Enam Pecel Enak di Malang (Yang Bukan Pecel Kawi)

Nasi pecel itu enaknya luar biasa. Setuju ‘kan?
Apalagi dimakan dengan nasi putih yang hangat, sebagai sarapan di pagi hari. Ditemani secangkir teh panas. Sedapnya tak terkira.

Makanya, selama dua minggu lalu, hampir setiap hari saya bangun pagi-pagi sekali, untuk bisa lari pagi keliling kota Malang.
Apa hubungannya dengan nasi pecel?
Gampang saja: motivasi untuk lari pagi setiap hari adalah supaya bisa makan nasi pecel sesudahnya! Simpel ‘kan?

Dan karena makan pecel dilakukan setelah lari pagi, saya punya excuse untuk mencoba nasi pecel di tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Atau yang sudah lama tidak saya kunjungi. Toh modalnya cuma kaki yang sehat, dan keringat. Plus uang seadanya untuk beli pecel yang tidak mahal, lalu ongkos mikrolet kalau sudah terlalu lelah atau kenyang.

Alhasil, saya bisa mewujudkan misi mulia yang belum pernah terjadi selama ini: makan nasi pecel tiap hari, tiap pagi, sampai wajah mirip pecel.

Tentu saja tidak ada riset khusus tentang pilihan nasi pecel ini. Semuanya murni dari ingatan saya selama ini setiap ke kota Malang. Ditambah sedikit pencarian di Google Maps. Beberapa malah meleset dari rencana: karena datangnya terlalu pagi, tempat jualan pecelnya belum buka. Jadilah saya cari tempat nasi pecel yang lain, yang masih dekat dengan tempat tujuan asal.

Semoga daftar ini bisa menambah alternatif kalau Anda googling “rekomendasi nasi pecel di Malang”, yang setelah saya cari sendiri, kebanyakan rekomendasinya berada di dekat lokasi para penulisnya. Wajar sih. Kota Malang memang luas banget, apalagi kalau dijelajah dengan lari dan jalan kaki. Terasa pegelnya.

Tapi yang jelas, daftar ini tidak memuat Pecel Kawi yang overprice dan overrated itu. Mungkin Pecel Kawi memang cocok buat first timer tourist or visitor. Cuma kalau bisa, jangan deh. Gak worth having sampai segitunya. Beneran. Suwer!

Jadi, selamat menikmati daftar acak rekomendasi pecel di kota Malang berikut ini (sambil klik di namanya untuk mengetahui lokasinya ya):

Nasi Pecel di Warung AE, Jalan Gede, Malang, Jawa Timur 65115

Pecel Warung AE

Pro: Porsinya sangat ramah untuk kuli dan pelajar. Alias banyak dan besar. Bumbu kacangnya meresap dengan baik ke nasi dan sayuran. Pilihan jenis lauk sampingan cukup beragam, karena bukan fokus jadi warung pecel.
Con: Buat saya nyaris tidak ada.
Harga: Sepiring nasi pecel dengan tambahan dua bakwan jagung, tempe, minumnya teh tawar hangat, seharga 11 ribu rupiah.

Nasi Pecel Candi Rejo, Jalan Candi Mendut, Malang, Jawa Timur 65142

Pecel Candi Rejo

Pro: Saya temukan warung ini tidak sengaja. Maunya pergi ke Pecel dan Rawon Glintung yang lebih terkenal, eh masih tutup di pagi hari. Alhasil, ke tempat ini. Warung kecil ini terletak di gang besar yang ramai dengan anak sekolah. Penjualnya tanggap ketika saya minta porsi nasi dikurangi setengah. “Nasinya sedikit, sayurnya banyak ya!” Senang dengan penjual seperti ini.
Con: Saya mengernyitkan kening melihat pecel yang disajikan dengan potongan semur tempe! Agak aneh di lidah. Tapi kalau Anda memang fanatik tempe, silakan dicoba. Pilihan lauk pendamping tidak banyak. Mungkin karena masih di pagi hari.
Harga: Sepiring nasi pecel dengan tambahan tempe goreng ini, tanpa minum karena ada air putih gratis, seharga 9 ribu rupiah.

Nasi Pecel Mustika, Jalan Rajekwesi No. 10, Malang, Jawa Timur 65115

Pecel Mustika

Pro: Cukup terkenal. Kalau misalnya Pecel Kawi adalah Taylor Swift, maka Nasi Pecel Mustika ini adalah Rida Sita Dewi. Oh, beda generasi, ya? Anyway, bumbu pecel di sini berbeda dengan yang lain: biji kedelai masih terasa. Menambah cita rasa gurih. Sayurnya banyak. Jenis rasa bumbunya terasa berbeda jelas antara yang pedas, yang ‘cukupan’, dan yang tidak pedas sama sekali. Lauk pendamping cukup variatif, dan ada srundeng.
Con: Saya bukan penggemar acar, jadi kenapa juga nasi pecel dikasih acar dan timun? Dan warung ini ramai sekali, jadi pastikan Anda datang di pagi hari, sebelum jam 7 pagi. Peracik nasi pecel hanya bisa dikerjakan oleh satu orang, yaitu ibu tua pemilik warung ini, jadi memang nasi pecel akan lama hadirnya di hadapan kita.
Harga: Sepiring nasi pecel dengan satu potong tempe dan minum teh tawar hangat seharga 12 ribu rupiah.

Warung Pecel Bu Susi Pojok Sempu, Jl. Sempu, Kasin, Malang, Jawa Timur 65117

Pecel Pojok Bu Susi

Pro: Lagi-lagi warung pecel “kecelakaan”, karena ditemukan tidak sengaja. Maunya pergi ke Warung Pecel Mbok Djo, eh kok masih tutup. Akhirnya ke tempat sini saja. Letaknya di pinggir sungai kecil, jadi kita makannya menghadap ke sungai yang bersih. Lumayan, sambil menghirup udara pagi. Ada pilihan antara peyek teri atau peyek kacang, so this is a win! Pilihan lauk pendamping cukup beragam.
Con: Sangat ramai, jadi memang harus sampai sini sebelum jam 6:30 pagi. Pilihan minum tidak banyak.
Harga: Sepiring nasi pecel dengan satu potong empal, satu potong bakwan jagung dan satu potong tempe dan segelas air mineral seharga 17 ribu rupiah. Saya memang rakus kalau sarapan.

Pecel Winongo, Jl. Panderman no. 11, Malang, Jawa Timur 65115

Pecel Winongo

Pro: Lebih populer dikenal dengan nama Pecel Panderman. Dekat dengan Pecel Kawi, kalau jalan kaki cuma 5 menit. Jadi kalau memang mau wisata kuliner pecel, bisa mencoba keduanya dalam satu kesempatan. Bumbunya gurih. Lokasi yang juga dekat dengan jantung kota Malang, yaitu Jalan Ijen, membuatnya sangat pas untuk jadi pilihan sarapan setelah berolahraga. Porsinya pas buat quick bite, jadi tidak terlalu mengenyangkan.
Con: Buat saya, pasangan abadi nasi pecel adalah peyek. Maka ketika ada krupuk putih, yang ada di pikiran saya, “What the heck is it doing here?!” Siap-siap juga untuk kehabisan tempat duduk, karena mereka tidak memiliki tempat sendiri.
Harga: Sepincuk nasi pecel dengan sepotong tempe kecil ini seharga 9 ribu rupiah.

Pecel Di Depan Mall Olympic Garden (MOG), Jalan Kawi 24 Malang, Jawa Timur, 65116

Pecel di depan Mall Olympic Garden (MOG)

Pro: Satu-satunya tempat nasi pecel yang saya kunjungi dua kali selama lari pagi dua minggu di Malang yang lalu. Kenapa? Karena enak! Saya kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan rasa pecel ini. Bumbunya yang kental, namun tidak “mahteh” dan tidak bikin eneg. Sayurnya segar, sehingga tidak merusak rasa pecel secara keseluruhan. Tempe digoreng dengan pas, tidak terlalu kering. Cuma bermodal gerobak dan kursi plastik, nyatanya nasi pecel ini laris, meski tanpa ada bangunan permanen yang nyaman. Ketika jam 6 pagi saya sampai sana, hanya dalam waktu 5 menit kemudian antrian sudah memanjang. This is the best so far, by far.
Con: Nyaris tidak ada. Oh, tunggu. Cuma ada minum air mineral gelas plastik kecil. But it’s more than fine.
Harga: Sepincuk nasi pecel dengan tempe dan air mineral kecil seharga 11 ribu rupiah.

Jadi kalau mau jalan-jalan ke Malang, selamat makan nasi pecel sampai keblinger!

Advertisements

Ego Trap: Kita Menjadi Apa yang Kita Hina, Cela, dan Benci

JANGANKAN berlaku adil kepada orang lain, kita saja kerap abai dan bersikap tidak konsisten terhadap diri sendiri.

Harus selalu tegas bila menyangkut orang lain, meski untuk persoalan sesepele apa pun. Namun kita selalu meminta keringanan dan pertimbangan kembali atas nama kemanusiaan serta belas kasihan untuk diri sendiri, walaupun sebenarnya telah melakukan kesalahan besar.

Kita seringkali dengan mudahnya menghakimi orang lain atas tindakan dan perbuatan mereka tanpa didasari pemahaman yang utuh, apalagi rasa santun, sesuatu yang kian dianggap tidak penting dan makin diidentikkan dengan kemunafikan.

Sebaliknya, kita malah tersinggung berat apabila ada orang lain yang melakukan perbuatan serupa; menghakimi kita. Bukannya merespons atau memberikan konfirmasi dengan baik dan elegan, kita malah mengamuk tidak karuan. Dengan begini, masalah tak akan selesai, kita akan dianggap defensif, terlalu sensitif, suka menyerang tapi juga gampang meradang.

Pokoknya jangan gue!” Singkatnya seperti itu.

Kita merasa sangat terganggu dan benci dengan orang-orang yang parkir kendaraan sembarangan. Saking bencinya, bisa terdorong untuk melakukan perusakan. Mulai dari membunyikan alarm, mengempiskan ban, menggores cat luar kendaraan, bahkan sampai memecahkan kaca lalu ditinggal begitu saja. “Siapa suruh parkir sembarangan?!” Seolah tindakan vandalisme tersebut dibenarkan dengan sejumlah alasan.

Kita merasa sangat terganggu dan benci dengan anak-anak motor yang balap liar di jalan umum, atau pengendara motor dengan knalpot yang bising. Saking kesalnya, kita sampai bisa menyumpah secara lantang atau dalam hati: “Mudahan jatuh mati lo!” Pada saat terjadi kecelakaan yang melibatkan pembalap liar tersebut, spontan bisa kembali menyumpah: “Mampus!” Pertanyaannya, apakah dengan mendoakan dan mengharapkan kematian seseorang yang kita benci, termasuk tewas dalam keadaan mengenaskan, menjadikan kita seseorang yang lebih baik dibanding mendiang? Lebih baik mencari tahu, kenapa mereka getol sekali balapan liar?

Balap liar di jalanan Samarinda.

Padahal beberapa di antara kita pun kerap tergoda untuk mengebut di jalan raya, terlebih ketika sedang mengendarai motor atau mobil yang terasa keren dibanding lainnya. Hal ini juga terjadi pada masalah knalpot. Sampai kapan pun knalpot yang berisik hanya akan menganggu orang lain, kecuali pengendaranya. Knalpot berisik di sini bukan cuma yang memekakkan telinga, atau yang identik dengan motor para jambret zaman dulu, termasuk juga muffler-muffler berukuran besar yang dipasangkan ke motorsport berharga puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Masih ingat kasus pernyataan keliru dari seorang psikolog mengenai girlband Korea beberapa waktu lalu? Sentimen massa di timeline akun-akun media sosial milik saya terpecah dua. Di Twitter, banyak yang menertawai betapa asal-asalannya pernyataan tersebut, ada pula yang menyayangkan sosok psikolog tersebut berkomentar tanpa mengerti konteks yang sebenarnya. Namun umpatan, cacian, dan serangan-serangan kepada psikolog tersebut juga bermunculan dari para warganet, tanpa peduli bahwa sang psikolog sudah meralat dan meminta maaf atau kekeliruannya dalam berpendapat.

Sementara di Facebook, lebih banyak beredar posting-an status yang menyayangkan kurang beradabnya ucapan (tweet) generasi muda saat ini terhadap orang yang lebih tua. Isunya pun bergeser sedemikian cepatnya, dari kekeliruan ucapan, menjadi bobroknya moralitas dan perilaku anak muda masa kini. Lalu, siapa yang salah? Semuanya! Sang psikolog salah, para bocah yang tidak bisa menyaring ucapannya salah, begitu pula orang-orang yang seolah ikut memanas-manasi topik dengan membenturkan kedua kubu. Menikmati ramainya dunia maya.

