Mlekoh Kemranyas

​Bahasa Inggris punya setidaknya 78 kata untuk mengekspresikan rasa. Bahkan 156 dalam kamus modern mereka. Ndak sekedar manis, asam, asin, pahit dan gurih. Tapi berkembang dari acerbic, rancid , umami (Jepang) sampai zesty.

Misal, untuk Bihun Kari Ayam Rumah Makan Tabona di Medan. Dengan mudah rasanya dideskripsikan sebagai: thick and savoury with a kick of creamy spicy chicken broth. Dalam Bahasa Indonesia: gurih pekat dengan tendangan rasa pedas kari kaldu ayam.

Bihun Kari Ayam Tabona

Kenyataannya ndak sepedas itu. Bahkan, ndak seperti kari India atau Thailand. Ia memang pekat, tapi cukup ringan kalau harus dibandingkan Lontong Sayur Medan dengan kuah tauco-nya. Sejinak kari Jepang, tapi ndak sekental itu. Bingung kan?
Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan rasa sebagai tanggapan indra terhadap rangsangan saraf, seperti manis, pahit, masam terhadap indra pengecap, atau panas, dingin, nyeri terhadap indra perasa. Ada betulnya, tapi rasa makanan lebih dari itu. Ia juga melibatkan pengalaman tekstur, konsistensi, bau dan warna.

Seorang kawan mendeskripsikannya hanya dalam dua kata yang menurutku lebih tepat dari apapun diatas itu. Bihun Kari Ayam Tabona rasanya “Mlekoh Kemranyas.

Kita sering kewalahan menemukan padanan rasa dalam Bahasa Indonesia yang relatif muda. Untungnya Bahasa Indonesia bisa meminjam aneka lema Bahasa Nusantara yang lebih tua. Jawa, Sunda, Melayu punya segudang kata untuk rasa.

Mlekoh (Jawa, Sunda: Lekoh) berarti kental, pekat dan nendang. Sekaligus mengandung unsur gurih (umami) dan lembut (creamy) tanpa harus berpanjang-panjang dalam tulisan. Sementara, Kemranyas (Jawa) artinya terasa agak panas karena pedas ringan yang ndak terlalu ekstrim (Ngajeletot, Sunda). Kemranyas juga mengindikasikan aneka rempah yang secara keseluruhan menimbulkan efek panas di mulut. Kita ndak harus tau jenis rempahnya. Tapi tau apa yang lidah rasakan karena mereka.

Mlekoh Kemranyas efisien dan kaya. Bebas interpretasi tanpa membelokkan arti sebenarnya.

Ada baiknya Bahasa Indonesia mengadopsi aneka kata rasa ini untuk memperkaya ragam lisan dan tulisannya. Kata lain yang sering dipakai dalam mengekspresikan rasa seperti:

Kecut (Jawa): Asam yang tajam seperti rasa lemon, mangga muda, dan makanan lain yang serupa.
Apek (Jawa): rasa dengan bau lemak teroksidasi (rancid) seperti pada minyak goreng lama, minyak samin dan lainnya.
Nyelekit (Jawa. Sunda: Jeletot): Pedas ekstrim. Menimbulkan efek sakit.
Sepet (Jawa): rasa asam kesat seperti pada jambu biji, mangga mengkel, salak dan lainnya.
Langu/segrak (Jawa): rasa dengan efek bau yang tajam seperti pada daun kemangi, daun ketumbar, arugula dan sejenisnya.
Masir (Melayu): rasa dengan efek pasir seperti pada kuning telur asin, kelapa kopyor, atau tobiko (telur ikan).
Semangit (Jawa): rasa dengan efek aroma busuk karena fermentasi lewat waktu seperti pada oncom, tempe bongkrek dan lainnya.
Kemripik (Jawa): rasa dengan efek renyah seperti pada peyek, krupuk, kripik kentang, bawang goreng dan sejenisnya.
Giung (Sunda): rasa manis yang berlebihan.
Mawur (Jawa): rasa dengan efek rontok (crumbly) seperti pada nasi pera, kue kering dan sejenisnya.
Amis (Jawa. Sunda: Anyir): rasa dengan efek bau tajam khas bahan makanan laut seperti ikan, kerang dan moluska. Atau koagulasi darah (mahruz).
Kelet (Jawa): rasa dengan tekstur lengket (gooey) seperti pada madu, karamel dan sejenisnya.
Njendal (Jawa): rasa dengan tekstur lengket berlemak seperti gajeboh (Minang), gulai kambing dingin dan lainnya.

Advertisements

Rawat Seorang Anak-Anak di dalam Dirimu dan Berbahagialah

kartun-masa-kecil

Kartun “Permainan Masa Kecil”, HAH, 2012.

 

KETIKA buku mewarnai gambar untuk orang dewasa laris-manis, saya seperti menemukan pembenaran atas alat gambar dan buku gambar yang selalu saya bawa ke mana-mana. Ada seorang anak kecil yang abadi dalam diri saya dan saya bahagianya bersamanya.

Anak kecil itu adalah dia yang dulu menggambar di hamparan pasir di halaman rumah kami, dulu. Itu rumah kontrak di dekat balai desa dan sebuah pasar yang mati. Rumah kontrak itu sepertinya dulu adalah deretan toko yang berubah fungsi. Dinding depannya sejumlah pintu geser yang diberi nomor, dan tak ada jendela.

Anak kecil itu menggambar apa saja dengan sepotong bambu: Mobil, ikan paus, ayam jago, pohon kelapa, kura-kura, apa saja… Anak kecil itu pernah begitu iri pada krayon warna-warni milik anak seorang mantri di puskesmas yang baru saja pindah dari kota.

Seperti anak-anak lain ia menyukai kartun Hanna-Barbera: Si anjing detektif kalem Huckleberry Hound, Scooby Doo anjing takut hantu yang justru rasa takutnya itulah yang kerap membuka kedok hantu gadungan, juga dongeng H.C. Andersen yang dikartunkan.

Film kartun di TVRI itu harus ia tonton dengan mencuri-curi waktu salat magrib.  Selisih waktu antara Indonesia Timur dan Indonesia Barat membuat tayangan sore di Jakarta menjadi senja di Kalimantan. Untuk alasan itu ia pernah begitu benci pada Jakarta yang egois.

Suatu hari ia menemukan artikel tentang Charlie M Schulz di majalah remaja. Anak pemalu penyuka anjing yang kelak menjadi kreator  “Peanuts”, stripkomik Charlie Brown dan anjingnya Snoopy, dan kawan-kawan. Ia ingin menjadi kartunis dan kaya seperti Schulz. Ia mulai merancang karakter kartunnya sendiri.

Kartun membantunya menyambung hidup. Di SMA ia bekerja sebagai kartunis lepas di sebuah koran lokal.  Pekerjaan yang ia dapatkan setelah semalaman menyiapkan puluhan gambar untuk dibawa ke kantor redaksi koran lokal tersebut. Dan ia diterima. Ia diberi uang honorarium bulanan Rp25.000,-. Dan itu besar untuk seorang anak SMA seperti dia. Dia bisa “bergaya hidup mewah” dengan melanggani majalah HAI, Intisari, dan sesekali beli Jakarta-Jakarta atau Tempo. Juga bisa sesekali membeli buku-buku sastra, termasuk buku puisi Duka-Mu Abadi Sapardi Djoko Damono.

Saat kuliah dia membuat kartun di beberapa majalah dan surat kabar di Jakarta. Dan beberapa kawan mendirikan komunitas kartunis di kampus. Pada suatu hari ada pameran buku di kampusnya. Ia kepincut dan dengan sisa-sisa uangnya ia membeli buku Gerhard Gollwizer “Menggambar bagi Pengembangan Bakat”. Diterbitkan oleh penerbit ITB. Ia membayangkan buku inilah yang dibaca oleh anak-anak seni rupa di kampus itu.

Ia tertawa ketika seorang kawannya menegurnya dengan keras, “buat apa beli buku itu? Menggambar itu haram!” Dalam hatinya – ia menghindari pedebatan – bilang, “kartun-kartun saya sama sekali tak mengurangi iman saya. Allah yang Agung tak sebanding dengan selembar kartun.”

Sewaktu lulus kuliah dan bekerja – dan ia bayangkan ia akan berhenti menggambar kartun –  dia bilang pada kawan-kawan komunitas kartunnya, “Indonesia kehilangan seorang calon kartunis terbaiknya!” Kawan-kawannya tertawa, mereka tahu ia hanya bercanda.

