Diet Halal

118198

Ternyata yang saya pikir selama ini, bahwa terlalu pintar untuk melakukan kesalahan yang sama, kurang akurat (eufimisme).

Termasuk hipster dalam bidang pola makan, setahun lebih yang lalu saya mencoba diet keto, untuk kemudian gagal total. Kemudian akhir tahun ini saya tiba-tiba melihat grup Facebook lokal diet ini, dan baca punya baca, kok mereka buat sangat sederhana dan mudah diikuti ya, instruksinya. Melihat juga bahwa semakin mainstream berarti saya lebih mudah mencari bahan yang mendukung diet ini. Kemudian saya juga pikir, jangan jangan saya kemarin kurang tepat menjalankannya, buktinya banyak yang berhasil dari testimoninya, jadi mau coba lagi deh. Mulai Januari, empat bulan kemudian saya menyerah kalah kembali. Untungnya tidak separah tahun lalu pengalamannya, karena saya lebih waspada, tetapi tetap kurang baik akibatnya untuk badan saya.

Sedih sih, karena badan belum bisa ceking idaman, tapi ya sudahlah. Kita kembali ke Paleo dan mindful eating saja.

Kemudian saya perhatikan diet keto semakin merajalela. Hampir semua orang menjalankannya, atau paling tidak membicarakannya, atau sedang mempertimbangkan untuk menjalankannya. Dari yang memang terlihat berlebih berat badan hingga yang (menurut saya) sudah kurus pun. Gembiranya adalah semakin banyak yang sadar kalau gula tidak baik untuk kesehatan, dan lemak yang selama ini dimusuhi, ternyata kawan jika dari sumber yang baik. Agak dilema melihat semakin banyak yang jual makanan yang di keto-fied; you name it, dari mulai burger, kastengels, bolu gulung ala meranti dan sebagainya.

Sering saya baca buku buku mengenai kesehatan memakai istilah “food-like substance” untuk makanan yang diproses atau makanan dalam kemasan. Karena memang bisa dimakan, rasanya juga seperti makanan, tetapi apakah itu makanan? Karena campurannya saja bahan-bahan yang seringnya kita pun tidak bisa mengucapkannya, dan bisa jadi komposisinya lebih banyak dari bahan utamanya (jagung? Gandum? Sol sepatu bekas dan gerusan tanduk unicorn?) jadi para penulis itu pun menyebutnya sebagai food-like substance, dan bukan hanya food.

Hampir semua pola makan yang saya coba sebenarnya mendukung pengikutnya untuk mengonsumsi makanan asli, sebisa mungkin masak sendiri. Kecuali Anda mengikuti diet yang menjual produk minuman sebagai pengganti makanan ya. Curigalah jika ada pola makan mengaku sehat tetapi mendorong kita untuk makan sesuatu yang sudah dikemas di dalam kotak karton atau plastik. Coba tanyakan lagi; apakah yang diuntungkan kesehatan kita? Atau kantung perusahaan produsen makanan raksasa? Bagusnya tren diet keto menjadi mainstream adalah, demand konsumen akan bergeser jenis makanannya, dari yang terima terima saja dengan makanan dalam kemasan dalam berbagai bentuk, mudah-mudahan akan berubah menjadi makanan segar dan lebih alami bahannya. Dari yang kita tengarai selama ini, demand yang besar akan dijawab oleh industri tentunya. Kita lihat saja nanti.

giphy

Satu lagi fenomena yang unik, mungkin karena saya baru perhatikan sekarang, mungkin dari dulu sudah ada. Jika memesan makanan atau bahan makanan secara online, saya selalu (jika tidak dicantumkan) menanyakan bahan pembuatannya, dan jika tersedia, informasi gizi atau nutrition facts. Tetapi ini cukup minoritas sih, karena justru yang  banyak ditanya adalah (apalagi untuk produk industri rumahan atau cemilan impor), ‘ini halal enggak ya?’

Penting sih, memang untuk mengonsumsi makanan halal, dari bahan halal, dan dibeli dengan uang halal — bukan dari hasil korupsi. Tetapi jika yang ditanyakan halal atau tidak itu adalah sereal untuk anak yang warna warni dan kandungan gulanya saja sudah membuat bergidik, apakah tidak salah alamat? Mungkin sudah waktunya kita sayang kepercayaan dan sayang juga dengan badan.

 

Advertisements

Indonesia Raya

Salah satu kelebihan menonton pertandingan sepakbola timnas langsung di stadion adalah pada saat akan dimulainya pertandingan, semua yang ada di lapangan dan tribun penonton berdiri dan dengan gegap gempita menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Takzim dan penuh Khidmat.

Juga ketika kita melaksanakan upacara bendera. Ada saat paling ditunggu adalah mengibarkan bendera merah putih seraya bernyanyi bersama menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Sesuai dengan UUD 1945 Bab I5 pasal 36B dinyatakan bahwa Indonesia adalah Lagu kebangsaan Resmi Indonesia. Tapi pernahkah kita menyanyikan penggalan lagu Indonesia Raya dengan syair berikut ini?

Stanza 2

Indonesia, tanah yang mulia
Tanah kita yang kaya
Di sanalah aku berdiri
Untuk selama-lamanya

Indonesia, tanah pusaka
Pusaka kita semuanya
Marilah kita mendoa
“Indonesia bahagia!”

Suburlah tanahnya, suburlah jiwanya
Bangsanya, rakyatnya, semuanya
Sadarlah hatinya, sadarlah budinya
Untuk Indonesia Raya

Stanza 3

Indonesia, tanah yang suci
Tanah kita yang sakti
Di sanalah aku berdiri
Menjaga ibu sejati

Indonesia, tanah berseri
Tanah yang aku sayangi
Marilah kita berjanji
“Indonesia abadi!”

Selamatlah rakyatnya, selamatlah putranya
Pulaunya, lautnya, semuanya
Majulah negerinya, majulah pandunya
Untuk Indonesia Raya

Karena memang sesuai dengan Peraturan pemerintah No. 44 tahun 1958 bahwa stanza 1 yaitu syair yang selalu dinyanyikan menjadi lagu kebangsaan resmi Negara Indonesia. Cukup 1 stanza saja. Arti stanza sendiri sejatinya adalah syair 8 untai yang sajaknya tak beraturan. Stanza disebut juga oktaf.

 

Indonesia itu apa? Raya itu apa? Saya secara pribadi bingung. Indonesia muncul saat saya melihat paspor atau berada di luar negeri. Indonesia baru disebut saat kita menonton pertandingan bulu tangkis. Apakah Lim Swie King Indonesia? Apakah Icuk Sugiarto itu Indonesia. Apakah Susi Susanti Indonesia?

Saat menonton sepakbola apakah Aples Tecuary Indonesia? Apakah Fachry Husaeni Indonesia?

Indonesia itu Siapa? Apa? Mengapa?

Apakah anak remaja Indonesia ndak boleh menyanyikan lagu Rihanna? Apakah saat bermain basket ndak boleh pakai Air Jordan? Apakah saat main bulutangkis tak boleh mengenakan Yonex? Apakah saat menulis tak boleh gunakan bolpoin Pilot? Dimana saya dapat menemukan Indonesia di saat-saat kita menjalankan kegiatan sehari-hari?

Saya bangun oleh alarm iPhone. lalu mandi produk Unilever. Pakai Oud Bergamot Jo Malone. Kenakan sepatu Bally, sarung tangan Under Armour. Kacamata Gucci, Helm Carrera, lalu meloncat kepada dan menggenjot Brompton. Di jalanan penuh Honda, Toyota, BMW, dan Mazda. Di mana Indonesia saya?

Bolehkah saat presentasi saya gunakan bahasa Inggris? Ketika buku pelajaran dan buku panduan dipenuhi bahasa asing.

Dimana Indonesia jika nama teman-teman saya berbau padang pasir dan aroma kulit onta, tembok ratapan, nama-nama yang ada dalam kitab suci dan salju Skandinavia. Juga nama- nama sekitar keraton Jawa.

Nama Indonesia itu seperti apa? Yang ada nama Asep Sunda, Joko Jawa, Ahong Tionghoa, Fuad Arab, Tigor Batak. Saat bekerja kenakan jas ala barat. Saat ibadah kenakan sarung gaya asia selatan.

