Sehabis Main Catur

 

“Aku suka sama kamu.”

“Aku juga suka sama kamu.”

“Ih, aku serius!”

“Tapi, kamu kan cowok?”

“Ya, memangnya kenapa?”

“LGBT dong?”

“Cowok suka sama cowok itu G doang, Gay, masa diborong semua. Kenapa memangnya?”

“Aku gak bisa. Aku N.”

“N?”

“Normal.”

“Apa sih, yang nggak normal dari mencintai seseorang?”

“Cinta itu harus berpasangan. Cowok ya sama cewek. Gak bisa cowok dua-duanya, dong.”

“Kata siapa gak bisa?”

“Ya enggak bisa, lah. Cowok sama cowok bisa apa? Emangnya mau adu pedang?”

“Gak kreatif amat. Cowok kan juga punya lubang.”

“Tapi cowok dadanya datar, gak enak dipegang.”

“Oh, jadi ini masalahnya hanya di bentuk badan? Kamu gak bisa suka sama aku karena aku gak punya susu dan vagina?”

“Salah satunya, ya.”

“Kamu sepertinya masih belum bisa bedain cinta sama nafsu.”

“Haha. Memangnya ada yang bisa? Gak usah sok suci. Apa kamu bisa suka sama cowok yang ternyata gak bisa ereksi?”

“Apa aku pernah mengecek penismu bisa ereksi atau enggak? Nyatanya aku tetap suka.”

“Ngaku deh, kamu pernah kan membayangkan kita berdua bersama di kamar, saling melampiaskan hasrat seksual?”

“Ya pernahlah. Tapi isi pikiranku bukan hanya soal itu. Aku malah lebih suka membayangkan kita main catur di taman sambil menunggu matahari terbenam. Lagi pula jika kamu ternyata memang tak bisa ereksi, kamu tak usah khawatir, aku bisa urus diriku sendiri.”

“Enak saja! Aku masih sehat lahir batin. Masalahnya, aku cuma bisa sama perempuan bukan sama laki-laki kayak kamu.”

“Yakin? Kan belum pernah coba.”

“Memangnya kamu pernah coba sama perempuan?”

“Pernah.”

“Bohong.”

“Gak perlu tanya kalau gak akan percaya.”

“Terus rasanya gimana?”

“Kok nanya? Memangnya kamu gak tahu? Jangan-jangan kamu masih perjaka.”

“Ya enggak, lah. Tapi tadi kan kamu bilang kamu gay.”

“Aku sekarang gay, dulu enggak.”

“Memangnya yang seperti itu bisa berubah-ubah? Dulu normal sekarang gay, terus normal lagi?”

“Cowok suka sama cewek itu istilahnya heteroseksual, straight, bukan normal.”

“Tapi itu kenyataannya, yang normal itu ya cowok suka sama cewek, bukan LGBT.”

“Bukan normal, tapi dianggap normal. Sesuatu yang dianggap normal belum tentu betulan normal. Bagiku, hal seperti ini tak sepantasnya dilabeli dengan normal atau tidak normal, semuanya natural.”

“Ya sudah, terserah. Kamu belum jawab pertanyaanku.”

“Yang mana?”

“Orientasi seksual bisa diganti?”

“Aku percaya seksualitas itu cair.”

“Sejak kapan kamu berubah jadi gay?”

“Aku gak berubah jadi gay. Dulu juga aku gak pernah memutuskan untuk menjadi straight. Bedanya, dulu aku mencintai seorang perempuan. Perempuan itu pergi lalu aku ketemu kamu. Dan kemudian kamu membuat aku jatuh cinta. Maka sekarang aku mencintai kamu, yang kebetulan adalah seorang laki-laki.”

“Bilang saja ACDC.”

“Aku bukan colokan listrik. Mungkin orang akan menyebut aku B, biseksual. Tapi aku tak percaya bahwa cinta dan orientasi seksual perlu dilabeli atau dibatasi dengan kriteria. Aku jatuh cinta bukan pada penis atau vagina. Aku jatuh cinta pada sifat dan kualitas diri yang melampaui batas feminin-maskulin.”

“Ah, aku tak percaya. Memangnya kamu bakal masih suka sama aku kalau aku sekarang berubah jadi perempuan? Dua telur di selangkanganku akan hilang dan berganti menjadi dua buah gundukan di dada. Kumis dan jambangku akan hilang, dan sebagai gantinya rambutku akan tumbuh panjang. Suaraku yang agak parau ini akan terdengar halus dan cempreng. Tanganku yang kekar berbulu bakal jadi halus dan kecil. Mau?”

“Mungkin aku akan berhenti mencintaimu jika kamu kehilangan selera humor dan berubah menjadi orang menyebalkan. Jika dengan tubuh perempuanmu itu kamu masih bisa membuatku tersenyum, menemaniku main catur, dan selalu punya cara untuk menertawakan hidup, aku bakal tetap suka sama kamu.”

“Kamu gak tahu apa yang kamu omongin. Aku gak yakin kamu bisa betulan bersikap seperti itu.”

“Itulah susahnya berandai-andai, gak bisa dibuktikan. Aku lebih suka mengakui perasaanku saat ini. Aku suka kamu.”

“Aku sudah punya pacar.”

“Lalu?”

“Ya kita gak bisa pacaran.”

“Kalau kamu jomblo berarti kita bisa pacaran?”

“Bisa aja.”

“Memangnya kamu suka sama aku?”

“Ya, aku suka.”

“Sejak kapan?”

“Barusan.”

“Yakin? Aku masih belum berubah jadi perempuan, loh. Dadaku masih rata dan lubangku masih ada di belakang.”

“Memang belum. Tapi barusan kamu berhasil membuatku suka.”

“Sayangnya kamu sudah punya pacar.”

“Iya, dan aku yakin kamu tak suka lelaki tukang selingkuh.”

“Benar. Aku juga tak mau jadi simpanan atau perusak hubungan orang.”

“Lalu kenapa tadi kamu bilang suka aku?”

“Lah, memangnya kenapa? Aku kan cuma bilang. Tujuan aku bilang itu supaya kamu tahu aku suka, bukan supaya perasaanku dibalas.”

“Apa enaknya suka sama orang tapi gak bisa pacaran? Mending cari yang lain.”

“Aku gak pernah sengaja cari kamu cuma supaya aku bisa jatuh cinta lalu berharap perasaanku dibalas, terus kita pacaran dan hidup bahagia selamanya. Bukan begitu kejadiannya. Kita bertemu, kenalan, berinteraksi, kemudian aku suka. Dan rasa sukaku saat ini gak akan berubah, entah kamu suka aku juga atau enggak. Kamu pun gak perlu merasa dosa, toh wajib itu kan salat, bukan balas perasaan orang.”

“Emang kamu gak patah hati?”

“Kamu ngarep aku patah hati gara-gara kamu?”

“Sedikit.”

“Aku patah hati.”

“Ya sudah. Berhenti suka sama aku. Bergaul sama orang lain, siapa tahu kamu ketemu orang yang bisa bikin kamu suka, dia juga sama kamu, dan belum punya pacar. Supaya kamu bahagia.”

“Kata siapa sekarang aku gak bahagia?”

“Memangnya ada orang yang patah hati tapi bahagia?”

“Aku patah hati karena aku jatuh cinta. Dan mencintai seseorang itu rasanya menyenangkan sekali, sakit karena patah hati jadi gak terlalu signifikan.”

“Kamu lagi berusaha bikin aku suka sama kamu, ya? Omonganmu gombal semua.”

“Bukannya tadi memang sudah suka?”

“Iya, tapi tadi sukanya sedikit, sekarang jadi banyak.”

“Ya sudah, aku pulang dulu. Jangan sampai kamu pergi dari pacar kamu gara-gara aku.”

“Besok ke sini lagi? Kita main catur lagi.”

“Oke, besok jam berapa pacarmu pulang?”

“Aku akan mengantarnya pulang jam delapan malam. Sehabis itu, kita bisa main catur semalaman.”

“Oke.”

“Aku suka kamu.”

“Hei, kamu sudah punya pacar.”

“Saling suka gak perlu bikin kita terjebak dalam status pacaran, kan?”

“Tentu.”

[]

Penulis:

Yoga Palwaguna /

Twitter: @ypalwaguna

Yoga Palwaguna, seorang penyendiri yang telah lama jatuh cinta pada menulis dan membaca. Saat ini aktif di komunitas literasi Kawah.

SaveSave

Advertisements

Pokoknya Marah Dulu

“Kepada penumpang Sitiling kami informasikan pesawat Anda ditunda keberangkatannya…” sayup-sayup suara pengumuman itu menghilang di kepala saya. Satu setengah jam tertunda, ya sudah. Sepertinya ini bukan peristiwa langka di seluruh dunia. Segera saya kabarkan pihak di kota yang dituju. Supaya tak menunggu terlalu lama. Mati Baik-Baik Kawan –  Martin Aleida saya keluarkan dari tas punggung yang selalu menemani di setiap perjalanan. Tapi baru halaman 4, maaf Martin, kali ini godaan untuk membuka Instagram lebih kuat. Beberapa foto saya posting sambil menonton IG Story orang-orang favorit yang memang langsung sukses membuat saya tersenyum sendiri.

Setelah bosan, saya melanjutkan membuka Facebook untuk menemukan tautan menarik. Sambil membaca, seketika saya merasa sebenarnya sudah lama saya tak mengalami ini. Sendirian tanpa gangguan sama sekali. Di sini tak ada yang bisa menemui saya. Kalau pun mencari saya, pastinya tidak bisa langsung ditemui. Saya mendadak terisolasi dan saya sangat menikmatinya. Jaz menemani saat langka ini. Entah sudah berapa kali berputar Dari Mata saya tak peduli. Saya pun menghilang.

Sampai kandung kemih yang merintih menemukan saya kembali. Saya pun membenahi tas. Begitu membalikkan badan, saya terkejut menyaksikan kerumunan penumpang di depan meja resepsionis. Di balik meja itu ada seorang kru darat yang terduduk sambil menatap kosong komputer di depannya.

“Saya ini kan pilih Sitiling karena katanya on time, lah kalo tiba-tiba begini gimana pertanggung jawabannya?” Hardik seorang Ibu yang pakaiannya tampak lebih terhormat dari rata-rata manusia di bumi.

“Mana managernya, mana?!!!” teriak seorang pemuda.

Sudah jalan ke sini” jawab kru itu.

“Jangan jalan dong, lari! Lari!!!” Teriak pemuda itu lagi.

Selintas percakapan yang saya dengar tentunya dengan intonasi marah. Seorang penjaga kamar kecil yang menonton kejadian itu, saya tanyai “kenapa itu pak?”

“Ya itu pesawat terlambat” jawabnya.

“Dari tadi ini?” tanya saya lagi.

“Iya pas pengumuman, langsung pada ngumpul”.

Sambil melepaskan beban kandung kemih tadi saya bertanya dalam hati, emang kalo marah-marah bisa bikin pesawat jadi tepat waktu? Bisa dapat ganti rugi semua biaya tiket? Toh sesuai perjanjian tertulis, makanan dan minuman ringan telah disediakan. Tapi dari wajah para penumpang itu saya bisa melihat kebahagiaan dan kepuasan melampiaskan amarahnya. Mungkin ini salah satu bentuk kekecewaan saja.

“Ditanyain cuma iya-iya aja, minta maaf pun enggak” gerutu seorang penumpang lagi. Kenapa kru itu harus minta maaf? Pesawat terlambat bukan karena kesalahannya. Kalau pun dia minta maaf maka itu hanya formalitas. Dan saat pengumuman keterlambatan, permintaan maaf formal kan sudah disampaikan. Harus berapa kali minta maaf?

Tak berapa lama panggilan untuk masuk ke pesawat berkumandang. Saya pun bergegas menuju gerbang itu. Yang ternyata sudah dipenuhi penumpang mengantri masuk pesawat. Sambil berdiri mengantri tiba-tiba terdengar suara tak sabar di belakang saya “buruan, buruan!!!”. Saya melihat ke arah bapak itu dan mempersilakannya maju ke depan saya. Ini kan bukan urusan siapa cepat dia dapat. Semua pasti kebagian kursi. Nomor kursi sudah tertera di boarding pass. Masuk pertama atau belakangan, tak ada bedanya.

Perjalanan di angkasa berjalan dengan lancar. Sampai setelah pesawat berhenti, belum lagi ada aba-aba dari kru pesawat, para penumpang segera berdiri mengambil tas dan seolah berebut hendak keluar pesawat. Tadi mau buru-buru masuk pesawat sekarang mau buru-buru keluar pesawat. 

Ada apa gerangan? Jangan-jangan saya yang selama ini kelewat santai.

