Nasi dan Bakmi

URUSAN Nasi Goreng, orang Indonesia memang jawaranya di seantero dunia. Kendati dibawa dan diperkenalkan dari daratan Tiongkok selatan dan tenggara oleh para imigran entah beberapa abad lalu, menu yang sejatinya sederhana ini justru berkembang hingga menjadi puluhan varian di tangan bangsa kita. Beberapa di antaranya seperti Nasi Goreng Ikan Asin, Nasi Goreng Pete, Nasi Goreng Ijo, Nasi Goreng Putihan, maupun Nasi Besanga, dan masih banyak lagi. Hanya ada di Indonesia.

Ya. Menu ini sungguh sederhana. Bukan sajian fancy terkait bahan-bahan yang digunakan maupun proses pembuatannya, melainkan sebagai wujud nyata dari praktik “勤儉起家” atau kurang lebih mirip filosofi “éman-éman”-nya orang Jawa.

Menghindari kemubaziran, ketika nasi sisa semalam bisa diolah kembali sedemikian rupa menjadi hidangan yang menggugah selera, tanpa perlu keluar banyak biaya. Dengan tambahan bumbu-bumbu secukupnya: garam, vetsin, bawang merah dan bawang putih, cabai, telur, dan saus tomat untuk beberapa jenis, nasi yang nyaris harus dibuang pun bisa layak disantap habis.

Perlu teori pendukung? Untuk nasi putih biasa, mulut dan lidah kita cenderung lebih suka dengan butiran-butiran yang pulen. Tidak terlalu kering, namun tidak terlampau benyek. Percis seperti yang digambarkan Sang Juru Baca dalam tulisan hari Minggu lalu. Lain halnya saat dimasak jadi Nasi Goreng, akan jauh lebih nikmat apabila butiran nasinya pera, tidak pulen, relatif lebih mudah disendok, dan dimakan sebagai nasi berbumbu yang memiliki rasa gurih dengan wangi khusus.

Nasi Goreng adalah pengejawantahan dari semangat pantang menyerah, hidup prihatin, berpadu dengan kreativitas.

Lebay? Biar!

Menambah lima sajian Nasi Goreng khas Indonesia yang sudah disebut di atas, ada satu menu lain yang tak kalah uniknya. Yaitu campuran Nasi Goreng dan Bakmi Goreng. Barangkali diciptakan oleh seseorang yang doyan keduanya, dan ingin menyantapnya sekaligus.

Tidak hanya satu, masakan ini memiliki karakteristik dan nama yang berbeda:

  • Nasi Mawut atau Nasi Goreng Mawut
  • Magelangan
  • Nasi Minas (kependekan dari “Mi Nasi” HAHAHAHA!)
  • Mi Othok Khowok atau Mi Othokowok

Dari empat nama ini, saya hanya tahu Nasi Mawut dan Magelangan. Terkait Nasi Minas dan Mi Othok Khowok, baru tahu lewat Twitter.

Di Samarinda, Nasi Mawut lumayan populer sebagai menu yang tersedia sampai menjelang subuh. Nasi Mawut juga cukup terkenal di Surabaya, dan Jawa Timur secara global. Sedangkan untuk Magelangan, baru pertama kali makan Sabtu kemarin (26/11), di salah satu warung makan tak jauh dari Pondok Indah Mall (PIM). Enak juga. Cocok di lidah, walaupun pakai kikil.

Informasinya, Magelangan populer di Yogyakarta dan beberapa daerah di sekitarnya. Termasuk, ketahuan dari namanya, Magelang.

 

Nasi Mawut dan Magelangan serupa tapi agak tidak sama. Pada Nasi Mawut yang saya makan selama ini, Nasi Goreng dan Bakmi Goreng telah dimasak dan siap disajikan terpisah; baru dimasak kembali jadi satu apabila ada pesanan. Karena itu, nasinya terasa lebih kering dan pera. Mirip seperti Nasi Goreng Tek-tek yang banyak dijual di Jakarta.

Lain halnya dengan Magelangan tempo hari. Nasi dan bakmi tampaknya dimasak bersamaan, pakai anglo dan bara pula. Bumbunya meresap, dan menjadikan tekstur Magelangan cenderung lebih basah.

Selain itu, perbedaannya ada pada condiments atau bumbu pelengkap. Bagi yang suka pedas, Nasi Mawut akan dicampur sambal merah. Di Samarinda, lazimnya juga dicampur sedikit kecap manis. Cuma sedikit, dan bisa juga dituang di atas telur ceplok (secara default, Nasi Goreng di Samarinda disajikan dengan dua butir telur. Sebutir yang dicampurkan pada nasi, dan sebutir lainnya dijadikan Telur Mata Sapi). Sementara Magelangan disajikan dengan selepek irisan rawit. Sama-sama pedasnya, tapi beda sensasinya.

cymqq03vqae1w97

Magelangan Sabtu malam kemarin.

Nah, giliran Nasi Minas dan Mi Othok Khowok yang menanti untuk dicicipi. Dari penjelasan teman, Mas Arie Parikesit dan Inne, Nasi Minas adanya di daerah Minang, sedangkan Mi Othok Khowok merupakan kuliner khas Cirebon. Kalau dilihat dari gambarnya, kayaknya sih enak-enak semua.

Mudah-mudahan ada kesempatan.

Tampilan Mi Othok Khowok. Foto: online-instagram.com


Oya, perkara serupa tapi tak sama seperti ini juga terjadi pada Kerupuk Mihun yang merupakan kudapan legendaris di Samarinda (dan Banjarmasin, barangkali), dengan Karupuak Mi di Padang. Sama-sama menggunakan kerupuk lebar sebagai alas mi, namun berbeda bahan dan sajian.

Kerupuk Mihun, menggunakan kerupuk yang rasanya gurih. Lalu, ada Mihun Goreng ala Banjar yang kering dan sedikit berminyak ditaruh di atasnya. Mihun kemudian dicampur dengan kecap asin khas Cap Bawang dan sambal bawang sesuai selera. Dalam versi berbeda, penikmat juga bisa memilih untuk membanjur Mihun Goreng dengan bumbu pasangan kerupuk: bumbu petis pedas. Cara menyantapnya, potek kerupuk dan sendokkan pada mihun.

Awalnya, Kerupuk Mihun merupakan jajanan SD yang populer di era 90-an. Hingga satu dekade kemudian, Kerupuk Mihun mulai susah dicari. “Kebangkitan” Kerupuk Mihun mulai terasa sejak pertengahan 2014, ketika makin banyak penjual menu ini di tempat-tempat umum.

Berbeda cerita dengan Karupuak Mi. Saya juga belum pernah mencicipi makanan ringan yang satu ini. Katanya, bukan pakai mihun, melainkan mi kuning yang standar, dan disiram dengan kuah sate. Nyaman jua pinanya

Mudah-mudahan juga ada kesempatan.