Indonesiaku dimana saat darahpun berbeda A, O, AB, dan B. Indonesiaku dimana saat KTP pun berbeda isian kolom agama. Indonesiaku dimana saat semuanya berbeda.

Indonesia, tanah airku
Tanah tumpah darahku
Di sanalah aku berdiri
Jadi pandu ibuku

Indonesia, kebangsaanku
Bangsa dan tanah airku
Marilah kita berseru
“Indonesia bersatu!”

Hiduplah tanahku, hiduplah negeriku
Bangsaku, rakyatku, semuanya
Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya

<REFRAIN >  :

Indonesia Raya, merdeka! Merdeka!
Tanahku, negeriku yang kucinta
Indonesia Raya, merdeka! Merdeka!
Hiduplah Indonesia Raya!
Indonesia Raya, merdeka! Merdeka!
Tanahku, negeriku yang kucinta
Indonesia Raya, merdeka! Merdeka!
Hiduplah Indonesia Raya!

Bagi saya Indonesiaku ada dalam pikiran. Dalam desah nafas. Saat berpikir dan bertindak. saat mengambil keputusan akan korupsi atau tidak. Akan datang terlambat atau tepat. Saat berbicara santun atau ngelunjak. Saat akan membeli rumah bersubsidi dan ambil jatah warga lain yang belum sama sekali memiliki tempat tinggal atau sesuai kemampuan ekonomi. Saat memutuskan bersahabat atau bertengkar hebat. Saat berdemokrasi dengan sehat siapapun pilihannya.

Karena Indonesia bukan karena sama-sama memilih pemimpin. Indonesia ada dalam segala.

Indonesia saya ada dalam senyum ramah setiap tegur sapa. Indonesia saya ada saat mengulurkan tangan membantu teman yang akan naik kereta dengan tergesa. Indonesia ada saat menulis sesuatu tanpa perlu pusing apakah akan mendapat sesuatu. Indonesia saya adalah saling menghormati. Berjanggut atau klimis adalah Indonesia. Sipit atau pesek juga Indonesia. Ketika sama–sama memiliki cita-cita untuk hidup bahagia dan rela berbagi ruang menghirup udara yang sama.

Indonesia sebagai jembatan perbedaan apapun. Beda suku. Beda agama.  Beda kendaraan. Beda kampung halaman. Juga beda pendapatan.

Indonesia masih belajar untuk kerja keras. Indonesia sedang belajar toleransi. Indonesia dengan sadar belajar untuk saling berkomunikasi.

Tak apa. Karena, Indonesiaku. Raya selalu.

salam anget,

roy wage supratman.

 

Berikan Kekuatan Untuk Bisa Bertahan, Ya Tuhan …

Baru beberapa hari yang lalu saya menamatkan menonton serial “Feud”. Miniseri 8 episode ini dibuat oleh Ryan Murphy, pembuat serial “Glee”, miniseri “American Crime Story: The People vs OJ Simpson”, serial “American Horror Story”, dan masih banyak yang lain.

Rencananya “Feud” ini akan selalu dibuat setiap tahunnya. Semuanya akan menampilkan fokus perseteruan antara dua pesohor ternama yang publik (baca: penonton televisi Amerika) banyak ketahui.
Makanya, di musim penayangan pertama ini, cerita “Feud” memfokuskan diri pada perseteruan antara dua bintang besar Hollywood di era tahun 1930-an sampai awal 1950-an, yaitu Bette Davis dan Joan Crawford.

Untuk teman-teman yang memang penggemar film-film klasik, kedua nama ini sudah tidak asing lagi. Namun bagi teman-teman yang belum tahu, Bette Davis dan Joan Crawford bisa disebut sebagai, erm, Taylor Swift dan Katy Perry untuk perfilman Hollywood waktu itu. Keduanya sama-sama tough, strong minded, mampu bertahan di tengah dominasi serbuan bintang-bintang muda lainnya, dan mempunyai etos kerja yang tinggi. Tak heran, ketika keduanya dipersatukan untuk membintangi film What Ever Happened to Baby Jane? di tahun 1962, media dan publik kala itu “pecah”.

(source: The Hollywood Reporter)

Dua orang dengan watak keras kepala yang sama, yang terbentuk dari kebiasaan kerja keras selama puluhan tahun, bertemu dalam satu film. Tidak ada yang mau mengalah. Perseteruan mereka bukan karena mereka membenci satu sama lain, tapi karena mereka tahu bahwa mereka harus mengalahkan satu sama lain untuk menjadi yang terbaik, yang paling menonjol.
Apalagi film ini menandai kebangkitan mereka, karena sebagai aktris senior, mereka sudah jarang mendapat panggilan untuk main film lagi. Paling tidak, sudah tidak sesering waktu mereka masih muda.

Dan di sisi inilah miniseri ini menarik perhatian saya. Tentang ageism. (Apa ya padanan bahasa Indonesia yang paling pas?)

Tema ageism atau perlakuan diskriminasi terhadap orang lanjut usia ditampilkan dengan baik di miniseri “Feud” ini. Di industri hiburan yang memang ‘kejam’ dan cenderung berpihak pada penampil yang masih muda, kesempatan untuk para seniman tua berkarya semakin lama semakin berkurang.

Dalam miniseri ini, dan di kehidupan nyata, Joan Crawford terlihat kesulitan menghadapi kenyataan bahwa tidak ada lagi peran-peran yang menarik yang menghampirinya, tidak seperti di masa jayanya. Dia harus ‘rela’ berperan di film-film horror murahan, dan tidak mau terlihat tua di depan layar atau di depan publik. Saat sebuah koran memuat foto dirinya yang terlihat menua, dia memutuskan untuk berhenti berakting atau tampil di depan umum sama sekali, sampai dia meninggal di tahun 1977.

(source: Daily Mail)

Bette Davis ‘sedikit’ lebih beruntung. Sadar bahwa dia tidak pernah mengandalkan kecantikannya, dia masih terus bekerja sampai akhir hayatnya. Kesehatannya yang menurun tidak menghalanginya. Peran sekecil apapun, termasuk beberapa rencana serial televisi yang selalu gagal, dikerjakannya sambil menelan ego besarnya dalam-dalam. Tentu saja dia masih berkeluh kesah terhadap perlakuan tidak adil yang diterimanya. Atau buruknya film-film yang dia kerjakan. Namun dia ingin membuktikan bahwa dia masih bisa terus berkarya.

Film What Ever Happened to Baby Jane? yang mereka bintangi bersama memang sukses keras di pasaran. Bette Davis masuk nominasi Oscar lewat film ini. Nama Bette Davis dan Joan Crawford sempat melambung lagi, meskipun tidak lama. Lagi-lagi karena keterbatasan availability roles buat mereka.

Sepanjang miniseri ini, diam-diam ternyata ada pertanyaan yang menyeruak di benak saya, “Siapkah kita menua?”

Dulu saya suka bercanda dengan teman-teman saya, kalau ada yang memanggil dengan sebutan “pak” atau “bapak” ke saya dan sesama teman pria, atau “bu” dan “ibu” ke teman-teman perempuan. Rasanya risih. Lalu pasti protes. Atau berusaha dandan lebih muda dari umur.

Namun sekarang? Meskipun masih berusaha berpakaian sesantai mungkin, karena pekerjaan tidak mengharuskan untuk memakai seragam, ditambah olahraga rutin, ternyata frekuensi penyebutan panggilan “mas” atau “kak” sudah jauh lebih berkurang. Malah hampir tidak ada. Rasanya sedih, tapi cuma bisa sedih dalam hati. Soalnya kalau sedih di muka umum, nanti ada yang merekam lalu diunggah ke media sosial sampai jadi viral.

Kita tidak bisa melawan penuaan. We cannot beat aging, but we only have to deal with it.

(source: Feminist Current)

Susah? Itu pasti. Apalagi kalau sudah ada obrolan “kayaknya baru kemarin ya kita lulus SMA” dan sejenisnya. Semakin tua, semakin cepat rasanya waktu berlalu. Kejadian yang sudah lewat 15 tahun silam serasa seperti baru terjadi dua minggu yang lalu.

