Bagai Air di Daun Talas

​Dua jam menyusuri jalanan komplek rumah kami. Hujan rintik-rintik jadi deras. Sekar mulai khawatir. Langit gelap. Petir berderu di kejauhan. Pulang sajalah. Lupakan daun talas. Biar Google saja yang menjelaskan di rumah nanti. Apa daya, pekerjaan rumah Sekar dipecahkan Google lagi, karena keadaan yang ndak memungkinkan.

Tugas Bahasa Indonesia, soal peribahasa. Apa arti “Bagai Air di Daun Talas?” Peribahasa pada dasarnya sebuah asosiasi lisan terhadap alam dan keseharian manusia. Kegiatan bayang-membayangkan jadi sangat penting. Pengalaman tiap orang yang berbeda-beda jadi penghalang. Letak geografis, juga jaman.

Air di daun talas. Sumber: Google.

Untuk kita yang masa kecilnya sudah lewat dua dekade lalu, kemungkinan besar pernah melihat daun talas. Untuk kita yang pernah hidup di sekitar sawah dengan galengan seling lamtoro, keladi dan gulma, gampang terbayang. Untuk kita yang pernah berkunjung ke lahan gambut, perkebunan dan hutan tani; beruntung.

Aku baru sadar, untuk anak-anak dengan pengalaman hidup macam Sekar dan kawan-kawan sekolahnya, “Bagai Air di Daun Talas” sulit dinalar. Mereka ndak punya cukup memori untuk mengasosiasikan gerakan bulir air di atas daun talas yang punya daya kohesi tinggi, karena filia halus penampang daunnya. Pun, banyak sekali peribahasa yang semata-mata cuplikan bahasa Melayu. Atau sudah ndak relevan lagi.

Kedaluwarsa, seperti “Setali Tiga Uang” atau “Bak Kerbau Dicocok Hidung.” Jaman uang dengan istilah setalen, sen dan kepeng sudah punah sejak VOC angkat kaki dari Nusantara. Ya masa, masih laku peribahasanya? Kan ada “Sebelas-Duabelas” dengan masksud yang sama. Kerbau dicocok hidung ini juga lawas. Bajak ndak lagi butuh kerbau yang dikendalikan lewat tarikan tambang di hidung. Pakai mesin! Dengan maksud yang sama, peribahasa ini bisa saja diganti dengan “Mengunci Pintu Karena Hoax.”

“Bagai Air di Daun Talas” sama kondisinya dengan “Bagai Itik Pulang Petang”, “Bumi Tidak Selebar Daun Kelor”, dan “Tak Ada Gading yang Tak Retak.” Harusnya boleh diganti jadi “Seperti Mendapat Sinyal E”, “Dunia Tidak Sebatas Timeline”, dan “Tak Ada Berita Tanpa Typo.”

Lalu “Hangat-hangat Tahi Ayam.” Ini jijik sih. Baikkan dihapus aja seperti “Ditindih yang Berat. Dililit yang Panjang.” Ndak ngerti mesti mulai dari mana menjelaskannya. Tapi kok rasanya aku mau.

“Membuang Garam ke Laut” dengan ndak mengurangi maknanya bisa diungkapkan dengan satu kata: “Kultwit”. “Menegakkan Benang Basah” semakna dengan “Menemukan Jodoh di Tinder.”

Kembali ke “Bagai Air di Daun Talas.” Apa yang cukup relevan dengan peribahasa ini? “Bagai Karir Politik Anies Baswedan?”

Advertisements

Percuma punya Gubernur Keren

2014-03-15-20-51-12

Kalau…

Warganya gak bisa menghargai kerja kerasnya.

Kursi taman dirusak, tembok dicorat-coret. sekrup lampu jalanan dicopotin, tanaman diinjak-injak… dan yang terpenting, trotoar gak dipake.

Trotoar untuk pejalan kaki

Warga selalu menuntut trotoar yang baik. Tapi coba perhatikan betapa seringnya trotoar sepi pejalan kaki. Warga lebih suka naik kendaraan pribadi walau jarak tempuh tak sampai 5 Km. Tau kan jarak Bapindo ke Pacific Place? Sepertinya tak sampai 2 Km. Boleh tidak percaya tapi banyak yang memilih naik taksi.

Atau trotoar digunakan untuk kepentingan yang lain seperti berdagang, lintasan motor, sepeda dan lainnya yang tidak sepatutnya. Bagai telor dan ayam, trotoar yang sepi pejalan kaki lama-lama akan berubah fungsi. Dan lebih jauhnya lagi, dipersempit untuk kemudian ditiadakan.

Taman dan Tanaman Kota

Seringkali kita menjadi saksi tanaman dirusak dengan seenaknya. Mulai dari dipetik, dicabut sampai diinjak-injak. Apa pun alasannya, tau kah betapa susah dan mahalnya untuk menanam dan memelihara tanaman. Apalagi kalo mengingat fungsinya sebagai produsen oksigen kota.

2016-03-12-18-49-39

Jembatan Penyeberangan

Ada banyak alasan mengapa masih banyak yang memilih untuk menyeberang jalan sembarangan. Mengakibatkan jembatan penyeberangan sesepi kuburan di malam Jumat. Padahal jembatan dibangun untuk melindungi warga saat menyeberang jalan.

Lagi-lagi kemalasan warga untuk berjalan kaki menjadi penyebab. Ada pula yang memberikan alasan panas. Hallow… tau kah warga di kota-kota maju dunia, selalu membawa payung di tasnya.

Membuang Sampah

Ah sepertinya tak perlu dibahas. Berbagai kalangan warga seperti masih enggan untuk membuang sampah pada tempatnya. Tau kah bahwa setiap sampah yang dibuang sembarangan, akan ada orang lain yang memungut dan membuangnya. Selain waktu dan biaya yang harus dikeluarkan, juga mencemari pemandangan kota. Secantik-cantiknya kota, apa cantiknya kalo kotor.

Parkir Sembarangan

Sudah jalanan sempit, masih banyak mobil yang diparkir di jalan. Bahkan banyak untuk parkir seharian semalaman. Mengurangi fungsi jalan untuk transportasi, penyebab banyak kemacetan yang mengekor sampai jalan raya. Alasannya bisa sesederhana; tak ada garasi. Hullow…

Menjadi bagian Kemacetan

Sering kita membaca di media sosial keluhan terhadap kemacetan. Padahal kalau diteliti lebih lanjut, keberadaannya di jalan saat macet bisa untuk alasan sesederhana “mau hangout sama temen”. Bayangkan, di saat yang bersamaan, banyak yang sedang di situasi genting di jalan raya terpaksa terkena kemacetan.

Sebelum turun ke jalan raya, ada baiknya renungkan dahulu apakah benar harus saat itu juga berada di jalan. Mungkin bisa ditunda sebentar? Mungkin bisa naik kendaraan umum? Mungkin bisa jalan kaki? Mungkin lain kali…

Ujung-Ujungnya Ngemall

Sering kita mendengar warga menuntut taman kota yang lebih banyak dan asri. Tapi seberapa sering juga yang ujung-ujungnya ngemall melulu. Yayaya, tamannya memang belum banyak dan belum asri. Sama seperti situasi trotoar. Tanpa tuntutan dan kebutuhan warga, sepertinya semakin sulit dijaga dan diadakan.