[]

Advertisements

Karut Marut Media Sosial (2)

Mark Zuckerberg baru-baru ini kebakaran jenggot. Facebook, mesin uang miliknya dituduh memberitakan fake news yang menyebabkan Hillary Clinton kalah dan harus merelakan Donald Trump menjadi Presiden Amerika Serikat ke-45. Menurut survey yang dilakukan oleh PEW, sebanyak 45% dari warga Amerika memilih Facebook sebagai media utama dalam mencari berita. Terbesar di ukuran media sosial. Lucunya banyak situs berita-berita geje yang mendapatkan banyak pembaca. Kalau anda mempunyai Line, ya berita model Line Today itu yang mereka lahap. Ditelan mentah-mentah tanpa dicerna. Bahkan mungkin tidak dibaca beritanya. Langsung share. Untuk lebih mudah, yang dimaksud dengan fake news itu adalah ketika kamu melihat linimasa di Facebook lalu kamu klik satu situs mengenai Jokowi atau MUI maka nanti akan melihat suggested post dengan berita serupa. Tapi masalahnya berita itu tidak bisa dipertanggungjawabkan. Bahkan hanya ada yang sekedar opini, blog. Tapi karena beritanya kontroversial dan memojokkan satu pihak maka berita itu laku apalagi dengan headline yang bombastis. Yamiriplah dengan apa yang dikirim di Whatsapp group. Copas dari grup sebelah. Tolong share dan katakan amin. Semoga kita masuk surga. Oreally?  

November 18, 2016

Facebook beberapa tahun lalu sempat memecat banyak editorialnya dan menggantinya dengan robot yang dibekali algoritma. Sehingga tampilan Facebook terkini yang bisa dinikmati adalah hasil kerja robot. Apakah robot tahu kalau banyak berita yang disetir yang memihak? Tidak. Dengan menggunakan mesin yang dinamakan Crowd Tangle. Maka kita bisa mengetahui situs berita yang paling banyak dibagi, dibaca, paling banyak disukai, atau paling banyak dikomentari di media Facebook. Robot itu tidak tahu keabsahan berita tersebut. Dan para pengguna aktif pun kadang tidak begitu peduli dengan kredibilitas dari satu berita dengan berita yang lainnya. Selama itu isinya bombastis, menyenangkan dirinya, atau mungkin lucu, maka berita itu akan menjadi viral. Coba silakan perhatikan linimasa Facebook anda. Banyak sekali media berita yang saling tangkis dengan media berita lainnya. Apalagi sekarang, warga Facebook di Indonesia terkena pusaran yang sama. Isinya pro- Ahok atau anti-Ahok. Yang berujung pada pro-Jokowi atau anti-Jokowi. Yang tadinya apatis jadi ikut-ikutan. Secara tidak langsung itu sudah memperbanyak trafik dari situs abal-abal. Baik pro atau anti. It’s just like fucking Buzzfeed or 9gag, man. But for politics.    

fakenews4

Tapi sebetulnya bukan Facebook saja yang harus menganggung “kesalahan” ini. Media sosial lainnya seperti Twitter pun sami mawon. Tidak lebih baik. Lebih parah malah. Karena di sini banyak individu yang berbicara. Mereka yang folowernya bejibun padahal isinya gitu-gitu doang. Isinya melulu politik. Saya kadang heran orang kenapa begitu nyamannya membaca ciutan buzzer yang dibayar yang tentu saja isinya pro atau kontra terhadap salah satu calon. Dalam hal ini yang sedang seru sampai tahun depan adalah Pilkada Gubernur Jakarta. Twitter mengakui bahwa mereka kesulitan untuk menangkis isu cyber-bullying di medianya. Dan selama ditemukan penangkalnya maka saling mem-bully di dunia politik ini akan terus terjadi. Tahun depan pun masih akan kita nikmati. Yang mem-bully kembali di-bully. Begitu seterusnya. Gak capek?

Cyber Bullying, word cloud concept 3

Sekarang saya jadi mengerti kenapa orang banyak yang berhenti menggunakan Twitter. Ada yang pindah ke medsos lainnya yang lebih tenang dan tidak menguras energi. Tidak ada gunanya. Tidak ada hal positif yang bisa diambil. Bahkan sampah saja masih bisa didaur ulang.  Satu-satunya jalan adalah unfolow. Atau dilaporkan. Ada koq fiturnya. Kecuali kalau memang kamu kuat iman.

fakenews7

Tuduhan itu bukan tidak beralasan dan Mark Zuckerberg harusnya tahu. Memang banyak situs abal-abal yang memberitakan suatu tema yang keabsahannya dipertanyakan. Bahkan banyak satu situs berita yang hanya digawangi oleh satu orang. Tapi mungkin uang lebih penting buat Mark Zuckerberg. Bahkan ini mungkin berita bagus buat dia. Keuntungan Facebook melalui iklan konon sudah menembus enam milyar dollar sampai catur wulan ke tiga. Begitu pula dengan buzzer politik. Mereka juga melakukan itu sebagai mata pencahariannya. Mereka tidak peduli dengan hasilnya. Walau terkadang itu bisa menjadi bumerang. Karena yang popular di dunia maya belum tentu menjadi pemenang di dunia nyata. Sudah ada buktinya. Perlu saya jabarkan? Tidak kan.

Agar Nasi Tak Jadi Bubur atau Gosong Berkerak

tips-menanak-nasi-agar-pulen-tidak-mudah-basi-dan-wangi

 

Orang Banjar menyebutnya “atang”. Bahasa Indonesianya “tungku’.  Bagian dari dapur untuk memasak.  Saya masih mengalami masa-masa itu. Masa ketika ibu saya memasak di atang, dengan kayu bakar. Belum ada kompor minyak, apalagi kompor gas.

Saya masih bisa menggambarkannya dengan membongkar ingatan: semacam meja kotak besar berkaki empat, diisi tanah dan abu di permukaannya. Di bawah atau di atas atang disusun kayu bakar.

Tempat kayu di atas berguna untuk mengeringkan kayu yang masih lembab atau basah. Pada dinding-dinding di sekeliling atang bergantungan semua alat masak: wajan, berbagai jenis panci, dan ceret. Juga alat-alat pengaduk.  Semua perabot dapur itu permukaan-luarnya hitam jelaga.  Saya masih bisa mengingat aroma asapnya.

Hidup pada masa itu memang tidak perlu buru-buru.  Hari dimulai sehabis salat subuh dengan menyalakan api untuk merebus air.  Tumpahkan sedikit minyak tanah di permukaan abu, lalu nyalakan dengan korek. Atur kayu bakar seperti kau menyusun api unggun kecil.

“Kita ini tiap hari seperti berkemah,” ujar saya pada almarhum ibu saya.  Beliau sering mengutip kalimat itu, hingga bertahun-tahun kemudian.

Dapur adalah bagian rumah yang menjadi favorit saya. Bukan karena apa-apa, di sanalah kehangatan udara subuh bisa diatasi. Di rumah kami, ibu adalah orang yang selalu bangun paling subuh, dan saya tak sampai hati untuk tak menemaninya. Beliau harus menyiapkan sedikitnya empat jenis “wadai” alias kue yang nanti kujajakan keliling kampung, sebelum dititipkan di warung.

Rasanya sekarang saya masih membuat sendiri kue-kue itu: ampran tatak yang gurih dan lemak dengan rasa masam-manis pada pisang; sarimuka yang terdiri dari dua lapisan, gurih di bawah, dan manis gula merah di atas; pais yang sedap disantap selagi hangat dan bungkus kulit pisangnya itu bisa menjadi alas ketika kita menyantapnya; untukuntuk, roti kampung goreng berisi inti;….

