Spesial Karena …

 

Beberapa hari terakhir ramai dengan selebrasi #HarryPotter20, memperingati 20 tahun sejak diterbitkannya buku Harry Potter untuk pertama kali. Media sosial pun ramai dengan ekspresi para fans yang menuliskan pengalaman mereka dengan serial legendaris karya JK Rowling satu itu.

Niat saya awalnya hanya sekadar menikmati kisah-kisah lucu dari hasil scrolling ibu jari tersebut. Tetapi, ketika sebuah akun di Instagram mengunggah foto satu tangan tengah memegang buku Harry Potter dan menuliskan pengalamannya mendapatkan buku tersebut, saya pun ikut tergelitik menumpahkan kisah sendiri di kolom komentar:

“Pernah ada masa ketika Harry Potter rilis bertepatan dengan masa ujian sekolah. Saya dibolehin beli sama ortu, tapi…. disita dan ‘disembunyikan’ dulu sama ibu sampai masa ujian selesai. Tiap beliau lagi mandi atau keluar rumah, saya bergerilya mencari-cari di mana tempat persembunyiannya (tapi enggak berhasil hahaha) 😂 Kalau enggak salah, itu Harry Potter keempat.”

Keesokan harinya, akun yang sama kembali mengunggah foto satu-tangan-memegang-buku. Harry Potter kali ini absen, digantikan Supernova karya Dee Lestari. Saya lagi-lagi merasa punya kenangan yang sama erat dengan buku ini, dan merasa harus membagikannya di kolom komentar:

“Sekitar 2001 atau 2002, seseorang yang lebih senior memberikan buku ini pada saya. Waktu itu saya bahkan belum lulus SD 😂 Teman sekelas melihat saya membawa buku ini ke sekolah dan saya masih ingat keheranannya, ‘Kamu baca Supernova?’. Setelah itu, beberapa kali saya mencoba membacanya tetapi enggak connect. Mungkin karena belum dewasa 😋 Kemudian buku ini terlupakan di rak, sampai kira-kira saya SMA saya mencoba membacanya kembali. Astaga, luar biasa, bisa memahami buku yang dulu pernah kubaca tapi tak kumengerti (kira-kira begitu sensasinya hahaha). Ini… ini salah satu buku terbaik yang pernah orang lain berikan pada saya.”

Setelah dua hari turut menyumbangkan komentar, saya jadi ingat memori-memori sentimentil lainnya terkait buku. Terlarut dalam nostalgia, saya pun tersadar: jangan-jangan yang membuat sebuah buku spesial tidaklah hanya soal seberapa membekas isinya, atau seberapa drastis ia mengubah pemikiran kita, melainkan kenangan akan kapan dan bagaimana saya memilikinya.

Jujur, buku-buku koleksi saya di rumah masih belum banyak. Setidaknya, tidak seperti Karl Lagerfeld yang mengklaim menyimpan sampai 300.000 buku di rumahnya atau book-hoarders akut lainnya. Tapi, dari dulu, memang buku selalu menjadi bagian dari (dan pasti juga, membentuk) hidup saya.

Ada judul-judul tertentu di rak buku, yang akan selalu saya ingat bagaimana mendapatkannya: buku yang dibeli dalam perjalanan mudik ke kampung kakek-nenek, koleksi serial yang berhasil didapat setelah berkeliling kios loak, kamus hadiah dari guru les karena hasil ujian saya melebihi ekspektasinya, komik yang dipinjam tetangga begitu lama dan begitu dikembalikan isinya penuh coretan, novel yang saya pinjamkan ke gebetan begitu lama dan begitu dikembalikan dia (gebetan, bukan buku) sudah ada yang punya…

Hingga judul-judul tertentu yang menjadi penanda zaman: Wah, saya pertama kali baca serial ini di perpustakaan SD. Yang ini, dibaca sembunyi-sembunyi waktu SMP. Yang itu, teenlit yang hits banget waktu SMA, semua baca!

Ah, such a bittersweet nostalgia. Terima kasih kalian semua, untuk menjadi saksi bisu segelintir kenangan pahit-manisnya babakan hidup.

Untitled


Salah satu buku yang saya anggap paling spesial bagi saya bukan karena penulisnya terkenal atau karena ceritanya memukau nalar dan mengguncang iman… tetapi karena tulisan yang terdapat di halaman pertamanya:

“Selamat ulang tahun ke-9. Semoga panjang umur dan kelak menjadi orang yang bijak. Tetaplah membaca untuk menambah pengetahuan, tapi… jangan lupa belajarnya! Sayang selalu dari Papa, Mama, dan Adik.”

[]

Penulis: Mariska // @mvergina (Twitter dan Instagram). Tinggal di Tangerang, sehari-hari bergelut dengan kata-kata di salah satu harian di Jakarta.

 

Advertisements

Jujur Saja, Apa Pentingnya Keluarga Besar?

Mudik sudah habis. Waktunya kembali pada hidup yang nyata. Tidak berpuasa dan semuanya kembali seperti keadaan semula. Bekerja seperti biasa.

Apakah makna Ramadan masih berbekas? Bagaimana keadaan keluarga besar?

Biasanya hal yang peling menarik dari berlebaran adalah pertemuan keluarga besar. Tidak hanya keluarga batih. Bukan saja bertemu Bapak Ibu adek kakak, melainkan juga Paman, Kakek, Nenek, Sepupu, Tante, Adeknya Nenek hingga Sepupu Ibu.

Lantas pertanyaannya adalah: Apa makna berkeluarga besar?

Pada momen tertentu berkeluarga besar dapat memacu semangat.

Secara positif ketika mudik keluarga besar bisa jadi ajang pamer paling mudah.

Lihat wahai lihat, hamba sudah berkelana di ibukota, punya istri jelita, mobil tiga dan anak lucu-lucu sekolah dengan bahasa pengantar gunakan bahasa mancanegara.

Ketika anak paman hanya jebolan universitas terbaik negeri ini, eike mah lulusan enggres bantuan LPDP dong. Ketika Tante dari Bekasi pamer totebag mangkokayam-nya Glenn, istri eike mah pamer kain sejauh mata memandang dong. Ketika Paman yang kerja di perusahaan minyak pamer gawai terkini, eike mah pamer ga bergantung pada apapun baik gawai berupa hape, tablet, kapsul, puyer, sampai sirup. Eike lebih memilih habiskan waktu bersama bini dan anak ane yang lucu-lucu gemetz. Tiada yang lebih indah dari sebuah keluarga sakinah.

Keluarga Besar adalah Lambe Turah

Jika keluarga besarmu malah menjadi mirip lambe turah, maka siap-siaplah untuk lebih baik tutup telinga dan sibukkan diri dengan banyak hal positif. Karena bisa jadi, tiba gilirannya kamu menjadi korban.

WA Grup menjadi ajang saling bertukar informasi gosipan terbaru. Meja makan jadi ajang saling konfirmasi. WA Grup bisa ada delapan. Grup Anak muda. Grup Full tanpa kecuali. Grup Jakarta. Grup Surabaya. Grup Pro Ahok. Grup InsyaAllah Surga.  Grup Mantu. Grup Pureblood.

“Tau gak Mas, anaknya Tante ini ternyata blabla bla.”

” jadi rupanya ya gitu itu. Kita ga nyangka ya.”

“Eh.. eh.. sssst. Sudah-sudah. Aku sih gak percaya. Aku mah percayanya itu gini was wis wus wes wosh.”

Seharusnya Keluarga besar menjadi sebuah ajang saling belajar toleransi dalam skala lebih besar dari sekadar keluarga kecil. Beruntunglah bagi kalian yang berkelaurga besar memiliki pemahaman dan kesabaran lebih untuk saling menghargai daulat keluarga kecil masing-masing.

Tidak ada yang sok kuasa bagai Negara Amerika. Tidak ada sosok Trump yang punya hobi berlebih tanya sana-sini urusan adek ipar atau ponakan, tanya penghasilan, lauk buka puasa, sampai berapa kali bercinta selama bulan Ramadan.

