Bayangkan Saja Tahun Depan di Halaman Pertama Koran Kompas Terpampang Tommy Soeharto Tersenyum dan Tertulis: “INDONESIA, MOHON DOA RESTU. Mari Kita Berkarya.” SATU HALAMAN PENUH.

(Contoh 1)

Misalnya:

Saya di internet punya banyak pengikut. Lalu teman saya datang menghampiri dan meminta bantuan saya menjadi buzzer untuk kepentingan usahanya: jual obat penggugur kandungan. “Ini aselik Roy. Namanya Cytotec. Ampuh. Kamu cukup ngetwit: “Cytotec, solusi kita semua.” Lalu kamu kasih link situs aku. Satu tweet aku kasih satu juta. Seminggu saja kamu tweet-kan, sehari dua kali. Lumayan, saya bayar 10juta. Boleh kok dikasih hestek #ad atau #sponsor.”.

Dan misalnya saya adalah pun orang yang ndak terlalu peduli soal aborsi. Lalu saya menyanggupi penawaran teman saya itu dan tweetkan sesuai apa yang ia minta seminggu penuh.

Pertanyaan:

Apakah ini adalah bagian dari keberpihakan saya terhadap kaum “the freedom of choice” dan pro aborsi, atau orang selayaknya memisahkan antara pendapat pribadi dan keputusan saya memuat iklan tersebut.

Dengan keputusan saya memuat iklan tersebut saya menganggap saat itu adalah fungsi akun saya sebagai akun inklusif yang free market. Tidak berpihak dan berjalan selayaknya orang bisnis. Jika ada yang perlu, harga cocok, saya jalankan.

(Contoh 2)

Jika pun ekstrimnya ada seorang guru ngaji yang akan membayar saya dengan harga yang sama, seminggu kemudian agar saya ngetweet ayat-ayat suci dari kitab yang menjelaskan bahwa perbuatan aborsi itu dosa besar, dengan bayaran yang sama persis, saya pun akan menyanggupinya.

(Contoh 3)

Atau karena iklan rokok semakin sulit tayang di acara televisi maupun internet. Saya diminta untuk menulis artikel di blog ini yang intinya bahwa saya bikin cerpen dengan tokoh pria idaman lebih keren dari Dilan dan kerjaannya merokok melulu tapi produktif dan berprestasi. Intinya cerita dibangun untuk menunjukkan kesan pria keren itu merokok. Atas cerpen saya saya akan dibayar 5juta rupiah. Boleh saja dalam keterangan di bawah cerpen, saya menulis bahwa cerpen ini adalah cerpen bayaran dengan sponsor PT. Djarum Pentoel.

Perusahan rokok yang bayar saya itu paham bahwa pembaca blog saya adalah anak usia 15 tahun hingga 28 tahun, misalnya. Saya sendiri pun paham bahwa perusahaan rokok tersebut paham atas audiens pembaca blog ini.

Lantas apa yang sebaiknya saya lakukan?

Apakah saya berhak menolak pengajuan iklan terselubung tersebut? Ataukah saya wajib menerima iklan apapun yang memberikan kompensasi berupa uang tunai kepada saya, dengan dasar bahwa saya adalah pihak yang seharusnya tidak menolah tawaran apapun sebagai sebuah bukti saya independen tidak berpihak kepada siapapun, walaupun faktanya saya memuat suatu pesan komersil berdasarkan bayaran.

Contoh ekstrim lagi:

(Contoh 3)

Ada tukang becak, namanya Naga. Dia biasa kasih tarif 10 ribu dari ujung jalan Malioboro dekat pintu kereta stasiun Tugu hingga depan penjual batik Hamzah yang dulu bernama Mirota. Sayangnya Naga itu orangnya rasis. Setiap ada orang Jawa mau naik Becak, dia menolak. Dia ndak suka jok becaknya dinodai keringat orang Jawa. Walau manis tapi hitam, pikirnya. Dia hanya mau menerima penumpang yang beretnis Arab atau Cina. Prinsip dia bahwa pribumi banyak yang sudah bela. Gilirannya untuk membela etnis Priangkasa (kebalikan pribumi).

Dapat dibenarkankah soal ini?

Yang sering kita baca tanpa sengaja adalah papan pengumuman:

(Contoh 4)

“Terima Kos Karyawati Muslim”


 

Agak sulit memang untuk memisahkan antara keberpihakan individu dan aktivitas bisnis dengan “nilai moral maupun susila”.

Soal aborsi, soal merokok, soal warna kulit dan soal agama adalah sebagian kecil persoalan yang muncul atas perbedaan. Sangat berbeda dari apa yang saya contohkan.

Soal penolakan aktivitas bisnis karena agama dan soal warna kulit bukan bicara moral. Tidak ada hubungannya sama sekali.

Sedangkan pilihan hidup misalnya pro aborsi atau tidak dan atau soal pro perokok atau bukan, ini adalah pilihan yang sifatnya subyektif dan rentan diperdebatkan bahkan timbul kericuhan.

Lantas menjadi pertanyaan apakah dengan memuat iklan terkait salah satu pihak yang bicara soal ini kita berhak diadili bahwa kita memiliki keberpihakan atas salah satu pandangan?


 

Justru lebih mudah dengan apa yang dilakukan oleh Red Welby atas permintaan Midred untuk memasang iklan yang mengusung peran moral, sebagaimana diceritakan filem “Three Billboards Outside Ebbing, Missouri”.

Apakah bisnis perlu diperlakukan layaknya lembaga akademik yang netral dan menjungjung tinggi nilai-nilai kebebasan sehingga sepatutnya siapapun yang dalam forum akademik, berdiri di atas mimbar, dainggap sebagai sebuah bektuk kebebasan berpendapat dan hanya menjadi konsumsi pendidikan.

Maka bisnis adalah bisnis. Siapapun yang meminta dimuat iklannya maka kita wajib membolehkannya, sepanjang secara terang-benderang tidak terjadi gerakan tipu-tipu dengan seolah-olah itu adalah konten padahal iklan. Berbeda dengan isi berita (jika itu media) atau isi tweet (jika saya seorang buzzer).

Hal ini adalah soal klasik. Saat ini saja Twitter masih memutuskan untuk tidak memuat iklan soal bitcoin. Atau Facebook yang menolak iklan tentang postingan yang berbau HOAX. Atau Bu Ajijah yang menolak gadis Toraja Nasrani untuk menyewa kamar indekosnya yang diperuntukkan khusus bagi Muslimah.

Pertanyaan terakhir:

Misalnya:

Menjelang hari pencoblosan dalam pemilu 2019 kelak, Partai Berkarya memasang iklan dengan gambar wajah Tommy Soeharto tersenyum dan  dengan tulisan: “INDONESIA, Mohon Doa Restunya.” di halaman pertama harian KOMPAS, dan memasang iklan di seluruh kanal media, baik televisi, youtube, twitter, hingga radio. Iklan ini tidak pada hari yang sama namun berturutan.

Tommy-Soeharto

Bagaimana pendapat Anda tentang hal ini?

Atas nama bisnis, bolehkah Kompas menerima pemasangan iklan sehalaman penuh terhadap sosok anak penguasa Orba? Atas nama keberpihakan politik, bolehkah Kompas menolak pemasangan iklan tersebut?

Silakan yang mau berkomentar bisa menulis di kolom komentar atau mensyen saya di twitter Roysayur  

Salam anget,

Roy Soeharto

 

 

 

foto: detik.com

 

 

 

 

Advertisements

Karat

Dua kata yang menakjubkan buat saya adalah “ketok magic”. Pernah dengar kata ini, ‘kan? Biasanya kita temui di pinggir jalan, dalam bentuk bengkel kecil, dengan ban mobil atau ban sepeda motor yang berserakan atau bergelantungan di langit-langit.

Mereka menawarkan jasa untuk memperbaiki kerusakan kendaraan bermotor yang biasanya cenderung parah, dan bengkel resmi kebanyakan menyerah. Apalagi kalau tidak diasuransi atau masa asuransi sudah lewat. Maka hadirlah “ketok magic” ini, yang bisa menutupi kerusakan mobil atau sepeda motor kita.

Tergantung tingkat keahliannya, bisa-bisa mereka menutupi kerusakan sampai kendaraan kita terlihat seperti baru. Tapi kalau tidak terlalu ahli, biasanya kerusakan sekedar diperbaiki sampai kendaraan bisa berfungsi lagi. Toh fungsi yang paling penting, bukan?

Kalau konsep “ketok magic” ini diaplikasikan ke dalam kehidupan manusia, maka yang langsung terbayang adalah operasi plastik. Atau jenis perawatan lain seputar muka, baik itu karena musibah, atau sekedar menunda penuaan. Cuma tulisan kali ini tidak membahas tentang perawatan muka, karena muka penulis ini pun perlu perawatan.

