Resolusi bukan Revolusi

Kalau di awal tahun ini saya menulis bahwa setelah umur bertambah “dewasa” saya tak lagi membuat resolusi, tahun ini entah mengapa saya kembali tertantang membuat resolusi. Sebenarnya tepat juga kalau disebut goals, bukan resolusi. But then again, potato, potayto, apapun itu saya ingin mencapai goal ini di tahun 2017, dan saya akan membuatnya spesifik dan terukur, sehingga tak multitafsir dan ambigu. Sengaja ditulis di Linimasa agar ada saksi, sehingga akhir tahun depan (jika umur memungkinkan) akan dilakukan review.

  1. Membaca paling tidak 30 buku. Paling tidak setengahnya dari yang sudah saya beli tetapi belum juga terbaca. Karena selain book reader saya juga (agak) book hoarder.

  2. Tidak akan membeli lebih dari 1 item of clothing setiap bulan, itupun harus ada yang keluar juga dari lemari sebagai penggantinya.

  3. Menonton film Indonesia paling tidak satu per bulan. Short movies don’t count.

  4. Akan segera keluar dari group chat yang anggotanya memasang berita terusan yang berbau SARA, dan bukan karena niat ironis.

  5. Olahraga paling tidak tiga kali seminggu.

    My Wednesday morning be like.

    A post shared by leila safira (@simandoux) on

  6. Kehilangan lemak tubuh sebanyak 7 kilogram. Pas!

Selamat tahun baru masehi, teman-teman! Semoga 2017 lebih baik dari 2016!

Advertisements

Satu Lagi

Mau curhat.

Emang selama ini enggak?

Pokoknya dengerin dulu.

Oke.

Banyakan bahasa Inggris-nya.

Sok atuh.

Go ahead dong ah.

Brisik.

Yeee.

Buruan.

Akhir-akhir ini sering muncul pertanyaan di kepala gue, whether I am relevant or not.

Maksudnya?

Hmmm … Gimana ya. Kurang lebih seperti ini. You know how the world has been lately, kan? How the world has been acting up crazy, to say the least. How we move towards conservatism and even extremism very fast.

Iya. Lalu?

Lalu ya, you know me. I am passionate about things that people hardly talk about these days. I love talking and writing about films in my own style. I love listening to music from the bygone era. I crave on articles about contemporary art. I love photography. I love books, fiction especially.
But whenever I look around, people seem to forget and steer themselves away from all of these. Suddenly people become political experts overnight. Sharing sensation, churning out opinion.

Dan gue baca lho.

twinkle-lights-for-new-years-eve

Ha? Dibaca semua?

Ya gak semua, tapi sebagian besar.

Yang bener?

Iya.

Gak elo unshare?

Enggak. Gue pengen tahu aja cara berpikir mereka, cara mereka menyampaikan pendapat. ‘Kan bisa keliatan dari cara mereka menulis, lalu membagi tulisan yang mereka ambil. Because we are all different from one another. Kalau gue cuma mau lihat yang sesuai sama minat gue, ntar dibilangnya living in a bubble lagi.

Tapi elo gak stress sendiri?

Ya emang sih, I risk my sanity kadang-kadang bacain status-status yang ‘kenceng’ di socmed gue. Hahaha.
Dan gak cuma sanity gue, tapi melihat orang-orang berlomba-lomba menyuarakan opini mereka soal agama dan politik yang panjang-panjang, membuat gue jadi mempertanyakan diri sendiri. Apa gue yang bodoh ya karena tidak paham dengan apa yang mereka tulis? And then you start second guessing yourself. If I could not participate in such conversation, am I starting to become irrelevant? Since I don’t know what or how to form an opinion about politics and religion and other so-called important matters deemed necessary untuk keberlangsungan hajat hidup masyarakat, whatever that is, do I matter?

482083nhixftp3b1

Whoa! Nyante, mas bro. Chill, dude. Dari kecil suka dangdut. Barusan nanya apa elo barusan?

Errr … Do I matter?

Of course, lah! I matter, you matter, we all matter. Gila kali elo. We matter because we come from our mother.

Timpuk ya!

Nyeahahaha. Ya masak elo ikut ngomong agama dan politik segala? Emang semua orang gak punya kapasitas masing-masing untuk hidup, apa? Dan buat hidup sendiri, emang semua orang harus ngelakuin sesuatu yang sama, apa? Kalo pake logika kayak gitu, ya semua orang jadi robot dong. Cara berpikirnya dibikin sama. Cara ngomongnya kudu sama. Sampe cara makan dan jenis kerjaannya pun sama. I don’t want to live in that world.

Tapi elo tahu kan kalo we are shifting towards that possibility?

Eittsss … Not we. But some. Kalo kita sih, justru harus avoid the possibility.

rt-12-31-12

How?

By keep on living as you are. Keep reading books. If you like to dance, keep on dancing. Keep listening to good music. Keep writing. Keep watching good films. Keep appreciating arts and photography. Form an appreciative write up everytime you encounter these. Nobody has the right to tell you how to live your life. Nobody. Ih ternyata gue lancar juga ya ngomong bahasa Inggris. Bisa sepik-sepik abis ini.

Amit-amit.

Tapi bener kan apa yang gue bilang?

That sounds dreamy. Idyllic. Utopian. Far away.

Nah, makanya itu tugas kita supaya gak bikin hal-hal itu jadi dreamy, idyllic, dan sebagainya.

Like, how?

Jadiin kebiasaan. You keep doing what you do. You keep sharing what you’ve shared. You keep performing good deeds until it becomes good habit. It’s hard, but do not let the anger in social media ruins you. Read it, look at it, and remember to take a deep breath after you read such before you act. Sumpah asli ngomong terus-terusan nanggepin elo bikin gue jadi motivator karbitan abis ini.

Hihihi. Banyak tuh orang-orang yang lagi perlu dimotivasi. Elo jadi terkenal ntar.

