Ya Tuhan, Jauhkanlah Aku dari Halu | Harapan 2018

Bekerja di bidang periklanan, urusannya cuma dua: jualan dan pencitraan. Keduanya menuntut kelihaian untuk menampilkan yang baiknya dan menyimpan yang tidak baiknya. Berbohong? Enggak juga sih. Cuma gak menampilkan keseluruhan fakta aja. Sama kayak kalo lagi pedekate, pastinya di awal hanya semua yang terbaik yang dikasih liat dong. Kemampuan 7 bahasa, dandanan terbaik, body ideal, otak encer, dan kalo bisa kekayaan. Kegemaran kentut dan garuk-garuk pantat pas abis bangun tidur, pasti dikontrol semaksimal mungkin gak diomongin saat kencan pertama.

Kalau ditanya apa pelajaran terpenting 2017, aku akan bilang banyaknya kejadian yang membuka cerita berbeda dengan yang terlihat. Terlihat dari mana? Media sosial pastinya. Yang terlihat kaya raya, ternyata berhutang ribuan orang. Yang terlihat mesra dan romantis, ternyata gak segitunya. Yang terlihat gagah perkasa, ternyata pemalu. Dan ah banyak lagi lah. Salah satu dampaknya jadi kesal sama diri sendiri. Kok bisa sih masih bisa kemakan dan ketipu sama tampilan? Kan aku kerja di dunia advertise ((( ADVERTISE ))).

Belakangan kita semakin sering denger cerita pebisnis jadi pembicara dan motivator bisnis yang ternyata bisnisnya sendiri sebenarnya menuju kebangkrutan. Atau motivator urusan relasi yang ternyata punya masalah relasi. Pemimpin agama kondang yang ternyata melakukan banyak kebejatan dibalik kesucian yang ditampilkan. Atau cerita remeh teman merasa ditaksir hanya karena intens bales-balesan di media sosial.

Di saat yang bersamaan, di sekitar kita semakin banyak sarana “kecil-kecilan” untuk menyalurkan hasrat tampil lebih indah dari aslinya. Dekor Cafe yang instagrammable padahal makanannya sih B aja . Filter-filter yang bikin wajah jadi lebih kece. Aplikasi yang bikin body jadi sempurna. Juga semakin mudahnya buat beli followers dan like di Instagram. Di Rusia, bahkan ada pesawat jet yang bisa disewa untuk foto-foto lengkap dengan champagne dan fasilitas lainnya.

Di awal semua ini bermunculan, aku merasa “lucu-lucu” aja. Seru. Bahkan beberapa bikin pengen nyobain. Tapi belakangan malah mengkhawatirkan dan jadi takut sendiri. Semakin banyak yang kagum kemudian percaya dengan keindahan yang ditampilkan. Saat itulah masalah sebenarnya mulai muncul. Gimana kalo mereka tau semua yang mereka liat selama ini hanya tampilan? Hanya #pencitraan? ITU BELUM SEBERAPA, masalah sebenarnya, dan yang berpotensi merusak mental adalah kitanya menjadi halu. Kita percaya dengan kebohongan yang kita ciptakan sendiri.

Fake it till you make it, gitu katanya. Mungkin di beberapa kejadian benar bisa terjadi. Sama seperti cerita orang kaya dan sukses yang gak pernah sekolah. Kan gak bisa jadi pembenaran semua gak usah sekolah biar kaya dan sukses. Bagaimana kalo ternyata bagian “fake it” itu yang sebenarnya jadi penghalang untuk kita “make it”?

Contohnya, pake filter wajah biar jadi lebih kece buat menjerat jodoh. Eh malah jadi gak pede sama muka sendiri dan jadi minder ketemuan orang. Atau karena nampilin foto liburan padahal nyolong di Google, bikin jadi gak bisa keluar rumah takut kepergok jalan-jalan di mall. Segala cara “gak wajar” buat memperbaiki bentuk tubuh, malah bikin badan sakit. Selalu bilang sibuk di media sosial, malah bikin potensi tawaran kerjaan gak jadi dateng “abis udah sibuk banget sih”.

Jadi kalo ditanya apa resolusi 2018? Jauhkanlah aku dari halu. Halu mengira banyak pengagum dan teman hanya karena jumlah followers dan like. Halu merasa bisnis sukses dan berhasil hanya karena sudah diundang jadi pembicara dan diinterview media. Halu yakin benar sendiri karena postingan mendapat banyak repost dan likes. Halu kepedean banyak yang suka dan cinta hanya karena lope-lope di Instagram. Dan kehalu-haluan lainnya yang berpotensi bikin jalan di depan mata jadi gak jelas.

Halu bikin aku jadi semakin jauh dengan kenyataan sekitar. Merasa sudah sukses padahal masih banyak yang harus dikerjakan. Merasa paling benar padahal masih banyak yang harus dipelajari. Merasa terkenal padahal kalau gak tau gimana menyikapinya, bisa jadi boomerang yang mematikan.

Dari sejak Twitter ngetrend di negeri ini, aku berkeyakinan kalo orang kalo beneran sibuk itu gak bakalan sempet apdet status. Boro-boro apdet status, baca timeline aja belum tentu bisa. Yaelah, saat nulis tulisan begini aja, aku gak bisa nyambi liat timeline seenggaknya sejam dua jam. Gimana kalo kerja beneran yang cari duit kan? Apalagi kalo yang rajin apdet status itu pengurus tertinggi sebuah kota bahkan negara (OK Glenn, hentikan!). Kecuali yang cari uangnya via media sosial, aku melontarkan ketidak percayaan kepada mereka yang menyiarkan kesibukannya sambil tetap aktif di media sosial. Dibilang nyinyir, ya nyinyir deh sebodo amat. Yang pasti semakin ke sini semakin terbukti kan kebenarannya? *mulai halu ngerasa paling benar*

Sebagai tulisan penutup 2017, semoga kita, eh aku, semakin didekatkan hanya dengan kenyataan. Seburuk-buruknya kenyataan tetap lebih baik daripada kemayaan. Aku bertekad menyelesaikan satu per satu masalah-masalah yang selama ini terlupakan saking serunya bermedia sosial. Sebanyak-banyaknya teman di media sosial, tetap lebih bermakna teman di depan mata. Apalah artinya lope-lope di Instagram kalo lope beneran tak jua datang (curcol – red.). Banyak masalah bisa dibantu selesaikan dengan media sosial. Tapi lebih banyak masalah yang tak akan selesai hanya dengan postingan. Seindah apa pun.

Dan kalaupun aku sedang halu, ya Tuhan sadarkanlah bahwa aku sedang halu.

Advertisements

Cermin Hitam Akhir 2017

Screen_Shot_2017_12_05_at_5.24.39_PM.0

Episode pertama dari Black Mirror ternyata Star Trek-y!

Agak sulit melihat linimasa Instagram kalau akhir tahun begini ya. Bahkan anak saya yang sekali scroll saja sudah bisa berseru,

“Ibu, kok teman Instagram-nya semua sedang liburan?”
“Ya memang sedang masanya, neng.”

Tetapi memang sudah beberapa tahun ini kami selalu punya jadwal yang agak berbeda. Liburan bukan di akhir tahun tapi awal tahun. Walaupun tidak pergi ke mana-mana selalu punya escape, kok. Apalagi kalau bukan film.

Dari dulu memang film itu pelarian tercinta. Bukan ingin kabur dari kenyataan yang buruk, kenyataan tidak buruk kok. Tetapi salah satu alasan kenapa saya suka sekali film genre fantastik, terutama science fiction, adalah; kita diperkenalkan dengan jagad baru, dengan peraturan yang spesifik dan bisa kita lihat begitu cerita berjalan. Semakin bagus film, semakin peraturan itu tersembunyi di plot maupun visual, bukan diceritakan dalam dialog (biasanya). Suka atau tidak sukanya kita dengan satu film biasanya ada hubungannya dengan kita bisa merasa tersentuh atau tidak dengan peraturannya.

Seperti serial Black Mirror, misalnya. Bukan seperti kebanyakan orang yang mulai nonton di season 3 dengan San Junipero, sejak season pertama saya sudah diperkenalkan dengan serial ini. Entah karena tidak sengaja membaca di salah satu resensi atau oleh seseorang, lupa. Maaf ya sedikit kebanggaan hipster. Hari ini saya hampir menyelesaikan semua episode season terbaru, season 4. Karena setiap episode berbeda jagad, dan berbeda peraturan saya suka sekali menyimaknya.

metal-head

Black Mirror isn’t always easy to watch but the majority of the episodes are awesome!

