Kenapa Burung Setiap Pagi Senang Berdiri?

Judulnya membual. Linimasa ndak mungkin membahas sesuatu yang sama-sama telah diketahui umum. Kalau membahas urusan dewasa atau sebut saja porno, malah sudah biasa.

Saya hanya mau bercerita bagaimana sebaiknya mencintai tanpa perlu objek. Sedang mau belajar itu. Apakah mungkin? Nah loh! Bisa ndak?

Mencintai menjadi sebuah kegiatan rutin yang tanpa syarat. Apa iya lapar itu memerlukan objek? Lapar adalah kondisi dimana kita harus makan. Mencintai pun demikian kondisi dimana kita harus menyukai dan menyayangi. Hebatnya ini lebih lentur dari sekadar lapar. Tidak hanya makanan, mencintai terhadap segala. Mencintai hidup sekaligus kematian. Mencintai duniawi sekaligus akherat. Bisa?

Jangan meributkan arti mencintai, sama dengan tak perlu meributkan apa arti lapar. Cintai dan lapar itu dijalani saja karena toh semua orang tahu bagaimana rasanya. Lapar ada yang cukup diganjal satu piring nasi dan kerupuk. Juga ada yang lapar dihilangkan dengan satu steak wagyu kelas prima. Tapi apakah lapar itu kualitasnya ditentukan dari cara menghilangkan lapar itu sendiri? Atau objek yang dijadikan peghilang lapar, misalnya dari harga penghilang lapar?

Seharusnya sih ndak. Lapar orang miskin dan lapar orang kaya itu pada dasarnya ya sama.

Sama juga dengan mencintai. Kualitasnya bukan “kepada siapa mencintai”. Lapar ya lapar. Cinta- ya cinta.  Misal: “cinta itu hanya pada Tuhan”. Sama saja dengan kalau lapar itu ya sebaiknya makan steak. “Cinta itu karena kekurangannya, jangan karena kelebihannya”. Sama halnya dengan lapar itu karena puasa, bukan karena sengaja diet.

Manusia itu suka mempersulit diri sendiri. Tanpa makan, lama-lama lapar juga. Karena pada prinsipnya manusia butuh makan untuk bertahan hidup. Bagaimana dengan mencintai? Seharusnya kita pun ndak bisa hidup tanpa cinta. Satu terkait fisik dan satunya lagi soal batin. Mana yang lebih penting? Jangan dijawab! Karena kita sedang tidak mau terjebak pada mana hal lebih hebat dari hal lainnya.

Mencintai apa mesti harus pada lawan jenis? Ini adalah pembahasan yang sebetulnya juga ndak perlu. Mengapa? Karena soal mencintai tidak penting objeknya. Ini pasal pertama tulisan ini. Jadi kita tak lagi persoalkan kepada siapa cinta perlu dipersembahkan.

Ndak bisa mas, lapar saja kudu diberi makanan halal. 

Kalau kita kasih makanan  haram, memang laparnya tetap ada? Sama halnya dengan mencintai, apakah harus yang seiman? Harus halal? Jika tidak, maka cintanya akan ndak kesampaian?

Lapar kalau makanan haram dosa. Lapar kalau kekenyangan ntar malah sakit. Lapar kalau tidak bergizi asupan makanannya bisa mencret. Apalagi terlalu pedas. 

Jika bicara mana yang baik, maka lapar memang harus disikapi secara bijak. Sama halnya mencintai. Apakah harus disikapi dengan baik.? Ya!

Jika lapar obatnya makan, apakah cinta itu obatnya seks Mas?

Menurut aku kok bukan ya.  Cinta tidak hilang karena seks. Atau cinta harus berbalas kegiatan fisik cumbu rayu, kelonan dan sebangsanya.  Makan itu umum. bisa makan nasi, bisa makan tempe. cinta pun seperti itu. Penawarnya adalah bermacam-macam. Menu seks memang favorit. Tapi banyak jalan lain menambal rasa cinta. Yang penting mencintai. Berkata sayang, menelpon, menunjukkan perhatian, adalah berbagai menu lainnya. Termasuk berserah diri, berdoa, sholat lima waktu atau mengaji. Itu adalah menu penawar rasa cinta.

Jika cinta menjadi sebuah kebutuhan, selayaknya lapar, maka mencintai akan dipedomani sebagai suatu hal yang lumrah. Tidak perlu diagung-agungkan sedemikian rupa. Tidak perlu ditulis sedemikian banyak dalam bentuk lagu, puisi, atau esai. Karena itu adalah obat penawarnya saja. Tiap orang beda selera. Ada yang cukup dengan sejumput nasi orang kenyang. Atau harus makan besar.

Jika diam saja kelamaan kita lapar. Apakah diam saja kelamaan juga kita mencintai? Iyes. Kok saya berpikir bahwa memang mencintai adalah keniscayaan sebagai manusia. Ketika lapar kita ndak mampu beli steak. Ketika mencintai tidak mampu kepada yang cantik. Apakah lalu kita tak jadi makan?

“Tapi kan makan itu boleh ganti selera setiap hari, karena lama-lama bosan.

Ya sama. Maka wajar saja jika mencintai pun mudah bosan. Jika ini dipahami benar, maka tak ada sakit hati berlebihan. Tak ada janji kalau lapar harus makan tempe dan setia pada tempe sehidup semati.

Boleh dong sesekali makan tahu?

Itulah gawatnya. Kenapa cinta harus dilekatkan dengan kesetiaan. Mengapa kita sibuk pada objek cinta? Ndak penting makanannya. Yang penting mari kita rayakan rasa lapar dengan menghilangkannya dengan makan-makanan yang bergizi. Ndak penting siapa dan apa? Tapi bagaimana cara kita mencintai dan memperlakukan rasa cinta ini sebaik-baiknya. Soal setia itu soal selera. Juga soal ketahanan terhadap satu pilihan.

Sungguh ngawur tulisan ini!

Tak apa, daripada saya memanjang-manjangkan tulisan sesuai judul. Toh punya saya sudah panjang. Ya. Rasa cinta yang begitu panjang hingga akhir zaman.

Oh ya, ini sekadar buat diskusi saja. Menurut kamu apakah kita bisa sekadar mencintai dan atau membiasakan hidup penuh cinta tanpa perlu mementingkan objek yang kita cintai?

Salam burung!

Roy

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Dan Kuserahkan Judulnya padaMu

oleh: @delikhujan

Dia memang maha tahu dan tahu betul bagian mana yang teramat sangat kausukai. Dia paham betul jauh melampaui pemahaman siapapun dan Dia sendiri yang memberi kadar porsi tersebut kepadamu. Oleh karena itu, dijadikanlah segala kesenangan-kesenangan itu sebagai peluru yang ampuh meluluhlantakkan hati, jiwa, dan hidupmu.

Pada suatu hari yang lain, dikarenakan kedangkalan otakmu, kau sebut itu adalah ujian, padahal bagi kaum yang berdosa itu adalah hukuman.

Namun karena betapa sangat manusianya dirimu, lemah, kecil, haus akan keinginan, maka kau diberi sedikit uang jajan, beberapa helai kain sutra, hiasan tangan, dan seperangkat alat elektronik berteknologi yang sekiranya bisa membuatmu tertawa lepas, senyum sumringah, atau sedikit punya nama.