Kali ini saya ingin mengajak kita ngobrol sejenak tentang kemampuan kita. Kemampuan, skill, yang kita miliki karena keahlian yang kita pelajari secara resmi, atau tekuni sekian lama sampai terbiasa, atau karena tuntutan hidup, namun karena satu dan lain hal, akhirnya terhenti. Sampai kita menjalaninya lagi.

Seorang teman di grup WhatsApp pernah berkeluh kesah, “Gue pikir ya, punya anak kedua itu bisa lebih relaxed, karena udah punya pengalaman ama anak pertama ya. Ternyata salah besar, saudara-saudari! Apa jaraknya kelamaan ya? Lima tahun kan gak lama! Tapi kayak gue udah lupa gitu musti ngapain dulu.”

Sementara salah satu tante saya (budhe itu bahasa Indonesianya apa ya?), yang pernah berprofesi sebagai guru, lalu menjadi pejabat negara sekian puluh tahun lamanya, lalu pensiun dan sekarang menjadi dosen, pernah bercerita, “Waduh, aku ndredheg lho dua minggu sebelum ngajar lagi setelah gak ngajar puluhan tahun. Udah lupa bikin materi ngajar itu kayak apa. Hari-hari pertama ya gitu, masih banyak “aa ee aa ee” pas ngajar. Tapi abis itu ya sudah, wis biasa lagi. Tau gitu dulu-dulu tak sempetin ya, ngajar atau jadi dosen tamu. Cuma dulu ya gak ada waktu.”

Saya pernah mewawancarai seorang aktor teater. Dia seniman senior, kaliber besar. Namun selama belasan tahun, dia sempat menarik diri dari seni peran. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali, dan kemunculannya disambut dengan sangat meriah. Wawancara saya lakukan di negeri seberang. Saya tanya, apakah dia sempat nervous saat datang pertama kali ke tempat latihan. Dia melihat saya beberapa saat, lalu terdiam, dan dengan suara pelan namun penuh wibawa, dia menjawab, “Yes, very much. I feel like a has-been, I feel my skill, the acting skill I have learned, carved and perfected for years is now … (dia terdiam lagi) … rusty. And it hurts me to realize that I am now bringing this rusted skill to the table. But somehow, the worry stopped at the door. When I open the door, the director, other actors, crew members, they greeted me with smile. No, no standing applause or something like that. Just saying “hi”, “welcome”, with sincere smile. And when the reading started, I observed. I looked around. I paid attention to what they said. Then my turn came. They observed. They looked at me. They paid attention. We exchanged notes. Only by then I know that this rusty feeling of having an outdated skill can only be fixed by other people, and their sincerity in accepting. And they can only accept you, when you accept yourself as you are, in the present.”

Waktu dan perjalanan hidup kita sebagai manusia memang kadang tidak bisa kita atur dan rencanakan sedetil mungkin. Kejutan berupa kejadian-kejadian yang tidak kita sangka datang dalam hidup membuat kita sering kali terpaksa mengubah rencana yang sudah kita buat.

Setelah berkutat di satu konsentrasi pekerjaan selama beberapa tahun terakhir, mulai pertengahan tahun lalu saya memutuskan untuk meninggalkan konsentrasi tersebut. Lalu saya kembali mengerjakan hal lain yang pernah saya kerjakan cukup lama, dimulai lebih dari satu dekade yang lalu. Meskipun masih dalam industri yang sama, namun cakupan, konsentrasi, dan cara bekerjanya sangat berbeda.

Saya mengakui ke teman saya yang menjadi partner kerja sekarang, “Terus terang gue sempat kagok. Menangani hal-hal ini yang udah lama gak gue pegang bertahun-tahun. Macam sepeda, ini mulai dari pedal sampai stang semua sudah karatan. I really feel rusty. And I wish ada semacam ketok magic yang bisa bikin gue get back and up and running again so smoothly.

Teman saya hanya tertawa, dan saya melanjutkan, “Tapi ya gue anggep ini learning curve lagi lah. And I’ll come around to it again, I promise.

Dan mungkin tak ada salahnya kalau kita sedikit berharap ada keajaiban: bahwa dari hal yang berkarat, bisa menghasikan karya gemilang bak emas 24 karat.

Semoga.

Selamat berlibur.

PS: Tentu saja, perhatikan lirik lagu di bawah ini.

Malu Bertanya Sesat di Jalan … Banyak Nanya Malu-maluin

SAAT bertanya, beberapa dari kita pasti pernah mengalami hal berikut.

  • Mendapatkan jawaban yang diawali: Begitu aja kok enggak tahu?”
  • Mendapatkan jawaban yang diawali: Google aja ndiri (jawabannya)!
  • Mendapatkan jawaban yang diselipkan kalimat: “Bego banget sih.
  • Mendapatkan jawaban yang diawali dengan tertawa mengejek, senyum yang seolah mengolok, ekspresi merendahkan. Jawaban pun disampaikan dengan intonasi seakan-akan kita adalah orang bodoh sekecamatan.
  • Mendapatkan jawaban yang diawali dengan marah-marah. Entah karena yang bersangkutan sedang sibuk, hanya malas meladeni, atau memang begitu perangainya.

Respons-respons yang bagi beberapa orang terasa kurang menyenangkan di atas sejatinya tak dapat dihindari saat ini. Di era ketika semua orang menjadi lebih sibuk menjalani kehidupannya masing-masing, ketika menit demi menit waktu menjadi sangat berharga untuk dibiarkan berlalu begitu saja (hal ini berarti, menjawab pertanyaan kita sama dengan membuang waktu dan pikiran), ketika penggunaan mesin pencari seperti Google dan Bing sudah menjadi kebutuhan sehari-hari, dan ketika signifikansi diri (merasa sebagai orang penting) makin adiktif, bikin candu.

Dengan signifikansi diri, seseorang merasa dirinya begitu penting. Dalam konteks bertanya dan menjawab ini, seseorang merasa penting karena menjadi yang ditanya, sumber informasi, jawaban, dan petunjuk bagi orang lain. Kita yang bisa mengenali gelagatnya saat seseorang terkesan agak angkuh saat memberi respons.

Mendapatkan tanggapan-tanggapan seperti di atas, baiknya tak usahlah dimasukkan ke hati atau baper, apalagi sampai dendam. Sebab setidaknya kita menjadi lebih tahu, mana orang-orang yang pantas ditanyai dan tidak. Mana yang cocok dijadikan teman lebih jauh di luar lingkungan kampus, kantor, atau pekerjaan, ke area yang lebih personal, dan yang tidak. Cukup tahu saja, kemudian jauhi atau tinggalkan. Karena ketenteraman hati itu lebih penting.

Selebihnya, pengalaman tidak menyenangkan tadi juga mendorong kita untuk belajar mencari tahu dengan cara lain, tanpa harus merepotkan orang dengan bertanya. Karena belum tentu seseorang senang ditanya-tanyai. Meskipun suatu saat nanti bisa terjadi sebaliknya. Giliran dia yang akan bertanya kepada kita.

Nah!

Ada kalanya kita yang bertanya, dan ada kalanya pula kita menjadi yang ditanya. Hanya perkara waktu. Namun, permasalahannya bukanlah siapa yang bertanya atau apa yang ditanyakan, melainkan bagaimana kita—sebagai yang ditanya—merespons pertanyaan tersebut.

Pada akhirnya, semua akan kembali ke kita. Satu hal yang pasti, jika kita pernah mendapat perlakuan tidak menyenangkan, apakah worth it bila kita melakukan hal tidak menyenangkan yang sama kepada dia?

Di sinilah pentingnya kita untuk menyadari serta memaklumi diri sendiri dan keadaan yang dihadapi. Akan lebih baik, sebagai penanya maupun yang ditanya, memahami situasi dan kondisi dimulai dari satu hal mendasar: adanya kebutuhan.

Ya jelas dong ada kebutuhan, makanya seseorang bertanya. Bahkan bertanya untuk sekadar mencari perhatian juga beranjak dari situ.

  • Penting/Tidak Penting

Baik penanya maupun yang ditanya bisa memiliki persepsi yang berbeda soal yang satu ini. Ada pertanyaan yang disampaikan karena si penanya benar-benar tidak tahu, dan membutuhkan jawaban segera. Ada pula penanya yang memang hobi bertanya, clueless terhadap persoalan yang dihadapinya, dan terbiasa bergantung pada petunjuk orang lain.

Ada sebagian orang, yang dari kecil diajarkan untuk mengusahakan sesuatu semaksimal mungkin terlebih dahulu, sebelum akhirnya terpaksa meminta bantuan orang lain saat sudah mentok dan tidak ada jalan keluar. Kita akan dengan mudah mengenali orang-orang yang seperti ini, sehingga jawaban pun bisa diberikan dengan ringan.

