Ndak Paham

Penumpang 9D mungkin salah satu dari sekian banyak orang yang aku ndak paham. Terlalu rumit untuk dilibatkan dalam kehidupan, tapi banyak. Mereka ada di sekitar kita dan suatu hari pasti akan bersinggungan. Di titik ini, dibutuhkan toleransi yang jauh lebih tinggi ketimbang cuma membiarkan Rizieq Shihab bernafas di udara yang sama di tanah air tercinta, Indonesia.

Sumber: Google

SEBATANG LAGI
Beberapa perokok punya prioritas yang berbeda (untuk ndak mengatakan tingkat kecanduan). Ada yang alakadarnya. Ada juga yang menganggapnya sama derajat dengan shalat lima waktu. Kalau belum sebatang, masuk neraka.

Seperti seorang kawan yang mengabaikan panggilan boarding demi “sebatang lagi.” Ia berkilah kalau panggilan boarding biasanya makan waktu sampai pesawat betul-betul bisa diterbangkan. Waktu ini yang ia akan manfaatkan untuk “sebatang lagi.” Penerbangannya dari Surabaya ke Banyuwangi, sekitar 60 menit. Ia keberatan menunda 60 menit dalam hidupnya untuk ndak merokok. 60 menit ini menyangkut dunia-akhirat yang ia perjuangkan. Ndak bisa, “sebatang lagi” deh. Alhasil, pesawat lepas landas tanpa menunggu penumpang yang sedang menikmati “sebatang lagi.”

Aku ndak paham…

MENIKAH
Bukan menikah biasanya. Ya, itu juga aku ndak paham. Tapi ini lebih absurd.

Salah satu keluarga kami kecanduan narkoba kronis. Zat kimia berbahaya itu sudah menyerang otaknya. Merusak sebagain kewarasan. Menyisakan kegilaan kambuhan yang berbahaya.

Kalau kambuh. Ia akan menyerang siapa saja yang ia temui. Kadang ndak kenal lagi keluarga. Melempar barang-barang. Merusak. Bahkan hampir melukai tetangga sebelah. Butuh waktu sampai ia bisa tenang lagi. Entah dengan cara dikekang, diberi obat atau dibiarkan sendiri sampai reda.

Menjelang umur 42 tahun, keluarga kami (yang dituakan tentunya), memutuskan untuk menikahkannya dengan seorang wanita. Alasannya, supaya berkeluarga. Siapa tau kalau punya anak bisa lebih bertanggung jawab dengan hidupnya.

Kata kunci: siapa tau. Keluarga dan anak yang akan ia bentuk adalah keluarga “siapa tau.” Keluarga yang akhirnya pecah karena anak usia 3 bulan yang mereka lahirkan hampir mati di tangan ayahnya sewaktu kambuh.

Aku ndak paham…

dr. YUNI
Semua Orangtua murid sekolah anakku tergabung dalam grup WhatsApp. Termasuk guru wali kelas, kepala sekolah dan dr.Yuni, Ibu dari Evelyna kawan sekelas Sekar.

Grup ini berguna untuk saling bertukar informasi yang penting mengenai kegiatan anak di sekolah. Karena sifatnya dua arah, informasi mengenai anak di rumah pun kadang dibagikan di grup. Atau, beberapa risoles dan pisang goreng buatan mama-nya Albert yang enak banget dan siap dipesan.

Berbeda dengan anggota grup lainnya; dr. Yuni punya informasi yang unik. Aku kutipkan langsung aja:

“Miss Arin, nanti Evelyna dijemput supir saya ya. Saya ga bisa jemput nih, karena ada wartawan dari Wanita Indonesia mau wawancara. Nggak enak nolaknya, soalnya udah janjian lama waktu saya masih kerja di RS Tebet. Terus batal lagi waktu saya pindah ke Bethesda. Kasian juga. Nanti supir saya pakai mobil yang Fortuner keliatannya…”

“Wah keliatannya seru banget ya studi turnya ke Jogja. Sayang Evelyna ga bisa ikut soalnya nemenin saya bakti sosial pemeriksaan gigi gratis di Sukabumi dari Menkes.”

“Miss Arin, saya nanti jemput Evelyna ke sekolah ya. Langsung dari tempat praktek. Jadi ga sempet ganti mobil. Saya sedang pakai mobil yang BMW.”

“Halo, ada yang langganan majalah Wanita Indonesia? Cek deh halaman 23 biar anak-anak terinspirasi sama orangtuanya…”

Aku ndak paham… juga, NDAK PEDULI!

Advertisements

Kebenaran Alternatif

Sulit untuk menerima kenyataan, bagaimana teman-teman dan orang sekitar kita yang selama ini dengan tegas menyatakan dirinya sebagai pendekar keragaman, menuntut dibubarkannya FPI. Bukankah FPI juga bagian dari keragaman? Termasuk hasrat FPI untuk menyeragamkan, adalah bentuk keragaman tersendiri juga. Sejauh apa kita harus melangkah sebelum menyadari bahwa anggota-anggota FPI telah dan hidup berdampingan dengan kita selama ini. Dan setiap posisi yang kita pilih akan menuntut pengorbanan.

Manusia yang selalu mencari rekanan setipe, menggelembung semakin besar. Tentu bukan masalah sampai menganggap gelembung adalah sebesar bola dunia. Karena di saat yang bersamaan ada gelembung-gelembung lain yang juga semakin membesar. Semakin besar sampai bersinggungan satu sama lain. Dalam persinggungan itulah, keyakinan kita pada posisi akan diuji.

Berdasarkan pengamatan, orang-orang yang selama ini lantang berteriak mengenai bahayanya media sosial, dan kemudian juga meremehkan media sosial, adalah juga orang-orang yang paling sensi terhadap dinamika media sosial. Satu postingan, bisa mengganggu pikiran dan perasaannya berhari-hari. Bahkan marah dan terkesan frustrasi.

MATSURI - Xiuyuan Zhang

Yang selama ini merasa paling paham soal kebebasan berpendapat, ternyata juga yang paling kencang menolak pilihan orang lain. Tak hanya mempertanyakan, bahkan juga menghina pilihan berbeda tersebut.

Yang selama ini terlihat peduli pada penderitaan manusia dan binatang sampai di ujung pulau sana, mendadak paling mendukung pada penindasan terhadap yang miskin dan lemah di kotanya. Kemudian menganggap sebagai risiko dari pilihan politiknya.

Yang selama ini merasa bagian usaha membangkitkan kreativitas dan berkarya, bisa lantas menghujat karya yang dianggap tidak sesuai dengan standar moralnya. Lantas menyebutnya sebagai ancaman bagi masa depan bangsa.

Betapa seringnya kita melihat orang-orang yang terganggu oleh demo. Karena mengganggu dan merusak stabilitas kesehariannya. Padahal demo dari kelompok mana pun bukankah harus dianggap sebagai kebebasan berpendapat. Mungkin karena hidup yang sudah nyaman dan stabil sehingga tak lagi butuh perubahan. Sayangnya lupa bahwa tak semua sama. Selamanya akan tak sama.

Bill Bernbach, seorang tokoh periklanan pernah berkata “prinsipmu adalah prinsipmu sampai uang mempertanyakannya”.

