We Need To Talk About Kevin

Mulai hari ini karir Kevin Spacey akan meredup. Seperti kita tahu, Anthony Rapp melaporkan kalau dirinya dilecehkan secara seksual oleh Kevin Spacey 30 tahun lalu. Yang menjadi permasalahan berat adalah Rapp ketika itu masih berusia 14 tahun. Itu menjadikan Kevin Spacey seorang pengidap pedofilia.

kevin2

Peristiwa ini sebetulnya sudah terjadi di film American Beauty yang dibintangi oleh Kevin Spacey. Walaupun tidak sama persis. Film ini yang membuat Kevin mendapat Oscar keduanya dalam kategori Aktor Terbaik. Setelah sebelumnya mendapatkan Oscar di film The Usual Suspect dalam kategori Aktor Pendukung Terbaik. American Beauty menceritakan potret keluarga Amerika. Di mana kebobrokan suatu keluarga diperlihatkan secara satir. Kevin Spacey bermain apik sekali di sini. Seingat saya Kevin Spacey sudah dua kali memerankan seorang biseksual. Terakhir di serial House of Cards yang terkena imbasnya sehingga akan berakhir di musim keenam.

Pedofilia di banyak negara masuk sebagai tindakan pidana, bukan preferensi seksual. Pedofilia tidak akan mendapatkan tempat di dunia kita berpijak. Entah maya atau nyata. Atau bahkan di penjara. Black Mirror di salah satu episodnya bercerita bagaimana seorang pedofilia harus menderita sepanjang hidupnya.

kevin

Tapi melihat pemberitaan di social media masih terbelah. Banyak media besar lebih mengedepankan pengakuan Kevin Spacey sebagai gay, dibandingkan sisi pedofilianya.  Di permintaan maafnya kita lihat Kevin Spacey sedang berperan sebagai Frank Underwood. Khas politisi. Diplomatis. Kita patut tunggu reaksi dari Hollywood mengenai hal ini. Ketika Harvey Weinstein karirnya dipastikan habis karena begitu banyaknya korban–maka kasus Kevin Spacey ini saya melihat akan diselesaikan secara kekeluargaan. Kompromi. Kita tahu standar ganda selalu diterapkan di berbagai situasi. Jika Woody Allen masih bisa berkarya, saya rasa Hollywood akan memperlakukan hal yang sama.

Advertisements

Mana Sampah, Mana Berlian

Aku berdiri di tepian. Menunggu awal yang baru. Ndak mampu menengok ke bawah. Ndak mau liat ke belakang. Tapi untuk maju, aku harus tau. 

Berat sekali kaki ini. Sekejap jadi pengecut. Jutaan suara menjerit-jerit di kepala. Ribuan bisikkan jadi bentakkan. Kenapa ndak sekarang? Apa bedanya dengan besok? Lusa? Kapan? Menerror tiap sunyi turun dari puncak gunung ragu-ragu yang dingin abu-abu.

Aku yakin, aku akan menyerah. Tinggal satu langkah lagi untuk pergi gitu aja. Persetan lah! Sampai…

Kehilangan mengajarkanku banyak hal. Satu di antaranya: Katakan! Ndak ada yang salah. Akibatnya juga gampang ditebak, bukan? 

Maka, aku kumpulkan semua beban. Menimbangnya sampai puluhan malam. Menyaring dari yang sekedar monyet-monyetan, selangkangan, atau kekonyolan lain yang kadung terjadi. 

Rupanya ada tiga orang yang ndak tau. Atau tau, tapi diam. Yang jelas, mereka berhak tau. Kalau aku mencintai mereka. 

Kuhampiri yang satu. Setelah satu dekade. Jatuh sama-sama. Bangun sama-sama. Mereka bilang aku gila. Udah lah, tinggalin aja. Setia ndak berbalas apa-apa. Percuma. Nyatanya, aku masih di sini. Tak pikir pantang menyerah. Ternyata, aku mencintaimu. Senyumnya merekah. Sekarang dia tau. Aku tau. 

Kucari kontak yang kedua. Sewindu ndak saling sapa. Entah kenapa. Aku yang pergi waktu itu. Aku biarkan dia punya kekasih. Bertukar kabar lewat sosial media. Menikah. Berkeluarga. Pikirku soal harga diri. Ternyata, aku mencintaimu. Terima kasih katanya. Sekarang dia tau. Aku tau. 

Yang ketiga, pulangnya sore terus. Basket lah. Kerja kelompok. Latian drama. Mulai susah dijemput. Aku nanti diantar Kirana, katanya. Belajarnya pakai YouTube. Om Gendut ketinggalan jaman. Persamaan Trigonometri, dunia prokaryota dan agama ndak lagi bisa kami bahas. Aku udah lupa semua. Apalagi bahasa Jepang. Pikirku ndak bisa. Taunya, aku cinta. Aku juga om. Aku selalu tau. 

Selama kita diciptakan lengkap dengan perasaan, kadang beberapa diantaranya jadi beban. Mengendap. Berkerak puluhan taun. Mengotori pikiran. Kecuali, kita membaginya sama rata. Aku tau. Dia tau. 

Kalau akhirnya mereka pergi karena aku cinta. Jadinya terang-benderang: mana sampah, mana berlian

Ketika Rok Mini dan Cadar Duduk Berdampingan Tanpa Saling Jambak

Gunaydin.

Sudah seminggu saya berada di Turki. Tepatnya kota Istanbul. Urusan pekerjaan. Mengikuti seminar yang diselenggarakan oleh Bank Sentral Turki. Urusan pekerjaan hanya empat hari. Sisanya saya menambah hari dengan mengajukan izin cuti.

Ada perbedaan mendasar ketika kita tiba di negara lain sebagai tamu, menginap di hotel berbintang, makan-makanan yang memang telah disesuaikan dengan lidah “tamu”, dan berkumpul dengan orang-orang berbahasa internasional.

Kita tetap berjarak.

Maka dua hari lanjutan yang dibiayai sendiri, saya cabut dari hotel tempat penyelenggara menyediakan peserta seminar. Saya menuju salah satu rumah warga Turki yang disewakan melalui aplikasi AirBnB. Biaya sewanya 40 Turkish Lira, kira-kira 150 ribu per malam. Pemiliknya seorang Ibu yang saya terka berusia 60-an tahun dan “no english” (sembari menggerakan tangan seperti dadah-dadah). Yang memasukkan rumahnya ke dalam aplikasi AirBnB adalah anaknya. Menggunakan Bahasa Inggris yang jelas, dan sangat komunikatif. God Bless lah buat anak cowoknya ini.Kamar yang disewakan hanya dua. Satu kamar milik mendiang Ayahnya. Kamar ini sudah disewa oleh pasangan Meksiko sejak dua minggu lalu. Sedangkan saya menempati kamar adik perempuannya yang sedang sekolah Bisnis di Berlin atas beasiswa Pemerintah Turki.

Hal yang menarik adalah rumah Yasar, nama sang anak, berada di dekat Masjid Sultan Ahmet, atau orang-orang sering menyebutnya Blue Mosque. Rupanya daerah ini mirip Tanah Abang dan Thamrin City. Siang hari sibuk dengan toko grosiran penjual tekstil dan sepatu. Pria-pria kekar, setengah kekar dan bahkan sudah renta sibuk mengangkut barang bertumpuk berisi dagangan yang akan diantar ke atas truk atau kios penyelenggara pengiriman barang. Untungnya saya membawa sepeda saya kesini, sehingga untuk yang berjarak dekat saya selalu gunakan sepeda. Sejatinya lebih tepat jika sepeda yang minta ditemani kemana-mana oleh saya. 🙂

Warga Istanbul tentu saja memiliki sejarah dan tantangannya sendiri. Urusan transportasi jauh lebih ringan dibanding Jakarta. Ada Metro (seperti MRT) yang terintegrasi dengan Trem, dan Bus. Satu kartu bisa digunakan untuk semua moda. Warganya telah terbiasa dengan yang asing. Sebagai daerah hub, antara Eropa dan Asia (bahkan kotanya sendiri terbelah di dua benua), mereka terbiasa untuk melihat perbedaan dengan begitu nyaman. Rok mini dan Cadar duduk bersebelahan tanpa saling jambak.

Setiap pagi saya, oleh Yasar, disuguhi Cay, semacam teh lokal. Lalu dia lebih banyak bertanya tentang Indonesia dibanding dia bercerita tentang negerinya.

“Istanbul seperti ini, biar kamu menilai sendiri.”.

“Jangan ke Grand Bazaar. Mahal. Saya tidak pernah belanja di sana”.

“Jakarta dingin?”

“Di Jakarta ada gunung meletus?”

“Indonesia banyak hutan ya. Ularnya besar. Bisa makan orang bukan?”

Di balik perbedaan antara Yasar dan saya adalah soal lahir dan bahasa ibu. Sisanya sama. Saya berkomunikasi dengan ibunya dengan cara yang aneh. Ibunya hanya bisa bahasa Turki dan saya tak mengerti. Saya timpali dengan bahasa Inggris seadanya. Dia tak mengerti. Maka pertemuannya adalah Bahasa Arab yang dia kuasai dan sebuah kalkulator. Dia rupanya, jika saya tak salah terka, menasehati saya tak usah belanja di sekitar sini. Mahal. Dia bandingkan dengan daerah lain. Dia ambil kalkulator. Lalu dengan bahasa arab, semacam Khomsah, Arbaa, dan jemari yang memencet angka, saya mulai paham maksud dia adalah jika membeli di daerah sini, menawar pun rugi, karena harga barang, lebih mahal empat kali lipat. Jika mau makan pun lebih baik dekat rumah.  Jangan di pinggir jalanan besar yang sering dilalui turis. Petuah dari tipikal ibu-ibu dimanapun di seluruh dunia.