Sama kondisinya dengan museum kota, perpustakaan kota, taman bermain anak dan banyak lagi fasilitas yang membutuhkan warga untuk menuntut pengadaannya. Bukan hanya dalam bentuk ucapan tapi juga tindakan. Semakin banyak warga yang menggunakan fasilitas kota yang ada sekarang, semakin besar kemungkinan fasilitas itu diperbanyak.

Ilustrasinya begini, karena banyak warga yang bermain Pokemon Go di berbagai tempat, maka tempat-tempat itu mempercantik diri agar pemain Pokemon Go menjadi lebih nyaman. Karena banyak warga yang naik sepeda, akan semakin banyak disediakan jalur sepeda dan parkir sepeda. Semakin banyak warga yang berjalan kaki, semakin baik pula trotoar kita. Semakin banyak warga yang bermain di taman, semakin banyak dan asri pula taman kota.

Bukan sebaliknya.

2015-01-04-07-45-37

Pengawas Awas

Tak ada yang lebih miris saat ketertiban di jalan raya – dan mana pun – baru berjalan hanya saat ada yang mengawasi. Misalnya, rambu lalu lintas ditaati hanya saat ada Polisi. Karena artinya, warga hanya menjalankan aturan bukan didasarkan pemahaman. Selain miris, ini juga berbahaya. Jauh lebih berbahaya dari penyakit. Kalau penyakit, dirasakan sendiri. Tapi ini, dirasakan bersama.


Ada banyak contoh-contoh lain, yang membawa kita pada sebuah pertanyaan besar bahkan lebih besar daripada siapa Gubernur DKI berikutnya: sudahkah kita menjadi warga yang keren. Warga yang menghargai kehidupan dirinya dan juga orang lain. Warga yang menuntut dengan tindakan.

Kita jangan hanya terpukau melihat pada fisik kota-kota maju di dunia. Tapi perhatikan juga cara warganya menjadi warga kota. Sudahkah kita menjadi seperti mereka. Yang rela sedikit memberati tasnya dengan payung dan jas hujan. Yang rela antri demi ketertiban. Yang membuang sampah atas kesadaran bahwa kota adalah milik bersama. Yang sadar aturan diadakan demi kebaikan bersama.

Dan jangan pula cepat terpukau dari hanya foto dan film. Menurut info teman-teman yang sering jalan-jalan keluar negeri, Paris bau pesing. Masih banyak bagian trotoar di New York yang kondisinya tak terawat. Kalau iseng, silakan cari di youtube kompilasi toilet-toilet terburuk di seluruh dunia. Seketika kita akan merasa Jakarta gak buruk-buruk amat.

Kadang warga Jakarta berperilaku seperti warga yang tidak merasa memiliki kotanya sendiri. Cuma numpang cari duit. Cuma numpang hidup. Cuma numpang lewat. Rusakkan saja tak apa. Toh bukan milik sendiri. Tak dianggap sebagai tempat hidup. Coba saja liat tempat-tempat yang memang ditujukan untuk “numpang lewat”. Seperti toilet umum, halte bis, kursi taman, stasiun, bandara, betapa warga sering bukan hanya tak menjaga kebersihannya, tapi kelangsungannya.

Mungkin kita lupa pada pepatah “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”. Semestinya, di mana pun kita berada, sementara atau selamanya, hargailah setinggi-tingginya. Tempat bisa jadi adalah tempat belaka, tapi manusia yang berada di tempat itu yang menjadi penentunya.

SELAMAT MEMILIH GUBERNUR BARU. Siapa pun pilihannya, siapa pun yang menang, warga lah yang menjadi penentunya.

2016-11-04-11-57-02

*Lagu Hujan, dinyanyikan oleh Adhitia Sofyan

 

Robert Lustig dan John Yudkin, Saya Mengetik agar Anda Yakin

Kembali lagi membicarakan nutrisi, yang entah mengapa saya agak terobsesi sejak beberapa tahun yang lalu. Sungguh terkadang saya berandai-andai saya bisa dibayar untuk mempelajari dan melakukan sesuatu tentang subyek yang sangat disukai ini.

carbs

oh but it’s Saturday

Orang orang terdekat saya sudah paham, kalau memang sejak lebih dari tiga tahun yang lalu saya menganut pola makan Paleo, kemudian seiring dengan melambatnya metabolisme akibat usia, dan pada dasarnya memang saya doyan makan, kemudian saya menambah pola makan tersebut dengan rendah karbohidrat. Sejak akhir tahun 2015 saya tertarik dan mulai mempelajari soal Keto diet atau pola makan VLC (Very Low Carbohydrate). Ketika itu masih sulit sekali mencari referensi dari dalam negeri, dan semua yang didapatkan, dari mulai buku-buku, video kuliah umum, sampai forum adanya dari AS atau Inggris dan sekitarnya. Karena itu ketika akhir tahun lalu saya menemukan kalau ada grup lokal di Facebook dengan tajuk Ketofastosis, saya senang sekaligus penasaran.

Seperti saya sudah ceritakan di tulisan ini, kalau percobaan saya pertama kali melakukan VLC gagal total, dan saya curigai karena acuan saya semua dari luar, sesuai anjuran asupan produk susu seperti keju lumayan tinggi (siapa yang tidak suka keju?) sementara pencernaan saya ternyata sering tidak setujunya dari setuju terhadap konsumsi keju berlebihan. Walhasil efek ke badan tidak lezat, dan penurunan berat badan pun tidak signifikan.

the-4-stages-of-eating-cheese-eating-cheese-still-eating-2554308

Sebelum saya menemukan grup Facebook yang tadi disebutkan, saya juga sudah mulai lagi pola makan serupa tapi tak sama, yaitu tetap dengan sayuran dan protein juga lemak hewani. Saya juga meminimalkan dairy, benar benar hanya mengambil konsumsi protein dan lemak dari daging dagingan. So far so good, tetapi ada satu yang mengganjal, dan saya memilih tidak dibagikan di sini. Kemudian saya membaca dengan teliti grup Facebook ini.

Sungguh niat si oom founder patut dipuji, karena sejatinya dari sumber luar, sungguh njelimet menghitung makro dari pola makan ini. Oleh sang “suhu” (begitu dia dipanggil di grup ini) dijabarkan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti, guidelines juga sangat sederhana tanpa harus menghitung makro, dan tolok ukur yang mudah dilakukan dan dimengerti pula. Begitu saja bolak balik di grup masih banyak yang bertanya karena tidak mengerti atau karena malas membaca, begitu lah ya, manusia. Grup ini juga membolehkan para pesertanya bertanya ke beberapa “petugas” bahkan nomer suhu disebarkan untuk konsultasi pribadi, walaupun tidak fast response, kabarnya pasti dibalas. Setahu saya tidak menarik bayaran. Memang ada bagian penjualan, tetapi itupun tidak memaksa, juga ada item yang judulnya Immunator Honey yang saya agak curiga ini sebenarnya pengaplikasian placebo effect karena sebagian besar orang kita yang masih harus bersandar dengan sesuatu berbau obat. Tetapi intinya tidak ada yang memaksa peserta untuk membeli barang yang menurutnya tidak dibutuhkan atau diinginkan. Hasilnya? Beberapa membagikan initial reaction yang tidak mengenakan, tetapi tidak kurang juga kisah sukses yang berhasil mengendalikan glukosa darah bagi yang memiliki riwayat diabetes, bahkan beberapa peserta yang pernah serangan jantung beberapa kali hingga menderita gangrene pun mendapatkan kehidupan sehat mereka kembali.