Nyatanya, ia terus menggambar, untuk dirinya sendiri. Dan ia bahagia.

Kemana-mana, jika bepergian untuk beberapa hari, karena urusan pekerjaan misalnya, dia selalu membawa seperangkat alat gambar, dan buku gambar. Kadang ia sama sekali tidak menggambar apa-apa, tapi ketika melihat buku gambar dan pena di meja di samping katil di kamar hotelnya ia seperti ditemani anak kecil yang dulu menggambar di halaman rumah itu.

Dulu dia menggambar untuk mendapatkan honor. Kini dia mengambar hanya untuk sebentar bergirang hati. Sebentar menjadi kanak-kanak lagi, bermain bersama kanak-kanak dari masa kecilnya yang kini tetap sebagai kanak-kanak.

Di gambar kartunnya ia memakai tanda inisial “HAH”. Semacam interjeksi dari keheranan dan keterkejutan. Karena memang begitulah yang ia rasakan setiap kali menyadari bahwa masih ada  seorang anak kecil itu di dalam dirinya, dan dia bahagia. ***

 

 

 

 

Jatuh Cinta Kepada Facebook Live

Ketika facebook menambah fitur “live” bagi siapa saja baik akun perorangan maupun page, saya kembali jatuh cinta pada facebook. Path jarang saya tengok, twitter juga, apalagi whatsapp yang sudah penuh noda dengan disposisi atasan, meme jadul, dan gosip murahan.

Tidak seperti fitur “story” yang ditempelkan Instagram (grup Facebook), dengan mengekor pada snapchat, atau seperti layanan broadcast pada “bigo”, yang terlanjur dipenuhi mbak-mbak lepas kancing, facebook secara tepat menambah fitur live dilengkapi dengan notifikasi dan pilihan menayangkannya secara rekaman, tanpa batas waktu dan menempel langsung menjadi satu kesatuan dengan akun kita. Ini yang membedakan facebook live dengan periscope (grup twitter).

Ketika Youtube (grup google) akhirnya berkembang menjadi sebuah alternatif televisi dan memunculkan bintang idola baru lewat vlog, maka youtube menjadi idola akun serius seperti kanal berita resmi. Saat sidang Jessica berlangsung KompasTV menayangkan sidang itu secara live melalui facebook dengan durasi lebih dari tiga jam. Saya menontonnya. Ringkas. Hanya dengan gawai, kita juga dapat menayangkan kegiatan kita ke seluruh penjuri dunia maya seketika.

Bukankah youtube juga bisa dilakukan secara live? Iya. Tapi apakah lewat piranti gawai kita bisa melakukannya secara langsung? Bukankah periscope juga live? Iya tapi apakah tanpa meninggalkan aplikasi twitter kita bisa menyiarkan dan atau menontonnya langsung? Bukankah Bigo juga Live? Iya tapi membangun follower dan teman-teman dari aplikasi media sosial sebelumnya yang terlanjur sudah bejibun sulit dilakukan. Inilah yang dimanfaatkan Instagram. Pengguna instagram tak perlu lagi mempromosikan akun snapchatnya. Toh, di Instagram sudah dapat dilakukan secara mandiri.

Dengan adanya facebook live, maka setiap orang dapat menjadi “kantor berita” yang menayangkan hal apapun secara langsung, dengan audio visual lengkap kualitas gambar definisi terbaik (HD). Notifikasi yang dilakukan facebook juga cukup efektif. Jika ada akun yang kita ikuti atau menjadi “friends” kita sedang menayangkan live, seketika facebook menyampaikan notifikasi ke seluruh penjuru akun.

This slideshow requires JavaScript.

Stay Update. Go Live to engage your followers and grow your audience in new ways“, kata Facebook. Secara berangsur-angsur mereka tidak lagi mengutamakan update status atar teman. Facebook beralih menjadi aplikasi dengan platform sejuta fitur. Ini disukai banyak blog tenar, kantor berita resmi dan media lainnya. Sekali skrol kita mendapat kombinasi tayangan video lucu, berita terkini, tayangan langsung dari segala penjuru dunia, curhat sahabat dan seketika dapat dibagi dengan mudah kepada teman-teman lainnya.

Saya membayangkan betapa riuhnya ketika lebaran tiba. Bahkan saat bulan puasa dengan kegiatan buka puasa, kemeriahan teraweh, kuliah subuh, musim mudik dengan saling bertukar info, baik kemacetan maupun kelancaran lalu lintas. Apalagi berbagi pemandangan indah kampung halaman.  Juga saat acara sungkeman. Atau membayangkan juga acara wisuda yang alpa dihadiri, pertandingan sepakbola, acara sungkeman hingga akad nikah. Sungguh menawan.

Jika vlog menarik dengan tampilan grafis yang lucu dan telah dikemas agar enak ditonton, facebook live adalah cara mudah untuk menayangkan secara langsung aktivitas keseharian kita kepada para sahabat dan handai tolan tanpa jeda. Dan ini bagian menariknya: kita semua menjadi artisnya.

 

Salam anget,

Roy Zuckerberg

 

Table for One

Setelah percakapan santai di ruang oborolan Linimasa saya baru bisa melihat bangsa kita dari sudut lain. Bukan, ini bukan tulisan mengenai Sumpah Pemuda. Selama ini saya sangka minat baca kita kurang karena ya, tidak dibiasakan saja. Tidak pegang data yang valid, perbandingan minat baca pra-ponsel pintar dan setelahnya, tetapi curiganya sih, tidak terlalu jauh berbeda. Saya percaya yang namanya pengalian perhatian, jika dicari ya pasti ada saja. Mau itu TV, smartphone, Game & Watch (jamdul, kak), tetris, TTS atau apapun itu yang membuat kita jadi tidak ingin membaca buku.

table-for-one-800x543

Kemudian Glenn menunjukkan kalau membaca itu kegiatan personal, sementara orang kita lebih suka apa apa yang sifatnya komunal, jadi tentu membaca tidak populer. Kemudian penulis Linimasa hari Minggu ini juga menceritakan kasus, bahwa dulu diperkenalkan deterjen yang hanya membutuhkan sekali bilas, dan dikampanyekan agar sang ibu lebih banyak “me time“. Hasilnya, tidak laku. TAPI KENAPA? Tanya saya. Bahwa seorang ibu bisa tidak merasa memerlukan me time itu adalah konsep yang sangat asing buat saya. Sementara saya (jika situasi dan kondisi memungkinkan) sering seharian tidak keluar kamar yang gelap, dengan berbekal satu season serial yang mencekam, dan masih merasa terganggu jika harus menerima telepon maupun menjawab pesan di ponsel.

hopper

Ternyata semboyan “mangan ora mangan sing penting ngumpul” itu bukan cuma jargon. Ternyata saya sepertinya pencilan minor. Sementara menurut teman-teman penulis Linimasa, makan dan nonton sendiri di sini masih dianggap menakutkan dan aneh (saya sungguh bisa menikmati, dibandingkan ditemani seseorang yang membosankan atau menyebalkan). Bisa berminggu-minggu tidak harus keluar rumah dan berinteraksi dengan manusia lain, saya merasa bersyukur dan tidak merasa kehilangan, sampai ketika harus mengobrol dengan teman-teman dan sepertinya saya jadi harus berlatih kembali mengungkapkan pendapat dengan urut (karena terlalu biasa bicara dalam hati).

vol_9_table_for_one_cover

Malah menurut Dragono, ada yang mengadakan communal reading, di mana sekelompok orang duduk dan membaca buku yang sama; sesekali satu orang diminta membaca dengan lantang paragraf yang dibacanya. Sekali lagi, this is an alien concept to me. Tetapi ternyata dengan cara ini minat baca lebih bisa didongkrak. Lalu ditambahkan lagi bahwa ini tidak eksklusif perempuan, bahwa banyak juga laki laki yang mengaku ‘tidak bisa makan kalau harus sendiri’. Oh ya baiklah. Kalau begitu mungkin kolega saya banyak yang sering merasa kasihan karena saya selalu duduk di pantry sendiri, mengunyah makan siang saya. Padahal dalam hati saya sedang gembira sekali, karena akhirnya saya ada waktu untuk mengejar membaca reddit atau Buzzfeed.

