Raja Salman

Kabar kedatangan yang mulia dari Saudi Arabia ini santer. Banyak spekulasi. Ada yang mencibir, apatis sampai optimis. Seperti yang aku dapatkan dari grup WhatsApp berikut ini:

Raja Salman. Sumber: Google


Dibalik Rencana Raja Salman Ke Indonesia

-sekilas info ——————-

Investasi China di Indonesia Capai US$1,6 Miliar tapi duitnya ga ada
Cina cuma modal kertas kosong stempel sama pulpen. Dg bunganya tinggi
*
Raja Salman dari Arab Saudi, bawa 25 Miliar USD setara dengan 332,5 Trillun tanpa bunga se% pun
*
Yang jadi pertanyaan kenapa raja arab mau datang ke Indonesia??
*
Kabar Penistaan agama telah sampai ke telinga Raja arab.
Kabar Indonesia dalam cengkraman cina telah sampai ke raja Arab
*
Rombongan terbesar dalam sejarah memakai 6 pesawat boeing dan 1500 staf dan pasukan keamanan
*
Raja Salman datang ke Indonesia bawa duit banyak, pekerja tidak ikut, gak nyelundupkan narkoba..
Berbeda dg cina duitnya dikasih utang, nyelundupkan ribuan TKA ilegal PSK. narapidana Tentara komunis dan narkoba dan bikin KTP PALSU
*
selain investasi , Raja Salman juga ngutangin duit tanpa pakai bunga …
*
Kenapa Raja Salman Arab Saudi datang ke Indonesia dgn bawa uang ratusan triliyun….???
*
Raja Salman datang ke Indonesia bukan karena kehebatan jokowi & Menag, Raja Salman lebih paham kondisi Indonesia saat ini daripada. sebahagian dari kita…
*
Raja Salman tahu pemerintahan jokowi tidak suka Arab Dan menzholimi umat Islam di Indonesia, karena inilah salah satu faktor utama Raja Salman datang ke Indonesia…
*
Raja Salman intinya ingin menaikkan harga diri umat Islam Indonesia Dan berkeinginan membayar semua hutang jokowi ke komunis cina Dan investasi besar2an..
Agar pemerintah jokowi bebas dari cina komunis & tidak dikendalikan cina lagi
*
seaksn berkata ke jokowi kamu jgn menzholimi umat Islam /membenci Arab…
Umat Islam tidak miskin, hutang mu ke komunis cina bisa saya bayarin…!!
*
Intinya Raja Salman datang ke Indonesia mau membantu umat Islam yg sedang di zholimi dinegaranya sendiri….

Sekedar tahu saja, negara sekelas Amerika masih ngutang sama Arab saudi

📝info valid

Ndak perlulah kita debat isi beritanya. Ndak perlu juga kita cari kebenarannya. Tapi yang paling menyenangkan dari berita konyol di atas adalah: ADA YANG PERCAYA, ALHAMDULILLAH!

Advertisements

Salahin Aja Klien

Kemarin orang-orang dunia advertise (karena dunia entertain), dibuat sedih dengan kematian seorang PR yang bekerja di Ogilvy Filipina  Ini bukan kejadian pertama, kematian karyawan yang pemberitaannya disebabkan karena klien yang terlalu menuntut. Sebelumnya pernah terjadi di Jepang dan Indonesia. Tentunya banyak lagi kematian orang iklan dan bidang serupa yang luput dari media.

Pertanyaannya, benarkah selalu salah klien seperti kecenderungan yang dituliskan? Ada baiknya setiap kejadian dijadikan bahan cerminan. Harapannya semoga kehidupan lebih baik sesudahnya. Sebelum lupa, bekerja di bidang periklanan memang sudah dari sononya identik dengan lembur. Makanya, kalau banyak kantor iklan yang mempercantik kantornya, itu bukan tanpa maksud. Tapi untuk sedikit meringankan tekanan saat bekerja. Kondisi ini sudah diketahui dan sewajarnya dimaklumi oleh calon karyawan sebelum melamar. Istilahnya, take it or leave it lah!

Karena demikian pula klien dalam memperlakukan agencynya. Klien bukan hidup tanpa tekanan. Angka penjualan dan target lainnya, tentu menjadi beban yang berat pula. Periklanan hanya sebagian kecil dari mata rantai perdagangan. Ada banyak hal lain yang harus dipertimbangkan. Apalagi kalau menyangkut uang dalam jumlah besar. Tak mungkin hanya jadi keputusan seorang Brand Director, tapi juga menyangkut General Manager dan atasan-atasannya lagi.

Soal waktu pun demikian. Sejak dahulu, karena iklan salah satu yang berada di ujung, selalu jadi lebih mepet. Apalagi di zaman digital seperti sekarang. Semua terasa bergerak lebih cepat. Tayang sekarang, bahasa kekiniannya “live sekarang” ciyeee tak sampai 3 minggu kemudian sudah menjemukan. Perhatian konsumen dengan cepat berganti. Jangan mengira konsumen adalah orang lain, mereka adalah juga kita.  Kita juga konsumen. Bukankah kita semakin cepat bosan?

Dari dua hal ini saja, terbayang kan tekanan seperti apa yang harus dihadapi orang iklan sehari-hari. Di tahun 2010, Account Executive Periklanan selalu masuk dalam daftar 10 pekerjaan paling stress di dunia. Walau semakin ke sini, semakin menghilang dari daftar. Tekanan itu tetap ada walau untuk alasan berbeda. Dengan tekanan seperti ini, mari kita lihat bagaimana orang-orang iklan bekerja.

Entah karena persepsi atau kebenaran, sering kita menemukan orang iklan mengaku sedang stress karena pekerjaan. Merokok sambil merenung dengan tatapan kosong. Mirip dengan seniman. Apalagi ditambah kopi di depannya. Wuidih mirip Chairil Anwar! Dari era MadMen, orang iklan dicitrakan gemar merokok. Padahal, kita sama-sama tahu, tidak pernah ada bukti kongkrit merokok bisa “membuka pikiran” apalagi “mendatangkan inspirasi”. Itu semua hanya persepsi. Persepsi yang diciptakan oleh dunia iklan sendiri.

Sering kita menemukan kantor iklan jam 10 pagi masih kosong melompong. Alasannya karena malam sebelumnya lembur. Dan besar kemungkinan malam berikutnya akan lembur lagi. Tapi tunggu dulu, coba lihat etos kerja anak kreatif. Benarkah sudah menggunakan waktu bekerja dengan efisien. Saat bekerja sendirian browsing-browsing dengan alasan “lagi cari ide” tapi saat brainstorming bersama tetap diam saja. Semakin parah saat brainstorming malah sibuk mainan handphone. Sementara deadline semakin mepet.

Jangan salah, banyak sebenarnya yang memutuskan tinggal di kantor melebihi jam kerja, bukan pula karena kerjaan. Tapi karena lebih nyaman di kantor daripada di tempat tinggalnya. Setidaknya di kantor ada internet gratis, ada AC, ada kamar mandi, tinggal beli minuman dan kudapan, jadilah kantor bagai cafe. Ini bukan masalah selama bukan klien yang kemudian dijadikan kambing hitam. Kalau malam ini “lembur” kemudian keesokan harinya tak bisa bekerja maksimal karena kurang tidur, salah siapa?

Belakangan semakin banyak orang iklan yang mulai menjaga kesehatannya. Banyak yang mulai rutin berolahraga dan memperhatikan makanannya. Semoga saja kesadaran ini semakin menguat. Semakin besar tekanan pekerjaan, maka semakin kita harus menjaga asupan makanan kita. Apalagi kalau jam olahraga sama sekali tidak bisa diselipkan. Makanan yang masuk semakin harus dijaga.

Coba perhatikan lagi, benarkah pekerjaan berat atau kita hanya melanggengkan pencitraan orang iklan suka lembur? Atau sebenarnya lebih ingin menjadi seniman? Kalau benar, ingatlah klien sedang tidak membayar seniman. Klien membayar biro iklan untuk menjadi kepanjangan tangan, rekanan, yang bisa memberikan masukan-masukan memecahkan masalah. Klien pun menginginkan rekanan yang bisa berlari dengan kecepatan yang sama.

Kreativitas di dunia iklan, kini tak lagi soal dandanan nyentrik. Tapi soal solusi yang menarik. Bukan lagi soal inspirasi dari langit atau di bawah pohon beringin. Tapi dari manusia dan kehidupan sekitar. Era MadMen sudah selesai. Mati. Yang mengejutkannya, banyak generasi baru yang masuk ke dunia iklan, masih dengan angan-angan bekerja di era MadMen. Ini berbahaya. Bukan hanya secara bisnis, tapi juga kesehatan.

Pengarah Kreatif pun sekarang tak lagi diidolakan seperti dulu. Anak-anak baru dunia iklan kini punya banyak idola yang bisa mereka temui di internet. Mereka punya impian dan aspirasinya sendiri. Demikian pula dengan penghargaan dunia iklan yang semakin menurun popularitasnya. Jangankan Cannes Advertising Festival, Olimpiade sampai Oscar pun mulai memudar popularitasnya. Anak muda punya banyak penghargaan dan kesibukan lain yang mengasyikkan.

advertising

Tuntutan memang berat. Beberapa bilang semakin berat. Klien tak lagi punya budget sebesar dulu. Tapi tetap membutuhkan hasil yang maksimal. Kalau kita lihat sejak 2015-2016, jumlah produk baru yang diluncurkan, terasa menurun jauh. Ada masanya setiap bulan ada shampoo baru diluncurkan. Setiap minggu telco menawarkan layanan dan harga baru. Mobil, perbankan, perumahan, tanpa perlu data bisa dirasakan menurun. Penurunan ini tentunya berdampak pada penghasilan biro iklan sendiri.