Apalagi jika ada kerabat yang post power syndrome  mantan pejabat kaya raya hasil korupsi jaman orba yang terbiasa suruh sana sini dan terbiasa mentraktir kemana-mana namun minta semuanya salim dan hormat padanya.

Tanya kenapa belom kawin. Tanya kenapa kok anaknya cuma dua. Tanya kenapa kok istri kita lebih banyak di dapur. Tanya kenapa lebaran ketiga sudah ingin kembali pulang. Tanya kenapa belum naik haji. Tanya kenapa itu ada kutil di bawah bibir. Tanya kenapa kumisnya berwarna putih. Tanya kenapa dia selalu banyak bertanya.

Tips.

Anggota Keluarga besar yang suka gatel ini tidak perlu diapresiasi dan disuapi dengan respek terlalu tinggi. Cukup hormati karena masih bersaudara. Biar hidup kita tenang. Jika masih riwil saja, silakan balas secukupnya biar mereka mikir.

Apakah selama ini kita dapat uang bulanan dari dia? Apakah saat pulsa listrik habis ybs memberi mengisi tokennya? Apakah saat pembagian rapor mereka mengurusi izin cuti kita dari kantor? Apakah saat air pancuran di kamar mandi bocor sodara kita yang mulia itu tergopoh-gopoh menuju ace hardware dan membeli selotip keran? Apakah saat kita kelaparan tengah malam sodara kita yang entah nama tengahnya siapa memesankan gofood? Apakah saat akhir bulan, saat banyak tagihan datang ybs menghitung segala tagihan dan dengan tekun menemani kita membayar segenap tagihan  di depan atm?

Jika jawabannya selalu tidak, maka tersenyumlah pada sodara-sodara kita. Dan doakan semoga mereka khusnul khotimah. Bukan mendoakan cepat tiada, hanya berdoa semoga lancar sampai tujuan.

 

salam anget,

Roy

  • bonus

 

 

SaveSave

Semata

Hai.”

Hai.”

POV – 1

Of all the coffee shops in town, why here?
Wait.
Of all the towns and cities in the country and the world, why here?

“Apa kabar?”

“Baik. Apa kabar?”

“Baik juga.”

Awkward silence. Something we, no, I used to avoid. It always signals something wrong. But it was then. This is now. Quick, brain! Think of something!

“Eh, iya. Maaf lahir batin, ya.”

“Oh, iya. Maaf lahir batin juga.”

“Kapan sampai?”

“Kemarin. Erm, udah lama mudik?”

That brief pause when you don’t know what to address me? Really? I thought we’re past this.

“Dua hari sebelum Lebaran sudah di sini. Kok tumben ke sini?”

“Mau lanjut road trip besok pagi, hiking, terus keliling-keliling. Jadi mampir dulu.”

“Oh ya? Wah, keren. Iya sih, harus berangkat pagi-pagi banget kalau mau dapet pemandangan bagus. Sendiri?”

Somehow I have a feeling I will regret asking that question.

“Enggak, sih. Erm, berdua. Dia juga Lebaran di sini.”

There you go.

“Oh, oke.”

Wait, what? Why am I just okay? Where’s the flaming rage? Where’s the emotional outburst? I’m supposed to break all the tables in this cafe into pieces, but why do I remain calm? What is happening? Who takes over my body?

“Jadi ya nyusul. Mumpung masih ada liburan.”

Alright, say no more, maybe?

Enjoy the holiday kalo gitu.”

Thanks.”

“Kayaknya gue duluan ya.”

“Buru-buru banget.”

Wait, what is that supposed to mean?

“Ini juga duduk cuma buat nungguin makanan dibungkus, sekalian beli beans buat persediaan di rumah.”

“Oh, oke.”

“Duluan ya. Salam buat …”

Dang! The name! The name! What’s the name? Stupid brain, what’s the name?

“Hehehe, oke, nanti disalamin.”

Major crisis averted! Phew!

“Hehehe. Sorry. Oke, thanks ya. Duluan. Bye! Nice to see you again.”

Why am I being miss, I mean, mister congeniality here?

Bye. Nice to see you juga.”

I feel nothing. At last.

POV – 2

Uh oh. This is what I dreaded the most. This is what I’m so very afraid of.
Now it’s happening.
S**t.

“Apa kabar?”

“Baik. Apa kabar?”

“Baik juga.”

Okay. This is awkward. The other party stays silent. What should I do?

“Eh, iya. Maaf lahir batin, ya.”

Finally.

“Oh, iya. Maaf lahir batin juga.”

“Kapan sampai?”

No, no. Don’t start asking these questions.

“Kemarin. Erm, udah lama mudik?”

“Dua hari sebelum Lebaran sudah di sini. Kok tumben ke sini?”

You have anticipated and prepared this kind of questions, dear self. Time to open the file. Come on, say the lies, I mean, the prepared answers.

“Mau lanjut road trip besok pagi, hiking, terus keliling-keliling. Jadi mampir dulu.”

Nice. Very smooth. Good start.

“Oh ya? Wah, keren. Iya sih, harus berangkat pagi-pagi banget kalau mau dapet pemandangan bagus. Sendiri?”

Yeah, you’re not a good liar. You don’t prepare this far. You dumb self!

“Enggak, sih. Erm, berdua. Dia juga Lebaran di sini.”

“Oh, oke.”

Wait, what? Did I hear that right? “Oh, okay”? “Oh, okay”? Seriously? How can you be this cordial and fine? You’re supposed to break all the tables in this cafe into pieces, but why do you remain calm? What is happening? Who are you, really? Are you over me already?

“Jadi ya nyusul. Mumpung masih ada liburan.”

See how your calm response making me saying stupid things like that.

Enjoy the holiday kalo gitu.”

Thanks.”

“Kayaknya gue duluan ya.”

“Buru-buru banget.”

No, no, no. I did not just blurt that out. No, no, no. Where did that come from?

“Ini juga duduk cuma buat nungguin makanan dibungkus, sekalian beli beans buat persediaan di rumah.”

Thank you for your smile that saved the awkwardness. Thank you. I’m sorry I can’t say it out loud.

“Oh, oke.”

“Duluan ya. Salam buat …”

Uh oh. Now you’re being awkward. Ha! Gotcha!

“Hehehe, oke, nanti disalamin.”

“Hehehe. Sorry. Oke, thanks ya. Duluan. Bye! Nice to see you again.”

Bye. Nice to see you juga.”

I will remember this. Of all the places in the world, I’m glad to see you here.

Menerjemahkan Rasa Kesepian

SEGALANYA muncul melalui keterkondisian. Begitu pun dengan rasa kesepian. Muncul dan dialami seseorang yang terkondisi untuk merasa demikian.

Keterkondisian adalah berlangsungnya keadaan-keadaan yang sesuai dan cocok, yang mendukung dan memperbesar kemungkinan munculnya sesuatu hingga mendekati 100 persen. Keterkondisian bersifat kausalitas, sebab akibat, bukan semacam sulap atau sihir yang bisa menciptakan sesuatu dari udara secara tiba-tiba.

Semua orang pasti tahu dan pernah merasakan kesepian. Beberapa dari kamu yang sedang membaca Linimasa hari ini barangkali juga tengah merasakannya, dengan beragam penyebab dan latar belakang. Namun pada dasarnya, rasa kesepian terjadi karena adanya kesenjangan antara yang diinginkan dan yang terjadi. Dalam hal ini, berkaitan dengan hubungan dan interaksi sosial kita terhadap orang lain.

Kita Menciptakan Rasa Kesepian Kita Sendiri

Banyak yang beranggapan bahwa rasa kesepian terjadi akibat perlakuan orang lain terhadap diri kita. Bisa disebabkan oleh penolakan secara personal maupun sosial, merasa ditinggal atau tidak diikutsertakan, merasa terisolasi, terasingkan dan tidak ada yang bisa memahami, atau merasa dijauhi. Padahal semua itu hanyalah pemicu.