Dalam obrolan kami, dan Yasar (yang akhirnya ikut nimbrung), mereka memahami bahwa pembawaan kerendahhatian, sikap yang baik bisa terlihat dari berbagai macam tamu. Tentu saja terasuk sifat buruk. Mereka menyebut beberapa negara. Saya mendebatnya. Itu tergantung manusia. Mereka menolaknya. “Ini soal budaya”, kata mereka. Ada ciri khas negara tertentu yang begitu melekat. Saya mengangguk-angguk sebagai penghormatan. Walau saya tetap menolak dalil itu.

Tapi kita sama-sama sepakat soal lainnya.

Tuhan sengaja memberikan macam-macam variasi manusia, agar kita layaknya lingkaran dalam diagram venn. Kita akan tahu bahwa sesungguhnya sekian ratus miliar lingkaran dari masing-masing individu memiliki satu irisan. Terdapat satu wilayah arsiran yang dimiliki semua manusia. Itulah kesamaan kita. Dan itu kita ketahui jika kita selalu menempatkan diri sebagai manusia yang terbuka, toleran, dan rendah hati.

Apakah itu?

 

salam anget,

Roy

(jika anda ingin melihat beberapa ilustrasi tulisan ini dan beberapa hal menarik lainnya bisa follow instagram saya)

:)))))))

Supaya Kita Bisa Betah Terus

Apa yang membuat kita bisa terus tertarik dengan pekerjaan kita?

Pertanyaan ini bergelanyut di benak saya saat sedang membaca dan menyelesaikan bacaan terakhir, yaitu The Kill Bill Diary: The Making of a Tarantino Classic as Seen Through the Eyes of a Screen Legend oleh David Carradine.
Sesuai dengan judul bukunya, buku ini berisi cukilan dari jurnal yang ditulis oleh almarhum David Carradine, saat dia mempersiapkan diri untuk membintangi film Kill Bill, saat syuting film tersebut, dan saat mempromosikan film tersebut waktu dirilis.

Perjalanan film Kill Bill sendiri sangat panjang. Di buku ini terungkap, bahwa keputusan untuk memilih David Carradine sebagai Bill sudah dimulai dari awal 2002. Lalu di tahun yang sama, sudah dimulai persiapan latihan fisik sebelum syuting selama 3 bulan. Setelah itu, mulai syuting di beberapa lokasi, dari Los Angeles sampai Beijing sampai pertengahan 2003. Lalu saat filmnya dirasa terlalu panjang, film ini pun dipecah menjadi dua bagian: bagian pertama dirilis menjelang akhir 2003, lalu bagian kedua dirilis pada kwartal pertama tahun 2004.

(source: bloomsburry.com)

Artinya, David Carradine tidak menerima proyek lain untuk mempersiapkan, menjalani dan mempromosikan film ini dari awal tahun 2002 sampai pertengahan 2004. Lebih dari dua tahun. Semua perjalanan terekam dengan baik di buku ini, lengkap dengan insight information dan anekdot yang menghibur.

Lelah? Di beberapa bagian buku, dia mengakui hal itu. Latihan fisik yang terus menerus selama beberapa bulan, waktu syuting yang kadang-kadang tertunda, sampai jadwal bepergian untuk kepentingan film yang tak mengenal waktu. Uang yang didapat pun, menurut pengakuannya, tidak seberapa. Film Kill Bill dibuat dengan semangat independen. Bayarannya pun tidak sebesar dibanding dengan produksi film studio besar Hollywood, katanya.

Lalu apa yang membuat David bertahan? Menurut beliau, kesempatan bermain di film Quentin Tarantino tidak akan datang dua kali. Apalagi dengan umur David, yang saat itu sudah menginjak 66 tahun, kesempatan bermain film di tangan sutradara handal semakin jarang didapatkan. Latihan fisik untuk persiapan syuting membuat David tampil dalam kondisi tubuh yang prima. Setelah Kill Bill, nama David Carradine mulai terdengar lagi. Banyak tawaran film yang datang kepadanya.

Kepuasan artistik yang membuat David bertahan.

David Carradine & Uma Thurman in Kill Bill. Love this scene! (source: cinematheia.com)

Apa yang dialami David Carradine berlaku di produksi film manapun. Demikian juga di bidang pekerjaan apapun, yang membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan satu misi tertentu.

Di beberapa produksi film yang saya ikuti dari awal, kadang ada perasaan “why am I here?”, atau “am I doing the right thing?“, terutama saat proyek tersebut sudah berjalan selama beberapa bulan, namun cahaya di ujung terowongan yang gelap dan panjang belum kelihatan juga. Kalau sudah begitu, saya berpaling ke rekan-rekan sekerja saya, mendekatkan diri dengan mereka. Paling tidak, kalau perjalanan panjang dilalui bersama-sama, akan terasa lebih ringan dibanding berjaan sendirian.

Saat membaca buku David Carradine tersebut, saya juga teringat dengan sosok sutradara asal India, Sanjay Leela Bhansali. Dia terkenal atas film-film berbahasa Hindi dengan set yang extravaganza dan gambar-gambar cantik. Banyak orang menyebutnya sebagai Baz Luhrmann versi Bollywood masa kini. Padahal Baz Luhrmann sendiri terinspirasi dari film-film Hindi.

Film terakhir Sanjay Leela Bhansali yang dirilis dua tahun lalu, Bajirao Mastani, mempunyai jadwal pengambilan gambar selama lebih dari 200 hari. Tidak berturut-turut, sehingga jadwal tersebut melintasi waktu selama hampir 3 tahun. Mulai dari pembuatan set abad ke-14 yang rumit, pengambilan gambar yang teliti, sehingga sehari hanya bisa mengambil gambar untuk satu adegan saja, sampai jadwal para pemeran utamanya yang terkorbankan.

Priyanka Chopra, salah satu pemerannya, harus terbang dari Montreal ke Mumbai setiap akhir pekan selama beberapa bulan, hanya untuk mengambil gambar 4 sampai 5 adegan. Dari Senin sampai Kamis dia syuting untuk serial televisi “Quantico” di Montreal, lalu Jumat sampai Minggu malam di Mumbai untuk syuting film Bajirao Mastani.
Di beberapa wawancara yang saya baca, Priyanka hanya mengatakan, itu resiko pekerjaan sebagai aktor yang sudah terikat kontrak dan harus menyelesaikan kontraknya. Apa yang membuatnya bertahan? Salah satunya karena dia percaya visi yang dibawa Sanjay Leela Bhansali untuk film tersebut.

“Pinga”, a very intricate item number from “Bajirao Mastani”.

Baik film Kill Bill maupun Bajirao Mastani sama sekali tidak mengecewakan. Keduanya adalah pencapaian artistik tertinggi dari masing-masing pembuatnya. Keduanya juga bisa dibilang contoh film-film terbaik dalam dua dekade ini.

Mempertahankan interest atau ketertarikan untuk sebuah proyek pekerjaan yang berlangsung lama memang tidak mudah. Selalu akan ada godaan untuk menyerah, berhenti di tengah jalan, atau mundur. Tidak ada yang menjamin bahwa hasil akhir yang dicapai akan bagus atau memuaskan.

Namun ada satu hal yang tidak bisa dipungkiri hati: a sense of completion. Perasaan puas saat kita sudah menyelesaikan satu tugas, satu misi, atau satu pekerjaan. Perasaan lega saat semuanya berakhir. Apapun hasilnya, kepuasan bahwa kita telah sampai di garis finish bisa melegakan hati.

Toh kalau hasilnya tidak sesuai harapan, tidak masalah. Kita tinggal bilang:

“Okay, next!”

Tidak Usah Punya Anak Deh!

DI JALAN Kelinci, Pasar Baru, tak jauh dari tempat indekos, ada salah seorang tukang parkir yang biasanya berjaga di depan restoran Bakmi Gang Kelinci. Setiap malam, setelah restoran tutup, dia tampaknya tidak pulang ke mana-mana. Bersama seorang wanita yang saya asumsikan ialah pasangannya, mereka menggelar tikar, bantal, dan guling di emperan ruko seberang restoran.

Sekilas, pemandangan ini terasa biasa saja untuk penghuni Jakarta. Termasuk saya. Hingga pada suatu malam saya baru menyadari ada balita tidur di situ selama ini. Terlelap begitu saja, terbuka dan bahkan tidak berselimutkan apa-apa, sementara kedua orang tuanya (lagi-lagi saya berasumsi) sedang asyik mengobrol tentang masalah mereka.

Apakah saya salah, marah kepada kedua orang dewasa itu?
Apakah saya pantas, menyebut mereka bodoh?
Alih-alih merasa marah dan menyebut mereka bodoh, apakah saya berhak langsung melaporkan hal ini ke Dinas Sosial setempat agar perawatan si anak diambil alih pemerintah?
Apa yang sebaiknya harus saya lakukan, ketika memberi uang kepada orang tua balita tersebut sama saja dengan sebuah kesia-siaan, apalagi memberi nasihat?

