Ukuran Penis dan Pertumbuhan Ekonomi Makro

 

SUDAH menjadi khitahnya, bahwa semua bentuk penelitian saintifik harus memiliki latar belakang dan landasan yang kuat supaya pantas dijalankan, untuk kemudian berujung pada penerapan tujuan yang bermanfaat.

Itu sebabnya saya sempat menganggap hasil riset (yang ternyata dirilis oleh Helsinki Center of Economic Research) berikut adalah kelakar, cuma buat lucu-lucuan. Soalnya, ngapain sih para ilmuwan bidang sosial-ekonomi mencari korelasi antara ukuran penis penduduk sebuah negara dengan Gross Domestic Product (GPD)-nya? Penting banget, gitu? 😅 Turned out this was a legit research… yang hasilnya barangkali bisa dijadikan salah satu pertimbangan pemerintah dalam membuat kebijakan maupun rencana pembangunan strategis.

But, come on… the dicks? 🤣 Kok bisa-bisanya kepo soal begituan?

Sumber dan paparan lengkap di sini.

Ada beberapa poin krusial yang ditinjau secara khusus dalam makalah tersebut. Beberapa di antaranya seperti ukuran penis dan kondisi hormonal, dampak secara psikologis pada self-esteem, serta pengaruhnya dalam tindakan.

…Boas et al. (2006) show that penile lengths and testosterone levels are related in infant boys. Furthermore, as indicated in Apicella et al. (2008) salivary testosterone levels have been shown to be positively associated with risk-taking behavior. Assuming these links hold it would suggest that male organ acts as a proxy for risk-taking. …a logical conclusion would then be that an intermediate level of risk-taking in population yields the highest level of economic development. Countries with particularly low or high levels of risk-taking would evidence lower GDPs.

Penting untuk dipahami, riset ini bersifat sampling. Hasilnya hanya mewakili kondisi atau pola secara umum, bukan secara keseluruhan. Selalu ada ruang untuk bias, anomali, dan ambang galat (margin of error). Apalagi rentang waktu yang digunakan sudah cukup jauh, beberapa lebih dari 3 dekade silam. Jadi, sebaiknya jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa makin besar/kecil/panjang/pendek ukuran penis pria suatu negara, makin besar/kecil pula tingkat GDP-nya.

Kita memang bisa saja langsung mbatin: “Pantesan ekonomi Jepang, Korea Selatan, dan Singapura bisa maju banget. Ternyata gara-gara itu toh…” atau kita bisa saja berpikir bahwa jika kadar machoism seseorang dipengaruhi oleh ukuran penisnya, maka begitu pula dengan ego mereka. Makin besar ukuran kelamin seseorang, makin berasa superior pula dia; memiliki rasa percara diri yang berlebihan; bahkan cenderung ke arah narsisme. Ketertarikan seksual. Apa lagi, coba?

Selain itu, kita juga bisa berpikir kalau seorang pria punya penis yang lumayan besar dan benar-benar sadar akan anugerah tersebut, dan dia juga tumbuh besar dalam lingkungan sosial yang sangat mendewakan machoism (termasuk soal ukuran), sangat tidak mustahil dia terbiasa mencurahkan lebih dari 30 persen perhatian kognitifnya untuk memikirkan tentang penis serta hal-hal terkait.

Jangan begitu, sejak SD sampai sekarang saja, dinding toilet-toilet umum dan lokasi sejenisnya lainnya selalu dipenuhi coret-coret gambar penis. Bukan gambar pemandangan alam.

Tapi semua itu baru asumsi, besar potensinya untuk keliru.

This study has made three contributions. First, it reveals the somewhat perplexing link between the size of male organ and economic growth. Second, it provides some rudimentary interpretations which state that macroeconomic growth might be related to populations’ risk-taking and/or self-esteem. Third, for the best of author’s knowledge the interplay between sex and macroeconomic outcomes is novel, and has not been discussed in the literature before. Obviously the proposed ‘male organ hypothesis’ should be tested with more elaborate methods and data. Until then it remains an intriguing statistical artefact.

Jangan lupa, semuanya tetap bisa berubah. Hasil riset di atas dirilis pada 2011, dan selalu ada kemungkinan terjadinya pergeseran tren. Seperti yang disampaikan Mirror.co.uk beberapa bulan lalu, ukuran rata-rata penis millennials mengalami peningkatan yang lumayan signifikan (baca: tambah panjang kurang lebih 2,5 cm). Dengan catatan, survei dilakukan pada 15 ribuan pria di Inggris. Sayangnya, survei yang dilakukan bersama King’s College London ini tidak dijelaskan lebih rinci. Setidaknya untuk mempertimbangkan peluang para responden berbohong, dan sengaja memanjang-manjangkan. Untung tidak no pics = hoax.

Temuan tersebut tentu sangat menarik untuk ditelaah lebih dalam, terutama dalam kaitannya dengan GDP tadi. Apakah pertambahan panjang tadi dibarengi perubahan di sektor ekonomi, juga sosial-budaya, atau tidak.

Ah… Dasar manusia! Selalu tertarik dengan selangkangan dan sekitarnya. Mungkin juga bukan masalah ukurannya, tapi seberapa mahir dan mutual pemanfaatannya. 😂😂😂

Kalau begini, mau jujur atau bohong? 😅

[]

Advertisements

8 Pesan Moral Kisah Gunung Tangkuban Perahu untuk Anak Cucu Kita

Gunung Tangkuban Perahu. Sumber: Google.

​1. Malas.
Karena Dayang Sumbi malas mengambil lungsi tenun yang terjatuh, ia harus menikahi seekor anjing.

2. Beastiality.
Menikah tentu saja dilanjutkan dengan bereproduksi. Sangkuriang adalah anak Dayang Sumbi dan seekor anjing.

3. KDRT.
Bukan cuma pemukulan dan pengusiran anak oleh Ibunya, tapi juga pembunuhan ayah oleh anak kandungnya sendiri.

4. Kanibalisme.
Lebih tepatnya kanibalisme domestik. Hati sang ayah tadi dimasak dan dimakan oleh istri dan anak kandungnya.

5. Ilmu Hitam.
Sangkuriang menguasai ilmu penakluk demit, guriang, ghandarwa dan lelembut hutan selama dalam pengusiran oleh ibunya.

6. Inses.
Sangkuriang dan Dayang Sumbi menjalin cinta setelah terpisah lama. Hingga akhirnya Dayang Sumbi menyadari ia sedang berhubungan dengan anaknya sendiri.

7. Curang.
Sebelum Sangkuriang menyelesaikan perahu syarat pernikahan, Dayang Sumbi mencurangi keadaan hingga usaha si anak gagal di tengah jalan.

8. Marah.
Kegagalannya membuat Sangkuriang murka. Ia tendang perahu tadi hingga terjerembab menjadi gunung.

What do You Say to the God of Death?

Sepertinya ini tidak asing lagi. Kemungkinan besar terjadi juga dengan Anda. Sebulan yang lalu ada salah satu rekan saya meninggal dunia. Kabarnya sedang lembur pekerjaan, kemudian mengeluh lelah, kemudian berlalu begitu saja. Innalilahi. Selang seminggu kemudian teman saya yang lain, kali ini sepuluh tahun lebih muda juga meninggal dunia. Kabarnya dia terbaring di rumah sakit sudah cukup lama akibat komplikasi liver. Innalilahi.

Kemudian kemarin saya bertemu teman lama, yang bercerita kalau suaminya sempat mendapatkan health scare. Suaminya yang teman saya juga, yang menurut istrinya gaya hidupnya memang kurang ideal; hampir selalu lembur, tidak pernah berolahraga, dan makan apa saja yang dia mau, tiba-tiba merasa kesakitan yang amat sangat di bagian abdomen sampai tidak bisa berdiri dan minta dilarikan langsung ke rumah sakit. Ketika diperiksa ternyata empedu dan usus buntunya harus diangkat. Sejak itu sang suami pun lebih berhati-hati memilih makanan dan menyempatkan berolahraga.

