Terima Kasih Konmari

Beberapa hari yang lalu, entah mengapa saya rasanya sumpek sekali. Sampai larut pun, sulit tidur. Padahal lelah dan biasanya langsung pulas. Tiba-tiba yang muncul adalah rasa ingin beres-beres. Si eneng yang juga belum tidur di sebelah saya pun langsung dicolek.

“Neng, kayaknya kita harus beberes serius deh, terutama kamar ini. Kok, kayaknya barangnya sudah menumpuk ya.”
“Iya bu, terutama bagian situ, tidak menyenangkan dilihatnya,” katanya sambil menunjuk sudut kamar tempat tumpukan tiga kontainer, yang saya juga sudah lupa isinya apa.
“Oke, berarti kita buat rencana dulu ya, weekend ini kita laksanakan!”

Besoknya saya mendadak ingat kalau pernah meminjam buku Marie Kondo dari teman, langsung melihat ke rak dan ternyata masih ada dan memang belum dibaca. Langsung diselesaikan dan diresapi buku itu dan aliran Konmari dalam beberes.

Memang agak aneh kedengarannya; Marie menyarankan untuk memulai beberes dengan mengenyahkan barang yang tidak membuat kita gembira, dan hanya menyimpan yang membuat kita gembira. Kelilingi diri dengan benda-benda yang membuat Anda gembira. Sisanya, biarkan dia berlalu dari hidup, ucapkan terima kasih sudah bertemu dan kita gunakan dan enyahkan. Setelah jumlah barang berkurang, baru kita mulai menyusun, dan semua barang harus ada tempatnya. Baru kita bisa mendapatkan hidup yang nyaman, minimalis dan tidak perlu terlalu sering beberes karena barangnya toh tak banyak dan semua ada tempatnya. Entah mengapa saya bisa memahami sepenuh hati cara ini, dan tak sabar melaksanakannya. Saya baru menyadari kegelisahan ini salah satu alasannya adalah karena merasa dikelilingi oleh sampah yang tertimbun selama lebih dari sepuluh tahun berada di rumah ini.

Saya memang punya keturunan penimbun, karena ibu saya penimbun kelas berat yang nyaris tak pernah membuang barang. Walhasil, di kamar beliau sekarang, tak ada satu sentimeter persegi pun tempat untuk meletakkan barang seperti tas, atau sekadar jam tangan, karena semua permukaan sudah penuh sesak dengan tumpukan barang. Kecuali hobi Anda Jenga, agak riskan untuk menambah tinggi tumpukan itu. Lantai dua rumah, yang dahulu adalah kamar anak-anak (saya dan adik-adik), sekarang penuh juga dengan tumpukan barang yang tidak muat diletakkan di lantai bawah.

IMG_20180428_124553

Beberes baru dimulai.

Kemarin saya membeli tiga pak plastik sampah ukuran extra large, dan pagi ini saya mulai menyortir barang per kategori. Pakaian duluan. Buku dan kertas-kertas kedua. Lalu diikuti dengan pernak pernik perintilan dan barang kenang-kenangan. Begitu membongkar laci yang bertahun hanya saya buka, bersihkan, letakkan kembali isinya dan tutup, baru ketahuan kalau saya pun nyaris tak pernah membuang barang. Mulai dari foto mantan, surat cinta dari pacar terdahulu, undangan ke acara media, hingga name tag dari berbagai kepanitian sampai perjalanan. Pakaian juga, hampir semua kaus race pack maupun finisher masih saya simpan. Bahkan baju yang sudah ketinggalan zaman tidak saya singkirkan dengan alasan, siapa tahu musim lagi. Padahal tumpukannya juga sudah nun jauh di bawah. Setelah menyikat buku yang tidak membawa kegembiraan buat saya, atau saya tidak ada niat mengulang baca, rehat makan siang kesorean, lalu saya lanjut kembali sampai selesai.

IMG_20180428_192810

Sebelum break siang, 5 kantung plus 2 di belakang kamera

Hasilnya? Delapan kantung sampah penuh, plus beberapa kantung kecil untuk aksesori dan produk kecantikan. Benar saja, begitu selesai dan saya mandi karena hari ini begitu panas sehingga keringat mengucur deras, rasanya jauh lebih enteng. Beres-beres saya belum selesai, karena cita-cita ingin mengurangi lagi barang sampai ke tingkat minimal, dan mengetahui di mana batas saya hidup dengan sedikit saja barang. Saya juga ingin menata ulang kamar supaya lebih nyaman. Walau sekarang saja menurut saya sudah nyaman dan inginnya tidak keluar dari sana setiap akhir pekan.

Advertisements

Berdiri di Atas Waktu Yang Berjalan

Sudah jam 12 malam. Mata saya mulai terasa berat. Namun masih ada yang mengganjal di hati, sehingga membuat saya belum bisa tidur.

Apalagi penyebabnya, kalau bukan sedang kehabisan ide untuk menulis di Linimasa ini.

Biasanya memang kalau sudah mentok tidak ada bahan yang terpikirkan untuk ditulis, saya memilih tidur. Lalu ketika bangun keesokan harinya, buru-buru saya menulis di Linimasa. Ini sekaligus pengakuan jujur saya kepada Anda semua, bahwa banyak sekali tulisan saya di Linimasa yang Anda baca itu hasil dari kepepet.

Namun malam ini, saya memilih untuk berusaha menulis sebelum tidur.
Kalau sudah tidak ada ide, maka saya akan melihat ke folder draft tulisan incomplete di komputer. Ada beberapa tulisan yang pernah saya buat, yang ketika tidak bisa diselesaikan dengan baik, saya simpan dalam folder tersebut. Siapa tahu bisa saya selesaikan suatu hari nanti.

Ternyata malam ini saya masih belum bisa menyelesaikan beberapa tulisan tersebut.
Saya menelusuri lagi folders yang lain. Saya membuka salah satunya, yang berisi tulisan-tulisan lama. Kebanyakan untuk blog pribadi. Blog yang sudah berumur belasan tahun. Tentu saja isinya adalah tulisan saya pada saat berumur belasan tahun lebih muda dari sekarang.

Saya tersenyum membaca tulisan-tulisan tersebut. Sambil menghela nafas, saya berpikir, “Do I still believe in the same thing as I did back then?” Apa saya masih meyakini apa yang saya tulis dulu? Kok sepertinya sudah tidak lagi?

Saya baca lagi beberapa tulisan lama. Masih tersenyum, sambil mengangguk-angguk.

Anda pernah membaca ulang tulisan lama yang dulu Anda buat? Bisa itu puisi, surat, catatan pribadi, atau apapun bentuknya. Kadang kita suka berpikir sambil geli sendiri, “What was I thinking? Kok bisa ya, dulu nulis kayak gini, mikir kayak gini.”

Bisa saja. Kenapa tidak? We were what we were then. We are what we are now. We grow.

Baik itu grow up atau grow old, semuanya menunjukkan kalau cara kita memandang dan menyikapi hidup pasti berubah, sesuai umur yang bertambah. Makin tambah umur kita, makin banyak pengalaman hidup yang sudah dijalani. Makin bertambah umur kita, makin berubah juga cara pandang hidup kita.

Dan perubahan itu akan tercermin di karya-karya yang kita buat, atau di pekerjaan yang kita lakukan. Perubahan itu termasuk kemungkinan untuk mengulang lagi apa yang pernah kita buat atau kerjakan. And that’s normal. Karena semakin tua, semakin besar juga gairah kita untuk clinging on the glory days of the past.

Waktu terus berjalan. Sebaiknya kita pun juga terus berjalan, supaya tidak tergilas jaman.

Bahagia itu Sederhana, Katanya… (Part 2)

Photo: Felix Mittermeier

SETIAP orang punya kebahagiaan versi masing-masing, dan pasti mengalami perubahan seiring berjalannya waktu. Hal-hal yang memicu timbulnya perasaan bahagia pada anak kecil, tentu berbeda dengan remaja, orang dewasa, dan orang lanjut usia.

Boleh dibilang menjadi kelanjutan dari tulisan berjudul sama tiga tahun lalu, daftar hal-hal sederhana yang membahagiakan terus bertambah dan bertambah. Setidaknya dari apa yang saya alami dalam dua tahun terakhir.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhananya bisa bangun tidur di pagi hari dengan tepat waktu, sehingga memiliki kesempatan yang cukup untuk melakukan aktivitas yang telah direncanakan semalam sebelumnya. Sempat membuat sarapan sederhana dengan hasil sempurna, dan menghabiskannya tanpa terburu-buru. Mandi dan mematut diri dengan sebagaimana mestinya, untuk kemudian mulai berangkat ke kampus atau tempat kerja tepat sesuai perkiraan.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana tidak perlu menunggu elevator terlalu lama. Setelah memencet tombol, bilik elevator tiba kurang dari satu menit. Begitu pula saat turun, tidak banyak lantai yang disinggahi.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana langsung mendapat tempat atau posisi yang nyaman di bus TransJakarta atau kereta listrik, baik berdiri atau duduk, tanpa terlalu berdesakan atau orang-orang yang suka mendorong sembarangan. Sehingga perjalanan selanjutnya dapat dilalui dengan relatif menyenangkan. Bisa sambil kembali melanjutkan tidur sejenak, membaca buku, atau mendengar musik.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana mendapat kode promo ketika membuka aplikasi transportasi online yang membuat ongkos perjalanan berkurang sekian puluh persen. Dalam hal ini, selalu ada alasan untuk mengeluh ketika kita tidak memiliki kendaraan pribadi. Namun, dengan tinggal dan berkehidupan di Jakarta, juga akan selalu ada alasan untuk mengeluh selama berkendara. Itu sebabnya, bagi sebagian orang yang lain …

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bisa duduk di kendaraan sendiri, mengatur kecepatan dan rute perjalanan sendiri, mengupayakan efisiensi dan efektivitas perjalanan sendiri, dan berkesempatan untuk mengatur kenyamanan sendiri dalam berbagai situasi. Terlebih jika ada sopir pribadi, sehingga durasi perjalanan bisa diisi dengan beberapa kegiatan. Baik yang menyangkut pekerjaan, atau bersantai.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bisa memiliki dan mempertahankan suasana hati yang positif setibanya di kampus atau kantor. Ditambah lagi bertemu dengan teman atau kolega yang menyenangkan, situasi lingkungan yang bersih, dan catatan agenda pekerjaan yang dapat ditangani. Lebih dari itu, adalah kemampuan menyadari dan mensyukuri bahwa profesi atau pekerjaan yang dilakoni saat ini benar-benar terasa menyenangkan di segala aspek. Sedangkan bagi para pekerja lepas …

