#RekomendasiStreaming – Manusia Selalu Punya Cerita Buat Kita

Bulan ini, sengaja tulisan soal rekomendasi tontonan di aplikasi atau situs video streaming saya tunda kemunculannya. Soalnya baru dua minggu lalu saya sadar kalau besok, tanggal 1 Desember, adalah hari libur. Makanya, tulisan soal rekomendasi tontonan lebih baik saya tunda dulu diunggahnya, supaya bisa pas ditonton saat liburan long weekend.

Kali ini ada dua film panjang dan satu serial yang saya rekomendasikan. Kesamaan dari mereka cuma satu: humanis.

Sama-sama bercerita dari sudut pandang, paling tidak, satu manusia. Sama-sama bercerita tentang kemanusiaan, or the lack of it, dari spektrum masa dan tempat yang berbeda. Sama-sama berusaha berempati, meskipun tidak selalu berhasil, terhadap manusia. Sama-sama berusaha memahami manusia, dengan caranya masing-masing.

Dua film yang saya rekomendasikan kali ini, kebetulan sama-sama dikirim negara tempat pembuatannya menjadi wakil di kategori Film Berbahasa Asing Terbaik di Academy Awards tahun depan. Kategori di ajang Oscar yang, menurut saya, selama ini memang menyimpan film-film unik yang kadang malah terasa lebih dekat dengan rasa kita, dibanding pemenang atau nominator di kategori-kategori lainnya.

Jadi, jika punya waktu untuk menonton dua film panjang akhir pekan ini, maka tontonlah …

First They Killed My Father (Netflix)

Bisa dibilang, ini adalah film terbaik karya Angelina Jolie so far. Tema perang memang selalu menjadi pilihan cerita yang disutradarainya. Namun film ini terasa berbeda dari film-film yang dibuat Angelina Jolie sebelumnya. Penggarapan secara teknis jauh lebih rapi. Pendekatan ceritanya sangat intim, membuat kita benar-benar merasakan penderitaan bocah perempuan yang bertahan hidup saat Khmer Merah mulai berkuasa di Kamboja tahun 1975. Mengarahkan anak kecil untuk berakting dengan tingkat kompleksitas emosi yang tinggi, mungkin hanya bisa dilakukan oleh sutradara yang berpengalaman. Di sini, Angelina Jolie does it brilliantly.

Newton (Amazon Video)

Mungkin banyak dari kita yang belum sadar bahwa India adalah negara demokrasi terbesar di dunia. Setiap pemilihan umum berlangsung, ada hampir 1 milyar pemilih yang suaranya harus dihitung, dengan jutaan bilik pemungutan suara yang harus dipasang. Film ini bercerita tentang seorang anggota pengawas pemilu bernama Newton, yang baru pertama kali bertugas, dan langsung ditempatkan di kawasan konflik di tengah hutan. Dengan gaya komedi satir, film ini memperlihatkan situasi India yang tidak pernah kita jumpai di film-film Bollywood lain: hutan kering tanpa air, penduduk yang acuh terhadap politisi dan partai politik, tentara yang pragmatis, susahnya mendirikan tempat pemungutan suara di tengah hutan, dan masih banyak kejadian lain yang membuat kita berpikir, “Why didn’t I think of that before?
Salah satu film paling humanis yang saya tonton tahun ini.

Sementara itu, jika punya waktu untuk menonton satu serial di akhir pekan ini, maka tontonlah …

Mindhunter (Netflix)

Kalau mendengar tentang pembunuhan, maka pikiran kita biasanya tidak langsung menghubungkannya dengan kemanusiaan. But then, there’s a human being present first in every murderer. Serial yang digagas sutradara visioner David Fincher ini diangkat dari buku bernama sama, yang mengulas tentang awal mula profiling pembunuh atau pelaku kejahatan di FBI yang baru diinisiasi pada pertengahan 1970-an. Maka jangan harap ada banyak adegan pembunuhan, kejar-kejaran antara polisi dan penjahat, dan tembak-tembakan. Serial ini benar-benar mengulas sisi psikologinya: apa yang mendorong seseorang untuk menjadi pelaku tindak kejahatan. Apa yang memotivasi mereka. Apa yang menyebabkan mereka menjadi seperti itu. Tak heran kalau sepanjang 10 episode, kita justru disuguhi adegan wawancara dalam ruangan, investigasi, analisa dan riset yang mendalam. Herannya, semuanya justru membuat kita semakin ketagihan, dan tak berhenti menontonnya.
Humanity is a complex and mysterious thing after all. Seolah-olah demikian apa yang mau dikatakan serial ini.

Selamat berlibur, dan selamat menonton!

(Oh iya, bulan depan #rekomendasistreaming akan memuat “Best Of” tahun 2017. Ada masukan? Silakan tinggalkan di bagian komentar di bawah ya!)

Advertisements

Pulang ke Samarinda

PERNAH ada masanya, saya mencoba mengkritik orang-orang muda yang memilih untuk tidak pulang ke kota asal setelah bersekolah atau merantau ke luar daerah; pulau; negara; bahkan benua, terutama yang dianggap lebih maju dari tempat asalnya.

Kini, situasi itu berbalik. Kritik yang sama juga bisa ditujukan kepada saya, si penyampainya. Meskipun tetap dengan sejumlah pembeda. Salah satunya seperti bersedia muncul di video dokumenter—semacam endorsement—mengenai Samarinda berikut. Terlepas apakah tayangan ini dijadikan salah satu objek komunikasi politik menjelang Pilkada Kota Samarinda setelahnya, atau tidak. 😅

Kehidupan memang bergulir dan bekerja dengan cara yang amat misterius. Dalam tulisan “Pindah Kota” Desember tiga tahun silam, posisi dan perspektif saya tentulah sebagai seorang pemuda tanggung asal ibu kota Kaltim, yang belum pernah menetap lama (lebih dari sebulan) di luar rumah orang tua. Sekarang, tulisan ini dibuat di Samarinda, saat sedang merasakan pulang kampung untuk ketiga kalinya. Baru yang ketiga kalinya.

Lalu apa yang membuat hal ini begitu signifikan, sampai-sampai bisa dibahas khusus di Linimasa? Autokritik, keberlanjutan, dan keinginan untuk berbagi cerita saja. Senada dengan yang diutarakan Mas Roy tentang hari jadi tiga tahun blog gotong royong ini:

Cerita kami adalah cerita biasa dari orang biasa. Idealnya kami masing-masing punya waktu 7 hari untuk hidup, dan 1-2 jam untuk menuliskan hodup kita ini. Bisa juga soal ide, soal wacana, atau soal curahan hati.

~ “Ketika Nilai Tak Lagi Dinilai

Autokritik muncul sebagai salah satu bentuk koreksi, bahwa dulu pernah keliru melihat sesuatu. Pernah menganggap keengganan berkarya di kota asal dengan antusiasme dan idealisme yang sama seperti sebelumnya merupakan hal absurd dan mudah ditepis, asal ada kemauan. Pernah menganggap keengganan seseorang untuk balik kampung adalah risiko, alih-alih konsekuensi logis bagi para orang tua yang mengirimkan anak-anaknya bersekolah ke luar daerah. Semua ini hanyalah generalisasi, dan baru akan berubah jika dialami sendiri.

Akses, alternatif, dan kanal media yang terbatas di daerah asal selalu menjadi alasan keengganan. Walaupun pada dasarnya, penghuni setiap kota di Indonesia pasti akan mengeluhkan masalah serupa. Hanya berbeda skala dan cakupannya saja.

Seorang muda asal Samarinda yang tinggal di Jakarta, Surabaya, Singapura, sampai Melbourne pasti sangat melihat berbagai kekurangan dari kota asalnya. Begitu pula dengan orang Jakarta yang tinggal di Singapura, Melbourne, New York, London, dan kota-kota lainnya, pasti juga sangat melihat berbagai kekurangan dari kota asalnya.

Teringat celetukan seorang kawan: “Kalau kreatif ya kreatif aja, di mana pun dan dengan kondisi apa pun. Kalau sudah malas, biarpun semuanya serbalengkap, enggak bakal ngapa-ngapain juga.

Pada kenyataannya, selalu ada yang baru setiap kali pulang. Kota ini tidak pernah gagal memberi kejutan, terutama yang berkaitan dengan kreasi dan anak muda yang haus eksistensi aktualisasi diri.

Dalam kepulangan kali ini, baru tahu kalau Samarinda telah memiliki creative community hub yang baru kendati tetap dibayangi akuisisi oleh perusahaan rokok melalui sponsorship. Ada pula lonjakan pertumbuhan coffeeshop atau kedai-kedai kopi kekinian, tampaknya mengulangi tren yang pernah terjadi sekitar 2007-2008. Bedanya, beberapa coffeeshop dibuka oleh anak muda, berbeda dengan yang terjadi sepuluh tahun sebelumnya. Kemudian, setidaknya sudah ada dua coworking space, yang mudah-mudahan termanfaatkan dengan sebagaimana mestinya.

Foto: Deni Dermanto

Samarinda memang tidak seramai Solo, Semarang, Malang, atau kota-kota menengah lainnya di Indonesia, namun dari ketiga contoh kejutan di atas saja, sudah mematahkan anggapan soal surutnya antusiasme di daerah.

Dengan demikian sekali lagi, ini bukan perkara benar at salah, melainkan tentang konsekuensi. Baik jadi pendatang yang memilih berpindah tempat tinggal, maupun yang tetap “balik kandang” semua punya impact-nya masing-masing.

Di kota asalnya atau di perantauan, mereka tetap bisa berkarya.

[]

Gara-Gara Bacang

​Bacang Ny. Lena menurutku salah satu Bacang terbaik di Jakarta. Porsinya relatif besar dengan isian ayam atau babi yang padat. Bumbunya seperti pernyataan damai bersama nasi atau ketan. Berpadu seimbang di mulut. Meleleh selagi hangat di antara kuning telur asin dan jamur shitake dalam balutan daun bacang yang wangi tanah basah. 

Bacang Ny. Lena. Boleh pesen di instagram: @bacang_special_ny_lena

Aku pesan 5! Dua babi, tiga ayam. Untuk besok lusa. Hari Jum’at. 