Umur manusia memang misteri. Kehidupan memang sungguh fana. Tetapi ada hal hal yang kita bisa usahakan yang masih dalam jangkauan kendali. Apa lagi kalau bukan apa yang kita masukkan ke dalam mulut.

Mumpung sedang puasa bulan Ramadan, mungkin waktu yang tepat untuk melihat kembali pola makan. Sepertinya mudah untuk memiliki pola makan sehat, tetapi sayangnya dengan informasi yang agak simpang siur, bahkan dari pemerintah sendiri, subsidi pangan yang tidak pada tempatnya, dan industri yang membanjiri supermarket dengan makanan dalam kemasan yang dibiarkan saja menempelkan klaim “makanan sehat” dan “diperkaya dengan vitamin A sampai Z” yang tak jarang membuat banyak yang berpikir bahwa makanan dalam kemasan bisa jadi lebih baik dari makanan segar. Jika Anda tertarik untuk membuang pola pikir yang sudah menahun kita dengar sejak “4 sehat 5 sempurna” dan ingin reset kembali dengan ide yang mungkin kurang mainstream, tetapi sudah terbukti lebih sehat dari pola makan kebanyakan, mungkin beberapa idola baru ini bisa Anda cari untuk didengarkan.

Dr. Tan Shot Yen
Banyak yang menganggap dokter ‘lebay’ tapi menurut saya buat masyarakat kebanyakan yang seringnya belum belum menolak untuk mendengarkan, kelebayan terkadang diperlukan. Saya suka bahwa beliau selalu konsisten mempromosikan real food, memasak sendiri, sumber makanan dan cara memasak khas Indonesia dan anti makanan dalam kemasan. Selain dari buku-buku tulisannya yang menurut saya agak kurang menarik dari segi sampul maupun struktur, karena ya pasti Anda paham buku kesehatan terbitan Indonesia bagaimana, tetapi tetap menarik untuk dibaca dan dipelajari, beliau juga sering menjadi narasumber Selamat Pagi Indonesia di Metro TV yang videonya pasti tersedia di situs TV tersebut.

 

Michael Pollan
Bukunya yang terkenal The Omnivore’s Dilemma, membuat Pollan juga sering jadi narasumber untuk film film dokumenter tentang makanan asli dan pola makan sehat. Buku lainnya tak kalah kece; In Defense of Food, dan Cooked. Cooked menjadi serial di Netflix, dan baru baru ini saya menemukan (dengan sangat gembira) dokumenter di Netflix dengan judul In Defense of Food, tentunya berdasarkan buku tersebut. Pollan sangat peduli dengan asal dari bahan makanan yang kita konsumsi dan proses memasaknya, tentunya selalu menyuarakan agar industri makanan tidak terlalu mengeruk keuntungan sebanyak banyaknya tanpa mengindahkan kesehatan produknya yang akhirnya memengaruhi kesehatan orang yang mengonsumsinya. Mantranya adalah “eat food, not too much, mostly plants.” Food ya, bukan edible food-like substance.

 

Dr. Robert Lustig
Sering sekali diwawancara untuk dokumenter tentang gula dan pola makan sehat. Ternyata bukunya juga bagus; Fat Chance. Cara dokter ini bicara sungguh sangat mengasyikkan ditilik. Tegas tetapi tidak ngotot. Karena itu public lecture dia soal makanan yang berdurasi satu jam setengah saja cukup banyak yang melihat. Sayangnya tidak sampai jutaan seperti YouTuber Indonesia yang katanya lucu itu. Dr. Lustig dengan keras memutuskan bahwa gula dalam jumlah tertentu itu akan menjadi racun bagi tubuh. Walau sering dimusuhi oleh industri makanan dalam kemasan dia tidak peduli untuk tetap menyerukan makanan apa sesungguhnya yang membuat diabetes dan obesitas merajalela.

Dua jam saja di akhir pekan ini bisa Anda gunakan untuk menonton salah satu video yang disebutkan di atas, siapa tahu bisa mengubah sesuatu menjadi lebih baik.

Selamat berpuasa Ramadan dan semoga kita sehat selalu dan ingat, not today!

Lebih Suka Eskrim Daripada Ekstrim

Di Indonesia, jika kaleng khong guan yang diberi roda, lalu kita namakan mobil murah persembahan dari Astra seharga 100 juta rupiah, yang dibeli seorang pegawai dengan status jomblo dengan gaji perbulan 10juta dengan cara menabung terlebih dahulu  sebesar 3,3 juta per bulan, maka dibutuhkan 30 bulan untuk membelinya, atau selama 2,5 tahun. Harga sedemikian jika si pegawai sabar menabung sebelum membeli dan dengan catatan harga mobil bertahan selama 2,5 tahun. Jika dia tergiur angsuran kredit, maka dengan 3,3 juta rupiah per bulan akan lebih lama untuk dapat melunasinya. Bisa empat atau lima tahun.  Mobil kaleng khong guan ini akan dipergunakan untuk bekerja setiap hari kecuali sabtu minggu.

Selama menabung untuk membeli mobil pegawai ini yang setiap hari naik gojek pulang pergi dari rumahnya. Sehari dia menghabiskan 40 ribu rupiah setiap hari. Jika sebulan adalah 20 hari, maka dalam sebulan ia menghabiskan uang 800 ribu rupiah untuk transport. Dalam waktu 2,5 tahun atau 30 bulan, ia akan menghabiskan uang sebesar 24 juta rupiah. Ada cara lebih irit lagi yaitu dengan naik bus dan rela berdesak-desakkan seperti ikan sarden kalengan.

Untuk membeli mobil kaleng khong guan selama 2,5 tahun ia memerlukan uang 124 juta rupiah. Dengan catatan selama 2,5 tahun masa meditasi demi membeli kaleng khong guan dia ndak kemana-mana. Jika setiap akhir pekan dia bertamasya dengan uber mobil yang sekali pesan pulang pergi sebesar 100 ribu maka 1 tahun dengan 104 hari akhir pekan memerlukan uang 10 juta rupiah setahun atau 25 juta selama 2,5 tahun. Jadi si pegawai butuh tambahan dana 25 juta lagi selain 124 juta rupiah sebelumnya.

Jadi untuk membeli sebuah mobil dari kaleng khong guan seharga 100 juta, dirinya harus menyediakan dana 149 juta. Ketika mobil sudah didapat, dia perlu membeli uang bensin, pajak kendaraan, dan ongkos cuci mobil, dan ini juga tak boleh ketinggalan: uang parkir.

Dengan gaji 10 juta per bulan, maka selama 2,5 tahun dia menghasilkan 300 juta. Dengan demikian setengah gajinya selama 2,5 tahun akan habis untuk sebuah mobil yang terbuat dari kaleng khong guan.

Ternyata untuk memiliki sesuatu, walau hanya sekadar kaleng khong guan beroda empat, selama 2,5 tahun dirinya akan banyak prihatin. Makan siang lebih irit. Berdoa semoga ada snack rapat atau traktiran rekan lain. Liburan ndak perlu jauh-jauh.

Itu baru untuk beli kendaraan. Bagaimana untuk membeli tempat tinggal. Apa iya selamanya akan berstatus anak kos? Atau menjadi anak kontrakan? Sebuah rumah pantas pakai, layak huni dan masih satu galaxy dengan tempat kerja memerlukan dana tabungan yang ndak sedikit. Bisa 10 kali lipat dari harga mobil yang dia beli. Bahkan lebih!