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bisa berkiprah secara profesional tanpa harus terikat waktu, penghasilan, dan keberadaan dengan hanya satu perusahaan. Bisa bekerja di mana saja, bisa mengupayakan situasi kerja seperti apa pun juga, dan tetap diperhitungkan sebagai seseorang dengan kemampuan. Intinya, bukan menjadi karyawan.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bisa mendapatkan solusi atau alternatif ide ketika sedang menghadapi masalah. Baik solusi yang dipikirkan dan diusahakan sendiri, maupun alternatif ide yang dihasilkan dari diskusi dan rapat dengan orang-orang yang menyenangkan diajak bekerja sama.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana ketika ingin makan di tempat langganan, eh ada menu favorit. Bisa juga ketika datang ke restoran, ternyata ada promo khusus untuk menu yang diidam-idamkan. Mulut puas, perut kenyang, isi dompet pun bisa sedikit terselamatkan. Di sisi lain …

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana punya kemampuan untuk menolak ajakan kawan untuk makan, jalan-jalan, atau melakukan berbagai kegiatan bersuka lainnya, ketika benar-benar sedang “kering”. Tanpa perlu menutup-nutupi keadaan, atau malah mengorbankan sisa uang untuk menyelamatkan muka di depan orang lain. Berani bilang: “Sori, aku lagi bokek.” Demi keputusan yang lebih realistis.

(in general) will NEVER say “jangan di tempat yang mahal”. Akan jungkir balik dengan seribu alasan before just saying a place is out of budget.

Begitu isi twit seorang kawan digital, kemarin.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bisa menikmati kesendirian, dijauhkan dari keramaian, dan kepadatan manusia. Karena itu merupakan kebutuhan bagi mereka yang introver, dan menemukan hampir segalanya dari dirinya sendiri. Kalaupun tidak …

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana seperti yang sudah Mbak Lei ceritakan di tulisan terbarunya. Yakni kemahiran dan kesempatan untuk mengelola kehidupan sosial sedemikian rupa. Memiliki porsi waktu, tenaga, dan perhatian yang cukup untuk tetap terhubung dengan semua lingkaran antarmanusia tanpa berlebihan. Bisa memulai, terlibat, dan menyudahi interaksi di momen yang tepat, tanpa perlu dianggap less sociable oleh orang lain. Sesuatu yang disadari kian tidak penting seiring perkembangan fase hidup, tetapi seringkali terlalu masif untuk dibiarkan larut begitu saja.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana dikelilingi kawan-kawan yang paling cocok. Bukan sekadar orang-orang baik, melainkan orang-orang yang tepat. You just know. Andai ternyata ada yang berubah pun, kita memiliki kekuatan untuk segera move on. Kembali fokus dengan kehidupan yang sedang dijalani. Di sisi lain …

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana ketemu orang baru, ternyata ngobrolnya nyambung, serasa mendapatkan penyegaran otak, dan mendapat asupan referensi sesuai keinginan. Selebihnya, mana tahu bisa muncul ketertarikan dan seterusnya.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bisa terus menjaga kesehatan, berolahraga, merasa sehat, dan benar-benar sehat lewat hasil pemeriksaan profesional. Dengan segala upaya ini, kita berusaha menunjukkan kendali penuh atas tubuh. Menjaga dan memastikannya selalu berada dalam keadaan optimal. Meskipun pada akhirnya, kematian tetap berhak datang tiba-tiba. Setidaknya, berpulanglah tanpa kesakitan. Berbarengan dengan itu, kendali penuh atas tubuh juga ditandai dengan kepemilikan asuransi, baik untuk perawatan kesehatan maupun jiwa. Singkatnya, kalau sakit ada yang membantu membayari, apabila meninggal pun ada sejumlah uang yang bisa ditinggalkan.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana rasa puas setelah membersihkan kamar dan kamar mandi semaksimal mungkin. Berasa kinclong dan menyenangkan, ditambah lagi baru tahu kalau odol bisa digunakan untuk membersihkan semua permukaan stainless steel. Mendapatkan kinclong secara harfiah.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bisa berjalan, beraktivitas, atau melakukan kegiatan-kegiatan harian di mana saja tanpa gangguan dan pelecehan seksual. Ketika para wanita bisa berjalan tanpa khawatir menghadapi catcalling, dan beragam hal yang bikin risi lainnya.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana tinggal tidak terlalu jauh dari tempat kerja. Apalagi kalau bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Bisa juga merasa bahagia, setelah tahu bahwa tempat tinggal baru saat ini hanya berjarak 10-15 menit berjalan kaki ke commuting hub, semisal stasiun kereta api listrik atau halte TransJakarta.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana baru menemukan home bakery atau toko roti kecil tetapi menyenangkan, atau pun rumah makan masakan Tionghoa yang menjual pangsit goreng enak di dekat tempat tinggal.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana selalu terhubung dengan orang-orang penyebar kesempatan untuk terus berkarya. Bersama mereka, kita terus bertumbuh dari berbagai sisi. Melalui peristiwa-peristiwa baik atau buruk, membuat kita menjadi lebih baik.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana banyak hal yang tak pernah kita sadari sebelumnya. Kebahagiaan bagi seseorang, bisa jadi terlihat sepele dan remeh bagi orang lain. Namun, bagaimana pun juga, hal itu memberi kebahagiaan bagi mereka.

… dan seperti biasa, daftar ini tidak akan pernah ada habisnya. Dengan senang hati saya akan membaca kebahagiaan dari hal-hal sederhana versi Anda.

Oleh karena itu, jangan lupa untuk selalu berbahagia. Kalau perlu, ciptakan sendiri kebahagiaanmu.

Oh, ya, satu lagi.

Bahagia itu sederhana, katanya. Sesederhana bisa menjadi diri sendiri, dan apa adanya.

[]

Hidup Berkompartemen

Mungkin ini terjadi juga dengan Anda, mungkin juga tidak. Semakin tua memang teman lingkaran terdekat semakin sedikit. Tetapi teman lingkaran kedua dan ketiga semakin banyak. Mengaku introver, tetapi ternyata geng teman-teman semakin banyak. Lengkap dengan grup Whatsapp tentunya. Bertemunya sih, belum tentu setahun sekali untuk semua geng, tapi ada juga yang rutin seminggu sekali karena pertemanan juga terjadi karena kegiatan tertentu.

how-to-compartmentalize

Geng mantan teman kantor saja ada tiga. Kantor terlama ditinggal justru yang paling sering bertemu, karena sahabat saya juga ada di situ. Geng SMA, yang saya agak segan bertemu kalau reuni besar, tetapi untuk teman teman tertentu saya masih sayang. Geng kuliah ada dua, karena saya kuliahnya sempat di dua tempat. Dua-duanya jadi pembaca pasif (sering kali juga tidak dibaca pesan di grup tersebut, tapi karena bolak balik keluar dari grup diundang kembali, ya sudahlah, pasrah saja). Itu baru yang dari institusi ya. Kemudian ada geng yang suka mencicipi restoran atau masakan, dan teman-temannya bertemu di Twitter. Ada pula geng cacing buku alias bookworm yang saling rekomendasi bacaan asyik, tak jarang pula kami baca satu buku bersamaan, di grup ini pula ada beberapa anggotanya belum pernah saling bertemu IRL. Geng Linimasa tentunya, yang kadang sepi, kadang ramai, tetapi tetap penuh kasih sayang <3.

Geng olahraga yang paling aktif dan sering ketemu, karena memang olahraganya seminggu sekali. Salah satunya geng bootcamp yang sampai bercabang-cabang. Terus terang geng ini termasuk yang saya paling suka, karena entah mengapa anggotanya level kebocorannya dan selera humor receh yang levelnya sama. Karena itu kami ada cabang; yang ikut kelas yoga di tempat yang sama, yang suka cari keriaan (baca: alkohol), dan kalau kita memutuskan untuk beramai-ramai ikut race tertentu di luar kota (ini grupnya temporer, begitu race selesai, bubar pula grupnya). Ada satu lagi grup crossfit  yang jarang sekali disambangi di luar kegiatan olahraganya. Aku merasa tua di grup itu karena mereka begitu tak kenal lelah. Sementara aku hobinya tidur siang.

Lalu dari semua grup itu apakah ada yang pernah bercampur atau berkumpul bersama di luar satu atau dua orang irisan anggota? God forbid, no.

Menjadi tua juga berarti semakin mahir membuat kompartemen hidup. Semua teman dan geng ada tempatnya masing-masing. Saya tak terbayang kalau teman SMA saya bertemu dengan geng yang lain. Apalagi jika bertemu dengan yang outspoken soal ketidaksukaannya dengan organized religion. Kemudian sahabat saya sudah menyuarakan ketidaksukaannya terhadap salah satu anggota geng makan, dan kebetulan di geng makan juga termasuk yang sulit menerima orang baru. Geng Linimasa sih, seperti kelompok rahasia, yang kalau dilihat sekilas saja sangat misterius bagaimana orang-orang seperti itu bisa bertemu dan jadi berkumpul bersama. Sesama geng olahraga (bootcamp dan crossfit) saja tidak terbayang kalau berkumpul bersama. Yang satu tukang protes kalau diberi program berat (walau dilakukan juga), yang satu lagi malah protes kalau olahraganya kurang berat.

Tetapi alasan sebenarnya mereka jangan sampai bertemu adalah, supaya tidak ketahuan kalau aku aslinya sangatlah cupu.

Pablo dan Diego

mandegar-313

“Ketika aku harus mengajak kamu pergi jauh dari kota ini, apakah kamu mau ikut?”

“Kemana?”

“Menghilang.”

“Menghilang dari siapa?”

“Orang-orang yang mengenal kita. Kita pergi ke tempat dimana kita menjadi asing.”

“Bagaimana dengan pekerjaan kamu? Bagaimana dengan pekerjaan aku?”

“Aku bisa menyetir. Aku juga bisa memangkas rambut. Di tempat asing aku ingin menjadi sopir. Atau pemotong rambut?”

“Bagaimana dengan aku?”