Ada juga sebagian orang, merasa sudah pandai dan berat memberi jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang dirasanya sepele. Apabila mereka memang benar-benar pandai, mereka semestinya bisa mengenali atau membedakan mana pertanyaan yang disampaikan secara bersungguh-sungguh, dan yang cuma sekadarnya. Lagipula, karena pandai, mereka pun tak hanya memberikan jawaban bulat-bulat, tetapi ditambahkan dengan petunjuk selanjutnya. Minimal agar si penanya bisa melakukan metode atau cara lain terlebih dahulu dalam mencari jawaban. Bertanya adalah langkah terakhir.

Dari cara demikian, tidak perlulah kiranya sampai emosi, dan mengatakan: “Tinggal dijawab. Apa susahnya sih?

Harap diingat, sesederhana apa pun pertanyaannya, seseorang bertanya karena dia tidak tahu, bukan karena dia bodoh.

Kesan ini yang terjadi di sekolah-sekolah negeri, ketika banyak murid enggan bertanya lantaran takut dianggap bodoh. Baik oleh teman sekelas, maupun ironisnya, oleh sang guru sendiri. Ketidaktahuan pun bercokol, bertahan, dan menghambat kemajuan.

Photo by Joshua Rawson-Harris

  • Perbedaan Tingkat Emosional

Mustahil untuk bisa benar-benar memahami seseorang, luar dan dalam. Apa yang kita anggap biasa-biasa saja, bisa jadi luka bagi orang lain.

Dalam kaidah agama, norma sosial dan pergaulan umum, kebiasaan di masyarakat, dan sebagainya sudah ada poin-poin bagaimana menjadi manusia yang baik lewat tutur kata. Hanya saja, saat ini kita tengah hidup di dunia yang berisik dan gaduh. Dengan bersikap seperti asket, resi di pertapaan, yang irit bicara tetapi sakti mandraguna, kita malah dianggap aneh. Tidak semua orang bisa menjalani hidup profesionalnya seperti Limbad.

Di sisi lain, ada juga banyak orang yang saking akrabnya sampai bisa melempar cacian dan serapahan tanpa menyinggung lawan bicara. Itu sudah lain cerita.

Jadi, berikanlah jawaban saat ditanya. Berikan informasi tambahan jika diperlukan, sekaligus petunjuk agar si penanya bisa paham, bukan cuma tahu.

Dengan tidak memberikan jawaban yang diperlukan, apalagi kalau pakai acara mengejek, bukan hanya menghalangi orang lain, tetapi juga mempermalukannya. Iya deh, tidak semua orang sepandai, secerdas, sepintar, dan berpengetahuan luas seperti kamu. Tak perlulah sombong.

Begitu pula bagi yang bertanya, silakan dipikirkan dulu apakah pertanyaan yang disampaikan bakal membuat dirinya terkesan agak … kurang berwawasan, atau bagaimana. Bertanyalah dengan baik. Jangan malah nyolot. Jangan memaksakan pertanyaan supaya keinginannya terpenuhi, setelah dijawab, eh … melengos begitu saja.

Tidak semua orang memiliki kualitas welas asih seperti Dewi Guanyin dalam serial Kera Sakti, yang selalu menjawab pertanyaan dari semua umat manusia dengan sabar dan telaten.

  • Manusia Tetap Butuh Bersosialisasi

Andai semua hal bisa dijawab oleh Google, Bing, Wikipedia, Harvard Business Review (HBR), dan sejenisnya, manusia pun tidak lagi perlu saling bertanya. Efektif dan efisien, tetapi kering, dingin, dan sepi.

It’s not your fault for craving such a quiet time. Akan tetapi, alih-alih membenci situasi (dan kesal terhadap seseorang yang bertanya atau mengajak bicara), coba tanyakan pada diri sendiri: “Apa sih yang bikin aku tidak suka dengan kondisi ini?”, “Kenapa aku merasa kesal, ya?

Sebagian besar jawabannya pasti: “Malas”, “Capek”, “Siapa kamu?

Doyan tidak menggubris orang lain secara sengaja, ya sewaktu-waktu harus siap untuk merasakan tidak nyamannya tak digubris oleh orang lain pula. Fair, kan? Ini bukan cara semesta membalas dendam. Ini hanya sebuah keterkondisian, yang niscaya. Jadi, tidak perlu merasa jadi korban, merasa teraniaya, ataupun merasa diperlakukan tidak adil. Hanya perubahan posisi, kok … dan itu alamiah. Ndak usah baper.

  • At the end, it’s your own problem

Bagaimana pun juga, perasaan menyenangkan atau tidak menyenangkan muncul dari dalam diri sendiri. Kita adalah subjek sekaligus objek kehidupan kita sendiri, bukan orang lain. Bukan dari orang yang bertanya, bukan pula dari orang yang kita tanya. Berhasil mendapatkan jawaban yang kita inginkan, berterima kasih lalu lanjutkan urusan. Tidak berhasil mendapatkan jawaban yang kita inginkan, move on lalu lanjutkan urusan.

Gon, kok ini jadi ribet amat sih?
Namanya juga hidup manusia. Kalau yang enggak ribet itu, jadi plankton aja.

[]

Setebal Dompet

Wallet-and-Money-LQ-1000x550

Kalau kita sedang ada keinginan, apa yang sebaiknya dilakukan? Ingin rezeki lebih banyak, ingin jodoh, ingin punya pekerjaan yang lebih baik. Biasanya nasihat yang sering saya dengar adalah “berdoa”. Ya, tentu bagi mereka yang memeluk agama tertentu, berdoa memohon akan apa yang diinginkan hatinya mungkin akan menimbulkan ketetapan hati bahwa suatu hari keinginannya akan tercapai.

Tapi apakah berdoa dan beribadah yang seperti ditangkap dari bahasa yang dibaca terjemahannya pada kitab-kitab cukup? Lalu harta, tahta, dan wanita itu akan jatuh ke pangkuan kita willy nilly?

Mungkin saja kita juga percaya bahwa tuhan/ semesta bekerja dengan caranya sendiri, dan tak jarang misterius. Kita tak pernah bisa tau apa yang kita dapatkan dan bagaimana mendapatkannya. Mungkin kita bisa menetapkan hati akan “apa” yang kita inginkan atau butuhkan tapi “bagaimana”nya tetap di luar kekuasaan kita.

Bukan tidak mungkin “bagaimana” kita menerima apa yang kita doakan itu lewat manusia lain. Yang mungkin selama ini kita anggap kurang penting, karena menurut kitab dan para guru agama, beribadah lebih penting dari membina hubungan baik antara sesama manusia. Bukan manusia sekeyakinan, tetapi manusia. Titik.

Siapa tau apa yang kita inginkan seharusnya disalurkan oleh seseorang yang-karena beda keyakinan-kita duduk di sebelahnya saja di kendaraan umum ogah. Bukan tidak mungkin pekerjaan impian kita akan ditawarkan oleh seorang yang tadinya levelnya di bawah kita tetapi kita alpa untuk memperlakukan dia dengan baik karena kita sibuk menjilat atasan mengharapkan imbalan yang setimpal. Bisa jadi orang yang akan mengenalkan kita ke soulmate adalah teman yang kita tidak tolong dengan alasan tidak ada uang, padahal besoknya kita makan di restoran yang mewah dan disiarkan di media sosial. Orang mungkin tidak mengingat apa yang kita katakan pada mereka, tapi kabarnya mereka akan selalu ingat apakah kita membuat perasaan lebih baik atau lebih buruk.

Saya pernah mendengar seseorang mendefinisikan “abundance”. Saya saja yang sering mendengar dan menggunakannya sering mengasosiasikannya dengan sesuatu yang berkelebihan, menumpuk. Padahal, kata seseorang ini, kata “abundance” berarti, mendapatkan yang kita butuhkan, tepat di saat kita membutuhkannya. Menyenangkan ya? Seperti punya dompet dengan isi 100 ribu rupiah saja. Tetapi ketika diambil dan digunakan lembar uangnya, muncul lagi 100 ribu, dan begitu selanjutnya. Beli di mana ya dompet seperti ini?

Jaringan Kecil Saat Ngeblog

Pendiri wordpress, Matt Wullenweg, menautkan tulisan Tom Critchlow yang berjudul “small b blogging” pada awal bulan ini.  Apa yang menarik dari tulisan ringan Tom, seorang konsultan pemasaran digital dalam blognya tersebut, sehingga seorang pendiri aplikasi blogging yang menjelma platform yang mendominasi media digital dunia ini menyadur secara khusus tulisan Tom?

Tom menawarkan gagasan baru. Alih-alih ngeblog untuk mendapat pembaca yang banyak dan tersebar, Ia menawarkan ide dan telah dibuktikan sendiri bahwa ngeblog saat ini diawali dengan niat dibaca oleh audiens kecil dan fokus kepada memperkuat ide untuk dapat didiskusikan lebih dalam.