Padahal dalam hidupnya selama 2,5 tahun dia perlu juga tamasya. Beli tiket via traveloka, nonton film di CGV, menyaksikan konser musik, beli dvd bajakan, beli pulsa, ganti gawai, beli sepatu, kemeja, dan lain sebagainya. Belum lagi ongkos mencari jodoh. Ini butuh dana ekstra yang sulit diduga. 🙂

Oleh karena itu, sepertinya si pegawai perlu mengubah prilaku. Ada baiknya ia terjun ke partai politik dan rajin menyuarakan suara rakyat kebanyakan untuk tak perlu memperkaya astra dengan membeli roda empat melainkan menekan penyelenggara kota memperbaiki layanan transportasi yang nyaman, aman, dan tanpa preman. Dari rumah ke kantor. Dari rumah ke mal. Dari mal ke rumah calon bini. Dari rumah calon bini ke objek wisata. Dari A ke B. Dari B ke Z. Dari Z menuju rumah.

Ada saran untuk ganti pekerjaan saja yang lebih memberikan kenyamaman dan penghasilan. Sebtulnya juga sama, karena bertambahnya penghasilan ia akan ganti selera bukan mobil kaleng khong guan melainkan mobil kaleng stainless steel agak bagusan. Harganya bisa dua kali lipat. Maka perjuangannya pun tak jauh beda untuk dapat membelinya. Sama sama berjuang, sama sama dibeli dari astra.

Semua paparan di atas belum memperhitungkan biaya untuk resepsi menikah kelak. Entah kapan. Entah dengan siapa. Tapi yang tidak entah hanyalah soal biaya yang akan dikeluarkan. Itu sebuah keniscayaan. Si Pegawai yang jomblo akan semakin tertekan darimana lagi uang ia berhasil dapatkan.

Satu-satunya penghiburan baginya adalah sesama rekan kerja dan teman lain pun melakukan hal sama. Kerja lembur, wiken liburan, beli kendaraan, dan bisa ceria. Berarti tanpa perlu pikir panjang toh semua orang melakukan hal yang sama. Pasti ndak beda jauh hitung-hitungannya. Pasti aman. Toh semua juga punya kartu kredit. Semua beli kamera mirrorless. Semua beli gawai teranyar. Semua sibuk juga bayar cicilan. Semua juga beli barang-barang via olshop.

Ini bukan cerita aneh. Ada yang bilang sekarang adalah dunia materialistis. Ada juga yang bilang karena ini dunia hedonis. Ada yang bilang, ini wajar, karena tuntutan zaman. Tak ada uang, bisa apa Masih agak berat untuk investasi. Membeli emas batangan, apalagi lembaran saham, masih butuh kesadaran.

Di sisi lain, selain dunia ini, ada dunia lain yang menilai bahwa keadaan sekarang adalah sebuah kesalahan zaman.

Tuhan perlu dibantu dengan tangan-tangan umatnya. Perlu ada tindakan yang penuh kejutan agar semua tersadar bahwa dunia tak perlu materi. Dunia lebih perlu esensi. Dunia perlu banyak bermeditasi. Dunia perlu tunduk untuk akhirat nanti. Banyak ibadah. Banyak menasehati. Perlu banyak pahala yang dikumpulkan untuk membeli istana di surga kelak.  Ndak papa ndak punya mobil di dunia. Lebih baik bersabar, akan ada mobil mewah di surga. Ndak papa belum menikah, atau menikah segera, toh nanti di surga akan dipertemukan dengan kekasih sejati. Ndak papa belum punya rumah nanti juga di surga akan banyak rumah penuh berkah dan indah. Bagi sosok seperti ini, uang 150 juta daripada dibelikan mobil lebih baik naik haji dan umroh berkali-kali. Adem tentrem gemah ripah loh jinawi.

Satu pihak pusing pikirkan materi. Satu pihak lain sibuk urusan pahala. Ada pihak lain juga yang berdiri di tengah-tengah. Bicara pahala agar dapat materi. Ada pihak lain juga yang selalu dengan materi untuk ditukar pahala. Semua saling campur.

Inilah potret masa kini. Masing-masing individu punya hak untuk menentukan kemana ia hendak pergi.  Bahagia dengan materi atau bahagia dengan reliji.  Menyukai FPI atau benci. Mencintai demokrasi atau tidak. menyukai media sosial atau tidak.

Dari sisi psikologi, peperangan lebih seru lagi. Ada yang merasa lebih pintar. Ada yang merasa lebih kaya. Ada yang merasa lebih beriman. Banyak guyonan yang bilang soal fenomena media sosial, misalnya:  “mengapa orang bodoh begitu percaya diri”. Atau guyonan “orang mati itu ndak sadar dia mati dan ndak sadar bikin repot orang lain. Begitu juga sama halnya dengan orang bodoh.”

Ada yang sibuk pamer jalan-jalan. Dibalas dengan lintasan kompetisi lain, pamer ibadah. Ada juga yang sibuk pamer lucunya anak sendiri.  Ada juga pamer intelejensi.

Lihat saja di bulan Ramadan ini. Entah dijadikan wahana apa oleh manusia-manusia Indonesia. Apapun jadinya, selamat menjalani hidup di alam Indonesia. Semoga kita terus menjadi Indonesia dengan segala kelucuannya.

Bunuh diri No! Masturbasi Yes!

Puasa Yes! Puas A? Iya Teh.

Salam anget,

Roy Sayur

 

 

 

 

 

 

Hari Ibu

Everyday is Mother’s day.
Setiap hari adalah hari ibu. Saya percaya itu. Kerja ibu tidak pernah berhenti, bahkan ketika seorang ibu sedang berdiam diri. Malah ada yang pernah bilang, kalau ibu sedang tidur pun, dia sedang mengerjakan pekerjaannya. Kalau saya bilang, mbok ya kasihan sama ibu, sudah kerja seharian, malah nggak bisa tidur.

Tapi kalau boleh saya memilih, saya ingin bilang bahwa hari Selasa, 23 Mei lalu, adalah hari ibu. Di hari itu, saya terpaparkan berbagai sosok ibu yang luput dari pandangan.

Dua hari lalu, saya terbangun dengan berita pengeboman konser Ariana Grande di Manchester, yang menewaskan banyak korban yang masih muda belia. Hati semakin mencelos saat membaca artikel dari The New Yorker ini yang menunjukkan pencarian orang tua terhadap anak-anak mereka yang menonton konser tersebut.
Penggemar Ariana Grande kebanyakan adalah remaja dan anak-anak. Tentu saja tidak semuanya menonton didampingi orang tua masing-masing. Ada yang menonton beramai-ramai dengan pengawasan dari perwakilan orang dewasa. Dan seperti kita yang pernah menjadi remaja, ada kalanya kita ingin pergi tanpa ada orang tua di sebelah kita, karena kita mau berkumpul bersama teman-teman, have fun dengan yang seumuran. Salah? Tentu tidak. Yang salah adalah mereka yang memaksa memutuskan tali kekeluargaan itu dengan cara yang tidak manusiawi.

Dan pemaksaan itu yang terlintas di kepala saya di sore hari, saat saya melihat rekaman video Ibu Veronica Tan membacakan alasan mengapa suaminya tidak jadi mengajukan naik banding.
Dari beberapa reaksi di Facebook, ada satu yang menarik perhatian saya. Postingan ini diunggah teman lama saya. Dia bilang, bahwa ketika dirinya memutuskan untuk menikah dengan suaminya sekarang, dia dinasihati, kalau seorang perempuan harus selalu menyiapkan diri untuk menjadi single parent setiap saat, kapan pun, dalam kondisi apa pun. Lebih lanjut dia menulis, seorang perempuan, apalagi ibu, harus siap menjalani hidup sendiri.
Veronica Tan tentu mengerti resiko itu, meskipun sebagai orang yang melihat dari jauh, saya masih sedih sekali menyadari bahwa dia dipaksa untuk menjalani tersebut oleh orang-orang lain yang haus kekuasaan. It is scary what one does for power.

