Manusia: Makhluk yang Takluk Pada Lubang

NIKMAT itu… ketika boker saat sedang kebelet-kebeletnya. “BRUAK!” Melegakan, dan tentu saja menyenangkan, bisa membebaskan perut dari beban muatan, sisa-sisa pencernaan.

Nikmat itu… ketika air putih sejuk mengucur ke tenggorokan setelah 15 menit berjalan kaki langsung di bawah teriknya matahari. Beberapa mililiter cairan bening tanpa rasa, warna, dan aroma itu menjadi penawar tiga kondisi sekaligus: panas, haus, dan kering.

Nikmat itu… ketika akhirnya bisa pipis juga setelah menahan cengkeraman kantung kemih gara-gara macet sejam lamanya. Apalagi kalau sambil berdiri tidak kebagian tempat duduk di dalam bus atau kereta dalam kota.

Nikmat itu… ketika bisa kentut dengan nyaman. Kentut dilepaskan secara alamiah, dengan tekanan dan bunyi yang apa adanya. Bebas. Lepas. Tanpa juga merasa terganggu dengan aroma yang menguar beberapa saat setelahnya. Tidak ditahan-tahan, karena kita sendirian, atau tidak ada orang asing di sekitar kita. Tidak pula dipaksakan, yang berarti kompartemen-kompartemen di dalam perut kita berfungsi sebagaimana mestinya. Toh, sepertinya tidak ada yang mau dapat “bonus” saat melakukan aktivitas yang satu ini.

Nikmat itu… ketika menyantap hidangan kesukaan. Cita rasa favorit yang selalu berhasil memunculkan perasaan menyenangkan, dikunyah dan dilumat sedemikian rupa, sebelum akhirnya ditelan dan meluncur ke dalam perut melalui kerongkongan. Tanpa tersedak. Tanpa terhambat.

Nikmat itu… ketika kita berserdawa, entah gara-gara kenyang, masuk angin, atau sekadar sensasi setelah minum minuman bersoda. Lagi-lagi, rasanya melegakan. Setelah gas yang berjejal menekan dinding saluran cerna berhasil dibebaskan. Lengkap dengan hawanya, aroma sisa santapan sebelumnya. Begitu pula yang terjadi ketika mabuk perjalanan, atau mabuk benaran. Kelegaan hadir setelah isi perut dimuntahkan semua. Termasuk angin, memuntahkan kehampaan.

Nikmat itu… ketika merasakan kelegaan setelah bersin dengan sempurna, atau saat menguap, memberi sinyal bahwa sedang mengantuk maupun bosan. Kedua aktivitas tersebut memang saling bertolak belakang. Yang satu berusaha untuk membersihkan, ada udara yang dikeluarkan cukup keras. Sedangkan yang satu lagi berusaha untuk mengumpulkan oksigen sebanyak-banyaknya.

Nikmat itu… ketika mengupil dan berhasil mengangkat kerak yang ada, yang bercokol di ceruk-ceruk misterius dalam rongga hidung. Belum lagi kalau ukurannya agak besar, berasa sangat sukses dan berhasil melakukan “penggalian harta karun”.

Nikmat itu… juga ketika berhasil mendorong ingus maupun lendir sejenisnya keluar melalui rongga hidung, dengan mengembuskan napas sekuat-kuatnya. Tak lupa pakai trik menutup salah satu lubang hidung dengan jari, biar “tembakan” udara bisa berkali lipat lebih kuat. Terbebas dari keadaan mampet.

Nikmat itu… khususnya bagi sebagian orang, adalah ketika berhasil mendahak. Terlebih saat sedang batuk atau sakit tenggorokan. Dahak yang menggantung di pangkal leher tentunya terasa menyebalkan. Begitu cairan tersebut berhasil dikeluarkan, langsung plong rasanya.

Nikmat itu… juga bagi sebagian orang, adalah ketika mengucek mata saat gatal-gatalnya. Kucek-kucek, kucek-kucek, bahkan terkadang sampai mengeluarkan suara “ck… ck… ck…” Menyenangkan rasanya, walaupun malah jadi iritasi sesudahnya.

Nikmat itu… ketika berhasil membersihkan tahi telinga dengan pengorek besi antikarat, mengeruk dan mengangkat lapisan serupa lilin yang memenuhi dinding rongga bagian luar. Adakalanya substansi itu telanjur mengeras, menjadi kerak yang mengganjal dan mengganggu pendengaran. Lagi-lagi, rasa plong adalah sensasi yang paling dinantikan. Ada pula yang menggemari sensasi geli, ketika membersihkan bagian terluar rongga telinga dengan tangkai berkapas. Balita dan anak kecil sekalipun.

Nikmat itu… ketika berhasil mengeluarkan sebum, lemak di kulit wajah yang menyebabkan komedo. Sama seperti jerawat, atau bisul, diupayakan sedemikian rupa sampai “matanya” keluar. Penyumbat pori-pori. Kadang kala berbentuk lonjong, berwarna kekuningan agak keruh. Seperti butiran beras berukuran sepersekiannya.

Nikmat itu… ketika berkeringat sejadi-jadinya saat berolahraga. Banyak yang justru merasa sangat tidak nyaman saat tak berkeringat dengan maksimal, hanya gara-gara berolahraga di ruangan berangin atau yang dipasangi pendingin udara. Makin banyak keringat yang dihasilkan, makin memuaskan rasanya. Setelah itu, mandi pun dilakukan dengan sedemikian rupa, biar bersih sebersih-bersihnya.

Nikmat itu… bagi orang-orang dengan geraham berlubang, adalah ketika berhasil mendongkel serpihan makanan yang tersangkut di gigi. Selalu ada kepuasan, tak peduli seberapa kecil dan sepelenya perasaan tersebut, setelah berhasil mengeluarkannya.

Nikmat itu… bagi sejumlah perempuan, adalah ketika mampu menyusui sang buah hati. Secara langsung, atau pun dipompa dan ditampung sebelumnya. Akan selalu terasa membahagiakan saat air susu tersedia dalam jumlah yang cukup, untuk menutrisi dan menjaga tumbuh kembang si kecil secara ekslusif.

Nikmat itu… ketika bersetubuh. Mencakup aktivitas yang paling apa adanya, naluriah, sekaligus menjadi sesi paling inti: penetrasi. Memunculkan dikotomi fungsi “dimasukkan” dan “dimasuki”. Sampai terjadinya ejakulasi sebagai sebuah konsekuensi pada laki-laki, atau adanya cairan yang memuncrat akibat kondisi fisiologis tertentu pada perempuan.

Persetubuhan itu dapat berujung pada kehamilan, munculnya kehidupan baru yang terus bertumbuh, hingga akhirnya siap dihadapkan pada dunia di luar kandungan ibunya. Apa pun metode persalinannya, sama-sama dikeluarkan melalui lubang.

Nikmat itu… ketika bebas menangis dan tertawa. Keduanya dilakukan melalui organ tubuh yang berbeda. Air mengalir dari pelupuk mata, sedangkan dari mulut keluar “hahaha…” bernada riang gembira.

Nikmat itu… ketika kita bisa bernapas dengan lancar. Menarik dan mengembuskan udara melalui hidung atau mulut. Terus dilakukan sampai kemudian tiba saatnya mesti berhenti.

Cobain aja…

Manusia ternyata lemah ya. Makhluk yang begitu bergantung pada lubang. Sejak dilahirkan (dikeluarkan melalui lubang), hingga akhirnya harus kembali dimasukkan ke lubang, saat sudah tak lagi bernyawa.

Sebenarnya, bukan cuma manusia. Hampir semua makhluk hidup di semesta ini membutuhkan lubang. Untuk bernapas, untuk makan, untuk membuang limbah sekresi, untuk bereproduksi, dan lain-lain. Semua dilakukan dan terjadi secara instingtif, sebagaimana adanya. Tetapi hanya manusia yang dapat menambahkan kesan “nikmat” di sana. Alih-alih alamiah, ada beberapa aktivitas melibatkan lubang yang terus dilakukan karena rasanya menyenangkan. Bisa sampai bosan.

Boleh saja dibilang: “Kan bukan lubangnya, tetapi aktivitas yang dilakukan dan zat yang melintasinya yang penting.” Akan tetapi tanpa keberadaan lubang, semua itu nyaris tak ada gunanya. Bayangkan saja bagaimana rasanya dibekap; atau penis tanpa lubang saluran uretra. Macam batang buta.

Itu sebabnya manusia benci kebuntuan.

Pasalnya, hanya Diogenes dari Sinope yang konon “sukses” menolak tunduk pada lubang. Dia adalah filsuf yang enggan bernapas, untuk kemudian meninggal karenanya. Ada pula para petapa Sadhu di bantaran Sungai Gangga, India, yang melakukan tapa menahan napas secara berkala. Sedangkan kita, mau tidak mau akan terus patuh pada ketentuan alamiah itu.

Demikianlah manusia. Fana, dengan ketergantungannya pada lubang, yang sejatinya hanyalah ruang tiada.

Sebuah kekosongan.

Jadi, ndak usah sombong.

[]

Advertisements

Melodrama Grammy 2018: DAMN, Magisnya Kilauan 24 Karat

Untuk generasi sekarang ini, tidak ada artis yang paling berbakat untuk kategori penyanyi laki-laki. Silakan sebut penyanyi (kulit hitam) yang bisa memainkan beberapa alat musik, bersuara bagus, dan bisa menari. Ada yang bisa menyebutkan selain Bruno Mars? Agak susah ya untuk zaman sekarang. Artis multi talenta sekarang agak susah dicari.