Toh time will never wait for anyone. Untuk kita semua yang angka umur semakin melaju melebihi kecepatan kita menyadarinya, kita harus siap kalau nanti kemampuan motorik kita semakin menurun, makan sedikit cepat membuat badan lebih menggemuk, sesekali lupa akan nama teman lama, dan kesempatan berkarya kita makin terbatas.

Apakah kita pasrah? Jawabannya adalah “ya” dan “tidak”.
Never mind our beauty will fade, tapi selama panca indera kita masih bekerja, maka kita masih bisa belajar. Belajar mengikuti perkembangan alam, perkembangan teknologi terbaru. Belajar untuk tidak menyusahkan yang lebih muda. Belajar bahasa mereka, meskipun bukan berarti kita harus berbicara bahasa yang sama. Membaca. Baik itu membaca alam, membaca perubahan, atau membaca buku untuk terus mengasah otak dan akal kita.

Just because we lose our youth, that does not mean we have to lose our mind.

Menjadi Korban

SENGSARA jadi tapa brataku dan dapat mempertebal semangatku untuk memperjuangkan keadilan dan hak.

Demikian jawab Yudhishthira, sulung Pandawa kepada Bhima. Ia menolak permohonan dan bujukan sang adik, yang memintanya agar segera mengakhiri tapa brata pengasingan diri selama 13 tahun, dan memulai perang pemulihan harga diri.

Foto: Wikimedia

Bhima sudah tidak tahan harus hidup layaknya buron dari satu hutan ke hutan lainnya, apalagi ibu mereka juga turut serta meskipun tidak salah apa-apa. Sementara Yudhishthira berkeras bahwa janji harus benar-benar ditepati, tanpa kompromi, terlebih korupsi. Yudhishthira meyakini bahwa satu-satunya cara membayar kesalahan adalah dengan menjalani hukuman sampai tuntas.

Sebagai raja, Yudhishthira menyadari kebodohannya bertaruh di meja judi dadu. Ia juga paham betul kelicikan musuh-musuhnya; Duryodhana dan Shakuni. Namun semua sudah terlambat. Keteledoran yang ia lakukan justru juga berdampak pada saudara-saudaranya, istri mereka, bahkan ibunya… dan dari pernyataannya di atas, ia terkesan menjadikan hukuman tersebut sebagai pembenaran untuk bertindak. Nanti. Setelah selesai.

Yudhishthira terkesan lamban bertindak dan sangat nrimo atas kesalahan yang dilakukannya, padahal ia masih punya peluang cukup besar untuk segera menanganinya.

Ini menimbulkan pertanyaan; seberapa memprihatinkan atau teraniayanya Yudhishthira kala itu? Pada kenyataannya ia masih bisa mengomandoi adik-adiknya dalam pengembaraan, dan mampu melakoni segala bentuk ritual pemujaan (untuk mengundang dewa turun ke bumi, membantunya, dan memberikan beraneka anugerah).

Pertanyaan kedua; apakah Yudhishthira melakukan kesalahan karena tidak segera melakukan apa-apa? Penderitaan ini juga dialami oleh ibunya. Makin lama ia bergeming, makin lama pula ibunya akan ikut merasakan ketidaknyamanan hidup yang tak sepantasnya.

Dari cuplikan epos Mahabharata di atas, Yudhishthira sepertinya mager. Ia juga membiarkan segala kesengsaraan terjadi padanya sebagai bentuk krida, laku prihatin agar mendapat restu para dewata. Membuang waktu, tenaga, dan tetap berujung pada perang Bharatayudha.

Ada perbedaan mendasar antara menjadi korban, dan merasa menjadi/dijadikan korban. Tetapi keduanya kerap dirancukan satu sama lain.

Dengan menjadi korban, seseorang mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan secara riil; menjadi objek penderita tanpa daya upaya. Sedangkan seseorang yang merasa menjadi/dijadikan korban, mengklaim dirinya mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan. Bisa saja untuk mengelabui, dan mencari pembenaran atas apa yang ia lakukan kemudian.

Perkara menjadi atau merasa menjadi korban ini memang sangat licin. Orang-orang yang jago memanipulasi, bisa saja mendapatkan jauh lebih banyak simpati dibanding korban sebenarnya. Lagipula, diperlukan kecerdikan negatif (baca: kelicikan) khusus untuk memanfaatkan situasi seperti ini. Mana ada orang biasa-biasa dan tanpa kepentingan yang bersedia ditempatkan di posisi korban.

Tanpa sadar, beberapa dari kita mungkin pernah atau kerap menempatkan diri sebagai korban untuk cari aman. Beberapa cirinya:

  • Melempar kesalahan kepada orang lain dan menunjukkan dendam atas itu,
  • Mencari-cari alasan,
  • Merasa tak berdaya sehingga tidak melakukan apa-apa,
  • Bersikap defensif,
  • Meminta simpati secara terang-terangan,
  • Selalu membandingkan diri dengan orang lain secara negatif,
  • Selalu mengeluh,
  • Selalu merasa kurang.

Bagaimana? Pernah atau sering melakukan hal-hal di atas? Saya sih iya, ada beberapa di antaranya.

Bila dilakukan secara sadar, bisa jadi itu adalah bentuk self-victimization. Akan tetapi bila dilakukan tanpa disadari, tak mustahil itu adalah kebiasaan kurang baik yang berasal dari defense mechanism kita sejak kecil.

Silakan nilai diri sendiri. Setidaknya, lewat mengenali apa yang dilakukan dengan atau tanpa sadar merupakan gerbang menuju perbaikan… yang penting ada usahanya. Bisa dimulai dengan menerima kalau salah ya salah aja.

[]

Kerja, Kerja, Kerja, Santai! Karena Kerja Nyantai Hanya Ada di Iklan.

“Saya hanya bekerja, tak peduli penilaian orang…” Joko Widodo.

Pernah lihat iklan produk rokok tentang bekerja? Yang menceritakan jika lelaki itu kerjanya gak di kantor tapi sambil liburan. Membuka komputer jinjing di atas meja berbahan dasar kayu, dengan pemandangan langsung mengarah ke lautan. Tanpa kerut, yang ada hanya senyum sepanjang hari dalam mengentaskan seluruh daftar pekerjaan.

Tulisan ini (salah satunya) didasari oleh banyak hasil percakapan bersama rekan-rekan lama semasa kuliah. Dalam setiap kali pertemuan, ada satu topik wajib yang diperbincangkan, yakni mengenai pekerjaan masing-masing. Apa yang terjadi? Keluh kesah-lah yang pertama muncul daripada apa yang telah kami hasilkan dari pekerjaan tersebut. Tak terkecuali saya, setelah lebih dari lima kali berganti tempat bekerja, ada saja yang dikeluhkan.

“Capek kerja di sini, bonusnya kecil…” Kebanyakan sih sering mengangkat tema bonus, dengan atau tanpa tahu apa itu bonus. Yang ada di dalam benak, bonus adalah sejumlah uang yang akan diterima, sesederhana itu. Kalau dilihat di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bonus ini berarti upah tambahan, memang benar adanya. Perlu dicatat, bonus bukan termasuk ke dalam kewajiban transaksional seseorang bekerja di sebuah perusahaan. Ini menandakan bahwa uang adalah dasarnya perbincangan seputar pekerjaan.

Mengeluh dalam bekerja ini saya anggap seperti candu, sulit sekali untuk tidak memikirkannya. Jika dirunut, terdapat korelasi antara banyaknya keluhan dengan indeks kinerja. Juga, faktor yang menyebabkannya bisa beragam, ada yang memang terlalu banyak daftar kerja, ada yang memang hanya malas. Dalam buku Rumah Kedua yang memuat tulisan para karyawan PT Nutrifood akan pengalaman mereka bekerja di sana, cukup membuka wawasan, khususnya tips mengatasi kejenuhan dalam bekerja. Fasilitas kebugaran, makanan sehat, ruang rapat yang santai, menjadi salah satu pilihan dalam membentuk suasana bekerja yang menyenangkan. Dengan catatan; perusahaan mampu merealisasikannya.