Membawa kesedihan tersebut menjelang tidur, saya menyalakan televisi. Ingin menonton apa pun yang bukan tayangan berita. Pilihan jatuh ke film HBO, The Wizard of Lies. Kisah nyata tentang penipu ulung Bernie Madoff, yang menghanguskan ratusan milyar dolar uang orang-orang lewat skema Ponzi, sehingga membuat krisis ekonomi dunia tahun 2008. Bernie Madoff diperankan dengan apik oleh Robert DeNiro, yang akhirnya bermain di film bagus lagi setelah bertahun-tahun. Namun yang memikat perhatian saya adalah Michelle Pfeiffer, yang berperan cemerlang sebagai Ruth Madoff, istri dari Bernie.
Ruth adalah ibu dari dua anak mereka, Mark dan Andrew, yang memilih untuk menjauh dari orang tuanya karena malu atas perbuatan mereka. Yang membuat film ini semakin menarik adalah penggambaran Ruth Madoff sebagai perempuan dengan dua dilema: menjadi istri yang harus terus mengunjungi Bernie Madoff di penjara untuk memberikan semangat hidup, atau menjadi ibu dari dua anaknya. Kedua pilihan tersebut tidak bisa dijalani bersamaan, karena jarak geografis yang jauh. Ruth memilih untuk berhenti mengunjungi Bernie. Tak lama kemudian, anak pertamanya bunuh diri, tak kuat menghadapi tekanan hidup. Empat tahun kemudian, anak keduanya meninggal. Ruth hidup sendiri sebagai seorang perempuan, tanpa suami dan tanpa anak, meskipun secara legal dia masih menjadi istri dan selamanya tetap menjadi ibu.

At the center of our universe, there is mom, in any kind.

Dua hari lalu, saya belajar banyak, bahwa seorang ibu hadir dalam bentuk yang beragam, dengan kapasitas yang berbeda, namun semuanya mempunyai misi yang sama, yaitu mencintai keluarga di atas kepentingan dirinya. Ketika seorang ibu dipaksa untuk terpisah, dia akan go against hurdles and troubles to save her family. Saya pernah baca, bahwa saat seorang perempuan memilih untuk menjadi ibu, dalam kapasitas apa pun, maka semua survival instinct yang mungkin selama ini dia belum sadari, akan tumbuh dengan sendirinya.

A mother always survives.

Dan saya percaya, dalam caranya yang mungkin kita belum tahu, ibu kita selalu mencintai dan mendoakan keselamatan kita.

Kita Akan Selalu Jatuh Cinta Pada Hal-hal Sederhana

KOK kamu bisa jadian sama dia? Tumben-tumbenan… Katanya enggak mau LDR.
Ya gimana… Siapa yang enggak luluh, waktu lagi suntuk-suntuknya kerja, tiba-tiba dia nelpon… cuma buat nyanyiin lagu kesukaanku. Bagian reff-nya doang, setelah nyanyi langsung ngomong ‘gimana? Sekarang sudah segeran, kan? Ya udah, lanjut lagi kerjanya ya. Semangat!’ (senyum)
Jadi, sudah yakin sama LDR-nya nih?
Dilihat gimana nanti deh… Dijalani aja dulu…

Gon… Aku sudah jadian…
“Wiiih… Asyik dong kalau gitu… Sama siapa?
Sama si dia nih…” (nunjukin Instagram-nya)
“Cerita-cerita dong…”
Pertama ya, orangnya cakep. Kan pasti itu dulu yang terlihat di awal-awal. Terus, lanjut ngobrol, ternyata dia perhatian banget dengan detail-detail aku. Dia bahkan tahu kalau aku orangnya INTJ, dan dia juga bilang kalau dia baca-baca dulu tentang karakteristik INTJ. Effort banget, kan…
Bakal cocok banget dong kalau begini. Kan sudah saling kenal sifat masing-masing.
Doain aja mudah-mudahan lancar sampai seterusnya ya…

Dari mata turun ke hati.” Begitu kata pepatah tentang bagaimana kita, para manusia, mengalami perasaan jatuh cinta… atau jatuh hati, lebih tepatnya. Tidak mesti hanya dari mata. Bisa lewat telinga, atau bahkan sekadar kata-kata. Kita terpesona, terpikat, kepincut pada seseorang entah karena apanya, dan kemudian berusaha mengejarnya, lalu dibuktikan seiring waktu berlalu.

Untuk urusan yang satu ini, saya sih yakin banget akan satu hal: kita akan selalu jatuh cinta pada hal-hal sederhana. Momen-momen sepele dan remeh yang justru bisa bikin hati seseorang lumer seperti es krim di siang bolong, menjadi sebuah permulaan untuk bisa kenal lebih jauh.

Foto: foodandwine.com

Dalam dua contoh di atas–based on true events… sorta…–yang satu kepincut suara di telepon, dan bagaimana si empunya suara mencurahkan perhatian dengan cara tak terduga. Meskipun mereka berdua pasti sudah saling berkomunikasi secara intens sebelumnya.

Begitu pula yang kedua, yang bisa kepincut karena dua hal; tampilan dan kepribadian. Yakni pada saat ada seseorang yang bela-belain untuk memahami karakteristik dia yang introvert (I), dan akhirnya mereka bisa merasa saling nyaman. Lagipula, jujur aja deh, memang menyenangkan rasanya ketika kita diperlakukan selayaknya orang penting, kan?

Masih banyak hal-hal sederhana lainnya yang bisa bikin seseorang jatuh cinta hati.
Senyuman.
Gingsul yang simetris dan manis.
Bagaimana ia berpikir dan mengutarakan pendapatnya.
Tawanya yang lepas.
Caranya bermain dengan anak-anak.
Caranya memperlakukan kita.
Hobinya di akhir pekan.
Sikapnya yang tenang, atau malah yang penuh spontanitas.
Sikapnya yang malu-malu di keramaian.
Sikap hormatnya kepada orang tua.
Keberaniannya.
Tatonya.
Sikapnya yang selalu bersemangat.
Ekspresi wajahnya ketika ngambek.
Kepiawaiannya saat memasak.
Caranya berjalan.
Ketelitiannya berhitung, menabung, dan berhemat.
Ciumannya.
Keuletan dan kegigihannya.
Pemikirannya yang artistik.
Caranya menjalani hidup.
…dan sila tambahkan sendiri. 😃
Sayangnya, banyak dari kita yang seolah terbang ketinggian, keliru menetapkan perbandingan. Banyak dari kita gampang terperangah melihat kehidupan orang lain, sampai-sampai tak menyadari apa yang ada dalam kehidupan kita sendiri.

Balik lagi ke dua contoh di atas, teman yang pertama bisa saja enggak bakal jadian kalau ngarepnya ditelepon dan dinyanyiin Afgan, misalnya. Sedangkan teman yang kedua bisa jadi malah ilfil kalau ternyata orang yang ngedeketin dia malah sok iye dan sok pintar tentang 16 tipe kepribadian Myers-Briggs. Ngomong nggak abis-abisnya.

Sama seperti bahagia, jatuh cinta hati mestinya sederhana saja. Akan tetapi, barangkali kita saja yang belum menemukannya.

Sudah… Dibawa santai aja. 😉

[]

Yang Terpenjara

Apakah kamu merasa terpenjara dengan kondisi sekarang ini? Terbelenggu oleh pekerjaan tapi tidak bisa pindah karena belum ada gantinya. Merasa bosan. Ingin keluar tetapi kondisi tidak memungkinkan. Melakukan hal yang itu-itu saja. Kamu hanya melakukan ritual menyebalkan yang sama setiap hari. Hanya karena uang yang tak seberapa. 

Apakah kamu merasa terpenjara karena kuliah di jurusan yang tidak dikehendaki? Tapi karena keinginan orang tua akhirnya kamu tetap kuliah di jurusan tersebut walau hati tidak mengamini. 