“Kamu, bisa melatih kebugaran di gym.”

“Apakah kita pindah ke kota yang ada gym-nya?”

“Bisa kita cari.”

“Apakah kita perlu berganti nama?”

“Untuk apa?”

“Sekalian aja. Aku ndak suka namaku ini.”

“Nanti aku carikan nama yang pantas untuk kamu.”

“Ndak perlu. Aku mau mengarang sendiri.”

“Ya sudah.”

“Fahri.”

“Ha? Siapa?”

“Ya, aku mau berganti nama menjadi Fahri.”

“Hmmm..”

“Eh, Diego saja. Aku menyukai nama Diego.”

“Hmmm..”

“Bagaimana, bagus bukan?”

“Entahlah. Aku ga akan keberatan sepanjang kamu nyaman dipanggil Diego.”

“Pablo!”

“Ha?”

“Iya, kamu aku ganti namamu menjadi Pablo.”

“Kenapa Pablo?”

“Macho. Aku suka nama yang menggambarkan kelaki-lakian yang tegas.”

“Diego… Hmmm. Pablo… Hmmm.”

“Bagaimana jika nama itu membuat kita malah terlalu mudah untuk dikenali. Nama itu terlalu asing menurutku. Bahkan di negeri asing.”


Pablo dan Diego. Sebut saja begitu. Dua remaja yang saling berkenalan dari twitter. Mereka saling mengenal dari perbincangan tak teratur. Awalnya saling sahut. Lalu saling retweet. Lalu mereka saling follow.

“Hai..”

“Hai..”

“Jalan?”

Dari pertemuan usai jam kerja menjadi pertemuan yang terus disengaja. Mereka saling memahami. Mereka saling mengerti. Tak pernah bilang saling suka, tapi suatu ketika mereka berpelukan manja.

“Bagaimana kalau kita melanglang buana?”

“Aku mau.”

“Kamu carikan tiket, aku urus hotelnya.”

Mereka saling angguk. Tersenyum. Lalu raba yang menjelma rasa saling mengisi.

Malaysia. Bali. Bangkok. Maladewa. Singgapur. Manila. Mereka keliling mencari sesuatu yang mereka inginkan. Mereka ingin berdua. Mereka ingin bebas untuk menampakkan keakraban tanpa rasa was-was.

“Kamu mau pindah saja tinggal denganku?”

Anggukan tanda setuju. Mereka bekerja sama. Bolak-balik angkut kasur, galon kosong, dua tas besar berisi baju, setumpuk buku dari kos menuju apartemen. Mereka bahagia.

Mereka bergantian memasak. Sekali waktu mereka mencuci baju bersama. Jika malas, mereka berdua menghantarkan setumpuk baju ke binatu di lantai satu.

“Aku mau memelihara kucing.”

“Jangan. manajemen sini galak. Jika kita ketahuan, kita bisa diusir.”

“Sebegitunya? Biarin aja. Aku mau kucing.”

“Kenapa harus kucing?”

“Maksud kamu?”

“Bagaimana kalau ikan?”

“Kenapa ikan?”

“Lebih aman.”

“Ikan apa?”

“Hmmmm..”

“Ikan apa?”

“Cupang?”

“Hahahahahahaha..”

” Hahahahaha..”

Lalu tanpa perlu ke pasar ikan mereka saling menitipkan cupang. Leher. Dada. Paha. Punggung. Tengkuk.

Suatu sore yang tak begitu manja. Dilihatnya sang kekasih dengan  paras yang sedih tanpa keceriaan yang bergelora.

“Kenapa?”

“Ayahku bertanya.”

“Apa jawab kamu?”

Sebuah anggukan.

“Dia tahu Kita?”

Sebuah anggukan lagi.

“Lalu?”

“Aku diminta pulang sekarang juga.”

“Bilang saja nanti lebaran sekalian.”

“Jika besok aku tak ada di depan pintu, dia yang akan kesini. Bersama Abang. Juga Paman.”

“Dia tahu alamat kita.”

Sebuah anggukan lagi.

“Kok bisa?”

“Aku pernah beritahu Abang”.

“Apa rencana kamu? Pulang. Menyerah?”

Sebuah gelengan. “Entahlah. Aku capek.”

“Ketika aku harus mengajak kamu pergi jauh dari kota ini, apakah kamu mau ikut?”

“Kemana?”

“Menghilang.”

“Menghilang dari siapa?”

“Orang-orang yang mengenal kita. Kita pergi ke tempat dimana kita menjadi asing.”

“Bagaimana dengan pekerjaan kamu? Bagaimana dengan pekerjaan aku?”

“Aku bisa menyetir. Aku juga bisa memangkas rambut. Di tempat asing aku ingin menjadi sopir. Atau pemotong rambut?”

“Bagaimana dengan aku?”

“Kamu, bisa melatih kebugaran di gym.”

“Apakah kita pindah ke kota yang ada gym-nya?”

“Bisa kita cari.”

“Apakah kita perlu berganti nama?”

“Untuk apa?”

“Sekalian aja. Aku ndak suka namaku ini.”

“Nanti aku carikan nama yang pantas untuk kamu.”

“Ndak perlu. Aku mau mengarang sendiri.”

“Ya sudah.”

“Fahri.”

“Ha? Siapa?”

“Ya, aku mau berganti nama menjadi Fahri.”

“Hmmm..”

“Eh, Diego saja. Aku menyukai nama Diego.”

“Hmmm..”

“Bagaimana, bagus bukan?”

“Entahlah. Aku ga akan keberatan sepanjang kamu nyaman dipanggil Diego.”

“Pablo!”

“Ha?”

“Iya, kamu aku ganti namamu menjadi Pablo.”

“Kenapa Pablo?”

“Macho. Aku suka nama yang menggambarkan kelaki-lakian yang tegas.”

“Diego… Hmmm. Pablo… Hmmm.”

“Bagaimana jika nama itu membuat kita malah terlalu mudah untuk dikenali. Nama itu terlalu asing menurutku. Bahkan di negeri asing.”

“Soal nama, biar nanti kita pikirkan lagi. Bagaimana dengan uang tabungan kita?”

“Aku habis. Kemarin sudah buat angsuran terakhir.”

“Mobil?”

Sebuah anggukan dilayangkan. “Kalau kamu?”

“Sama. Kita apes. Selamanya kita akan berada disini. Atau malah kita harus akhiri. Uang sewa apartemen sudah terlanjur aku bayarkan hingga Oktober”

“Kamu mau begitu?”

“Kalau kamu?”

Sebuah gelengan dilayangkan.

“Sama, aku pun tak mau.”

“Lalu?”

“Biar kutelpon kakakku.”

“Untuk apa?”

“Aku mau jual mobil kamu. Uangnya buat kita pergi jauh.”

“Bukannya kakak kamu pun tahu tentang kita?”

“Iya.”

“Kamu yakin?”

“Iya.”

“Yakin..?”

“IYA!”

“Tapi bukannya dia rajin shol.. ah, sudahlah. Terserah kamu aja deh.”

“Biar aku coba”. Lalu ditekannya layar dengan gambar angka-angka. “Assalamualaikum..” Ditunggunya respon dari suara di sebrang sana.

..

“Iya kak. Baik kak. Jadi begitu kak. Nanti detilnya aku we-a kak.”

“Bagaimana? Kakakmu apa responnya?”

“Positif. Mobil dia ga butuh. Katanya dia akan pinjamkan uang untuk kita.”

“Serius?”

“Iya.”

“Kok bisa?”

“Entahlah, aku pun tak tahu alasannya. Hanya saja katanya aku diminta memberikan detil dana yang diminta.”

“Ya sudah, ayo kita kirimkan saja rincian uang untuk tiket dan keperluan untuk sebulan ke depan.”

Lalu mereka sibuk berhitung. Sibuk juga berpikir seberapa banyak uang yang mereka perlukan. Seberapa besar mereka akan bertahan hidup sebelum memperoleh pekerjaan yang bisa memberi mereka “makan”.

Belum sempat mereka selesai, sebuah notifikasi pesan singkat muncul di layar gawai. sebuah pesan dari layanan mobile banking. Sederetan angka tertera. Lalu pesan muncul di notifikasi WA.

Ini dari kaka, buat kamu dan dia. Pergilah. Cari kota yang lebih bisa bikin kamu merasa bahagia. Jika perlu  berkelana hingga seberang sana. Kaka alhamdulillah baru saja menjual salah satu rumah di Bandung. Itu buat kamu semua. Semoga bahagia.

Mereka tertegun.

Hanya satu kalimat yang mereka sanggup tulis.

“Kenapa Kaka baik banget?”

Tak ada jawaban. Hanya read doang. Mereka bingung. Tak disangka, dari akan melepas kendaraan hingga mendapatkan dana yang lebih dari cukup untuk pergi jauh. Juga cukup untuk berganti nama. Hingga berpuluh-puluh kali berganti. Pablo. Diego. Javier. Fahri. Junaedi. Emha. Haidar. Ainun. Fikar. Atau sebut nama siapapun. Mereka sedang bahagia.

Bantuan ini sangat mereka harapkan. Namun tak menyangka sedemikian mudah. Tanpa nyana. Pagi-pagi sekali mereka berkemas. Tak banyak yang dibawa. Hanya sepenggal harapan dan sedikit kenangan.

Ketika akan menuju bandara, sebuah notifikasi di we-a muncul. Kaka rupanya.

“Bagaimana?”

“Bentar, aku buka..”

Lalu mereka membaca bersama:

“Mencintai Tuhan yang sempurna, suci, dan agung itu mudah. Yang paling sulit adalah mencintai manusia yang serba kekurangan. Ingatlah, orang tidak akan mengerti selain apa yang dia cintai. Selama kita tidak pernah belajar mencintai ciptaan Allah, maka kita tidak akan pernah benar-benar mencintai apa pun dan tak akan pernah mengenal Allah…”

(Syamsi Tabrizi)

Mereka berdua saling berpandangan. Mereka yakin, Pablo dan Diego adalah nama yang bagus kelak.

-TAMAT-

salam anget,

roy

#RekomendasiStreaming – Campursari Aneka Sensasi

So I guess the cat is out of the bag now.