Tuhan yang maha pemurah pada hari sebagaimana biasanya, selalu mengirim kepadamu satu atau dua utusan disebabkan kebaikan-kebaikan kecilmu di masa lalu. Saat kau berkendara, berjalan kaki, atau menuju kesuatu tempat, marabahaya hampir-hampir saja mendekapmu sebagaimana polisi lalu lintas mendekap mangsa di celah-celah rimbunan semak belukar bawah kolong jembatan simpang semanggi. Para utusan itu selalu sigap menuntunmu agar selamat dari hal-hal yang berpotensi merubah arah jalur takdirmu, maka oleh sebab itu, terkadang kau sering bergumam gembira setelah lolos dari beberapa kejadian yang membuatmu “nyaris” celaka. Atau dari hal-hal lain disebabkan oleh kebodohanmu. Untuk setiap konsekuensi yang memang tidak perlu, dengan baik hati kau dibiarkan lolos begitu saja secara cuma-cuma. Atau oleh sebuah pengecualian, kau bisa saja lolos masuk gelora bung karno untuk nonton persija jekardah versus persipura jayapura tanpa perlu beli tiket jika kau cukup punya “nyali” dan “akal” untuk melakukan itu. Tapi perlu kau garis bawahi bahwasanya bahkan nyali dan akal saja tidak cukup, kau masih perlu dukungan dari Dia yang bernama keberuntungan. Camkan kataku ini baik-baik.

Lalu kemudian jika ternyata hidupmu malah justru carut marut tak beraturan penuh sesak akan kesedihan, maka itu memang di luar naluri prasangka baikmu akan Dia. Baik secara lansung atau tidak lansung, Dia punya hak prerogatif memperlakukanmu dengan sesukaNya tanpa perlu kajian lebih lanjut perihal baik atau tidaknya hal tersebut bagi dirimu. Terserah kau menafsirkannya seperti apa.

Dia bukanlah pengadilan negeri yang apabila putusannya membuatmu tidak puas lalu kau bisa ajukan banding ke pengadilan tinggi atau bila masih belum puas juga lalu kau naik lagi ke tingkat kasasi.

Dia adalah undian kuis berhadian dengan tanda bintang dibawahnya bertulis keputusan juri tidak dapat di ganggu gugat.

Dia dan PutusanNya adalah final dan mengikat, sama sekali tidak ada upaya apapun bagimu yang bisa kau tempuh untuk itu. Entah itu kasasi apalagi peninjuan kembali. Akan tetapi seperti kataku tadi, Dia bukanlah lembaga peradilan manapun, dia tak seperti lembaga-lembaga yudikatif tempat dimana putusan tertinggi diputuskan.

Putusannya berlaku seketika dan saat itu juga. Akan tetapi ini tidaklah seperti makna sebagaimana yang kau pahami pada umumnya. Ia justru tidak berlaku untuk yang sifatnya jauh kedepan. Bahkan bisa saja satu atau dua menit kemudian putusan itu bisa saja dicabut atau berubah, atau justru putusan yang awal mulanya buruk bagimu namun ternyata putusan tersebut justru menjadi berkah bagimu dikemudian hari.

Maka oleh sebab itu, ketika suatu hal buruk terjadi padamu, maka yang perlu kau lalukan hanyalah terus bergerak maju. Memastikan ada upaya perjuanganmu pada takdirnya. Berputus asa adalah wajar dan boleh pake banget. Tapi jangan pernah mengubah esensi kepercayaanmu pada Dia. Teruslah berharap, karena setiap kejadian berjalan di atas harapan. Karena setiap putusan tidak selalu harus ada sisi baiknya, belum tentu yang hitam itu selamanya buruk dan yang putih itu selamanya suci. Seperti bola matamu, bukankah hitam yang membuatnya terlihat indah?

Thanks regards.

In memoriam the fluctuation of our life.


About me: @delikhujan, seorang penyuka hujan, freelance software developer, seorang yang berbeda jauh antara isi pikiran dan sikap.

A Letter to My Past Self

oleh: Nezumi (kontributor linimasa)

Hi N,

Aku tahu surat ini tak kan pernah sampai padamu. Tetapi sesaat lalu terpikirkan olehku kalau dunia ini paralel. Tidak ada masa lalu dan masa depan, semua terjadi di saat yang bersamaan. Kekeke, it is definitely impossible, isn’t it? Can you imagine the chaos if it really happens. And oh, thank God it does not happen. Atau pengertianku tentang dunia paralel yang salah. Ah sudahlah.

Aku membayangkan menulis surat ini pada kamu, aku di lima tahun yang lalu. Geez, I was so young at that time. 22, isn’t it? What a young age. I wish I could always be 22. Kekeke.

Entah apa yang membuat aku menulis ini. Suatu waktu aku hanya terpikir untuk menulis pada diriku di masa depan. Tapi, kok, tidak adil kalau hanya menulis surat untuk diriku di masa depan. Hmm .…

N, I am almost twenty seven now. Quite old isn’t it? Kamu pun tak pernah terpikirkan bahwa akan hidup sampai dua puluh tujuh tahun ya? Atau emang pikiran bahwa sampai ke usia hampir dua puluh tujuh tahun itu praktis tidak pernah terlintas di benakmu, karena, ya, kamu yakin kamu benar-benar akan ke sana? Tapi percayalah sejatinya tidak ada yang benar-benar menjamin kita bisa mencapai rentang usia tertentu. Ayo berdoa buat umur panjang kita yang barokah. Aamiin.

Apa ya? I am trying to project you, aku di lima tahun yang lalu. Berarti itu tahun 2009, ya? Akan ada hal besar yang kamu hadapi di tahun 2009. (sok cenayang banget bahasanya). Kalau menurut hasil refleksiku sekarang sih, itu salah satu dari my life changing experiences, your life changing experiences. Aku perlu kasih tahu ga? (Haish, padahal surat ini ga akan benar-benar dibaca penerimanya juga). Somehow I don’t want to tell it. Hahaha.

Di tahun 2009 juga kamu harus mulai mikir skripsi. Puk puk, kamu kuat. 😀

Oh iya, skripsi itu salah satu dari life changing experiences juga lho. Ah spoiler. 😛

Kalau ada hal yang aku sesali di lima tahun yang lalu, adalah aku menyesal saat kuliah aku tidak banyak membaca buku, apalagi buku sastra. Sampai-sampai kalau sekarang, aku akan bilang, aku ini alumni fakultas sastra atau anak sastra yang murtad. Soalnya ada banyak sekali buku sastra yang belum aku baca.

Dan ya, banyak hal yang tidak aku lakukan dengan serius. Ada hal-hal yang aku pikir, kalau di usiamu atau di lima tahun yang lalu aku lakukan dengan lebih serius, cerita hidupku akan berubah. Meski sebenarnya aku tidak begitu yakin apa aku benar-benar ingin hidupku tidak seperti ini saat ini.