(Dulu saya punya lelucon yang agak filosofis yang berkaitan dengan kue untukuntuk – entah kenapa kue itu diberi nama itu. Manakah yang benar: apakah hidup untuk makan? Atau makan untuk hidup? Saya punya jawaban, tidak keduanya: karena yang benar adalah hidup makan untuk-untuk)

Tapi sesungguhnya yang paling sulit adalah menanak nasi. Yang rutin, yang terlihat sederhana, dalam hidup ini memang sering dianggap mudah dan kerap diabaikan.

Dari  sini  saya kira istilah “nasi telah jadi bubur” berasal.  Tantangannya adalah bagaimana nasi benar-benar tanak, tak menjadi bubur karena terlalu banyak air, tak mentah seruntulan karena matangnya tak merata,  dan tak menjadi kerak karena terlambat menyisihkan api saat nasih dipadarkan.  Rahasianya sederhana: rasio air dan beras di dalam panji penanak nasi harus pas benar.

“Air harus menggenang di atas beras kira-kira seruas jari telunjuk,” ini rahasianya.  Saya tak pernah membuktikannya secara ilmiah, tapi resep ini tak pernah gagal.

Tentu saja itu bukan satu-satunya rahasia. Yang juga menentukan adalah pengaturan api.

Ini juga sulit. Pada tahap-tahap awal api benar-benar sudah harus jadi, sebelum panci diletakkan di atas api.  Dan nyalanya harus dijaga konsisten sambil terus-menerus mengaduk nasi, agar tanaknya merata dan tak jadi kerak.

Tepat setelah air tak menggenang lagi di permukaan beras, singkirkan api, kecilkan nyalanya, dan sisakan sekadar beberpa potong bara agar tetap masih ada panas. Pada saat itu bentangkan sehelai daun pisang, dan tutup panci. Hoopla! Nasi akan matang dengan sempurna.  Tanpa kerak yang akan merusak aroma wangi beras dengan bau gosong.

Saya sudah buktikan kemampuan memasak ini saat berkemah dengan regu pramuka saya di SD dan SMP dulu.

PERMAKLUMAN:  tulisan ini disponsori oleh rasa kangen penulisnya pada suasana berkemah, saat-saat berdiang di depan api yang menyala, dan aroma nasi matang ketika panci pertama kali dibuka….. 

 

 

 

 

 

Diet Gawai

Berapa lama yang anda habiskan untuk memegang gawai? Untuk menilpun, balas email, ngetuit, ngepath, ngewe-a, ngedit poto, main gim onlen, atau apapun yang berkaitan dengan gawai? Jika dihitung secara rinci tentu saja sulit, se’ndaknya itulah yag saya rasakan. Gawai sudah mewakili kita untuk banyak hal. Lebih baik ketinggalan dompet di rumah daripada hape.

Gawai membantu kita melakukan banyak hal. Semacam pintu rejeki. Ndak terlalu berlebihan lho ini, karena sebagian besar profesi dilakukan via gawai. Gojek, Uber dan sebangsanya. Makelar mobil dan kumpulannya. Wartawan media daring, kiyai, hingga pekerja seks komersial menggunakan piranti elektroNik ini sebagai lapak utama. Kebutuhan pokok yang sulit dipisahkan dengan pri-kehidupan kita.

Kalau begitu gawai bisa juga dipersamakan dengan nasi. Makanan pokok sumber karbohidrat. Pada umumnya akan melahap bahan makanan ini sekali dalam sehari. Tapi ya itu tadi, walaupun pokok, jika berlebihan maka efeknya akan kemana-mana.

Bagaimana jika kita coba lakukan diet? Yap! Ini khusus bagi yang sudah merasa hape terlalu menjadi tumpuan sehari-hari. Melototi twitter, WA, Path, Facebook, buka forum gosip, nge-like instagram tiada henti yang sejatinya ternyata kesibukan itu tak terlalu produktif bahkan candu.

Bedakan dengan sista-sista yang memang jualan onlen. Atau buzzer yang bikin #hestek sebagai salah satu profesinya. Juga para pegawai kantoran yang memang dapet tugas utama untuk menggarap reputasi perusahaan di media sosial. Mereka mainan gawai karena bekerja. Sama seperti tukang becak yang kudu banyak mamam nasi biar perasaannya dan betisnya kuat mengayuh pedal.

Sebagian besar kita, medsos menjadi candu seperti rokok. Kemana-mana rasanya gatel kalau ndak buka hape. Bahkan saat rapat, atau ngobrol ririungan dengan sobi tetap menunduk ke bawah dan nyekrol-nyekrol layar. Wajar? Kita sendiri yang tahu batasannya. Teman saya sekarang eek-nya ndak mau keluar jika jemarinya gak megang hape sembari jongkok saat pup. Luar biasa bukan?

Ini juga salah satu alasan linimasa dibuat satu tulisan dalam sehari. Cukup satu saja. Karena kami, atau se’ndaknya saya, menganggap bahwa ada banyak hal penting dan lebih menarik jika kita mengangkat pandangan menjauhi layar gawai. Rumput hijau, awan berarak, langit cerah, dan HEY, SIAPA ITU KOK LUCU BANGEEET?!

Diet Gawai kudu dilakukan jika kita ternyata lebih senang diam sendiri di sudut meja mendekati colokan daripada mencoba untuk beranikan diri berkenalan dengan gadis yang duduk di sebelah.  Atau saat berkumpul bersama rekan kerja. Juga saat reuni buka puasa. Kita galau saat kabel pengisi batre tertinggal di kos. Kita terlalu risau saat meeting di sebuah ruangan yang susah sinyal. JIka orang Cibubur pertama kali meeting bertanya dimana toilet karena baru saja melakukan perjalanan jauh, maka para gawai-mania pertama kali yang ditanya adalah kunci akses wifi, atau letak colokan, atau berusaha meminjam powerbank barang sejenak.

Baiklah, tak salah menggunakan gawai, karena memang justru zaman sekarang menjadi aneh dan menyusahkan banyak orang jika kita sulit dihubungi via gawai. Tapi setidaknya pernahkah Anda menghitung atau bertanya pada diri sendiri:

Berlebihankah saya berlama-lama dengan gawai? Bagaimana jika kita berjalan ke luar ruangan dan mencoba menyapa seseorang dan berbicara tentang segala?

Selamat sabtu siang. Salam tanggal muda. Mari bersepedah!

RoyGawai

Cinta Laki Laki

cinta_laki_laki_biasa

Apa sih cinta laki laki biasa? Cinta laki laki biasa adalah;

  1. Cinta yang menanyakan “sudah makan belum?” setiap kali waktu makan. Baik itu lewat telepon atau pesan di smartphone.
  2. Cinta yang mengingatkan solat jika masuk waktu solat.
  3. Cinta yang “km udah dirmah neh?”
  4. Cinta yang menyodorkan tangan untuk dicium.
  5. Cinta yang mencium kening kalau akan berpisah.
  6. Cinta yang mengelus kepala ketika sedang bercanda.
  7. Cinta yang tak apa hidup susah asal halal dan dari keringat sendiri.
  8. Cinta yang Bekasi – Tangerang pun dilakoni untuk menjemput ketika pulang kerja.
  9. Cinta yang mengatakan bahwa ibadah lebih baik karena menimbun rejeki akhirat dibandingkan bekerja yang menimbun rejeki duniawi.
  10. Cinta yang mengimami perempuan di keluarga hingga ke surga tetapi tidak ke hidup duniawi yang lebih baik, karena.