Hari diunggahnya tulisan ini, yaitu pada tanggal 19 April 2018, bertepatan dengan konferensi pers acara yang sedang saya kerjakan, yaitu festival film Europe on Screen. Kalau pernah mendengar nama hajatan ini, terutama bagi para peminat film di ibukota dan beberapa kota besar di Indonesia, maka pasti familiar dengan konsep acaranya, yaitu memutar film-film Eropa terpilih dalam beberapa tahun terakhir secara gratis di pusat-pusat kebudayaan.
Kebetulan untuk edisi sekarang, saya dan rekan kerja saya didapuk untuk menjalankan perhelatannya.

Perjalanan kami sangat singkat, karena dalam waktu kurang dari 4 bulan harus menyiapkan keseluruhan elemen acara, mulai dari struktur, isi program, materi publisitas dan promosi sampai urusan administratif. Biasanya waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan kegiatan semacam ini secara normal adalah 6-9 bulan masa persiapan.

Hidup saya jungkir balik selama 14 minggu terakhir. Beberapa proyek lain terpaksa harus menunggu, karena ini ibaratnya sedang membangun rumah baru nyaris dari nol. Dan dalam waktu yang singkat pula, saya terpaksa harus melepas beberapa film yang sebelumnya sudah sempat saya incar untuk diputar di festival ini.

Tanpa harus menjelaskan dengan istilah teknis yang njelimet, mendapatkan film untuk diputar di sebuah kegiatan pemutaran film atau festival film itu susah-susah gampang dan gampang-gampang susah.
Kuncinya adalah sabar. Sabar mencari kontak pemegang hak tayang film yang kita mau, yang biasa dipegang oleh agen penjualan atau sales agent, atau distributor. Semua data itu ada di internet, asal kita sabar mencari, dan setelah ketemu kontaknya, sabar menunggu balasan. Balasan pun belum tentu positif, karena bisa saja film yang kita mau sedang tidak available untuk dipinjamkan kopi filmnya di tanggal yang kita rencanakan, atau memang pemegang hak tayang film tersebut tidak tertarik filmnya ditayangkan di acara kita. Itu baru dua dari sekian lusin alasan lain.

Intinya, dalam waktu singkat saya harus mencari ratusan film, dan mengontak ketersediaan ratusan film ini, sebelum akhirnya mengerucut menjadi 90-an program film yang tersedia sekarang. Dari sekian banyak film yang terpental dari daftar, ada 3 film yang lumayan membekas di ingatan. Film-film ini tidak akan ditayangkan di festival, namun mereka bisa ditonton di aplikasi video streaming yang ada secara legal di Indonesia.

Mereka adalah:

Layla M

Layla M (source: Variety)

Film produksi negeri Belanda karya Mijke de Jong ini mengungkap sisi lain radikalisme Islam dari kacamata seorang remaja perempuan yang tomboy. Meskipun seperempat terakhir film terkesan terburu-buru dalam penyelesaian cerita, namun film ini masih menarik untuk diikuti. Paling tidak memberi pemahaman lain tentang kenapa banyak orang bisa tertarik pada gerakan radikalisme yang buat sebagian orang lain susah untuk dimengerti.

Call Me By Your Name

Call Me By Your Name (source: Rolling Stones)

Jujur saja, ini bukan salah satu film favorit saya. Entah kenapa, baik novel asli ataupun film adaptasinya, this doesn’t speak to me. Berbeda dengan Brokeback Mountain yang menyesap ke ujung hati. Namun saya akui, there’s a sense of tenderness yang membuat film ini masih menarik untuk diikuti. Oh, dan film ini tersedia di aplikasi Hooq yang entah kenapa kok saya tidak menemukan tautannya untuk dicantumkan di sini. Hmmm.

Risk

Risk (source: Variety)

Film produksi negeri Jerman yang bisa dibilang “sekuel” dari film Citizenfour karya sutradara yang sama, Laura Poitras. Sama-sama mempunyai unprecedented access ke tokoh kontroversial, kali ini Julian Assange, otak di balik Wikileaks. Menonton film ini memang menghadirkan sensasi ketegangan mengikuti perjalanan Julian yang dikejar-kejar berbagai negara. Namun alih-alih menghadirkan empati, menonton film ini dijamin membuat rasa sebal dan kesal berlipat ganda terhadap Julian. Menurut saya, itulah bukti kesuksesan film ini.

Selamat menonton, dan kalau sempat hadir di festivalnya lalu bertemu saya, panggil saja saya ya. With my name, not your name. Kalau sudah kenalan, ya kita lihat saja nanti. 🙂

Tak Perlu Takut untuk Memeriksakan Diri

DATANG agak telat dari biasanya, saya masuk kantor Kamis lalu dengan segaris plester luka di lengan sebelah kanan.

“Kenapa kamu, Gon? Habis donor darah?”
   “Bukan. Dari klinik tadi, MCU.”
“Hah? Kamu sakit? Sakit apa? Kok sampai harus periksa darah segala.”
   “Enggak lagi sakit kok. Ya checkup biasa. Sudah lama. Mumpung lagi murah. Kamu mau?”
“Enggak, ah. Takut.”
   “Takut darah? Jarum?”
“Takut kalau ternyata ada kenapa-kenapa.”

Tidak hanya satu atau dua kenalan yang berkomentar begitu. Sejak pertama kali menjalani prosedur general checkup di Samarinda sekitar lima tahun lalu, selalu ada saja teman yang justru menghindarinya dengan alasan takut. Padahal biaya bukan jadi satu masalah. Karena saat itu bisa menggunakan asuransi kantor yang layanannya mencakup pemeriksaan kesehatan, alias gratis.

Sangat manusiawi untuk merasa takut terhadap apa saja. Apalagi untuk hal-hal yang berkenaan dengan kehidupan kita di masa depan. Lantaran semuanya masih merupakan misteri, dan baru terbukti saat terjadi. Nanti.

Namun, akan lebih baik bila kita tetap bisa menyikapinya secara logis, serta mempersiapkan diri semaksimal mungkin jika suatu saat terpaksa harus berhadapan dengan ketakutan tersebut. Setidaknya, dampak dan kejutan yang dirasakan tidak seheboh yang dikhawatirkan.

Oleh sebab itu, menolak melakukan general checkup lantaran takut nantinya ketahuan mengidap penyakit, atau berpotensi mengalami gangguan kesehatan tertentu, sama saja dengan menghindari kenyataan. Selain itu juga mengurangi kesempatan atau peluang penanganan yang dapat dilakukan. Membuang atau memperpendek waktu yang semestinya bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin.

   “Cuma, kan … gara-gara takut, nanti malah bisa muncul macam-macam. Rasanya masih sehat kok.”
“Tidak ada keluhan kesehatan sama sekali?”
   “Iya.”
“Yakin?”

Ketika pertanyaan seperti di atas bisa memunculkan keraguan atas kondisi kesehatan Anda secara global, berarti poinnya ada dua: mindset Anda yang terbatas dan hanya bisa mengira-ngira, serta tak bisa dimungkiri bahwa pemeriksaan kesehatanlah cara untuk menghilangkan keraguan tersebut.

Blood pressure checking.

Photo by rawpixel.com on Unsplash

Begini ilustrasinya. Bukan tanpa alasan mengapa saya memutuskan untuk memberanikan diri, mengalokasikan waktu (datang ke rumah sakit, membuat janji, berpuasa, dan datang lagi keesokan harinya untuk konsultasi hasil pemeriksaan) sekitar lima tahun lalu. Pekerjaan sebagai seorang jurnalis harian membuat saya relatif nokturnal. Terbiasa pulang dan memulai tidur di atas pukul 2 pagi, dan baru memulai aktivitas (baca: bangun) menjelang tengah hari keesokannya. Seringkali melewatkan sarapan, doyan nasi, suka banget minum es teh manis. Entah mengapa, saya relatif gampang mengantuk di siang atau sore hari, dan sangat mudah tidur-tidur ayam dalam situasi yang sangat tidak kondusif sekalipun. Saat mengendarai sepeda motor, misalnya. 😅

Dari gejala-gejala tersebut, banyak orang berceletuk: “Coba kamu periksa gula darah. Hati-hati diabetes, lho.”

Sedikit terdengar menyumpahi, dan langsung memunculkan gambaran menakutkan: Gimana ya kalau ternyata kencing manis? Ngeri, kan? Lukanya basah terus, bisa diamputasi … dan sebagainya, dan sebagainya.”

Sedilematis apa pun pertimbangan yang muncul dalam pikiran, saya tidak bisa membantah fakta bahwa gampang sekali mengantuk, dan katanya ialah salah satu pertanda penyakit kencing manis. Sekuat apa pun saya menolak, saya tetap tidak punya jawaban pastinya. Pemeriksaan gula darahlah cara terbaik menjawab dugaan tersebut.

Setelah kantor memilih vendor asuransi korporat dengan layanan mencakup pemeriksaan kesehatan lengkap, langsung saya manfaatkan.

Hasilnya … gula darah normal, malah cenderung rendah. Lega, sudah pasti. Ditambah bonus beberapa poin lain, yang barangkali perlu diperhatikan di masa depan. Salah satunya adalah kolesterol. Baik kolesterol baik maupun kolesterol jahat (HDL dan LDL) ternyata sama-sama di bawah normal (pantesan kok agak oon-oon… 😂)

Dari hasil pemeriksaan tersebut, saya masih berkesempatan untuk menyesap es teh manis, dan menyantap nasi dengan porsi normal. Sedangkan serangan kantuk yang seolah intensif, benar-benar disebabkan waktu tidur yang tidak teratur serta kelelahan. Dalam hal ini, satu dua keraguan berhasil dihilangkan, sehingga bisa fokus untuk menangani masalah lain.

Ada lagi contoh kedua. Yang ini jauh lebih deg-degan, dan nyaris bikin frustasi. Berkaitan dengan kondisi darah, dan membuat saya tidak bisa/tidak boleh lagi mendonorkan darah ke PMI. Entah apakah status itu sudah berubah per saat ini, atau masih tetap sama.

Singkat cerita, dari pendonoran terakhir yang saya lakukan kala itu, pemeriksaan PMI mengindikasikan bahwa darah saya berstatus undetermined. Kemungkinan paling buruknya, saya terinfeksi HIV/AIDS!

Kurang mengerikan apa, coba? Mendengar informasi tersebut dan berusaha mencernanya sebaik mungkin. Pasalnya, saya belum pernah melakukan hubungan seksual, apalagi sembarangan; tidak menggunakan narkotika suntik; tidak (belum) bertato, apalagi secara sembarangan. Pokoknya jauh dari faktor-faktor risiko.