Gambar: Youtube

Kekesalan, kebencian, dan kemarahan adalah hak semua orang. Tidak ada satu pun yang bisa dan boleh menghilangkan kuasa emosi dan perasaan itu dari seseorang. Adalah lebih penting untuk memastikan dan mengatasi penyebab munculnya kekesalan, kebencian, dan kemarahan tersebut, ketimbang saling berseteru. Sebab itu sama saja dengan melawan kekesalan dengan kekesalan, kebencian dengan kebencian, dan kemarahan dengan kemarahan.

Lebih parah lagi jika ada yang merasa lebih pantas kesal, benci, dan marah dibanding orang lain; merasa alasannya untuk kesal, benci, dan marah lebih pantas diakomodasi dibanding alasan-alasan kekesalan, kebencian, dan kemarahan orang lain. Sebab apabila sudah ada pandangan seperti ini, berarti kita sudah terjebak untuk merasa lebih baik dan mulia dibanding orang lain… dan sikap itu cenderung mengarah pada arogansi.

Begitu pula dengan kedunguan, ketidaktahuan yang dibarengi dengan sikap keras kepala, bebal. Semua orang mustahil terlahir dengan kepandaian, kemampuan memahami, dan kecerdasan multidimensi (IQ-EQ-SQ, dan kebidangan) yang sama atau setara. Okelah kamu, atau kita sudah merasa jadi orang paling pandai, pintar, cerdas, nyambung, gesit dan tepat berpikir terhadap sesuatu, kemudian bagaimana cara kita menghadapi orang-orang lain dengan keadaan yang berbeda? Apakah memandang rendah dan tidak memedulikan mereka? Memperlakukan mereka seperti manusia kelas rendah yang tak pantas berada di dekat-dekat kita? Kalau begitu sih semua orang juga bisa, karena sealamiah merasa kesal atau sebal dengan keadaan tersebut. Yang pasti, sikap tersebut tidak mencerminkan kepintaran dan kecerdasan yang kamu miliki sebelumnya. Atau bisa jadi kamu belum cukup cerdas, terutama untuk hal-hal beginian. Fair enough, right?

Jangan sampai karena kita merasa sudah paling benar, paling pantas, paling cerdas, paling pintar, dan paling-paling positif yang lainnya, kita merasa pantas untuk menganggap orang lain paling salah, paling tidak pantas, paling bodoh, paling tolol, dan paling-paling negatif yang lainnya. Sebab itu bisa jadi tandanya kita telah masuk dalam perangkap ego kita sendiri.

Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik adanya.

[]

Gantungkan Citra-Citramu Setinggi Langit

Lima sampai sepuluh tahun belakangan ini, ada semacam gerakan yang mendorong anak-anak muda memulai bisnis sendiri. Menjadi pengusaha, wiraswasta, freelancer, dan tentunya entrepreneur. Seketika ramai pelatihan, bimbingan dan seminar untuk memfasilitasi kebutuhan itu. Acara televisi, radio, semua kanal online, menyampaikan betapa negara ini krisis entrepreneur. Kekurangan pengusaha. Diperlukan lebih banyak pengusaha muda. Bahkan kalau bisa dari masih di bangku sekolah. Setiap acara seperti ini dilangsungkan, bisa dipastikan peminatnya membludak.

Jadilah Young on Top, di puncak saat usia muda. Puncak di sini tentunya identik dengan keberhasilan ekonomi dan ketenaran. Dua hal yang dibuat seolah berhubungan. Kaya dulu baru tenar atau tenar baru kaya, tak masalah. Usia muda di sini lebih tepatnya adalah mereka yang baru memasuki atau akan sudah memasuki usia produktif.

Hasilnya lumayan menggembirakan. Kita banyak menemukan kreasi-kreasi baru hasil karya anak muda di masa itu. Beberapa masih bisa kita nikmati sekarang. Mulai dari restoran, aplikasi, perangkat mobile, dan sebagainya. Di korporasi pun banyak yang mencapai posisi tinggi di usia muda. Sekarang kita bisa menemukan brand manager, brand director bahkan CEO di usianya kepala dua.

Tentunya lebih banyak lagi yang masih berusaha mendaki. Tak terbilang pula yang balik badan, bubar jalan grak! Apa pun hasilnya, seharusnya sudah bisa menjadi pengalaman yang memperkaya pengetahuan dan pengalaman. Selama tak terlalu merugikan banyak pihak, anggaplah sebagai biaya kuliah. Selamanya akan lebih baik pernah mencoba daripada tidak sama sekali.

Di sisi lain, geliat ini juga membuat kekayaan dan ketenaran tak hanya cita-cita tapi obsesi. Segala hal dilakukan untuk meraih kedua hal itu. Tak ada salahnya sampai kemudian menjadi senjata makan tuan. Didorong media sosial, senjata itu tak hanya memakan tuannya tapi juga mematikan. Young on Top rupanya sepaket dengan Lonely At The Top.

Setelah di puncak pun ternyata banyak biaya dan pengorbanan yang harus dikeluarkan. Apalagi urusan, kesiapan mental. Gampangnya, pengen tajir melinting tapi udah siap belum untuk tajir melinting? Ingin segera terkenal, udah siap mental belum jadi terkenal? Menjadi kaya dan terkenal punya risikonya masing-masing.

Bayangkan suatu ketika di tabungan yang biasanya berisi belasan juta, mendadak masuk uang ratusan juta saja. Seketika pasti rasanya menjadi pemilik dunia. Semua bisa dibeli. Setelah kebutuhan pokok dinaikkan derajatnya, lalu kebutuhan sosial pun harus ikut naik. Didukung semakin banyak media tersedia untuk mempertontonkannya. Mengundang like, lope-lope dan decak kagum. Seringnya membuat orang menjadi besar kepala dan banyak yang kemudian lupa diri. Terbang setinggi langit dan saat melihat ke bawah yang dilihat adalah gumpalan awan nan indah. Harapannya tentu di atas langit masih ada langit, maka segala cara dilakukan agar terbang semakin tinggi lagi seiring jumlah rekening.

Di kondisi puncak, mendadak semua orang di sekitar menjadi baik dan manis. Siapa benar teman siapa lawan mulai tak jelas. Namanya di puncak, tentu banyak yang ingin di posisi yang sama. Menginspirasi. Jalan menuju puncak yang tadinya sepi menjulang ke atas mendadak ramai. Pemain semakin banyak, pesaing bermunculan, puncak pun semakin melandai. Bukan masalah, selama yang sedang melayang di awan-awan menyadari dan ikhlas untuk turun lagi tanpa beban. Mudah? Tentu tidak.

Namanya kondisi puncak, semua ada semua tersedia. Mendadak yang sudah ada jadi terasa kurang. Rumah kurang besar. Mobil kurang mewah. Handphone kurang kekinian. Pasangan hidup kurang cocok. Batin kurang terisi. Eksistensi kurang maksimal. Otomatis segala dilakukan untuk mengisi kekurangan-kekurangan ini. Mendadak biaya hidup semakin membengkak juga. Padahal besar kemungkinan tak ada yang kurang sebenarnya. Ini mungkin yang sering disebut ongkos sebuah kesuksesan yang selalu dilekatkan pada kekayaan dan ketenaran. Tak ada yang gratis, termasuk pencitraan.

Latihan percepatan menuju puncak, tak diimbangi dengan penanganan saat sudah di puncak. Makanya belakangan kita sering menemukan orang-orang yang mendadak kaya. Mendadak beken. Jangan pernah menyepelekan masalah ini. Bagai pucuk gunung es, di bawahnya bisa tersimpan kebobrokan yang luar biasa dan di luar akal sehat. Terutamanya soal mental dan bagaimana mereka melihat sesama manusia dan kehidupannya. Ini adalah salah satu dari buah pahit dari benih yang ditanam lima sampai sepuluh tahun lalu tersebut.

Banyak pengusaha muda yang sekarang tak lagi mampu menutupi boroknya. Padahal bukan borok, tapi kenyataan. Banyak pemilik bisnis yang gulung tikar. Padahal bukan gulung tikar, tapi tikar memang tak pernah dibentang. Banyak tokoh dan selebriti dadakan mendadak hilang namanya. Padahal bukan hilang, tapi ternyata hanya terkenal di dunia maya. Makna pencitraan pun semakin buruk. Seolah sama buruknya dengan mengelabui.

Padahal, semua orang, perusahaan bahkan negara pun melakukan pencitraan. Pencitraan itu bukan berbohong, tapi menyampaikan yang baiknya saja. Bukan menutupi kekurangan, tapi menonjolkan yang baiknya saja. Seorang teman yang paham budaya Jawa bilang “kami ini sebagai orang Jawa diajarkannya untuk menampilkan semuanya  itu “under control”, terkendali. Kami gak boleh menampilkan kegelisahan, masalah dan kesedihan, karena itu hanya boleh di kamar tidur bukan di ruang tamu. Makanya gue gak bisa sama konsep studio apartment gitu bok… kamar tidur dan ruang tamu kok nyampur…”.

Diantara pengusaha-pengusaha muda yang gagal meraih puncak itu pun ada yang memilih untuk kembali ke tanah dan menata ulang hidupnya. Kembali menjadi karyawan, melunasi hutang akibat gagal bisnis, mengevaluasi ulang cita-citanya. Banyak pula yang memilih untuk melanjutkan hidupnya dengan cara menggantungkan citra-citranya setinggi langit. Dengan keyakinan dan harapan, semakin tinggi pencitraannya semakin tinggi pula kelak pemasukkannya. Pemasukkan dan pencitraan kejar-kejaran. Seperti nasi dan sambal. Orang-orang di sekelilingnya, semakin seru menonton dan bahkan menyoraki untuk memberikan semangat untuk semakin menggantungkan citra setinggi langit. Pertunjukkan ini semakin hari semakin banyak pelakonnya. Tentu banyak penonton yang juga ingin menjadi pelakon.

Sialnya, sebagai penonton kadang kita suka lupa bahwa itu hanya tontonan. Bukan hanya yang mecitrakan pengusaha sukses saja. Saat yang mencitrakan kesehatan kemudian sakit, kita kecewa. Saat yang mencitrakan kekuatan ternyata lemah, kita marah. Saat yang mencitrakan keberhasilan ternyata gagal, kita menghina. Saat yang mencitrakan keharmonisan ternyata berantakan, kita menghujat. Saat yang mencitrakan kaya ternyata miskin, kita ngamuk.

Kita bertingkah seperti ibu-ibu tetangga yang ngamuk sama Meriam Belina karena dia selalu berlakon sebagai ibu tiri yang kejam. Padahal pas nonton sinetron mengaku sadar ini cuma tontonan. Atau dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana dengan mudahnya kita tertipu oleh tampilan dan pembawaan. Penghakiman yang sebenarnya kita buat sendiri. Berpenampilan mewah artinya kaya. Berotot artinya sehat. Bersih artinya higienis. “Modest” artinya taat beragama. Mata kita memang penipu ulung.

Sepertinya layaknya manusia modern harus ada yang selalu disalahkan. Kalau seperti ini siapa yang salah? Yang melakon atau yang menonton? Salah yang menonton. Karena pelakon akan selamanya ada di sekitar kita dan jangan pernah lupa, kita juga pelakon. Kita berlakon untuk hidup, act of survival. Berlakon rajin hanya saat ada boss di kantor. Berlakon alim di depan calon mertua. Berlakon pintar karena gengsi. Berlakon sopan nan jantan hanya di depan gebetan. Jangan-jangan menjadi diri sendiri dan apa adanya itulah semu yang sesungguhnya.

Saat bisa meyakinkan penonton bahwa yang sedang disaksikannya adalah kenyataan, itulah puncak kesuksesan pelakon. Pelakon akan terus menerus mengasah kemampuannya membangun citra. Maka seabgai penonton kita juga harus semakin mengasah kemampuan memisahkan pencitraan dan kenyataan. Sehingga saat lampu dipadamkan, riasan dihapus, kostum dilepas, penonton tak perlu kecewa apalagi marah. Toh tak ada yang pernah memaksa untuk menonton apalagi mempercayainya. Semua atas kehendak penonton sendiri.

First Travel & The Last Hope

Skema ini dicetuskan oleh Charles Ponzi, yang kemudian menjadi terkenal pada tahun 1920.[2] Skema Ponzi didasarkan dari praktik arbitrasi dari kupon balasan surat internasional yang memiliki tarif berbeda di masing-masing negara[3]. Keuntungan dari praktik ini kemudian dipakai untuk membayar kebutuhannya sendiri dan investor sebelumnya.

Ponzi menyatakan bahwa uang yang diperoleh dari investasinya akan dikirimkan ke agen di luar negeri, seperti Italia, di mana mereka membeli kupon tersebut. Lalu kupon itu dikirimkan kembali ke Amerika Serikat dan ditukarkan perangko yang harganya lebih mahal. Ponzi menyatakan keuntungan bersih setelah mengukur nilai tukar adalah lebih dari 400%.

