“Karena Internet Butuh Lebih Banyak Hati”

PERNAH membaca sebuah artikel psikologi beberapa waktu lalu, sayangnya lupa judul dan alamat situsnya. Dalam artikel itu, pada intinya disampaikan bahwa kadar simpati dan kemampuan seseorang untuk berempati tidak akan berubah dalam sekejap. Ada yang lunak, ada pula yang keras.

Ketika ada sesuatu yang bisa membuat banyak orang bersedih bahkan sampai menangis kencang meskipun tidak berhubungan langsung, akan tetap ada orang yang berhati dingin. Mereka cenderung biasa-biasa saja, tidak mengharu biru seperti yang lain. Bukan lantaran mereka adalah orang-orang jahat atau kurang manusiawi, melainkan karena mereka sudah terkondisi begitu. Perbedaan lingkungan, tabiat, dan pembawaan menyebabkan perbedaan tanggapan.

Kondisinya bakal selalu sama, apa pun medianya. Termasuk di sini, tempatnya mencurahkan terenyuh digital dan rasa iba virtual.

Hampir setiap hari, beredar foto, video, aneka bentuk media lain, dan narasi pendukungnya di mana-mana. Yang berbeda adalah outcome-nya, tindak lanjut dan hasil akhirnya. Apakah mampu menyebabkan gelombang rasa simpati dan kemudian berkembang menjadi aksi, ataukah sekadar jadi pengisi linimasa sementara, sebelum akhirnya digantikan dengan kehebohan lain dari isu dan konteks berbeda.

Keberhasilan “O2O” istilahnya. Yakni keberhasilan online-to-offline, membawa dan memindahkan sesuatu dari ranah daring ke luring.

Sudah banyak contohnya.

Dulu, ada kakek-kakek penjual nasi uduk di Jakarta Timur, difoto saat tertidur di warungnya yang sepi. Begitu diunggah ke media sosial, dilengkapi seperangkat caption yang ujung-ujungnya mengajak para pembaca untuk singgah dan membeli, warung si kakek mendadak ramai. Di unggahan berikutnya, terlihat foto pembeli yang mengantre.

Kalimat kuncinya adalah: Kakek tua kasihan. Jualan tidak laku. Ayo beli, dan bantu beliau.

Objeknya tidak harus manusia kok. Beberapa hari lalu, tab Mention saya juga lumayan heboh dengan kucing yang kakinya patah dan mengalami luka cukup parah akibat tabrakan. Itu pun posting-an lingkar kedua, karena sebelumnya lebih dahulu diunggah ke Instagram oleh individu yang berbeda.

Setelah di-RT dan disebarluaskan para warganet berpengaruh (banyak follower-nya), donasi yang terkumpul lumayan juga. Mencapai jutaan, dan setidaknya cukup untuk menalangi biaya perawatan yang diestimasi sebelumnya.

Semua kabar terkait dan perkembangan kondisi si kucing malang terus disampaikan. Menunjukkan bahwa ternyata ada warga semesta digital yang benar-benar tersentuh, dan terlibat dalam aksi donasi. Itulah outcome-nya. Kendati akhirnya si kucing mati juga akibat cedera yang terlampau parah.

Menariknya, tak seberapa lama, ada lagi yang me-mention di Twitter. Sama-sama bercerita mengenai kucing yang memerlukan bantuan. Hanya saja, sepi respons. Entah, apakah karena si pengunggah terlihat kurang meyakinkan dari isi twit, maupun foto kucing yang ditampilkan, ataukah ada alasan lain.

Pada praktiknya, dorongan dan kesediaan seseorang untuk bersedia/tidak bersedia memberikan bantuan adalah hak personal. Dalam kasus kucing-kucing malang di atas, para donatur tentu tidak haus pujian dari sesama manusia. Sebaliknya, tak ada celah bagi para non-donatur untuk dicemooh sebagai orang-orang pelit yang tidak berperasaan.

Akan berbeda ceritanya jika objek kemalangan dan sasaran donasi adalah manusia. Mereka yang menolak membantu pasti disebut “pelit”, “tak berperasaan”, dan lain sebagainya. Bahkan pada titik paling ekstrem, bisa dihujani sumpah serapah. Misalnya: “Mudah-mudahan kamu enggak perlu bantuan orang lain kalau lagi kesusahan” atau “Enggak ada yang mau angkat kerandamu nanti waktu kamu mati.” Untuk kalimat kedua memang terdengar sangat mengerikan, tetapi percayalah, kalimat itu pernah saya dengar langsung. Beberapa kali.

Itu sebabnya tulisan hari ini diberi judul sama seperti tagline Linimasa: “Karena internet butuh lebih banyak hati.”

Bedanya, lagi-lagi ada pada outcome yang diharapkan.

Linimasa diharapkan hadir sebagai pemberi kesejukan hati di antara gersang dan cadasnya konten web yang beredar selama ini.

Sedangkan foto, video, aneka bentuk media lain, dan narasi pendukungnya berupaya mengajak keterlibatan para pirsawannya untuk berempati. Mengejawantahkan ekspresi kesedihan menjadi sesuatu yang lebih nyata. Tak jarang ada video yang bisa membuat saya (hampir) mbrebes mili, saking menyentuhnya.

Bukan panas, bukan pula dingin. Menyejukkan hati, atau bikin hati anget. Hanya dua itu saja.

… dan jujur saja, tujuan tersebut bukanlah sesuatu yang mudah dicapai. Sehingga, jangan terlampau terikat dan bergantung padanya ketika ingin mencapai sesuatu. Lakukan yang terbaik, dan teruslah berharap. Setelahnya, cobalah tetap bersikap realistis.

Sebagai perbandingan sekaligus penutup tulisan hari ini, berikut ada beberapa foto yang barangkali bisa memberikan efek serupa. Terenyuh digital dan rasa iba virtual. Semuanya merupakan kisah dari luar negeri (tanpa melihat fakta-fakta ceritanya maupun memberikan penilaian lebih jauh).

Sengaja.

[]

Advertisements

Oscar 2018: Gary, Jonny, Sufjan, Mary dan Gael Garcia

Minggu depan awal Maret sudah dimulai perhelatan Oscar 2018. Tidak akan ada banyak kejutan. Jimmy Kimmel masih jadi pembawa acara tahun ini. Seperti tahun lalu. The Shape of Water masih merajai dengan 13 nominasi. Dunkirk dengan 8 nominasi. Sementara Three Billboards Outside Ebbing, Missouri meraih 7 nominasi. Dunkirk banyak nominasi di kategori teknis layaknya film perang. Kategori Editing, Sound Mixing, Sound Editing dan Production Design sepertinya akan direbut film ini.

oscar

Seperti yang pernah saya ceritakan di sini Film Terbaik ini sepertinya akan dimiliki oleh Three Billboard Outside Ebbing, Missouri. Kenapa? Momennya pun sepertinya pas karena beberapa hari yang lalu penembakan di sekolah di Florida menggunakan “strategi” yang sama yaitu dengan memasang iklan di tiga truk yang isinya meminta pemerintah untuk memperketat pengawasan penjualan senjata api. Di beberapa penghargaan lain pun film ini muncul sebagai film terbaik. Hollywood pun sedang dilanda badai pelecehan seksual dan perkosaan. Film ini pun sangat feminis. Bisa mewakili.

director.jpg

Sementara untuk kategori Sutradara Terbaik ini pun sepertinya akan diraih oleh sutradara Meksiko, Guillerme Del Toro di film The Shape of Water. Di berbagai ajang penghargaan beliau banyak mendapatkan trofi. Kejutan bisa terjadi bila Oscar ternyata memilih Christopher Nolan di film Dunkirk. Hal ini mungkin terjadi jika Oscar menginginkan kejutan kepada penonton. Oscar kerap kali melakukan hal demikian. Del Toro pun sepertinya tidak akan keberatan jika Nolan mendapatkan penghargaan ini. Dunkirk bukan film mudah. Film perang dengan hampir tidak ada dialog ini seperti menonton film bisu.

gary

Tahun ini pun adalah tahun yang tepat untuk Gary Oldman meraih Oscar pertamanya. Sudah waktunya Gary Oldman naik podium. Akting beliau di banyak film memang mengagumkan. Gary Oldman bisa menjadi siapa saja. Dari Sid Vicious sampai Drakula. Dari Winston Churchill hingga Mason Verger. Dia adalah bunglon. Perannya lebih komplit dari Daniel Day Lewis yang banyak memerankan pria dari jaman baheula.

Frances McDormand akan meraih Oscar keduanya di kategori Aktris Terbaik. Aktingnya terlalu kuat. Seperti di film Fargo ketika dia meraih Oscar pertamanya, aktingnya sangat natural. Saingan terberatnya di kategori ini adalah Sally Hawkins di The Shape of Water.  Memainkan wanita yang bisu dan bercinta dengan seorang “manusia ikan” tentunya memerlukan akting yang luar biasa.