Ketika dolar sedang merangkak naik, seorang teman yang bekerja sebagai importir perlengkapan alat kapal tengki berkata “duh neik, ijk mah malah berdoa supaya dolar naik setinggi-tingginya. Ijk terima kan dolar, bayarnya rupiah Cyin…”. Salahkah dia? Tentu tidak. Ini adalah dunianya. Bisnisnya. Ucapan tadi tentunya hanya bisa diutarakan di kalangan terdekat. Bayangkan kalau ucapan tadi dipost di media sosial. Padahal dia hanya jujur menceritakan kehidupannya.

Di perjalanan bersama seorang teman yang selalu memposisikan dirinya sebagai bijak, dihadang oleh sepasukan motor berjubah putih sedang mengacung-ngacungkan bendera. Tak disangka dia bergumam “tolol!“. Tentu ini mengejutkan. Entah apa pun alasannya, tapi bukankah konvoi itu juga merupakan bagian dari keragaman  kota Jakarta yang merupakan tempat bercampurnya beragam jenis manusia.

Lewat tengah malam, seorang teman mengirim WA menceritakan kondisi istrinya yang setelah melahirkan membutuhkan donasi darah. Karena masih dalam suasana Lebaran, stok di PMI sedang kosong. Pesan itu ditutup dengan kalimat “tolong repost dan retweet ya… icon berdoa‘. Dalam perjalanan ke PMI, teringat pendapat teman itu beberapa waktu silam yang diucapkan sambil tertawa sedikit “ngenyek”: “hahaha gue udah matiin akun twitter gue. Ganggu. Yang real-real ajalah! Apalagi itu pasukan celebtweet, ampuuun gak tahan gue belagunya!”

Mungkin semua harus pernah merasakan suara dibungkam karena ras. Pendapat dinihilkan karena orientasi seksual. Karya diberanguskan karena agama. Dan perbedaan ditiadakan dengan alasan politik dan kemajuan bangsa.

Akan tiba saatnya, kebenaran yang satu dibenturkan dengan kebenaran yang lain. Akal sehat yang satu dihadapkan pada akal sehat yang lain. Tuhan yang satu, bersitegang dengan Tuhan yang lain.  Sikap apa yang kita pilih saat benturan itu terjadi adalah yang akan menjadi penentu ke mana hidup dan kehidupan kita selanjutnya.

War-XiuyuanZhang

https://www.psychologytoday.com/blog/supersurvivors/201701/does-truth-still-exist-or-are-there-just-alternative-facts

https://www.psychologytoday.com/blog/evolution-the-self/201606/you-only-get-more-what-you-resist-why

Gara Gara Urbe

Saya mulai memerhatikan sejak kurang lebih satu tahun yang lalu. Tapi kemudian kok akhir akhir ini semakin sering ya. Karena sang anak perempuan telinganya sangat gemar dengan musik Top 40, yang sekarang banyak terdiri dari musik EDM. Saya juga suka sih, dan sering turut bergoyang kalau mendengarkannya. Tetapi ketika saya dengar si anak mulai nyanyi dan saya dengarkan dengan lebih saksama liriknya, ya ampun, mereka kok hampir semua cerita soal seks. Sekarang sih anak sepertinya tidak paham dan tidak peduli juga.

Mulai dari Fifth Harmony Work From Home, yang masih lumayan santai. Lalu ngeh juga dengan lagu dari penyanyi yang saya paling tak suka, Ariana Grande Side to Side, yang ceritanya soal diebru sampai tidak bisa jalan lurus. Sampai sekitar dua bulan belakangan ini (kurang lebih) tambah khusyuk mendengarkan beberapa lagu yang berseliweran di radio top 40 nyaris semua membicarakan soal seks.

Suatu hari kolega saya bilang, “Mbak, kalau lagunya The Weeknd yang I Feel it Coming itu diterjemahkan ke bahasa Indonesia jadi gini ya, aduh udah hampir nih, dikit lagi kelewi.” kami ngakak bareng lalu saya tercenung karena saya ingat sering bernyanyi lagu itu bersama anak. Kemudian tiba-tiba dia sangat menyukai lagu Bonbon oleh Era Istrefi yang membuat saya deg degan dengan lirik akhirnya: “nothing like my honey, but you have to lick it before you can taste.” LORD. Untung kemudian radio edit lagu ini menghilangkan bagian itu.

Belum lagi Hotter than Hell dan Blow Your Mind dari Dua Lipa yang seksi. Tak usah ngomong soal lagu Sexual dari Neiked (judul dan nama penyanyinya saja sudah begitu), ternyata mantan “aktris cilik” Hailee Steinfield juga bicara soal seks di lagu Starving.

Sementara zaman kita dulu standar lagu seksi adalah yang jelas jelas di judulnya ada kata sex, seperti I Wanna Sex You Up, I Want Your Sex (by the great but late George Michael), and the ever cheesy I’ll Make Love To You. Sementara kalau menurut saya lagu paling seksi tahun 90an adalah My, My, My -nya Johnny Gill dan Hey Blue dari The Tony Rich Project 🙂

Jika Anda termasuk dinosaurus dalam hal selera musik, saya sudah membuat playlist di spotify untuk lagu lagu yang saya sebutkan di atas kecuali lagunya Ariana Grande yang saya sebal banget itu.

Aktivitas Hari Ini

Ancaman komunisme itu seperti hantu, tapi radikalisme justru telah nyata

Sepenggal kalimat itu terucap dari seseorang yang sedang berlari mengelilingi Monas pagi ini. Saya mendengarkan sembari mengimbangi kecepatannya dengan mengendarai sepeda. Sekujur tubuhnya berkeringat. Saya membatin, seharusnya mulutnya seharusnya jauh lebih basah kuyup.

“Entah siapa yang memulai dan siapa yang terus menggaungkan suara-suara ketakutan itu akhir-akhir ini. Monster yang terus diberi asupan gizi di benak beberapa pikiran warga. Otak menjadi arena pertarungan antara monster satu dan monster lainnya. Ada monster komunis, ada monster palu arit, ada monster LGBT, ada monster Pancasila, ada monster neolib, ada monster bid’ah, ada monster makar, ada monster tidak naik pangkat, ada monster diselingkuhi, ada monster dikhianati, ada monster  mandul, ada monster membujang sepanjang hayat. Monster yang berkembang biak tergantung bagaimana kita mengambil sikap: membiarkan tumbuh kembang, diternakkan, atau dikebiri hingga hidup abadi tapi tak dapat beraksi”. Tetap. Saya mengangguk-angguk. Saya mendengar. Diam.

Kami sempat menduga imlek seharusnya hari ini. Rintik hujan belum juga berhenti.

“Sepertinya kerukunan itu semakin  menjadi barang mahal di era digital”, teman saya berujar sembari mereguk segelas kopi. Saya justru heran kenapa setelah berlari pagi justru kopi jadi sajian akhir. “Dengan mudahnya jempol lebih gesit daripada lidah. Hape lebih cerewet dari sekelompok ibu-ibu yang mengelilingi gerobak sayur”. Sekarang teman saya mengunyah bakwan. Untuk penganan ini saya ikut bagian.

