Seolah Nirupaya adalah Upaya Terbesar Zaman Now

Apa yang menjadikan gue merasa tertarik sama kondisi ekonomi negara ini? Adalah suatu malam menyaksikan interview Sri Mulyani yang pada saat itu menteri keuangan. Mengapa jadi tertarik? Karena Ibu Sri menyampaikan permasalahan dan solusi yang sedang dilakukannya, terdengar mudah dipahami. Seolah effortless atau nirupaya menurut Ivan Lanin.

Apa yang menjadikan gue suka sekali nonton vlog Awkarin yang mendapat hujatan? Besar kemungkinan tanpa disadarinya, Awkarin memberi kesan bahwa membuat vlog itu mudah. Seolah nirupaya. Bahkan di banyak bagian bikin gue pengen mencoba bikin vlog. Walau sudah tau yang namanya bikin vlog bukan perkara mudah.

Mengapa Kim Yuna, sampai sekarang masih dianggap sebagai skater terbaik dunia? Lihatlah bagaimana dia melompat dan menari di atas es. Semua disajikan seolah mudah. Nirupaya. Tanpa beban dan tanpa usaha untuk menunjukkan bahwa dia jagoan. Menjadikan sebuah tontonan yang enak ditonton.

Mengapa Chika Noya menjadi pilihan gue kalau ingin bertanya soal feminis dan pergerakan. Atau Vivi Yip urusan seni. Janti Wignjopranoto dan Avi Mahaningtyas untuk urusan resep makanan dan diet. Mr. X untuk urusan politik negeri. Semua bisa menjelaskan dengan caranya sehingga mudah dicerna dan mereka menjelaskan seolah nirupaya.

Sebaliknya kita sering menemui orang-orang yang menyampaikan segala hal dengan bahasa dan cara yang rumit dipahami. Dengan bahasa yang belibet dan berat atau istilah yang membuat kita harus membuka kamus. Ada dua kemungkinan; pertama karena ingin dianggap lebih tau, lebih pintar dan lebih tinggi derajatnya. Atau memang tidak memiliki bakat untuk menjangkau. Tak mampu menjelaskan.

Menyajikan berbagai hal terutamanya yang sebenarnya berat menjadi seolah tanpa upaya, sepertinya menjadi koentji utama untuk kids zaman now.

Coba lihat bagaimana kita kesulitan mengajak anak muda untuk tertarik dengan masakan tradisional seperti rendang misalnya. Kemungkinan besar karena rendang selalu disiarkan sebagai makanan dengan proses yang panjang dengan bumbu yang sulit didapat.

Atau bagaimana upaya membuat kids zaman now mencintai batik dan kain nusantara lainnya? Yang lebih sering diangkat adalah proses panjang dan filosofi yang terkandung di dalamnya. Tentu ini membutuhkan upaya yang besar dan terus menerus. Sementara, kita sedang hidup di zaman perhatian pendek.

Ketika lembaga sosial ingin memasyarakatkan sebuah isu. Jarang yang berhasil mengkomunikasikannya dengan mudah dicerna. Contohnya ya soal reklamasi. Gue sama sekali tak yakin apakah benar semua orang yang pro atau anti reklamasi, paham betul arti reklamasi. Padahal tanpa pemahaman itu, sepertinya sulit membuat kampanye bernafas panjang.

Kecenderungan yang lebih sering terjadi adalah menyajikan segala hal dengan cara “menggampangkan”. Kiat cepat sukses. Cara cepat kaya. Menangkan hatinya dalam seminggu. Dapatkan perut sixpack dalam 3 hari. Atau seminar-seminar berjudul menulis itu mudah. Bikin film itu gampang. OK, memang ini adalah cara untuk menggaet peserta dan pembeli.

Dalam kenyataannya, semua orang yang sudah bergelut lama di sebuah bidang akan lebih paham bahwa yang mudah itu cuma kelihatannya mudah. Ada upaya dan pengorbanan besar dibalik semua yang terlihat mudah. Belum lagi kalau kita bicara bakat, walau ada yang bilang kerja keras mengalahkan bakat saat bakat tak bekerja keras.