Setelah keluar pesawat, saya pun menuju ban berjalan menanti barang saya. Dan benar saja, hampir semua penumpang yang tadi ingin buru-buru keluar, sekarang berdiri di depan ban itu juga. Keluar pesawat duluan tak berarti barang keluar duluan. Bahkan saat semua penumpang sudah menunggu pun barang belum tentu bisa langsung keluar. Lalu apa gunanya berebutan keluar pesawat? Tak bisakah menjalaninya dengan kalem saja?

Sesampainya di kamar hotel, saat sedang bebersih untuk mempersiapkan acara hari itu, tiba-tiba AC bocor dan airnya jatuh di lantai berkarpet. Dalam perjalanan keluar saya sempatkan mampir ke resepsionis untuk melaporkan. “Airnya jatuh ke karpet, kalau basah kan repot bisa bau sekamar nanti” saya melapor. “Baik Pak, akan segera saya periksa”. Saya pun pergi melanjutkan aktivitas hari itu sampai menjelang malam. 

Saat di lift balik kamar, bersama dengan saya seorang tamu dan seorang karyawan hotel yang mengenakan jas. Tamu itu berbicara dengan pitch tinggi “saya kan udah bayar ini hotel mahal Pak, masa AC kamar bisa bocor beggitu? Hotel apa’an sih ini? Bapak managernya kan? Urus yang becus dong Pak! Kita udah capek di jalan, sampe kamar kok malah dibeginiin!!!” Saya mendengarkan sambil memutar mutarkan kepala saya untuk pelemasan saja.

Kejadian-kejadian ini sepertinya sering kita temui sehari-hari. Melihat orang yang marah-marah untuk banyak hal. Bukan hanya urusan macet, yang pastinya marah tak akan bisa menyelesaikannya, tapi juga urusan kopi yang disajikan kurang panas atau kepanasan, sampai soal standar sopan santun seorang menteri. 

Saya mendapatkan impresi, semua hal bisa jadi alasan untuk melampiaskan kemarahan. Marah demi memuaskan diri sendiri atau marah supaya bisa memperbaiki keadaan, semakin lama semakin buyar garisannya. Semua berhak marah dan saya sedang tidak berusaha menghentikan itu. Marah adalah hak segala bangsa. Yang lucu sebenarnya, yang marah jadi bertambah marah karena yang lain tak ikut marah. Ha. Ha. Ha.

Hidup diantara para sumbu pendek, pastinya bukan perkara mudah. Godaan untuk ikut marah itu besar sekali. Dan jangan dikira yang tak marah itu tak kesal. Bukan berarti pula yang tak marah artinya diam saja. Perbedaannya mungkin, ada yang marah dengan cara yang lebih bersahabat dengan tensi dan jantung. Marah pun ternyata ada tingkatannya. Marah langsung jotos, ini paling primitif dan yang tertinggi adalah marah dengan diam.

Tidak semua kemarahan itu mubazir, banyak yang ada gunanya. Kemarahan bisa memperbaiki keadaan, bisa memberikan energi untuk berkarya, semangat untuk berolah raga, dan banyak lagi bukti nyata yang diakui dunia bersumber dari kemarahan. 

Seperti kemarahan pejalan kaki karena trotoar dipakai oleh kendaran roda dua. Atau warga yang marah karena ketua RT diduga melakukan korupsi. Atau kemarahan mahasiswa karena dikekang sebuah orde pemerintahan. Bahkan ada masanya para seniman di tanah air kita didorong untuk marah sebagai simbol perlawanan. 

Alanis Morissette, Pink, Taylor Swift dan Beyonce pernah meraih ketenaran karena lagu tentang kemarahan. Picasso, Roy Lichtenstein, Francis Bacon, pelukis yang karyanya sering didasari pada kemarahan. Favorit saya tentunya Banksy, marah pada situasi politik yang disampaikan dengan cara ciamik. Sayang kan kalau kemarahan terbuang percuma bersama angin. Setidaknya jadikanlah tulisan.

Marah bukanlah musuh tapi perlu belajar untuk disampaikan dan disalurkan dengan cara cerdas. Kalau sekedar marah-marah saja, saya punya teori disebabkan oleh kurang seks dan atau kurang gula. Kemudian beberapa teman menambahkan, kurang makan, kurang uang, kurang olahraga, kurang pengakuan, kurang perhatian sampai kurang serat sehingga tak bisa pup, bisa jadi penyebab gampang marah.

Kurang seks, karena saya yakin seks adalah kebutuhan dasar manusia. Sama seperti makan. Jadi kalo itu kurang, bisa menyebabkan kegelisahan. Kurang gula, karena gula bisa bikin bahagia. Kurang olahraga, karena energi dalam tubuhnya bertumpuk sehingga butuh penyaluran. Kurang pengakuan, sama seperti seks, pengakuan dan perhatian adalah kebutuhan dasar. Dan berbagai kurang-kurang lainnya yang membawa kita pada satu kesimpulan: sebelum mengambil hak untuk marah-marah, selesaikan dulu kewajiban untuk memenuhi segala kekurangan.

 

 

Susilo Prabowo Dua Anak Cowok Yang Sedang Jomblo

Kuasa adalah hak untuk melakukan sesuatu. Juga dapat diartikan kekuatan atau kesanggupan. Mampu. Sanggup.

Surat Kuasa berarti memberikan hak kepada orang lain melakukan sesuatu atas nama pemberi kuasa.

Penguasa mendapatkan kekuasaannya atas amanah rakyat. Pemberi kuasa adalah rakyat. Lalu mengapa pemberian kuasa ini diperebutkan? Mengapa perebutan kekuasaan lebih menarik daripada memberikan kekuasaan?

Tidak ada kewajiban sama sekali dari warga negara untuk memberikan kuasa kepada wakilnya atau memilih pemimpinnya, karena itu adalah hak. Namun menjadi kewajiban bagi warga untuk mentaati pemimpin. Merupakan konsekuensi logis jika kita tak menggunakan hak kita dalam memilih pemimpin adalah bentuk pasrah (atau tidak peduli) siapapun pemimpinnya, namun berjanji akan mentaati siapapun yang nantinya jadi pemimpin.

Oleh karena itu memilih pemimpin adalah mitigasi risiko atas kemungkinan potensi kerugian atas terpilihnya pemimpin yang merugikan.

Sesuatu yang menjadi aneh adalah jika bukan pemimpin dan terbukti tidak memiliki hak untuk memimpin seolah-olah merasa menjadi pemimpin dan bertingkah laku bagai pemimpin dan merasa memiliki hak untuk memimpin.

Susilo bertemu dengan Prabowo. Susilo pernah memimpin. Prabowo masih pemimpi. Lalu seaakan-akan pertemuan mereka adalah sesuatu yang penting. Memberikan manfaat bagi warga?

Dua orang mantan militer ini seolah-olah memiliki keyakinan bahwa negeri yang makmur dan diberkahi kekayaan alam oleh Tuhan ini dapat disiasati dan diatur kekuasaannya oleh mereka berdua. Dua orang tua ini bagi kita sama saja dengan dua orang petani yang sedang bercengkrama di kedai saat rehat makan siang. Tidak ada yang istimewa. Susilo sudah pernah kita icipi bagaimana cara dia memimpin. Prabowo ndak perlu kita icipi karena yang dia sajikan bukan selera kita. Mereka lupa bahwa warga sedang memberikan haknya kepada yang lain. Seorang sipil yang sederhana. Atau justru itu yang terbawa mimpi oleh mereka, mengapa pemimpin sipil justru yang memimpin. Atau jangan-jangan mereka sedang memastikan junior militer mereka, Gatot bisa digadang-gadang untuk memimpin negeri ini asalkan ndak lupa dengan senior sesama kaum militer.

Dalam benak mereka status militer masih saja lebih tinggi kastanya dari anak cungkring kurus kering lulusan universitas negeri. Bagi mereka lebih gagah yang pernah berbaris rapi dan paham menggunakan senjata untuk memimpin negeri dibandingkan yang lebih senang duduk bersama petani.

Sedangkan Jokowi adalah pemimpin saat ini. Dia sedang sibuk bekerja.

Pemimpin negeri ini bukan saja harus pandai menentukan bauran kebijakan dari berbagai sektor. Dia kudu cepat belajar dan paham kebijakan fiskal, penanganan defisit neraca pembayaran, paham pemanfaatan sumber energi, manajemen sektor riil yang sungguh berkaitan dengan sektor swasta dan ekonomi rumah tangga, tahu pentingnya UMKM buat negeri ini. Yang dapat memerintahkan menteri agar tak hanya bicara blokir namun menggenjot infrastruktur telekomunikasi agar pelosok nusantara semuanya diliputi sinyal jaringan, semuanya bisa belanja online, semuanya bisa main facebook, semuanya bisa memanfaatkan kekayaan alam digital.

Karena kekuasaan tidak melulu menggunakan jas, dasi, foto dengan banyak pemimpin negeri dan berorasi di fora internasional. Kekuasaan ini ada di harga cabai, beras dan ikan cakalang. Ada pada ketersediaan bahan pokok. Juga ada pada tabung elpiji yang menjadi urat nadi ekonomi pinggir jalan.

Karena kekuasaan tidak hanya pada kacamata hitam, sisiran rapi dan sasak rambut sang istri yang begitu tinggi. Kekuasaan dan kemampuan memimpin negeri juga ada pada soal koordinasi. Bagaimana mengembangkan tol laut sebagai sarana lalu lintas perekonomian yang penting bagi negeri ini. Bagaimana menyikapi pencurian ikan yang selama ini dibiarkan. Juga koperasi dan bank kecil yang tidak berpihak kepada ekonomi rakyat.

Karena kekuasaan tidak hanya bicara naik mobil sedan warna hitam, dikawal oleh sederetan polisi perut buncit. Kekuasaan juga adalah koordinasi memastikan banyak hal soal ekonomi canggih. Dia ada pada naik turunnya harga saham, jumlah investasi langsung dari luar negeri atau laku tidaknya surat utang negara kita. Kekuasaan juga bicara seberapa banyak ketersediaan uang yang dimiliki setiap lembaga keuangan. Terlebih lagi, bukan hanya bicara gedenya cadangan devisa kita, melainkan sudah mapankan fundamental ekonomi kita.

Kekuasaan tidak hanya bicara berapa kuota haji kita, melainkan memastikan bahwa kehidupan beragama telah selayaknya menjadi anugerah bagi alam raya bumi pertiwi. Apakah tetap dibiarkan jika grafik kenaikan jamaah haji sejalan dengan jumlah korupsi di negeri ini? Mengapa banyak pemimpin yang lebih sering cuti umroh dibandingkan pemimpin yang meninggalkan keluarganya untuk menengok rakyatnya bekerja dan memberi semangat bahwa hari esok akan semakin cerah. Biar lelah asal berkah.

Karena kekuasaan tidak hanya membuat banyak undang-undang dan segala macam aturan yang saling tumpang tindih bertabrakan kocar kacir ndak karuan. Karena  kebijakan yang baik adalah hasil dari pengamatan dan pengalaman yang telah dikoordinasikan. Pemimpin yang tak membusungkan dada. Pemimpin yang dapat memilih perangkat anak buah yang sehat jasmani rohani dan tidak hanya bicara menumpuk pundi-pundi harta untuk anak istri atau untuk suami. Pemimpin yang ndak jaim dan berjarak dengan siapapun juga.

This slideshow requires JavaScript.

Pemimpin tidak perlu pamer seberapa dekat ia dengan tuhan. Tapi ia harus menunjukkan seberapa intim dirinya dengan warga. Tidak hanya soal keberpihakan, namun jauh lebih dari itu: Senyum seluruh warga adalah mimpinya yang tersimpan rapi di dalam hati.

salam anget,

roy

Capres 2024

 

 

Apa Hati Kita Perlu Ikut Berperang Saat Menonton Film Perang?

Dear Mr. Nolan,
I’m sorry.
It’s not you.
It’s me.

Setengah mati (maaf, bukan bermaksud sengaja) saya berusaha mencintai film Dunkirk. Sampai tiga kali saya mencoba mencintainya.
Namun apa daya, perasaan penuh kasih itu tidak kunjung datang jua.

Ya, sampai tiga kali.

Yang pertama, terjadi akhir pekan lalu.
Menuju bioskop dengan perasaan berdebar. Penantian hampir setahun akhirnya datang juga.

Namun apa yang terjadi?
Dari momen-momen awal film, saya terkejut. Tiba-tiba saja banyak pertanyaan berkecamuk di dalam dada dan kepala. Pertanyaan-pertanyaan seperti, “Ini siapa? Kenapa mereka bertingkah laku seperti itu? Kenapa saya malah sibuk memperhatikan tata musik dengan irama dan tabuhan yang menggelora dan membahana … Wait a minute. Ini pasti Hans Zimmer! Lalu sinematografinya kok mirip kayak yang di Interstellar ya di beberapa adegan, terutama tone warnanya … Wait a minute. Ini pasti si Hoytema – Hoytema itu. Aduh, kenapa jadi nggak konsen gini sih?”