Saya yang lumayan panik kala itu, bisa saja hanyut dalam kebingungan dan memilih untuk mendiamkan informasi ini. Menyimpannya rapat-rapat, dan melanjutkan hidup di bawah bayang-bayang awan hitam. Aneka skenario dan adegan-adegan kehidupan pun bermunculan. Semuanya berupa imajinasi negatif.

Kemudian saya berusaha sadar, memastikan semua langkah yang bisa dilakukan, dan memeriksakan diri dalam VCT. Hari itu juga! Walaupun harus melewati prosedur birokratis seperti bertemu dan meminta rujukan dokter kepala PMI setempat, dan seterusnya, dan seterusnya.

Hasilnya, negatif atau non-reaktif.

Untuk cerita lengkapnya (dan melihat lembaran hasil pemeriksaan yang tidak boleh dibawa pulang oleh pasien) silakan dibaca di “Tak Bisa Donor Darah Lagi”.

Andaikan saja, amit-amitnya ya, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tubuh kita bermasalah, maka kita tetap bisa merdeka mengambil sikap. Ingin benar-benar fokus dan bertekun hati dalam penanganannya, atau bisa saja kita menjadi lebih menghargai hidup. Menghayati hari demi hari yang kita jalani.

Bukankah manusia memang cenderung menyia-nyiakan sesuatu, sampai akhirnya kehilangan dan menyesalinya?

Semoga kita selalu sehat, dan mampu mempertahankannya.

[]

Jadilah Pendukung Yang Biasa-Biasa Saja

Dulu di tahun 90an awal saya adalah penggemar metal. Jika membeli kaset ke Aquarius Dago, maka harus dipastikan apakah kaset itu memiliki stiker “Parental Advisory”, atau memiliki bulatan merah di sisi kaset. Biasanya rilisan dari Roadrunners Record atau Earache Records. Itu patokan saya membeli kaset. Karena waktu itu referensi musik sangat terbatas. Membeli kaset seperti berjudi karena yang kita beli itu kadang kita tidak pernah mendengar nama band tersebut. Jika ternyata ternyata setelah didengarkan kita suka itu adalah sebuah bonus. Tapi jika tidak, biasanya kita barter dengan teman yang suka dengan kaset yang kita beli.

IMG_20180416_205942

Tapi beruntungnya saya dibesarkan ketika semua genre musik bisa besar dan berjalan beriringan. Saya bisa melihat Michael Jackson dan Nirvana di tangga Top 40 Billboard saling bersanding. Atau Whitney Houston dengan R.E.M., atau mungkin Mariah Carey dan Beastie Boys. Pada waktu itu ketika seorang remaja pria mendengarkan musik yang menye-menye semacam R&B adalah sebuah “aib”. Kurang keren. Pokoknya rock atau metal sisanya sampah. Begitu kurang lebih kasarnya.

Fanaticism-Idealism.jpg

Ini mau tidak mau membuat saya mendengarkan banyak jenis musik. Sekarang saya tidak malu untuk menyukai dan mendengarkan bayak musik dengan berbagai genre. Karena saya berfikir, jika saya hanya mengagungkan satu jenis musik saja. Maka saya adalah seorang fasis. Fasis-genre saya menyebutnya. Ini tidak sehat. Referensi musik jadi terbatas. Seperti katak dalam tempurung. Karena saya hanya melihat dari satu sisi dan menafikan sisi yang lain walaupun itu bagus. Kalo musik bagus ya dengarkan apa pun jenisnya. Lebih beragam lebih bagus. Tidak ada ruginya. Referensi kita jadi kaya. Ini pun saya lakukan di berbagai bidang. Saya tidak mau menjadi seorang fanatik karena saya tidak melihat ada sisi positifnya. Ini bisa berlaku di mana saja. Bisa berlaku di dunia film. Bisa juga diterapkan di ideologi. Di sepakbola. Di mana saja. Fanatisme hanya membuat saya menjadi bebal dan pikiran saya terbuka sedikit.

Di era pilkada sebelumnya jujur saya memilih Ridwan Kamil sebagai Walikota Bandung dan Jokowi sebagai Presiden Indonesia. Saya juga dulu suka Ahok tapi saya tidak punya hak pilih di sana. Di periode ini saya memilih untuk golput. Kenapa begitu? Dengan tidak memilih justru saya memiliki kebebasan. Khususnya di media sosial. Saya juga terhindar dari cercaan dan makian yang menghabiskan energi. Saya bisa lebih jernih melihat persoalan. Saya tidak bias melihat suatu permasalahan. Jika jelek ya kritik. Jika bagus ya puji. Enak kan?

“you’re either with us or against us”

Kita tahu sekarang politik di Indonesia sudah terpolarisasi. Cuma dua pilihan pro atau anti. Media sosial memperburuk keadaan. Banyak badut berkeliaran mencari popularitas. Banyak pengamat politik umbar kebodohan demi mendukung salah satu calon hanya demi sesuap nasi. Ini sesungguhnya hal yang sangat menyedihkan apalagi jika mereka ternyata “berpendidikan tinggi”. Ketika situasi sudah menjadi “you’re either with us or against us” saya tahu saya harus segera ke luar arena. Melihat dari tribun lebih nyaman daripada harus jadi bidak dan berkelahi entah untuk apa. Saya tidak mau terjebak di hiruk pikuk (apalagi masalah) politik. Saya hanya menganggapnya sebagai hiburan. Lucu-lucuan. Menghadapi masalah berat tidak harus menanggapinya dengan kening berkenyit. Selipi dengan sedikit humor.

Everything in moderation, including moderation. 

Kita bisa saja pasif mendukung salah satu calon. Tapi bisakah kita netral dan tidak bias dalam menyikapi suatu isu yang menyudutkan salah satu calon? Di era internet ini sulit dilakukan. Di media sosial kadang kita tanpa sadar bisa terbawa arus. Karena kita mempunyai insting untuk bertahan hidup. Kita mempunyai kecenderungan untuk membela apa yang kita yakini. Fanatisme buta hanya membuat kita berbuat liar dan tak terkendali. Seperti pendukung sepakbola Inggris jika bertanding ke luar negeri. Kita mendukung salah satu ideologi atau calon tapi yang terjadi malah kita justru menjadi benalu. Saya ambil contoh, teori saya, pendukung garis keras Ahok adalah salah satu penyebab Ahok tidak terpilih menjadi gubernur. Dengan mendukung membabibuta dan mengeluarkan kata-kata kasar ke pendukung Anies justru menjadi bumerang yang melemahkan Ahok. Hanya ajang gagah-gagahan. Menang jadi arang, kalah jadi abu.

Jadilah pendukung yang biasa-biasa saja. Buang energi untuk hal yang lebih bermanfaat. Dukung secukupnya. Jangan anti kritik juga. Woles aja. Kecuali jika jagoanmu menjanjikan jabatan atau proyek ya silakan bela habis-habisan. Karena masalah perut itu tidak bisa dibohongi.

 

 

Kisah Sial Urban

Memilih untuk commuting dengan transportasi publik memang tidak selalu indah ceritanya. Aspek menyenangkannya memang dari segi waktu tempuh dan makian yang bisa dihemat, ketimbang menggunakan kendaraan pribadi. Terutama untuk pekerja seperti saya yang tinggal di selatan Jakarta dan berkantor di bagian barat.

Efek baiknya juga, saya jadi lebih asertif dalam menegur orang yang mencoba berlaku tak sopan, antre sembarangan, dan yang mengambil sisi kanan eskalator tetapi tidak berjalan. Daripada ngomel dalam hati, kan?

Nyeri!

Tapi semakin sering mengalami, membuat saya semakin malas bersuara, seringnya ya sudahlah biarkan saja. Misalnya, ketika naik KRL dari stasiun tanahabang ke arah Depok atau Bogor, yang biasanya masih cenderung lengang. Semua penumpang seperti tersentil survival instinct dan berebut kursi yang masih kosong. Walaupun saya sudah berdiri di atas garis kuning – garis batas peron yang calon penumpang boleh berdiri – tetap saja begitu menjelang kereta berhenti selalu ada orang memaksa berdiri di depan saya, walau risikonya hidung tersenggol kereta.

Yang saya sering sebal juga dengan orang yang berkeras untuk berdiri di dekat pintu, padahal stasiun tujuan masih jauh, padahal di bagian dalam kereta masih lowong. Untuk melampiaskan biasanya ketika saya turun saya tak peduli untuk menabrak atau menginjak kaki sambil menegur sambil lalu: “Jangan berdiri di pintu, MAS!”

Risiko berdiri di pintu

Beberapa hari yang lalu, saya bisa keluar kantor agak sore, dan menanti di garis kuning seperti biasa. Seperti biasa pula seorang mas mas dengan santainya melangkah ke depan saya ketika kereta berhenti. Mungkin pikiran saya langsung sibuk kesal , tetapi tetap dengan asumsi kalau dia akan masuk ke bagian tengah kereta dan ikut rebutan duduk di kursi. Ternyata si mas malah berhenti di pintu dan berdiri di pinggirnya yang membuat saya limbung karena langkah saya ke depan terhalang jadi mengantisipasi dengan melangkah agak ke sisi, walhasil kaki saya meleset dari lantai kereta dan saya jatuh ke dalam kereta dengan posisi tertelungkup.

“Mas! Kalau masuk ya masuk, jangan berhenti di pintu gitu, bikin kagok aja!” Kontan omelan langsung keluar, sementara saya baru sadar, tentu dia tidak sadar dan tidak peduli apa yang terjadi di belakangnya. Saya pun berdiri dan langsung pasang posisi seperti biasa tanpa menunggu reaksi dari mas yang ditertawakan temannya. Mungkin juga temannya menertawakan saya, sih, tapi bodo amat.

Moral of the story (tetap harus ada ya): jangan pernah sok mengantisipasi arah gerakan orang di depan kalau tidak mau jatuh terjelungup.

Perjalanan Itu Masih Panjang

Ketika kita mengambil keputusan untuk berbuat sesuatu, maka yang menemani kita adalah perbuatan kita sendiri.

Tadinya saya berpikir bahwa menciptakan produk adalah salah satu cara mengekalkan aktivitas yang pernah dilakukan oleh kita. Produk itu atau sesuatu itu akan menjadi abadi. Atau setidaknya kita berupaya menjadi abadi.