Terdapat 60% dari usia kerja produktif di Indonesia adalah pengangguran. Angka yang tidak sedikit mengingat jumlah populasi negara ini yang terbilang besar. Dari angka tersebut, seringkali Saya merefleksi akan sulitnya bersaing untuk mendapatkan pekerjaan. Konon, dengan begitu kesempatan untuk mengeluh akan berkurang.

Biasanya, semakin rendah level di perusahaan, maka akan semakin sering mereka mengeluh mengenai pekerjaan. Wajar, semakin Anda tahu kondisi perusahaan, maka akan semakin Anda berupaya untuk terus melangsungkan perusahaan itu sendiri. Maka, loyalitas adalah penting untuk menjaga orang-orang terbaik di perusahaan tidak lompat ke tempat lain. Upaya menumbuhkan loyalitas ini tidaklah mudah, kepemimpinan menjadi penggeraknya, tanpa itu, mustahil akan terjadi. Menjadi bawahan memang terasa sulit, tapi menjadi atasan juga memiliki beban tersendiri. Maka, untuk mengurangi keluhan dalam bekerja adalah tetap berupaya untuk menjadi pemimpin, minimal pemimpin (bertanggungjawab) dari apa yang sedang dikerjakan.

Semilir angin berhembus bersamaan dengan burung dara-laut yang terbang rendah di bibir pantai, secangkir teh dengan roti ala raja Monako tersaji di samping alat kerja. Meja kayu dengan ornamen payung di atasnya melindungi dari terik matahari pesisir. Sungguh suasana kerja yang menawan, yang niscaya tanpa ada keluh kesah di dalamnya. Namun, itu semua hanya dalam iklan, iklan dari rokok yang…. (isi sendiri). Jadi, apa motivasi kalian untuk bekerja?

-[]

Penulis: Dicky Ahmad // Akun twitter: @ayodiki

 

Dialog Jomblo

Mengapa kita perlu berpasangan? Berpasangan di sini tak selalu berarti menikah. Tapi memiliki seseorang yang eksklusif dalam kehidupan kita. Bersama untuk berbagi segala hal. Sejenis atau berbeda jenis kelamin tak masalah, yang penting sama-sama enak, sama sama bahagia. Sama-sama suka. Seseorang ini pula yang semoga akan mendampingi, saat kita menutup mata sementara atau selamanya.

Di sebuah perayaan ulang tahun, saya dan beberapa teman dekat membahas soal pasangan hidup. Karena kami akrab, tak ada batasan diantar kami. Masing-masing bisa jujur menjadi diri sendiri. Kami pun mempertanyakan, mengapa harus memiliki pasangan hidup. Tak ada yang memaksa kami untuk berpasangan. Pun dari diri kami sendiri. Tak ada pula rasa malu kalau dikatain jomblo. Bahkan pertanyaan “kapan kawin” tak mengganggu kami. Tapi kami sepakat, lebih baik memiliki pasangan hidup ketimbang sendiri.

Jawaban yang kami rasa paling mewakili perasaan kami semua adalah ini. Jomblo itu ibarat duduk di kursi bakso yang membuat kita leluasa memutar badan 360 derajat karena tak ada sandarannya. Tapi sesekali kita pun ingin dan butuh untuk bersandar. Sandaran itulah pasangan kita.

Dalam perbincangan Kartini dan Ibunya, Ibunya kurang lebih membenarkan pendapat ini berkata bahwa kalau manusia ada yang memangku, maka hatinya akan tentrem (tenteram). Generalisasi karena toh banyak yang tenteram walau jomblo. Mungkin.

http://hiburan.metrotvnews.com/film/zNPdM2VN-film-kartini-menawar-ikatan-tradisi

Setelah 3 tahun kemarin siang, kami berkumpul lagi. Ada yang masih jomblo, ada yang sudah menikah, ada yang sedang berpacaran dan ada yang sudah bercerai. Perbincangan kami semakin intim karena masing-masing kini sudah memiliki pengalaman tambahan dalam urusan relasi. Sampai akhirnya kita membahas para jomblo di sekitar kami. Jomblo tidak pernah menikah atau sudah pernah menikah.

Satu hal yang membuat para jomblo  frutrasi, adalah perasaan “tidak laku”. Mungkin kedengarannya sepele bagi yang sudah berpasangan. Tapi bagi yang jomblo, buntutnya bisa panjang. Perasaan tidak diinginkan. Tidak dibutuhkan. Dan terlebih tidak dicintai. Yang kemudian melahirkan pertanyaan apa yang kurang dengan saya? Apakah saya kurang menarik? Badan saya tidak ideal? Kepribadian saya tak menyenangkan? Dan banyak lagi pertanyaan yang membuat hidupnya semakin gelisah.

Reaksi yang kemudian muncul pun beragam. Ada yang menjadi sinis dengan cinta dan pernikahan. Mempertanyakan ketulusan semua cinta di depan matanya. Meragukan semua pernikahan terjadi murni karena cinta. Dan yang terakhir, menutup diri pada cinta. Seolah cinta itu sepenuhnya buatan manusia yang sebenarnya tak ada gunanya. “Ada apa dengan cinta? Gak ada apa-apanya” kata seorang teman duda.

Ada pula yang bereaksi secara demonstratif menunjukkan dirinya masih diinginkan. Masih menggairahkan. Dengan aktif mereka menceritakan soal kencan semalam atau semalaman. Atau bagaimana banyak orang tergila-gila pada dirinya. Atau teman kencan yang memperlakukan dirinya bagai anjing ketemu tulang saat bercinta dengannya. Atau bagaimana orang-orang sekitar sering menggoda dirinya. Walau intonasinya terdengar gusar, namun sesungguhnya ada sedikit senyum bangga di sudut bibirnya.

Kemudian ada yang menimbun dirinya dengan pekerjaan. Menikah dengan pekerjaannya. Daripada pusing mengenai cinta dan percintaan ini, mereka melarikan dirinya ke pekerjaan. Kebanyakan dari mereka memang berhasil dalam karir. Berhasil mencapai jenjang karir tinggi. Sayangnya, mereka berharap semua bekerja seperti dirinya yang tak memiliki pasangan dan keluarga. Bekerja 24 jam termasuk malam minggu. Hullooow, yang lain mau pacaran kali… Baginya urusan cinta, pasangan dan keluarga adalah remeh temeh dan hanya mengganggu pekerjaan saja. Seorang pernah berkata “Kenapa ya kebanyakan klien yang susah itu jomblo. Apa karena kurang seks?”

Energi berlebihan di kalangan jomblo banyak yang menyalurkan dengan berolahraga. Sehari dua kali ke gym. Seminggu sekali ikutan race. Yoga, pilates, dan beragam kelas lain yang diikuti secara berlebihan. Fokus hidupnya dialihkan pada kesehatan. Tak ada salahnya, sampai kemudian mulai menyalahkan orang-orang yang fokus hidupnya pada hal lain. Masalah timbul saat dia berharap semua orang untuk bersikap dan memiliki gaya hidup seperti dirinya. Jangan salah, mereka bisa jadi lebih frustrasi: “Duh, kenapa sih orang-orang ini gak peduli banget sama kesehatannya? Gak tau apa kalo sakit tuh gak enak. Mahal lagi!” Loh?

Itu baru 3 contoh, masih banyak lagi dampak dari menjadi jomblo. Ya, memang tak semua jomblo begitu dan tak semua orang yang sudah berpasangan tidak begitu. Di atas segalanya, yang terpenting sepertinya adalah kesadaran. Sadar penyebab dari perilaku kita. Saat kita mudah marah, sadarlah kita sedang mudah marah. Sadarlah apa penyebab kemudah marahan kita. Apa karena kurang perhatian, mencari kasih sayang, kurang seks atau mungkin benar karena faktor eksternal.

Segeralah menyadari dan gali lebih dalam alasan dibalik segala perilaku. Terutamanya yang berlebihan.

Saat merasa kesepian. Sadarlah, apa penyebab kesepiannya. Apa merasa diri tak berarti. Merasa diri tak berguna. Tak diinginkan. Mungkin bisa memulai kegiatan sosial yang membantu sekitar. Saat kita menolong orang lain, sebenarnya kita juga sedang menolong diri sendiri. Kita sedang menyayangi diri sendiri. Karena sesudahnya, yang ditolong bahagia dan  yang menolong sejahtera. Pssst, Audrey Hepburn… jomblo yang di usia tua sampai meninggalnya, mengabdikan diri untuk orang miskin di Afrika, Amerika Selatan dan Asia.