Mari kita benturkan antara hak asasi manusia, filosofi etis dan sosial, agama, serta emosional.

Beberapa hari lalu, seorang teman menulis begini di akun Path-nya:

“Human rights conundrum: do you prohibit somebody from having a child when you know the baby won’t be fed and raised properly, or do you let them be because it is a god-given right to bear children?”

Dari pertanyaan ini, tanggapannya pasti terbagi dua. Mereka yang berpikir rasional, menjalani gaya hidup modern, bertumpu pada logika dalam memutuskan segala sesuatu, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan universal tanpa batasan suku, ras, maupun agama akan lebih condong pada poin pertama.

Dalam hemat mereka, kemandirian, kemampuan mengatur hidup, dan kemapanan (dalam artian settled, bukan kaya raya) merupakan syarat mutlak sebelum memiliki anak. Sederhananya, bagaimana bisa seseorang menjamin kelangsungan dan kesejahteraan hidup orang lain, jika kehidupannya sendiri masih morat-marit. Sesuatu yang sudah dipikirkan, direncanakan, dan diperhitungkan sedemikian rupa bisa berakhir dengan kemalangan, apalagi yang dibiarkan begitu saja?

Tidak hanya itu, bahkan keputusan untuk menikah pun mereka pertimbangkan dan diskusikan matang-matang. Saking “matangnya” sampai kadang-kadang menjadi tarik ulur dalam waktu yang cukup lama.

Kelompok konservatif dan orang-orang yang ingin sekali disebut saleh oleh sesamanya akan memilih poin kedua. Sebab kuasa tuhan tiada berbatas, dan manusia adalah sedungu-dungunya makhluk yang ingin tahu semua rencana besarnya, sekaligus selemah-lemahnya makhluk tanpa rahmat serta pertolongan darinya. Jadi, percayakanlah segalanya kepada tuhan. Ia yang memberi sang jabang bayi, ia pulalah yang akan membuka dan mencurahkan rezeki.

Mereka sungguh-sungguh percaya pada prinsip ini. Tak hanya dalam perkara memiliki dan membesarkan anak, namun semua yang terjadi dalam kehidupan mereka. Dipasrahkan total. Apabila terjadi kemalangan, itu pun bagian dari rencana yang mahakuasa. Bisa berupa teguran atau peringatan, bisa pula berupa ujian yang nantinya bakal diganjar dengan berkah, hikmah, atau pun rezeki pengganti yang lebih berlimpah.

Sekarang, manakah yang lebih baik di antara keduanya?

Untuk pemilih poin pertama.
Tidak ada yang salah dengan bersikap rasional dan realistis. Kemampuan berpikir secara menyeluruh dapat mempersiapkan seseorang menghadapi beragam kemungkinan, yang baik maupun buruk. Meminimalisasi keterkejutan, menekan kepanikan, tidak sampai gelagapan. Baru akan menjadi sangat salah jika ditambahi dengan sikap angkuh, merasa yang paling benar, dan merendahkan orang lain yang pendapatnya berseberangan. Siapa tahu orang yang mereka hina dan rendahkan ternyata memang dikasihi tuhan, malah jadi lebih mulia di masa depan.

Tak mudah bagi seseorang yang benar-benar bijak untuk menyebut orang lain bodoh. Bukan hanya lantaran tidak sopan dan tidak sepatutnya diucapkan, melainkan karena menyadari bahwa ketidaktahuan dan perbedaan pemahaman alamiah adanya. Mereka merasa tak perlu jorjoran membuktikan diri sebagai yang benar, bila tujuannya hanya untuk menjatuhkan orang lain. Tidak ada gunanya.

Dalam kasus si tukang parkir di atas, saya tentu bukan seseorang yang bijak. Peduli setan dengan kedua orang tuanya, yang penting si bocah itu tidak tersia-siakan. Melihat mereka membiarkan balitanya tidur begitu saja, ingin rasanya berkata kasar tetapi tak tahu apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki keadaan. Mengadopsi dan merawat si bocah? Ya ogahlah. Saya belum sebaik hati, sekaya raya, dan seleluasa itu untuk menanggung hidup orang lain selain keluarga sendiri. Serbasalah, kan?

Membingungkan.

Foto ini diambil Minggu dini hari lalu (sekitar pukul 01.00 Wib), dalam perjalanan pulang tepat setelah menyelesaikan tulisan ini. Tidak lama setelah foto diambil, bocah yang kiri langsung marah-marah. “Apa lu, foto-foto!” Sambil mengacungkan kemoceng. Mereka tidak dilahirkan untuk dibesarkan sembarangan, dan dibiarkan berkeliaran di jalanan, kan?

Untuk pemilih poin kedua.
Tidak ada yang salah dengan menjadi seseorang yang sangat religius. Hanya saja, jangan lupa bahwa tuhan juga menganugerahkan akal, kemampuan berpikir kritis, kemampuan berkomunikasi, dan kemampuan untuk mengendalikan diri yang menempatkan manusia menjadi makhluk mulia. Merupakan hak asasi setiap orang untuk mempercayai atau tidak mempercayai sesuatu, akan tetapi fanatisme menjadikan keduanya berbahaya. Ya! Fanatik percaya dan fanatik tidak percaya mustahil dipisahkan. Ketika seseorang mempercayai sesuatu (misalnya: A) secara membuta, maka ia pasti menolak lawan dari sesuatu (-A) itu juga secara membuta.

Fanatisme berkerabat erat dengan ketertutupan dan penolakan atas semua masukan dari luar lingkaran. Sebab tidak mungkin ada sumber kebenaran lain, selain yang sudah dipercaya selama ini. Jangankan memperluas wawasan dan pemahaman, informasi yang datang saja ditepis mentah-mentah. Dampak dari fanatisme pun menjadi jauh lebih hebat ketika dipadukan dengan keterbatasan pemahaman.

Dalam kasus si tukang parkir di atas, tuhan yang mahabaik dan penuh kasih tidak mungkin mempersiapkan rencana celaka bagi si balita. Tetapi tetap saja, manusia (baca: orang tuanya) harus mengusahakannya. Dengan menidurkan si balita di emperan toko tanpa pelindung dan selimut, ada kemungkinan besar bocah tersebut bisa terserang flu, terkena Pneumonia atau paru-paru basah, mengalami Malaria atau Demam Berdarah Dengue. Minimal bentol-bentol kemerahan dan alami gatal-gatal. Mau menyalahkan siapa? Apakah tuhan? Yang membiarkan semua itu terjadi meskipun si manusia sangat taat dan berbakti?

Jangankan si bocah anak tukang parkir tadi, apa kabar anak-anak yang terserang penyakit gara-gara tidak diimunisasi oleh orang tuanya? Mereka, para anak-anak yang semestinya masih suci tanpa dosa itu, malah dengan sengaja didekatkan kepada risiko yang mengancam keselamatan jiwa. Mereka, para anak-anak itu, tidak minta dibegitukan. Lagipula mereka, para anak-anak itu, jelas tidak memiliki derajat keimanan setinggi anak-anak Ibrahim (dipercaya terjadi pada Ismail dalam tradisi Islam, atau pada Ishak dalam tradisi Kristen dan Yahudi) dari kisah perintah penyembelihan. Jadi sepatutnya memang tidak dibegitukan.

Dari dua pernyataan di bawah ini, silakan pilih kalimat pelengkapnya.

Anakmu bukanlah milikmu, melainkan titipan tuhan…
> Rawatlah dia dengan baik, atau
> Percayakanlah dia sepenuhnya kepada tuhan.

Anakmu bukanlah milikmu, ia nantinya akan menjadi seorang manusia dewasa lainnya…
> Persiapkanlah dia dengan baik, atau
> Biarkan dia tumbuh menjadi dirinya sendiri.

Tidak seharusnya keimanan selalu bertentangan dengan rasionalitas. Biarlah mana yang benar dan salah tetap menjadi hak prerogatifnya tuhan sesuai dengan yang dipercayai selama ini. Alangkah kurang elok menyodorkan label ketakwaan pribadi ke muka orang lain, sambil meneriakkan dengan lantang: “Kamu pasti masuk neraka! Enggak seperti aku, yang pasti masuk surga!” Siapa sih yang tahu tuhan punya mau?

Begitu pun sebaliknya, tidak sepantasnya orang-orang rasional terlampau membanggakan diri sebagai manusia pintar terpelajar yang lebih mulia dibanding para konservatif. Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Makin tinggi pohonnya, makin sakit jatuhnya. Apabila memang benar-benar berilmu, sudah pasti sangat paham dan mengerti bahwa ilmu pengetahuan selalu berkembang. Tak ada yang bisa disebut kebenaran mutlak, sebab revisi dan koreksi bisa terus terjadi.

Pada kasus imunisasi, ada saja kaum rasionalis yang bisa berceletuk kejam seperti ini: “Tuh, kan! Sok-sokan menolak imunisasi anak. Akhirnya kena batunya.” Komentar semacam ini boleh saja dihasilkan dari perasaan jengkel melihat kedunguan sejumlah orang. Namun apa pun itu, sungguh tidak pantas meng-endorse dan mendukung kemalangan orang lain. Terlepas dari siapa pun itu. Termasuk dengan menyebut “syukurin!