Namun setelah berhasil memperoleh jutaan dolar Amerika, kedok dari praktik ini terbongkar. Hal yang tidak dapat dimungkiri karena dalam keadaan investasi yang dijanjikan, seharusnya ada 160 juta kupon yang dikeluarkan, namun hanya 27 ribu yang terealisasikan. Setelahnya Charles Ponzi ditangkap dan dipenjara[4]

Istilah Ponzi yang dinukil dari wikipedia ini akan mudah dipahami jika Charles Ponzi dibaca First Travel. Kupon balasan dan prangko dibaca dengan jemaat umroh. Italia diganti dengan Arab Saudi.

Oleh karena itu ini merupakan tantangan bagi Brigjen Herry Nahak dalam menangani masalah ini baik-baik. Herry adalah Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Mabes Polri yang menangani kasus First Travel.

umroh-makassar-2016-liburan-travel-1592654

Mengapa tantangan?

Karena Herry Nahak adalah prajurit tempur Polri mantan anggota Densus 88 – Anti Teror yang lebih terdidik dalam memerangi terorisme. Saya pernah satu rombongan dengannya menjadi delegasi Indonesia untuk menghadiri Senior Official Meeting Trans-National Crime di Myanmar tahun 2009. Saat itu ia mumpuni untuk menjelaskan perihal deradikalisasi dan penanganan teroris. Pria asal Nusa Tenggara ini mungkin. Sekali lagi mungkin, adalah didikan Gregorius “Gories” Mere.

Apa yang sebaiknya dilakukan Penyidik Polri?

Penipuan skema Ponzi seolah-olah adalah melibatkan uang besar. Padahal sesungguhnya tidak. Memang benar, bahwa jumlah uang yang terkumpul sedemikian banyak jika dihitung dengan mengalikan jumlah calon jemaah yang telah menyetor. Tapi Penyidik jangan lupa bahwasanya skema ponzi adalah makhluk halus yang memakan tubuhnya sendiri.

Jika Andika Andeci menyatakan bahwa hubungan baik menyebabkan adanya harga khusus dan ujung-ujungnya adalah biaya umroh murah, maka itu sulit untuk diterima logika.

Secara sederhana ilustrasinya begini:

  1. Andika Andeci menerima 10 orang jemaah masing-masing membayar 10 juta maka Andika menerima Rp100juta. Padahal biaya minimal yang harus disediakan untuk setiap orang melakukan umroh adalah misalnya 15 juta. Maka dari 100 juta uang pengumpulan biaya umroh tersebut hanya dapat memberangkatkan 6 jemaat dengan biaya Rp90juta, sisa Rp.10 juta. Lalu bagaimana dengan nasib 4 orang jemaah lainnya? Biaya Rp60juta untuk sisa jemaah oleh Andika akan ditunggu jemaat lain. Berarti untuk 4 sisa jemaat (Rp.60juta) ini dia perlu 6 orang jemaat baru untuk membiayainya (bayar umroh Rp10juta/orang).  Dengan tenggat waktu setahun antara pelunasan dan jadual keberangkatan diharapkan Andika dapat memutar uang jemaat tersebut dan menghasilkan laba.
  2. Jika yang terjadi adalah dengan cara demikian, maka mutasi rekening di bank milik first travel akan hilir mudik uang untuk penerimaan setoran pelunasan umroh dan biaya operasional umroh seperti biaya tiket, visa, dan hotel. Yang terjadi adalah saldo tidak akan besar. Belum sempat ditumpuk sudah dipergunakan untuk membiayai jemaat sebelumnya.
  3. Pundi-pundi harta harusnya ada di rekening lain yang merupakan rekening penampungan diluar rekening operasional. Secara rutin ada uang yang dikeluarkan untuk kepentingan pribadi pemilik first travel. Oleh karena itu penting (sekaligus tidak terlalu penting) bagi Penyidik Polri meminta rekening pribadi pemilik dan sanak famili yang dijadikan penampungan bagi uang jemaah.

Kesempatan murni yang seharusnya dimanfaatkan adalah dana mengendap selama setahun yang seharusnya dapat digunakan sebagai portofolio investasi first travel di bidang lain. Laba dari investasi ini bisa sedikit menolong “bleeding” yang pasti akan terjadi. Sayangnya, bukan cuan yang dicari melainkan ketenaran. Investasi hura-hura yang belum jelas labanya. Buka butik, ikut perhelatan fesyen dunia, beli kedai makan di luar negeri, dan entah usaha apalagi.

Saya pernah meneliti rekening dari pemilik LKF Mitra Tiara di Flores yang juga di tahun 2013 melakukan skema ponzi di daerah Kota Larantuka dan saya tuliskan di linimasa edisi 2014 dengan judul “Lupakan Florence Sihombing, Mari Kita Berinvestasi”. Hal yang terjadi adalah rekening tidak akan pernah menyentuh saldo besar karena ketika uang masuk, maka pada tenggat waktu tertentu secara periodik akan dikeluarkan untuk membayar bunga investasi. Sehingga tidak ada sumber pendapatan lain kecuali setoran investasi itu sendiri. Maka hanya tinggal waktu jika rekening dengan isi N-(N+bunga)=0 (bahkan minus). Itupun agar terus berjalan perlu N baru terus menerus. Bagai aliran darah yang ditransfusikan ke tubuh berisi lap kanebo. Dia terus menyerap dan sekaligus meneteskan darahnya kemana-mana.

Sejak awal pemilik skema Ponzi sadar. Ia sadar sesadar-sadarnya bahwa dirinya besar pasak daripada tiang.

Lalu Bagaimana Andika Andeci memiliki aset?

Pengertian aset yang dimiliki Andika Andeci bukan berasal dari hasil keuntungan laba first travel. Aset yang dimiliki adalah hasil dari keputusasaan Andika Andeci karena ia setiap hari akan sulit tidur memikirkan bagaimana caranya menggaet jemaat baru untuk menjalankan roda bisnisnya. Capek iya. Pusing iya. Lalu laba perusahaan ndak ada. Bagaiman caranya ia menghilangkan stress dan menjadi penebus dari segala jerih payahnya? Ia akan memanjakan diri dengan hidup konsumtif. Pembenaran mulai bermain. “Masa sih 24 jam pusing kerja pusing mikir pusing syalala terilili gua kagak dapet apa-apa?”. Maka ia mulai tergoda untuk menyalurkan uang jemaah untuk hal lain di luar perusahaan. Caranya mudah. Bisa dengan mematok gaji tinggi bagi pemilik sekaligus direktur. Atau ia membeli aset tetap dengan nama pribadi menggunakan uang perusahaan. Lalu aset tersebut disewakan kepada perusaannya.

Cara lain, ia memungut uang hingga Rp500juta kepada calon agen yang dibuka di luar kota. Dan ini adalah nyata.

Pihak Penyidik boleh saja mencoba mengais pundi berisi sisa-sisa harta pemilik first travel, namun itu sia-sia. Tak perlu pusing sampai buka rekening rekening dan meminta pembukaan kerahasiaan bank lewat OJK atau PPATK.

Pak Herry Nahak cukup duduk semeja dengan Andika Andeci dan membawa selembar kertas Folio dan bolpen. Lalu mulai menghitung dan mengilustrasikan biaya umroh. Termasuk mekanisme manajemen keuangan setiap jamaah untuk apa saja. Apa struktur biaya dan berapa. Lalu bagaimana menggaji karyawan. Hal-hal seperti ini jauh lebih penting. Karena Penyidik akan paham bahwa mereka, para pemilik usaha, sejatinya tidak bahagia. Mereka setiap hari pusing. Mencari dana segar untuk menambal biaya umroh. Laba perusahaan dipastika akan nol bahkan minus.  Dan kekayaan yang ditonjolkan adalah buih yang diambil dari rekayasa penggunaan uang perusahaan yang seharusnya buat biaya umroh dialihkan untuk kepentingan pemilik.

Maka, sudahlah.

Jemaah yang terlanjut memberikan dananya, ikhlaskan saja. Semoga niat Saudara sudah dicatat. Tak perlu berangkat tapi amalan sudah diterima Tuhan bukankah bagian dari sebuah kenikmatan juga? Tak perlu beringas. Tak perlu menggebu-gebu. Ikhlaskan dan lupakan. Lanjutkan pekerjaan masing-masing.

Banyak pelajaran yang dapat kita petik sebagai manusia biasa.

Mau ibadah di jalan Tuhan jangan  nanggung. Cari saja yang mahal, toh pengorbanan uang yang dikeluarkan adalah pahala.

Bukankah semakin besar nilainya semakin besar pahalanya?

 

salam anget,

roy

 

Sudah Lebih Dari Seribu Kali Kita Bertemu, Masihkah Kau Mau?

“Roy, tulisan di Linimasa itu, ada seribu tulisan?”
“Udah lebih dari itu, kali.”

Sepenggal dialog di atas terjadi saat kami bertemu beberapa bulan yang lalu, di bulan Ramadhan. Kami di sini ada saya, Dragono, Gandrasta, Leila dan Roy. Glenn saat itu absen karena harus menjaga barang dagangannya di sebuah pameran. Agun sedang di Bandung.

Dan benar saja, ketika saya cek di WordPress, saat itu sudah ada hampir 1.020 tulisan. Sekarang jumlahnya sudah 1.032 tulisan (saat tulisan ini dibuat), dan ini adalah tulisan yang ke-1.034 (kalau hitungannya benar. Maklum, ujian Matematika cuma dapat 6).

Tulisan yang sekaligus terbit di hari ulang tahun Linimasa.com yang ke-3. Tak terasa, sudah lebih dari 1.000 hari Linimasa.com hampir menjumpai Anda semua setiap hari.

Kenapa hampir?
Karena nyatanya, motto yang kami usung dari awal, yaitu “hadir setiap hari karena internet lebih butuh hati” tidak bisa kami penuhi 100%. Kadang-kadang ada halangan yang akhirnya membuat tulisan tidak bisa hadir setiap hari.

Dari tulisan Agun “EDM Itu Musik Sampah” (2 September 2014), yang sampai sekarang masih mengundang komentar, hampir 3 tahun setelah tulisan terbit!

Setelah berjibaku dengan urusan pindahan dan pekerjaan baru kala itu, akhirnya Fa Dompas mengundurkan diri. Posisinya digantikan oleh Leila Safira. Karena kesibukannya yang padat, kadang-kadang Leila pun skip posting tulisan beberapa kali.

Dan mulai beberapa minggu lalu, Leila yang sedianya menulis tiap hari Jumat, berganti jadwal dengan Roy yang sedianya hadir setiap hari Sabtu.

Dari tulisan Gandrasta Bangko “Kalimat Pertama Setelah Matched” (1 Agustus 2016). Gandrasta emang cocok jadi sasaran tembak, sih.

Sementara itu, sudah beberapa minggu ini Roy absen. Kemana dia? Hanya Tuhan, Roy, dan sepedanya yang tahu.

Glenn yang tadinya rajin menulis setiap hari Minggu, sejak beberapa bulan lalu memutuskan untuk hadir setiap dua minggu sekali. Supaya lebih bebas bercinta di malam minggu, katanya.

Dari tulisan Leila Safira “Cerita Yutaka” (5 November 2016) tentang kucingnya yang bernama Yutaka. You taka, I taki? Okie dokie.

Gandrasta yang punya jadwal super padat menjadi ayah, ibu, tante, oom, boss, kekasih dan Miss Universe, tak kuasa harus menulis setiap Senin. Alhasil, setiap Gandrasta bisa posting dan menulis, itu bak surprise besar yang nilainya setara dengan mukjizat.

Agun sedang rehat panjang, dan masih belum siap untuk menulis lagi. Jadi untuk sementara waktu, tulisan musik dan budaya pop setiap hari Selasa juga ikut rehat sejenak.

Dari tulisan Roy Sayur “Jakarta Enak” (24 Oktober 2015), waktu jaman Roy masih malu-malu memperlihatkan mukanya. Makanya sok mau mengenalkan pano-selfie, tapi akhirnya sekarang cukup sering selfie.

Saya sendiri, yang dari awal pernah berniat untuk bisa terus menulis rutin tiap Kamis sampai jumlah tulisan pribadi mencapai 500, akhirnya pernah keok sekali saat di tanah suci.

Jadi siapa yang tidak pernah absen menulis di Linimasa? Tak lain dan tak bukan adalah Dragono Halim!

Ya, bujang perjaka asal Samarinda ini tidak pernah absen hadir setiap Rabu dengan tulisan kontemplatifnya. Kalau saja Linimasa.com ini adalah perusahaan korporat, maka Dragono tak cuma menyandang predikat karyawan teladan, tapi sudah dapat bonus cuti setahun yang ditanggung perusahaan.

Dari tulisan Dragono Halim “Belajar Bersimpati” (10 Mei 2017), waktu Gono turun ke jalan ikut aksi damai. Tapi katanya sih, kalo pacaran sama Gono, hati terasa damai. Walaupun bagian tubuh lain, belum tentu mau berdamai.