 

grammy2

Di gelaran Grammy Awards 2018 kemarin, Bruno Mars merebut enam Grammy yang sebetulnya bukan yang mengejutkan. Yang mengejutkan adalah Bruno Mars mendapatkannya di kategori paling bergengsi dan dia juga mengalahkan Kendrick Lamar, Jay-Z, Lorde, Childish Gambino. Tapi pertanyaan mendasarnya adalah: Layakkah Bruno Mars mendapatkan Album of the Year melalui album terakhirnya 24K Magic?

bruno

Album 24K adalah album R&B yang bagus. Radio dan televisi menyukainya. Restoran cepat saji pun banyak memutar lagu Versace On The Floor ataupun That’s What I Like. Album ini hanya mempunyai sembilan lagu tapi semuanya bagus, enak didengar dan mudah dicerna oleh semua kalangan. Millennials bisa menerima lagu ini. Untuk kalangan yang lebih tua pun bisa mengapresiasi. Karena ini album ini sangat kental dengan kandungan 90an. R&B di era 90an sangat meledak, dan sekarang Bruno Mars melalui produser ajaib bernama Mark Ronson berusaha membawa era kejayaan tersebut ke zaman sekarang. Album ini laris manis tapi tidak kacangan. Ada kualitas di dalamnya. Album R&B dengan balutan funk itu bukan album yang mudah diproduksi. Bruno Mars dan Mark Ronson berhasil meramunya. Coba dengar lagu Perm di album ini. Aroma James Brown sangat menyengat dari awal sampai akhir.

Tren memang selalu berulang. Awal tahun 2000an kita dihujani dengan musisi dan band yang sangat 80an. Sementara era sekarang adalah era 90an berjaya kembali. Buktinya saya kira banyak. Era musik noise, yang diprakarsai oleh Sonic Youth, sekarang banyak merambah di musik lokal. Sneakers pun sekarang dipenuhi oleh era 90an. Nike, Reebok, Puma dan banyak lagi merk yang menghidupkan era 90an dengan merilis kembali tipe-tipe dari era 90an. Nike Air Max dan Air Jordan adalah contoh nyata. Reebok edisi Kendrick adalah contoh lainnya.

lorde

Banyak kontroversi tentunya dibalik kemenangan Bruno Mars malam tadi. Kendrick Lamar dianggap lebih pantas mendapatkannya. 24K Magic itu rilis Oktober 2016. Ya saya setuju. Album Melodrama kepunyaan Lorde juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Tapi Grammy memang sudah seperti itu dari dulu. Mereka dihuni oleh sekelompok orang tua yang sudah kadaluarsa yang hidup di era Tony Bennett dan Frank Sinatra. Kalau mau protes sebetulnya kenapa Lorde tidak ditawari untuk manggung sebagai penyanyi solo. Albumnya diganjar Album Terbaik. Dia bisa berduet dengan Elton John di lagu Liability. Tapi Grammy lebih memilih Sting & Shaggy yang albumnya tidak mendapatkan nominasi satu pun. Sting sudah lama tidak membuat album bagus. Terakhir itu Mercury Falling di medio 90an.

But I guess that’s how the Grammy rolls. 

 

“Barangsiapa”: Sebuah Catatan Kecil Soal RUU KUHP yang Berpotensi Membuat Inflasi Hukum

Pidana itu bukan soal dana. Perdata pun. Dia bukan soal data.

Pidana adalah soal perbuatan apa saja yang menurut negara dilarang dan negara akan mengurusnya untuk warga. Secara sederhana: “Mengadulah pada negara jika ada yang membuatmu merasa tidak nyaman, tidak aman, dan merasa dirugikan”. Bedakan dengan urusan perdata, dimana kamu berurusan sesama warga tidak jauh dari urusan bisnis, janji, dan hal lain berkaitan dengan keluarga dan harta kekayaan. Jika ada masalah, silakan urus baik-baik. Negara tak ikut campur. Jika masih belum selesai, maka hadapilah di pengadilan. Dan pengadilan dalam hal ini bukanlah representasi negara. Bukan wakil negara.

Sejatinya Pidana itu soal rasa. Pidana itu tertib bersama. Ajaibnya lagi Pidana itu begitu penting, karena semua orang dewasa akan terlibat didalamnya. Barangsiapa. Siapapun Anda, tak peduli siapa anda, sepanjang memenuhi perbuatan yang dilarang, maka anda “seharusnya” dijerat hukum.

Adakah soal pidana yang paling utama?

Tentu saja soal hak azasi manusia. Sebuah hak universal yang berlaku dimanapun anda berada. Berhak untuk hidup. Berhak untuk memperjuangkan hidup. Berhak untuk mempertahankan hak-haknya.

Lantas bagaimana ceritanya sebuah ketentuan pidana yang sedang dirumuskan menjadi buah bibir. Niatnya baik, menyempurnakan Kitab Undang-undang Hukum Pidana yang sudah lapuk dan warisan penjajah. Ada baiknya diganti dengan beberapa alasan: 1) Karena kita sudah merdeka 2) Perlu disesuaikan dengan nafas dan semangat zaman.

Sayangnya atas hangatnya topik pembahasan RUU KUHP, beberapa ahli hukum terlalu semangat mengajak masyarakat untuk aktif berpartisipasi tanpa memberikan petunjuk bagaimana sebaiknya disikapi. Semuanya sibuk mencari dukungan, tanpa pernah mengalah sejenak untuk memberikan sebuah aturan pakai. Semua sibuk ngecap dan berjualan obat

Mari kita tengok Naskah Akademis dari Undang-Undang ini.  Secara singkat dapat dikatakan naskah akademis adalah gambar rancang bangun, atau bestek, atau corat-coret, atau sketsa mau dibikin seperti apa struktur bangunan yang akan dibikin. Naskah akademis utamanya berisi dasar filosofis, dasar sosiologis dan juga dasar hukumnya (yuridis). Orang hukum membayangkan Undang-undang sama halnya gedung. Ada pondasi, ada ruang, ada tiang, ada lantai, ada atap, ada tujuan gedung itu dibangun. Namun seuanya berwujud tak kasat mata. Sulit diraba hanya dirasa. Sebuah bangunan sosial. Bukan fisik.

Saya sempatkan membaca beberapa paragraf naskah akademis akan dibuatnya RUU KUHP ini. Respon singkat di awal membaca: saya mengucap syukur. Mengapa? Karena indah sekali bunyinya:

Dengan kata lain pembaharuan hukum pidana harus menjadi sarana untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. (halaman 162)

Kalimat pertamanya ndak kuku. “Sarana-melindungi-segenap-bangsa-Indonesia-dan-seluruh-tumpah-darah-indonesia”.

Jika itu yang benar-benar dikedepankan, kita tak perlu kuatir dengan keberlangsungan proses pembentukan RUU KUHP.  Jika amanah maka semua warga dijamin untuk terlindungi oleh negara. Negara akan melindungi korban perbuatan pidana, termasuk dalam hal ini mencakup pula korban “abuse of power”, yang harus memperoleh perlindunganberupa “access to justice and fair treatment, restitution, compensation and assistance”.

Salah satu peningkatan signifikan atas perkembangan hukum pidana di negeri ini adalah putusan Mahkamah Konstitusi soal Penghinaan kepada Presiden. Sekarang sudah menjadi delik aduan. Sehingga sepanjang Pak Presiden ndak masalah, maka warga dapat membuat lelucon soal dirinya tanpa takut tercyduk.

Permasalahan utama yang cukup besar saat ini adalah niat pembuat Undang-undang untuk mengumpulkan seluruh soal pidana dalam RUU KUHP ini agar menjadi satu kesatuan. Selama ini semakin berserakan di banyak ketentuan lain. Misal ketentuan soal korupsi dimana, psikotropika dimana, soal kejahatan dan kekerasan rumah tangga dimana. Pembuat undang-undang KUHP ingin mengumpulkannya dan menjadikannya induk.

Menurut saya: repot.

Biarkan banyak ketentuan pidana khusus lain masih hidup damai dengan UU lain. RUU KUHP harus dibuat dengan semangat blockchain kudunya. Tersebar tapi masih satu backbone. Pilinan dan jalinan ketentuan yang saling mengisi masih satu semangat antar ketentuan.

Banyak hal yang masih perlu diatur dan disesuaikan dengan semangat zaman. Soal kebebasan pers, Soal berita bohong, Soal tindak pidana ekonomi, Soal perlindungan Saksi, Bahkan jika perlu dan berani, tindak kejahatan yang dilakukan oleh aparatur pemerintah.

Perihal bumbu-bumbu desa mengenai LGBT, soal kontrasepsi, soal lain yang saat ini terus menjadi hangat, sebetulnya soal nomer delapan. Pembahasan utama tentunya soal apakah hukuman mati masih berlaku di negeri ini? Apakah arti kejahatan dan arti pelanggaran masih dibedakan seperti KUHP yang saat ini berlaku? Siapakah yang sudah mengumpulkan seluruh keputusan Mahkamah Konstitusi yang mengubah norma hukum di tengah jalan dan menjadi pijakan seluruh penegak hukum?

Inflasi ekonomi bisa menjalar menjadi inflasi hukum. Overcriminalization, ketika banyak ketentuan selalu obral larangan dan sanksi, yang ternyata penegakkan hukumnya ndak jelas. Atau malah kebalik, banyak hal belum jelas, tapi sudah diseret dan dilaporkan ke penegak hukum.

Pidana harus dikembalikan ke tempat paling mendasar, dan ditanya secara perlahan:

“Mengapa negara melarang perbuatan ini?”

“Apakah perbuatan ini meresahkan masyarakat?”

Juga sebaliknya atas norma pidana, perlu ditanya?

“Apakah pidana ini dibuat karena sesuai dengan anjuran agama tertentu?”

“apakah pidana ini telah melindungi seluruh warga negara?”