Blog sebaiknya dikembalikan menjadi sebuah percikan atau pancingan bagi sekelompok peminat untuk kemudian berlanjut menjadi pertemuan kecil sembari ngopi. Atau berbalas email untuk ditindaklanjuti dalam media lain misalnya menjadi podcast atau vlog.

Blog  menjadi lebih personal, atau setidaknya menjadi sebuah gagasan sebuah lingkaran pertemanan. Bisa jadi dari lingkaran diskusi tersebut menjelma ulasan mendalam dan dimuat di media masa yang lebih utama oleh salah satu pembaca.

Blog adalah think tank. Blog menjadi inti sebuah pergumulan ide dan gagasan yang membawa daya tarik untuk selanjutnya menjelma apa saja.

Tawaran blogging dengan b kecil dan  bukan Blogging dengan B besar.  Blog tidak harus ditujukan sebagai media massa atau sebagai alternatifnya. Gagasan menulis blog tidak ditujukan lagi untuk mencapai pageview yang berlimpah ruah. Atau menjalar ke semua kalangan. Blogger lama menyebutnya begitu niche.

Tom mencontohkan bahwa tulisannya dalam sebuah artikel yang ditulisnya “hanya” dibaca oleh 2000 orang. Tidak banyak bagi sebuah blog. Namun, efek dari tulisannya berlanjut menjadi sebuah diskusi hangat, dikupas dalam siaran tertentu dan menjadi sumber inspirasi dalam beberapa kesempatan acara bisnis. Dampaknya lebih kelihatan dan material.

Blog icons design

Secara pribadi, saya pun begitu tertarik dengan ide ini. Ide blog dengan b kecil. Ngeblog yang tidak tancap gas agar menjadi trending topic hari itu. Namun menarik minat dan bahkan mengikat komunitas tertentu untuk mengajak diskusi lebih lanjut.

Misalnya ketika Gandrasta menulis tentang My Family Tree yang kemudian entah bagaimana kisahnya dirinya diundang oleh sebuah salah satu sekolah untuk menyampaikan pengalamannya parenting. Atau ketika Glenn Marsalim menulis soal Sok Tau, sebuah tulisan berseri yang membahas analisis Glenn menerka tren yang akan hadir di tahun depan. Semacam prakiraan. Ndak tanggung-tanggung, yang mengundang adalah himpunan mahasiswa ITB entah dari fakultas apa yang mengajaknya memberikan kuliah umum dan diskusi dengan pendekatan yang sungguh akademik dan filosofis.

Kira-kira semacam itulah. Blog menjadi embrio dari banyak kesempatan bentuk lanjutan. Bisa diskusi kecil. Bisa menginspirasi sebuah filem pendek. Atau sebuah lagu. Blog tidak berakhir menjadi sebuah tulisan magna-opus yang dibaca jutaan kali dan menyebar diberbagai medsos, namun seminggu kemudian terhapus dalam memori warganet, ditimpa oleh tulisan lainnya yang lebih kekinian.

Blog lebih baik menjadi pijakan kecil atau pondasi yang tak kasat mata, namun nantinya menjadi sebuah bangunan utuh yang kaya akan pendapat dan merangsang bangunan tersebut untuk terus tumbuh dan berfungsi secara nyata.

Era tulisan dalam satu artikel menjadi bombastis, dibaca banyak orang, bersinar dan selesai adalah era yang akan mudah lapuk. Blog atau tulisan dalam media alternatif tidak perlu terus menerus bicara skala. Judul tulisan yang merangsang orang untuk mengklik memang menggiurkan dan menghasilkan optimalisasi tayangan iklan sebagai salah satu sumber penghasilan media digital. Mungkin ini masih berlaku bagi media yang memang ditujukan bukan menjadi apa-apa kecuali menghasilkan pemasukan uang dari iklan.

Namun, jika ingin lebih langgeng dan memberikan nilai tambah bukan saja pada citra blog, juga menjadikan penulis blog semakin mumpuni pada bidang tertentu dan gilirannya akan berimbas pada banyak hal yang tak berbatas. Diskusi yang membentuk jaringan pertemanan (dan atau bisnis). Lalu dibentuk pondasi perkumpulan. Atau ajakan diskusi. Atau menjadi sekumpulan buku yang inspiratif.

Tulisan yang lebih substansial dan relevan, akan menarik minat pembaca yang berkualitas. Akan tiba gilirannya tulisan tersebut dibahas oleh orang-orang ternama atau yang kita sendiri kagumi. Blog kita menjadi blog yang secukupnya.

Blog yang saat merangkai kata pertama sudah terbayang siapa audiensnya. Bagaimana kira-kira wajah pembacanya. Apa yang akan dilakukan pembaca setelah membaca blognya. Atau apa yang akan dibelanjakan setelah ulasannya tentang produk tertentu begitu dalam dan sampai kepada intinya.

Tentu saja ini tidak berlaku hanya untuk sebuah blog. Strategi untuk memperkuat niat bahwa karya yang dihasilkan memang bukan untuk semua orang. Proyek bikin vlog, atau proyek mading sekolah, atau proyek mural, akan lebih tepat sasaran jika diawali dengan kesadaran ini. Bukan mengutamakan membludaknya kuantitas ukuran pembaca atau berbagi. Melainkan memperkuat kualitas topik dan ide yang ditawarkan untuk sekelompok peminat. Dihangatkan dengan diskusi. Dan akan bergema sendiri jika memang hal itu menarik perhatian publik dengan skala yang lebih besar. Bedanya, kali ini besar dengan dasar gagasan yang telah dipahami secara mendalam namun tetap terasa personal.

Dari gagasan ini, saya mengucap syukur. Linimasa masih berada dalam lintasan yang benar. Dia tidak tergesa-gesa untuk menjadi tenar.  Lebih baik untuk terus hadir dengan porsi yang wajar. Dan dapat terus memantik hasrat masing-masing pembaca untuk berbuat hal lain usai menuntaskan membaca satu postingan.

Jaringan kecil. Audiens terbatas. Gagasan sederhana. Namun hidup.

Selamat merayakan.

 

salam anget,

Roy Sayur.

 

#RekomendasiStreaming – Romansa Masa Sekarang

Romantic comedy is dead.
Paling tidak begitulah sentimen beberapa media dan banyak orang yang mengeluhkan, kenapa sudah tidak ada lagi film-film komedi romantis a la film-film Sandra Bullock, Meg Ryan, Julia Roberts di tahun 90-an?
Sentimen ini kalau ditelaah dan over-analyzed lagi membuat pemikiran baru: is romance dead?

Whoa!
Jangan terburu-buru ambil kesimpulan seperti itu.
Mari kita menyeduh kopi, teh, atau apapun minuman hangat sambil browsing, apa saja sih jenis film romansa yang diproduksi jaman sekarang di luar sana.

Maklum, kalau kenyataan bahwa studio-studio besar di Hollywood sudah tidak lagi peduli dengan genre komedi romantis, itu benar adanya. Sekarang hampir semua studio besar di Hollywood lebih memilih membuat film-film tentpole atau film “event” yang bisa jadi reka ulang cerita atau film yang sudah pernah dibuat sebelumnya, cerita komik, atau existing materials dalam format apapun. Original story is rarity.

Makanya saya menyambut gembira kehadiran “studio alternatif” macam Netflix, Amazon, iflix, Hooq, atau streaming platforms lain yang mau bertaruh membuat konten sendiri. Tidak sekedar membuat konten, namun berani mengeluarkan budget lebih untuk membuat konten dengan konsep membuat film layar lebar.
Memang tidak selalu berhasil. Bahkan kalau boleh jujur, kualitas konten film panjang yang diproduksi Netflix belum sebanding dengan kualitas serial produksi Netflix yang hampir semuanya istimewa itu. Tapi yang saya kagumi adalah keberanian Netflix untuk memproduksi, atau mengakuisisi, jenis-jenis film yang sudah dilepeh oleh major Hollywood studios.

Film-film seperti Bright, The Cloverfield Paradox memang tidak membekas di ingatan secara kualitas. Namun harus saya akui, they are fun to watch! Dan film-film sci-fi atau hybrid genre macam ini memang sudah jarang sekali dibuat. Apalagi dengan budget minim seperti Paradox atau Mute.

Termasuk juga genre romansa.
Saya kaget waktu Netflix mendistribusikan film Our Souls at Night yang dibintangi Jane Fonda dan Robert Redford tahun lalu. Tapi saya langsung mahfum, bahwa mustahil studio besar Hollywood mau membuat dan mendistribusikan film romansa dengan dua bintang yang usianya di atas 60 tahun. Terakhir kali paling It’s Complicated, tahun 2009, dengan bintang Meryl Streep dan Alec Baldwin yang usianya 50-an. Itu pun jenis romansa komedi. Kalau drama romansa seperti Souls? Ingatan saya langsung ke The Bridges of Madison County, produksi tahun 1995 dengan bintang Meryl Streep, lagi, dan Clint Eastwood.