Sepanjang aktivitas olahraga pagi saya hanya mendengar. Sedikit mendengar, cukup mendengar dan amat sangat mendengar. Semua tergantung konsentrasi. Terkadang terpecah oleh lenggok kepangan mbakyu yang berlari santai, juga suara tentara yang berlari berkelompok seraya meneriakkan lagu-lagu perjuangan, juga milo dingin yang terus menerus ditawarkan penjual minuman cepat saji bersepeda.

Pria ini, yang baru saja berlari mengelilingi Monas tujuh kali, minum kopi dan melahap gorengan dan setia saya temani tak mengenakan arloji, hape, earphone, dan sepatu lari. Ia, berlari dengan seadanya. “Menurut Mas Roy, kita ini sedang apa? Berlari di roda hamster? Atau seperti kita berolahraga mengelilingi Monas, atau menuju garis finish idaman? Atau justru berjalan mundur sehingga seolah-olah kita berlari dan disalip mobil, disalip motor, disalip sepeda, disalip pejalan kaki, dan bahkan disalip tiang listrik?”. Saya tetap dengan posisi semula. Mendengarkan. Bahkan atas sebuah pertanyaan.

Rinai hujan telah usai. Waktunya untuk membersihkan diri dan memulai aktivitas rutin: mencari nafkah. Dalam perjalanan menuju kantor saya berjalan mendahuluinya dengan sepeda.

“Jika ada monster korupsi, monster toleransi, dan monster pornografi diadu sekaligus, menurut Mas Roy, siapa yang menang?”, dia berteriak dari belakang. Saya mendengar. Saya tak menjawab.

“Monster akal sehat pun juga ada”, lanjutnya. “Sayangnya dia telah lama tewas.”

Saya gatal dan tak tahan lagi. Saya putar balik. Sepeda saya arahkan ke Bapak ini. “Kenapa? Dikeroyok monster lainnya?”

Bapak itu tak menjawab dan hanya menggelengkan kepala.

“Dia mati bunuh diri”.

[]

 

Yang Selalu Bikin Bingung Setiap Imlek

ADA berbagai sebutan untuk setiap orang dalam silsilah keluarga (besar) Tionghoa. Mulai dari panggilan untuk sepupunya buyut, sampai adik dari menantu cucu! Sebutannya pun beraneka ragam sesuai sub suku dan asal desa di Tiongkok sana.

Tentu tak perlu menghafal semuanya. Cukup tahu sesuai kondisi keluarga masing-masing saja, yang penting tidak sampai ketuker atau salah panggil.

Meskipun demikian, tetap ada waktu-waktu tertentu ketika generasi muda Tionghoa Indonesia kebingungan dibuatnya. Seperti pada momen Tahun Baru Imlek, saat semua anggota keluarga berkumpul dan saling menyambung silaturahmi. Ironisnya, enggak sedikit generasi orang tua mereka yang juga sama-sama lupa. Alhasil, yang tersisa adalah panggilan “om”, “tante”, “oma”, dan “opa” saja biar enggak ribet.

Contohnya yang di-tweet salah satu teman beberapa hari lalu.

Sekalian baca replies dan mentions-nya deh. 😀

Fenomena ini bukan ancaman sih, ya… semata-mata karena ada kesenjangan budaya dan basically memusingkan saja. Padahal, seru lho… Berasa kayak permainan “Memorize It”, yang mengharuskan kita untuk mencocokkan dua kartu dengan gambar yang sama. Tidak ingat nama itu wajar-wajar saja, yang penting jangan sampai lupa dengan keluarga.

Untuk versi sederhananya, saya sudah buatkan coret-coretan ala kadarnya begini.

struktur-organisasi

 

FAQs

  1. Bagaimana cara membacanya?
    Bagan di atas dibuat berdasarkan perspektif kita sebagai orang pertama. Semua panggilan hanya berlaku bagi kita dan para saudara kandung saja.
  2. Memang harus dibagi dari garis ayah dan ibu ya?
    Sederhananya, pembedaan penyebutan bertujuan agar lebih detail saja. Selain itu tradisi Tionghoa bersifat patrilineal; marga diturunkan dari ayah. Sehingga secara tidak langsung aspek-aspeknya ikut menyesuaikan.
  3. Kok panggilannya banyak?
    Satu posisi hanya punya satu panggilan. Varian yang ditampilkan di atas adalah panggilan-panggilan yang lazim digunakan warga Tionghoa di Indonesia dari berbagai suku (Hokkian, Hokchia, Khonghu/Cantonese, Khe, Tiochiu, dan sebagainya).
  4. Bagaimana cara melafalkannya?
    Semua panggilan di atas tidak ditulis berdasarkan standar Pinyin internasional, dan bisa dilafalkan sesuai bacaan lidah Indonesia.
  5. Kok ada beberapa panggilan yang enggak sesuai dengan standar Mandarin internasional?
    Kembali ke jawaban nomor 2.
  6. Kalau jumlah kakak atau adik lebih dari dua, gimana nyebutnya?
    Warga Tionghoa biasa membedakan penyebutan per angkatan dengan menambahkan istilah “yang tertua” dan angka sesuai dialek masing-masing.
    Misal: mama punya tiga kakak cowok. Kakak tertua akan kita panggil “Toa-kiu” (大舅; 大: besar, tertua), istrinya pun dipanggil “Toa-kim/Toa-king” (大妗). Kakak kedua bisa dipanggil “Ji-kiu/Er-kiu” (二舅; 二=2), istrinya dipanggil “Ji-kim/Er-kim”. Kakak ketiga dipanggil “Sa-kiu/Sa-ku” (三舅; 三=3), dan istrinya dipanggil “Sa-kim” persis seperti contoh tweet di atas.
    Selain angka, bisa juga menggunakan nama panggilan untuk membedakan satu dengan yang lain. Bisa diambil dari nama Tionghoa maupun nama Indonesia/internasional, dan ditempatkan setelah sebutan kedudukan.
    Misal: “Koko Aming“, “Cie-cie/Cece Stefanny“, “Apak Ahong“, “Shu-shu Jeremy“, dan lain-lain.
  7. Kalau salah panggil atau ketuker, ada hukumannya ya?
    Enggak ada sih. Paling-paling kamu bakal dapat kuliah singkat mengenai silsilah keluargamu. Si ini anaknya siapa; si itu pamannya si ono; yang ini sepupunya yang itu; dan seterusnya. Kalau kamu betah dengar yang begituan, ya silakan saja.
  8. Kok enggak ada daftar panggilan untuk angkatan keponakan, cucu, menantu, dan seterusnya?
    Kepanjangan! Lagipula ini kan konteksnya Tahun Baru Imlek. Keponakan, cucu, menantu, dan seterusnya itu enggak bisa kasih angpau. Jadi, nanti-nanti aja lah.
  9. Kok enggak boleh kasih angpau?
    Pertama, mereka adalah generasi di bawah kita. Kedua, mereka juga belum menikah. Ketiga, kalau mau kasih ya kasih aja, tapi bukan angpau namanya. Hadiah, santunan, atau sumbangan!
  10. Kok panggilan kakek dan nenek buyut dari ayah dan ibu sama?
    Meneketehe! Di Tiongkok sana sih ada perbedaan penyebutannya ya, tapi kalau di Indonesia umumnya cuma pakai dua panggilan sampai sejauh ini. Pokoknya sama-sama buyut aja. Terus, mau tanya apa lagi?!