Keluar dari bioskop, saya merasa underwhelmed. Terlalu sibuk terkesima dengan elemen-elemen teknis, saya gagal menyatukan kesemuanya dalam mata saya sebagai satu kesatuan gambar yang utuh. Or did I really fail?

Salah satu film bertema perang favorit: Twelve O’Clock High, produksi tahun 1949. (source: channelawesome.com)

Lalu langkah kaki ini memutuskan untuk menenangkan diri sambil makan di kedai terdekat. Paling tidak ada jeda waktu, sebelum masuk ke dalam bioskop menonton War for the Planet of the Apes. Tidak seperti film sebelumnya, saya malah tersenyum sepanjang film ini. Padahal sudah lewat tengah malam. Namun mata nyaris tak mau berkedip, berpaling dari layar, meskipun banyak adegan keras.

Saya pulang dengan rasa senang atas film yang baru saja ditonton, tapi masih penasaran dengan film yang sebelumnya. Akhirnya saya putuskan, mungkin ada yang salah dengan saya, yang tidak menyukai film Nolan kali ini. Saya protes ke diri sendiri, “Nggak mungkin! Wong dulu keluar dari nonton Inception langsung sumringah kayak fanboy lagi kelojotan, kok!”

Masuk tontonan yang kedua di hari berikutnya. Kali ini di layar lebar yang lebih besar. Mulai memalingkan sisi teknis. Berusaha konsentrasi ke cerita. Mulai “ngeh” struktur cerita yang ada. “Oh, begini, tho. Gaya penceritaannya tidak linear, atau tidak lurus. Oke. Fine. Tapi dari tadi kenapa nggak ada karakter yang nyantol di kepala ya?”

Alih-alih konsentrasi ke film, yang ada malah benak saya berputar-putar mengingat-ingat beberapa film perang yang pernah ditonton selama ini. Malah sempat saya berpikir, “Apa karena kebanyakan nonton film selama ini, jadi gak bisa menikmati film ini ya?”

Salah satu film perang paling puitis, meditatif, tapi langsung “kena”: The Thin Red Line, rilis tahun 1998. (source: sinematorler.blogspot.com)

Selesai film, masih merasa aneh sendiri. Lalu baru ngeh, “Padahal semua film Christopher Nolan pasti ditonton lebih dari sekali di bioskop. Dan itu juga karena semuanya gue suka, termasuk Insomnia sama The Prestige yang sebenarnya just okay lah. Tapi kok yang ini …”

Dengan memegang pedoman “the third time’s the charm”, maka keesokan harinya, bergegas saya menonton Dunkirk untuk ketiga kalinya dalam tiga hari di layar yang masih lebar.
Hasilnya? Jidat saya makin lebar, karena masih kebanyakan berpikir. Masih belum puas. Malah sempat protes, “Kenapa adegan one-take, single-tracking yang panjang selama 5 menit di film Atonement bisa efektif mengungkap suasana horor di Dunkirk?”

Dan sepertinya, sampai nonton film terbaru Nolan ini beberapa kali pun dalam waktu dekat, paling tidak sampai 2 minggu ke depan, hasilnya masih akan tetap sama: this time, I’m falling out love.

I’m sorry, Mr. Nolan.
It’s not you.
It’s me.

Keputusan saya akhirnya menganggap Dunkirk tak ubahnya sebagai karya seni yang bisa saya kagumi, tapi tidak bisa saya sukai, apalagi dicintai.

Genre film perang memang bukan genre film yang lantas muncul paling atas kalau ditanya “jenis film favoritmu apa?” ke saya.
Tapi dari sedikit film perang yang saya tonton selama ini, paling tidak ada satu hal di semua film-film itu yang membuat saya betah menontonnya.

Manusia dalam cerita film, atau karakter.

Terus terang, saya tidak bisa berempati pada karakter-karakter di Dunkirk, despite their based-on-real-life. Terasa dingin, sedingin tatapan Nolan dan beberapa appraisal terhadap karakter-karakter di film-film Nolan yang katanya dingin.

Taruhlah memang karakter di Dunkirk memang ‘dibuat’ dingin dan berjarak, berhubung sutradaranya ‘dingin dan berjarak’. Dengan pendapat ini, maka saya tak berhenti berpikir: bukankah almarhum Stanley Kubrick juga tidak kalah dingin, namun dia bisa membuat film anti-war humanis dalam Paths of Glory (1957)?

Paths of Glory (source: IMDB.com)

Mungkin tidak adil membandingkannya, apalagi dengan ada biased opinion bahwa film Paths of Glory memang salah satu film favorit saya sepanjang masa. Toh memang sejatinya a film shall stand on its own, incomparable to others. Tapi sebagai penonton, mau tak mau ada subyektifitas perbandingan saat menonton dua atau lebih karya visual dengan tema atau setting cerita yang sama.

Sepulang menonton Dunkirk, saya menonton ulang beberapa film perang. Saya ingin memastikan, apakah sensasinya sama seperti film Nolan ini.

Yang pertama, The Bridge on the River Kwai (1957). Mungkin lebih dari 17 tahun sudah tidak menonton film ini. Tapi dengan alur yang lambat untuk tontonan masa sekarang, saya masih betah mengikuti ceritanya. Masih kagum dengan bahasa tubuh Alec Guinness sebagai komandan yang terlucuti. Masih gregetan dengan karakter-karakter di film ini.

Jauh sebelum jadi Jedi, Alec Guinnes gave his finest hour in The Bridge on the River Kwai. (source: sky.com)

Lalu saya menonton Das Boot (1981), film Jerman karya Wolfgang Petersen yang mengisahkan tentang usaha kru kapal selam Jerman (U-boat) di Perang Dunia ke-2 untuk menyelesaikan misi mereka, dan bertahan hidup. Terus terang dulu saya pernah menonton film ini waktu kecil, dan tidak selesai. Waktu akhirnya puluhan tahun kemudian saya menonton film ini sampai selesai, tak sadar saya tepuk tangan, meskipun nonton di ruang tamu sendirian.

Das Boot (source: blog.ricecracker.net)

Film berikutnya yang saya tonton ulang adalah Letters from Iwo Jima (2006) karya sutradara Clint Eastwood. Sepuluh tahun yang lalu, saya menonton dengan terburu-buru. Banyak detil adegan yang tak tertangkap. Sepuluh tahun kemudian, saya melihat lagi film ini, dan menerimanya sebagai studi karakter yang sangat multi-dimensional.

Ken Watanabe di Letters from Iwo Jima (source: minnyapple.com)

Terakhir saya menemukan film lama yang belum pernah saya tonton di rak film: In Which We Serve (1942). Film ini tanpa tedeng aling-aling menegaskan diri sebagai film perang propaganda, yang memang dibuat untuk membangkitkan moral tentara Inggris waktu itu. Berbicara tentang propaganda, bukankah Dunkirk juga demikian adanya? Dengan fokus kepada pasukan Inggris di Perang Dunia II, film In Which We Serve secara berani menampilkan efek menakutkan sebuah perang besar dalam kehidupan sehari-hari, meskipun payung besar ceritanya adalah perjalanan kapal perang Inggris.

Ada beberapa bagian dalam film In Which yang mau tidak mau mengingatkan saya pada beberapa bagian di film Dunkirk. Adegan para tentara terombang-ambing di laut, misalnya. Dan tentu saja bagian cerita dari In Which juga berkisar seputar penyelamatan tentara di Dunkirk.

In Which We Serve (source: movie-mine.com)

Kalau boleh jujur, ini mungkin pertama kalinya saya bisa nonton satu film selama tiga kali berturut-turut bukan karena suka sama filmnya. Justru sebaliknya. Dan rasa ketidaksukaan itu membuat saya semakin penasaran, sampai mencari film-film pembanding lain sebagai visual analysis companion.

Toh tidak suka bukan berarti benci. Hate is too strong of a word when it comes to work of art. In fact, most of the times, I hate the word ‘hate’. Buat saya, Dunkirk adalah, lagi-lagi, karya seni yang dibuat dengan perhitungan cermat dan matang oleh pembuatnya. Setiap elemen teknisnya sempurna on their own. Tapi yang saya rasakan adalah the great emotional distance, yang tidak saya rasakan saat menonton film-film macam Saving Private Ryan, atau The Thin Red Line.

In fact, dua film itu, bersama film-film lain yang disebut di atas dan yang tidak disebut, terus menari-nari sepanjang nonton Dunkirk. Seakan-akan saya mencoba mencari paralel potongan adegan tertentu di film-film bertema perang yang pernah saya tonton. Mendengarkannya saja sudah capek, bukan?

Sementara kebalikannya, saya tidak berpikir apa-apa saat menonton War for the Planet of the Apes. Sangat menikmati setiap curves and turns di penceritaannya, meskipun sudah tahu arah ceritanya. Tetapi begitu googling informasi filmnya, saya terkejut membaca bahwa sutradara dan penulis naskahnya, Matt Reeves dan Mark Bomback, menghabiskan banyak waktu menonton film-film lama, di luar trilogi Apes yang asli, untuk mendapatkan inspirasi cerita.

War for the Planet of the Apes (source: empireonline.com)

Lalu saya mengingat-ingat lagi, dan sadar bahwa memang ada bagian-bagian cerita di War for the Planet of the Apes ini yang diambil dari film-film John Wayne. Toh yang kita lihat di layar lebar adalah film yang utuh, baik visualisasi maupun penceritaan, yang mampu meramu semua elemen-elemen teknis melebur menjadi satu kesatuan yang cadas dan cerdas.

Christopher Nolan memang mengambil resiko artistik yang besar di setiap filmnya. Mungkin Dunkirk yang paling besar. Mungkin juga yang paling personal, walaupun ini hanya asumsi belaka. Dan setiap seniman yang mampu mengambil resiko artistik yang rapuh dan rentan perlu kita apresiasi. Meskipun apresiasi itu datangnya tidak sepenuh hati.

So, dear Mr. Nolan,
It’s not me.
It’s you.
It’s always you we respect the most.
And sometimes, respect comes from a distance.

Dunkirk (source: Youtube)

Berburu Pembenaran

SELALU terasa nikmat dan menyenangkan (atau paling tidak pernah tahu bagaimana rasanya), ketika ucapan dan perbuatan kita mendapat pembenaran atau pembelaan.

Perasaan menyenangkan itu membekas dalam ingatan sejak dulu, setelah pertama kalinya merasakan “dibela” waktu masih kecil. Saking nikmatnya sampai-sampai tanpa sadar menjadi semacam kecanduan, membuat kita selalu mencari dan berusaha mendapatkan pembenaran dari mana saja.

Kembali ke waktu kecil, kita yang masih bocah biasanya akan datang ke mama/papa/om/tante/kakek/nenek sambil merengek atau mewek. Kebiasaan itu berlanjut setelah dewasa, ketika kita mencari pembenaran dan pembelaan dari sesama manusia, maupun dari buku-buku, teori-teori, dalil-dalil, juga anggapan-anggapan.

Pembenaran menjadi candu karena memberikan validasi, menjadi tameng (untuk mempertahankan) ego, atau bahkan “lubricative arguments” yang membuat kita merasa sudah sangat benar sehingga tidak akan bisa dibantah atau disalahkan. Seolah mempersilakan kita mengatakan kepada orang lain: “Tuh, kan. Gue bilang juga apa. Jangan sotoy deh kalo sama gue” atau “Habisnya dia begini dan begitu sih…” sambil berkacak pinggang.

Mengutip Mas Roy pagi tadi, beberapa contoh lainnya semisal:

“Pakai rok mini, berarti boleh dicolek dong.”
“Pagi hari susah dicari di meja kerja, kan lagi ibadah pagi.”
“Rumah di Bekasi, boleh datang telat dong.”
“Sudah sekolah tinggi, urusan pangkat gua duluan dong.”

Pembenaran untuk hal-hal yang tidak sepatutnya.

Celana pendek dan paha tidak bisa dijadikan pembenaran untuk melakukan pelecehan. Foto: The Odyssey Online

Mungkin seperti itu rasanya kalau jadi invincible, kebal, sakti mandraguna. Terkondisi untuk menjadi pongah dan angkuh. Ditambah lagi, dalam konteks ini pembenaran memiliki konotasi negatif. Pembenaran dimaknai sebagai membenar-benarkan sesuatu yang salah. Saya yakin para ahli bahasa Indonesia pasti punya penjelasannya.