Empat pertanyaan awal yang menjadi pintu sorga pembuka diskusi, sebaiknya kita merancang bangun soal pidana ke depannya.

Pidana itu soal rasa malu, soal dijebloskannya seseorang ke ruang tahanan, bahkan soalnya hilangnya nyawa akibat hukuman mati.

Siapapun yang bermusyawarah merumuskannya, semoga berposisi sebagai manusia biasa, bukan wakil tuhan di dunia, bukan jelmaan malaikat, apalagi utusan negeri unta.

🙂

salam anget,

Roy

 

Akibat Terburuk Masyarakat Gampang Tersinggung

Seorang teman pengelola museum baru saja mengeluh dan kesal dengan kelakuan salah seorang pengunjung yang mengaku dirinya “orang penting”. Pasalnya, orang penting itu datang saat museum sudah ditutup tapi memaksa untuk tetap masuk. Setelah tawar menawar akhirnya diizinkan. Tak berhenti di situ, BELIAU memegang benda-benda seni yang dipajang. Saat ditegur, seperti sudah bisa diduga dia membentak balik pengawas “TERSERAH SAYA MAU PEGANG APA PUN!”

Hidup di negara, oh well, kota yang dipenuhi oleh warga yang ingin diperlakukan sebagai orang penting, membuat kejadian seperti ini menjadi lumrah. Di media sosial banyak disiarkan urusan orang-orang penting yang kelakuannya yagitudeh. Ada banyak cerita serupa dari teman-teman terutamanya yang sering mengadakan acara. Mulai dari permintaan jemputan, karcis masuk khusus, duduk di baris terdepan, sampai penundaan acara karena akan datang terlambat. Padahal, kalau benar penting tak perlu minta pasti diberi.

Setiap menyaksikan kejadian serupa di depan mata, di kepala saya selalu bertanya-tanya, apa yang telah dilakukannya sampai merasa berhak mendapat perlakuan spesial. Kalau benar diusut bisa dibagi dalam 3 alasan besar: tahta, harta dan permata. Ok, yang terakhir buatan saya sendiri untuk menggantikan wanita, daripada diserang feminis nazi. Istrinya siapa, anaknya siapa, orang tuanya siapa, bahkan kalo perlu tetangganya siapa. Seringnya juga, siapa-nya sendiri tak minta diperlakukan spesial.

Menulis soal ini, sebenarnya memuakkan. Karena merasa orang penting, tak bisa sedikit pun diusik. Nama keluarga. Agama. Ukuran badan. Tempat lahir. Usia. Orientasi seksual. Lokasi hunian. Tempat bekerja. Jabatan. Semua diharapkan untuk selalu dijunjung tinggi oleh orang lain. Merasa dilecehkan sedikit, langsung keluar tanduk. Senggol bacok.

Sialnya, banyak yang paham betul akan sifat ini dan kemudian memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi. Sengaja dibikin tersinggung supaya terjadi pertentangan. Dan setelah warga terpecah belah, maka akan muncul sang juru selamat yang seolah menyatukan semua. Menjadi pahlawan. Sayangnya, ini semua hanya di permukaan. Dalam hati sesungguhnya ya siapa yang tau.

Sifat ini juga yang belakangan bermunculan di media sosial. Ada kerugian besar yang sedang kita derita bersama: jarang sekali kita akan menemukan diskusi atau perbincangan yang bermanfaat. Diskusi baru akan terjadi kalau ada perbedaan. Ada friksi. Bukan untuk kemudian menyamakan, tapi untuk menambah pemahaman dan pengetahuan. Jangan membahas agama di meja makan, adalah petuah lama. Karena rupanya memang dari dulu, agama ini soal yang lebih sensitif dari G-spot. Seiring bertambahnya waktu semakin banyak hal yang sebaiknya tidak dibahas tak hanya di meja makan, tapi di mana-mana.

Soal politik apalagi. Lagi seru-serunya membaca perbincangan di Twitter, akan ada aja yang nyamber “ah itu kan karena lo kafir”. Yah, terpaksa terhenti deh. Atau lagi membahas soal diet, akan ada yang nyelutuk “lah yang gendut siapa?” LOH! Apakah orang tak berbadan ideal tak boleh membahas soal diet? Apakah seorang kafir tak boleh berpendapat soal politik? Apakah seorang gay tak boleh membahas soal membesarkan anak? Kalau memang dianggap pendapatnya tak mumpuni, silakan diberi pemahaman. Silakan sampaikan pengetahuan yang bisa memperkaya masing-masing.

Salah satu atau dua kalimat yang paling mematikan berkembangnya sebuah pemikiran adalah sanggahan-sanggahan macam “ya kan gak semua orang begitu” atau “ya itu kan subyektif”. Halllow, kalo sebuah pendapat harus didasarkan terlebih dahulu pada “semua orang begitu” tidak akan pernah ada yang namanya pendapat. Dan kalo ada pendapat yang bisa mewakili semua orang, bisa dipastikan bukan pendapat yang jujur. Kok judgemental gitu? Ya karena setiap orang punya hidupnya sendiri-sendiri, punya pemikiran dan perasaannya sendiri-sendiri, tidak ada yang sama. Maka semanusiawinya, pendapatnya akan berbeda.

Pendapat subyektif. Apa yang salah dengan menjadi subyektif? Malah pertanyaan yang lebih mengasyikkan untuk dibahas, apa benar ada pendapat yang benar obyektif? Jangan-jangan bukan obyektif, tapi dianggap obyektif hanya karena sesuai norma. Coba bayangkan kalo semua kolom penulis di berbagai media diharuskan untuk obyektif, mau baca apa? Tidak diizinkan menuliskan pandangan personal yang subyektif. Ucapkan selamat tinggal pada media-media pribadi. Dan yang paling menyedihkannya, ucapkan selamat tinggal pada keragaman.


Foto-foto di tulisan ini adalah karya Eddie Hara. Kenapa? Gak kenapa-kenapa… Adanya itu.

Cuma Sama Dia

Someone asked :

“Di mana tempat makan/restoran yang lo belum pernah ajak makan siapapun ke sana kecuali ‘seseorang’?”

Dan lagi-lagi wajah kamu langsung terbayang di otak saya sebagai ‘seseorang’ yang dituju.

Dari sekian tempat makan yang pernah kita singgahi bersama, saya malah menjawab warung tenda mie ayam di depan salah satu toko buku daerah Matraman, Jakarta.

Saya ingat ketika kamu berkata merindukan suasana makan mie ayam di pinggir jalan, duduk di bangku plastik, saos tomatnya yang merah nggak wajar, dan sebotol teh dingin. Sederhana.

Tapi saya lebih tidak bisa lupa berkali-kali usaha saya untuk membuatmu mewujudkannya. Mulai dari masalah waktu yang tidak kunjung ‘tepat’, kemalasan kamu untuk beranjak jauh-jauh dari kafe ber-AC dan sofa kesayangan kamu itu, sampai perdebatan transportasi menuju tempat itu – saya maunya jalan kaki atau naik angkot atau naik Transjakarta dan kamu maunya naik taksi atau bawa mobil, padahal jaraknya sangat amat dekat.

Sampai akhirnya hari itu tiba. Tiba-tiba kamu menjanjikan satu hari dengan pilihan kegiatan terserah saya dan hari itu khusus untuk saya. Ya walaupun ujung-ujungnya tetap setelah pulang kantor sih.

Film yang lagi ramai dibicarakan dan sempat kusebutkan ingin kutonton bersamamu harus mengalah oleh semangkuk mie ayam pesanan kamu. Buat saya, tidak masalah apapun yang kita lakukan untuk mengisi waktu luang asalkan dengan kamu. Yeah, I was that easy and cheap at the moment.

Saya berhasil membujuk kamu naik Transjakarta yang hanya berjarak satu halte itu. Berdiri pula. Bagi kebanyakan orang mungkin itu hal sepele, tapi bagi saya itu kepuasan tersendiri. Berhasil membujuk kamu meninggalkan kenyamanan kamu sesaat untuk bersama saya. Kemudian memesan makanan sederhana yang kamu idam-idamkan. Semuanya sesuai keinginan kamu.

Tau hal paling mewah yang pernah saya dapat dari kamu? Malam itu di balik kesederhanaan ‘kencan’ kita, saya melihat senyum kepuasan terpancar dari mata kamu. Ya, mata kamu. Sekilas saya yakin kalau kamu sangat terhibur dan melupakan tekanan yang sedang kamu alami di kantor. Itu sangat berharga buat saya. Karena cita-cita mulia saya saat itu adalah berhasil mengembalikan senyum di wajahmu yang sudah tertekuk beberapa lama akibat masalah pekerjaanmu.

Mungkin kita tidak jadi menonton film kartun ataupun komedi untuk menghilangkan stres kamu, sesuai permintaan kamu sebelumnya – iya, saya tau kamu bosan juga nonton program TV kabel berdua sama saya di apartemen, sementara saya tiduran aja. Tapi, rupanya pilihan saya malam itu berhasil menghiburmu.

Saya nggak tau siapa yang lebih beruntung malam itu. Saya atau kamu. Karena yang terjadi malah kamu juga mewujudkan permintaan saya yang bahkan sudah hampir saya lupakan, saking banyaknya rencana kita yang tidak terlaksana.

“Kalau sudah selesai makan, ayo kita lanjut jalan,” katanya spontan.

“Ha? Ngapain?”

“Bukannya kamu mau kita kencan di toko buku juga? Kan dari dulu kamu mau kita pergi ke toko buku sama-sama. Malam ini khusus untuk kamu.”