Persis di hari yang dijanjikan, pesanan Bacang Ny. Lena datang. Karena aku ndak dirumah, bacang diterima oleh Arni, penjaga rumahku.

“Gimana, Bacangnya aman?” tanya Om Penol (Pendek Bahenol) penjual dan pengantar Bacang Ny. Lena di hari Sabtu.

“Loh, baru di antar ya? Aku lagi di rumah Mama, Om.”

“Udah dari Jum’at kemarin. Yang terima pembantumu yang gemuk itu.”

“Oh, sebentar aku tanya ya.”

Arni baru bilang ada kiriman bungkusan Jum’at kemarin. Ia lekas masukkan freezer supaya ndak basi. Karena Bacang berharga itu disimpan bukan pada tempatnya, maka ndak terlihat. Sampai aku pulang, hari Minggu. 

“Keluarin dulu dari Freezer Ni. Biarin di atas meja 20 menitan. Terus dikukus ya.”

“Semuanya Pak?”

“Dua aja deh. Tiga lagi kembaliin ke kulkas. Yang bawah ya. Jangan Freezer.”

Entah ada angin apa, aku buka kulkas dan tampak seonggok bacang di tempat yang benar. Seonggok. Kok cuma satu?

“Loh kok tinggal satu ya? Dua lagi ilang. Coba Ni bungkusnya tadi mana, jangan-jangan kebuang.”

“Enggak Pak, nih kosong.”

“Loh, kemarin dikirim berapa kamu liat ndak?”

“Enggak pak. Saya langsung masukin kulkas.”

“Waduh. Mestinya 5 nih.”

“… Saya makan dua Pak.”

“Ooh udah kamu makan dua. Lain kali bilang ya Ni, daripada aku protes sama yang jual kan malu. Eh kamu makan yang talinya putih?”

“Iya pak.”

“Sebentar aku cek ke om Penol.”

Ndak lama. 

“Yang kamu makan, babi! Enak kaaan?”

“Astagfirullah pak! Astagfirullah! Kok babi sih pak?”

“Ya aku emang pesen babi sama ayam sih. Aku juga baru tau sekarang ini mana yang babi mana yang ayam.”

Arni menangis. Makin lama makin kenceng. Sesenggukkan. Dia ambil air minum. Lalu masuk ke kamarnya. Ndak keluar lagi sampai Senin pagi. Aku pikir sakit.

Hasil renungannya semalam suntuk berbuah SMS ke Ibuku: Arni minta berhenti kerja. Dia minta pulang ke kampungnya hari itu juga karena dikasih makan babi. Aku ulangi, DIKASIH MAKAN BABI!

Ibuku sontak marah: “Cari pembantu ndak gampang sekarang ini. Itu aja mesti nunggu berapa bulan baru dapet. Udah ada yang mau kerja, mbok ya diawet-awet. Jangan masak yang haram yang ndak sesuai ajaran agamanya.”

“Loh Ma. Aku ndak bisa bikin bacang. Itu mesen. Terus dia makan sendiri. Ndak bilang-bilang. Kebetulan yang dimakan bacang babi.”

“Ya makannya jangan mesen yang babi bawa ke rumah dong!” lalu mamaku ndak mau bantu carikan penjaga rumah lagi. 

Seketika konteksnya berubah. Dari mengambil tanpa ijin, alias mencuri, jadi apa yang dicuri. Lebih absurd lagi, korban pencurian sekarang jadi terpidana.

Dengan analogi yang sama. Kejadian di atas sama dengan: ada seorang maling TV. Pas mau dijual, TV nya rusak. Dia marah sama yang punya TV. Yang punya TV dipenjara karena TV-nya rusak ndak bisa dijual! 

Aku curiga, kalau dibawa ke pengadilan. Jangan-jangan aku yang masuk bui. Bukankah Ahok dan Ariel juga kena perkara yang sama?

Jika Saya Menjadi Calon Mertua

Anak saya tiga. Perempuan semua. Jika ada yang bertanya, jika mereka kelak akan berumahtangga, apa syarat utama yang dimiliki yang bisa membuat saya yakin kepada calon suami mereka, maka syaratnya sebanyak jumlah peserta aksi 212.

Namun jika harus dengan satu syarat utama, maka saya akan menjawab:

tidak pelit

Mengapa?

Karena hingga saat ini, saya masih belum dapat menerima sikap pelit dalam semesta pergaulan saya sehari-hari. Pelit adalah sebuah fenomena gunung es. Di permukaan hanya terlihat pelit, dan saya yakin di bawah jiwa si pelit tersimpan karakter lainnya yang haram jadah. Lebih banyak dan lebih besar.

Bagi saya orang pelit adalah orang yang terlalu angkuh.

Bahwa rejeki yang dimilikinya adalah hasil jerih payah dan buah pikirnya sendiri. “Buat apa dibagi kepada orang lain?”

“Mereka malas saja untuk berusaha dalam memperoleh apa yang saya miliki.”

Mereka merasa bahwa apa yang dimilikinya saat ini pantas dinikmati sendiri hasil dari perjuangan gigih tak tahu waktu dan segala tenaga.

“Sudah capek, eh yang lain enaknya aja minta ini itu”.

Bagi saya pelit juga adalah sebuah bentuk ketakutan.

Kaum pelit, kikir, merki, stingy, yakin betul bahwa jika saya berikan sebagian atau seluruhnya, dia tak akan mendapatkan lagi seperti saat ini. Mereka takut hartanya berkurang. Mereka takut makanan yang ia bawa tidak akan didapatinya lagi. Mereka takut tuhan tidak akan bermurah hati lagi padanya.

Bagi saya orang pelit itu orang susah.

Bisa saja mereka kaya, tapi hati, jiwa, mentalnya, cara berpikirnya adalah cara berpikir orang susah. Mereka memendam masa lalu serba kekurangan. Ketika mereka berlebih, mereka takut kembali miskin. Mereka tak mau mengulang masa lalunya yang kelam.

Bagi saya orang pelit itu egois.

Hal paling sedih di dunia adalah ketika kita mengalami hal yang menyenangkan tapi kita merasakannya sendiri tanpa dirasakan oleh orang yang kita sayangi.

Jika si pelit sedang bahagia, dan menikmati sesuatu, dan ia tak berbagi, maka ia adalah orang yang begitu mencintai dirinya sendiri.

Baginya, dunia diciptakan hanya dan jika dia hidup. Tak perlu merasakan alam perasaan orang lain. Toh dirinya sudah gembira. Dan kebahagiaan ini yang berhak merasakan hanya dirinya. Yang lain tak boleh secara instan ikut menikmati.

Alam sosial kita mengetahui betul fenomena orang pelit. Bisa jadi si Pelit enak diajak ngobrol, tapi tak akan pernah bisa menjadi sahabat sejati.

Bisa jadi si Pelit kaya raya, dan memberi sesuatu, namun tentu saja dengan harapan ada yang lebih besar akan diperolehnya esok hari dari si penerima.

Apakah suami kita pelit? Apakah pacar kita pelit? Apakah istri kita pelit? Apakah anak kita pelit?

Mulai dari sekarang, mari berdoa di kalimat pertama, agar kita tidak menjadi orang pelit dan orang-orang yang kita cintai juga menjadi murah hati.

Jika mereka tetap pelit?

“Nak, daddy suka sama pacar kamu. Ganteng. Pinter. Sopan. Tapi daddy ndak setuju kalau kamu kelak dengan dia ya. Dia pelit. Mulai sekarang kamu cari pacar lain saja.”

So You’ve Been Publicly Shamed, What’s Next for Us?

Beberapa bulan lalu, saya membeli buku berjudul “So You’ve Been Publicly Shamed” karya Jon Ronson. Dalam waktu singkat, tak sampai 48 jam, buku itu selesai saya baca. Sampai segitu menariknya buku ini? Buat saya, ya, buku ini sangat mudah dibaca dan isinya sangat menggugah.

Buku non fiksi ini berkisah tentang pengalaman pengarang saat dia terkena fitnah di Twitter. Usut punya usut, ternyata fitnah tersebut bersumber dari akun palsu yang punya nama sama dengan beliau, tapi merupakan akun “spam bot” buatan mesin. Tertarik mengetahui lebih banyak tentang fenomena “spam bot” ini, perjalanan Ronson malah membawanya menemui orang-orang yang dipermalukan secara umum di media sosial.

Cover buku So You’ve Been Publicly Shamed (source: Amazon)

Kasusnya menarik, dan berbeda-beda. Ada seorang penulis yang ketahuan memalsukan kutipan yang menjadi isi buku yang ditulisnya. Ada seorang jurnalis yang menuduh dua ilmuwan atas sexism, namun tuduhan ini malah berbalik arah, sehingga jurnalis tersebut dipecat karena menyebarkan tuduhan palsu. Ada pekerja rumah jompo yang dipecat karena mengunggah foto becandaan yang malah dianggap senonoh dan tak pantas. Ada seorang pekerja humas yang kehilangan kredibilitas begitu dia mengunggah twit humor yang justru dianggap melecehkan kaum etnis tertentu.

Kasus yang berbeda-beda, namun semuanya mempunyai kesamaan: semuanya mengalami hujatan langsung di sosial media (Facebook dan Twitter yang menjadi studi kasus buku ini) oleh jutaan orang di seluruh dunia. Mereka kehilangan pekerjaan. Mereka terpaksa dan dipaksa mundur dari “masyarakat” secara virtual, bahkan hampir semuanya akhirnya menarik mundur dari kehidupan nyata. Berdiam diri di rumah. Kalaupun keluar rumah, hanya untuk menemui psikiater yang merawat kesehatan mental mereka setelah kasus yang menimpa mereka masing-masing.

Akhir perjalanan mereka berbeda-beda. Ada yang mendapatkan pekerjaannya kembali, ada yang pindah ke negara bagian lain, ada yang harus sampai re-invent a new persona untuk mengembalikan reputasinya. Pilihan terakhir yang rasanya mustahil, namun ternyata bisa dilakukan. Tentu saja harganya selangit.