Lawan main Frances McDormand di Three Billboards.. adalah Sam Rockwell yang akan memenangkan Oscar pertamanya di kategori Aktor Pembantu Terbaik. Aktingnya sebagai polisi yang rasis sangat memukau. Relatif tidak mempunyai saingan yang berat di kategori ini. Sementara untuk kategori Aktris Pembantu Terbaik pun maka Allison Janney di film I, Tonya yang akan mendapatkannya. Menjadi seorang ibu yang ambisius dan abusif terhadap anaknya sendiri agar menjadi atlet yang mumpuni layak diganjar Oscar. Saingan terberatnya Laurie Metcalf yang menjadi ibu yang sabar terhadap anaknya yang diperankan oleh Saoirse Ronan di film Lady Bird.

deakins.jpg

Sementara di kategori sinematografi, seperti layaknya Gary Oldman yang sudah selayaknya mendapatkan Oscar, maka Roger Deakins adalah nama yang sudah sepatutnya mendapatkan Oscar di film Blade Runner 2049. Ia berkali-kali mendapatkan nominasi tapi belum pernah mendapatkan satu Oscar pun. Padahal hasil karyanya sudah tidak harus diperdebatkan lagi. Tahun ini atau tidak sama sekali. Sudah berapa kali Roger Deakins mendapatkan nominasi Oscar? EMPAT BELAS KALI.

jonny pta

Di Oscar tahun ini juga ada dihuni pendatang baru dia adalah Jonny Greenwood, dia adalah gitaris dari Radiohead, yang merambah menjadi komposer dan mendapatkan nominasi pertamanya di kategori Original Score. Dia sedang mengikuti jejak Trent Reznor, pentolan Nine Inch Nails yang meraih Oscar di film The Social Network. Dia adalah kompatriot Paul Thomas Anderson. Semua film PTA sejak There Will Be Blood musiknya digubah oleh Jonny Greenwood. Jonny pun menyatakan akan hadir di perhelatan ini, ditemani istrinya.  Walaupun tampaknya Alexander Desplat yang akan mendapatkan Oscar tahun ini.

Oh iya. Dikabarkan Sufjan Stevens akan mengisi slot di perhelatan Oscar tahun ini. Dia mendapatkan nominasi di kategori Lagu Terbaik lewat lagu Mystery of Love dari film Call Me By Your Name yang sayangnya harus bertemu dengan lagu Remember Me dari film Coco yang mungkin akan lebih disukai Oscar. Mary J. Blige dan Gael Garcia Bernal juga akan tampil di Oscar tahun ini.

Pilihannya sama semua kan ya? Atau ada yang beda?

Dito

Guntur susul-menyusul di kejauhan. Awan kelabu bergerak lambat-lambat dari seberang jendela. Anakku pulang tepat waktu sebelum hujan tumpah dengan derasnya. Ia harus membawa informasi penting dari sekolah. Informasi yang bisa mengusir awan gelap di grup Whatsapp orang tua siswa yang membumbung sejak seminggu lalu.

Sumber: Google.

Dito menikmati situs porno bersama dua kawannya di rumah. Mereka membanggakannya di sekolah. Selingan rehat makan siang itu, entah bagaimana, sampai ke telinga guru mereka. Ini bukan yang pertama kali. Hal serupa pernah juga terjadi setahun lalu, dilakukan dua orang murid yang lain. Kami yakin, sekolah punya rumus jitu untuk menghadapi Dito dan dua kawannya tadi; selain pengalaman. Mereka dipanggil kepala sekolah. Dinasihati.

Hal yang lumrah dilakukan anak remaja saat hormon seksualnya berhamburan. Satu penelitian mengatakan bahwa 5 dari 8 anak terpapar pornografi pada usia 9 tahun. Dan hampir semua remaja berumur 17 tahun saat ini sudah pernah melihat pornografi berat. Baik sengaja maupun ndak sengaja. Kita sedang ndak membicarakan pengalaman seksual ya, beda lagi itu.

Sama seperti narkoba dan minuman keras, mereka bisa menimbulkan kecanduan. Semakin dini kita mendeteksi, semakin baik. Untuk kasus pornografi, alangkah baiknya jika dibicarakan dengan santai. Jangan berekasi secara berlebihan. Marah, dosa, neraka apalagi rasa malu justru akan menutup kesempatan diskusi dengan anak yang membutuhkan bimbingan. Seperti biasa, arus informasi ndak bisa kita lawan. Bagaimana anak menyikapinya yang mesti dipersiapkan. Menjerumuskan anak pada ancaman dosa yang berakibat laknat tuhan menurutku tindakan ndak bertanggung jawab. Dan kita justru menjadikan tuhan sebagai algojo untuk kesalahan diri sendiri dalam menghadapi anak kita.

Pertama, belajarlah. Baca banyak buku tentang pornografi. Pelajari sejarahnya, industrinya, efek psikologisnya, sampai bagaimana menanganinya. Bagikan itu dengan remaja kesayangan kita. Siapkan batasan-batasannya. Ceritakan bahayanya. Dan tutuplah dengan, “kasihtau mama/papa kalo kamu ndak bisa ya…” Cara inipun belum tentu langsung berhasil. Dalam kasus kecanduan berat yang berakibat seseorang sangat tertutup bahkan menghindari sex sesungguhnya; membebaskan mereka butuh proses bimbingan-konsultasi yang panjang. Ribet? Well honey, you don’t deserve a fucking child!

Entah apa yang sekolah bicarakan dengan Dito dan dua kawannya. Tapi, tiga hari lalu kami dengar Mamanya Dito dipanggil ke sekolah. Hanya mamanya Dito. Ndak ada bukti kalau Dito yang menginisiasi kegiatan ini, kan? Bukannya masih ada dua kawannya yang sama bersalahnya dengan Dito? Tahun lalupun ndak ada orang tua siswa yang dipanggil? Tentu kami ndak berdiam diri. Empati sesama orang tua murid bangkit. Kami minta klarifikasi dari pihak sekolah, ndak diberi. Antara diam saja atau menolak memberi keterangan. Mereka terkesan menutup-nutupi kasus ini. Tindakan yang diambil terlalu mencurigakan. Sampai kami memutuskan menggunakan anak masing-masing sebagai informan.

“Dito bilang dia udah biasa pegang-pegang perempuan telanjang gitu, Om…”
“Siapa Kak?”
“Mamahnya…”

Seketika semua pengetahuan pornogafiku runtuh. Aku ndak tau harus gimana. Aku ndak siap, tepatnya. Masalahnya bergeser jauh dari yang bisa aku hadapi. Yang bisa pihak sekolah mediasi. Hujan semakin deras. Udara lebih dingin dari biasanya. Suaranya mendayu-dayu membawa pikiran terburukku saat itu. Aku kok agak menyesal tau soal ini ya? Dan, sudah empat hari grup Whatsapp kami sepi.

Cerita Jakarta Kami

Demi membuat hidup di ibukota yang sumpek ini sedikit menyenangkan, saya dan seorang teman dekat sering melakukan kegiatan-kegiatan tak lumrah. Mulai dari mencoba jadi pengamen di jalanan, menjadi waria di taman lawang pada suatu masa, membayangkan jembatan penyebarangan sebagai catwalk, pura-pura berantem di halte busway, sampai ikutan teman bomber bikin mural lepas tengah malam buta.

Sudah lebih dari 3 tahun kami melakukannya. Waktu itu saya baru putus dari sebuah hubungan dan berencana meninggalkan kota ini. Dan dia baru balik dari sekolah dan bekerja luar negeri sedang frustrasi dengan kota ini. F*<K JAKARTA lah pokoknya. Ide ini muncul saat kami sedang bermalam mingguan bersama. “Kata orang, bukan soal tempatnya tapi sama siapanya” begitu yang kami yakini.

Supaya lebih menarik, setiap kali kami melakukan kegilaan ini, ada satu syarat mutlak: tidak boleh bawa hape. Tidak boleh merekam apa pun secara elektronik. Semua hanya boleh direkam dalam ingatan. “Kita kenalan waktu handphone bahkan belum bisa jadi kamera. Selama di luar negeri, semua kenangan itu sering kembali. Tanpa foto dan dokumentasi apa pun untuk mengenangnya. Semua yang kita lakukan malah jadi selamanya tersimpan di sebuah ruang di dalam hati. Bukan di foto album.” Beklah…

Kegilaan terakhir yang kami lakukan terbagi dalam dua jilid. Yang pertama saat liburan Sincia kemarin, kami menyediakan anggaran sebesar 15 juta untuk masing-masing dan kami bebas berbelanja apa pun. APA PUN! Dan kegilaan yang satunya lagi, baru kami lakukan hari ini, kami berjalan menelusuri kota ini, tanpa uang serupiah pun. TANPA SERUPIAH PUN.