Digital yang kini merajai hampir setiap brief, juga membuat biro iklan konvensional kelabakan. Bukan hanya dari pemahamannya tapi juga dari gerak cepatnya. Sementara generasi digital yang baru dan muda, walau mungkin secara kapasitas sudah memadai, belum tentu secara mental. Sayangnya, kematangan dan kedewasaan tak bisa dibeli. Alhasil rasanya semakin banyak yang mati muda. Ok, ini hanya tuduhan semata. Tapi dari pengamatan kalau ke rumah duka belakangan, usia yang meninggal mulai dari 30 – 70an tahun. Sementara saya ingat waktu saya kecil, setiap ke rumah duka sering terperangah melihat usia orang meninggal 80 tahunan ke atas.

 

 

Melodi Memori

Lucu bagaimana otak kita memilih untuk mengingat seseorang. Seseorang yang pernah penting — bahkan mungkin paling penting — dalam hidup kita. Memori bisa mendadak datang seperti ombak bertubi- tubi yang membawa kita ke pantai ketika sedang berenang dengan santai di laut.

Ketika sedang menikmati film La La Land sambil tersenyum, dan senyum itu sempat hilang ketika adegan sang pria menunjukkan bagaimana dengan menempelkan remote mobil ke leher akan menjadikan kepala kita antena, sehingga jarak sinyal akan semakin jauh. Saya seperti dikembalikan ke bertahun tahun yang lalu. Seseorang pernah memberi tahu hal yang sama persis kepada saya. Agak aneh karena hal itu yang paling diingat. Juga satu lagi dari dia yang saya paling ingat adalah ketika dia turut menyanyi ketika lagu Bee Gees (tuwir, I know) bermain di CD sambil menatap saya, dan seolah mengatakan lirik itu untuk saya. It was the sweetest thing, perhaps the only sweet thing he had done.

Lucu bagaimana ketika menelusuri internet dan medsos untuk namanya, lalu mencari sebuah wajah di foto reuni, saya tidak bisa mengenalinya, tetapi saya masih ingat suaranya ketika dia bercerita bahwa hal bodoh yang dilakukannya kemarin adalah, secara impulsif membeli sebuah kasur yang sedang diskon. Saya sempat lupa kalau dia punya dekik di pipinya, tetapi saya tidak pernah bisa lupa perasaan meluap luap setiap kali saya ada di dekatnya.

Lucu juga kalau saya yakin saya sudah tidak punya cinta lagi untuk seseorang yang pernah jadi cinta terbesar dalam hidup saya, tetapi ketika mata tertutup, masih bisa tercium aroma lehernya ketika saya memeluknya, atau sekedar mencari kehangatan di tengkuknya. Bagaimana setiap ciuman pertama dengan orang baru akan saya bandingkan dengan ciuman pertama dengannya. Yang ketika itu setiap sentuhan dari bibirnya seolah membuat jantung saya mencair menjadi cokelat hangat yang kental dan mengalir ke abdomen saya.

Saya kurang paham apakah kita bisa memilih apa yang diingat dari mereka, atau otak kita memilih sendiri.

aa7fd85890829a5545087ad42cbcbc5a

Mbak Yayang (1)

Aku punya sepatu warna abu-abu. Sepatu aku ndak baru. Dahulu, Pak Budi membelinya di luar negeri. Sekarang, majikan Ibu ini sudah pensiyun. Sepatunya juga ikut pensiyun. Pak Budi memberikan buat Bapak dua tahun lalu. Tanpa diketahui Pak Budi dan Bapak, Ibu memberikannya padaku.

Ini Nak, Ibu beli dari Pasar Baru“.

Tidak, aku pernah sepatu ini dipakai Pak Budi“.

Ibu memang suka seperti itu. Membesarkan hati. Maksudnya baik ingin aku bangga punya sepatu hasil beli sendiri. Tapi sayangnya aku tahu.

Sepatu ini masih terlalu besar untuk kakiku. Tapi ndak apa-apa. Sebentar lagi jika aku kuliah tahun depan, sepertinya akan cocok aku pakai setiap waktu.

Pak Budi itu pejabat penting. Aku tahu dari banyaknya tamu yang datang. Juga foto-foto yang bertebaran di dinding ruang tamu. Kata Ibu, Pak Budi itu seorang Ajudan. Mungkin Ajudan itu Bos Besar dan penting sekali. Aku ndak tahu pasti.

Ibuku suka mencuci baju. Juga menyetrika di rumahnya. Sejak kecil aku selalu bermain dengan anak bungsu Pak Budi. Mas Dimas namanya. Wajahnya lucu. Putih tapi terkadang juga membiru. Kata Ibu, Mas Dimas itu punya kelainan jantung. Seharusnya sebelah kiri, tapi Mas Dimas menyimpan jantungnya di sebelah kanan. Tiga kali, saat aku masih kecil, Mas Dimas dibawa ke Ostrali. Kata Ibu namanya ByPass. Saat itu aku membayangkan jalan raya besar di dekat rumahku.

Om Brosot, mbak Iyut, Bude Jaonah, Mas Aripin, dan Pak Dadang adalah teman kerja Ibuku. Pak Dadang suka mengantar Ibu ke rumah jika waktu pulang telah lewat waktu dan kemalaman. Aku senang kalau waktunya pulang diantar Pak Dadang dan ndak mesti naik angkot. Dengan Pak dadang berarti naik mobil sedan yang wangi. Rasanya adem.

Tapi aku belum pernah diantar Mas Aripin. Mobilnya lebih mulus. Sedan besar panjang warna hitam legam. Pasti lebih wangi dan lebih adem. Cuma Pak Budi yang boleh duduk di kursi belakang. Padahal kursi samping Mas Aripin selalu kosong. Bahkan Mas Dimas, Mbak Yayang juga Mbak Sita, dan Bu Nining ndak boleh naik mobil Mas Aripin. Sekeluarga hanya boleh naik sedan wangi dan adem. Bukan sedan yang lebih wangi dan lebih adem. Tapi aku sebetulnya ndak yakin apakah lebih adem dan lebih wangi. Aku hanya berharap demikian.

Yang boleh naik harus pakai dasi. Atau baju safari“, kata Mas Aripin. Aku mengangguk-angguk.

Sejak saat itu, aku mau sekali ajak Bapak ke Puncak. Aku mau menabung dahulu. Lalu datang ke Taman Safari dan membeli  kaosnya. Aku mau diantar pulang Mas Aripin.

Aku suka sekali dengan rumah Pak  Budi. Megah. Besar. Penuh dengan barang licin. Aku juga diam-diam menyukai licin pipi mbak Yayang. Seingat aku, saat aku kelas 5 SD, mbak Yayang sudah pakai seragam putih biru. Orangnya baik. Cantik dan aku diam-diam menyukai dadanya. Aku suka membayangkan mbak Yayang mengajak aku ngobrol dan menggambar bersama dengan sekotak crayon dan pinsil warna miliknya. Dahulu aku pernah disapa saat sedang menggambar ikan lumba-lumba dan perahu nelayan.

Bagus! kamu suka gambar ya Dek?“, komentarnya, dengan senyum simpul dan dadanya menyentuh punggung kananku.

Aku kaget. Aku merasa ada krayon di balik celanaku yang perlahan menjelma spidol besar. Enak.

Walaupun begitu, aku selalu menghindar jika mbak Yayang mengajak aku bermain bersamanya. Teman-temannya berisik sekali. Kalau main ke rumah Pak Budi selalu tertawa keras-keras dan menambah pekerjaan ibuku. Banyak tumpahan coca-cola, wafer, atau remahan biskuit di karpet kamarnya. Ibuku suka mencuci baju tapi ibuku selalu mengeluh jika harus membersihkan karpet. Untuk itu aku diciptakan Tuhan. Dengan semangat aku ambil kain dan wadah untuk sehelai-demi-sehelai memungut remahan makanan di karpet kamar mbak Yayang.

Hampir setiap minggu aku membantu tugas khusus yang aku gemari ini. Rasanya saat itu aku ingin sekali semua temannya yang berisik main di kamar mbak Yayang setiap hari. Aku siap jadi suami yang berbakti. Membersihkan apapun. Asal tidak menemani istri mengobrol dengan teman-temannya. Asal bukan itu. Sisanya, aku siap berjibaku.

Suatu hari saat menonton tipi, aku melihat Pak Budi di belakang Pak Harto. Pak Harto itu presiden aku. Orangnya baik dan suka tersenyum. Bahkan aku juga akan tersenyum jika Pak Budi memberikan selembar uang gambar Pak Harto tersenyum saat jelang lebaran.

Bolong berapa kali?”

Aku ndak menjawab dan hanya menggeleng-geleng.