Kita Yang (Mungkin) Sedang Ada di Pinggiran

Beberapa hari yang lalu, saya menonton film dokumenter berjudul Casting By. Film ini disutradarai Tom Donahue dan didistribusikan oleh saluran HBO. Sudah lama saya penasaran sama film ini. Dan rasa penasaran itu benar-benar terpuaskan seusai menonton film ini.

Seperti judulnya, film ini memfokuskan diri pada casting, atau pemilihan pemain film untuk memerankan karakter tertentu. Sering kita lihat ‘kan di awal film, setelah judul film ditayangkan, lalu ada tulisan “casting by” di layar?

Casting By

Casting By

Film ini bercerita tentang pentingnya peran seorang casting director, atau ahli casting, untuk melihat potensi aktor mana yang bisa memerankan peran yang akan dibuat. Lebih fokus lagi, film ini memberikan spotlight besar pada Marion Doughtery, pionir casting film di Amerika Serikat, yang membuka mata pelaku industri film Hollywood tentang pentingnya peran casting ini di setiap awal proyek film akan dimulai.

Menariknya, posisi casting ini adalah satu-satunya posisi utama di kredit film yang tidak ada kategorinya di Academy Awards, atau Oscar. Lainnya? Sinematografer, ada kategori sendiri. Editor juga. Tata artistik ada. Tata busana pun ada. Tata musik pula. Apalagi sutradara, aktor, dan penulis.

Namun sepanjang film, ketika Marion dan beberapa casting directors lain yang 80% adalah perempuan ini diwawancarai, tidak ada satu pun tersirat ekspresi kecewa. Mereka hanya tertawa pahit untuk mengakui fakta bahwa mereka tidak diberikan penghargaan khusus setara di ajang tertinggi perfilman Hollywood. Seolah-olah raut mereka berkata, “Ah, sudah biasa kami dikesampingkan.”

Padahal ketika mereka bercerita proses casting film tertentu, raut mereka sontak berubah. Mereka terlihat sumringah, benar-benar menyukai pekerjaan mereka.
Mendengar mereka bercerita mengenai proses pencarian aktor, mulai datang ke pertunjukan teater paling kecil, lalu melihat iklan-iklan, seakan-akan mengajak kita ikut serta dalam proses tersebut. Mencari Dustin Hoffman ke Broadway sebelum dia diajak audisi film The Graduate. Menemukan Meryl Streep. Menemukan banyak aktor-aktor ternama sebelum mereka bukan siapa-siapa.

Casting By

Casting By

Mungkin ini terdengar klise, tapi melihat mereka berbicara, you can feel their undying passion and love towards the profession.

Lalu beberapa hari kemudian, tak sengaja saya menemukan film Meet the Parents di saluran televisi yang sama. Ada adegan di mana Ben Stiller, yang berprofesi sebagai perawat (male nurse), harus menyebutkan profesinya ke paman, bibi, dan keponakan calon istrinya.
Pertama dia sebut, dia bekerja di “medical profession”. Lalu mereka, yang semua karakternya adalah dokter spesialis, menanyakan spesialisasi karakter Ben Stiller. Dia menjawab bahwa dia adalah perawat. Semua bengong. Mereka menanyakan kenapa “hanya” bekerja menjadi perawat, sambil setengah mengejek. Dia bilang, kalau dia lebih cocok dan lebih memilih menjadi perawat ketimbang menjadi dokter, karena dia bisa benar-benar merawat dan berinteraksi langsung dengan pasien secara intens.

Saya tersenyum saat melihat adegan singkat itu. Meskipun sebentar, tapi rasanya mengena sekali.

Meet the Parents

Meet the Parents

Acap kali saya berada di dalam situasi di mana kita dituntut untuk membuat sesuatu. Atatu menjadi pembuat sesuatu. You’ve gotta create or make something.

But what if we don’t? What if we are not able to create of make?

Beberapa tahun yang lalu, teman seprofesi saya melangsungkan pernikahan. Kami diundang hadir ke pesta pernikahannya. Tentu saja, selayaknya banyak pesta pernikahan di sini, acara ini lebih sebagai ajang acara bikinan keluarga kedua mempelai. Pestanya sendiri cukup besar, dilangsungkan di gedung di sebuah kota di Jawa Tengah. Kami beramai-ramai ke sana.
Lalu ada pengumuman, “kepada teman-teman mempelai perempuan dari dunia film agar bersiap diri berfoto bersama kedua mempelai.” Pengumuman ini diulang sampai dua kali sambil menyebutkan nomer meja kami.
Mendadak ratusan pasang mata mengarah ke meja kami. Namun pandangan ini tidak berlangsung lama. Kami pun beranjak untuk foto bersama.
Setelah selesai, kedua mempelai, yang sama-sama kami kenal, tertawa dan bilang ke kami semua, “Mungkin keluarga kami pada ngira kalau teman-teman di dunia film itu berarti artis ya. Padahal ya boro-boro, bok!” Kami sempat tertawa kencang-kencang di pelaminan.

Sering saya ditanya, baik dari keluarga atau teman, apakah saya tidak berminat menjadi sutradara atau produser atau pembuat film. Dengan baik-baik saya bilang, saya belum mampu sekarang. Pernah mencoba, namun hasilnya tidak maksimal. Ada kesadaran dalam diri terhadap kemampuan yang dimiliki, serta apa yang tidak bisa dilakukan.
Namun apakah saya merasa left out karena “tidak menghasilkan sesuatu”? Jawabannya: tidak.
Dalam kapasitas yang terbatas, saya berusaha semampu saya untuk bekerja membantu mereka yang berkarya. Membantu dalam memberikan ruang untuk karya mereka diapresiasi, membantu membuat karya mereka dikenal lebih luas, dan banyak hal lain.

Dan di bidang pekerjaan yang lain, tentu saja banyak sekali support system yang membutuhkan tenaga kerja.
You are still entitled to call yourself working in medical profession, even if you’re not a doctor. A nurse, for example.
Bekerja di bidang penerbitan buku tidak eksklusif milik mereka yang berprofesi sebagai penulis atau editor. Desainer grafis, proof reader, sampai mereka yang bekerja mencetak buku pun, mereka semua adalah bagian besar dari sebuah buku sampai ke tangan kita semua.

It takes a village to make a maker, to create a creator.

Dan ketika kita bekerja dalam lingkaran besar, meskipun bukan di poros tengah, trust me, you still matter the most.
Because we are still needed.

“Iyain Aja Deh! Biar Cepat!”

 

TENTANG apa pun, dengan siapa pun, mustahil bagi seseorang untuk bisa bebas dari perbedaan pendapat dalam sepanjang hidupnya.

Setiap kali perbedaan pendapat terjadi, kita selalu merasa tertantang untuk menjadi pemenang. Ego mendominasi, mencari peluang untuk menunjukkan bahwa sang “aku” jauh lebih unggul dan mengemuka dibanding si “dia”.

Segala cara dilakukan, dari sekadar berdebat ringan, pakai acara teriak-teriakan, bahkan sampai usir-usiran, dan bunuh-bunuhan. Padahal dalam hal ini, tantangannya justru berasal dari dalam diri sendiri; bagaimana kita ingin menyikapinya? Bukan persoalan siapa yang benar dan yang salah, atau siapa yang menang dan yang kalah. Karena memang bukan itu intinya.