Pasti sering kita ngomong ke diri sendiri, berandai-andai punya uang banyak, maka pengen beli ina inu. Terutamanya saat keuangan lagi tiris. Makin tiris, sepertinya makin besar keinginan. Hari ini, masing-masing punya uang 15 juta untuk dihabiskan. Boleh sampai ludes di berbagai mall yang kami kunjungi. Percaya atau tidak, di ujung hari saya berbelanja 3 kaleng Diet Coke. Dan dia berbelanja sekotak buah Kiwi isi 6. Itu saja. Kok bisa?

Di awal kami memasuki sebuah mall, dengan penuh semangat kami mendatangi toko-toko yang selama ini menjual barang-barang yang kami minati. Saat barang sudah di depan mata…

“Bagus gak?”

“Not bad…”

Sebelum akhirnya barang ditaruh kembali tak jadi beli. Bisa jadi karena merasa tak terlalu membutuhkan. Atau karena harganya sepertinya terlalu mahal. Atau koleksi lama dan sebaiknya menunggu sampai yang baru datang. Alasan-alasan lainnya yang sama sekali tak terduga akan muncul saat tak punya duit.

Setelah memasuki toko ketiga, bosan dan lelah mulai datang. “Ngopi aja yuk!” Di sebuah pojokan mall kami berbincang sambil ngopi dan makan. Tak terasa sore pun datang. “Kita masih bisa ke mall sebelah loh!” Beranjak ke mall sebelah, ternyata tak terlalu banyak membawa perubahan. Malam datang. Makan malam. Ke supermarket. Pulang.

Sebelum tidur kami berdua berbincang. Mungkin karena emang di usia kami tak lagi memerlukan banyak barang. “But, 9 million for a hoodie with Anti Social Social Club printed on it, doesn’t make sense for any age”. Gak juga sih. Kalo kami masih belasan mungkin kami akan segera membelinya. Tapi di usia segitu, pake uang dari mana? Perbincangan kami melebar perihal berat dan mahalnya jadi orang tua yang memiliki anak remaja di kota ini. Oh well… kami tidur pulas malam itu. Uang aman. Lega.


Persiapan hari ini lumayan matang. Karena tak boleh membawa uang, maka tas kami isi dengan minuman dan berbagai kebutuhan yang biasanya dibeli di jalan. Lumayan berat jadinya. Dan tentunya, harus berjalan kaki. Mana Jakarta lagi panas-panasnya belakangan. Tapi yasudahlah… MARI BRENGKI!

Baru sekitar 5 kilometer kami berjalan, di depan sebuah rumah kuno ada kursi kayu panjang di bawah pohon besar. Kami pun memutuskan untuk duduk di situ. Sambil minum dan terdiam karena lelah, sambil mengagumi desain rumah kuno itu. Halamannya dipenuhi dengan aneka bunga terawat dengan apik.

“Kalo kaya raya, pengen sih punya rumah kayak gini”.

“Di Jakarta?”

“Enggak harus sih… Jogja kali”

Kami melanjutkan perjalanan. Dan sepertinya kali ini arah perjalanan kami lebih jelas. Mencari rumah-rumah di kawasan Menteng dan Cikini yang sesuai dengan selera kami masing-masing. Walau sama-sama suka rumah kuno, tapi sepertinya perbedaannya ada di pagar. Saya lebih suka pagar terbuka sementara teman saya lebih suka pagar tertutup. Dia merasa tidak nyaman kalau keluar pintu rumah dan langsung terlihat dari jalan.

Dari perbincangan rumah, kami lanjut berbincang soal trotoar yang kondisinya cukup baik tapi sepi pengguna. Soal kali yang melintasi kota ini. Soal nama pohon-pohon yang kami temui. Ondel-ondel yang tak sengaja lewat. Sayang kami tak membawa uang serupiah pun untuk diberikan. Maafkan kami Ondel-ondel…

Kemudian kami pun masuk ke kawasan Taman Ismail Marzuki. Ke toko buku bekas di pojokan. Menonton sekumpulan remaja sedang berlatih tarian. Sebelum akhirnya memutuskan untuk duduk lagi. Kali ini di emperan jalan.

Baru saja dua teguk air melewati tenggorokan, seorang pengemis berhenti di depan kami.

“Maaf Pak”

“Sedikit aja, buat ongkos pulang”

“Kami juga lagi gak pegang duit, Pak… Dompet juga gak bawa.”

“Kalo gak mau ngasih, gak mau ngasih aja! Gak usah bohong gitu! Beneran gak punya duit nanti, baru tau rasa!”

Melanjutkan perjalanan, kami melewati sebuah cafe tempat nongkrong kami.

“Pengen yaaa”

“Ergh… mayan… Bentar lagi jam 6, pulang yuk! Mayan nih jalan kaki balik”

Sambil melewati jendela kaca cafe itu tiba-tiba

“WOI MAIN LEWAT AJAAAA, MAMPIR KEK… HALO-HALO KEK” teriak pemilik cafe itu tiba-tiba keluar dari cafe dan mendatangi kami.

“Lagi gak bawa duit monyooong, bikin kaget aja luuu”.

Lima belas menit berikutnya, kami sudah duduk bertiga di cafe itu. Dua gelas es cappucino, sepiring singkong goreng keju dan sepiring kue nastar menemani perbincangan kami bertiga.


Malam Minggu pun sebentar lagi tiba. Banyak pasangan muda mulai memasuki cafe ini. Kami pamit. Sebelum berpisah

“Nanti gue transfer ya….”

“GUE TABOK YA!”

Karena matahari sudah pamit duluan, angin sepoi mengiringi perjalanan pulang jadi ringan. Melintasi sebuah jembatan

“Boleh tulis di blog gak?”

“Ergh… Suka ya?”

“Suka.”

“Boleh kalo gitu.”

Di langit berwarna jingga

aku bisa meihat wajah kalian

itulah alasan aku hidup di kota ini

ku tertegun dan terkesima

melihat indahnya alam berwarna

membuat aku sadar

akan jauhnya kampung halaman.

tempat mencari uang

walau tak ada ruang

raih impian sekilas gampang

tapi semua tak semudah membalik telapak tangan

di dalam kesempitan mencari kesempatan

karena hidup kadang penuh beban

melangkah terus ke depan sambil menatap

mentari terbenam

Jakarta Sunset – Hiroaki Kato

Sepahit Empedu

Apakah organ tubuh Anda masih lengkap dan orisinil? Kalau ya, good for you, dan saya mendoakan supaya selalu terjaga sehat. Tepat sembilan tahun yang lalu, saya kehilangan empedu. Bukan karena salah meletakkan.

Sejak usia dewasa memang masalah kesehatan yang sering timbul adalah sakit di pencernaan. Terlambat makan, kembung, lalu migrain.Makan terlalu banyak atau kurang langsung mencetus rasa nyeri di lambung. Beberapa tahun sebelum kehilangan empedu itu, bertambah parah rasa sakit yang dialami. Sampai saya beberapa kali menyambangi UGD hanya untuk dikirim kembali pulang dengan diagnosa maag, dibekali dengan obat obatan dan nasehat supaya mengurangi kopi dan alkohol (walaupun saya berkeras jarang sekali minum). Sampai dalam 2 bulan terakhir sebelum itu, saya mengunjungi UGD dua kali karena sakit yang tak tertahankan, dengan dokter jaga yang sama, dan keduanya tidak pernah ada rekomendasi untuk pemeriksaan lanjutan, hanya sama saja, diberi obat dan disuruh pulang.

Sampai suatu malam saya baru menghadiri acara yang hidangannya steak yang lezat dan sedikit red wine. Begitu perjalanan pulang kontan terasa perut yang tak nyaman. Malam itu saya tidak bisa tidur dan memuntahkan semua yang saya makan hari itu. Sambil menatap langit langit kamar saya menyangka mungkin saya sudah mendekati akhir usia saya (mulai drama). Ketika sakit itu, saya baru menyadari kalau rasa sakit yang terasa lebih di bagian kanan atas abdomen, bukan di letak lambung sebelah kiri. Kemudian Papa saya yang penasaran akhirnya bertanya ke kakaknya yang dokter (alm), dan menyuruh saya memeriksa, air seni apakah warnanya kecokelatan. Dan memang benar saja. Katanya itu tanda gangguan liver, bukan lambung. Langsung malam malam saya ke UGD dan berjanji bertemu Papa di sana yang menuntut dokter untuk memeriksa darah dan air seni. Ternyata indikasi ada infeksi liver. Lanjutannya saya di USG dan ditemukan empedu saya penuh dengan batu, dan (untungnya, masih bisa untung loh) liver saya hanya radang karena empedu yang letaknya sebelahan radang juga.

gallbladder-function

Dari situ dimulai masa menginap saya di rumah sakit selama 10 hari. Pemeriksaan, menunggu jadwal operasi (padahal sebelum itu seumur hidup saya belum pernah dioperasi), keadaan setengah sadar karena infus obat anti sakit yang dahsyat (saya kurang lebih jadi paham rasanya kalau nge-bo’at), sampai akhirnya empedu yang kesimpulannya tidak bisa diselamatkan diangkat utuh dengan operasi laparoskopi yang ciamik. Dua hari setelah operasi, saya boleh pulang. Apa pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman saya hampir satu dekade lalu ini?