Lalu bagaimana cara menyajikan semua terlihat nirupaya sehingga mudah diterima oleh kids zaman now? Ini adalah kerja keras tak berkesudahan. Pembelajaran yang terus menerus. Dan kerendahan hati untuk menyampaikan seolah berbicara untuk anak kecil. “Ah masa gitu aja gak tau?” adalah sebuah pertanyaan keji yang mematikan.

Hampir semua pertanyaan soal bagaimana berkomunikasi #kekinian bisa dijawab dengan: jadikan seolah nirupaya. Mudah dipahami dan dicerna karena relevan. Dan ini jelas bukan upaya mudah karena harus tetap disampaikan dengan benar dan tidak terjerumus jadi menggampangkan.

Almarhumah Yasmin Ahmad pernah berkata, saat beliau sedang tak punya waktu untuk menulis biasanya tulisannya akan menjadi panjang. Sementara saat punya waktu, tulisannya akan menjadi pendek. Loh? Ya karena untuk menjadikan sebuah tulisan yang ringkas dan mudah dipahami apalagi relevan, perlu waktu lebih lama untuk berpikir dan upaya yang lebih besar.

“Kita ingin membuat semua tampak sulit dan rumit dengan harapan untuk dihargai. Sementara mereka membuat semua tampak mudah dan relevan dengan harapan untuk disukai dulu” saat dua film tentang makanan tayang bersama di bioskop.

Baru-baru ini harian nasional menulis headline (gue tak sempat membaca isinya) “Anak Milenial Tak Suka Politik”. Dalam hati gue berkata, jangankan milenial, gue aja gak doyan! Ya iyalah, siapa yang doyan kalau politik selalu dicitrakan sebagai yang rumit dan berbahaya. Hati-hati karena menyangkut kelangsungan hidup orang banyak. Selalu dikaitkan dengan dosa dan pahala. Baru mau mulai aja keburu takut.

Lihatlah bagaimana Ibu dengan susah payah telah mengandung dan membesarkan kita, telah dijejali dari kecil. Responsnya jadi; membalas budi. Bandingkan dengan; Ibu dengan gembira dan sepenuh hati mengandung dan membesarkanmu. Responsnya jadi; membalas hati.

Menghargai batik bukan karena prosesnya yang panjang dan filosofi yang dalam. Mencintai batik karena batik itu keren. Batik itu cool. Cocok untuk segala aktivitas #kekinian dan bikin banyak lope-lope di media sosial. Batik itu relevan. Nanti kalau sudah diterima, dengan sendirinya akan cari tau lebih banyak.

Masak itu tak perlu alat aneh, tak perlu paham segala dan tak perlu lama. Kamu bisa mulai masak dengan apa yang ada di sekitar. Dengan memasak kamu jadi orang yang lebih menarik sehingga banyak yang naksir. Memasak itu relevan. Nanti kalau sudah merasakan faedah memasak, dengan sendirinya akan cari tau lebih banyak.

Seni itu seru. Seni itu bisa jadi bagian dari hidupmu. Seni bisa bikin kamu jadi lebih menarik. Seni milik semua. Seni ada di mana-mana. Seni itu relevan. Nanti kalau sudah menemukan keseruannya, dengan sendirinya akan cari tau lebih banyak.

Yang kita bisa lakukan adalah memberikan rangsangan. Caranya dengan menyajikan semua seolah nirupaya.

Advertisements

Video Ibu Susi dan Film Posesif

Saya sering menggoda papa saya karena hobinya membagikan video di chat group keluarga. Bisa dua atau tiga yang dikirimkan, lalu dia sering mengomel kalau ponselnya terasa lemot. Tapi hari ini girang juga rasanya, karena saya melihat video apa yang dia kirimkan ke grup kami. Video yang dibuat oleh media tempat saya kerja tentang bu Susi.

“Pa, itu videoku loh! Papa dapet dari mana?”
“Grup yang lain, lel. Oh itu tempat kamu kerja toh?”

(Jangan heran kalau papa saya — walau sudah diceritakan sampai mulut berbusa — tetap enggak pernah ngeh saya kerja di mana dan ngapain aja. I have father issue for a reason.)