Ogah. Cukup dikenal aja, gak sampe terkenal.

img_8547_2

Whatever.

Jadi udah curhatannya?

Kesimpulannya gimana?

Yeee … Dari tadi gak nyimak.

Susah konsen. I keep thinking of how crazy the past year is. Was.

Tapi elo dan gue akhirnya survive kan?

We do. Hmmm. Yeah. F***, we do survive this year!

Cheers to 2017, bro? Sis? Manggil elo gimana, sih?

Cheers to 2017, best friend!

Mudik Pertama Kali

BARU hampir setahun pindah domisili, akhirnya ngerasain juga yang namanya mudik. Benar-benar mudik. Pulang. Kembali ke lingkungan yang pernah ditinggali selama berpuluh-puluh tahun sebelum ini.

Ternyata, begini ya rasanya… lumayan aneh! 😀 Makin aneh lagi, karena yang dirasakan seolah melengkapi dan memperluas poin-poin tulisan bertema serupa pada Desember 2014 lalu: “Pindah Kota“. Ada yang malas ke mana-mana, ada yang justru pengin menjelajah ke mana-mana; ada yang bosan dan lebih memilih untuk di rumah saja, ada yang sudah punya daftar mesti ngapain aja; ada yang pengin cepat-cepat pulang/balik, ada juga yang mau berlama-lama.

Di saya, kurang lebih seperti ini.

  • Mendarat di bandara yang sama, dan melanjutkan perjalanan lintas kota dengan situasi yang tidak berbeda dibanding sebelumnya.
  • Tidur di kamar sendiri lagi, yang entah bagaimana separuhnya terlihat seperti gudang sekarang. Hahaha!
  • Menaiki angkutan umum yang ada, dan kembali berbicara dengan logat lokal.
  • Mengendarai kendaraan lama yang sengaja ditinggal.
  • Menyusuri ruas-ruas jalan yang sama. Blusukan ke gang-gang kecil di tengah pemukiman padat penduduk, jalur alternatif penghemat waktu yang sekarang sudah enggak sepi lagi. Lalu kaget ketika tahu-tahu ketemu jalan layang baru, jembatan yang ditutup, areal pemukiman baru, compound-compound para orang kaya lokal yang luar biasa mencolok, dan sebagainya.
  • Mendatangi depot-depot lawas dengan sajian yang masih sama lezatnya. Beberapa di antaranya masih ingat menu yang biasa dipesan. Salah satunya seperti mi goreng jeruk nipis alas daun pisang, dengan telur mata sapi ¾ matang. Dimakan menjelang tengah malam.
  • Menongkrong di coffeeshop-coffeeshop langganan, mencecap seduhan hasil roasting-annya sendiri, menyapa para barista wajah-wajah lama yang masih ingat, maupun mencoba tempat-tempat baru.
  • Mengelilingi mal terakhir yang berdiri di kota ini, melihat ada tenants baru apa saja yang membuka gerainya.
  • Menyelesaikan urusan kependudukan, berkeliling kantor-kantor dinas dan ikut mengantre di sana, untuk kemudian dibikin senang karena para petugasnya sudah tidak lagi mengucapkan “seikhlasnya saja, Pak.” Saking senangnya sampai-sampai malah kepengin memberi seikhlasnya. Hahaha!
  • Bertemu para teman lama yang makin settled kehidupannya, tapi mesti bubar sebelum pukul 10 malam, karena ada balita yang sudah mengantuk dan punya jadwal tidur tertentu supaya mood-nya terjaga seharian.
  • Mencoba untuk catching up dengan teman-teman kreatif setempat, mencari tahu apa yang sedang menjadi tren, pembicaraan yang tak jelas juntrungannya, diakhiri dengan karaoke bareng.
  • Belum ketemu atau berpapasan dengan mantan, yang kabarnya sekarang baru nambah satu anak lagi. Hahaha!
  • Menjawab ratusan pertanyaan: “gimana di sana, Gon? Kamu betah? Pacarmu siapa sekarang?” Aduh… Munyak! Hahaha!
  • Bertemu dengan wajah-wajah baru yang imut dan lucu, buah karya pubertas yang selalu di luar perkiraan, yang terpenting selain itu…
  • Bertemu dengan keluarga, yang juga baru pertama kali menghadapi situasi serupa.

img_2399

Ndaktau ya, lumayan susah untuk benar-benar menjabarkan semua perasaan yang muncul saat kembali ke kota asal kali ini. Ketika sebutan “pulang” dan “balik” mulai bertukar posisi. Namanya juga mudik yang pertama kalinya, dan pasti selalu ada yang dirindukan dari kedua sisi. Macam LDR dengan kampung halaman. Seringkali bosan, tapi kadang dirindukan diam-diam.

Barangkali kamu-kamu yang saat ini sudah lama menetap atau merantau di kota lain, lebih tahu bagaimana rasanya ketika mudik pertama kali.

How was it? 🙂

[]

Teka Teki 2016

Urutkan tokoh yang meninggal di tahun 2016 sesuai dengan tingkat kesedihan yang anda rasakan.

  • Fidel Castro
  • David Bowie
  • Carrie Fisher
  • George Michael
  • Leonard Cohen
  • BB King
  • Muhammad Ali
  • Prince

Urutkan peristiwa/tokoh di bawah ini dari yang paling aneh kejadian di tahun ini:

  • Donald Trump menjadi Presiden
  • Brexit
  • Habib Rizieq jadi banyak grupisnya.
  • Brad Pitt dan Angelina bercerai.
  • Harambe ditembak mati
  • Tom Hiddlestone dan Taylor Swift pacaran bentar.
  • Leicester City juara EPL untuk pertama kali
  • Chicago Cubs juara NFL untuk pertama kali
  • Bob Dylan dapat Nobel Sastra

2016

Silakan isi sendiri jika ada yang belum disebut. Selamat liburan dan selamat tahun baru 2017!