Mungkin saat aku jadi kamu, I wasted much of my time (suatu hal yang tampaknya masih aku lakukan sampai sekarang). Ah alasannya, we were so young that time ya, dan pemahaman kita tentang pentingnya waktu sangat dangkal. Atau we were just simply so young that time.

Tapi, selagi menulis ini, aku kok merasa beruntung ya, you live life the way you live it. Kamu menjalani hidup kita saat itu seperti itu. Tentu ada hal-hal yang patut disesali dan diingat untuk tidak dilakukan lagi (tapi apa, ya? XD), tapi secara umum hidup ini sangat menyenangkan, kan, ya?

Apa lagi yang ingin aku katakan, ya? To sum up everything (lho, tahu-tahu kok diringkas) life is nice. Hidup tidak selalu mudah tapi semua berjalan dengan cukup baik.

Aku ingin bilang juga, aku baik-baik saja. Meski kamu bahkan tidak kepikiran aku ada, ya, aku mau bilang begitu. Ada beberapa hal yang mengganjal saat ini (mulai curhat) tapi saat aku memikirkannya, aku merasa akan baik-baik saja. Oh ya, aku jadi lebih melankolis saat ini. Cukup berbeda dari kamu, aku di lima tahun yang lalu. Ini mungkin bagian dari pendewasaan diriku ya? Aku juga lebih penakut ding, biasa penyakit orang tua. Kamu pasti akan mengalaminya nanti.

So, live your life as you know it. Meski efeknya, kamu akan membuat banyak kesalahan. Jangan berubah atau mengubah caramu hidup, lho, karena itu jelas akan merubah hidupku saat ini.

Ah, I have blabbered enough.

Salam peluk dariku, aku di masa kini.

 

30 Maret 2017

 

Nezumi, “yang sedang banyak melamun di kantor”.

 

Apa Jadinya Kalau Terlalu Banyak Berbagi?

Buat kita yang sudah meluangkan waktu dan uang untuk pergi ke bioskop, tantangan terbesar dalam menikmati jerih payah waktu dan uang kita adalah menghalau sinar terang dari ponsel. Sesuatu yang sebenarnya sudah kita alami sejak ponsel sudah menjadi konsumsi umum masyarakat dari akhir 90-an, namun semakin menjadi-jadi dalam beberapa bulan sampai setahun terakhir ini.

Pasalnya? Apa lagi kalau bukan munculnya aplikasi instant story. Mulai dari Periscope, Snapchat, lalu yang paling populer sekarang Instagram Stories, dan tak ketinggalan WhatsApp, Facebook, sampai cover story di Path. Semua mengajak penggunanya untuk berbagi the exact moment yang mereka alami, saat itu juga, sampai 24 jam kemudian. Toh memang nothing lasts forever.

Forget preserving the moment, let’s treasure the moment instead. Begitu kira-kira filosofinya. Termasuk dalam berbagi momen, sedang nonton film apa di bioskop.

Forget the darkness, let’s just share what we are watching right now! Toh ada sinar dari layar lebarnya. Begitu kira-kira pemikiran yang ada untuk mereka yang suka merekam dan upload potongan film ke akun media sosialnya.

Ponsel atau gawai sudah jadi bagian nyawa dari kita. Susah disuruh untuk lepas barang sesaat. Berpisah dengan ponsel untuk urusan mengurus visa di kedutaan negara asing barang satu jam saja, rasanya sudah seperti setahun. Jadi ide untuk menitipkan ponsel saat masuk ke bioskop sepertinya juga tidak mungkin. Ini juga bukan seperti menitipkan alas kaki waktu mau masuk masjid atau kuil.

Of course the problem is never about the device or the apps. It’s always about the user. It’s how we control what we have.

Bagi saya dan banyak orang, termasuk Anda, pergi ke bioskop saat ini sudah merupakan extra luxurious effort.
Ganti baju yang lebih rapian sedikit. Menghidupkan kendaraan bermotor, atau panggil ojek atau taksi. Bisa juga jalan kaki, karena kebetulan tempat saya tinggal dekat dengan salah satu bioskop. Cuma tidak semua film ditayangkan di sana, sehingga untuk film-film tertentu harus ke bioskop lain. Lalu cari parkir. Sebelumnya, kena macet.
Lalu untuk yang suka ngemil, beli popcorn. Karena tidak sempat pergi di weekdays, maka pergi menontonnya di akhir pekan, yang harga tiketnya lebih tinggi sedikit. Semua kita lakukan supaya bisa pergi keluar, menikmati hawa di luar rumah, dan bersosialisasi, karena kebanyakan dari kita pergi ke bioskop bersama teman, keluarga atau pasangan. It takes a great effort.

Maka wajar kalau semua usaha itu kita nikmati dengan santai dan tenang. Bukan cuma Anda yang layak menikmati, tapi puluhan sampai ratusan orang yang sedang duduk bersama Anda dalam satu waktu tersebut. Semua ingin menikmati, tanpa gangguan dering ponsel, tanpa gangguan sinar ponsel yang glaring, apalagi kalau sampai kamera dinyalakan.

Percayalah, tidak ada apa-apa yang bisa dihasilkan dari berbagi rekaman video potongan film di bioskop ke akun media sosial Anda.
Mau pamer atau bikin iri ke followers? That only fuels your notoriety.
Mau kesandung urusan pelanggaran hak cipta kalau sampai pemilik film tersebut melaporkan Anda? You don’t want to deal with any kind of law violation, ever.
Perlu update? Bisa selfie sebelum film dimulai atau sesudah film berakhir.

Trust me, the magic of cinema begins when we turn off our phone for a while.

Selamat Hari Film Nasional.
Semoga apa yang kita tonton saat mematikan ponsel di bioskop bisa memperkaya hidup.

Lambaian Perpisahan untuk Mojok.co

JADI semacam lambaian perpisahan. Ini kata mimin Linimasa Selasa kemarin, ketika Mojok.co resmi berhenti berbagi. Iya… berbagi, karena sejatinya kegiatan menulis dan membaca memang begitu. Memunculkan adiksi, bukan agitasi.

Kita semua sepakat, menulis itu tidak gampang. Namun tulisan yang bagus dan menyenangkan bisa habis dilahap dalam waktu sekejap. Beberapa di antaranya bahkan berlanjut dengan diskusi dan perbincangan yang tak kalah hangat. Itu sebabnya, tutupnya Mojok.co (dan beberapa blog reramean lainnya) sangat disayangkan. Banyak pembaca yang merasa kehilangan oasis, penyegar alternatif di tengah padang pasir kejenuhan informasi basi. Termasuk juga saya, dan si mimin Linimasa. Setidaknya seperti yang ditunjukkan dalam tweet di atas.

Apabila Linimasa punya Mas Roy yang tulisannya syahdu, Gandrasta yang cerdas dan lucu, Ko Glenn yang tulisan-tulisannya menyenangkan, Mbak Leila dengan perspektif yang unik, Mas Nauval yang romantis, Kang Agun yang cergas mengupas tren tapi entah menghilang ke mana belakangan ini, dan Bang Hasan yang puitis dengan jadwal menulis bergantian dalam sepekan, Mojok.co justru punya sepasukan pemasok tulisan. Topik dan pembahasannya segar. Akan tetapi biar bagaimanapun juga, ya suka-suka si empunya lapak mau ngapain. Termasuk menutupnya.