Di sela-sela kekosongan kami, ada beberapa penulis kontributor yang bersedia menyumbangkan tulisannya ke Linimasa.com untuk dimuat. Tulisan-tulisan mereka, terus terang, menambah kekayaan dan variasi tulisan di Linimaa.com sehingga semakin beragam isi situsnya. Saya pribadi, meskipun belum kenal secara pribadi satu per satu, ingin mengucapkan “terima kasih, ya!” 🙂

Menulis secara rutin, sesingkat apa pun, perlu ketekunan, ketelatenan dan kemauan dari yang melakukan. Terlebih lagi untuk blogging seperti ini.

Dari tulisan Glenn Marsalim “Cintapi” (17 April 2016), dengan foto mbak Pargi yang setia sama Glenn. Demikian pula Glenn yang setia sama mbak Pargi. Aaawww … Laafff!

Kalau boleh jujur, bagian yang memakan banyak waktu dari setiap kali menulis di Linimasa.com ini adalah saat:
• memasukkan gambar;
• memasukkan link atau tautan ke bagian tulisan; dan,
• mengatur layout atau tampilan tulisan secara keseluruhan.

Blogger adalah penulis sekaligus editor sekaligus tukang layout. Ibaratnya restoran, maka kami adalah pembuat masakan di dapur, pengatur dekor tempat makan, penentu harga dan tukang promosi tempat. Kebetulan saja tugas ini buat kami tidak bisa dipikul seorang diri. Tapi semua tugas dikerjakan bersama-sama oleh beberapa orang, tidak ada siapa yang khusus fokus in charge di bidang apa.

Tidak ada spesialisasi, karena kami bukan media massa. Tidak ada pengkhususan, karena kami sekedar paguyuban, alias maunya “guyub”.

Dari tulisan saya, tapi lupa judulnya apa.

Sebisa mungkin, tulisan di Linimasa.com ini bisa dibaca seakan-akan ada kami di sebelah Anda. Berceloteh ringan, entah itu di saat sarapan, makan siang, makan malam, di dalam kereta, bis, mobil, asal jangan main ponsel di ojek, dalam keadaan senang, sedih, tertawa, menangis, asal Anda tidak merasa sendirian saat membaca tulisan-tulisan di sini.

Dan sekedar meyakinkan Anda lagi, tulisan-tulisan di Linimasa.com bukanlah berita terkini. Kekinian bisa saja lekang oleh waktu, berganti dengan temuan baru. Yang kami kejar adalah kenangan. Makanya tulisan-tulisan di Linimasa.com bisa saja Anda baru temukan, atau temukan lagi, satu minggu, dua bulan, tiga tahun setelah tulisan itu diterbitkan, dan masih bisa dibaca.

Dari tulisan Iman Purnama, kontributor (“Kamu Sufi?”, 15 Mei 2016)

Masih bisa dibaca.
Tiga kata yang melintas begitu saja di benak saya sepintas lalu. Namun tiga kata ini menyiratkan pengharapan kami dulu, sekarang, dan nanti: semoga Linimasa.com masih bisa dibaca.

Masih bisa rutin menulis, meskipun dengan format berbeda, atau formasi penulis yang baru.
Masih bisa rutin hadir, meskipun belum tentu setiap hari.
Masih bisa rutin membuat Anda tersenyum atau terharu, meskipun hanya satu.

Masih bisa menemani.

Jadi, masihkah Anda mau ditemani kami, seribu kali lagi?

Kurang Ngeseks (?)

SUDAH ngeseks minggu ini?

 

Setiap orang punya pandangan yang berbeda terhadap aktivitas seksual yang satu ini: ngeseks alias persetubuhan. Ada yang tidak suka atau risi, ada yang menganggapnya biasa-biasa saja, ada yang cuma melihatnya sebagai metode prokreasi untuk punya anak, ada juga yang suka dan sangat suka sampai-sampai membuat terkesan tak dapat mengendalikan diri.

Pandangan-pandangan tersebut memengaruhi perilaku dan tindakan seseorang dalam kehidupan sosioseksualnya. Namun pandangan tersebut juga dipengaruhi banyak faktor, baik dari internal maupun eksternal. Seperti adat dan budaya, keadaan lingkungan setempat, ajaran agama, motivasi, kondisi sosial dan ekonomi yang bersangkutan, termasuk tingkat kejenuhan setiap individu. Sehingga tak usah terlampau heran ketika melihat perubahan sikap seseorang mengenai urusan selangkangan ini. Lumrah, dan cenderung bisa diprediksi lewat gejala-gejala.

Time merilis artikel berjudul “Why Millennials Might Be Having Less Sex Than Their Parents” dua tahun lalu.

Para millennials saat ini diketahui memiliki perspektif yang agak berbeda mengenai persetubuhan dan pernikahan dibanding generasi pendahulu. Toleransi mereka atas hubungan seks di luar nikah juga relatif lebih tinggi, apalagi ditambah dengan maraknya penggunaan aplikasi mak comblang yang kian beragam jenisnya. Meskipun demikian, hasil survei justru menunjukkan terjadinya penurunan intensitas persetubuhan di antara mereka.

Tulisan yang didasarkan dari jurnal ilmiah bertajuk “Changes in American Adults’ Sexual Behavior and Attitudes, 1972-2012” itu menunjukkan terjadinya tren penurunan intensitas hubungan seksual generasi muda (terbatas di Amerika Serikat, tentunya), dibanding yang berlangsung pada angkatan sebelum mereka. Komponennya meliputi jumlah orang yang pernah diajak tidur, kapan terakhir kali melakukannya, dan frekuensinya dalam satu rentang waktu.

Akan muncul pertanyaan “mengapa?” Dilanjutkan dengan celetukan “padahal ngeseks itu kan enak.” Celetukan yang orang kita banget.

Dijelaskan dalam artikel tersebut, penurunan yang terjadi tidak ada hubungannya dengan urusan enak atau tidak enaknya hubungan seksual. Melainkan pergeseran sudut pandang dan sejumlah pertimbangan. Faktanya, persetubuhan yang dilakukan secara sadar tetap merupakan salah satu kegiatan yang menyenangkan bagi umat manusia.

Kemudian, ada lagi artikel lain: “Are Millennials Having More Sex or Less Sex? Both, Says New Report” yang baru dirilis Juli kemarin. Isi tulisan ini mendukung dan mengkoreksi paparan sebelumnya secara bersamaan. Mendukung bahwa tren penurunan itu terjadi, mengkoreksi bahwa para millennials memiliki partner seksual yang lebih banyak.

Gambar: The American Interest

Jika hasil survei itu dibedah lebih lanjut, ada beberapa kemungkinan yang dapat dipaparkan. Misalnya, lantaran para millennials tidak melakukan hubungan seksual sesering angkatan senior mereka, tetapi mengajak lebih banyak orang tidur bareng, berarti ada sesi-sesi yang hanya berlangsung sekali tanpa indikasi lebih detail. Apakah memang tidak mau, mau tapi tidak memungkinkan, mau tapi menahan diri untuk tidak lagi, atau ternyata sekadar cinta semalam.

Seiring waktu, masih ada kemungkinan tren ini bakal alami perubahan.


Jadi… sudah ngeseks minggu ini?

Kalau sudah, ya baguslah. Karena mestinya saat ini kamu sedang dalam kondisi mental yang menyenangkan. Rileks dan santai untuk banyak hal, juga malas terlibat drama yang panjang dan melelahkan. Orang yang suka marah-marah, mungkin kurang ngeseks aja.

Kalau belum, jangan sampai kelupaan ya. Ada yang sedang membutuhkan. Bagaimana pun juga kegiatan ini melibatkan dua orang dengan kedudukan setara. Keduanya saling menjadi objek sekaligus subjek bagi satu sama lain.

Kalau belum punya partnernya, ya mudah-mudahan bisa segera mendapatkannya. Bersabar dan terus berusaha saja. Sebab segala sesuatu akan menjadi indah pada waktunya. Sementara ini, harap berimprovisasi sajalah dulu. 🤣

[]

 

Penyamun di Sarang Perawan

f70ef1952dc8ba73a5a20237ff49fd26-christian-memes-dating-funny-christian-memes

Jadi, suatu hari yang cerah, entah kesambet apa saya menghadiri satu seminar di salah satu kementerian. Judulnya Women’s Leadership and Women Empowerment Conference, ketika saya tanyakan kepada petugas penjaga pintu kementerian tersebut, si Bapak menjawab, “Oo seminar itu ya? Di lantai 7” Tapi benar juga sih, mungkin konferensi terdengar terlalu megah, seminar mungkin lebih tepat.

Saya masuk terlambat jadi terlewat beberapa sesi, karena harus ke kantor dulu. Tetapi yang saya ingin dengar justru belum dapat giliran, jadi pas dong.

Tetapi sesi pertama yang saya dengar agak membuat terganggu. Sebut saja Pak B dari perusahaan SA yang didirikan oleh seorang perempuan hebat. Dari awal membuka mulut saja perasaan mulai tidak enak. Beliau mengatakan kalau biasanya dia menyapa “bapak bapak dan ibu ibu sekalian” hari ini harus dibalik jadi “ibu ibu dan bapak bapak” karena temanya demikian. Kemudian berikutnya dia menyapa kembali dengan bapak duluan yang disebut. Berikutnya seperti layaknya pembicara konferensi yang baik, untuk mencairkan suasana dan menangkap perhatian, dia melontarkan canda. Mengatakan dia dari perusahaan yang isinya 90 persen perempuan karena memang perusahaan yang membuat dan menjual produk kecantikan. Ada juga prianya — katanya — tetapi ya begitu, mereka keperempuan-perempuanan juga. Apa sih istilahnya — bencong ya? Ini saya kutip verbatim ya. Sungguh bikin meringis alias cringe-worthy.

Presentasinya kemudian dilanjutkan dengan menyebutkan stereotip stereotip yang sungguh usang. Walau berkali-kali beliau mengatakan “Ini saya tidak bilang semua ya, tetapi sebagian” tetapi tidak menegasi kalimat yang mengikutinya mengatakan kalau perempuan itu keputusannya dibuat berdasarkan emosi, kalau pria dengan logika. Karena itu perempuan mudah sekali belanja. Diikuti dengan keluhan kalau pasar sekarang sedang lesu, perempuan belanjanya tidak sebanyak dulu (harusnya bagus dong? Berarti kami tidak emosian lagi?).

Lalu Pak B saya lihat melewatkan beberapa slide yang justru saya tertarik melihatnya, karena membahas pertumbuhan bisnis SA dan ekonomi secara mikro dan makro. Sepertinya beliau melihat kami audience banyak perempuan, tidak akan mengerti dan tertarik dengan data yang demikian. Berikutnya ditunjukan perbedaan kebiasaan berbelanja sekarang dan dulu. Habit para milenial yang (ya Odin) sudah jutaan kali dibahas di mana-mana. Kemudian pembicaraannya ditutup dengan “wejangan” kalau perempuan sibuk zaman sekarang, tetap harus jaga keseimbangan. Karena tidak jarang kesibukan perempuan menyebabkan rumah tangga jadi kocar kacir. Dan beliau bercerita mengenai contoh beberapa perempuan di perusahaannya yang ketika performanya menurun, umumnya karena terjadi masalah di kehidupan rumah tangganya. Bisa bayangkan bola mata saya sudah berputar ke balik otak mendengar ini. Dengan nada itu, Pak B menutup pembicarannya.

Tak ada sekalipun disebut perempuan perempuan kuat di perusahaannya yang pencapaiannya langsung atau tidak langsung berkontribusi dengan pertumbuhan perusahaan. Bahkan mengenai Ibunya saja yang disanjung di mana-mana karena telah berhasil membangun sebuah “kerajaan” bisnis yang sangat mumpuni sekalipun tak disebut. Mungkin dia lelah membicarakan soal itu. Mungkin dia terlewat atau salah membaca judul acaranya. Tapi satu moral dari cerita ini adalah, Pak, PLEASE KNOW YOUR AUDIENCE.

Untungnya setelah dia kemudian berbicara Dayu Dara Permata, salah satu VP di GoJek yang manis dan lancar bercerita mengenai visi dan strategi GoJek yang memang seru untuk disimak. Visi mereka saja membuat saya tergugah dan ingin merevisi visi produk saya. Mungkin memang sampai mulut kering dari ludah sia sia membicarakan soal kepemimpinan dan emansipasi perempuan jika laki laki pola pikirnya masih juga seperti dulu dulu juga. Tapi tidak semua kok. Banyak laki laki juga yang sudah jadi modern man.

#RekomendasiStreaming – 17 Film Pendek Indonesia Untuk Tontonan 17-an

Ini murni kebetulan.
Hari Kamis minggu ketiga, jadwal tetap saya untuk menulis #rekomendasistreaming, untuk bulan Agustus ini bertepatan dengan peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Tadinya, tulisan ini mau sedikit ‘ambisius’. Ambisinya adalah mengumpulkan 17 film pendek Indonesia terpilih dari 17 tahun terakhir, yaitu tahun 2000 sampai 2017. Pas ‘kan ya? Sudah 17 tahun lho, kita menjalani milenium baru.