Apabila tidak mendapatkan pembenaran atau pembelaan yang diinginkan, kita cenderung akan membuatnya sendiri. Tepat/tidaknya, logis/tidaknya, patut/tidaknya pembenaran yang kita buat, bergantung sepenuhnya pada kedalaman berpikir serta kemampuan berkomunikasi dalam menyampaikan pembenaran tersebut. Termasuk cocoklogi, mencocok-cocokan banyak hal sesuka hati dengan pemahaman ala kadarnya. Uthak athik gathuk, istilahnya dalam bahasa Jawa.

Kita baru benar-benar terpojok tatkala sudah tidak mampu memikirkan alasan apa pun untuk dijadikan pembenaran. Saat itu terjadi, hanya ada tiga bentuk respons yang bisa dilakukan. Menjadi defensif dan tetap mati-matian menolak untuk disalahkan entah bagaimana pun caranya (mengamuk, menangis hingga pingsan, menyalahkan orang lain, mengancam ingin bunuh diri, dan sebagainya); menerima kesalahan dan mengakui kekeliruan yang diperbuat; atau malah bersikap biasa-biasa saja alias cuek.

Kondisi ini alamiah dan merupakan bagian dari mekanisme perlindungan diri. Pasalnya, setiap orang hanya melekat kepada hal-hal yang menyenangkan, serta menjauhi semua yang sebaliknya. Semua ingin menjadi yang benar, dan tidak ada satu pun yang mau dianggap bersalah atau disalahkan karena… rasanya tidak menyenangkan.

Kendati demikian, akan jauh lebih baik bila sifat ini dikikis perlahan. Dengan kecanduan pembenaran dan pembelaan, kita tidak bertumbuh dalam kedewasaan berpikir dan bersikap.

Mandiri itu bukan semata-mata urusan mampu makan, minum, mandi, cebok, cuci-cuci, berpenghasilan, beli apartemen/rumah/kendaraan sendiri, tapi juga termasuk dalam berpikir dan bertindak. Yakni mampu mempertimbangkan sesuatu sebelum dilakukan, serta mampu menghadapi konsekuensi dan tanggung jawab yang muncul belakangan.

Kemampuan mempertimbangkan ini pun bukan sekadar urusan “apa untung-ruginya buat aku?” namun termasuk “apa dampaknya bagi orang lain dan lingkungan?

Kita semua tahu persis betapa menyebalkannya orang-orang yang selalu mencari dukungan untuk tindakan yang mereka lakukan. Keadaan ini ada hampir di segala lingkungan; di rumah, di sekolah atau kampus, di kantor, di lingkungan tempat tinggal, dan sebagainya. Asal jangan lupa, ada kalanya kita pun bisa bersikap seperti itu. Kita menjadi orang yang menyebalkan bagi orang lain, dan mencari-cari pembenaran atas perbuatan kita sendiri.

Semuanya sama-sama bangke, cuma beda kesempatan dan penempatannya saja. Siapa yang menjadi pelaku, dan siapa yang menjadi pemirsa.

Terus? Mesti ngapain?

Coba saja diawali dengan bercermin lebih sering, bukan cuma untuk melihat pantulan wajah dan tubuh sendiri, melainkan melihat apa yang ada di dalam diri. Bagaimana kita memutuskan untuk berucap atau berbuat sesuatu? Seberapa mampu kita bertanggung jawab atas semua ucapan dan perbuatan sendiri? Seberapa siap kita untuk tidak kalang kabut mencari pembenaran ketika dikonfrontasi? Seberapa berani kita mengakui kesalahan dan menelan rasa malu?

[]

Panduan Makeup buat Militan ISIS

Berita dari Mosul 10 Juli 2017 lalu mengatakan kalau kota itu berhasil direbut kembali oleh tantara Irak. Pihak pecundang, kelompok ISIS, harus segera angkat kaki. Kalau ndak mau ditangkap dan dipenjara. Dengan segala cara, termasuk jadi wanita.

Bisa jadi, cara ini dihalalkan demi nyawa dan cita-cita. Sayangnya, mereka sejak lama meremehkan wanita dan gender lain lewat sistem patriarki yang kaku. Jadi perempuan itu bukan cuma asal tempel bedak dan lipstik, terus keliatan cantik.

Amit-amit. Sumber: Tribunnews.

Ada langkah-langkahnya. Terutama kalau punya banyak rambut wajah, karena sunnah atau ndak sempat cukur. Namanya juga lagi perang. Perhatikan berikut ini:

Searah jarum jam

1 dan 2. 

Seperti perintah hadits dari Ibnu Umar, Nabi bersabda:

أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَعْفُوا اللِّحَى

Potong pendeklah kumis dan biarkanlah jenggot.” (HR. Muslim no. 623). Jadi, ya babat habis kumis. Tinggalkan sedikit jenggot. Ini memudahkan aplikasi makeup tanpa mengabaikan syariah

3. 

Terima kasih pada semua finalis Rupaul’s Drag Race yang mengajarkan penggunaan lem kertas batangan untuk menutupi alis. Ini penting untuk membentuk kontur area mata yang feminin. Usapkan perlahan lem kertas melawan garis tumbuh alis. Ratakan dengan tangan atau sisir kecil ke arah luar. Biarkan hingga mengering. Ulangi sampai mencapai tekstur permukaan yang halus. Tutupi dengan concealer putih dan foundation tabur yang sewarna dengan kulit wajah. Gunakan concealer dan foundation yang sama untuk area kumis, bawah mata, dahi dan garis hidung.

4. 

Kira-kira jadi seperti itu, lah.

Mari kita sebut keempat langkah di atas sebagai “kanvas.” Sekarang saatnya menggambar di atas kanvas.

Searah jarum jam

5. 

Mulai dengan area mata. Aplikasikan full metal black eyebrow pencil dari pangkal hidung menukik ke atas. Ulangi hingga alis tampak hitam sempurna. Gunakan aqua liner untuk membentuk garis terluar mata. Ingat, lanjutkan meski perih. Ndak ada waktu untuk bilas. Bubuhi matte ground eyeshadow dari lipatan mata dan sedikit di atasnya. Pertegas di bagian luar mata. Jangan terlalu tebal kalau ndak mau berakhir seperti memar.

6. 

Area bibir. Gambar garis terluar bibir dengan soft precision lipliner. Lebarkan sedikit dari garis aslinya untuk menambah volume. Aplikasikan aqua rouge matte lipstick dengan porsi liberal hingga seluruh bagian tertutup sempurna. Pakai yang matte ya, supaya ndak gampang luntur kalau-kalau harus makan di tengah pelarian.

7. 

Sempurnakan wajah dengan foundation tabur yang sewarna dengan leher. Sekali lagi: YANG SEWARNA DENGAN LEHER! Bukan cuma di kalangan ISIS, kesalahan ini sering terjadi, bahkan oleh kaum perempuan, beneran. Beri sedikit sheer plum blush di pipi. Jangan terlalu tebal, nanti kayak udang baru mateng. Biar ndak nanggung, pakai contact lenses yang menyempurnakan penyamaran.

8. 

Kenakan wig! Atau rambut siapapun yang bisa dipinjam, kalau toko wig di Mosul sana sudah rata tanah karena gempuran artileri. Karena semua bertudung rapat. Kemungkinan sulit menebak, apa warna rambut rata-rata perempuan Irak. Untuk amannya, hindari wig pirang! Udah jangan tanya kenapa. Nurut aja.

Cantik di dalam yang sesungguhnya

9. 

Sentuhan terakhir. Bagian ini membuat langkah 1 sampai 8 tampak sia-sia. Tapi ya gimana, kan harus berbaur dengan perempuan lainnya. Gunakan warna biru untuk aksen. Bosen kalau hitam terus.

Disclaimer:  Tips ini ndak menjamin keselamatan siapapun dari pemeriksaan tentara Irak. Juga ndak menjamin tentara Irak ndak terangsang secara seksual dengan anda setelah mengikuti seluruh langkah di atas. Bawa juga kondom dan pelumas dubur, selain senjata di balik busana anda. Ya, siapa taaauu…

Aku Ragu Maka Aku Yakin: Pandangan Yahudi Agnostik Atas Turunnya Alquran Kepada Muhammad

Hapuskan semua keraguan, dan yang tertinggal bukanlah keyakinan, melainkan kepastian mutlak yang tidak punya perasaan

Beberapa jam yang lalu saya menonton filem “Dunkirk“. Kisah peperangan era Jerman menguasai hampir seluruh Eropa. Dunkirk sendiri diambil dari  nama sebuah kota kecil di sisi utara Prancis, daerah terakhir yang dapat dipertahankan pasukan Inggris dan Prancis dari gempuran tentara Jerman.

Dunkirk_Film_poster

Tidak seperti filem perang lainnya yang menampilkan sisi heroik, dimana tokoh utama dengan gagah berani membabat habis musuh-musuhnya dengan tembakan jitu, rentetan peluru, atau lemparan granat, filem ini memiliki sisi kepahlawanan dengan cara yang berbeda. Sepanjang filem dipenuhi dengan wajah ketakutan dan perasaan yang memancarkan sisi traumatik prajurit perang. Wajah prajurit yang penuh takut mendengar suara mesin pesawat, merunduk dan tiarap ketika bom yang dijatuhkan menyentuh tanah dan ledakan terdengar dimana-mana.

Sang tokoh dalam filem tidak sedang sibuk membunuhi lawan-lawannya. Dia sibuk menyelamatkan diri dari desakan musuh. Dirinya sibuk kesana-kemari untuk sekadar bertahan hidup. Dia berharap bisa pulang. Syukur-syukur bisa membantu teman lainnya selamat dari peperangan. Sepanjang filem sang tokoh tiada hendi ditembaki tentara musuh yang sama sekali tak berwujud. Tak diketahui sama sekali tembakan itu berasal dari mana.

Bagi saya filem Dunkirk adalah filem perang dengan kamera yang selalu “close-up”. Bukan close-up kepada wajah para pemeran filem. Namun filem yang bercerita sedekat mungkin dengan emosi dan jiwa para pelaku. Filem yang menyoroti sisi batin dan alam pikir prajurit perang saat itu. Bahwa perang bukan hanya soal gagah berani. Namun soal ketakutan-ketakutan. Soal hati yang selalu rawan dan cemas. Dalam ketakutan menghadapi dan mempertahankan nyawa, justru disitulah keberanian tak terduga muncul. Bahwa pilihan untuk terus bertahan hidup adalah keputusan paling berani dalam keterdesakan yang amat sangat. Ketika nyawa hanya bagaikan kacang rebus yang tersedia dalam sebuah mangkuk kenduri. Tinggal pilih mana yang akan masuk dalam kerongkongan para tamu.

Sudut pandang pembuat filem yang menampilkan sesuatu secara manusiawi. Bahwa dalam perang semua tak menentu. Semua serba ragu. tak ada kepastian bahkan atas segala sesuatu yang sedang dirasakan.

Sama halnya dengan hidup kita. Sewaktu kecil begitu yakin bahwa hidup itu indah. Hidup itu mulus. Tinggal pilih, jalani, dan nikmati. Semakin dewasa saya baru memahami apa yang dikatakan Kurt Vonnegut: “Hidup itu seperti sepiring tahik.”

Menonton filem ini mengingatkan saya pada sebuah  analisa seorang perempuan Yahudi agnostik yang mengaku menjadi “turis keyakinan” ketika dirinya menulis Biografi Nabi Muhammad SAW dan mengkaji AlQuran perlahan-lahan. Anda yang tertarik bisa menontonnya disini. Namanya Lesley Hazleton.

Hal yang menarik dalam tesisnya itu adalah dia berpendapat bahwa seorang Muhammad pun adalah manusia yang penuh keragu-raguan pada awalnya.

Menulis biografi adalah pekerjaan yang aneh. Pekerjaan ini merupakan perjalanan ke area asing dalam kehidupan orang lain, sebuah perjalanan, suatu penjelajahan yang bisa membawakan pada Anda tempat-tempat yang tidak pernah terbayangkan oleh Anda untuk Anda datangi dan tetap Anda tidak bisa percaya bisa berada di sana, terlebih apabila, seperti saya, Anda seorang Yahudi agnostik sementara kehidupan yang Anda eksplorasi adalah yang dijalani Muhammad. Lima tahun yang lalu, contohnya, Saya terbangun setiap pagi di Seattle yang berkabut oleh pertanyaan yang setahu saya mustahil:

Apa yang sebenarnya terjadi pada suatu malam di gurun pasir, yang berjarak setengah belahan dunia dan hampir separuh sejarah lamanya? Yang terjadi pada malam dalam tahun 610 itu ketika Muhammad menerima wahyu pertama dari Quran di sebuah bukit tepat di luar Mekah?

Ini adalah momen mistis terdalam dari Islam, dan seperti biasa, tentu saja, peristiwa tersebut menantang analisis empiris.