Saya tertegun. Tidak menyangka kamu masih mengingat permintaan saya yang waktu itu bercanda karena kita nggak tau tujuan bolos ngantor kita ke mana – yang akhirnya habis waktu di jalan karena macet kemudian memilih ke kafe langganan di apartemen.

Senyum saya tidak habis bertengger di wajah saya sepertinya malam itu. Jomplang-nya pilihan buku kita saat di meja kasir paket novel darimu untuk saya, punyamu majalah dan buku tentang keuangan.

Tapi, kesejukan di hati saya semakin sempurna saat saya mendapat pelajaran berharga di angkot malam itu. Ya, satu lagi kejutan. Kamu mau naik mikrolet dan apa yang kamu lakukan untuk supir angkot malam itu, sungguh mengajarkan saya arti memberi dan bersyukur.

Sisa malam itu masih panjang rupanya. Rutinitas kita yang seperti biasa – mampir ke kafe langganan, kembali ke apartemen, nonton program TV kabel sambil saya yang tiduran aja – berhasil membuat senyum permanen di wajah saya dalam tidur saya malam itu.

Malam sebelum kita harus berpisah untuk berkumpul bersama keluarga kita masing-masing dihari libur yang panjang itu. Dan tidak lupa, satu kencan lanjutan yang sudah kamu janjikan setelah kita sama-sama kembali ke Jakarta.

Satu pertanyaan iseng teman saya sore itu, berhasil membawa pikiran saya kembali ke kamu. Rindu itu masih ada. Saya harap kamu baik-baik saja di sana. Sehat selalu dan bahagia pastinya. Dan saat kita bertemu kembali nanti, saya tidak akan melihat duka di wajah kamu lagi ya.

“Jadi, di mana tempat makan/restoran yang lo belum pernah ajak makan siapapun ke sana kecuali ‘seseorang’?”

- Lou, Jakarta

Believe in Yourself

“The key of being succeed is to believe in yourself.”

Some people might say that I am a drama queen. Why? It is because I like to cry a lot in my room alone. I usually avoid people see me when I am crying. I have tried that one time.

I used to be a kid who does not care about people. But now, I care people a lot. I am too scared of people knowing me that I am having too much drama because the past that I have been through. And since my mom has passed away, I have got Post Traumatic Disorder. I got too much nerves facing people. I am afraid that I give too much burden for them.

I travel all around in Bandung, having chitchat with so many people, yet it does not really help to smile. I have tried this and that. I try to work in a band, still a boyfriend of mine cheated on me behind. I tried working on theatre and dance, but sometimes I wonder, “Does it help me to smile or laugh?”

Lately, one of my friend help me to join his drama with Sundanese Language. It is hard actually for me, because I am not a Sundanese. My dad comes from Berastagi. But, as an actor-wannabe, I give my best to act, so audience don’t see the real me.

I began writing since I got in my theatre. I tried to write a lot eventhough I don’t know what topic that I should write or how structure that I should use. I write my personal experience usually. And it motivates me like a lot to face people.

I like to write about people surrounding me so I could visualize something. Oh, Fyi, I am a visual learner. I like to learn visual things, such movies or read books. Well, I don’t really like read books actually, but I challenge myself to work on it. I give my best not to sleep while I am reading books. (lol).

Sometimes, I like to think alot. I like to think about something with people. And sometimes I wonder how I can rewrite or make a design for them. I wonder if I could put some colours for them so I could be satisfied.

Probably that is the way of me. Writing and make my imaginations become reality. I like it actually, but for now I like writing more and spend my time alone. I don’t have any specific reason behind, still I just do what I have to do and keep writing.

I write for myself, not for anyone. I write my experiences or story that I had in my mind. Technically, in Greeks it is called catarsis which means having emotional experiences to be out of mind, body, and soul.

Well, I like to think about my family. My dad always says, “Put your family first.” Well I care about them a lot. I love my dad very much. He is like a warrior for me. I do realize it now. He really cares about me and patient about what I am doing and what I will do in the future.

Sometimes I regret myself of hurting him in the past. I used to be that kid who likes to go everywhere I go, but not now anymore. I have to spend my time a lot with my family. Cause that is the one who can save me and protect when I am down. I should be thankful for that though.

People come and go. Sometimes, I like to sit by myself and having a coffee with a cigarette. Yes, people come and go no matter where they are. People are the creator as well. They like to make stories from their head into their mouth. And, that is the one that I should avoid.

“Believe in myself.” That is the key of getting succeed and get what I want. I should give my best and my all to not let the past happened again. This is my time to shine bright. I have been through the dark past and still looking for sunshine ahead. But now, I am not looking for now. I am looking for myself, cause by believing in myself, all dreams come true. Yes. just believe in yourself, and I still want to be shine like my brother and my dad.

#RekomendasiStreaming – Saluran Yang Menemani dan Mengedukasi Kita

Kalau biasanya tulisan #rekomendasistreaming mengulas tentang serial atau film yang tersedia di aplikasi video streaming, kali ini saya mengajak anda menelusuri satu channel di Youtube.
Channel ini bernama Film Companion.

Film Companion sebenarnya berawal dari media digital yang, seperti namanya, membahas soal film. Media ini didirikan oleh Anupama Chopra, satu dari sedikit jurnalis film perempuan di India, karena dia merasa perlu menyuarakan opininya tentang film secara independen.

Dari media digital, Film Companion berkembang menjadi Youtube channel yang menurut saya, respectable. Kenapa respectable? Karena hampir semua video di saluran ini kontennya dirancang dan dikurasi dengan baik. Teknik pengambilan gambarnya nyaman dilihat di layar kecil. Konten, baik itu berupa wawancara atau ulasan, selalu disampaikan straight to the point.

Tentu saja, karena saluran ini berasal dari Mumbai, India, kebanyakan membahas tentang film Hindi, dan film-film regional dengan bahasa lokal di India. Toh semuanya dilakukan dalam bahasa Inggris, sehingga kita pun bisa menikmati.

Kadang-kadang memang ada interview dengan aktor, aktris, sutradara Hollywood yang sedang melakukan kunjungan promosi ke India, atau saat tim Film Companion pergi ke festival-festival film di luar India. Namun yang menarik memang saat kita bisa tahu lebih dalam seluk beluk cara kerja perfilman di India. Ini membuat video-video yang di-upload seputar ulasan atau wawancara tentang film-film terbaru dari India selalu enak ditonton.

Dari sekian banyak tema yang sudah dibuat oleh tim Film Companion, ada satu jenis tema yang paling menarik minat saya.
Tim Film Companion membuat rangkaian video dengan judul Cheat Sheet. Cheat Sheet ini mengajak kita untuk melihat sisi lain dari pembuatan film yang mungkin sebagian besar dari kita belum familiar.

Seperti misalnya proses di balik sulih suara atau dubbing sebuah film:

Atau tentang proses pembuatan musik yang menjadi latar belakang adegan, sekaligus mengisi adegan tertentu dengan musik tersebut:

Demikian pula tentang seluk-beluk membuat prosthetic make-up atau dandanan khusus yang menciptakan efek tertentu, seperti muka orang yang terpukul atau mengalami kecelakaan:

Sampai ke cara bagaimana proyektor film bioskop bekerja sampai kita menonton film tersebut di layar lebar:

Dan yang jadi favorit saya adalah tentang mengurus katering makanan untuk seluruh anggota kru produksi waktu syuting film!

Seru ‘kan?

Lebih seru lagi kalau mau ada yang membuat contekannya versi lokal, karena mengintip “isi dapur” sama serunya dengan menonton dan menikmati hasil akhirnya.

So yes, somebody out there, steal these ideas!

Selamat menonton.

“Maunya Apa Sih?”

SIGNIFIKANSI; perasaan (atau merasa sebagai seseorang yang) penting. Inilah salah satu candu paling kuat bagi umat manusia di mana saja. Sangat menggoda dan memikat dalam bentuk naluri eksistensi, penuh ilusi dan muslihat, terlampau halus untuk disadari dan ditolak, hingga nyaris mustahil untuk membebaskan diri dari jeratannya sampai dibawa mati. Termasuk oleh saya sendiri, saat menulis ini.

Tidak hanya terbatas pada hal-hal kebendaan dan kepemilikan, dahaga signifikansi atau haus akan sensasi yang muncul ketika merasa diri ini penting memiliki banyak lapisan dan dimensi. Dimulai dari yang paling sederhana.


  • Signifikansi Material & Status

Pernah merasa senang setelah mendapatkan atau memiliki sesuatu?
Pernah merasa senang setelah ada seseorang, atau banyak orang yang noticed bahwa kamu memiliki sesuatu tersebut? Apalagi jika sampai berbuah pujian dan decak kagum dari mereka.
Pernah berpikir bahwa sesuatu yang kamu dapatkan atau miliki bisa meningkatkan derajat dan indikator penilaian tertentu?

Sering berambisi kuat, bahkan sampai posesif ingin mendapatkan atau memiliki sesuatu? Saking kuatnya, sampai tidak menyadari adanya perubahan pada diri dan sikap. Saking kuatnya, sampai kegagalan mendapatkan atau memiliki sesuatu tersebut terasa bak kiamat.

Itulah sedikit gambaran mengenai signifikansi material, yang mencakup banyak hal konkret, bisa dipegang, bisa dikumpulkan, bisa diukur, dan bisa dinilai. Mulai dari harta, mencakup uang dan sejenisnya, rumah dan properti yang bukan sekadar tempat tinggal, mobil dan jenis kendaraan lain yang bukan sekadar alat transportasi, wajah yang rupawan, tubuh dan bagian-bagiannya yang indah, pacar cakep dan seksi atau partner pernikahan yang bukan sekadar kekasih, anak-anak, institusi aneka sektor dan organisasi dalam ukuran jumlah, bersekolah atau berkuliah di almamater tertentu hingga lulus, dan semacamnya.