  1. Dokter di Indonesia cenderung mendiagnosa sakit pencernaan jadi maag, karena itu jika sakit berkelanjutan, minta second opinion atau cari dokter/ rumah sakit yang mempraktikkan eliminasi dengan memeriksa sedetail-detailnya penyebab rasa sakit.

  2. Ternyata saya tidak suka ditunggui di rumah sakit, lebih suka sendiri karena saya bisa istirahat lebih baik tanpa ada beban harus entertaining the companion. Apalagi kalau teman yang enggak kenal-kenal amat menjenguk lalu menuduh bahwa penyakit saya karena saya sering mengonsumsi alkohol. Huh. Kenapa orang beranggapan saya suka minum ya? Mungkin personality saya saja yang seperti pemabuk. Tapi aslinya enggak.

  3. Sebab batu di empedu-kalau saya tanya Google, M.D.-masih belum konklusif. Tetapi kalau saya tilik dari fungsi empedu yang menghasilkan bile yang membantu mencerna lemak, mungkin karena pola makan kurang seimbang. Memang sebelum operasi itu saya sama sekali tidak suka makan yang berlemak dan diet cenderung carb and starch-heavy. Karena sirkulasi cairan di empedu yang kurang lancar, terjadilah endapan (mohon konfirmasi buat yang dokter di sini).

  4. Setelah operasi, pencernaan saya baik baik saja, apalagi setelah adaptasi makan sehat, tidak pernah ada keluhan lagi bahkan semacam masuk angin dan kembung (kecuali sedang makan ngacak).
  5. Apakah empedu memang pahit, tidak bisa saya konfirmasi karena-walau bebatuannya boleh dibawa pulang-saya tidak boleh menjilat empedunya.
Screen-shot-2014-03-13-at-5.25.40-PM

amit amit jabang bayik

Reality is an illusion

Beberapa hari yang lalu jagad raya media sosial ramai dengan decakan kagum koleksi Fall/Winter brand Gucci, maha karya siapa lagi kalau bukan Alessandro Michele. Sebagai anak kost yang hanya bisa menikmati lewat layar laptop, selalu ada yang menarik dari setiap karya Alessandro Michele, it’s fantasic, magic, unexpected! 

Tidak perlu menjadi anak fesyen untuk dapat menyukai karya-karyanya, kalau tidak bisa beli bajunya, setidaknya kita bisa menikmati megahnya mimpi seorang Alessandro Michele yang menjadi kenyataan. Penasaran dengan perjalanan Alessandro, saya pun mencari di internet, mulai dari perjalanan karirnya, kantornya, dan wawancara-wawancaranya dengan berbagai media.

Ada beberapa kalimat menarik yang dia sampaikan, bahwa membuat sesuatu adalah tentang bagaimana menambah hal baru dengan tetap mempertahankan yang lama. Dan satu kalimat yang sepertinya menjadi value di balik karya-karyanya, ‘With a delution in fashion, you can make anything.’

Peragaan busana Gucci kemarin berhasil menarik saya dari kenyataan, masuk ke ilusi-ilusi Alessandro, bahwa fesyen adalah tentang menembus batas antara kenyataan dan ilusi. Lepaskan realita, bebaskan imajinasi dalam berkarya dan menikmati karya. Anggaplah kenyataan itu tidak ada, melainkan ilusi-ilusi, kamu hanya perlu masuk  dengan suka rela melihat jalan pikiran si pembuat karya.

Alessandro mungkin bisa dijadikan salah satu contoh bahwa jika kamu punya mimpi besar, lakukan! karena dari sanalah kebebasanmu berasal, to do what you love, is a freedom, you’ll feel liberated! Begitu kata si om Ale. 🙂

You and Me will Linger

Sudah lebih dari sebulan sejak Dolores O’Riordan, vokalis grup band The Cranberries, meninggal dunia. Tapi entah kenapa, rasa “baper” saya terhadap berita ini tak kunjung usai. Mungkin memang tak akan pernah usai.

Padahal untuk urusan soal pesohor musik yang meninggalkan kita terlebih dulu, bisa dibilang saya “cepat” untuk move on. Oke, kecuali Whitney Houston. Tapi dalam dua tahun terakhir, di mana banyak sekali musical legends yang mendadak berpulang, kesedihan saya terhitung agak cepat usai. Yang paling lama sempat membuat murung adalah kepergian George Michael. Maklum, karena albumnya yang berjudul “Older” adalah salah satu album yang saya dengarkan berulang-ulang saat remaja.

Mungkin pada akhirnya ini karena faktor kedekatan emosional. Musik yang kita dengarkan saat kita tumbuh dan berkembang, atau istilahnya formative years, akan cenderung terus lekang dalam memori kita sampai kita dewasa. Bisa jadi sampai kita hilang ingatan sama sekali.

Saya belum terlalu menaruh perhatian lebih kepada musik saat album “Everybody Else is Doing It, So Why Can’t We?” keluar di pasaran. Selain waktu itu televisi swasta belum masuk secara resmi di kota kelahiran saya, akses musik saya dapatkan secara terbatas lewat radio FM yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari sebelah kiri. Justru lagu “Dreams” baru terdengar familiar di telinga beberapa tahun kemudian, setelah lagu tersebut digunakan di beberapa film.

Tetapi lain cerita saat album kedua The Cranberries muncul. Waktu itu saya dan kakak saya diberi jatah membeli kaset lagu barat masing-masing satu buah. Saya memilih album “Crossroads” milik Bon Jovi. Soalnya waktu itu saya suka mendengarkan lagu “Always” di radio. Lagi pula, saya pikir, ini album “the best of”. Pasti satu album isinya bagus-bagus, pikir saya.

Kakak saya membeli album berjudul “No Need to Argue”. Saya heran, kenapa dia membeli album dari band yang belum pernah saya dengar namanya sebelumnya. Sampul album itu pun tidak menarik perhatian saya. Cuma ada empat orang anggota band yang duduk di sofa, satu orang duduk di lantai. That’s it. Kakak saya bilang, kalau lagu “Zombie” ini sering diputar di radio di Jakarta. Saya yang waktu itu masih jadi “putra daerah” cuma mengangguk-angguk kecil.

Lalu saya mulai memutar kaset itu di tape deck. Sampai di lagu yang dibilang populer tadi, saya terperangah. Memang penuh jeritan, tapi entah kenapa, saya bisa memahami setiap kata yang diucapkan. Pengucapan katanya jernih dan jelas. Tidak seperti layaknya lagu-lagu alternatif lain kala itu.

Saya dengarkan lagi satu album itu. Ada satu lagu yang membuat saya tertegun. Judulnya “Ode to My Family”. Saya tidak paham apa maksudnya, meskipun sudah berulang kali membaca lirik lagu itu sampai hapal. Lama-lama saya paham, bahwa kadang kala kita tidak perlu mengerti sebuah lirik lagu seutuhnya. Cukup apa yang kita rasakan. Dan saya merasakan klangenan yang tak terbatas setiap mendengar lagu itu. Semacam ada inexplicable longing feeling saat vokalis sudah mulai melantunkan “du du du du …” di awal lagu.

Tak puas cuma dua lagu itu, saya pun melahap satu album ini seutuhnya, terutama di lagu “Twenty One”, “I Can’t Be With You”, “Dreaming My Dreams” dan “No Need to Argue” yang pernah sengaja saya rekam khusus di kaset kosong, agar isi satu kaset tersebut bisa terdiri dari lagu-lagu itu saja. Tidak ada yang lain.

Waktu berjalan. Di puncak masa remaja, saya sering jalan-jalan bersama teman-teman sambil bersenandung “Free to Decide” atau “When You’re Gone” dari album “To The Faithful Departed”. Tentu saja di sela bernyanyi lagu-lagu lain yang juga populer kala itu. Tapi entah mengapa, mendengar intro atau beberapa bait lagu-lagu ini, sontak ingatan langsung melayang ke masa silam.

Lalu saya bersiap-siap pindah negara sesaat untuk kuliah. Tidak banyak waktu untuk mendengarkan musik baru, sehingga saya baru ‘ngeh’ ada album baru The Cranberries beberapa bulan, hampir setahun malah, setelah dirilis. Di sela-sela kesibukan kerja part-time jadi pelayan restoran saat break kuliah, perjalanan jauh dengan bis umum selalu ditemani dengan lagu-lagu seperti “Animal Instinct” dan “Just My Imagination”. Semester berikutnya, dengan pekerjaan yang kurang lebih sama, lagu-lagunya masih sama, ditambah dengan “Never Grow Old”.