Tapi nyatanya, banyak sekali film pendek Indonesia (yang mau saya masukkan ke daftar ini) yang tidak tersedia untuk ditonton di video streaming platform yang ada. Sangat banyak malah.
Mungkin atas pertimbangan para pemiliknya, beberapa film pendek tersebut memang tidak diunggah ke public platform karena terikat perjanjian kerjasama dengan beberapa pihak pendistribusian film. Hal ini lumrah terjadi.
Selain itu, film-film pendek Indonesia yang dibuat sebelum ada Youtube, berarti produksi sebelum tahun 2004, sangat jarang ditemukan.

Film “Penderes dan Pengidep”

Alhasil, karena saya ingin mengajak kita semua menontonnya bersama-sama, maka daftar 17 film pilihan ini akhirnya mengerucut pada film-film pendek yang memang tersedia di platform video streaming yang mudah diakses di mana saja. Lewat perangkat apa saja. Namanya juga #rekomendasistreaming 🙂

Pilihannya acak. Tidak ada yang terbaik, tidak ada yang terburuk. Semuanya murni pilihan saya sebagai fellow audience, yang membuat saya belajar banyak dari film-film ini. Yang bisa mengangkat sisi Indonesia yang berbeda, beragam, dan berani.
Dan yang pasti, film-filmnya stand against the test of time, atau masih layak ditonton kapan saja. Tidak pudar oleh waktu.

Pilihan yang tidak mudah, mengingat ada ribuan, bahkan bisa jadi puluhan ribu, film pendek Indonesia yang sudah dibuat sampai sekarang.

Film “Vampire”

Dan kenapa film pendek? Seperti yang pernah dikatakan oleh Adrian J. Pasaribu, kritikus film Indonesia: “Wajah Indonesia sesungguhnya ada di film pendek”. Kutipan yang juga pernah saya tulis ulang di situs ini. Kutipan yang saya amini immediately, karena format film pendek memungkinkan siapa pun bisa membuatnya tanpa terbebani rating, jumlah penonton bioskop, atau pertimbangan komersial lainnya. Yang penting, ceritanya dituturkan dengan baik dalam waktu singkat, dan bisa mengena.

Maka berikut ini kita bisa saksikan 17 Film Pendek Indonesia Pilihan Untuk 17-an:

Harap Tenang Ada Ujian (2006)
Sutradara: Ifa Isfansyah

Film yang secara tidak langsung menegangkan, tapi secara langsung juga menyentuh. Selalu ada sisi humanis di setiap kejadian bencana alam yang luput dari pemberitaan. Film ini mengangkat bagian tak terungkap itu dengan manis, dan tak terduga.

Sandekala (2015)
Sutradara: Amriy Ramadhan

Indonesia kaya akan cerita urban legend yang seolah tak ada habisnya. Termasuk mitos pulang saat Maghrib. Dan cerita seperti ini mendapat treatment yang pas di film pendek: tanpa ba-bi-bu, langsung ke bagian mengejutkan. Hasilnya? A very effective horror.

Irama Hari (2008)
Sutradara: Steve Pillar Setiabudi

Film ini menangkap apa yang luput dari keseharian kita: suara orang-orang menawarkan jualan makanan yang lalu lalang sepanjang hari. Tanpa kita sadari, suara-suara itu membentuk sebuah ensemble yang harmonis.

Cinta (2008)
Sutradara: Steven Facius Winata

Satu lagi kisah klasik khas Indonesia yang tidak pernah ada habisnya: percintaan antar dua manusia yang berbeda suku, kelas, keyakinan dan kepercayaan. Kisah yang sudah dituangkan jutaan kali dalam berbagai karya seni di Indonesia, dan salah satu dari sedikit yang bertutur dengan baik, adalah film pendek ini.

Cheng Cheng Po (2007)
Sutradara: BW Purbanegara

Bisa dibilang BW Purbanegara adalah satu dari sedikit sekali sutradara film Indonesia yang humanis. He understands human beings, and he makes human human in his films. Bahasa Jawa-nya “nguwongke wong”. Ini terlihat dari karya-karyanya, yang selalu bicara tentang manusia dalam level yang terlihat simpel di permukaan, namun terasa mengena di hati. Film Cheng Cheng Po ini merupakan awal dari filmography-nya yang beragam, dan lebih polished di bidang produksi. Namun film ini masih terasa relevan untuk kita lihat sampai sekarang.

Kara, Anak Sebatang Pohon (2005)
Sutradara: Edwin

Edwin is one of a kind. Seorang pembuat film yang karya-karyanya tidak cukup mengundang satu interpretasi yang “ajeg”. Bahkan ketika ditonton lagi pun, interpretasi kita sendiri pun bisa berbeda jauh dari apa yang kita lihat pertama kali. Seperti film Kara Anak Sebatang Pohon ini. Sebagai film pendek Indonesia pertama yang lolos seleksi Cannes Film Festival di kategori Director’s Fortnight, tentu saja film ini sempat ramai dibicarakan. Namun yang lebih penting, film ini menandai kehadiran seorang Edwin yang selalu memberi nafas segar di antara monotonnya cerita dan gaya penceritaan film Indonesia.

CONGQ (2016)- Episode 7
Sutradara: Lucky Kuswandi

CONGQ adalah sebuah web-series yang sempat populer, dan memang pantas untuk banyak mendapat perhatian. Gaya penceritaan yang ringan namun mengena, permainan para aktor yang sangat relaxed but very game on, membuat kita tersenyum setiap selesai menonton satu episode. Tapi kalau saya boleh memilih the unexpected highlight serial ini ada di episode 7. Kenapa? Tonton saja.

https://www.viddsee.com/player/a67uv

Lawuh Boled (2013)
Sutradara: Misyatun

Sudah 15 tahun terakhir, kota Purbalingga secara konsisten menelurkan film-film pendek berkualitas. Ceritanya selalu berkisar seputar kehidupan sehari-hari di kota itu, orang-orangnya, dan seolah tidak mempedulikan dunia yang lebih besar. Namun dari pengamatan mikro itulah film-film dari kota Purbalingga ini justru terasa nilai universalnya, yang membuat kita semua akhirnya bisa relate to them. Seperti film ini. Lihat saja permainan ciamik ensemble-nya yang hampir semuanya bukan aktor. Detil-detil kecil yang membuat film ini terasa nyata. Masih banyak lagi film-film Purbalingga yang menawan. But this one is pretty special.

Friend (2014)
Sutradara: Yandy Laurens

Baik di film panjang maupun sinetron, sudah sangat jarang kita melihat senior citizens atau lansia menjadi subyek cerita. Biasanya mereka menjadi latar belakang cerita dengan fokus penceritaan di karakter-karakter yang jauh lebih muda. Namun beberapa film pendek Indonesia terakhir menempatkan orang tua sebagai subyek cerita yang manis. Gula-Gula Usia, Wan-An (yang masih menjadi karya terbaik Yandy Laurens), dan film ini. Bercerita tentang kesendirian di usia lanjut, sesuatu yang rasanya menakutkan untuk dibayangkan, berat untuk dijalani, tapi ternyata menyenangkan untuk dibagi. Malah bisa jadi lucu dan kocak untuk dinikmati. It’s the kind of film that lingers on.

https://www.viddsee.com/player/2k3ba

Lewat Sepertiga Malam (2014)
Sutradara: Orizon Astonia

Tema cerita dan style pembuatan film ini seperti menjadi ciri khas Orizon Astonia, dan membuat filmography-nya menjadi menonjol di antara rekan sebayanya. Ada yang kaget, ada yang menganggap tabu, ada yang lega karena akhirnya ada yang menceritakan ke bentuk visual. Menurut Anda? Silakan tonton dulu.

https://www.viddsee.com/player/trkry

Payung Merah (2010)
Sutradara: Andri Cung, Edward Gunawan

Awal dekade ini dimulai dengan cukup banyaknya stylish horror di film pendek Indonesia. Salah satu yang paling berkesan adalah film ini. Tentu saja akting dari pemain profesional sangat membantu kita sebagai penonton dengan cepat masuk ke dalam cerita yang singkat, dan padat. It is stylish, it is short, and it is well told.

Penderes dan Pengidep (2014)
Sutradara: Achmad Ulfi

Satu lagi dari Purbalingga. Film dokumenter yang menceritakan kehidupan sepasang suami istri yang berada di garis kemiskinan, tanpa harus mengeksploitasi kemiskinan mereka. Istri bekerja menjadi pembuat bulu mata palsu, suami bekerja menjadi pembuat gula aren, di mana dia harus naik pohon kelapa berpuluh-puluh meter setiap harinya. Film yang memaparkan keadaan kehidupan as is, tanpa basa-basi. Seperti film-film dari Purbalingga lainnya, pembuatnya masih duduk di bangku sekolah. Semakin meneguhkan pandangan polos dan non judgmental terhadap cerita, yang memang sangat dibutuhkan di sini.

5 Menit Lagi Ah Ah Ah (2010)
Sutradara: Sammaria Simanjuntak & Sally Anom Sari

Sering kali ada ‘putus hubungan’ yang besar antara televisi dan karya audio visual lainnya seperti film panjang, film pendek, sampai video instalasi. Namun lewat film ini, kita diingatkan lagi betapa (masih) kuatnya pengaruh televisi di masyarakat kita. Betapa televisi masih menjadi candu yang tak bisa dilepaskan dari keseharian. Termasuk reality show contest and its aftermath, sesuatu yang sering kita lihat dan dengar, namun jarang yang benar-benar kita perhatikan dengan seksama. Film ini secara akurat memaparkan realita pahit dari pemenang sebuah reality show contest, yang tidak dibuat pahit. Just like life, it continues to struggle. Film yang membuat kita akan ‘manggut-manggut’ berusaha untuk memahami hidup yang keras.

Embed https://www.viddsee.com/player/djq8l

Titik Nol (2009)
Sutradara: Nicholas Yudifar

Dari daftar film pendek di sini, mungkin film ini yang membuat saya langsung teringat dengan idiom “seeing is believing”. Bisa ditambah, “seeing, and hearing, is believing”. Penggunaan puisi sebagai narasi memang tricky dalam film. Makanya jarang digunakan. Sekali digunakan, hasilnya akan menyentuh. Seperti yang ada di film ini. Setelah ditonton ulang beberapa tahun kemudian, masih menggetarkan hati. It’s a rarity.

Balik Jakarta (2016)
Sutradara: Jason Iskandar

Jason Iskandar, yang sudah membuat film pendek sejak SMA, bisa jadi merupakan sutradara muda yang paling berbakat. Selain berbakat, dia konsisten membuat film pendek dengan fokus penceritaan yang cukup tajam. Karya-karyanya selalu bermuara pada persoalan personal, yang mempengaruhi gaya visualnya. Namun di film ini, pendekatannya terasa berbeda. Dengan konsep road trip, Jason menjelajah sebagian isi ibu kota dari sisi yang, sekali lagi, terasa humanis. Definitely worth watching.

Kapur Ade (2014)
Sutradara: Firman Widyasmara

Berbeda dengan film non-animasi, film pendek animasi di Indonesia secara jumlah masih sedikit. Di luar karya iklan atau kepentingan komersil lainnya, setiap tahun hanya ada puluhan, tidak sampai 50, film pendek animasi di Indonesia dibuat. Dari yang sedikit itu, film ini termasuk yang mengesankan. Lagi-lagi soal cerita permasalahan kota besar. Namun fokus cerita yang berpaku pada mata yang masih lugu dan polos membuat kita terbawa sepanjang film ini.

Vampire (2014)
Sutradara: Fitro Dizianto

Sebagai penutup, rasanya saya hanya bisa menggambarkan film ini dengan menggunakan kata berikut dari bahasa slang Jawa Timuran: “ngguatheli pooolll”! Film yang akan membuat Anda … ah, tonton sendiri saja! 😉

Selamat merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia, selamat berlibur, dan selamat menonton!

Saya Pernah Jadi “Buddhis yang Takfiri”

WAKTU ke Asian Civilisations Museum (ACM) Singapura beberapa pekan lalu, kebetulan ada anak-anak sekolah sedang berdarmawisata.

Setelah di-briefing bu gurunya tentang kegiatan observasi dan tugas, mereka pun bebas berkeliling, mengamati, dan mencatat hal-hal menarik dari koleksi benda bersejarah yang dipamerkan di sana. Sampai ada salah satu bocah yang lihat arca ini, lalu heboh sendiri dan menarik perhatian teman-temannya.

Look! They’re kissing! But why they are doing that?” Sambil terus memerhatikan artefak dari Tibet ini. Dia terlihat sangat excited.

Oh, I know! I know! The man is the god, and the woman is a human!” Dengan penuh semangat dia ngomong ke teman-temannya yang mulai berkerumun di situ. Entah dapat inspirasi dari mana sampai bisa menyimpulkan begitu, mungkin gara-gara pernah nonton film bertema mitologi Yunani Kuno yang dewanya dikisahkan punya anak hibrida.

Enggak lama, bu gurunya datang lalu terlihat lumayan kaget dengan objek yang sedang diributkan murid-muridnya.