Rasa kesepian selalu muncul dari dalam diri/benak kita sendiri. Bukan semata-mata perasaan, munculnya rasa kesepian juga disebabkan oleh bagaimana cara kita memahami, memikirkan, dan menanggapi sesuatu. Sederhananya, kita benar-benar merasa kesepian setelah kita berpikir demikian.

Sebagai contoh, penolakan dari keluarga tentu terasa berbeda dibanding penolakan dari para sahabat baik; dari rekan kerja, dari tetangga, dari musuh atau orang yang tidak disenangi, maupun juga dari gebetan. Kadar perasaan tidak menyenangkan dan kesepian yang dihasilkan akan tidak sama, tergantung pada siapa yang memberikan penolakan. Seberapa penting tempat orang tersebut dalam kehidupan kita. Kita bisa benar-benar merasa sendirian dan ditinggalkan setelah ditolak oleh para sahabat, namun di sisi lain kita tetap bisa cuek dan masa bodoh saat penolakan tersebut dilontarkan oleh rekan kerja di kantor yang tidak dekat-dekat amat. Dengan demikian, kita berperan dalam menciptakan rasa kesepian kita sendiri.

Kita Perlu untuk Merasa Kesepian

Saya membaca petikan wawancara menarik dari John Cacciopo–seorang peneliti neurosains–beberapa waktu lalu. Salah satu poinnya adalah, rasa kesepian adalah mekanisme alamiah tubuh yang kita perlukan dalam sejumlah keadaan wajar. Salah satunya, termasuk rasa kesepian yang muncul setiap malam ketika menjelang tidur… sendirian.

“…as a social species, to be able to identify when our connections with others for mutual aid and protection are being threatened or absent. If there’s no connection, there could be mortal consequences. Those are threats to our survival and reproductive success.”

Justru ada yang keliru apabila kita tidak pernah merasa kesepian untuk sejumlah keadaan tersebut. Karena bisa jadi kita tidak sepenuhnya sadar dengan yang terjadi.

Kesepian ≠ Kesendirian

Rasa kesepian menempatkan diri kita sebagai korban atau penderita. Sedangkan keadaan untuk sendiri atau menyendiri merupakan keinginan, menempatkan diri kita sebagai pemegang kendali atas kehidupan kita sendiri.

Dengan menempatkan diri sebagai korban, kita akan melakukan semacam defense mechanism berupa sikap mendahulukan diri sendiri meskipun secara tidak sadar. Dalam keadaan wajar, tindakan ini akan timbul dan tenggelam dengan sendirinya. Berbeda kalau sikap seperti ini dilakukan terus menerus, akan menjadi masalah sosial. Membuat seseorang cenderung selalu dijauhi oleh sekitarnya, lalu membuatnya lagi-lagi merasa kesepian dan tidak dimengerti.

Penting untuk dipahami, orang yang sedang dalam hubungan personal pun bisa merasa kesepian. Saat ini terjadi, defense mechanism kembali aktif secara otomatis. Membuat seseorang melindungi dirinya dari hal-hal yang dianggap/berpotensi mengganggu, termasuk pasangan. Perlu dilihat apa penyebab munculnya rasa kesepian itu, dari luar atau justru dari dalam lingkar hubungan tersebut. Kemudian, apakah sang pasangan bisa meredam dan meredakan rasa kesepian itu atau tidak… atau ternyata memang ada gangguan kepribadian?

 

Bukan Cuma Kekosongan yang Perlu Diisi

Jangan rancukan rasa kesepian dengan sekadar kebosanan. Bosan sendirian, tanpa teman bicara atau bertukar pikiran. Lantaran ada juga orang-orang yang sudah berpasangan, namun bosan, dan akhirnya menganggap dirinya kesepian. Hal ini pun dijadikan alasan. Bukan dibicarakan dan diselesaikan, eh malah diselewengkan. Rasa kesepian jadi pembenaran. Kelakuan yang memuakkan seperti ini, yang bikin suasana sepi sendiri kadangkala terasa lebih menyenangkan.

🍻Cheers! Untuk semua orang yang saat ini sedang merasa kesepian. Semoga bisa saling menemukan.

[]

Pagi, Renja!

Omelet, roti panggang dan irisan keju, sudah siaga di atas meja makan dalam piring keramik berwarna biru. Di ujung meja, di dalam sebuah mangkuk sup plastik; pupuk urea organik dicampur sedikit kompos dan setengah gelas air, tersaji sudah; bubur sehat, sarapan kegemaran Renja.

Renja duduk, membaca novel “cantik itu luka” berulang-ulang. Ia belum mau memulai sarapannya. Menunggu Yura, yang masih bercanda dengan air hangat di kamar mandi.

Ritual pagi, selalu diawali dengan Renja bangun lebih awal, memetik setangkai bunga kertas dari halaman rumah, lalu berkutat di dapur untuk menyiapkan variasi sarapan istrinya. Lantas Renja akan menata meja dengan hati-hati. Meletakkan vas bunga keramik lonjong bercorak merah jambu di tengah meja, lalu meninabobokkan setangkai bunga kertas di dalamnya. Hampir setahun sudah, Renja melakukan ritual itu setiap paginya. Persis di waktu yang sama, tidak lewat atau kurang sedetikpun.

Yura, keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk putih melilit tubuhnya. Kamar tidur itu tidak lebar. Dindingnya bercat hijau terang dengan gambar-gambar pohon bergaris tak rapi. Yura suka memandangi gambar yang dilukis Renja kurang lebih sebulan itu. Tak begitu banyak perkakas di dalam kamar, hanya ada meja rias kecil, lemari kecil dan tempat tidur dari kayu jati yang sedikit lebar, warisan keluarga Yura.

Di depan cermin, Yura mengenakan seragam kerja, memakai sedikit bedak, eye shadow tipis, dan lip gloss. Sekali saja dalam hidupnya Yura memakai lipstik; di resepsi pernikahannya dengan Renja. Yura menatap bayangan dirinya di dalam cermin, kemudian menjahit senyum dibibirnya. Dari matanya; ia masih melihat aura luka yang terus mengganggunya. Dari atas tempat tidurnya, seperti biasa, ia akan memunguti kuntum-kuntum kamboja sebelum beranjak ke dapur.
“25 helai Nja, 25 helai! Apa sakitmu memburuk?” Yura menatap tajam ke arah Renja. Matanya menyipit, mulut tertutup mengecil, tangannya bergetar; Yura tengah diamuk marah, resah sekaligus takut. Yura memperbesar aura luka di matanya pagi itu.

Renja menggeleng kaku. Bunyi derak halus selalunya akan terdengar tiap kali Renja menggerakkan tubuh. Renja meletakkan bukunya dengan sangat hati-hati sekali. Dengan perlahan dan gerak patah-patah, Ia memulai sarapannya.
Yura geram, ia menggebrak meja, lalu kembali mengatur nafasnya sambil mengeluarkan cermin dari tas Gucci biru aslinya. Memandangi wajahnya di dalam cermin. Kembali menjahit senyumnya yang berantakan.

“Tak mengapa Nja, Tak mengapa sayang. Kita akan baik-baik saja! Toh, sekarang hidupmu sudah milikku! Kita bisa saling berpelukan, saling menyetubuhi dan dan bisa saling bertemu setiap hari di rumah ini!

Yura diam sesaat, matanya seketika berubah menjadi belati yang diasah ribuan tahun. “Kau tidak akan bisa pulang lagi! Kau harus yakinkan itu pada dirimu sendiri! Ya, Kau harus! Dan harus, harus!” Yura menceracau pada dirinya sendiri. Renja diam.Tetapi pikirannya membuat ia mengangguk perlahan. “Krrrraaaakk”, Renja berderak.