Isi buku ini masih bercokol di benak saya lama setelah saya selesai membacanya. Ingin menulis untuk berbagi kesan tentang buku ini di sini, namun entah kenapa belum ada penggerak untuk melakukannya dari dulu. Sampai sekarang. Tepatnya setelah ada kejadian besar yang menimpa saya.

Kemarin, atau sehari sebelum tulisan ini saya unggah, saya meninggalkan komentar atas sebuah status teman saya di suatu media sosial. Komentar yang saat saya tulis dan tinggalkan di situ, saya anggap sebagai sebuah candaan belaka. Celakanya, komentar tersebut diterima oleh teman saya sebagai sebuah celaan. Buru-buru saya baca lagi. Memang komentar saya itu bisa dibaca sebagai a joke, tapi bisa juga sebagai an insult. Saya tidak bermaksud untuk menyinggung teman saya sama sekali.

Teman saya protes secara terbuka di balasan komentar saya. Komentar dari teman saya cukup keras. Rupanya komentar saya sebelumnya sangat menyinggung perasaannya.
Buru-buru saya meminta maaf sebagai balasan komentar tersebut. Berhubung saya mempunyai nomer ponselnya, saya juga meminta maaf secara pribadi. Saya sampaikan bahwa saya menyesal atas apa yang saya tulis.

Saat kita meminta maaf, kita sadar bahwa kita tidak berhak untuk meminta apalagi memaksa orang tersebut untuk memaafkan kita. Itu hak mereka. Yang menjadi kewajiban kita adalah meminta maaf kalau kita sudah menyinggung apalagi menyakiti mereka.

Lalu saya teringat isi buku di atas. Bahwa sebuah guyonan atau humor sangat jarang yang bisa tersampaikan dengan baik. Artinya, apa yang dimaksud sebagai a joke oleh penyampainya, belum tentu diterima sebagai hal yang sama bagi mereka yang mendengarnya. Makanya sebagian besar dari kita tidak berprofesi sebagai komedian. Dan dari yang sedikit itu, tidak banyak komedian yang berhasil.

Dan saya sadar, dari pengalaman kemarin dan isi buku itu, bahwa jari kita mempunyai kekuatan yang luar biasa untuk mengubah hidup orang lain. Mengubah hidup bisa mulai dari mengubah hari, mengubah mood, sampai mengubah nasib orang. Kita memang tidak bisa mengontrol apa yang orang lain pikirkan atau rasakan. Yang bisa kita kontrol adalah untuk memikirkan ulang sebelum kita menulis: is it worth it? Is it worth saying? Is it worth sharing?

Setiap tulisan kita, sesingkat atau se-trivial apapun, mempunyai potensi untuk dilihat dan dibaca jutaan orang lain. Istilahnya, “goes viral”. Di kasus-kasus dari buku tersebut, para pemilik akun korban mempunyai pengikut (followers) yang tidak banyak. Maksimal ratusan. Namun saat cuitan mereka disebarkan oleh ratusan akun lain yang jumlah pengikutnya jauh lebih banyak, maka tak bisa dielakkan lagi, public shaming happens.

Saya pribadi bukan orang yang pandai beropini. Keterbatasan kemampuan otak saya untuk belajar hal baru, menerima informasi baru, dan menyerap apa yang baru dipelajari sampai benar-benar mengerti, ternyata sangat terbatas. Ditambah lagi dengan kemampuan intelejensia yang semakin menurun seiring dengan bertambahnya umur. Setiap saya baca berita, saya selalu mencari sumber lain tentang topik yang sama untuk membandingkan sudut pandang. Karena kebanyakan informasi yang dibaca, akhirnya malah tidak berniat untuk membagi karena takut kesalahpahaman saya malah menularkan keburukan untuk orang lain.

Pada akhirnya spontanitas memang bukan menjadi urutan utama dalam berinteraksi di media sosial. Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, social media is not for the weak of heart and mind. Perlu kedewasaan dalam berinteraksi tanpa tatap muka lewat media tulisan. Perlu kesabaran, ke-legowo-an, dan keikhlasan di media sosial. Ini berlaku buat semua: yang menulis, dan yang membaca tulisan.

Sampai tulisan ini diunggah, akhirnya saya memutuskan untuk mengurangi waktu di media sosial. Dari jumlah waktu yang sudah saya habiskan selama ini di akun-akun media sosial, mungkin untuk sementara waktu saya akan lebih mengurangi lagi untuk social media interaction. Bukan menghilang sama sekali, tapi hanya mengurangi.
Tentu saja ini pilihan pribadi, sama sekali bukan ajakan. Bagi mereka yang berprofesi sebagai pemegang akun-akun media sosial publik, atau bekerja di ranah media sosial, keputusan saya tersebut mustahil untuk dilakukan. Tetapi buat saya yang hanya memiliki akun pribadi, maka mengurangi untuk menahan diri adalah pilihan yang bisa diambil.

Saya teringat sebuah kutipan dari film yang dibintangi Julia Roberts, salah satu film komedi romantis favorit saya sepanjang masa, yaitu Notting Hill. Adegan ini terjadi saat Julia tertangkap basah sedang di rumah Hugh Grant:

William (Hugh Grant): I mean, today’s newspapers will be lining tomorrow’s waste paper bins.
Anna (Julia Roberts): Excuse me?
William: Well, you know, it’s just one day. Today’s papers will all have been thrown away tomorrow.
Anna: You really don’t get it, do you? This story gets filed. Every time anyone writes anything about me, they’ll dig up these photos. Newspapers last forever. I’ll regret this forever.

Notting Hill

Memang tidak mudah untuk berhati-hati, tanpa harus kehilangan atau meninggalkan jati diri. Di media sosial, kita ingin didengar. Namun kadang kita harus menghabiskan lebih banyak waktu untuk mendengar. Sebagian besar apa yang harus kita dengar kadang tidak mudah untuk diterima.

Learning is never easy. But it always brings us somewhere better.

Mari Santai Saja; Balada Serumpun Paham, Seribu Takwil

DARI sekian banyak hal menarik, dan “menarik” yang silih berganti terjadi dalam sepekan terakhir, video musik ini termasuk salah satu yang paling anyar; paling segar melekat di pikiran saya; paling menggoda untuk dibahas dan ditanggapi. Sampai akhirnya dijadikan pembuka tulisan kali ini.

Berikut liriknya.

Search the sky for light and glory, La ilaha illa Allah (there is no god but Allah)
The moon will smile, don’t you worry, La ilaha illa Allah
Upon Muhammad, peace and blessings, La ilaha illa Allah
Join together Let us all sing! La ilaha illa Allah

Peace upon the son of Mary, La ilaha illa Allah
Jesus sent with love and mercy, La ilaha illa Allah
He filled the hearts that once were hollow, La ilaha illa Allah
The more you give, the more will follow! La ilaha illa Allah

Rabbee salli ‘ala Muhammad, (O Allah, send peace & blessings upon Muhammad)
La ilaha illa Allah
Saadiqul wa’dil Mumajjad, (He is truthful in his promise and ennobled)
La ilaha illa Allah
Wa ‘ala ‘Issa Ibni Maryam, (And [send peace & blessings] upon Jesus the son of Mary)
La ilaha illa Allah
Allathi fil mahdi takallam, (He who spoke as a newborn baby)
La ilaha illa Allah

‘Tis the season to be jolly, La ilaha illa Allah
Share a smile with everybody, La ilaha illa Allah
Even though our time is fleeting, La ilaha illa Allah
We look forward to our meeting! La ilaha illa Allah
La la la… La la la ilaha illa Allah!

Baru saya temukan lewat twit Mas Belio di atas dan pertama kali ditonton pada Jumat tengah malam lalu, ini sebenarnya bukan video baru. Di laman YouTube, tercatat dirilis pada 26 Desember 2016, dan tentu saja telah mendapatkan banyak respons. Secara sederhana bisa dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan isi komentarnya: memuji, dan menghujat.

Okelah, saya berasumsi bahwa Linimasa.com ini merupakan sebuah echo chamber, ruang gaung terbatas dengan lingkup pembaca yang itu-itu saja (kecuali dalam tulisan Kang Agun yang “EDM itu musik sampah”). Yang artinya, kita cenderung punya pola pikir yang sejalan, mudah untuk saling setuju (lagi-lagi, kecuali dalam tulisan Kang Agun yang “EDM itu musik sampah”). Tetapi guna memastikan hal ini, silakan jawab pertanyaan berikut: Setelah menonton video, mendengar musik, dan membaca lirik lagu di atas, apa tanggapan kamu? Terutama jika kamu adalah seorang muslim atau orang Kristen. Apakah kamu termasuk kelompok yang tersinggung karena merasa itu tidak benar, memuji karena menganggap itu keren, atau chill karena merasa biasa-biasa saja?

Kita tidak akan membahas kelompok yang memuji dan yang chill saja. Sebab, apanya yang mau dibahas? Tak ada yang salah dari video musik tersebut menurut kedua kelompok itu. Sedangkan bagi kelompok yang tersinggung, pasti tidak suka lantaran merasa adanya pelecehan, bahkan penistaan terhadap objek-objek keagamaan di sana. Ya, kan?

Nah, masalah selanjutnya. Siapakah yang paling pantas merasa tersinggung? Yang muslim atau yang Kristen? Secara logis, kedudukan mereka sama kok.

Berikut adalah kemungkinan-kemungkinan alasan ketersinggungan dari keduanya. Silakan ditambahkan kalau kurang… dan izinkan saya untuk memberikan argumentasi sebagai seorang awam, yang bukan muslim atau pun Kristen.