Memang di kantor saya cukup girang melihat bahwa ada dua video buatan kami yang view-nya cukup menonjol dibanding yang lain. Video tentang Ibu Susi, dan satu lagi tentang Ibu Iriana Joko Widodo alias our First Lady. Sempat bertanya-tanya, kenapa kedua video itu yang banyak ditonton dan dibagikan, ya? Diskusi singkat kami menyimpulkan bahwa perempuan perlu tokoh panutan yang keren tapi apa adanya dan realistis, tidak jaim dan bukan dari kalangan ustadz/ ustadzah/ agama. Oke, yang terakhir itu tambahan saya sendiri.

Nah, kalau bicara soal panutan, saya akhirnya beberapa hari yang lalu berhasil nonton film Posesif. Sempat penasaran dan takut ketinggalan, karena khawatir hanya bertahan seminggu saja, akhirnya saya nonton di bioskop dekat rumah sepulang dari kantor. Sungguh menikmati film itu, gambarnya yang cakep, dan enak di mata. Akting yang ciamik, terutama Putri Moreno (lafff!). Gembira sekali rasanya film Indonesia ada yang bercerita mengenai subyek ini, dan diceritakannya juga dengan cara sensitif tanpa stereotip dan karakter yang hanya hitam atau putih. Tapi ada beberapa hal yang membuat saya tadinya ingin mengajak anak saya yang usia praremaja menonton, jadi urung.

 

posesif_1507882146
Awww jadi pengin… (sumber: beritagar)

Arah cerita yang menurut saya agak memihak ke abuser. Menurut pendapat pribadi ya, ini bukan plot hole (seperti yang diserukan oleh seorang selebtwit), tapi memang ceritanya saja begitu. Pertama, pihak abuser seolah diberikan alasan kenapa dia menjadi demikian. Kedua, dia sadar kalau dia bisa menyakiti the abused dan mengekspresikan kesadaran tersebut. Lalu yang membuat saya benar benar yakin sebaiknya anak saya tidak usah nonton adalah penokohan the abused yang tidak kuat, sehingga bukan dia yang mengambil keputusan yang akhirnya menyetir plot. Kembali lagi kekuasaan itu diberikan ke abuser.

Tidak salah, sih. Hanya menurut saya ini kesempatan yang hilang saja. Kesempatan apa, one might ask? Kembali lagi ke poin awal bahwa (normal, non-religious) women of Indonesia is in desperate need for a role model. Saya tadinya hanya berharap kalau film ini bisa menceritakan apa yang bisa terjadi, lalu memberikan kuasa ke tokoh perempuan, apa yang bisa dilakukan.

Oh mengenai film ini, sedikit latar belakang, kalau dulu ketika saya masih bodoh dan remaja, sempat mengalaminya. Tidak seperti film ini, pacar saya yang posesif itu tidak ada alasan melakukannya. Ibunya tidak gila. Ayahnya tidak suka memukul. Juga dia tidak sadar kalau dia bisa menyakiti saya. Kalaupun sadar dia tidak peduli, karena goal-nya hanya bahwa saya harus jadi milik dia dan tidak boleh terjamah orang lain. Adegan ketika Lala diantar ke rumah oleh teman dan Yudis melihat dari mobil yang parkir itu sungguh membuat saya bergidik, because it happened for real. Malah kalau adegan di saya adalah, dia keluar dari mobil, membentak teman saya supaya pergi dan menarik saya ke mobilnya dengan kasar. Tatut ya. Oh. Lalu menurut teman-teman saksi mata, dia sejak putus sama saya tidak lagi posesif sama pacar lainnya. Kalau sama istrinya sekarang kurang tahu ya.

Bonus: ini lho, video ibu Susi yang diteruskan oleh papa saya 🙂 tonton ya!

Dalam Mimpi, Yang Lebih Baik Buat Kita Bisa Terjadi

Semalam, saya tidur lebih cepat. Ini bisa terjadi karena saya tidak ada ide menulis apa untuk Linimasa hari ini. Alhasil, setelah selesai olahraga dan menonton preview film terbaru, sampai rumah saya hanya berganti pakaian, cuci muka, lalu terlelap. Walaupun beberapa detik sebelum terlelap, saya sempat heran sendiri, kenapa masih belum ada juga ide untuk menulis sampai hari baru menjelang. Tidak seperti biasanya.