“Riset” saya tidak sampai di sini, karena saya paham betul bahwa h8ers gonna hate. Ada satu orang dokter yang sering sekali menulis status menentang grup ini. Sering fokusnya kalau yang dipaparkan tidak pernah didukung penelitian yang valid, juga sang founder sebenarnya adalah tukang jual madu, dan dia tak punya background kedokteran.

quote-sugar-is-celebratory-sugar-is-something-that-we-used-to-enjoy-now-it-basically-has-coated-robert-lustig-139-63-48

Saya kurang paham apakah si dokter belum pernah mendengar soal Robert Lustig, yang seorang dokter. John Yudkin juga. Apakah dia tidak pernah membaca keberhasilan dan kesembuhan yang telah jadi bukti. Bahwa awalnya orang mencari alternatif dengan pola makan ini adalah karena kekhawatiran efek buruk dari gula yang kini sudah menjadi bagian yang seolah tak bisa dipisahkan dari gaya hidup sebagian besar manusia. Kalau banyak orang yang tidak mau (dan tidak sanggup) mengonsumsi obat seumur hidupnya karena penyakit non menular.

Kami

Jarang ada blog yang bicara soal posisi seks secara gamblang. Apalagi bicara organ genital perempuan dan pengaruhnya dalam pergaulan serta tentu saja; kehidupan seks. Seorang Dragono bicara seks juga walaupun mengaku belum pernah melakukannya sama sekali.

Linimasa adalah blog yang secara terang-terangan bilang bahwa banyak orang merasa ahli hanya karena twitter. Juga pembelaan terhadap kreativitas youtuber yang dianggap terlalu kontroversial.

img_97211

Ketika yang lain bingung memilih siapa pemimpin Jakarta, kami masih berkutat dengan kebingungan kami sendiri terhadap Jakarta. Apa sih maunya Jakarta? Kami, para penulis Linimasa sepakat bahwa kami sama-sama memiliki kegemaran menonton film. Maka kami buatkan senarai film terbaik versi kami yang sekiranya bisa menjadi panduan pembaca. Pernah suatu ketika kami membuat surat terbuka bagi pembuat film Indonesia dan para Penerjemah film. Kami juga berani berpendapat dengan cara lain soal musik EDM. Apakah benar musik ini adalah genre musik  “sampah”? Dan tahukah kamu apa parfum yang disukai Bung Karno?

Coba saja simak bagaimana kita memandang seorang Ibu. Apakah Ibu mengajarkan kita untuk senantiasa berdoa? Apakah karena ibu seseorang yang berjilbab? Bukankah mengenakan kain penutup tidak selalu berarti seorang muslimah?

christian-ethiopia

Tapi kita sepakat bahwa kami senang menulis. Gandrasta bilang, menulislah dengan panca indera. Dengan kepekaan terhadap sekitar Nauval bilang apakah kita perlu berpura-pura? Tidak! Tak ada yang terlalu serius untuk hadapi dunia. “Lemasin Aja Tssssay…“, Kata Glenn.

Linimasa dibangun secara sukarela. Tak ada sepeser uang pun yang kami miliki diberikan kepada para Penulis. Akan tetapi kami menyajikan tulisan yang panjang dan penuh aksi layaknya cerita silat. Namun ini dalam bentuk lain; Kisah seorang Ustad yang dikagumi seluruh warga. 

Tanpa berpanjang lebar, kami ucapkan terima kasih buat kita. Anda, para pembaca, dan kami yang entah kenapa semakin saja ingin menulis dan menulis lagi tanpa henti tanpa jeda. Terima kasih untuk para pembaca yang telah memberikan karya tulisnya. Juga pembaca setia yang rela memberikan bingkisan manis yang membuat terharu.

Sudah malam. Ada baiknya kita persiapkan hari Sabtu dengan riang gembira. Karena sabtu adalah hari yang paling indah

Kami ada, karena internet butuh lebih banyak hati.

Salam hangat,

Roy

 

Sorry Adalah Maaf

Oke. ndak perlu saya tanya jika kamu semua pernah merasa marah terhadap seseorang. Yang gak wajar justru bila hidup kalian sangat datar, kayak sosok Sho dalam film The Secret World of Arriety. Tapi itu juga wajar, soalnya si Sho hanya tinggal nunggu hari aja buat ninggalin dunia ini. Pantesan di film itu gak banyak ekspresinya.

Jangan harap paragraf berikutnya nyambung sama paragraf pembuka. Sorry banget soalnya saat nulis ini pikiran saya lagi kurang sehat. Gara-gara lagi kurang sehat, jadi inget pas lagi di commuter line. Waktu itu kamu ngeliat ada ibu hamil (bumil) naik dari stasiun Cikini menuju Bogor, di gerbong yang sama tentunya. Tak lama, bumil itu ambil posisi agak ke dalam, sesaat kamu perhatiin ada seorang pemuda yang tak punya niat sedikit pun untuk memberi jatah duduknya kepada si bumil. Lantas pada kejadian itu apa yang kamu rasakan? Gondok? Dengki? Murka? Sama siapa? Pemuda tadi atau sama diri kamu sendiri yang ternyata saat merhatiin momen tersebut sembari duduk di atas kursi dan gerbong yang sama. Sorry kalau keterlaluan, tapi aku tak sudi terima maafmu, karena kamu baru sadar jika kamu bersalah (juga).

Saat pulang kerja, jalanan semuanya macet, iyalah Ahok (baca: Jakarta) gitu loh. Banyak orang yang terjebak, atau bahkan memang telah menjelma sebagai rutinitas harian, tak terkecuali kamu. Di perempatan kamu lihat seorang remaja putri tengah menggendong adiknya yang masih bayi sambil meminta-minta. Seketika kamu ngetwit; “Kasihan nian adik kecil itu, kemana orangtuanya?” Mungkin saja kamu merasa iba bercampur marah saat ketik twit tadi di iPhone 7. Tapi sorry, sudah satu bulan kamu tidak ngeWA ibumu, coba ingat-ingat lagi. Jangankan bertanya, memikirkan bagaimana perasaaan dia saja saat itu ndak terlintas.  Sorry kalau keterlaluan, tapi aku tak sudi terima maafmu, karena kamu baru sadar jika kamu bersalah (juga).