Ada 11 Hal Yang Bisa Membuat Bahagia

Beberapa hari yang lalu, saya menulis sebuah post singkat di akun salah satu media sosial pribadi. Kurang lebih maksud tulisan saya itu begini:

“Ternyata semakin berumur, level kebahagiaan gue gampang diraih. Atau justru makin rendah? It does not take much to make me happy. Barusan gak ngantri pas beli pecel di tempat yang biasanya ngantrinya lama aja, bisa tiba-tiba seneng banget.”

It seems trivial. Tapi namanya rasa bahagia, ternyata tidak ada bisa yang tahu datangnya kapan. Dan entah ada angin dari mana, tau-tau ada perasaan senang.

Lalu saya mengingat lagi hal-hal kecil yang terjadi selama sepekan terakhir. Dari tulisan minggu lalu, sampai ke tulisan minggu ini. Ternyata banyak hal-hal kecil yang membuat saya senang saat semuanya terjadi.

(Courtesy of frequencyriser.com)

(Courtesy of frequencyriser.com)

Mungkin bukan sesuatu seperti ‘you walk to stop and smell the roses‘, karena bagaimanapun juga, susah juga jalan di Jakarta dan membaui bunga mawar di pinggir jalan, yang hampir tidak pernah ada. Tetapi mengambil perumpamaan yang sama, ada cukup banyak kejadian sederhana yang, paling tidak, menghadirkan senyum sejenak:

  1. Tidak perlu antri makanan sama sekali, padahal biasanya bisa antri 20 menit-an.
  2. Dapat supir Uber atau Grab yang tahu jalan, sehingga saya bisa sempat tidur sejenak di perjalanan.

  3. Menonton bioskop dalam keadaan tenang, karena di sekeliling tidak ada penonton yang berisik dan menyalakan gadget sepanjang film.

  4. Punya waktu untuk berolahraga yang cukup.

  5. Karena sudah berolahraga, tidur bisa kembali normal ke 7-8 jam di malam hari.

  6. Karena tidur cukup, maka sudah beberapa minggu ini tidak sakit, di saat cuaca tidak menentu.

  7. Menyelesaikan membaca buku.

  8. Bertemu langsung dengan kawan, dan tertawa bersama.

  9. Berhasil membuat playlist lagu-lagu yang menemani tidur.

  10. Tagihan telpon berkurang sampai 65%.

  11. Menemukan tontonan-tontonan televisi/streaming baru yang menyenangkan.

Tentu saja, ada saatnya nanti semua hal di atas ini berbalik 180 derajat, sehingga yang ada saya menyumpah serapahi hari-hari saya.
Jangan khawatir. Semuanya pernah terjadi. Tapi yang jelas, tulisan ini bisa saya baca lagi nantinya, sebagai pengingat bahwa saya pernah mendapati hal-hal kecil yang, tanpa bisa dijelaskan lebih panjang lagi, bisa membuat saya bahagia.

Sometimes it doesn’t take much to make us feel inexplicably happy.

But if you have to list those down, what’s yours?

(Courtesy of fractalpanda.com)

(Courtesy of fractalpanda.com)

Urusan Tapak Kaki

SELAIN Songkran–festival tahunan yang bikin banyak orang rela berdiet dan intensif ngegym itu, salah satu perayaan budaya bernuansa Buddhisme ala Thailand yang diincar para wisatawan adalah Loi Krathong. Atmosfernya sangat berbeda. Songkran terkenal dengan basah-basahannya, sedangkan Loi Krathong identik dengan melarung pelita.

Suasana Loi Krathong di Pattaya tahun lalu. Foto: lovepattayathailand.com

Suasana Loi Krathong di Pattaya tahun lalu. Foto: lovepattayathailand.com

Sepeninggal Raja Bhumibol Adulyadej 13 Oktober lalu, Thailand berkabung sepanjang tahun. Semua kegiatan publik yang ingar-bingar dan penuh sukaria pun diredam, bahkan banyak yang dibatalkan. Loi Krathong di Pattaya salah satunya, sementara di daerah-daerah lain tetap diselenggarakan meski dibuat lebih prihatin. Naga-naganya, ada doa dan harapan berbeda dalam pelaksanaan Loi Krathong November mendatang. Setiap pelita daun pisang yang dilarungkan ke danau, sungai, maupun laut nantinya, bakal diiringi rasa belasungkawa dan dukacita.

 

Dalam sebulan terakhir hingga pertengahan November, prosesi yang sekilas mirip Loi Krathong dilangsungkan secara kecil-kecilan di berbagai kota Indonesia. Pelita-pelita kertas berbentuk teratai tidak dilarungkan di danau, sungai, apalagi laut, melainkan di kolam-kolam kecil dalam kompleks vihara mazhab Theravada. Bukan Loi Krathong namanya, tetapi Siripada Puja, bagian dari peringatan hari raya Kathina. Tidak ada hubungannya dengan masa duka di Thailand sana.

Berbeda dengan Loi Krathong yang bisa diselenggarakan secara serentak di seluruh Thailand, pelaksanaan Siripada Puja di Indonesia harus diatur dengan jadwal, lantaran total Bhikkhu yang hanya ada 84 orang (dikutip dari sini). Dibagi dalam kelompok-kelompok kecil berisi empat sampai delapan Bhikkhu, mereka ditugaskan untuk menjalani semacam roadshow mulai dari pulau-pulau luar Jawa dan Sumatera. Di Jakarta sendiri, salah satu sesi Kathina dan Siripada Puja penutup dijadwalkan berlangsung Sabtu kedua November mendatang.

14633226_204169956677634_5990129097486499728_o

Siripada Puja dimulai oleh para Bhikkhu di Vihara Santi Graha, Tanjungredeb, Berau. Minggu (18/10). Foto: comot dari Facebook teman.

img_1954

Siripada Puja di Vihara Muladharma, Samarinda. Minggu (23/10) lalu. Foto: comot dari Path teman.

Serupa tapi tak sama. Pelarungan pelita saat Loi Krathong lebih bertujuan untuk memanjatkan doa-doa khas ritual keagamaan, serta sebagai bentuk pemujaan kepada dewi air dalam kepercayaan lokal Thailand. Sedangkan Siripada Puja merupakan tradisi Buddhisme mazhab Theravada asal Asia Selatan, berupa penghormatan kepada tapak kaki Sang Buddha (dalam bahasa Pali, pada: kaki) yang konon tersebar di India dan Sri Lanka. Siripada Puja dimaknai sebagai penguatan tekad untuk mengikuti jejaknya.

Mengapa Siripada Puja dilakukan dengan melarungkan pelita di perairan, meskipun cuma kolam kecil?

Pertama. Siripada Puja merupakan prosesi simbolis, bukan ibadah atau persembahyangan. Toh, Buddhisme memang tidak mengenal konsep sembahyang. Selain itu, satu orang membawa satu pelita. Kelihatannya lebih keren sih apabila pelita-pelita tersebut dilarungkan dalam jumlah yang lebih banyak, dan di perairan yang lebih luas, tapi jatuhnya bakal seperti prosesi penerbangan lampion di areal Borobudur saat peringatan Vesak. Belum lagi sampah sisa-sisanya. Salah satu prosesi Siripada Puja yang pernah pertama dilakukan di perairan umum Indonesia adalah di Tangerang, 2008 lalu (CMIIW). Pelita dilarungkan ke Sungai Cisadane. Dampaknya, bahkan banyak Buddhis lokal yang mengeluhkan pelaksanaan yang berisik, tidak khusyuk, dan menyisakan sampah. :p

Kedua. Konon terdapat lima titik tempat Buddha meninggalkan cenderamata berupa tapak kaki di batu. Kelima lokasi tersebut adalah: Nammada, Yonakapura, Sumanakuta, Suvannapabbata, dan Suvannamalika. Dua titik di antaranya masih bisa ditelusuri hingga saat ini, yaitu Nammada yang kini dikenal sebagai Sungai Narmada atau Sungai Reva di India, serta Sumanakuta (Puncak Sumana) di Sri Lanka. Jadi, pelita yang dilengkapi dupa wangi, diniatkan mengalir sampai ke lokasi-lokasi tersebut.

Khusus untuk Sumanakuta di Sri Lanka, situs ini masih ada, masih bisa dikunjungi, dan tentu ramai peziarah… dari banyak agama. Seperti Yerusalem yang jadi tempat suci bagi umat tiga agama besar Samawi, Sumanakuta juga jadi “miliknya” Buddhis, Muslim, umat Hindu, dan umat Kristen. Semua terpusat pada satu bekas jejak kaki yang sama. Nah loh!

