Mental Agar Tidak Ment(h)al

Judul di atas harap dibaca dengan pelafalan yang berbeda.
Kata pertama, dibaca “méntal” yang berarti lawan kata fisik, lalu yang kedua dibaca “mên-thal” yang dalam bahasa Jawa artinya kalau jatuh. Kalau penggunaan simbol huruf “e” terbalik atau keliru, tolong diperbaiki ya. Dan kalau masih bingung, harap pegangan dulu sebelum cari tahu.

Soalnya masalah mental ini lumayan menarik perhatian saya dalam seminggu terakhir ini. Apalagi yang terkait dengan mentalitas. Dan perhatian ini mencuat dalam situasi yang sedikit di luar dugaan.

Sebagai penggemar tenis musiman, dengan kemampuan bermain yang tidak berkembang dari jaman SMP, saya menyempatkan diri menonton turnamen French Open dan Wimbledon setiap tahun di televisi. Apalagi Wimbledon. Seperti yang ada magis dari turnamen ini yang membuat kita tidak bisa berpaling. Entah itu lapangan rumputnya. Entah itu kostum berwarna putih yang sudah jadi kewajiban dipakai pemainnya. Entah itu tradisi yang menang dan yang kalah harus berjalan bersama keluar lapangan setelah pertandingan usai. Semuanya membuat setiap babak pertandingan Wimbledon selalu menarik untuk ditonton.

Namun, lagi-lagi karena bukan penggemar fanatik, acap kali saya melewatkan beberapa pertandingan. Biasanya karena belum sampai di rumah. Sering kali bisa menonton dari awal dimulainya babak pertandingan, karena kebetulan sudah ada di rumah. Seperti hari Senin malam lalu.

Saya baru pulang dari menonton film India terbaru di bioskop. Sampai rumah sudah hampir jam 12 malam. Seperti biasa, saya ganti baju dan celana pendek, minum air putih, gosok gigi, cuci muka, bersiap untuk tidur. Toh di saat yang bersamaan, tangan sebelah memencet tombol remote control untuk menyalakan televisi. Ada pertandingan babak 16 besar antara Rafael Nadal, yang baru saja menjuarai French Open bulan lalu, dan seorang petenis yang saya baru dengar namanya: Gilles Muller. Saat itu pertandingan sudah memasuki babak ketiga, dan Nadal kalah di dua set pertama. Saya langsung membatin, “Wah, apa-apaan ini?”

Alih-alih ke kamar, saya malah duduk di sofa di depan televisi. Kadang sambil tiduran. Mata saya tidak berhenti menatap layar televisi. Pertandingan berlangsung seru. Babak ketiga dimenangkan Nadal. Lanjut ke babak berikutnya. Babak keempat dimenangkan Nadal lagi. Mau tidak mau harus ada set ke-5 sebagai penentuan. Dan set ke-5, yang berjalan lebih dari 90 menit, akhirnya dimenangkan Gilles Muller, pemain dengan ranking 26, mengalahkan Nadal yang ranking 2. Total waktu keseluruhan game? Hampir 5 jam, alias 4 jam 48 menit!

Berarti selama 5 jam, mereka berdua berdiri, berlari, memukul dan mengejar bola di atas lapangan rumput dalam cuaca di puncak musim panas di London.
Mata saya nyaris tidak berkedip. Yang saya perhatikan terutama adalah Giles Muller.
Hampir tidak ada luapan ekspresi yang terlihat di raut wajahnya. Mukanya serius. Sesekali mengepalkan tangan dalam genggaman kecil saat pukulannya masuk. Ketika dia memenangkan pertandingan pun, hanya terlihat dia menghela nafas panjang, penuh kelegaan, sambil tersenyum lebar.

Lawan mainnya, Nadal, secara konsisten meluapkan emosinya sepanjang permainan. Nadal memang ekspresif. Mungkin itu juga yang membuat dia selama belasan tahun terakhir sebagai salah satu pemain tenis terbaik, sekaligus yang paling menarik dilihat aksinya di lapangan apapun. Nadal tidak segan-segan mengajak penonton menyuarakan semangat dan bertepuk tangan, terlebih saat dia melakukan aksinya.

Keduanya adalah pemain dengan gaya bermain yang berbeda, keduanya adalah manusia dengan kepribadian yang berbeda. Yang menyatukan mereka adalah mentalitas juara yang tinggi. Rafael Nadal mungkin tidak jadi pemenang. Gilles Muller pun tersungkur di babak berikutnya oleh Martin Cilic, mungkin karena kelelahan melawan Nadal. Namun pertandingan terpanjang (sejauh ini) di Wimbledon 2017 antara Muller dan Nadal menunjukkan bahwa akhirnya, mentalitas untuk bertarung dan bertahan dalam pertarunganlah yang membuat mereka tidak “menthal” dalam ingatan kita.

Meskipun dalam keadaan ngantuk kurang tidur setelah menonton pertandingan di atas, keesokan harinya saya bergegas untuk berolahraga. Sekedar lari di atas treadmill sambil menonton film yang sudah diunduh dari Netflix. Kadang saya pilih sekedarnya saja. Pilihan saya kali ini adalah film dokumenter berjudul An American in Madras.

Dari film ini, saya baru tahu kalau di awal abad 20, tepatnya di tahun 1930-an, seorang warga Amerika bernama Ellis R. Dungan pernah menjadi pionir dalam pembuatan film secara profesional di India bagian Selatan, khususnya untuk pembuatan film berbahasa Tamil. Rencana berkunjung untuk membantu temannya menjalankan studio film selama 5 minggu, berubah menjadi 15 tahun.

Dungan tidak bisa berbahasa Tamil atau bahasa-bahasa daerah lain di India. Dia hanya bisa mengerti dialog di film yang dia sutradarai. Namun dengan bantuan asisten-asistennya selama produksi, dia tetap menghasilkan film-film klasik yang termasuk dalam jajaran film terbaik di India pada masa tersebut. Dia tidak dipandang sebelah mata karena dia terlihat berbeda. Dia sudah dianggap menjadi bagian penting dalam sejarah budaya dan perfilman India dalam 100 tahun terakhir.

Saya tidak bisa membayangkan betapa sulitnya seseorang seperti Dungan yang bisa menerobos masuk ke dalam sebuah bagian kultur budaya dari masyarakat yang terkenal inklusif dan propektif seperti India. Film ini memang tidak menerangkan perjuangan awal Dungan untuk mendapat kepercayaan dari orang-orang di Tamil Nadu. Tanpa keluarga dan teman dari tanah kelahirannya, kita hanya bisa membayangkan Dungan dan usahanya sendirian dalam membangun reputasinya dari awal. Toh dia tidak patah arang. Bahkan dalam keadaan perang pun, dia masih bisa berkarya.

An American in Madras (source: nytimes.com)

Lagi-lagi masalah mentalitas. Sepanjang film saya hanya bisa berdecak kagum melihat apresiasi tulus dari para sejarawan dan ahli film terhadap legacy yang ditinggalkan Dungan. Yang ditinggalkan pun tidak merasa terintimidasi oleh fakta bahwa seorang pekerja film dari Amerika merombak sistem kerja perfilman di India Selatan sehingga menjadi apa yang mereka lakukan sekarang. Tentu saja, arsip-arsip berupa film, tulisan dan data-data yang masih mereka simpan rapi selama lebih dari 75 tahun membuktikan kecintaan mereka terhadap karya seni yang menjadi kebanggaan mereka.