Bisakah kita melarang orang lain memiliki anak, karena belum mampu menjadi orang tua yang baik?
Bisakah kita membiarkan orang lain memiliki anak meskipun mereka belum mampu menjadi orang tua yang baik, karena ini adalah urusan orang tersebut dengan tuhan?
Bisakah kita memaksa orang lain agar mau memiliki anak, karena itu yang lazimnya terjadi di masyarakat?

Pastinya, tanpa rasa simpati terhadap sesama manusia, kedua pendapat di atas sama saja. Sama-sama egois, sama-sama berpotensi terpatahkan, sama-sama tidak berujung pada kebaikan.

[]

Ketika Awet Tak Lagi Relevan

Sepasang sepatu Doc Mart menarik perhatian saya. Selain mengingatkan saya pada masa SMA, saat semua orang berburu sepatu model boot dengan sol tebal anti kepleset ini. Mendapatkannya di Jakarta saat itu bukan perkara mudah. Tapi sekarang toko sepatu khusus sepatu era skinhead ini sudah hadir di mall. Sepertinya lumayan banyak peminatnya walau bisa dibilang harganya lumayan.

“DocMart gue waktu SMA sampe sekarang masih ada loh, lagi dipake anak gue” kata teman saya. “Wah udah 30 tahunan dong” sahut saya. Kemudian pikiran saya melayang. Di usia yang lewat 40 tahun ini, apakah sepatu dengan janji awet dan tahan lama masih relevan? Sepatu ini akan bertahan sampai saya berumur 70-80 tahun. Di usia segitu, mungkin saya tak kuat lagi berjalan jauh apalagi mengenakan DocMart yang bisa dibilang berat.

Pikiran saya melayang mundur ketika masih kecil. Ibu saya sering menjiplak kaki saya di atas kertas kalau mau titip beli sepatu dengan pesan “beli satu dua ukuran lebih besar biar bisa dipakai lebih lama”. Jadilah saya mengenakan sepatu yang lebih besar seperti donald bebek.

Setelah ukuran kaki saya kayaknya tidak akan bertambah besar lagi, sepatu diusahakan terbuat dari kulit karena dinilai lebih awet. Seriring bertambahnya kebutuhan, ada sepatu buat jalan, kerja, dan olahraga. Pertimbangan tahan lama menjadi yang utama. Supaya gak usah beli-beli terus.

Nyatanya? Tidak juga. Sepatu kulit satu belum rusak sudah mau beli sepatu kulit yang lain. Punya yang warna hitam, tapi perlu yang cokelat juga. Setelah yang cokelat, ternyata disainnya sudah ketinggalan zaman jadi perlu disain baru lagi. Istilah “beli desain yang klasik” sepertinya kurang ampuh. Atau ada saja keperluan mendadak untuk membeli sepatu kulit lagi. Atau ada diskon yang sayang kalau dilewatkan.

Semakin bertambah usia, ternyata saya lebih cocok mengenakan sepatu model slip-on atau bertali sehingga kaki saya terasa lebih longgar. Saya merasa kurang cocok kalo kaki harus tertutup seharian. Dan kesenangan untuk berjalan kaki membuat saya mencari sepatu yang lebih ke nyaman ketimbang gaya.

Sepatu DocMart tak jadi saya beli. Balik rumah, saya membongkar lemari sepatu saya. Jumlahnya ada sekitar belasan. Lumayan. Berbagai jenis sepatu sudah saya miliki. Ada yang tak lagi layak pakai, tapi masih saya simpan karena saya suka modelnya. Ada pula yang salah beli, setelah dibeli dan dipakai ternyata tak nyaman. Atau sepatu-sepatu acara khusus yang memang jarang dipakai. Ada pula sepatu-sepatu pemberian orang. Dan ujung-ujungnya sebenarnya saya mengenakan sepatu yang itu-itu juga.

Lama saya menatap sepatu-sepatu itu dengan sebuah pertanyaan, apakah kata “awet” untuk pakaian dan sepatu masih ada gunanya untuk saya? Buat apa baju tahan lama, toh sebentar-sebentar ada saja alasan membeli yang baru. Jam tangan? Ujung-ujungnya saya hanya memakai satu saja. Yang lain, keburu habis battery dan saya enggan untuk ganti battery. Tas? Well, ada 3-4 jenis tas yang saya pakai dan sudah cukup untuk memenuhi berbagai kebutuhan saya. Ikat pinggang? Segunung ikat pinggang masih rapi di lemari karena sangat amat jarang saya pakai. Jeans? Percaya atau tidak, celana yang ada masanya menjadi celana setiap hari, sudah 3-5 tahun belakangan ini saya rasakan tak lagi relevan untuk dipakai di negara tropis.

Ada banyak barang-barang awet di lemari yang sebenarnya bisa dibilang seandainya saya menyadari ini dari dulu, saya tak akan beli dengan harga lebih tinggi. Untuk apa awet kalau jarang dipakai. Untuk apa awet kalau tak lagi sesuai zaman. Untuk apa awet kalau tak lagi relevan. Untuk apa panjang umur kalau tak hidup.

Mengulangi Hati

Terkadang kita mengalami, suatu situasi di mana rasanya semua seperti menjawab segala pertanyaan dan keinginan yang seumur hidup kita rasakan. Pernah, tak merasakan itu?

Bertemu dengan seseorang yang kita naksir secara fisik. Lalu ketika mengobrol tak terasa waktu terlewat berjam-jam karena bisa bicara tentang apa saja. Tatapan penuh arti pun saling bertukar. Ketika berpisah, komunikasi tetap jalan. Membagi apa yang dilihat, apa yang ditemukan, sesuatu yang lucu, sesuatu yang keren. Herannya selalu sepakat dengan hal-hal yang dibagi itu. Ketika pertama kali bersentuhan tangan, apalagi saling menempelkan bibir, seolah ada daya yang begitu kuat saling menarik. Hati mendadak cair menjadi cokelat fondue yang meluap luap dan mengalir ke perut menyebabkan Anda jarang merasa lapar. Dunia di luar tak begitu penting. Semua hal rasanya menjadi tepat pada tempatnya.

elizabeth-tsung-167289

Photo by Elizabeth Tsung on Unsplash

Menonton film untuk pertama kali, yang membuat hati serasa melonjak gembira, karena bertemu jodoh. Menyuguhkan visual dari teori teori yang selama ini dipikirkan, dibaca, yang membuat ingin menangis bahagia.

“Ternyata bukan aku sendiri yang memikirkan hal ini,” membatin sambil sedikit brebes smili, “ternyata aku tidak (terlalu) gila.”

Tetapi herannya kecil rasa ingin nonton lagi, karena firasat bahwa kali kedua tidak akan menimbulkan perasaan yang begitu kuat seperti yang pertama.

Kembali lagi ke seseorang tadi. Waktu berjalan, situasi dan kita pun berubah. Tantangan semakin pelik sehingga memutuskan untuk berpisah. Tetapi ketika tidak bisa berbohong kalau perasaan masih ada, dan besar rasa rindu memiliki ketertarikan dan keterikatan begitu kuat dengan seseorang, hubungan pun dijalin kembali. Dengan harapan bisa memunculkan lagi rasa meletup yang dulu.

Tetapi ternyata tidak bisa. Apa yang diinginkan dan dibutuhkan sudah berbeda. Apa yang bisa diberikan pun sudah beda. Sentuhan tak lagi sarat makna seperti yang lalu. Ternyata kita hanya hidup dalam kenangan masa indah, dan berharapnya tercipta lagi dengan pelakon yang sama. Tetapi bahkan pelakonnya pun sudah tidak sama, di dalam hatinya.

#RekomendasiStreaming – Kisah Klasik Untuk Sekarang dan Masa Depan

I love classic films.

Dari kecil, saya punya kebiasaan menonton film Indonesia tahun 1970-an. Kebiasaan ini terjadi karena ibu saya. Beliau suka meminjam kaset video Betamax film-film Indonesia di era kejayaan Paula Rumokoy, Ruth Pelupessy, Dicky Zulkarnaen, dll., dari tempat persewaan video. Memang ada film-film lain, seperti film-film silat Bridgitte Lin Ching Sia, film-film James Bond era Roger Moore (yang ini pilihan ayah), dan film-film Indonesia pilihan ibu.

Ternyata kebiasaan ini terus terbawa sampai menonton film menjadi hobi yang tak bisa ditinggalkan. Kalau ada film lama yang tayang di televisi, yang saya perhatikan dari tampilan gambarnya yang “berbeda” dari kebanyakan film atau program televisi saat itu, maka saya buru-buru duduk di depan layar cembung televisi di rumah. Pertama kali menonton Breakfast at Tiffany’s di RCTI hari Kamis siang. Pertama kali menonton Djendral Kantjil, film tahun 1958 yang dibintangi Achmad Albar waktu kecil, di SCTV hari Rabu siang sepulang sekolah.

Ada yang menarik dari film klasik.

Meskipun namanya film adalah karya cerita visual buatan, bukan merepresentasikan kehidupan asli, tapi saya suka membayangkan sendiri keadaan masa lalu. Saya tidak bisa melihat langsung seperti apa Jakarta atau New York di tahun 1950-an atau 1960-an, kecuali teknologi time travel sudah ada dan terjangkau untuk umum. Maka pilihannya cuma dari membaca buku, melihat dokumentasi foto, atau menonton film. Meskipun cuma secuil informasi yang bisa didapatkan tentang keadaan asli di masa lalu, namun buat saya itu lebih dari cukup. Selebihnya, biar imajinasi kita yang berbicara.