Ini di Puncak Sumana/Adam's Peak, tapi itu bukan bekas tapak kaki yang sebenarnya. Kabarnya, tapak kaki yang asli sudah dikubur. Foto: islamiclandmarks.com

Ini di Puncak Sumana/Adam’s Peak, tapi itu bukan bekas tapak kaki yang sebenarnya. Kabarnya, tapak kaki yang asli sudah dikubur. Foto: islamiclandmarks.com

Bagi Buddhis, tapak kaki yang ada di Puncak Sumana tersebut dipercaya adalah milik Sang Buddha, ketika berkunjung ke Sri Lanka atas undangan Raja Maniakkhika dari Kerajaan Kelaniya.

Bagi Muslim dan umat Kristen, lokasi tersebut dikenal sebagai Adam’s Peak (Puncak Adam). Entah bagaimana ceritanya, konon tapak kaki tersebut dipercaya sebagai jejak Nabi Adam setelah diusir dari Taman Eden atau firdaus dan terpisahkan dengan Hawa.

Bagi umat Hindu, tapak kaki tersebut dipercaya adalah milik Dewa Siva. Selebihnya, Puncak Sumana juga dipercaya sebagai bagian dari ibu kota Kerajaan Alengka saat dipimpin Dasamuka alias Rahwana dalam periode Ramayana. Dewi Sinta pernah diculik dan dibawa ke sana.

Puncak Sumana/Adam's Peak. Foto: Pinterest

Puncak Sumana/Adam’s Peak. Foto: Pinterest

Kalau sudah begini, mana yang benar? Itu tapak kakinya siapa sih? Apa mesti harus minta bantuan Teko Ajaib miliknya Pangeran Dandan dan Putri Syalala supaya bisa ke masa lalu? Bagi saya yang Buddhis, ya terserah saja sih mau tapak kakinya siapa pun itu. Lagian tidak ada keharusan untuk melakukan ritual Siripada Puja, dan niat awalnya adalah sebagai simbolisme untuk diri ini bisa bersikap baik, dan berusaha menjadi sama seperti Buddha. Apalagi kebetulan, we’re encouraged to doubt, examine, and came with the final result; supaya jangan sok-sokan fanatik kalau sendirinya enggak benar-benar tahu apa yang pernah terjadi dulu.

[]

Black Mirror: Sisi Gelap Teknologi Dan Media Sosial

Black Mirror adalah salah satu serial andalan baru dari Netflix. Seperti House of Cards yang sukses melambungkan Netflix, yang serial aslinya berasal dari Inggris. Berhasil merampungkan dua musim di Inggris lalu,  serial antologi besutan Charlie Brooker produksi dari Zeppetron dan Endemol ini tayang di Channel 4, TV kepunyaan Departemen Kebudayaan, Media, dan Olahraga Inggris. Yang menarik dari serial ini adalah setiap episod mempunyai cerita sendiri. Bahkan setiap musimnya hanya berisi tiga episod, plus episod khusus untuk Natal. Total tujuh episod. Di tahun 2012, serial ini meraih International Emmy Awards. Serial terbaik di luar Amrik.

blackmirror

Untuk musim ketiga ini Netflix yang menayangkan serial ini. Charlie Brooker masih dipercaya di belakang layar. Walaupun setiap cerita berdiri sendiri tetapi Black Mirror tetap berada pada jalurnya: Sisi gelap dari masa depan internet, teror teknologi, dan juga media sosial. Saya agak kesulitan melabeli genre-nya. Mencoba membaca masa depan teknologi yang tidak terlalu jauh dengan segala implikasinya ke dunia modern. Sedikit distopia. Sisi gelap dan satir lebih ditonjolkan di serial ini. Aspek moralitas dan hubungan antar manusia. Kalau masih ingat dengan film “Her” yang dibintangi oleh Joaquin Phoenix, ya kurang lebih seperti itu. Saya melihat film ini sebagai satu episod yang hilang dari Black Mirror. Ini film science-fiction yang hanya berjarak lima atau sepuluh tahun di depan anda.

blackmirrors0101

Di episod pertama musim pertama yang berjudul “The National Anthem”, cerita berkutat di Downing Street 10, rumah dinas PM Inggris. Seorang penculik berhasil menyekap salah satu anggota keluarga dari Kerajaan Inggris. Kejadian ini menjadi isu internasional karena penyekapan ini disiarkan melalui Youtube. Permintaannya cuma satu: PM Inggris harus bersenggama dengan babi dan disiarkan langsung di TV nasional atau putri dari kerajaan itu mati. Permintaannya memang bukan uang. Tapi sisi moral kita terketuk dengan satu episod ini saja. Apakah kita senang melihat orang menderita walaupun itu seorang  politisi yang anda benci? Atau sebaliknya?

black-mirror-nosedive

Di musim ketiga episod pertama yang berjudul “Nosedive”, bercerita mengenai wanita yang insecure, karena hidup di mana segala sesuatunya berdasarkan rating. Rating tertinggi adalah lima. Seperti rating supir Uber. Yang mengerikan adalah kita bisa melihat rating dari setiap orang hanya dengan bertatap muka atau melihat wujudnya. Ketika kita menerima video call dan panik karena anda berada di tempat yang tidak enak dilihat, maka ada yang salah dengan dunia yang kita huni. Hal ini bisa membuat orang menjadi orang lain. Kemana-mana memakai topeng. Topeng yang sedang tersenyum dipaksakan.

Di episod “Shut Up And Dance”, Charlie Brooker mengangkat isu cyber-bullying. Hal yang sangat lumrah terjadi. Facebook atau Twitter adalah tempat kesayangan. Temanya bisa macam-macam. Politik terjadi setiap hari (sampai saya bingung koq ada orang yang menghabiskan energinya setiap hari untuk membela kandidat favoritnya). Setiap orang yang melakukan kesalahan dan terekam internet siap diganjar hukuman. Karena internet tidak akan lupa. Caci maki dan sumpah serapah akan menghantui tombol notifikasi. Jika mental kita tidak kuat. Bukan tidak mungkin nyawa seseorang akan melayang. Seperti copet di pasar yang dihakimi massa. Dipukuli karena uang yang tidak seberapa.

black-mirror-slice

Setiap episod dari Black Mirror ini sebetulnya mengganggu. Karena saya yakin banyak yang tersinggung dengan salah satu dari tema yang diangkat. Walaupun bergenre sci-fi, tapi ceritanya adalah mengenai keseharian. Apalagi jika akrab dengan media sosial. Sehingga kita merasa dekat dan berpikiran ini bisa kejadian lho. Atau mungkin sebetulnya sudah terjadi. Hanya saja kita tidak menyadari. Kita mempunyai kecenderungan menjadi manusia yang berbeda jika kita banyak yang memperhatikan. Atau sebaliknya ketika kita membutuhkan perhatian. Selama kita terlihat “terpandang” makan apapun dilakukan. Benar atau salah itu urusan belakangan.

Dan jangan khawatir serial ini tidak akan membuat waktu anda tersita. Tidak seperti Stranger Things, misalnya. Anda bisa menikmati satu episod dari Black Mirror lalu istirahat sehari. Atau satu hari satu episod. Tidak ada aturan khusus. Karena tiap episod membuat anda berpikir, ternyata sulit sekali untuk menjadi diri sendiri.

Inovasi atau Curang?

​Perjalanan ke Jogja dan Solo beberapa minggu lalu bikin sadar, aku ndak pernah dapat sate uritan yang “betul” di Jakarta. Entah itu tukang sate di komplek rumah, sampai Mayestik atau Jatinegara sekalipun. Mereka menjualnya sebagai sate telor, yang bukan telur puyuh. Jarang pakai nama uritan.

Sate Telor. Sumber: Chiquita Hindarto

Uritan adalah calon telur gagal berkembang di dalam ayam betina petelur yang ndak lagi subur. Ayam jenis ini disebut afkir. Harga dagingnya lebih murah dari ayam petelur subur karena tebal dan cenderung alot. Bakal telur ayam afkir ndak dilapisi albumin (putih telur) dan cangkang yang biasanya mengeras setelah teroksidasi di luar perut ayam. Bentuknya ndak seragam. Ada yang kecil, sebesar telur puyuh atau bola ping-pong. Warnanya kuning dengan semburat pembuluh darah di semua sisi-nya. Rasanya persis seperti kuning telur minus efek masir. Lebih gempal dan padat.