Termasuk saat kita melebih-lebihkan atau mengelabui soal asmara dan seks kita. Sah saja untuk menganggapnya bagian dari pencitraan. Selama dilakukan dengan kesadaran. Bahwa sesungguhnya bukan kenyataan. Bukan realitas. Jangan sampai, kita mempercayai bahkan meyakini kebohongan atau khayalan yang kita buat sendiri.

Menjadi jomblo di masyarakat Indonesia memang tidak mudah. Di acara Asian Top Model, ketika diajukan pilihan untuk tidak memiliki handphone atau tidak minum kopi, semua kandidat langsung memilih kopi. Tidak bisa hidup tanpa handphone. Kewl. Sampai ada kandidat dari negara lain yang memilih untuk meniadakan handphone. Dengan sedikit mengejek, kandidat dari Indonesia berkata “yaiyalah, kamu kan gak punya pacar gak ada yang nyariin, makanya gak perlu handphone”. Deugh…

Anggaplah tak ada  keharusan seseorang untuk berpasangan. Dan tak ada kewajiban untuk selalu menyenangkan orang lain. I am bitter, bitchy, denial, because I am single, so what? So nothing. Karena tidak tepat juga untuk memaksakan diri memiliki pasangan hanya agar diri sendirilebih baik. Tapi seandainya pilihan itu datang, berikanlah sedikit kesempatan. Walau yang datang mungkin jauh dari angan.

Bagi yang sudah memiliki pasangan, tak perlu juga merendahkan yang jomblo. Karena seperti berkah yang lain, semua bisa jadi jomblo seketika. Menjadi jomblo bukan pula berarti tidak ada yang mau atau banyak mau. Tapi memang waktunya belum tiba. Jangan salah, banyak kelebihan dan kenikmatan hidup yang hanya bisa dinikmati oleh para jomblo.

 

Sebaiknya Bilang Apa Saat Berbela Sungkawa?

How do you say “sorry?” Maksudnya bukan sorry minta maaf, ya. Bukan juga nyanyi lagunya Justin Bieber, tetapi berduka sungkawa. Giving condolences or sympathy.

Kalau ada teman atau saudara yang tertimpa musibah—misalnya, meninggal atau sakit keras—biasanya kita mengucapkan “Turut berduka cita, ya” atau “Sabar, ya…” atau “Alhamdulillah, nyokap lo udah nggak merasakan sakit lagi…” atau “Gue juga dulu pernah ngalamin pas blablabla…”

But I always wonder, apakah yang bersangkutan bakal beneran lega dengan “bersabar” atan mendengarkan “nasihat” serta cerita pengalaman kita? Apakah kata-kata kita tersebut beneran bikin dia lega?

Seandainya orangtua saya, anak saya, atau diri saya sendiri sakit keras, saya rasanya nggak akan langsung adem kalau disuruh “bersabar”, apalagi disuruh mendengar pengalaman duka teman, terutama saat kesedihan saya masih di tahap-tahap awal. Niat mereka pasti baik, sih. Mungkin mereka ingin menunjukkan empati mereka, dan menyatakan bahwa mereka juga pernah mengalami kesedihan yang “sama”.

But, no. Every sadness is very different, dan kenapa pusat pembicaraan ini jadi berputar ke kamu, wahai kawan?

Oke, kalau kita lagi kena musibah, mungkin yang “seharusnya” kita lakukan memang bersabar dan berdoa—seperti kata berbagai ucapan belasungkawa dan nasihat yang kita terima. Namun pada praktiknya, kita nggak selalu bisa begitu. Kadang kita pengennya ngamuk, banting piring, nangis, teriak, dan jujur aja, merasa Tuhan nggak adil. Merasa cara kerja Tuhan terlalu misterius untuk dipahami. Kadang kita pengen bilang ke teman dan keluarga seisi chat group yang memberikan belasungkawa…

“Sabar, sabar… palelo sabar! Kayak paham aja lo! Dan lo yakin darimana, nyokap gue udah nggak merasa sakit lagi?!”

Normal dan manusiawi banget.

Tetapi saya pribadi juga nggak tahu, ekspresi simpati dan belasungkawa seperti apa yang tepat untuk disampaikan ke teman atau kerabat dekat, saat dia sedang mengalami kesedihan mendalam. Sehingga saya beneran selalu bertanya-tanya—how do you say “sorry”?


Post ini terinspirasi oleh beberapa teman dekat yang anggota keluarganya sedang sakit keras dan meninggal baru-baru ini. Juga oleh desainer kartu ucapan Emily McDowell, yang selalu membuat kartu ucapan simpati dengan kalimat-kalimat yang sangat jujur. There should be Indonesian versions of them.

[]

 

Penulis: LaiLa Achmad.

Tulisan serupa dimuat juga di blog pribadinya, letthebeastin.com

Bagaimana Jika Ahok Berdebat Dengan Zakir Naik dan Akhirnya Masuk Islam Jelang Pilkada?

Apa pentingnya Pemimpin?

Apa pentingnya pemimpin yang seagama?

Apa pentingnya Pemimpin yang seagama dalam kehidupan sehari-hari bagi kita?

Jika ditanya mengapa Ahok kalah? Jawaban saya satu. Ahok bukan orang Islam. Jangan GR untuk bilang program kerja Anies Baswedan dan Sandiaga Uno lebih baik dari Ahok-Jarot

Gini saja deh.

Bayangkan jika Ahok tiba-tiba hadir di acara Zakir Naik dan masuk islam?

Ndak Cuma Gubernur Jakarta. Ahok siap-siap merangsek istana.

Setahun lalu, siapa sih lawan Ahok? Tak ada. Tidak ada di bayangan sedikitpun lawan tangguh yang dapat menyaingi popularitas Ahok.

Permasalahan baru muncul ketika kesenjangan sosial makin menjulang. Tionghoa di Jakarta yang direpresentasikan Ahok kelihatan makin makmur. Sebetulnya ini keliru. Warga Tionghoa mulai memberanikan diri berekspresi di muka umum. Itu saja. Sehingga seolah-olah ada ketakutan lain bahwa Jakarta akan menjadi Singapura. Gedung tinggi dengan wajah sipit dimana-mana. Wajah Jawa dan wajah lainnya digilas muka-muka Tionghoa.

Cara kerja Ahok yang tegas, sangat islami. Karena tegas adalah yang dicontohkan para nabi. Soal mulutnya yang terlalu pedas dan dianggap tidak pantas patut menjadi pertimbangan negatif.

Maka sisi apa yang menjadi kelemahan Ahok? Dia bukan orang Islam. Dia minoritas. Apalagi pernyataan yang entah apa, bagaimana, dan kapan, lalu apa latar belakangnya sehingga Ahok dituding menistakan agama.

WA, FB, Twitter, SMS, Path semua riuh dan bising oleh banyak pihak yang berkepentingan saling menjatuhkan lawan-lawannya.

Agus-Sylvi banyak berniat untuk menggoyang Ahok, namun Anies-Sandi yang menikmati hasilnya. Anies dan tim tinggal semakin menggosok saja kerja yang telah dimulai tim Agus.

Ahok kafir. Titik.

Maka dosa jika pemimpin kafir menjadi pemimpin.

Ahok Kafir seharusnya tidak ditanggapi dengan Ahok merayakan keberagaman.

Ahok kafir seharusnya oleh tim sukses cukup manfaatkan kehadiran Zakir Naik.

Ahok berdebat. Ahok tobat. Lalu masuk Islam.

Ahok jadi Gubernur.

Ahok Jadi Presiden.

Terus apa?

Ahok itu Tionghoa. Akan bawa keluarga leluhurnya dari daratan Cina menyerbu Jakarta. Mau kamu banyak orang Tionghoa menguasai Jakarta? Lalu Pulau Jawa? Lalu Seluruh Indonesia?

Bagaimana?

Tim Sukses Ahok tak menanggapi tantangan hembusan tudingan ini. Dibiarkan jadi angin lalu. Angin yang membesar dan menjadi topan badai.