Punya panggilan lain selain yang disebutkan di atas, atau ada yang keliru? Boleh bagi dong, biar ditambahkan atau dikoreksi. Terima kasih.

Anyway, Happy Chinese New Year! 🙂

[]

Menguji Tingkat Adiksi

Portugal, seperti yang telah kita ketahui sejak tahun 2001 sudah mendekriminalisasi narkoba. Artinya pemerintah Portugal sudah menganggap para pengguna narkoba adalah bukan kriminal. Apa hasilnya? Sekarang tingkat ketergantungan dan para pengguna yang meninggal karena narkoba grafiknya terus menurun. Ini bisa dibilang sebagai keberhasilan dan tidak semua negara bisa menerapkan kebijakan ini.

drugs

Sementara sebaliknya di Filipina malah sebaliknya. Duterte menyatakan perang terhadap narkoba semenjak dia menjadi presiden. Dia bahkan memperlakukan para pengguna dan bandar narkoba seperti penjahat perang. Sudah enam ribu orang yang meninggal, terhitung dari bulan Juni 2016. Artinya setiap bulan lebih dari seribu orang meninggal. Bukan karena over dosis, tetapi karena ditembak mati oleh penembak misterius, tidak melalui proses hukum. Semuanya dilakukan secara misterius. Masih ingat dengan petrus di jaman Orba? Ketika para preman bertato banyak yang bersembunya karena takut didor.

drugs2.jpg

Yang mau digaris bawahi di sini metode mana yang mau kita pakai. Apakah Portugal atau Filipina. Saya pribadi memilih Portugal. Mereka sudah terbukti dengan mendekriminalisasikan narkoba justru mereka berhasil menekan banyaknya pengguna. Memperlakukan manusia sebagai manusia. Perang terhadap narkoba itu sudah terjadi lama dan narkoba itu akan tetap ada selama ada pembeli dan penjual. Sama halnya dengan prostitusi. Tapi memang sifat ketergantungan itu terjadi pada setiap manusia. Berbagai hal. Kita bisa ketergantungan terhadap media sosial. Pernah satu minggu hidup tanpa media sosial atau internet? Saya ragu. Selama kita tidak bisa menghentikan melakukan sesuatu padahal harus atau ingin maka anda sedang kecanduan. Hal apa saja. You name it.

Untuk kasus Filipina, tampaknya kita harus menunggu lebih lama. Apakah metode yang dia terapkan berhasil atau justru menjadi bumerang terhadap dirinya. Seandainya dia sudah tidak menjadi presiden, Duterte tidak akan tenang menjalani sisa hidupnya. Karena rasa dendam itu pasti ada. Saya tidak akan kaget jika dia pun akan mengalami hal yang sama seperti para terduga pengguna dan bandar narkoba yang dia habisi. Tewas ditembus timah panas.

Teman, Buku, dan Bonus Umur

SAYA harus melanggar slogannya LINIMASA. Kali ini saya ingin menulis dengan rujukan data. Tapi tetap aja sih, yang membawa saya ke sumber data-data itu adalah perasaan juga. Gimana, dong…..

Ini bermula dari kerepotan saya harus pindah tempat tinggal. (Itu juga alasan kenapa beberapa kali saya harus membolos dari jadwal menulis di  sini. Maafkan….).  Karena kantor tak lagi menanggung biaya tinggal di kota Jakarta ini, maka saya harus mencari rumah yang lebih masuk akal, secara bujet dan jenisnya.

Hampir empat tahun di apartemen sebenarnya kami bertahan dengan membetah-betahkan diri. Sejak semula kami berpikir ini hanya untuk sementara. Setelah tugas kuliah saya selesai, ya sudah, selamat tinggal Jakarta dan apartemenmu yang “nggak gue banget”.

Kenikmatan yang bagi kami hilang sejak awal di aparteman yang kami tempati adalah: kami tak bisa memelihara kucing. Padahal kami sekeluarga adalah pencinta kucing. (Anak bungsu bisa pulang dari pasar membawa kucing karena dia kasihan melihat kucing itu tersia-sia).

Usaha untuk mendapatkan rumah ternyata bukan perkara gampang. Jodoh-jodohan, kata agen properti yang akhirnya dari dia kami mendapatkan rumah yang cocok. Hal pertama yang kami lakukan adalah mengadopsi seekor anak kucing kampung!

Ketika berkemas-kemas kami menyadari barang terbanyak yang harus dibawa adalah buku! Lebih dari separo dari jumlah kardus pindahan terisi  buku. Kami ingin mencari pembenaran ilmiah atas ‘perilaku’ kami ini. (Bukan! Bukan karena kami merasa bersalah atas kenyataan itu!)

  1. Saya kira cara terbaik menyukai buku adalah dengan menganggap pengarangnya sebagai teman. Dan rasanya itulah yang saya lakukan. Dengan demikian membaca menjadi seperti mendengarkan seorang teman bercerita.  Dan itu menyenangkan. Tentu saja kita harus dan boleh memilih siapa orang yang menjadi teman kita.
  2. Berapa orang yang mampu kita kenal? Menurut penelitian yang disiarkan New York Times, kita bisa tahu hingga 600 orang. Tapi sepandai-pandainya kita bergaul, rata-rata kita  hanya menjalin relasi dengan 290 orang. Dan hanya 25 orang teman yang kita percaya. Jadi, buku memungkinkan kita memperluas jaringan “pertemanan” yang kita percaya.

  3. Teman adalah anggota keluarga yang kita pilih. Klise? Mungkin terdengar begitu, tapi sebuah penelitian yang rujuk artikel di Science Focus di lagi-lagi menunjukkan bahwa pernyataan itu ilmiah. Kesamaan genetik kita dengan sepupu empat kali secara kasar tinggal satu persen. Dan ternyata dengan siapapun di dunia ini, kita punya kesamaan genetika satu persen!  Dan kita memilih teman di antara para sepupu jauh itu.

  4. Kawan dekat membuat kita berumur lebih panjang. Ada 1.500 orang diamati di Australia. Parameter pengamatan salah satunya adalah intensitas dan jumlah pertemanan. Setelah sepuluh tahun diperoleh data dan disimpulkan mereka yang punya lebih banyak jaringan kawan dekat berusia lebih panjang.

  5. Membaca buku – seperti menjalin hubungan dengan teman dekat – ternyata juga membuat kita panjang umur. Oke-oke, saya pakai data lagi. Ini hasil penelitian di lembaga Social Sciences & Medicine yang melibatkan 3.635 orang berusia di atas 50. Mereka yang membaca buku rata-rata hidup dua tahun lebih lama daripada mereka yang sama sekali tak membaca. Dua tahun? Yah, lumayan kan?

  6. Tengo, karakter pengarang dan guru matematika dalam novel, ehem, Haruki Murakami 1Q84, hanya membaca novel-novel pengarang yang sudah meninggal. Ini adalah pilihan. Saya menjalin pertemanan yang rasanya tak mungkin terjadi jika saya tidak membaca buku pengarang yang masih hidup. Jadi, selain menjadi teman, buku juga menjadi jalan untuk mendapatkan teman, yaitu pengarang buku tersebut. (Eh, tentu saja saya juga membaca karya pengarang yang sudah meninggal, tanpa pikiran apa-apa, dan sama sekali tak memperhatikan itu sebelum membaca novel Murakami).