Kemungkinan Alasan: Muslim

  • Itu lagu Natal, dibawakan dan diperdengarkan dalam suasana hari raya umat agama lain (sebagian orang menyebutnya sebagai kafir). Sementara muslim tidak merayakan kelahiran nabi.
    • Saya tidak punya argumentasi spesifik tentang ini. Sebab apabila jawabannya ialah “tidak boleh dinyanyikan oleh muslim”, maka kembali ke preferensi masing-masing pribadi dalam mengekspresikan rasa cinta kepada nabi.
  • Tidak islami.
    • Apakah benar tidak islami? Baik Kristen maupun Islam sama-sama mengakui kualitas spiritual dan kenabian Isa atau Yesus, kan? Lirik-liriknya pun hanya menyampaikan empat pesan utama: pernyataan keimanan kepada Allah sebagai satu-satunya, pujian kepada Nabi Muhammad SAW dengan kualitas individu-Nya dan curahan berkah atas-Nya, pujian kepada Nabi Isa AS putra Maryam dengan sifat penuh belas kasih-Nya dan juga curahan berkah atas-Nya, serta ajakan untuk bersyukur dan bergembira atas anugerah-anugerah yang diterima.
  • Liriknya menggunakan kalimat-kalimat tauhid dan selawat nabi.
    • Kembali mengacu pada argumentasi sebelum ini. Kalimat tauhid tetap hanya dipanjatkan kepada Allah SWT, begitu pula dengan selawat nabi juga ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW dan Nabi Isa AS putra Maryam.
  • Liriknya menggunakan bahasa Arab.
    • Lalu kenapa dengan bahasa Arab? Dengan lirik yang sama, dapat menggunakan bahasa yang berbeda-beda, kan? Malah memunculkan pertanyaan awam baru, mengapa bahasa Arab begitu dikultuskan? Apakah ini berarti selain bahasa Arab memiliki kedudukan lebih rendah?
  • Terdengar seperti mengejek dan dipermainkan.
    • Bagian mananya yang terdengar seperti mengejek dan dipermainkan? Nada dan iramanya? Liriknya? Ekspresi penyanyinya? Tampilan video musiknya? Yakin benar-benar dipermainkan, atau cuma perasaan kamu saja?

Kemungkinan Alasan: Kristen

  • Itu lagu Natal, tentang ekspresi sukacita atas lahirnya Yesus Kristus.
    • Iya, lagu itu memang identik dengan perayaan Natal, menjadi salah satu pujian populer selama ini. Tetapi, apakah orang lain dilarang menyanyikannya? Apa yang menyebabkannya menjadi terlarang?
  • Liriknya berisi selawat nabi.
    • Nah, kan. Meskipun nada dan iramanya sama, namun liriknya membuat lagu ini bukan lagi kidung pujian Natal. Melainkan lagu bernuansa islami. Sehingga poin alasan sebelumnya, tak valid lagi. Lagu ini pun bisa dinyanyikan oleh orang muslim.
  • Liriknya menggunakan bahasa Arab.
    • Kenapa dengan bahasa Arab? Jangan lupa, di Mesir ada Katolik Koptik yang seluruh aktivitasnya menggunakan bahasa Arab. Toh di banyak negara Timur Tengah termasuk Palestina, bahasa Arab digunakan dalam kehidupan sehari-hari, juga oleh para jemaat Kristen.
  • Terdengar seperti mengejek dan dipermainkan.
    • Bagian mananya yang terdengar seperti mengejek dan dipermainkan? Nada dan iramanya? Liriknya? Ekspresi penyanyinya? Tampilan video musiknya? Yakin benar-benar dipermainkan, atau cuma perasaan kamu saja?

Terlepas dari perkara teknis, gubahan lagu di atas justru dapat dilihat sebagai salah satu bukti luwesnya pendekatan historis-religius antara Kristen dan Islam. Namanya juga ajaran serumpun, yang setidaknya sama-sama mengakui keberadaan Nabi Isa AS/Yesus, sang ibu Maryam/Maria, dan sejumlah detail lainnya. Puji-pujian tersebut tetap ditujukan kepada figur yang sama, kendati diposisikan secara berbeda dalam kedua agama. Ketika ada yang merasa terganggu, mungkin persoalan selera pendengar saja.

Lagipula, mau berkomentar apa lagi, kalau Cak Nun saja sudah menyanyi dan ngomong begini? 😃

Mau disebut apa? Islamisasi atau Kristenisasi? 😂

“Gendeng lék ngéné carané urip.”

~ Cak Nun

“Halah, mbok ya kamu ngomong soal Buddha aja, Gon. Enggak usah ngomongin agama orang lain.

Nanti dibilang Buddhaisasi lagi. 😅 #netizenserbasalah

[]

Reaksi setelah Aksi

Pagi itu mata saya belum melek sepenuhnya. Ketika sebuah pesan WA masuk sambil menunjukkan foto potongan pengumuman di koran:

Ternyata tak hanya satu pesan. Tapi ada sekitar 11 pesan lain yang intinya mengkhawatirkan keamanan bisnis tote mangkok ayam Instagram MangkokAyamID. WOW banyak nomor yang asing dan beberapa orang yang tumben-tumbenan menyapa.

Karena saya belum bangun benar, tak langsung saya jawab. Setelah melakukan panggilan alam 1 dan 2, saya pun bikin kopi, masak sarapan, duduk dengan tenang. Sambil sarapan saya membaca pelan-pelan pengumuman itu. Tertera dengan jelas “… termasuk dalam barang kelas 21”, bagi yang pelaku bisnis yang pernah mencoba mendaftarkan karyanya, pasti pernah dijelaskan mengenai klasemen barang yang didaftarkan.

Kurang lebih begini, setiap kita mendaftarkan merek dagang, logo, dan lainnya, maka kita harus memilih kelas sesuai dengan bisnisnya. Setiap bisnis ada kelasnya masing-masing. Misal, merek LALALAND terdaftarkan di kelas 21 yang berisikan perabotan rumah tangga, pecah belah dan lainnya sesuai daftar yang ada di http://skm.dgip.go.id/index.php/skm/detailkelas/21, maka pemilik merek hanya berhak memilikinya di kelas itu saja. Lalu kalo ada orang lain memakai merek LALALAND tapi untuk barang-barang di kelas lain bagaimana? Ya boleh saja. KECUALI, saat mendaftarkan di awal, sekalian mendaftarkan ke semua kelas yang semuanya ada 45 seperti di daftar http://skm.dgip.go.id

Tak hanya di WA, Twitter, Instagram message semua mempertanyakan. “Apakah akun Instagram ini adalah bagian dari PT LIK?” atau “Wah gimana nih? Jadinya selama ini jual barang palsu dong?!” atau sekedar “Udah baca ini?” Tentunya satu persatu saya coba jawab dengan menjelaskan seperti yang saya pahami. Padahal mengenai hukum pastinya seperti apa, ya saya juga kurang paham.

Sebenarnya, kejadian seperti ini sudah saya antisipasi dari awal bisnis yang menggunakan gambar ayam jago ini saya mulai. Saya yakin ini sudah menjadi “public property” karena dilihat dari sejarahnya, gambar ayam jago di mangkok ini sudah dimulai dari Dynasti Ming.

Saking lamanya sepertinya belum ada yang benar tahu siapa pencipta dan pemegang hak cipta mangkok yang banyak dipakai di negara-negara Asia ini. Apa yang dimaksud dengan Public Property? Setelah kurun waktu tertentu, jika tidak ada yang mengklaim sebuah disain atau karya atau ciptaan, jika tidak ada yang menyatakan dan memperpanjang kepemilikannya, maka dia menjadi milik public yang bisa dipakai oleh siapa saja. Lah, ini dari 1368-1644, kita bisa tau dari mana?

OK, tapi namanya di negara ini semua suka mengklaim aja dulu. Seperti misalnya merek sebuah toko perabotan rumah tangga yang saat baru mau buka toko, kesulitan karena mereknya sudah keduluan didaftarkan oleh seseorang di sini. Entah bagaimana kelanjutannya, akhirnya toko itu bisa buka juga. Atau saat keributan Kopi Tiam, yang ternyata dimiliki oleh personal. Maka beramai-ramai semua warung kopi peranakan yang menggunakan merek ini harus menggantinya. Padahal… dari mana Kopi Tiam berasal? 😛

Kami pun mencoba mencari tahu lebih dalam lagi. Sudahkah PT di pengumuman itu mendaftarkan disain ayam jagonya. Usut punya usut di internet, ternyata sudah. Kalau dibaca dari yang tertera di sertifikatnya, tertulis “seni lukis” kemudian karena memang keperluannya untuk mangkok, maka disainnya melengkung menyesuaikan cetakan. Dan ayamnya, sebagaimana lazimnya mangkok ayam, menghadap ke kiri.

Lalu bagaimana kalau lukisan itu sudah menjadi vector, lurus dan menghadap ke kanan? Menurut teman pengacara yang membantu saya dari awal mengurusi ini, “seharusnya aman“. “Lagian, gimana caranya mau ngecek mangkok ayam di seluruh nusantara yang sudah dipakai semua tukang bakso?” lanjut teman saya lagi. Ini pun sebenarnya menjadi pertanyaan saya.

Tak lama kemudian, teman bisnis saya mengirimkan pengumuman di koran itu versi selengkapnya:

Setelah membaca ini, kami pun mengangguk-angguk. Semua jadi jelas. Pengumuman ini dalam bahasa sehari-harinya mau bilang “hey kamu dan kamu yang nama-namanya di sebelah kiri, kamu gak boleh bikin dan jualan mangkok yang ada gambar ayam jagonya ya. Soalnya itu hak cipta dan mereknya udah gue punya nih. Sekalian deh nih gue umumin, semua yang bikin barang-barang di kelas 21, kalo gue udah punya hak untuk produksi, pakai dan dagang motif ayam jago ini.”

Kalau diperhatikan, ada tiga kali kelas 21 disebutkan di iklan pengumuman tersebut. Yang kami anggap sebagai “yakalo di barang-barang di kelas lain mah, terserah lah”. Asumsi? Jelas. Tapi saya sudah mengimel dan berusaha menghubungi dengan berbagai cara tapi belum mendapatkan tanggapan sampai sekarang. Dan sampai detik ini pun, belum ada yang menghubungi saya karena menjual tas dan sarung bantal menggunakan motif ayam jago. Bukan mencari masalah, tapi mencari kejelasan. Atau lebih baik lagi, kalau bisa bekerja sama. Prinsip saya, zaman sulit begini mah bangun jembatan aja sebisa mungkin.