Saya tidak pernah menonton konser The Cranberries secara langsung. Selalu ada halangan saat mereka datang. Atau memang karena menonton konser musik memang tidak pernah menjadi prioritas pribadi.

Toh itu tidak mengurangi frekuensi saya mendengarkan lagu-lagu The Cranberries. Beberapa tahun setelah saya lulus kuliah, saat frekuensi kemunculan grup ini juga semakin berkurang, semakin berkurang juga intensitas saya mendengarkan lagu-lagu mereka. Kalau sekedar ingin ingat masa lalu, atau kalau muncul di radio di taksi, pasti akan mendengarkan dan diam-diam bersenandung.

Sampai sebulan yang lalu. Saat saya sadar kalau kepergian sang vokalis, Dolores O’Riordan, berarti kepergian masa lalu saya juga.

Saya pernah membaca sebuah kutipan, kalau kita tidak pernah mengerti kenapa kepergian musisi yang kita tidak pernah kenal secara personal bisa membuat kita merasakan kehilangan yang sangat besar. Itu karena musisi, seniman, atau artis-artis tersebut bisa mengekspresikan apa yang kita tidak pernah bisa ungkapkan. Kreasi mereka mewakili dan menyuarakan isi hati kita, dengan efek yang hanya kita sendiri yang tahu bagaimana merasakannya.

Saying goodbye to our departed idols often means saying goodbye to our old life.

Paling tidak, karya mereka akan abadi. And that is why, You and Me will Linger, forever.

Sebagai teman Anda hari ini, berikut playlist Spotify yang saya buat, berisi lagu-lagu The Cranberries yang menemani saya tumbuh dan berkembang.

Selamat mendengarkan.

Mana yang Lebih Enak, Teh Kotak atau Teh Botol?

TERLAHIR di keluarga Tionghoa Indonesia seperti kebanyakan, sejak kecil sudah terbiasa dikelilingi rak-rak etalase kaca dan kulkas dengan pintu tembus pandang berisi aneka minuman dingin. Namun, namanya juga toko kelontongan, semuanya tentu saja merupakan barang jualan. Mau sedoyan apa pun, tetap tidak boleh diambil sesuka hati.

Sejak pertama kali mengenal konsep “minuman kesukaan” sekitar umur 4 atau 5 tahun, Teh Kotak menjadi salah satu yang paling terfavorit di antara berbagai jenis minuman dingin di dalam kulkas toko pada saat itu. Manisnya terasa berbeda dibanding es teh bergula yang dibikin di dapur, dan menyegarkan. Apalagi jika diminum saat pulang sekolah … pukul 11 siang (waktu itu masih TK atau baru masuk SD). Tidak perlu repot-repot, tinggal dicolok sedotan.

Bukannya tanpa alasan lain sampai bisa memfavoritkan Teh Kotak, sebab pada saat itu—rasanya—tidak ada minuman teh siap saji lain. Setidaknya sampai sekira lima tahun kemudian, atau bahkan lebih, karena menjelang masuk SMP pada waktu menemukan minuman bermerek Teh Botol untuk pertama kalinya. Padahal teh celup merek Sosro sudah lebih dahulu beredar. Bisa jadi lantaran di Kalimantan, makanya Teh Botol baru hadir setelahnya.

Bagaimana sekarang? Sebagai seorang penggemar minuman yang satu itu, Teh Kotak tetap terasa lebih istimewa. Entah perkara selera (rasa dan aroma) semata, atau ada unsur emosional dan nostalgia di baliknya. Mengingat Teh Kotak adalah merek tunggal yang sudah diminum sejak kecil. Walaupun sebenarnya, dalam berbagai kesempatan, Teh Botol (dan berbagai variannya) juga tetap terasa menyenangkan.


Menarik untuk diamati, seberapa kuat efek emosional dari kenangan dapat memengaruhi persepsi, penilaian, dan tindakan seseorang, yang pastinya berlangsung dalam kurun waktu cukup lama. Mengambil contoh Teh Kotak tadi, rentang waktu yang berlalu sudah mencapai lebih dari belasan tahun sekarang. Terlebih lagi, ini menyangkut rasa dan aroma, sesuatu yang terlampau personal untuk dikonfrontasi dengan logika.

Dalam hal ini, setiap orang memiliki kemampuan bawah sadar untuk merekam reaksi emosional saat mengalami sesuatu yang baru. Baik atau buruk, lalu melekat padanya: cenderung menyukai yang menyenangkan, dan cenderung membenci yang tidak menyenangkan. Rekaman emosional ini pun kerap melekat pada objeknya. Dari contoh kasus di atas: Teh Kotak. Kondisi yang sama juga terjadi pada balita-balita dengan guling buluk bau iler.

Rekaman emosional tersebut sukar untuk dirasionalisasi, atau dijabarkan alasan-alasan logisnya. Satu hal yang diketahui oleh si empunya pengalaman adalah rasa nyaman/kenyamanan.

Saat ditanya: “Kenapa lebih suka dengan Teh Kotak?” Jawabannya: “Karena enak, manis, segar, dan sudah diminum sejak kecil.” Kata “enak”, “manis”, dan “segar” ialah sebagian penggambaran dari kenyamanan yang dirasakan.

Pertanyaan yang sama untuk guling buluk bau iler, tentu tidak akan bisa dijawab. Sebab yang dialami dan diakrabi oleh para balita tersebut adalah perasaan nyaman/kenyamanan, dan mereka belum memiliki pengetahuan maupun kemampuan untuk menyampaikannya setepat mungkin. Berbeda dengan premis “enak”, “manis”, dan “segar” tadi.

Meskipun sebenarnya tetap ada komponen-komponen lain yang menyebabkan kondisi nyaman tersebut, contohnya: tangan ibu yang mengelus-elus kepala, atau menepuk pantat, selimut dan baju tidur yang hangat, kasur yang empuk, dan sebagainya, yang telanjur diingat dan direkam alam bawah sadar si balita cuma guling.

Dengan demikian, boleh dikata ironis bahwa manusia sebagai satu-satunya makhluk berakal budi, (untuk sementara ini), makhluk yang dapat berpikir dan bernalar, ternyata tetap takluk dengan perasaannya sendiri. Tanpa disadari. Manakala berhadapan dengan pilihan, keputusan sebenarnya sudah diambil sejak awal. Beranjak dari situ, barulah alasan dan pembenaran dimunculkan, berusaha mendukung tindakan yang akan dijalankan.

Sekuat-kuatnya manusia, tetap insan nan lemah juga.


Jadi, kamu, tim apa? Teh Kotak atau Teh Botol?

Ya… apa pun merek dan jenisnya, yang paling enak tetaplah teh yang dibuat seseorang dengan perhatian dan kasih sayang.

Apalagi kalau seseorang itu adalah kamu.

[]

Di Antara Cebong dan Snowflakes

fanatisme/fa·na·tis·me/ n keyakinan (kepercayaan) yang terlalu kuat terhadap ajaran (politik, agama, dan sebagainya)

Menurut KBBI itu adalah arti dari fanatisme. Saya rasa hampir semua orang tahu arti kata dari fanatisme. Tapi banyak yang tidak sadar kalo mereka sudah termasuk ke dalam golongan tersebut. Agama, sejak dulu sudah menghasilkan fanatisme. Ribuan mungkin jutaan orang menjadi korban sia-sia. Di ideologi pun begitu. Kita tahu di era Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet jutaan orang meregang nyawa di semua belahan dunia, termasuk Indonesia.

cebong

Antusiasme yang berlebihan ini tidak sehat untuk kejiwaan. Di Indonesia seperti sekarang ini yang akan melakukan pemilihan kepala daerah dan presiden juga tak luput dari fanatisme. Banyak faktor hal ini bisa terjadi. Di periode yang lalu, seperti kita tahu bahwa Prabowo kalah tipis oleh Jokowi di pemilihan presiden. Di negara demokrasi, hal ini tentu saja hal yang biasa. Tapi ketika media sosial mulai menjadi santapan sehari-hari maka muncul saling serang di antara kedua pendukung. Keduanya mempunyai penggemar yang fanatik. Pemuja. Karena di mata mereka idolanya tidak pernah salah. Tidak bisa dikritik. Di sinilah banyak istilah muncul di media sosial. Para pemuja Prabowo menyebut pemuja Jokowi sebagai “cebong”. Hal ini juga berlaku untuk pemuja Anies Baswedan dan pemuja Ahok. Saya kurang tahu dari mana asal kata ini muncul. Tapi mungkin dari anak katak yang selalu terlihat bersama. Kreatif juga. Saya menyimpulkan mereka itu mungkin seperti segerombolan anak katak yang bergerombol dan berenang menuju satu tujuan dan mereka saling membela kaumnya yang teraniaya. Cuma saya belum menemukan kata untuk para pemuja Prabowo. Banyak yang bilang kecoa atau bani-banian. Tapi sepertinya belum menemukan kesepakatan kata apa yang tepat untuk digunakan.

snowflake

Tapi ini tidak terjadi di Indonesia saja. Di Amrik sana pun terjadi hal yang sama. Mereka mempunyai istilah untuk pendukung Hillary Clinton. Kita tahu Donald Trump menang tipis. Bahkan Hillary Clinton menang secara popular votes. Hal ini banyak menimbulkan sakit hati dan mereka banyak menyerang apa saja yang berbau Trump atau Republikan, atau konservatif. Kemudian pemuja Trump menjuluki mereka sebagai “snowflakes”. Coba ketik kata cebong atau snowflakes di kolom pencarian Facebook atau Twitter untuk lebih mencerna apa yang saya maksud. Snowflake berasal dari kata generation of snowflake, suatu istilah yang pertama dicetuskan oleh Chuck Palahniuk di novelnya Fight Club. Orang yang menyangka dirinya unik padahal sebetulnya sama seperti yang lainnya. Begitu Urban Dictionary menjabarkannya.