Ini!”, Pak Budi memberikan selembar Pak Harto tersenyum padaku.

Aku menerima uang itu, lalu segera berlari ke belakang dan memberikan kepada Ibu.

Bilang apa tadi?”

Ga bilang apa-apa“.

Sana, balik lagi, salim dan bilang terima kasih.”

Aku selalu menolak permintaan Ibu. Aku ndak suka bilang terima kasih. Karena Pak Budi, dan Mas Dimas, dan Mbak Yayang, Mbak Sita dan Bu Nining tak pernah bilang terima kasih pada Ibuku.

Aku hanya berjalan ke depan. Seolah-olah aku kesana dan menemui Pak Budi. Padahal aku naik ke loteng dan mencari Mas Dimas. Karena biasanya, dia akan mengajak makan wafer di kamarnya diam-diam. Cukup untuk ndak makan minum hingga saat berbuka tiba.

Sepatu abu-abu aku kenakan saat ini. Tidak setiap hari aku semir. Aku tahu, sepatu kulit tidak boleh pakai semir kiwi. Harus dengan semir khusus. Karena itu aku lebih sering mengelapnya dengan tisu.

— Bersambung —

Tebak-Tebak Oscar Si Buah Manggis, Eh Halo Manis …

So what’s the first Oscar in, ugh, President Trump’s time gonna be? Escapism wins!

Sebagian besar film yang dinominasikan adalah film-film yang mengajak kita lari dari dunia nyata sekarang. Seakan-akan semuanya ingin membawa kita pergi dari carut-marut suasana yang terjadi sejak dunia dipimpin orang yang tidak kompeten.

Lihat saja dari jajaran nominasi film terbaik: film musikal, film tentang usaha menerima jati diri lewat tampilan gambar yang cantik, tiga film dengan setting masa lalu (Perang Dunia II, Amerika di tahun 50-an, Amerika di tahun 60-an), komunikasi dengan alien, film tentang anak yang terpisah dari keluarga.
Dua film lain juga berkisah tentang glorifying the past: pencurian bank, dan pria yang terjebak di kehidupan masa lalu. Semuanya bernada escapism, baik itu yang ceria maupun yang suram.

So what does this tell us?

Sejarah mencatat bahwa pada jaman The Great Depression di akhir tahun 1920-an sampai awal tahun 1930-an, film-film musikal buatan dan keluaran MGM berjaya di pasaran. Tapi itu dulu, saat belum ada televisi atau media hiburan moving visual lainnya.

Sekarang? Bisa jadi sejarah terulang. Kabarnya genre musikal mulai merebak lagi, dengan rencana produksi beberapa film dalam 2-3 tahun ke depan. Sementara itu, film-film yang diangkat dari komik DC dan Marvel masih akan terus ada sampai 12 tahun ke depan.

Jackie (from theplaylist.net)

Jackie (from theplaylist.net)

Yang jelas, mau tidak mau, konten cerita akan semakin dikaitkan atau terkait dengan kondisi sosial politik dunia. Sepertinya tidak akan bisa terelakkan.

Paling tidak, dalam ajang Academy Awards dan penghargaan-penghargaan lain, acceptance speech dari peraih penghargaan akan bermuatan politis. Kalau bisa berisi protes.
Ini sudah terlihat dari Golden Globes, lalu Grammy Awards, dan ajang-ajang serupa berikutnya. Semoga para “seniman” ini tidak bosan untuk terus beropini.

Berbicara tentang opini, tentu saja prediksi ini adalah opini pribadi saya. Bagi kami yang terlalu suka mengamati film, terutama musim penghargaan film atau awards season yang selalu dimulai dari awal November sampai akhir Februari setiap tahunnya, tahun ini sepertinya less challenging. Kenapa? Karena banyak calon pemenang sepertinya sudah given, sudah written on the paper.

Tapi kata kuncinya tetap “sepertinya”.
Kami bukan members of Academy yang punya kekuasaan untuk vote the recipients.
Meskipun ikut miris juga dengan pergerakan militan dari fans salah satu film nominasi Best Picture yang ngotot calonnya menang (oh yes, awards campaign is as nasty as any political elections!), kita cuma bisa nyengir aja.

In the end, we can only hope the good ones win.

Dan inilah harapan saya:

Best PictureLa La Land

Best Director – Damien Chazelle (La La Land)

Best Lead Actor – Casey Affleck (Manchester by the Sea)

Best Lead Actress – Emma Stone (La La Land)

Best Supporting Actor – yang mengejutkan buat saya, seluruh nominator di kategori ini tidak ada yang benar-benar “nyantol” penampilannya di hati. Seperti ada yang kurang sedikit. Kalau ada sedikit yang cemerlang di atas rata-rata, justru Jeff Bridges dalam Hell or High Water. Tapi karena beliau sudah pernah mendapat Oscar, dan di musim kali ini tidak terlalu put that much effort to campaign, maka pilihan saya kembali ke yang paling obvious to win dari segi yang paling ‘ngotot’ kampanyenya: Mahershala Ali (Moonlight)

Best Supporting Actress – meskipun sebenarnya dia adalah pemeran utama, tapi baiklah, dia salah satu aktris terbaik masa kini. Viola Davis (Fences)

Best Adapted Screenplay – kategori paling berat buat saya, karena semua, SEMUA, unggulan naskahnya bekerja dengan sangat baik di masing-masing film. But in the end, only one can win. Barry Jenkins (Moonlight)

Best Original Screenplay – Kenneth Lonergan (Manchester by the Sea)

Best Editing – Joe Walker (Arrival)

Arrival (from orangemagazine.ph)

Arrival (from orangemagazine.ph)

Best Cinematography – Greig Fraser (Lion)

Best Costume Design – Madeline Fontaine (Jackie)

Best Production DesignLa La Land

Best Make Up and Hair StylingStar Trek Beyond

Best Visual EffectsThe Jungle Book

Best Original Score – Justin Hurwitz (La La Land)

Best Original Song – “City of Stars” (La La Land)

Best Sound EditingHacksaw Ridge

Best Sound MixingLa La Land

Best Foreign Language Film – kalau memang film yang saya jagokan ini menang, saya akan sangat bahagia. Bukan karena alasan politis. Tapi saat menonton, saya sampai ketakutan, karena tidak menyangka cerita filmnya akan sedemikian powerful, dengan gaya penceritaan bak film thriller. Film-film sebelumnya termasuk film terbaik yang pernah dibuat di abad ini. Saya pikir dia tidak mungkin mengulangi kesuksesannya. Namun dia membuktikan bahwa dia adalah salah satu master storytellers jenius yang pernah ada. Dia adalah Asghar Farhadi, dan filmnya adalah The Salesman (Iran).

The Salesman (from awardscircuit.com)

The Salesman (from awardscircuit.com)

Best Documentary Feature13th

Best Animated FeatureZootopia

Nah, kalau mau ikut taruhan Oscar, sebenarnya kuncinya ada di tiga kategori film pendek. Kenapa? Karena paling susah ditebak, soalnya jarang yang nonton! Jadi pertaruhan terbesar kita ada di tiga kategori berikut:

Best Live Action ShortThe Lady on the Train (La femme et le TGV)

Best Animated ShortPiper

Best Documentary Short – nah, kebetulan saya sudah menonton nominasi di kategori ini. Jadi, semoga Academy voters setuju juga dengan pilihan saya atas film yang paling susah dibuatnya, dari segi logistik dan keamanan, sekaligus yang paling punya the most magical moment of humankind yang terekam dengan baik di film: The White Helmets.

Selamat menebak, tapi yang paling penting, selamat menonton!

A good film a day keeps your heart intact.

[Revisi hari Minggu, 26 Februari 2017 – perubahan prediksi Best Original Screenplay dan Best Live Action Short]

Pacaran di Jakarta Itu Mahal (?)

YA… sebenarnya enggak di Jakarta doang sih. Di mana-mana, yang namanya pacaran itu sudah pasti pakai duit, perlu alokasi dana khusus yang entah bersumber dari uang jajan pemberian orang tua, rekening tabungan, gaji atau penghasilan.

Sesedikit atau sebanyak apa pun jumlahnya, duit tersebut dipakai untuk melakukan beragam aktivitas bersama sang pacar. Termasuk dalam masa-masa PDKT “pra-penembakan”, dan saat disisihkan untuk rencana berikutnya.

Mahal? Relatif sih. Pipis di WC umum juga mesti mbayar kok, dan ketika harus mengeluarkan uang untuk aktivitas yang sejatinya gratis, sekecil apa pun nominalnya, bisa dianggap mahal juga, kan?

Inti dari masalah ini barangkali cuma sikap bawaan (kikir, royal, mata duitan, dermawan, penuh perhitungan, dan sebagainya), sudut pandang (pertimbangan perlu/tidak perlu, bermanfaat/tidak bermanfaat, patut/tidak patut, boros/hemat, cerdik/dungu, dan lain-lain), dan tentu saja kepemilikan. Lagipula, semahal apa pun biaya pacaran di Jakarta, toh tetap banyak yang melakukannya karena beragam alasan maupun latar belakang. Bahkan, ada yang mampu berpacaran dengan dua atau lebih orang sekaligus. Mampu lho ya, bukan sekadar sanggup atau mau, which means double or even triple expendable resources in requirement.