Sedang menjelang tidur, seperti biasa kamu bakal kepo-kepo beberapa akun medsos. Ada twitter, facebook, path, instagram, bigo, dan lainnya. Tak lama kamu merasa ‘terganggu’ dengan musuhmu saat kuliah dulu. Pokoknya, kalo liat muka dia bawaannya gedek banget. Musuhmu yang berbadan tambun itu kini makin sering pajang foto lagi ngegym bareng kekasihnya, dua-duanya seksi! beneran deh. Kamu ngerasa ‘gerah’ mungkin tepatnya condong ke rasa iri. Padahal dulu, body kamu itu primadona kampus, mantan kamu ada 9, satu lagi cuma temen tapi akrab. Tapi sekarang, kamu gak lebih baik dari seorang single. Pergi kerja, pulang kerja cuma ketemu layar monitor merk Lenovo. Kerjaan kamu bener-bener ngabisin waktu. Kamu gak sadar kalo kamu berangkat kerja jam 6 pagi dan bakal sampai ke apartemen yang masih nyicil itu hampir jam 10 malam. Kamu sendiri ndak perhatian sama diri sendiri. Sorry kalau keterlaluan, tapi aku tak sudi terima maafmu, karena kamu baru sadar jika kamu bersalah (juga).

Saat akhir pekan, tak banyak daftar kegiatan yang kamu punya. Well, paling mentok-mentoknya clubbing. Minum-minum dikit, pulangnya agak oleng lalu dianterin sama sopir taksi. Minggu paginya kamu masih molor sampai siang, itu juga bangun karena perut keroncongan. Banyak orang bilang itu adalah gaya bersosial yang asik, atau sosialita gitu deh. Tapi nyatanya, friend-firend  yang ber-hepi-hepi di tempat clubbing biasanya gak lebih dari semalam aja. Itu karena hari Seninnya kamu (dan kalian) bakal ketemu lagi sama rutinitas yang sudah dipaparkan di paragraf dua dan seterusnya tulisan ini. Sorry, kalau di tulisan ini mempermalukanmu. Semua ini hanya gara-gara saya bukan orang yang pandai memberi maaf. Tapi asal kamu tahu, kalau aku beneran bilang sorry untuk maaf sebagai kata kerja. Gak percaya? Baca ulang lagi aja.

 

Penulis: Dicky Ahmad // Medsos : @ayodiki (twitter & IG).
// Aktivitas: Pendampingan masyarakat lewat isu-isu lingkungan dari Greeneration Indonesia.

Menunda Emosi Sejenak

Seperti layaknya adegan sesi konseling pecandu hal-hal berbahaya yang sering kita lihat di film atau serial televisi, maka saya mau memulai sesi kita kali ini dengan pengakuan:

“Hi. My name is Nauval, and I’m a Netflix addict.”

Lalu Anda semua secara spontan akan menjawab dengan, “Hi, Nauval.
Tapi berhubung saya tidak bisa melihat reaksi Anda secara langsung, maka saya anggap saja Anda sudah melakukannya.

Sebenarnya sudah cukup lama saya berlangganan Netflix. Kira-kira hampir setahun. Saya memilih Netflix dibanding platform video streaming lain, karena kualitas film yang tersedia. Baik itu serial televisi, film pendek, film dokumenter, atau film cerita panjang. Baik itu produksi dan edaran Netflix sendiri, atau dari apa yang sudah dipilih Netflix untuk kita tonton.

Namun frekuensi menonton ini semakin tinggi saat beberapa bulan lalu Netflix menyediakan fitur untuk mengunduh film yang akan kita tonton. Whoa! Ini berarti, tidak perlu putar akal cari koneksi wifi kencang untuk sekedar menonton. Bisa offline viewing!

Tak ayal lagi, langsung saya mengunduh beberapa film dan serial yang sudah masuk dalam daftar film-film yang mau saya tonton. Seketika juga ponsel nyaris penuh. Maka mau tidak mau, saya harus menyelesaikan menonton film yang sudah diunduh. Selesai menonton, langsung delete filmnya. Space yang ada dipakai untuk mengunduh film atau episode serial berikutnya. Begitu terus berjalan.

(pic from marketingland.com)

(pic from marketingland.com)

Selama ini memang saya cenderung ‘mengagungkan’ pengalaman menonton yang saya anggap proper. Sebisa mungkin di bioskop. Kalau tidak, di layar televisi di rumah.

Nyatanya, sebagian besar waktu dihabiskan untuk beraktivitas di luar rumah. Alhasil, film dan serial hasil unduhan saya tonton waktu saya berlari di atas treadmill. Atau saat di atas pesawat, terutama kalau tidak ada in-flight entertainment. Atau waktu naik kereta. Atau di bangku belakang mobil Uber.

Awal-awalnya terasa aneh. Apalagi harus memegang gawai yang harus saya bawa, kalau tidak ada tempat untuk meletakkannya. Selain itu, mau tidak mau saya harus siap untuk menghentikan apa yang saya tonton saat pesawat mau landing, mobil Uber sudah sampai tujuan, atau sesi lari saya sudah berakhir.

Saya sempat ragu, apakah saya bisa menikmati tontonan film dengan cara seperti ini.
Lama-lama, akhirnya saya terbiasa.

Setelah berkutat dengan dokumenter pendek atau serial dengan durasi 30-40 menit per episode, minggu lalu saya menguji kemampuan diri dengan menonton arthouse film sambil berolahraga. Pilihan saya jatuh pada film Aquarius dari Brazil. Durasinya cukup panjang, 2 jam 20 menit. Filmnya tersampaikan dengan baik. Banyak adegan yang tidak memerlukan banyak dialog, namun kita masih bisa mengikutinya.

Sonia Braga in "Aquarius" (pic from latimes.com)

Sonia Braga in “Aquarius” (pic from latimes.com)

Saya menyelesaikan film ini dalam 3 kali lari. Saya memutuskan untuk tidak menyelesaikan, misalnya, saat pulang ke rumah di hari itu juga. Sambungan film tersebut saya tonton keesokan harinya saat saya lari lagi. Demikian pula seterusnya, sampai film itu selesai.

Ternyata, saya masih bisa sangat menikmati filmnya. Setiap jeda yang saya ambil waktu click tombol “pause”, saya ibaratkan seperti menarik nafas panjang waktu membaca buku. Kadang-kadang, membaca buku bisa menguras emosi kita. Atau mungkin kita sudah mengantuk, sehingga kita menaruh pembatas buku untuk menunda sejenak pengalaman kita masuk ke dalam dunia apapun yang ditulis oleh pengarang.

Demikian pula yang saya rasakan saat menonton dunia lain di layar gawai. Sensasi untuk menghentikan sejenak apa yang kita tonton, absorbing what we just saw, kembali ke dunia nyata dan beraktifitas, sambil berjanji untuk meneruskan tontonan esok hari, rasa yang tercuat sama seperti membalik halaman buku, dan menundanya sesaat.

Tentu saja saya masih ke bioskop. Pengalaman ke bioskop dan menonton di layar lebar masih tidak tergantikan. Toh pergi ke bioskop sendiri adalah sebuah kegiatan, an event, yang memang memerlukan persiapan khusus. Secara tidak langsung, mental kita pun sudah menyiapkan diri untuk mengalokasikan 2-3 jam terpaku di layar lebar.

(pic from businessinsider.com)

(pic from businessinsider.com)

Namun di kesempatan lain, kadang kita tak punya banyak waktu untuk menikmati satu tontonan secara langsung. In that case, mengutip lagu Marvin Gaye dan Diana Ross, just stop, look, listen to your heart.