Tak heran kalau para “studio alternatif” ini, dengan kemampuan finansial luar biasa untuk produksi dan akuisisi konten, bisa mengisi kekosongan jenis-jenis film yang sudah lama tidak kita lihat di bioskop, dan sekarang bisa kita tonton di mana saja, selama kita terkoneksi dengan internet. Which is actually how different romance nowadays is.

Kenapa bisa beda? Lihat saja dari tiga film komedi romantis terbaru produksi Netflix ini. Semua karakternya masing-masing punya dan tergantung pada ponsel cerdas, sesuatu yang tidak pernah kita lihat di film-film komedi romantis 90-an. Alur cerita pun bergerak dari kebutuhan mereka terhadap gawai.

Lalu ceritanya, paling tidak satu dari tiga, lebih berpijak ke bumi. Tidak lagi terlalu dreamy. Oke, paling tidak ada satu yang masih seperti ini, tapi toh tidak terlalu mengawang-awang.

Meskipun begitu, semuanya tetap memberikan efek yang sama: selama 2 jam, kita dibawa pergi sejenak dari kehidupan nyata, dan tersenyum melihat dunia lain yang lebih indah. Dunia lain yang masih terlihat sama dengan dunia kita yang nyata, namun bisa membuat kita klangenan. And that’s how you know when romantic comedy works.

Inilah 3 film #rekomendasistreaming saya untuk bulan ini:

Irreplaceable You
A girl meets a boy, they fall in love, a girl has terminal illness, their fate and faith are tested. Ide cerita yang sudah ada di film dari puluhan tahun lamanya, dan sudah pernah jadi nominasi Best Picture Oscar lewat Love Story (1970). Tapi yang segar dari Irreplaceable You ini adalah semangat positifnya. Film ini tidak menye-menye. Saat sang perempuan malah merencanakan kehidupan kekasih setelah dia pergi nanti, kita tahu bahwa ini bukan komedi romantis yang biasa. You cannot help but falling for its positivity.

Irreplaceable You

When We First Met
Kalau yang ini, terus terang karena saya punya kelemahan tersendiri terhadap cerita tentang time traveling. Selalu menyenangkan melihat cerita tentang orang-orang yang berniat mengubah masa lalu. Film When We First Met ini ibarat Back to the Future dalam skala yang lebih kecil, dan fokus pada membuat impresi pertama seorang laki-laki terhadap perempuan yang dijumpai di pesta Halloween. Memang mudah diprediksi, tapi tetap menyenangkan untuk ditonton, karena sangat menghibur.

When We First Met

Love per Square Foot
Dari segi cerita, ini favorit saya dibanding dua judul di atas. Mungkin karena pendekatannya yang relevan dengan keadaan masa sekarang. Seorang pria lajang di Mumbai, India, menginginkan apartemen sendiri, sementara kesempatan cuma terbuka bagi pasangan yang sudah menikah. Sementara seorang perempuan lajang lain juga menginginkan punya rumah sendiri. Mereka bertemu, menikah untuk membeli rumah, dan pelan-pelan mulai jatuh cinta. Ide cerita yang grounded, dan meskipun dari segi durasi agak terlalu lama, tapi masih bikin betah buat ditonton.

Love per Square Foot

Jadi, selamat menonton!

Ketakutan

SELAIN takut mati, ketakutan eksistensial manusia terus berubah seiring zaman dan waktu. Hal-hal yang ditakutkan oleh generasi orang tua kita dan orang tuanya, berbeda dengan ketakutan yang kita alami saat ini. Begitu pula seterusnya.

Tidak saling nyambung, ketakutan-ketakutan tersebut hanya valid dan diterima oleh sesama generasinya saja. Sering terjadi, generasi yang lebih tua memandang konyol atas rasa takut yang dimiliki generasi lebih muda. “Sesuatu yang remeh dan tidak sepenting itu untuk ditakutkan,” kata mereka.

Pastinya tidak ada yang salah atau benar dalam hal ini. Penting atau tidak pentingnya sesuatu hanyalah masalah perspektif. Tak elok agaknya bila pandangan ala orang tua dipaksakan kepada yang lebih muda, apalagi sebaliknya. Mereka yang sudah tua memang menang pengalaman, telah merasakan dan mengalami lebih banyak hal dibanding anak-anak yang baru hidup 20 tahunan lalu. Sebab mereka kebetulan sudah hidup lebih lama. Sementara di sisi sebelahnya, generasi yang lebih muda telah menyusun sendiri daftar prioritas dan hal-hal yang mereka anggap penting.

Ada generasi yang takut dengan penjajah Belanda, banyak dari mereka sudah meninggal dunia. Generasi berikutnya takut dengan pemerintah, para penembak misterius (Petrus), takut dengan anggota PKI dan para ateis, serta kelompok penghilang nyawa manusia yang lain. Ada pula generasi yang takut sama Pocong, Sundel Bolong, Kuntilanak, Genderuwo, dan beraneka jenis setan khas Indonesia lainnya. Sedangkan generasi masa kini takut dengan spoilers, takut terlewat penayangan perdana film populer di bioskop, takut tidak bisa menghadiri konser, takut tidak bisa jalan-jalan keluar negeri, takut mengalami blank spot atau terputus hubungannya dengan akses internet, juga takut ditelikung teman.

Berbeda, bukan?

Photo by Jacob Walti on Unsplash

Ini yang tengah terjadi.

Takut menjadi tak relevan, atau ditinggalkan; dan takut akan ketidakpastian atau perubahan di masa depan. Tanpa banyak yang menyadarinya, kedua ketakutan ini merembet, membentuk percabangan rasa takut lainnya.

Takut miskin atau tidak punya uang. Karena tanpa uang dan kekayaan, tidak ada keleluasaan untuk membeli ini itu, membayar ini itu, sekaligus mempertontonkannya kepada orang lain. Ketakutan ini mendorong si pemiliknya berusaha melakukan apa saja agar tetap punya uang, atau malah supaya mendapatkan lebih banyak uang.

Takut kehilangan kenyamanan saat bepergian dengan moda transportasi umum. Jadi, setelah pintu KRL terbuka, langsung seruduk sana sini supaya dapat tempat duduk. Tak peduli lagi dengan tata krama dan etiket mendahulukan penumpang yang turun. Begitu juga di dalam bus Transjakarta, setelah dapat tempat duduk langsung pasang earphone dan tertidur (entah benaran atau tidak). Saat ada penumpang prioritas dan kondektur pun mulai bersuara, mau tidak mau penumpang lainnya yang mesti “diganggu” untuk menyerahkan atau beranjak dari tempat duduknya.

Makanya, begitu ada kesempatan, langsung membeli kendaraan. Lunas atau dengan cicilan. Roda dua, atau langsung roda empat. Bukan sekadar dijadikan alat transportasi, sekaligus dijadikan komponen kenyamanan hidup. Meski ujung-ujungnya, terpaksa harus mengomel dan merasa sebal karena terjebak kemacetan dan tidak benar-benar bisa lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan moda transportasi umum.

Takut ketinggalan dan bukan jadi yang pertama mendapatkan, mbelani berkemah di depan Apple Store sampai bermalam-malam. Berharap supaya begitu pintu toko dibuka pada hari peluncurannya, dia jadi orang pertama yang dipersilakan masuk dan tentu saja membeli unit pertama. Uang, tenaga, waktu, menjadi objek-objek penanda keleluasaan. “Aku lebih dulu daripada kamu. Aku yang pertama.

Takut kehilangan sesuatu yang tak pernah benar-benar dimiliki.

Sudah tepat dan pantaskah kita takut, pada hal-hal yang kita takuti selama ini?

Mana yang sebenarnya lebih menakutkan, kematian, atau kehidupan itu sendiri?