Walaupun demikian, lantaran lain tempat lain adat, lain insan lain pemikiran, tentu rasanya ada yang berbeda saat menjalani sebuah hubungan pacaran di Jakarta dibanding di kota-kota lainnya. Apa aja? Mungkin dua hal berikut ini.

>> Transportasi

Hubungan pacaran identik dengan kencan, dan lazimnya, sebagai bentuk common courtesy dalam urusan perpacaranan, si cowok menjemput dan mengantar si cewek pulang. Lagian, cewek mana sih yang sebenarnya senang pulang sendirian, apalagi dari sebuah kencan?

Prasyarat umumnya:

  • Ada kendaraan pribadi. Tidak mesti milik sendiri. Pribadi di sini berarti bukan kendaraan umum, sehingga bisa dibawa ke mana pun, dan sampai kapan pun. Lalu terserah, dikendarai sendiri atau dengan juru mudi. Namun kalau nyetir sendiri, besar kemungkinan bisa bertukar kecupan dan cipokan sebelum pulang.
  • Perihal kemesraan sebelum pulang, akan jauh lebih nyaman dilakukan di dalam mobil. Ya, kan? Apabila belum punya, seberapa mau si cewek untuk dibonceng ke mana-mana? Sudah dandan maksimal, hancur begitu saja kena terpaan angin dan debu jalanan.
  • Sebuah hubungan termasuk LDR kalau sudah berbeda kota, provinsi, pulau, dan negara. Akan tetapi ukuran ini getas, lagi-lagi tergantung pada sudut pandang yang digunakan. Sebagai perbandingan, ketika orang Samarinda berpacaran dengan orang Balikpapan, hubungan itu mereka kategorikan sebagai LDR. Padahal Samarinda dan Balikpapan hanya terpisah sejauh 115,7 km, bisa ditempuh selama 2,5 jam. Jadi 2 jam lebih saja kalau jago nyelip truk dan bus AKDP.
    Lain halnya dengan yang terjadi di lingkar Jadetabek. Selama sang pacar tinggal di area tersebut, belum dianggap LDR. Tapi tetap saja, harus ada kendaraannya, dan semangat rela berkorban untuk jauh-jauh menjemput dan mengantar pulang. Bukan persoalan jarak, tapi waktu tempuh.
    Intinya, kalau bukan LDR, berarti masih dekat.

Kondisi di Jakarta:

  • Demi efisiensi waktu dan tenaga, banyak yang berpendapat bahwa konsep jemput-antar si cewek kurang ideal diterapkan setiap saat. Daripada waktu habis di jalan, lebih baik langsung ketemuan di tengah, di lokasi yang tidak terlalu jauh dari satu dan lainnya. Pertanyaannya, maukah si cewek menggunakan transportasi umum apabila tidak membawa kendaraan sendiri?
  • Meskipun tidak memiliki kendaraan sendiri, si cowok tetap bisa menjemput dan mengantar ceweknya pulang. Pilihannya banyak. Ada Uber, GrabCar, dan Go-Car yang hampir tiap pekan menabur promo diskon. Terserah, seberapa tahan. Ketika jarak antara dua sejoli, katakanlah, Pluit-Cilandak.
  • Pertimbangan khususnya, Jakarta terus melakukan pembangunan dan pembenahan semua lini transportasi publik baik yang dikelola pemerintah, maupun swasta. Pertanyaannya bisa bergeser menjadi mana yang lebih efisien (baca: murah) dan cukup nyaman, antara punya mobil harian sendiri atau menggunakan Uber, GrabCar-GrabBike, Go-Car-Go-Jek, taksi, TransJakarta, Commuter Line, MRT, sampai LRT nantinya?
Setelah MRT kelar, adegan seperti di kereta bawah tanahnya NYC begini mungkin bisa juga terjadi. Foto: slate.com

Setelah MRT-nya Jakarta kelar, bisa jadi adegan seperti di kereta bawah tanahnya NYC ini juga terjadi di sini. Foto: slate.com

>> Konsumsi dan Hiburan

Kencan pasti diisi dengan kegiatan makan-makan, dan hiburan. Tanpa itu, ya anyep banget, dan masih berhubungan dengan common courtesy nih. Dalam hal ini, cowok tentu menjadi benefactor-nya, alias yang membayarkan. Di samping itu, ada anggapan yang mengatakan bahwa cowok yang maunya dibayarkan melulu, adalah cowok kurang modal, lebih-lebih matre. Meski sebaliknya, tidak menutup kemungkinan cewek-cewek pun bisa matre, atau malah selalu mau enaknya doang.

Prasyarat umumnya:

  • Sangat wajar apabila sang cowok membayarkan semua-muanya. Kelak, dia akan menjadi kepala rumah tangga, pemberi nafkah keseluruhan. Ketika urusan bayar makan di restoran saja harus split bill, bagaimana ketika sang istri melahirkan? Apakah dipisah antara biaya proses pembuahan dan biaya persalinan?
  • Kencan seyogianya berkesan. Supaya bisa berkesan, maka isi dengan segala sesuatu yang jarang dirasakan, tidak terus-terusan, biar enggak bosan. Ternyata ada bagusnya kencan dilakukan tiap malam hari libur atau akhir pekan. Pintar-pintarlah membangun dan mengisi situasi, tidak ada salahnya untuk menyisihkan sejumlah uang, dan memilih tempat yang cocok serta sesuai kemampuan. Kalau terkendala, lebih baik jujur dan terbuka terhadap pasangan, ketimbang sok-sokan mampu tapi akhirnya terbelit utang. Namanya juga sedang berpacaran, komunikasi dan penyesuaian selalu diperlukan. Ketimbang nanti kaget ketika telanjur bersanding di pelaminan.

Kondisi di Jakarta:

  • Hampir semua ragam pilihan ada di Jakarta, dari yang paling fancy dan mahal, sampai yang murah meriah tapi tetap mengasyikkan. Ada variasi yang bisa dibentuk sesuai keadaan.
  • Konon katanya, Jakarta penuh dengan cewek-cewek berpandangan modern dan seru. Dalam kondisi yang cukup ekstrem (untuk ukuran kebiasaan di Indonesia), mereka malah bisa memilih untuk split bill dalam beberapa situasi kencan. Pun begitu, berkencan belum berarti sudah/mau jadian.
    Dengan mampu membayar sendiri, cewek-cewek tersebut menunjukkan kekuatan dan karakter yang independen. They’re self-sufficient creature, nobody owns them. CMIIW ya. Di sisi lain, ketika sudah berpacaran, mereka bisa saling bergantian mentraktir. Misalnya, cowok bayarin makan, ceweknya bayarin nonton bioskop. Seru, kan? Hanya saja, seberapa banyak cewek yang begini?
Splitting the bill on the first date? Hmm... Foto: mamamia.com.au

Splitting the bill on the first date? Hmm… Foto: mamamia.com.au


Cuma dua hal di atas yang dibahas. Cukup. Namanya juga masih dalam keadaan pacaran, belum dirasa perlu untuk membicarakan tentang akomodasi atau tempat tinggal, pembagian peran dan tugas rumah tangga antara suami-istri, memilih sekolah untuk anak, rencana untuk pindah kota bila diperlukan, serta masalah-masalah seterusnya.

Dari kedua hal tersebut, silakan kamu kira-kira deh; apakah berpacaran di Jakarta memang mahal?

Ah, pacaran di Jakarta itu muahal

Loh! Siapa bilang? Di Jakarta banyak kok cewek yang mandiri, cantik tapi pinter, dan bisa diajak kompromi. Kamu aja yang belum nyari… atau terlalu picky!” kata seorang teman, yang lucu serta menyenangkan, dan sudah jadi pacarnya orang.

#eh

[]

 

Nusantara Dulu & Sekarang

Monas dulu dan sekarang. Sumber: Google

CITA-CITA
1418: Jadi Bhayangkara.
1996: Jadi Dokter.
2017: Jadi YouTubers sensasional.

MOMOK
1835: Malaria.
2000: Y2K.
2017: Hoax.

KARIR MUSIK
1964: Tampil di TVRI untuk mengobarkan semangat konfrontasi “boneka Inggris.”
1991: Multi Platinum.
2017: Ringbacktone terbaik.

KARIR JURNALISTIK
1908: Menulis di Harian Medan Prijaji.
1997: Koresponden Reuters di Hyderabad.
2017: Manajer social media Burger King.

RETORIKA POLITIK
1336: “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa.
1945: “Proklamasi. Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.
2017: “Saya bertanya, apakah Agus Yudhoyono memang tak boleh maju jadi Gub Jakarta? Apakah dia kehilangan haknya yg dijamin oleh konstitusi?

25

cermin

Pengantar: Ini adalah uraian sederhana tentang 25 sifat positif yang membentuk sosok manusia yang utuh. Ini bukan nasihat, bukan pedoman, atau petunjuk. Ini cuma cermin yang semoga saja cukup jernih untuk kita sama-sama berkaca. Semoga bermanfaat…

I. Yang Memancar dari Dalam Hati

1. Adil
Adil adalah menempatkan segala sesuatu pada tempatnya yang hakiki. Mungkin itu tak selalu tempat yang nyaman bagi yang ditempatkan, dan bagi yang menempatkan. Adil itu tidak selalu mudah, karena kita harus mencoba untuk tahu hakikat dan tempat dari segala sesuatu. Kemudian kita juga harus punya keberanian dan kekuatan untuk meletakkanhal itu pada tempat yang kita tahu memang di situlah tempatnya.