Baiklah,  di rumah yang baru kami tempati, rasanya kami akan tetap menambah ‘kawan-kawan’ baru. Akan selalu ada buku baru di rak buku kami. Bahagia juga rasanya menemukan data penelitian yang mendukung kecintaan kami pada buku. Kapan pun nanti ajal menjemput, saya akan menyukurinya dan mengatakan bahwa seharusnya itu datang dua tahun lebih cepat, dan itu karena buku! (Lain kali saya akan coba cari data apakah memelihara kucing juga bisa membuat kita panjang umur…).

 

 

 

 

 

Nevermore

Dari mulai bangun tidur, semua seolah menjerit meminta perhatian. Akun socmed yang itu, kemudian yang satu lagi menampilkan notifikasi juga. Belum lagi beberapa notifikasi dari berbagai aplikasi berita yang mendorong beberapa “breaking news” dengan judul yang bombastis. Kemudian beberapa grup percakapan yang kita punya juga ternyata semalam sudah terlibat dalam diskusi yang terlewat karena sudah tidur duluan.

Pagi ini sejak bangun, lalu minum kopi, bersiap dan di kendaraan pun penuh dengan berusaha memeriksa dan menjawab semua yang berebut mencari perhatian. Ketika sampai di kantorpun, sebenarnya belum selesai, tetapi ya sudahlah harus mulai bekerja. Begitu membuka To do list dalam pekerjaan, semua juga seolah minta jadi prioritas. Belum lagi surel dari beberapa divisi lain meminta ini itu yang membuat bingung harus dimulai dari mana. Akhirnya tetap harus dipilih prioritas, yang ketika sedang mengerjakannya pun tetap ada yang menghampiri secara fisik dan meminta tugas darinya untuk jadi prioritas. Baiklah dikerjakan dulu, toh, tidak memakan waktu terlalu banyak.

Tiba waktu makan siang, dan digunakan untuk membaca sedikit berita atau update socmed yang tadi pagi tidak sempat dibaca. Pekerjaan diteruskan setelahnya.

Waktu perjalanan pulang pun diisi dengan hal yang sama ketika berangkat. Kali ini tidak berhenti ketika sampai di rumah, bahkan ketika siap tidur. Rencana tidur lekas karena besok harus bersiap lebih pagi pun terlupa karena jari yang scroll berita atau feed dari socmed yang ternyata cukup mengasyikkan diikuti, apalagi kalau ada kontroversinya. Tanpa sadar anak sudah tidur, dan kita belum sempat mengobrol banyak dengannya, hanya sekadar bertegur sapa. Begitu jam menunjukkan waktu lewat tengah malam, tak lama kantuk pun datang dan tertidur.

smartphone-addiction-illustrations-cartoons-5__605

Ini menggambarkan hari saya ketika entah mengapa saya sedang ingin terhanyut dengan segala berita dan kehebohan yang terjadi sekarang, baik lewat media sosial maupun media. Semua notifikasi penyedia berita pun saya nyalakan. Lalu hasilnya apa? Saya tidak tambah pintar, malah lebih sering menyumpah dalam hati. Buku yang sedang saya baca sudah beberapa hari tak maju-maju. Saya jadi jarang sekali mengobrol dengan anak. Hanya karena saya tidak ingin ketinggalan pembahasan. Apakah masih akan dilakukan? Tentu tidak. Cukup.

SangaTips

Jika bising digital merambah hubungan personal dapat diartikan bahwa piranti elektronis dan segala fiturnya semakin melekat dalam kehidupan kita sehari-hari. Kisruh ini hadir setelah munculnya peraturan yang menyambung dunia maya dengan realita lewat UU ITE. Apa yang terjadi di layar hape dapat digubah menjadi laporan polisi. Lalu apa yang sebaiknya dilakukan oleh warga pengguna internet?

  1. Gunakan akun anonim, atau
  2. Posting seperlunya, karena
  3. Medsos bukan tempat sampah, dan ingat
  4. Hindari skrinkep postingan orang lain, serta
  5. Jangan telanjang depan kamera,
  6. Jika jurnalisme dibungkam, sastra bicara, karena
  7. Batasan privat dan publik sudah tak ada lagi
  8. Banyak hal menarik di bawah langit, misalnya
  9. Menatap binar mata lebih menarik dari sekadar menatap layar hape.

NEW FINAL WISE VISUAL-simplified

Akun anonim berguna untuk mencegah riya dan perbuatan yang dapat mengganggu kredibilitas kita. Kawan dan lawan batasannya setipis kondom. Begitu getas untuk berpikir jernih mana yang patut disuarakan. Ada baiknya lebih banyak mendengar dan membaca daripada bicara dan menulis hal-hal yang sensitif. Bukan bersembunyi dalam sebuah identitas. Melainkan akal sehat dan hati jernih tetap setia kepada tanpa pamrih.

Jika kita mengunggah sesuatu pastikan itu adalah hal yang perlu. Jangan pernah meremehkan satu karakter. “Kami” bisa jadi “kamu” hanya karena jempol terlalu tergesa-gesa menulis. Siap menjadi sial. Turut berduka dan bersuka. Nemenin dan nenenin. Konyol dan kontol. Karena akhir-akhir ini lebih banyak yang makan soang, makan bakso tahi. Juga Adzab subuh dan anjuran untuk perbanyak anal.

Medsos itu penyebar informasi yang efisien. Satu kelahiran kalimat bisa berlari kemana saja. Garis finish-nya masih misteri. Bahkan tanpa ujung. Karena medsos itu bagai energi. Terus kekal dan hanya berubah format. Kita semakin rajin saja melahirkan zombie.

Juga ndak perlu iseng punya kegemaran skrinskep postingan teman, sahabat, pacar apalagi lawan. Yang saya tahu, saat ini Tuhan sedang menimbang-nimbang apakah skrinkep bagian dari dosa kecil. Karena selayaknya pencuri, mengambil sesuatu tanpa permisi.

Telanjang juga jangan menjadi hobi. Telanjang baik secara fisik maupun secara mental. Payudara dan arogansi itu seimbang di mata netizen. Baper, caper, dan laper itu semacam ngomel sembari ngemil sekaligus ngemol. Wajah dan tubuh kita adalah tiang bendera yang harus dijunjung tinggi ketika sedang ada yang berkibar. Selfi diperkenankan tapi jangan disebarkan terlalu dini, apalagi berkali-kali.

Pun jika tak tahan lagi ingin berkomentar negatif. Lakukan dengan kiasan dan penuh metafora. Karena apapun yang kita tulis, akan ditafsirkan secara bebas oleh pembaca. Semacam sperma yang lepas di mulut rahim. Entah bagian mana yang akan membuahi telor. Kita hanya mengeluarkan. Soal akibat, siapa sih yang dapat menentukan?

Ketika televisi hadir pertama kali, maka ia menjadi ancaman karena merangsek melewati pagar rumah dan dinding kamar. Apalagi gawai dan sambungan internet. Ia hadir di genggaman. Ketika kita menulis sesuatu berarti kita membiarkan ia menjelajah ruang dan waktu hingga sumsum tulang belakang.