Star Trek juga. Kenapa jadi kecintaan, karena peraturan di jagad Star Trek yang semua orang setara, tak ada lagi sistem pertukaran dengan uang, dan kita bisa bepergian ke luar angkasa dengan (cukup) leluasa itu menjadi mimpi saya sejak kecil. Sementara kurang suka Star Wars karena peraturan bahwa seseorang lahir dengan istimewa atau biasa saja. You either have it or you don’t. Kalau punya keistimewaan lantas ingin menguasai yang lain. Kurang doyan dengan dunia seperti itu.

Kembali lagi ke dunia yang ini, apakah sudah suka dengan semua peraturannya atau masih banyak yang kurang sreg (karena itu tetap ingin escape?)? Kalau memang ada yang dirasa kurang, apakah kita bisa melakukan sesuatu untuk mengubahnya? Paling tidak dimulai dari kita sendiri? Kalau tidak bisa dilakukan apa apa apakah kita cukup legowo untuk menerimanya? Apa perlu buat resolusi tahun baru agar lebih legowo?

Selamat menyambut 2018!

ONANI MORAL- DIGITAL – SPIRITUAL – BANAL

Ada perasaan bangga. Terhenyak. Juga syukur. Bahwa apa yang kita lakukan menjadi sesuatu yang berarti. Ada “makna” yang bernilai. Ada energi yang tersalurkan. Ada sesuatu yang menjadikannya dekat. Sama seperti kita. Sama seperti saya. Linimasa juga sama seperti kamu.

Kita semakin sulit untuk menjadi tentram hati manakala “banyak hal lain” yang dipaksanakan atau terpaksa kita kunyah dan konsumsi, terutama informasi dan opini. Semuanya sibuk ber-onani-secara digital. Juga spiritual. Juga soal moral. Semua seketika menjadi banal.

Memiliki sahabat dekat itu sulit. Lebih mudah mencari musuh. Sama halnya dengan berita negatif atau opini yang menjatuhkan. Lebih mudah ditemui. Toxic culture di kantor mudah disebar dibandingkan budaya kerja dengan etos yang patut diteladani.

Saya awalnya mengira bahwa menyebarkan benih “membangun jembatan lebih baik dari pada menciptakan tembok pemisah” adalah mudah. Karena suatu ide yang baik mudah dirayakan. Ternyata itu salah. Pendapat yang terlalu prematur. Menebarkan permusuhan itu mudah. Memotong dahan pohon itu jauh lebih ringkas dan lekas daripada menunggu daun muda dan bunga bermekaran.

Atau ini.

Saya yakin semua ingin sesuatu yang mulia. Hangat. Intim. Adem. WA grup yang isinya ndak saling ngotot. Mendalilkan kebenaran masing-masing. Adakah dan masih perlukah adanya tegur sapa, gosip ringan, yang sewajarnya.

Hidup tanpa ngomongin orang itu gak cihuy. Sepakat. Oleh karenanya, Linimasa mengejar dan membuat mekar hati manusia. Bukan untuk menjadi hati malaikat.

Saya yakin menjadi manusia utuh itu bukan tanpa cela. Setiap orang berhak dan punya porsinya masing-masing untuk menggapai dan memaknai bahagianya. Menjadi manusia yang tanpa noktah adalah utopia. Menjadi manusia itu adalah sewajarnya menjalani hidup dengan merespon segala sesuatu dengan tenang. Menyikapi “segala” dengan mengendapkannya dan membiarkannya sejenak untuk dieram oleh waktu. Telur masalah terkadang menetas dengan sendirinya. Respon terbaik atas bunyi SMS, Tweet, dan pesan dalam WhatsApp adalah membiarkannya mengembara di layar tanpa perlu kita gatal meresponnya secara cepat. Tidak merespon terkadang adalah pilihan terbaik untuk bersikap. “Read doang”, adalah sebuah respon. Tidak semua yang berbeda dengan kita perlu dijadikan bahan jihad. Perjuangan perang komentar sudah terlalu banyak dilakukan orang-orang. Tugas kita hanyalah membiarkannya ditumbuhi jamur. Syukur-syukur lapuk sendiri.

Jika ndak salah Coelho pernah bilang bahwa:

Kapak selalu lupa. Pohon tak pernah lupa.

Wajar sekali jika menyakiti hati suatu ketika, akan dilupakan di hari berikutnya. Namun bagi yang tersakiti, akan dibawa terus bahkan hingga dalam mimpi. Goresan hati jika dimanjakan akan membusuk dan menjadi penyakit. Melupakan, walau dengan agak-sedikit-terpaksa, adalah jalan paling aman dan nyaman.

Kita terlalu sering membawa beban terlalu besar. Punggung kita sibuk menggendong “hutang emosi”. Semacam beban yang terus menggelayuti. Wujudnya bisa kenangan buruk, dendam pribadi, juga berita sedih. Padahal masa depan tak butuh tas emosi itu. Jalanan terjal masa depan hanya bisa dilalui dengan dorongan energi positif yang meliputi tubuh. Anehnya agar terus menjadi positif terkadang kita perlu membiarkan kita melakukan hal negatif seperlunya.

Memanjakan diri dengan menunda-nunda pekerjaan. Menghabiskan pulsa untuk mengobrol dengan sahabat. Melebihi batasan jam istirahat siang demi makan bersama rekan. Atau membicarakan “musuh bersama”. Apakah itu wajar? Mengapa tidak. Selama kita tahu batasan, dan kita tahu dan disiplin atas pengendalian diri, maka hal-hal “buruk” itu sah saja dilakukan.

Sekali lagi, karena kita manusia dan bahkan malaikat pun pernah muda. 🙂

 

 

Salam anget,

Roy

Ngalor dan Ngidul

Akhir tahun adalah saatnya untuk let loose. Hari-hari menjelang 31 Desember sepertinya sudah tidak banyak yang punya mood untuk bekerja serius. Apalagi banyak yang memanfaatkan seminggu sampai sepuluh hari terakhir di penghujung tahun untuk menghabiskan jatah cuti yang harus dipakai. Atau sekedar mengambil off days dari kesibukan sendiri.

Hari-hari libur di akhir tahun sering kita manfaatkan untuk catch up dengan teman dekat. Meskipun statusnya ‘dekat’, tapi karena aktivitas kita sehari-hari yang padat, biasanya malah jarang ketemu. Tanpa ada beban ‘reuni’ atau ‘kumpul keluarga’ selayaknya hari besar keagamaan, maka hari-hari setelah Natal dan sebelum tahun baru menjelang memang yang paling pas untuk bertemu lagi secara tatap muka langsung dengan teman-teman yang selama ini, paling banter, ngobrol lewat bahasa tulisan di grup WhatsApp.

Sebelum kocar-kacir karena liburan dengan keluarga masing-masing, pasangan masing-masing, atau kelompok pertemanan yang lain, saya menyempatkan berkumpul dengan beberapa teman yang sudah lama tidak bertemu langsung. Meskipun kami cukup sering bertukar pesan lewat WhatsApp, tapi tidak ada yang bisa mengalahkan sensasi mendengarkan candaan, celetukan dan celotehan langsung teman-teman kita.

Apa saja yang diobrolkan? Well, siapa yang bisa mengatur? Namanya juga obrolan “ngalor ngidul”. Coba simak saja:

“Eh, tahun 2017 kayaknya berat ya?!”

“Eeem!” / “Banget, bok.” / “He eh.” / “Mayan.” / “Ya gitu deh.”

“Tapi ada yang akhirnya dilamar! Cieee …”

“Coba angkat cincinnya, coba …”

“Hahahaha. Apaan sih. Kayaknya udah pada pernah lihat juga.”

Enjoy the moment, dear. Kalau elo pas lagi riweh nyiapin urusan kawinan, apalagi sekarang udah makin deket sama hari H, take a look at that finger, and remind yourself the journey to get there.”

“Eh busyet, mak. Bijak bener. Kesambet apa?”

“Keselek biji.”

“Biji brondong?”

“Brondong popcorn abis ngemil dari nonton di bioskop. Ya kali.”

“Hahaha. Ya kalo ama brondong beneran juga gak papa.”

“Kagak ada brondong-brondongan. Udah cukup sekali aja ya.”

“Oh iya. Akhirnya udah resmi kan ya? Udah ketok palu? Udah ganti status jadi single lagi, bukan menikah?”

Done, done and done.”

Sorry, but how do you feel?”

I am fine. Really. Lega, bok. Eh maaf, bukan mau menakut-nakuti elo yang mau married ya.”

“Nyante aja.”