Namun pertanyaan tersebut tidak mau pergi dari pikiran saya. Saya sepenuhnya sadar bahwa untuk seorang sekular seperti saya, hanya dengan mempertanyakannya saja sudah bisa dinilai sebagai chutzpah (kekurangajaran) tulen.

Dan saya mengaku bersalah karena semua penjelajahan, baik fisik maupun intelektual, mau tidak mau dapat bermakna tindakan pelanggaran, menerjang batasan-batasan. Padahal, sebagian batasan lebih luas dibandingkan yang lain. Jadi seorang manusia sedang menghadapi sisi Ketuhanan, seperti dipercaya oleh umat Muslim bahwa itulah yang dialami Muhammad, bagi rasionalis, ini bukan fakta tapi khayalan, dan seperti kita semua, saya senang menganggap diri saya sebagai orang yang rasional. Yang mungkin menjelaskan mengapa ketika saya menengok sumber paling awal yang kita punya dari malam itu, yang lebih menohok saya dibandingkan apa yang sebenarnya terjadi adalah apa yang sebenarnya tidak terjadi.

Muhammad tidak melayang ke atas bukit itu seperti berjalan di udara. Dia tidak berlari menuruni bukit sambil berseru, “Haleluya!” dan “Puji Tuhan!” Dia tidak memancarkan sinar dan kegembiraan. Tidak ada satu pun paduan suara malaikat, tidak ada musik dari langit, keriangan, kegembiraan, tidak ada aura keemasan menyelubunginya, tidak ada pemahaman mutlak, pentahbisan sebagai utusan Tuhan.

Nah, dia tidak melakukan hal-hal itu yang dengan mudah menyerukan kepalsuan, dan menempatkan keseluruhan kisah itu sebagai dongeng kesalehan. Justru sebaliknya. Dalam kata-katanya sendiri, dia yakin pada mulanya bahwa yang baru terjadi tidak mungkin nyata. Yang paling mungkin, menurutnya, kejadian tersebut merupakan halusinasi — tipuan mata atau telinga, mungkin, atau pikirannya sendiri yang bekerja melawan pemiliknya. Yang terburuk, kesurupan — bahwa dia telah kerasukan jin jahat, jin yang keluar untuk memperdayainya, bahkan untuk menghancurkan kehidupannya. Malahan, dia begitu yakin bahwa paling mungkin dia sudah jadi majnun, dikuasai oleh jin, sehingga ketika dia menyadari dirinya masih hidup, impuls pertamanya adalah untuk menuntaskan sendiri pekerjaan itu,untuk melompati rintangan tertinggi dan membebaskan diri dari teror yang baru dia alami dengan menyudahi semua pengalaman.

Jadi, pria yang berlari menuruni bukit malam itu gemetar bukan karena gembira melainkan oleh ketakutan primordial yang sebenarnya. Dia tidak dipenuhi oleh kepastian, melainkan keraguan. Dan disorientasi penuh kepanikan itu, yang memisahkan dari semua yang familier, yang menakuti kesadaran akan sesuatu yang melampaui pemahaman manusia, hanya bisa disebut sebagai kekaguman. Mungkin agak sulit untuk memahami karena sekarang kita menggunakan kata “mengagumkan” untuk menggambarkan aplikasi baru atau video yang mewabah.

Dengan pengecualian mungkin bencana gempa bumi besar kita menutup diri dari kekaguman yang sebenarnya. Kita tutup pintu-pintu dan duduk mencangkung, yakin bahwa kita berada dalam kendali,atau, setidaknya, mengharapkan kendali. Kita lakukan apapun untuk mengabaikan fakta bahwa tidak selamanya kita memilikinya, dan bahwa tidak semuanya bisa dijelaskan. Namun, tidak peduli apakah Anda rasionalis atau mistis, apakah Anda mengira bahwa kata-kata yang didengar Muhammad malam itu berasal dari dalam dirinya sendiri atau dari luar, yang jelas dia benar-benar mengalaminya, dan bahwa dia mengalaminya dengan suatu kekuatan yang sanggup menghancurkan pikiran sehat dan dunianya dan sebaliknya mengubah lelaki sederhana ini menjadi seorang penganjur radikal untuk keadilan sosial dan ekonomi.

Takut adalah satu-satunya tanggapan sadar, satu-satunya tanggapan manusiawi. Terlalu manusiawi untuk sebagian orang, seperti teolog Muslim konservatif yang menjaga agar kisah keinginannya untuk bunuh diri tidak boleh disebut-sebut, meskipun itulah fakta yang terdapat di dalam biografi-biografi Islam paling awal. Mereka memaksakan bahwa dia tidak pernah ragu, sekejap pun, apalagi putus asa. Menuntut kesempurnaan, mereka menolak untuk menoleransi ketidaksempurnaan manusia. Tapi apa, persisnya, yang tidak sempurna dari keraguan? Sebagaimana yang saya baca dari sumber-sumber awal, saya menyadari keraguan Muhammad-lah yang menjadikan dia sosok nyata bagi saya, yang memungkinkan saya untuk mulai melihatnya secara utuh,untuk memahaminya sebagai wujud integritas dari realitas. Dan semakin dalam saya memikirkannya, semakin masuk akal bahwa dia ragu-ragu, karena keraguan penting dalam keyakinan.

Seandainya ini tampak sebagai gagasan yang mengejutkan di awal, pertimbangkanlah bahwa keraguan, sebagaimana dinyatakan Graham Greene, adalah inti dari sesuatu. Hapuskan semua keraguan, dan yang tertinggal bukanlah keyakinan, melainkan kepastian mutlak yang tidak punya perasaan.

Anda yakin bahwa Anda memiliki Kebenaran — mau tidak mau menawarkan K — dengan huruf besar tersirat dan kepastian ini dengan segera beralih menjadi dogmatisme dan kebenaran, dengan itu saya maksudkan harga diri demonstratif yang berlebihan untuk menjadi yang paling benar, singkatnya, arogansi fundamentalisme.

Tentu ini hanya salah satu dari sekian banyak ironi sejarah bahwa satu seruan favorit dari fundamentalis Muslim sama dengan yang pernah digunakan oleh fundamentalis Kristen yang dikenal sebagai Pengikut Perang Salib: “infidel (kafir),” berasal dari bahasa Latin yang berarti “tidak setia/tidak beriman.” Ironi ganda, dalam kasus ini, karena absolutisme mereka sesungguhnya lawan dari keyakinan. Akibatnya, merekalah yang kafir (tidak setia). Sebagaimana fundamentalis semua aliran agama, mereka tidak punya pertanyaan, hanya ada jawaban. Mereka menemukan penawar sempurna bagi pikiran dan suaka ideal bagi tuntutan ngotot untuk keyakinan yang nyata. Mereka tidak perlu memperjuangkannya seperti Yakub bergulat melewati malam dengan malaikat, atau seperti Yesus yang sepanjang 40 hari dan malam di alam liar, atau seperti Muhammad, bukan hanya malam itu di bukit, melainkan sepanjang tahun-tahunnya sebagai nabi, bersama Quran yang terus-menerus mendesaknya untuk tidak berputus asa, dan mengutuk mereka yang paling lantang menyatakan bahwa mereka tahu semuanya yang ada untuk diketahui dan bahwa mereka dan mereka sendiri yang benar.

Dan kita, mayoritas yang besar namun terlalu tenang, telah menyerahkan arena publik pada minoritas ekstremis ini. Kita izinkan Yudaisme untuk diproklamasikan oleh penghuni Tepi Barat al-masih yang kejam, Kekristenan oleh para hipokrit homofobia dan fanatik misoginis, Islam oleh para pelaku bom bunuh diri.

Dan kita biarkan diri kita dibutakan oleh fakta bahwa tidak peduli apakah mereka menyatakan diri sebagai umat Kristen, Yahudi atau Muslim, ekstremis militan tidak lain dari yang disebutkan di atas. Mereka memuja saudara sedarah mereka sendiri sambil berkubang dalam darah orang lain. Ini bukan keyakinan. Ini adalah fanatisme, dan kita harus berhenti mengacaukan keduanya. Kita harus mengenali bahwa keyakinan sejati tidak punya jawaban mudah.

Keyakinan sejati itu sulit dan keras kepala. Keyakinan sejati menyertakan perjuangan yang terus-menerus, pertanyaan bersambung mengenai apa yang kita pikir kita tahu, pergulatan dengan isu-isu dan gagasan-gagasan. Pergulatan ini seiring dengan keraguan dalam percakapan tanpa akhir dengannya, dan kadang-kadang dalam tantangan sadar darinya. Dan tantangan sadar inilah alasan bagi saya, sebagai agnostik, untuk masih bisa punya keyakinan. Saya punya keyakinan, misalnya, bahwa perdamaian di Timur Tengah mungkin tercapai meskipun sekian banyak bukti terus bertambahmenunjukkan sebaliknya. Saya tidak yakin akan hal ini. Saya nyaris tidak bisa mengatakan saya mempercayainya. Saya hanya bisa punya keyakinan akan hal itu, berkomitmen pada diri sendiri, yaitu, pada ide tentang hal itu, dan saya melakukan ini karena godaan untuk mengangkat tangan parah dan mundur dalam keheningan. Karena putus asa berarti pemenuhan diri. Apabila kita katakan sesuatu itu mungkin terjadi, maka kita bertindak sedemikian hingga kita akan mewujudkannya. Dan saya, untuk satu alasan, menolak cara hidup seperti itu.

Sebenarnya, kebanyakan dari kita sama, tidak peduli kita atheis ataukah theis, atau di manapun kita berada di antaranya ataukah di luar itu, untuk hal tersebut,yang mendorong kita adalah, walaupun kita ragu-ragu dan justru berkat keraguan kita, kita menolak nihilisme keputusasaan. Kita desak keyakinan di masa depan dan juga satu sama lain.

Silakan sebut ini naif kalau Anda suka. Silakan sebut ini idealistis yang mustahil ada kalau Anda mau. Namun satu hal yang pasti: Sebut saja ini manusiawi.

Bisakah Muhammad dengan radikal mengubah dunianya tanpa keyakinan semacam itu, tanpa penyangkalan itu dan berpasrah pada arogansi kepastian yang sempit-pemikiran? Menurut saya tidak. Setelah menemani dia sebagai penulis, selama lima tahun terakhir, saya tidak mengerti seandainya dia mau melakukan apapun kecuali gusar pada kelompok-kelompok fundamentalis militan yang menyatakan diri berbicara dan bertindak atas namanya di Timur Tengah dan di manapun saat ini. Dia akan terguncang atas tindakan represi terhadap separuh populasi karena jenis kelamin mereka. Dia akan tercabik-cabik akibat kejamnya pemecahbelahan oleh sektarianisme. Dia akan menantang terorisme karena yang terjadi, bukan cuma tindakan kriminal, melainkan sudah termasuk penghinaan atas apapun yang dia percayai dan perjuangkan. Dia akan katakan yang dikatakan Quran: Barang siapa membunuh satu nyawa maka dia telah membunuh seluruh umat manusia. Barang siapa memelihara keselamatan satu nyawa, berarti menyelamatkam seluruh umat manusia.

Dan dia berkomitmen sepenuhnya pada dirinya sendiri untuk menjalani proses yang keras dan sulit dalam mewujudkan perdamaian. Terima kasih.

(video)

Sengaja saya kutip semua paparan Lesley Hazleton berikut melampirkan tautan video pertemuan dalam forum Ted. Tiada lain agar tak ada pemaknaan sepenggal dan agar Anda dapat memahami konteks paparannya dengan tafsiran Anda masing-masing.

Salam anget,

Roy

kredit:  transkrip video diterjemahkan oleh Dian Vita Ellyati dan direviu oleh Innayah Roza

 

SaveSave

#RekomendasiStreaming – Memahami Emmy

Nominasi calon peraih penghargaan tertinggi di televisi di Amerika Serikat, yaitu Emmy Awards, baru saja diumumkan minggu lalu. Benar-benar persis seminggu yang lalu dari tulisan ini terbit.

Daftar lengkap seluruh unggulan dari berbagai kategori yang jumlahnya teramat sangat banyak bisa dilihat di sini.
Kalau Anda iseng menghitung-hitung siapa yang paling banyak meraih nominasi, langsung saja data-data berikut ini bisa Anda baca:

• Serial Westworld dan acara komedi “Saturday Night Live” (SNL) sama-sama memimpin perolehan nominasi sebanyak 22 nominasi. Menurut saya, terlalu banyak. Terutama untuk Anthony Hopkins sebagai unggulan Pemeran Utama Pria (Serial Drama) yang easily overshadowed oleh aktor-aktor lainnya di serial tersebut.
Lalu untuk SNL, saya mengernyitkan kening membaca nama Vanessa Bayer dan Leslie Jones di jajaran Pemeran Pendukung Wanita (Serial Komedi). Bukan apa-apa. Mereka dua orang komedian lucu. Namun peran-peran mereka di SNL musim ke-42 yang lalu nyaris tidak ada satu pun yang meninggalkan kesan.