Pertanyaan awal saya ulang saja.

Apa pentingnya Pemimpin?

Apa pentingnya pemimpin yang seagama?

Apa pentingnya Pemimpin yang seagama dalam kehidupan sehari-hari bagi kita?

Karena Pemimpin Jakarta dipilih dengan seksama karena agama.

Maka pemimpin tak perlu repot-repot bikin program apa saja. Cukup terus beragama yang sama. Iya. Cukup. Warga Jakarta tak apa ndak kemana-mana. Warga Jakarta ndak masalah gini-gini aja. Asal kelak naik surga sama-sama.

 

[]

salam anget,

Loi Cayul

#RekomendasiStreaming – Hidup Harus Kuat

Janji memang harus ditepati. Tidak ada kata lain. Dan ternyata, ini lumayan berat untuk dilaksanakan.

Seperti janji saya bulan lalu, setiap Kamis minggu ketiga, saya memberikan rekomendasi film-film apa yang layak ditonton dalam situs atau aplikasi video streaming bulan ini. Namun kejadian politik kemarin memberikan bitter after taste yang luar biasa kecutnya. Masih terasa sampai sekarang, dan mungkin akan terasa terus menerus, karena kita tidak bisa menjadikan pembodohan sebagai sesuatu yang normal.

Toh janji memang harus ditepati. Tidak bisa dipungkiri. Dan untuk menelaah apa yang terjadi sekarang, bagaimana kita harus mengantisipasi, maka inilah film-film yang bisa Anda tonton pekan ini.

• Jika hanya punya waktu untuk menonton satu film pendek di akhir pekan ini, maka tontonlah …

Jadi Jagoan ala Ahok

(sumber: tumpi.org)

Film ini menceritakan pengalaman Ahok berkampanye di daerah asalnya, Belitung, untuk menjadi anggota legislatif di tahun 2009. Tanpa ada uang untuk memberi sembako atau memasang foto dirinya di billboard, Ahok memilih untuk turun langsung menemui penduduknya satu per satu, dan mendengarkan masalah mereka. Terdengar familiar?

Saya menonton film ini pertama kali tahun 2011. Lalu saat festival film pendek yang saya buat mulai diadakan untuk pertama kalinya, film ini menang sebagai film pendek dokumenter terbaik. Sejak saat itu, film ini sudah melanglang buana ke seluruh pelosok tanah air, dan beberapa tempat di belahan dunia.

Filmnya masih relevan. Film seperti ini menguatkan harapan kita, bahwa memang it takes huge strength to do the right things, but it is not impossible. Ahok membuktikannya. And we will be forever thankful for his doing.

Silakan ditonton.

• Jika punya cukup waktu untuk menonton satu serial di akhir pekan ini, maka tontonlah …

13 Reasons Why

(source: Indiewire)

Sungguh susah untuk berhenti menonton. Setiap satu episode berakhir, sudah buru-buru ingin melanjutkan, begitu terus sampai 13 episode saya tonton dalam satu hari, sampai nyaris tidak tidur.

Ceritanya unik. Seorang anak perempuan remaja bunuh diri. Dia meninggalkan 13 kaset berisi rekaman suaranya, yang menceritakan setiap orang yang ditemuinya dan memberikan pengaruh psikologis dalam hidupnya, sampai membuat dia memutuskan untuk bunuh diri.

It is dark, it is hard to watch at times, but it is strangely addictive at the same time.

Di balik tampilan glossy dari para pemerannya yang too good looking in real life, serial ini membuat saya tersentak, mengingat lagi masa-masa sekolah dulu.
Saya pernah di-bully. Tapi setelah saya ingat lagi, dalam beberapa kejadian, ternyata saya juga pernah mem-bully. Apakah itu bentuk defensive attitude setelah menjadi korban bullying, yaitu dengan melakukan hal yang sama dengan orang lain? Lalu kapan siklus itu berakhir? Sampai ada orang yang rela mati?

Sembari menonton serial ini, pertanyaan-pertanyaan itu lumayan sering berkecamuk di pikiran. Dan setelah tahu bahwa serial ini memberikan pengaruh besar di kehidupan remaja dengan meningkatnya jumlah penelpon di saluran telpon pencegahan bunuh diri di Australia, then we know that this series is doing the right thing.

Selamat menonton!

Dewa Bumi dan Air Kembang

SELAIN peristiwa Bani Israil melebur perhiasan emas lalu dijadikan berhala anak lembu betina… setelah dibawa Nabi Musa menyeberangi Laut Merah menghindari kejaran Firaun, tampaknya bangsa Tionghoa sudah default sebagai salah satu pelaku animisme paling fleksibel dalam peradaban dunia. Paling luwes, dan paling sinkretis karena perspektif budaya. Di mana pun mereka berada, termasuk di Indonesia.

Di Tiongkok, Hong Kong, maupun Taiwan, ada kepercayaan tentang Dewa Bumi sebagai danyang si empunya kawasan. Semacam penjaga atau penguasa lokasi setempat. Bukan penunggu, karena derajatnya tidak sama dengan hantu. Tiap kali ngapa-ngapain, harus diberi tahu dan dikasih jatah. Seperti ketika ingin membangun rumah, pindah kediaman, membuka toko atau tempat usaha, dan sebagainya.

Dewa Bumi ini populer dengan banyak nama. Beberapa di antaranya adalah Hok Tek Ceng Sin (福德正神) dalam dialek Hokkian, Toapekong (大伯公), maupun Tudigong (土地公) yang secara harfiah merujuk pada sesosok kakek. Salah satu ciri khasnya adalah altar yang tidak menggunakan meja, melainkan menapak tanah. Sangat mudah dikenali.

Salah satu altar Dewa Bumi di sekitar kawasan Petak Sembilan, tepat di pinggir jalan samping sebuah gang.

Merantau ke Indonesia, figur Dewa Bumi pun akhirnya digeser. Tidak berganti, melainkan disejajarkan. Sesuai pepatah “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Dari yang awalnya digelari Dewa Bumi Panca Hala Panca Marga (五方五路土地公), akhirnya mulai bisa dipanggil “Datuk” di sini. Sajennya pun lebih me-Nusantara, dengan kopi hitam, dan rokok kretek. Di Cina sana mana pake yang beginian.

Nah, lagi-lagi karena kearifan lokal, segelas kopi hitam, rokok kretek, dan/atau segelas air kembang seperti dalam foto di atas selalu dipersiapkan setiap Kamis malam. Kenapa malam Jumat? Kemungkinan besar sejalan dengan kepercayaan khas di Indonesia. Bagi keluarga yang memiliki altar Dewa Bumi, sesajen tersebut akan ditempatkan dalam nampan dan diletakkan di depannya. Apabila tidak punya, nampan cukup diletakkan di tengah atau salah satu sudut ruang tamu.

Keesokan harinya, pada Jumat pagi, air kembang tadi kemudian disiramkan di depan rumah. Entah apa maksudnya, ataukah hanya kebiasaan yang telah turun temurun saja. Di sisi lain, masih di Samarinda, kadang ditemukan kembang serupa sengaja dihamburkan di persimpangan jalan, terutama daerah padat kendaraan dan rawan kecelakaan.

Seperti ini. Barangkali bisa disebut bentuk paganisme dengan kearifan lokal. Setidaknya yang terjadi, dan terus dilakukan dalam lingkungan keluarga saya maupun orang-orang Tionghoa di Samarinda.

Dari salah satu contoh ini, sinkretisme religius budaya Tionghoa terlihat begitu cair. Ketika ritual yang dibawa dari tanah nenek moyang berubah bentuk menjadi melokal. Kebiasaan menyiapkan air kembang bungkus pada malam-malam tertentu jelas merupakan peniruan, dan akhirnya ikut dilakukan warga Tionghoa dengan logika sederhana; “kayaknya bener juga ya…” atau nothing to lose to try.

Kalau tahu sesuatu tentang kebiasaan seperti ini dari budaya lainnya, boleh dibagi lho di kolom komentar.

Selain soal air kembang, bentuk-bentuk sinkretisme lainnya bisa dilihat di banyak lokasi. Di Gunung Kawi ada kelenteng, padahal lebih duluan dikenal sebagai tempat mengalap berkah dengan gaya Jawa. Tidak pakai hio, melainkan kemenyan.