Enggak percaya? Silakan alami sendiri mulai dari aktivitas yang paling “aman” saat menghadapi perbedaan pendapat; berdebat.

Kemenangan dalam sebuah perdebatan akan terasa semu, cepat tergantikan dengan masalah-masalah lain, lekas menguap begitu saja. Lagian, euforianya bisa bertahan berapa lama sih? Paling banter cuma jadi kenangan yang diglorifikasi, dipuji-puji secara berlebihan, diungkit-ungkit sampai membosankan, hanya jadi cerita bagi orang lain. Syukur-syukur tidak menjadi pengalaman yang disesalkan.

Contoh kasus: masih ingat kan, kejadian saat seorang narasumber acara dialog pagi di salah satu stasiun televisi negeri ini menyiram teh ke lawan bicaranya. Disiarkan secara LIVE! pula. Tak puas pakai mulut dan ucapan, tangan digerakkan. Tindakan yang semestinya bikin si pelaku malu (meski kayaknya sih enggak ada tanda-tanda ke arah itu. Mungkin gengsi). Untung tehnya sudah anget.

Perasaan unggul setelah berhasil membungkam lawan bicara bisa berubah dengan cepat, termasuk menjadi terasa hampa dan bisa bikin kita nyeletuk: “Oh, begini doang?

Perasaan tersebut juga bisa berubah menjadi kekesalan dan ketidakpuasan, yang apabila tidak dibonsai akan seperti monster lapar penuh kebencian dalam diri kita. Mengakar, meletihkan, dan sama sekali tidak ada manfaatnya bagi kemajuan diri. Not to mention kitanya juga jadi tambah “panas” setelah melihat si lawan bicara ternyata biasa-biasa saja setelah kita kalahkan. Dia berhasil moved on dan kembali melanjutkan hidupnya. Monster tadi menjadi semacam insting yang haus, dan hanya bisa dipuaskan dengan melihat orang lain menderita. Geregetan yang negatif dan merusak.

Jadi, apa intinya?

Setiap kali berhadapan dengan perbedaan pendapat, iyain aja deh biar cepat. Terlalu banyak waktu dan tenaga yang terbuang hanya untuk berlelah-lelah menyabung argumentasi, mempertahankan pendapat dan pandangan subjektif, menarik urat dalam berpuluh-puluh menit perdebatan, dan berkeras pendirian hanya demi sebuah pengakuan. Padahal ujung-ujungnya, kedua pihak bakal kembali menjalani kehidupan masing-masing. Tidak akan bersinggungan. Tidak bakal saling berhubungan. Setop sampai di situ.

Diiyain, bukan berarti setuju. Melainkan berusaha menghindari interaksi enggak penting yang bisa terjadi ke depannya.

Memang sih ya, bijaksana dan cuek itu seringkali cuma beda tipis. Jadi, silakan saja bersikap sebagaimana mestinya. Asal yang penting kita tahu apa yang baik untuk diri sendiri, serta paham dengan semua konsekuensi yang bisa terjadi. Toh, situasi semacam ini jadi lebih sering dihadapi saat kita sudah benar-benar dewasa; sudah belajar banyak dari pengalaman; dan punya kemampuan bertanggung jawab penuh atas semua perbuatan dalam kehidupan sendiri. Kita bukan lagi seperti balita, yang baru akan menangis setelah jarinya melepuh gara-gara menekan kenop dan ketumpahan air panas di dispenser air minum. Setuju, kan?

Jika ada pendapat yang benar, ya barangkali benar hanya untuk diri sendiri. Kalau ternyata salah, ya belajarlah dari kesalahan tersebut. Pembuktiannya dengan cara dijalani sendiri, bukan untuk dipertentangkan dengan orang lain. Sebab hidup ini merupakan kondisi sosial mahakompleks, bukan semacam konsorsium para cendekiawan yang memang harus diwarnai dengan perdebatan ilmiah.

Realitas ini terjadi tanpa terkecuali, termasuk di posting-an ini. Akan sangat wajar bila dipertentangkan, karena menjadi hak setiap pembaca untuk setuju, maupun menyangkal semua yang disampaikan. Selama masih ada ruang untuk diskusi, semua pasti bisa dibicarakan. Asal jangan berubah menjadi perdebatan. Akan tetapi sementara ini, iyain aja dulu deh! Biar cepat! 😀

cuhuey9vaaalael

[]

Coldplay Singapura: Merugikan Keuangan Negara

Band warisan dari tahun 90an yang masih bisa menyedot penonton terbanyak tahun ini mungkin adalah Coldplay. Untuk pendengar sejak album pertamanya, Parachutes, Coldplay mungkin sudah menurun “kualitas musiknya”, dan berhenti mendengarkan setelah album keempatnya, Viva La Vida. Karena mulai di album Mylo Xyloto, Coldplay sudah mulai “berubah”, dengan genre yang lebih pop dan mudah didengar. Salah satu indikasi kuatnya adalah dengan menggaet Rihanna di lagu Princess of China. Indikasi itu semakin kuat di album Ghost Stories, dengan melibatkan Avicii di lagu A Sky Full of Stars. Lagu yang paling saya benci. Karena  itu adalah jenis musik EDM abal-abal di telinga saya. Di album terakhirnya, A Head Full of Dreams, Coldplay bahkan bisa menggaet Beyonce di lagu Hymn For The Weekend. Di sini saya melihat Coldplay berusaha menjangkau dan meraih pendengar baru. Yang tentu saja lebih muda. Rupanya taktik tersebut berhasil. Coldplay sekarang mungkin band  paling besar dan paling bankable.

coldplay

 

Saya tahu banyak yang tidak suka dengan Coldplay tapi saya tidak menyangka kalo ternyata ada yang menyandingkan dengan Nickelback, sebagai band yang paling dibenci di muka bumi. Saya belum tahu bagaimana mereka menilainya. Entah apa alasannya. Bisa mungkin karena over-rated. Sepertinya setiap umat manusia tahu Chris Martin itu siapa. Sepertinya udik kalo kita tidak tau lagu Fix You atau Yellow. Semua itu sah-sah saja. Selama anda tidak mempunyai Sabrina di pemutar musiknya.

coldplay5

 

Tapi jika ditanya sebut sepuluh band yang paling oke manggungnya sekarang ini? Saya yakin Coldplay masuk di dalamnya. Ini bukan tanpa alasan. Terlepas dari mereka sell our atau over-rated. Tapi mereka harus diakui sangat serius kalau untuk urusan manggung. Tata suara yang mereka hasilkan bersih. Rapi. Sama seperti mendengar CD-nya. Tata cahaya juga mereka juara. Segala sesuatunya terkonsep. Tidak banyak band yang melakukan hal ini. Lagu-lagunya anthemic. Kita bisa menonton sambil bernyanyi bersama. Walau cuma bagian chorus doang. Atau mungkin sekedar bersenandung. Intinya menghibur. Seperti nonton film rilisan Marvel. Gak percaya coba perhatikan cuplikan konser di bawah ini.