Thanks. Tapi ya gue lega, finally it’s over. Akhirnya gue bisa ngerasain apa yang orang-orang bilang, kalau living without loving kills you and everyone around you. Like, seriously. Kalau udah gak bisa connect, manalah bisa konak sepenuh hati?”

“Woooy!” / “Mulut, wooy!” / “Hahahaha, ancur!” / “Anjaaay!”

“Eh tapi beneran ini. Marriage is not easy. Not everybody is cut out for marriage. Dan yang penting jujurlah ama diri sendiri sebelum jujur ke orang lain.”

Hear, hear.

“Dan just because one marriage doesn’t work, doesn’t mean the other will fail as well. Just because mak bapak elo sukses berumah tangga puluhan tahun, doesn’t mean you as their kids can inherit that genetically. Dealing and living with others itu kan kemampuan, skill ya bok, yang harus kita asah dan praktekin. Manalah bisa itu keturunan genetik. Emang tompel di pantat?”

“Asli kalo elo bukan temen kita, gue udah turunin elo di pasar biar gabung ama preman.”

“Asyik dong. Preman jaman sekarang kan Oke Oce.”

“Amit-amit!”

“Tapi ngomong-ngomong Oke Oce ya, elo gak pada khawatir ya ama Asian Games?”

“Ini lagi, kenapa dah tau-tau kesambet ngomongin Asian Games?”

“Ya gue kan malu bok, kalo Asian Games ntar dianggep gagal. Kotanya kotor lah, macet lah, nggak aman lah.”

“Gue sih berusaha positive thinking lho ya, baru berusaha doang nih. Mungkin itu dianggep challenge ama Pemda biar ngeberesin kota karena ada event gede. Mungkin. Elo tau sendiri kan, gak di sini, gak di luar kota, kalau ada acara gede, atau pejabat dateng, baru deh dibenerin jalan, listrik, dan lain-lain.”

“Trus pas acaranya selesai, bakal dianggurin gitu? Jadi rusak lagi?”

It can happen. Kecuali ya ada acara serupa yang satu level.”

“Lelah ya gitu terus.”

“Ya kalau gak mau lelah sih, cari pemimpin yang bener lah.”

“Emang yang sekarang gak bener?”

“Ya menurut elo sendiri gimana? Eh tunggu. Maksud elo pemimpin yang mana nih?”

“Pemimpin hatiku.”

“Ah kepret!” / “Basi!” / “Kampret!” / “Huek cuh!”

“Hahahaha. Ya boleh dong ngarep. Masak udah satu dekade ngeliat kembang api tahun baru sendirian terus?”

“Ya mau di Ancol, Monas atau Times Square juga pasti banyak orang. Jangan kayak orang susah, deh.”

“Tapi elo hebat juga, tahan terus sendirian.”

“Ya kagak lah! Elo kira being single itu gampang?”

“Ya buktinya elo baik-baik aja.”

“Ya masak pas gue horny and lonely and horny in my loneliness gue koar-koar di WhatsApp grup, monyeeet?! Ya enggak lah.”

“Tapi elo gak depressed atau apa, gitu.”

“Gini. I don’t mind being single because it’s my choice. Beneran. Tapi ya gue juga manusia, bok. Most days I’m fine, but in some days, I’m not fine. Pas bagian yang gak baik-baik inilah yang berat.”

You know you’ve got us, right?

I know. Thank you.

“Kadang gue mikir, emang makin berumur, kita gak perlu banyak. At least itu yang gue rasakan. Elo tau kan gue bangkrut tahun ini?”

Wait, what?” / “Nyet! What happened?” / “Bok, jangan boong.” / “Sumpah?”

“Beneran, gue gak bohong. Mana mungkin gue bohong.”

What happened?”

“Intinya, rencana gue gak berjalan sesuai perkiraan. Pembayaran projects yang di-commissioned ke gue, atau yang gue commissioned ke orang, semuanya bermasalah. Like, semuanya.”

Tell me about it. Orang-orang pada sibuk saving instead of spending.”

“Kalau itu sih gak ngaruh buat gue. Oke, tapi intinya, I’m not doing well financially. But I know this is temporary. It will pass.”

How are you holding up?”

“Ternyata gue baik-baik saja. Gue banyak baca buku tahun ini. Gue ikut volunteer work. Dan ternyata, setelah elo gak punya banyak, elo jadi tahu apa yang sebenarnya elo perluin. And guess what? We don’t need much. We may want much, but what we need? Hardly much. Gue gak ikut Harbolnas, karena emang gak ada barang yang bener-bener gue perluin. And I feel fine. I am fine.”

So actually being bokek is liberating for you ya, bok.”

You can say that! Hahahaha!”

“Eh elo bisa ketawa. That is good. Beneran deh, makin hari kayak makin susah buat ketawa lepas. Ntar dikira makar lah, menyinggung perasaan orang lah.”

“Ya makanya the best laugh is when you laugh about yourselves, bukan?”

“Hahahaha, bener!”

“Mudah-mudahan tahun depan makin banyak yang bikin kita ketawa lepas ya.”

“Amiiin!”

Cheers, guys?”

Cheers!”

Berapa “Harga” Dalam Harga Diri?

SEBENARNYA, apa sih yang tengah kita bela saat “membela harga diri”?

Lantas, bagaimana caranya menilai tinggi rendahnya harga diri seseorang? Namanya juga harga, ada nilai dan ukuran yang telah ditentukan sebelumnya.

Hal-hal apa saja yang tepat dijadikan objek penilaian?

Siapa yang berhak dan pantas melakukan penilaian tersebut? Apakah si empunya diri sendiri, orang lain, atau keduanya? Ketika penilaian seseorang tentang harga dirinya sendiri harus disetujui atau tidak boleh bertentangan dengan penilaian orang lain.

Foto: Elephant Journal

Setiap orang memiliki jawaban yang tidak sama untuk semua pertanyaan di atas. Tak sedikit juga yang masih dalam proses memahami, dan berusaha merumuskan jawaban yang tepat bagi diri sendiri. Dengan demikian, sangat tidak tepat bila jawaban menurut seseorang dipaksakan kepada seseorang yang lain. Karena masing-masing memiliki tingkat pengertian dan pertimbangan berbeda-beda, selama tidak bertentangan dengan hukum positif. Apalagi, jawaban yang benar menurut seseorang belum tentu benar pula bagi orang lain, atau sungguh-sungguh benar secara etis.

Meskipun demikian, sayangnya, selalu ada banyak orang yang menganggap dirinya paling benar mengenai hal ini. Yang kemudian memaksakan sebagian sudut pandangnya kepada orang lain, dibarengi perlakuan tidak menyenangkan kepada orang-orang yang dianggap pantas disebut berharga diri rendah.

Bisa dimulai dengan celetukan yang sering kita dengar: “Kamu masih punya harga diri, gak?!” hingga berlanjut pada aksi-aksi kekerasan dan penganiayaan.

Salah satu contohnya, masih lumayan segar di ingatan kita kasus penghakiman massa kepada pasangan kekasih yang dikira mesum, dan mempermalukan mereka di depan umum. Mereka berdua ditelanjangi, diarak, direkam, dan si laki-laki dipukul beberapa kali. Ada salah satu warga yang bilang kurang lebih begini: “Peragakan lagi yang kalian lakukan tadi!” Ada warga lain sedang melintas sambil mengendarai mobil, dan menghardik kurang lebih begini: “Zina di kampung urang!” Semua warga yang terlibat (terekam dalam video) kala itu terlihat yakin, percaya diri, dan melakukan sesuatu yang benar. Para pelaku terkesan merasa memiliki harga diri lebih tinggi dan mulia dibanding sejoli yang mereka gerebek. Kendati pada akhirnya pasangan itu tidak terbukti melakukan apa-apa, dan polisi menetapkan sejumlah warga sebagai tersangka.

Foto: Merdeka

Tanpa banyak disadari, kita kerap berpikiran dan berperilaku sama seperti warga yang melakukan fitnah dan penghakiman massa di atas. Bermodalkan asumsi samar-samar, stereotip dan stigma yang tidak objektif, serta prasangka tanpa sedikit pun kemampuan bersimpati, kita seringkali merasa pantas memvonis orang lain memiliki harga diri yang rendah.