Karena sudah sempat latihan fisik sebelumnya, maka tidak ada masalah dalam tidur semalam. Selain cepat, tingkat kelelapan (deep sleep) pun cukup baik, kalau diindikasikan dari tracker di pergelangan. Justru yang aneh adalah mimpi semalam.
Mimpi yang sampai membuat saya terjaga saat bangun tadi pagi. Terjaga, karena saya sampai duduk untuk menelaah apa yang terjadi di mimpi tersebut.

(source: orig00.deviantart.net)

Semalam saya bermimpi bertemu salah satu mantan pacar. Pertemuan terjadi secara tidak sengaja di sebuah bar. Saya duduk bersama beberapa teman, meskipun sedang berbicara secara intense dengan seorang teman yang baru saja mengontrak rumah saya.
Lalu saya melihat dia masuk, sendirian. Dia duduk tak jauh dari tempat duduk kami. Teman-teman saya mulai kasak-kusuk saat melihat mantan saya.

Tiba-tiba saya memutuskan untuk menghampiri dia. Saya ajak salah satu teman, yang sedang saya ajak bicara, untuk ikut. Sementara teman-teman lain yang melihat saya, mulai bersahut-sahutan riuh rendah.

Saya mulai menyapanya. Bertanya apakah mengganggu kalau saya duduk di depannya. Saya kenalkan teman saya.

Lalu saya duduk, dan kami mulai berbicara. Pembicaraan yang bermula dari “hai, apa kabar?”, lalu berlanjut ke obrolan-obrolan trivial seputar kehidupan kami masing-masing. Saya lihat, teman-teman yang tadi datang, sudah pergi. Meja mereka kosong.

Kami bertiga masih larut dalam pembicaraan yang sering kali diselingi gelak tawa. Menertawakan kondisi rumah saya. Menertawakan kehidupang masing-masing. Termasuk kehidupan percintaan mantan saya, yang rupanya sudah berganti pacar lagi berkali-kali sejak putus dari saya. Sementara di mimpi tersebut, saya masih menanyakan pacarnya yang terakhir.

Pembicaraan penuh canda tersebut terus terjadi tanpa henti, sampai saya bangun dari tidur. Saat membuka mata dan menyadari apa yang baru saja terjadi selama beberapa jam dalam mimpi, saya tersenyum.

Senyuman bukan karena rindu mantan, tapi karena menyadari bahwa sering kali mimpi membawa kita ke alam dan suasana yang lebih baik dibanding kehidupan nyata.

Di kasus mantan yang saya impikan semalam, bisa dibilang waktu itu kami putus tidak secara baik-baik. Memang sih, mana ada putus hubungan yang baik-baik? Tetapi dalam kasus ini, putus hubungan tersebut membuat saya cukup stressed out selama beberapa bulan. Walaupun sekarang sudah biasa saja, toh kami akhirnya memilih tidak berteman, cukup menjadi acquaintance saja.

source: lifehacks.io

Lalu kalau di mimpi itu saya pergi ke bar, di kehidupan nyata saya hampir tidak pernah pergi ke bar. Paling waktu traveling, kalau memang bar yang dikunjungi memang menarik. Lalu teman-teman saya yang ada di mimpi itu, sebenarnya lebih dekat ke mantan saya sekarang. Rumah yang dikontrak oleh teman saya, sekarang sudah menjadi restoran. Dan pacar mantan saya yang di mimpi disebut sudah berakhir hubungannya, sampai sekarang masih awet.

Dan kalau di mimpi tersebut saya bisa bertemu dan berbincang berjam-jam dengan mantan saya, di kehidupan nyata saya sudah lama tidak bertemu dengan beliau selama beberapa tahun terakhir.

Apakah lantas saya akan mengejar supaya mimpi tersebut menjadi kenyataan? Tentu saja tidak.

Kalau memang kita sering mendengar bahwa mimpi adalah manifestasi dari keinginan kita yang selama ini terkubur dalam-dalam dan rapat-rapat, maka mungkin ada alasan kenapa keinginan tersebut layak muncul di mimpi saja. Mungkin kalau terjadi di dunia nyata, bisa jadi akan ada sense of imbalance yang justru memporak-porandakan tatanan kehidupan yang selama ini kita jalani. Atau mungkin apa yang sedang kita jalani saat ini sudah pas buat kita. Tidak lebih baik, tapi juga tidak lebih buruk.