Mentalitas untuk bertahan dalam pertarungan, mentalitas untuk bertahan hidup, mentalitas untuk terus melakukan apa yang kita cintai dalam hidup.

Tidak mudah memang untuk mempunyai mentalitas seperti ini. Ada saat-saat di mana kita sudah merasa memiliki sikap seperti ini, namun ada beberapa kejadian dalam hidup yang membuat kita tergelincir lagi.
But what counts is the time when we get up, not when we fall.

Dan untuk memiliki mentalitas juara, mau tidak mau kita pun harus memiliki mental yang sehat.

Saya jadi ingat sebuah dialog kecil dalam film Dear Zindagi yang saya tonton tahun lalu. Film ini dibintangi oleh Shah Rukh Khan sebagai psikiater yang mempunyai pasien seorang juru kamera yang dimainkan dengan cantik oleh Alia Bhatt.

Dialog kecil ini bukan diucapkan oleh Shah Rukh. Dialog ini terjadi di bagian awal film, saat Alia sedang istirahat dari syuting video klip yang dia kerjakan, lalu bertemu dengan rekan kerjanya yang sedang merokok. Mereka bercerita banyak hal, termasuk tentang kebutuhan untuk punya psikiater. Alia yang masih skeptis, bertanya kenapa temannya perlu terapi. Kurang lebih dialognya seperti ini:

“Do you go to therapy, so you can tell others you’re gay?”
(smile) “I go to therapy so I can tell myself I am gay.”

Because it takes a winning mental health to have a winner mentality.

Alia Bhatt in Dear Zindagi (source: thequint.com)
Advertisements

Tidak Ada Kata Terlambat untuk… Terlambat

LENGKAPNYA, tidak ada kata terlambat untuk menyadari bahwa kita telah terlambat menyadari sesuatu, yaitu kita telah terlambat menyadari bahwa kita telah terlambat menyadari sesuatu, berupa terlambatnya kita menyadari bahwa kita telah terlambat menyadari sesuatu.

Wait… What?

Ada berbagai bentuk kekeliruan berpikir atau logical fallacy yang telah diidentifikasi. Beberapa di antaranya yang cukup populer, makin sering kita temui di jagat maya akhir-akhir ini. Selain kita temukan sendiri, beruntung ada akun penghimpun (baru satu sih yang terkemuka sejauh ini). Cuplikan kelakuan para netizen pun makin jadi siap saji.

  • Tu quoque

Ada seseorang yang dikritik, kemudian mementahkan kembali kritik itu kepada si pemberi kritik dengan alasan si pemberi kritik juga sama seperti dia. “Lah, kamu sendiri juga begitu!

  • No True Scotsman

Penggunaan sentimen: “Yang asli pasti begini (kalau begitu berarti bukan asli). Jadi aku begini, karena aku adalah yang asli.”

  • Black-or-White

Ketika sesuatu hanya bisa dilihat dan ditanggapi dengan dua perspektif yang berseberangan, dan tidak ada lainnya. Sederhananya “Kalau bukan A, pasti B. Kalau bukan B, ya sudah pasti A!”

  • Straw Man

Menginterpretasikan pendapat orang lain secara ekstrem dan sangat keliru, untuk kemudian dikembalikan kepada seseorang tersebut. Pada banyak kasus, ada yang kemudian nyadar telah keliru, tapi ada juga yang gengsi dan terus mempertahankan argumentasinya.

  • Loaded Question

Menggunakan pendapat seseorang untuk menyerangnya balik, dengan cara mengajukan pertanyaan berdasarkan asumsi atas pendapat tersebut. Tujuannya, berharap agar pertanyaan itu ditanggapi dengan jawaban yang mengandung kesalahan.

  • Appeal to Nature

Berpendapat bahwa sesuatu boleh-boleh saja terjadi atau dilakukan, karena memang kondisi wajarnya seperti itu. Di luar kondisi tersebut, berarti salah.

  • Ad Hominem

Melawan pendapat orang lain dengan menyerang figurnya, baik dari sisi fisik maupun non-fisik yang bersangkutan.

  • Ambiguity

Menggunakan kata-kata dengan makna ganda dalam berargumentasi, dengan tujuan… tentu saja… menyerang dan mengalahkan orang lain.

  • Slippery Slope

Silogisme atau penarikan kesimpulan sebab akibat yang keliru. Apabila “A” terjadi, maka “B” pasti juga terjadi, sehingga “A” tidak boleh terjadi. Padahal “A” dan “B” tidak memiliki sifat atau kondisi yang linier, atau tidak saling berhubungan secara langsung.

  • Red Herring

Memberikan tanggapan terhadap suatu diskursus dengan argumen yang tidak relevan dan tidak valid, serta membuat topik membengkak ke ranah berbeda.

  • Ignoratio Elenchi

Memberikan tanggapan terhadap suatu diskursus dengan argumen yang sebenarnya valid, tapi tidak relevan.

  • Division

Berasumsi bahwa karena sebuah kondisi terjadi pada salah satu bagian dari sesuatu, maka kondisi tersebut pasti terjadi pada seluruh bagiannya.

  • The Fallacy Fallacy

Argumentasi yang tidak kuat dan tidak sepenuhnya benar, dibalas dengan argumentasi yang juga lemah dan keliru.

  • False Cause

Argumentasi yang didasarkan pada hubungan sebab akibat yang sebenarnya selisih. Lumayan rancu dengan The Slippery Slope. Beberapa ilustrasinya seperti yang disampaikan dalam bentuk kelakar di video ini. Bagian kelakarnya doang lho ya. Jangan salah paham.


Bila diperhatikan dengan saksama, hanya ada dua pemicu utama munculnya logical fallacies. Yakni kekeliruan murni atau ketidaktahuan, dan sikap egoistis.

Kekeliruan murni atau ketidaktahuan menyebabkan seseorang mengutarakan pendapat dengan penalaran yang timpang. Tidak menutup kemungkinan argumentasi tersebut diutarakan secara tidak sengaja. Sedangkan sikap egoistis mendorong seseorang untuk selalu menang, selalu benar dan tidak ingin disalahkan. Hingga menghalalkan segala cara, termasuk menyabotase alur berpikir atau logika. Jelas dilakukan dengan sengaja, dan umumnya terencana.

Menjadi penting setelah menyadari kalau kita kerap berpikiran keliru, atau pernah berpikiran keliru seperti ini, apakah kita bersedia untuk berubah? Minimal tidak lagi menjadi seseorang yang gemar mengkamuflase logika, apa pun tujuannya.

[]

Tol dan Mek

Le, sini dulu. Kamu kan ndak puasa, coba cicipin ini udah pas apa belum bumbunya?” Begitu selalu Ibu memanggilku. Le, dari frasa thole dari kata konthole (penis-nya); lumrah digunakan orang Jawa sebagai panggilan untuk anak laki-laki yang lebih muda, entah ada atau tanpa pertalian keluarga.