Dalam rangkaian tur dunianya tahun ini rupanya negara di Asia Tenggara masuk hitungan. Setidaknya sampai sekarang Singapura dan Filipina ada di daftar antrian. Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa tidak ada di Indonesia? Penggemar Coldplay di Indonesia lebih banyak dari Filipina, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Taiwan. Buktinya apa? Di hari pertama penjualan tiket konser di Singapura dikabarkan sudah terjual habis dalam hitungan jam. Itu artinya orang Indonesia yang memborong tiket tersebut. Setidaknya 60% dari pembeli tiket tersebut adalah Indonesia. Saya yakin ini. Pantauan saya menyebutkan banyak yang kecewa karena tidak mendapatkan tiket. Lalu, kenapa pemerintah Indonesia tidak memperhatikan hal ini?

coldplay8

Dragono sempat nanya ke grup apa betul bakalan ada isu money rush menjelang pilkada ini? Lalu Glen menimpali kalo Coldplay konser di Singapura itu money rush sesungguhnya. Itu betul. Gini deh seandainya ada 30 ribu orang Indonesia yang nonton Coldplay di Singapura, dan rata-rata mereka menghabiskan uang lima juta. Lima juta dikali dengan tiga puluh ribu. Berapa? 150 milyar ya? Gak beda jauh ya sama uang yang lari ke Singapura pas demo tanggal empat kemarin? Mau bikin kaya negara tetangga aja nih? Yang ngelindungin koruptor? Yang bawa uang transaksi Google juga. Gitu? Bikin rush of blood to the head kan? Hello Bekraf? Kang Triawan? Kumaha damang? Nuju naon? Hayuk atuh bergerak.

 

 

 

Eyjafjallajokull

​”Pantesan doa-mu ndak diijabah, wong ndak sah gitu.”
“Ndak sah gimana tho Mbak?”
“Berdoa itu pake arab, supaya didenger Allah.”
“Aku ndak bisa bahasa arab Mbak. Nanti malah ngawur…”
“Rasullulah SAW bersabda dalam haditsnya: satu huruf Al-Quran bernilai 10 kebaikan. Jadi paham ndak paham, bakal dapat ganjaran 10 kali lipat!”
Masayaallah. Eyjafjallajokull…”
Amiin ya Allah.”

Gunung Eyjafjallajokull di Islandia. Sumber: Wikimedia

POV

Bukan, ini bukan POV seperti yang ada di kolom web porno. Walau singkatannya sama dari Point Of View, atau dalam bahasa Indonesianya disebut Sudut Pandang. Sekitar 15 tahun yang lalu, seseorang pernah berkata “we may see the same thing but we will see it differently”. Konteksnya pada saat itu adalah mengenai disain grafis. Saat itu hasil keseragaman komputerisasi disain grafis mulai terasa. Bisa dibagi dalam berbagai ‘genre’: MTV style dan Lain-Lain. Apalagi pada saat itu Photoshop sedang kembang-kembangnya.

Banyak Disainer Grafis yang posisinya mulai naik, mengeluhkan bagaimana sulitnya mencari lulusan berkarakter. Dan pada saat itu, semua menyalahkan Photoshop sebagai penyebabnya. Di saat itulah, ucapan di alinea atas tadi terlontar. Dengan penjelasan lanjutan “Photoshop itu hanya alat. Yang kurang saat ini adalah point of view yang berbeda”. Perbincangan yang berlangsung sampai subuh itu pun mencerahkan. Salah satu kejadian hidup yang selamanya akan melekat dalam ingatan.

Pertanyaan saya saat itu, bukankah sudut pandang itu harusnya jujur dan bagaimana kalau sudut pandang saya ternyata sama saja dengan yang lain. Jawabannya sangat tak terduga. Sudut pandang, berbeda dengan keyakinan dan kepercayaan. Sudut pandang bukan hanya soal menemukan tapi juga mempertanyakan dan mencoba melihat sesuatu dari sudut yang berbeda. Ini diperlukan bukan semata-mata untuk jadi berbeda, tapi untuk menawarkan keragaman sudut pandang. Keragaman ini yang selamanya diperlukan agar manusia menerima kenyataan perbedaan itu akan selamanya ada dan menjadi alasan merayakan hidup. “Ini adalah tugas utama kita sebagai Disaner Grafis. Karena kalau hanya ingin melihat yang kita ingin lihat dan ketahui, jadinya keseragaman itulah yang kita terima”.

Bersekolah di Tanah Air, generasi saya diajarkan paham “berbeda-beda tapi tetap satu jua”. Sekilas terlintas di benak adalah soal perbedaan yang disatukan. Dan kata disatukan, lebih kental artinya dengan disama ratakan -agar menjadi satu, tunggal. Terus menerus bagai mantra, sehingga perbedaan tidak lagi dinilai sebagai kekayaan tapi sebagai yang harus disatukan. Sialnya, pemahaman menular sampai pada keseragaman sudut pandang. Sehingga saat ditawarkan dengan sudut pandang yang berbeda, kita cenderung untuk malas bahkan menolak.

Tenang, ini bukan hanya permasalahan bangsa ini, tapi juga masalah Amerika yang baru memiliki Presiden baru yang menulis namanya pun saya masih belum percaya. Namun ada satu artikel yang langsung mengingatkan saya soal sudut pandang. “At the end of the day, this is an opportunity to learn and grow and consider another world view. This is a wakeup call to get out of safe spaces, politically correct thinking, shatter echo chambers, and challenge yourself to consider the other side of the fence. This is an opportunity to reach out and truly learn to understand each other.”

Kalimat itu sepertinya merujuk bagaimana pada hasil pooling yang tadinya berpihak kepada kandidat yang ternyata kalah. Bagaimana kita, sering hanya ingin melihat, mendengar, membaca, menerima, hanya pada yang sesuai. Kemudian menutup diri dan menghabisi yang tidak sesuai. Apalagi sekarang ada tombol unfriend dan unfollow. Gampang kan? Linimasa seketika hanya akan menampilkan semua hal yang berkenan dan sukai. Demikian pula dengan berita. Sekarang kita bisa hanya membaca berita yang sesuai minat kita saja. Selamat datang keseragaman.

Mundur ke belakang, saat surat kabar menjadi satu-satunya sumber berita setiap pagi dan sore. Kita tidak bisa memilih berita apa yang ingin kita baca. Kita harus membeli semuanya. Buat generasi digital, hal ini tentu menjadi buang-buang waktu dan uang. Tapi kalau dipikir lagi, dari sinilah keragaman bisa dimunculkan. Saat kita membolak balik surat kabar itu, bisa dipastikan mata kita akan melihat berbagai tajuk berita. Yang kita sukai dan tidak kita sukai. Bibit-bibit rasa ingin tahu seperti disemai perlahan. Apalagi dilengkapi dengan foto-foto yang bisa menarik perhatian.

Menjadi belenggu tersendiri, saat kita berkoar hendak merayakan keragaman tapi di saat yang bersamaan kita berusaha melawan dan mematikan yang berbeda. Hanya karena, yang berbeda mungkin tidak sesuai dengan norma, agama dan keyakinan kita. Sebelum berteriak, ada baiknya mendengar. Lebih dalam lagi yaitu memahami.