“Aku pergi dulu! lakukanlah apa yang hendak kamu lakukan! Kau beruntung, aku memberimu kebebasan dan kepercayaan! bersyukurlah!”
Yura beranjak, membuka pagar halaman, menguncinya dengan rantai yang berlapis, kemudian memasukkan kembali kunci-kunci itu ke dalam tas. Sebatang pohon bunga kertas tumbuh subur di samping kanan rumah mereka. Yura menatap ke arah pintu rumah mereka; tidak ada tanda-tanda akan dibuka. Yura tersenyum, lalu membuang pandang ke arah kiri. Sebelum menghilang bersama taxi yang menelan tubuhnya.

Di dalam rumah, Renja mencuci perkakas dapur; lima piring pecah, dua kali lebih banyak dari hari sebelumnya. Setelahnya, Renja akan membuka jendela ruang tamu. Dari bingkai jendela itu, pohon bunga kertas tampak bergerak, di hidupkan angin “Pulangkanlah diriku padamu, pulangkah dirimu padaku” Kraaaakk. Renja berderak, tiga puluh kuntum kamboja, gugur dari kepalanya. Lalu Renja tenggelam dalam novel “cantik itu luka.” Bukan membacanya, lebih tepat bila dikatakan memandanginya tanpa kedip, sebab Renja sudah lupa caranya berkedip.

*
Hiruk pikuk perintah dan tumpukan memo, bikin Yura lupa rumah sepenuhnya. Disampingnya, lelaki paruh baya dengan kemeja putih liris bersetrika rapi dipadu padan dengan celana panjang hitam yang juga bersetrika rapi, tengah setia duduk menunggunya. Yura melirik lelaki itu sesekali, kemudian menunjukkan senyum yang telah dijahitnya sempurna semenjak rumah. Lelaki itu memandang Yura, mata mereka beradu temu, liur mereka tumpah.

“Kenapa kau mau menikahinya?”
Kenapa kau suka melumatku?
“Aku suka tubuhmu!”
Aku suka keliarannya!
“Dia sudah mati dalam hidupnya yang sekarang kan?”
Setidaknya aku menang dengan memilikinya, dia karibmu bukan?
“Tapi kelamin hanya mengenal birahi, bukan teman, begitukan?”
Yura kembali memasang senyum yang telah dijahitnya sempurna, lelaki itu kembali bergemuruh, liur mereka kembali tumpah.
“Apa dia pernah tau apa yang kita lakukan?”
Tentu saja, bahkan dari awalnya. Itu kenapa dia memutuskan pergi, menuju purnama yang menghidupkannya!
“Lantas bagaimana kau bisa memilikinya!”
Ia lupa, Ia terbang tanpa sayap. Oleh sebab itu ia jatuh. Lalu aku mengutipnya dan menanamnya di rumah!

*
Pagi tumbuh belum sempurna. Renja, dengan derak perlahannya, bangkit dari tempat tidur. Ribuan kuntum kamboja, gugur di atas seprai yang kusut marut. Yura melingkar, mendengkur halus seperti bayi jerapah. Senyum polos yang mekar di bibirnya tumbuh tanpa perlu di jahit. Renja mengulang paginya. Membuka pintu, lalu berdiri menatap bunga kertas yang tumbuh subur di halaman rumah.
Renja memetik setangkai, menciumnya perlahan-lahan dan dalam. Renja larut dalam damainya. Ia mendekap tangkai bunga kertas itu di dada kirinya. Renja diam tak bergeming.
“Pagi, Renja!”
Suara itu tak asing. Suara itu membangkitkan hidup Renja. Renja gemetar bukan kepalang. Lama sudah ia tidak mendengar bentuk suara yang begitu di rindunya itu. Renja menolehkan kepala dengan lentur tak kaku. Pun tak ada suara derak. Di ujung jalan, di luar pagar, ia melihat sosok yang begitu dikenalnya. Sosok yang menghidupkannya. Sosok yang diam-diam disebutnya purnama. Naina, Sosok itu tersenyum datar.

“Berhentilah berimajinasi dan berangan-angan, Renja. Kepemilikanmu atasku hanyalah imajinasi dan angan-anganmu sepihak, sedari dulu memang begitu. Maka berhentilah!”

Renja menatap sosok itu dengan penuh ketenangan, segala kerinduan yang dimilikinya lebur ke dalam tetesan bening yang mengalir keluar dari tengah mata kirinya. Pertama kalinya, Renja tersenyum.
“Pagi, Renja!” Sosok itu kemudian memudar bersama pagi yang telah tumbuh sempurna. Matahari melebur tubuhnya kedalam cahaya lembut, mengikisi kulit pohon kamboja yang tumbuh di tubuh Renja. Pagi itu, Renja kembali dilahirkan dirinya sendiri. Dengan ketenangan yang tetap, Renja menuju dapur rumahnya, meletakkan dengan lembut, setangkai bunga kertas di dalam vas bunga. Lalu menyiapkan sarapan pagi sebagai seorang manusia, untuk pertama kalinya.

<>

Penulis: Senjakalasaya

Jenius Adalah

Ini bukan review aplikasi yang saya sudah unduh cukup lama tapi belum juga seratus persen mengerti bagaimana menggunakannya. Ketika saya mencari kutipan yang saya kira dari Einstein, ternyata yang keluar malah nama Thomas Alva Edison yang mengatakan, bahwa “genius is 1 percent inspiration and 99 percent perspiration”.

Dan percayalah terhadap berember ember Anda akan berkeringat kalau cita cita menjadi jenius di bidang… let’s just say olympic weightlifting. Melihat para atlet melakukannya seolah begitu mudah. Tinggal membangun otot hingga besar dan kuat lalu angkat saja barbelnya. Kenyataannya satu gerakan saja melibatkan begitu banyak teknik dan mobilitas yang berbeda, dan untuk melakukannya dengan benar, baru kemudian bisa melatih dengan beban yang lebih berat lagi dan lebih berat lagi. Dengan melakukan teknik ini lagi dan lagi, dan melatih mobilitas setiap kali memegang sapu atau pel (di saat musim mudik seperti ini), akan membuat muscle memory, sehingga bisa dilakukan tanpa berpikir keras, sehingga beban bisa terus ditambah.

Kalau otak punya muscle memory, mungkin pekerjaan yang kita lakukan sehari-hari melatihnya, sehingga ketika kita melakukan pekerjaan yang sudah terasa instinctive, kita bisa memikirkan hal hebat berikutnya yang bisa kita lakukan dan latih untuk muscle memory otak.

Kalau nurani punya muscle memory, mungkin ritual seperti solat, mengkaji kitab suci, berpuasa di waktunya juga gunanya untuk melatihnya. Melatih untuk selalu berpikir baik tentang orang lain – tanpa memandang ras atau agamanya. Melatih untuk tidak mengambil hak orang lain – betapa kita merasa kita lebih membutuhkannya. Melatih untuk berpikir bahwa kita harus selalu siap kehilangan apa yang kita miliki sekarang. Melatih untuk bersabar dan selalu bersyukur dengan apa yang kita bisa makan, minum dan utarakan dengan bebas.

Sayangnya kita tidak selalu sadar bahwa kita sedang berlatih, sehingga seringnya kita menyianyiakan waktu sehingga tidak ada muscle memory yang dibentuk; fisik, otak, apalagi nurani.

Maaf kalau post saya terlalu malam, dan ingin mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri untuk yang merayakan. Semoga latihan kita menjadi sesuatu yang membuat kita menjadi manusia lebih baik, karena itulah arti kemenangan sebenarnya.

#RekomendasiStreaming Buat Teman Libur Lebaran

Akhirnya, kita memasuki libur panjang resmi nasional.

Regardless who or what you are, mau tidak mau kita semua, atau mayoritas dari kita semua, terkena dampak event tahunan libur panjang Lebaran. Mau merayakan Lebaran atau tidak merayakan Lebaran, yang jelas semuanya liburan. Mau pergi atau berdiam diri, tetap saja liburan.

Oleh karena itu, kali ini jumlah rekomendasi tontonan lewat aplikasi video streaming sedikit lebih banyak dari biasanya. Dan semuanya adalah serial, dengan kisaran 8-10 episode per serial.