Sementara Simbah Putri (nenek, Jawa) selalu memanggil Ibuku dengan Wuk. Misal: “Owalah Wuk, Jeruke keri…” (Yah Nak, jeruknya ketinggalan). Berasal dari kata Gawuk atau Bawuk (vagina). Khusus yang ini mulai jarang digunakan ketimbang Ndhuk, dari kata Gendhuk yang berarti tonjolan atau telur. Maknanya lebih dalam dari sekedar kelamin perempuan.

Uniknya, ketiga panggilan di atas meski merujuk pada alat kelamin, tapi ndak sedikitpun punya tendensi negatif. Atau merendahkan, atau keburukan lainnya. Ia justru punya keintiman khusus yang lebih menggambarkan kasih sayang. Ada kedekatan dan perlindungan yang disampaikan oleh Le, Wuk dan Ndhuk.

Simbolisme seksual ini sebetulnya sudah hadir sejak lama di tanah Jawa. Sebelum agama samawi menguasai sebagian besarnya; lalu menabukan kelamin semata-mata alat reproduksi yang kepuasan penggunaannya berkaitan dengan dosa. Juga seks jadi begitu kotor dan rendah.

Lingga Yoni adalah simbol kesuburan dalam masyarakat Jawa kuno. Arcanya didirikan biasanya berhampiran dengan kebun, sawah, sungai bahkan sebagai tonggak berdirinya satu kota atau kampung. Filososi yang sama kabarnya dipakai dalam pembangunan Monas (Lingga) dan gedung DPR/MPR (Yoni). 

Relief Lingga Yoni di Candi Sukuh, Jawa Tengah. sumber: Google.

Tradisi Hindu menerangkan bahwa Lingga Yoni adalah proses penyatuan yang sakral. Penyatuan Lingga dan Yoni melahirkan sesuatu yang baru. Sebuah penciptaan. Karena tanpa penyatuan, ndak ada generasi yang berkelanjutan. 

Seks juga disimbolkan dengan Lingga Yoni. Lambang reproduksi laki-laki dan perempuan (phallus dan vagina). Kamus Jawa Kuna-Indonesia mendefinisikan: Lingga (sansekerta) bersinonim dengan tanda, ciri, isyarat, sifat khas, bukti keterangan, petunjuk; lingga, lambang kemaluan lelaki (terutama lingga Siwa dibentuk tiang batu), patung dewa, titik tugu pemujaan, titik pusat, pusat poros, sumbu. Dan Yoni (sansekerta) yang bersinonim dengan rahim, tempat lahir, asal Brahmana, Daitya, dewa, garbha, padma, naga, raksasa, sarwa, sarwa batha, sudra, siwa, widyadhara, dan ayonia (PJ Zoetmulder, SC Robson, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1994, 601, 1494).

Makna inilah yang diadopsi orang Jawa secara turun-temurun. Memanggil putra-putri mereka secara sakral, menggunakan simbol yang bermakna kesuburan dan penciptaan.

Lain ceritanya jika hal yang sama kita terapkan dalam kehidupan sekarang menggunakan bahasa Indonesia pasar: Kontol dan Memek. Menjadi: “Tol, sini dulu. Kamu kan ndak puasa, coba cicipin ini udah pas apa belum bumbunya?” Juga “Yah Mek, jeruknya ketinggalan…” Anehnya, meski fungsi dan gramatikanya ndak berubah, tapi kok ndak terasa kehangatan dan kasih sayang dari Tol dan Mek, ya?

Makhluk Langka selain Platypus

Jika ada makhluk langka selain harimau Sumatra dan platypus (eh, apa itu malah sudah punah ya?), jika ditengarai di sekitar kita adalah makhluk yang memiliki kerendahan hati. Bukan rendah diri, tapi rendah hati. Memiliki humility. Kata dari seorang yang tidak diketahui identitasnya, kesombongan dan percaya diri itu batasnya sangat tipis, dan garis itu bernama kerendahan hati. Jika orang yang percaya diri senyum dengan tulus, orang yang sombong senyum ngenye’.

Cukup banyak ditemui, seorang yang membuat klaim dirinya ‘ahli’ dan tidak mau mendengarkan orang lain yang memiliki pengetahuan berbeda atau pendapat berbeda darinya. Karena kesombongan bahwa yang diketahuinya pasti benar, karena telah terbukti pada dirinya. Sementara jika orang lain hasilnya berbeda, pasti karena cara atau pengetahuannya salah. Padahal bahkan jika kita belajar sejak mulai keluar dari rahim ibu, sampai kita mati pun, mustahil rasanya memelajari dan mengetahui semua aspek bahkan dari satu disiplin ilmu yang sangat sempit. Rendah hati adalah selalu mau menerima kalau masih ada (banyak!) hal yang kita belum tahu, dan banyak cara untuk mengetahuinya, termasuk dari orang lain yang – mungkin – terlihat tidak lebih pintar dari kita.

Kalau kata Gus Mus, apa sih, sebenarnya yang disombongkan oleh manusia, sampai bisa berteriak teriak bilang orang lain salah? Jika kita mengetahui kebesaran Kosmos, kita ini hanya seperti sebutir kacang hijau. Gus Mus menyambung kembali kalau dia bicara dengan astronomer akan diprotes, bahwa kacang hijau itu terlalu besar. Tetapi menurut beliau, butiran debu itu terlalu sulit divisualisasikan karena tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Kalau tidak bisa dilihat nanti orang lupa lagi, kemudian sombong lagi.

207abaac5de3ab7af2be8cdfd8f3544a

“Perkenalkan, Aku; Kresek!”

 

Perkenalkan, aku kresek. Di tempat lain, aku dipanggil Asoy. Aku berasal dari bangsa plastik-plastikan. Tidak berkumis tidak berbuah dada. Diciptakan untuk satu tujuan; mengabdi kepada sang pencipta; Manusia.

Aku kresek dewasa. Sebab memiliki “pengalaman hidup” mengabdi pada pencipta. Oleh karenanya, aku mengenal “pencipta”; mereka juga memiliki “Sang Pencipta” dan mereka juga diciptakan untuk tujuan “mengabdi pada Sang Penciptanya”

Kagum aku pada manusia; mereka itu mampu menghargai segala sesuatu. Mereka itu mampu mempelajari sesuatu. Mereka itu juga punya kemampuan luar biasa lainnya; membentuk sifat dan sikap dari prilaku mereka sehari-hari. Mereka tidak statis, tetapi dinamis. Kemampuan yang tidak mereka berikan padaku. Yang perlu di ingat bahwa aku juga tidak elastis.

Manusia juga mengenal dan memiliki konsep “moral”. Dengan moral ini, manusia mengetahui baik buruk yang kemudian tercermin ke dalam prilakunya itu. Semisal : Menghargai pengorbanan dan kebermanfaatan yang diterimanya. Maka manuia, mengenal kata “terimakasih” dan “balas budi.”