Uritan Beneran. Sumber: Sianna Kaur

Di Jakarta, kemungkinan juga kota lain di Indonesia, uritan ini diganti dengan teknik khusus menggunakan bahan dasar telur, terigu atau tahu. Hasil adonan telur itu kemudian dibentuk bulat seperti uritan, ditusuki dan dijual sebagai sate atau bahan tambahan aneka Soto dan bubur ayam.

Uritan Buatan. Sumber: Chiquita Hindarto

Cara membedakan uritan buatan dan asli, mudah. Lihat bentuknya. Sama besar atau bervariasi? Kalau semua sama besar dan bulat sempurna, besar kemungkinan itu uritan buatan. Perhatikan, apakah ada gurat-gurat pembuluh darah? Uritan asli punya karakteristik ini, ndak peduli ukurannya. Terakhir, potong melintang. Kalau teksturnya kenyal macam jelly dan ndak seperti lagi memotong kuning telur (sedikit hancur), ia adalah uritan buatan.
Pertanyaannya, uritan buatan ini inovasi atau curang? Pertanyaan yang sama juga berlaku untuk parutan kelapa (bersama ayam) dalam lemper dan Crab Stick (Kani) di masakkan Jepang. Atas asas praduga tak bersalah, kita bisa mulai dari tujuan pembuatannya.

Kanikama. Sumber: Wikipedia

Crab Stick ditemukan dan dipatenkan dengan nama “Kanikama” di Jepang tahun 1973 oleh perusahaan Sugiyo. Daging ikan (surimi) dengan isian terigu dan bumbu, termasuk MSG dibentuk dan diwarnai menyerupai daging kepiting masak. Di Inggris dan beberapa tempat lain, Kani ndak boleh dijual sebagai Crab Stick atau Crab Meat, karena memang ndak ada daging kepitingnya, kan? Juga agar ndak menyalahi aturan dagang yang berlaku. Kani dibuat karena sulitnya mendapatkan daging kepiting utuh baik secara penangkapan maupun penyajian. Bukan menggantikan bahan aslinya. Alasan estetika juga melatari pemanfaatan Kani dalam masakkan Jepang. Ia tergolong inovasi, karena harga dan tujuannya bukan untuk mengelabui pembeli.
Sama dengan Uritan buatan. Harganya terjangkau dan mari kita berasumsi karena sulitnya pasokan uritan asli di luar Jawa Tengah/Timur. Ada juga yang menganggap uritan “lumayan” membunuh selera makan setelah tau asalnya. Ia dijual dengan nama sate telor supaya ndak salah persepsi. Beberapa kawan di Jakarta bahkan ndak tau sate telor di Jawa Tengah/Timur sana bukan sate telor yang ia kenal selama ini.

Lemper. Sumber: Google

Berbeda dengan kelapa parut dalam lemper. Tujuannya untuk menambah volume ayam sebagai isi. Bedakan dengan lemper serundeng, ya. Tekstur kelapa bersama bumbu yang sama bisa tersamar dengan ayam. Ndak ada tujuan estetika atau supaya berterima di pasar. Dijual dengan harga normal berjudul “Lemper Ayam” tanpa embel-embel kelapa. Ya curang doong!

Harapan 2017

TIBA-TIBA tahun 2017 sudah semakin mendekat. Bagi siapa saja yang merasakan waktu cepat sekali berlalu di tahun 2016, bersyukurlah. Karena berarti kesibukan telah menyita waktu. Karena bagi sebagian besar orang lagi, 2016 adalah tahun yang sangat lamban. 

Rutinitas tahunan saya bersama sekumpulan teman adalah membuat prediksi apa yang akan terjadi di tahun 2017. Setelah melakukannya lebih dari 3 tahun, kami memutuskan kali ini untuk melakukannya dengan cara yang sedikit berbeda.

Kalau biasanya, kami melakukannya dengan membaca tanda-tanda tahun 2015 dan 2016 sebagai gejala yang akan muncul 2017, kali ini tidak sepenuhnya seperti itu lagi. Kami merasa bahwa tahun 2016 lebih istimewa dibanding sebelum-sebelumnya. Salah satu dua tiga empat lima dan seterusnya, adalah perihal ekonomi yang dirasa semakin berat di 2016. Kesulitan ini membuat banyak tanda-tanda menyepi. Karena orang cenderung untuk tidak melakukan apa-apa selain bekerja keras dan lebih keras lagi untuk mendapatkan lebih. Fokus pada pekerjaan ini membuat banyak dari kita menyampingkan hal-hal lain seperti hobi, kesenangan, mengganti bahkan meniadakan kebiasaan yang dinilai tidak perlu. Jadi secara sederhana tahun 2016 bisa disimpulkan sebagai tahun kerja keras. “Kayak kerjaan lebih banyak tapi kok hasilnya gak tambah banyak juga” begitu kurang lebih komentar banyak teman dan responden.

Ditambah lagi peristiwa di media sosial yang banyak memutar balikkan keyakinan. Munculnya orang-orang mendadak terkenal, terpecah belahnya kubu dan persahabatan dalam politik, kemajuan yang ternyata hanya berjalan bagi sebagian kecil, dan kejutan-kejutan mistis yang mencengangkan. Semuanya membuat banyak dari kita terdiam. Atau memilih untuk diam dan mengamati saja. Sungkan untuk terlalu berpendapat lantang, khawatir akan menjadi senjata makan tuan. Mengurangi pergaulan dengan orang baru, karena yang tadinya teman dalam sekejap bisa menjadi lawan. Dan kebingungan dalam menentukan di kubu mana orang baru tersebut berada. Perasaan sebagai manusia modern pun tergoyahkan dengan banyaknya kejadian yang seperti menyodorkan cermin yang menyadarkan bahwa perasaan itu tak sepenuhnya benar. Penilaian diri seperti dipertanyakan kembali oleh sendiri. Perubahan yang bertahun sebelumnya didengungkan ternyata tak semudah dan seindah yang dibayangkan.

hope-hero

Sudah bekerja semakin keras, uang semakin sulit, mulut semakin terdiam, hati yang was-was, membuat tahun 2017 berkurang antusias untuk disambut. Tapi tentunya harapan tak harus mati. Itu yang menjadi keyakinan kami ketika berbincang sambil menggali. Harapan apa yang masih tersisa? Harapan untuk bertahan saja, harapan akan kehidupan yang lebih baik, atau harapan akan hadirnya Sang Ratu Adil yang akan menjadikan semua kehidupan lebih baik. Semua sedang kami jalani, dan semoga seperti tahun-tahun sebelumnya, intisarinya akan saya tuliskan di linimasa.com menjelang tutup tahun nanti.

Ketika ide untuk mencari harapan dilontarkan, tak terasa ada senyum yang mengembang di bibir dan hati kami. Mendadak seperti ada semangat untuk melakukan riset kecil-kecilan swadaya ini. Dan kalau biasanya kami memetakan manusia dalam digital – analog, gen X, Y dan millennials, dan sebagainya, kali ini kami memetakannya dalam harapan. Sekecil dan sebesar apakah harapan akan 2017. Dari situ tentunya kita bisa membaca, usaha dan kerja apa yang akan dilakukan untuk meraih harapan tersebut. Sepertinya inilah yang akan menjadi penentu apa yang akan terjadi di tahun 2017. Kami pun merasa yang namanya harapan itu ada di setiap generasi. Misalnya, harapan akan hidup yang lebih baik. Walau berbeda bagi tiap generasi, tapi siapa yang tak menginginkannya.

Tulisan ini pun merupakan undangan bagi para pembaca linimasa.com yang budiman siapa saja untuk menyampaikan harapan-harapannya di tahun 2017. Bisa dalam urusan karir, percintaan, pekerjaan, keadaan negara, kota, dan segala hal. Silakan sampaikan di kolom komentar. Dan kalau tak ingin harapannya dibaca orang lain, silakan kirimkan email ke glennmarsalim@yahoo.com Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih dan semoga hasilnya akan berguna dan memberikan harapan di tahun 2017.

Tanggal Tua

Kenapa ada istilah tanggal tua, dan kenapa tidak ada tahun tua. Jika hari punya istilah hari tua, itu malah bicara usia yang semakin bergulir menuju senja.