Ada baiknya kita kembali seperti dulu. merayakan hadirnya matahari, hempasan angin, dan debu beterbangan. Karena di bawah langit adalah hiburan nyata yang patut dinikmati. Tak ada godaan eksistensi dan kemashuran disana. Justru kerdilnya kita di sebuah titik galaksi yang melayang-layang. Kita terbang naik kendaraan bernama bumi. Sudahkah anda berkeringat hari ini?

Karena yang terbaik adalah saling tatap dan bertukar udara. Ada hal yang tak ditemukan dari sebuah layar hape. Deru nafas. Aroma tubuh. Kerling mata yang menghujam ulu hati. Sentuhan jemari pada kulit. Apalagi pagutan mesra pada bibir.

salam anget,

GusRoy

Data Kejujuran

Waktu saya baru lulus SMP, dan mau masuk SMA, keluarga kami memutuskan untuk pindah ke luar kota. Pertimbangannya adalah waktu yang pas: adik saya mau masuk SD, kakak saya baru masuk kuliah, sehingga ibu memutuskan untuk pindah ke kota tempat ayah bekerja. Namun saya menolak ikut pindah. Maklum, usia remaja tanggung. Sering menghabiskan waktu bersama teman-teman di luar rumah, sehingga takut kehilangan teman-teman sepermainan.

Saya merengek tidak mau ikut pindah. Ibu saya bersikeras, bahwa kepindahan kali ini tidak bisa ditunda lagi. Akhirnya ibu saya mencari jalan tengah.

“Coba kamu bikin daftar alasan kenapa kamu mau tetap di sini terus.”

Saya bingung. “Daftarnya kayak gimana?”

“Ya kamu tulis di atas kertas. Kamu tulis, dikasih nomer, alasan-alasan apa saja yang membuat kamu nggak mau ikut pindah dan sekolah di sini.”

Saya ambil kertas kosong dan bolpoint. Saya bingung mau menulis apa. Akhirnya saya tulis saja sekedarnya.
Saya tulis, “masih mau main sama teman-teman”, “sudah tahu mau daftar SMA di mana”, “nggak suka sama kota baru nanti”, “sudah hapal jalur angkutan umum ke sekolah”, dan sebagainya.

Beberapa jam kemudian, saya menyerahkan daftar itu ke ibu saya. Di sela-sela mengemas barang pindahan, dia hanya melihat sejenak daftar itu. Lalu dia membantu saya untuk merapikan daftar itu.

“Sekarang, kamu bikin dua kotak. Yang kiri, kamu tulis Pro. Itu berarti kamu tulis, kira-kira apa untungnya kalau kamu ikut pindah. Yang kanan, kamu tulis Con. Itu artinya Contra. Itu berarti kamu tulis, kira-kira apa kerugiannya kalau kamu ikut pindah.”

Saya membuat dua kolom itu sekedarnya. Saya tulis saja di bagian kiri “kalau ikut pindah, tinggal sama ortu”, “tinggal satu rumah”, “ada yang masakin”. Di bagian kanan “pisah dari temen”, “nggak siap sama lingkungan baru”, dan lain-lain.

Setelah melalui omongan berhari-hari, akhirnya ibu saya pun merelakan saya tidak ikut pindah. Syaratnya, saya harus pindah dari rumah kami yang akan disewakan, dan harus tinggal sendiri, atau nge-kost.

Saya pun menerima keputusan itu dengan senang hati. Yang terbayang hanya rasa senang. Belum terbayangkan akan kelimpungan sendiri mengatur keuangan pribadi, terutama saat akhir bulan.

(courtesy of hbr.org)

(courtesy of hbr.org)

Cut to beberapa belas tahun kemudian. Saya sedang mengalami dilema besar, harus mengambil keputusan di antara dua pilihan yang tidak bisa dijalani bersamaan. Akhirnya, mau tidak mau, setelah curhat dengan beberapa orang belum bisa mencairkan pikiran, kembali saya mengambil buku catatan.

Saya buka lembar kosong pertama yang saya temukan. Saya tulis “Why”. Kenapa saya harus memilih. Poin pertama, cukup saya tulis, “I no longer have the heart in it.” Sekenanya saja saya menulisnya.
Setengah jam kemudian, kertas itu sudah terisi penuh dengan tiga puluh poin pendek alasan saya harus memilih.

Satu jam kemudian, tak hanya kertas itu yang terisi. Di lembar-lembar berikutnya, masing-masing halaman sudah terisi penuh dengan heading “Pro”, “Con”, “Exit Plan”, “Possible Outcome”.

Dan di saat seperti ini, rasanya saya paling bisa jujur ke diri sendiri.
Karena rugi kalau tidak jujur saat berdialog menentukan nasib dan hidup.

Selain ngobrol dan berdoa, ternyata membuat daftar-daftar pendek saat kita harus memilih ini sangat membantu. Seremeh apapun isinya. Saya bisa menulis “karena sebel liat mukanya” atau “bawaannya pengen marah melulu” saat mendata apa saja yang saya rasakan selama ini di suatu kasus. Atau bisa saja tulisannya sekedar “udah bosen”.

28290-di3-making-decisions-work-220x207

Mendata apa saja yang kita rasakan ternyata membantu kita mengambil keputusan. Asal jujur, unfiltered dan apa adanya.

Dan proses mencatat, bukan mengetik, tapi menulis dengan tangan, memudahkan kita untuk semakin ekspresif. Kita bisa kaget sendiri melihat apa saja yang bisa kita tuangkan dalam waktu sejenak. Kita bisa terkejut dan takjub atas pemikiran kita yang selama ini kita pendam.

Hopefully by then, keputusan yang kita ambil adalah keputusan yang terbaik setelah kita mendata apa yang kita rasakan selama ini.

At least, we are finally honest to ourselves.

In the Mood for Love.

In the Mood for Love.

Nasihat Asmara: Klise, tapi Tak Pernah Basi

BEBERAPA petuah asmara dari seorang teman. 

  1. Jangan terburu-buru.

Hidup kita dipenuhi dan dipengaruhi keputusan-keputusan penting, termasuk untuk urusan yang satu ini. Oleh karena itu, jangan terburu-buru menggebet atau mengejar seseorang jadi pacar. Apalagi untuk kamu-kamu yang masih muda dan leluasa. Santai aja, nikmati semua prosesnya.

Dengan tidak terburu-buru, hindari “investasi” yang buruk dan bisa bikin menyesal. Iya, ini mirip investasi. Ada waktu, tenaga, pikiran dan kreativitas, serta uang yang disisihkan demi bisa saling terikat pada seseorang.

Tidak terburu-buru, bukan berarti tidak melakukan apa-apa.

  1. Sikap dan pembawaan di depan gebetan berbeda 180 derajat dibanding kalau di depan teman. Karena itu…
  1. Penting untuk mengenali siapa teman-temannya.

Kita cenderung berkumpul dan berkawan dekat dengan orang-orang yang memiliki kesamaan tertentu. Dengan mengenali, atau minimal tahu lingkar pergaulan sang gebetan, ada informasi tambahan yang melengkapi gambaran tentang dirinya.