Kita mah bisa apa? Kalau kata orang Cina: “沒辦法了…”

Sepeninggal Mojok.co, jika boleh dibilang begitu, semangat berbagi di jagat maya justru mulai tinggi-tingginya. Buat kamu yang suka menulis dan gatal ingin menumpahkan opini, sangat dipersilakan untuk mengirimkannya ke Linimasa. Hanya saja, harap maklum ya, belum ada imbalan untuk segala bentuk pemuatan. Jangan tanya mengapa, karena bisa jadi memang belum ada jawabannya.

Sejauh ini, sudah ada beberapa nama yang relatif rajin mengirim tulisan. Lumayan. Saya yakin, mereka pasti juga pembaca setia Mojok.co, yang dulu mungkin juga pernah menyumbang tulisan ke sana.

Sedikit cerita juga, tantangannya mungkin sama. Linimasa tampaknya masih jauh panggang daripada api untuk monetisasi. Entah kenapa, pokoknya ya begitu deh. Bisa jadi memang tidak diarahkan ke sana, atau perkara karakteristik.

Tak peduli apa pun itu, di kita yang penting semuanya happy, ya penulisnya, ya pembacanya. Halaman depan tetap terperbarui setiap hari. Walaupun wajar saja kalau kami berdelapan sudah harus gotong royong patungan bayar hosting-an. Untung bosnya baek. Hahaha!

Untuk itu, mewakili teman-teman penulis lainnya, doain semoga (para penulis) Linimasa selalu berkelimpahan ide buat tulisan, berkelimpahan waktu dan tenaga untuk menulis sesuai jadwalnya, dan juga berkelimpahan harta biar enggak terlalu sering dipusingkan dengan urusan begituan setiap harinya.

Titip doakan juga untuk blog-blog reramean lainnya ya. Jagongan salah satunya, yang masih ada tulisan baru per tanggal 20 Maret lalu. Kami tidak peduli apa pun agamanya, tolong doakan agar sumber-sumber bacaan alternatif seperti ini tetap langgeng adanya.

Btw, lucu juga kalau kapan-kapan personel Linimasa dan Mojok.co bisa ngebir bareng. Ndaktau ntar bakal ngobrolin apa.

 

[]

Indeks Kebahagiaan Karyawan

Apa yang sering kalian bincangkan selagi di satu ranjang bersama pasangan? Seks? Penatnya kerjaan? Hewan peliharaan yang sedang diopname? Tagihan listrik? Atau sesuatu yang berkaitan dengan kebahagiaan?

Pernahkah kalian iseng googling kata ‘sukses’ dan kata ‘bahagia’? Dengan pencarian menggunakan ejaan dalam bahasa Indonesia tersebut, kita bisa mendapati hasil di mana kata sukses lebih banyak ketimbang bahagia. Ada sedikitnya 117 juta informasi untuk kata sukses lalu 67,5 juta untuk bahagia. Lain dengan ejaan dalam bahasa Inggris, kata success ditemukan pada 1,28 miliar informasi. Sedangkan kata happy dijumpai pada 3,76 miliar informasi yang tersebar. Kalian lihat perbedaannya? Ya! Dalam ejaan bahasa Indonesia, kata sukses lebih populer ketimbang bahagia. Sedangkan dalam bahasa Inggris kebalikannya, hmmm cukup menarik.

Orang yang menggunakan bahasa Indonesia sehari-hari seperti kita ternyata lebih banyak membicarakan sukses atau kesuksesan daripada bahagia atau kebahagiaan. Mungkin saja ini pengaruh dari beragam latar seperti budaya, watak, tuntutan, kompetisi, dan lain sebagainya. Tapi, memang harus diakui, menceritakan pencapaian dalam karir di sebuah reuni lebih menyenangkan, tapi tidak dengan mendengarkannya. Itu pun terjadi saat sebuah keluarga besar berkumpul. Akan menjadi malapetaka buat kita yang karirnya mentok tanpa ada secercah masa depan yang gemilang, pukpuk.

Bicara mengenai pekerjaan, orang akan melihat sebuah pekerjaan dari berbagai sudut pandang. Tapi di atas semua aspek itu tentu faktor finansial menjadi yang utama. Filosofi ini bisa dijawab melalui pertanyaan sederhana; “Bisakah kita hidup tanpa uang?” Atau yang lebih spesifik; “Di mana kita bisa hidup tanpa menggunakan uang?” Mars? Yang benar saja! Saya tak menggiring kepada pemahaman bahwa uang adalah segalanya, karena dalam bekerja, tentu ada aspek-aspek lain yang menyenagkan seperti teman kerja, lokasi kantor, visi perusahaan yang super kece, dan lain sebagainya. Sebagai informasi, di bawah ini adalah indeks kebahagian karyawan di beberapa negara yang telah diriset oleh PBB:

Indeks karyawan bahagia

Dari gambar di atas, kita bisa melihat negara Iran yang rata-rata pendapatan karyawannya dalam setahun tidak lebih banyak dari Afrika Selatan, memiliki peringkat di atas negara tersebut. Atau Denmark yang ada di peringkat pertama justru memiliki rata-rata penghasilan yang lebih sedikit dari Amerika Serikat (peringkat 6). Saya masih mencerna hasil riset tersebut, karena bagaimana Malaysia yang rata-rata gaji pegawainya Rp 4 juta/bulan bisa masuk di daftar indeks kebahagiaan karyawan tersebut. Mengapa Singapura tak masuk?

Pencarian dengan mesin penjelajah Google saya lanjutkan dengan kata kunci ‘karyawan bahagia’. Hasilnya ada 729 ribu informasi yang mayoritas berisi kiat-kiat bagaimana membuat serta menjadi karyawan yang bahagia dalam bekerja. Tentunya ada korelasi antara produktivitas dalam bekerja dengan indeks kebahagiaan dari karyawan itu sendiri. Lalu mengapa Indonesia tidak masuk pada daftar di atas? Padahal ada 729 ribu informasi akan karyawan bahagia. Asumsi saya adalah mirip dengan fenomena FOMO dalam media sosial. FOMO –the fear of missing out—atau rasa takut akan kehilangan sesuatu selalu menjadi momok bagi para karyawan di Indonesia. Gelombang PHK karyawan setiap tahunnya selalu terjadi menyusul dari tuntutan kenaikan upah minimum di tiap daerah. Tuntutan ini muncul akibat dari inflasi. Cuma, di saat yang bersamaan tentunya daya beli masyarakat juga ikut meningkat di sektor lain. Sehingga secara makro, ekonomi Indonesia masih akan stabil. Lalu sekali lagi, lantas mengapa Indonesia tidak masuk ke dalam daftar indeks kebahagiaan karyawan di atas? Are we happy?

Indutri mebel

Mari sejenak kita lupakan posisi sebagai karyawan. Bagaimana dengan kalian yang bekerja sendiri? Atau kalian yang saat ini berada di level top management? Atau bahkan kalian yang kebetulan sebagai pemilik bisnis? Ukuran sukses mungkin sudah tak perlu dibahas, akan tetapi bagaimana dengan bahagia?