Sayangnya, memang tidak semua film klasik mudah diakses. Mulai dari kondisi film yang sudah tidak terawat setelah puluhan tahun, sampai ke permasalahan hak cipta. Bisa dibilang, persoalan hak cipta dan hak distribusi ini yang paling pelik. Perusahaan pemilik film bisa jadi sudah tiada. Atau kalau film tersebut sudah diserahkan hak distribusinya ke perusahaan lain, belum tentu juga perusahaan ini memberikan lisensi atas film tersebut untuk ditayangkan di seluruh dunia. Dan kalaupun diberikan, mungkin jangka waktunya hanya beberapa tahun, dan tidak diperpanjang.

Apakah dengan adanya online video streaming platform ini akan membantu? Jawabannya adalah “ya” untuk sementara waktu, dan “tidak” untuk di masa yang akan datang.

Kenapa? Karena pada akhirnya, semua platform ini dibuat untuk mengunggulkan konten asli yang mereka buat sendiri. Kemarin ada berita bahwa Netflix siap untuk mengeluarkan 8 milyar dolar untuk membuat original content dan menargetkan mulai tahun depan 50% isi program mereka adalah original content of Netflix productions. Sementara pesaing terdekatnya, Amazon, juga sudah mengambil ancang-ancang yang sama. Demikian pula dengan platform lain yang berdiri di kawasan Asia Tenggara, yaitu iflix dan HOOQ. Mereka sudah mulai membuat konten sendiri.

Kalaupun ada streaming platform yang mengkhususkan diri untuk film-film lama, seperti Mubi, Filmstruck, dan lain-lain, jumlahnya tidak banyak. Dan sampai tulisan ini dibuat, mereka belum tersedia di negara kita.

Artinya, program-program yang sekarang ada di jasa layanan mereka yang mereka akuisisi dari perusahaan-perusahaan lain, seperti film Hollywood, Bollywood, Korea, Indonesia, Spanyol, dan lain-lain, pada saatnya akan hilang dari semua platform ini. Maka, the only time to watch old movies is now.

Banyak film klasik ini malah sudah raib di kawasan utama streaming services ini, yaitu di Amerika Utara dan Eropa Barat, karena mereka tergeser oleh program-program baru yang terus berdatangan. Kita sedikit beruntung di sini. Berhubung kawasan Asia Tenggara masih merupakan kawasan baru untuk sebagian besar America-based streaming platforms ini, maka masih cukup ada beberapa film klasik yang bisa ditonton. Cukup ada, karena memang tidak banyak. Beberapa yang layak ditonton lagi, dan lagi:

Roman Holiday (tersedia di Netflix)

Debut film Audrey Hepburn di Hollywood sebagai pemeran utama, setelah beberapa kali bermain di film-film Inggris di peran-peran kecil, langsung membuat publik kala itu jatuh cinta. Dirilis tahun 1953, memenangkan Oscar sebagai pemeran utama wanita terbaik di tahun 1954, Audrey Hepburn sontak menjadi the princess of all. Sebuah gelar yang terus melekat di benak jutaan orang, meskipun beliau sudah meninggal lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Film ini sempat terangkat lagi saat kematian Putri Diana di tahun 1997, karena ada sedikit kemiripan cerita, meskipun film Roman Holiday tidak berakhir tragis. Tidak manis, tapi realistis.

Save the Tiger (tersedia di Amazon Video)

I have a very soft spot for this kind of movie: seluruh cerita film terjadi dalam satu hari. Namun dalam waktu 24 jam, kita melihat banyak sisi cerita yang terungkap dari karakter-karakter yang hidup. Di sini, Jack Lemmon berperan sebagai Harry Stoner, pengusaha yang berniat untuk menghancurkan usahanya sendiri, supaya mendapat uang asuransi untuk membiayai karyawan dan membayar hutang-hutangnya. Kefrustrasian Harry Stoner tergambar dengan baik sepanjang film, membuat kita tertegun dan merasa dekat dengan karakter ini. Jack Lemmon meraih Oscar untuk pemeran utama pria terbaik di tahun 1974, hampir setahun setelah film ini dirilis. Salah satu dari sedikit kejadian di mana Oscar is rightly justified.

Anand (tersedia di iflix)

Dari ratusan film yang sudah dibintangi Amitabh Bachchan sampai sekarang, mungkin film ini termasuk yang paling manis. Film tahun 1971 menempatkan Amitabh Bachchan di supporting role, sebagai dokter Bhaskar yang merawat pasien kanker bernama Anand (Rajesh Khanna), yang justru malah memilih menghabiskan sisa umur dengan living life to the fullest, kebalikan dari sang dokter. “Bromance” antara dokter dan pasien menjadi daya pikat kita mengikuti film ini. Tak heran kalau sampai sekarang, film ini masih menjadi film Hindi dengan rating tertinggi di IMDB.

Selamat menonton!

“Homoseksualitas Bisa Disembuhkan dengan Hipnoterapi”

APAKAH kalimat judul di atas benar adanya? Ya manalah saya tahu! Lha wong saya bukan seorang hipnoterapis (apalagi yang sudah tersertifikasi klinis), pun bukan seorang gay dengan perspektif orang pertama, yang sedang mengalaminya.

Namun secara pribadi, kalimat judul di atas terdengar kurang sreg bagi saya.

Hanya penyakit yang berpeluang/bisa disembuhkan, bukan preferensi seksual yang sebenarnya sama seperti selera makan atau cara bersantap. Seaneh atau setidak lazim apa pun gaya seseorang ketika makan, itu akan tetap merupakan ranah pribadi, tentu saja selama tidak melanggar ketentuan hukum formal yang harus dipatuhi semua orang di luar batasan agama dan budaya.

Intinya, that’s none of your business.

Juni 2016, jagat Twitter dihebohkan oleh kelakuan Aulia Masna berikut ini.

Tak hanya memicu perdebatan dan perang argumentasi, hujatan, serta ratapan dari para warganet, perbuatan Mas Masna ini bahkan digugat lewat petisi. Yang meskipun gagal mencapai target dukungan, tetapi tidak menyurutkan perjuangan melawan ketidaklaziman.

Iya, kata kuncinya adalah “ketidaklaziman”, ketika ada sesuatu yang dilakukan di luar kebiasaan khalayak ramai.

Begitu pula dengan yang satu ini, dari komentar salah satu pembaca Linimasa. Cukup dengan membayangkan penampilannya saja, kita bisa mengernyitkan dahi dan menunjukkan ekspresi wajah aneh secara refleks. Karena lagi-lagi, itu hal yang tak lazim.

Apa hubungannya antara contoh kuliner tadi dengan preferensi seksual sebagai urusan pribadi?

Selama Mas Masna bukan seorang kanibal yang ngecapin rendang daging manusia, atau selama kecap yang digunakannya tidak diperoleh dengan mencuri atau membunuh sang pemilik warung, perbuatan aneh Mas Masna tidak melanggar hukum formal apa pun. Mas Masna tidak bisa dijatuhi hukuman resmi. Paling jauh ya dicaci maki oleh teman-temannya.

Ihwal rendang dikecapin ini, saya semestinya tidak menggunakan kata “aneh”. Sebab saya tidak mendukung atau pun membencinya. Biasa saja.

Demikian pula dengan homoseksualisme sebagai salah satu preferensi seksual. Selama tidak berlangsung pada anak-anak di bawah umur (UU Perlindungan Anak); tidak melibatkan pemaksaan, tipu daya, dan kekerasan fisik termasuk perkosaan, tidak melibatkan pasangan sah orang lain (zina dalam pemaknaan hukum pidana); tidak dilakukan secara terbuka dan dapat mengganggu orang lain (pidana asusila), maka tidak bisa diganjar dengan hukuman formal. Menyisakan orang-orang yang merasa sangat tidak nyaman, dan menggunakan pandangan keagamaan sebagai alasan utamanya. Untuk kemudian ditambahkan dengan argumentasi-argumentasi pendukung dari berbagai sudut pandang. Termasuk Psikologi dan kejiwaan.

Bagi kelompok masyarakat yang membenci homoseksualisme, homoseksualitas dianggap sebagai penyakit kejiwaan. Sehingga mereka berpendapat bahwa keadaan ini bisa disembuhkan dengan terapi-terapi kejiwaan yang sesuai, termasuk hipnosis maupun pernikahan (kerap diistilahkan “rawat jalan*”, yang menurut saya amat konyol dan merugikan salah satu mempelai beserta keluarganya).

Apabila tidak berhasil, metode lain yang dapat dijalankan adalah sabotase hormon, melalui konsumsi obat-obatan untuk meredam berahi maupun dorongan biologis serupa. Kebiri kimiawi, bisa dibilang begitu. Seperti yang terjadi pada Alan Turing. Seolah dibarengi celetukan: “Kamu boleh saja tetap seorang gay, tapi kamu juga enggak bisa ngapa-ngapain dengan ke-gay-anmu itu.

Nah, pertanyaannya sekarang, benarkah homoseksualitas bisa disembuhkan dengan hipnoterapi?

Saya berteman akrab dengan tiga orang hipnoterapis klinis bersertifikasi. Ketiganya berdomisili di Samarinda. Salah satunya pernah berbagi pengalaman (tanpa melanggar etika profesi) saat menangani klien dengan keluhan homoseksualitas.