Ami (85 Tahun)

ami

Ami, di antara saya dan istri saya. (Swafoto diolah dengan aplikasi Prisma)

“SAYA sudah 85 tahun. Alhamdulillah, telinga masih bagus. Mata masih bisa baca Quran nggak pakai kacamata,” kata Ami.

Kami bertemu dengannya kemarin di rumahnya di Bogor. Jika ada waktu ke Bogor bersama keluarga saya berusaha ambil waktu singgah menemuinya. Ami selalu senang dikunjungi.

Saya mengenalnya di pertengahan 1990. Keluarga Ami mengelola sejumlah kamar kos untuk mahasiwa di Tegal Manggah, yang hanya setarikan gas bemo dari kampus IPB Baranangsiang, Bogor. Saya mewarisi kamar kos kakak kelas SMA saya yang pada tahun kedua harus pindah karena ia mengambil jurusan yang kampusnya di lokasi baru di Darmaga.

Pada waktu itu IPB menerapkan sistem penjurusan yang beda. Pada tahun pertama, semua mahasiswa tak punya jurusan. Nanti di tahun kedua baru akan ada penjurusan sesuai minat dan tentu saja nilai di tingkat pertama. Sebutannya Tingkat Persiapan Bersama (TPB). Kini, semua mahasiswa baru sudah punya jurusan sejak masuk, meskipun tetap menjalani TPB di tahun pertama.

Ami ibu kos yang ramah dan asal kita mau menjadi pendengar ia tak akan berhenti bercerita.  Ceritanya macam-macam.  Soal mahasiswa-mahasiswa yang pernah kos di rumahnya (yang sudah jadi orang-orang hebat, katanya), anak-anaknya (yang tak satu pun ambil kuliah di IPB), dan masa mudanya. Ia bercerita dalam bahasa Sunda dan sedikit porsi bahasa Indonesia. Itu sebabnya saya suka mendengarkan dia bercerita: saya belajar bahasa Sunda.

Saya hanya dua tahun ambil kos di rumah Ami. Tahun kedua itupun saya sudah mulai banyak main di Asrama Ekalokasari, lalu menjadi penghuni tetap hingga lulus.

“Saya sudah 85 tahun….” Dan Ami masih sangat sehat. Ketika kami – saya dan istri saya – berkunjung kemarin, ia sudah berdandan rapi. Suaranya masih lantang. Dan masih bawel bercerita.  Ia bersama anak, menantu, cucu, dan cicitnya, hendak pergi ke kerabatnya yang menggelar walimah pernikahan anaknya.

Ami mengingatkan saya tentang anak-anaknya, siapa yang sudah punya anak berapa, sekarang tinggal di mana, dan cucu-cucunya yang sudah punya anak yang berarti itu adalah cicit-cicitnya. Siapa-siapa anak kos yang pernah datang menemuinya dan siapa yang sama sekali tak pernah.

Ketika beberapa tahun lalu mengunjungi Ami, saya juga datang bersama istri saya. Ia lupa dan bertanya lagi. “Istrimu orang mana?”

“Ami lupa? Dia kan yang dulu waktu saya kos di sini beberapa kali pernah datang ke  sini. Ini teman kuliah saya, Ami.”  Ia lalu memeluk dan menciumi istri saya. Dan berhamburanlah doa-doanya: doa panjang umur untuk kami berdua, doa agar kami rukun sampai kami tua, doa sehat dan berlimpah rezeki.

“Saya dan Bapak 65 tahun sama-sama. 65 tahun saya dampingi Bapak sampai Bapak meninggal….”

Saya kenal baik dengan Pak Pendi, suami Ami. Namanya dicetak pada satu plakat besi dan dipakukan di dinding depan rumah mereka.  Lelaki tak banyak bicara tapi juga sangat ramah dan perhatian pada anak-anak kos di rumah mereka itu bekerja sebagai mantri. Di masa pensiunnya dia kadang-kadang masih suka diminta oleh kenalannya untuk berobat. Tentu saja itu ia lakukan hanya untuk sakit ringan. Ia tahu betul bahwa ia tak punya izin praktik. Tapi kadang-kadang pasien-pasien langganannya, kebanyakan orang-orang seusia dia juga, meminta – setengah memaksa – dia mengobati mereka.

Tak ada lagi plakat nama Pak Pendi di rumah itu.

“Sudah dijual,” kata Aa, anak lelaki tertua Ami.

Ketika seluruh kegiatan belajar pindah ke Darmaga, kampus IPB Baranangsiang kosong. Usaha kos-kosan redup.

Sebelum saya sampai ke rumah Ami, saya dan istri saya menapaktilasi jalan yang dulu saya lewati jika kembali ke kos dari kampus. Jalan itu baru diaspal, tapi tetap saja sempit seperti dahulu. Beberapa kali kami harus menempelkan badan ke dinding jika ada motor lewat. Persis seperti dahulu. Saya mencoba-coba mengingat dulu siapa saja yang kos di rumah itu, di kos-kosan situ, di asrama yang itu, tapi tak menemukan di mana dulu warung makan yang menjual sepiring nasi dengan kuah santan dan sepotong tempe seharga Rp300. Lalap dan air teh tawar disediakan gratis.

Rumah keluarga Ami – yang sudah dijual itu – ada di hadapan rumah kos yang mereka kelola, bertopang di atas parit.  Ada kolam kecil – yang hingga kini masih ada.  Di rumah itulah dulu saya numpang menonton televisi, terutama pada Jumat malam, ketika RCTI memutar serial McGyver.  Ini semacam perilaku sok pintar. Ami suka menegur saya, “kamu nggak belajar? Kok nonton?” Sabtu adalah hari ujian di TPB. Anak-anak kos umumnya mengurung diri di kamar untuk belajar. Saya mana bisa melewatkan aksi Angus McGyver, agen yang membongkar kasus dan menyelamatkan diri dengan kecerdikannya memanfaatkan barang-barang di sekelilingnya dengan pengetahuan dasar fisika, kimia, mekanika, elektronika, dan lain-lain. Lebih baik nonton dulu baru setelah itu buka diktat.