2. Peduli
Selalu ada bagian dari apa yang dimiliki oleh seseorang atau bahkan bagian dari diri seseorang yang dibutuhkan oleh orang lain, diminta atau tidak diminta. Selalu ada kesempatan bagi kita untuk memberikan bagian dari diri atau apa yang kita miliki yang diperlukan oleh orang lain. Kepedulian adalah hal yang membuat kita nyaman mengambil kesempatan untuk melakukan pemberian itu.

3. Ramah
Keramahan adalah udara yang kita bentang di sekitar kita, yang membuat orang lain – dan terutama diri kita sendiri – merasa nyaman berada di bentangan udara tersebut. Keramahan adalah jembatan lapang yang lekas menyeberangkan orang lain ke sisi kita, tanpa hal itu harus menjadi beban bagi kita dan bagi orang lain.

4. Tegas
Ada saat kita harus mengatakan ‘ya’ atau ‘tidak’ pada detik yang tepat, dengan pilihan jawaban yang tepat. Bukan cepat atau lambatnya yang penting, tapi ketepatan saat ketika jawaban itu diperlukan. Tidak berlarut tidak juga terburu-buru. Ada saat kita harus menolak atau menerima dengan alasan sederhana saja, yakni karena kita memang harus menerima atau harus menolak. Itu saja. Ketegasan adalah pagar yang kita bangun dan kita jaga. Kita harus tahu kapan kita membuka dan kapan kita menutup pintunya.

5. Tanggap
Sifat tanggap adalah naluri. Naluri adalah kerja ketika rasa hati jauh lebih cepat memandu kita mengambil keputusan daripada rasio dari pikiran. Naluri lahir sebagai sesuatu yang dibiasakan, terus-menerus dilatih, dibentuk, dan diarahkan. Tanggap adalah reaksi kita untuk lekas ikut ambil bagian, bahkan mendahului orang lain, untuk mencari jalan keluar, dari suatu masalah yang harus lekas diselesaikan, apakah itu terkait atau tidak terkait dengan kita. Apalagi kalau itu memang bagian dari tugas dan tanggung jawab kita.

II. Yang Tertanam di Dalam Dada

1. Jujur
Kau jujur jika kau berkata, bertindak, berperilaku, dan bekerja, maka kau benar-benar hanya mengandalkan apa yang benar-benar kau punyai, kau kuasai, dan kau mampu. Kejujuran adalah kemampuan mengetahui setepat-tepatnya dan memberdayakan dengan segala daya upaya, segenap kemampuan dan juga ketidakmampuan kita. Kejujuran adalah nilai diri kita, yang sampai mati harus kita jaga harganya.

2. Sabar
Orang yang sabar adalah orang yang percaya pada proses, dan yang lebih penting lagi, ia percaya pada dirinya sendiri. Dia tahu persis akan ada banyak hal yang tak terduga yang akan ia hadapi dalam perjalanannya menuntaskan apa yang sudah ia mulaikan. Ia bisa mengeluh tapi tak tenggelam dalam keluhan. Ia tahu tak semua orang bisa disenangkan, tapi dia tak akan bertindak serampangan berdasarkan ketidaksenangan orang lain padanya.

3. Tangguh
Orang yang tangguh adalah orang yang percaya pada diri sendiri, juga percaya pada orang lain tapi tak mau menggantungkan dirinya hanya pada orang lain. Ia berani memulai dan siap menempuh segala akibat dari apa yang ia mulai sampai selesai. Orang yang tangguh tahu, sesiap apapun dia, selalu ada kemungkinan jatuh dan gagal tapi ia terus maju. Ia mungkin bisa sesekali terlemahkan, tapi ia tak terhentikan.

4. Berani
Keberanian muncul dari kesiap-siagaan. Orang berani adalah orang yang siap-siaga. Orang yang siap-siaga bukan berarti mempunyai segala bekal yang diperlukan. Mereka tahu persis apa saja yang ada pada diri mereka – sesedikit apapun itu – dan mereka tahu bagaimana mendaya-gunakan apa yang mereka punyai itu. Mereka menghitung risiko. Terus maju adalah tekad, menang adalah tujuan, tapi tanpa teralihkan, orang yang berani tahu kapan harus sedikit berbelok, sejenak berhenti, atau selangkah mundur dahulu.

5. Kuat
Orang yang kuat adalah orang yang tahu bahwa hidup adalah gelanggang pertarungan yang tak perlu dihindari. Ia masuk arena dengan sadar. Ia tak selalu ingin bertarung, tapi ia tahu kapan harus bertarung habis-habisan. Ia tahu bahwa ia tak selalu menang, tapi bahkan ketika kalah pun ia tak menjadi pecundang dan ia bukan pengalah. Orang yang kuat selalu bisa bangkit lagi dari kekalahan dan yang lebih penting ia juga tahu bahwa ia harus bangkit dari kemenangan.

III. Yang Mengalir dari Kedua Tangan

1. Tekun
Orang yang tekun masuk melibatkan dirinya ke dalam suatu pekerjaan dengan seluruh kemampuannya sampai pekerjaan itu tuntas. Perhatiannya sepenuh-penuhnya ia arahkan, energinya sebanyak-banyaknya ia kerahkan, kepandaiannya seluas-luasnya ia berdayakan untuk masalah yang harus diselesaikan.

2. Gigih
Orang yang gigih adalah orang yang bekerja dengan suatu keyakinan. Dalam bekerja ia punya tujuan. Karena bekerja adalah perwujudan dari apa yang ia yakini maka ia tak terhentikan oleh apapun. Bekerja dan menuntaskan pekerjaan adalah sebuah kebahagiaan, karena dengan begitu ia bisa mewujudkan tujuan yang ia yakini.

3.Rajin
Bagi orang yang rajin, bekerja bukanlah beban penderitaan, tapi sumber kegembiraan. Tak ada pekerjaan yang remeh, dan tak ada pekerjaan yang tak membawa kembali imbalan bagi siapa saja yang mau dengan rajin mengerjakannya. Setidaknya kegembiraan yang diperoleh saat bekerja atau setelah menyelesaikan pekerjaan itulah yang menjadi imbalan yang paling berharga.

4. Trampil
Dalam sejumlah kerja, untuk menghasilkan atau menyelesaikan sesuatu, manusia tak bisa lepas dari peralatan dan perkakas. Orang yang trampil adalah orang yang mengenal, menghargai, bahkan menyatu dengan setiap peralatan yang diperlukan dalam pekerjaannya, dan menghasilkan yang terbaik yang paling mungkin didapat dari kerjanya itu.

5. Tangkas
Kerja dalam hidup tidak selalu berjalan dengan datar, lurus, dan tenang. Selalu ada masalah datang sebagai kejutan, kelokan mendadak, atau tanjakan yang menghadang tiba-tiba. Orang yang tangkas dengan sigap dan gesit bisa menempuhi dan melampaui segala kejutan itu tanpa harus tersandung atau jatuh pada kesalahan. Seperti pesilat handal, orang yang tangkas menguasai jurus-jurus dasar yang lengkap.

IV. Yang Memandu dari Dalam Kepala

1.Cerdas
Kecerdasan adalah kemampuan memanfaatkan segenap pengetahuan, wawasan, dan keluasan jiwanya untuk menyelesaikan masalah dengan selekas mungkin. Orang yang cerdas tak pernah takut menghadapi masalah sepelik apapun, sebab ia percaya, dengan pengetahuan yang ia punya ia bisa mencari jalan menguraikan masalah itu. Kalau pun dia tak punya pengetahuan tentang itu, dia tahu harus menemukannya di mana dan bagaimana caranya.

2. Pintar
Orang yang pintar adalah orang yang mampu memahami dan menguasai hal-hal baru dengan lekas. Orang yang pintar pintar adalah seorang pembelajar yang selalu lapar dengan pengetahuan baru. Orang yang pintar adalah orang yang yakin bahwa pengetahuan yang ia miliki suatu saat pasti aka nada manfaatnya.

3. Cermat
Ada hal-hal yang harus dikerjakan dengan cara dan tahapan yang sudah baku. Jika kita mengerjakan hal itu, lakukan dengan cermat, artinya lakukanlah sesuai dengan cara dan tahapan itu. Kita juga harus memahami benar kenapa tahap-tahap itu harus seperti itu. Tapi yang lebih penting adalah hanya dengan kecermatan itu kita bisa memikirkan dan menemukan cara dan tahapan yang lebih baik.

4.Teliti
Kesempurnaan atau pendekatan ke arah kesempurnaan, hanya bisa lahir dari ketelitian. Bekerja dengan teliti, lalu menghasilkan sesuatu yang sempurna adalah sebuah kepuasan. Ketelitian bukan beban yang menuntut. Ketelitian adalah anak-anak tangga yang memandu, langkah demi langkah yang menyampaikan ke sebuah hasil yang baik dan terus membaik.