Berlanjut ke status atau gelar yang diperoleh berbarengan dengan kepemilikan material. Misalnya: orang kaya, sarjana, peraih beasiswa, orang pintar, anak muda berprestasi, calon menantu harapan mertua, wanita tercantik dan terseksi, mantan terindah, alumni terbaik, pembicara terpopuler, artis terkondang, orang tua idaman, pacar ideal, anak muda kekinian atau kids jaman now, panutan, role model, jenius, dan sebagainya.

Kemahiran atau keahlian juga bisa mendorong seseorang mengalami dahaga signifikansi ini. Merasa sudah bisa sejak lama, memiliki jam terbang yang lebih tinggi, dan lebih berpengalaman membuat diri ini seolah lebih ahli. Akhirnya mencari perang tanding. Banyak contoh bidangnya. Salah satu yang sedang panas-panasnya sekarang: Barista dan seni menyeduh kopi.

Dari sini, beranjak ke jenis-jenis dahaga signifikansi lain yang kian sukar dikelompokkan sebagai sesuatu yang baik atau buruk dalam kehidupan manusia itu sendiri.


  • Signifikansi Religius

Kurang pas kalau menggunakan kata “spiritual” atau “transendental”, karena dahaga signifikansi ini melekat pada agama, lembaga yang diciptakan melalui kesepakatan manusia sendiri. Sementara spiritualitas maupun keadaan transendental tidak seterkungkung itu.

Sederhananya, seseorang bisa merasa dirinya menjadi signifikan karena menganut dan menjalankan agamanya sendiri. Sedangkan para spiritualis sejati cenderung hening, menghindari kebisingan penuh omong kosong, dan tetap memiliki kedekatan khusus dengan Sang Mahapencipta tanpa gangguan dan intervensi dari luar. Tidak pula memamerkannya. Tidak mengumbar apa yang telah dialami dan sedang dimilikinya, serta menjawab pertanyaan secukupnya.


  • Signifikansi Moral Sosial/Etis

Lantaran satu dan lain hal, termasuk signifikansi religius di atas, seseorang merasa dirinya signifikan secara moralitas terutama dalam menjalani kehidupan bersama orang lain. Sederhananya, “aku lebih bermoral!”

Karena merasa sebagai seseorang yang agamis, ia menganggap dirinya lebih baik dan memiliki moralitas yang lebih terpuji dibanding orang lain. Kepatuhan atau kesalihan yang memperdaya diri sendiri.

Selain kaidah agama, ada berbagai sudut pandang lain yang bisa membengkakkan ego seseorang. Pandangan-pandangan humanistik semisal feminisme, kepatutan sosial, tata krama, etiket maupun etika, dan masih banyak lagi. Contohnya, perselisihan antara para Social Justice Warrior (SJW) dan para non-SJW, maupun seteru digital antara HD dan rekan-rekan versus AD dan rekan-rekan. Dalam hal ini, saya tidak kenal keduanya.

Katakanlah HD adalah pihak yang memperkarakan, dan AD adalah pihak yang diperkarakan setelah melakukan sejumlah kesalahan.

Silang pendapat terus terjadi, serangan dan tangkisan sama-sama digencarkan oleh mereka berdua. Ditambah lagi dengan beragam ocehan; yang mendukung salah satu, yang menolak salah satu, pihak ketiga yang terlibat menjadi korban kesalahan, serta yang mengecam blunder kedua pihak.

Kita singkirkan yang lain-lainnya, dan sisakan mereka berdua. Sekarang, manakah di antara mereka yang sedang mengalami dahaga signifikansi di saat ini?

Saya tentu saja tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya, oleh karena itu hanya bisa menduga. Apabila AD memang melakukan kesalahan di masa lalu, boleh jadi kesalahan itu dilakukan sebagai bentuk pemenuhan dahaga signifikansi. Seksual, jika bisa diasumsikan demikian. Sejurus dengan itu, HD lalu mengemuka dengan segala beberan. Seolah ingin menelanjangi AD dari segala pencitraan positif-humanistisnya, dan hanya menyisakan kesalahan-kesalahannya di masa lalu. Sayangnya, tidak semua beberan itu nyambung dengan kesalahan yang tengah dibahas, sehingga menyebabkan potensi konflik baru. Melebar ke mana-mana.

Keriuhan terus terjadi, bahkan sampai detik ini (Sabtu siang). Mudah-mudahan tidak ada yang harus mati, dan bikin pengin bertanya: “Maunya apa sih?” Bisakah segera diselesaikan saja?

Hanya saja, kembali lagi, demi mengejar pemuasan dahaga signifikansi tadi, semua ini terus terjadi. Siapa yang tidak ngembang dadanya, begitu tahu mendapat dukungan dan dielu-elukan orang lain.

Jangan khawatir, saya juga pernah merasakannya, kok. Meskipun dalam skala yang jauh lebih kecil.

Untungnya perkara ini konon sudah selesai. Terserah seperti apa penyelesaiannya.

  •  Signifikansi Emosional

Pernah melihat pertengkaran dua balita? Ketika balita A dibuat menangis oleh balita B, tak lama kemudian balita B pun ikut-ikutan menangis. Padahal balita B berada di posisi “menang”, mendapatkan yang diinginkan. Seharusnya menjadi balita yang gembira dan tertawa-tawa, bukan malah sebaliknya. Entah apa pun alasan atau pendorongnya.

Tanpa disadari, banyak dari kita yang meneruskan perilaku ini sampai dewasa. Bahkan terpatri dalam budaya. Sederhananya, dengan menjadi penanggung derita emosional, atau menjadi yang tersakiti, seseorang merasa mendapatkan privilese atau hak istimewa untuk dinyamankan dan diprioritaskan. Ini memunculkan banyak orang yang gemar buang bodi, melempar kesalahan, mencari-cari alasan, dan melampiaskan ketidaknyamanan.

Contohnya tergambarkan pada ungkapan: “Doa orang teraniaya pasti akan didengar” yang diucapkan secara serampangan.

Mengapa serampangan? Coba dibedah dengan pertanyaan-pertanyaan berikut.

Siapa yang menganiaya, dan yang teraniaya?
Apa yang menyebabkan si teraniaya merasa dianiaya?
Apa yang menyebabkan si penganiaya melakukan penganiayaan?
Bagaimana bentuk penganiayaannya? Kekejaman secara langsung, atau berupa hukuman?

Akan selalu ada masanya, ketika seseorang memang harus menangis karena perasaan tidak nyaman, bukan untuk memanipulasi perasaan kasihan, bukan pula untuk berburu menjadi “yang lebih signifikan”.

Kemampuan menerima konsekuensi bukanlah upaya menumpulkan mekanisme pertahanan naluriah, melainkan ciri khas manusia seutuhnya.


  • Signifikansi Rasa

Yang paling ambigu dalam merasakan sesuatu adalah… rasa itu sendiri. Perlu rasa untuk bisa merasakan sesuatu. Hasil dari perasaan itu juga akan berupa rasa. Ini merupakan salah satu labirin pelik jiwa yang bisa bikin gila… (ehm, gangguan kejiwaan, menurut orang-orang yang memiliki dahaga signifikansi etis).

Sederhananya, setiap rasa setara. Ketika seseorang merasa rasa/apresiasi rasa yang dimilikinya lebih luhur dibanding rasa/apresiasi rasa milik orang lain, itulah dahaga signifikansi rasa. Ambil contohnya, persepsi pada warna. Setiap orang memiliki preferensi khusus terhadap masing-masing warna. Sekhusus apa? Ya pokoknya khusus saja, dan hanya bisa dirasakan oleh yang bersangkutan. Maka, bagaimana bisa seseorang menyebut bahwa persepsi visual personalnya terhadap suatu warna membuatnya lebih penting dibanding persepsi visual personal orang lain?

Sebagai kompensasi, manusia pun mulai melekati warna dengan identitas budaya. Jalan pintas untuk memanipulasi demi signifikansi. Ada yang menganggap warna kuning sebagai rona suci, emas, keagungan raja dan tidak boleh dikenakan rakyat jelata, tapi ada juga yang menyebut kuning adalah warnanya tahi. Memang kuning adanya. Kasus yang sama pada putih, hitam, merah, hijau, dan lainnya. Padahal semua sama-sama merupakan spektrum cahaya, sekalipun yang tak kasatmata.


  • Signifikansi Rasional

Artikel ini bisa jadi salah satu contohnya.

Sejumlah pemikiran, pertimbangan, dan pandangan yang dituangkan di sini, berpotensi membuat saya merasa punya sudut pandang khusus atau point of view yang signifikan. Manakala ada komentar atau pendapat yang setuju dan mendukung tulisan ini, demikianlah dahaga signifikansi yang saya miliki.

Satu-satunya cara agar dahaga signifikansi tersebut tidak mendominasi alam pikiran saya, tulisan ini tidak akan dilekati embel-embel polaritas (benar atau salah). Bisa saja benar; bisa juga salah; bisa saja tidak benar tetapi tidak juga salah; bisa juga tidak salah tetapi juga tidak benar. Biarlah paradoks ini melayang-layang di pikiran saya, dan silakan simpan penilaian positif dalam pikiran masing-masing. Justru akan lebih baik jika ada penilaian negatif atau yang bertentangan disampaikan. Agar men-challenge dahaga signifikansi rasional yang bercokol dalam benak saya, selaku si penyampai konsep. Si pembicara.

Apa sih yang membuat kita merasa sebegitu penting?

Sebegitu pentingnya kah kita?