Masih pagi sekali. Aku masih lelap tidur tindih menindih dengan saudara sebangsa. Lelap di posisi kelima puluh. Artinya, di atas ada saudara yang menindih dan di bawah ada juga yang tertindih. Untungnya kami tidak berjenis kelamin dan tidak memiliki kelamin pula. Mari bantu kami bersyukur!

Ada sentuhan di kulit. Sedikit kasar dan geragas. Itu pertama kali manusia menyentuhku. Mungkin sedang terburu, atau kulit yang terlalu rapuh. Hingga aku merasa sebagian tubuh tercubit; remuk. Tentu saja kami juga bisa merasakan sakit (ini mungkin tidak diketahui manusia, karena mereka ternyata tidak maha mengetahui).

Di atas meja sedikit basah itu, aku melihat banyak sekali makhluk lain. Bangsa ikan-ikanan, begitu manusia menyebutnya. Bertumpuk tindih-menindih. Mungkin tindih-menindih adalah bagian dari proses kehidupan. Apakah manusia juga pernah saling tindih-menindih?

Ikan-ikan itu diam. Matanya melotot, ada bercak merah. Mulutnya menganga, tapi ikan (mungkin) tak mengenal bagaimana memproduksi bunyi. Beberapa ekor ikan berukuran besar dimasukkan ke dalamku. Tubuhku tertarik, berbunyi. Ada rasa linu ada nyeri setelahnya. Tangan manusia kembali menyentuh. Mengangkat. Gravitasi bikin ikan memberat. Kembali berbunyi tubuhku. Linu menjadi, nyeri menyeri.

Setengah jam berayun di tangan manusia lalu kembali di letak di atas meja. Nyeri sedikit mereda, linu sedikit jera. Di atas meja itu, aku melihat bulir-bulir putih. Bangsa beras-berasan, begitu manusia menyebutnya. Beras-berasan itu, bertumpuk-tumpuk, tindih menindih. Dimasukkan ke dalam plastik lainnya. Lalu, saudara sebangsaku itu, diikat kepalanya agar bulir-bulir beras tak tumpah. Ia pun dimasukkan ke dalamku. Aku bertubuh lebih luas darinya.

Kembali diangkat, bebanku makin berat. Tubuhku makin nyeri sejadi-jadinya. Gravitasi menarik tubuh kian jadi. Belum lagi ditambah ayunan tangan manusia, bikin mual.

Aku menyempatkan bincang dengan suadaraku itu, sekedar mengalih rasa sakit.

“Maaf saudaraku, aku yang membekap bulir-bulir beras ini, bikin bebanmu semakin berat saja!” Saudara sebangsaku setengah meringis berujar tulus.

“Tak mengapa saudaraku, untuk inilah kita diciptakan, inilah bentuk pengabdian itu. Bagaimana kepalamu yang dipuntir ikat?”

Saudaraku itu, menjawab dengan ringisan. Kami kemudian diam. Berkonsentrasi melawan rasa yang sakit.

Di meja lainnya, kembali aku berkenalan dengan makhluk baru; kangkung. Mereka punya kaki-kaki yang panjang. Ada yang sedikit tajam, hingga kulitku yang kian melar tertarik beban, terkoyaklah.

Kami tidak memiliki darah, tapi rasa sakit seperti tersayat, kami juga bisa rasakan. Beberapa lubang tumbuh di tubuh tipisku kemudian. Ikan-ikan itu memberi bau amis yang menyengat, cairan mereka membasahi tubuhku. Tak mengapa, inilah pengabdian pada sang pencipta itu.

Siksa dera lumayan panjang terasa, tetapi waktu pasti akan memperjalankan keadaan pada batas akhir. Sampailah aku di rumah manusia. Nyaman sekali rasanya, setelah diletakkan cukup lama di atas meja. Semakin nyaman ketika satu persatu, makhluk yang mesti kupikul sedari tadi, di keluarkan dari dalam tubuhku. Saudara sebangsaku merasakan hal yang sama tatkala puntiran di kepalanya di lerai sudah. Meskipun ia harus sedikit mengaduh, sebab salah satu telinganya koyak. Mungkin manusia itu tengah terburu-buru. Setelahnya, aku dan saudara sebangsaku itu, saling tatap saling diam saling bertanya; Apakah pengabdian itu selesai sudah?


Kami tidak tahu apakah yang kami jalani selanjutnya ialah bentuk pengabdian baru. Kami berpindah-pindah tempat. Awalnya, di tempat sempit. Manusia, sang pencipta itu, menyebutnya tong sampah.

Sebelum berumah di tong sampah, kami terlebih dahulu di “remuk”. Aku menemukan banyak saudara sebangsaku ditempat itu. Tak lama, seluruh kamipun dipindah ke tanah luas. Semakin banyak aku berjumpa dengan saudara sebangsaku disana. Kami bertanya-tanya, Apakah ini bentuk pengabdian selanjutnya, atau, beginikah bentuk rasa terimakasih dari manusia, sang pencipta yang mengenal moral itu?

Di suatu sore yang tak mungkin pernah kulupakan, ada manusia yang datang. Ia menyiramkan semacam cairan, lalu memantikkan nyala api. Hampir semua saudara sebangsaku kemudian terbakar dalam lolongan rasa sakit yang mengerikan. Tubuh mereka mengerut dimakan api, berubah jadi asap sedikit hitam. Aku gigil ketakutan. Sakit sekali membayangkan panasnya itu menyentuh kulit. Aku limbung, tatkala sepercik bara menyentuhku. Pada saat itu, aku berpikir, pastilah aku segera mati dalam kesakitan yang lebih mengerikan dari rasa sakit yang pernah ku kenal sebelumnya.

Kenyataan berkata lain. Aku mesti berterimakasih pada arwah-arwah saudara sebangsaku, semoga mereka tenang di alam sana. Sebab dengan tiba-tiba, asap yang mengepul itu, menerbangkanku. Kemudian angin menyambut lalu menghempasku pada aliran sungai yang tak jauh dari tempat pembantaian itu.

64677-590-367

Tubuhku gigil perih. Mengambang mengalir hingga sangkut di tunggul kayu, tubuhku koyak! Aku bertemu beberapa saudara sebangsaku yang juga sangkut disana. Tubuh mereka itu, tercabik sudah! Nyawa mereka itu, tinggal satu cabikan lagi saja! Aku mengumpat, mengutuk. Hendak kubendung aliran sungai, biar menguap ke dataran dan lalu menenggelamkan manusia.

Dalam suara yang sekarat, saudara sebangsaku itu berkata “Tak baik mengumpat pencipta sendiri, mereka bukanlah Maha Pencipta, mereka itu sedang belajar mengenal moral, mereka itu sedang belajar mengenal bagaimana membiasakan diri untuk menghargai.” Aku terdiam dalam dengung deras air yang mulai meninggi, sambil menceritakan kisah ini.

[]\

penulis: Senjakalasaya // twitter: @senjakalasaya // profil

Mereka-reka Mimpi

Kita semua punya mimpi.
Atau paling tidak, kita semua pernah punya mimpi.

Mimpi yang tidak hanya sekedar hadir saat kita tidur terlelap. Mimpi di sini lebih berbentuk cita-cita, keinginan, asa, harapan, yang semuanya kita inginkan bisa terjadi secara nyata dalam hidup.