Namun ternyata.

Bukan saja menciptakan sesuatu atau berkarya menjadikan sesuatu bentuk hadir dalam tampilan fisik yang dapat menjadi kekal. Ada hal lain yang lebih tahan lama. Ketika apa yang kita lakukan adalah menciptakan kesan dalam ingatan. Bisa siapa saja ingatan itu tertancap. Kita sendiri atau orang lain.

Ternyata.

Beraktivitas bersama manusia lainnya jauh lebih abadi. Karena tidak hanya ingatan pernah bersama menghabiskan waktu, tapi akibat dari kebersamaan itu akan terus mengikuti.

Saat berinteraksi dengan orang lain, ingatan kita ternyata juga menggunakan indera penciuman. Kita ingat aroma tubuh kawan bicara. Atau bau mulutnya. Saat bertatap muka, kita juga mendengar suaranya. Tidak hanya melihat dengan mata namun juga mendengar dengan telinga. Aalagi bersentuhan kulit. Ada sensasi yang luar biasa. Bisa dimulai dari bersalaman. Atau berpelukan. Atau hal lainnya yang bisa mulai Anda bayangkan sendiri.

Akan tetapi.

Interaksi antara kita dengan orang lain ternyata tidak sekekal pertemanan kita dengan konsekuensi apa yang kita lakukan. Tidak melulu ketika kita berinteraksi dengan orang lain, atau sendiri, atau beramai-ramai. Yang kekal adalah akibatnya.

Apa maksudnya?

Ketika kita saling mencaci. Yang teringat adalah sakitnya. Lebih kekal daripada rasa lapar yang segera hilang usai sarapan. Ketika kita mengetik pesan via whatsapp, atau pesan pendek SMS, atau mention di twitter. Lalu kita ketik send. Maka yang menemani kita dalam penantian tak berujung apa respon yang akan dijawab oleh kawan bicara di seberang sana adalah reaksi rasa cemas, rasa takut, rasa senang, atau rasa sedih. Padahal kawan bicara kita sendiri belum merespon apapun. Atau bahkan tanpa adanya respon itu adalah sebuah respon itu sendiri. Berganti situasi. Kita ditemani pikiran macam-macam. Apakah dirinya marah? Apakah Bapak itu kecewa saya mengajukan cuti mendadak?

Tanpa disadari sahabat sejati kita adalah situasi ketika kita usai melakukan sesuatu.

Seberapa banyak dialog yang kita lakukan kepada diri sendiri. Lewat jalan pikiran dan suara-suara hati yang terus menerus hadir.

Jika demikian adanya maka kita sebetulnya berteman dengan logika, akal sehat, mood, perasaan, ketakutan, ego, nafsu, dan semua hal yang menjadi teman diskusi dalam hati sebelum mengambil keputusan.

KnowledgeandExperience

Adapun kita berteman dengan si Susi, karena perasaan kita menyukai Susi. Mengapa kita menyukai Budi, ternyata karena ego kita menyukai Budi yang selalu memuji kita apapun yang sedang kita lakukan. Mengapa kita menyukai Muthia. Ternyata karena ketika kita berada di dekatnya bawaannya nafsu melulu.

Semua individu di luar kita bisa berteman dengan kita jika “teman sejati kita” yakni hasil diskusi antara logika dan perasaan dengan banyak jenisnya  itu telah merestui pertemanan kita dengan orang lain.

Namun rupanya.

Ternyata.

Oalah.

Teman yang katanya sejati tersebut begitu rentan. Mungkin ini yang disebut mudahnya membolak-balikan kalbu. Mood kita berubah. Emosi kita berbenah atau makin kacau. Logika kita bisa digunakan, bisa juga bahkan tak diajak bicara. Nafsu kita kadang mendominasi atau malah melemah raib entah kemana.

Hal ini terkadang berubah ketika diri kita menemui sebuah situasi dimana kita terlibat didalamnya. Terkadang akibat perbuatan kita yang telah dilakukan tidak siap diterima oleh seluruh teman “sejati” kita tadi. Tinggal “aku” dan “situasi”. Mau dibawa hubungan aku dan situasi ini?

Terkadang saat kita ketahuan mencontek, semua akal dan mood kita tak terkendali dan tak mau menemani. Yang setia adalah situasi dimana Pengawas ujian memarahi kita, mengambil lembar jawaban kita, dan menyuruh kita keluar ruangan.

Maka kita lebih sejati, lebih memiliki nilai kemurnian yang lebih tinggi antara “aku” dan “akibat dari kelakuan si aku”.  Sebuah pertemanan sebab-akibat.

Oleh karena itu. Jika saja kita sadar sesadar-sadarnya, maka dalam setiap kesempatan kita akan berkenalan dengan sahabat baru yang bernama “situasi” baru. Semakin kita memberanikan diri berbuat sesuatu maka kita memiliki probabilitas lebih tinggi untuk berkenalan dengan “akibat” baru, yang menjadi teman kita, dan syukur-syukur kita ingat, sehingga ketika kita menemui situasi yang hampir serupa, kita lebih mudah mencerna situasinya dan meresponnya secara lebih bijaksana.

Berlibur di negeri orang. Pulang kampung. Pindah tempat kerja. Menjajaki perkenalan dengan lawan jenis. Adalah bagian dari memperbanyak “teman”.

Mungkin inilah sejatinya makna dari “guru terbaik adalah pengalaman“.

Bersyukurlah. Semoga perjalanan kita masih panjang. Kita diberi kesempatan untuk mengenal “guru” kita lebih lama dan lebih banyak.

Reguklah.

salam anget,

Roy

Hari Yang Mengistimewakan Hidup

Seorang teman lama pernah berkata beberapa belas tahun lalu, “Sebenarnya ada makna lain lho kita merayakan hari besar, seperti Lebaran, Thanksgiving, Valentine’s Day.”

Saya tanya balik, “Which is …?”

Which is, we celebrate the idea or the spirit of the special day.”

Meaning …?”

Meaning, we emphasize or glorify the idea. Contohlah Lebaran. Minta maaf dan memaafkan gak usah nunggu sampe Lebaran. Tapi pas Lebaran, kita kayak diingetin lagi kalo minta maaf dan memaafkan itu penting. Valentine’s, gak perlu nunggu 14 February buat ngungkapin perasaan cinta. Tapi pas hari itu, the idea of love is being celebrated. Okelah, akhirnya emang dikomersialisasikan way too much. But what isn’t?”

“Oke. Kalau ulang tahun?”

“Itu sangat personal. Kan kita lagi ngomong public holiday.”

Saya mengangguk.

Dan baru sekarang saya temukan jawabannya: bahwa hari lahir kita pun selayaknya kita akui keberadaannya.

Mau dirayakan dengan mentraktir keluarga dan kerabat, boleh. Mau pergi liburan, bisa. Mau sekedar ambil cuti setengah hari supaya bisa sarapan bersama, silakan.

Yang penting, we acknowledge our existence. Kalau bukan kita, siapa lagi?

Kita mengakui keberadaan kita sendiri yang masih hidup, dengan cara sekecil apapun. Sekedar bangun pagi dan sadar kalau hari ini adalah hari lahir kita, lalu mengangkat bahu tak peduli sambil langsung beraktifitas seperti biasa, itu juga sudah cukup untuk dibilang merayakan ulang tahun.

Selama kita masih ingat kapan kita mulai berada di dunia ini, dalam versi apapun, berarti kita masih hidup.

Kita boleh tak peduli hari libur keagamaan, hari libur nasional, atau hari libur lainnya.

Tetapi hari lahir kita, jangan sampai terlupakan.

Karena hal kedua setelah nama yang ditanyakan petugas berwajib saat identitas diri kita hilang, adalah tanggal lahir kita.

Celebrate your birthday, the best way you know how.

And carry on enjoying your life.

Kenapa Anak-anak Harus Beragama yang Sama dengan Orang Tuanya?

BAGI sebagian orang, angka hanyalah angka. Simbol bilangan untuk memudahkan berhitung. Namun bagi para pengelola agama sebagai institusi massa, angka dan jumlah menjadi penanda keberlangsungan. Sehingga kerap diperlakukan lebih penting dibanding hal-hal lainnya. Meski soal ini seringkali hanya disampaikan secara tersirat, dan terkesan agak berbisik-bisik.

Mengapa agama harus disebut sebagai institusi massa? Sebab agama telah terlembaga, dan membutuhkan banyak orang untuk kesinambungannya. Padahal sebagai ajaran ilahiah—sesuatu yang dipercaya berasal dari langit, dan juga dipercaya dapat mengantarkan manusia ke langit yang sama— sejatinya agama tidak perlu manusia.

Ada atau tidak ada manusia; dan ada atau tidak ada penganutnya, kebenaran tetap akan menjadi kebenaran. Sama logisnya dengan pemikiran bahwa ada atau tidak ada manusia; dan ada atau tidak ada umat yang mempercayai dan menyembahnya, (entitas) tuhan tetaplah tuhan dengan segala kemahaannya. Lebih ekstrem lagi, tuhan bahkan tidak membutuhkan agama untuk tetap menjadi tuhan, Sang Adikodrati.

Kalau bagi para ateis maupun nonteis; ada tidak ada manusia, hukum-hukum alamiah (fisika, kimia, biologi) akan tetap ada, muncul karena terkondisi dan bekerja sebagaimana mestinya. Bisa dan akan mengalami perubahan, serta bisa dan akan menyebabkan perubahan mulai di skala atom hingga seluas semesta.

Lantaran angka dan jumlah, para pemimpin agama mengerahkan organisasi religiusnya masing-masing untuk terus menambah umat. Berbagai cara pun dilakukan. Dimulai dari:

  1. Melarang keras umatnya untuk berpindah agama,
  2. Memerintahkan umatnya agar menikah dengan yang seagama, atau membuat pasangannya berpindah agama, mendidik dan membesarkan anak-anaknya dengan ajaran agama yang sama,
  3. Mengagamakan atau menahbiskan seseorang sebagai pemeluk agama tertentu sejak masih kecil,
  4. Menjalankan misi Proselytism atau gerakan “…isasi” untuk menambah jumlah umat baru dengan perpindahan agama,
  5. Mendorong munculnya lingkungan-lingkungan tempat tinggal yang ekslusif, terbatas bagi umat agama tertentu. Termasuk menghalau segala hal yang berkaitan dengan agama lain. Dalihnya, agar tidak tercemar atau terkontaminasi pengaruh buruk,
  6. Mengupayakan eksklusivitas beragama di tingkat politik.