Beberapa cuitan di Twitter sepertinya sepaham dengan ini:

screen-shot-2016-11-19-at-1-28-00-am

tygerd

Yakinlah, dibalik semua aksi ada motif. Dan motif itulah yang selamanya harus terus menerus digali. Boleh percaya atau tidak, dalam penggalian itu kita akan menemukan semua motif berujung pada hal yang sama. Misalnya, semua ingin dihargai, semua ingin didengar, semua ingin diakui, ingin makan, ingin kaya, ingin bebas, ingin cinta dan sebagainya. Keinginan dasar manusia yang kalau dituruti akan berujung pada ketamakan dan keserakahan.

Dalam sebuah diskusi kreatif beberapa minggu lalu, seseorang melontarkan konsep “challenging status quo” atau mempertanyakan keadaan sekarang yang sudah mengakar. Pertanyaan selanjutnya, kapan terakhir kali kita benar-benar melakukannya. Di ingatan saya baru ada demo 1998 lengsernya Suharto. Mungkin ada pembaca yang bisa menambahkan contoh kejadian lain. Diskusi semakin seru untuk kemudian membahas apakah benar bangsa ini lebih menikmati untuk memperkuat status quo ketimbang mempertanyakannya. Karena status quo dianggap memberikan rasa aman dan tenteram. Dan pertanyaan pamungkasnya, apa pentingnya mempertanyakan status quo?

Untuk pertanyaan terakhir, saya bisa menjawab dengan lantang hari ini: untuk merayakan keragaman. Bagi sebagian dari kita yang sudah hidup dengan kenyamanan dan keteraturan, tentu tak ingin ada perubahan. “Udahlah, gak usah macem-macem… Gini aja terus”. Manusiawi. Tapi jangan lupa, ada sebagian lagi dari kita yang sedang hidup dalam kesulitan. Tentunya ingin perubahan terjadi. Ingin hidupnya lebih baik. Manusiawi juga kan?

Semoga toleransi bukan lagi menjadi sebuah hari toleransi, tapi perlahan dilatih menjadi kebiasaan sehari-hari. Berkenalan dengan yang bukan sekutu. Berbincang dengan lawan. Mendengarkan yang berseberangan. Memahami yang sulit dipahami. Sehingga kita tak lagi masuk ke dalam lorong yang berisikan hanya orang-orang yang sepaham saja. sampai terwujudlah berbeda-beda tapi tetap beragam jua.

 

 

 

Obliviate

Dalam filem “Fantastics Beast and Where to Find Them” tiada pilihan selain “menghapus ingatan” kaum No-Maj atau manusia biasa bagi bangsa Amerika. Warga Inggris menyebutnya Muggle. Menghapus ingatan ini oleh JK Rowling dinamakan Obliviate. 

Dunia “warga biasa” belum siap dengan kehadiran aksi menakjubkan kaum penyihir. Mereka akan salah kira dan dapat disalahartikan menjadi sebuah ancaman. Jalan satu-satunya adalah Obliviate. Hapus ingatan para saksi. Hal ini juga ditemui dalam filem “Men in Black”. Bedanya, pria berjas dan berkacamata hitam menembakkan sinar yang “super-terang” seperti lampu kilat dengan tujuan menghapus ingatan jangka pendek. 

Dalam filem The Notebook (2004), seorang puan jelita bernama Allie (diperankan oleh Rachel McAdams) hilang ingatan tentang masa lalunya. Suaminya, Noah (diperankan Ryan Gosling) dengan sabar membacakan kisah mereka setiap hari dan berharap Allie dengan lamat-lamat dapat mengingat kisah cinta saat mereka muda dan tahu bahwa pria yang dengan setia membacakan sebuah buku harian itu adalah suaminya. 

Karena semua hal memiliki dua sisi. Bermanfaat sekaligus membahayakan. Seperti racikan obat, racun yang mengobati. Seperti karbohidrat, sumber tenaga yang bikin candu. Seperti oksigen, sumber kehidupan sekaligus yang menjadikan sel-sel lekas menua dan berkarat. Begitu juga dengan INGATAN. 

Bikin senang. Juga bikin sedih. Nostalgia sekaligus trauma. 

Ingatan mulai setia merekam momen hidup kita secara baik sejak usia dini. Untuk kejadian yang menyayat hati atau  begitu menyenangkan akan sulit dilupakan. Begitu juga kejadian yang memalukan. Malah terkadang terbayang-bayang dan “kepikiran”.  

Ingatan senantiasa identik dengan masa lalu. Justru yang tadinya mau ingat masa lalu bagian yang enak-enaknya saja, eh malah wajah si dia yang bikin mau mewek lagi. 

Orang Hawaii memiliki tradisi unik untuk menaklukan ingatan dan sejarah masa lalu. Ho’oponopono. Mereka senantiasa bilang pada diri sendiri I’m Sorry. Please Forgive Me. Thank You dan I Love You. Bahkan para narapidana pun diminta mengucapkan kalimat ini untuk memaafkan diri mereka di masa lalu, mulai mencintai dan pada akhirnya berbuat yang terbaik untuk hidupnya.

Bagaimana dengan kita?

Banyak orang yang pandai hilangkan ingatan. Coba saja tanya koruptor saat di sidang pengadilan. Atau murid yang tak mengerjakan PR, bawahan yang belum siapkan bahan presentasi, atasan yang tak pernah beri apresiasi, sahabat yang selingkuh dengan pacar, atau bahkan pacar yang harusnya sudah ngajak kita seperti sabtu sore gini. Jawaban mereka akan sama sejalan beriringan:

L  u  p  a ..

Salam anget,

Roy GingkoBiloba

Jangan Membenci Ide

Never hate a movie” kata Quentin Tarantino kepada kritikus film favorit saya yang menggunakan nama HULK dan menulis essay essaynya yang super panjang dan super dalam dengan HURUF KAPITAL SEMUA. Tentu Sang Quentin mengatakan ini karena HULK baru saja mengatakan dia membenci salah satu film Woody Allen, dan kata Quentin, daripada membenci sebuah film dan menghabiskan energi di situ saja, lebih baik cukup tidak suka saja dan belajar dari sana, karena banyak sekali yang bisa dipelajari dari sebuah film – apakah itu yang kita cintai maupun kurang sukai.

Bukan itu sih, yang saya ingin bahas, tetapi lebih kepada buku. Terkadang ketika kita membaca buku, selalu ada saja yang kurang. Seperti yang saya baru saja beberapa menit yang lalu selesai. Idenya sangat brilyan, luar biasa besar, walau penyampaiannya harus dengan kisah cinta yang cukup melodrama. Betapa saya agak terlalu sinis untuk kisah cinta. Tetapi, walaupun buku tersebut tidak sempurna, telah berhasil menanamkan ide di benak saya. Yang sebelumnya saya sempat terpikirkan ketika saya tercemplung dalam sebuah grup percakapan sekolah saya dahulu kala.

a3e12dc92cd26135b12db69ab3cafc95

Bukunya sendiri fiksi tentang multiverse. Anggap saja seperti eksperimen Schrodinger’s Cat; di mana kedua kemungkinan antara kucing mati dan kucing hidup terjadi di jagat yang berbeda, tetapi berdampingan, dengan pengamat yang berbeda juga, dan ketika kotak dibuka terjadilah percabangan jagat tersebut. Lalu diciptakan suatu alat demikian canggih, dipadukan dengan serum untuk membuka persepsi agar indra kita terbuka dengan simpangan jagat tersebut, sehingga kita memiliki kemampuan untuk melihat kucing yang hidup dan kucing yang mati.