Kita sudah terbiasa punya mimpi sejak kita masih kecil.
Mimpi punya mainan yang paling canggih seperti yang kita lihat di televisi.
Mimpi punya kakak, adik, atau saudara yang bisa menemani kita bermain.

Lalu para tetua kita mulai menanamkan impian-impian mereka sehingga kita bisa menerimanya seolah-olah menjadi impian kita sendiri.

Mimpi masuk sekolah yang bagus, sekaligus mimpi bisa lulus dengan nilai sempurna.
Mimpi mendapatkan pekerjaan yang baik dan mapan.
Mimpi bisa bertemu jodoh dan menjalin hubungan penuh kemesraan tanpa kekhawatiran.
Mimpi bisa membina rumah tangga yang langgeng sampai akhir hayat.

Beragam cara dilakukan dalam mengejar mimpi, atau dalam melakukan usaha-usaha agar setiap mimpi bisa terwujud.
Berbeda orang, berbeda caranya. Berbeda mimpi, berbeda caranya.

Ada yang punya rencana cadangan di setiap mimpi yang dituju. Tujuannya, agar saat mimpi yang dicita-citakan tidak terwujud, masih ada rencana cadangan lain yang bisa diwujudkan.

Ada yang tidak punya rencana cadangan, karena tidak memungkinkan punya rencana cadangan lain untuk mimpi yang dikejar. Dengan prinsip “high risk means high return or high loss”, pemimpi dan pemilik impian seperti ini sadar bahwa saat impian tak terwujud, maka kehampaan yang akan menimpa.

Dan sesadar-sadarnya akan kemungkinan tersebut, toh rasa sakit masih menerpa dan begitu terasa.

(source: phomix.com)

Seorang teman, sebut saja namanya Bendy karena dia penggemar kelas kakap aktor Michael Fassbender, baru-baru ini cerita kepada saya tentang sebuah mimpinya yang kandas. Sebuah mimpi, yang menurut saya cukup besar, yang memang akan mengubah hidupnya. Tapi nyatanya, mimpi cuma sebatas mimpi.

Saya baru tahu kalau dia punya mimpi tersebut setelah dia cerita kepada saya cukup lama sesudah kenyataan pahit itu terjadi.

Saya bertanya, bagaimana dia menghadapi kegagalan mimpinya.

Dia cuma mengangkat bahunya. “Well, life goes on, right? I have to be fine. I was not.”

Maksudnya?

Dia menghela nafas. “Life does not wait for you. Your loss, your pain, your suffering. Life still keeps going on, it does not pause to function, to wait until you get better. So you pick up yourself, slowly. Then you catch up with the world, again.”

Saya tersenyum.

(source: stamhuis.nl)

Dia melanjutkan tanpa saya tanya lebih lanjut. “Sure, I was hurt. Disappointed. Devastated. I don’t have a back-up plan, because there is no back-up plan. It’s like, you are about to get married, then you don’t, because the one you are about to married to decides not to. And your back-up plan is, what, marry someone else you secretly keep as a back-up plan? No, right? You just do not become a married man, that’s all.”

Saya mengangguk pelan, masih dalam diam.

“You know what’s funny?”

Apa?

“When chasing your dream and making it happen, you are so busy chasing it with great details and meticulous plan, that you forget your surrounding. You forget your present reality, because you are filled, even obsessed, with your future plans. You start planning this and that, and you just forget tending your present need. Your mind, your energy, your concentration, everything you have, you just “throw” it all away to uncertain future. And when the uncertainty bursts out to failure, boom!”

(source: mindbodygreen.com)

Kepalan tangan kanannya menirukan gerakan bom yang meledak di udara, lalu pelan-pelan bergerak ke atas, sebelum jatuh perlahan ke meja tempat kami meletakkan gelas-gelas dan piring-piring kami.
Dia mengangguk sambil menerawang, sambil mengetukkan jari-jarinya.

“I was mad. So mad, you have no idea.”

Dalam hati saya ingin berkata kalau saya kira-kira tahu bagaimana kalau dia lagi ‘gila’, tapi saya diam saja.

“Then I realized something. I was angry, so angry, that I begin to think, that maybe the dream I wanted was not meant to happen. Because look at the way I behaved when I did not get it! I couldn’t begin to imagine if, while living the dream, I could get this mad because something does not work the way I plan. Will I be this mad? Will I endanger other people? No. I can’t afford that to happen.”

Saya mengangguk lagi.

“I have to accept the fact that maybe it was not meant to be. Call it the destiny, the fate, or what have you, but the one dream I chased so hard will never be mine. I’m sorry I talk to you in circles like this.”

Saya tersenyum. Saya bilang kalau saya cuma bisa mendengarkan.

“Thanks. That’s more than I can ask, really. Because it’s hard to accept failure. And before you console, comfort, or whatever, just bear with my insistence that not getting a dream come true is a failure in my life. So yeah. We’re not built to accept failure, to understand in others that failure often happens.”

Oke, saya tidak akan mempertanyakan. Tapi kalau boleh tahu, rencanamu apa sekarang?

“Frankly, I don’t know. Like I told you, I was busy planning the plans for the dream to happen, when it was supposed to happen, that I overlook the present time. Now, I guess I have to look for and build another dream. It’s a work in progress.”

Apanya yang work-in-progress?

“Life. Life is always a work-in-progress. Don’t you think?”

Kembali saya mengangguk pelan.

Dan mungkin sambil menuai mimpi yang lain, kita menjalani hidup.

Karena mimpi tak bisa hadir kalau kita tidak hidup.

(source: joelcornett.com)

Buat Kamu…

MANTAN, seberapa pun tidak menyenangkan dan sungguh-sungguh ingin dilupakan, ternyata selalu sukses menjadi topik pembicaraan yang amat sukar terhindarkan 😅. Sekuat dan setegar apa pun hati telah dipersiapkan, lama kelamaan ya runtuh juga. Ngikut deh. Setidaknya bagi sebagian kecil* orang.


Hari ini, awalnya pengin menulis mengenai hal-hal remeh, trivia, atau informasi-informasi ringan seperti biasa setelah ngomongin perasaan manusia selama dua pekan berturut-turut. Apa kek gitu. Misalnya, kenapa orang Tionghoa Indonesia terbiasa menggunakan istilah “kamu orang” dan “dia orang” untuk menyebut “kalian” dan “mereka”; atau mengapa orang Asia Timur dan sekitarnya terbiasa menggunakan serbuk kayu wangi berbentuk dupa dalam aktivitas spiritualnya; atau soal kebiasaan orang Mahayana melakukan rapalan mirip zikir tetapi secara tertulis; atau ini, maupun topik-topik serupa lainnya. Namun rencana itu berubah seketika setelah baca tulisan Mas Nauval yang manis, menggemaskan dan menyenangkan pekan lalu 😃.

We’ll never get over it, ever. Iya! Sampai kapan pun. Kecuali jika kita mengalami amnesia, ingatan tentang mantan dan segala hal yang terkait dengannya akan tersimpan selamanya dalam gudang memori kita.