Terdengar banyak? Oh, please. Pasti di hari ke-3 liburan sudah mulai mati gaya, bingung mau ngapain.

Semua serial di bawah ini bisa ditonton secara resmi di Amazon Video atau Netflix. Kalau masih belum berlangganan, silakan coba saja. Kedua aplikasi ini memberikan masa berlangganan gratis di bulan pertama.

Jadi rekomendasi serial pengisi libur Lebaran tahun ini adalah …

American Gods

Diangkat dari novel karya Neil Gaiman, serial ini membuat saya terhenyak dan terpaku di episode pertama. Visually striking and stylish, setiap gambar dan adegan menyita perhatian kita, sambil heran, kenapa serial seindah ini tidak jadi film bioskop saja? Alasannya, karena banyak sekali cerita dan karakter yang out-of-the-world yang harus Anda tonton selama 8 episode. Oh, dan sebaiknya jauhkan tontonan ini dari anak-anak. Buat orang dewasa saja, it will blow your mind away. Apalagi buat yang belum dewasa.

American Gods

Kalau sudah selesai menonton American Gods yang sangat membelalakkan mata dan pikiran, maka saatnya Anda mengistirahatkan otak sejenak dengan tertawa sambil menonton …

Fleabag

Apa ya bahasa Indonesia yang pas buat menerjemahkan kata “koplok”? Gokil? Oke, gokil. Serial ini sungguh “gokil”, tanpa tedeng aling-aling menggelontorkan kecuekan karakter Fleabag, perempuan di London yang selalu sial dalam hidup, terlebih lagi kehidupan percintaannya. Mirip serial “House of Cards”, ada beberapa momen di mana karakter Fleabag akan berbicara dengan Anda di tengah-tengah adegan, tapi alih-alih membuat kita terkesima, yang ada malah terbahak-bahak menertawakan ketololan sekaligus keluguan. Cocok ditonton setelah Anda lelah menghadapi berondongan pertanyaan dari keluarga, kenapa Lebaran kali ini masih sendirian saja.

Fleabag

Setelah selesai tertawa bersama Fleabag, dan setelah usai istirahat, maka di hari berikutnya kita bisa mulai mengerahkan energi untuk berkonsentrasi menonton …

The Keepers

Maaf, sebelumnya saya harus memberi peringatan terlebih dulu kepada Anda: this is not an easy watch. Ini adalah serial dokumenter yang berusaha menguak misteri terbunuhnya seorang biarawati bernama Cathy Cesnik di Baltimore, Amerika Serikat, tahun 1969. Namun sepanjang 7 episode, yang begitu cepat berlalu, kita malah tertampar dengan temuan mengerikan atas kejadian-kejadian di luar batas kemanusiaan yang mengatasnamakan agama. Sounds familiar? Saran saya lagi, jangan langsung ditonton semuanya sekaligus. Apalagi setelah episode 2 dan 3. Tarik nafas dahulu. Ini memang kisah nyata. Dan mengerikan. Tapi di akhir serial, kita bisa bernafas lega, karena optimisme masih mendominasi hidup. Phew.

Setelah melalui perjalanan panjang The Keepers, saatnya kita beristirahat, lalu menikmati tontonan yang santai, menyenangkan, sekaligus membuat tersenyum, yaitu …

Midnight Diner: Tokyo Stories

Ceritanya sederhana. Sebuah kedai di gang kecil di Tokyo buka dari jam 12 malam sampai jam 7 pagi. Dia hanya menyajikan satu jenis menu. Namun pelanggan bisa meminta menu lain, selama pemilik warung punya bahannya. Lalu cerita bergulir dari setiap tamu yang datang, lengkap dengan masalah mereka masing-masing. Hanya dalam waktu 30 menit per episode, kita selalu dibuat tersenyum menonton cerita mereka, because they feel so human. Unpretentious, and sincere. Mungkin setiap selesai menonton, Anda bisa berpikir ulang tentang makanan yang Anda santap. Because every meal has its story, i.e. your story. Tonton, resapi, dan nikmati. Sepuluh episode akan membuat Anda klangenan seketika.

Sementara kalau hanya menonton satu film selama liburan ini, yang bisa ditonton berulang kali bersama seluruh anggota keluarga besar, maka hanya ada satu film, yaitu …

Dangal

Ini bukan cuma salah satu film Hindi terbaik yang pernah ada, tapi ini adalah salah satu film terbaik yang pernah dibuat sepanjang masa. Terlalu berlebihan? Rasanya tidak. Kisah antara ayah dan anak-anak perempuannya untuk meraih kebebasan dalam hidup tidak terasa mengada-ada. Siapapun bisa merasa relate to the story. Siapapun yang pernah berusaha memahami ayah mereka, akan menonton film ini dengan penuh pemahaman. Siapapun yang sedang berusaha memahami anak-anak mereka, tontonlah film ini dengan penuh perasaan. Siapkan tissue, karena air mata mungkin menetes di akhir saat Anda tidak terasa tepuk tangan.

Dangal-poster-large-LISTICLE

Selamat libur Lebaran, para pembaca Linimasa!

Belajar dari Pengalaman

PENYESALAN, perasaan tidak menyenangkan yang selalu datang belakangan. Muncul setelah sesuatu yang terjadi di luar harapan, atau tak sesuai keinginan, bahkan hingga yang berdampak buruk dan mengakibatkan kemalangan.

Semua orang menghindari penyesalan, atau kondisi-kondisi yang bisa membuat mereka merasakan penyesalan. Namun justru karena itu, dari sudut pandang berbeda, rasa sesal sebenarnya adalah salah satu anugerah penting dalam kehidupan manusia. Menjadi sebuah pengalaman berharga, dengan “pelajaran” di dalamnya. Bikin sadar. Bikin nyadar.

Sederhana saja. Bukan sekadar perasaan, rasa sesal bisa mendorong seseorang untuk berpikir, tahu, dan menyadari hal-hal yang membuatnya menyesal. Kemudian belajar dari pemahaman tersebut agar bisa lebih berhati-hati, dan jangan sampai pengalaman itu terulang kembali.

Munculnya penyesalan adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan kita masing-masing. Setiap orang pasti pernah dan akan merasakan penyesalan dalam bentuk apa pun. Sebab tak ada seorang pun yang benar-benar sempurna, yang tidak pernah melakukan kesalahan sama sekali. Yang berbeda hanyalah kesalahan yang telah dilakukan, dan konsekuensinya. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa waktu tak bisa diulang. Apa yang telah terjadi, telah terjadi. Sehingga setiap kali penyesalan muncul, sangat penting untuk lekas-lekas bangun dari keterpurukan emosional yang dirasakan.

Jangan sampai terjebak. Penyesalan selalu memiliki dua sisi: kenangan, dan pengalaman. Kenangan berkutat pada perasaan menyenangkan/tidak menyenangkan yang mengiringi ingatan. Sedangkan pengalaman menghimpun “pelajaran” dari ingatan, menghasilkan semacam daftar dos and don’ts. Dari keduanya, kita cenderung memilih berkubang dalam ingatan. Seringkali terjadi tanpa disadari, memunculkan ketidaknyamanan dan respons lainnya. Kenangan tentang penyesalan kerap menimbulkan kemarahan dan kebencian, rasa malu dan rendah diri berlebihan, keputusasaan, serta lain sebagainya. Destruktif.

Rasa sesal memang mampu mengubah hidup kita, tetapi walau bagaimana pun juga tetap ada kehidupan yang harus terus kita jalani. Jelas bukan sesuatu yang mudah, tapi belum tentu mustahil dilakukan.

Begitu pula dengan ekspektasi atau pengharapan yang ditempatkan sedemikian tinggi. Ada kalanya kita mendapatkan yang diinginkan, ada pula masanya kita terpaksa gigit jari dan menelan kekecewaan. Dalam hal ini, seberapa sanggupkah kita berurusan dengan perasaan-perasaan yang muncul?