Apakah kamu merasa terpenjara karena kamu merasa sedang bersama pasangan yang salah selama ini? Tetapi kondisi tidak memungkinkan karena ada buah hati yang menjadi ganjalan. Sehingga kamu merasa terbelenggu dengan kondisi yang dialami, dan harus menjalani rumah tangga dengan keterpaksaan. Serong sana serong sini. 

Apakah kamu merasa terpenjara dengan kepercayaan kamu anut sekarang ini? Hanya karena orang tua mempunyai kepercayaan tertentu, maka kamu pun otomatis mengikuti kepercayaan tersebut? 

Apakah Pramudya Ananta Toer merasa terpenjara karena teguh terhadap keyakinannya sehingga beliau dipenjara selama puluhan tahun tanpa proses pengadilan? Ironisnya dia menghasilkan karya adiluhungnya selama dia dipenjara. 

Apakah Nelson Mandela merasa terpenjara ketika dia dipenjara selama puluhan tahun? Ironisnya tak lama setelah dia bebas dia terpilih sebagai presiden pertama berkulit hitam di Afrika Selatan. 

Apakah Sukarno merasa terpenjara ketika dia berkali-kali masuk penjara karena sikap dan tindakannya dianggap berbahaya bagi pemerintah Hindia Belanda? Dia–walau bagaimana pun–adalah presiden pertama di republik tercinta ini yang masih berjibaku dengan kebodohan yang tak kunjung usai. 

M7: This Void

Meski sudah dipejamkan lama, mata Donnie ndak sepaham dengan otaknya. Berguling. Pindah arah. Telungkup. Donnie tetap terjaga. Sudah jam 01:35.

Ia nyalakan lampu. Membuka lemari dan mengambil Shalimar. Mungkin wangi Vanilla-Tonka bisa meredakan insomnia. Menenangkan sekaligus menghipnotis. Ndak salah Bung Karno pilih Shalimar jadi parfum kesukaannya. Contoh sempurna dari gagrak oriental. Larutan Guerlain yang ndak ditemukan saingannya hingga saat ini.

Donnie tau, penyebab utama insomnia adalah ponsel, ia membukanya. Membiarkan cahaya temaram itu menyinari matanya di kamar gelap gulita. Lima notifikasi melayang-layang di baris teratas layar ponsel. Salah satunya Gmail. Bukan ndak sengaja ia mengabaikan Path dan email kantor, langsung menuju Gmail. Karena nama pengirimnya: Haryo.

Shalimar by Guerlain. Sumber: Google.

Dear Donnie,
It’s M7. Jangan kaget dulu. Akun kamu pakai nama yang itu-itu aja kan? Hehe.

I’ve been dreaming. I’ve been rude. I’ve been away. Tapi buntu Don. Nggak tau lagi mau cerita sama siapa. Waktu acara lari di Sentul itu, aku pura-pura kuat aja. But, I am weak really. Lari lumayan bikin aku lupa sama masalah. Anak-anakku dibawa istri pertama. Mantan mertua ga terima. Mereka kayaknya benci banget. Anggap aku bukan laki-laki yang baik. Apalagi aku gagal lagi di pernikahan kedua. Aku sendirian sejak bubaran sama Mia. Nggak minat juga mau jalin hubungan sama orang. Sekarang sendirian jadi kesepian. My loneliness becomes emptiness. This kind of void is killing me. Numbness grows like a rash. Silent but hurt so much, Don.

Cuma mau curhat aja sih. Kita kayaknya asing gitu Donnie waktu ketemu di Sentul. Kamu ga nulis di Linimasa lagi?

Reply me if you want to. Don’t bother 😉

Missed you much,
Haryo

Layar ponsel Donnie meredup. Ia berpikir lama. Hak apa yang Haryo punya untuk mengirimkan email seperti itu hari ini? Apa yang ia janjikan dalam hidup ini?

Donnie kembali pada Shalimar. Biarlah mawar dan iris yang lirih menguapkannya. Vanilla mulai merayu untuk segera tidur.

Aku tau kamu baca ini. Lupakan jadi laki-laki yang baik. Terlambat. Jadilah bapak yang baik. Fill that stupid void with your kids laughter. Watch them grow… and, a goodbye requires time to be a hello.

Menyingkap Dunia Selendang

Meyambut bulan Ramadhan, sepertinya hampir semua pedagang mempersiapkan diri. Termasuk saya. Sudah dua tahun lalu, saya ingin menawarkan sesuatu yang berbeda dari tote mangkok ayam yang selama ini dijual. Pemikiran pertama ingin membuat selendang mangkok ayam. Kayaknya lucu dan sepertinya belum pernah liat ada yang pakai jilbab bermotif mangkok ayam. Perjalanan mempelajari pun dimulai sebelum membuat disain. Beberapa teman hijabers, saya wawancara. Dan ini beberapa hasilnya. Bagi pembaca yang ingin menambahkan, tentunya dengan senang hati saya terima.

  1. Motif Mangkok Ayam Ganti

Rupanya, ada sebagian pemakai jilbab yang enggan menggunakan motif binatang sebagai jilbabnya. Ada penjelasannya, tapi jujurnya saya lupa. Daripada asal sebut bisa-bisa saya dituntut. Namanya berdagang, tentu saya ingin sebanyak mungkin orang menyukai dan membelinya. Otomatis, motif mangkok ayam terpaksa dicoret.

Kemudian saya teringat, sekitar 2 tahun lalu, saat tote mangkok ayam mulai banyak pembelinya, saya berpikir untuk mempersiapkan motif selanjutnya. Pilihan pada saat itu jatuh pada motif piring enamel. Sehari-hari saya juga menggunakan piring enamel. Entah kenapa ada perasaan “makan di rumah” setiap kali mengunakannya.

Membongkar file lama, akhirnya ketemu! File sudah dalam bentuk vector dan siap dilayout. Obyek disain sudah ditentukan. Kini urusan disain.

2. Jilbab adalah Perhiasan

“Karena gak boleh pake perhiasan, kalung, anting, dan lain-lain, jadi buat gue jilbab itu harus berfungsi sebagai perhiasan” kata teman saya. Setelah saya tanya lebih dalam lagi, maksudnya adalah saat jilbab dikenakan, sebaiknya “mengangkat” wajah pemakainya. Menjadi lebih berseri.

Pernyataan ini tentunya menjadi penentu karena selendang segi empat yang akan ditawarkan akan dilipat segi tiga. Artinya, bagian tengah melintang akan mengelilingi wajah. Dan bagian sudut akan berada di punggung. Tengah dan pinggir menjadi fokus utama.

3. Salah Jadi Taplak

Ini benar terjadi di disain awal. Karena belum punya kosepsi ukuran disain awal lebih pas untuk dijadikan taplak ketimbang selendang. Rupanya memang disain untuk selendang ada “ukuran” dan karakteristiknya sendiri.

Saya mengingat-ingat pesan guru disain tekstil almarhum Ronny Siswandi. Disain tekstil itu adalah soal “Komposisi, distribusi warna, dan ukuran. Harmonis bagus tapi terlalu harmonis jadinya membosankan. Pengulangan bisa menguntungkan bisa merugikan. Ini yang membedakan disain tekstil”.

Oh well… mungkin disain ini bisa dijadikan produk perlengkapan rumah nantinya 🙂

3. Ragam Warna

Sudah ada banyak sekali jilbab ditawarkan. Saat saya menghitung kasar, ada sekitar 60an toko IG yang menjual jilbab. Satu persatu saya teliti sebelum tidur. Saya ingin mencari tau jilbab berwarna apa yang paling banyak jumlah likenya.

Kesimpulannya adalah jilbab yang kaya warna. Pemikiran saya, mungkin supaya mudah dipadu padankan dengan pakaiannya. Selain itu warna-warna pastel entah karena sedang trend, tapi lebih banyak diminati. “Loe liat nih, yang model soft-soft, motifnya lucu-lucu dan jarang gitu banyak yang suka. Yang ini sold out terus nih!” kata teman hijabers lain sambil memperlihatkan motif cartoony di salah satu toko IG.