Sebagai yang sedang berada di posisi ‘aneh’, saya sering berbincang dengan istri terkait segala aktivitas yang ada di tempat kerja, tentunya tidak semua keluh kesah diceritakan, karena saya takut membuat dia makin lelah setelah seharian sibuk mengurus anak-anak tanpa asisten. Mengapa tanpa asisten? Ya sederhana saja, karena penghasilan kami tak cukup menutupi biayanya yang tiap tahun ikutan naik. Namun itu bukan hal penting, karena ada keresahaan yang selalu mengganggu di akhir bulan; “apakah kas perusahaan cukup untuk membayar gaji karyawan bulan ini?” Ah setidaknya saya bahagia karena masih satu ranjang dengan istri.

“Tidak ada kebahagiaan bagi seseorang yang saudaranya masih dalam kesengsaraan” –Imam Ali as—


Penulis:

@Ayodiki

 

Velcro

Waktu itu, butuh sekitar 3 jam menjelaskan bagaimana membuat Gmail untuk mengaktifkan seluruh fitur ponsel Mamaku. Pengalaman menggemaskan yang disebabkan rentang jaman. Demi menghindari depresi dan mengurangi gesekan antar generasi, tiap kali Mama tanya soal sesuatu yang ia ndak paham, aku harus analogikan pakai hal-hal yang gampang dibayangkan. Seperti, yang berikut ini:

Velcro. Sumber: Google

“Om kalo papan nama Velcro itu apa?”
“Papan nama di dada yang terbuat dari kain. Satu sisi kayak jembut. Sisi lainnya kasar, kayak sikat kamar mandi. Jadi kalo disatuin nempel. Kalo dicabut bunyi prepeeetttt…”
“sakit dong?”

!!!

Mengapa Belle Sebaiknya Menikahi Gaston?

Gaston, walaupun bergaya bagai pria tengik yang sangat mencintai dirinya sendiri, tapi Gaston siap untuk menikah. Tak hanya itu, Gaston sudah bercita-cita memiliki anak dan menjadi ayah bagi anak-anaknya bersama Belle.

Beast, yang sepanjang cerita tak memiliki nama, bisa dibilang terpaksa jatuh cinta untuk mengakhiri kutukan terhadap dirinya. Apakah Beast siap menikah? Ah sepertinya tidak. Beast hanya ingin membalas budi Belle yang telah menyelamatkannya. Lagian, pria seperti apa yang memilih jodoh berdasarkan apa kata cermin ramalan bukan kata hati.

Gaston memiliki banyak teman dan pandai bernyanyi. Gaston tau menikmati hidup dengan cara yang sederhana. Semua teman-temannya tampak bersuka cita bersama saat Gaston bernyanyi dan menari. Semua dilakukannya di tengah beratnya kehidupan.

Beast, hidup bersama teman-teman yang terpaksa hidup bersamanya. Tak hanya itu, teman-teman Beast hidup dalam ketakutan karena sifat Beast yang tak terkontrol dan pemarah. Beast membayar pertemanannya. Tak pernah sekalipun Beast berterima kasih pada teman-temannya yang telah menemani saat kutukan berakhir. Malah asik berdansa dengan Belle.

Gaston memanggil semua teman-temannya dengan nama. Sementara Beast? Membuat teman-temannya memanggilnya “Master”.

Gaston, adalah seorang pemburu ulung. Yang pada saat itu merupakan keterampilan mutlak untuk mencari makan. Berarti Gaston bisa dipastikan siap memberi nafkah lahir bagi keluarganya.

Beast, jangankan berburu. Beast tak memiliki pekerjaan. Hidupnya dipenuhi dengan buku dan buku. Beast bahkan tak paham perbedaan mengambil dan mencuri. Dia, tega memenjarakan ayah Belle yang sudah tua hanya karena memetik sekuntum mawar untuk dibawa pulang. Padahal, ayah Belle tidak sedang mencuri karena tidak ada tanda-tanda kepemilikan mawar.

Beast memang sempat melindungi Belle dari serangan serigala jadi-jadian. Namun kemudian Beast meringkuk di ranjang karena terluka. Bertambah lagi lah tugas Belle. Selain mengurus luka batin, kini Belle harus mengurus luka fisik Sang Pangeran.

Gaston dari perawakannya saja bisa mengundang birahi dan memang kemampuannya bercinta melegenda ke seantero kota. Dengan keindahan fisiklnya. Gaston bisa menjadi Celebgram. Bukan tak mungkin mendapatkan penghasilan tambahan dari situ.

Sementara Beast, dengan jabatannya sebagai Pangeran, sepertinya lebih suka untuk dilayani di ranjang. Belum lagi sifatnya yang moody, Belle harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Selain kekayaan, tak ada kelebihan lain yang bisa ditampilkan di Instagram. Followersnya hanya mengikuti karena dia orang kaya dan mungkin teraspirasi untuk bisa sekaya Beast.

Di atas semua perbandingan di atas, Gaston berniat memberikan seikat bunga kepada Belle. Sementara Beast, bunga rontok perlahan bersamanya.

Atau bisa juga Belle menikah dengan Beast, nikmati sebentar hidup bergelimang harta sambil terus menjalin pertemanan dan cinta (baca: selingkuh) dengan Gaston. Toh tak lama kemudian Revolusi Perancis terjadi dan besar kemungkinan Pangeran Beast akan dibunuh. Kemudian Belle bisa hidup bersama Gaston berbahagia untuk selama-lamanya.

 

 

Bagimu Surgamu, Bagiku Surgaku

Surga itu ada pada saat usai sarapan dan menyesap rokok sebatang. Juga saat mengecek rekening tabungan dan tertera angka yang sudah dinantikan. Atau ketika notifikasi hape berdenting dan terbaca sebuah kalimat yang menyenangkan.

Surga tidak kemana-mana. Dia ada pada sabtu pagi dan secangkir kopi. Dia juga ada pada senyum merekah bos sesaat setelah menandatangani persetujuan cuti. Atau lipatan koran yang mencantumkan nama kita sebagai penerima beasiswa.

Surga tidak melulu sebuah kemenangan. Dia hadir saat sedih mendera dan peluk hangat seorang sahabat. Atau saat berdesakan di gerbong kereta menuju kampung halaman. Bahkan saat mendapati WC umum terselip di sebuah SPBU terpencil di tengah hutan saat perjalanan panjang.

Surga sekiranya sebuah kesempurnaan, maka dia juga ada pada hal-hal yang tak diduga. Sebuah kamar sempit, lembab, dan berantakan milik teman, tempat bernaung saat kabur dari rumah. Atau sebungkus nasi teri dan es dawet usai demonstrasi. Juga sepetak halte bis saat bumi didera hujan lebat tiba-tiba.

Surga itu katanya abadi, tapi terkadang dia terasa walau sekejap saja. Saat senyum pada seseorang dibalas dengan kedip mata tak terduga. Saat secuil sisa makanan nyelap di gigi dan berhasil kita ambil. Menjadi semakin surgawi ketika tiada orang lain yang tahu kita juga sempat membauinya.