Miss, this one is the god, and that is a human, right?” tanya si bocah.

Bu gurunya cuma bisa senyum-senyum ditahan, dan menjawab dengan aman “Right! Okay, kids, you can go and see other things. We’re just in the first hall.

Setelah bocah-bocah disingkirkan dari situ, eh bu gurunya kembali dan baca keterangan artefak di sampingnya. Sepertinya penasaran juga, atau persiapan buat lain kali. 😅

Iya, ini adalah patung logam dari tradisi salah satu mazhab besar Buddhis. Faktanya, sosok laki-laki patung tersebut memang menggambarkan seorang Buddha. Hanya saja jangan sampai keliru. Buddha di patung itu bukan tokoh sejarah yang pernah terlahir sebagai pangeran bernama Siddhattha Gotama (Sanskrit: Siddhartha Gautama) di utara India hampir 2.600 tahun lalu, yang kemudian menjadi pencetus Buddhisme.

Patung tersebut menggambarkan Buddha Vajradhara (Penguasa Halilintar) dan pasangannya, Prajñaparamita (Kebijaksanaan yang Sempurna). Penggambaran ini berasal dari tradisi mazhab Tantrayana atau Vajrayana yang dominan di Tibet, Nepal, dan Bhutan. Keberadaannya pun terbatas hanya dalam lingkup penganut atau pembelajar Buddhisme mazhab Tantrayana atau Vajrayana tersebut. Tidak di mazhab-mazhab lain.


Cerita sedikit sebelum lanjut. Ajaran agama Buddha hingga saat ini terbagi dalam tiga mazhab besar:

  • Theravada
  • Mahayana
  • Tantrayana atau Vajrayana

Para Bhikkhu Theravada dalam kegiatan Pindapatta di Samarinda.

 

Para Bhiksu Mahayana Indonesia. Foto: Tribunnews

 

Para Lama Tantrayana. Foto: YouTube.

Secara kasatmata, perbedaan antara ketiganya bisa dilihat sesederhana membedakan antara praktik agama Buddha di Thailand/Burma/Kamboja/Sri Lanka; Tiongkok/Taiwan/Jepang/Korea; dan Tibet/Nepal/Bhutan. Minimal dari desain dan warna jubah para pemuka agamanya, baik yang merupakan Bhikkhu, Bhiksu, maupun Lama. Dari jubah dan penampilan mereka saja sudah terlihat jelas.

Setiap mazhab kembali terbagi dalam beberapa sub mazhab. Terutama Mahayana dan Tantrayana/Vajrayana yang menerima modifikasi serta perubahan. Itu sebabnya kenapa ada ajaran Zen (禪); Tendai (天台宗); Shingon (真言宗); Nichiren (日蓮) di Jepang, di Tiongkok ada biara Shaolin, di Taiwan ada perkumpulan sosial Buddha Tzu Chi (財團法人中華民國佛教慈濟慈善事業基金會) yang menyebar hingga ke Indonesia dan punya kompleks gedung gede di PIK sana; maupun aliran Maitreyanisme  (彌勒大道) yang sukses membuat banyak orang mengira Buddha adalah sosok yang bertubuh gendut dan selalu terlihat tertawa gembira, di Tibet ada aliran Nyingmapa; Gelugpa dengan topi kuning; Kagyu; dan beberapa lainnya.

Jangankan orang awam, banyak Buddhis sekalipun yang kerap alpa dengan perbedaan-perbedaan ini. Tanpa analisis dan pemahaman yang mendalam, banyak yang menjadi Buddhis karena kelahiran, alias diwariskan dari orang tuanya tanpa penjelasan yang memadai. Tidak aneh jika setelah dewasa, banyak Buddhis di dunia termasuk Indonesia yang kemudian berpindah agama.

Wajar bila muncul pertanyaan: “Kenapa bisa terpecah-pecah menjadi banyak mazhab begitu?

Jawaban singkatnya adalah: “Karena ada perbedaan dalam penafsiran dan pelaksanaan ajaran.

Perpecahan mazhab dalam agama Buddha terjadi beberapa abad sejak Buddha wafat. Secara rutin setiap beberapa ratus tahun sekali, para Bhikkhu yang sudah merealisasi kesucian batin maupun yang masih manusiawi berkumpul dalam sidang serupa konsili. Agenda utamanya adalah untuk menghimpun semua sabda dan peraturan yang dituturkan oleh Sang Buddha sendiri, sekaligus melakukan pembahasan yang dinilai perlu dalam pengawasan para sesepuh.

Mulai sidang ketiga, tujuan-tujuan yang ditambahkan adalah menjaga kemurnian ajaran dengan menertibkan para “penumpang gelap”, menertibkan para Bhikkhu yang slebor dan urakan, menertibkan praktik-praktik yang bukan berasal dari Buddha sendiri, memerhatikan hasil analisis dan komentar atau tafsir terhadap sabda dan aturan dari Buddha, serta memikirkan cara untuk menyebarkan ajaran supaya tidak hilang di tanah asalnya (India) tapi bukan bertujuan Buddhaisasi. Merupakan kondisi yang tidak terhindarkan, makin lama semakin sedikit saja ulama yang berhasil merealisasi kesucian batin. Menyisakan lebih banyak Bhikkhu yang masih manusiawi dan bisa keliru berpikir.

  • Buddha wafat pada tahun 400 SM. Sidang pertama dilangsungkan tidak lama setelah itu.
  • Bibit-bibit perbedaan dan kontroversi mulai muncul dan dibahas dalam sidang kedua pada tahun 443 SM. Kelompok yang ingin melakukan perubahan aturan menyebut diri sebagai Mahasanghika, sedangkan yang memegang teguh ajaran adalah Sthaviravada. Keinginan Mahasanghika tidak dikabulkan. Mahasanghika merupakan cikal bakal mazhab Mahayana dan Tantrayana/Vajrayana. Sthaviravada adalah cikal bakal Theravada.
  • Dalam sidang ketiga pada tahun 313 SM (atau hampir 2,5 abad setelah sidang pertama), pengulangan sabda dan aturan dari Buddha berlangsung sembilan bulan lamanya. Akibat penertiban ajaran yang dilakukan, kelompok yang terimbas pun mengungsi ke utara India. Boleh dibilang ini adalah sidang terakhir yang diikuti kedua kelompok bersama-sama.
  • Perselisihan antarkelompok makin tajam. Setiap kelompok menyelenggarakan sidangnya masing-masing.
    Sidang keempat kelompok Sthaviravada berlangsung sekira tahun 83 SM di negara yang kini menjadi Sri Lanka. Sabda dan aturan Buddha dicatat untuk pertama kalinya di atas daun lontar menjadi tumpukan Tipitaka, yang apabila dikumpulkan bisa menjadi berjilid-jilid tebal dan memenuhi satu lemari.
    Kelompok lainnya, Sarvastivada menyelenggarakan sidang keempat di Kasmir sekitar tahun 78 M atas dukungan kerajaan di Afghanistan. Catatan hasil sidang ini hanya disimpan oleh kelompok Sarvastivada, dan terus diwariskan hingga ke kelompok Mahayana. Dari hasil sidang ini pula, ada bagian-bagian kitab suci yang ditambahkan. Menyebabkan Tipitaka milik Theravada berbeda dengan Tripitaka miliki Mahayana. Bukan typo atau salah ketik. Memang Tipitaka dengan bahasa Pali yang dipercaya merupakan bahasa tutur Buddha semasa hidup, lalu dijadikan rujukan mazhab Theravada tanpa pengubahan (penambahan/pengurangan) apa pun. Tripitaka berbahasa Sanskerta dengan sejumlah alasan, yang sejauh ini belum saya pahami sepenuhnya. Mungkin lantaran alasan akademik, mengingat para filsuf dan para scholars Mahayana di masa itu banyak bertutur dan menulis dalam bahasa Sanskerta. Kedudukan Sanskrit sama seperti bahasa Latin.
  • Kelompok Theravada melanjutkan sidang kelima (tahun 1871) dan keenam (1954). Sidang keenam menjadi fenomenal karena bukan hanya dilangsungkan di era modern, namun sekaligus memperingati 2.500 tahun wafatnya Buddha historis.
  • Baru pada tahun 1966, dibentuk organisasi bersama. Tujuannya adalah melakukan rekonsiliasi. Mustahil untuk menyatukan semua mazhab yang sudah ada hampir seribu tahun, melainkan membahas dan menyepakati inti-inti ajaran sebagai syarat untuk tetap bisa dianggap sebagai agama Buddha.
    Secara formal, ada sembilan poin yang disepakati. Karena panjang-panjang, silakan baca sendiri di tautan Wikipedia berikut ini: Basic points unifying Theravada and Mahayana.
    Btw, banyak yang menganggap Buddhisme adalah ajaran penyembahan berhala, padahal hal itu bertentangan dengan poin nomor 3.

Perbedaan antara mazhab-mazhab agama Buddha agak mirip seperti yang terjadi dalam Islam. Antara Sunni (Ahlussunnah wal Jama’ah) dan Syiah, lalu kelompok Ahmadiyyah dan Khawarij pun dianggap bukan Islam. Sementara perbedaan antara sub mazhab dalam Buddhisme lebih mirip seperti denominasi-denominasi gereja dalam Kristen.

Setali tiga uang dengan yang terjadi dalam Islam dan Kristen, tentu ada mazhab agama Buddha yang seakan mendapat privilese mengklaim sebagai ajaran paling benar, tidak tercemar dengan paham-paham lain, dan paling dekat dengan praktik yang dijalankan oleh Buddha Gotama sendiri semasa hidupnya. Dalam hal ini, tentu saja mazhab Theravada.

Dari paparan singkat di atas, kelompok Theravada berpegang teguh pada ajaran yang murni, dan berupaya semaksimal mungkin untuk memastikan semua pokok-pokoknya tetap sama seperti yang pernah diajarkan Buddha sendiri. Sebaliknya dengan kelompok Mahayana dan Tantrayana/Vajrayana yang melakukan sejumlah modifikasi.

Tanpa kedewasaan spiritual, persepsi “Theravada murni, non-Theravada cemar” sangat berpotensi menumbuhkan sikap fanatisme. Memunculkan orang-orang yang merasa berhak dan pantas menghakimi orang lain.

Sebagai seorang pembelajar Theravada, saya pernah bersikap seperti ini terutama kepada penganut mazhab lain. Apabila boleh meminjam istilah dari studi keislaman, saya pernah menjadi seorang takfiri, yang dengan mudahnya mengkafirkan orang lain, menghardik mereka murtad dan sesat dengan penuh kebanggaan yang salah.

Sekali lagi, mengapa saya bisa begitu? Lantaran berpandangan “Theravada murni, non-Theravada cemar!”

Lambat laun saya mulai berpikir, bertindak sekeras dan sepongah itu sama sekali tidak memberikan manfaat apa-apa bagi kemajuan batin sebagai seorang pembelajar Buddhisme, membuat saya makin sombong dan jauh dari sikap loving-kindness, memperbesar ilusi ego merasa sebagai seseorang yang benar dan terkemuka. Amat bangga dengan kebuddhaan (baca: ketheravadaan) saya, tapi justru menjauhkan saya dari praktik kebuddhaan itu sendiri. Bertolak belakang banget!

Sampai akhirnya saya tiba di satu titik, menyadari bahwa perbedaan pemahaman dan kepercayaan memang tidak bisa dihindari, namun bersikap bijak dan manusiawi bisa dilakukan siapa saja. Di sisi lain, siapakah saya? Kok yakin sekali menentukan benar/kelirunya seseorang dalam mengerti Buddhisme? Toh saya sendiri juga belum mencapai kesucian, malah baru mendalami ajaran ini saat kelas 2 SMP.

Apa yang berhasil saya realisasi sejauh ini bila dibandingkan dengan… Dalai Lama? Jelas-jelas merupakan pemimpin tertinggi mazhab Tantrayana/Vajrayana, yang selama ini selalu saya lekatkan dengan label sesat!

Tradisi mematungkan Buddha saja berasal dari berabad-abad setelah kematiannya, apa terus saya harus mengambil martil dan memecahkan semua patung Buddha yang ditemui? Sama sekali tidak mencerahkan.