[]

Podcast: Awal Kematian Radio Konvensional

Di Norwegia, mulai akhir tahun lalu memutuskan untuk menutup radio  konvensional. Radio konvesional itu radio yang biasa kita dengarkan melalui frekuensi FM. Alasannya? Radio konvensional itu mahal biayanya. Sementara dari segi kualitas suara biasa saja. Mereka memutuskan untuk pindah ke radio digital. Karena biaya jauh lebih murah dan bisa dilakukan di kamar rumah dengan perangkat seadanya.

podcast2.jpg

Kita mungkin sekarang lebih mengenalnya dengan nama podcast. Podcast sejarahnya sebetulnya sudah agak lama. Konon katanya di awal tahun 2000an sudah ada. Saya ingat ketika dulu pertama mempunyai iTunes di komputer. Mungkin sekitar 2000an akhir. Saya suka melihat ada fitur podcast di iTunes. Tapi sebetulnya tidak begitu mengerti apa fungsinya. Saya klik tetapi tidak ada pengaruh apa-apa. Lalu saya tidak pakai lagi iTunes. Karena itu bukan favorit saya. Saya lebih menyukai Winamp untuk memutar musik dan media lain untuk menyetel film. Nama Podcast sebetulnya ada hubungan dengan produk Apple. Ini adalah gabungan dua kata: iPod dan Broadcasting.  Karena yang memopulerkan kata ini adalah mereka.

podcast

Lalu kenapa podcast menjadi populer di era internet ini? Apa yang mereka tawarkan? Sebetulnya sama saja seperti kita mendengarkan radio dengan narasumber. Wawancara. Membicarakan suatu topik yang sudah ditentukan sebelumnya. Untuk mendengarkan podcast tentang ekonomi atau hal yang berhubungan dengan topik tersebut ada Freakonomics. Podcast ini cukup populer. Yang menjadi keunggulan podcast sebetulnya karena mereka bisa didengarkan kapan saja, di mana saja. Selama kita mempunyai jaringan internet. Tetapi kita sebetulnya bisa mengunduhnya dan didengarkan sesudahnya, tanpa harus ada jaringan internet.

podcast3

Youtube juga sebetulnya bisa menjadi podcast. Hanya Youtube berupa audio-visual. Podcast lebih ke audio saja. Streaming Youtube lanjutkan aktivitas menyetrika baju maka kita mempunyai podcast favorit. Saya sekarang lagi suka dengan podcast punya Steve Jones, namanya Jonesy’s Jukebox. Steve Jones adalah mantan pendiri dan gitaris dari band punk dari Inggris era 70an akhir, The Sex Pistols. Dia adalah sekarang seorang penyiar radio KLOS, radio rock di Los Angeles, California. Karena kebesaran namanya ia bisa mengundang seleb ke podcast-nya. Banyak musisi kenamaan sudah menjadi tamunya. Yang menarik dari podcast-nya adalah ia tidak pernah mempersiapkan naskah. Apa yang akan ditanyakan. Semuanya serba spontan. Pertanyaan di luar dari kebiasaan. Pertanyaan mengenai keseharian. Justru ini yang menarik karena celeb terkadang merasa bosan dengan pertanyaan yang itu-itu saja. Episode favorit saya adalah ketika dia mengundang Brian May, gitaris Queen, yang sedang promosi buku barunya. Yang lucu dari episode ini adalah Brian May tidak sadar kalo Steve Jones yang ini adalah gitaris dari The Sex Pistols. Daripada membicarakan bukunya mereka malah membicarakan alam semesta dan apakah ada kehidupan setelah kematian. Brian May juga seorang doktor astrofisika. Pembahasan menjadi menarik ketika dua orang gitaris rock membicarakan masa tua dan banyak teman-teman mereka yang sudah tiada. Banyak easter eggs di podcast ini. Banyak hal yang belum kita ketahui sebelumnya.

podcast5.jpg

Satu lagi yang menjadi favorit adalah The Osbournes Podcast. Iya. Ini adalah podcast mengenai keluarga Ozzy Osbourne. Mungkin ada yang masih ingat dengan reality show The Osbourne Show di MTV akhir 90an? Iya. Ini kurang lebih sama. Hanya saja ini versi audio saja. Baru masuk episode ketiga. Mereka di sini lebih bebas membicarakan apa saja. Tanpa ada sensor. Tidak seperti di televisi yang semuanya dipabrikasi.

podcast4.jpg

Saya perhatikan di sini juga sudah mulai banyak bermunculan podcast. Untuk menyenangi podcast yang pertama itu kita harus punya keinginan dulu. Apa yang ingin kita dengarkan? Siapa yang ingin kita dengarkan. Dari situ kita bisa punya bayangan. Entah itu politik. Atau bisa berupa hobi atau yang menyangkut ke pekerjaan. Atau mungkin sudah punya podcast favorit? Share dong di kolom komen kalo boleh tau..

Antara Edmond Kirsch, Stephen Hawking dan Atheis

Secara pribadi saya beranggapan Stephen Hawking ndak bakal setuju dibilang bahwa ia Meninggal. Bagi fisikawan sejati semacam dirinya, dia hanya sudah kehabisan energi yang berpindah dan menguap ke jagad raya.

Bisa dibilang kebetulan. Sekarang saya sedang membaca “Origin“, novel Dan Brown. Eh dapat kabar Stephen Hawking menutup usia. Kenapa kebetulan? Karena dalam novel Origin, tokoh utama selain Robert Langdon adalah Edmond Kirsch, ilmuwan nyentrik yang kaya raya, humoris, juga atheis. Sosok ilmuwan yang begitu menghayati keilmuwannya.

Sebuah kebetulan yang menarik. Origin ini bicara soal dunia sains sekaligus kisah Katolik. Bicara dua pertanyaan besar manusia:

“dari mana kita berasal?”

“kemana kita hendak pergi”.

Bagi ilmuwan, semacam Stephen, bukan mati namanya. Dia sudah habis saja energinya. Lalu tubuhnya akan membusuk dan sisa energi yang ada beralih kepada jasad renik lain yang menggerogoti tubuhnya. Atau jika ia dibakar maka energinya menjadi kalor dan menyeruak ke udara luas.

Sepanjang hayatnya ia bagai lubang hitam jagad raya. Menarik perhatian dunia. Tidak hanya di kalangan akademisi namun juga awam. Menulis banyak soal “dari mana jagad raya berasal”.

Sama halnya dengan Stephen, seorang Edmond Kirsch, ilmuwan komputer yang flamboyan juga meneliti soal ini. Dan Brown berhasil menciptakan sosok campuran antara Steve Jobs, Sergey Brin, Elon Musk, dan Mark Zuckerberg dijadikan menjadi satu tokoh.

Salah satu hal yang asing tapi takut diselami oleh kita adalah soal ketidakpercayaan seseorang kepada sang Pencipta. Secara mudah kita menyebutnya kaum Atheis. Namun, ada yang berbeda dari kaum atheis yang dipedomani kaum ilmuwan dibandingkan dengan atheis lainnya:

“Mereka bukan benci tuhan, hanya saja belum dapat membuktikan kehadiran Tuhan dari perhitungan teoritis yang mereka lakukan dan fakta empirik yang mereka temui. Sehingga sikap skeptis  bawaan khas ilmuwan menjadikannya “menunda” kehadiran Tuhan dan terbukti telah ikut campur tangan dalam hidup mereka. Hal ini berbeda dengan atheis yang diperoleh dari kekecewaan pada agama-agama yang ada. Atheis karena kecewa. Sedangkan ilmuwan adalah atheis yang skeptis. Akan percaya jika sudah dapat membuktikannya.

Dalam buku Dan Brown, Edmond Kirsch adalah sosok ilmuwan muda yang belum meyakini benar adanya Tuhan. Justru “kebelumpercayaannya” itulah yang menjadikan ia gigih untuk terus mencari jawaban atas dua pertanyaan diatas.

dari mana kita berasal?”

“kemana kita hendak pergi”.

Pendekatan yang ia lakukan adalah sesuai keahliannya di bidang komputasi. Secara mandiri ia membangun teknologi baru dan canggih (dalam bukunya disebutkan sebagai teknologi yang lebih canggih dari teknologi NASA dan google) sekadar untuk memastikan masyarakat dunia paham dan yakin bahwa manusia dapat melakukan terobosan yang belum terjawab hingga saat ini. Edmond berhasil menggetarkan dunia. Tiga pemimpin agama besar di dunia menjadi ketakutan atas hasil temuannya.

Edmond Kirsch sejatinya adalah anak muda yang mengagumi sang tokoh utama, Robert Langdon, pakar simbol dan kode. Salah satu fundamental pikiran yang dipercaya oleh Edmond adalah kuliah Robert soal “ketidaktahuan manusia atas sesuatu dan ketidakyakinan atas sesuatu yang mendorong manusia “menciptakan sesuatu” yang lebih luhur untuk mengganjal ketidaktahuannya.” Cara mengganjalnya pun bermacam-macam. Dewa dewi diciptakan. Diyakini. Lalu Tuhan diciptakan untuk menjawab atas fenomena hidup mereka. Agama semacam sesuatu yang menjadi pengisi ruang tanda tanya pikiran manusia.

Dewa laut diciptakan. Ketika manusia telah menaklukkan laut, Dewa laut mulai tak menjadi idola lagi. Satu demi satu dewa-dewi yang dulu sedemikian ditakuti menjadi tak memiliki daya magis. Masyarakat mulai meninggalkan. Lalu muncul agama. Dipercayai dan dilakoni. Kemudian muncul pengetahuan ilmiah yang lebih rigid dan mumpuni. Bumi itu bulat. Matahari adalah pusat dan bumi mengitarinya. Martir banyak yang “terlenjur” berguguran ketika teori baru yang lebih ilmiah ditentang oleh keyakinan “lama”.