Cerita dan beberapa detailnya bisa saya rangkum sebagai berikut.

  • Klien sadar bahwa ia adalah seorang gay
  • Klien berkeinginan untuk menjalani sesi-sesi konseling dan hipnoterapi setelah putus dari pacar.
  • Klien menyatakan keinginannya untuk tidak lagi punya kecenderungan suka pada sesama pria, terutama mantannya, supaya tak lagi merasa terganggu dengan semua perasaan tidak mengenakkan setelah putus. Selain itu, klien juga terus ditekan dan didorong orang tuanya agar segera menikah.
  • Hal-hal di atas sudah disampaikan klien kepada hipnoterapis sebelum sesi hipnosis. Berarti dapat dianggap sebagai konseling awal.
  • Menjelang sesi hipnosis, klien menyatakan dan memastikan kesiapannya menjalani semua proses. Termasuk relaksasi, memasuki kondisi somnambulisme di tingkat tertentu, dialog untuk menelusuri masa lalu, dialog untuk menangani kesan emosional yang tertanam dari masa lalu, dan sebagainya.
  • Dari penelusuran masa lalu, terungkap bahwa klien pernah diejek “bencong” oleh teman sekolahnya di SD. Kala itu ia berusia 12 tahun, dan sangat tidak terima dengan olok-olokan itu. Terindikasi, guncangan emosional atau trauma yang dialami klien pada waktu itu justru membuat sebutan “bencong” masuk dan tertanam ke pikiran bawah sadar.
  • Setelah ingatan masa kecil itu dibongkar, kesan mental yang melekat pun dibenahi. Di sini, sang hipnoterapis mulai menanamkan kesan mental yang baru, yaitu meningkatkan rasa suka klien terhadap wanita serta menumbuhkan semangat agar bisa segera menikah.
  • Klien pun kembali disadarkan; merasa lebih lega, nyaman, dan plong; tak menyangka kejadian di masa kecilnya bisa memberikan dampak sebesar itu.

Selepas itu, saya tak tahu lagi perkembangan terakhirnya. Yang jelas, saya maupun teman saya—sang hipnoterapis—sama-sama berharap yang terbaik bagi si klien. Meskipun “yang terbaik” menurut kami itu berbeda-beda.

Beranjak ke pertanyaan kedua, apakah terapi hipnosis seperti ini bisa dilakukan kepada semua gay?

Jawaban sotoy saya: mungkin/mungkin tidak. Saat dicari di Google pun, salah satu jurnal medis tertua yang membahas ini dirilis pada 1967.

Saya juga pernah menjalani sesi hipnoterapis untuk keluhan yang berbeda. Sedikit cuplikannya bisa dibaca dalam tulisan “‘Masa Lalu’ yang Bikin Kepo”, dan setidaknya ada tiga hal mendasar yang harus dipastikan sebelum sesi hipnoterapis dilaksanakan.

1. Masalah & Keluhan

Apa yang mesti ditangani jika tidak ada yang dikeluhkan? Seberapa mengganggunyakah keluhan tersebut dalam kehidupan sehari-hari? Keluhan ini pun bukan yang berasal dari orang lain, melainkan diri sendiri.

Dibandingkan sang klien di atas, keluhan saya jauh lebih sepele. Yakni ketidaksukaan, yang menjadi ketidakmauan saya untuk bangun pagi. Lagi-lagi, ternyata salah satu penyebabnya adalah peristiwa di masa kecil. Hal sepele ini mulai menjadi masalah setelah memengaruhi kehidupan profesional.

Begitu pula pada sang klien di atas, yang terganggu dengan homoseksualitasnya sampai memutuskan bertemu hipnoterapis, serta menjalani semua fase sebelum sesi hipnosis. Pandangan sang klien terhadap homoseksualitasnya memunculkan dorongan untuk mengikuti semua arahan, dan bersedia untuk membuka diri dalam konseling, ada willingness, hingga…

2. No Mental Blocks

Tidak semua orang bisa dihipnosis. Kendati pikiran aktif seseorang menyatakan mau dihipnosis, belum tentu dengan pikiran bawah sadarnya.

Penolakan ini kerap disebut mental blocks, dan menghalangi klien untuk bisa benar-benar rileks menuju tahap somnambulisme. Bentuknya bermacam-macam, mulai dari tiba-tiba terjaga di tengah proses relaksasi tanpa tahu penyebabnya, sampai ada yang terjaga dalam keadaan marah sebagai mekanisme pertahanan dari alam bawah sadar.

3. Kecakapan Sosial dan Emosional

Hipnoterapi klinis memiliki peluang untuk mengubah atau memodifikasi perilaku seseorang. Itu sebabnya tidak sembarang orang bisa mendapatkan sertifikasi, diakui sebagai praktisi, dan menerima klien. Kabarnya, selain melihat kemampuan personal, juga mempertimbangkan cara berpikir serta kepiawaian sosial.

Akan sangat berbahaya apabila seseorang yang judgmental dan senang menghakimi, gampang memandang rendah orang lain, mudah berprasangka, dan memiliki sifat-sifat negatif sejenis lainnya memiliki akses untuk mereset benak manusia.

Dalam sesi-sesi konseling awal, hipnoterapis dan calon klien akan menjalin komunikasi dan saling menyamakan persepsi terhadap masalah yang nantinya akan ditangani. Dari situ, barulah bisa ditentukan apakah bisa/perlu berlanjut ke sesi hipnosis, atau tidak. Bukan tidak mustahil, ada masalah-masalah kesehatan yang lebih tepat dikonsultasikan ke dokter benaran.

Sang klien di atas mengeluhkan homoseksualitasnya, dan ingin dikondisikan agar menjadi heteroseksual. Dalam pandangan umum, termasuk yang diyakini oleh sang hipnoterapis, homoseksualisme itu salah. Maka permintaan klien pun disikapi sebagai sebuah hal yang wajar untuk ditunaikan… dan supaya menghindari relapse atau kambuh, sang hipnoterapis akan melakukan pemantauan berkala, atau bahkan melakukan sesi hipnosis ulang selama diperlukan.

Jadi, dengan demikian, apakah homoseksualitas bisa ditangani dengan hipnoterapi? Entahlah. Kembali lagi ke kamunya, merasa ada yang ngawur tentang itu atau tidak. Sebab mau homo atau hetero, semuanya sama-sama manusia. Tidak ada yang lebih berhak menjalani kehidupannya sendiri dibanding yang lain.

Toh yang selama ini sangat homofobia dan benci setengah mati terhadap para homoseksual serta homoseksualitas, belum tentu 100 persen heteroseksual. Enggak percaya? Coba cek pakai Kinsey’s Scale, yang walaupun sudah kuno tetapi masih bisalah dipakai.

[]

* Special note on “rawat jalan”: Saran ini barangkali terdengar ngaco dan susah untuk dilakukan, tetapi kalau kamu gay dan benar-benar ingin menikah demi memiliki keluarga heteroseksual pada umumnya, membina rumah tangga, menjalin kedekatan lahir batin dengan lawan jenis, serta memiliki dan merawat anak dengan baik, setidaknya jujur dan terbukalah dengan calon pasangan.
Namanya juga pernikahan, masak mau dimulai dengan potensi kecurangan? Siapa tahu dia nanti yang bakal bantu kamu untuk tetap pegang komitmen, jadi seseorang yang bisa berbangga hati, bukan malah merasa sebagai korban penipuan. Kecuali jika kamu sudah benar-benar yakin dan pasti enggak bakal lirik kanan kiri.
Soalnya, sejauh ini, perceraian masih dianggap lebih memalukan ketimbang batal menikah… dan ada juga sih yang baru menyadari ketertarikannya pada sesama jenis justru setelah menikah dan punya anak.

Apakah Jennifer Lawrence juga korban Harvey Weinstein?

Beberapa bulan ke belakang ini saya mengalami kesulitan untuk menulis di Linimasa. Padahal cuma satu halaman. Entah kenapa. Saya tidak percaya dengan istilah writer’s block. Tapi kalo reader’s block saya bisa mengerti. Itu mungkin yang dialami oleh saya. Saya kurang membaca. Saya salahkan media sosial.

Sepertinya semua topik sudah ditulis. Tidak ada lagi yang bisa saya pungut. Terlalu banyak informasi masuk ke kepala. Saya tidak mau bercerita tentang Ahok. Semua orang membicarakannya. Apalagi saya sudah muak dengan kelakuan penggemar garis keras Ahok di dunia maya. Mereka tidak sadar ya kalo mereka itu justru yang membuat Ahok terdepak dari kursi Gubernur. Apa mereka tidak sadar ya kalo kelakuannya bikin banyak yang golput. Ah tapi pasti mereka tidak akan mengerti. Fanboys Marvel pasti tidak akan mengakui kalau The Dark Knight itu film superhero paling oke. Begitu juga sebaliknya. Iya kan?

Mau bercerita tentang Harvey Weinstein yang konon film rilisannya sudah menerima lebih dari 300 nominasi Oscar tetapi ternyata seorang penjahat kelamin? Apa yang mau diceritakan? Semua di Hollyweird tahu kalau dia adalah predator seksual. Dan sakit jiwa. Tapi ini sudah terjadi jauh sebelum Hollyweird berdiri. Kekerasan seksual juga terjadi di semua belahan dunia. Termasuk Indonesia. Toh di sini pun tidak ada yang berani bicara lantang seperti Rose McGowan atau Courtney Love. Semuanya cari aman. Ketakutan. Cuci tangan. Iya kan?