Di Semarang ada Sam Poo Kong, dengan wadah hio khusus untuk Zhenghe yang aslinya adalah seorang Tionghoa muslim, serta untuk jangkar kapalnya.

Di sekitar Pasar Baru, dalam Kelenteng Sin Tek Bio juga ada salah satu altar dengan patung Eyang Djugo yang bukan merupakan sosok dewata tradisional. Eyang Djugo konon adalah Kyai Zakaria II yang merupakan cucu Pangeran Diponegoro. Di kelenteng itu, Kyai Zakaria II mendapatkan penghormatan ala Tionghoa, pakai hio.

Apakah sinkretisme ini hanya terjadi di Indonesia? Oh tentu tidak. Cukup dengan melihat apa yang terjadi pada Zhenghe, Kyai Jangkar, maupun Kyai Zakaria II, tak heran apabila Mandir atau kuil Hindu India di Singapura bahkan menyediakan wadah hio di depan pintu utamanya. Seperti yang sempat saya lihat pada 2008 lalu. Warga Tionghoa setempat pun melakukan penghormatan dengan gaya yang sama seperti di kelenteng. Yakni dengan cara “Cung-Cung-Cep” atau “Acung-Acung-Tancep”.

Dewanya dewa Hindu, ritualnya gaya Cina. Beda jazirah, tapi mungkin maksudnya sama.

Selamat hari libur.

[]

Madchester, Sebuah Tentang.

1999, pertama kalinya membeli album musik indie di sebuah lapak kaset emperan pinggir Taman Topi, kota Bogor. Saat itu, banyak berjejer lapak kaset bekas yang masih ramai dikunjungi. Selain di emperen, bergeser beberapa kilometer ke Plaza Bogor, ada sebuah toko kaset. Mereka punya banyak koleksi yang jarang ditemui di toko lain. Tak heran bila seorang teman selalu ke tempat itu saat hendak mencari album-album hits di tahun 80an yang sudah sulit ditemui.

Pure Saturday, Rumahsakit, The Charlatans, Flowered Up, hingga yang lebih tenarnya seperti The Stone Roses jadi koleksi untuk diputar dengan tape mini compo di kamar. Hanya, tidak semua dalam bentuk album asli, beberapa di antaranya didengarkan melalui kaset mixing yang saat itu jasa pembuatannnya cukup menjamur. Maklum saja, waktu itu saya masih sekolah dengan uang jajan yang hanya cukup untuk ongkos KRL, semangkuk mie ayam dan tiga batang rokok.

2. nol derajat

Nama-nama band sebelumnya –kecuali Pure Saturday dan Rumahsakit- adalah grup-grup yang tergabung dalam sebuah scene musik transisi dari era New Wave ke Britpop; Madchester, yang selanjutnya akan saya ulas secara singkat. Tahun 90an, tak banyak yang mendengarkan musik yang selain dari negeri Paman Sam. Ekspansi musik ‘Hollywood’ cukup masif selaras dengan penyebaran industri filmnya. Tentu Anda masih ingat film-film Tom Cruise yang diputar di program Layar Emas RCTI bukan? Pun pada program-program musik di stasiun tv nasional jarang sekali memutar video-video klip band tanah Inggris.

Madchester adalah scene musik dan kultur yang berasal dari area Manchester di Inggris. Tentu bagi kita daerah tersebut lebih dikenal dengan klub sepakbolanya seperti Manchester City, Manchester United, Wigan Athletic, hingga Bolton Wanderers, ketimbang musiknya. Sebelum era Madchester, sebelumya ada beberapa grup band tenar yang mewakili budaya popular area Manchester seperti The Smiths, New Order, dan The Falls yang praktis menjadi pengaruh signifikan pada perkembangan era Madchester meskipun berada di bawah bayang-bayang Duran Duran dan Spandau Ballet, yang sejak tahun 1980 menjadi ikon musik Inggris.

Scene ini sebetulnya belum betul-betul nongol sebelum tahun 1988, namun beberapa band yang mewakilinya justru sudah terbentuk dan tenar sebelumnya. Sebut saja The Stone Roses yang sudah eksis sejak 1984 di sebuah distrik Altrincham sebelah tenggara Manchester. Kemudian ada Happy Mondays pada tahun 1980 di daerah Salford, serta James, salah satu band yang susah dicari foto atau posternya, dibentuk setahun setelah Happy Mondays.

3. Factory Records

Adalah Factory Records, sebuah label rekaman indie yang membawahi band-band legendaris Manchester seperti Joy Division, New Order, Happy Mondays, dan Northside yang turut membawa scene Madchester muncul ke permukaan. Tak lain, Philip Shotton, seorang sutradara video di Factory Records-lah yang menemukan istilah Madchester pada tahun 1989. Label rekaman ini juga (bersama New Order) yang mengkonversi bekas pabrik tekstil di pusat kota Manchester menjadi klub malam bernama The Hacienda pada tahun 1981. Klub tersebut menjadi sarana bagi band-band di Manchester yang semakin memiliki tempat untuk berekspresi dan promosi. Sayang sekali kiprah Factory Records dengan The Haciendanya berakhir pada tahun 1992 dengan mendeklarasikan kebangkrutan. The Hacienda Apartment bisa jadi alternatif pilihan bagi kita yang ingin ‘napak tilas’ dengan era perkembangan musik Inggris selain Abbey Road.

Baggy

Pada saat yang bersamaan, Happy Mondays dan Inspiral Carpets mengeluarkan single mereka masing-masing. Sama selayaknya The Stone Roses, khusus bagi Inspiral Carpets, mereka mencampurkan nada-nada bassline disko, efek ‘wah-wah’, serta suara dari organ Fartisa pada beberapa jinglenya. Nada ini yang kemudian diberi nama ‘Baggy’ yang secara umum merupakan kombinasi dari musik funk, psychedelia, serta musik upbeat.

4. madchester style

Di sisi lain, cara berpakaian dari masing-masing personel band juga dinamai yang sama. Baggy jeans yang dulu sangat popular kemudian dikenakan kembali. Gaya berpakaian ini bisa jadi kombinasi dari pakaian hangat (jaket, parka), model hippies, retro, dan juga kultur kasual sepakbola. Banyak juga para suporter kasual tersebut yang mendengarkan lagu-lagu dari band Madchester. Bahkan beberapa member dari band-band Madchester sering mengenakan kostum klub sepakbola.

Kebangkitan skena Madchester kian menjanjikan. Pada 1989, beberapa single dari masing-masing band merajai tangga lagu indie di Inggris. Hampir seluruh media kemudian menyoroti area Manchester yang sedang hingar bingar kala itu. Namun, langkah keberhasilan tersebut tidak begitu sukses di luar Inggris, khususnya Amerika Serikat. Praktis hanya The Charlatans saja yang bisa menembus chart Billboard Modern Rock Tracks nomor 1 dengan single ‘Weirdo’ pada tanggal 23 Mei 1992.

Bangkrutnya Factory Records juga turut mendasari kemunduran era Madchester. Hanya dua ikon yang bertahan yakni Happy Mondays dan The Stone Roses. Band-band terusan lain seperti James, The Charlatans, serta Inspiral Carpets tetap melanjutkan rekaman namun dengan membawa pesona yang lebih luas, bukan sebagai perwakilan scene Madchester. Ditambah, media-media musik di Inggris pun lebih mengalihkan fokus kepada musik shoegaze dari daerah selatan, kemudian munculnya era Britpop, serta serbuan skena Grunge dari Amerika Serikat.

5. The Hacienda

Era Madchester sudah pasti menimbulkan dampak, baik positif maupun negatif. Sejak munculnya skena musik ini, banyak yang kemudian menempatkan Universitas Manchester sebagai pilihan utama untuk melanjutkan pendidikan. Kota Manchester kemudian menjadi daya tarik yang menyebabkan meningkatnya industri hiburan dan kreatif. Namun, di sisi lain, semangat budaya clubbing juga berdampak pada kejahatan yang mulai terorganisir seperti peredaran obat terlarang, premanisme, serta budaya kekerasan (berontak).