Buktinya, silakan tinjau kembali pandangan kita terhadap Pekerja Seks Komersial (PSK), mantan warga binaan atau narapidana, janda muda, perempuan yang hamil di luar nikah, anak tak berbapak, waiters atau pekerja di kelab malam, mbak-mbak Sales Promotion Girl (SPG) rokok, laki-laki yang berpoligami secara terbuka (bukan nikah siri atau diam-diam), orang yang berpindah agama (dari agama kita, ke agama lain, tak berlaku sebaliknya), perempuan dengan niqab, laki-laki bergamis, orang yang bertato, cewek-cewek yang merokok, orang-orang dengan preferensi seksual berbeda, tukang sampah dan pemulung, petugas pembersih gorong-gorong, perempuan yang ditinggal pergi suaminya, korban perkosaan dan pelecehan seksual, pengemis dan gelandangan, banci salon… pokoknya, orang-orang yang memunculkan rasa tidak senang.

Persis kayak ini, dari tuit semingguan lalu, waktu ada seorang ibu yang merasa terusik dan pastinya tidak senang dengan sepasang cowok—lazimnya dianggap—bermesraan, di depan umum. Saking tidak senangnya, sampai ingin menendang. A small preface sign of vandalism. IMHO.

Ada banyak alasan yang bisa melatarbelakangi tindakan ibu tersebut. Misalnya, terkait harga diri sebagai orang Indonesia dengan budaya ketimuran dan bersusila tinggi, boleh; terkait harga diri sebagai seseorang yang beragama dan menjunjung tinggi moralitas, bisa; terkait harga diri sebagai seseorang yang lebih senior dari segi usia dan seorang heteroseksual, hayuk… Pada intinya, memberikan reaksi. Di media sosial, posting-an si ibu ini tentu berhasil “memanen” komentar dan respons serupa.

Apabila pernyataan “Tadinya motornya mau ku tendang,” dianggap wajar, ya jangan heran kalau akan ada banyak orang lain yang siap melakukan lebih daripada sekadar menendang motor. 😔

Sesayup di penghujung video, salah satu cowok yang ditegur menyebut “my brother…” Entah jawaban sungguhan atau sekadar cari aman.

Per Selasa kemarin, berikut perkembangannya.

…dan ini.

Dalam hal ini, bukan berarti kita harus menutup mata dari sekeliling. Pun, wajar saja untuk memiliki rasa tidak suka terhadap hal-hal yang asing. Cuma mbokya disikapi dengan fair dan adil, memastikan apa dasarnya, dan memastikan apakah alasan tersebut sudah benar atau berpotensi keliru. Sebab bagi kebanyakan dari kita, harga diri berarti kehormatan. Sedangkan perbedaan-perbedaan individual, belum tentu ada hubungannya dengan kehormatan. Lebih kepada ego.

Perasaan unggul, keputusasaan, kebanggaan, dan rasa malu. Keempat hal ini disebut John P Hewitt berpengaruh besar terhadap harga diri seseorang. Lebih tepatnya, berpengaruh besar terhadap bagaimana seseorang memandang atau menilai harga dirinya sendiri, hingga berlanjut dengan tindakan.

Dari teori ini, apa yang selama ini kita sebut dan anggap sebagai harga diri, bisa jadi hanya bungkus untuk perasaan unggul yang tak ingin diusik, keputusasaan terhadap diri sendiri, kebanggaan yang melenakan dan ingin dibesar-besarkan, serta rasa malu yang bikin bingung harus dibagaimanakan.

Semuanya berasal dari diri sendiri. Alias, ego. Tahun 2017 sudah mau habis.

[]

Sebatang Rokok

Pada satu waktu, sebatang rokok jatuh cinta pada sang tuan.

Ia memuja. Kepadanya, dibiarkan sang tuan mengambil bagian penting dalam hidupnya.

Ia pasrah, kalau pada ujungnya ia menguap tak bermakna.

Meninggalkan hanya sisa abu.

Ia rela pelan-pelan disakiti, dibakar api.

Tidak apa. Mengabaikan kebendaan, cinta sejatinya adalah energi luar biasa.

Sebentar lagi, karena cinta, esensi hidup sebatang rokok menemukan tempat nyaman.

Ia akan selamanya memeluk lengket menempel pada Sang tuan.

Mengalir bersama darah.

Ia menunggu dengan sabar.

Giliran untuk terambil dari bungkusan.

Ia berteriak memanggil. Tapi nasib memilih tidak berteman.

Satu demi satu, sang Tuan mengambil batang demi batang.

Sampai tinggal Ia seorang.

“Sekarang giliranku”, Pikirnya penuh suka.

Kemudian terdengar bunyi kematian.

Sang tuan memutuskan untuk berhenti merokok.

Ia gundah bukan kepalang.

Sedih tiada tertahan.

Cinta tak bertemu muara.

Malam ini aku akan berdoa sepenuhnya, semoga besok waktu ku tiba.

Malam pun berganti.

Pagi tiba.

Sebatang rokok membuka mata.

Gelap.

Di mana gerangan sang tuan?

Kenapa matahari pun tak ada?

Sebatang rokok berujung, di tempat sampah.

Dengan cintanya.

Merindukan Komik Dalam Koran

Aku kira, perubahan zaman akan membuat perubahan perilaku.Termasuk di dalamnya, cara kita mengonsumsi informasi di media saat ini.

Sejujurnya, aku rindu masa-masa saat zaman tak banjir informasi seperti sekarang. Aku kangen pagi-pagi ke teras rumah, membuka koran dan mencium bau koran. Lalu membaca apa yang terjadi hari itu sambil membawa roti atau nasi goreng dari dapur.

Juga, aku merindukan membaca komik dalam koran.

Aku rindu membaca Kompas untuk mencari komik Benny dan Mice. Sayangnya, terakhir aku ketahui, Benny tak bersama Mice lagi. Rasanya sayang betul mereka tak bersama lagi. Kedua orang itu adalah komikus dalam negeri pertama yang kukenal.

Bagaimana cara mereka menggunakan ilustrasi yang jenaka, dan sesuai dengan isu yang dibahas koran, membuatku sangat suka membaca Kompas.

1076-benny-mice-fanatik-partai.jpg

Selain Kompas, koran yang aku ketahui juga ada komiknya, adalah Bola. Beda dengan Kompas, komik Bola cenderung meminimalisir dialog. Aku pikir, Bola adalah tahilalats pada masanya. Ia akan memberikan komedi-komedi mind-blown dalam urusan khusus olahraga.

Gambar-Kartun-Lucu-Sepakbola-2

Ya, sisi baiknya, aku masih punya beberapa koleksi tentang edisi khusus dari dua komik ini. Ya, lumayanlah buat mengenang yang telah lalu dan cerita kepada anak cucuku nanti. Kalau mereka tanya apa enaknya baca koran, ya akan aku berikan koleksi-koleksiku itu.

(Susahnya Cari) 10++ Film Paling Berkesan Di Tahun 2017

The inevitable has happened.
Yang saya pikir tidak akan mungkin terjadi, akhirnya terjadi juga.
Apakah itu?

Saya jarang ke bioskop.
Oke, mungkin kata “jarang” di sini bukan berarti hampir tidak pernah. Mungkin yang lebih tepat, frekuensi pergi ke bioskop untuk menonton film berkurang cukup signifikan. Jumlah film yang saya tonton di bioskop berkurang sangat banyak. Untuk pertama kalinya, angkanya sedikit di bawah 100.

Sementara jumlah film, di luar serial televisi dan stand-up comedy, yang saya tonton di aplikasi streaming meningkat pesat. Jumlahnya tidak perlu saya sebutkan dengan pasti. Let’s just say, lebih sedikit dari 3 kali lipat angka untuk film yang ditonton di bioskop.

Saya masih mencintai aktivitas menonton film di bioskop. Masih belum ada yang bisa mengalahkan sensasi menonton film di layar lebar dengan kualitas gambar dan suara yang prima. Kita lebih bisa berkonsentrasi menonton di bioskop dengan baik ketimbang menonton di rumah. The social experience of filmgoing in cinema remains unbeatable.

Hanya saya, akhirnya saya punya non renewable source bernama waktu. Kalau harus memprioritaskan antara menonton good content at home dan mindless content at cinema, maka saya akan memilih yang pertama. Jujur saya akui, tawaran film di bioskop lokal tahun ini cukup underwhelming. Sementara film-film yang tidak tayang di bioskop kita namun diputar di aplikasi streaming, sebagian besar dari mereka overwhelmingly good, terutama dalam hal storytelling.