Tapi terus terang saya kecewa. Saya penggemar film rilisan Miramax–yang ternyata singkatan dari orang tua Harvey–Miriam dan Max. Banyak sekali film yang bagus. Apalagi era 90an. Apa jadinya Tarantino tanpa Harvey Weinstein? Di semua film Tarantino–Harvey Weinstein selalu berperan. Iya kan?

Masih ingat The Fappening? Kejadian ketika foto telanjang Jennifer Lawrence dan seleb lainnya bocor dan tersebar di dunia maya? Di fotonya dia terlihat tidak ceria. Silver Linings Playbook kan filmnya Weinstein.. Ah semoga dugaan saya salah.

Fake News and Fake People

Jadi begini ya.

Semenjak jadi remaja tanggung, entah mengapa percaya 95% sama sesuatu atau seseorang tidak pernah jadi default (not even 100%). Apalagi orang baru yang sekonyong konyong hadir dan seolah memaksakan posisinya di suatu situasi atau dekat seseorang atau diri. Atau orang baru kenal yang mendadak suka memuji. Sering benar instingnya, tetapi kalau salah, tak segan saya ubah pendapat. Karena itu jika pernah membaca kalau seorang Gemini lebih percaya orang yang mengkritisinya dan curiga ketika orang memujinya itu (tidak penting saya Gemini atau bukan) memang dirasakan benar adanya.

shutterstock_212116750-e1479401971146

Yang tadinya dirasakan sebagai kekurangan dalam karakter dalam era fake news begini kok rasanya bisa jadi keuntungan. Mau itu berita baik dari tokoh yang dikagumi, atau berita buruk dari yang tak disukai, enggan rasanya menyebar berita kalau belum konfirmasi latar belakang. Malah akhir akhir ini tidak hanya fake news, tapi muncul juga fake people.

Asalnya, suatu hari yang cerah, saya mendapatkan berita dari sebuah PR agency mengenai sutradara asal Indonesia yang “membanggakan” karena film debut-nya masuk ke short list Oscar. Kurang lebih paham dengan betapa jalan menuju pencapaian seperti itu sungguh panjang dan berliku, dan sebelumnya tidak pernah sekali pun mendengar nama sang sutradara, apalagi setelah melihat trailer filmnya yang menurut saya enggak banget, saya hanya mendengus dan move on.

Kemudian beberapa hari ke depan saya tertegun melihat nama sang sutradara ini muncul di berbagai media daring. Obvs, mereka juga menerima rilis yang sama, dan langsung menelannya tanpa ditelaah lebih lanjut. Iseng, lalu menyelidiki apa sih, sebenarnya artinya short list di Academy Awards ini? Oalah, ternyata arti dari daftar ini adalah film yang sudah dikirimkan ke komite dan membayar fee yang diwajibkan untuk seleksi. Itu saja? Ya, itu saja. Seperti sudah diduga, kemudian berita mengenai film ini di ajang kompetisi Oscar pun setelah itu hilang ditiup angin. Beberapa bulan kemudian saya menerima rilis lagi yang mengatakan kalau film yang sama diputar di bioskop di Amerika Serikat. Berapa layar dan selama berapa hari, informasinya tidak lengkap, tetapi ya bombastis sekali. Kesimpulan saya sepertinya sutradara muda ini anak seorang yang kuaya ruaya.

92276035_istock_19861919_medium

Tentu kejadian ini timbul di ingatan ketika ramai berita soal Dwi Hartanto. Apa yang membuatnya melebih-lebihkan prestasinya, saya kurang paham, padahal untuk belajar ilmu interactive intelligence level doktorat di Delft saja menurut saya sudah cukup luar biasa. Kemudian ditarik sedikit lebih ke belakang ada tubir soal seorang pengusaha pendukung startup yang diragukan riwayat profesionalnya dan dicurigai melebih-lebihkan prestasinya. Bedanya, kalau Dwi Hartanto mengaku salah, kalau si pengusaha ini ngotot benar bahkan menuntut pihak yang mempertanyakan keabsahan klaim-klaimnya.

4-genuine-people-fake-people

Tarik lagi ke belakang kurang lebih setahun yang lalu, tiba-tiba muncul menjulang nama Anniesa Hasibuan, yang mendadak menampilkan koleksinya di New York Fashion Week. Bukan yang paham fashion sampai seluk beluknya, tetapi sebelumnya tak pernah mendengar namanya. Juga cukup paham kalau di fashion week kota-kota besar, banyak sekali show sampingan yang diadakan tanpa harus masuk agenda utamanya sendiri. It’s mostly about funding. Karena bikin show di negara sendiri saja, tentu harus menanggung biaya seperti pembuatan koleksi, bayar model, sewa tempat, sound system, dekorasi, fitter, koreografer, tata musik, dan masih banyak lagi yang mungkin saya lupa dan yang terpenting: PR company, karena kalau tidak, show itu tentu seperti pohon raksasa tumbang di tengah hutan belantara; tidak ada yang mendengar. Nah kira-kira dimultiplikasi berapa ketika kita membuat show di luar negeri? Sudah banyak kok yang menghitungnya.

Ironisnya yang terjebak berita palsu dan orang palsu itu justru dari kalangan yang harusnya secara default mempraktikkan skeptisisme; ilmuwan dan jurnalis. Jadi enaknya gimana ya?

Berapa Harga Ponsel Kita?

Lagi-lagi soal ponsel.

Dua tahun lalu, beberapa kali saya menulis soal ponsel di Linimasa ini. Saat itu, saya panik karena ponsel saya satu-satunya wafat secara mengenaskan dan mendadak. Seketika semua aktivitas saat itu terhenti, karena nyawa digital kita dicabut.

Dua tahun kemudian, umur ponsel yang menjadi daily driver atau gawai utama sudah genap juga berusia dua tahun. Lebih beberapa minggu malah. Menjelang usianya yang ke-2, sejak beberapa bulan lalu, ponsel ini sudah mulai bertingkah. Batere ponsel sering sekali drop. Dalam sehari, saya harus charge ponsel berkali-kali. Selalu sedia power bank lebih dari satu kalau harus menghabiskan waktu seharian di luar ruangan. Waktu untuk mengisi ulang batere ponsel lebih lama daripada waktu memakai ponselnya. Itupun sudah dalam keadaan mati, atau airplane mode. Dalam keadaan seperti ini, rasanya seakan-akan memiliki mobile phone yang membuat kita tidak bisa mobile karena harus tergantung sama colokan.

Akhirnya, beberapa hari lalu sebelum tulisan ini Anda baca, saya memberanikan diri untuk mendatangi servis ponsel di salah satu pusat perbelanjaan. Saya jelaskan kondisi batere ponsel. Teknisi cuma tersenyum, sambil bilang, “Coba kita ganti batere ya.”
Setelah diganti dengan batere baru, akhirnya tulisan di kolom Setting yang berbunyi “Your battery may need to be serviced”, sudah tidak ada lagi.

Saya bertanya ke teknisi, “Ini sebenarnya wajar nggak sih, batere ponsel saya jadi drop setelah 2 tahun?”
Dia jawab, “Oh wajar sekali. Apalagi pemakaiannya cukup tinggi sehari-hari.”
Saya penasaran lagi, “Jadi umur ponsel itu kira-kira berapa ya?”
Setelah berpikir sejenak, dia jawab, “Tergantung pemakaian, dan perawatan. Ada juga yang lebih dari 3 tahun masih bagus. Cuma mungkin kecepatan prosesornya sudah turun. Dan mungkin sudah tidak bisa di-update lagi software atau operating system di dalam ponsel. Apalagi sekarang tiap tahun ‘kan pasti sudah ada upgrade dari seri ponsel yang kita punya.”

Keesokan paginya, saya berjalan kaki mencari sarapan. Bedanya, kali ini saya cukup percaya diri membawa ponsel, karena sudah tidak perlu khawatir lagi membawa tambahan piranti power bank. Sambil berjalan kaki, saya berpikir, kalau setiap 1-2 tahun kita berganti ponsel, maka berapa harga yang pantas kita keluarkan untuk gawai ini?

Lalu muncul pertanyaan lain di benak saya: apa bisa kita menentukan harga ponsel kita?

Sambil mencari tukang kue basah yang sudah pindah ratusan meter dari tempat dia berjualan seperti biasa, iseng-iseng saya menghitung. Let’s say, dalam sehari kita mau menabung atau mengeluarkan 10 ribu rupiah untuk ponsel. Berarti dalam setahun terkumpul 3,65 juta rupiah spare cash untuk membeli ponsel. Pertanyaannya: apakah kita akan menghabiskan persis 3,65 juta rupiah ini untuk membeli ponsel dengan harga tersebut? Mencari yang lebih murah, sehingga ada sisa? Mencari yang lebih mahal, dengan menambah uang?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut berujung pada pertanyaan lain: apakah kita menilai waktu kita dalam satu hari untuk pemakaian ponsel sebesar 10 ribu rupiah? Berapakah nilai kita?

Jadi pertanyaan berapa nilai ponsel kita sebenarnya sama dengan pertanyaan “seberapa besar kita menilai kebutuhan kita terhadap ponsel tersebut”.

Tidak ada jawaban yang benar atau salah untuk hal ini. Tidak ada benchmark atau ukuran untuk menentukan the exact amount. Yang bisa menilai diri kita sendiri, sesuai dengan kemampuan kita.