A good story remains good, no matter how many times you pause to take a breath.

Selamat menonton!

Semua Dimulai dengan, “Turun di mana, Pak?

kereta

Lelaki I: Saya turun di Cilebut. Satu stasiun sebelum Bogor.  Sudah masuk Bogor. Rumah saya di sana. Saya dulu beli tanah murah banget. Habis jual rumah saya di Kelapa Gading.

Lelaki II: Saya turun di Depok. Saya mengontrak rumah di sana. Rumah saya di Jawa saya tinggalkan. Sekarang anak saya yang menempati.

Lelaki I: Saya jual rumah setelah divorced. Istri saya kawin lagi.

Lelaki II: Saya ceraikan istri saya karena dia main serong sama tetangga di kampung. Saya malu, makanya saya ke Jakarta. Anak-anak semua ikut saya. Sekolah di Jakarta. Sekarang semua sudah nikah. Punya usaha sendiri-sendiri.

Lelaki I: Hasil jual rumah, saya bagi mantan istri saya, terus saya bagi dengan anak saya. Dia beli rumah di Australia. Saya beli tanah dan bangun rumah di Cilebut.

Lelaki II: Saya tak pernah kawin lagi. Saya trauma sama perempuan. Malu saya.

Lelaki I: Saya sudah tua. Buat apa kawin lagi. Kawan saya juga banyak.  Kawan dansa, kawan main kartu, teman-teman arsitek. Oh ya saya arsitek. Rumah saya di Bojong saya desain sendiri.

Lelaki II: Setiap tiga bulan saya pulang ke Jawa. Lihat sawah. Lihat cucu.

Lelaki I: Anak saya ngajak saya tinggal di Australia. Malas saya. Biaya hidup mahal. Sekali makan 200 ribuan. Kalau jadi warga negara sana memang ada kemudahan. Orang tua seperti saya naik bis kemana-mana bisa gratis. Tapi orang seumur saya memulai hidup di tempat baru susah banget. Enakan di sini. Teman banyak.

Lelaki II: Saya dulu pegawai dinas kesehatan di kabupaten. Waktu istri saya ketahuan serong, saya kayak orang linglung. Tiga bulan saya tidak masuk kerja. Saya kayak orang gila.  Sampai akhirnya saya dipecat.

Lelaki I:  Ibunya  ….. (dia menyebut nama pemilik merek rokok) itu teman dansa saya. Biasanya dua minggu sekali saya diajak. Saya dibayar lo. Kadang-kadang dansanya di Bali. Dia kasih tiket, saya tinggal berangkat.

Lelaki II: Saya dulu tim sukses Pak Jokowi. Tapi sekarang saya kecewa.

Lelaki I: Saya dulu melayani katering di Istana, lo. Tapi ya ampun bayarnya sampai enam bulan. Kalau gak kuat modal bangkrut kita. Siapa yang tahan.

Lelaki II: Dulu katanya tak mau bagi-bagi kursi, kabinet profesional. Tak tahunya sama saja. Mana bisa melawan partai-partai itu.

Lelaki I: Sekarang sih paling saya bantu-bantu ngatur kalau ada pejabat mau bikin pesta. Kenduri.  Saya yang urus kateringnya, pelaksanaannya. Ini saya mau ke …. (dia menyebut satu provinsi yang gubernurnya adalah anak kenalannya). Mau selamatan di rumah dinasnya.

Kedua lelaki itu tak pernah bertemu. Saya bertemu keduanya di KRL pada waktu yang berbeda. Saya naik dari stasiun Palmerah. Lelaki pertama saya temui sejak dari stasiun Tanah Abang. Pada waktu yanglain lelaki kedua saya temui di stasiun Palmerah. Kami sama-sama naik dari sana.

Semua dimulai dengan keputusan saya memasukkan ponsel saya ke saku celana dan berniat mengajak berbicara – dan kemudian menjadi pendengar – siapa saja penumpang yang ada di sebelah saya….

Semua dimulai dengan satu kalimat sederhana: “Turun di mana, Pak?”

Wahai Penerjemah Film

 Baiklah, sudah cukup.

Ini adalah panggilan bagi semua penerjemah subtitle untuk film-film Barat yang ditayangkan baik di XXI, CGV dan CINEMAXX.

You had one job. To translate. Properly.

Dan itu berarti melakukan tugas kalian dengan sempurna. Tidak ada cacat sedikitpun yang membuat penonton menertawakan kebodohan kalian. Ini serius. Pernahkah kalian mendengar kata cek dan ricek? Jadi setelah diterjemahkan, dibaca ulang lagi dan jika ada yang ragu-ragu atau tidak tahu, cek ulang faktanya.


Lakukan dua atau tiga atau empat kali pengecekan dengan orang-orang yang berbeda.

Sehingga tidak ada kesalahan konyol seperti barusan di film Patriots Day XXI.

Salah satu dari kalian, entah siapa namanya, menerjemahkan nine eleven (tragedi serangan teroris WTC) sebagai 9 September.

9 September.

9 November gue masih maklum. Amerika punya sistem tanggalan yang aneh dan berbeda sehingga kesalahan itu meski sama konyolnya masih mungkin terjadi. Tapi 9 September? Itu artinya nine nine. Dua digitnya sama. It’s just a ridiculous mistake.

Dan ini cuma satu dari banyak kesalahan yang gue sudah tidak ingat (tidak hanya film ini, tapi film-film yang lain). Akan tetapi ini yang masih segar mengganggu dalam pikirian.

Yang harus kau lakukan hanyalah meng-google “nine eleven” dan itu adalah hasil search pertama yang muncul. Come on man, even I could do that.

Salah satu hal yang paling menyebalkan adalah terlintas dalam pikiran gue, bahwa orang ini sengaja melakukannya, Karena mengangggap penontonnya bodoh. “Hahaha, lihat mereka, bahkan mereka tidak tahu bahwa nine eleven itu artinya 11 September dan bukan 9 September.” Omongan itu pasti tidak hanya terlintas dalam pikiran gue semata kan?

Tapi bukan berarti gue gak ada pujian ke terjemahannya. Gue puji karena memakai kata rubanah untuk basement, karena kata itu jarang gue dengar dan sepertinya pas untuk menggambarkan ruang bawah tanah.

Dan gue bahkan gak tahu mesti kirim surat ke siapa untuk menyampaikan hal ini, sehingga gue kirim ke linimasa.

Pasti bukan hanya gue yang merasa seperti ini. Bagi yang pernah nonton bioskop dan merasa terjemahannya ada yang melakukan kesalahan konyol seperti di atas, tolong tulis di komentar di bawah. Bagi para penerjemah, tolong lebih berhati-hati, karena kami, atau paling tidak, gue menilai pekerjaan kalian.