Hingga detik ini, saya masih seorang pembelajar Theravada. Saya tetap kurang cocok terhadap banyak hal dari mazhab-mazhab yang lain. Beberapa di antaranya:

  • Doktrin Adhi Buddha yang dulu pernah disebut sebagai tuhannya agama Buddha di Indonesia
  • Doktrin tubuh-tubuh metafisika Buddha sebagai objek permohonan
  • Harus bervegetarian supaya bisa mencapai pencerahan
  • Figur Amitabha dan Surga Sukacita yang abadi

Gambaran populer tentang takhta Buddha Amitabha dan surga Sukhavati dalam versi Tionghoa. Foto: ywsjt.blog.163.com

  • Figur Maitreya dalam versi yang beredar saat ini, dan institusi sub mazhabnya
  • Praktik berdoa dan memohon kepada para makhluk-makhluk suci
  • Praktik membaca mantra atau sutra berulang-ulang untuk mengikis karma buruk
  • Pengadopsian figur-figur dari kepercayaan Tionghoa termasuk Dewi Guanyin sebagai bagian dari kosmologi Buddhisme
  • Pengkultusan artefak sebagai benda-benda supersuci
  • Klaim Lu Shengyen sebagai Buddha hidup
  • …dan beberapa lainnya

Bigotry is everywhere. Ketidaksukaan dan kebencian terhadap perbedaan akan selalu ada di mana-mana, bahkan kepada sesama. Sebagai “takfiri” Buddhis, saya telah menjadi bigot kepada Buddhis yang lain. Begitu pula pada rekan-rekan muslim, umat Kristen dengan bermacam denominasi gereja, dan sebagainya. Keberadaan bigotry seakan alamiah, sebagai salah satu fase sebelum kedewasaan spiritual.

Pada akhirnya, kedewasaan spiritual itu bukanlah anugerah atau pemberian. Takarannya terlampau cair untuk dijadikan patokan bagi semua orang. Kesadaran dan penyadaran pun merupakan pengalaman personal, dengan tulisan-tulisan di buku maupun kitab suci sebagai pembentuk bingkainya. Setelah bingkai itu terbentuk, barulah bisa digunakan. Dipasangi sesuatu.

Dulu, saya pasti langsung gerah dan terganggu dengan patung Vajradhara dan Prajñaparamita. Menyebutnya sebagai simbol kesesatan dan penyebab kesalahpahaman.

Sekarang, saya lebih kepengin berkomentar: “keren!”

Selamat menjelang libur (yang bisa dibikin) panjang.

[]

Lulu Lutfi Labibi, Perancang Suasana Hati

Malam itu di sudut Ibu kota sedang berlangsung salah satu acara kesenian termewah. Besar kemungkinan ada pengunjung acara tersebut yang mengenakan pakaian Lulu Lutfi Labibi. Di malam itu juga Lulu memilih salah satu cafe kecil di pojokan Halim Perdanakusuma untuk diwawancara khusus buat linimasa.com. Sambil menantikan jam pesawat yang akan membawanya pulang ke Jogja. Perjalanan pulang yang akan selalu mengingatkannya pada kepulangannya di tahun 2013 meninggalkan Ibukota. Sampai 2015, majalah Dewi yang saat itu dipimpin oleh Leila Assegaf – yang juga penulis linimasa- memberikannya panggung di Dewi Fashion Knight. Saat itu Lulu membawakan Jantung Hatinya.

Dua hal yang selama ini dilekatkan pada dirinya oleh media dan dirinya sendiri adalah teknik menjahit draperi dan bahan lurik. Kedua sarana itu dan tubuh manusia sebagai kanvasnya telah dipilih Lulu untuk menyampaikan gagasannya. Gagasan yang mungkin selama ini belum bisa dirumuskan oleh Lulu sendiri atau bahkan tak dia pedulikan. “Apa sih artinya gagasan?” tanya Lulu. Lulu memang sedang asik bermain-main di rumah yang juga menjadi butiknya di salah satu gang depan pasar di Kotagede.

Coba tengok akun Instagramnya yang menampilkan hal-hal kecil nan lumrah di sekitarnya seperti daun pisang, kucing rumah, terpaan sinar matahari, seonggok jerami yang saking lumrahnya luput dari perhatian orang, ditangkap oleh Lulu untuk kemudian disodorkan kembali dengan bentuk yang lebih relevan, pakaian. Lulu seolah sedang berusaha mengingatkan bahwa kebahagiaan dan keindahan tak perlu dicari ke mana-mana. Dia ada di sekitar kita. Dia ada di dalam hati. Inilah gagasan besar Lulu Lutfi Labibi.

Menengok ke belakang soal koleksinya, dia beri nama Jantung Hati (2015) menyampaikan kedalaman perasaan, Gedangsari Berlari (2016) bekerjasama dengan SMKN 2 Gedangsari di dekatnya, Hypecyclus (2017) kolaborasi dengan seniman Yogyakarta. Dan terakhir, Perjalanan. Yang merupakan perjalanan ke dalam, ketimbang perjalanan ke luar. Di video presentasinya Lulu meruntuhkan sekat jarak dan menyampaikan perasaannya di semesta yang lebih luas dari rumah, kampung dan kotanya.

Gagasan ini lagi-lagi tercermin dari prakata yang ditulisnya sendiri untuk Tirakat koleksi terbarunya “… kita lupa untuk memberikan ruang yang cukup longgar untuk sedikit pelan, sedikit mengerem suatu keinginan, dan sesekali menyapa inti terdekat dalam diri sendiri hanya untuk menanyakan apa kabar”. Menjelaskan tentang koleksinya kali ini dengan bahasanya sendiri “kali ini akan menampilkan sisi noraknya Lulu. Akan ada dangdut koplo dan warna warni. Akan ada model yang menenteng jerami… Berbeda dengan Perjalanan yang moodnya kan sunyi. “ Lulu sama sekali tidak membahas soal penggunaan bahan dan cutting. Padahal ada bahan campuran katun dan linen yang merupakan favoritnya muncul di Tirakat. Dia berbicara soal suasana hati yang akan ditampilkannya. Karena dia perancang suasana hati.

Di dalam tempurungnya Lulu membuat sendiri lubang-lubang agar sinar tetap masuk ke dalam sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya. Sinar Dries van Notten, Yohji Yamamoto dan Akira Isogawa yang diizinkan masuk itu jatuh di dandang dan cerek dapurnya kemudian memantul ke kandang kerbau seberang butiknya. 

Jangan pernah mengajaknya diskusi politik, dia tidak tertarik. Jangan pula berdiskusi soal fashion, dia juga tidak tertarik. Tapi tanyakan makan siang apa hari ini? Maka dengan senang hati dia akan memamerkan kemewahan masakan Mbok di rumahnya. Atau tanyakan kabar kucing peliharaannya. Atau soal pohon pisang yang ada di belakang butiknya. Tanyakan soal nasi kucing angkringan saat makan malam tadi. Lulu akan menjelaskan dengan panjang lebar. Bukan hanya soal nasi kucingnya, tapi juga orang-orang yang ditemui saat makan bersama. Pantang menanyakan soal cinta padanya, karena saat ini dia sedang memilih jalan sunyi sendiri. Hal-hal inilah yang menjadi nafas karya-karyanya.

Josephine Komara atau O’bin pernah berkata “fashion is all about silhouette“. Maka yang Lulu lakukan selama ini adalah bermain-main dengan siluet. Draperi adalah cara yang sering digunakannya. Bukan tak mungkin suatu saat Lulu akan mengeksplorasi teknik menjahit yang lain. Yang akan terus dilakukannya adalah mengobrak-abrik tampilan bentuk tubuh manusia saat berpakaian agar tak selamanya sempit pada “keliatan lebih langsing”. Selama ini terbukti berhasil dengan relanya pembeli  dari Jakarta khusus ke Yogyakarta untuk membelinya. Ini salah satu sebab mengapa Lulu sering disebut Anomali.

Keberhasilan terbesar dalam perjalanan Lulu adalah membuat pemakainya menemukan dirinya yang baru saat mengenakan pakaian Lulu. Penemuan-penemuan diri yang baru inilah yang menjadikannya menarik bagi pemakainya. Ternyata pantas juga. Seru juga. Asik juga. Tak banyak pakaian yang bisa memberikan rasa dan suasana hati yang berbeda. Rasa yang muncul saat mengenakan karya Lulu bukan karena lurik, bukan karena draperi, bukan pula karena telah dipakai banyak orang, tapi karena gagasan yang teranyam diantaranya.

“Harusnya sih enggak ya….” kata Indah Ariani penggiat dan pemerhati seni, saat ditanya apakah Lulu selamanya harus terdikte menggunakan lurik dan draperi. Setelah semuanya ini, menantikan karya Lulu Lutfi Labibi berikutnya bisa jadi semakin mengasyikkan atau semakin membosankan semua ada di tangan Lulu. “Aku harus semakin menjaga jarak antara Lulu dan Lulu Lutfi Labibi. Kalau terlalu dekat dan intens hasilnya malah jadi kayak apa’an sih Luuuu?! Tapi kalo Lulu bisa main-main dulu, punya waktu lebih buat bernapas, sebelum balik lagi menemui Lulu Lutfi Labibi, kayaknya hasilnya lebih baik” kata Lulu menyimpulkan dirinya sendiri. “Sekarang mungkin lagi perlu gak ngapa-ngapain dulu” kata Lulu mengejar pesawat yang akan membawanya pulang.

 

Surgamu, Neraka Kita

e0bd11375734cdfacb36a3642d74db8f-perspective-quotes-anti-religion

Mike adalah orang yang baik. Menurut dia sendiri. Rukun Islam dan iman dia jalankan dengan sepenuh hati. Sembahyang lima waktu, yang diikuti dengan zikir dan doa berjam-jam. Saat ada waktu luang — seperti di kendaraan umum — dia membaca kitab suci. Dia kurang paham artinya, dan biasanya dapat informasi mengenai tafsir ketika mendengarkan khatib ketika sembahyang Jumat dan bulan Ramadan. Terkadang dia membaca juga tafsir, tetapi tidak terlalu memikirkan penerapan di kehidupannya, diambil yang kira-kira mendukung dan mengkonfirmasi kepercayaannya.

Tetapi Mike heran kenapa hidupnya penuh dengan tantangan. Rejeki yang dinanti tak juga kunjung datang. Hidupnya tidak seenak yang dia inginkan. Pekerjaannya tidak dapat yang dia mau. Standar hodupnya tidak juga meningkat. Dia juga sedikit punya teman, sepertinya di sekitarnya segan untuk dekat dengannya. Orang yang bertemu di jalan atau satu kendaraan umum dengan dia pun sering berbicara keras bahkan cukup ketus kepada dia.

Kenapa ya? Mike bertanya dalam hati. Aku kan orang baik karena rajin ibadah, kenapa Tuhan tidak memberikan kebaikan pada dirinya.

Kalau Mike mau berintrospeksi soal keduniawian. Dia tidak pernah membaca apapun yang bisa menambah pengetahuan atau keterampilannya karena menurut dia tak ada faedah di akherat. Karena itu atasannya di pekerjaan melewatkan dia dari proses promosi, karena tidak ada keinginan Mike untuk memperkaya pengetahuan dan meningkatkan keterampilannya. Kepada teman-temannya Mike juga tidak pernah peduli, kecuali kalau ada maunya. Ketika di tempat umum Mike selalu mau duluan apapun, tak peduli kalau dia menginjak, menyikut atau tidak memerhatikan kalau ada orang lain yang perlu didahulukan. Tidak pernah aware dengan sekeliling, karena selalu sibuk di kepalanya.

Mungkin Mike lupa kalau sebelum dia menemui hukum akhirat (TBC), dia berada di dunia yang memiliki hukum materi. Sebab akibat dan konsekuensi atas aksi berlaku. Sehingga ketika dia hidup dengan kepala di surga, dia telah menciptakan neraka. Untuk dirinya dan orang di sekitarnya.

quote-what-has-always-made-a-hell-on-earth-has-been-that-man-has-tried-to-make-it-his-heaven-friedrich-holderlin-299278

Pulang

Pernah nonton film Forrest Gump?
Sepertinya sebagian besar dari kita sudah pernah menonton film legendaris ini. Saya sendiri sudah menonton film ini beberapa kali. Setiap kali menonton, selalu ada hal baru yang saya perhatikan.

Namun akhir-akhir ini, ada satu adegan di film tersebut yang membekas di benak ingatan. Adegan ini adegan ‘kecil’. Mungkin termasuk adegan yang blink-and-you-miss-it.

Adegannya terjadi menjelang bagian ketiga film. Forrest Gump (Tom Hanks) memutuskan pulang ke rumah, setelah mendengar kabar ibunya (Sally Field) sakit. Forrest, yang selalu bertualang, akhirnya kembali ke tempat dia menghabiskan masa kecilnya. Ibu Forrest, yang terlihat tua dan letih, tersenyum saat membuka pintu rumahnya dan menyambut Forrest yang datang dengan muka khawatir.

Seandainya Forrest bukan manusia spesial, mungkin dia akan datang tidak hanya dengan muka khawatir, tapi juga muka letih, lelah, wary look, menanggung beban dunia dengan segala permasalahannya, tak sabar ingin sekedar beristirahat dan berbagi beban hidup. Namun Forrest Gump bukan orang kebanyakan. Dia hanya pulang dengan satu tujuan: merawat ibunya sampai akhir hidup.

Forrest Gump (source: hookedonhouses.net)

Adegan itu terngiang-ngiang di kepala, meskipun sudah beberapa bulan saya tidak menonton film ini lagi. Adegan yang membuat saya terharu, karena bagaimanapun, kita selalu ingin pulang.