Saya senang menjalani mimpi saat tidur. Seperti yang pernah saya tulis di Linimasa beberapa kali, saya gampang bermimpi saat tidur. Tidak lengkap rasanya tidur tanpa mimpi, karena selama beberapa jam, saya bisa pergi sejenak dari kepenatan rutinitas dunia nyata.

Karena sifatnya yang sementara, maka rasanya mimpi should stay the way as it is. Tak perlu ditransfer ke dalam kehidupan nyata. Some dreams in our sleep remain best as dreams.

source: dreamstop.com

Dan saat kata-kata seperti “maaf” atau sekedar ucapan salam sulit kita ucapkan di kehidupan nyata, sementara di mimpi kita malah terjadi, maka itu sudah lebih dari cukup membuat kita merasa lebih baik.

Dream some dreams tonight. You’ll love them.

Panduan Ketika Video Pornomu Tersebar

VIDEO pemersatu bangsa,
dicari orang-orang se-Indonesia.

Beginilah ungkapan seorang teman, merujuk pada dua video erotis kelas amatir yang menghebohkan jagad maya sejak sepekan terakhir.

Yang saya ketahui sejauh ini, video-video tersebut dibuat dan (awalnya) menjadi milik pribadi dua pasangan berbeda. Salah satunya bahkan disebut-sebut merupakan orang Samarinda. 😅 Seperti biasa, pembahasan-pembahasan klise bermunculan kemudian.

  • Dari penelusuran wartawan ke sekolah-sekolah yang diduga menjadi almamater para pemilik rekaman, sampai pelacakan lokasi hotel, waktu kejadian, dan hal-hal lainnya.
  • Kecaman terhadap pola pergaulan masa kini, kepada mereka yang membuat rekaman, dan kepada orang-orang yang menyebarluaskan video tersebut.
  • Spekulasi tentang mengapa video tersebut bisa beredar; apakah revenge porn, ataukah gadget yang diretas atau dicuri. Dibarengi dengan asumsi lazim bahwa pemilik dan penyebar video adalah si laki-laki. Setidaknya dilihat dari gestur dan percakapan dalam adegan, serta stereotip bahwa laki-laki doyan pornografi. 😂
  • Tinjauan psikologis dan psikoseksual atas perilaku merekam adegan persetubuhan diri sendiri. Dikaitkan dengan sikap narsisme seksual, kegemaran seksual tertentu atau fetish untuk mendapatkan dorongan seksual dari melihat rekaman persenggamaan diri sendiri, sekadar spontan dan memang kinky, atau iseng dijadikan kenang-kenangan/koleksi belaka.
  • Imbauan untuk berhenti menghakimi, tidak merisak atau mem-bully orang-orang yang terlibat dalam rekaman, serta mendorong korban untuk tetap kuat dan berani mencari bantuan dari lembaga-lembaga terkait. Semisal Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) atau yang di daerah, Komisi Nasional (Komnas) Perempuan, aparatur hukum, dan sebagainya.
  • Sampai munculnya kembali seruan untuk jangan telanjang di depan kamera, atau menjauhi seks di luar nikah sekalian. Ditujukan terutama untuk para perempuan sebagai korban dengan kerugian yang lebih besar dibanding laki-laki (guncangan batin, kehamilan yang tidak diinginkan, rasa malu yang berlebihan dan destruktif, depresi dan tertekan, serta lain sebagainya).

Saat ngobrolin tentang video erotis pribadi (non komersial, bukan sengaja diproduksi untuk diperjualbelikan), pasti selalu berhadapan dengan konsep-konsep etis dan kesusilaan, moralitas, privasi individual yang terbatas, serta implikasi hukum pra maupun pasca dibuatnya rekaman tersebut. Setiap orang tentu punya pendapat berbeda-beda.

Untuk itu, silakan jawab beberapa pertanyaan berikut. Semacam tes modulasi sebelum obrolannya berlanjut. Ya monggo juga kalau jawabannya bersedia dibagi di kolom komentar.