Meskipun Madchester bukan hanya The Stone Roses, namun lagu-lagu mereka mendominasi playlist Saya dalam menikmati musik.

Sudahkah Anda mendengarkan ‘Elephant Stone’ hari ini?

 

[]

Penulis:

Dicky Ahmad,

Kasih Ibu

 

 

“Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa.”

Dua puluh satu bulan sudah anak saya hadir di dunia ini, selama dua puluh satu bulan juga saya berhasil menghindar dari menyanyikan, apalagi mengajarkan, lagu ini kepadanya. Bukannya tidak sayang, saya sayang kepada anak saya tentunya, tapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan.

Tengoklah cerita Malin Kundang. Kalau kasih ibunya tak terhingga sepanjang masa, tak mungkin lah dia dikutuk jadi batu. Meh. Jujur saya lebih memilih mengajarkan lagu Cicak – “Datang seekor nyamuk, hap! Lalu ditangkap.” Realistis.

“Hanya memberi tak harap kembali.”

Saya tidak yakin bisa menghilangkan semua harapan-harapan yang saya titipkan pada anak saya. Memang saya tidak akan memaksanya untuk memenuhi semua idealisme yang belum tercapai pada masa puncak saya, namun setidaknya harapan saya, kalau saya gagal membangun hidup saya sendiri, dia bisa cukup sukses untuk menitipkan saya di rumah jompo yang besar, nyaman, dan susternya ga galak.

“Bagai sang surya menyinari dunia.”

Dibandingkan dengan matahari itu saya merasa sangat kecil. Bagaimana tidak? Dia membakar dirinya sendiri demi untuk menyinari dunia (meskipun saya ga yakin sih dia mengambil sendiri keputusan itu). Sementara saya? Apalah. Saya takut dengan kematian – dengan ketidakpastian atas apa yang terjadi di dunia antah berantah itu.


Saya tidak pernah mengira menjadi seorang ibu itu ternyata sesulit ini. Menjalani hari-hari menjadi seorang ibu itu bisa terasa sangat sendiri dan sepi, meski si anak tidak berhenti mengoceh dan merengek dari pagi sampai malam. Bagaimana tidak merasa sendiri? Coba bayangkan, ke mana seorang ibu harus berkeluh-kesah?

Kepada anaknya yang berkata-kata pun belum lancar itu? Kepada para suami yang sudah terdoktrin bahwa seorang ibu sepatutnya sangat mencintai dan mengidolakan anaknya? Kepada para selebgram yang foto-fotonya bersama anak-anaknya selalu penuh senyum dan tawa?

Ah, ke mana seorang ibu harus berkeluh kesah tanpa dihakimi, “ibu tuh harusnya ga gitu, ibu tuh harusnya ikhlas, karena kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa.”

Lagu yang sangat mengintimidasi.

Sementara ayah …

“Kring kring kring suara sepeda. Sepedaku roda dua. Kudapat dari ayah.”

Ya, ayah hanya perlu membelikan sepeda saja. Sepeda roda dua. Kalau roda tiga bisalah cari warisan dari sepupu, toh anaknya masih terlalu kecil untuk mengerti.

“Karena rajin bekerja.”

Dan ternyata sepedanya pun dikasih oleh ayah karena anaknya sudah lebih dulu bekerja. Haha.

Mungkin jika suatu saat nanti anak saya menuntut saya untuk memberi dan tak harap kembali, saya akan mulai bernyanyi,

“Tuk tuk tuk suara sepatu. Sepatuku kulit lembu. Kudapat dari ibu karena rajin membantu.”

[]

Penulis:

Virta. Seorang insinyur yang sempat putar haluan menjadi jurnalis dan kini tengah belajar untuk menjadi developer seraya membesarkan seorang anak.

Ginevra, Sebuah Cinta Pertamanya

Konon katanya, salah satu buku Scott Fitzgerald yang termasyur, “The Great Gatsby”, terinspirasi oleh Ginevra King. Dan kalau memang benar adanya demikian, berarti Scott tidak hanya sedang berkoar-koar omong kosong saja dalam karyanya tersebut soal kehidupan. Namun ia telah mengalami hal yang ia wanti-wanti: tidak ada yang menjamin bahwa takdir tidak akan mengkhianati usaha.

Soal Ginevra sendiri, itu adalah cinta pertama Scott. Mereka berdua pacaran saat Scott masih berusia 19 tahun. Saat Scott masih menjadi mahasiswa yang miskin sementara Ginevra adalah gadis kaya raya. Saat Scott masih berada di St. Pauli dan belum putus asa lalu pergi ke Amerika. Kendati demikian, semua tampak sempurna bagi mereka berdua. Selayaknya gadis yang baru jatuh cinta, Ginevra memuja Scott. Ia menulis, mungkin ratusan, surat cinta yang dialamatkan untuk Scott dengan berbagai wujud gombalan yang hanya mereka berdua yang tahu.

Mereka berdua terus bersama. Menjalin asmara. Mungkin sesekali mencuri ciuman di bawah pohon saat semua orang abai. Mungkin, dalam bayangan saya, mereka berdua naik sepeda lalu lari ke danau untuk membayangkan masa depan mereka. Yang jelas, selayaknya cinta pertama, semua tampak sempurna.

Hingga pada akhirnya ayah Ginevra sendiri mengabarkan bahwa Ginevra akan pindah ke Amerika pada 1917. Kurang lebih usia hubungan mereka berdua sudah mencapai dua tahun.

Ayahnya berkata, “orang miskin tidak harusnya berpikir untuk menikahi gadis kaya raya.” Kalimat ini kemudian disisipkan Scott dalam The Great Gatsby. Ginevra menikah dengan seorang kaya raya dari Chicago. Ia tak pernah mendengar kabar pernikahan Ginevra langsung dari mulutnya. Ia mendengarnya dalam desas-desus orang lain.

Dalam perjalanan hidupnya, nasib membawa Scott menjadi salah satu penulis kondang yang dimiliki oleh manusia. Ia menemukan cinta baru dalam Zelda, dan menuliskan banyak cerita mengenai hubungan mereka berdua. Akan tetapi, bohong jika Scott abai dengan kisahnya dengan Ginevra. Scott melahirkan The Great Gatsby sebagai pelarian dirinya atas sesuatu yang tidak pernah terjadi.

Ia berandai-andai sebagai Jay Gatsby, dan Ginevra King sebagai Daisy Buchanan. Apa yang terjadi jika ia bertemu dan bagaimana jika Ginevra mengetahui dirinya telah menjadi mapan. Scott membayangkan dirinya akan membawa lari Ginevra ke dunianya. Dalam bayangannya, sempat ia pikirkan bahwa pada akhirnya ia berhasil mengalahkan ayahnya Ginevra dalam permainannya sendiri. Ia akan membawa lari Ginevra dari suaminya. Ia bayangkan dirinya dan Ginevra hidup bahagia – sesuatu yang harusnya telah terjadi setelah sekian lama. Ia hanya butuh satu hal: usaha.

Pada akhirnya, Scott membunuh imajinasinya sendiri. Ia jelas mencintai Ginevra. Namun, sebagaimana petuah dari wujud alter ego Scott yang ia tuangkan dalam karakter Nick Carraway, “masa lalu tidak pernah bisa diulang.” Mungkin banyak orang yang berkata bahwa takdir takkan mengkhianati usaha. Akan tetapi, Scott bukanlah seorang remaja miskin sebagaimana ia mencintai Ginevra dahulu. Ginevra mungkin tidak memiliki ayah yang akan menghalanginya.

Akan tetapi, dunia yang mereka tempati tentu saja telah jauh berbeda. Scott tidak memiliki pandangan remaja polos, dan begitupula Ginevra. Scott jelas mencintai Ginevra, namun Scott juga telah memiliki Zelda. Ia juga belum siap dengan kemungkinan persaingan dengan suami Ginevra dan menerima disebut sebagai perebut istri orang. Hal-hal ini membuat Scott pada akhirnya sadar bahwa tak semua yang kita ingini harus terjadi. Rupanya, takdir bisa suka-sukanya sendiri berlari ke manapun tanpa harus melakukan negosiasi.

Sudah menjadi keniscyaan bahwa “tak semua yang kita ingini harus terjadi”.

 


Penulis: @UtamaArif