Lumayan bingung? Saya juga. Cemennya, saya jadi teringat ketika melihat dua nama di grup itu. Keduanya sempat menyatakan ketertarikannya pada saya. Beberapa kali, bahkan. Tetapi tentu mereka bukan tipe saya, walau kami bertiga (dulu) sama brilyannya. Maksudnya rankingnya dulu-duluan saja antara 1, 2 dan 3 hahaha (paling tidak saya dulu pernah pintar). Lalu saya dengar mereka sekarang kelihatannya pada posisi yang baik. Tak ayal saya berandai. Kalau saja mengatakan ya kepada salah satu dari mereka, menundukkan keangkuhan saya. Seperti apa kira-kira hidup sekarang? Walau tetap ide bahwa harus menurut dan meminta izin seseorang untuk melakukan apapun terdengar agak mengerikan sekarang, but then again, if it was the condition from the start, anyone could accept it as the norm.

Never hate a movie. Never hate a book. Karena mereka melemparkan ide ke dunia. Dan sebuah ide, ketika sudah tertancap di otak, bisa mengular ke mana-mana. Dan kita tidak pernah akan tahu, di mana ujungnya.

Jalan-Jalan Jelajah Jaman

Salah satu jenis tontonan seru di televisi yang paling suka adalah serial tentang time-traveling, atau perjalanan menjelajah waktu. Biasanya karakter-karakter utama di serial ini akan pergi dari setting masa kini ke masa lalu, atau ke masa depan. Misi yang diemban para karakter biasanya sama, yaitu memperbaiki masalah, agar sejarah tidak berganti (untuk yang pergi ke masa lalu), dan mengintip keadaan yang akan datang untuk memperbaiki situasi sekarang (untuk yang pergi ke masa depan).

Template cerita seperti ini sudah banyak digunakan di banyak serial televisi. Yang paling bertahan lama adalah serial “Doctor Who” dari Inggris, yang sudah ditayangkan dari tahun 1960-an, dan masih bertahan sampai sekarang. Dan bisa dipastikan semua serial atau cerita superhero pasti mengambil alur cerita time traveling ini. Tujuannya tentu untuk menyelamatkan korban. Mulai dari “Smalville” sampai “Supergirl”, apalagi “The Flash”, pasti ada bagian cerita para pahlawan rekaan ini pergi menjelajah waktu.

Doctor Who

Doctor Who

Saya mulai memperhatikan alur cerita ini waktu menonton serial “Star Trek” tahun 1960-an yang pernah ditayangkan ulang di salah satu stasiun televisi swasta kita. Lalu pernah ada juga serial “Time Trax” yang sempat ditayangkan sesaat. Kedua serial ini, dan banyak serial serupa lainnya, sama-sama memperlihatkan para tokoh utamanya pergi bolak-balik antara masa kini dan masa depan.

Namun perhatian saya baru benar-benar tercurahkan penuh saat serial “Quantum Leap” hadir. Serial ini menceritakan mis-adventure Dr. Sam Beckett atas malfungsi mesin waktunya, sehingga setiap hari dia bangun mendapati dirinya sebagai orang lain di masa lalu. Tak peduli dia lelaki, perempuan, anak kecil, orang tua, remaja, Caucasian, Asian, Black, dan di negara mana saja. Dia ditemani Al, pria dalam bentuk hologram yang hanya bisa dia lihat. Tujuan Dr. Sam Beckett dan Al berkelana adalah untuk memperbaiki hidup orang agar lebih baik, selama tidak mengubah sejarah. Sampai akhirnya saat Dr. Sam Beckett bangun sebagai dirinya sendiri, maka serial ini berakhir.

Quantum Leap

Quantum Leap

Saking sukanya sama serial ini, saya sampai hapal kalimat-kalimat pembuka di setiap episode. “Theorizing that one could time travel within his own lifetime, Dr. Sam Beckett led an elite group of scientists into the desert to develop a top secret project, known as Quantum Leap.” Saya rela memotong waktu tidur siang di hari Minggu supaya tidak ketinggalan menonton serial ini.

Sekarang, ada satu serial baru di televisi Amerika yang sedang menjadi kesukaan saya. Judulnya “Timeless”. Serial ringan, senada dengan “Quantum Leap”. Ceritanya sederhana: ada tiga orang, yaitu ahli sejarah, detektif, dan ilmuwan, yang direkrut untuk menangkap penjahat yang sering berpindah-pindah waktu.
Sejauh ini kita sudah dibawa mereka ke jaman penembakan Presiden Abraham Lincoln, rencana bom nuklir awal tahun 1960-an, skandal Watergate, sampai bertemu Ian Fleming, penulis serial James Bond, waktu masih menjadi agen rahasia di Perang Dunia ke-2. Benar-benar tontonan yang seru, tidak membuat kita mengernyitkan kening, namun banyak informasi trivial yang membuat kita tersenyum. Apa itu? Tonton saja sendiri.

Timeless

Timeless

Dan memang tema time travel sedang cukup digemari. Paling tidak ada beberapa serial baru dan tidak terlalu baru yang sejenis. Ada “12 Monkeys” dan “Outlander” yang sudah masuk musim penayangan ke-3, ada juga “Frequency” yang masih baru saja ditayangkan mulai beberapa bulan yang lalu, yang diangkat dari film berjudul sama.

Kadang-kadang saya suka penasaran, apa ya yang membuat tema time travel ini banyak digemari?
Satu yang pasti, adalah escapism. Cukup menyenangkan untuk pergi barang 1 jam keluar dari kenyataan kita sehari-hari. Memang sejatinya semua tontonan adalah karya fiksi, tapi dengan setting cerita yang berbeda dari keseharian kita, maka semakin terasa perbedaan antara kehidupan nyata dan yang kita lihat.

Frequency

Frequency

Lalu yang kedua, yang juga saya amini, adalah karena di setiap cerita perjalanan masa lalu, kita sudah tahu apa hasil akhirnya. Kita tahu bahwa JFK pasti ditembak dan meninggal. Kita tahu bahwa Hitler akhirnya mati dan Jepang menyerah di akhir Perang Dunia II. Yang menjadi seru pada akhirnya adalah cerita how to get to the end, and not about the ending. Petualangan mencapai tujuan akhir cerita yang akhirnya menjadi bagian dari sejarah yang seru untuk diikuti.

Dan yang termasuk dari petualangan itu adalah the look of certain period of time, apa yang menjadi tren saat itu, yang hanya kita bisa lihat di foto atau arsip, sekarang tampak hidup meskipun hanya di layar kaca. Membuat kita sebagai penonton semakin berandai-andai dalam menjalani hidup saat itu.

Is time travel possible?

Is time travel possible?

Kalau saya bisa time travel sesaat, sehari saja untuk bisa melihat langsung, menghirup napas dan menjalani hidup sebentar saja di masa lalu, maka secara acak, saya ingin mengalami langsung suasana-suasana berikut:
– malam minggu di pusat Jakarta tahun 1973 bersama anak-anak muda saat itu;
– pagi hari tanggal 1 Oktober 1965;
– siang hari tanggal 1 Oktober 1966;
– menikmati senja di Bali tahun 1959;
– hari pernikahan ayah dan ibu saya; dan,
– bertemu Naoko Nemoto tahun 1960 di Tokyo.

Kalau Anda?