()

Penulis: Koko. Akun twitter @ko2w

Antitesis

Akhir akhir ini sering diteruskan pesan pesan baik di medsos maupun grup percakapan virtual, mengenai pertanyaan mengapa orang tidak menyukai dia, dan organisasinya. Tentunya pertanyaan bukan hanya pertanyaan, lalu menjelaskan alasan kenapa seolah yang tak menyukai atau membenci itu tak berdasar. Segala prestasi dan karakter positif dipaparkan.

tumblr_mywejliefq1t5l954o1_500

Benci adalah kata yang terlalu kuat. Seperti pernah dibaca di suatu tempat yang saya lupa, lawan cinta itu bukan benci. Karena membenci berarti memiliki perasaan kuat pula, dan sudah pasti hal yang dibenci akan sering terlintas di pikiran. Lawan cinta adalah tidak peduli. Tidak ada yang lebih menyakitkan dibandingkan mencintai seseorang yang sering lupa kalau kita hidup. Itu yang tadinya saya rasakan jika muncul namanya dan organisasinya. Tetapi sulit untuk meneruskan ketidakpedulian jika organisasinya sering berteriak menggunakan megaphone di dekat rumah. Tidak peduli menjadi tidak suka.

Saya tidak suka dengan dia dan organisasinya karena mereka adalah antitesis dari apa yang saya ajarkan diri sejak saya dewasa dan bisa berpikir.

Sejak mulai membaca sadar, betapa terbatas pengetahuan, dan bagaimana jika dihadapkan dengan sesuatu yang kita belum paham untuk mencari tahu dan berusaha memahami baru kemudian memutuskan persetujuan atau perasaan terhadapnya. Sementara mereka selalu curiga dan menolak apa yang mereka tidak pahami.

Sejak mulai banyak berinteraksi dengan manusia, juga mulai paham dengan berbagai karakternya. Akhirnya memutuskan bahwa yang penting adalah perilaku dan tindakan, bukan cara bicara atau isi omongan ketika di depan kita. Bahwa ketulusan adalah kualitas utama yang penting buat saya. Tutur manis dan pujian, sungguh tidak perlu jika tidak diikuti dengan hati yang bersih. Sementara mereka menganggap kesantunan nomer satu, ketaatan dalam melakukan ritual nomer satu, tindakan di belakang, urusan masing masing. Walaupun itu berarti mencuri yang bukan haknya sekalipun.

Sejak didoktrin Pancasila sejak sekolah dasar, juga menonton Star Trek, saya setuju, bahwa; the needs of the many outweigh the need of the few, alias kepentingan masyarakat banyak harus diletakkan lebih tinggi dari kepentingan pribadi atau kelompok. Cukup valid jika lewat observasi saja kita sudah paham bahwa mereka tidak memercayai itu.

Setelah bekerja dan berorganisasi, juga paham, kalau kita tidak pernah tahu apa yang terbaik untuk orang lain. Apa yang cocok dan berhasil kita lakukan bukan berarti jika diterapkan orang lain akan menghasilkan hal yang sama. Sejak itu tidak lagi memaksakan paham atau cara tertentu. Saya percaya saja kalau manusia dewasa, memiliki akal sehat tentu ingin yang terbaik untuk dirinya. Sementara mereka selalu percaya kalau mereka adalah penyelamat umat dari kemaksiatan. Jika tidak ada “perjuangan” dari mereka makan kita akan jadi bangsa yang ambruk karena akhlak yang demikian reot. Dan perjuangan ini harus dilakukan dengan cara mereka atau tidak sama sekali.

Jadi jika ada yang bertanya, kenapa saya membencinya, akan dijawab; saya tidak membenci, tetapi mengapa harus setuju dengan satu atau sekelompok orang yang perilakunya bertentangan dengan apa yang saya pelajari selama berpuluh puluh tahun, baik itu sebagai manusia yang (masih) memeluk agama, maupun yang (sekarang) tidak lagi.

Revolusi Slime Squishy

kaulempar aku dalam gelap
hingga hidupku menjadi gelap
kausiksa aku sangat keras
hingga aku makin mengeras
kau paksa aku terus menunduk
tapi keputusan tambah tegak
darah sudah kau teteskan
dari bibirku
luka sudah kau bilurkan
ke sekujur tubuhku
cahaya sudah kau rampas
dari biji mataku
derita sudah naik seleher
kau
menindas
sampai
di luar batas

Derita Sudah Naik Seleher – Widji Thukul


“Sebetulnya Roy, apa yang kita lakuin, cuma kita sendiri yg bisa kontrol dan jaga. Mau gimana pun, misalnya posesip, percuma. Banyak ribuan cara untuk kita sembunyi-sembunyi. Ini balik lagi ke diri kita sendiri dari hati. Apakah kita yakin dan bisa setia dengan satu orang pasangan kita. 
Selingkuh itu memang seru Roy. Tapi setia itu lebih menantang dan susah.”

Perempuan di hadapanku menangis. Aku bingung. Menatap wajahnya yang sembab. Besar kantung matanya melebihi kantung mata mertua Annisa. Perempuan cantik semacam dia tak pantas untuk menangis. Bahagia. Itu satu-satunya nasib yang seharusnya melekat.

“Aku sudah banyak berkorban selama ini. Aku sudah tinggalkan rumah orang tuaku. Aku juga sudah pindah kerja beberapa kali. Pindah kota. Pindah agama. Pindah operator seluler. Hanya satu yang tetap. Dia. 

Bibirnya merekah delima. Nyaris sempurna. Tapi tidak dengan perasaannya. Lebih mirip remahan ketombe. Ambrol. Aku selalu bertanya-tanya dengan perempuan semacam ini. kenapa dengan tampilan fisik yang sempurna bisa begitu lemah jika berhadapan dengan pria pujaannya.

“Tapi apa yang aku terima? Setelah sekian lama aku mengabdi. Dengar Roy: MENG-AB-DI”. Tiba-tiba ia menjentikan jemari. CETIK! “Aku melihat dirinya bermesraan via WA.” 

Kembali dia menangis. Bibirnya sekarang bergetar. Hampir saja aku tergoda untuk melumatnya.

Apalah artinya pesan mesra lewat gawai kita. Bukankah itu hal wajar? Tidak? Bukankah menyentuh hati jauh lebih mudah saat ini. Lewat pesan pendek. Kalimat singkat dijawab kalimat manja. Kalimat rayu dibalas kalimat malu. Kalimat mau berakhir nafsu.

“Roy. Kamu pernah selingkuh?” Dia bertanya.

“Apa sih yang ada di pikiran lelaki ketika ia diam-diam mengirim pesan kepada perempuan yang baru dikenalnya? Iseng? Penasaran? Ataukah ingin menggantikan posisi pasangannya? Lebih wangi? Lebih menarik? Lebih menarik apanya? Menimbulkan imajiliar?”

Saya justru bertanya dalam hati. Mana pertanyaan yang harus kujawab terlebih dahulu. Saya tak paham arti selingkuh. Terbuat dari apakah kata selingkuh? Apakah karena manusia berharap setia? Berharap sehidup semati. Seumur hidup. Ataukah karena ketidakberanian untuk saling terbuka dalam berkomunikasi dengan pasangannya? Bosan yang dipendam?

Bisa jadi“.  Tiba-tiba kalimat ini meluncur. Aku sendiri bingung dengan jawabanku sendiri. Entah menjawab kalimat tanya yang mana. Aku sebetulnya sedang melamun. Pada sosok dua anak perempuan yang sedang bermain squishy dan slime.