Kita akan senang ketika mendapatkan yang diharapkan.
Kita akan jauh lebih senang ketika mendapatkan lebih dari yang diharapkan. Sebuah kejutan, atau malah keberuntungan.
Kita akan kecewa ketika tidak mendapatkan yang diharapkan. Masih bisa dimaklumi.
Kita akan sangat kecewa ketika sudah telanjur berharap banyak, dan ternyata gagal total. Bikin sulit menerima kenyataan.

Sama seperti penyesalan, ekspektasi juga memiliki dua sisi: kenangan, dan pengalaman. Kenangan bikin kita susah move on. Sekali kita mencicipi nikmatnya keberhasilan, kita cenderung melekat, selalu mengungkit-ungkitnya, berusaha mengulanginya, dan bahkan ingin terus meningkatkannya sampai ke batas tertinggi. Sampai pada titik ekstrem tertentu membuat kita berhalusinasi, dan sedikit saja kegagalan bisa menyebabkan penderitaan yang begitu besar.

Dalam hubungannya dengan ekspektasi, pengalaman hidup bisa membuat kita lebih bijak mengukur diri, dan berusaha selalu siap dengan apa pun yang bisa terjadi. Kita pun terkondisi supaya tidak terkurung nostalgia dalam waktu yang lama. Segera kembali ke saat ini, dan siap menjalani kenyataan.

Apa penyesalan terbesarmu, dan apa yang sedang kamu harapkan saat ini?
Siapkah kamu menjadikannya sebagai pengalaman hidup, dan belajar sesuatu darinya?


All my friends are wasted
And I hate this club
Man, I drink too much

Another Friday night I wasted
My eyes are black and red
I’m crawling back to your bed

Well… at least there’s someone on your bed… or sort of…

[]

Saya sedang jatuh cinta…

Pada pagi yang mengingatkan hidup sebentar lagi.

Pada siang terik yang membuat saya rindu hujan.

dan pada malam yang menyimpan birahi.

Saya sedang jatuh cinta…

Pada tempat tinggal yang penuh sesak dengan kenangan.

Ranjang yang selalu memeluk tanpa banyak tanya.

Dapur yang mengingatkan pasang surut perekonomian saya

Pada kakus tempat ide datang dan pergi.

Lemari baju sebagai penanda tubuh saya belum berubah banyak.

Pada kulkas yang masih menyimpan lebih banyak makanan daripada obat.

Rak sepatu yang mempertanyakan perjalanan berikutnya.

Dan dinding yang memamerkan beragam bukti cinta.

Saya sedang jatuh cinta…

Pada tempat makan favorit yang tak pernah menolak saya.

Tempat ngopi yang selalu rela diduakan untuk kemudian dilupakan.

Pada track belari yang menyimpan rahasia keluhan dengan baik.

Pada kursi bioskop yang selalu siap untuk berdiskusi.

Dan pada tempat-tempat tersembunyi yang tak pernah ember.

Juga tempat-tempat lain yang tak menuntut saya untuk selalu bicara.

Saya sedang jatuh cinta…

Pada kamu, kamu dan kamu yang diam-diam atau terang-terangan

membenci atau mencintai saya.

Karena kalian saya jadi sadar, untung saya manusia dan bukan malaikat.

Pada kamu, kamu dan kamu yang diam-diam atau terang-terangan

menghina atau memuji saya.

Karena kalian saya jadi sadar, untung masih ada yang mengajari saya.

Pada kamu, kamu dan kamu yang diam-diam atau terang-terangan

menemui dan meninggalkan saya.

Karena kalian saya jadi sadar, untung tak ada yang abadi di dunia.

Saya sedang jatuh cinta…

Pada semua perubahan yang rasanya semakin cepat.

Membuat saya bersyukur saya ada bersamanya.

Pada semua yang stagnan dari awal saya ada.

Bagai poros untuk saya berputar sampai sisi terluar dan sesekali kembali.

Pada semua yang mengejutkan dan menenangkan.

Pada kelebihan dan kekurangan.

Pada hutang dan piutang.

Pada untung dan rugi.

Pada uang kertas dan receh.

Saya sedang jatuh cinta…

Pada bekas luka di tubuh sebagai tanda mata.

Pada otot kaki yang kadang protes tapi tetap bekerja.

Pada bekas jerawat yang mengingatkan saya pernah remaja.

Pada perut yang masih setia menyapa setiap pagi.

Saya sedang jatuh cinta…

Pada setiap patah hati yang membuat jatuh cinta berikutnya semakin bermakna.

Pada setiap janji palsu yang membawa ketulusan di janji berikutnya.

Pada setiap birahi tanpa cinta yang membuat cinta ada gunanya.

Saya sedang jatuh cinta…

 

 

 

Kenapa Harus Takut

Seperti juga Ramadan yang lampau, Ramadan kali ini juga mengundang rekan-rekan di linimasa media sosial saya yang gemar menyiarkan kutipan kutipan penuh motivasi dan kata kata positif, untuk menyiarkan kutipan kutipan penuh motivasi dan kata kata positif bernafaskan religi. Dari berbagai kutipan yang dijadikan gambar, ini yang menarik perhatian saya.

3c338094a3c030b84f4085c9e2bd2667

Memang menyenangkan ya kalau selalu punya kambing hitam selain diri sendiri. Tapi bukannya kalau kita punya orang lain untuk disalahkan, berarti kita tidak pernah merasa salah, berarti tidak pernah (atau jarang) evaluasi diri? Tapi sebenarnya kesadaran seperti ini bisa dijadikan pencetus untuk pemikiran berikutnya yang siapa tahu bisa membawa pencerahan. Karena itu saya juga ingin ikutan membuat gambar kutipan, siapa tau ada yang pakai dalam rangka Ramadan.

To invent your own life's meaning is not easy, but it's still allowed, and I think you'll be happier for the trouble. (1)

 

To invent your own life's meaning is not easy, but it's still allowed, and I think you'll be happier for the trouble. (1)

To invent your own life's meaning is not easy, but it's still allowed, and I think you'll be happier for the trouble. (2)

To invent your own life's meaning is not easy, but it's still allowed, and I think you'll be happier for the trouble. (3)

 

Deskripsi Zodiak, Nasib, Jodoh, THR dan Mudik

zo.di.ak: (kata benda) jangan dipercaya kecuali menguntungkan dan menambah percaya diri.

+ Ah, zodiak lu percaya!! Gua mah kagak sudi!.

– Aries katanya bakalan dapet rejeki dua kali lipet bulan ini Bro!

+ Hmmm.., itu zodiak edisi kapan Bro?

na.sib : (kata benda) hadir saat belum beruntung dan selalu saja duduk di bangku cadangan. kecuali saat mujur menerpa.

+ Nasib dah, ogut ga kebagian tiket mudik.

– Mas, kan dari klien dapat fasilitas mobil mudik gratis.

+ Nah itulah untungnya. Jejaring ogut masih oke punya. Coba ngandelin nasib doang? Berabe!

jo.doh : (kata benda) satu-satunya penanggung jawab semesta perihal asmara.

+ Sssst, tahu si Q kan? Akhirnya dia cerai sama lakiknye.

= Yah, bukan jodoh brati, Zus.

+ Dia  udah kawin lagi sama temen SMP-nya. Malah sekarang hamil anak kedua.

= Wow. Akhirnya doi menemukan cinta sejatinya. Ini baru yang namanya jodoh.

T.H.R : (kata siapa) Tunjangan Hari Raya, terdiri dari lembaran uang rupiah baru setajam silet. THR adalah mantra bawahan pada atasan, tak peduli bawahan selama ini selalu ngomongin bosnya. Mantra pacar pada pacarnya, ndak peduli betapa seringkali cemburu tanpa alasan. Juga mantra preman meminta jatah kepada pelaku usaha, ndak peduli kondisi ekonomi.

+ Bos, Perkumpulan Anak Muda Mudi kampung sini mau siapkan peralatan buat sholat ied sama bikin bedug Bos. Sumbangan THR-nya dong Bos!

– Ayang, aku ga usah dibeliin mukena deh. Kayaknya aku lebih perlu untuk rapiin alis deh.  THR aja yah. Yah. Yah. Buat alis.