Tanggal tua dihadirkan untuk menunjukkan hari-hari kelabu tanpa bisa sesegar hari-hari sebelumnya. Perkaranya sederhana: tak ada banyak uang di celana.  Tanggal tua muncul karena kita dominan menjadi anggota fixed income society. Para manusia berpenghasilan tetap. Kebetulan saja jika kita mendapat upah bulanan. Jika mingguan, maka hari jumat sore tak seindah sekarang.

sminequality_scanlon_r2

Para bankir menagih hutang kita per bulan. Tagihan listrik juga. Tak mau ketinggalan SPP sekolah, kos-kosan, dan pulsa pascabayar. Maka tak aneh jika gaji bulanan kita layaknya menstruasi. Datang sebulan sekali dan selesai dalam tujuh hari.

Pagi tadi saya kembali dari Bandung menuju Jakarta. Seperti yang saya duga sebelumnya bahwa tanggal tua, seperti tanggal 22 hari ini, mobilitas warga sangat berkurang. Tak semacet biasanya. Pintu Tol Cikarang Utama maupun Pondok Gede lancar-lancar saja. Jalan protokol, yang biasanya dipadati warga ibukota belanja-belanji di mal, lengang.

Ketika tagihan KPR, kendaraan, telpon, kartu kredit, spp sekolah anak, uang bulanan buat pembantu, sopir, sekaligus keinginan menumpuk pundi-pundi harta kekayaan semakin membingungkan dan bikin pusing tujuh keliling, apakah memang sudah saatnya setiap karyawan yang digaji bulanan sudah mulai menyewa jasa penasehat keuangan? Sepertinya belum perlu. Karena jauh lebih penting meningkatkan kemampuan kita mendapatkan gaji lebih tinggi. Tentu saja pendapat ini berangsur-angsur akan saya ralat. Mengapa? Karena memang pada akhirnya gaya hidup kita sangat bergantung pada penghasilan kita. Gaji rendah, perilaku ndak beda sama anak mahasiswa yang ngekos. Gaji semakin banyak, gaya kita semakin ngebos. Celakanya, ketika tiba-tiba penghasilan kita menurun, eh perilaku bos ndak ikut berubah menjadi seperti anak kos.

This slideshow requires JavaScript.

Siksaan tanggal tua semakin parah dan pedih jika menjelang hari gajian duit di tabungan dan dompet sudah tak ada, lalu menggunakan cara cepat tapi sesat: gunakan kartu kredit. Padahal untuk makan dan keperluan lainnya syarat menggunakan kartu kredit hanya di merkan tertentu dan dengan minimal nominal transaksi . Hal ini sebetulnya justru langkah yang semakin boros. Apalagi jika ternyata pada saat akan mendapat tagihan kartu kredit hanya mampu membayar minimal kewajiban pembayaran sebesar 10% saja dari keseluruhan tagihan.

Beberapa tahun yang lalu @glennmars pernah mencanangkan sehari cukup goban alias Rp.50ribu saja. Artinya bahwa sejak kita bangun tidur sampai kembali tidur, baik untuk ongkos perjalanan dari tempat tinggal ke kantor, sarapan, makan siang, ngemil, rokok, menghabiskan tidak lebih dari Rp.50ribu. Saya belum tahu apakah saat ini dia masih menjalankan program ini. Atau malah, karena kondisi ekonomi yang serba ketat ini, sekarang @glennmars berhasil menghabiskan dana hanya setengahnya saja alias no ban go (Rp.25ribu). Mungkin justru inilah yang menyelamatkan kita dari jeratan tanggal tua. Disiplin diri mengeluarkan uang dan memberi hadiah kecil untuk kita sendiri sesekali waktu dan dengan alasan tertentu. Dan ternyata berhasil. Cicilan apartemen dia lebih cepat dari jadual semestinya. 🙂

Beberapa teman saya di kantor masih membawa sarapan dari rumah dan sekaligus nasi kotak untuk makan siang. Walaupun diajak ke kantin tak menolak, tapi mereka cukup memesan minumnya saja. Pertemanan jalan terus dan kondisi keuangan tetap sehat.

Sebetulnya ada kunci hemat sejahtera lainnya. Soal transportasi. Kita sama-sama tahu sendiri bahwa ongkos perjalanan itu mengabiskan banyak biaya dan waktu. Mengapa tidak mencoba meninggalkan mobil pribadi dan mulai naik kendaraan umum? Atau akan jauh lebih hemat lagi jika berani mencoba untuk mengendarai sepeda kemanapun tujuan yang akan dituju. Selain hemat dan sehat, ternyata juga nikmat.

Jika pengetatan anggaran pribadi ini sukses, maka kita ndak bakalan lagi mengenal tanggal tua. Semua hari dilalui dengan sumringah. Ndak perlu berlebihan dalam berbelanja, tapi juga ndak perlu terlalu pelit pada diri sendiri.  Sebagian dari kita merayakan kesuksesan semacam ini dengan berlibur sejenak, dengan tiket promo tentu saja. 🙂

 

Salam anget,

roy senduk.

But First, Persepsi

Sejak SMA saya sudah doyan kopi hitam dalam bentuk kopi tubruk, karena ketularan orangtua. Tapi baru 3-4 tahun belakangan ini saya meminumnya tanpa gula. Dan sejak itu juga lidah jadi lebih sensitif dengan berbagai aroma dan rasa kopi. Apalagi setelah saya berhenti merokok beberapa minggu yang lalu. Kalau dulu dengan tak adanya air mendidih di kantor, saya dengan santainya bisa belok ke kopi instan di dalam sachet, setelah tak lagi konsumsi gula pilihan saya sangat terbatas. Kemudian setelah pindah ke kantor baru ternyata banyak yang punya selera serupa, saya akhirnya menyimpan sebuah french press di kantor, kemudian membeli kopi yang saya suka untuk dibuat di kantor. Lalu saya jadi kurang puas jika kopi yang saya simpan dalam keadaan digiling, saya membeli biji kopi dan menggilingnya sendiri. Ternyata ritual ini sungguh memuaskan dan menenangkan batin. Kemudian muncul pertanyaan baru, kok saya mulai bosan dengan merk dan jenis kopi yang saya beli hampir setiap dua minggu sekali itu? Tetapi untuk mencari dan mencoba yang baru setiap kali kopi habis, rasanya tak ada tenaga, waktu dan kemauan.

Lalu teman saya yang telah menjadi coffee snob duluan mengenalkan pada gordi.id. It’s an odinsend. Kalau Anda malas klik link yang saya berikan itu, Gordi ini sistem penyedia kopi langganan, yang akan mengirimkan kopi ke pelanggan setiap dua minggu. Berapa banyak kopi, berapa jenisnya dan berapa lama langganannya tentu bisa Anda pilih. Tetapi jenisnya tidak bisa Anda pilih. I love that they have the element of surprise. Karena kalau tidak begitu, bisa saja kita memilih kopi yang itu itu saja, tanpa berani bertualang mencoba yang lain. Untuk harga, setelah saya bandingkan dengan kopi kualitas baik yang dijual di coffee shop atau penyalur terpercaya, tidak terlalu jauh berbeda, malah ada yang lebih murah. Jadilah saya berlangganan dua bulan dengan Gordi, dengan harapan khazanah pengetahuan saya tentang rasa-rasa dan jenis-jenis kopi bisa dibandingkan dengan para coffee snob yang (kadang) nyebelin itu. Alasan utama tentunya karena saya tetap tak bisa hidup tanpa kafein. But of course, a little pretension and snobbery in my little life won’t hurt.

img_20161020_211549

Kotak Gordi yang unyu

Ketika datang paket pertama saya dari Gordi, girang sekali rasanya. Kemasan keren, ada pesan yang di personalisasi. Saya baru mencoba satu jenis kopi, tapi rasanya memang berbeda, dan tentu jenisnya bukan yang saya akan pilih kalau saya tidak jadi pelanggan Gordi. Jika dipikir lagi, kira-kira apa yang membedakan Gordi dengan penjual kopi biasa yang juga mengambil kopinya dari roaster lokal dan mendapatkan stock dari penjuru Indonesia ya?

img_20161020_211730

Personalized message. I feel so important!