Di muara jalan kembali ke hotel, setelah menanjak lewat tangga yang lumayan bikin ngos-ngosan, saya bertemu anak-anak, cucu dan cicit Ami yang sudah siap hendak berangkat bersama-sama.  Ami masih kuat mendaki. Saya harus menebak-nebak satu per satu siapa mereka. Ada yang langsung saya kenali, ada yang harus diingatkan lewat satu dua ihwal, selebihnya saya benar-benar tak sempat mengenal, terutama cucu-cucu dan cicitnya. Saya harus menekan geer kalau Ami menceritakan siapa saya dulu – dengan nada bangga. Yang saya lihat adalah kebahagiaannya karena diingat, dikunjungi, dan karena itu ia merasa dihargai. Tak ada yang menggantikan silaturahmi langsung, menemui langsung kerabat kita.

Kami mengajak Ami berswafoto. Saya ingin sekali – tapi tak sempat – memotret Ami dengan anak, cucu, cicitnya. Manusia empat generasi. Pemandangan langka. Mungkin saya tak sempat mencapai keadaan itu: ayah saya sudah 71 tahun, anak lelaki saya baru 13 tahun.

Banyak Alasan

607629

Selamat Malam Natal buat yang merayakan! Semoga malam ini syahdu dan dihiasi kedamaian ya. Mungkin sebaiknya dienyahkan dulu dari ingatan, segala berita, pesan, cuitan, dan apapun yang berbau kebencian. Yang akhir akhir ini kita seperti tak pernah kekurangan. Yang membuat bingung dan sedih dan putus harapan.

Padahal kalau ditilik kembali, hampir semua agama dasarnya adalah cinta. Cinta diri sendiri, cinta sesama, cinta alam semesta, cinta sang pencipta. Lalu kenapa akhir akhir ini rasanya begitu mudah mencari alasan untuk membenci, dan sulit sekali mencari alasan untuk mencinta?

Alasan membenci:

  1. Karena mereka berbeda
  2. Karena mereka terlalu sama, sehingga membosankan dan kesannya meniru
  3. Karena mereka trying too hard
  4. Karena mereka not trying hard enough
  5. Karena mereka lebih cantik
  6. Karena mereka lebih jelek
  7. Karena mereka lebih kaya
  8. Karena mereka lebih miskin
  9. Karena mereka lebih ambisius dan KENCENG
  10. Karena mereka lebih selow dan seperti tidak punya keinginan
  11. Karena mereka boros
  12. Karena mereka pelit
  13. Karena mereka lebih pintar
  14. Karena mereka bodoh
  15. Karena selera film berbeda
  16. Karena selera genre sama tetapi selera film berbeda
  17. Karena selera genre sama, selera film sama, tetapi tidak hapal nama sutradara
  18. Karena selera musik berbeda
  19. Karena selera musik sama, tetapi curiga poser
  20. Karena mereka orang baru
  21. Karena mereka sok senior
  22. Karena mereka pahlawan di uang kertas tapir
  23. Karena mereka pahlawan di uang kertas bukan tapir tetapi tidak pakai jilbab
  24. Karena malu melihat video om telolet om mereka
  25. Karena mereka tidak pernah ikut debat

Alasan mencinta

Karena mereka pun cinta.

Sampai Jadi Debu

oleh: Arif Utama

                  “Apa ini yang benar-benar kamu mau?” Matanya sembab, pipinya basah, dan ia sesekali mengulum air asin dari matanya yang tak henti-hentinya mengalir. Ia tak ingin terlihat lemah, namun semakin kuat ia mencoba, makin ia tampak lemah. Setelah tanya itu meluncur dari mulutnya, ia memelukku dengan erat. Lalu menangis dan memeluk sama kencangnya. Ia mungkin marah, mungkin pula kecewa, namun aku merasakan betul bahwa ia berusaha keras untuk merelakan. Ia percaya inginku untuk berpisah ada baiknya dituruti sebelum semuanya menjadi tak baik. Batinku, di malam yang dingin itu, menjadi dingin. Aku menjadi sepenuhnya sadar betapa kejamnya hal yang aku lakukan ini, dan ia akan terus hidup dalam benakku.

Aku di hari itu memahami betapa kejam betul kenangan bekerja. Aku memutuskan untuk berpisah. Ia gadis berambut pendek dengan senyum yang hangat. Dan aku bisa merasakan kehangatannya saat kami mencuri ciuman di tempat umum. Juga soal sweater abu-abu yang menghilangkan rasa sendu. Dan sikapnya yang sedikit pemalu namun membuatnya terlihat lucu. Aku akan merindukan itu semua. Dan tentu saja, setelah memelukku, aku juga menjadi sedih karena harus berpisah. Cerita ini kemudian menjadi cerita favoritku, dan cukup membuat perdebatan dengan perempuan yang pernah menaruh rasa kepadaku setiap kali aku menceritakan betapa menggemaskannya hubungan kami dan bagaimana kita berpisah.

Aku mengambil keputusan itu dengan penuh banyak penyayangan. Teman-temanku berkata mengapa aku kemudian menyudahi apa yang telah aku ingini sejak lama. Ya, aku memang telah lama mengaguminya dari jauh. Aku senang memerhatikannya, dan kebiasaan ini tak berhenti bahkan hingga kami berpacaran. Aku masih ingat badanku mendadak dingin, mulutku gemetaran, kepalaku penuh dengan perandaian saat bertemu dengannya. Butuh berapa kali hai sebelum aku betul-betul bisa membuka obrolan dengannya. Pun saat kami jadian, aku benar-benar senang kita punya banyak kesamaan. Ia suka membaca buku-buku Dewi Lestari dan begitupula aku. Ia suka gambar, dan aku juga. Ia sepertiku, pernah mengalami kenakalan-kenakalan masa kanak-kanak sebelum menjadi orang dewasa yang penakut. Aku pelan-pelan tambah mengaguminya, dan aku rasa dia pula serupa.