= Pak. Hehehe. Pak. Hehehe. Jadi Gini. Hehehe. Sebelum besok cuti untuk mudik, Saya izin pamit Pak. Hehehe. Juga sekalian barangkali Bapak. Hehehe. Mau titip THR buat anak dan istri saya. Hehehe.

mu.dik : (kata kerja) (tapi cuti) amalan wajib muslim yang lebih penting untuk dipikirkan dan direncanakan apalagi dilaksanakan dari pada ibadah i’tikaf dan terawih.

+ Bro, kok ga keliatan di mesjid lagi Bro?

– Wah gue sibuk liatin kalender Bro

+ Ngapain Bro?

– Nentuin tanggal mudik Bro. Rame! Mirip tebak skor Bro. Mau pilih tanggal segini takutnya semua pada mudik. Mau tanggal segitu takutnya macet dan malah sholat ied-nya di jalan, Bro.

+ Ya udah Bro, teraweh aja yuk Bro. Sekalian I’tikaf. Kali aja dapet Lailatul Qadr Bro.

– Nanti aja Bro. Mau cek tiket Bro. Katanya toko online kalau malem-malem gini kasih diskon gede Bro.

puas.a : (kata kerja) (tapi lebih sering jadi tanda tanya). Kalimat  istri (yang lebih/masih) muda bertanya pada suaminya, usai jimak.

Ada ide lain?

Andi Tidak Mudik Tahun Ini

“Aku nggak akan pulang ke rumah Lebaran tahun ini.”

Tidak ada keraguan saat Andi mengucapkan kalimat tersebut. Semua kata diucapkan dengan mantap, tanpa ada jeda keraguan.

“Oke.”

Jawab Ali, ayah Andi, secara singkat. Bukan pertama kali ini Andi tidak merayakan Lebaran bersama keluarga. In fact, sejak kakak-kakak Andi kuliah di luar negeri, demikian pula dengan Andi, lalu kembali untuk bekerja dan menikah, kemudian menetap di rumah masing-masing di luar kota, kebersamaan mereka secara fisik sudah jarang sekali harus dilaksanakan waktu Lebaran.

Untungnya di Indonesia, banyak hari libur agamis maupun non agamis lain yang mereka bisa manfaatkan untuk bertemu. Ali tidak pernah mempermasalahkan hal ini. Toh dia pun tidak pernah lagi merayakan Lebaran bersama keluarga besarnya sejak merantau puluhan tahun silam. Ali selalu menerapkan ke anak-anak mereka, bertemu tidak harus saat Lebaran. Yang penting bertemunya, bukan harinya.

“Jangan lupa sholat Ied.”

“Iya, Pa.”

“Ada rencana pergi?”

“Belum ada. Paling di rumah saja, mau masak. Sudah lama nggak masak. Papa?”

“Rencananya sih ke rumah tante Lies setelah dari makam mamamu. Kebetulan Abangmu pulang. Sekalian ngajak krucil-krucil keponakanmu ini pada jalan-jalan.”

Andi tersenyum. Tante Lies, adik almarhumah mama. Satu-satunya saudara kandung mama yang masih hidup, yang menjadi tetua keluarga besar almarhumah mama Andi. Tapi bukan itu yang membuat Andi terkesiap.

Andi sempat tertegun sesaat mendengar ucapan ayahnya barusan. Terdengar penuh semangat. Jauh berbeda dari dua tahun lalu, saat tiap kata dari Ali terasa penuh kesedihan. Lebaran pertama tanpa mama Andi, istri Ali, dua tahun lalu yang membuat hari raya seperti hari duka cita.

Dua Lebaran kemudian, kedukaan itu, meskipun kadang masih terasa, pelan-pelan mulai tergantikan dengan kehidupan. One must continue living after all, pikir Andi.

“Oh iya, Ndi. Papa terima undangan buat kamu.”

“Undangan? Undangan apa?”

“Reuni SMA. Reuni besar ini kayaknya. Acaranya di gedung pertemuan, tiga hari setelah Lebaran. Dua puluh tahun angkatanmu. Kamu tahu acara ini? Apa kamu sudah diundang juga lewat WhatsApp atau Facebook?”

Spontan Andi tertawa. Cukup lama, sampai akhirnya Andi memelankan tawaannya dan masih terkekeh. Ali mencoba terpaksa tertawa juga, meskipun kebingungan.

Finally. Busted.

“Oh jadi gara-gara ini?”

“Hehehehe. Ya begitulah.”

“Kenapa?”

Andi terdiam cukup lama. Hanya menggumamkan suara “hmm” sambil tersenyum. Dalam diam, Andi cuma berpikir, betapa reuni ini hanya akan memperlebar jarak yang sengaja Andi ciptakan sejak beberapa tahun lalu.

Betapa reuni ini hanya akan mempertegas bahwa Andi, mantan aktifis dan pegiat kegiatan berbagai ekskul yang membuatnya cukup dikenal dulu, sekarang lebih memilih hidup dan kehidupan yang sangat berbeda dari teman-temannya kebanyakan. Andi yang ragu bahwa mereka akan bisa menerima dirinya. Andi pun ragu apakah dirinya bisa menerima mereka yang juga sudah berubah banyak, yang Andi tidak bisa kenali lagi lewat tag foto massal di Facebook atau Instagram.

Bukankah reuni ini akan menjembatani perbedaan tersebut? Andi sempat berkontemplasi memikirkan hal ini. Lalu dia tepis lagi dengan pemikiran, bahwa bagaimana bisa pertemuan dalam 2-3 jam dengan ratusan orang dalam satu angkatan bisa sempat membicarakan hal-hal fundamental dalam hidup?
Or maybe I am just reading too much into it, pikir Andi. Or maybe the past belongs to the past. Including the people who have made memories in us.

Well, Pa. Yang jelas aku nggak akan pulang ke rumah Lebaran tahun ini.”

“Oke. Just don’t forget you have a home here, Ndi. No matter what.”

I won’t, Pa.”

Mati

RESEPSI pernikahan, dan kematian. Dalam kehidupan seseorang secara umum, setidaknya dua peristiwa tersebut yang bisa mengum­­­­­­­­pulkan dan mempertemukan banyak orang sekaligus.

Apa kesamaan dari keduanya? Resepsi pernikahan maupun kematian sama-sama merupakan perayaan. Sehingga banyak orang mengusahakan diri untuk hadir. Meskipun begitu, resepsi pernikahan adalah perayaan yang dapat direncanakan sedemikian rupa. Sedangkan kematian selalu datang sebagai kejutan, dengan sang mendiang sebagai bintang utamanya.

Seorang kawan saya meninggal Minggu siang lalu. Selama dua hari berturut-turut–Senin dan Selasa kemarin, saya datang dan melayat ke satu rumah duka di Jakarta Barat sebelum akhirnya mendiang dikremasi di Dadap tadi pagi.

Kami “merayakan” kematiannya dengan air mata dan tawa. Kami saling berbagi cerita, karena hanya itu yang kami punya tentang almarhum. Karangan bunga dan ucapan belasungkawa pun datang dari hampir seluruh Indonesia. Semoga dia berbahagia.

Terlepas dari suasana duka itu sendiri, saya ternyata cukup beruntung untuk bisa mengamati dan mengalami situasi-situasi menarik di sana. Membuat saya menyadari banyak hal yang sebenarnya selalu terjadi selama ini, tapi kerap tak diacuhkan dan berlalu begitu saja. Berikut beberapa di antaranya.

  • KEMATIAN TAK KENAL AGAMA

Apa pun suku dan agamanya, kematian pasti menimpa siapa saja. Tugas para manusia yang masih hidup adalah mengurus dan memulasarakan jasad mendiang, serta mempersilakan semua kerabat dan kenalan almarhum untuk datang memberikan penghormatan terakhir maupun memanjatkan doa.