1EXrHu38ssYjj11o-4ySqDg-1.png

Kata cebong dan snowflakes tentu saja dibuat untuk merendahkan. Tidak ada yang ingin dilabeli cebong atau snowflakes. Tapi julukan ini bukan tanpa dasar. Karena mereka membuat julukan ini karena mereka memang banyak dan juga militan. Polanya selalu sama sehingga relatif mudah untuk mengidentifikasinya. Buat sebagian orang mereka menjengkelkan dan menyebalkan.

alanis.gif

Tapi lucunya mereka yang membuat julukan pun sebetulnya melakukan hal yang sama. Sama-sama membela idolanya mati-matian. Masih mending kalo dibayar atau diberi jabatan. Yang menyedihkan kalo mereka melakukannya secara gratisan. Terlalu banyak energi yang terbuang percuma hanya untuk mengurusi yang tidak begitu penting. Sudahlah jadi penggemar yang biasa-biasa saja. Kalo salah ya dikritik. Kalo benar ya akui. Siapapun dia. Karena sebetulnya siapa pun yang menang di arena politik maka kita adalah selalu jadi pecundang.

Apa Ramah Itu?

Ketika Jakarta atau kota besar lainnya seperti Surabaya, Medan, Bandung, Semarang yang penduduknya bergegas diselipkan kata ramah apakah mungkin? Barang tentu.

Mungkinkah ketergesaan cocok dengan pelayanan yang ramah? Yes!

Ramah itu soal budaya. Ramah itu soal pola kebiasaan masyarakat yang hidup dalam satu suasana.

Ramah di toko kopi yang letaknya di gedung perkantoran, adalah pelayanan yang gesit. Ndak perlu bilang macam-macam. Cukup sapaan dan pertanyaan akan pesan apa. Jika pelayan yang “sok ramah” dia akan bertanya macam-macam termasuk bagaimana hasil skor bola semalam, asalnya dari mana. Padahal antrean di belakang sudah mengular. Kecuali di luar jam sibuk, obrolan ringan bisa disodorkan antara pelayan dan pembeli.

Jika ini diterapkan di kedai kopi tempat wisata yang sepi senyap, justru pelayan yang basa-basinya minimalis akan dianggap sombong dan jaim.

Ramah di pintu tol pun demikian. Keramahan adalah soal pelayanan lekas dan tangkas serta sapaan secukupnya. Kalau petugas tol bertanya dan memuji bahwasanya mobil kita bagus, beli dimana, pajak setahun berapa, itu bukan ramah yang tepat, justru menyebalkan. Dan sekali lagi: Bikin antrean mengular.

Vice versa.

Ketika kita sebagai phembeli di kedai kopi banyak bertanya pada barista padahal dia sedang sibuk, itu bukan ramah, karena ramah berarti juga paham situasi dan kondisi.

Atau di tempat kerja banyak senyum, banyak ngobrol, bahkan banyak nanya urusan karyawan lain, itu namanya bukan ramah. Itu kampungan.

Ramah, oleh kita, sering diartikan sebagai senyuman, anggukan, salaman, tegur sapa, salim, jalan bungkuk atau malah jalan bebek? Oh tidak. Terkadang ramah bercampur dengan sopan-santun. Ramah adalah bagian dari kesopanan.

Ramah adalah soal memuaskan.

Ramah di kedai kopi adalah pelayanan cepat dan tepat. Bukan membiarkan antrean mengular.

Ramah di warung angkringan adalah santai, obrolan ringan dan tertawa. Bukan bicara cepat lewat henpon dan suara lantang.

Ramah sesama teman adalah mendengarkan. Bukan tertawa cekikikan sembari membuka layar gawai.

Ramah-nya rentenir adalah meminjamkan uang. Untuk apa senyum kalau tak memberi kredit.

Ramah juga bukan cekikikan keras antar sahabat di lift yang sempit, atau tertawa lepas di sudut meja resto dengan kawan lama, karena ternyata ndak ramah bagi orang sekitarnya.

Ramah adalah sesuai harapan. Tidak hanya manis di mulut, nyaman di hati, juga dapat diterima sewajarnya oleh orang sekitar kita.

#RekomendasiStreaming – Banyak Cerita Dari Laut

Sebelum anda membaca lebih lanjut tulisan ini, ada baiknya anda menyadari bahwa hampir semua tulisan di situs ini, terlebih tulisan saya, adalah curahan hati atau pengakuan jujur dari penulisnya. Rasanya sudah tidak terhitung lagi berapa kali saya memulai tulisan dengan kata-kata seperti “pengakuan dulu …” atau “jujur saya akui …” di blog ini.

Demikian pula dengan tulisan kali ini.
Saya mau mengaku bahwa sebenarnya I’m not a beach person.

Jujur saya akui (tuh kan!) kalau liburan di pantai sering kali membuat saya mati gaya. Berjemur di sisi pantai, bahkan di sisi kolam pun, bukanlah ide liburan yang menjadi prioritas utama saya.

Makanya, ketika sedang ada proyek kerjaan yang membuat saya harus sedikit lebih paham tentang isu ekologi kelautan, saya sempat kelabakan. Lha wong jarang ke pantai, apalagi ke laut, bagaimana saya tahu tentang isu-isu di laut?

Setelah perasaan bingung mulai mereda, saya sadar bahwa saya masih punya akses tentang laut. Apalagi kalau bukan dari film-film dokumenter di saluran video streaming! Jadi meskipun tidak punya budget untuk liburan ke pantai, tapi saya bersyukur masih bisa membayar biaya langganan video streaming dan kuota internet per bulan.

Akhirnya saya pun menghabiskan waktu beberapa minggu terakhir menikmati film-film dokumenter tentang laut di beberapa saluran video streaming.
Menikmati? Ya, karena tidak sekedar menonton, tapi saya menikmati gaya penceritaan hampir semua film dokumenter tentang laut yang saya lihat. Tak hanya visualisasi yang pasti menarik. Pengambilan gambar seputar polusi di laut dan kekerasan yang terjadi di kelautan masih bisa nikmat buat ditonton, karena pembuat film tahu apa yang mau diceritakannya. Ini penting. Sebagai penonton, kita cuma bisa pasrah dengan apa maunya pembuat film. Terlebih dengan isu-isu di ranah yang luas seperti laut.

Untungnya film-film berikut sangat fokus dalam penceritaannya. Silakan ditonton buat teman liburan long weekend kali ini:

A Plastic Ocean

Film ini dibuat secara tidak sengaja. Saat seorang wartawan bernama Craig Leeson mencari paus biru, dia kaget menemukan bongkahan sampah plastik di samudra yang harusnya tidak tersentuh sampah. Lalu dia memfokuskan diri meneliti tentang sampah plastik di laut. Hasilnya cukup mencengangkan. Burung pemakan ikan dan ikan di lautan hampir bisa dipastikan sebagian besar mengkonsumsi plastik yang dibuang ke laut. Konsumsi plastik yang dimakan burung atau ikan bisa sampai 1/3 dari total makanan sehari-hari mereka. Sangat mengerikan.
Beberapa adegan memang cukup membuat saya shocked. Tapi hebatnya, film ini masih bisa mempertahankan tone positif dari penceritaannya. Mungkin karena semua pembuat film yang terlibat di sini sadar, bahwa mereka masih ingin hidup di dunia ini. Mau tidak mau, kalau mau hidup, harus mengurangi pemakaian plastik.

Recommended.

Treasures from the Wreck of the Unbelievable

Kalau ini, film nyeleneh. Seniman dan kolektor seni Damien Hirst merekam proses pencarian barang-barang antik dari bawah laut untuk pamerannya di Venice. Namun film ini adalah mockumentary, atau dokumenter yang bermaksud mocking realita yang terjadi. Kisah di balik layar proses pembuatan pameran ini adalah semi fiktif. Dan untuk pembuatan kisah semi fiktif ini, Damien Hirst beserta tim rela menghabiskan belasan juta dolar mengambil gambar-gambar di bawah laut. Pertanyaannya: apakah dia benar-benar pergi ke bawah laut? Mana yang anda percaya? Coba tonton film ini. Menarik untuk ditonton dan dipertanyakan ulang: do we believe what we actually see?