Kondisinya sama saja dengan ingatan mengenai sarapan apa kemarin pagi, atau kejadian pertama kalinya jatuh saat bersepeda berpuluh-puluh tahun silam. Pembedanya adalah seberapa besar dampak dan kesan emosional yang ditinggalkan selepas peristiwa berlangsung. Makin kuat dampaknya, makin gampang teringat pula. Apalagi ini soal mantan, pernah pakai hati, dan pakai yang lain sebagainya.

Ingatan tentang mantan dapat muncul ke permukaan dan mendistraksi pikiran seketika itu juga tanpa bisa kita kendalikan. Lagi-lagi, besar-kecilnya distraksi yang timbul juga bergantung pada kuat-lemahnya dampak dan kesan emosional yang pernah ditinggalkan. Ditambah bagaimana cara kita menanggapi ingatan yang muncul. Ibarat membakar korek kayu, apakah kita akan mempertahankan nyala api tersebut dengan memberikan kertas, atau kita biarkan apinya mati setelah batang koreknya habis terbakar.

Masalahnya bukan pada ingatan seperti apa yang muncul, melainkan perasaan yang ikut timbul. Ada ingatan yang bikin kita gembira, sedih, tersipu malu, marah, menyesal, berahi, dan sebagainya. Aneka rupa perasaan itu yang justru mengambil alih kesadaran, bukan ingatannya.

Seseorang yang sudah moved on, bukan berarti berhasil menghapus kenangan tentang mantan sepenuhnya. Melainkan mampu menyikapinya dengan tepat, entah dengan membiarkannya berlalu begitu saja, telah berdamai dengan diri sendiri atas segala hal yang terjadi, atau cepat-cepat sadar bahwa itu hanyalah sisa dari masa lalu yang mustahil diubah dan sama sekali tidak penting untuk terlampau diperhatikan. Terkecuali kalau berencana untuk melakukan rekonsiliasi, atau mengejar si dia kembali.

Namanya juga penyesalan, selalu datang belakangan. Lagian, siapa suruh dijadikan mantan. Enggak balikan tapi kangen. Mau balikan, malu ama gengsi. 😝

Ada tiga jenis mantan sejauh ini:

  • Mantan yang menyadarkan,
  • Mantan yang terindah, dan
  • Mantan yang membanggakan.

Ketiganya patut mendapatkan apresiasi dan terima kasih sesuai jasanya masing-masing. Walaupun tampaknya ada lebih banyak orang yang berikrar untuk jangan sampai terhubung kembali dengan sang mantan. Sebab sebaik apa pun seorang mantan, pada akhirnya tetap menjadi mantan. Menyisakan kecanggungan. Hahahaha!

Mantan yang menyadarkan adalah mantan yang kehadirannya membuahkan pelajaran, baik secara menyenangkan atau pun tidak. Membuat dari yang tidak tahu menjadi tahu, bahkan sangat paham.

Dari interaksi dengan mantan yang satu ini, kita benar-benar menyadari kekurangan diri dan apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki hal tersebut, serta menyadari pentingnya untuk selalu waspada dan berhati-hati ke depannya.

Dari yang sebelumnya kurang peduli kesehatan dan penampilan, perlahan-lahan mulai nge-gym dan belajar terlihat modis hingga keterusan jadi kebiasaan. Dari yang sebelumnya malas menyelesaikan skripsi, akhirnya bisa jadi sarjana juga. Lengkap dengan nama sang pacar (yang kemudian jadi mantan) di halaman terima kasih, dan salah satu salinannya bertengger berdebu di perpustakaan kampus. Dari yang sebelumnya gampang jatuh cinta dengan cowok keren, menjadi lebih serius mengenali seseorang sebelum memutuskan berpacaran dengannya. Cakep-cakep tapi abusive kan bahaya juga, yang dalam banyak kasus lebih susah mutusinnya. Bagi kamu yang tengah terlibat dalam hubungan semacam ini, mantankan dia segera!

Mantan yang terindah adalah kategori paling absurd dan paradoks, namun tetap ada. Barangkali mesti jadi mantan dulu baru bisa mencapai keadaan terindah, atau mungkin belum tentu indah-indah banget kalau tetap jadi pasangan sampai sekarang. Sesuatu yang diglorifikasi dari masa lalu.

Indah di sini, bukan sekadar urusan fisik atau sebatas kulit semata. Mantan yang cakepnya enggak ketolongan sekalipun, belum tentu bisa jadi mantan terindah kalau perilakunya menjengkelkan parah dan bikin ilfil.

Terdapat dua perspektif mengenai mantan yang satu ini, dari yang mutusin hubungan, dan yang diputusin. Seseorang yang diputusin, cenderung enggak bisa terima diperlakukan begitu. Terkecuali kalau penyebab putusnya adalah sesuatu yang nyata-nyata salah, macam ketahuan selingkuh, atau pacaran kamuflase belaka. Sementara yang mutusin hubungan, masih bisa menganggap mantannya adalah mantan terindah, just because it’s not you, it’s about me… atau kamu terlalu baik buat aku.

Mari batuk rejan bersama-sama.

Idealnya, kategori mantan terindah dihasilkan dari hubungan yang sepakat diakhiri bersama-sama, terutama akibat alasan yang tidak bisa diapa-apakan lagi. Pacaran beda agama, misalnya. Pacaran tak direstui orang tua karena perbedaan status sosial dan kasta juga. Tidak sanggup menjalani pacaran jarak jauh. Kurang lebih yang begitu.

Kenapa sampai bisa disebut mantan terindah? Karena hubungan mereka berakhir di saat sedang indah-indahnya. Mereka saling memperlakukan satu sama lain dengan penuh kasih sayang, nyaris tak ada masalah krusial dengan guncangan emosional yang terlampau berat, akan tetapi tetap harus mereka sudahi. Terlalu éman untuk dilepaskan. Menjadi bonus kalau sang mantan juga indah dipandang dan nyaman digenggam.

Jenis ketiga memberikan efek baper yang lebih ringan dibanding dua sebelumnya. Sesuai penyebutannya, mantan yang membanggakan adalah mantan yang bisa menimbulkan rasa bangga pada diri sendiri. Jadi lebih berupa feeding the ego, rasa bangga yang tidak relevan bagi orang lain. Sehingga enggak penting-penting banget untuk diceritakan kepada orang lain, apalagi jika tujuannya adalah sesumbar.

Contohnya, merasa bangga setelah mantan ketahuan tetap aktif mantengin akun-akun media sosial kita, ketahuan enggak sengaja nge-love foto kita di Instagram, ngerasa kalau kita masih sering diperbincangkan sang mantan, dan sebagainya. Jujur aja, siapa sih yang enggak bangga ketika berasa orang penting. Cuma pentingnya di mana, dan dianggap penting oleh siapa, itu beda cerita.

Dari sudut pandang sebaliknya, ada juga mantan yang membuat kita merasa bangga karena pernah berpacaran dengannya. Hahaha! Terdengar agak aneh, tapi hal ini terjadi apabila mantan kita itu memang memiliki nilai-nilai positif yang kuat dan menginspirasi. Orang hebat lah pokoknya.