Bagaimana dengan segelas jus jeruk murni di tengah terik matahari? Juga pada dinginnya lantai halaman masjid bagi para salesman yang rehat sejenak dari keliling duniawi. Surga muncul pada sapaan sahabat lama pada sebuah resepsi yang dihadiri orang-orang tak kita kenal sama sekali.

Surga muncul saat damai dan saat gundah. Dia menyelinap masuk dalam diri dengan perlahan namun pasti. Dia menjelma mimpi di senja hari. Kisah mimpi yang membuat kita terbangun tiba-tiba, menangis, semakin menangis. Menjadi-jadi. Menangis yang bahagia tanpa “karena”. Ngis Fayangis. Yang menangis, menangislah. Bukan sedih. Riang gembira. Bantal basah. Hari sudah gelap. Saat makan malam pun masih terngiang-ngiang atas mimpi yang sungguh ingin diulang setiap hari.

Surga juga berkaitan erat dengan dunia digital. Dia muncul saat hape mulai sekarat dan tiba-tiba melihat colokan duduk manis tepat di bawah meja restoran. Atau muncul lewat sinyal 3G ketika menikmati pemandangan alam dan ingin segera membaginya lewat media sosial.

Surgaku tak perlu menunggu mati. Dia hadir setiap hari.

Bagaimana dengan Surgamu. Sudahkah hadir hari ini?

#RekomendasiStreaming – Desain Yang Membuat Hidup Lebih Hidup

(Pengantar:
Rencananya, sebulan sekali mulai bulan ini, akan ada tulisan dari saya tentang rekomendasi film atau serial yang layak ditonton lewat aplikasi video streaming punya Anda. Tulisan ini saya jadwalkan setiap dua Kamis sebelum Kamis terakhir. Jadi bisa Kamis minggu kedua atau minggu ketiga. Memang banyak sekali tulisan saya dan teman-teman lain di blog linimasa ini yang berbicara tentang rekomendasi film atau serial yang sudah kami tonton. Nah, untuk me’lembagakan’ jenis tulisan ini, maka saya jadwalkan, paling tidak buat rekomendasi saya pribadi, agar hadir secara rutin di waktu yang mudah-mudahan tidak meleset. Selamat membaca, lalu selamat menonton.)

• Jika hanya punya waktu untuk menonton satu film panjang di akhir pekan ini, maka tontonlah …

Saawariya

Film India produksi tahun 2007 ini terasa timeless. Baik ceritanya, apalagi gambar-gambar cantiknya. Bayangkan keindahan film Moulin Rouge! dengan tempo sepuluh kali lebih pelan. Bukan lambat, tapi pelan.

Diangkat dari cerita pendek “White Nights” karya sastrawan Rusia ternama Fyodor Dostoevsky, film ini mengadaptasi cerita tersebut ke suatu tempat di India yang tak bernama dan tak bermasa. Jadilah cerita fantasi romansa yang bermain dengan warna-warna yang menenangkan, tarian dan nyanyian yang tak menghentak, namun pelan-pelan bermain dengan emosi kita.

Sutradara film ini, Sanjay Leela Bhansali, memang terkenal dengan fllm-film visual extravaganza yang selalu dia buat. Namun di film Saawariya, dia membiarkan cerita mengalir bak aliran sungai yang tenang, seperti yang memang ada di film ini. Dua jam lebih tidak terasa. Anggap saja kita sedang terbuai mimpi di sini.

• Jika punya cukup waktu untuk menonton satu serial di akhir pekan ini, maka tontonlah …

Abstract

Simply put: saya jatuh cinta dengan serial dokumenter ini. Padahal saya tidak familiar dengan tema ceritanya, yaitu profil tentang desainer, mulai dari desainer grafis, desainer interior, sampai desainer mobil, dengan karya-karyanya.

Kenapa kok bisa sampai jatuh cinta? Karena di setiap episodenya yang cuma 42 menit, kita disuguhkan secara lengkap mulai dari profil sang desainer, cerita emosional di balik karya-karya masterpiece yang mereka hasilkan, sampai efek dari karya mereka terhadap kehidupan kita. Semuanya cuma dalam 42 menit per episode.

Tentu saja setiap episode menjadi sangat cepat ritme ceritanya, sehingga tak sempat mengkritisi sang seniman dan karyanya, dan membuat kita, orang yang awam terhadap desain, menjadi melek terhadap korelasi desain dan kehidupan manusia.

Cuma ada 8 episode. Dimulai dari Christoph Niemann, desainer grafis pembuat sampul majalah The New Yorker yang menggelitik, dan diakhiri dengan Ilse Crawford, desainer interior yang pernah menjadi editor majalah interior berpengaruh besar, Elle Decoration.
Di antara mereka ada desainer sepatu, desainer panggung konser, fotografer, arsitek, dan desainer mobil. Semuanya punya cerita unik, semuanya membuka mata dan pikiran kita.

Tak tanggung-tanggung, inilah serial favorit pertama saya tahun ini.

Selamat berakhir pekan bersama cerita-cerita ini ya!

2 Tionghoa-Buddhis Dipecut di Aceh… Terus Kenapa?

ADA Tabayyun, ada pula Ehipassiko. Kedua istilah ini punya cakupan makna yang penting dalam terminologi Islam maupun Buddhisme. Sama-sama mendorong manusia untuk kritis dan lebih kritis saat menerima serta merespons sesuatu.

Tabayyun boleh diartikan dengan melakukan verifikasi, berusaha mendapatkan keterangan dan penjelasan yang sebenar-benarnya untuk menghindari kekeliruan. Sementara Ehipassiko berasal dari sebuah ungkapan Buddha yang berarti “datang dan buktikan!” Konteksnya seperti sebuah undangan untuk mempelajari, mengetahui, dan mengalami sendiri segala sesuatu. Meskipun pada akhirnya, keputusan terakhir tetap dikembalikan kepada yang bersangkutan.

Dibaca pertama kali di situs berita Singapura, The Straits Times sepekan yang lalu, reportase tentang dua warga Aceh non-Muslim, kebetulan beretnis Tionghoa dan Buddhis, yang dihukum pecut akibat dakwaan perjudian sabung ayam langsung disambut dengan berbagai respons di media sosial. Dari sekadar sharing maupun retweet, dan komentar, sampai artikel-artikel di portal berita masa kini.

Berikut adalah dua tanggapan yang muncul di dinding Facebook saya, dari kawan Muslim yang cenderung moderat, dan seorang kawan Buddhis.

Teman membagi cuplikan posting-an Tirto.id

Dilihat dari dua jenis respons di atas, kawan Muslim saya fokus pada judul yang provokatif dan terkesan meminta agar semua pihak–Muslim, Buddhis, dan orang Indonesia secara umum–untuk berhati-hati dengan “kepiawaian” media massa menggoreng sebuah isu sensitif. Hanya saja dia tidak memberikan penjabaran lebih lanjut tentang opininya tersebut.

Sedangkan kawan Buddhis saya, yang kebetulan newly converted, memprotes hukuman syariat itu sebagai bentuk ketidaksesuaian dan arogansi; ketika ketentuan hukum agama tertentu juga dijatuhkan kepada seseorang yang bukan penganutnya. Entah apakah dia sudah membaca artikelnya secara utuh pada saat itu, atau belum.