Beberapa minggu lalu, saat menjelang musim mudik Lebaran, sempat ramai berseliweran foto-foto meme di media sosial sepeda motor yang ikut mudik. Ada yang menuliskan “maaf belum bawa jodoh, yang penting pulang!” Atau ada juga yang menuliskan “tidak bawa uang, tidak bawa oleh-oleh, cuma bawa badan buat pulang.” Kurang lebih seperti itu bunyinya.

Tidak ada bangsa di dunia ini yang tidak mengenal budaya pulang dan bertemu keluarga. Mau itu Lebaran, Imlek, Thanksgiving, Natal, selalu ada alasan untuk pulang.

Atau kadang tidak perlu ada alasan, namun pulang menjadi pilihan satu-satunya, karena tidak ada alasan lain.

Beberapa tahun lalu, saya pernah menonton film Hope Floats. Pernah nonton juga?

Film in menceritakan seorang perempuan bernama Birdee (Sandra Bullock), yang mengetahui bahwa suaminya selingkuh saat dia hadir di sebuah acara talk show televisi yang ditayangkan ke seluruh negeri. Tak kuasa menanggung malu, dia memutuskan pulang ke rumah ibunya (Gena Rowlands) di kota kecil di Texas. Birdee mau tak mau harus menelan ludah, apalagi seisi sudah tahu tentang kegagalan pernikahannya. Ditambah lagi, Birdee dulunya gadis paling populer di sekolahnya yang acapkali dianggap sombong oleh teman-temannya. Namun Birdee harus menerima semua kenyataan yang terjadi, karena mau tak mau, dia harus bertahan hidup.

Hope Floats (source: thefilmexperience.net)

And that’s the key of life: survival.

Terkadang kita lupa bahwa kita pulang karena kita sedang berusaha bertahan hidup.

Pulang tak melulu jadi tujuan akhir. Pulang tak selalu menjadi pilihan terakhir.

Kita pulang karena kita ingin beristirahat sejenak dari rutinitas. Kita pulang karena kita ingin recharge the life’s battery agar dia bisa berlari kencang kelak nanti. Kita pulang karena masih ada tempat yang kita tuju untuk bertemu dengan orang-orang yang pernah dan akan selalu kita cintai.

Karena itulah James Stewart berusaha mati-matian untuk bisa hidup kembali saat malam Natal untuk bisa kembali pulang ke rumah dan bertemu dengan keluarganya, meskipun dia gagal secara finansial dalam film It’s a Wonderful Life.
Karena itu juga sang alien dalam film E.T. harus kembali pulang untuk bersatu lagi dengan sejawatnya, meskipun dia sudah mendapat tempat yang ramah di bumi dengan teman-teman barunya.
Karena itu pula Dorothy harus bangun dari mimpi panjangnya di film The Wizard of Oz, dan kembali ke dunia nyata, karena “There’s no place like home”.

It’s a Wonderful Life

Pulang bukan menjadi ajang pertunjukan apa yang kita punya. Pulang bukan menjadi kesempatan kita untuk berlaku berlebihan.

Sering kali pulang adalah kesempatan kita untuk berbagi, apa yang kita punya, dan apa yang kita tidak punya. Pulang adalah cara kita untuk mengucapkan rasa terima kasih, karena masih ada mau menerima kita apa adanya, tanpa buah tangan, tanpa harapan.

Dan sebelum akhirnya satu demi satu berpulang, selama masih ada waktu untuk bertemu, maka kita hanya bisa menyempatkan untuk melakukan satu hal yang membuat kita hidup.

Pulang.

Dari Bocoran Game of Thrones Season 7

ADA kehebohan kecil di grup WhatsApp LINIMASMAS—kalau penasaran kenapa dinamakan demikian, tanya ke Mas Roy saja—Sabtu sore kemarin. Mas Gandrasta membagikan satu tautan Vimeo khusus buat Mbak Leila, tanpa judul atau keterangan apa pun. Apalagi pratinjau atau preview-nya juga enggak muncul gara-gara akses Vimeo masih diblokir untuk internet Indonesia.

Kenapa akhirnya menjadi kehebohan kecil? Sebab tautan Vimeo tadi ternyata ada hubungannya dengan episode seri teranyar Game of Thrones (GoT) yang baru tayang sejak beberapa pekan terakhir.

Mas Gandrasta dan Mbak Leila adalah penggemar berat serial fenomenal tersebut, yang tampaknya merupakan bagian dari Jemaah GoT mazhab Antispoilers’iyyah.

 

Sebagai seseorang yang sejauh ini tidak pernah terganggu dengan bocoran cerita maupun sejenisnya, pun bukan seorang penonton GoT yang tekun, agak sukar bagi saya untuk bisa turut merasakan ketidaknyamanan tersebut. Jadi satu-satunya sikap terbaik yang bisa saya lakukan ketika berada di tengah situasi seperti itu hanyalah bergeming, dan tersenyum.

Ada masanya hingga tahun lalu, ketika saya dengan polosnya bisa bertanya: “Kenapa mesti terganggu dengan spoilers sih? Kalau tokohnya mati, ya mati aja!

Bukannya jawaban, saya justru mendapatkan sedikit wejangan tentang pentingnya bersimpati, “kalau enggak tahu enggak usah ikut ngomong,” dan rasanya stand in someone’s shoes.

Responsnya memang terdengar lebay. Namun terlepas dari apakah memang sebegitu tidak menyenangkannya atau hanya buat seru-seruan, demikianlah yang terjadi. Kalau kata Gandrasta tadi dia sampai tidak berani buka YouTube, ada teman yang menapis hashtag dan kata-kata tertentu, bahkan yang malas membuka media sosial demi menghindari segala bentuk bocoran maupun teori-teori yang beredar. Seperti mengenai Aemon Targaryen yang semacam dienyahkan dari posisi Maester-nya.

Satu-satunya hal yang saya pahami dari protes keras dan ketidaksukaan para penggemar GoT terhadap bocoran adalah keseruan yang dicuri.

Bayangkan saja, mereka sudah sabar menanti episode terbaru GoT yang terhenti tahun lalu, lalu mengharapkan kejutan-kejutan penggetar kalbu. Di tengah-tengah penantian tersebut, mereka terpapar dengan sedikit informasi mengenai apa yang akan mereka temui nanti. Ekspektasi dan kesiapan mental untuk meet the unexpected berkurang secara paksa.

Di sisi lain, penyebar bocoran tentu memiliki motif yang beragam pula. Ada yang memang sengaja ingin merusak kesenangan orang lain, ada yang ingin merasa populer dengan menciptakan kehebohan, tetapi ada juga yang memang gemas dan geregetan tidak bisa menahan dorongan untuk membagikan informasi tersebut, belum termasuk orang-orang yang memang clueless dan tidak sadar bahwa tindakannya itu berdampak buruk kepada orang lain.

Berangkat dari masalah GoT dan bocorannya di atas, ada beberapa hal menarik.

Menahan Diri Secara Sukarela

Prinsipnya kurang lebih sama seperti rasa haus dan seteguk air, atau rasa lapar dan makanan. Dalam kondisi yang sangat haus, segelas air putih biasa saja terasa begitu nikmat. Begitu pula saat sedang lapar-laparnya, nasi putih dingin dan telur ceplok pakai kecap saja terasa lezat. Dengan menahan diri, keinginan dan perasaan mengidamkan sesuatu akan jauh lebih kuat. Terutama untuk hal-hal yang menyenangkan.

Kondisinya juga berbeda antara menahan diri karena terpaksa dan secara sukarela. Dalam keadaan terpaksa, seseorang dibuat tidak leluasa dan tak punya pilihan. Ia harus menahan diri karena hanya itu yang bisa dia lakukan. Seseorang sangat kehausan setelah tersesat selama beberapa hari di padang pasir, tentu akan sangat gembira ketika menemukan air. Meskipun cuma genangan. Bisa saja dia mati kehausan.

Sedangkan dalam kasus GoT, yang mati cuma tokoh-tokohnya, bukan orang-orang yang kena spoilers. Para penontonnya secara sukarela menahan diri dari kenikmatan menyaksikan drama penghuni Westeros maupun keturunan Andals setelah serinya terhenti. Sampai jadwal penayangannya kembali. Dalam masa penahanan diri selama beberapa bulan tersebut, muncul ekspektasi tunggal: “Aku ingin dikejutkan.

Mereka punya pilihan untuk menjauhkan diri sejauh-jauhnya dari segala bentuk bocoran, sebab efek kejutannya bakal berkurang dan menimbulkan kekecewaan. Sekali lagi, para penonton GoT sungguh-sungguh tidak nyaman dan gelisah dengan perasaan tersebut. Kalau sudah begini, enggak bisa banget dikomentari: “Biasa aja napa sik?”

Selain soal GoT, sikap menahan diri secara sukarela dan punya ekspektasi terhadapnya juga dilakukan pada banyak hal dalam hidup kita. Dampaknya pun cuma dua: kita mendapatkan yang diinginkan, atau kita alami kekecewaan. Masalahnya ada pada bagaimana cara kita menyikapi rasa kecewa tersebut? Seberapa cepat kita sober kembali, dan menyadari bahwa seberat apa pun sebuah kegagalan (untuk dikejutkan, misalnya), tidak ada yang lebih berat daripada kematian? Bukan kehilangan barang, atau melewatkan sebuah perasaan.

Selalu Siap

Dengan menahan diri secara sukarela, para penonton GoT menjadi siap untuk dikejutkan. Ingin dikejutkan seterkejut mungkin, malah. Setelah itu mereka menikmati momen speechless setelah dikejutkan. Selalu diangkat jadi topik pembicaraan, ada beberapa adegan yang selalu terbayang-bayang, dan kesan yang tertinggal setelah dikejutkan tersebut dijadikan modal awal untuk kembali berharap dikejutkan pada penayangan episode lanjutan. Pokoknya selalu siap menikmati semuanya deh.

Kembali lagi, pada awalnya selalu ada ekspektasi sebelum mulai menonton. Termasuk ekspektasi atas konsekuensi. Yang mereka lakukan memang sekadar duduk manis, menonton tayangan, dan menyerap lalu memikirkan apa yang mereka tonton. Efeknya adalah dibuat terkejut sesuai ekspektasi, atau malah kecewa. Mereka langsung move on menantikan episode di Senin pagi depan.

Kebayangnya, akan sangat baik bila sikap selalu siap ini juga dijalankan untuk aspek-aspek lain dalam hidup. Setelah mengalami sesuatu, lekas melanjutkan ke momen berikutnya selama masih hidup. Siap menghadapi apa pun yang akan terjadi, tanpa terlalu lama bergulat dengan perasaan menyenangkan atau tidak menyenangkan.

Terdengar terlalu muluk-muluk sih, tapi kalau habis nonton GoT saja bisa merasa terguncang, apalagi kalau menjalani hidup sungguhan? Guncangannya bisa lebih nyata, pakai darah dan luka sungguhan.

Fokus dan Tidak Menduga-duga

Spoilers menyebabkan keseruan menonton GoT berkurang. Kebetulan GoT hanyalah tontonan yang menarik dan tidak boleh sampai ketinggalan, menurut para penganutnya.

Dalam kehidupan nyata, kebanyakan dari kita justru kepo dan sangat menginginkan adanya spoilers. Buktinya, manusia menggemari aktivitas ramalan sejak awal peradaban. Sampai saat ini pun, zodiak dan horoskop mingguan selalu dicari dan dibaca. Lebih dari itu, spoilers yang dicari bukan hanya di masa depan, tapi dari masa lalu. Bagi yang percaya mekanisme kelahiran kembali, maupun reinkarnasi (keduanya adalah konsep yang berbeda), pasti pengin tahu masa lalunya seperti apa dengan berbagai metode. Salah satunya seperti yang pernah dibahas tahun lalu dalam tulisan “Masa Lalu yang Bikin Kepo

Soal spoilers dalam kehidupan nyata justru malah bikin penasaran, dan dicari-cari. Ujung-ujungnya sih kembali ke soal keterkejutan atau ekspektasi.

Pengin tahu apa yang telah terjadi di masa lalu, setelah tahu lumayan terkejut. Berasa seru.

Pengin tahu apa akan terjadi di masa depan, setelah tahu jadi berharap semoga menjadi kenyataan (kalau baik), atau semoga tidak menjadi kenyataan (kalau buruk).

Nah, daripada terganggu dengan yang begini-begini dan belum jelas faedahnya, mending bersikap seperti saat menantikan episode terbaru GoT; menolak segala bentuk spoilers supaya bisa merasakan sensasi kejutannya semaksimal mungkin. Toh semenarik apa pun kejutan di serial, lebih seru dan signifikan kejutan yang terjadi di kehidupan nyata, kan? HAHAHAHA! Kejutan yang menyenangkan, bikin efeknya terasa lebih kuat dan berlipat. Sebaliknya, mudah-mudahan kita dijauhkan dari segala bentuk kejutan yang tidak menyenangkan.

Biarlah Sansa, atau Cersei, atau Euron, atau Littlefinger, atau Mamak Naga, atau siapa lah yang mati. Biarin. 😂

[]