5. Jernih
Pikiran yang jernih, ibarat mata dengan cahaya laser. Ia bisa menembs sekeruh apapun situasi yang dihadapi. Pikiran yang jernih, mampu untuk tetap jernih, menularkan kejernihan, menjernihkan dengan lekas kekeruhan situasi yang diharapi. Orang dengan pikiran jernih, tak takut menghadapi situasi sekeruh apapun itu.

V. Yang Mewujud Menjadi Diri

1. Sederhana
Sederhana adalah apa yang tampak oleh orang lain padamu, terlihat amat pantas untukmu. Sederhana adalah apa yang di mata orang lain pantas untukmu terasakan amat nyaman oleh dirimu sendiri. Sederhana adalah kau tidak direpotkan oleh apa yang tidak kau perlukan. Sederhana adalah, kau hanya mengenakan, mengucapkan, menyikapi apa yang benar-benar kau perlukan.

2. Lentur
Kelenturan menuntun kita pada jalan keluar. Kelenturan bukan berarti kita menyerah pada keadaan. Manakah jarak terpendek ke puncak sebuah gunung? Yaitu garis lurus dari kaki bukit ke puncak itu. Tapi apakah itu jalan yang paling mudah? Bukan! Bahkan mustahil bisa mencapai puncak itu kalau kita bersikukuh hanya menempuh jalan segarus luru, jarak terpendek itu. Kelenturan adalah kita mencari jalan yang paling mungkin, bukan jalan yang paling mudah.

3. Bijak
Bijak adalah kemampuan bersikap, memutuskan, menimbang dengan sebagus-bagusnya. Bijak menuntut dua kemampuan, yaitu kemampuan untuk berempati dan bersimpati. Kita berempati pada seseorang ketika kita menilai dia setelah menempatkan diri kita pada posisi orang tersebut. Sedangkan simpati adalah perasaan kita yang tersentuh bangkit setelah melihat keadaan – kemalangan, keberhasilan, kesulitan, kegemilangan – orang lain.

4. Benar
Kebenaran itu selalu sederhana. Seperti tangan kiri dan kanan yang tak bisa dipertukarkan penyebutannya. Kiri adalah kiri. Kanan adalah kanan. Itulah kebenaran yang tak bisa digugat, tak perlu dipertanyakan. Kebenaran harus menjadi penyemangat yang paling utama bagi kita. Karena mencuri atau mengambil hak orang lain yang bukan hak kita itu tidak benar, maka kita harus bekerja atau berusaha untuk bisa mendapatkan apa saja yang kita butuhkan.

5. Tulus
Orang yang tulus adalah orang yang telah selesai dengan masalah-masalah sempit yang terkait dengan dirinya sendiri. Ia menautkan dirinya dalam lingkaran kemanusiaan yang lebih luas. Ketika ia berbuat sesuatu untuk kebaikan, ia tak lagi melihat sekecil atau sebesar apa dampak dari perbuatannya itu. Ia berbuat bukan untuk menghindari caci-maki, tidak untuk mendapatkan tepuk tangan, juga bukan untuk mengundang puja-puji.[]

Semua Itu Ada di Kita

Jika dihadapkan dengan tantangan hidup, manusia memiliki pilihan; merujuk ke satu sumber untuk melaluinya, bertanya dengan orang yang lebih pandai, atau mencari referensi sebanyak-banyaknya dari bertanya, membaca, kemudian memulai proses pertimbangan dan berpikir sendiri untuk akhirnya memutuskan jalan keluar dari tantangan tersebut yang terbaik, tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga semua orang yang terkait.

Untuk sebagian yang memilih untuk mengambil cara satu dan dua, karena alasan ilmu pengetahuan yang belum sampai, akal yang belum sampai, atau hanya memang berpegang pada satu buku dengan meyakini secara buta bahwa itulah kebenaran yang sejati dan mutlak, tentu tidak ada proses berpikir lagi setelahnya. Karena akhirnya benar atau salah, diserahkan ke buku atau orang yang lebih pandai tersebut. Jika ternyata menurut dia keputusan salah, ya pasrah saja. Ikhlas? Cerita lain.

Atau seorang manusia juga bisa memilih jalan ketiga. Menjadikan beberapa buku referensi dan guideline. Bertanya ke orang lain dengan pengalaman, karena dari situ kita bisa belajar. Setelah semua informasi dirasa cukup, akal sehat mulai bekerja. Karena tidak ada tantangan manusia yang sama persis, dan situasi yang sama persis. Akhirnya setelah pemikiran didapatlah jalan terbaik, atau mungkin kedua terbaik atau hampir terbaik. Apakah tantangan pasti terjawab? Belum tentu! Ikhlas? Mudah mudahan.

“Apakah itu seorang yang sedang melakukan ibadah atau seorang murid, ketika sedang menunggu untuk diajarkan tentang kebenaran mutlak (atau hal lainnya), dia akan belajar bahwa tidak ada ilmu yang orang lain bisa ajarkan. Seseorang akan belajar ketika dia berhenti minta diajarkan, dan mengetahui bahwa dirinya sudah paham bagaimana caranya hidup yang terbaik, dan itu didapat dari cerita hidupnya selama ini. Rahasia kehidupan ternyata bahwa tidak ada rahasia.

buddha-quote

Dunia ini apa yang kita lihat saja, tidak ada arti yang tersembunyi. Sebelum menemukan pencerahan, seorang manusia akan bangun pagi, pergi bekerja, bercinta dengan suami atau istrinya, makan malam, dan tidur. Tetapi begitu menemukan pencerahan, dia akan bangun pagi, pergi bekerja, bercinta dengan suami atau istrinya, makan malam, dan tidur.

Cara Zen untuk melihat kebenaran mutlak adalah lewat mata yang sehari-hari kita gunakan untuk hidup kita yang biasa. Pertanyaan mengenai arti kehidupan yang tidak pakai hati akan menyebabkan kita seolah mengejar ekor sendiri. Seseorang tidak perlu mencari arti untuk mendapatkan kedamaian, tetapi yang perlu dilakukan hanyalah menyerah kepada adanya dirinya, dan menghentikan pertanyaan yang tidak ada gunanya. Rahasia enlightenment adalah; makan ketika Anda lapar, dan tidur ketika Anda lelah.

quote-that-is-one-of-the-reasons-why-a-man-should-pick-a-path-with-heart-so-that-he-can-find-sheldon-b-kopp-43-71-30

Para guru Zen berkata; “Jika dirimu melihat Buddha di jalan, bunuh dia!” Maksud dari kalimat ini menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu apapun yang berasal dari luar diri kita adalah nyata. Kita masing masing telah mencapai level Buddha diri kita (yang kita butuhkan) masing masing. Kita hanya perlu mengenalinya. Filsafat, agama, patriotisme, hanyalah berhala semu. Arti dari hidup kita adalah apa yang kita lakukan. Membunuh Buddha di jalan berarti menghancurkan harapan bahwa apa yang di luar diri kita bisa menjadi tuntunan atau guru atau kebenaran yang mutlak.”

(Dikutip dari sebagian bab di buku If You Meet the Buddha on the Road, Kill Him! Oleh Sheldon B. Kopp)

Karena Manusia Ndak Sesederhana Yang Dibayangkan Masing-Masing Kita

Ada beberapa pilihan cara menghabiskan uang.

  1. Jakarta menuju Bogor, pilihannya adalah naik commuter line Rp.16ribu, naik Uber Rp.115ribu atau naik Silverbird Rp.300ribu.
  2. Mau makan mie, pilihannya adalah mie ayam Mamang pinggir jalan Rp.12ribu, Bakmie GM Rp.30ribu atau Marutama Rp.80ribu.
  3. Beli kaos oblong  dagadu Rp.150ribu, atau kaos oblong impor seharga Rp.350ribu, atau kaos Kenzo edisi Winnie the Pooh seharga Rp.1,9juta.
  4. Mau nonton film, pilihannya adalah beli DVD bajakan Rp.7ribu, Blitz Megaplex Rp.50ribu, atau Premiere Rp250ribu.
  5. Mau ke Jakarta dari Surabaya pilihannya adalah naik AirAsia ekonomi Rp.550 ribu, naik Lion Rp.800ribu atau naik maskapai Garuda Rp.1,2juta.

Atau ketika kamu ingin beli sepatu lari biar CFD-an makin asoigeboy, bisa membeli sepatu Bata Rp.300ribu, Adidas Rp.1,2 juta, atau Nike Flyknit seharga Rp.2,7juta.

Membeli kosmetik pun banyak pilihan. Cukup Purbasari, Makeup Forever atau SKII atau lainnya yang saya ndak begitu tahu.

Bagaimana ketika menjalin hubungan? Sama! Pilih pacar yang mau diajak naik sepeda bareng, maunya naik motor, atau baru anggukkan kepala jika dijemput dengan Mini Cooper.  Mantaaaap.

Bahkan membeli sepeda pun dari sepeda lipat Dahon seharga Rp.4juta, sepeda lipat Dahon seharga Rp.7juta atau sepeda lipat merk Dahon (juga) seharga Rp.12juta.

Ternyata dalam jalani keseharian kita diberi pilihan untuk menentukan cara kita mengkonsumsi sesuatu, kita akan pertimbangkan masak-masak sesuai isi dompet, atau kebutuhan, atau gengsi.