Sikap Tabayyun dan Ehipassiko jelas sangat dibutuhkan dalam melihat kasus Amel (bin) Suhadi dan Alem (bin) Akim lebih jauh. Setidaknya, bisa dimulai dengan mencermati isi beritanya, kemudian memastikan agar tidak ada kekeliruan.

Faktanya:

  1. Mereka tertangkap basah melakukan kejahatan perjudian sabung ayam.
  2. Sanksi KUHP untuk perjudian adalah penjara maksimal 10 tahun dan denda sebesar Rp 25 juta.
  3. Dalam Pasal 18 Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat, sanksi untuk perjudian tingkat rendah adalah pecut maksimal 12 kali, atau denda maksimal senilai 120 gram emas murni, atau penjara maksimal 12 bulan.
  4. Mereka adalah warga Tionghoa sekaligus umat Buddha (asumsinya tercatat di KTP) pertama yang dihukum pecut di Aceh.
  5. Kepada wartawan AFP dalam artikel The Straits Times, Alem mengatakan “We live in Aceh, so we have to obey the regulation in our region.
  6. Dalam artikel The Jakarta Post, dimuat pernyataan Aziz, Jaksa Besar Aceh. “By accepting being punished for gambling under sharia, they voluntarily wanted to be whipped.
  7. Pasal 5 dalam Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat menyatakan, hukuman syariat juga berlaku bagi non-Muslim dengan kondisi tertentu.

Poin nomor 1, 3, 4, 5, 6, dan 7 di atas semestinya bisa menjawab komentar maupun protes kawan-kawan di Facebook, baik yang Muslim maupun Buddhis. Sebab pada dasarnya, warga Tionghoa yang Buddhis di Aceh itu memang melakukan pelanggaran hukum, dan tunduk pada disanksi syariat karena diperbolehkan memilih.

Selain itu, wajar bila timbul pertanyaan mengapa orang yang bukan Muslim lebih memilih dihukum secara syariat Islam. Poin nomor 2, 3, dan 6 barangkali bisa menjawab spekulasi tersebut; mendapat pecutan dirasa lebih ringan dari sisi waktu dan biaya ketimbang hukuman KUHP. Transaksional, bisa dipertukarkan. Btw, jangan lupa perjudian tidak berada di ranah abu-abu dalam kedua kaidah hukum. Tergolong kriminalitas, kan.

Bagaimanapun juga, produk hukum adalah konsensus. Sesuai kesepakatan, dengan didera pecutan, Amel dan Alem dianggap telah mendapatkan ganjaran atas perbuatan mereka. Cukup sampai di situ. Kalau terkesan kurang adil, berarti yang salah bukan cuma mereka berdua, tapi termasuk juga penyusun dan pelaksana Qanun Jinayat di Aceh. Toh, tak ada yang bisa menjamin Amel dan Alem benar-benar jera dari menyabung ayam.

Sebagai seorang Buddhis–label agama sama seperti mereka, kebetulan, mungkin mazhabnya beda–rasanya biasa-biasa saja mengenai hal ini. Kembali lagi, mereka bersalah telah melanggar hukum positif dan/atau hukum yang berlaku secara teritorial. Mereka telah menjalani sanksi sesuai hukum yang berlaku, status terdakwa pun luruh. Kelar.

Namun dari sudut pandang Buddhisme, efek negatif perbuatan mereka tetap melekat dan akan terus berdampak sesuai proses alamiahnya (gila judi bikin miskin-bikin tak punya uang-bikin banyak utang-bikin dikejar-kejar penagih-bikin hidup tak tenang, dan seterusnya).

  • Dengan kesenangan terhadap judi untuk mendapatkan kemenangan dan uang, mereka memelihara keserakahan tanpa disadari. Keserakahan yang akan terus mengendalikan hidup mereka, layaknya parasit, sampai mati. Quick fix-nya justru bukan sekadar ceramah agama, tapi juga pendekatan psikologis berupa Modifikasi Kognitif.
  • Dengan kesenangan menyabung ayam, mereka secara sadar menyiksa makhluk hidup. Mengkondisikan keadaan yang dapat membuat ayam-ayam itu terbunuh. Akan berbeda ceritanya, ketika ayam aduan menolak untuk bertarung, atau malah kabur. Khusus hal ini, mekanisme hukum kamma yang berjalan secara tetap (konsisten) dan selaras (konsekuen). Tidak ada ritual atau upacara Buddhisme apa pun yang bisa menghapus akibatnya secara tiba-tiba.

Semesta yang jadi algojonya. Tanpa ada yang cawe-cawe.

Alamiah. Sealamiah gravitasi atau radiasi matahari.

Terhadap kejadian ini, mungkin komentar Sang Buddha: “ya, salah mereka… mereka tanggung sendiri…

[]

Bintang Tamu Bukan Dewa

Yang punya masa pacaran di tahun 90 atau 2000 an awal tentu ingat akan lagu-lagu karya band Dewa (19). Liriknya memang beragam, ada yang tentang PDKT hingga tentang perselingkuhan, seakan menjadi lagu latar dari tiap perasaan pendengarnya kala itu.

Tapi begitulah Dewa, juga dengan pelaku dunia hiburan lainnya, harus mengakomodir setiap perasaan manusia yang selalu berubah. Ya! Manusia mahluk yang senantiasa berubah. Coba Anda pikir, mahluk mana yang menemukan kata ‘janji’? Tentu saja jawabannya manusia. Lalu mahluk mana pula yang menemukan kata ‘ingkar’? Tanpa ragu kita jawab juga manusia. Mengapa begitu? Ya mengapa tidak, karena itulah manusia, kita punya nafsu di dalam diri.

Bicara nafsu, otak kita sudah dicekokin oleh stereotip negatif akan kata tersebut. Padahal, secara definitif, nafsu adalah keinginan (dorongan hati) manusia yang kuat kepada sesuatu (bisa positif bisa negatif). Bahkan, dalam sebuah ajaran agama terdapat klasifikasi nafsu menjadi tujuh tingkatan, di mana tingkat dasar hingga yang paling tinggi punya tantangannya tersendiri. Yang pasti, tingkat yang paling atas adalah nafsu untuk segala kebaikan, dan hanya orang berkesadaran tertentu yang sanggup nyampe ke tingkat itu. Semua pengertian di atas bukan menurut opini pribadi lho ya. Sengaja diambil sebagai penyeimbang biar ndak terkesan menjadi tulisan ceramah di buletin sembahyang Jumat yang isinya kebanyakan agitasi politis.

Saya sendiri masih suka mengalami kejadian galau (gak konsisten) yang super cepat. Misalnya, habis berdoa memohon untuk dikuatkan iman, eh tak lama berselang sudah explore foto-foto pramusaji sebuah kedai kopi yang body nya aduhai. Entah saya yang bebal atau memang doa tadi belum sempat dikabulkan karena iman saya masih saja ringkih. Kembali ke dunia hiburan, beberapa waktu lalu ada tokoh motivator yang tersangkut kasus yang jauh sekali dari petuah-petuah yang sering ia ajarkan. Atau, ada tokoh agama yang sangat kharismatik dengan jutaan jamaah tapi kemudian terkena aib. Ada juga pasangan selebriti yang selalu berduet menyanyikan lagu-lagu cinta tapi lalu cinta mereka kandas juga di tengah jalan. Katanya cinta sehidup semati? Atau mungkin dengan pembenaran bahwa cinta tak harus memiliki?