Lalu, mengapa harus menambah umat yang seagama sebanyak-banyaknya?

Pertanyaan di atas bisa dijawab secara normatif, maupun dengan jujur apa adanya.

Jawaban normatif: “Sebagai umat agama anu, saya berkewajiban untuk mengajak sebanyak-banyaknya orang menuju jalan kebenaran demi kebahagiaan di akhirat kelak. Apa yang saya lakukan adalah ibadah, dan bisa mendapat ganjaran pahala serta surga.

Jawaban jujur: Sumber daya. Makin banyak manusianya, makin banyak pula sumber daya yang tersedia. Sebagai sebuah institusi, eksistensi agama bersifat operatif. Perlu tenaga, perlu pikiran, dan perlu dana agar semuanya berjalan sesuai rencana.

Sebagai pemimpin kelompok, para pemuka agama memerlukan pengikut. Tanpa pengikut, para pemuka agama sekadar menjadi umat biasa. Yang tersisa hanyalah hubungan spiritualnya secara personal dengan tuhan. Tanpa pengikut pula, tak ada sumber dana untuk berbagai keperluan. Tempat-tempat ibadah tidak berdiri dengan sendirinya, tanpa bahan-bahan konstruksi, tanpa keringat orang-orang yang mengerjakannya, tanpa uang yang digunakan untuk membayar semuanya.

Jangan lupa, tuhan sebenarnya tidak membutuhkan tempat ibadah. Manusialah yang membutuhkan tempat ibadah sebagai lokasi khusus untuk bisa merasa terhubung dengan tuhannya. Oleh karena itu, agak kurang tepat bila tempat ibadah disebut rumah tuhan. Sebab tuhan semestinya tidak membutuhkan tempat, ruang berbatas tembok dan atap dalam tiga dimensi, apalagi dibuatkan oleh manusia, makhluk ciptaannya sendiri.


Muncul pertanyaan berikutnya. Kenapa anak-anak harus beragama yang sama dengan orang tuanya?

Lagi-lagi ada dua sudut pandang untuk menjawabnya. Dari perspektif para orang tua sebagai umat sebuah agama, dan perspektif agama sebagai sebuah institusi.

Setelah orang tua meninggal, anak-anaknyalah yang memanjatkan doa dan “mengirimkannya” kepada arwah para mendiang. Agar doa-doa tersebut bisa “tersampaikan” dengan baik dan dikabulkan, maka metodenya pun harus sesuai. Kesamaan metode sama dengan kesamaan agama. Tanpa kompatibilitas seperti ini, mustahil doa-doa yang dipanjatkan bakal diterima. Lha wong tuhannya berbeda.

Dalam sejumlah agama malah diajarkan bahwa apabila anak berbeda agama dengan orang tuanya, maka mereka (para orang tua) akan mendapatkan keadaan yang sengsara di alam kubur sana. Menjadi semacam siksaan pra akhirat. Pandangan ini biasanya dimiliki oleh agama-agama samawi.

Penjelasan semacam di atas telah diterima umum, serta dianggap sebagai kebenaran yang lazim. Itu sebabnya hampir semua orang tua di Indonesia mengagamakan anak-anak mereka sejak baru lahir (diazani, dibaptis, dan sebagainya), membesarkan mereka dengan indoktrinasi agama, memasukkan mereka ke sekolah-sekolah agama yang sama, dan seterusnya. Pokoknya, anak-anak harus beragama sama seperti orang tuanya.

Apakah tindakan para orang tua tersebut salah? Tentu saja tidak. Bagi para orang tua itu, agama merekalah yang paling benar. Titik. Sehingga membesarkan anak-anak mereka sesuai “satu-satunya” ajaran agama yang benar merupakan sebuah keniscayaan. An obvious decision. Lagipula hanya ajaran agama itu saja yang mereka pahami, tidak ada lainnya lagi. Bakal menjadi sebuah keanehan sosial, ketika sepasang orang tua beragama A membesarkan anak-anaknya dengan ajaran agama B.

Ada sebuah pengecualian di Indonesia, utamanya pada keluarga-keluarga Tionghoa. Para orang tua yang menjalankan kepercayaan tradisional—yang kerap mereka sebut sebagai “agama Khonghucu” padahal berbeda dengan Khonghucu yang baru saja diresmikan sebagai agama keenam—membesarkan anak-anak mereka dengan ajaran tradisi warisan, tanpa penjelasan keagamaan yang memadai. Sembahyang di meja altar, hayuk. Sembahyang di kelenteng ya juga oke.

Saat menginjak usia sekolah, anak-anak tersebut banyak yang dikirimkan ke sekolah Kristen maupun Katolik. Berkat paparan ilmu dan pemahaman agama yang intensif, tak mustahil beberapa dari mereka pun berpindah agama.

Bagaimana para orang tua Tionghoa Indonesia menyikapi perpindahan agama yang dilakukan oleh anak-anak mereka? Ada yang gusar dan tidak terima, tetapi banyak juga yang biasa-biasa saja. Masalah baru muncul ketika anak-anak mereka yang menjadi umat gereja konservatif dan/atau karismatik, mati-matian menolak menjalankan tradisi Tionghoa. Sebagai jemaat denominasi gereja tersebut, semua ritual tradisional Tionghoa dianggap sesat dan penuh kuasa gelap.

Berbeda dengan umat Katolik, mereka (yang Kristen karismatik) tidak boleh memegang hio, tidak boleh memasak-menyantap makanan bekas sajian di altar, dan menuding patung-patung dewata Tionghoa dilingkupi muslihat setan. Berbarengan dengan itu, mereka pun berusaha keras untuk mengajak orang tua untuk turut berpindah agama. Meninggalkan semua praktik-praktik purba dan primitif.

Bagi para anak-anak tersebut, keberhasilan mengubah agama kedua orang tua mereka tentu memiliki nilai ibadah. Hanya saja saking obsesifnya mengejar nilai ibadah tersebut, tidak jarang suasananya tak mengenakkan. Misalnya, para orang tua didesak berpindah agama justru menjelang masa-masa kematiannya. Deathbed conversion semacam ini merupakan kisah biasa di kalangan warga Tionghoa Indonesia. Ketika sang orang tua sudah dalam keadaan setengah sadar di tempat tidur, anaknya terus meminta agar calon mendiang menerima agama baru. Peristiwa ini bisa menimbulkan perselisihan di antara saudara. Baik saudara si anak, maupun saudara si mendiang.

Seorang muslim mengangkat hio.

Foto ini sempat viral di Facebook tahun lalu. Ada dua versi cerita: (1) ART yang muslim mengangkat hio untuk majikannya, karena anak-anak mendiang tidak ada yang menjalankan kepercayaan tradisional Tionghoa. Inti posting-an mengkritik fanatisme yang menjauhkan mereka dari berbakti kepada orang tua. (2) Foto diunggah di tionghoa.info, disebutkan bahwa sang ART yang muslim ikut memberi penghormatan terakhir kepada mendiang majikannya.

Nah, persoalan kompatibilitas doa dan agama antara orang tua dan anak juga dapat terjadi pada keluarga Tionghoa yang demikian. Bayangkan jika orang tuanya adalah umat kelenteng dan menjalankan tradisi Tionghoa, sementara anak-anaknya adalah umat gereja karismatik, dipastikan ada jurang kesenjangan yang besar dalam sikap spiritualitas mereka.

Para anak-anak mendiang, tentu tidak akan memiliki meja abu, altar berisi foto mendiang yang biasanya disembahyangi menggunakan hio, dan diberi sajian khusus pada hari-hari tertentu (hari lahir, hari wafat, menjelang Tahun Baru Imlek). Begitu pula saat Festival Qingming atau Ceng Beng, yang merupakan harinya berziarah dan bersih-bersih makam. Tidak akan ada sembahyangan, tidak ada pula aktivitas membakar kertas emas (kimcoa) dan kertas perak (gincoa) serta berbagai miniatur barang. Apabila ini yang terjadi, maka para mendiang pun dikhawatirkan akan menjadi arwah yang kelaparan, miskin tanpa harta, berpenampilan lusuh dan butut karena tidak mendapat kiriman benda-benda.

Setiap orang sangat berhak untuk meyakini agamanya sebagai satu-satunya yang benar, dan meragukan kaidah agama lain sebagai ketidakbenaran. Termasuk dari contoh di atas. Saat gambaran akhirat ala Tionghoa kerap dianggap terlalu imajinatif dan mengada-ada. Bisa saja ada yang bertanya: “Kertas dibakar di sini, di sana jadi uang? Kok konyol?” Akan tetapi jangan lupa, kita sebagai manusia yang masih hidup, sama-sama tidak memiliki pengetahuan apalagi pengalaman langsung tentang gambaran akhirat yang sebenarnya. Boleh jadi akhirat versi agama kita yang sungguhan terjadi, akan tetapi bagaimana kalau akhirat versi Tionghoa yang benar-benar ada di sana?

Aneka replika benda dari kertas di makam Tionghoa.

Kalau sudah urusan ziarah makam orang tua, banyak orang Tionghoa yang sampai sebegininya. Kecuali jika mereka sudah menjadi umat agama konservatif.

Miniatur gedung bank terbuat dari kertas.

Kenapa cuma mengirimkan uang ke alam baka, kalau bisa mengirimkan banknya sekalian? Coba perhatikan nama banknya dalam bahasa Tionghoa, sudah disesuaikan dengan lingkungan “setempat”.

Sedangkan ini … demi terus “membacakan” dan mengirimkan lantunan ayat suci untuk mendiang, dipasanglah MP3 Player khusus murottal Alquran dengan tenaga matahari. Bacaan ayat suci akan terkumandangkan tanpa putus, looping. Niatnya mungkin baik, tetapi anak cucu mendiang barangkali tak bisa berada di sana 24 jam. Tak tahulah. Foto: kabarmakkah.com

Dalam hal ini, celakalah kita semua jika akhirat yang sebenarnya ada adalah versi Mesir kuno. Sebab untuk mencapai kebahagiaan di sana, kita harus dimakamkan sebagai mumi. Hahaha! Soponyono dalam bahasa Jawa, artinya: siapa yang tahu.