  • Apa pandanganmu tentang berahi atau syahwat?
  • Bolehkah seseorang merekam dirinya sendiri saat bersenggama? Jika boleh, apa alasannya?
  • Jika tidak boleh, apakah merekam diri sendiri saat bersenggama adalah perbuatan yang salah? Apa alasannya?
  • Bagaimana jika persenggamaan dan perekaman adegan tersebut dilakukan oleh pasangan suami istri? Apakah perbuatan yang salah?
  • Kepada siapa kondisi “salah” ini berdampak? Diri sendiri (pemilik rekaman), keluarga, masyarakat di lingkungan sehari-hari, masyarakat luas, agama dan tuhan, atau semuanya? Apa alasannya sampai bisa dikategorikan sebagai sesuatu yang “salah”?
  • Menurutmu, siapakah yang berinisiatif merekam persenggamaan tersebut? Laki-laki atau perempuan?
  • Menurutmu, adakah kemungkinan video tersebut juga disimpan, atau bahkan disebarluaskan oleh si perempuan? Apa alasannya?
  • Setuju/tidak setujukah kamu, dalam konteks “salah” berarti terlarang dan “benar” berarti harus dilakukan, kondisi yang “tidak salah” itu bukan berarti “benar”? Jangan salah paham lho, saya tidak mengajurkan apa pun di sini. 😝 Melainkan tetap tenang, berpikir jernih, dan selalu siap menghadapi kenyataan.

Bagi saya, siapa pun orangnya, kesalahan terbesar dilakukan oleh si penyebar. Bukan hanya melanggar privasi (sama saja dengan merampok), tetapi juga mengkondisikan terbentuknya kekeliruan pemahaman seksual pada generasi muda, serta mendorong banyak orang untuk mendiskreditkan tokoh dalam video. Lagi-lagi, terutama si perempuan.

Berapa banyak laki-laki yang membayangkan dirinya ada dalam video tersebut menjadi partner seksual sang perempuan? Ditambah berapa banyak laki-laki yang beranggapan bahwa perempuan di video tersebut bisa diajak tidur sembarangan? Sekilas, fantasi seksual tidak jauh berbeda dengan pelecehan seksual dalam pikiran. Buktinya, sekejap berselang setelah video erotis itu tersebar, banyak beredar cuplikan pesan pribadi tak senonoh dari laki-laki yang ditujukan ke akun Instagram sang perempuan. Terlepas dari apakah akun itu benar-benar milik ybs atau bukan.

Dari cuplikan video, dijadikan meme. Warganet Indonesia memang kreatif.

Dalam hal ini, saya percaya, perempuan dewasa (berkeadaan legal) berhak memutuskan ingin bersetubuh/tidak ingin bersetubuh dengan siapa, dan seperti apa. Consent itu pula yang menentukan apakah sebuah keadaan seksual bisa disebut senonoh atau tidak senonoh.

Analoginya begini, meski suami istri, bersenggama di ruang tamu rumah orang lain, apalagi yang tak dikenal, dapat dikategorikan sebagai tindakan tidak senonoh, mengganggu ketertiban umum, serta melanggar pidana asusila.

Lain halnya jika persenggamaan dilakukan di ruang tamu rumah sendiri. Kata orang, mau sampai salto-kayang-jungkir balik atau lodoh sekalipun, ya tetap senonoh-senonoh saja selama dilakukan dalam lingkup tertutup dan di luar pemaksaan. Toh, dilakukan pada pasangan sendiri. Berteriak, mendesah, melenguh, dan suara-suara lainnya bisa bebas dikeluarkan, minimal tidak gaduh atau mengganggu orang lain.

Lalu, kembali ke pembahasan sesuai judul, bagaimana menyikapi keadaan ketika video erotismu tersebar? Yang pasti, begitu kamu dan pasanganmu sama-sama setuju untuk merekamnya, insiden ini adalah salah satu risiko konsekuensi terburuk yang dapat terjadi. Penyesalan mati-matian tetap tak akan mengubah keadaan. Telanjur, dan harus siap-siap terganggu oleh cibiran orang.