Bisa jadi?” Perempuan ini mengulang jawabanku. Matanya agak melotot. Kecewa sepertinya. Lalu dia terus berkata-kata. Banyak sekali. Tapi aku tak mendengarkannya.

Jangan-jangan seharusnya hati kita terbentuk dari squishy. Lentur. Mudah diremas namun tetap kembali ke bentuk semula. Walau gemas dan lemas namun tak getas. Perasaan kita harus seperti slime. Mengikuti bentuk. Menyerah pada ulah jemari. Namun ia tak pernah patah. Hebatnya ia tak lengket seperti permen karet.

Perempuan ini sebetulnya berhati baja. Jaman kuliah, dia primadona. Mana ada laki-laki yang tak kagum. Rambutnya terjurai. Dadanya melambai. Kakinya jenjang. Wangi. Dan terutama bibirnya yang merekah. Namun saat mahasiswa tak ada niatku sedikitpun untuk melumatnya.  Dahulu, tak hanya sebatang kara. Juga kere. Walau tak tampan, tapi hatiku tak pernah sombong untuk mencoba mendekati seseorang. Hatiku rendah. Bisa jadi karena dompetku kosong.

Sekarang, baja itu sudah tak ada lagi. Hatinya tak lebih getas dari batangan spageti yang masih mentah. Tak hanya mudah patah. Tapi sepertinya memang harus patah agar dimasaknya mudah.

“Roy! ROY!!!”

Dia teriak. Aku kaget. Dia melotot. Aku terbebas dari lamunan.

“Kamu pernah selingkuh?” Kembali lagi dengan pertanyaan yang sama.

Aku menggelengkan kepala.

“Serius?”

Aku menganggukkan kepala.

“Lalu, kenapa kamu akhirnya berpisah?”

Aku terdiam. Lalu kunyalakan sebatang rokok.

“Roy, kenapa kalian akhirnya berpisah?”

Aku masih terdiam. Kuhembuskan asap rokok. Mereguk kopi. Menarik udara di ujung rokok kembali. Kuhisap lebih dalam. Lalu aku menjawabnya.

“Revolusi”.

img_9203

Aku. Dia. Sama-sama terdiam. Matanya masih sembab. Bibirnya makin merekah.

Namun kali ini aku tak hanya berpikiran untuk melumatnya.

[]

Cirebon Ekspress, 3 Feb 2017, Gerbong 1 Kursi 3B 21.58 WIB

Dor!

Berhubung saya masih sepertiga jet-lagged, jadi kali ini saya biarkan teman-teman saya yang bercerita ya.

Satu

Me: “Deg-degan gak waktu pacar nembak elo dulu?”
KL (teman, 33 tahun): “Deg-degan lah, gila!”
“Berapa lama dari deket sampe akhirnya berani ngomong?”
“Kayaknya 3 mingguan deh.”
“Lumayan lah ya. Ngomongnya gimana?”
“Kalo gak salah waktu itu dia ngajak makan. Makan malem kalo gak salah. Kita abis kelar nonton. Udah sering jalan bareng waktu itu. Kan beberapa kali ama elo juga.”
“He eh. Trus?”
“Ya udah. Dia ngajak makannya di food court aja, dong. Ya gak masalah sih kalo sekedar makan doang. Mana gue pesennya pake pete lagi kayak biasanya. Sumpah bukan model kencan yang gimana-gimana gitu. Asli. Abis udah nyaman banget. Eeeh kok dia ngomongnya udah mulai menjurus.”
“Hahahaha. Elo salting?”
“Ya salting gak salting. Gue makan aja sambil dengerin, sambil nanggepin. Tapi dalam hati, gue cuma “oh my God, oh my God, oh my God, please, please, please, jangan ditembak di tempat kayak gini, please, please, please …” Itu di food court di parkiran mall soalnya. Hahahaha.”
“Huahahaha. Toh akhirnya dia ngomong juga?”
“Ya iya lah. Ngajak jadian, trus ya ketawa bareng. Jadi ya kalo ditanya orang, gue jadian di mana, di food court parkiran mall. Udah gitu sekarang food courtnya udah gak ada, jadi gue gak bisa site visit kalo lagi mau nostalgia. Hahahaha!”

showimage-ashx

Dua

Me: “Deg-degan gak waktu elo nembak pacar dulu?”
ED (teman, 34 tahun): “Lumayan, tapi gak sampe bikin gelisah sih.”
“Kok bisa?”
“Abis deketinnya lama.”
“Berapa lama?”
“Ada lah 5 bulan.”
“Eh busyet. Betah amat, bro.”
“Ya abis. Dia gak agresif, gue juga gak agresif.”
“Waduh. Untung gak diambil orang lain.”
“Ya kali ah.”
“Akhirnya bisa ngomong, gimana ceritanya?”
“Ehehehehe. Jangan ketawa ya. Waktu itu malem-malem, kita keluar buat makan. Gue lagi pengen makan sate padang. Ya udah kita pergi. Makan aja biasa. Trus dia pengen kerja sebentar sambil buka laptop. Kita cari coffee shop yang masih buka.”
“Trus?”
“Gue nungguin aja dia kerja sambil baca-baca. Tiba-tiba dia bilang, “Kok aku ngerasa mual ya?” Lari dia ke toilet. Di sana muntah-muntah.”
“Waduh. Hamil?”
“Ama wewe gombel. Elo ini, ah!”
“Trus?”
“Gue panik. Gue gedor pintu toilet coffee shop. Dia buka, mukanya pucet banget. Badannya lemes. Gue bopong ke mobil, sambil minta tolong waiter beresin laptopnya. Gue rencananya mau bawa dia pulang, tapi di mobil dia malah makin pusing kesakitan. Kayaknya emang abis makan sate padang trus minum kopi itu gak recommended ya.”
“Penyesalan emang selalu datang belakangan. Kalo datang di awal namanya pendaftaran. Trus?”
“Heh! Trus ya gue bingung. Gue tanya aja ke dia, mau ke rumah sakit aja nggak. Dia cuma ngangguk, sambil berusaha tiduran. Gue langsung dong bawa ke UGD. Dan ternyata emang pencernaannya lagi bermasalah. Disuruh istirahat bentar, dikasih obat di sana. Adalah hampir sekitar 2 jam sebelum akhirnya gue anterin pulang.”
“Lho? Terus ngomongnya …?”
“Hehehehehe. Pas jalan pulang, gue becandain dia, karena dia udah berasa enakan ‘kan. Gue tanya dia, “Yang, kamu tau nggak bahasa Inggrisnya UGD?” Dia jawab, “Intensive Care Unit kan? ICU?” Trus ya gue berhentiin mobil sebentar di pinggir jalan. Gue cuma megang tangannya sambil bilang, “I see you, too.” Hiahahaha!”
“Sumpah, bro. Najis amit-amit!”
“Hahahahaha!”