4. Bahan yang Megang

Tadinya, saya berpikir selendang dari bahan sutera akan menjadi pilihan utama. Kan ada lagunyaaa… Rupanya saya salah. Bahan sutera, terutamanya yang banyak dijajakan, terlalu lembut sehingga sulit untuk “megang”. Mudah lepas dan jatuh. Dan kadang, bahan sutera dianggap terlalu mengkilat sehingga agak risih untuk dikenakan.

“Bahannya tuh harus soft, tapi megang” kata teman lain lagi. “Toh kita udah pake dalemannya kan, jadi selendang outer itu kan bisa modifikasi. Bahan tipis menerawang gak apa-apa yang penting dia stay pas dipake seharian” katanya melanjutkan.

5. Pilihan Bahan Terbatas

Supplier yang bisa mencetak di atas kain, rupanya masih terbatas. Sepertinya, 60% produksi selendang yang dijual di IG diproduksi oleh supplier yang sama. Selain itu pilihan jenis bahannya pun terbatas. Makanya kalau diperhatikan, hampir semua bahan selendang yang ditawarkan terbuat dari bahan sama: Turkish Voil.

Saya pun mencoba memesan untuk merasakannya sendiri. Hasilnya ketika pertama kali kena di tangan, ada sensasi listrik (static) yang dirasakan. Saya mencoba mengenakannya di kepala dan melepaskannya, ada beberapa helai rambut yang ikut naik. Untuk bisa menghilangkannya, coba untuk dicuci sekali saja. Harusnya akan menjadi lebih lembut dan staticnya hilang.

Tapi ada satu lagi kendalanya, saya merasa bahan turkish voil selain terlalu jamak, juga kurang cocok untuk disainnya. Harus yang lebih lembut sehingga mengikuti lekuk tubuh. Cari sana sini, tanya sana sini akhirnya saya menemukan bahan lain yang menurut saya lebih sesuai.

Selain itu, setiap bahan memiliki karakteristiknya sendiri-sendiri dalam menerima warna. Ada yang membuat warna semakin dalam, cemplang, lembut dan sebagainya. Satu persatu saya pelajari sebelum memutuskan. Semoga hasilnya nanti sesuai.

6. Hermes Beralasan

Tadinya saya mengira selendang berlabel Hermes harganya tak masuk akal. Tapi kenapa tetap laku dan sering digunakan sebagai jilbab oleh orang-orang yang mampu membelinya. Sekali tekad, pantang mundur. Saya masuk ke dalam butik Hermes!

Setelah saya amati seksama, memang benar. Warna dan presisi disain Hermes tak bisa diragukan. Warna-warna ganjil yang sulit dicetak, bisa dengan matang tercetak. Garis setipis rambut pun bisa jelas terlihat. Dan satunya lagi, selendang Hermes warnanya vibrant di kedua sisi. Kita hampir tak bisa menemukan mana sisi depan dan belakang. Tentunya, kita belum punya supplier yang bisa memproduksi seperti itu.

Bahan Jacquard Silk yang digunakan, selain kilaunya tak memantul saat kena cahaya, juga memberikan kesan 3 dimensi pada disain. Dan tentunya, walau sutera selendang Hermes “megang” itu tadi. Dan semua selendang Hermes pinggirannya dijahit tangan. Kebanyakan selendang di toko IG kita masih dijahit mesin atau diobras. “Satu selendang seperti ini dikerjakan selama 1700 jam” kata penjaga butik. Saya mengangguk-angguk sebelum perlahan pergi.

Seperti apa disain yang akan saya tawarkan? Ah karena masih dalam tahap produksi saya masih malu untuk memamerkannya di sini.

Owh iya, saat sedang mendesain saya iseng membuat disain selendang yang menggunakan kutipan-kutipan dari berbagai tulisan di linimasa.com Saat ini baru saya dan Leila yang memilikinya. Walaupun bisa, sepertinya sulit untuk dijadikan jilbab. Terlalu banyak kata dan kalimat yang “terlalu jujur” yang tertuang.

Email dari Seorang Sahabat

Minggu lalu salah seorang sahabat yang bekerja di negeri jiran melalui whatsapp bertanya alamat email saya. Tidak lama setelah saya jawab, surat itu masuk.

Om, langsung aja ya. Jadi gini, di perusahaan ane sekarang lagi pada ribut soal jam kerja. Gara-garanya sepele. Atau malah sama sekali bukan soal sepele. Kantor sering banget ngadain meeting kantor pas wiken. Jadi hari kerja kita kerja, pas wiken ya kerja juga. Semacam bahas evaluasi kerja dan rencana strategis gitulah. 

Dua hari lalu pas ada acara sama bos regional, kita kena musibah. Salah satu rekan kerja, orang India, bawa keluarga. Biasa dong bawa keluarga. Namanya juga wiken. Eh mereka berenang di kolam hotel. Terus tenggelem. Terus mati. Dua-duanya. Combo! Ributlah seluruh kantor.

Kita mulai WA, diskusi sana-sini. Banyak yang nyalahin manajemen kenapa keseringan meeting di wiken. Mau gamau bikin pada bawa keluarga. Sebagian lain bilang ya yang salah ortu lah. Tau anaknya berenang kudunya ada yang jagain. Ada juga yang nyalahin hotel kenapa ga ada pengawas kolam. Jadi selama dua hari ini hape kita tang-ting-tung silih berganti saling ngasih komen. 

Ane pribadi gak ngikut kubu mana-mana. Sedih. kaget. Ane belom berkeluarga. Tapi bisa ngerasaain sih kehilangan anak gitu. Tapi yang ane pikirin itu ane mau balik ajalah ke Indo. Cari kerja yang ga usah aneh-aneh. Gaji standar tapi wiken bisa jalan-jalan….”

Kalimat selanjutnya masih panjang.  Saya baca hingga tuntas. Teman saya ini adalah teman kuliah dulu. Rajin. Pandai. Ganteng. Belum Kawin. Atau ndak mau kawin. Dari suratnya saya jadi bertanya-tanya tentang banyak hal. Jauh ke negeri tetangga kejar karir, kejar uang. Lalu tiba-tiba kepikiran mau pulang. Saya ndak tahu apakah karena beban pekerjaan atau karena insiden kematian rekan kerjanya. Atau dia mau balik untuk kerja santai? Atau apalagi?

Dalam suratnya yang dia bayangkan adalah di Indonesia, atau setidaknya di Jakarta bekerja lebih santai atau lebih manusiawi. Saya sendiri malah ragu soal ini. Soal bekerja hingga wiken, inipun sebetulnya ndak beda jauh dengan kantornya bekerja. Atau jangan-jangan dia mau balik ke Jakarta karena dia mau cari cintanya yang entah ada dimana.

Kami lanjutkan diskusi via whatsapp. Di WA Grup dia ndak kelihatan sedang galau. Tapi pesan japri-nya via email saya tahu dia gelisah. Sepertinya dia hanya cerita soal ini kepada saya.

Saya tidak memberikan nasehat apapun. Saya hanya terus bertanya. Bagaimana kondisi dia. Sehat? Betah? Bahagia? Terus mau apa? Kenapa berpikiran untuk pulang? Kenapa malah berpikiran di sini bisa banyak jalan-jalan saat akhir pekan.

Saya banyak bertanya soal apakah dia siap jika bermacet ria di Jakarta. Atau siap ditanya kenapa belum berkeluarga. Apakah siap ternyata pekerjaannya kelak tidak jauh berbeda dengan kondisi kerja dia saat ini.