Dan, kebetulan di saat yang bersamaan, disain baru sudah dipersiapkan sebelum pengumuman ini:

Diinspirasikan oleh Ayam Jogo tapi menggunakan Tangram sebagai ekspresinya:

Ya kalo beneran gak boleh jualan pake motif itu, yaudah minta maaf aja terus saya bikin-bikin  desain lain. Rezeki itu dari Tuhan.

Sekarang ini sudah lewat. Sudah tak ada lagi yang membicarakannya. Semua berjalan seperti semula. Life goes on. Tapi ada satu yang membekas. Saat “masalah” ini terjadi, saya dan dua teman lagi yang juga berjualan motif serupa merasakan hal yang sama. Banyak yang peduli. Tapi lebih banyak yang terkesan seru melihat ada masalah ini terjadi. “Nah lo nah looo, kena masalah deeeeh”. Kami agak bingung sebenarnya apa salah kami.

Dan saya pribadi khawatir karena banyak rekan-rekan yang berkecimpung di bidang kreatif baru tau soal kelas hak cipta. Kok bisa?

Kenyataannya, sebelum kasus ini terjadi ada banyak kasus di mana kami menemukan pedagang lain menggunakan motif yang sama pleketiplek. Ya namanya orang dagang di Instagram. Sepertinya semua pedagang di Instagram pasti pernah kena, saat disain atau idenya dicontek. Tote mangkok ayam, saya yang memulai 4 tahun yang lalu. Mulainya dijual dengan harga 99.000 di belowcepek.com Untungnya tak seberapa. Awal mulanya untuk mengumpulkan donasi sekolah anak jalanan dekat sini.

Apa yang kami lakukan saat disain yang sama persis dipakai? Liat-liat sikon dulu lah. Kalau perorangan atau mahasiswa, kami diamkan. Tapi kalau perusahaan atau penyablonan, ya kami peringatkan. Yang kami khawatirkan cuma kalau ada pembeli yang mengira semuanya produk kami. Sesekali kami update di Instagram perihal di mana saja barang asli kami dijual. Itu saja. Toh seperti keyakinan kami, ini adalah public property.

Saat ini, IG medusa.yourock memutuskan tak lagi menjual kaos mangkok ayamnya. Mau ganti disain baru. Sementara IG mangkokayamID melanjutkan menjual tote, tas selempang dan sarung bantal. Seperti di awal berjualan, sampai sekarang kuantitasnya terbatas. Selain di Instagram, saya juga menitip jual di Uma Seminyak – Bali, semua cabang Aksara Jakarta, dan JKT Creative di Senayan City.

Setelah kejadian ini, saya menjadi paham mengenai sulitnya untuk mengklarifikasi berita tak benar atau setengah-setengah yang tersebar di media sosial. Dalam kasus saya, literally setengah halaman pengumuman. Padahal kasus saya ini kecil. Itu pun sudah mendapatkan pertanyaan-pertanyaan menyelidik bahkan dari orang-orang yang tak saya kenal. Setelah dijawab dengan detail, saya bingung juga kok tak ada balasan apa-apa. Palingan “owh gitu…” Yaaah mengecewakan ah.  Beli kek hehehehe.

Bagaimana dengan kasus-kasus lain yang jauh lebh besar dan yang ramai dibicarakan di media sosial. Bagaimana kalo beritanya ternyata setengah-setengah atau bahkan tak benar sama sekalo. Malu kaaan, udah kentjeng salah pulak. Sudah sejak lama, setiap ada kejadian saya menahan diri untuk bereaksi. Diemin aja dulu. Sampai ada penjelasan resmi dari pihak yang menurut saya bisa dipercaya.

Saat kejadian ini terjadi pun, saya mengusahakan tak bereaksi apa-apa di media sosial. Ini kan urusan “dalam”. Di saat bersamaan saya senyum-senyum sendiri membayangkan beberapa persona yang saya kenal, pasti akan berkoar kencang di media sosial. Kalau perlu bikin press-con di Facebook :p. Dalam hati saya saat itu, bisnis saya mah kecil banget. Udah pake mikroskop pun gak keliatan.

Buat yang berkecimpung di dunia desain, pasti paham. Ada banyaaaaaaaaak sekali tiruan dan contekan yang terjadi di negara ini. Tak perlu jauh-jauh lah ke negara lain. Malu-maluin aja. Sesama pedagang IG Indonesia pun saling contek. Dan lebih seringnya, yang besar mencontek yang kecil atau perorangan. Ada yang diselesaikan baik-baik, tapi lebih banyaknya selesai gantung.

Contoh yang lumayan tragis dan magis…. Di sebuah acara kreativitas besar di jantung ibu kota, diresmikan oleh petinggi negara dan dihadiri oleh banyak pelaku kreatif. Sedang berlangsung seminar di tengah acara membahas soal hak cipta. Lumayan ramai pesertanya. Saya berjalan di sekitarannya yang dipenuhi oleh booth-booth milik anak-anak muda. Salah satu, eh, salah banyak booths menjual barang-barang menggunakan motif Pokemon dengan bebasnya.

Bersama tulisan ini, saya mau minta maaf ke berbagai media yang mencoba menghubungi saya saat kejadian ini lagi hot-hotnya. Saya bukan tidak mau menjawab. Atau sok cool diem “no comment” a la Desy Ratnasari gitu. Tapi ada dua hal: pertama saya merasa pengumuman ini tidak ada hubungannya dengan bisnis kecil saya. Kedua, saya yakin ada berita dan kejadian lain yang lebih berguna buat disiarkan.

Sekalian kalau ada yang salah dari pemahaman saya soal hak cipta, merek dagang dan lain-lain, sampaikan di kolom komentar. Saya bukannya tak mau cari tau, tapi setiap berusaha cari tau selalu ada yang saya baru tau.

Pikiran Kita, Pilihan Kita

Ramainya kasus pelecehan seksual di Hollywood dalam sebulan terakhir ini mengingatkan saya pada sebuah percakapan dengan seorang teman yang terjadi beberapa tahun lalu. Percakapan singkat dan ringan yang terjadi secara kebetulan saat kami bertemu.

Waktu itu, teman saya masih single. Mungkin sekarang masih. Entah, sudah lama kami tidak bersua. Ada satu hal yang menggelitik dari percakapan itu.

Iseng saya bertanya, “Elo sendiri gimana? Masih jomblo?”

Jawabnya, “Ya elo liat aja lah, gue nyamperin elo sendirian kan?”

“Hahaha. Gak bosen?”

“Ya bosen, gila. Cuma gimana, emang belum laku aja.”

“Emang gak ada yang mau?”

“Ya menurut elo?”

Saya tertawa. Padahal teman saya ini secara fisik not bad. Kalau pakai beskap, mungkin tidak kalah menawan seperti anggota paspampres. Tidak secakep model-model di majalah atau Instagram, tapi toh tidak ada yang keberatan kalau membawa dia ke acara kawinan, atau dikenalkan sebagai calon menantu.

Saya melanjutkan “interogasi” ini. “Padahal ya, kalo dipikir-pikir, di antara kita, justru elo lho yang paling punya kesempatan besar untuk nge-date dengan mudah.”

Dia menatap bingung, “Maksud lo?”

“Ya elo kerja di bidang yang banyak ketemu orang. Tiap hari juga elo ketemu bejibun orang, mulai dari yang cantik, ganteng, sampe yang elo bilang unconventionally good looking apalah itu. Yang elo bilang unik, menarik. Yang pengen banget jadi bintang dan terkenal.”

Dia tertawa.

“Emang gak ada yang bikin elo tertarik? Gak ada gitu yang elo deketin? Ato justru yang deketin elo, karena elo dianggep bisa memuluskan karirnya?”

Dia tertawa semakin keras. “Hahaha. Sampe nyembur nih. Kagak, gila apa. I don’t want to s**t where I eat.”

“Maksudnya gimana tuh?”

Dia terdiam sejenak. “Ya, gue kerja, nyari duit. Gue juga bukan orang tajir yang gak perlu duit trus kerja cuma ngisi waktu doang. Ya kalo gitu mah, ngapain juga gue harus bangun pagi-pagi banget dan pulang pagi lagi? Gue serius pengen kerja yang bener di dunia kerjaan gue ini. I mean, for some it’s all about glamour, glitzy lights. Tapi itu kan cuma tampilan depannya doang. Di belakang layar yang elo liat, ya orang-orang kayak gue yang kerjanya mulai dari mikir konsep sampe ngangkat-angkat barang. Kalo udah gitu, manalah kepikiran mau macem-macem. Ada juga elo mikir, gimana caranya elo kerja yang bener, supaya elo dipake terus buat kerjaan berikutnya. I’ve got my reputation at stake, man. Bertahun-tahun kita kerja tuh cuma buat bangun reputasi. Supaya kita jadi top of mind saat orang lagi perlu kerjaan yang sesuai sama keahlian kita. Elo pastinya pernah denger dong istilah “it takes 20 years to build a reputation, and it takes 20 seconds to destroy it”?

Saya mengangguk.

“Ya persis seperti itu. Gue rasa gak cuma bidang kerjaan gue, tapi bidang kerjaan elo, semua profesi, berlaku hal ini.”

“Tapi elo gak muna dong kalo ada orang-orang yang justru memanfaatkan posisi mereka buat, yaaa, seperti yang gue tanyain ke elo tadi?”

Dia menyeruput kopinya. “Kayak memanfaatkan orang? Nggak, gue gak muna, ada orang-orang kayak gitu. Mulai dari kru, sampe boss, semua ada yang kayak gitu.”

“Trus elo sendiri gimana?”

Case by case. Kalo emang dia kru, atau temen kerja selevel ama gue, ya gue ingetin. Kalo dia boss atau yang hire gue, terus terang ini susah banget. Mau sampe merem kayak gimana, gue gak bisa meleng. Kalo udah gitu, gue make sure gue dan tim gue protect siapapun yang jadi korbannya, dan make sure juga kalo sebisa mungkin banget, nggak kerja sama yang punya project itu lagi. Ngapain gue kerja keras kalo lingkungannya gak safe gitu?”

“Godaan emang gampang banget di mana-mana ya, man.”