Chasing Coral

Dari judulnya sudah jelas kalau film ini bercerita tentang coral reef, atau terumbu karang. Film ini memfokuskan ceritanya tentang analisa mengapa terumbu karang cepat punah. Tentu saja analisa dilakukan oleh penyelam, fotografer dan ilmuwan di lautan luas, sehingga kita masih disajikan pemandangan yang luar biasa indahnya. Lebih luar biasa lagi adalah semangat dan kecintaan terhadap terumbu karang yang tercermin dari ekspresi mereka yang ada di film ini. We cannot help but rooting for them. Akhirnya perasaan kita pun ikut dibawa terjun ke bawah laut, because passionate excitement is simply contagious.

Selamat berlibur, dan buat semua: Xin Nian Kuai Le, Gong Xi Fa Cai!

Kalau Tidak Tahu, Bertanyalah. Jangan Sok Tahu dan Tak Mau Tahu

HARI ini tanggal 14, saatnya Valentine’s Day. Harinya perayaan cinta dan kasih sayang, terutama buat yang sedang berpacaran atau sudah punya pasangan. Selain itu, Tahun Baru Imlek pun tinggal sebentar lagi, tulat nanti. Momen untuk pulang kampung, dan/atau kembali berkumpul dengan keluarga.

Terbawa suasana, rencana awalnya kepingin menulis yang ringan-ringan saja, yang ceria dan positif. Sampai akhirnya melihat twit ini.

Setelah mencermati benar-benar apa yang sebenarnya terjadi, dan mencoba mencari konfirmasi serta informasi tambahan dari sana sini, langsung terheran-heran melihat sekumpulan orang yang seakan kehilangan kemampuan bernalar dengan baik.

Dianggap melakukan “ritual” keagamaan yang melibatkan banyak orang di tengah lingkungan pemukiman, Bhikkhu Atichagaro diminta sekelompok warga setempat untuk menghentikan aktivitas tersebut. Dia bahkan diminta meninggalkan kawasan itu karena dianggap melakukan syiar atau penyebaran agama Buddha, alias mengajak orang lain berpindah keyakinan.

Benarkah demikian?

Apa sih “ritual” keagamaan yang dilakukan oleh Bhikkhu tersebut sampai bisa bikin sekelompok warga tadi berang?

Adalah sebuah … jamuan makan siang!

Ya! Cuma makan siang.

Lah, terus kok dianggap sebagai ritual dan syiar agama Buddha? Nah, entahlah. Apakah sekelompok warga tadi yang terlampau kreatif dan punya imajinasi liar, atau pada dasarnya memang enggan bertanya dan mencoba memahami hal-hal yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Bhikkhu tidak diperkenankan memiliki atau memegang uang dan alat-alat pembayaran lainnya. Oleh sebab itu, Bhikkhu Atichagaro (dan para bhikkhu lainnya) tidak akan bisa membeli makanannya sendiri.

Setelah resmi menjadi bhikkhu, mereka tidak memiliki rumah atau kediaman pribadi, mereka tidak memiliki harta dalam bentuk apa pun kecuali mangkuk makan dan satu set jubah, dan mereka juga tidak lagi terikat hubungan keluarga. Kehidupan mereka pun disokong oleh umat awam/perumah tangga.

Makanan diberikan kepada para bhikkhu sebagai persembahan sekaligus donasi/sedekah. Seringkali terjadi, penyumbang dan makanan yang diberikan jauh lebih banyak dibanding jumlah bhikkhu yang ada.

Bhikkhunya satu (duduk di kursi), umat yang ingin bersedekah ada sedemikian banyak. Tradisi di Indonesia, umat menyerahkan piring makanan satu demi satu. Akan tetapi karena ada sebanyak ini, maka dilakukan secara simbolis dengan memegang meja.

Sebelum mulai bersantap, ada tradisi dalam mazhab Theravada ketika para bhikkhu mengucapkan terima kasih atas sumbangan dari umat (biasanya dibarengi dengan ceramah singkat), dan dilanjutkan dengan pelimpahan jasa. Serupa tapi tak sama, pelimpahan jasa ini seperti mengirimkan doa kepada sanak keluarga yang telah meninggal, atau melakukan perbuatan baik atas nama mendiang.

Ucapan terima kasih yang disampaikan oleh para bhikkhu ditandai dengan pembacaan syair-syair dalam bahasa Pali, atau bahasa India kuno. Bagi yang tidak paham, kegiatan ini akan terkesan seperti sebuah “ritual” atau persembahyangan. Ceramah singkat yang disampaikan pun umumnya mengenai hal-hal dasar, mengingat durasi yang terbatas (setelah tengah hari, bhikkhu harus berpuasa sampai fajar keesokan harinya).

Banyaknya jumlah makanan yang didonasikan oleh para umat membuat bhikkhu mustahil menghabiskan semua. Di samping itu, bhikkhu tidak diperkenankan untuk melekat pada kenikmatan atas makanan, apalagi sampai mengalami kekenyangan. Makanya, setelah bhikkhu selesai bersantap, giliran para umat yang makan bersama-sama. Tak ubahnya potluck atau botram. Makan-makan yang dilakukan tersebut bukan untuk merayakan sesuatu. Daripada mubazir, atau dibuang.

 

Sebelum makan, Bhikkhu memberikan wejangan singkat dan memandu pelimpahan jasa bagi keluarga yang telah meninggal. Bhikkhu kemudian mengambil makanan secukupnya. Setelah itu, umat menyantapnya bersama-sama. Mirip potluck, kan?

Dengan begini, wajar dong kalau kemudian mempertanyakan apa yang sebenarnya dipermasalahkan oleh sekelompok warga tadi?

Syiar agama dalam bentuk apa?

Siapa yang diajak berpindah agama?

Soal ornamen keagamaan, ehm… yang mana ya? Patung kah? Jubah Bhikkhu yang berwarna cokelat kah? Kepala yang gundul sampai ke kumis, janggut, dan alis?

Kalau mempermasalahkan patung, namanya juga agama Buddha. Mosok mau pasang patung Doraemon? Kan enggak nyambung.

Kaum Buddhis yang benar-benar mempelajari Buddhisme, bukan paganisme Tionghoa dan sejenisnya cukup “kenyang” perihal satu ini. Buddhisme kerap dianggap sebagai agama penyembahan berhala, berorientasi pada patung. 😅 Padahal tradisi membuat patung Buddha baru muncul beberapa abad setelah wafatnya, ketika ajaran menyebar dan mulai dikenal oleh bangsa Yunani yang memang terkenal dengan seni patung realisme Hellenistic. Itu sebabnya, patung Buddha pertama memiliki paras yang kebule-bulean.

Saya tidak kenal Bhikkhu Atichagaro (dan menolak untuk menyebutnya sebagai Biksu Mulyanto Nurhalim, sebab nama itu sudah ditanggalkannya). Terlebih lagi, kami pun saling berbeda afiliasi religius. Saya belajar Buddhisme dari para bhikkhu Indonesia yang bernaung di bawah organisasi Sangha Theravada Indonesia (STI), sementara Bhikkhu Atichagaro menjalankan tradisi Theravada Thailand.

Dengan menuliskan tentang ini di sini, saya yakin seyakin-yakinnya pasti tidak bakal sampai juga ke sekelompok warga tadi. Namun, setidaknya ada informasi yang tersampaikan, dan pastinya tidak ada yang salah dengan sedikit lebih tahu mengenai sesuatu.

Sudah banyak banget kasus dan kejadian dengan model seperti ini; gara-gara “tidak tahu” atau “salah paham” semata. Terus berulang.

Contoh lainnya, di video pertama, Bhikkhu Atichagaro direkam saat membacakan surat pernyataan dalam kondisi “nyaris telanjang”. Kain yang ia kenakan saat itu, disebut sebagai jubah dalam. Bukan pakaian yang sepatutnya dikenakan seorang bhikkhu Theravada saat bertemu dengan khalayak. Bedakan dengan model jubah yang dikenakan Bhikkhu Atichagaro di video kedua, ketika tindakan pengusiran tersebut diklaim “bohong”. Lilitannya lebih tebal dan lebih tertutup.

Kalau tidak tahu, ya cobalah cari tahu, jangan malah berlagak sok tahu. Gunakan otak untuk berpikir dalam memahami sesuatu, dan ketika muncul ketidakjelasan, coba ditanyakan pelan-pelan (biar bicaranya enggak belibetan), lalu simak jawaban yang disampaikan. Tidak usah tergesa-gesa. Wajar kok, setiap orang memiliki kemampuan menyimak untuk memahami yang berbeda-beda.