[]

Protect Me From What I Want

Dulu kalo kita jalan-jalan ke tempat perbelanjaan ke mal. Terkadang kita pulang membawa gembolan. Iya belanjaan. Padahal awalnya tidak ada rencana untuk belanja. Tetapi ketika sampai di rumah ternyata yang kita beli itu tidak begitu kita perlukan. Bahkan mungkin kita telah punya beberapa barang yang sama. Jangan salah. Laki-laki kalau belanja bisa lebih kalap dan lama dari perempuan.

impulsif4.jpg

Godaan ini sekarang semakin berat karena sekarang kita bisa belanja melalui telepon genggam. Atau dari komputer. Di semua toko di seluruh dunia. Semua orang yang mempunyai koneksi internet dan mempunyai uang tentunya bisa melakukan ini di atas kasur. Sambil nonton televisi. Atau mungkin di kedai kopi. Hanya hitungan menit maka barang yang anda idamkan bisa dipesan dan dikirim keesokan harinya. Tetapi yang menjadi permasalahan adalah apakah kita betul-betul membutuhkannya? Atau sekedar pengen aja? Atau lucu-lucuan? Ikut tren? Keseret arus? Atau sensasi menunggu kurir yang datang mengantarkan pesanan anda?

impulsif.jpg

Saya pernah ada di posisi ini. Senang sekali belanja online. Lokal atau pun internasional. Tidak pernah yang mahal-mahal. Karena selain keuangan terbatas juga tapi lebih ke penasaran. Terkadang pernah membeli sebuah barang sehingga ketika barang sampai di tangan sensasi itu hilang. Barang yang kita tunggu itu sekarang tersimpan saja di sudut ruangan. Di situ saya mulai berpikir. Oh, ternyata saya tidak begitu memerlukan barang yang saya beli.

impulsif2.jpg

Sekarang, jika saya tak sengaja menemukan barang yang akan ditemukan. Saya selalu berusaha untuk berfikir jernih. Tidak impulsif. Saya coba tunggu satu minggu. Jika saya masih menginginkannya berarti memang saya mungkin membutuhkannya. Tapi rata-rata setelah seminggu menunggu, keinginan untuk membeli itu hilang. Oh. Ternyata saya hanya lapar mata. Karena ada bujukan syaiton bernama “sale up to” dan “harga hanya berlaku hingga pukul” itu bisa membuat dorongan belanja makin tinggi. Jangan tergoda. Barang yang anda beli tidak akan menjadi lebih mahal koq. Apalagi jika elektronik. Pasti harganya turun. Karena ada model yang lebih baru. Selalu begitu. Jikapun memang harus belanja. Sebaiknya barang tersebut memiliki harga jual yang tetap tinggi apabila kita sudah tidak memerlukannya. Jika kita bisa menjualnya dengan harga yang lebih tinggi lagi. Itu lebih bagus dan itu namanya investasi.

Iya gak sih?

Crazy Little Thing Called Love!

Pernah nonton film Thailand berjudul Crazy Little Thing Called Love? Film yang tayang tahun 2010 ini sangat populer di negaranya dan cukup populer di Indonesia. Diperankan oleh dua aktor muda ternama yaitu Mario Maurer dan Baifern, film ini laris manis dan membuat siapapun yang membacanya senyum-senyum sendiri (karena kalian pasti pernah merasakannya!).

Tentang seorang cewek yang “biasa saja” yang berteman dengan tiga orang temannya yang juga “biasa saja” sejak kecil. Kehadiran mereka tidak terlalu berarti di sekolah ini sampai akhirnya sang pemeran utama, Nam, menyukai seniornya yang bernama Shone.

Di film ini di perlihatkan bagaimana cinta bisa mengubah seseorang untuk menjadi lebih baik, bagaimana cinta bisa menjadi alasan untuk Nam merubah dirinya yang “biasa saja” agar dilihat oleh Shone.

Shone adalah cowok yang sangat populer di sekolahnya, jagoan dalam bermain bola, dan di idolakan oleh cewek-cewek. Nam hanya menyukainya dari jauh sampai akhirnya dengan dibantu tiga sahabatnya, Nam pelan-pelan mulai berubah.

Berubahnya Nam juga di dasari dengan Nam yang diperbolehkan pergi ke Amerika menjenguk Ayahnya yang tinggal disana jika dia mendapatkan urutan pertama di kelulusannya nanti.

Pertama kali saya menonton film itu di salah satu stasiun TV pada malam hari. Tapi karena tayang di TV, film yang tadinya dua jam bisa jadi satu jam saja karena lebih banyak dipotongnya. Cerita jadi tidak jelas dan tidak bisa mengikuti dengan baik bagaimana alurnya. Saya jadi bingung sendiri, akhirnya saya memutuskan untuk mencari filmnya…. dan saya langsung menyukainya!!

7 tahun lalu saya juga masih duduk di bangku SMA, semua scene Nam di film ini membuat saya teringat saat saya naksir dengan senior yang cukup populer di sekolah. Saya tidak tahu bagaimana agar saya bisa berkenalan dengannya, tapi saat saya tahu dia masuk jurusan IPA, anak osis dengan jabatan tinggi, saya langsung mencoba bagaimana untuk “terlihat pintar” juga sama seperti Nam. Saya ingin terlihat olehnya. Saya daftar ke osis walau sebenarnya saya tidak terlalu suka masuk dalam organisasi, saya belajar dengan giat, saya mencari segala cara agar saya bisa berteman atau paling tidak berkenalan!

Di film di perlihatkan bagaimana bahagianya Nam saat Shone menolongnya dari anak senior pemain basket dan terlebih bahagia saat mengetahui Shone tahu namanya. Di scene tersebut saya juga ikut gembira. WOW COWOK ITU TAHU NAMANYA. Sama seperti saya saat akhirnya saya mengenal kakak kelas ipa saya itu!!

Saat ketiga sahabatnya menemukan buku bagaimana cara menarik perhatian senior (yang ini sanggup membuat saya tertawa, siapa yang membuat buku seperti itu?? Apa benar memang ada bukunya? Apa ada cara tersendiri untuk menarik perhatian senior??), Nam pura-pura acuh dan tidak mau membaca, walau akhirnya dia mengikuti semua metodenya.

Di film, Nam yang diceritakan berkulit sawo matang, mencari segala pengobatan agar kulitnya bisa sedikit cerah (padahal kulit sawo matang pun bisa terlihat cantik kalau dirawat). Nam melakukan segala cara, bahkan saat dia dipilih untuk ikut kelas drama dia yang tadinya menolak jadi menerimanya karena ada Shone membantu disana.

Nam memperlihatkan bagaimana dirinya benar-benar berjuang untuk bisa mendapatkan perhatian dari cowok pujaannya itu. Bagaimana cinta bisa membuat Nam bahagia dengan melakukan apapun untuk membuat dirinya sendiri menarik. Ketika Nam sudah menjadi cantik, karena keteledoran salah satu gurunya dia dipilih menjadi mayoret untuk drumband di sekolahnya. Nam merasakan tugas itu amat berat dan dia tidak kuat, tapi lagi-lagi atas nama cinta dan bantuan tidak langsung dari Shone, Nam bisa melaluinya. Shone memperlihatkan ke Nam kalau cowok itu saja bisa melalui traumanya, kenapa Nam tidak bisa?

Dan saat Nam sudah menjadi cewek paling populer, anak baru datang yang ternyata adalah teman kecil Shone. Cowok itu (namanya Top) menyukai Nam sejak pandangan pertama dan langsung mendekati Nam. Dan jahatnya Nam, (sepertinya Nam juga tidak sadar kalau dia jahat), dia menggubris pendekatan yang dilakukan oleh Top yang membuat dirinya selalu ikut Shone cs untuk berkumpul, dan membuat dirinya mendapat kesempatan untuk dekat dengan Shone.

Apa kalian, cewek-cewek pernah melakukan ini? Saya yakin 70% cewek pernah melakukannya. Saat kita menyukai si A, tetapi malah si B yang pendekatan ke kita, lalu kita memanfaatkan itu untuk dekat dengan si A. Perempuan akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia mau bukan? Bahkan terkadang dengan cara yang menyakiti orang lain.

Nam dijauhi oleh ketiga sahabatnya karena melupakan mereka sejak dekat dengan Shone cs, lalu ada suatu kejadian yang akhirnya membuat Nam jujur kepada Top, lalu Top berkata pada Shone untuk jangan pernah menjalin hubungan dengan Nam karena dia merasa sangat sakit hati.

Waktu saya menonton pertama kali, saya merasa sedih saat di adegan tersebut. HEII KALIAN KAYAK CEWEK SAJA MELARANG MANTANNYA ATAU GBTANNYA DEKAT DENGAN SAHABAT SENDIRI. Saya sedih dan cemas bagaimana akhir dari cerita ini. Nam sudah berjuang untuk merubah dirinya, untuk menjadi lebih baik, semua dilakukan Nam atas nama cinta yang begitu menyentuh!

Saat mendekati hari kelulusan Nam sudah berbaikan dengan ketiga sahabatnya dan mendapat nilai terbaik, Nam berhasil untuk pergi ke Amerika! Lalu bagaimana dengan Shone? Hal itu membuat Nam akhirnya melakukan apa yang cewek-cewek kita masih tabu mau melakukannya, yaitu menyatakan perasaannya terlebih dahulu. (Disini saya sangat salut dengan Nam karena di akhir perjuangannya, di akhir kerja kerasnya merubah dirinya, dia akhirnya berani jujur atas perasaannya sendiri. Ini juga mengajarkan saya bagaimana kita perempuan untuk jangan pernah malu mengungkapkan apa yang sejujurnya kita rasakan. Perempuan juga berhak berbicara).

