kejadian yang membuat masyarakat semakin mencintai desain.

Ini menjadi penting dan berguna di era keragaman seperti sekarang. Kok jauh amat? Ya karena semakin dekat dengan desain, maka kita akan semakin paham kalau desain itu sangat obyektif. Dan karena obyektif maka tidak ada yang benar dan salah. Sama seperti pemahaman soal agama, cinta, dan Tuhan. Bayakan, kembang hasil desain Tuhan saja, bisa ada yang suka dan ada yang tidak. Apalagi desain seorang Virgil Abloh. Mungkin lewat desain bunga, Tuhan mengajarkan makna toleransi.

 

Kesempatan Kedua

Ketika hal yang kita idamkan ternyata tidak didapat ketika pertama kali mencoba, apakah akan selalu ada kesempatan kedua?

Terkadang ada kekurangannya jadi ibu dari satu anak, jadi sungguh lugu dalam membuat game plan soal seleksi masuk sekolah. Karena ketidaktahuan (eufimisme dari kebodohan, dan tidak tahu bagaimana mengajukan pertanyaan yang benar), nyaris anak tak masuk sekolah negeri, hanya karena peraturan yang tidak familier.

Setelah tiga pilihan sekolah tidak masuk, saya mengira kesempatan sudah lewat, dan harus menunggu tahap berikutnya seperti mahasiswa. Ternyata masih ada kesempatan untuk merevisi pilihan sekolah, dan kami pun diberi kesempatan kedua.

Saya percaya kalau kesempatan kedua akan selalu datang, hanya saja kita mungkin perlu menunggu dan tidak selalu segera datang. Ketika datang kesempatan itu, apakah kita mau mengambilnya, atau jangan jangan kita sudah sibuk mengejar yang lain lagi?

Jika di kesempatan kedua we still messed up, do we deserve a third chance? Saya masih menunggunya.

Tapi jika kesempatan kedua datang di waktu yang tepat, dan kita ambil dengan niat untuk melakukan yang terbaik, walau jiwa sudah tidak selengkap kesempatan pertama, that’s the best thing that could happen to someone.

Congratulations, Roy Sayur.