Lalu saya tiba tiba teringat salah satu dari Ted Talk yang berkesan dari Rory Sutherland. Tidak seperti orang jebolan biro iklan lainnya yang saya sering simak, sudut pandang Rory tidaklah basi. Dia mengatakan bahwa sebagian besar masalah – jika semua kebutuhan primer dan sekunder telah terpenuhi – adalah masalah persepsi. Jadi jika masalahnya persepsi, tak ada gunanya (sebagai sebuah perusahaan atau pemilik badan usaha) untuk menghabiskan uang banyak demi mengubah realita. Ubah saja persepsinya. Caranya? Tentu tak mudah, di sini yang namanya “kreativitas” sungguhan diperlukan. Bukan kreativitas yang sering dieluelukan para artis.

img_20161020_211737

Dua jenis kopi untuk Leila Safira

Dia memberi contoh; Kemal Ataturk yang mengadakan reformasi di Turki yang awalnya merupakan negara Islam menjadi negara sekuler. Sebelumnya ada disclaimer kalau cerita ini anekdot yang belum tentu benar. Dan sebenarnya banyak contoh lain, tapi saya sedang ingin memilih yang ini saja. Ataturk ingin agar para perempuan di Turki tidak menggunakan cadar, tetapi merasa enggan melarang dengan keras, karena paham pasti akan mengalami penolakan. Akhirnya Ataturk tidak melarang, tetapi malah mengharuskan perempuan dengan profesi penjaja seks komersial menggunakan cadar, agar persepsi cadar berubah.

Contoh lain adalah kereta cepat antara Perancis dan Inggris; bagaimana perusahaan kereta ini ingin membuat pengalaman penumpang lebih nyaman ketika mengendarainya. Keluarlah biaya hingga jutaan poundsterling untuk menciptakan teknologi kereta yang lebih cepat, dan mereka hanya berhasil mengurangi waktu tempuh 14 (atau 40? Them British accent is hard to hear sometimes) menit saja dari total 3.5 jam waktu tempuh. Padahal, menurut Rory, hanya dengan secuil bujet dari jutaan pound itu bisa digunakan untuk memasang WiFi gratis di kereta, yang, mungkin tidak akan mengurangi waktu tempuh, tetapi akan meningkatkan kenyamanan dan persepsi penumpang. Atau, menurut Rory lagi, hanya dengan sepuluh persen dari bujet itu bisa digunakan untuk membayar top model perempuan dan lelaki untuk berjalan sepanjang gerbong dan membagikan wine gratis, yang tidak hanya membuat persepsi penumpang semakin baik, tetapi juga akan membuat penumpang meminta kereta diperlambat!

ryan4_905

Apa hubungan Rory dan Gordi? Saya berpikir kalau nyaris tak ada perbedaan proses usaha Gordi dan penjual kopi lain. Hanya Gordi berhasil mengubah persepsi kita tentang stok kopi yang tidak selalu lancar supply-nya dari satu sumber, dengan mengganti istilahnya menjadi “kopi yang diambil dari penjuru Indonesia untuk Anda coba, dan kami kurasi”. Sungguh jenius bukan? Saya berdoa agar Gordi selalu ada sehingga saya tidak lagi bosan minum kopi yang itu itu saja.

Mari Marathon! (Nonton TV)

Baru saja kemarin rasanya saya seperti ditampar. Ditampar sama tulisan sih, bukan sama orang. Tulisannya bisa dibaca di sini: 11 Ways to be Healthier When Watching Too Much TV. Dari judulnya sudah cukup jelas ‘kan tentang apa?

Lalu kenapa bisa merasa tertampar?

Kalau teman-teman sering membaca tulisan-tulisan saya di sini, maka teman-teman pasti tahu betapa saya lagi tergila-gila menonton banyak serial televisi. Tentu saja kalau sudah berbicara soal serial televisi, kita bicara tontonan dalam durasi lama, lebih lama dari menonton satu film di bioskop.

Jadi, kalau sudah terpikat sama satu serial, maka bisa dipastikan saya akan menghabiskan waktu cukup lama untuk menonton serial tersebut. Bisa berjam-jam di depan layar televisi. Apalagi sekarang bisa streaming atau mengunduh serial dalam satu musim penayangan.

Kalau sudah begitu, tidak ada kerjaan lain selain duduk, duduk dan duduk. Sebuah aktivitas pasif yang sangat bertentangan dengan usaha untuk menjaga kesehatan tubuh.

(Courtesy of wired.com)

(Courtesy of wired.com)

Sesuai apa yang ditulis di artikel di atas, kalau sudah duduk lama sambil menonton televisi, pasti akan makan makanan ringan. Pasti akan ngemil.

Dan mana mungkin ngemilnya makanan sehat? Kemungkinan besar pasti makanan tidak sehat: terlalu banyak karbohidrat (nasi, roti, mie), lalu dilanjutkan dengan snack ber-MSG. Benar-benar “total” menjadi seorang couch potato.

Dari pengalaman menjadi couch potato bertahun-tahun selama ini, lalu sambil membandingkan dengan tulisan di atas, maka sepertinya ada beberapa hal yang bisa kita “siapkan” kalau mau nonton serial televisi, atau istilahnya, binge-watching:

  • Lakukan di pagi hari.
  • Ternyata saya baru sadar kalau baru sekali saya melakukan binge-watching, menonton satu musim penayangan, atau satu season, serial televisi, dari episode awal sampai episode terakhir. Serial itu adalah Stranger Things. Saya menontonnya dari jam 7:30 pagi, lalu berakhir di jam 4 sore. Waktu itu menontonnya di hari Minggu.
    Dari situ saya baru sadar, aktivitas binge-watching ini perlu tenaga ekstra, ya? Dan akan nge-blok waktu kita, bisa sampai setengah hari penuh. Maka memang sebaiknya dilakukan hanya di waktu luang, dan dimulai di pagi hari.

  • Kalau cuma bisa menonton di malam hari …
  • … maka batasi 2 episode saja sebelum tidur. Percayalah, ini akan susah sekali dilakukan. Apalagi serial macam House of Cards yang sungguh-sungguh sangat adiktif. Seringnya kita akan ngomong ke diri sendiri “satu episode lagi deh, abis itu tidur.” Tapi kenyataannya, kita akan sering bablas, sampai ketiduran di depan televisi atau gadget. Apabila nekat bablas nonton sampai pagi, yang ada besok paginya kita ngantuk, dan kekurangan energi karena kurang tidur.

(Courtesy of lifehacker.com)

(Courtesy of lifehacker.com)

  • Selalu sedia air putih.
  • Ternyata ini cukup manjur untuk membuat kita bergerak. Dulu waktu saya sering menonton 2-3 DVD berturut-turut, selalu ada 2 botol air minum ukuran 1 liter masing-masing yang ada di sebelah saya. Sekarang, cukup minum 1 gelas selesai satu episode Unbreakable Kimmy Schmidt, atau di tengah-tengah satu episode Masters of Sex. Rutin minum segelas air putih membuat kita sering bergerak, karena harus pipis di kamar mandi. Setelah usai buang air kecil, minum air putih. Begitu terus siklusnya.

  • Batasi jarak pandang.
  • Ini salah satu poin dari artikel Vulture di atas yang saya setuju. Sebisa mungkin kita menonton di televisi. Ukuran layar besar dari televisi akan otomatis membuat kita duduk dengan jarak yang cukup jauh. Ini sangat membantu untuk menutup mata saat ada adegan menyeramkan di Game of Thrones. Kalaupun harus menonton via tablet atau ponsel, jangan terlalu dekat dengan mata. Apalagi sampai ngantuk dan muka kita kejatuhan tablet atau ponsel itu.

(Courtesy of geekandsundry.com)

(Courtesy of geekandsundry.com)

  • You are what you eat!
  • Nah, ini yang saya belum bisa lakukan dengan baik. Jujur saja, saya masih suka “bablas” saat ngemil sambil nonton serial televisi. Favorit saya? Semua klethikan atau cemilan yang kalau dimakan bunyi krak-krak-krak saat digigit di dalam mulut, dan ber-MSG. Mulai dari kripik singkong sampai kacang. Sehat? Tentu tidak. Cukup sebungkus? Tentu tidak.
    Artikel di atas menyarankan buah anggur yang sudah dibekukan sebagai pengganti makanan ringan saat menonton. Setuju. Beberapa kali mengganti cemilan dengan buah seperti apel, jeruk dan anggur. Sudah cukup kenyang, apalagi yang ditonton serial ringan macam Madam Secretary. Cuma ya itu. Godaan aneka kripik dan kerupuk kok ya susah sekali ditepis.