Live from New York, it’s Saturday niiiiggghhht!

• Stasiun televisi berbayar HBO memimpin jumlah nominasi keseluruhan dengan 110 nominasi, diikuti oleh … Netflix dengan 96 nominasi! Apakah artinya trend yang sudah berlangsung selama 3 tahun terakhir ini? Artinya, kalau mau konten bagus, bayar!
Tak bisa dipungkiri kalau saluran premium macam HBO dan Netflix masih menjadi acuan untuk program acara yang bagus dalam kualitas penceritaan. Dan mereka tidak tanggung-tanggung dalam mengeluarkan biaya untuk memproduksi program televisi yang berkualitas tinggi. And they change the way we watch, consume and consider “television” these days.

Data-data menarik seputar nominasi Emmy Awards tahun ini bisa Anda googling sendiri ya.

Soalnya, tulisan saya tiap minggu ketiga Kamis memang tujuannya memberikan rekomendasi tontonan apa yang bisa kita tonton di saluran streaming yang bisa Anda akses.

Jadi …

• Jika hanya punya waktu untuk menonton satu film saja di akhir pekan ini, maka tontonlah

San Junipero

San Junipero

Di beberapa saluran media sosial akhir tahun lalu, saya pernah menulis kalau “San Junipero”, yang merupakan salah satu episode di serial “Black Mirror” season 3 adalah “the finest hour of television programming in a year”. Makanya saya jadi jingkrak-jingkrak kesenangan sendiri melihat “San Junipero” masuk nominasi sebagai Film Televisi Terbaik. A surprise nomination, indeed. Kemungkinan menangnya pun kecil. Tapi tontonlah. Di akhir tayangan, Anda mungkin akan tersenyum sambil terharu, sambil berdendang lagu “Heaven is a Place on Earth”-nya Belinda Carlisle. Benar, cerita filmnya masih berkutat seputar teknologi. Tapi aplikasi teknologi dalam cerita film ini sungguh tidak bisa ditebak alurnya.

• Jika punya cukup waktu untuk menonton satu serial di akhir pekan ini, maka tontonlah

“Grace and Frankie” (Season 3)

Grace & Frankie

Jujur saja, saya bukan penggemar serial komedi ini waktu baru tayang. Musim penayangan pertama, saya cuma menonton episode-episode awal, lalu ketiduran di episode-episode akhir. Musim penayangan kedua, mulai tertarik. Dan di musim penayangan ketiga, baru bisa tertawa lepas menontonnya. Premise serial ini adalah dua perempuan tua yang saling berteman, namun pertemanan mereka harus teruji saat kedua suami mereka malah saling jatuh cinta dan menikah. Di musim ketiga ini, Grace dan Frankie jungkir balik menjual vibrator (!!!) sebagai bisnis baru mereka, sekaligus membuktikan kalau mereka masih produktif di usia senja. Lily Tomlin dan Jane Fonda memang aktor kelas wahid: penyampaian dialog mereka selalu spot on dan kocak. Ini yang membuat mereka layak diganjar nominasi sebagai Pemeran Utama Wanita (Serial Komedi).

Prediksi lengkap pemenang Emmy Awards tentu saja baru saya akan post menjelang perhelatan acara tersebut di bulan September.
Lama juga ya jaraknya dari pengumuman nominasi, sekitar 2 bulan. Sempat terpikir, “lama amat sih? Oscar aja kayaknya gak sampai 2 bulan deh.”
Lalu setelah dipikir-pikir lagi, 2 bulan waktu yang cukup banget buat catch up serial-serial yang dinominasikan.

Selamat menonton!

Tambahan:
Setiap musim penghargaan televisi dan film, dua media industri hiburan terbesar di Amerika, yaitu Variety dan The Hollywood Reporter, sama-sama bersaing membuat acara yang sama, yaitu para aktor dan aktris saling bertemu untuk membicarakan karya mereka.
Kalau Variety formatnya adalah dua orang aktor bertatap muka untuk berdiskusi. Kalau The Hollywood Reporter memilih format meja bundar, di mana sekitar 6 sampai 7 orang aktor atau aktris mendiskusikan karya mereka di serial televisi atau film yang mereka bintangi. Meskipun belum tentu kita melihat serial atau filmnya, tapi pembicaraan mereka masih menarik buat kita ikuti.
Lihat saja contohnya saat aktris-aktris di serial komedi bertemu dan berbicara riuh rendah satu sama lain. Tidak ada persaingan, tidak ada yang disembunyikan. Seru!

Ini tentang Uang

KETIKA berbicara soal bagaimana cara seseorang memberdayakan uang yang dimilikinya, secara sederhana setiap orang bisa dikelompokkan dalam dua kategori: penyimpan, dan pemutar. Hanya ada dua karena memberdayakan uang di sini tidak termasuk membelanjakannya untuk tujuan konsumsi.

Sesuai namanya, penyimpan akan mengumpulkan uang yang ia peroleh dan mendiamkannya secara sistematis maupun konvensional, hingga pada suatu saat ia perlukan dan diambil sebagian. Tujuan menyimpan uang tentu saja untuk menghimpunnya, menumpuknya, menjadikannya bertambah banyak dengan logika sederhana bahwa 1+1=2 dan seterusnya.

Mengapa harus disimpan sampai menjadi banyak? Untuk keperluan-keperluan. Tidak ada yang tahu seberapa besar pengeluaran darurat yang harus dipenuhi di masa depan. Hari esok pun sudah termasuk masa depan. Lebih baik berkelebihan meskipun akhirnya bingung mau diapakan, ketimbang mengalami kekurangan sangat dibutuhkan. ketok meja tiga kali

Untuk menjadi seorang penyimpan uang yang baik diperlukan ketekunan, ketelitian, kesabaran, sikap hemat, pengendalian diri, dan sikap tidak neko neko. Sebab sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Pun hemat pangkal kaya. Selain itu, juga sangat berhati-hati untuk setiap pengeluaran yang akan dilakukan. Terlebih uang dalam jumlah besar dan dengan alasan yang sekiranya tidak mendesak.

Bentuk pengelolaan keuangan yang identik dengan para penyimpan adalah tabungan, baik secara formal berupa rekening bank, atau yang sangat konvensional di celengan dan brangkas. Selain itu, juga berupa deposito, tabungan berencana dan berjangka dengan bunga dan skema pencairan yang berbeda dibanding rekening biasa), membeli tanah saja, membeli emas keping maupun perhiasan, membeli obligasi/sukuk/Surat Utang Negara kalau mampu, membeli reksadana khusus pasar uang dan/atau pendapatan tetap dengan peningkatan yang pasti meskipun kecil.

Berkebalikan dengan penyimpan uang, para pemutar justru memakai uangnya untuk kembali menghasilkan uang. Ada beragam caranya, dengan tingkat keberhasilan yang berbeda pula, dan baru bisa dibuktikan dalam jangka waktu tertentu. Pemakaian yang gagal mengakibatkan uang hilang. Apabila berhasil, uang yang dimiliki akan bertambah dengan logika 2×2=4 dan seterusnya.

Mengapa harus diputar? Ya… pada dasarnya juga supaya bertambah banyak, dengan mekanisme yang bisa berjalan sendiri. Idealnya seperti itu. Di sisi lain, proses kegagalan-keberhasilan menjadi semacam pengalaman berharga untuk masa depan. Mengingat perubahan akan selalu terjadi.

Dalam pengelolaannya, para pemutar akan memakai uangnya untuk membuka/menjalankan bisnis, atau membiayai bisnis baru sebagai modal. Bentuk investasi lain yang dilakukan untuk memutar uang juga termasuk bermain saham baik sebagai trader maupun investor dalam bursa terbuka, membeli reksadana saham, meminjamkan dan membungakannya (baca: jadi rentenir), membangun properti untuk dijual kembali nanti, dan sebagainya.

Terdapat beberapa kesamaan antara pemutar uang dengan para penyimpan. Beberapa di antaranya adalah ketekunan, kesabaran, dan pengendalian diri. Namun para pemutar uang harus punya keberanian mengambil risiko, punya kekuatan untuk menghadapi risiko yang muncul, sangat perhitungan, teliti, dan berhati-hati, serta jeli melihat situasi. Perbedaan lingkungan juga membuat para pemutar uang harus cepat dan tanggap merespons segala hal yang terjadi. Semua ini mendorong mereka untuk selalu aktif, selalu riuh dalam kehidupannya. Karena ibarat air, harus terus mengalir. Air yang menggenang akan menimbulkan banyak kerugian.

Dari dua kategori pemberdaya uang di atas, wajar jika muncul dualisme. Penyimpan uang bisa menganggap para pemutar sebagai orang-orang yang nekat. Akan tetapi bisa pengin juga ketambahan banyak uang seperti para pemutar ketika dapat zhuan (untung). Sementara para pemutar bisa menganggap penyimpan-penyimpan uang sebagai orang yang merugi dan penakut, namun diam-diam menyesali keputusannya yang salah dan membuatnya kehilangan banyak uang.

Keduanya memiliki preferensi masing-masing; kecocokan dan kenyamanan dalam memberdayakan uang. Tidak ada yang benar-benar terbaik, lantaran menyimpan atau memutar uang sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan. Menyimpan perlu waktu cukup lama. Memutar perlu kelancaran. Saat putaran tersendat, eksekusi rencana pun terhambat.

Kendati terbagi menjadi dua kategori, pada kenyataannya sedikit sekali yang melekat hanya pada satu polar ekstrem dengan menjadi penyimpan saja, maupun pemutar saja. Kebanyakan dari kita adalah penyimpan dan pemutar dengan kecenderungan lebih berat ke salah satu sisi.

Kita yang bekerja sebagai pegawai dan hidup dari gaji, tentu akan berusaha menyimpan sebagian dari penghasilan. Saat ada tawaran yang menarik dan memiliki perhitungan yang realistis, bukan mustahil kita akan memanfaatkan sebagian dari simpanan. Nah, besar kecilnya uang yang kita manfaatkan tergantung pada pertimbangan masing-masing. Ada yang masih takut-takut, ada pula yang percaya diri sekali.

Begitu pula para pemutar uang. Hasil yang mereka dapatkan tentu akan disimpan, sebagai pengaman sekaligus objek kepemilikan. Sebagian yang lain akan mereka putar kembali. Itu pun, semestinya, sudah dikurangi porsi yang untuk dikonsumsi sendiri. Dipakai belanja, jalan-jalan, jamuan makan untuk diri sendiri dan orang-orang terdekat, dan kesenangan-kesenangan lainnya. Pastinya, tidak dihabiskan semua.

Saat peluang tersebut berhasil, yang takut-takut tadi pun sedikit menyesal karena tidak mendapatkan sebanyak orang lain. Di kesempatan berikutnya, ia dapat terdorong untuk memakai lebih banyak uang. Sayangnya, dalam banyak kasus, tidak sedikit yang tak mau mengukur kemampuan diri. Sehingga meminjam dan mempertaruhkan semua yang dimiliki.

Saat peluang tersebut gagal, yang takut-takut tadi pun masih bisa berceletuk dengan awalan: “Untung aku cuma blablabla” Sebab kerugian yang ia alami tidak sebanyak orang lain. Begitulah, high risk, high gain. Peluang yang besar pasti dibarengi risiko yang tak kecil pula.

Jangan lupa, kita sedang membicarakan soal pemberdayaan. Jadi, jangan dulu keburu memilih atau mencocok-cocokkan diri dengan kategori penyimpan atau pemutar jika kita terbiasa menghabiskan apa yang dipunyai. Sebab kalau enggak ada uangnya, apa yang mau disimpan, terlebih lagi diputar.

Sebanyak-banyaknya uang, pasti tidak cukup dan habis kalau selalu merasa kurang.

Sesedikit-sedikitnya uang, tetap ada yang bisa disisihkan, meskipun lima ribu perak doang.

[]

Syirik

Satu dekade lalu, seorang dosen dan insinyur teknik sipil, Indrawan Sastronagoro melayangkan gugatan ke Mahkamah Konstitusi atas Undang-undang Nomor 30 tahun 2007 tentang Energi karena mengandung syirik dan menyekutukan allah. Ia juga menilai bahwa UU tersebut bertentangan dengan Undang-undang Dasar 1945 Pasal 29 ayat 1 yang berbunyi:

Negara Berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.” 