Maka untuk pertama kalinya juga, saya akan menggabungkan daftar film-film yang saya tonton di bioskop dan di aplikasi video streaming menjadi satu daftar singkat film-film yang paling berkesan saat ditonton di tahun 2017. Aturannya cukup simpel:
• film dirilis di bioskop lokal untuk pemutaran umum di tahun 2017 (saya exclude film-film yang diputar di festival film yang diadakan tahun ini)
• film dirilis untuk pertama kalinya di aplikasi video streaming legal yang ada di Indonesia (saya menggunakan Netflix, Amazon Prime Video, iflix, Hooq, dan pembelian berkala di Google Play dan iTunes Store Indonesa)

Ada beberapa film yang rasanya susah saya lepaskan dari kerangka “top 10” pendataan, karena mereka juga memberikan kesan yang mendalam saat ditonton. Yang saya lakukan adalah mencari kindred spirits dari film-film tersebut, dan menempatkan dalam angka yang sama.

Apa saja film-film itu? Ini dia:

• (sepuluh) • Istirahatlah Kata-Kata & Marlina the Murderer in Four Acts

Kiri: Istirahatlah Kata-Kata (source: pardo.ch)
Kanan: Marlina the Murderer in Four Acts (image: thejakartapost.com)

Dua film yang sekilas terasa jauh sekali paralelnya. Namun jika kita lihat lagi, film ini mempunyai banyak kesamaan. Sama-sama menampilkan karakter utama yang terjepit, meskipun mengkonfrontasi masalah mereka dengan cara yang berbeda-beda. Sama-sama memilih untuk banyak ‘diam’ dengan efektif. Tetapi yang saya suka dari kedua film yang sangat well-thought-of ini adalah, they both know what to shoot. Both films know how to frame their scenes. Setiap adegan yang direkam kamera nyaris tidak ada yang terbuang percuma, karena hampir semuanya efektif dalam bercerita. Two films at almost polar extremes, but two films that remain one of the best our cinema have ever made.

• (sembilan) • Whitney: Can I Be Me

Whitney: Can I Be Me (source: dogwoof.com)

Cukup banyak dokumenter musik yang saya tonton tahun ini, tapi yang membuat saya terhenyak hanya film ini. Sutradara Nick Broomfield memang mempunyai akses footage asli Whitney Houston yang mungkin bisa membuat iri pembuat film lain. Tapi di tangan pembuat film lain, mungkin film dokumenter ini tidak mempunyai emotional punch yang kuat, seperti yang ditampilkan film ini apa adanya, tanpa harus mengeksploitasi atau memanipulasi mereka yang diwawancarai. Sisi lain Whitney Houston, yang membuat hati kita mencelos, akhirnya bisa ditampilkan dengan utuh di sini. Documentary-wise, this is Whitney’s own “Amy.

• (delapan) • The Lego Batman Movie

The Lego Batman Movie (source: BusinessInsider.com)

Masih ingat dengan film ini? Mungkin sebagian dari kita sudah lupa, karena memang film ini hadir di awal tahun, bukan di waktu yang lebih family-friendly, seperti tengah tahun saat liburan sekolah. Dan memang, hasil secara komersial di sini kurang menggembirakan. Toh film ini tetap membuat saya terbahak-bahak, sekaligus kaget. Kenapa kaget? Karena banyak lapisan cerita tentang the need to acknowledge and regard your enemies to live yang disampaikan dengan baik, lewat humor absurd, dan mudah dimengerti. An unexpected triumph.

• (tujuh) • A Death in the Gunj & Newton

Kiri: A Death in the Gunj (source: IndiaToday.in)
Kanan: Newton (source: rediff.com)

Tahun 2017 bukanlah tahun yang baik untuk film Hindi. Banyak film mainstream yang “gatot”, baik dari segi artistik maupun komersil. Dari sedikit yang berhasil lewat jebakan ini, ada dua yang sukses menghinggapi pikiran saya cukup lama setelah selesai menonton. A Death in the Gunj adalah film berbahasa Inggris tentang tragedi yang menimpa sebuah keluarga saat mereka berlibur di kota Gunj tahun 1979, lengkap dengan segala intrik coming of age beberapa karakternya. Newton bercerita tentang petugas pemilihan umum idealis yang harus mengumpulkan suara penduduk di daerah konflik. Keduanya sama-sama film “kecil” yang berbicara cukup lantang tentang the changing of society di dua era yang berbeda. Dan keduanya sama-sama menempatkan human and humanity right in front of and the centre of the story. Keduanya juga tidak terburu-buru dalam bercerita, sehingga leisure pace yang mereka ambil semakin membuat kita menyukai karakter-karakter yang ditampilkan.

• (enam) • Arrival

Arrival (source: FilmInquiry.com)

Meskipun Blade Runner 2049 lebih megah dalam segi visual efek dan sinematografi, nyatanya film karya Denis Villeneuve sebelumnya yang meninggalkan kesan paling dalam. Arrival hadir di awal tahun ini. Namun sensasinya masih terasa sampai di penghujung tahun. Sebuah film sci-fi yang tidak hanya membuat kita terkesima, tapi juga memikirkan dan mempertanyakan kembali konsep kemanusiaan yang selama ini kita yakini. Bonus point juga bahwa film ini, di antara sedikit film lainnya, yang membuat kita harus mencari bioskop dengan kualitas suara terbaik untuk menikmati setiap sensasi tata suara filmnya.

• (lima) • Our Souls at Night

Our Souls At Night (source: Aspekt.Nu)

Nobody makes film like this anymore. Dan di sinilah Netflix beserta pasukan aplikasi video streaming lain hadir untuk menyelamatkan jenis film drama dewasa seperti ini, yang masih ditunggu dan mempunyai pangsa pasar penonton yang setia menunggu. Mungkin terakhir kali kita bisa dibuat “klangenan” dengan romansa a la Our Souls at Night ini adalah saat Clint Eastwood bercumbu dengan Meryl Streep dalam Bridges of Madison County. Demikian pula dengan Jane Fonda dan Robert Redford yang mensahkan bahwa cinta bisa hadir kapan saja, di mana saja, dan bisa diusahakan. Film yang menawarkan cinta apa adanya, tanpa berlebihan. Ritesh Batra continues his winning streak after The Lunchbox, The Sense of an Ending, and now, this lovely work.

• (empat) • Posesif

Posesif (source: CNNIndonesia.com)

Film yang, kalau mengikuti istilah zaman now and then, totally caught me off guard. Saya tidak tahu banyak dan tidak mencari tahu tentang film ini sebelum menontonnya. Tetapi dengan metode yang sama, sering kali film yang saya tonton berakhir mengecewakan. Tidak untuk film ini. Meskipun ada beberapa bagian cerita dan karakterisasi yang, kalau mengikuti logika, bisa dirombak supaya bisa lebih proper (whatever that is), toh film ini masih tetap mencengangkan dalam konteks yang baik. Film ini unggul karena mengangkat isu yang nyaris terlewatkan secara kasat mata: kekerasan dalam hubungan asmara antar remaja. Teenage love story is a staple in storytelling, terutama di media hiburan kita. Namun sisi lain dari kisah kasih tersebut, tak banyak yang mau mengungkapkannya. Film ini hadir dengan konsep kuat, penampilan prima dari hampir seluruh pemerannya, dan pembuatan yang sangat baik. One of the best Indonesian films in recent memory.

• (tiga) • Wind River

Wind River (source: NPR.org)

Another winning surprise. Taylor Sheridan, sutradara film ini, adalah penulis skenario film gacoan saya di Oscar tahun lalu, yaitu Hell or High Water. Film tentang pencurian bank yang bertutur secara efektif tentang karakter-karakternya. Namun dalam Wild River kali ini, Taylor ups his ante. Film thriller yang bercerita dengan efektif tentang the beast within humans yang mungkin terjadi di antara kita. Terasa berlebihan uraian psikologis singkat saya? Coba tonton saja film ini. The seemingly and deceivingly simple action whodunit mystery actually reveals much about crime and humanity. Film yang membuat kita merasa tegang sepanjang durasi ceritanya, dan salah satu yang terbaik yang pernah dibuat.

• (dua) • Coco

Coco (source: Pixar.wikia.com)

Film yang membuat saya menangis, dan rela saat airmata tumpah karena ceritanya yang luar biasa. Entah bagaimana bisa Pixar kembali sukses menerjemahkan konsep hidup yang terdengar sulit, menjadi sebuah tontonan yang menakjubkan. Seperti Inside Out yang sebenarnya mengenalkan anak-anak kepada isu kesehatan mental, maka Coco selangkah lebih berani menghadirkan konsep bahwa memaafkan adalah pilihan. Bahwa konsep “forgive and forget” yang selama ini diagung-agungkan orang dewasa, ternyata tak selamanya berbuah manis. Sebagai orang yang meyakini hal ini, Coco berhasil membuat saya trenyuh. Ditambah lagi dengan pencapaian efek visual yang semakin nyaris sempurna, dan lagu tema yang mengharukan, Coco termasuk film favorit Pixar saya sepanjang masa.