Tapi perpisahan itu harus aku putuskan. Segala kalimat harus ada titik, dan hubungan yang terlampau bahagia adalah teks yang cukup membuat pembaca sesak nafas. Titik itu tak pernah aku dapatkan dalam hubunganku yang terlampau manis itu. Aku terus mendapatkan puja-puji bahwa kami serasi. Dan kami benar-benar tak pernah sekalipun ribut. Kami sangat cocok sehingga tidak ada lagi yang kami rasa harus diributkan. Hal yang membuat tiap pasangan di muka bumi mungkin iri pada kami. Kami saling menerima, hingga saat di mana aku memutuskan aku perlu titik dalam hubunganku. Aku jengah dan pelan-pelan menyadari aku membutuhkan titik untuk jeda dalam hubungaku.

Namun mengambil keputusan dengan kepala memang tak selalu mudah. Berkah dan sekaligus bencana, kita seringkali berhadapan dengan manusia – makhluk dengan akal dan budi. Jasmani dan Nurani. Hati dan Pikir. Keputusanku untuk berpisah itu, setelah ia mendekapku dengan sepenuh nyawanya, akan kusadari tak hanya menjadi titik yang membuatku bernafas sejenak. Namun menyudahi segalanya. Menjadi akhir bagi kisah yang manis. Ia takkan bisa lagi dilanjutkan. Atau mungkin saja bisa, dengan alur yang sedikit dipaksakan. Buku itu akan terus terbuka dan membujukku untuk membacanya kembali. Memaksaku untuk menyesali apa yang telah kulakui.

Tetapi, sebagaimana ia yang berupaya sangat keras untuk merelakan, aku juga sama. Tidak ada keharusan sebuah cerita manis diakhiri dengan manis. Kadang, sebelum kita terjebak dan menjadi tua dan membosankan, ada baiknya untuk berhenti. Setidaknya kenangan-kenangan tadi masih bisa dikenang dengan pikiran yang menyenangkan. Kenangan yang telah menjadi buku yang tetap mengasyikkan meski dibaca berulang-ulang.

[]

*Catatan: meski berat hati, penulis kemudian berusaha menerima perpisahan Banda Neira. Penulis sudah suka Banda Neira sejak zaman penulis masih maba dan sangat berupaya hipster. Musik-musik Banda Neira seperti mengajak menyelam dalam petualangan seru yang takkan pernah terlupa. Tapi Banda Neira butuh titik. Titik untuk menyudahi kalimat panjang tanpa jeda mengenai puja-puji Rara dan Ananda. Jelas perpisahan sangat berat, dan hingga kini, saya meragukan apakah ada namanya perpisahan yang baik-baik. Perpisahan selayaknya memang dirayakan dengan air mata dan kalimat sendu yang mengalir begitu saja dari sanubari. Tapi begitulah perpisahan – ia membuat kita paham bahwa kita memahami siapa yang berarti dalam hidup ini. Dan setelah itu, kita akan memegang satu-satunya souvenir dari perpisahan: kenangan. Hingga nanti, sampai jadi debu.

Hanya Satu Kata Tentang Kita

Beberapa hari lalu saya menghadiri acara perpisahan dengan “kantor lama” dan akan menuju “kantor baru tapi lama”. Dari acara tersebut saya mendapat beberapa kesan soal kehidupan kantor:

  1. Bahwa yang tertinggal di benak masing-masing dari pekerja kepada saya adalah justru didominasi soal di luar kantor. Rekan kerja malah cerita soal ingatan mereka berinteraksi dengan saya saat di kantin. Atau saat tidur-tiduran santai sembari berbicara jelang berbuka di musholla. Atau saat naik sepeda bersama. Jarang yang bercerita soal disposisi, soal project atau kebersamaan dalam mengerjakan suatu tugas tertentu.
  2. Bahwa pilihan kata terbaik saat berpisah adalah soal yang baik-baik. Lupakan yang bikin sakit, rayakan yang membuat tertawa girang.
  3. Citra kita di benak masing-masing sahabat ternyata sungguh berbeda-beda, walau ada bagian tertentu yang memiliki satu irisan. Roy itu sepeda. Roy itu flamboyan. Roy itu cerewet. Roy itu mentor. Roy itu guyon. Roy itu jorok. Roy itu tenggo. Roy itu dan Roy itu serta Roy itu yang berlainan. Asyik juga mendengar “satu kata” tentang kita.

Lalu saya coba bergantian mengingat-ingat mereka, teman-teman kantor saya. Saya ingin cukup mendefinisikan mereka dalam satu kata, sama seperti yang mereka lakukan kepada saya.

fullsizeoutput_2e90

Saya ambil kertas. Memutar memori. Mengulang kejadian masa lalu dari ingatan yang tersisa. Si A itu X, Si B itu Y, dan si C itu Z. Satu kata ini adalah sebuah kesan yang sangat subjektif dan dapat berasal dari bentuk fisik, sifat, kebiasaan, hobby, kesan, kebiasaan bicara dan banyak variabel lain tergantung si penilai.

Pernahkah Anda melakukan ini?  Menilai sesuatu dengan cukup satu kata saja. Misal:

  • Jokowi: Presiden
  • Megawati Soekarnoputri: PDIP
  • SBY: Prihatin
  • Habib Riziq: FPI
  • Ahok: Nekat
  • Syahrini: Manja
  • Donald Trump: Jambul
  • Bu Ani SBY: Sasak
  • Wiji Tukul: Lawan!
  • Boaz Salosa: Gocek
  • Raditya Dika: Hoki
  • Ratna Sarumpaet: Jelek
  • Glenn Marsalim: Adaptif
  • Gandrasta Bangko:  Gila
  • Leila Safira: Kenceng
  • Agun Wiriadisasra: Update
  • Dragono Halim: Tua
  • Nauval Yazid: Sensitif, dan ..
  • Kamu: Aku

Silakan Anda tambahkan.