Lucunya tidak melulu memilih kelas premium akan selalu premium. Ada juga yang kalau pilih kos-kosan cukup dengan kipas angin dan kamar mandi di luar seharga Rp.700ribu sebulan, tapi makan maunya di Duck King dan Sushi Tei, mengenakan gawai apple terbaru, namun kemana-mana pakai jeans seharga Rp.250ribu sudah dapat 4 di ITC. Sebuah pilihan kombinasi yang unik. Ada? Banyak.

Atau memiliki apartemen di SCBD miliaran, namun kemana-mana naik sepeda Rp600ribuan, jam tangan beli di atas jembatan penyeberangan, sukanya makan mie ayam pinggir jalan, namun saat liburan cukup ke Eropa dan sekitarnya. Santorini sudah bolak-balik empat kali.

Karena manusia itu begitu rumit. Jiwanya terkadang berbeda dengan jalan pikirannya. Bicara dan hati tak sesuai. Isi dompet dan gaya hidup bertolak belakang. Ketika melihat perempuan berhijab yang dicari dan diawasi dengan seksama malah bagian dada, dan ketika menyaksikan lenggak-lenggok puan jelita berbikini saja yang diperhatikan adalah bibirnya. Ruwet. Rumit. Ndak jelas manusia itu maunya apa.

A little boy choosing between a cupcake and apple...looks like the cupcake is the winner.

A little boy choosing between a cupcake and apple…looks like the cupcake is the winner.

Punya hape buat ngetik. Punya komputer buat telpon-telponan. Punya isteri malah seperti pembantu, dan ada yang pembantu dengan rutin digarap tuannya layaknya suami-istri. Oh, indahnya dunia realita.

Oleh karena itu, tidak sesederhana jalan pikiran Peppo bahwa isu sensitif berbau sara, terutama etnis dan agama bisa dijadikan tulang punggung peraihan suara. Hasil nyatanya mereka kalah di putaran pertama. Agus, diam-diam menangis sejadi-jadinya. Satu manusia saja begitu ruwet. Apalagi secara jumawa merasa memahami alam selera warga. Suseeeeh, Bok!

Juga tak berarti warga Tionghoa akan selalu memilih pasangan No.2. Atau para kelas menengah Islami memilih pasangan No. 3. Belum tentu. Manusia itu cenderung tak mau diatur.

Lihat saja antara Kalibata dan Depok ada sebuah stasiun kereta yang sampai sekarang masih membandel tidak menyesuaikan namanya sesuai anjuran pemerintah: Stasiun Pondok Cina. Entah yang membandel adalah PT. KAI ataukah memang saya saja yang iseng gunakan contoh stasiun ini yang ndak ngerti apa-apa dan ndak punya salah.

Kakak kandung saya lulusan Arsitektur UGM, namun berkarir sebagai peternak sapi. Adik saya lulusan Manajemen Kehutanan namun sekarang malah jadi translator drama korea. Ini pun tidak sesederhana karena kebutuhan hidup atau garis nasib. Ini adalah hasil dari banyak variabel dan proses pergumulan batin yang melibatkan cita-cita, disiplin ilmu sesuai ijazah, kondisi ekonomi, keinginan orang tua, minat bakat, rasa gengsi dan tanpa nyana plus siapa duga.

Jika ini adalah bagian dari “Free Will“, atau kehendak bebas, ndak juga. Karena kehendak bebas memerlukan pelaku-pelaku rasional. Yakin bahwa tindakan kita rasional? Berapa persen yang gunakan hal lain misalnya perasaan belas kasihan, rasa gengsi, juga ketebalan iman.

Saya pernah menulis di linimasa mengenai topik yang hampir sama, namun beda pendekatan. Saya mengira bahwa soal selera dan gaya hidup akan mempengaruhi pola pikir dan kedekatan emosional. Apalagi soal kondisi ekonomi. Silakan baca di sini. Saya masih meyakini itu, namun semakin ragu belakangan ini.

Manusia tidak hanya didorong oleh motif ekonomi atau syahwat belaka dalam melakukan tindakan. Terkadang ada suatu hal dorongan yang muncul tiba-tiba tanpa rencana. Sesuatu yang jatuh gedebug entah dari mana. Hasilnya? Abrakadabra!

Ketika melihat gadis jelita rupawan bak bidadari, kita tak beranikan diri untuk berkenalan. Merinding. Grogi. Tapi entah kenapa bisa jadi suatu ketika saat di sore hari, bidadari itu pesan Uber dan kebetulan kita pengemudinya. Hasilnya berkenalan secara natural, saling tukar nomor telpon dan akhirnya jadian. Andaikan perkenalan itu karena kesengajaan dan memberanikan diri, bisa jadi hanya salam dan sesudahnya hambar.

Bukankah sungguh mulia menjadikan sopir kita sebagai pacar bila dibandingkan pacar kita menjadi sopir?

Atau contoh lain adalah kita sibuk menabung untuk sebuah tas Goyard. Berbulan-bulan tak makan siang. Ajakan liburan sobat pun ditolak menah-mentah. Uang terkumpul. Pergilah dengan suka cita ke mal. Di sebelahnya ada tas Balenciaga yang lucu. Tapi sayang harganya lebih mahal lima ratus ribu. Bukannya membeli Goyard idaman, pulang-pulang menenteng sekotak sepatu Manolo Blahnik yang tak sedikitpun selama ini terbawa mimpi.

Dasar Manusia!

Salam anget,

Roy’Descartes

 

Rasa Bangga itu Pasti Tersirat

Ada cerita menarik dari seorang teman. Cerita lama, yang terjadi waktu dia berlibur hampir satu dekade yang lalu.

Waktu itu, dia mengambil cuti lama untuk pergi ke beberapa negara di Eropa. Cukup pantas rasanya dia melakukan perjalanan ini, setelah kerja beberapa tahun di sebuah perusahaan barang konsumsi. Dan dia terlihat sangat menyenangi pekerjaannya ini. At least, itu yang kami lihat dari luar. Buktinya, dia betah bertahun-tahun.

Ternyata, something happened di saat liburan itu. Something big, sampai dia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya. Dan tak cuma keluar saja. Dia pun banting setir pindah ke industri yang berbeda sama sekali.

Kami memang jarang bertemu satu sama lain. Namun rasa penasaran membuat saya menyempatkan untuk mengajaknya ketemu dan ngobrol, setelah dia pindah ke kerjaan barunya selama beberapa waktu.

Saya tanya, apa yang sebenarnya terjadi di waktu liburannya.

western-emmet-500x500

“Liburan gue seru, mak. I mean, considering gue sebenarnya lebih sering ke pantai, berenang, sampai diving, ih ternyata gue bisa juga menikmati jalan-jalan ke bukit, gunung, walaupun dingin banget! Ya itung-itung suasana baru.”

“Nah, kan gue pindah-pindah negara tuh. Di salah satu negara, gue stayed agak lama, karena ada temen gue yang tinggal di situ. Terus di salah satu hari, gue diajak ngopi, ketemu ama temennya temen gue. Ngobrol nyante2 aja. Dia nanya, kerjaan gue apa di Jakarta. Ya biasa lah, bok, kalo kenalan, kan ya pasti ditanya, “What do you do for living?” gitu. Ya gue jawab aja, kerjaan gue apa. Udah berapa lama di kantor gue sekarang. Kerjaan itu ngapain aja.”

“Tapi anehnya nih ya, entah kenapa, semakin gue menerangkan kerjaan gue, kok gue semakin gak convincing menjelaskannya. Semacam kayak ada hesitancy gitu, kayak ragu-ragu. Padahal ya selama ini kalo ditanya orang tentang kerjaan, gue lempeng aja jawabnya. Ya gak sampe berbusa-busa ngomonginnya, tapi ya biasa aja responnya. Begitu ini, pas gue menerangkan in detail, kok rasanya malah I started doubting myself.”

“Terus gue cukup sering menghabiskan waktu sendirian di sana. Temen gue kan juga masih kerja ya sehari-hari. Gue mikir, apa ini karena gue lagi di luar negeri, di luar comfort zone, makanya gue bisa mikir yang aneh-aneh.”

Aneh-aneh?

“Ya maksud gue mikir lebih dalam lagi, apa iya selama ini gue bangga ama kerjaan gue. Padahal ya there is nothing wrong about the work that I do. Lha wong kerjaan halal juga. Marketing lho. Dan ya, don’t get me wrong ya, bok, tapi elo juga tau kan that I’m pretty good at what I do. Cuma kenapa masih ada feeling hesitant waktu gue harus menjelaskan ke orang kerjaan gue apa, itu yang bikin bingung.”

minecraft-steve-clipart-mc-man-minecraft-steve-by-00qieh-clipart

“Akhirnya gue bikin check list, kira-kira apa aja yang membuat gue punya keraguan ama kerjaan gue. Bener-bener check list asal aja, gue tulis mulai dari masa depan industri gue sekarang, sampe yang printilan macem suasana kantor, ama gimana rumah gue kalo pas gue tinggal pergi jauh.”

“Ternyata setelah berhari-hari mikir dan bikin check list, akhirnya ketahuan, kalo deep down, gue sebenarnya ragu, apakah kalau emang gue semakin maju dengan karir gue sekarang, gue bisa menghabiskan waktu lebih banyak ama keluarga gue. Anak gue kan sendirian ya, bok, terus ortu gue juga udah semakin tua. Dan kayaknya makin ke sini, kerjaan kok makin menyita waktu gue, meskipun ya I make a good living out of it.”