Walau hasil dari pengakuan Nam itu adalah sad ending karena Shone sudah bersama cewek lain… scene selanjutnya memperlihatkan bahwa Shone akan masuk ke dalam pelatihan tim sepak bola nasional dan membuat dirinya harus cepat berangkat untuk pelatihan… dan scene ini adalah scene yang membuat saya terharu biru karena ternyata selama ini Shone sudah memperhatikan Nam jauh sebelum cewek itu mulai berubah.

Shone selama ini membuat scrapbook yang bercerita tentang Nam dengan foto-foto dan tulisan di bawahnya yang menjelaskan kejadian di foto tersebut. Shone juga menceritakan bagaimana sedihnya dia saat Nam dekat dengan sahabatnya …. scrapbook itu akhirnya Shone tinggalkan di depan pintu rumah Nam. (Yang masih saya sesali tidak ada scene yang memperlihatkan Nam saat membukanya huhu).

Saya berterima kasih pada sutradaranya karena akhirnya mereka happy ending. Nam dan Shone bertemu lagi saat mereka sudah dewasa di suatu acara, dan satu hal yang langsung Nam tanyakan adalah, “Apakah Shone sudah menikah?” yang langsung dijawab oleh Shone, “Saya menunggu seseorang kembali dari Amerika…”

Apa kalian sudah membacanya? Apa merasakan apa yang saya rasakan? Saya merasa nostalgia setiap saya menonton film itu. Teringat akan hal-hal di jaman SMA yang saya lakukan untuk menarik perhatian senior yang saya sukai. Nam mengajarkan saya bagaimana cinta bisa membuat anda melakukan hal yang tidak pernah anda lakukan, cinta bisa membuat anda mengalahkan rasa takut, cinta bisa membuat anda bekerja keras dan berjuang untuk mendapatkan apa yang anda inginkan, Nam memperlihatkan bahwa it is okay untuk menyatakan perasaan lebih dulu, dan Nam selalu menggunakan cinta untuk melakukan hal baik.

Apa selama ini kalian menggunakan cinta untuk hal-hal baik? Tontonlah film ini, dan kalian pasti tersentuh dengan perjuangan Nam dan bisa lebih menghargai arti dari cinta itu sendiri.

khotbah jumat dengan huruf kecil

manusia itu ada dan mewaktu. ini wujud dari empat dimensi. ada fisik berupa rupa serta hadir. maka ketika lewat internet manusia saling kenal. keempatnya juga tak absen. hadir dan ada saat ini.

penyesalan ada di akhir. jika di awal namanya pendaftaran. demikian juga menghakimi. atau lebih ringan kadarnya adalah evaluasi yang dilakukan “setelah terjadi”. maka manusia menjadi wajar untuk menilai masa lalu. walaupun menilai masa lalu adalah manusia yang mempermasalahkan kehadiran namun tak memenuhi syarat mewaktu. karena apa yg dipermasalahkan adalah sebuah kehadiran seseorang di masa lalu.

menilai. mengevaluasi sejatinya adalah konsep penghakiman. seperti tuhan yang menghakimi apa yang kita lakukan di saat hidup. karena secara jelas telah dijelaskan perintah dan larangannya kepada setiap warga tuhan. sebuah konsekuensi dari keyakinan yang kita pilih sendiri.

begitupun dalam ruang lingkup sebagai warga negara. seorang maling jemuran ketangkap basah sedang mencuri bra anak kos. hukumannya bisa digebuki orang sekampung atau digelandang hansip menuju kantor polisi. perbuatan mencuri jelas dilarang dan telah diketahui semua warga negara.

lantas bagaimana sepasang kekasih yang ketahuan berbuat salah? tentu juga ada hukumannya. Misalnya ketahuan selingkuh saat mereka dalam status pacaran. tentu ada akibatnya.

bagaimana dengan kekasih yang mengaku masa lalunya buruk, sedangkan hubungan mereka baik-baik saja saat ini? penghakiman pun dapat dilakukan. apakah kehadiran saat ini masih melakukan hal yang sama?

keputusan ada di pihak pasangan: masihkah mau menerima walau masa lalunya tak benar atau tak baik? tetap terus jalani kehidupan ke depan dengan janji tak mengulangi? hukuman hasil dari penghakiman dapat juga berupa minta putus. walaupun itu akibat masa lalu dimana kekasih saat ini waktu itu tak hadir (karena memang belum kenal).

bahkan menghakimi masa depan pun dapat dilakukan. walaupun sejatinya sebuah perbuatan yang sia-sia. sebuah sikap sok tau dan melawan nasib.

begitu pun kita. penghakiman bisa dilakukan dengan banyak cara.

ketika pertemuan fisik adalah sesuatu yang dominan, maka buang muka, menolak salaman, putar arah saat akan berpapasan, merupakan salah satu bentuk hukuman pribadi dengan ukuran minor.

hal ini dapat menjelma tak menjawab whatsapp, tak mau angkat telpon, blok akun, blokir nomer hape, unfollow dan unfriend, left group, dan hal lumrah lainnya di era digital.

perbedaannya hanya pada cara menghukum. karena saat ini, kehadiran tak perlu secara fisik. kehadiran ada di benak dan rasa di hati. mewaktu. sama sama hadir di saat yang sama walau tak hadir fisik.

maka, menjadi sebuah kelemahan bagi orang yang hadir di benak dan hati banyak orang walau hanya melalui media. mereka paling banyak berpotensi dihakimi. citra mereka dibentuk dan ditafsirkan di masing-masing benak, walaupun kenal pun tidak. bertemu fisik pun tak pernah.

misal lala marion dan jodi indonesia idol yang saat ini naik daun. dihakimi secara sepihak hanya karena si hakim-hakim ini menonton via internet, mendengar informasi via wa grup, atau retweet seseorang, atau seperti misalnya penghakiman kepada arman dhani karena tweet seseorang.

hukumannya pun bermacam-macam. dari mention menghujat, komentar via instagram, atau obrolan kecil di saat jam makan siang untuk mencibir mereka.

karena manusia pada dasarnya memiliki panca indera untuk merespon hal-hal di luar tubuh dan jiwa sendiri. mata, jempol, telinga, hidung, tangan, kaki, dan organ tubuh lainnya yang bersentuhan dengan “yang lain-di luar tubuh kita”, maka kita akan secara alami didominasi dengan merespon hal di luar kita.

sedangkan respon terhadap diri pribadi begitu jarang sekali, kecuali saat ada gangguan atau sedang iseng magabut. bentuknya bisa mencret, batuk, ndak bisa tidur, sedih atau hal lainnya yang disikapi atau dihakimi dengan minum obat, curhat, leyeh-leyeh atau menangis, juga main game.

mata kita sibuk melihat ke depan di luar tubuh. sedangkan mata hati kita entah kapan akan digunakan. tangan kita jarang menyentuh diri sendiri kecuali yang gemar masturbasi. telinga kita hanya mendengar bunyi tapi jarang memerhatikan sunyi hati. kaki kita sibuk melangkah dan mengenakan sepatu dan tak pernah menendang kerisauan dan gundah gulana yang sedang dialami.

ada salah satu cara biar kita obyektif untuk bisa menghakimi diri sendiri.

cari belahan jiwa kita. ndak mesti berupa pasangan. bisa teman dekat, bbf, atau solmet.

tanyakan belahan jiwa dan memintanya menilai kita dengan tulus. biarkan dia menilai kita.

apakah mulut kita telah mengucap hal yang membawa pesan damai atau penuh emosi jiwa berapi-api selama ini. apakah mata kita dipergunakan untuk melihat lawan jenis atau sesama jenis yang ranum secara tampilan fisik, atau sibuk melihat pasangan dan memujinya agar ia bahagia. apakah kaki kita dipergunakan untuk melangkah ke arah yang baik ataukah tetap berlarian di antara tepian jurang dan memasuki daerah yang penuh bahaya. apakah tangan kita dan dada kita untuk memeluk penuh cinta kasih atau sibuk dipergunakan untuk menulis hal-hal buruk, menyebar gosip, dan terus membusungkan dada?

dari mereka kita bisa melihat diri kita dari sisi yang berbeda.

karena kita manusia.

diberikan kesempurnaan fisik dan segenap jiwa raga yang senantiasa “membaca” tentang segala.

maka, setelah membaca, terserah kita apa yang selanjutnya dilakukan. toh, apapun yang selanjutnya kita kerjakan, termasuk tak berbuat apa-apa, semua dapat dihakimi.

oleh seluruh alam semesta.

apapun itu, lakukan saja. selama kita siap dan sadar atas segala akibatnya.

salam anget,

roy

Senin Malam Dan Hal-hal Kecil Lainnya Yang Kita Lupa Rindukan

“Eh, dirimu udah berapa lama ya masih single gini?”

“Nyeahahahaha. Gila, itu pertanyaan sensitif ‘kali, ah! Sama kayak nanya umur berapa, gaji berapa, berat badan berapa. Mau gue laporin tuduhan harassment ke netizen?”

“Hahahaha. Ya, maaf. Ah jadi susah dong nanyanya kalo semua harus politically AND social media-ly correct gini.”

“Emang, ampun deh. Lagian mau nanya apa sih tentang kejombloan gue?”

“Cuma mau nanya aja, apa sih yang elo kangenin banget dari pacaran? Or dating? Or being close to someone in intimate manners?

“Hmmm … Apa aja ya? Banyak lah.”

Name one.”

“Sebut salah satu, ya. Hmmm … I guess I miss buying clothes.”

“Hah?”

“Iya. Kalo gue lagi pacaran atau deket ama orang, pasti gue akan kepengaruh ama gaya orang itu. Jadi bisa tiba-tiba gue akan beli baju yang matching ama gayanya dia. Inget kan tau-tau dulu gue punya jaket kulit?”

“Iya, dan itu nggak banget.”