Salam anget,

Roy

Akhirnya, 10 Film Paling Memorable Yang Ditonton Di Bioskop di Tahun 2016

Sudah Kamis ke-4 di bulan Desember. Meskipun masih ada 10 hari lagi sampai di penghujung tahun, yang berarti masih ada film-film baru yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan, tetapi daftar tahunan ini memang lebih baik dirilis sekarang. Kalaupun ada perubahan, nanti kita akan melihat sendiri perubahannya saat Anda menerima notifikasi bahwa tulisan ini telah diperbarui.

Yang jelas, postingan ini meneruskan tradisi saya merekap “top 10 the most enjoyable cinema going experience” dalam satu tahun. Biasanya saya menulis di blog pribadi, tetapi setelah bergabung dengan Linimasa, maka saya akan meneruskan kebiasaan itu di sini.

Aturannya sederhana saja: filmnya saya tonton di bioskop. Baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Dari minggu terakhir Desember di tahun sebelumnya sampai seminggu sebelum minggu terakhir Desember tahun ini.

Dari ratusan film yang saya tonton dalam satu tahun, terus terang saya bingung kalau ditanya filmnya bagus apa enggak. Kalau ditanya apakah saya menikmati atau tidak, maka jawabannya akan jauh lebih mudah.

Dan 10 film (plus) di sini adalah rangkuman dari sensasi itu. Ketika berada di dalam bioskop, pandangan saya hanya tertuju apa yang ada di layar. Ikut berpikir, tertawa, takut, senyum, sedih atas apa yang sedang ditonton. Ketika selesai menonton, masih memikirkan filmnya. Kadang masih berdecak kagum.

Every filmgoing experience is a very personal, subjective experience. Saya masih sangat percaya akan hal ini.
Artinya sederhana saja. Apa yang kita suka, belum tentu orang lain suka. Yang kita nikmati, belum tentu bisa dinikmati orang lain, bahkan orang yang paling dekat dengan kita.

Jadi, selamat membaca daftar di bawah.

Oh, satu lagi catatan khusus tentang tahun ini.

Ada jarak waktu yang cukup lama, selama lebih dari 6 bulan, di saat saya tidak menemukan pengalaman nonton yang menyenangkan di bioskop. Waktu itu, terakhir merasa puas menonton film di bioskop bulan Februari. Lalu kepuasan itu baru muncul lagi di bulan Agustus. Dalam jeda waktu 6 bulan antara Februari sampai Agustus itu rasanya seperti sleepwalking keluar masuk bioskop.

Film-film apa itu?

Silakan.

10. The Shallows

The Shallows

The Shallows

Inilah film yang memecah kebuntuan absennya pengalaman menonton yang menyenangkan buat saya di bioskop tahun ini. Jaraknya lebih dari 6 bulan dari film nomer satu. Indeed, it’s a pure pleasure. Sensasinya sama persis waktu menonton film Buried, yang dibintangi suami Blake Lively sendiri, yaitu Ryan Reynolds. Formula “one-person-alone-against-the-inexplicable-horror” masih bekerja dengan baik di film ini. An unexpected victory.

 

9. Room

Room

Room

By any accounts, it is a harrowing film. Namun pendekatan cerita yang tidak sensasional menjadikan film ini tidak membuat kita merasa claustrophobic. It has a very grounded storytelling, ditambah dengan penampilan gemilang ibu dan anak (Brie Larson dan Jacob Tremblay) yang membuat kita susah melupakan film ini begitu keluar dari bioskop, dan merasa lega.

 

8. The Beatles: Eight Days a Week – The Touring Years

The Beatles: Eight Days a Week - The Touring Years

The Beatles: Eight Days a Week – The Touring Years

Tidak banyak yang perlu saya jelaskan tentang film ini, yang tidak hanya sebuah dokumenter, tapi sebuah surat cinta terhadap The Beatles. Sudah cukup jelas penjelasan singkat di tulisan sebelumnya tentang momen musik di film sepanjang tahun ini. Lagi pula, if you can relive singing along The Beatles and watching them on big screen, then it’s already a winning experience.

 

7. Train to Busan

Train to Busan

Train to Busan

Saya jatuh cinta dengan premise film ini yang bisa dijabarkan dengan sangat mudah: kejar-kejaran zombie di dalam kereta. Sudah cukup untuk membuat penasaran. Dan hasilnya pun membuat saya seru sendirian di dalam bioskop. When put in good use, Korean dramatic storytelling clearly shows its strength. This film proves it.

 

6. Kubo and the Two Strings

Kubo and The Two Strings

Kubo and The Two Strings

Sampai pertengahan tahun ini, film animasi cantik ini masih menjadi favorit saya. Di saat langkanya cerita asli di film animasi, film ini hadir dengan cerita yang penuh percaya diri tentang anak kecil yang berjuang menyelamatkan ibunya. Sebuah petualangan seru yang ketika ditonton, it immediately puts a smile on a kid in us.

 

5. The Wailing

The Wailing

The Wailing

Pengalaman yang kontras dengan “Train to Busan”. Durasi panjang film ini (lebih dari 2,5 jam) alih-alih membosankan. Saya tegang ketakutan sepanjang film. Padahal cerita klenik dengan intrusi makhluk supernatural yang mengganggu ketenangan satu kampung adalah cerita yang sering kita dengar sehari-hari. Namun di tangan sutradara mumpuni macam Na Hong-Jin, teror ini terlihat nyata. Salah satu film terbaik tahun 2016.