“Keliatannya simpel emang, kita kerja karena ya kita perlu uang untuk hidup. Tujuan kerja emang buat hidup kok, gue setuju itu. Cuma yang namanya bangga ama kerjaan itu, menurut gue ya, elo gak bisa bohong, gak bisa ditutup-tutupin. Kecuali emang elo aktor paling jago sedunia ya, hahahaha … But most of the time, you cannot fake it. You are either genuinely proud of what you do, or you’re not.

“Sebagian besar dari kita emang gak beruntung bisa ngerjain apa yang kita suka. Dan justru memang kita harus menyukai apa yang kita kerjakan, apapun itu, to survive. Tapi kalau emang ada kesempatan untuk mengerjakan apa yang elo suka, go for it. Selama elo bisa, selama elo gak ada tanggungan, kayak elo sendiri ‘kan ya, bok, so just go for it. Dan jangan kebanyakan hutang, kecuali hutang KPR ama modal usaha! Hehehe.”

(from jenningswire.com)

(from jenningswire.com)

Kami melanjutkan obrolan sampai sore tiba. Setelah itu, pertemuan kami sebatas memberi komentar di status media sosial masing-masing. Kami belum pernah bertemu lagi. Yang saya dengar, dia pun sudah berganti pekerjaan lagi dari pergantian saat kami berjumpa.

Namun saya masih terngiang pesannya, bahwa unless you’re really good at faking it, you cannot fake your pride of your job.

Are we?

Sudah Cukup Ya…

SUDAH ke TPS pagi ini?

Gimana rasanya?

Oh, jangan salah paham dulu. Pertanyaan ini sebenarnya bukan hanya untuk warga DKI Jakarta kok, yang kehebohan Pilkadanya terlampau banter sampai menyebar ke seantero Indonesia, tapi juga untuk kamu di lebih dari seratus provinsi/kabupaten/kota lain yang sama-sama menyelenggarakan pencoblosan hari ini.

Tapi iya sih, meskipun dilangsungkan secara serentak, Pilkada DKI Jakarta kayaknya yang paling “seru”. Menjadi semacam penyaluran dan pelampiasan energi berlebih yang dimiliki banyak orang. Baik kandidat peserta yang tiga pasang itu, apalagi setiap barisan pendukungnya, sama-sama (bikin) riuh. Di semua media pula. Baik yang formal berupa pemberitaan dalam segala bentuknya, sampai di media sosial yang selalu diakses kapan dan di mana saja.

Toh, mainan media sosial seringnya juga fakir kuota. Baru baca judul berita, belum jelas isinya seperti apa, langsung main share-share aja. 😂😂😂 Ibarat sudah teriak paling nyaring, eh enggak sadar ternyata salah isi teriakannya.

Untung hari ini sudah Pilkada. Pasalnya, banyak orang–termasuk saya yang bukan pemegang KTP DKI Jakarta–sangat berharap agar keriuhan tersebut benar-benar selesai di titik ini. Selesai dengan cukup satu putaran saja, sehingga tidak perlu dipanjang-panjangkan lagi. Melelahkan lho, ketika terus terekspose dengan urusan Pilkada ini, walaupun sudah berusaha menghindarinya sedemikian rupa.

Ramai dan seru juga di awalnya, tapi lama-lama terasa menjemukan, menyulitkan, dan mengganggu. Selalu membaca nama-nama para kandidat setiap hari, berita yang dimunculkan ya soal itu-itu melulu. Banyak waktu dan perhatian yang seolah dirampas begitu saja. Scara, aktivitas kita selalu dikelilingi beragam media. Coba saja lihat apa yang terjadi kemarin, pernyataan seseorang, dibalas konferensi pers seseorang lainnya, namun ujung-ujungnya tetap kembali ke urusan Pilkada. Baik yang ditayangkan di televisi, maupun yang di-posting lewat akun pribadi.

LELACH…

Susah dimungkiri, Pilkada DKI Jakarta memang jauh lebih bising ketimbang di seratusan daerah lain. Saking “serunya”, sampai-sampai membuat Indonesia itu seolah cuma Jakarta. Sementara provinsi lain ibarat dusun-dusun yang berada di pinggiran dan cukup ditengok sesekali, atau saat terjadi kehebohan tertentu.

Oke, yang jelas hari ini sudah tanggal 15 Februari ya. Suara-suara tentunya sudah diberikan. Di mana pun kamu sekarang, siapa pun yang kamu pilih dalam pencoblosan, saatnya untuk move on. Tidak perlu menambah keramaian yang impoten; yang tidak menghasilkan faedah apa-apa, lekas menguap begitu saja.

Satu hal yang lebih berguna daripada berisik enggak jelas pasca-Pilkada, persiapkan diri untuk kemungkinan menang atau kalah. Bergembira secukupnya bila jagoannya menang, atau siap menerima kalah dan segera melanjutkan kehidupan.

Tugasmu sebagai seorang warga negara tuntas di dalam bilik pemungutan suara. Apabila mau dipanjangin sedikit, ya barangkali ketambahan pada waktu menjadi sukarelawan saksi penghitungan. Setelahnya, silakan bergabung dengan penduduk yang lain, menjalani kehidupan dengan baik, benar, dan tetap kritis, asal jangan lebay.

Waktu terus bergulir, usia selalu bertambah, kebutuhan-kebutuhan hidup tetap perlu dipenuhi, tagihan-tagihan mesti dibayar, dan ada hal-hal lain yang lebih penting akan bermunculan. Ingat, sefanatik apa pun kepercayaanmu terhadap sang pasangan, kamu tidak menerima gaji sebagai anggota tim pemenangan. Biarkan mereka yang bekerja sesuai job desc. dan slip gaji masing-masing, kamu enggak perlu merasa sok penting dengan ikut-ikutan “kebakaran jenggot” setelahnya.

Kecuali kalau memang enggak punya kerjaan. Itu mah jelas beda ceritanya. Jadi, sudah cukup ya…

Selamat ber-Pilkada, bagi yang merayakan, dan selamat menikmati liburan tambahan di tengah-tengah pekan. Yuk jalan-jalan.

[]

Grammy Yang Membosankan

Pagi tadi baru saja Grammy 2017 tayang. Pemenangnya? Ya dobel L sih alias Loe Lagi Loe Lagi. Sudah lama saya menganggap Grammy ini sebagai hiburan semata. Siapapun pemenangnya pasti ada protes. Grammy yang dihuni NARAS ini memang kurang gaul. Mereka tidak bisa beradaptasi dengan kondisi yang terus berubah. Isinya pasti Adele, Beyonce, Bruno Mars, John Legend, Kanye West. Musisi mainstream banyak yang bilang. Amerika Serikat selain presidennya kontroversial ternyata musiknya pun terbilang stagnan. Coba hilangkan musisi non-Amerika dan Amerika yang berkulit hitam, maka Grammy hanya mempunyai musisi country, yang tentu saja hanya populer di negaranya sendiri. Pemenangnya dari tahun ke tahun terbilang gampang ditebak. Coba silakan Taylor Swift bikin album tahun ini. Tahun depan saya jamin ia akan mendapatkan banyak nominasi.

Wiping off mistake

Makanya di sini saya tidak akan bahas siapa yang menang dan kenapa kalah. Tapi saya akan lebih menekankan kepada bagaimana mereka mengatasi kesulitan teknik ketika mereka manggung live. Memainkan lagu live itu bukan perkara mudah karena penyanyi atau musisi sangat mengandalkan bantuan banyak orang. Kesalahan teknis sering kali terjadi menghinggapi musisi amatir maupun profesional. Untuk itulah dibutuhkan sound-check, gladi resik, atau apapun itu namanya agar ketika mentas nanti kesalahan teknis bisa diminimalisasi. Tapi kadang kesialan tetap menimpa. Itu yang terjadi pada Adele pagi tadi.

Silakan cek dari awal sampai menit satu. Adele terdengar fals. Dia juga menyadarinya sehingga dia meminta para pengiring musik untuk berhenti dan memulai dari awal. Ini tidak mudah ketika jutaan orang sedang menunggu penampilan anda.

Hal ini juga terjadi Patti Smith di acara Nobel Prize Award Ceremony. Ia mengalami kesalahan teknis dan meminta lagu dihentikan. Dan memperbaikinya di kesempatan kedua. Dia meminta maaf dan berkata bahwa dia merasa gugup. Bahkan sekelas Patti Smith yang sudah puluhan tahun pun masih bisa gugup. Tapi kita tetap wajib memberi apresiasi. Karena dengan menyadari dan mengakui kesalahan itu yang terpenting. Bagaimana menyikapi kesalahan itu menjadi jauh lebih bermakna. Penampilan menjadi nomer dua. Berani meminta maaf adalah tindakan yang jujur dan berani. Dalam kejadian apapun. Tindakan ini terkesan gampang untuk diikuti. Namun kenyataannya tidak semua orang bisa melewatinya. Karena terkadang arogansi dan rasa malu lebih menguasai.

Sorry seems to be the hardest word, Elton John pernah berujar begitu dalam salah satu lagunya.