Ada juga seorang teman yang pada waktu tertentu akan sangat konservatif namun di lain waktu dia sangat liberal. Contohnya, suatu hari kami berbincang tentang isu politik terkini, pemikiran dia sangat kolot karena anti ini anti itu, benci ini benci itu tanpa dasar yang jelas dan bertanggungjawab. Namun kami berbincang sambil sengaja melewatkan waktu sembahyang, kurang liberal gimana coba? Ada juga teman kuliah dulu yang rak bukunya penuh dengan buku-buku aliran kiri (sosialis) macam Karl Marx, tapi kini dia bekerja di perbankan konvensional. Apa gak kurang kapitalis tuh? Buat Anda yang saat ini kerja di perbankan, sorry to say tapi secara konsep, perbankan memang lahir dari ide kapitalisme. Atau, ada juga seorang teman bule perempuan yang suatu hari curhat karena diteror oleh seorang driver ojek daring. Eh tak tahunya, ada foto-foto dia lagi indehoy dengan salah seorang driver ojek daring. Lha iki piye? Nyatanya kegalauan itu bukan lagi super cepat, akan tetapi maha cepat. Secepat aparat tentara mengganti patung macan lucu dengan macan yang lebih gagah. Tentunya dengan dalih apapun, baik itu tuntutan, cinta, kebutuhan, perut atas, perut bawah, gengsi, ibadah dan lain sebagainya.

Beberapa tahun lalu, saya ikut sebuah seminar bisnis. Bintang tamu atau pembicara utamanya adalah seorang pengusaha muda yang telah sukses membangun ‘kerajaan’ bisnisnya hingga menjamur ke berbagai daerah. Bukan perkara mudah, dia juga telah melewati kejatuhan bisnis yang luar biasa hingga sempat terpuruk. Tapi faktor keluarga yang menjadi kunci untuk bangkit kembali. Namun kini, pemberitaan akan sosok pengusaha muda tersebut agak kurang enak. Dia dilaporkan selingkuh oleh istrinya sendiri, bahkan kabarnya tidak hanya pada satu wanita. “Duh, kenapa ‘mainnya’ gak ‘cantik’ sih?” Komentar saya pertama kali membaca beritanya. Kemudian sesaat tersadar dengan beberapa cerita tokoh hebat lainnya yang antiklimaks, seraya memercayai bahwa bintang tamu bukanlah seorang Dewa yang maha sempurna. Karena sekali lagi, kita perlu menyadari kalau kita adalah seorang manusia.

 

Penulis: @ayodiki

 

 

 

Ami

​”Untung dulu belum ada Facebook.”
“Kenapa?”
“Gue juga bakal masuk jangan-jangan.”
“Amit-amit ah, Mi.”


Ami (bukan nama sebenarnya), masih umur 6 tahun waktu Om Dodi yang sering berkunjung ke rumah rajin masuk kamarnya. Melakukan satu hal yang mereka sebut “disayang-sayang.

“Kalo Om Dodi masuk kamar, terus minta ‘disayang-sayang’ itu artinya gue kudu buka baju. Celana dalem. Semuanya… Enggak, gue nggak diperkosa, tapi…”
“Mi…”
“Om Dodi pegang dari rambut, kaki. Terus… Dia mulai jilat-jilat pantat, memek gue. Lama banget. Gue diem aja sih…”
“Kamu diancem waktu itu?”
“Enggak juga. Dia kan Om gue, ya nurut aja.”

Cerita ini meluncur waktu kami sudah di bangku kuliah. 15 tahun sejak Om Dodi minta “disayang-sayang.” 1 tahun setelah Om Dodi meninggal karena Diabetes. Butuh lebih dari satu dekade buat Ami kecil sadar, apa yang dilakukan paman kandungnya itu jauh dari kasih sayang yang dibenarkan. Ami kecil cuma jadi anak patuh yang menuruti kata orang tua.

“Kamu ndak cerita sama siapa-siapa Mi?”
“Enggak.”
“Mama, Papa?”
“Enggak lah. Gila aja. Lagian gua nggak tau itu mesti diceritain gitu.”

Om Dodi berhenti minta “disayang-sayang” waktu Ami menginjak 9 tahun. Pindah ke Jakarta dari Semarang. Entah karena Om Dodi ndak tertarik lagi, atau jarak yang menyulitkan. Tapi 3 tahun pelecehan yang dialami Ami, sekarang terkubur bersama tingginya gula darah Om Dodi di pekuburan Karet.

“Gue nggak tau trauma apa enggak. Butuh rehab gitu-gitu. Yang jelas, kadang-kadang kalo lagi inget ya nyesek juga.”
“Kok kadang-kadang?”
“Udah lama itu. Kadang inget. Kadang lupa kan.”

Ndak ada luka fisik yang Ami kecil alami. Ia bersikeras bukan korban perkosaan. Entah apa namanya, salah kasih sayang? Tapi kami tahu. Kadang-kadang yang ia maksud bertahan seumur hidup. Ami selalu ingat, ia pernah “disayang-sayang” Om Dodi. Di mana kejadiannya. Bagian tubuh mana saja yang Om Dodi jilati. Bagaimana Om Dodi merayu Ami kecil sampai mau menuruti keinginan ganjilnya. Om Dodi akan jadi bagian dari Ami, selamanya.

Terlambat? Oh sama sekali ndak. Ami segera menghubungiku setelah melihat kasus Lolly Candy di LINE Today.

“Soal Om Dodi udahlah. Udah mati juga orangnya. Sekarang gue minta lo ceritain soal gue ini ke Sekar. Cuma ini caranya.”

Kita ndak mungkin membayangi anak kita 24 jam sehari. Sementara 90% pelaku pelecehan seksual pada anak-anak adalah keluarga dekat. Orang yang bisa dipercaya. Punya pertalian darah. Paman, ayah, tetangga, guru ngaji, guru sekolah, satpam, siapapun yang gila rasanya kalau kita curigai. Mereka sembunyi begitu rapinya di balik kedok kasih sayang dan patuh pada orang tua.

Ami percaya, ceritanya bisa menyelamatkan anak lain. Mereka harus tau apa yang mereka mesti lindungi. Siapa yang berhak atas tubuh mereka. Dan apa saja yang mesti diceritakan pada orang tua mereka, segera.

Untuk menghadapi monster yang ndak jelas wujudnya. Kita mesti mempersenjatai anak kita dengan pengetahuan dan kemampuan.

“Nah, kalo ada yang mau begitu sama kakak kayak Om-nya tante Ami. Kakak tau kan harus gimana?”
“Iya. Aku bunuh.”
“Kalo ndak mati?”
“Aku kasitau Om, biar Om Gendut yang bunuh.”