  1. Kalau masih PDKT, masih jaim-jaim, enggak enakan, ngalah-ngalahan sampai awal jadian.

Jaim; jaga image itu wajar banget. Setiap orang tentu ingin terlihat atau terkesan baik di mata orang lain, terlebih di depan gebetan.

  1. Kalau sudah tiga bulan ke atas baru bisa ketahuan.

Sekuat-kuatnya bersikap jaim, pasti bakal luntur juga. Secepat-cepatnya dalam waktu tiga bulan.

Enggak cuma saat sudah jadian, tapi juga bisa kelihatan ketika masih PDKT-an. Disengaja atau tidak, satu demi satu hal mengejutkan akan ditunjukkan. Baik yang menyenangkan dan romantis, maupun yang bikin ilfil.

Nah, kalau saling nyaman dengan kebiasaan dan kehendak satu sama lain, biasanya sih bakal cocok.

Ini berlaku dua arah lho ya. Bisa dari apa yang kita lihat pada dirinya, begitu pun yang dia lihat dari kita.

Foto: favim.com

Foto: favim.com

  1. Kalau sudah jadi, jalani dulu.

Kalau enggak dicoba kan enggak tahu.

  1. Kalau cocok setelah 3 bulan, terusin!

Susah cari pacar zaman sekarang. Jangan terlalu demanding deh. Saat ada masalah…

  1. Usahakan cari tahu dan kenali sendiri, omongan orang lain belum tentu benar.

Berlaku untuk yang masih PDKT-an, maupun yang sudah jadian. Mau kabar baik atau buruk, jangan terlalu gampang percaya kata-kata orang lain. Usahakan cari tahu sendiri, setidaknya dengan menanyakan langsung dan meminta konfirmasi. Soalnya…

  1. Waspadai orang yang iri dan dengki, tapi…
  1. Semua orang bisa berubah.

Perubahan bisa terjadi dari baik menjadi buruk, juga sebaliknya. Ada yang baik dan manis banget waktu masih PDKT, ternyata kampret abis setelah jadian, atau malah ketika sudah menikah. Makin amsiong*, kan?

  1. Testimonial paling valid berasal dari mantan.

HAHAHA! Bener banget. Asal jangan lupa…

  1. Namanya mantan pasti punya rasa kesal, benci, dendam.

Silakan cermati dan pahami semua informasi yang didapat. Jadilah seseorang yang selektif. Asal, jangan mentok, jangan gamang, terlalu ragu-ragu dan takut, karena…

  1. Kalau terlalu banyak dengar orang, bisa jomblo kelamaan.

Mau?

Foto: whisper.sh

Foto: whisper.sh

  1. Jangan terlalu baper

Merasa baper itu wajar, asal jangan sampai kelewatan. Mustahil untuk menghilangkan perasaan, tapi bukan berarti kita harus terus menerus dikalahkan perasaan. Dengan tidak baper, seseorang bisa lebih kuat dan bangkit dari keterpurukan.

Diputusin pacar? Yaudahsik. Mau digimanain, enggak bakal balikan juga.

Lihat mantan jalan sama gebetan barunya? Yaudahsik. Mau disabotase? Supaya apa? Supaya gagal jadian? Terus, habis gitu mau ngapain lagi? Keren enggak, norak iya.

Jangan terlalu baper ini juga berlaku secara luas. Ketika pacar atau pasangan sudah menunjukkan sikap dan gelagat kurang baik saat masih berhubungan, daripada didiamkan, menggantung, dan dibiarkan bikin sakit hati, mending dihadapi dan diselesaikan. Kalau selesai ya syukur, kalau kelar (baca: putus) yaudahsik. Mending sedih-sedihan sekarang ketimbang benar-benar menyesal kemudian.

Being too baper won’t make you better anyway.


Nasihat-nasihat di atas bisa dibaca secara berurutan sebagai sebuah rangkaian proses, ataupun sendiri-sendiri. Klise sih, tapi ya… tetap aja banyak yang suka lupa. 😀

[]

  • Luka dalam.

Antara Bumi Datar Donald Trump Dan FPI

Saya mau curhat. Saya lagi sedih. Saya sudah tiga kali ditendang dari grup Facebook Komunitas Bumi Datar. Jangan tertawa. Saya serius. Tapi sebenarnya saya lebih sedih kenapa kebodohan semakin merajalela di Indonesia. Dunia pendidikan Indonesia mempunyai pekerjaan rumah yang sangat berat untuk mencerdaskan bangsa. Grup ini sangat militan dan bebal. Tidak menerima kritik. Vokal sedikit anda akan direndang. Tidak peduli sevalid apapun teori yang anda ajukan. Grup ini berisi sekumpulan abege. Usia yang rawan sebetulnya. Sayangnya mereka sudah terhasut oleh dogma dari video di Youtube. Komunitas ini sudah lama ada di luar negeri sana. Tetapi baru satu dua tahun terakhir wabah ini menjangkit di Indonesia. Argumen mereka tidak masuk akal. Tapi lucunya banyak yang percaya. Padahal jika saja mereka sedikit banyak membaca tentunya ini tidak akan terjadi. Teori yang dibalut unsur agama, penghapusan sejarah Islam dan ditambah sedikit dongeng konspirasi elit global maka mereka terjerat masuk ke dalam ideologi konservatisme dan anti-intelektual.

FE1.jpg

 

Sampai bulan November 2016, sebelum hasil pemilu rilis, semua orang mengolok-olok Donald Trump. Tidak ada yang percaya kalau ia akan menjadi Presiden Amerika Serikat. Pernyataannya yang rasis, misoginis, anti intelektual. Kampanye yang sangat kotor dilakukan oleh kedua belah pihak. Tapi apa yang terjadi? Donald Trump menang. Hillary gigit jari. Donald Trump tahu bagaimana Republikan berpikir. Tahukah kamu kalau menurut polling lebih dari 50% rakyat Amerika percaya kalau Obama adalah muslim? Lebih dari 50% rakyat Amerika juga percaya kalau Obama tidak lahir di Amerika? Ini adalah hasil dari propaganda dan fake news yang disebar oleh grupis Trump di media sosial terutama Facebook. Sekarang apa yang bisa dilakukan oleh Demokrat dan pendukung Hillary yang sakit hati? Terus misuh-misuh di setiap kesempatan. Sudah terlambat sayang. Kereta sudah berangkat. Sebentar lagi presiden kalian adalah Donald Trump. Lalu siapa yang tertawa sekarang?

fe-trump

 

Masih ingat dengan Brexit? Semua menertawakan referendum untuk memutuskan Inggris keluar atau tetap bersama Uni Eropa. Gagasan yang diprakarsai oleh UKIP, partai sayap kanan yang konservatif pimpinan Nigel Farage ini ternyata laku. Hasil referendum memutuskan Inggris harus keluar dari Uni Eropa. Theresa May menjadi Perdana Mentri. Menjadi kulit putih belum tentu pintar. Banyak dari mereka yang bodoh. Kamu kira kata barbar dari mana asalnya?  Gejala ini juga ada di sebagian negara Eropa lainnya. Di Perancis, Belanda, Jerman pun sudah ada. Australia pun begitu. Negara Timur Tengah tidak usah kita bahas. Lalu siapa yang tertawa sekarang?