Pertanyaan sekaligus pernyataan berani yang diajukan dalam novel Dan Brown kali ini adalah bahwasanya manusia yang sejatinya menciptakan Tuhan. Sesuatu yang diciptakan menjadi agung, yang dijadikan yang paling sempurna, dan menjawab pertanyaan atas segala sesuatu yang belum diketahui manusia. Oleh karenanya beranikan diri untuk menerima fakta baru yang terbukti ilmiah dan mulailah meninggalkan atas sesuatu yang diyakini namun tidak dapat dibuktikan.

Namun dengan bijak, pada akhirnya Dan Brown menyajikan penutup yang manis. Bahwa bukan sekadar soal logika otak yang indah dalam menjalani hidup. Juga bukan soal ketenangan batin untuk menyerahkan segalanya kepada yang luhur yang disebut manusia sebagai “Pencipta”. Bukan hanya logika atau iman yang menjadikan kehidupan di dunia dijalani penuh dinamika. Namun ada soal lain.

Soal hati. Soal cinta. Soal pengorbanan. Soal menyukai sesuatu dan mempertaruhkan segalanya. Origin beralih dari soal ketuhanan, menjadi soal kemanusiaan. Novel humanis yang diakhiri secara manis.

“the dark religions are departed and sweet science reigns”

Akhir kata, selamat menikmati Sabtu.

salam anget selalu.

Roy Langdon

Fokus

Sampai sekarang, saya masih geli kalau mendengar ada kalimat-kalimat atau jawaban dari pertanyaan di situasi berikut:

Pertanyaan: “Apa motivasimu menjadi volunteer/anak magang/bekerja paruh waktu di festival film/perusahaan film/festival musik/festival fashion?

Jawaban pelamar: “Oh karena saya ingin banyak menonton film/mendengarkan musik/mencoba baju-baju baru.”

Kalau saya adalah pihak penanya, biasanya saya cuma tersenyum sambil mengangguk kecil. Lalu meneruskan satu atau dua pertanyaan basa-basi, atau malah tidak sama sekali, karena saya pasti mencoret pelamar dari daftar calon pekerja potensial.

Biasanya yang diterima adalah mereka yang memang menunjukkan keingintahuan yang besar, bagaimana proses sebuah perhelatan besar diadakan dari awal sampai akhir, bagaimana kerja kreatif di belakang layar, atau sesederhana mereka yang ingin punya pengalaman kerja. Gampangnya, mereka yang punya niat untuk bekerja dan belajar adalah mereka yang akan selalu diterima.

Memang terdengar aneh, seseorang yang bekerja di perfilman, jarang nonton film (orang lain). Seseorang yang bekerja di dunia musik, tidak tahu tembang nomer satu saat ini. Seseorang yang bekerja di dunia fesyen, tidak hadir di fashion week tertentu.
Ini karena para kreator dan mereka yang membantu kreator selalu fokus dalam menciptakan karya terbaru.

Fokus inilah yang acap kali membuat kita tidak bisa selalu menikmati karya kreatif lainnya.

Dalam perbincangan meja bundar (roundtable) akhir tahun dengan beberapa sutradara di India, saat ditanya film favorit di tahun 2017, sutradara Imtiaz Ali mengakui bahwa dia hampir tidak pernah ke bioskop selama setahun, karena mempersiapkan dan melakukan syuting serta paska produksi film Jab Harry Met Sejal yang dibintangi Shah Rukh Khan.
Demikian pula di Hollywood, saat musim penghargaan film lalu, kalau kita lihat banyak produser dan sutradara yang “kagok” saat ditanya pendapat tentang karya orang lain di satu meja tersebut.

Kebanyakan mereka belum melihat karya lain tersebut, karena mereka memfokuskan diri dalam proses pengerjaan karya mereka sendiri. Sementara dalam proses penciptaan tersebut, bisa dipastikan sebagian besar kreator sangat selektif dalam memilih apa yang mereka lihat dan dengar untuk membantu terwujudnya karya mereka.

Sebelum meraih nominasi Oscar untuk perannya dalam film Unfaithful, Diane Lane mengaku bahwa dia hanya menonton film-film pilihan sang sutradara, Adrian Lyne, untuk mendalami emosi peran yang dia mainkan, karena bagi Diane, peran ini tidak familiar untuknya.
Sementara itu, seorang penulis novel di Indonesia yang saya kenal suatu kali berkata, bahwa pernah selama setahun sebelum dia merilis novelnya, dia hanya membaca literatur klasik. Katanya karena dia ingin belajar cara bertutur tertentu, yang akan dia adaptasi di novel terbarunya.
Apakah Taylor Swift atau Lady Gaga mendengarkan lagu hits terbaru saat mereka dalam proses membuat album terbaru mereka? Kalau melihat dari dokumenter behind-the-scene mereka, I doubt so.

Diane Lane in “Unfaithful”

Kadang-kadang “fokus” ini perlu untuk masuk ke sebuah headspace yang menjadi tema besar sebuah karya yang kita buat. Atau apapun yang kita kerjakan.
Sebelum saya “melahirkan” dan menjalankan festival film pendek beberapa tahun lalu, terus terang saya belum terlalu familiar dengan percaturan film pendek Indonesia. Saya pun harus sowan ke beberapa komunitas film pendek di beberapa kota di Indonesia untuk mengenalkan (saat itu) rancangan acara yang saya buat, sekaligus dengan cepat harus menonton banyak karya film pendek Indonesia dalam waktu singkat. Akhirnya, yang dikorbankan adalah waktu untuk menonton film-film lain, mulai dari film serial di televisi, sampai film di bioskop.

Dan kejadian itu terulang lagi sekarang. Untuk mempersiapkan sebuah acara yang hanya dalam hitungan beberapa minggu ke depan, saya harus merelakan ketinggalan banyak sekali serial televisi dan film di bioskop. Waktu yang sangat terbatas harus saya gunakan semaksimal mungkin untuk fokus pada tema besar acara yang masih baru buat saya. Masuk ke headspace tema acara ini cukup menantang, sehingga mau tidak mau, banyak sekali zona nyaman yang harus saya tinggalkan untuk sementara waktu.

Pada akhirnya memang kita tidak bisa menikmati semua karya orang lain. One cannot simply watch everything, listen to everything, consume everything. Setiap saat kita dituntut untuk membuat pilihan, karena we don’t have all the time in the world.

Namun saat akhirnya kita bisa mengerjakan apa yang harus kita kerjakan, rasa puas itu tidak tergantikan.

Don’t be afraid missing out. Nggak usah khawatir ketinggalan, selama kita berkarya.

Pelecehan Seksual Verbal: Kita Semua Pernah Melakukannya?

WOW! Habis melahirkan, kamu tambah cantik deh. Bodimu juga sudah balik ya, malah tambah … kenceng. Seger gitu lihatnya.”

Pelecehan adalah perbuatan tercela yang dilakukan secara sadar dan sengaja, serta bertujuan untuk memunculkan perasaan tidak menyenangkan pada orang lain. Baik kepada yang dituju, maupun orang-orang yang berada di sekelilingnya.

Pelecehan bisa terjadi di mana saja. Di tempat kerja, di kampus atau sekolah, di lingkungan tempat tinggal, bahkan di dalam keluarga sendiri. Di mana ada interaksi antarmanusia, di situ ada potensi terjadinya pelecehan.

Berdasarkan topik atau konten yang digunakan, pelecehan terbagi menjadi seksual dan non-seksual. Termasuk di dalamnya hal-hal yang berkaitan dengan SARA, anatomi atau fisik, dan keadaan mental seseorang. Bentuknya pun bermacam-macam.

  • Pelecehan fisik: Melibatkan kontak fisik.
  • Pelecehan verbal: Berupa ucapan.
  • Pelecehan isyarat: Menggunakan simbol dan penanda tertentu.
  • Pelecehan nonverbal: Menggunakan tulisan, gambar, dan materi sejenis lainnya.

Hanya saja ada bagian yang lumayan tricky dari penjelasan dan batasan di atas. Terutama untuk pelecehan seksual verbal di tempat kerja. Pasalnya, suatu tindakan baru dapat benar-benar disebut pelecehan apabila ada ketidaknyamanan yang ditimbulkan. Dengan kata lain, tipis bedanya antara perbuatan melecehkan dan yang bukan pelecehan. Tergantung tujuan penyampaiannya, dan respons yang diberikan oleh penerima.

Apakah ini termasuk pelecehan seksual oleh rekan kerja? Sepertinya iya, kalau si CR merasa dilecehkan.

Apakah ini termasuk pelecehan seksual oleh rekan kerja? Sepertinya iya, kalau si CR merasa dilecehkan.

Dari satu contoh kalimat pembuka di atas, ada beberapa faktor yang bisa membuatnya termasuk sebagai tindakan pelecehan.