Sambil berjalan pulang setelah membungkus bacang dan kue lumpur serta setengah lusin pisang goreng, saya coba mendata lagi jenis penggunaan ponsel buat diri sendiri.

Saya menggunakan ponsel untuk berinteraksi sosial dengan teman atau keluarga, mulai dari urusan pekerjaan sampai urusan kencan. Menonton video di Youtube, mendengarkan musik di Spotify, membaca buku saat berada di kendaraan umum. Memesan jasa transportasi, dan mengirim barang. Belanja kebutuhan sehari-hari. Membayar tagihan. Transfer uang. Membeli paket data modem. Mengedit dokumen. Menelpon, meskipun jarang, dan melakukan video call, ke orang tua dan wawancara kerja jarak jauh. Mengambil foto yang diunggah ke media sosial. Membalas email sambil sesekali harus preview video dari Google Drive atau Dropbox.

Dengan seabrek kebutuhan dan keperluan penggunaan ponsel yang cukup tinggi sehari-hari, maka buat saya pribadi, nilai 10 ribu rupiah per hari untuk memberikan value terhadap kebutuhan tersebut menjadi sangat wajar. Mungkin cenderung undervalue.

Lalu mari kita berhitung lagi sambil menikmati kopi hitam dan pisang goreng hangat.
Kalau frekuensi pergantian ponsel buat saya adalah setiap 2 tahun sekali, maka perhitungan nilai tersebut menjadi seperti ini: 10 ribu x 365 hari x 2 tahun = 7,3 juta rupiah.
Maka mengeluarkan uang 7,3 juta rupiah untuk ponsel yang akan digunakan sehari-hari sekali dalam dua tahun menjadi sesuatu yang wajar.

Perhitungan di atas menjadi masuk akal buat saya, tapi belum tentu buat Anda atau orang lain. Semuanya tergantung kebutuhan yang Anda perlukan.

Dan kalau patokan 2 tahun itu bisa diperlebar menjadi 2,5 tahun, yang artinya Anda akan ganti ponsel setiap 2,5 tahun sekali instead of 2 tahun sekali, maka nilai 10 ribu bisa Anda turunkan menjadi 8 ribu rupiah, misalnya. Atau malah dinaikkan sekalian. Again, it’s all about how much you see your own willingness to spend that matters.

Jangan lupa juga perhatikan faktor lain: godaan dan social pressure. Jangan sampai dua faktor ini menjadi penggerak untuk mengacaukan hitungan kita sendiri.

Lantas sekarang saya berpikir sambil mengunyah kue lumpur: batere baru di ponsel ini paling memberikan ponsel saya umur tambahan sekitar 6 bulan lagi. Maksimal 8 bulan. Jadi mungkin dalam 6 atau 8 bulan lagi, kalau ada rejeki, mungkin saya akan punya ponsel baru. Atau malah batere baru lagi.

Pertanyaannya: dalam 6-8 bulan lagi, berapa nilai yang mau saya hitung dan keluarkan?

Berapa nilai ponsel Anda sendiri?

Dari “Waktu Tengah Hari” Sampai Coventry

SEMAKIN banyak saya belajar, semakin sadar betapa tidak tahunya saya. Ini terjadi dalam banyak hal, termasuk kehidupan spiritual. Sampai mikirnya seberapa jauh ingin terus belajar, dan berbesar hati mengkoreksi apa yang sebelumnya sudah telanjur dianggap sebagai kebenaran.

Berikut adalah salah satu contohnya.

Sebagai seseorang yang sedang berusaha mempelajari, mengkritisi, memahami, dan menjalani Buddhisme mazhab Theravada hingga saat ini, saya tahu ada aturan berpuasa yang disebut Vikalabhojana. Yakni tidak makan setelah tengah hari sampai menjelang fajar di keesokan harinya.

Praktik berpuasa ini wajib dijalankan para Bhikkhu setiap hari sepanjang hidupnya. Sedangkan bagi umat biasa, praktik berpuasa ini dijalankan pada hari-hari tertentu setiap bulan sebagai bentuk latihan mental secara paket dalam Attasila atau Dasasila (terdiri dari delapan atau sepuluh pantangan).

Para Bhikkhu tidak bermata pencaharian, tidak memiliki uang maupun harta benda sejenisnya, maka tidak bisa melakukan transaksi jual beli. Keberlangsungan hidup mereka pun bergantung atau ditunjang oleh umat. Yang apabila disesuaikan dengan peraturan Vikalabhojana tadi, maka umat dipersilakan memberi derma makanan kepada para Bhikkhu sebelum tengah hari.

Sudah menjadi kesepakatan umum selama ini, yang dianggap sebagai “tengah hari” adalah sekitar pukul 12.00, atau saat matahari berada tepat di atas ubun-ubun. Dengan demikian, waktu yang ideal untuk mempersembahkan makanan kepada para Bhikkhu adalah sekitar pukul 11.00, dengan asumsi aktivitas makan siang berlangsung kurang dari satu jam.

Nah, baru pada beberapa hari lalu saya membaca catatan seorang Bhikkhu Indonesia yang ditahbiskan secara Kamboja, dan memiliki komitmen kuat untuk menjalankan Buddhisme secara murni dan tanpa kontaminasi apa pun. Termasuk anggapan-anggapan yang berlaku setempat.

Ia berpendapat bahwa waktu “tengah hari” tidak bisa disederhanakan menjadi pukul 12.00 siang, lantaran posisi bumi dan matahari sebagai patokan utama selalu berubah setiap hari. Pendekatan yang diambilnya pun lebih ilmiah, yaitu perhitungan astronomis dengan jam dan menit tersusun dalam tabel. Terkesan sama seperti penentuan jatuhnya magrib dan imsak saat puasa Ramadan.

Tabel harian detail waktu fajar dan tengah hari untuk wilayah Tangerang.

Kembali lagi, sebagai seseorang yang sedang berusaha mempelajari, mengkritisi, memahami, dan menjalani Buddhisme mazhab Theravada hingga saat ini, saya memang sudah tahu ada aturan berpuasa yang disebut Vikalabhojana. Yakni tidak makan setelah tengah hari sampai menjelang fajar di keesokan harinya. Namun saya baru benar-benar tahu bahwa penentuan waktu “tengah hari” bisa seketat ini. Apalagi sebagai peraturan dasar, para Bhikkhu yang melanggarnya berarti telah melakukan kesalahan dan harus disidang para guru maupun sesepuh.

Di sisi lain, para umat sangat tidak dianjurkan untuk memberi derma makanan di waktu yang mepet. Sebab mengkondisikan terjadinya pelanggaran. Para Bhikkhu pun bisa menolak pemberian tersebut, kendati itu sama saja dengan tidak makan apa pun hari itu.

Sepanjang akhir pekan kemarin, saya sibuk berdiskusi dengan para senior via WhatsApp. Sangat besar kemungkinan saya pernah melakukan kesalahan terkait ini, dan muncul perasaan bersalah karenanya.

Perbincangan kami mengerucut pada tiga hal: esensi dari praktik, toleransi dan kompromi atas kondisi kehidupan saat ini, serta kesepakatan dalam pengaturannya.

Pertanyaannya sekarang:

  • Seberapa tepat kita memahami esensi dari praktik keagamaan?
  • Seberapa jauh kita bisa menoleransi dan berkompromi terhadap perikehidupan saat ini dalam beragama?
  • Seberapa jauh kita bisa setuju dengan kesepakatan yang telah ditetapkan dalam beragama?

Tak hanya terjadi dalam Buddhisme, ilustrasi bernuansa dilematik seperti di atas juga—saya yakin—berlangsung dalam agama-agama lain, lengkap dengan kubu pendukung dan penentangnya masing-masing.

Kalau ada Amina Wadud di Amerika Serikat, ada juga Seyran Ates di yang mendirikan masjid liberal di Jerman. Begitu pula dengan pengumuman di Coventry Cathedral berikut ini, ketika salah satu gereja Katolik tertua dan terbesar di Inggris seakan menjadi lebih bersahabat dengan para pendosa. Baik pendosa agama (yang melanggar aturan keagamaan), maupun pendosa sosial (yang melanggar ketentuan kehidupan kemasyarakatan).

Lalu, bagaimana tanggapan Anda terhadap Amina Wadud, Seyran Ates, atau dewan pengurus Coventry Cathedral? Ya kembali ke tiga pertanyaan di atas. Soal esensi, toleransi dan kompromi, serta kesepakatan.

Masalahnya tak lagi sesederhana: “Itu salah, dan ini benar. Maka lakukanlah ini, dan jangan lakukan itu.” Melainkan ada penjelasan tentang latar belakang dan alasan, menjadikan kita sedikit lebih mengerti serta tidak gampang jemawa, gampang merasa jauh lebih mulia ketimbang orang-orang yang dicap berdosa.

Seyran Ates dalam Masjid Ibn-Rushd-Goethe. Foto: IB Times

[]

Bonusnya video ini, tentang seorang Rabi Yahudi, Pastor, dan seorang ateis. Mereka saling berbicara, setara, tanpa sikap menghakimi satu sama lainnya. Coba aja tonton sampai habis.

Terlepas dari apa pun tindakan kontroversial yang mereka lakukan, tetapi hati ini terasa hangat saat mereka saling mendoakan.