Ketika dirasa kurang nyaman menyemayamkan jenazah dan menerima para tamu di rumah sendiri, rumah duka bisa jadi pilihan logis. Dimulai dari ketersediaan tempat parkir, meja dan tempat duduk, pasokan air minum dan kudapan bagi para tamu, serta ruang yang lebih lega untuk menempatkan tubuh mendiang.

Rumah duka publik (殯儀館), baik yang dikelola secara komersial maupun gratis dalam bentuk yayasan sosial identik sebagai salah satu aktivitas sosial khas warga Tionghoa di Indonesia. Biasanya bernaung di bawah paguyuban-paguyuban.

Dengan label fasilitas umum, pada dasarnya siapa saja dipersilakan untuk memanfaatkan pelayanan rumah duka-rumah duka tersebut. Hanya mekanismenya yang berbeda, menyesuaikan kebijakan pengurus masing-masing.

Di Samarinda, misalnya. Satu-satunya rumah duka publik di sana menggratiskan pemakaian ruang parkir, ruangan, meja dan kursi, piring dan gelas, berteko-teko teh dan kopi tubruk panas. Keluarga hanya perlu mengganti air mineral, kudapan (seperti kacang, kuaci putih, kue-kue basah) yang telah digelontorkan secara free flow selama masa duka.

Selebihnya, pihak keluarga juga tetap dipersilakan untuk berdonasi kepada pihak yayasan pengelola, atau memberikan uang jasa kepada para pelayan yang bertugas di sana. Itu pun tidak wajib. Jika mendiang berasal dari keluarga yang kurang mampu, semuanya digratiskan sampai ke urusan penyediaan peti mati, bahkan pengantaran dengan mobil jenazah ke pemakaman atau krematorium. “Klien” yang disemayamkan di sana pun tidak melulu warga Tionghoa dan non-muslim. Saya pernah melihat sendiri warga bersuku Dayak maupun jenazah yang muslim ditempatkan di sana selama masa berduka.

Walaupun demikian, satu-satunya rumah duka di Samarinda itu jarang sekali mengalami full house. Padahal di sana hanya ada lima ruangan. Berbeda dengan rumah duka-rumah duka di Jakarta maupun Surabaya, dengan belasan hingga puluhan ruangan dalam gedung tiga-empat lantai yang hampir setiap malam selalu terisi, bahkan sampai menghasilkan semacam waiting list! Sudah meninggal, masih harus menunggu ketersediaan ruangan pula.

Hari Senin dan Selasa kemarin tentu bukan yang pertama kalinya saya datang melayat ke rumah duka publik-komersial. Tetapi kondisinya sangat berbeda dengan rumah duka di Samarinda, dan saya pun menyempatkan diri berkeliling.

Hasilnya… rumah duka adalah rumah gaung doa semua agama!

Semuanya dilantunkan bersamaan, sama-sama nyaring dan dilakukan secara massal, dalam tradisi dan ditujukan kepada entitas berbeda. Semua orang hanyut dalam “perayaan” kematian bagi mendiang. Tidak ada ruang untuk merasa risi, terganggu, apalagi tersinggung dengan doa dan tradisi dari agama maupun mazhab yang berbeda.

Di sepanjang lantai 2, saya bisa mendengar khotbah misa arwah; kidung-kidung penghiburan Kristiani; tuntunan upacara penutupan peti dalam kepercayaan tradisional Tionghoa; lantunan Sutra-Sutra Mahayana (mazbah Buddhisme bernuansa Tiongkok) berupa bahasa Sanskerta yang ditransliterasi ke dalam bahasa Tionghoa, dibarengi berbagai alat musik perkusi menjadi semacam pertunjukan seni; maupun pembacaan Paritta (syair-syair renungan) dukacita Theravada (mazhab Buddhisme ortodoks) dalam bahasa Pali.

Tak ada satu pun yang berkomentar: “…yang di situ enggak bakal masuk surga,” atau sejenisnya.

Apa yang saya lihat dan dengar saat itu, benar-benar menambahkan makna pada ungkapan: “Kematian pasti menimpa siapa saja. Tak peduli agama, suku, ras, dan kedudukannya.

Pembacaan Maha Karuna Dharani, ritual sinkretisme ala Mahayana Tiongkok.
  • SUDAH SIAP DITINGGAL?

Banyak ceramah agama yang menekankan pada kesiapan menghadapi kematian. Apa pun isinya, tetap bisa disarikan dengan: “Kumpulkan banyak bekal akhirat dengan banyak-banyak berbuat baik dan beribadah. Didik anak cucu supaya bisa mendoakan dan melapangkan jalan menuju alam baka.

Dilihat dari apa yang terjadi selama ini, mungkin ada segelintir orang yang betul-betul siap mengalami kematian. Hanya saja, tidak ada seorang pun yang sungguh-sungguh siap ditinggal mati. Ini berlaku pada banyak kondisi. Kesiapan finansial dan meneruskan penghidupan; kesiapan emosional dan penerimaan atas proses alamiah ini; kesiapan spiritual dan kesanggupan untuk menjalankan ritual kematian sesuai agama masing-masing; kelapangan hati untuk merelakan atau memaafkan, serta kesiapan akal untuk mempertahankan nalar.

Contohnya: suami meninggal, ayah atau ibu meninggal, anak meninggal, sahabat meninggal, musuh meninggal.

Semoga kita dijauhkan dari segala bentuk kedukaan yang berlebihan dan keterpurukan atas kematian. Semoga orang-orang yang kita cintai, bila memang sudah waktunya, diketemukan dengan maut dalam keadaan yang baik dan tidak menyakitkan.

  • ORANG BAIK BANYAK TEMANNYA

Ini bukan sekadar urusan siapa yang bersedia mengangkat keranda atau peti mati; bukan perkara siapa yang akan mengantar sampai ke pemakaman atau krematorium; bukan perkara siapa yang sudi memberikan penghormatan dan menyempatkan diri untuk memanjatkan doa serta penghormatan; bukan juga perkara siapa yang memberi amplop putih saat datang melayat. Melainkan siapa saja yang merasa sangat kehilangan sosok mendiang; siapa saja yang terinspirasi tindakan-tindakan mendiang semasa hidup; siapa saja yang sangat berterima kasih pada mendiang; maupun siapa saja yang bertekad meneruskan hal-hal baik peninggalan mendiang.

Bagi yang meninggal, kematian seharusnya bukan cuma perkara masuk surga atau neraka; tapi juga apa yang bisa ditinggalkan. Kematian orang-orang baik akan selalu “dirayakan” dalam bentuk kenangan.

Mendiang kawan disemayamkan di “ruang” kanan. Di saat bersamaan, berlangsung ritual ala Mahayana Tiongkok di “ruang” sebelah kiri dan hanya diikuti oleh keluarga.

Sebagai seorang pembelajar Buddhisme yang menganggap tubuh ini hanyalah komposisi dari unsur-unsur terpisah namun saling terhubung (interdependen), saya percaya bahwa kenangan-kenangan tersebut tidak akan berpengaruh pada mendiang pasca-kematiannya. Akan tetapi justru penting bagi manusia-manusia yang ditinggalkan, yang masih hidup. Makin banyak pengalaman dan ingatan positif dalam hidup seseorang, makin terasa bahagia hidupnya… dan semoga kita semua bisa menjadi bagian dari kenangan-kenangan positif dalam hidup seseorang. Sebab dengan begitu, keberadaan kita bisa dianggap berguna dan berfaedah bagi sesama.

Apa gunanya hidup dengan segala kepandaian, kecendekiaan, kekayaan, kemasyhuran, ketampanan dan kecantikan wajah, keelokan fisik, kedudukan tinggi, kesuksesan dan keberhasilan, tapi berperilaku macam bajingan. Cuma menghabiskan kuota memori orang lain dengan komentar-komentar negatif, perasaan jengkel dan kesal, serta sakit hati.

Semoga kita selalu berkesempatan memiliki dan menjalani kehidupan yang baik serta berbahagia, hingga pada akhirnya juga bertemu dengan kematian dalam keadaan yang baik.

[]