50

Tiga

Me: “Deg-degan gak waktu pacar nembak elo dulu?”
FH (teman, 35 tahun): “Nah, itu dia. Gue bingung, dulu ada deklarasi jadian gak ya?”
“Deklarasi! Macem mau bikin negara aja. Kok bisa bingung?”
“Abis gak jelas, siapa yang nembak, siapa yang ditembak. Ya buat gue emang gak penting sih, cuma kalo ditanya gini, bingung juga jawabnya.”
“Hahahaha. Jadi tau-tau ngalir aja gitu?”
Not exactly like that. Kita udah deket aja, sering ngobrol. Kalo telponan suka lama banget. Dan itu masih bener-bener telpon ya, bukan chatting di Line atau WhatsApp, dan bukan pake voice call seperti Skype atau WA. Bener-bener ngobrol di telpon, berjam-jam, dan gak ngelakuin kerjaan lain.”
“Wow. Ngomong apa aja kalian?”
Anything under the sun. Bener-bener semua.”
“Berapa lama kalian seperti itu?”
Let’s see. Kenalan doang di Oktober, sepintas lalu. Trus mulai intens ngobrol sekitar akhir November. Dari akhir November itu lah, sampai awal tahun. Berarti sekitar sebulan ya?”
“Lumayan lama.”
Yes, but it doesn’t feel long. The more we talk to each other, about each other, the more we don’t know anything about each other. Dan itu membuat gue pengen lebih lama lagi ngobrol ama dia.”
“Dan akhirnya …?”
“Dan akhirnya, kayaknya abis tahun baru, kita ngobrol. Lupa siapa yang nelpon duluan, saking seringnya. As we started talking as usual, I started noticing something different. The vibe, the tone, it’s different. Gue melipir ke pojokan di luar rumah. Then we started talking about some distant future, plans. Lalu dia mulai ngasih hints about settling on someone. Entah dari mana, tiba-tiba gue bilang, “the answer is yes”.
“Eh, gimana?”
I said, “the answer is yes”. Dia diem. Dia bilang, “But I haven’t asked you any questions yet”, sambil ketawa. Dan sambil ketawa pun gue bilang, “the answer is yes. Yes to all of those things you said. To everything you said.” Dia masih ketawa. Hahahaha. Lucu kalo diinget.”
So in the end, you’re the one who proposed?
I don’t know. I don’t think so. Setelah kita berhenti ketawa, kita ngobrol lama lagi. Dia bilang, “Here’s to us.

That’s sweet.
Yes. The sweetest”.

Selamat.

Duduk Sendirian

SETENGAH jam menuju tengah malam, kemarin. Dia masih duduk sendirian, di meja nomor 15, tak jauh dari pojokan dekat jendela. “Lebih sepi di sini,” pikirnya.

Duduk berhadap-hadapan dengan setengah gelas bir hitam. Sudah tak terlalu dingin. Masih berembun. Beraroma wangi manis ragi. Segembolan pemikiran lamat-lamat mulai pudar dari dalam kepalanya. Nihil. Tak ada satu pun yang masih melekat, dan bisa dikunyah otaknya lumat-lumat. Licin terbasuh tiap tegukan, barangkali. Pikirannya kelaparan, tapi terlalu sungkan untuk berteriak minta diberi makan.

Pilihan, dan kemampuan untuk memilih sesungguhnya adalah anugerah terbesar. Dengan keduanya, manusia benar-benar bisa menjadi makhluk utama termulia, atau spesies paling keji di muka bumi.

Mendadak pemikiran itu muncul dalam benaknya. Entah dari mana. Untung dia hanya duduk sendirian, jadi tak perlu dibaginya ke siapa-siapa.

Apa yang menentukan kemuliaan seseorang?” lanjutnya bertanya.

Kemudian dia jawab sendiri, “Pilihan, bagaimana dia memilihnya, dan bagaimana dia menjalani pilihannya. Bukan lagi sekadar pilihan untuk menjadi orang baik atau jahat, melainkan pilihan untuk menjadi orang baik, orang benar, atau orang bijak.

Lalu, sebagai makhluk utama termulia, siapa yang menentukan kemuliaan seseorang?

Terserah saja sih, tapi paling seringnya adalah oleh sesama manusia, tentu dengan standar penilaian dan sudut pandang yang berbeda-beda. Jangan keburu bawa-bawa tuhan dan segala perangkat organisatorisnya. Belum tentu beliau mau. Hiruk pikuk semacam ini terlampau receh baginya.

Memusingkan!

Semua standar penilaian dan perspektif dapat mulur mengikuti keadaan zaman dan kesepakatan, sesuai kode-kode moral dan norma yang diatur bersama. Pada saat itu. Semua yang tersusun menjadi semacam ketentuan baku, paling benar, mustahil salah, maka itu tidak boleh diubah.

Tak ada yang luput dari perubahan, entah ke arah lebih baik atau sebaliknya. Ketika itu terjadi, pergolakan jelas tak bisa dihindari. Antara yang merasa benar versus yang merasa lebih baik. Siapa pun yang menang, tetap punya peluang untuk kembali tergantikan dengan yang lain lagi. Pasti.

Orang baik belum tentu benar. Ia hanya tahu dan mau bersikap baik kepada orang lain. Pokoknya mesti baik. Dengan bersikap baik, ia merasakan kesenangan saat itu. Namun luput dengan apa yang bisa terjadi kemudian.

Kebaikannya selalu diarahkan kepada orang lain, dan ada kalanya ia merasa kewalahan karena harus berbaik-baik kepada semua orang tidak sebanding dengan tenaga dan daya yang dipunya. Entah karena memang pembawaan, atau sengaja mengejar pahala dan surga. Ada yang menjalankannya tanpa keluh kesah, namun ada juga yang bisa berucap “Kok susah banget sihAku kan cuma mau jadi orang baik…

Orang benar belum tentu baik, dan kebenaran seringkali terasa pahit. Dengan demikian, ada yang sengaja menggunakan pahitnya kebenaran untuk menyusahkan dan mengalahkan orang lain; namun ada juga yang dianggap sengaja menggunakan pahitnya kebenaran untuk menyusahkan dan mengalahkan orang lain. Dalam kondisi ini, apa pun yang terjadi, kebenaran adalah kebenaran.

Akan tetapi jangan lupa, kebenaran juga tidak mutlak. Sama seperti kebaikan. Kebenaran itu sejatinya terkondisi: mesti diiyakan, benar menurut siapa, atas dasar apa, dan bisa sampai berapa lama. Sebuah kebenaran bagi sekelompok orang, bisa jadi suatu kesesatan bagi sekelompok lainnya. Mau tidak mau, sesuatu yang disebut sebagai kebenaran harus dilihat dan dipahami dari berbagai sisi. Dari yang menyenangkan, sampai yang paling dibenci sekali pun. Biar lengkap, cukup, dan adil.

Jadi mesti gimana?” dia kembali bertanya, masih dari tempat duduknya di pojokan dekat jendela.

Jadilah bijak. Seseorang yang memahami kebenaran dan melihat kebaikan dengan seadil-adilnya.

Mendadak pemikiran itu muncul dalam benaknya. Entah dari mana. Untung dia hanya duduk sendirian, jadi tak perlu dibaginya ke siapa-siapa.

“Seorang yang bijak harus sudah berbuat bijak sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.”

~ (Bukan) Pram

Birnya sudah habis.

Foto: thedrinkbusiness.com

Foto: thedrinkbusiness.com

[]