kkk-fe

Kita bisa lihat jika sekarang bandul sedang mengayun kencang ke kanan. Embrio ini sudah ada dari dulu. Menunggu momen yang tepat. Momen itu ada di Pilkada DKI. Koq bisa? Jika anda penggiat media sosial, anda bisa melihat gejala ini. Fanatisme buta sedang menjadi tren. Sentimen agama sedang mencuat. Kita lihat bagaimana Riziq Shihab (maaf saya tidak akan panggil dia Habib) dengan FPI-nya yang setahun lalu mungkin masih dibenci tapi sekarang dia bisa meraih simpati sebagian rakyat Indonesia (entah kenapa saya selalu ingat ke Ku Klux Klan jika membayangkan FPI). Grupisnya sekarang tidak malu-malu untuk membela. Sekontroversial apapun pernyataannya beliau akan mendapatkan simpati. Pernyataan rasis adalah hal yang biasa. Sentimen anti komunis atau anti China adalah alat yang justru meraih simpati. Anomali? Tidak. Nasionalisme dan konservatisme perlu musuh. Ini adalah salah satu komponen yang harus dipenuhi. Musuh itu tidak perlu ada. Musuh itu bisa imajiner. Musuh itu hanya ada di pikiran anda. Karena kalau kita berpikir logis, untuk apa kita takut komunis? Cina sudah mempunyai bursa efek versi mereka. Mereka sudah tidak murni komunis. Mereka sudah sosialis yang menjurus ke kapitalis. Korea Utara mungkin yang masih murni komunis. Tapi apa yang harus kita takuti dari Kim Jong-un? Toh rakyatnya saja banyak yang kelaparan. Komunisme sudah hancur bersamaan dengan runtuhnya Tembok Berlin. Yang perlu kita takuti adalah ideologi nasionalisme konservatif yang relijius. Kenapa? Karena ini adalah bibit-bibit dari fasisme.  Cuma kurang satu elemen lagi untuk menuju ke sana. Apa itu? Militerisme. Sudah keliatan ya? Puzzle-nya sudah ada semua. Tinggal kita kumpulkan dan susun. Maka monster bernama fasisme itu akan terlihat.

“Ignorance leads to fear, fear leads to hate, and hate leads to violence. This is the equation.” – Abu’l-Walid Ibn Rushd / Averroes (1126-1198)

Saya bisa saja tidak peduli dengan hal ini. Sikap “yaudalah biarin aja” masih menghinggapi sebagian dari kita.Yang penting bukan kita yang gitu. Silakan berpendapat demikian. Tetapi ketika sebuah forum memiliki ribuan anggota, jika seorang yang selalu menyebarkan kebencian tetapi meraih banyak simpati, maka ini adalah hal yang serius. Idiom yang waras ngalah tidak berlaku di sini. Tidak di mata saya. Ada yang bilang kebodohan dan kebencian adalah saudara kembar yang tidak bisa dipisahkan. Manusia semakin bodoh dan semakin mudah membenci karena minim pengetahuan dan sempitnya pola pikir. Ya memang betul. Wabah ini sudah menjalar kemana-mana. Dan saya yakin ada teman anda yang sudah terjangkit wabah ini. Cepat obati sebelum terlambat.

Penumpang 9D

​Lion Air JT-25 dialihkan jadi JT-27. Satu jam lebih lambat dari jadwal sebelumnya pukul 20:30 Denpasar. Lion Air sudah menghubungi penumpang lewat SMS, E-mail dan telepon sejak 4 hari sebelum hari terbang. Maskapai itu meminta maaf dan menjelaskan alasannya.

Bandara I Gusti Ngurah Rai lumayan sesak sejak pemeriksaan di pintu keberangkatan. Ada sejumlah tentara berbaju loreng dalam posko antara pintu keberangkatan dan kedatangan yang terpisah sekitar 80 meter.

Ruang kabin Lion Air

Penumpang 9D berlari kecil membawa satu tas roda, satu tas ransel dan dua plastik bungkusan. Saking banyaknya ia harus menyempatkan sekitar 8 menit di mesin sensor. Untuk memperpanjang waktu, ia ndak meletakkan ponselnya dalam baki. Petugas lalu memintanya kembali, meletakkan ponselnya dalam baki kuning dan melintas ulang gerbang sensor. Penumpang 9D kurang puas. Ia bertanya soal tentara di luar. Apakah dicurigai ada kejahatan di Bandara ini? Apakah ada kaitannya dengan pengalihan jadwal penerbangan dari JT-25 ke JT-27? Sekarang ia sudah menciptakan antrian lebih panjang dari dua mesin sensor lainnya milik Bandara.

Penumpang 9D berdiri 4 orang dari meja check-in. Ia membuka satu bungkusan plastik yang rupanya berisi Pie Susu Bali dan Aqua. Lumayan, ngemil sambil antri. Kalau penumpang lain butuh 1 hingga 7 menit waktu check-in, termasuk bagasi; Penumpang 9D harus membuat antrian di belakangnya pindah jalur. Ia belum memasukkan bungkusan dalam tas roda. Belum memindahkan air minum ke tas ransel. Belum menyiapkan KTP untuk 6 orang rombongannya. Dan tentu saja, ia mesti bertanya pada petugas check-in apa alasannya JT-25 dialihkan menjadi JT-27?

Penumpang 9D sekarang duduk persis di depan pintu 5 keberangkatan. Matanya jeli memperhatikan layar pengumuman. Mencari tahu kapan JT-27 diberangkatkan. Ia gelisah. Petugas pintu 5 hanya bisa mengonfirmasi bahwa waktu keberangkatan ndak berubah. 21:30. Masih 38 menit lagi. Tentu saja jawaban seperti itu ndak memuaskan Penumpang 9D. Ia mendatangi lagi petugas pintu 5 dan menanyakan kenapa JT-25 dialihkan menjadi JT-27?

Lima menit berselang, seluruh penumpang JT-27 diminta naik pesawat melalui pintu 5. Artinya, lebih cepat 30 menit dari jadwal boarding yang tertulis di tiap tiket. Penumpang 9D yang memang sudah berada di bibir pintu 5 berdiri paling depan. Matanya trengginas melihat ke belakang. Memastikan anggota rombongannya tahu ia berada di posisi perdana. Melambaikan tangan ke belakang memberi aba-aba, “let’s go!”

Penumpang 9D sudah duduk di kursinya. Tas ransel diletakkan di atas kepala. Bungkusan berisi pie susu dan Aqua ada di kantong kursi. Karena terlalu lancar untuk Penumpang 9D, ia berdiri dari kursinya dan bicara pada Pramugari terdekat.

“Tumben banget kok early boarding?”
“Iya Pak, semua udah check-in dan pesawat udah siap.”
“Kalo ada yang telat gimana?”
“Semua udah check-in kok Pak.”
“Untung saya di depan pintu tadi. Kalo enggak, bisa-bisa telat.”
“Ditungguin kok Pak, sesuai waktu keberangkatan.”
“Kapan berangkatnya sih?”
“Jam 9:30 Pak.”
“Sejam dong di dalem pesawat?!”
“…..”