Pasal 1, angka 4 tersebut menunjukkan menyekutukan Tuhan atau syirik. Karena yang menggunakan teknologi baru adalah manusia, bukan hewan, berarti manusia dengan teknologi baru bisa menghasilkan sumber energi baru, jadi sama pintar, menyamai Tuhan Yang Maha Esa. Inilah yang disebut syirik. Karena, dalam agama Islam, tidak ada yang menyamai Tuhan Yang Maha Esa,” kata Indrawan; dikutip dari Risalah Sidang MK Perkara Nomor 84/PUU-XIV/2016

Singkat cerita, sejak persidangan Oktober 2016 itu MK akhirnya menolak gugatan Indrawan. Mahkamah berpendapat, untuk memahami maksud satu ketentuan dalam suatu undang-undang, haruslah secara sistematis dengan membaca pula ketentuan-ketentuan lain dalam UU tersebut. 

Pembacaan secara sistematis yang dilakukan Mahkamah terhadap UU 30/2007 tidak menemukan indikasi apapun, bahwa UU tersebut telah menyekutukan Allah SWT melalui rumusan Pasal 1 angka 4, angka 5, dan angka 6,” ujar majelis MK yang dibacakan pada 10 Juli 2017.

Indrawan menjelaskan akibat dari adanya pasal ini menjadikan pikirannya terganggu. Ia jadi kurang produktif, yang tadinya bisa mengajar hingga 34 SKS dalam sebulan, jadi cuma bisa 20 SKS. Akhirnya, membuat pendapatannya menurun. Kerugian immaterialnya tentu ia tersinggung tuhannya disekutukan sedemikian rupa. Lewat Undang-undang ciptaan manusia pula. 

Jika saja Indrawan menelaah lebih dulu lewat kaidah bahasa, lengkap dengan konteksnya; tuhan, baik itu allah maupun tuhan kaum lain yang secara adil-merata juga dipercaya terlibat dalam penciptaan, ndak lagi perlu dideskripsikan. Energi yang berulang kali disebutkan dalam Undang-undang Nomor 30 tahun 2007 adalah energi yang sepenuhnya bersumber dari alam semesta. Alam yang dihuni oleh manusia yang berhak dan wajib dengan segala usahanya mengonversikan sumber daya tersebut menjadi energi yang siap pakai. Usaha manusia inilah yang salah satunya disebut sebagai teknologi baru (inovasi) dalam Undang-undang yang ia masalahkan tadi. Dan pasal tersebut ndak sekalipun meragukan maupun menyangkal kalau Alam yang dimaksud adalah ciptaan tuhan. Hingga batas ini, MK telah melakukan hal yang benar. Tapi ndak efisien. Satu dekade untuk menolak kegilaan ini?

Logika yang sama juga pernah dipermasalahkan oleh satu rombongan pengajian Ibuku. Mereka menilai lirik pembuka lagu “Engkaulah Segalanya” yang dinyanyikan Ruth Sahanaya menyekutukan allah.

Terutama bagian “mungkin hanya tuhan yang tahu segalanya.” Iman mereka bilang: pasti hanya tuhan yang tahu segalanya. Kenapa mungkin? Tuhan tahu segalanya dan sudah jadi kepastian karena sudah tertulis dalam kitab suci. 

Untungnya Ibu-ibu pengajian tadi hanya mencoret lagu itu dari daftar lagu wajib yang akan dinyanyikan dalam acara halal-bihalal awal Juli 2017 lalu. Ndak diteruskan ke ranah hukum dengan tuntutan memasukkan Ruth Sahanya dalam bui, misalnya. 

Lagi-lagi soal konteks berbahasa, untuk ndak menyebutkan gampang banget kebakar. Yakinlah Tito Sumarsono, penggubah lagu tadi, ndak punya niat buruk terhadap allah. Cukup dengan meneruskan bait selanjutnya dari kalimat yang dicurigai syirik:

Mungkin hanya Tuhan yang tahu segalanya apa yang kuinginkan di saat-saat ini.

Kalimat di atas bukan meragukan tuhan atas pengetahuannya. Tapi meragukan apakah ada pihak lain yang tau selain tuhan. Dan ya, mungkin aja ada. Mungkin juga ndak ada. Kalimat itu bersifat ratapan dengan konteks “segala yang kuinginkan saat ini.” 

Pemahaman bahasa adalah soal berlogika. Gramatikalnya berkembang melalui budaya dan keseharian penuturnya. Bahasa selalu tumbuh, apalagi arti dan tafsirnya. Bahasa juga mengajarkan kita lebih terbuka, kritis sekaligus rendah hati terhadap perubahan.

Yang bikin khawatir dari dua kejadian di atas adalah: atas nama iman, bahkan logika diabaikan. Implikasinya bisa seremeh dikeluarkan dari daftar lagu, satu dekade perkara pengadilan, atau… memenjarakan orang yang ndak bersalah. 

Diet Menurut Agama dan Kepercayaan Masing-Masing

OK, mungkin bukan diet, lebih tepatnya memperhatikan makanan yang masuk ke dalam tubuh saya. Perjalanan yang dimulai sekitar 2004, saat saya memasuki dunia pekerjaan. Diet yang sedang terkenal saat itu adalah Atkins Diet. Itulah awal mulanya saya mengetahui soal bahaya gula bagi kesehatan. Tapi karena saat itu internet belum seperti sekarang, sulit untuk mencari tahu lebih banyak.

Saat itu saya tidak tahu makanan-makanan apa saja tempat gula bersembunyi. Seperti makanan kaleng, siap saji, kecap dan banyak lagi yang baru saya ketahui mengandung banyak gula bertahun kemudian. Jangan lupa, saat itu tak mudah untuk mencari orang-orang yang “sepaham” untuk kemudian membentuk FB Group seperti sekarang. Paling sesekali bertanya dengan teman dokter yang jawabannya pun bisa beragam.

Setelah mencoba berbagai macam diet, akhirnya saya memutuskan diet yang paling sesuai dengan saya. Diet yang menjadi agama saya. Tapi ya agama di KTP pun saya tak taat menjalaninya apalagi diet. Dengan keyakinan berbagi itu bagian dari kebahagiaan, berikut adalah panduan saya:

  1. MEMASAK SENDIRI

Kalau tak sembarang orang boleh memegang tubuh kita, mengapa kita sering membiarkan sembarangan makanan malah masuk ke dalam tubuh kita? Memasak sendiri menjadi keputusan awal saya sehingga saya benar-benar tau apa yang masuk ke dalam tubuh. Ini menjadi prinsip awal terpenting apa pun diet saya di kemudian hari.

Pendapat ini diamini oleh Janti @alterjiwo yang juga penggiat makanan sehat dan penyembuhan non-invasif. “Mau mulai makan sehat harus dimulai dari masak sendiri. Bisa masak sendiri saja sudah jauh lebih baik daripada makan “makanan sehat” di luar.”

Saat masak sendiri, ada banyak hal yang saya pelajari. Kalau pernah mencuci ayam negeri sendiri, sepertinya semua akan paham mengenai aroma kimia yang tercium kuat saat mencuci. Atau kita jadi mengetahui bahan apa saja yang mengandung gula. Berbagai sumber minyak, minyak kelapa, minyak jagung, minyak zaitun, dan sebagainya. Yang kalau beli jadi di restoran, itu semua tak kelihatan.

Saat memasak sendiri saya biasanya memilih makanan yang sederhana. Yang proses memasaknya tidak terlalu lama. Saya bisa melihat dengan mata kepala sendiri bahan-bahan yang akan saya gunakan. Terutama soal kebersihannya. Nigella Lawson, home chef idola saya pernah bilang, tidak ada bahan makanan kotor. Yang ada adalah kesalahan dalam pengolahannya sehingga berakibat makanan bisa menjadi tak baik bagi tubuh.

Seorang teman yang baru memulai diet Keto saat sedang mempromosikan dietnya berkata “iya, kalo makan malam gitu mah sekarang gampang, beli aja gulai otak dari restoran padang, beres deh!”. Dalam hati saya berkata (karena tak berani melawan) “tak ada yang salah dengan gulai otak. Tapi tahu kah kita bagaimana gulai otak tadi dimasak? Sudah berapa lama gulai otak dipajang di restoran? Proses memasak dan kebersihannya? Ada pengawet? Gula yang terkandung di dalamnya?” Tapi ah sudahlah, ini hanya pendapat pribadi bukan kapasitas saya pun.

2. NASI

Saya masih makan nasi. Dalam ukuran yang menurut saya wajar. Seminggu mungkin sekitar 2 kali. Itu pun nasi yang kebanyakan saya masak sendiri. Beras pilihan saya adalah beras pecah kulit. Yang menurut Dr. Tan Shot Yen bisa dimakan karena kulit ari dan lembaga yang masih menempel di beras membantu untuk meredam lonjakan gula di dalam tubuh. Belakangan saya lagi mencoba sorghum dan beras hitam Jowo Melik, beras merah, dan sumber karbohidrat lain secara bergantian.

Mengenai makan nasi ini ada perdebatan panjang sekali. “Ah, nenek buyut kita semua makan nasi toh umurnya panjang juga” begitu kita sering mendengar. “Di semua negara Asia bahan dasarnya adalah nasi. Mau Jepang, India semuanya nasi. Apa semuanya itu salah?” OK, izinkan saya memiliki teorinya sendiri.

Bukan salah berasnya, tapi manusianya. Tahukah Indonesia ini tadinya memiliki ratusan jenis beras yang tumbuh sesuai dengan alamnya masing-masing. Sawah dekat pantai atau sawah di pegunungan menghasilkan beras yang berbeda. Kemudian oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab, jenis beras ini diseragamkan demi alasan industri dan ekonomi. Kita jadi hanya tahu beras Rojolele dan Pandan Wangi. Untuk memaksa menanam jenis beras itu di berbagai lahan, tentunya tidak mudah. Diserang hama yang paling seringnya. Dan karena banyak yang kegagalan panen, akhirnya dikeluarkan pestisida untuk memastikan pertumbuhannya. Istilahnya, dipaksa tumbuh secara tidak alami. Di sinilah malapetaka dimulai.

Bahkan ada masanya di mana kita terkagum-kagum karena beras yang putih dan bersih. Kita diajari bahwa beras yang baik adalah yang putih bersih, demikian pula nasinya. Proses beras alami menjadi putih bersih bagai mutiara ini, yang menghilangkan kulit ari dan lembaganya.

Selain itu, karena saya menjalani: kalo makan nasi ya sama sayur, atau daging dengan sayur. Bukan nasi dengan daging. Jadi saya tetap bisa makan nasi dan atau sumber karbohidrat lain selama didampingi sayur saja.

3. KEMASAN KECEMASAN

Sebisa mungkin saya mencoba menghindari makanan dalam kemasan. Pun di kemasannya tertera tulisan SUGAR FREE, ORGANIC, dan lain-lain. Balik ke poin nomor satu, sebaik-baiknya makanan kemasan tentu lebih baik makanan dimasak diolah sendiri.

Contoh gampangnya, belakangan sedang demam Es Kopi Susu. Bahkan Presiden kita sampai mampir ke salah satu tokonya. Banyak teman-teman saya yang menyukainya. Termasuk saya. Tapi, karena kebiasaan untuk selalu menyangsikan bahan-bahan yang digunakan dan rasanya yang menurut saya kelewat manis, saya pun mencoba membuatnya sendiri. Kalau pun menggunakan gula, saya menggunakan gula aren cair yang saya buat sendiri dengan takaran yang lebih sedikit.

Santan, adalah salah satu contoh bahan yang belakangan banyak digunakan oleh penggiat diet. Sayangnya, sebagian besar menggunakan santan dalam kemasan. Buruk? Tidak juga. Tapi lebih baik kalau bikin santan sendiri. Selain hasilnya lebih nikmat, santan yang dibuat dengan benar bisa tahan lama selama disimpan di lemari pendingin yang dingin maksimal. Saya sudah membuktikannya sendiri, santan tahan lebih dari dua minggu :O Ya ini pun sebenarnya tak baik mungkin. Tapi saya yakin tetap lebih baik daripada santan dalam kemasan. Santan dalam kemasan hanya saya gunakan saat terpaksa.

Apakah berarti saya tidak makan Chitato, Potabees dan Indomie? Ya makanlah… Nah ini membawa ke point berikutnya:

4. TAHU DIRI

Ini adalah prinsip pengaturan pola makan yang sering saya ceritakan kalau ada yang bertanya. Tau diri aja lah, kalo hari ini udah makan mi instan, masa’ besoknya makan itu lagi. Setelah memakannya, artinya saya sudah merusak tubuh saya. Lalu apa yang akan saya lakukan untuk membalasnya? Memberikan makanan yang bermanfaat bagi tubuh. Gampang kan!

Malam minggu ini diajak nonton rame-rame, semua makan popcorn. Ya makanlah. Minum soda? Ya minumlah. Tapi makan dan minum dengan kesadaran. Sadar bahwa makanan yang sedang saya makan itu sebenarnya memiliki kecenderungan merusak tubuh. Dan karena sadar maka saya pun akan berusaha untuk “membayar balik” dan membatasi konsumsinya.