Yeap. Bener banget. Cuma kalo udah nyangkut kerjaan atau di tempat kerjaan, elo pikir-pikir lagi. Pikir-pikir banget. Apa iya elo rela ngelepas segala macem kerjaan atau karir yang udah elo bangun, cuma karena elo gak bisa resist temptation and carnal desire?”

“Tapi banyak yang get away with it tuh.”

Dia menghela nafas. “Sayangnya gitu. Tapi gue percaya, karma exists. Elo baik, dunia baik ama elo. Walaupun kadang butuh waktu.”

“Makanya itu elo butuh waktu lama buat gak jadi jomblo lagi, karena mau cari pasangan di luar dunia kerja elo?”

“Hahahaha, sialan! Tapi bener sih. Cariin dong.”

“Emang gue lagi gak nyari juga?”

Kami tertawa. Dan setelah pertemuan ini, saya semakin sadar kalau apa yang kita pilih dalam hidup sebaiknya adalah hasil pemikiran kita yang matang. Jangan mentah, namun jangan terlalu matang sampai tidak ada ruang untuk berimprovisasi dengan keadaan.

Because we are what we think and do.

Bersyukur tapi Sombong

DEMI memperoleh kebahagiaan, kita diajarkan untuk selalu bersikap positif terhadap kehidupan… dan bersyukur adalah salah satu cara utamanya. Namun banyak dari kita yang justru terjebak dalam kesombongan. Rasa syukur yang semestinya murni, tulus, dan meringankan batin malah membuat kita tanpa sadar menjadi lebih picik lagi pamrih. Menjadi tak sebaik yang kita kira.

Secara sederhana, rasa syukur kita maknai sebagai sikap berterima kasih yang bernuansa spiritual. Karena ekspresi bersyukur identik dengan kondisi-kondisi dalam kehidupan kita saat ini; berkah serta anugerah; maupun hal-hal yang dirasa terlampau besar untuk diberikan atau dilakukan oleh sesama manusia. Itu sebabnya, rasa syukur diekspresikan kepada tuhan, dewata, atau pun alam semesta. Tergantung keyakinan masing-masing.

Bila ditelaah lebih dalam, rasa syukur memiliki beberapa aspek.

  • Bersyukur: berterima kasih atas semua hal baik yang baru diperoleh.
  • Bersyukur: berterima kasih dan merasa cukup atas semua hal baik yang telah dimiliki.
  • Bersyukur: berterima kasih dan tidak mengeluhkan semua hal baik yang belum diperoleh.
  • Bersyukur: berterima kasih karena tidak kehilangan hal-hal baik yang telah dimiliki.
  • Bersyukur: berterima kasih karena tetap mendapatkan hal-hal baik, setelah kehilangan beberapa hal baik lainnya.
  • Bersyukur: berterima kasih karena masih mendapatkan kesempatan untuk hidup.

Dari poin-poin di atas, semuanya menempatkan diri kita di posisi penerima, yang mendapatkan pemberian apa pun bentuknya. Kendati demikian, kita kerap mencemarinya dengan pengukuran: lebih tinggi-setara-lebih rendah-tidak ada, lebih besar-sama-lebih kecil-tidak ada, lebih banyak-imbang-lebih sedikit-tidak ada, enak-biasa saja-tidak enak-tidak ada, lebih bagus-kurang lebih-lebih jelek-tidak ada, untung-impas-rugi/sukses-gagal, baik-buruk, dan pada akhirnya hidup-mati.

Lantaran keterbatasan batin untuk melihat segalanya secara lebih bijaksana, faktor-faktor tersebut awalnya dijadikan parameter untuk bisa memunculkan dan mengembangkan rasa terima kasih. Semacam alat bantu. Menggunakan kekurangan dan kemalangan orang lain sebagai tolok ukur. Akan tetapi pengaplikasiannya kebablasan, sampai menyebabkan kekeliruan dalam bersikap.

Contohnya sebagai berikut.

lebih tinggi-setara-lebih rendah-tidak ada

Ya sudahlah, bersyukur aja Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta tahun 2018 sebesar Rp 3.648.035 per bulan. Daripada UMP di NTT, misalnya. Cuma Rp 1.600.000,” atau

Ya sudahlah, bersyukur aja Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta tahun 2018 sebesar Rp 3.648.035 per bulan. Daripada menganggur, tidak ada penghasilan.

Sekilas, tidak ada yang aneh dari dua kalimat di atas. Terdengar wajar, terkesan positif, dan memberikan dorongan semangat kepada lawan bicara. Hanya saja, ada pengukuran dan pembandingan di situ, bahwa kaum buruh di DKI Jakarta jauh lebih baik ketimbang di NTT, terlebih dengan para pengangguran. Ada alasan untuk berbesar hati, yang saking besarnya bisa berubah jadi kesombongan yang sangat halus.

Foto: Jawa Pos

lebih besar-sama-lebih kecil-tidak ada

Ya sudahlah, tetap bersyukur masih dapat tanah warisan biarpun agak kecil. Setidaknya tidak sekecil yang didapat adikmu yang perempuan.

Kalimat penyemangat ini jelas-jelas politically incorrect dan seksisme, tetapi masih sering terjadi di Indonesia. Ketika perbedaan perlakuan karena jenis kelamin masih dianggap wajar. Rasa syukur yang dibuat-buat.

lebih banyak-imbang-lebih sedikit-tidak ada

Ya sudahlah, tetap bersyukur karena berkesempatan menyumbang untuk rumah ibadah ini biarpun cuma sedikit. Banyak orang di luar sana yang bahkan masih tersesat, belum menemukan jalan kebenaran seperti ajaran agama kita ini.

Entah apakah ada yang berpikiran demikian atau tidak, kalimat penyemangat seperti ini berpotensi menumbuhkan kebanggaan berlebih dan membuta.

enak-biasa saja-tidak enak-tidak ada

“Udah, jangan ngeluh. Makan seadanya, disyukuri aja. Untung masih ada nasi, tahu, tempe, sama telor. Di Afrika sana, banyak yang mati kelaperan tau?!

Khas mak-mak banget.

lebih bagus-kurang lebih-lebih jelek-tidak ada

Ya sudahlah, bersyukur aja kamu sudah menikah dan dapat suami kayak dia. Memang enggak ganteng, yang penting orangnya baik, mau bekerja, setia dan sayang. Setidaknya lebih baik daripada tetangga. Suaminya cacat, atau aku, jomlo parah, enggak ada yang mau.

Menyodorkan kemalangan orang lain, dan self-pity untuk membuat orang lain merasa agak mendingan itu bukan sesuatu yang sehat, kan?

untung-impas-rugi/sukses-gagal

Ya sudahlah, disyukuri aja. Kamu masih menang taruhan bola, biarpun tipis. Jagoanku kalah, rugi bandar. Nanti coba lagi aja.

Judi! Menjanjikan kemenangan… dan kebangkrutan.

baik-buruk

Ya sudahlah, disyukuri aja punya anak kayak begitu. Biar pemalas atau boros tapi masih laki. Daripada tetangga sebelah, anaknya cakep dan pinter cari uang tapi homo.

HAHAHAHA! 😂

hidup-mati

Ya sudahlah, cacat habis diamputasi jangan disesali terus-terusan. Namanya juga musibah. Untung kamu masih hidup, yang lainnya kan tewas!

Optimisme khas orang Indonesia, selalu ada hal yang patut disyukuri dibalik segala macam bencana dan kemalangan. Di antara semua, hanya parameter ini yang paling pamungkas.

Kesombongan yang dihasilkan dari parameter-parameter rasa syukur di atas juga berkaitan dengan ilusi spiritual. Gara-gara (kebetulan) mendapatkan banyak hal baik, kita bisa sangat ge-er dan merasa menjadi umat pilihan tuhan. Lebih beruntung ketimbang orang lain. Anggapan seperti ini kemudian bisa merembet ke urusan dosa, pahala, amal ibadah, sampai bawa-bawa derajat keimanan.

Kita jamak mendengar komentar seperti ini: “Tuhan pasti berkenan dengan amal ibadah dan kedermawanan Bapak, makanya selalu diberkahi dengan keberhasilan dan kesuksesan.

Apabila yang bersangkutan overwhelm dengan segala pujian tersebut, tak menutup kemungkinan jadi tinggi hati. Merasa istimewa, yakin pasti masuk surga.

Agar terhindar dari pandangan keliru begini, silakan berlatih untuk menanggalkan segala bentuk pengukuran dan parameter pada waktu bersyukur. Berusahalah semaksimal mungkin supaya berhasil mendapatkan yang terbaik, lalu berterima kasihlah sesudahnya. Cukup sampai di situ. Tidak perlu pakai embel-embel “lebih baik daripada” atau “masih mending ketimbang”. Sebab itu merupakan pembenaran, dan kita belum benar-benar ikhlas menerima kenyataan.

Kita, karena saya juga masih begitu. 😅

[]

Ketagihan Pedes

Ndak ada yang sevulgar Maicih dalam menjual pedas. Dalam website resmi Keripik Pedas Maicih karya Bob Merdeka, diceritakan bahwa ia ndak punya strategi khusus kecuali menjual keripik pedas seunik dan sekreatif mungkin. Unik dan kreatif yang kemudian diimplementasikan dalam kemasan, jenis produk dan cara pemasarannya. Tanpa menyebutkan secara kronologis, ada juga ramen aneka level, mie aneka level, nasi pedas, serba sambal, sampai tahu jeletot yang semuanya pakai bendera PEDAS!

Cabe-cabean. Sumber: Google.

Bob dan para pionir kuliner Nusantara ini ngerti banget kebiasaan orang Indonesia, selain “belum makan, kalau belum nasi.” Belakangan, pedas juga berarti enak. Enak yang tadinya bermakna luas dan subjektif, tiba-tiba menyempit jadi pedas. 

“Cobain beli ayam penyetnya deh, enak.”
“Oya?”
“Iya, pedes gitu.”

Kenapa orang Indonesia sampai gini banget sih sama pedes? Pertama, tentu saja kebiasaan. Ketahanan pedas seseorang sangat dipengaruhi oleh jam terbang mulutnya mengunyah bahan makanan yang memberi sensasi itu. Sebagai orang Asia, kepedasan melimpah. Ndak kurang sedikitpun. Bukan cuma cabai; juga jahe, bawang putih, lada, pala, kunyit, wasabi, dan lainnya yang panjang sekali daftarnya.