Kalau kamu sudah menikah, dan video itu kamu buat bersama pasanganmu dalam keadaan sadar, kamu juga bermental kuat dan sanggup tidak baper berlebihan, serta dikelilingi kolega/atasan/bawahan yang suportif (menyangkut karier, pekerjaan, dan penghasilan), mending kamu bawa santai saja kejadian ini. Life goes on, hidup terus berjalan.

Lebih baik fokus dan mencurahkan tenaga untuk memproses hukum si penyebar. Saya yakin sikap ini jauh lebih bermanfaat dalam pemulihan, ketimbang terlampau malu pada lingkungan. Saya juga yakin sikap percaya diri seperti ini bisa berdampak positif pada self-esteem, dan tidak mengubahmu seketika menjadi seorang ekshibisionis, hiperseksual, maupun lacur, tak peduli seberapa banyak dan keras omongan orang yang dicecarkan kepadamu.

Kalaupun kamu (laki-laki/perempuan) disebut liar dan binal, lah kenapa memangnya? Kamu telah berlaku liar dan binal kepada pasangan sahmu sendiri secara tertutup kok, menjadikan kehidupan asmara kalian terlihat begitu menyenangkan. Hanya kebetulan lagi apes saja, gara-gara ada kampret yang menyebarkan bukti kemesraan kalian. Bukan mustahil, orang-orang yang menghujat paling nyaring sebenarnya iri, dan kepengin juga bisa seperti itu dengan pasangannya masing-masing.

Singkatnya, daripada kelimpungan, sibuk bersembunyi, lari dari kenyataan, dan terus menerus menyangkal keras tudingan orang-orang, yaudasik, diiyain aja.

Apakah benar orang yang ada dalam video porno tersebut adalah Anda?
Iya. Itu saya kok.
Kenapa dibikin video?
Biar makin mesra sama pasangan
Oh, begitu.

Ya pada intinya, saran di atas memang easier said than done, tapi kamu bisa segera meneruskan kehidupan setelahnya. Malah bisa naik level, dari orang biasa, menjadi hot husband dan hot wife, yang dibuktikan lewat rekaman. Jika merasa bodi kurang oke, pasti muncul motivasi untuk makin rajin berolahraga dan menjaga pola makan. Iya! Sampai segitunya. Asal hati-hati, jangan sampai berhasil digoda untuk bikin video serupa dengan orang lain. Mentang-mentang sudah berhasil membuat banyak orang penasaran. 😅

SEX TAPE!

Terus, bagaimana jika si empunya video belum menikah, masih pacaran, atau cuma one night stand?

Saya sotoy banget sih ini, tapi sepertinya bakal jauh lebih tricky.

Ada dua hal paling mendasar. Pertama, apabila kamu dan/atau pasanganmu masih di bawah umur, maka persetubuhan sekaligus perekaman video yang kalian lakukan langsung bersinggungan dengan hukum pidana. Biasanya, si laki-laki dijadikan tersangka, orang tua/keluarga perempuan sebagai pelapor, tak peduli suka sama suka. Jadi, JANGAN!

Kedua, khusus untuk yang sudah berusia dewasa. Since you are the only rightful person upon yourself, kamu berhak mengatakan tidak dan menolak apa saja. Apalagi kalau kamu belum bisa sepenuhnya percaya kepada partnermu itu. Stay alert! Ini berlaku baik untuk laki-laki atau perempuan, walau stigmanya laki-laki mah hayuk-hayuk aja saat diajak bobo bareng… dan masih banyak kejadian, para laki-laki menggunakan tipu daya. Misalnya: hubungan seksual dijadikan sebagai pembuktian rasa cinta, atau “kan aku pasti nikahin kamu sebentar lagi.

Secara logis, selalu ada tiga fase.