Ngobrolin mantan memang enggak ada habis-habisnya. Namun sekali lagi, penting diingat bahwa kisah bersama mantan adalah bagian dari masa lalu, mustahil diubah kembali, dan mantan adalah mantan. Kalau memang tidak ada rencana atau tak mungkin menjalin hubungan kembali, perlakukanlah kenangan-kenangan bersama selayaknya cenderamata. Kenang-kenangan dalam arti sebenarnya, dipajang atau disimpan. Bukan selalu dibawa ke mana-mana. Pasalnya, lumayan besar, berat, dan melelahkan pikiran. Terlebih kalau kita masih terlampau baperan, masih berusaha menuju pendewasaan.

Lagipula, banyak dari kamu yang lebih berpengalaman soal permantanan ini. Jangan sungkan-sungkan untuk berbagi. 😃

[]

Masih tentang “kapan nikah” dan segala prahara cemilannya

Tak habis tanya, untuk menemukan jawab “kenapa” orang sering sekali melontarkan pertanyaan abadi nan jaya “Kapan Nikah?” Saya melihat kebiasaan ini adalah penanda sederhana; bahwa sebahagian manusia tanpa sadar sedang mempermainkan keyakinannya terhadap Tuhan. Di sisi lain, saya melihat fenomena pertanyaan “kapan Nikah” ini merupakan paradoks yang luar biasa kejamnya atas; manusia seolah percaya pada Tuhan tetapi diam-diam nan sublim manusia meragukan keberadaanNYA.

Pernah dengar pertanyaan kapan nikah? kapan punya anak? Pertanyaan ini mungkin ada yang menganggap sekedar basa-basi memula percakapan atau pelengkap saja. Tapi biasanya ia keluar secara refleks, dan yang refleks itu memuat kejujuran yang lebih tinggi ketimbang yang terencana.

Lantas pernah dengar; “Jodoh itu ditangan Tuhan”, “Anak itu karunia dari Tuhan” Maka mari kita coba komparasi antara pertanyaan dan pernyataan tersebut di atas, yang menurut saya bertolak belakang samasekali.

“Kapan Nikah? Kapan punya anak?”

Pertanyaan tersebut di atas, mencerminkan bahwa orang yang bertanya, dari alam bawah sadarnya, meyakini bahwa; Nikah (bertemu jodoh) dan punya anak adalah mutlak ketentuannya di tangan orang yang sedang ditanya nya. Sementara kalimat pernyataan :

“Jodoh di tangan Tuhan” dan “Anak itu karunia Tuhan”

Maka pernyataan tersebut di atas, mencerminkan bahwa orang yang mengeluarkan pernyataan itu, dari alam bawah sadarnya, meyakini bahwa bertemu jodoh kemudian menikah, dan soal “melahirkan anak” adalah sepenuhnya dan mutlak ketentuannya berada di dalam Kuasa Tuhan, sehingga manusia tidak ada kuasa atasnya.

Lantas, bila demikian, bila orang benar-benar meyakini adanya Tuhan dengan segala kuasaNYA itu, maka pertanyaan “kapan nikah“ dan atau “kapan punya anak itu”, tidak akan pernah ditanyakan seseorang kepada orang lain, melainkan ditanyakan kepada Tuhan, dalam doa misalnya, yang tak perlu di dengar oleh orang yang dimaksud.

Bila orang meyakini bahwa soal nikah dan atau punya anak itu mutlak di tangan manusia, maka ianya tak sepantasnya mengamini bahwa jodoh di tangan Tuhan dan anak adalah karunia dari Tuhan. Serta kalimat pernyataan ini tak seharusnya muncul.

Maka bila ditanya kapan nikah misalnya, kita mesti bertanya balik untuk mengklarifikasi pandangan si penanya, apakah ia golongan orang yang percaya bahwa jodoh itu di “tangan” Tuhan, atau ia pada golongan kedua; Ia percaya bahwa jodoh di tangan manusia.

Maka bila ia menjawab, bahwa ia percaya Jodoh di tangan Tuhan, maka sepantasnya kita mengingatkan dengan kalimat : “Tolong bantu saya, jumpailah Tuhan dan tanyakanlah langsung padaNYA, kapan ia mempertemukan saya dengan jodoh itu lalu dengan segala kuasaNYA menikahkan saya! Saya berdoa supaya kamu bersegera bertemu Tuhan secara langsung, kalau dikabulkan, saya berdoa malam ini saja kamu bertemu Tuhan.”

Bila orang yang bertanya mempercayai bahwa jodoh itu mutlak di tangan manusia, maka cukup ingatkan “Saya percaya jodoh di “tangan” Tuhan, kalau kamu nggak percaya tanyalah saya!”

Kemungkinan ngeyel, pastinya ada dari orang yang suka memerahkan muka orang lain dengan bertanya “kapan nikah?” maka boleh juga sampaikan, menikah itu bukan semudah “memilih menu jengkol rendang dari tumpukan daftar makanan yang ada di rumah makan Padang, yang pemiliknya jarang pulang bersebab tarif dasar listrik, air, dan segala harga barang suka melonjak ke atas kepala, sehingga orang tersebut terkuras selalu tabungannya, untuk membayar harga kebutuhan yang jarang sekali ia tahu apa penyebab naiknya, sementara pajak semakin tinggi saja, dan kasus korupsi nggak selesai-selesai, begitupun partai sepertinya tidak mampu menemukan orang jujur baik dan negarawan yang benar-benar mau membangun kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia, Hidup Pancasila, Merdeka!”

Mungkin ada yang berpandangan bahwa manusia wajib berupaya! Maka ini lebih berbahaya, sebab ianya menuduh orang yang ditanyanya itu, bermalas-malasan, tidak mau bergaul, tidak berupaya mencari, sekedar mengurung seluruh masa hidupnya di kamar mandi sambil gosok gigi saja pagi siang sore malam subuh hingga ketemu pagi lagi sampai tua sampai nanti mati, hidup gosok gigi! Maka orang itu perlu diingatkan bahwa menghakimi orang lain dalam pikiran adalah fitnah yang malu-malu, perlu disampaikan bahwa bukankah berburuk sangka itu tidak baik!

Atau yang paling sederhana, yang biasanya saya lakukan dan cukup efektif membungkam pertanyaan kawan-kawan saya, ialah dengan menunjukkan nomor rekening sambil mengingatkan “Nikah nggak bisa pakai daun dan orang belum bisa menguasai ilmu makan batu, sementara pesta sepertinya sudah menjadi syarat sah sebuah pernikahan.” Biasanya kalau “ditembak” uang begitu, kawan-kawan saya akan berujar “sabar-sabar ya”, see? betapa usilnya mereka itu, lempar ternak teriak maling.

Ada yang pernah nyeletuk, makanya cari yang keluarganya nggak minta syarat yang macem-macem, saya pernah menjawab dengan “Baiklah nikahkan kakakmu atau adikmu denganku!” malah dianya marah! see? betapa usilnya mereka itu, lempar jin baca ayat kursi sendiri!