Belakangan saya lagi suka sekali makan es krim bentuk ikan dengan minum kopi pahit. Entah kenapa saya menemukan kenikmatan yang luar biasa. Saya terus mengkonsumsinya sampai saya bosan. Tak sampai tiga minggu saya mulai berhenti. Tentunya dengan tubuh yang mulai terasa berat hihihi.

Buat saya ini lebih baik. Ketimbang saya berusaha keras untuk melawannya. Kenapa? Semakin dilawan semakin kepengen 🙂 Mending kalo pengen makan ya makan aja. Lagi-lagi asal tahu diri.

Yang membawa ke point berikutnya:

5. DENGARKAN TUBUH

Tubuh saya akan selalu memberikan tanda-tanda penolakan atau penerimaan. Kalau tubuh menerima makanan yang bermanfaat, maka organ-organ tubuh kita akan bekerja dengan maksimal. Badan akan merasa segar, aktif, tak mudah lelah, mawas dan sebagainya. Sebaliknya, kalau tubuh cepat lelah, kulit gatal-gatal, migren, ngantukan, dll, coba cek makanannya. Jangan-jangan terus menerus diberikan makanan tak berguna. Ya pantas dong kalo tubuh ngambek.

Karena  sedang membahas tubuh, sekalian kita bahas soal bentuk tubuh indah menurut saya. Otot-otot yang menonjol dengan jelasnya, langsing, dan ideal, sayangnya tak selalu berarti tubuh yang sehat. Loh kok?! Ya karena belum tentu “jeroannya” baik. Contoh gampangnya, badan bagus tapi sering sembelit. Tubuhnya indah tapi matanya cekung, kulitnya kusam, rambut rontok dan sebagainya yang merupakan tanda-tanda organ tubuh tak sejahtera.

Semakin banyak berolah raga, semakin harusnya kita memperhatikan makanan. “Boleh dong makan apa aja kan udah olahraga”. Bagaimana mungkin? Tubuh membutuhkan energi dari makanan. Kalau yang masuk hanya numpang lewat dan tak berguna, sementara terus berolahraga maka kita sedang menyiksa tubuh. Tubuh yang memang akan mengurus di awal, tapi perhatikan kemudian bagaimana tubuh akan berdegradasi.

Tidak ada olahraga yang bisa menutupi makanan yang buruk. Bahkan, lebih baik tidak berolahraga tapi memperhatikan makanan yang masuk. Ketimbang sebaliknya.

KESIMPULAN (SEMENTARA) SAYA…

Diet bukanlah perihal satu minggu, satu bulan, satu tahun… tapi soal kelanggengan. Diet baru akan terasa manfaatnya kalau dilaksanakan secara terus menerus. Karenanya selalu pertimbangkan gaya hidup, pekerjaan, uang dan faktor keseharian lain sebelum menentukan jenis diet yang dijalani.

Tak ada diet yang paling bagus atau paling buruk. Setiap badan dan gaya hidup memerlukan dietnya sendiri-sendiri. Tak perlu memaksakan jenis diet tertentu. Metabolisme orang berbeda-beda, jam kerja orang berbeda-beda, kebutuhannya pun berbeda-beda. Dan di atas segalanya, prioritas orang berbeda-beda.

Misalnya sejak Januari, pekerjaan saya lagi banyak-banyaknya. Pulang paling cepat jam 11 malam kadang subuh. Tidur kurang maksimal dan bangun dalam keadaan tubuh lelah. Makanan? Boro-boro sempat ke dapur. Makan apa saja yang ada di sekitar saya. Semuanya saya jalani dengan kesadaran karena prioritas hidup saya sedang menyelesaikan pekerjaan. Saya sadar tubuh saya sedang rusak perlahan. Berat badan saya naik dan gemuknya tampak tak sehat. “Bebeung” istilah saya.

Berbeda dengan tahun lalu saat saya berlatih untuk ikutan marathon. Setiap hari saya berlatih dan makanan yang saya jaga semaksimal mungkin. Otomatis badan saya jadi bugar bahkan otot perut masa lalu perlahan muncul. Prioritas saya saat itu adalah menyelesaikan marathon dengan hasil semaksimal mungkin.

Menuntut anak kos untuk masak sendiri, tak adil rasanya. Prioritas orang tua beranak tiga yang masih kecil-kecil dengan orang tua beranak satu yang sudah mandiri, pastinya berbeda. Single dan sudah berpasangan, juga punya prioritasnya sendiri-sendiri. Semua prioritas akan mempengaruhi keputusan diet dan olahraga mana yang akan dilakukannya. Atau tidak melakukannya sama sekali. Apa pun itu, tetap harus dihargai.

Karenanya pula, tak perlu terlalu ngotot akan suatu jenis diet. Semakin ngotot biasanya orang akan semakin menjauh. Percayalah, setiap orang akan ada saatnya sendiri akan mulai memperhatikan makanannya. Dan saat itu datang, nikmati saja. Nikmati proses mengenali tubuh dan makanan yang masuk. Proses ini jauh lebih penting karena mengenal diri sendiri adalah landasan segalanya.

Lakukan proses dengan ceria. Dengan bahagia. Dengan sukacita. Ini akan terpancar dan orang-orang di sekitar kita akan ikut mendukung diet yang kita lakukan. Tak ada gunanya diet kalau malah bikin diri sendiri dan orang sekitar kesal.

 

 

 

Semalam Bersamanya

“Jadi menurutmu kondisinya parah, enggak?”

“Ya kalau mau optimis kita bisa melihat kalau dua sisi menginginkan hal yang baik untuk negeri, tapi caranya saja beda.”
“Itu pandangan yang super optimis, IMHO.”
“Tapi ya mungkin saja ‘kaum putih’ sudah mulai kehilangan momentum. Kan akhir akhir ini jadi seperti enggak ada yang menyatukan, apalagi dengan pemimpinnya enggak pulang pulang. But then again, Khomeini juga di Perancis waktu revolusi terjadi.”
“I can’t believe you compare that thing with Khomeini.”
“Iya, we never know.”
“Rasanya enggak percaya bagaimana rasanya 20 tahun yang lalu, enggak ada yang mempertanyakan sekularisme di sini dan sekarang negara kita jadi begini.”
“Bukannya mau menghibur, tapi dulu Iran lebih Eropa dari kita pernah mendekati. And look at them now.”
“Hmpf”
“I know’
“Jadi aku punya observasi pribadi, kalau pesawat yang kita tumpangi sedang melewati turbulence, walau kita merasanya parah, asal flight attendants masih mondar mandir membantu dan menyajikan makanan, kita tak usah terlalu khawatir. Ketika mereka tak lagi serving hot beverage, yaa mulai khawatir sedikit. Tapi ketika kapten pilot sudah meminta flight attendants untuk duduk dan mengencangkan sabuk pengaman; we can start to worry. Jadi menurutmu apakah pramugari masih jalan jalan atau sudah duduk?”
“Mungkin aja masker oksigen sudah keluar, kita sudah pakai dan kita sedang high oleh pure oksigen sehingga tidak peduli kalau sedang menghadapi kehancuran.”
“…”
“I really want to kiss you now.”
“Go ahead then!”
“Mmm. Let’s get out from here and go to my room!”
“Ok”

Ku Tunggu Kau di Ranjang

“Mas cepat pulang, aku tunggu di ranjang yah” Pernah terima atau mengirim pesan instan seperti itu? Apa rasanya ketika membaca kalimat tersebut? Terpikir membeli pelumas di jalan pulang?

Lux bed

Tak ada tempat yang lebih membahagiakan selain kamar. Di ruangan tersebut lah justru banyak peristiwa bermulai. Denyut kehidupan yang terus berputar seakan menenggelamkan esensi dari akar kehidupan di sebilah ruang. Adalah ranjang yang kemudian menjadi alat atau barang utama penghuni kamar. Siapa yang tak kenal ranjang, ‘mahluk’ persegi yang menyimpan bertriliunan cerita.

Ngik nguk ngik nguk, begitu kiranya bunyi ranjang usang ketika digunakan. Kadang mengganggu, kandang juga menimbulkan sensasi tertentu untuk membangkitkan semangat. Di luar itu, secara definisi ranjang ialah suatu mebel atau tempat yang digunakan sebagai tempat tidur atau beristirahat. Benda ini juga bisa dijadikan status sosial bagi penggunanya bila dilihat dari sisi harga pembeliannya. Maka tak heran, perbedaan tingkatan pada hotel atau penginapan salah satunya dari jenis serta ukuran ranjang yang disediakan.

Ranjang juga menjadi indikator bagi para pencari cinta semalam untuk membelanjakan penghasilannya kepada hiburan erotis. Belanja besar bisa mendapatkan servis penjaja seks komersil ditambah treatment khusus, mainnya pun di ranjang king size. Belanja agak besar yah bisa jadi seperti sewa kamar hotel bintang tiga lah. Lalu yang anggaran ‘jajan’nya pas-pasan paling dapet di lokalisasi ilegal atau di balik semak belukar, tinggal modal lotion anti-nyamuk saja.

poor bed

Bicara perputaran uang, prostitusi memang sedikit banyaknya menjadi lahan yang menggiurkan. Havoscope, sebuah lembaga peneliti aktivitas pasar gelap merilis 12 negara yang paling banyak melakukan aktivitas tersebut. Indonesia termasuk di dalamnya (urutan 12), dengan pengeluaran kurang lebih Rp 30 triliun pertahun, wow! Angka yang cukup fantastis. Di urutan pertama diduduki oleh Tiongkok dengan pengeluaran sebesar Rp 982 triliun, disusul oleh Spanyol, Jepang, Jerman, AS, Korsel, India, Thailand, Filipina, Turki, Swiss, dan Indonesia. Untuk detail spending di tiap-tiap negara tersebut, Anda bisa mencarinya melalui Google.

Menurut data pemerintah, ada sedikitnya 168 titik lokalisasi dengan komposisi para PSKnya berjumlah 56 ribu jiwa. Di luar dari lokalisasi, kemungkinan angkanya bisa mencapai 150 ribu jiwa. Dari angka tersebut, 30% nya melibatkan anak-anak di bawah umur. Tiap tahun angka tersebut bergerak naik, entah karena apa, yang pasti faktor UANG menjadi yang paling utama.

Ada seorang professor dari Universitas Birmingham yang menulis buku berjudul “Perbudakan Seks di Asia” yakni Lousie Brown. Menurutnya, ada tiga klasifikasi penjaja seks yang membentuk sebuah piramida, di antaranya;

  1. Kelompok wanita super cantik yang memilih profesi menjadi PSK dengan bayaran yang tentunya tinggi. Di sini tidak banyak yang menjadi pemain. Selain itu, kebanyakn dari pelanggannya pun kalangan berkelas.
  2. Kelompok PSK yang biasanya dikoordinir oleh mucikari. Mucikari lah yang juga berperan dalam memilih serta menentukan harga tiap PSK.
  3. Kelompok wanita yang sedang mengalami keterdesakan ekonomi cukup serius sehingga memilih jalan tersebut agar bisa keluar dengan segera. Di layer ini kemungkinan pelaku (PSK dan pelanggan) nya cukup banyak.

“Pelacuran itu buruk, dan harus dihentikan” Begitulah kebanyakan komentar orang lain, bahkan bila kita bertanya kepada para PSK terkait profesi mereka jawabannya pun sama. Meski semua setuju pelacuran itu buruk, tentunya semua orang punya solusi untuk menghentikannya. Nyatanya, di era media sosial ini justru prostitusi telah menemukan ‘rumah’ baru untuk menjadi lebih berkembang. Siapa yang salah? Apakah kita turut andil? Apakah kepekaan sosial kita telah tumpul?

Selayaknya industri, pelacuran menjadi cukup memiliki nilai ekonomi karena adanya perbandingan yang lurus antara permintaan dengan jasa servisnya. Di Indonesia sekarang cukup lumrah bila menyajikan sebuah pesta yang disertai wanita penghibur dalam melancarkan bisnis. Konsumerisme secara awam kita ketahui hanya berkutat pada produk. Namun, dengan fakta industri pelacuran hari ini, jelaslah bahwa konsumerisme juga terjadi pada pemenuhan hasrat biologis yang kebanyakan menempatkan perempuan sebagai ‘produk’ semata.

Jujur saja, penulis merasa jijik kepada diri sendiri karena secara tidak langsung masih memiliki pola pikir superioritas maskulin dibanding feminim. Tak jarang memosisikan biarkan perempuan lain itu jalang tapi tidak dengan pasangan kita sendiri yang harus baik!

[[]]

Penulis: @ayodiki