 

4. Neerja

Neerja

Neerja

Meskipun cukup banyak menonton film Hindi sepanjang tahun, namun hanya ada satu tempat di daftar saya kali ini. Dan pilihannya lagi-lagu jatuh ke film yang dengan mudah kita jelaskan secara singkat: kisah nyata pramugari Pan Am asal Mumbai yang tewas saat menyelamatkan seluruh penumpang dari pembajakan pesawat. Kekhawatiran akan kemungkinan treatment cerita menjadi lebay khas Bollywood pupus saat menonton film ini. Adegan pembajakan digarap selayaknya a proper thriller. Penampilan Sonam Kapoor sebagai Neerja membuatnya naik kelas sebagai aktris. Tapi yang mencuri perhatian adalah Shabana Azmi sebagai ibu Neerja yang harus menghadapi kesedihan. Dua penampilan berkesan tahun ini yang sangat, sangat membekas di hati.

 

3. A Monster Calls

A Monster Calls

A Monster Calls

Betapa susahnya mendeskripsikan kehilangan kepada anak laki-laki yang memasuki masa pubertas. In fact, betapa susahnya mendeskripsikan emosi kepada semua anak di masa usia tanggung. Kita semua mengalami hal ini. Maka dari itu, menonton film ini tanpa terasa akan menguras air mata. Entah itu lega atau sedih, yang jelas cerita fantasi ini bisa menjadi tontonan yang mewakili saat kata-kata tidak mampu mendeskripsikan perasaan kita terhadap kehilangan. And of course, the feeling of letting go. Film yang layak, sangat layak, untuk ditonton berulang-ulang, to understand our own emotions.

 

2. Your Name

Your Name

Your Name

Jujur, pada awalnya saya skeptis dengan film ini. Apa lagi yang mau ditawarkan oleh anime Jepang dengan tema percintaan remaja? Apalagi ditambah dengan cerita tentang time traveling.
Namun keraguan saya buyar bahkan di menit-menit pertama. Saya tidak ingat lagi kapan terakhir menonton film yang membuat saya tersenyum sepanjang film. Tanpa adegan yang dibuat mengharukan, the film actually brings hope and joy. It will make you believe in falling in love all over again.

 

1. Spotlight

Spotlight

Spotlight

Begitu selesai menonton, saya perlu “melipir” untuk menenangkan diri. Sempat ada rasa marah dan muak. Apalagi ini kisah nyata. Akhirnya mau tidak mau memang kita harus menerima kenyataan bahwa “organized religion can commit organized crime”. Apapun agamanya, apapun kejahatannya. Saya menonton film ini di awal tahun 2016. Ternyata isi ceritanya relevan sepanjang tahun, bahkan mungkin sepanjang masa. Membuat miris memang. Toh film ini memang mengandalkan kekuatan cerita yang sangat, bahkan mungkin terlalu powerful. Makanya, saya lompat kegirangan di depan televisi saat film ini diganjar Oscar sebagai Film Terbaik. In a rarity, the best film is indeed an important film to tell.

Sebagai bonus, ada 5 film yang saya tonton di bioskop tahun ini yang juga berkesan, yaitu: A Copy of My Mind, Don’t Breathe, Hacksaw Ridge, Pink, dan Sully.

Lalu 5 film kontemporer lain yang tidak saya tonton di bioskop, namun tidak kalah berkesan: Born to be Blue, Creed, Grandma, Hell or High Water, dan Sing Street.

(All posters, except Your Name and Neerja, are taken from IMP Awards. Neerja poster comes from filmywave. Your Name poster comes from Quora.)

Jadi Remaja Zaman Sekarang Itu… Susah

I wish that I could be like the cool kids,
‘cause all the cool kids they seem to fit it.

JADI remaja di zaman sekarang itu enggak gampang, lho… Tidak pernah gampang, bahkan. Lebih-lebih pada mereka yang tinggal di kota besar maupun kawasan pinggirannya.

Ini bukan hanya masalah pubertas, kondisi hormonal yang tidak stabil, dorongan misterius untuk bertingkah konyol, melakukan imitasi sosial, maupun ledakan emosional dalam berbagai bentuk dan suasana, namun lebih kepada pengubahsuaian psikologis terhadap cara mereka memandang diri sendiri.

Remaja saat ini–mereka yang lahir antara tahun 1996 sampai 2006, atau berusia antara 10 sampai 20 tahun–hidup dan bertumbuh kembang dalam kondisi sosial yang sedemikian kompleks. Segala hal yang terjadi dalam lingkup keluarga, sekolah, dan pergaulan secara umum menciptakan beban sosial dari bentuk paling sederhana: eksistensi.

Para orang tua ingin mereka begini.
Guru-guru di sekolah ingin mereka begitu.
Teman-temannya di sekolah maupun dari lingkungan sepermainan ingin mereka seperti ini.
Mereka sendiri juga ingin menjadi begini-begitu-seperti ini-seperti itu setelah melihat para idolanya di media konvesional maupun media sosial, mengikuti tren kekinian yang sedang terjadi, dan merasa harus tampil berbeda dibanding lainnya.


“Para orang tua ingin mereka begini.”

  • Mesti pintar dan menjadi juara kelas, maupun juara-juara lainnya.
  • Supaya pintar di sekolah, mesti tekun belajar, dibarengi dengan beragam les pengayaan dan jam belajar tambahan.
  • Mesti bisa sekolah, dan meneruskan pendidikan di kampus-kampus keren. Kalau perlu di universitas beken luar negeri sekalian.
  • Supaya jago di bidang-bidang lain yang dapat dibanggakan, juga dikursuskan berbagai keterampilan. Mulai seni sampai olahraga.
  • Jadi anak yang mandiri, bisa berpikiran dewasa, tidak bandel, tidak mengkhawatirkan, saleh dan bermoral, tidak membantah dan menuruti semua ucapan orang tua.

“Guru-guru di sekolah ingin mereka begitu.”