• (satu) La La Land

La La Land (source: The Hollywood Reporter)

This is it. Tidak ada film lain di tahun ini yang membuat saya terkesima, tertegun, terbuai dan terpaku sepanjang film, meskipun sudah berulang kali ditonton di layar lebar. Tidak ada film lain di tahun ini yang membuat saya tersenyum dan terharu di saat yang bersamaan, because of the magic. This is magical filmmaking at its best. Seperti yang pernah saya tulis di sini di awal tahun, La La Land terasa istimewa karena kedekatan saya dengan format filmnya. Tapi lepas dari itu, setelah saya menontonnya lagi di rumah, film ini masih terasa istimewa, karena keberhasilannya membawa kita lepas sejenak dari kepenatan dunia yang terlampau pekat akhir-akhir ini. And the film excels in being the right one at the right time. Film seperti La La Land tak akan hadir setiap tahun. Dan itu yang membuatnya semakin terasa istimewa.

Tunggu.

Masih ada lagi.

Dari 10+ film yang paling berkesan ditonton di tahun 2017, manakah yang menjadi film favorit saya tahun ini?

Sayangnya, film favorit saya tahun ini tidak ditemukan di bioskop lokal maupun aplikasi streaming legal di sini. Saya mendapatkannya lewat jalur tidak resmi, dan untuk kasus film ini, it’s worth doing the hassle.

Film favorit saya tahun ini adalah The Big Sick yang diangkat dari kisah nyata penulis skenarionya, komedian Kumail Nanjiani dan istrinya, Emily V. Gordon. Film komedi humanis yang terasa dekat dengan kita, karena menyentil hubungan kemanusiaaan yang sangat universal. Adegan favorit saya ada di bagian menjelang akhir film, saat Kumail akan pergi meninggalkan orang tuanya untuk pindah ke kota lain. Sang ayah menghampiri, sambil mengantarkan kotak makan siang untuk Kumail, karena ibu Kumail masih marah akan kepindahan Kumail, tetapi masih insists agar Kumail tidak lupa makan siang. Any mother and anyone with mother would surely laugh and be able to relate to that scene.

The Big Sick (source: AustinChronicle.com)

Apa film-film favorit Anda tahun ini?

Cinta yang Menghidupkan

Setelah dibaca lagi, kenapa judulnya seperti roman picisan ya? Ah, sudah lah.

Dua hari yang lalu saya menonton film “Coco” di bioskop. Film animasi keluaran Disney Pixar.

Aduh, aku tidak pandai bercerita. Jadi, lebih baik tonton saja sendiri ya.

Mexico, punya cara yang indah soal kematian. Dias De Muertes: perayaan cinta kasih, menghidupkan kembali yang mati untuk kembali pulang dan dikenang oleh yang mencintai mereka semasa hidup.

Kasih, mampu membuat seseorang kekal di dalam benak.

Cintai aku, maka aku akan selalu hidup untukmu.

Sebulan ini, Eyang kakung dan Eyang putri. Orang tua dari Ibuku ini diputuskan untuk tinggal bersama di rumah kami di Semarang. Dianggap sudah terlalu renta untuk tinggal sendirian. Keduanya sudah pikun. Bahkan untuk mengerjakan hal-hal keseharian pun, sudah harus perlu dibantu oleh Ibuku. Mandi, misalnya.

Saat kemarin saya pulang kampung. Perasaan saya campur aduk. Kita ini sejatinya rapuh. Dua orang yang saya kasihi itu menjadi lemah karena waktu.

Kita bisa menggunakan apa saja sebagai penanda untuk kita menggantungkan rasa.

Setiap saya makan sayur kare kentang, tempe goreng, dan sambel bawang dadakan. Di mana pun. Saya ingat Ibu. Dia tahu, kombo makanan ini kesukaan nomor satu. Entah kenapa. Padahal ya sederhana saja. Dimakan sambil mendengarkan Ibu bicara ngalor ngidul, membahas hal yang mungkin saya tidak akan peduli isinya. Tapi mendengarnya bicara ini itu, selalu saja berhasil membuat hati tentram. Selain perasaan kenyang sesudahnya, tentu saja.

Dulu, waktu saya masih kecil. Liburan panjang sekolah adalah masa paling menyenangkan. Waktunya dilempar ke rumah eyang.

Setiap pagi, sebelum membuka bengkel sepedanya tidak jauh dari pasar Godean, saya dibonceng Eyang Kakung pergi membeli sebungkus belut goreng di pasar itu. Dimakan sambil menemani beliau membuka bengkel. Elusan tangan kasarnya di kepala, surga rasanya.

12479558_137376739979440_1622564778_n

Dulu, Eyang putri punya permainan yang saya sangat suka. Hadiahnya uang, 100 perak buat jajan. Setiap sore.

“Aku tunjuk barang, kamu ndongeng soal barang itu ya. Yang bagus!”

“Korek api!”

“Sendal jepit!”

“Ehmmm tunggu sebentar… ah, itu… cangkir!”

Dan kami punya banyak dongeng soal barang-barang remeh yang ditunjuknya. Oh tentu saja, banyak uang jajan untukku waktu itu.

Sebulan lalu saya pulang kampung. Dua orang itu tetap sama di benak saya. Walaupun Eyang kakung perlu dibantu,

“Iki Agus, eyang…. putu lanang saka njakarta!”

Aku rasa benar. Kasih, mampu membuat seseorang kekal di dalam benak.

10 Fakta yang Berstatus Dalam Perdebatan di 2017

Banjir Jakarta. Sumber: Aksi Cepat Tanggap.

1. Bhineka Tunggal Ika

2. ‎Status kewarganegaraan di Indonesia: Warga negara Indonesia, Asing, dan Aseng.

3. Golongan Islam di Indonesia: Nahdlatul Ulama, Muhamadiyah, dan 212. 

4. ‎Di Indonesia, suara semua orang adalah setara. 

5. ‎Seseorang yang memanfaatkan tendensi agama untuk tujuan politik adalah orang yang ndak baik. 

6. ‎Seorang tersangka/narapidana adalah orang yang ndak baik. 

7. ‎Secara logis ndak mungkin untuk mengatakan “setiap orang harus diperlakukan sama” lalu diteruskan dengan “kecuali” dalam satu kalimat yang sama.

8. ‎Korupsi adalah haram dan bertentangan dengan ketentuan agama. 

9. ‎Banjir dan kemacetan di suatu kota adalah karena buruknya tata kelola dan infrastruktur kota tersebut. 

10. ‎Bumi bulat. 

Saat Perubahan Tak Sesuai Harapan

Di awal nama Anies mulai sering disebut di Twitter, begitu banyak orang yang memujanya. Termasuk teman-teman terdekat saya. Mereka semua kagum dengan kepandaian Anies berbicara dan ide Indonesia Mengajar yang dielu-elukan sebagai terobosan yang mencerdaskan bangsa. “Dia itu orang baik” begitu kata teman saya yang baru selesai menyaksikannya berpidato “wah lo kalo dengerin pasti kagum lah!” lanjutnya.

Banyak pula yang ikut ke dalam gerakannya. Beragam hashtag tercipta untuk mendukung setiap gerakan yang diinisiasi oleh Anies. Tak ketinggalan, foto bersama Anies menjadi syarat mutlak selebtweet pada masa itu. Disela-sela puja dan puji itu terselip harapan agar suatu saat nanti Anies bisa menjadi pemimpin bangsa. Atau setidaknya ya… petinggi publik lah.

Demikian pula Sandi. Seluruh pelari pasti tau gerakan Berlari untuk Berbagi, sebuah gerakan berlari sambil mengumpulkan donasi untuk berbagai niat baik. Selain berwajah rupawan, dengan tubuh yang atletis, dan kemampuan bercakap yang mempesona, menjadikan Sandi idola banyak orang. Berlari sambil mengenakan kaos bertuliskan gerakan Sandi semacam menjadi kebanggan sendiri.

Tak terbilang pula teman-teman yang ikut dalam gerakan ini. Mereka begitu bangga mengupload foto bersama Sandi. Apalagi kalau acaranya adalah acara tertutup dan eksklusif di hotel berbintang seperti saat Sandi berpamitan untuk melepas segalanya dan masuk ke ranah politik. Tentu banyak yang berharap padanya dan bersiap-siap untuk memberikan dukungan sepenuhnya.