Tapi begitupun, sikap yang paling baik adalah mengasihani yang bertanya, mungkin dia sedang lelah dengan hidupnya sehingga ia sedang mencari kawan lelah bersama dengan pertanyaan pemancing sehingga dapat membuka ruang curhat sendu-senduan, atau membuka peluang baginya untuk dapat menasehati dengan segala kebijaksanaan, sehingga ianya merasa di dengar, mungkin ia lelah mendengar sehingga begitu ingin di dengar segala petuahnya, sebab partai politik itu egois nggak mau mendengar rakyat jelata bin laden, maunya di dengar saja dan di puja saja. Maka memaklumi dan mengasihani itu perlu dilakukan, Oleh karenanya, ketika ada yang bertanya demikian cukup sodorkan sebotol Aqua (bukan iklan terselubung) sambil katakan: Kamu butuh Aqua! Sabar-sabar ya, dunia ini memang fana.

[]

Penulis:

Senjakalasaya // twitter: @senjakalasaya

profil

 

Bergegas Menggagas

Ada banyak yang pandai melukis dan menggambar, tapi mengapa hanya beberapa yang namanya naik dan terus dipuja dan dikenang sepanjang masa? Ada jutaan orang pandai bernyanyi tapi mengapa hanya beberapa yang bersinar sampai akhir. Tak terhingga yang pandai menulis, tapi tak banyak yang menggugah. Setiap hari jutaan manusia di bumi ini mencoba berkarya sayangnya hanya sedikit yang berhasil diperhitungkan.

Kapan terakhir kali kita mendengar kata “gagasan”. Kata yang terkubur lama oleh kata-kata semacam cita-cita dan passion. Kata yang sepertinya tak pernah ada di bangku sekolah. Yang kalau menurut KBBI dipersempit maknanya menjadi “ide”. Padahal gagasan adalah soal sudut pandang. Yang menjadi awal dari segala kehidupan dan kreasi sesudahnya. Bahkan yang melandasi ide. Lebih dekat maknanya ke alasan, tapi rasanya kurang pas. “Ah banyak alasan lo?!” Berkonotasi negatif dan cenderung pasif.

“Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang, Manusia mati meninggalkan nama.” Ini yang mengakar dalam kebudayaan kita. Padahal apalah artinya nama tanpa gagasan. Soekarno tidak menjadi Soekarno karena namanya. Tapi karena gagasannya. Demikian pula Nina Simone, Coco Chanel, dan Saridjah Niung a.k.a Ibu Sud. Mereka bukan sekedar nama, tapi gagasan. Gagasan besar yang masih hidup dan relevan sampai sekarang.

Setiap kali melihat logo CHANEL di mall eksklusif, di benak pasti muncul itu label orang kaya raya. Sangat kaya raya. Padahal, kita tak perlu mampu membeli karyanya selama kita mampu memahami gagasannya. Itu jauh lebih berguna bagi hidup kita dan sekitar ketimbang mengenakan jaket Chanel yang  legendaris.

Di Youtube ada banyak lagi interview dengan orang-orang besar yang namanya sering kita lihat, quotenya sering kita tweet, karyanya sering kita kagumi. Dari menonton interview itu kita bisa mengenali gagasannya. Sehingga kita tak lagi menjadi bangsa yang gemar mencontek hasil akhir karya mereka.

Tulisan ini berawal dari sebuah diskusi santai dengan teman-teman generasi millennials. Secara mengejutkan, di usia yang masih kepala dua menjelang tiga, mereka memiliki satu kesamaan “merasa hidup tak berarti”. Secara garis besar, mereka merasa apa gunanya hidup kalau toh kita akan mati juga.

Sebagai generasi yang melintas antara Gen X dan Millennials, bisa dibilang tantangan mereka lebih besar dalam urusan distraksi. Hampir setiap waktu yang dimiliki punya gangguan. Dulu sebelum tidur Gen X punya waktu untuk diam dan kemudian mulai berpikir apa saja, sendiri. Sekarang? Baca timeline media sosial. Belum lagi tekanan-tekanan untuk senantiasa menampilkan kehidupan yang keren di media sosial. (((SENANTIASA))). Menjadi distraksi untuk tidak lagi melihat ke dalam. Apa gagasan hidupnya? Jangankan yang muda, yang dewasa saja sulit setengah mati.

Gagasan tidak sama dengan tujuan. Gagasan adalah awal yang menjadi dasar dari sebuah tujuan. Sebelum kapal berlayar ke tujuan mana pun, gagasan yang memberikan alasan mengapa kapal harus ke tujuan tersebut. Karena memang sudah takdir? Karena kewajiban membawa penumpang yang sudah beli tiket? Atau karena ingin melancarkan perekonomian bangsa? Mendekatkan silaturahmi Lebaran? Atau karena ingin menjadi jembatan sehinga laut adalah pemersatu dan bukan pemisah antar pulau?

Ini menjadi begitu penting karena inilah nyawa dari kapal dan perjalanannya. Sehingga saat masalah datang, solusi apa yang akan diambil. Sehingga kapal tak merasa hampa karena rutinitas semata. Sehingga kapal merasa bangga akan perannya di masyarkat. Sehingga kapal tak lagi dilihat sebagai alat benda mati hasil rakitan manusia. Sehingga kapal menemukan siapa dirinya yang sebenarnya. Sehingga kapal bisa terus berfungsi sampai waktunya usai.

Ada seorang pemikir ulung di negara ini, cerdas cendekiawan, terkenal, dan ucapannya sering menjadi panutan dalam mengambil keputusan negara. Setiap kali ada orang baru yang ingin bertemu dengannya, pertanyaannya bukan apa posisinya atau di mana dia bekerja apalagi apa bintangnya? Tapi apa gagasan dia? Tanpa gagasan, bisa dipastikan orang tersebut tak akan ditemuinya. Sombong? Sah aja lah… daripada buang-buang waktu. Hare geneee…

Ini bukan pula soal gagasan besar dan kecil. Karena gagasan kecil bisa menjadi besar. Tapi tanpa gagasan, apa yang mau dibahas? Kehidupan jadi kosong seperti keluhan millennials di atas. Tak perlu jauh-jauh memikirkan cita-cita, apalagi passion, tentukan dulu apa gagasanmu.

Sebelum kamu ingin jatuh cinta, tentukan dulu apa gagasanmu. Apa pandanganmu tentang cinta, relasi, dan pernikahan. Demikian pula sebelum bekerja. Sebelum memulai hari, tanyakan apa gagasan hari ini? Terlebih sebelum kita ingin dihargai atau dipuja, tanyakan dulu apakah gagasanmu sudah pantas untuk dihargai dan dipuja?

“Gue pengen sih bikin apa gitu tapi gak tau apa dan mulainya gimana” pasti sering kita dengar. Sebelum tergesa-gesa mengikuti seminar dan kursus sana sini, atau berbincang dengan berbagai manusia di setiap sudut cafe di kota ini, ada baiknya pertanyakan dan tentukan dulu apa gagasanmu?

Sudah terlalu membosankan untuk dengar “let it flow ajalah…. mengalir”. Seorang teman dekat berkata “tai di sungai juga mengalir…”. Hidup tanpa gagasan itu tai. Tentukan sekarang. Sebentar lagi mati.