Sebelum membuat video

Pada fase ini, lakukanlah semua upaya dengan semaksimal mungkin untuk mendapatkan kejelasan. Pahami benar-benar apa yang akan kalian lakukan, termasuk segala risikonya. Salah satu caranya ialah bertanyalah kepada diri sendiri dan pasangan, sebab kedudukan kalian setara;

“Kenapa harus direkam? Buat apa?”
“Kalau ini adalah keinginan si cowok, kenapa harus aku turuti? Kalau tidak dituruti, kenapa?”
“Setelah direkam, mau diapakan videonya? Ditonton bareng lalu dihapus, atau disimpan?”
“Disimpan di ponselnya siapa? Kenapa?”
“Apakah aku nyaman dengan perekaman ini, merasa risi, atau malah penasaran?”
“Bagaimana kalau video ini nanti tersebar?” (Jawabannya bukan: “Ya jangan sampai tersebar dong”)

Beberapa contoh pertanyaan di atas memang bakal bikin suasana drop saat sedang horny. Namanya juga mekanisme pengamanan, supaya menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Minimal menghasilkan kesepakatan dan keputusan bersama. Kecuali kalau sudah yakin benar ingin merekam aktivitas peraduan, kamu tidak akan mencapai fase berikutnya.

Saat membuat video

Semua orang bisa berubah pikiran kapan saja, termasuk dalam momen ini. Sibuk mengurusi kamera ponsel, atau riweuh megangin gadget bikin permainan terasa kurang menyenangkan. Kali aja

Apabila perekaman tetap berlanjut, jangan abai dengan sudut pandang pengambilan gambar. Rentan. Dari sex tapes yang pernah saya lihat selama ini, hampir semuanya lebih mengekspose wajah dan tubuh sang perempuan. Dengan demikian, identitasnya lebih mudah dikenali (untuk kemudian dihujat dan dipermalukan masyarakat) lebih dahulu dibanding si laki-laki. Sangat tidak adil, tatkala hampir semua lekuk dan ceruk tubuh perempuan ditampilkan, sementara satu-satunya bagian tubuh utama laki-laki yang ditunjukkan hanyalah pelirnya. Ibarat kata, saat sang perempuan sudah tercyduk dan dihakimi massa, si laki-laki masih punya kesempatan untuk melarikan diri.

Setelah membuat video

Dorongan syahwat sudah dituntaskan, rekaman pun sudah dihasilkan. Kembali mengacu ke salah satu pertanyaan di fase pertama, rekaman itu mau diapakan?

Orang-orang yang terlibat dalam video pasti penasaran, dan ingin menontonnya kembali. Nah, berhubung video ini menampilkan dua orang, lebih baik ditonton bersama. Semacam nobar berdua lah. Justru sangat bermasalah jika merasa tidak nyaman menyaksikannya bareng seseorang yang juga ada di dalamnya. Karena itu berarti video tersebut tak seharusnya dibuat.

Idealnya, manfaatkan waktu nobar ini untuk memperkuat dan meningkatkan keintiman bersama pasangan. Bisa juga dijadikan referensi supaya meningkatkan kehidupan seksual ke depannya.

Akan sedikit berbeda ceritanya, bila lebih terfokus pada tampilan fisik dalam rekaman tersebut.

Iiih… Perutku buncit di situ. Jelek ah! Hapus!
“Mulut monyong-monyong kayak ikan mas koki. Hapus!”
Itu bulu ketiak kelupaan dicukur, gondrong banget. Hapus!
Ya ampuuun, pantatku kok tipis banget ya? Hapus ah!
Astaga, ekspresi mukaku kayak lagi mabuk tuak. Hapus dong.

Dalam setiap foto dan video, setiap orang cenderung lebih memerhatikan dirinya sendiri. Terlebih di era selfie dan wefie seperti sekarang. Perasaan malu akibat bentuk tubuh yang dianggap kurang bagus, berpotensi kuat mengarahkan tindakan seseorang. Termasuk menghapus video erotis pribadi yang sudah dibuat. Lagi-lagi, mekanisme pengamanan. Begitu video hilang, peluang untuk disebarluaskan pun jauh berkurang, hampir nihil. Lebih aman.

Andaikan videonya tetap bocor juga, yaudasik, diiyain aja.

[]

Karena menulis ini, mendadak penasaran. Apa kabarnya ya, mas dan mbak dari video “Bandung Lautan Asmara” beberapa tahun lalu? Boleh dibilang mereka adalah penyintas atau survivor dari hujatan sosial massal waktu itu. Pengin ngobrol tentang bagaimana cara mereka menghadapi dan menjalani masa-masa tidak menyenangkan tersebut. Siapa tahu bermanfaat bagi para korban penyebaran video erotis pribadi lainnya.