Apabila masih tidak mengerti, silakan tanyakan kembali sampai sejelas-jelasnya. Daripada sudah terang-terangan salah, tetapi malah bersikeras, dan terus main hajar tanpa peduli kanan kiri. Soalnya bikin malu sendiri. Itu pun kalau yang bersangkutan sadar.

Di sisi lain, mediasi dan upaya komunikasi kedua belah pihak memang sempat dilakukan. Hanya saja sangat disayangkan, perwakilan umat Buddha yang semestinya bisa menyampaikan penjelasan dengan baik, justru bertindak sebaliknya. Entah, barangkali ikut merasa tertekan oleh keadaan, atau kebingungan. Kan bisa menggunakan persamaan-persamaan yang dipahami umum.

Donasi makan siang = kenduri atau botram.

Pelimpahan jasa = selamatan atau tahlilan.

Ya sudahlah.

Happy Valentine’s Day, sayang. Ada atau tidak ada orangnya, yang penting “sayang” dulu aja mah.

Lebih baik sayang-sayangan, daripada meradang.

[]

Influencer Jaman Now

Dengan penghasilan minimal 5-10 juta per bulan, siapa sih yang gak pengen jadi influencer atau KOL di media sosial. Modal utamanya, kemampuan menghasilkan “konten”. Bisa berupa foto, video, tulisan ditambah kemampuan bercerita dan fisik sedikit saja di atas rata-rata. Makanya modal tambahan macam camera mirorless, backdrop, ring flash semakin banyak peminatnya. Tentunya di saat yang bersamaan, persaingan pun semakin sengit.

Apalagi blogger. Travel, fashion, beauty, selain kemampuan merekam dan mengedit yang mumpuni, juga menulis. Gak berhenti di situ, keunikan sudut pandang pun jadi kelebihan tersendiri. Hotel ya hotel, baju ya baju, lipstik ya lipstik, tapi bagaimana menceritakannya biar jadi menarik dengan sudut pandang yang berbeda. Shasha, seorang travel blogger pernah menuliskan pengalamannya pelesir bersama travel blogger dari luar negeri.

Perlahan, aktivitas ini semakin menjadi profesi. Pekerjaan yang dikerjakan secara profesional. Nah, kalo udah jadi profesional tentu ada risiko di dalam paketnya. Ketika seseorang memutuskan untuk menjadi profesional, maka dirinya sudah menjadi merek/brand. Di saat itulah, diperlukan kepiawaian untuk menjaga “brand”nya. Coba saja lihat bagaimana brand-brand mapan berperilaku di media sosial. Semua point akan digunakan untuk membangun citranya supaya semakin disukai lebih banyak orang. Bukan sebaliknya. Di sini banyak influencer yang lupa. Mau ambil bagian enaknya saja.

Karena merasa dirinya di atas angin, masih bersikap seenaknya. Bahkan lebih buruknya lagi, membongkar aib dari brand atau persona lain. Mulai dari urusan tagihan sampai membandingkan brand yang memperkerjakannya dengan yang lain. Ini repot. Repot karena tanpa disadari, banyak pintu kerjasama yang ditutup sendiri. Kemungkinan karena tabungan lagi penuh-penuhnya, bikin merasa tak perlu lagi membuka jalan baru. Tak perlu orang lain tapi orang lain yang memerlukan dirinya.

Banyak pemilik brand yang mengeluhkan kelakuan para influencer. Konten yang dihasilkannya baik, laporan statistiknya pun baik, tapi sayangnya di luar itu, gak mencerminkan brand yang telah membayarnya. Belum lagi kelakuan yang berharap mendapatkan perlakuan seperti bintang besar. Beberapa pebisnis pernah pula bercerita soal blogger yang meminta gratisan dengan dalih mengajak kerjasama, diiringi ancaman review buruk yang akan ditulis di blognya.

Sayangnya lagi, banyak pula yang tak mau memaparkan laporan statistik jumlah pembaca blognya. Semua dianggap cukup dengan citranya saja sebagai blogger kondang. Padahal bagi pebisnis, setiap rupiah yang dikeluarkan untuk berpromosi, harus bisa dipertanggung jawabkan. Berapa views, reach, engagement dan metriks lain yang seharusnya dengan mudah bisa ditemukan untuk dilaporkan.

Trend penggunaan influencer yang bermula sekitar 5 tahun lalu ini, memang semakin berkembang. Berkembang ke arah mana? Ada banyak laporan dan analisa di internet. Beberapa diantaranya sepertinya bisa jadi panduan baik bagi influencer ataupun pengiklan.

  1. Penggunaan Beragam Influencer

Saat ini, jumlah followers saja tak bisa jadi ukuran. Perlu reach. Jangkauan. Menjangkau yang di luar jumlah followers. Dengan algoritma di Instagram dan Facebook, dilaporkan hanya sekitar 10% persen dari followers yang melihat sebuah postingan. Jadi, kuantitas bisa jadi lebih baik dari kualitas. Ketimbang membayar seorang mega influencer saja, ada baiknya mempertimbangkan untuk menggunakan beragam “kasta” influencer. Jangan lupa ada sistem boosting yang bisa mempromosikan postingan yang baik dari seseorang yang mungkin jumlah followersnya masih rata-rata. Akan tetap menghasilkan reach yang banyak.

  1. Sesuai dengan Produk

Jangan langsung terkesima melihat jumlah followers dan berkilaunya konten yang dihasilkan. Pertimbangkan juga kesesuaiannya dengan brand dan arah kampanye. Di sini pertimbangan karakter influencer menjadi faktor penting juga. Kalo memang tidak sesuai, jangan dipaksakan. Tak jarang kampanye yang gagal mencapai target karena pertimbangannya hanya fisik dari influencernya. Tak salah, tapi tak maksimal.

  1. Hashtag Can Be Overrated

Penggunaan hashtag diperlukan untuk orang mencari sebuah topik. Pertimbangannya, seberapa banyak orang mencari sesuatu berdasarkan hastag. Saat ini, hashtag diperlukan untuk mencari jejak di media sosial. Misalnya mengadakan kompetisi di media sosial. Untuk memastikan sebuah postingan memang ditujukan untuk mengikuti kompetisi itu, maka dicari melalui hashtag. Masih banyak lagi kepentingan hashtag yang sebenarnya lebih untuk keperluan pengiklan saja bukan konsumen.

  1. Nurturing Influencer

Semakin banyak influencer baru yang berdatangan. Kemampuan untuk menemukan mana influencer mini yang akan berkembang menjadi mega. Terlebihnya untuk membangun brand dalam jangka panjang. Pencitraan brand akan ikut berkembang seiring pertambahan jumlah followersnya. Apalagi kalau influencer itu kemudian berkembang menjadi seorang public figure. Menjaga relasi dengan mereka bisa memberikan manfaat buat kedua pihak. Tanpa disadari, influencer itu sudah menjadi brand ambassador.

  1. Edukasi Tak Semalam

Menjadi influencer sebuah brand memerlukan edukasi yang terus menerus. Semakin banyak pengetahuan yang diketahui influencer biasanya isi postingan mengenai brand itu akan semakin berisi dan spontan. Karena urusan edukasi ini tak bisa terjadi dalam semalam, jadinya perlu konsistensi. Bukan saja pengetahuan tapi juga pemahaman akan riwayat dan rencana ke depan brand. Banyak brand yang sudah melakukan ini, dan bisa dibilang berhasil. Ini juga memudahkan saat berkampanye ke depan, tak lagi repot mencari dan dealing dengan influencer baru.

  1. Up to Date

Sejak adanya IG story, netijen banyak yang mulai meninggalkan postingan di feed. Laporan terkini bilang, Twitter sudah ditinggalkan. Youtube menjadi rising star. Dan ini terus menerus berfluktuasi. Belum lagi berkembangnya media sosial baru. Macam Yogrt yang berkembang di kalangan grass root millennials. Atau BBM yang rupanya masih menjadi medium bagi banyak Ibu-Ibu. LINE yang terus menawarkan layanan baru. Silakan pilih mana yang paling sesuai, bukan semata mana yang lagi ngetrend. Seru kan!


Semakin banyak anak-anak muda yang kalo ditanya cita-citanya ingin menjadi Vlogger. Ingin menjadi Celebgram. Semua cita-cita yang baik adalah mulia. Tapi ada baiknya tak hanya dibutakan untuk mendapatkan uang cepat. Ingat, BANYAK yang memiliki cita-cita serupa. Selain menemukan diri sendiri, bekali juga dengan kemampuan teknis yang mengiringinya. Belajar fotografi, belajar video, ngedit, dandan, fashion, menulis, banyak lagi yang pastinya akan selamanya berguna walau nantinya ganti cita-cita 🙂


NB: Penggunaan foto2 dagangan sendiri di tulisan ini mohon dianggap sebagai bukti penulis juga pengguna jasa influencer :)))