“Ya pacaran ama biker waktu itu. Terus gue bisa beli baju yang warnanya gak gue suka sebelumnya, cuma karena bisa match. Things like that, lah. It’s not so much about the clothes itself ya. Tapi pas the action, the activity of buying the clothes, going to the store buying things with the idea of your date in mind … Itu sih hal kecil yang gue kangenin.”

Yeah, that’s nice.”

——————————————————————————

“Apa sih yang elo kangenin dari pacaran?”

“Pe-lu-kan. Pacaran rhymes with pelukan. Udah lah kita gak usah muna’, yang namanya pacaran ya pelukan. Mau elo ngakalin pake alasan udah ada guling lah, atau playing mind trick yang bilang we are fine on our own, tetep gak ada sensasinya itu skin contact sama orang lain pake emosi dan hati.”

Dang! Kalo udah pake emosi dan hati, mau pake paid service juga lain ya.”

“Em!”

(source: Pinterest)

——————————————————————————

“Apa sih hal-hal kecil yang elo kangenin dari pacaran?”

“Wah, banyak. Hehehe.”

“Salah satu aja.”

“Apa ya? Kayaknya seru aja ada teman ngobrol di mobil waktu macet.”

“Hah? Yang bener? Stuck di jalan berjam-jam gitu?”

“Iya. Justru itu. Aku tuh biasanya ngerasa makin deket waktu ngobrol ama pacar di mobil saat macet. Apalagi macet di jalan-jalan protokol. Kayak udah stuck gak tau mau ngapain dan gak bisa ngapa-ngapain lagi, ya udah. Itulah saatnya jadi lebih tau, lebih dekat, karena mau gak mau kan harus ngobrol ya satu sama lain.”

“Termasuk berantem?”

“Termasuk berantem. Malah kalo berantem, kayak ada dorongan makin kuat buat nyelesaiin saat itu juga, karena nggak mau terjebak dalam kondisi yang gak enak di dalam mobil, sementara gak bisa keluar buat lari dari masalah. Mau keluar ke mana, lagi macet.”

“Hahahaha. Tapi emang does it work every time?”

“Hahaha. Ya enggak lah. Cuma kan pertanyaannya tadi tentang apa yang dikangenin. Jadi ya kangennya sama hal itu. Beda rasanya ngobrol ama temen meskipun sama-sama macet …”

“… apalagi ngobrol sama supir online ya.”

“Hahahaha! Tepat!”

——————————————————————————

“Apa yang elo kangenin dari pas elo pacaran?”

“Bikin playlist lagu.”

“Serius?”

“Iya. Tiap pacaran, tiap deket ama orang, gue pasti bikin playlist lagu. Di iPod, di ponsel, di semua alat yang bisa bikin gue denger musik deh. Dan lucu aja, nggak ada lagu yang sama buat tiap orang. Hahahaha. Oh dan seru aja waktu bikinnya, karena mungkin bikinnya pakai hati ya, jadi hasilnya lain.”

That’s sweet.”

——————————————————————————

“Bok, elo pacaran ngapain aja?”

“Rahasia dong, ah! 21 tahun ke atas.”

“Hahahaha. Maksud gue, apa aja yang elo kangenin dari aktivitas elo pas pacaran?”

“Udah dibilang rahasia deh. Khusus buat orang dewasa.”

“Bok, ah!”

“Ih.”

“Apa kek.”

“Ih. Maksa. Apa ya. Kayaknya karena gue selalu pacaran sama orang yang kerja kantoran, at least so far ya, jadi kita justru kencannya itu hari Senin malam.”

“Senin malam? Trus weekend ngapain?”

“Aduh sayangku, orang-orang kota besar itu kalau weekend justru lebih sibuk dari weekdays. Ikut kursus ini lah, itu lah, ngambil kelas ini lah, itu lah, ketemuan temen-temen, keluarga besar, belanja mingguan, atau malah tidur. Kayak udah sibuk mau ngapain aja gitu lah.”

“Jadi kompensasinya Senin malam?”

“Iya. Dan entah kenapa, justru Senin itu biasanya nggak terlalu sibuk. Dibanding Selasa. Apalagi Rabu. Mungkin karena Senin itu masih ada hawa-hawa weekend yang tersisa ya. Jadi jangan kaget kalau justru Senin itu masih banyak yang nyantai.”

“Dan itu juga yang akhirnya membuat elo sering menghabiskan waktu berdua pas Senin malam?”

“Iya. Dan kalau diinget-inget lagi, seringnya nggak direncanakan juga. Seinget gue, sering aja tiap Senin malam, dia datang ke rumah sepulang kerja. Bawain dinner. Trus kita makan sambil nonton tv. Dulu belum ada Netflix, ya kita nonton film. Film apa aja yang ada di rumah, film komedi biasanya. Sekarang ada Netflix, ya nonton sitkom sambil ketawa-ketawa. Cuci piring berdua. Ngobrol. Kalau sudah malam dia mau nginap ya nginap aja. Kalau nggak ya pulang.”

That sounds nice.”

“Dan simpel aja. Ya kalau dipikir-pikir, emang menyenangkan sih, ternyata ada orang yang bisa membuat Senin jadi terasa lebih ringan, lebih indah, lebih nggak terasa stressful. Jadi ya itu, lucu aja kalau ingat-ingat bahwa gue pacaran tiap Senin malam. Hal kecil yang kelihatannya remeh, tapi bikin gue menghargai hari Senin. If that’s somewhat possible.”

That’s possible.”

(source: Pinterest)

——————————————————————————

Apa hal-hal kecil lain yang sering kita lupakan untuk dirindukan?

Para Filsuf Bernyanyi: “Diobok-obok”

JOSHUA “Jojo” Suherman dilaporkan ke polisi beberapa waktu lalu.

Langsung kebayang, Levi-Strauss, Lacan, Foucault, Barthes, dan Derrida sedang tertawa-tawa, entah di mana pun masing-masing dari mereka tengah berada saat ini.

Para pemikir Strukturalisme tersebut tergelak jemawa setelah—sekali lagi—melihat betapa tunduk dan tidak berdayanya orang-orang terhadap kungkungan lema, salah satu bagian dari sistem ide dan konsep, perspektif linguistik, definisi dan batasan pemaknaannya. Mereka menekankan bahwa manusia akan selalu menjadi objek dari struktur pemikirannya sendiri. Namun, terlampau buram untuk dilihat dan dipahami sebagaimana mestinya. Ibarat seorang tukang kaca yang berusaha bercermin di dalam air dengan cermin yang dipotong dan dibingkainya sendiri.

Kebetulan, lema itu adalah: Islam.

Meminjam sudut pandang Strukturalisme, Islam yang dibunyikan sebagai “is” dan “lam” itu dikukuhkan posisinya sebagai sebuah agama dengan seperangkat ciri dan karakteristiknya. Termasuk penempatannya yang tinggi (kultus) dan suci, sakral, sangat sensitif, dan bukan sesuatu yang pantas diimbuhi dengan keterangan “sekadar”.

Sampai pada bagian ini, dinilai cukup wajar bagi Forum Umat Islam Bersatu (FUIB) melakukan pelaporan. Kendati demikian, “Islam” berbeda dengan “muslim”. Baik sebagai lema atau penanda, maupun sebagai yang ditandai. Kondisi ini menjadikan tindakan pelaporan tersebut bertentangan dengan logika. Sebab yang dipermasalahkan oleh pelapor adalah penistaan Islam sebagai identitas utama sebuah ajaran agama, yang mereka anut dan jalankan. Sementara lema “Islam” yang dilontarkan Jojo diarahkan sebagai identitas seseorang serta sekelompok orang yang menganut dan menjalankannya.

Sudah merasakan kesia-siaan mengawali hari Rabumu dengan tulisan ini?
Masih ada lanjutannya, kok.

Begitu pula jika meminjam sudut pandang Post-Structuralism. Kita dedah tipis-tipis lema “Islam” dengan dekonstruksi. Kita preteli semua rusuknya, kita urai semua simpulnya, kita kuliti dan pisahkan semua komponen-komponennya, lalu kita jejerkan serta atur semua bagian tersebut dengan jarak yang sama.

Dengan satu pertanyaan awal: “Sebenarnya, ini apa sih?” Mari kita amati bersama-sama. Hanya sebatas mengamati.

Dengan satu pertanyaan berikutnya: “Kenapa gabungan dari semua ini dinamakan ‘Islam’?” Mari kita teliti lebih lanjut.

Kemudian kita akhiri pendedahan ini dengan satu pertanyaan: “Apakah kualitas dan karakteristiknya tetap ada dan melekat pada semua komponennya?”

Silakan gunakan hasil dari penyelidikan internal dasar tadi terhadap tindakan FUIB melakukan pelaporan dengan tuduhan penistaan agama Islam. Apakah bersesuaian, ataukah hampir tidak ada koherensinya sama sekali?

Terlepas dari itu, tetap dengan dekonstruksi sebagai pendekatannya, bagaimana jika lema “Islam” ditukar sementara dengan nama ajaran agama lain? Katakanlah diganti dengan “Kristen”, “Hindu”, “Buddha” atau lainnya. Kondisi seperti apa yang dapat memunculkan kesan penistaan hingga patut dilaporkan? Sekali lagi, konteksnya adalah batasan. Seberapa luas, dalam, dan lentur batasan tersebut pada tataran kognitif atau benak para manusianya.

Sebab biar bagaimana pun juga, subjek sekaligus objeknya adalah manusia. Mereka yang berbicara, mereka pula yang mendengar. Mereka yang merasa tersinggung dan menjadi sasaran nista, bukan agamanya.

Mereka pula yang memiliki peluang dan potensi untuk bisa menjadi umat beragama yang bijaksana.

[]

Mari.