Kedua, pedas bukan bagian dari rasa. Lidah kita ndak punya reseptor rasa pedas seperti halnya manis, getir, asin, asam dan gurih. Pedas adalah sensasi panas yang timbul karena stimulus makanan yang kita konsumsi. Sensasi ini yang diidam-idamkan banyak orang. Sekarang pertanyaannya bergeser menjadi: kenapa mulut kebakar gitu pada suka sih?

Seperti cintapatah hati dan kebiasaan menyakiti diri sendiri (self-injury). Pertanyaan ini bisa dijawab oleh biokimia. 

Kebakaran yang bikin panik karena cabai berasal dari senyawa capsaicinoids; yang paling terkenal adalah capsaicin. Lucunya, capsaicinoids merupakan turunan senyawa vanillin, yang memberi rasa dan bau vanila yang lezat itu. Semua jenis cabai di bumi ini punya capsaicin dalam konsetrasi berbeda-beda. Antara paprika sampai bhut jolokia (cabai terpedas asal India).

Ketika mereka mencapai lidah, capsaicinoids berinteraksi dengan protein Transient Receptor Potential Cation Channel Subfamily V Member 1 (ampun lah panjang banget, kita singkat aja jadi TRPV1 ya) yang terletak di permukaan sel saraf. TRPV1 bertindak sebagai sensor sel yang memberikan informasi tentang dunia luar. Biasanya, TRPV1 diaktifkan oleh panas fisik, seperti api atau air dengan suhu di atas 43˚C. Sinyal ini akan diteruskan sel saraf (neuron) satu dan lainnya hingga pesannya sampai ke otak untuk merespon suhu tinggi tadi (bayangkan neuron kita sedang bermain pesan berantai). Ketika capsaicinoids berinteraksi dengan TRPV1 mereka juga menyebabkan sinyal yang sama dengan panas, meskipun ndak ada kandungan panas yang nyata. Catatan: TRPV1 ini tersebar pada sel-sel saraf di banyak lokasi di tubuh sehingga sensasi terbakar bisa saja dialami di tempat lain. Makannya, selalu cuci tangan setelah berurusan dengan cabai, terutama sebelum pegang mata atau kelamin!

Capsaicinoids menipu otak sehingga ia berpikir sedang terjadi kebakaran, yang juga menyakitkan. Ingat, neuron kita sedang bermain pesan berantai. Salah satu pesan yang dihasilkan oleh capsaicinoids adalah zat P (neuropeptida dari residu 11 asam amino), yang mentransmisikan sinyal nyeri. Respon darurat otak kita terhadap zat P adalah menetralkan suhu di pusat kebakaran. Maka keluarlah segala keringat, ingus, air mata dan muka jadi merah padam. Untuk kasus kebakaran fisik, konsentrasi cairan tubuh ini akan berujung pada lepuhan. Maka jangan heran, kalau pedas juga bisa bikin bibir terasa bengkak dan mati rasa. Kita akan membahas soal mati rasa ini di bawah.

Respon yang lebih lambat dari otak kita adalah dengan melepaskan jenis neurotransmiter lain yang dikenal sebagai endorfin dan dopamin. Endorfin adalah cara alami tubuh untuk menghilangkan rasa sakit dengan cara menghalangi kemampuan saraf untuk mengirimkan sinyal nyeri. Ya, mati rasa tadi. Sedangkan dopamin yang bertanggung jawab atas rasa kepuasan dan kesenangan. Kedua neurotransmitter inilah yang menyumbangkan efek singkat kesenangan psikotik, yang bisa saja bikin beberapa orang ketagihan. Singkatnya, bagi sebagian orang yang makan makanan pedas memicu rasa euforia yang mirip dengan runner’s high atau senyawa psikotropika ringan lainnya. 

Berarti berbahaya dong? Ndak juga. 

Oh, ya berbahaya kalau dikonsumsi dalam jumlah besar dan waktu yang lama. Tapi apa sih yang ndak berbahaya kalau berlebihan? 

Uniknya, TRPV1 tadi lama-lama jadi kebal. Kepekaannya berkurang karena kerja neurotransmitter berbahan kalsium (calcineurin) yang dilepaskan dari tulang untuk membantu dua kawannya di atas menyelesaikan kebakaran yang dirasakan TRPV1. Hal ini menyebabkan orang naik level kepedasan. Ramen level 3 udah ndak lucu lagi. Ia pesan level 7 yang diimpor langsung dari neraka! Ia butuh lebih banyak capsaicin agar TRPV1 berfungsi lagi sehingga endorfin dan dopamin bisa disintesa secara normal. Sampai titik tertentu, hingga TRPV1 jadi betul-betul jenuh dengan tipuan panas ini. Ia butuh istirahat beberapa waktu agar bisa menghadirkan sensasi itu kembali. 

Lagi pula, sebelum TRPV1 jenuh, perut kita akan teriak lebih dulu. Kebakaran juga dirasakan dinding usus karena paparan capsaicin. Osmosis terbalik terjadi. Cairan masuk ke dinding usus sebagai bentuk respon darurat. Alhasil, mencret, sakit perut dan dubur panas. Beberapa kasus bahkan menyebabkan demam dan tukak lambung. Rupanya bolak-balik ke WC bisa mengalahkan ketagihan. Minimal kapok sampai pencernaan kembali normal. Antara 3 sampai 7 hari, tergantung tingkat ketahanan tubuh masing-masing. Lalu kita mesti mulai lagi dari awal. Pesen level 1.

Dua Ratus Delapan Puluh Yang Kita Bicarakan Tanpa Kita Hitung

Halo. Hai. Ceria sekali tampaknya. Mungkin karena ada yang menyapa duluan sambil tersenyum. Lantas jadi ikut senyum? Otomatis akan senyum karena keceriaan itu menular. Kalau yang menyapa sambil batuk? Cukup bilang “bless you”, karena tanpa batuk pun, I feel blessed seeing you.

Thank you. You’re welcome. Am I? Are you what? Welcome? Where? Wherever you said just now? You know that it’s a mere saying, right? Is a saying a mere saying? Only when spoken plainly without emotion. Did you put some emotion then? Can you feel it? I can only feel welcome by you.

Mau memulai hari dengan apa hari ini? Apa yang bisa saya dapatkan? Kopi, pisang, roti isi, apel, dan kalau masih belum kenyang juga, bubur ayam. Apakah semuanya disiapkan dengan hati? Kalau pun tidak, saya akan berbohong supaya semua bisa dimakan, dinikmati, dan disyukuri.

How can you manipulate your heart of doing what it does not want? Does it matter what your heart says? It does. It does not. It makes whatever your doing easier to do. It makes me questioning everything. Isn’t it good to be curious? Isn’t it better to just do and get on living?

Kapan terakhir kamu jatuh cinta? Kalau saat jatuh cinta, sudah tidak ingat lagi. Tidak ada yang berkesan? Berkesan saat dijalani, berbekas luka saat disudahi. Bukankah sebagian besar kisah cinta seperti itu? Tidak cuma sebagian besar, semua kisah cinta berakhir jadi nostalgia.

Isn’t it great to fall in love? Isn’t it dangerous what happens when you fall out of love afterwards? Isn’t it the risk and consequence when you choose to fall? Isn’t it preventable? Isn’t love one thing that makes life worth living? One thing is not everything.

Selamat pagi. Good morning.

Sudah tahu kalau sekarang kita bisa menulis maksimal 280 karakter setiap kali kita menulis status di Twitter? Wow, dua kali lipat dari jumlah sebelumnya. Kenaikan yang sangat terasa, ya. Apakah lantas kita semua menjadi bisa lebih pandai menjelaskan informasi yang kita sampaikan?

Some things are better kept short. Hang on: most things are better said in short sentences. The shorter, the better. I can’t agree more. Can you think of any example? Oh, plenty. I love you. That’s one. I do. That’s two. Really. That’s three.

Hari yang menyenangkan. Apa kamu lupa mengatakan “sepertinya”? Kalau nanti terjadi yang sebaliknya, paling tidak saya ingat kalau hari ini dimulai secara menyenangkan. Sungguh optimis. Karena setiap hari Kamis rasa pesimis bisa dikalahkan dengan tulisan Linimasa yang manis.

Rhyming words, they do not feel genuine. How come? They feel forced because you are forced to find words that end in the same sound. And if they come flowing freely from one’s mind & hands, do you think the person is not genuine? We are all hardly genuine in carving words, dear.

Lalu percayakah kamu kalau setiap pembicaraan kita ini berjumlah 280 karakter setiap kita berganti bahasa? Yang membuatnya lebih menarik, kenapa kamu selalu hitung setiap ucapan kita? Untuk memastikan saja, karena ada beberapa hal dalam hidup yang masih perlu kepastian.

Hai. Hi.

Bye. Bye.

Saya Merasa Bersalah

SEGALA hal yang berlebihan itu tidak baik adanya.

Sesuatu yang sejatinya baik saja akan memberikan dampak negatif dalam kehidupan manusia bila tak segera disadari dan diperbaiki, apalagi yang buruk sejak pertama. Bisa berupa fanatisme dan ekstremisme, hingga memengaruhi tindakan berupa penyalahgunaan, muslihat, serta aksi-aksi lainnya yang sejenis. Termasuk dalam kehidupan berpacaran atau berpasangan.

Saya baru sempat menonton film “Posesif” Senin malam lalu, dan apa yang dilakukan Yudhis kepada Lala mudah banget ditemui di sekeliling kita. Bahkan tidak menutup kemungkinan kita pernah bertindak serupa tanpa sadar bahwa itu termasuk abusive; bahwa itu termasuk manipulasi perasaan; bahwa itu termasuk kejahatan. Bisa dilakukan oleh si pria maupun sang wanita, tergantung siapa yang arogan, mendominasi, serta demanding.