Di saat ini terjadi, mereka yang memilih untuk diam atau menolak untuk mendukung, akan “dikucilkan” dalam pergaulan. Tidak masuk dalam “the coolest gang” di timeline. Banyak perbincangan internal yang tak dipahami berseliweran di timeline Twitter yang pada saat itu belum seramai sekarang.Tak diikut sertakan dalam acara-acara bernuansa cinta tanah air dan bangsa. Pendapatnya tak didengar apalagi diberikan corong. Berbagai cap dan penghakiman pun terlontar dengan mudahnya. Apatis. Apolitis. Atau sesederhana “ah dia mah cuma mau cari duit doang”.

Belum sampai dua tahun, terasa baru kemarin semua pujian dan harapan ini runtuh menjadi hinaan dan cacian. Terbaca jelas dari kelas menengah di media sosial. Sekumpulan orang yang tadinya memuji dan mendukung sekarang menghina dan menjelek-jelekannya. Berbagai nama ejekan baru diberikan untuk Anies dan Sandi. Dan entah kenapa, seperti panggung mereka sering menampilkan yang tak pernah terduga akan mereka lakukan sebelumnya sebagai pemenang PILKADA DKI.

2017 hampir berlalu. Salah satu pelajaran terpenting yang bisa kita ambil dari banyak kejadian populer, mata semakin menjadi penipu ulung. Yang tampilannya bijaksana nan alim, ternyata pelaku pelecehan seksual kondang. Yang kelihatannya mewah dan terkenal, ternyata berhutang pada puluhan ribuan manusia. Yang fisiknya tampak menawan, ternyata menyimpan penyakit yang mengakhiri nyawanya. Yang di media sosial menampilkan keromantisan, ternyata selingkuhan. Yang selalu mengutarakan semangat santun beragama, kemudian terbukti koruptor kakap. Dan banyak kejadian lagi yang membuat kita berpikir, walau berulang kali diperingatkan, mengapa kita masih sering tertipu.

Betapa mudah kita mempercayai apa yang terlihat dan betapa malas kita mencari fakta dan kebenaran. Tragisnya, ini semua justru terjadi saat informasi seharusnya semakin mudah untuk dicari. Kita lebih memilih untuk membaca informasi yang ingin kita percayai saja. Menyebarkan berita yang judulnya sensasional padahal isinya beda sama sekali. Dan yang lebih parahnya, kita semakin mudah terpancing emosi hanya dengan membaca sebuah cuitan atau postingan. Tak jarang, kelakuan kita membawa kerugian besar pada kita sendiri.

Pendukung fanatik Anies dan Sandi sebelum Pilkada, kini berbalik memperolok pendukung fanatik Anies dan Sandi sesudah Pilkada. Padahal Anies dan Sandi tetaplah manusia-manusia biasa yang selalu berubah dan hanya memainkan peran yang dipilihnya. Perubahan sikap yang drastis ini tentu bisa mendapatkan pembenaran karena mereka berdua dianggap mengecewakan. Padahal udah berkali dibilang, kalo gak mau kecewa, jangan ngarep. Jadi sama-sama tidak konsisten dan konsekwen.

Kapan kita bisa menerima bahwa berpolitik sama seperti bekerja di bidang yang lainnya. Sama-sama tak mungkin mengambil keputusan yang membahagiakan semua pihak. Kalau karyawan mendapatkan KPI dari bosnya, maka politikus pun mendapatkannya dari penyokong dan pendana terbesarnya. Sama-sama soal kepentingan. Perbedaan terbesarnya tentu pada tanggung jawab. Satu pada perusahaan yang berisi ribuan hingga jutaan karyawan, satunya lagi pada negara yang berisi sebagian atau seluruh rakyat.

Kalau mau diambil pelajaran terpenting untuk ke depannya, terutamanya 2019, adalah mengurangi kefanatikan pada manusia. Anies dan Sandi adalah manusia juga. Dan berkali juga sudah diperingatkan, satu-satunya kepastian adalah perubahan. Anies dan Sandi berubah. Kita semua berubah. Anak kita berubah. Orang tua kita berubah. Pasangan kita berubah. Supir Gojek kita berubah. Selera kita berubah. Pemahaman kita berubah. Bahkan tak jarang, agama pun berubah. Lalu, masih adil kah kita berharap Anies dan Sandi tetap sama?

Kita sering berharap perubahan walau sayangnya, perubahan tak selamanya seperti keinginan.

Menyisakan satu pelajaran terpenting lagi, untuk tidak pernah tergila-gila memuja atau menghina sesama manusia. Pemuka agama panutan bisa berzinah. Pemimpin idola bisa korupsi. Bahkan orang tua pun bisa memperkosa dan membunuh anaknya sendiri. Jadi, jangan salahkan manusia yang berubah. Tapi salahkan diri sendiri yang berharap terlalu banyak. Dan membangun imajinasi atas seseorang berdasarkan asumsi hanya dari yang kelihatan. Sepertinya, manusia kekinian berhenti di mengetahui bahwa selalu ada banyak sisi di setiap hal tapi tak ingin menerimanya. Mengetahui bahwa perubahan adalah kemutlakan, tapi tak selalu siap untuk menghadapinya.

Tak selamanya mereka yang diam, berarti tak mendukung. Mereka yang memutuskan untuk nonton, tak bergerak di belakang layar. Dan sebaliknya, mereka yang di depan mata mendukung di belakang malah berkhianat. Mereka yang beraksi kencang ternyata sekedar ingin mengambil keuntungan pribadi. Kemampuan untuk membaca situasi dan menahan diri untuk berkomentar, sepertinya bisa menjadi latihan yang baik di zaman now. Bahkan kalau perlu masuk kurikulum sekolah dasar.

Terusik Agnostik

Maaf ya, kalau terganggu dengan judul-judul yang sok berima. Tapi niatku baik kok.

Jadi istilah-istilah dan jargon-jargon korporat kekinian memang sering mengganggu, ya. Apalagi kalau jadi tren dan sering sekali disebutkan di konferensi-konferensi besar. Seolah presentasi atau pidato belum sahih jika belum dibumbui oleh jargon ini.

Tadi malam saya menonton film Gifted – yang saya akui hanya ingin saya tonton karena ada Chris Evans di situ. Karena tipe filmnya sungguh bukan yang biasa saya tonton. Ceritanya tentang anak yang jenius matematika, diurus oleh om-nya yaitu Chris Evans. Ada adegan di mana si anak bertanya.

“Is there a god?”

“I don’t know,” dijawab oleh si om.

“Just tell me.”

“I would if I could. But I don’t know. Neither does anybody else.

“Roberta knows”

“No. Roberta has faith. And it’s a great thing to have. But faith is about what you think, feel; not what you know.”

Buat saya ini percakapan yang indah sekali untuk menggambarkan arti agnostik. Sering disalahartikan sebagai seorang yang tidak bisa memutuskan di mana dia berpijak, atau seorang yang mau cari selamat saja, sesungguhnya tidak demikian. Jika seorang ateis mengatakan dengan tegas, bahwa tuhan itu tidak ada, seorang agnostik mengatakan dengan tegas, dia tidak tau, dan sepertinya tidak akan tau, bahwa tuhan itu ada. Berasal dari kata dalam bahasa Yunani kuno, a yang berarti tanpa dan gnosis yang berarti pengetahuan atau knowledge. Agnostik sendiri terucap pertama kali oleh Thomas Henry Huxley tahun 1869.

atheist-vs-agnostic-vs-theist-vs-gnostic_fb_1911467

Anggap saja jika ateis tidak percaya adanya tuhan. Titik. Sementara pendekatan seorang agnostik lebih ilmiah. Hipotesa dia adalah tuhan itu tidak ada, karena tidak adanya bukti empirik bahwa tuhan itu ada. Dan tidak tau caranya bagaimana untuk membuktikan ada atau tidak adanya tuhan. Saya suka definisi Urban Dictionary mengenai agnostik;

A person who is sensible enough to admit that they have no fucking clue what is going on in the universe.

Diberi contoh penggunaan pula:

Theist: “God exists.” *prays*
Atheist: “God does not exist.” *sips grande cappuccino*
Agnostic: “We can’t know.” *continues living*

Lalu apa hubungannya dengan jargon korporat? Setahun belakangan ini saya mendengar sering digunakannya istilah media agnostic. Tentu setiap orang menggunakannya saya mangap-mingkem ingin protes tapi tidak tau ke siapa. Jadi istilah yang digunakan itu menggambarkan sebuah media, atau agensi yang tidak memiliki preferensi utama dalam mendistribusikan kontennya. Rupanya yang protes bukan hanya saya, banyak yang menganggap agensi atau media yang mempraktikkan this-so-called media agnosticism sebenarnya tidak tau mereka maunya apa dan berusaha menjustifikasinya dengan istilah ini.