Dahulu, saya kagum dengan pola pikir dia. Salah satu sahabat yang lulus paling cepat. Sempat bekerja di perusahaan lokal terbaik. Lalu pindah sana-sini dan akhirnya bekerja di negeri jiran. Setiap hari kelihatannya baik-baik saja. Guyonan garing via wa grup. Sering kasih meme lucu. Sering sekali ribut dengan teman lain untuk diskusi soal politik, ekonomi dan juga soal remeh-temeh. Ndak kelihatan sama sekali dia ndak betah.

Semalam dia email lagi. Tetap dengan email panjang.

“..ane sementara masih jalanin pekerjaan di sini aja Om. Belum tentu ane balik dapet kerjaan yang pas. Keluarga India itu ikhlas. Perusahaan uda minta maaf.”

Saya membaca beberapa kalimat yang bicara soal pribadi, kantor dan rencananya.

Wiken ya tetep meeting. Besok aja kita mau meeting lagi nih. Dan orang-orang kantor kayaknya juga uda lupa soal insiden kolam renang.”

[]

 

 

 

 

 

 

 

#RekomendasiStreaming – Surat Cinta Yang Nyaman Dilihat

Ternyata punya “rutinitas” tidak selalu membuat tulisan bisa mengalir dengan lancar.

Sengaja saya set up menulis tentang rekomendasi tontonan di aplikasi video streaming setiap Kamis minggu ketiga ini supaya ada rutinitas tertentu. Paling tidak, sebelum masuk tenggat waktu, sudah tahu akan menulis apa (temanya). Eh, sekarang muncul “masalah” lain: begitu sudah tahu harus menulis tentang apa, malah bingung isinya apa.

Iya. Kali ini saya sempat bingung harus merekomendasikan tontonan apa untuk bulan ini.

Untungnya, serial yang saya rekomendasikan punya semacam tema besar, yaitu being a love letter to love and life. Alhasil, untuk pilihan filmnya, saya tinggal mengikuti tema besar ini.

Dan memang menyenangkan melihat tontonan yang membuat kita semakin yakin bahwa love is what we need. Apalagi sekarang.

Jadi …

• Jika hanya punya waktu untuk menonton satu film pendek di akhir pekan ini, maka tontonlah

Springsteen & I

Saya bukan penggemar Bruce Springsteen. Cuma tahu beberapa lagunya. Tidak pernah secara khusus mengoleksi album-albumnya.

Namun melihat film dokumenter, kok rasanya hati dibuat mencelos. Film ini berisi kumpulan testimoni para penggemar Bruce Springsteen dari seluruh dunia, di mana mereka merekam sendiri testimoni mereka lewat ponsel, lalu beberapa testimoni terpilih dirangkai dengan footage konser-konser Bruce Springsteen. Akhirnya, jadilah film yang membuat kita tersenyum sendiri.

Ada yang berbinar menceritakan pengalamannya mendapat upgrade tiket ke kelas VIP waktu menonton konser Bruce Springsteen. Ada yang kaget waktu diajak ke atas panggung. Ada yang mendengarkan lagu-lagu Bruce sambil bekerja di malam hari sebagai supir truk. Ada yang melahirkan di saat lagu Bruce mulai diputar di radio.
Berbagai cerita personal yang tidak membuat kita kelelahan mengikutinya. Malah sebaliknya. Durasi film sepanjang 2 jam 4 menit berasa terlalu cepat melihat muka-muka sumringah para penggemarnya.

Silakan ditonton untuk merasakannya.

• Jika punya cukup waktu untuk menonton satu serial di akhir pekan ini, maka tontonlah

“Master of None” (Season 2)

Aziz Ansari, how do you do it? How do you bring up sensitive religious, racial and other important issues in one series that can still make us feel good watching it?

Ajaib. Serial “Master of None” ini semakin baik tema, gaya, dan isi ceritanya di musim penayangannya yang ke-2 ini. Tapi bukan cuma itu yang membuatnya ajaib.

Aziz Ansari sebagai kreator serial ini dengan berani mengangkat isu-isu sensitif dengan penyampaian yang sangat casual. Pandangan Muslim moderat dan Muslim tradisional. Modern dating lewat aplikasi dengan segala akal bulusnya. Dan masih banyak lagi.

Lalu gaya berceritanya. Penggemar film klasik dan seni modern pasti dibuat jatuh hati hanya pada episode pertama, yang dibuat seolah-olah seperti film klasik Italia. Toh masih membuat saya terbahak-bahak menontonnya.

Dan yang pasti, episode Thanksgiving di serial ini adalah salah satu episode Thanksgiving paling lucu dan menyentuh dalam sejarah pertelevisian modern. Sebagus itu? Iya.

Seolah-olah tak ada sedikitpun mean bone dalam diri Aziz Ansari. Semua cerita ditampilkan dengan nada optimisme yang tidak “lebay”, pas pada proporsinya.

Setiap episode di-shoot secara sinematis, layaknya kita menonton film, bukan serial komedi televisi biasa. Jadi seolah-olah kita melihat film panjang selama 5 jam yang berlalu begitu cepat, bukan sekedar 10 episode dari durasi 30 menit per episode.

“Master of None” season 2 is undeniably a sweet love letter to love and life itself.

Ini jagoan saya buat Best Comedy di Emmy Awards bulan Agustus nanti. Semoga menang. Kalaupun tidak, biarlah dia mengendap di hati sebagai serial komedi yang menyentuh hati. Karena saya akan nonton berulang kali.

A precious and rare gem, indeed.

Iseng-iseng Membandingkan

DALAM menjalani kehidupannya, seseorang tak akan pernah benar-benar bisa tenang tanpa usikan dan gangguan. Selalu ada komentar-komentar orang lain untuk hampir segala hal… yang berbeda adalah bagaimana cara mereka menyikapi dan menanggapinya.

Apabila komentar itu terasa ofensif dan memojokkan, berarti dianggap sebagai sebuah celaan bahkan hinaan. Ada yang bereaksi dengan melawan balik, atau malah tidak diacuhkan dan dibiarkan berlalu begitu saja. Sedangkan apabila komentar itu terasa bermanfaat dan pantas diperhatikan, berarti dianggap sebagai kritik dan masukan.

Akan tetapi penting untuk diingat, kondisi ini merupakan siklus yang tak terelakkan. Ada kalanya kita dihujani komentar, namun ada saatnya pula kita yang justru jadi pemberi komentar baik secara sadar maupun tidak, dengan tujuan baik atau sebaliknya. Perubahan posisi yang terjadi hanya perkara tempat, waktu, dan niatan.

Ini menjadi semacam keniscayaan sosial, karena tidak ada manusia yang hidup sendirian.

Sama seperti dalam “Homo Homini Celaterus*“–tulisan dua tahun lalu, bahwa setiap orang memiliki celah cela dalam kehidupannya. Cuma ada dua peran utama dalam hal ini: menjadi pencela, dan menjadi yang dicela. Semua pasti ada gilirannya, dan lagi-lagi… yang berbeda hanyalah bagaimana cara mereka merespons dan menanggapi kesempatan tersebut. Apakah mereka ingin mencela saat bisa mencela? Apakah mereka bisa menahan diri atau bertindak lebih bijaksana? Apakah mereka menerima celaan yang diberikan, atau malah melakukan penolakan?

Mustahil untuk dibantah, ada orang-orang yang hobi mengomentari atau mencela orang lain, namun ada juga yang cenderung diam atau menghindari menyampaikan sesuatu kecuali bila ditanya.

Golongan pertama akan selalu memiliki alasan untuk mengomentari orang lain. Terlalu ini lah… Kurang itu lah… Tidak tepat lah… Kebanyakan apa lah… Ada yang merasa puas setelah berhasil melancarkan komentar-komentarnya, ada juga yang malah menunggu untuk dibalas… agar bisa dikalahkan lagi kemudian.