  1. Disampaikan oleh pria kepada wanita (umumnya begitu).
  2. Disampaikan oleh pria yang tidak terlampau akrab dengan si wanita tersebut.
  3. Disampaikan dengan konotasi seksual, berkesan mesum, atau sexual perversion. Bisa juga ditandai dengan gelagat pendukung seperti tatapan sarat makna, ekspresi gemas dengan mengulum atau menggigit bibir bagian bawah, maupun embusan napas yang dibarengi dengan suara melenguh … dan ini sudah termasuk pelecehan isyarat.
  4. Membuat si penerima merasa tidak nyaman.

Selain karena poin nomor 3 dan 4, bukan mustahil kalimat tersebut tak ubahnya sebuah pujian biasa, yang kebetulan berbicara mengenai wajah dan bentuk tubuh seorang wanita.

Ada juga contoh lain, yang agaknya lumayan sering kita dengar sebagai orang Indonesia.

“Cieeeh… Pengantin baru… Gimana goyangan malam pertamanya? Kayaknya seru nih.”

Si baby sudah umur berapa bulan sekarang? Dikasih susu badan, kan? Gantian dong sama si bapaknya?” (kemudian biasanya diikuti dengan tawa cekikian)

Namun, jangan lupa bahwa pelecehan seksual verbal seperti ini tidak hanya dilakukan antara pria kepada wanita. Bisa juga berlaku sebaliknya, atau malah antara sesama gender. Tentu saja tetap dengan beda yang tipis antara melecehkan dengan sekadar berkelakar dalam konteks pergaulan.

Mau sampai kapan sih jadi bujangan? Makanya buruan nikah, biar maenannya enggak sama tisu ama sabun doang…

Andai saja semua ujaran atau kalimat yang bertendensi seksual dipukul rata sebagai pelecehan verbal, ada kemungkinan besar saya sendiri pun pernah, atau bahkan sering melakukannya kepada rekan kerja dan teman-teman yang lain.

Bagi yang sudah terbiasa luwes, sangat komunikatif (baca: cerewet) dan talkative, serta mudah bertutur, diperlukan pengendalian diri yang lebih intens. Sebab tidak semua ucapan yang melecehkan dilontarkan sebagai pelecehan. Kembali merujuk pada batasan-batasan di atas, ucapan yang melecehkan disampaikan untuk tujuan tercela dan menghasilkan perasaan tidak menyenangkan bagi si penerima. Dalam banyak kasus, pelecehan justru terjadi akibat keceplosan atau kelepasan bicara.

Selain itu, ada perbedaan persepsi mengenai apa yang pantas dan kurang pantas untuk disampaikan kepada orang lain. Terlebih jika si lawan bicara hanya sebatas rekan kerja. Banyak yang salah langkah, merasa sudah cukup akrab dengan seseorang tetapi kenyataannya tidak. Kalimat yang awalnya bertujuan untuk memeriahkan pembicaraan pun malah dianggap melecehkan.

Lalu, apa yang harus dilakukan agar tidak menjadi pelaku pelecehan seksual verbal?

Diem aja. Enggak usah banyak bacot.

Unless you are everyone’s sweetheart.

[]

Setajam Silet

Dari semua kata yang sedang naik daun akhir-akhir ini, mungkin ‘konspirasi’ terselip dalam daftarnya. Semua yang melakukan kesalahan terhadap seseorang, atau kaum tertentu lalu dituding merupakan bagian dari konspirasi. Ada seorang pemuka agama tertentu yang terjerat kasus hukum? Ini pasti konspirasi pemerintah yang ingin mencorengkan nama agama itu (padahal memang melanggar hukum, gimana dong?). Bumi dicurigai tidak bulat? Lalu dari mana asal pengetahuan umum bahwa planet kita ini dan semua planet di tata surya itu bulat, dong? Oh, berarti ini konspirasi negara barat supaya jualan satelitnya laku.

Keyakinan saya adalah, belum tentu yang dituduh berkonspirasi itu cukup pandai untuk melakukan konspirasi. Karena itu teori yang terlalu njelimet biasanya bisa disilet dengan philosophical razor seperti punya Hanlon atau Occam. Tetapi memang Hanlon’s Razor lebih silet terdengarnya. Tetapi saya memang lebih percaya; bahwa dari sebagian besar tuduhan kelicikan, biasanya yang terjadi di belakangnya adalah kebodohan. Saya masih skeptis terhadap kelicikan manusia kebanyakan, tetapi saya penganut kepercayaan mutlak bahwa manusia (termasuk yours truly) masih banyak yang bodoh. Pada dasarnya saya husnudzon. Bukan Fadli Zon.

Tapi tentu ini tidak berlaku untuk teori konspirasi favorit saya tentang kudeta yang diredam dengan isu pemberontakan PKI (termasuk juga kata yang sedang naik daun). Yang disebut sebut sedang mengalami kebangkitan itu. Satu lagi teori yang saya ingin percaya dan dengan bersemangat mengikuti tulisan maupun film yang dibuat berdasarkannya; pendaratan Apollo 11 di bulan. Setelah membaca banyak sekali pembahasan teori dan spekulasi mesin roket, dikukuhkan oleh film Capricorn One. Berbeda dengan flat-earther yang bersikukuh kalau pendaratan ini bohong belaka, saya akan senang kalau ada yang bisa membuktikan saya salah.

Jadi silet yang mana yang kita pakai buat cukuran hari ini?

Conspiracy

Teori konspirasi yang menutup konspirasi sebenarnya adalah konspirasi!

Mantan Semua Orang

“Everybody is somebody’s ex.”

Demikian kata teman saya. Waktu pertama kali dia bilang begitu, saya kaget, dan tertawa nervous. Dalam benak saya, yang terpikir saat itu adalah berbagai kekhawatiran, seperti:

• Orang yang lagi ditaksir juga ditaksir banyak orang lain.

• Orang yang lagi disukai punya banyak bekas cem-ceman, kekasih, teman tidur, pacar, dan lain-lain.

• Orang lain juga melihat saya sebagai mantan orang lain.

Memang hal yang wajar. Tapi tetap saja ketika dihadapkan langsung dengan paparan yang gamblang seperti itu, tak ayal kita hanya bisa tersenyum kecut.
Nyebelin, tapi benar adanya.

Kita semua pernah menjadi bagian yang istimewa dan tak terpisahkan dari orang lain. Lalu semua berakhir, dan kita harus menjalani hidup sendiri lagi, sebelum akhirnya bertemu dengan orang lain.

Namun tulisan ini tidak akan membahas endless cycle of love life.

Saya cuma ingin ngobrol sambil minum kopi bersama Anda semua, sambil mentertawakan fakta, bahwa pacar kita sekarang yang sedang bersama kita, sejatinya pernah dan akan jadi mantan orang lain. Mantan kita juga pernah dan akan jadi mantan orang lain.

Kalau sudah pernah beberapa kali berhubungan asmara, atau in love relationship dengan orang lain, mungkin sudah kebal akan hal ini. Mungkin lho ya.
Kenyataannya? Sering kali saya masih mendengar banyak yang cemburuan, layaknya baru pertama kali pacaran. Susah untuk menerima bahwa orang yang paling kita cintai pernah mencintai dan dicintai orang lain.
Kalau mendengar daftar mantannya pacar, langsung cemberut. Takut kalau balik lagi ke mantan lama.

Of course, that’s another issue.

Yang jelas, semua orang pernah menjadi mantan orang lain.

“Everybody’s somebody’s ex, so what stops you?”, itu ungkapan lengkap teman saya saat melihat saya yang memang masih menjomblo sampai sekarang.

Hidup itu penuh dengan pilihan, seperti juga memilih dengan siapa kita menghabiskan waktu. Terutama waktu luang yang keberadaannya sangat berharga, karena itulah saat kita benar-benar menjadi diri kita sendiri, lepas dari kungkungan pekerjaan.

Buat saya pribadi, saya tidak pernah mempermasalahkan masa lalu orang yang saya dekati. Biarkan masa lalu itu menjadi pembentuk dirinya yang sekarang, yang sedang kita hadapi. Toh yang kita punya dengan orang ini adalah masa sekarang, saat kita sedang menghabiskan waktu dengannya, dan syukur-syukur masa depan, saat kita menghabiskan hari tua dengannya.

Yang penting adalah kualitas waktu yang dihabiskan dengan orang tersebut. Dan karena kualitas kadang datang tak tentu, maka it’s okay not to rush. Sembari dicari, dia pasti datang. Dan jangan khawatir tentang masa lalunya, karena apapun itu, semua yang terjadi di masa lalu telah membentuk dirinya seperti sekarang yang Anda lihat.

Termasuk mantan-mantannya yang telah membentuknya.

Everybody’s somebody’s ex.

But if we do it right, we may put a stop to that. 😉