  • Mesti jadi siswa yang santun, berprestasi, membanggakan pihak sekolah, tertib, menjadi teladan bagi kawan-kawannya, dan dengan antusias membantu semua aktivitas intra sekolah termasuk menjadi pengurus organisasi sekolah.

“Teman-temannya di sekolah maupun dari lingkungan sepermainan ingin mereka seperti ini.”

  • Mesti jadi teman yang asyik, cool, keren, gaul banget, suka membantu, bikin senang, tapi tetap ada di kala senang maupun susah.

“Mereka sendiri juga ingin menjadi begini-begitu-seperti ini-seperti itu setelah melihat para idolanya di media konvesional maupun media sosial, mengikuti tren kekinian yang sedang terjadi, dan merasa harus tampil berbeda dibanding lainnya.”

  • Harus keren, atau tampil keren. Caranya bermacam-macam, mulai dari punya gadget paling baru, pamer foto jalan-jalan ke luar negeri, punya akun Instagram atau YouTube dengan follower, subscriber, atau viewer yang banyak dibanding rata-rata temannya, jago main basket, jago memainkan berbagai alat musik, modis dan jago dandan, berdiet supaya punya badan bagus, punya atau mampu memodifikasi kendaraan (yang dibelikan orang tua) dengan sedemikian rupa, cakep jangan lupa.
  • Harus punya pacar yang keren dan cakep juga. Kalau bisa seperti di sinetron atau FTV.
  • Harus gaul, doyan hangout di tempat-tempat keren, termasuk dugem, rave party kayak DWP barusan, paling duluan tahu atau menonton sesuatu dibanding teman-temannya.

Dari empat parameter di atas, potensi dampak paling besar ada di poin terakhir. Sebab berasal dari pemikiran sendiri, dan diperkuat dengan motivasi internal.

Jika dibandingkan poin-poin lain, para remaja masih bisa membantah orang tua, tidak patuh pada guru, atau berganti geng pertemanan. Akan tetapi, mereka tetap punya keinginan sendiri, yang umumnya harus tercapai dan dipenuhi.

Dalam banyak kasus, pertikaian dan pertentangan para remaja dengan orang lain justru disebabkan karena benturan antara keinginan mereka versus keinginan orang lain atas mereka. Hasil akhirnya, ada yang kalah dan menang. Contoh sederhananya, para remaja yang ngedumel karena dilarang orang tua jalan bareng teman-temannya. Atau kejadian berikut ini…

Bisa dibayangkan, betapa berat dan banyaknya ekspektasi maupun harapan yang ditumpukan kepada para remaja. Semuanya menjadi beban sosial dan psikologis, karena HARUS BERHASIL dan TERCAPAI. Memang sih, ada kalanya beban sosial tersebut berkurang, tetapi pertambahan yang terus menerus mustahil dihindarkan. Tak ada habis-habisnya, berlanjut sampai mereka dewasa dan menghadapi berbagai masalah yang jauh lebih berat.

Tahun lalu, beredar berita seorang murid SD yang bunuh diri karena takut tak lulus Ujian Nasional. Kenapa dia takut tak lulus? Kalau sekadar takut, apa yang mendorongnya untuk mengambil langkah paling ekstrem seperti itu?

Contoh lainnya, tergambarkan dalam hasil riset pada para remaja putri di Amerika Serikat tahun 1999 lalu. 70 persen dari 500 remaja putri usia 9-16 tahun percaya bahwa bentuk tubuh ideal yang harus dimiliki wanita adalah seperti yang mereka lihat di majalah-majalah. Lalu, 47 persen di antaranya pun ingin mengurangi berat badan. Padahal mereka masih dalam masa pertumbuhan. Insecure dini.

Pada akhirnya, para orang tua yang insecurity memiliki anak-anak remaja yang insecure, yang apabila tidak tumbuh dewasa dengan baik dan bijak, akan menjadi orang-orang insecure baru. Kemudian mereka menikah, menjadi pasangan suami istri yang insecure, dan kembali membesarkan anak-anaknya dengan perspektif yang berlandaskan pada insecurity.

Mbulet!

Apa solusinya? Entahlah, saya juga kurang paham. Sebab bakal tidak cukup jika hanya dijawab dengan: “harus meningkatkan pendidikan, memberikan pemahaman, dan memperkuat benteng agama, dst, dsb…” Idealnya, kesalahan ada untuk diselesaikan, kemudian dipelajari, bukan untuk diratapi, dan menjadi alasan pelampiasan emosi.

Oh, tapi satu saran dari saya, terutama bagi para orang tua baru, cobalah untuk bersikap baik dan terbuka. Tanpa disadari, kehidupan remaja itu sudah berat, jangan ditambah berat lagi… dan ini, menurut saya, jauh lebih penting ketimbang percekcokan soal topi Santa, desain baru uang Indonesia, dan hal-hal sejenisnya.

[]

Brandon

​Karena tersebut dalam tulisan ini, aku terima empat private message di WhatsApp, nanya: Siapa sih Brandon Sean Cody? Aku kutipkan satu di bawah ini:

Aku: “kenapa?”
Perempuan itu: “ya penasaran ajaa…”
Aku: “kan ada Google?”
Perempuan itu: “males ah. Gw curiga pasti yang nggak nggak deh…”
Aku: “mendingan jangan. Nanti shock.”
Perempuan itu: “ga bakal. Udah deh, kasitau aja napa sih?!”
Aku: “yang bawah itu Brandon.” (aku kirim gambar di bawah ini, tanpa sensor)

Brandon (bawah) dan lawan mainnya. Sumber: Sean Cody

Perempuan itu: “EH GILA LO KIRIM GAMBAR BEGITUAN DASAR PERVERT!”
Jadi kalo kita ambil analogi lain. Perempuan ini mau tau rasa cabe rawit yang orang genggam. Dia tau rasanya bakal pedes. Waktu orang itu kasih cabe rawitnya untuk diicipi sedikit, dia kepedesan. ORANG ITU DITAMPAR!