Belum punya pacar, disuruh cari pacar.
Sudah punya pacar, disuruh cepat nikah.
Sudah menikah, ditanya kapan punya anak.
Sudah punya anak, ditanya kapan nambah lagi.
Ibu yang wanita karier, ditanya kenapa kok tega meninggalkan anaknya.
Anak sudah usia 4 tahun, ditanya kapan masuk Playgroup.
Anak sudah masuk TK, ditanya kenapa kok pilih sekolah tersebut.
… demikian sampai si anak sudah besar, sudah punya pacar, sudah siap menikah, dan seterusnya.

Sementara bagi golongan kedua, selalu ada pertimbangan untuk tidak memberikan komentar terhadap orang lain. Termasuk sikap apatis dan tidak peduli.

Saya iseng-iseng meninjau hal ini dengan meminjam perspektif “Ikigai”, sebuah konsep tentang “Alasan Keberadaan” kita sebagai manusia. Agak kurang nyambung sih, tapi ya… sebodoamat lah… Cuma iseng ini.

Ilustrasi: LinkedIn

Di manakah bidang perpotongan lingkaran yang menjadi tempat para pemberi komentar, dan mereka yang tidak terlalu suka memberi komentar?

Apakah kamu suka mengomentari kehidupan orang lain, atau justru merasa terlalu sering direcoki dengan komentar-komentar orang lain?

Dalam kehidupanmu saat ini, kamu bisa melihat dirimu berada di mana dalam diagram tersebut?

Udah, tiga pertanyaan itu saja.

[]

Panik Virus

Membuat virus siber kemudian mendulang uang darinya, merupakan metode yang baru. Pada 2016 lalu, peretas yang menyebarkan Ransomware berhasil menodong dan mengumpulkan sebanyak 10 trilyun rupiah dari para korbannya yang kebanyakan lembaga publik dan sektor bisnis.

Anda dapat mencari sendiri informasi mengenai Ransomware yang kini sedang naik daun dan telah disebar ke seluruh dunia oleh para kriminal siber. Secara sederhana, cara kerja ‘hantu’ digital tersebut ialah menyusup kepada perangkat gawai yang tampak normal lalu kemudian ‘menyandera’ data-data yang ada di dalamnya. Data-data tersebut bisa kembali bila Anda membayar tebusan kepada si peretas. Tentu saja bagi kita yang tak sempat melakukan back up akan sangat tersiksa. Apalagi bagi lembaga publik yang pada dasarnya adalah pelayanan, seperti rumahsakit. Di Jakarta saja, sudah ada dua rumahsakit yang terjangkit Ransomware sehingga operasional harian seperti data pasien, jadwal operasi, dan lainnya menjadi kacau. Hingga awal kuartal II 2017 ini sudah ada 79 negara yang terkena Ransomware.

Kembali ke belakang, tahun 1949, John von Newman sebagai salah seorang pencipta komputer membuat virus dan kemudian diabadikan menjadi virus pertama di dunia. Lalu di AT&T Bell Laboratory, salah satu laboratorium terbesar di dunia, para peneliti di sana membuat permainan yang dinamakan Core War. Sadar bahwa program permainan itu berbahaya, mereka kemudian memusnahkan Core War setiap kali sehabis memainkannya. Persoalannya, tidak semua ahli siber itu bertanggungjawab, sehingga virus-virus itu diciptakan kembali dan disebarkan untuk tujuan tertentu.

Determinisme Teknologi

Yang paling mendukung penyebaran dari malware-malware adalah jaringan (internet) yang mana merupakan hasil dari perkembangan teknologi. Perubahan yang terjadi dalam perkembangan teknologi sejak zaman dahulu hingga sekarang memberikan pengaruh besar terhadap masyarakat. Hubungan teknologi dengan masyarakat juga menentukan perkembangan dan perubahan sosial serta nilai-nilai budaya. Dalam teori Determinisme Teknologi, kunci untuk mengendalikan masyarakat ialah dengan menguasai teknologi dan inovasinya.

Teori ini dicetuskan oleh Thornstein Veblen pada tahun 1920 dengan maksud bahwa setiap generasi manusia akan memiliki penemu-penemunya sendiri yang kemudian menghasilkan karya teknologi yang menjadi landasan perkembangan manusia. Hal ini memperjelas bahwa teknologi dan masyarakat memang telah memiliki hubungan yang erat sejak lama.

Determinasi Teknologi memiliki tiga bentuk dalam perkembangannya, di mana bentuk yang ketiga yang mungkin sedang terjadi saat ini yaitu bentuk konsekuensi yang tidak disengaja. Bentuk ini melihat kemungkinan yang muncul dari perkembangan teknologi seperti polusi, transformasi masyarakat yang radikal seperti maraknya penyebaran informasi palsu (hoax), serta gaya hidup yang berubah menjadi lebih konsumtif sehingga menghabiskan sumber daya alam dengan cepat dalam pemenuhannya.

Kabut Peradaban

Pada dasarnya, manusia ialah mahluk sosial (bergantung). Kita akan senantiasa bertahan hidup dengan berkoloni. Faktanya, bumi kini dihuni oleh lebih dari 6 milyar manusia yang terkoneksi satu sama lain dengan cepat. Arus informasi tersalurkan tanpa hambatan waktu dengan adanya jaringan dari teknologi komunikasi dan informasi. Ramainya Ransomware telah menandakan bahwa kita sudah cukup jauh bergantung kepada teknologi. Tidak sedikit aktivitas yang lumpuh total karena terserang malware tersebut. Tapi apakah kita sebegitunya bergantung terhadap teknologi? Atau adakah hal lain yang sesungguhnya lebih dibutuhkan manusia selain dari teknologi?

Dalam konsep Kabut Peradaban, manusia kini semakin tidak sadar akan kebergantungannya terhadap alam. Zaman dulu manusia memenuhi rasa laparnya dengan berburu dan mengolah makanannya secara langsung. Kini kita bisa lebih leluasa untuk memilih bahan makanan di etalase supermarket tanpa perlu bercocok tanam. Atau bahkan, kita bisa memesan makanan siap saji dengan sangat mudah langsung ke depan rumah hanya menggunakan layanan ojek antar. Kita semakin jauh dari alam akibat kemajuan peradaban yang kita buat sendiri. Ya! Tanpa alam kita tidak akan bisa bertahan hidup, bahkan dengan kemajuan teknologi sepesat apapun. Seperti terkena serangan virus atau malware, menjaga kelangsungan alam juga memiliki serangkaian upaya penanggulangannya. Berikut adalah tips dari saya bagi kita yang ingin turut merawat alam dari hal yang paling sederhana;

  1. Mengurangi (Reduce). Bijaklah dalam mengonsumsi sesuatu. Pastikan Anda membelinya karena kebutuhan. Coba jawab ini; Berapa banyak pakaian yang teronggok tak terpakai di dalam lemari Anda?
  2. Memakai ulang (Reuse). Anda bisa menggunakan barang pribadi hingga betul-betul tak bisa dipergunakan lagi. Misalnya, apakah Anda perlu mengganti smartphone hanya karena ingin berkamera lebih bagus? Bukankah esensi smartphone adalah untuk berkomunikasi? Anda juga bisa mempertimbangkan untuk membeli barang bekas yang masih layak atau hasil refurbish yang kini sudah marak dijual.
  3. Mendaur ulang (Recycle). Bila memiliki barang tak terpakai, jangan langsung dibuang, tapi bisa juga dimanfaatkan kembali atau disalurkan kepada penerima yang masih memerlukannya. Hal ini guna memperpanjang usia pakai sebuah barang.

Saat fenomena Ransomware ini meledak, hampir semua orang termasuk di Indonesia panik seakan hal buruk sedang terjadi. Tapi untuk fenomena Indonesia yang setiap tahunnya kehilangan 684.000 hektar hutan, kita tidak menjadikan itu sebagai hal krusial. Padahal, unsur utama manusia dalam bertahan hidup adalah oksigen, yang mana penghasil oksigen utama ialah pohon.

[]

Penulis: @ayodiki