Beda lagi ceritanya bila menyangkut anak angkat. Lantaran disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2007 dan Peraturan Menteri Sosial Nomor 110/HUK/2009, calon orang tua angkat harus beragama sama dengan si anak. Tujuannya untuk menghindari terjadinya pemaksaan agama. Anehnya, untuk anak yang tidak diketahui agamanya (seperti bayi dibuang, bayi gagal aborsi, dan lain-lain), maka agama anak tersebut disesuaikan dengan agama mayoritas penduduk setempat setingkat desa atau kelurahan.

Bicara soal pemaksaan agama pada anak, bukankah pengagamaan sejak kecil juga bisa disebut pemaksaan agama? Si anak belum memiliki kuasa untuk memilih agamanya sendiri, tetapi harus dibuat tunduk pada kehendak/keinginan orang tuanya. Seringkali tanpa informasi yang berimbang, bahkan bias referensi. Membuat sang anak tumbuh dengan anggapan-anggapan yang bisa menjadi stigma dan stereotip terhadap penganut agama lain.

Oke, itu tadi jawaban dari perspektif para orang tua. Kemudian, mengapa anak-anak harus seagama dengan orang tuanya dari perspektif agama sebagai sebuah institusi?

Sustainability. Keberadaan yang berkesinambungan. Dengan anak-anak yang seagama, itu berarti adanya regenerasi sponsor. Setelah meninggal, akan ada segaris generasi umat untuk menggantikan posisi para orang tuanya di jajaran pemberi sumbangan. Ini adalah salah satu aspek dari sedekah, konsep yang ada di semua ajaran agama. Bedanya, ada praktik sedekah yang sepenuhnya diselimuti keikhlasan, ada pula yang dilakukan demi kewajiban dan imbalan kaveling petak di surga sana.

Prinsipnya: “Ya … uang, uangmu sendiri, suka-suka kamu mau dipergunakan untuk apa.” Jadi, tinggal para pemuka agama saja yang berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menggaet para donatur potensial. Jangan heran kalau sentimen tarik-tarikan umat marak terjadi. Tempat ibadah A berusaha menggaet orang-orang kaya, begitu pula pengurus tempat ibadah B. Keberhasilan menggandeng orang-orang kaya menjadi umatnya adalah keberhasilan yang patut dirayakan.

Sebagai konsekuensi, “hubungan baik” tersebut pun harus terus dijaga, di-maintain. Di waktu umat tersebut membutuhkan bantuan doa dan sejenisnya, sang pemuka agama harus siap sedia hadir. Namanya juga umat prioritas, yang posisinya jauh lebih tinggi dan mulia dibanding umat kelas ekonomi.

Ya! Ini terjadi.

Demikianlah sedikit gambaran tentang betapa pentingnya angka dan jumlah dalam agama sebagai institusi, organisasi, dan lembaga. Oleh karena itu, terpujilah badan-badan agama, dan tempat ibadah yang memiliki kemandirian finansialnya sendiri. Tak lagi bergantung pada sumbangan dan donasi umat-umat kelas kakap, melainkan mampu berkesinambungan dengan daya upayanya sendiri. Kendati efek sampingnya akan membuat mereka seolah tidak butuh tambahan umat, dan betul-betul eksklusif dalam kehidupan beragama.

Risiko lainnya, lembaga agama dan tempat ibadah yang mampu berdikari seperti ini, akan mudah sekali dituding sebagai institusi bisnis terselubung, yang sesungguhnya memang benar. Namanya juga social enterprise. Entahlah, mana tahu tuhan pun sebenarnya tidak suka namanya terus menerus digunakan untuk mengumpulkan uang dan sumbangan.

Mana tahu, lho, ya, yang tuhan inginkan bukanlah dompet-dompet yang dibuka. Melainkan hati yang terbuka dengan rendah hati dan sukarela. Bukan karena terpaksa, takut masuk neraka.


Terus, kalau tidak diperlakukan begini dan umatnya makin berkurang, bagaimana kalau agamanya hilang?

Memangnya kamu tahu rencana tuhan?

[]

Aku Nggak Enak Sama Kamu, Jadi Enaknya Gimana?

“Beb.”

“Ya, beb.”

“Nanya dong.”

“Pake nanya lagi.”

“Belum nanya itu, beb.”

“Oh iya, ding. Kenapa, beb? Lho kok malah aku yang nanya.”

“Nggak papa, beb. Beb, kamu udah berapa kali resign dari kerjaan?”

“Wah, berapa kali ya. Harus diinget-inget dulu. Lupa.”

“Nyante aja, beb. Ini lampu merah masih lama kok.”

(radio masih saja memutar lagu Mirror dari Justin Timberlake)

“Beb? Itu ngitung apa ngelamun? Jangan ketiduran, beb.”

“Oh, eh … Ya gara-gara nginget-nginget yang dulu-dulu, jadi ngelamun. Ada lah 5-6 kali resign dari kerjaan.”

“Hmmm. Berarti cukup betah juga ya di satu kerjaan.”

“Kalo sama kerjaan sih, setia lah. Kalo sama yang ngajak setia, biasanya dikerjain.”

“Eits, jangan curcol, beb. Lagi full moon ini.”

“Oke, beb. Kenapa gitu kok tumben nanya masa lalu yang bukan masalah lu?”

“Pengen tau aja, beb. Masih inget nggak cara ngomong pas resign dari kerjaan?”

“Waduh, beb. Nggak inget lah kalo itu.”

“Tapi nggak mungkin langsung ngomong aja ‘kan?”

“Yah, beb. Ngajak jadian anak orang aja mikir lama. Apalagi keluar dari kerjaan, beb. Mikirnya lama banget. Kalo perlu sampe bikin daftar do’s and don’ts, pros and cons buat temen mikir. Galaunya bisa lebih dari galau gak dikirimin pesen “lagi ngapain?” ama cacar, beb. Calon pacar.”

“Galaunya bisa berapa lama, beb?”

“Tergantung. Kayaknya sih, semakin tua semakin lama galaunya. Maklum, semakin berumur kesempatan kerja baru juga semakin sedikit. Sama kayak dating kalo gitu ya. The pool of available and eligible ones is getting smaller, beb.”

“Kamu emang selalu doyan hubung-hubungin ya, beb.”

“Soalnya lagi gak berhubungan, beb.”

“Wah, bener juga, beb. Coba kalau lagi berhubungan, pasti nggak mungkin deh ngeladenin obrolan macam ini.”

“Emang kamu mau resign, beb?”

(radio memutar lagu Strong Enough dari Sheryl Crow)

“Lagi bingung, beb. Lagi super jenuh sama kerjaan sekarang. Tapi belum ada kerjaan baru. Nggak sempet juga cari-cari peluang baru. Fully occupied sampe gak ada social life ini, beb. Tapi ada yang lebih penting sih, beb.”

“Apa itu, beb?”

“Gimana ya cara ngomong kalo mau resign?”

“Minta waktu ama bos, mungkin?”

“Minta waktunya sih harusnya nggak masalah ya, beb. Yang masalah itu adalah the actual ngomongnya. Apalagi ngomong ke bos-bos yang practically temen juga. Kantor kecil, projects alhamdulillah banyak. Jadi ya mau gak mau semuanya dikerjain bareng-bareng, rame-rame. Jadi ya deket. Dan mungkin saking deketnya, udah seperti kayak temen deket, mungkin keluarga malah, karena frekuensi waktu bersama cukup tinggi. Tapi sekarang mau keluar, susahnya setengah mati.”

“Hmmm. Udah berapa lama keinginan pengen keluar ini muncul?”

“Well, sudah cukup lama sih, benernya. Somehow I don’t see myself doing this anymore, beb. Kayak udah cukup. Pengen take a break. Bukan pengen istirahat malah. Pengen stop doing it for good, beb.”

“Jenuh, beb?”

“Jenuh banget, beb.”

What made you jenuh, beb?”

Everything, beb.”

And you said everything, because …”

“… because …”

“… because your mind is clouded by you being exhausted, maybe?”

“Bisa jadi, beb.”

“Sudah ada kerjaan lain? I mean, calon kerjaan lain?”

It’s too early to say sih, tapi ada lah peluang baru.”

Good to know. So what stops you in saying to the bosses? Karena gak enak?”

“Karena gak enak.”

(radio memutar lagu No One dari Alicia Keys)

“Mungkin karena bos yang deket dan jadi temen ya.”

But they are your bosses first before you become their friends, beb.”

True.”

“Dan kalau aku inget-inget lagi sekarang, hampir semua obrolan aku pas resign atau keluar dari kerjaan ya akhirnya yang jujur. Kerjaan pertama di sales, jujur akhirnya bilang kalo kerjaan sales gak cocok. Terus akhirnya dapet kerjaan yang pas, tapi harus keluar juga, ya jujur karena dapet better offer. Pernah juga keluar karena ada urusan keluarga yang makan waktu lama. Ya mungkin karena lebih enak ngomong yang sesungguhnya sih, beb. Kita bukan aktor pemenang Oscar ini. Boro-boro, beb. Nominasi acara 17-an di kampung aja juga nggak mungkin.”

“Jadi aku harus jujur ngomong kalo aku jenuh, gitu, beb?”

You’ll find your way in finding the reason, and eventually saying the truth. Jangan sekarang ya, beb. You’re too exhausted to think. Let alone to plan. Sama kayak jangan ngambil keputusan waktu lagi marah, jangan ngambil keputusan waktu pikiran lagi butek. Take a day off maybe, beb? And do nothing for 24 hours? No phone, no text, no internet?”

“Semacam detox ya, beb?”

“Semacam itu lah, beb.”

“Okelah kalau begitu. Oo .. oo .. okelah kalau begitu.”

“Jangan nyanyi, beb. Aku nggak bawa obat sakit kepala sekarang.”

“Beb?”

“Ya, beb?”

“Kenapa dari tadi kita manggil “bab beb bab beb” melulu ya? Pacar bukan. Gebetan bukan. Friend with benefit juga nggak ada benefit yang oke.”

“Ya daripada nggak ada, beb.”

“Bener juga, beb.”

“Hey, beb.”

“Ya, beb?”

“Jujur sama diri sendiri is the way to stay sane and survive this life.”

“Langsung aku bikin desain kaos pake quote tadi, beb.”

“Sama stiker ya, beb.”

“Oke, beb.”