Refleksi-refleksi terkait itu muncul dalam pikiran. Ingatan tentang hubungan di masa lalu berkelebatan, mengusik dan minta untuk diperhatikan. Dibarengi pertanyaan kepada diri sendiri: “Apakah aku pernah berbuat kasar?”, “Apakah aku pernah menyakiti dia secara fisik?”, “Apakah aku sadar melakukan kekerasan pada saat itu?”, “Pernahkah aku minta maaf?

Jujur, seketika itu juga saya merasa sangat bersalah atas sejumlah kejadian. Salah satunya ialah momen ketika kami sedang bersama. She was just being playful—more like goofing around on me. Berikutnya, apa yang selama ini saya ingat dan anggap biasa-biasa saja, ternyata… agak berbeda.

Yang saya ingat, saya memegang salah satu tangannya supaya ia berhenti. Sudah, begitu saja. Namun justru di Senin malam lalu saya benar-benar sadar. Bukan sekadar memegang, saya hampir mencengkeram keras pergelangan tangannya… dan setelah sekian tahun berlalu, saya baru sepenuhnya menyadari bahwa perlakuan tersebut termasuk kekerasan fisik. Bukan sesuatu yang biasa-biasa saja.

I do owe her an apologise, a big one… while figuring out the most appropriate way to talk to someone’s girlfriend about our the undisclosed past.

Saya menjadi tidak habis pikir dan tidak bisa membayangkan, jika mencengkeram pergelangan tangan pacar agak keras saja bisa membuat sebegitu merasa bersalah, bagaimana bisa seorang pria menganiaya, menyiksa, bahkan sampai membunuh pasangannya? Seseorang yang semestinya ia sayangi?

Berkaca pada ketidaktahuan dan kebodohan saya seperti di atas, mungkin banget ada bentuk-bentuk tindakan lain yang sebenarnya berbahaya namun kerap kita anggap biasa-biasa saja. Sekali lagi, bisa dilakukan oleh pria maupun wanita; berupa kekerasan fisik maupun deraan emosional (emotional abuse); dan dilakukan dalam ikatan berpacaran maupun setelah menikah.

Langsung dibagi di sini saja ya, contoh peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di sekeliling saya. Barangkali tidak seekstrem yang pernah kamu ketahui, atau alami, tetapi tetap saja bisa bikin bergidik. Sebab hampir semuanya berkutat pada kepercayaan dan kesetiaan, yang totaliter dan memperdaya.

Kalau kamu sayang dan percaya sama aku, mestinya enggak ada yang ditutup-tutupi lagi dong.” Bisa dibayangkan, betapa fatal akibat yang dihasilkan dari pernyataan ini.

  • Akun Media Sosial Diambil Alih

Salah seorang kenalan di Samarinda pernah melakukannya. Tak berapa lama setelah jadian, si cowok meminta kredensial akun media sosial pacarnya, supaya bisa dia akses juga. Bukan sekadar pengin lihat. Di tingkat yang lebih ekstrem, akun media sosial sang pacar juga dimonitor, bahkan dioperasikan olehnya. Semua komentar di wall Facebook bisa langsung dihapus, tautan foto bisa langsung dihilangkan, pesan-pesan pribadi yang masuk ke inbox langsung dijawab.

  • Selalu Melapor Dibarengi Foto

Terjadi pada lebih banyak pasangan, tidak cuma di Samarinda. Pada saat seseorang hangout bareng teman-temannya, ia harus selalu standby dengan ponselnya. Menjawab pesan instan dan panggilan telepon yang masuk, mengirimkan foto pada saat itu, atau bahkan melakukan panggilan video. Saking intensifnya sampai-sampai malah menyita konsentrasi dan membuatnya tidak benar-benar hangout bareng teman.

Keadaannya akan sangat berbeda kalau sang pacar mengirimkan foto-foto secara sukarela, berbagi pemandangan dan suasana tanpa diminta. Bukan terasa sebagai kewajiban bawahan pada atasan.

  • Bertukar Ponsel

Saya baru menemukan satu kasus yang seperti ini beberapa tahun lalu, dan itu pun terjadi pada pasangan SMA di Samarinda. Mereka bersepakat untuk saling bertukar ponsel atau kartu SIM selama sehari (entah dari sepulang sekolah hingga saat mereka bertemu lagi di malam hari waktu kencan, atau keesokan harinya). Dalam hal ini, kemungkinan besar hubungan mereka sudah diketahui keluarga masing-masing. Mereka terlihat oke-oke saja dengan ini, just for fun.

  • 1 Ponsel untuk Bersama

Kasus ini, seingat saya, terjadi pada pasangan suami istri. Mereka selalu bersama-sama setiap hari, menghabiskan waktu di toko. Tidak terlalu aktif bergaul alias memiliki kehidupan sosial yang biasa-biasa saja. Bubaran toko, pulang dan istirahat. Ditambah lagi di kota kecil, tempat ngumpul bareng teman relatif terbatas.

Awalnya, sang suami punya ponsel pribadi, tetapi tidak terlalu aktif digunakan. Kebetulan ponsel Symbian masih berjaya kala itu. Kemudian hadirlah BlackBerry, booming sebagai ponsel pintar teranyar. Sang istri mengganti perangkat, menjual ponselnya dan ponsel suaminya.

Pakai satu ini aja. Kalau mau hubungi bisa ke sini, atau ke telepon toko aja.

Biar hemat, mungkin. Mudah-mudahan.

Ketegasan sebagai seorang individu dalam menjalani hubungan asmara berkomitmen tidak sama dengan bersikap dominan, keras, dan mengekang. Semua memiliki kedudukan yang setara, bebas berkomunikasi, bebas berdiskusi, dan bebas menjalani kehidupan pribadi masing-masing. Termasuk bebas mengambil keputusan. Lantaran ini soal kehidupan berpasangan, bukan perbudakan.

Jangan takut untuk berhenti. Sebab perubahan itu ada di luar kuasamu.

[]

Muhammad Bin Salman & Michael Corleone

Namanya Mohammad Bin Salman. Usianya baru 32 tahun. Dia adalah pewaris tahta Kerajaan Arab Saudi. Tapi sepak terjangnya sudah mencengangkan. Setelah Raja Salman sakit-sakitan, maka sekarang MbS, panggilannya, yang memegang kekuasaan. Walaupun dia cuma S1 lulusan dari universitas lokal tapi pikirannya cukup terbuka. Sudah banyak “prestasi” yang dia toreh. Tujuan dia cuma satu: memodernkan Arab Saudi. Yang artinya dia ingin Arab Saudi menganut Islam yang lebih moderat. Tidak seperti sekarang ini yang ultra-konservatif. Apa saja yang sudah ia lakukan?

  1. Membolehkan perempuan menyetir mobil mulai tahun depan. Selama Kerajaan Arab berdiri, belum pernah ada perempuan yang menyetir mobil sendiri.
  2. Membolehkan perempuan datang ke stadion untuk datang merayakan ulang tahun Raja Salman.
  3. Bioskop akan dibuka mulai tahun depan. Iya mereka sebelumnya tidak mempunyai bioskop.
  4. Mencanangkan NEOM, proyek ambisius -senilai $500 milyar untuk menyaingi Dubai sekarang.
  5. Arab Saudi adalah negara pertama yang memberi kewarganegaraan kepada robot yang bernama Sophia.
  6. Aramco, salah satu perusahaan minyak milik Arab Saudi, sedikit sahamnya sudah dijual di bursa efek.

MBS

Itu adalah sebagian “reformasi” yang sudah dicanangkan oleh MbS. Tapi untuk menyukseskan Vision 2030–yang intinya mengurangi kebergantungan terhadap minyak–tentunya beliau harus menyingkirkan “lawan politik” atau siapa saja yang menghalangi jalannya. Apa yang dia lakukan?

  1. Menyingkirkan para imam dengan aliran garis keras yang memicu terorisme di seluruh dunia. Arab Saudi sudah lama dituduh sebagai negara pendana teroris.
  2. Menangkap semua lawan politik yang dianggap bersebrangan dengannya. Dengan dalih terkait kasus korupsi, melalui Komite Anti Korupsi yang diketuai olehnya, beliau menangkap 11 pangeran dan 38 mantan mentri. Termasuk Pangeran Alwaleed bin Talal, salah satu orang terkaya di Timur Tengah dan di dunia. Sahamnya tersebar di mana-mana.

mbs3

Dia melakukan semua ini untuk Arab Saudi. Dia menilai Arab Saudi tidak akan bertahan lama jika tetap menganut faham Wahabi. Organisasi-organisasi teror semacam ISIS dan teman-temannya menganut faham Wahabi. Arab Saudi adalah anggota negara G-20. Dia menganggap Arab Saudi harus bersikap terbuka terhadap semua kalangan dan agama. Namun tentunya ada harga yang harus dibayar untuk melakukan ini. Revolusi Kebudayaan selalu memakan korban. MBS melakukan semua yang disebut di atas dalam waktu yang cukup singkat. Belum lima tahun, dan masih banyak PR yang harus ia kerjakan.

Yang menjadi pertanyaan apakah MBS tidak salah langkah atau terlalu cepat memberangus mereka yang tidak sefaham? Banyak tokoh yang melakukan ini untuk melanggengkan kekuasaan dan mewujudkan tujuannya. Suharto pernah melakukan ini. Fidel Castro juga. Lee Kuan Yew kurang lebih sama. China melalui Xi Jin Ping juga mirip. Sepak terjangnya juga mengingatkan saya pada Michael Corleone di film The Godfather 1 & 2. Coba perhatikan film pertama di setengah jam terakhir. Banyak kemiripan di antara keduanya. Dia menghabisi semua musuhnya.

Tapi terlepas dari itu semua, semoga dengan menjadi moderatnya Arab Saudi ikut menjangkiti semua negara dengan penduduk mayoritas Islam untuk lebih terbuka. Ini yang paling penting. Ini dampak yang paling terasa oleh masyarakat di Indonesia dengan naiknya MBS menjadi pewaris Kerajaan Saudi Arabia. Karena seperti kita ketahui, di Indonesia pasca Orde Baru, justru sekarang mulai banyak tumbuh benih-benih Wahabi. Yang lucunya paham ini berasal dari Arab Saudi.