Ada pula yang seperti saya, sebal dengan cocoklogi yang dilakukan ketika menilik etimologi dari kata agnostik. Apakah orang-orang yang mengaku media agnostic ini tidak tau dan tidak mengakui adanya media? Entahlah. Tapi yang jelas, sebisa mungkin jangan disebarkan dan ditiru ya. Sumpah, istilahnya ganggu.

 

Garmina O Garmina

Garmina, istri Bayu, masih bersikeras minta agar si Cempluk, anak bungsunya yang baru, untuk sekolah di taman bermain Fajar Ceria. Baginya soal prinsip yang tak tergantikan agar pendidikan anaknya diberikan yang terbaik. Banyak cara untuk yang terbaik. Bukan soal mahal apalagi gengsi. Tapi terbaik. Iya Cempluk bungsu yang baru. Sebelumnya dia ponakan. Sekarang, dengan janji cinta kasih yang senantiasa diberikan, Cempluk diasuh Garmina. Orang tua Cempluk setuju. Mereka tak lagi memikirkan uang popok dan susu.

Garmina pada dasarnya tak suka anak kecil. Tapi sekarang, kemana-mana dia membopong Cempluk. Coba cek instagram. Coba cek Path. Isinya wajah si bungsu. Garmina sekarang sayang anak.

Papah, Cempluk itu harus belajar di Fajar Ceria. Sekolahnya dengan kurikulum luar negeri. Harga enggak apa-apa mahal, tapi Cempluk akan mendapatkan pendidikan oke punya“, sembari menyisir rambutnya menjelang tidur. “Sekarang memang bukan awal tahun ajaran, tapi Fajar Ceria menerima murid di tengah semester gini kok, Pah.

Pak Bayu mendengar dengan seksama penuturan istrinya. Fajar Ceria itu terkenal sekolah yang mahal. Teman kantornya pun mengeluh istrinya ingin memasukkan anaknya di sekolah yang sama dengan Garmina. Fajar Ceria. Mereka sama-sama mengecek biaya sekolah, uang bulanan dan uang gedung yang harus dibayarkan. Ckckck. Mereka berdecak kagum sekaligus lesu. Uang pangkal masuk Fajar Ceria seharga motor vespa. Amran menyerah. “Bayu, jika kamu masih nekat mau menyekolahkan anakmu disini, silakan. Saya lebih baik undur diri“. Padahal Amran adalah salah satu teman baiknya yang terlihat paling peduli soal pendidikan anak. Kenapa menyerah? “Mahalnya terlalu. Mungkin bagus dan kualitas gurunya mungkin juga nomor satu. Tapi itu semua hanya mungkin. Yang pasti cuma satu dari semua ini: Mahal.” Amran melempar handuk putih.

Bayu sejatinya setuju dengan Amran. Dari SD hingga sekolah tinggi dan mendapat gelar doktorandus, semuanya dihabiskan di sekolah negeri. Tidak jaminan sekolah murah itu jelek. Begitu juga sekolah mahal. Belum tentu bagus.

Bayu pusing. Apalagi Garmina mengancam tak akan melayaninya hingga berminggu-minggu hingga Bayu bilang “Yes“. Garmina merasa ini adalah soal prinsip. Bayu merasa kapalanya hanya berisi batu yang setiap waktu membesar dan semakin berat.

Bayu memandang wajah Cempluk. Bocah mungil ini bukan anak kandungnya. Tapi ia merasa berdosa jika anak ini tidak diurus sebagaimana mestinya. Bayu merasa tak cukup mampu mengasuh anak ini karena ia sibuk bekerja hingga malam. Garmina, sibuk bersama teman-temannya berbisnis online. Seharusnya Garmina bisa melakukannya di rumah. Tapi itu dulu, saat awal-awal berhenti bekerja dan memulai berjualan. Selanjutnya, entah untuk apa Garmina selalu kumpul dengan rekan-rekannya. Setiap hari. Dari Senin pagi. Hingga Jumat larut. Termasuk Julia, istri Amran. Dalam benak Bayu, setidaknya Garmina bergaul dengan istri Amran. Bukan dengan istri-istri yang lain yang tidak jelas ambisi dan keinginannya. Julia tentu saja tidak muluk-muluk hidupnya. Sama halnya dengan Amran. Semoga.

Bayu berpikir apa salahnya menyekolahkan Cempluk di Fajar Ceria. Sekolah yang letaknya di atas mal. Mungkin agar Garmina bisa menjenguk Cempluk setiap saat sembari berbisnis dengan rekan-rekannya. Ini pun semoga.

Malam itu Bayu mengurungkan niatnya tidur cepat. Garmina sudah terlelap di sampingnya. Bayu membuka laptop. Dibukanya situs sekolah Fajar Ceria. Lalu ia membuka situs bank langganannya. Dibuka rekening tabungannya. Dilihatnya deretan mutasi rekening. Dilihat sisa saldonya. Kepalanya tiba-tiba copot.

Ran. Amran, jika kamu tidak jadi menyekolahkan Minul di Fajar Ceria, bolehkah aku pinjam hingga tanggal gajian untuk uang pangkal?”. Itu adalah kalimat pertama Bayu ketika bertemu Amran di kantor. Mereka berdua duduk di dekat pos sekuriti, dimana Mas Eko berjualan nasi bungkus dan kopi. Keduanya sembari mengepulkan asap rokok.

Oh, kamu masih belum dapat jatah juga rupanya. Untuk apa kau terus-menerus menuruti permintaan istrimu. Sudah saatnya kamu jujur. Sekolah bagus tapi mahal, sama saja mengorbankan anggaran untuk keperluan lain yang lebih penting.

Tapi sekolah anak itu penting, Ran.”

Bukan juga pilih yang mahal kan. Termahal malah.”

Tapi setidaknya Bu Guru di sekolah Fajar Ceria semuanya lulusan sarjana, Ran. Mereka tidak pusing bayar uang kontrakan rumah petak. Mereka hidupnya lumayan. Pasti Cempluk dididik dengan cinta kasih. Bukan dengan batang lidi yang siap memukul kuku kotor dan PR yang lupa dikerjakan“.

Bukankah banyak sekolah lain yang lebih masuk akal?”

Tapi apapun sekolahnya tidak akan diterima Garmina, kecuali Fajar Ceria.

Saya sudah bilang Julia, jangan terbawa Garmina. Biarlah mereka memilih pendidikan buat anak-anaknya. Kita cari sekolah yang masih menyisakan dana untuk IKEA dan uang pulsa.”

Hahaha.

Hahaha.”

++

Akhirnya Amran membuktikan bahwa dirinya memang sahabat sejati Bayu. Sisa tabungannya dipinjamkan. Dengan tanpa banyak syarat.

Bayu gembira. Walau agak berat ia masih ingin enak-enak dari Garmina. Bolehlah uang banyak terkuras habis, asalkan Garmina senang. Cempluk juga pastinya akan gembira belajar bersama anak-anak elit. Konon katanya banyak artis yang menyekolahkan anaknya di Fajar Ceria. Malam itu Bayu kembali menikmati Garmina. Bayu bangga masih mampu menyenangkan istrinya.

Beberapa hari kemudian, Garmina datang tergopoh-gopoh pada Bayu. Hari ini adalah Sabtu pagi. Seharusnya semua dilakukan dengan santai.

Papah, terima kasih sudah mendaftarkan Cempluk minggu kemaren. Mamah senang. Cita-cita Mamah terkabul.”

Gapapa Mamah. Papah senang kok mamah bercita-cita mulia. Sesuatu yang prinsip. Memberikan pendidikan terbaik bagi Cempluk.

Iya dong Pah. Tapi ini cita-cita mamah yang lain. Mamah sudah di-invite sama grup orang tua yang anaknya sekolah di Fajar Ceria. Mamah sekarang satu grup lho, Pah dengan Jeng Dian Sastro dan Jeng Nia Ramadhani”.

Maksud Mamah?“, Bayu penasaran.

Iya, biasanya Mamah cuma lihat mereka di insta-story sedang mengantar dan menunggu anak-anaknya sekolah. Sekarang, Mamah mengobrol sama Jeng Dian dan Jeng Nia sambil menunggu Cempluk selesai belajar.”

Tapi Mah…

Eh.. eh bentar Pah, Jeng Dian Japri…Whoaaaa!

 

-TAMAT-

Jakarta, 15 Des 2017