  • You can always multitask.
  • Keasyikan menonton televisi di rumah adalah kita tidak perlu berbagi ruang dengan orang lain. Dengan begitu, kita bebas melakukan apa saja sambil menonton serial televisi kesukaan kita. Biasanya, setelah 2-3 episode, kita sudah familiar dengan tokoh-tokoh dan jalinan cerita yang berjalan, sehingga kita masih bisa mengikuti, meskipun mata tidak sedang tertuju ke layar televisi. Jadi kadang saya mendengarkan saja dialog dari Empire sambil mencuci piring. Atau sambil menanggapi obrolan di WhatsApp grup.

  • You choose what you watch (not others)
  • Artinya, pilih apa yang mau Anda tonton. Kalau tidak suka, tinggal saja. Masih banyak serial lain yang bisa ditonton. Cukup satu episode dari serial MacGyver edisi baru untuk membuat saya memutuskan serial ini tidak perlu ditonton lagi, karena membosankan. Sebaliknya, saya tidak keberatan menghabiskan waktu menonton ulang Friends atau Will & Grace. Dua-duanya memang belum ada yang menandingi lagi sampai sekarang.

After all, not every hype or the latest trend is suitable for us.

(Courtesy of theodysseyonline.com)

(Courtesy of theodysseyonline.com)

Selamat menonton!

Dulu, Sebelum Bentuk HP Kotak-kotak Melulu…

PERTAMA kali punya HP waktu kelas 2 SMA, cukup beruntung rasanya sempat melewati masa-masa kejayaan Nokia. Ketika fungsi utama HP pada saat itu masih sebatas bertelepon dan saling kirim SMS. Kemudian makin meriah dengan beragam desain unik, serta fungsi-fungsi yang terus ditambahkan. Seperti Ringtone Maker yang kodenya bisa dibaca di majalah-majalah gaul, Picture Editor, Radio FM, layar yang berwarna, nada dering Polyphonic, pemutar musik, kamera, dan seterusnya.

img_1926

Dari berbagai merek HP, Nokia mengeluarkan banyak desain unik dan tak biasa.

Kalau dipikir-pikir, sudah lumayan banyak jenis HP yang pernah dimiliki sampai sekarang. Masing-masing punya kesan tersendiri. Berikut beberapa HP pertama (yang masih diingat).

  1. Nokia 3330
Foto: Wikipedia

Foto: Wikipedia

Sampai saat ini, Nokia 3310 adalah HP yang paling enak untuk SMS-an. Kombinasi tekstur tombol-tombol alfanumerik yang terbuat dari plastik, dan tekanan yang membal bisa bikin SMS-an tanpa perlu lihat layar, bahkan sambil merem! Pas banget waktu itu XL Jempol baru dirilis, dengan layanan SMS gratis tanpa batas ke sesama nomor Jempol. Ironisnya, saya terpaksa berhenti menggunakan Nokia 3310 setelah rusak karena error keseringan dipakai SMS-an. Padahal tampilannya sudah “keren” banget waktu itu; pakai casing transparan, dan dipasangi rangkaian lampu pendeteksi sinyal HP di sela-sela keypad-nya. Ituloh, lampu yang bisa kedip-kedip sebelum ada telepon atau SMS masuk. :p

2. Nokia 3200

Foto: extragsm.com

Foto: extragsm.com

Salah satu hal yang bikin tertarik dengan Nokia 3200 ini adalah feature bikin kover casing-nya sendiri, dan Radio FM. Dalam kotaknya sudah dilengkapi satu set alat pemotong kertas, agar bisa dipasangkan pada casing depan dan belakang. Ya jelas, langsung menggila. Semua-semuanya dijadikan eksperimen, dari kertas kalender harian yang khas di rumah-rumah warga Tionghoa, leaflet obat Tionghoa, dibiarkan transparan, sampai karton hitam sisa bahan Mading sekolah. Hahaha!

Selain menggunakan HP ini, di sekolah juga sering nebeng HP teman yang bentuknya aneh-aneh. Termasuk Nokia 3650 yang keypad-nya melingkar, dan HP-HP fashion series dengan desain unik lainnya.

3. Nokia 2300

Foto: pspimage.wordpress.com

Foto: pspimage.wordpress.com

Lupa, kenapa kok malah pakai Nokia 2300 setelah Nokia 3200. Kalau tidak salah, sudah enggak terlalu ambil pusing dengan tipe dan merek HP, sehingga pilih yang agak murah dan tetap bisa Radio FM. Tapi lucunya, justru ada yang menaksir HP ini, dan dibeli. Habis itu, ganti dengan…

4. Sony Ericsson Walkman W800

Foto: digitaltrends.com

Foto: digitaltrends.com

Mulai beralih ke merek lain, dan untuk pertama kalinya merasakan sensasi mendengarkan koleksi musik lewat HP, itu pun dengan karet earphone yang khusus. Namanya juga hadiah, sekalian saja yang agak lebih keren dibanding sebelum-sebelumnya :p Lengkap dengan pengalaman pertama mengakses internet lewat Opera Mini versi .jad/.jar yang sering enggak connect-nya. Selain itu, Sony Ericsson ini juga diunggulkan dari segi kamera. Jadi, sempat pakai hasil fotonya waktu magang wartawan kala itu.

Ini bikinnya pakai Panorama, loh...

Foto kegiatan Festival Kemilau Seni Budaya Benua Etam, Samarinda (2006). Ini dijepret pakai feature Panorama, loh… 😀

Sayang, HP-nya rusak gara-gara kena kehujanan. Terpaksa beli baru, dan lagi-lagi pengin yang kameranya bagus.

5. Sony Ericsson K800i

Foto: GSMarena.com

Foto: GSMarena.com

Hasil foto HP ini keren. Setidaknya, masih terbilang layak untuk kualitas cetak di koran, apalagi sekadar untuk diunggah ke Friendster dan Facebook. Sangat disayangkan, penggunaannya enggak sampai setengah tahun. HP ini hilang, kayaknya dicuri, waktu malam tahun baru, di vihara pula. Setelah lelah jadi panitia acara, bangun-bangun HP-nya sudah enggak ada. Padahal ada Nokia Communicator dan HP-HP lain yang sama-sama digeletakkan di ruang tidur panitia, eh, ini doang yang hilang. Apes. Terpaksa ganti lagi. Padahal sudah belajar bikin theme sendiri.

6. Nokia 5300 XpressMusic

Foto: Wikimedia

Foto: Wikimedia

Setelah mempertimbangkan banyak hal, mulai dari harga, fungsi, ketahanan, potensi penyebab kerusakan, dan sebagainya, beli HP ini deh. Bukan berupa flip-phone tapi slide-phone, agar komponen fleksibelnya cenderung awet dan tidak gampang terhentak saat dibuka-tutup.

Semenjak pakai HP ini, lumayan keranjingan unduh theme. Setelah iseng-iseng mencari, software untuk mendesain theme Nokia 5300 ternyata mudah diunduh, dan bisa menampilkan animasi .gif. Kebetulan, mumpung lagi semangat-semangatnya belajar Adobe Photoshop. Akhirnya, lebih sering menggunakan theme bikinan sendiri. Hahaha!

7. Nokia 2310

Foto: trendtronic.tradekorea.com

Foto: trendtronic.tradekorea.com

Baru pertama kali pacaran ketika itu (HAHAHA!), dan mulai berhadapan dengan sejumlah keribetan. Salah satunya, sang pacar (waktu itu), membelikan nomor baru dengan alasan nomor yang saya pakai selama ini enggak ada cantik-cantiknya. Makanya beli Nokia yang low-end dan sederhana ini, serta mulai belajar mengelola dua HP.

8. BlackBerry Pearl 8100

Foto: GSMarena.com

Foto: GSMarena.com

Nah, baru kali ini punya smartphone. Ceritanya agak lucu, karena enggak beli dan pakai acara dikerjain terlebih dahulu.

Waktu bekerja sebagai wartawan ekonomi dan bisnis, kebetulan menulis artikel tentang event BlackBerry tanpa pernah punya atau mengulik sendiri gawai tersebut. Tulisannya terbit, eh ternyata ada satu hal yang keliru. Saya pun dipanggil ke kantor cabang Indosat Samarinda, si empunya acara, untuk mempertanggungjawabkan kekeliruan itu. Teguran dan ketidakpuasan disampaikan langsung oleh manajer, Pak Maulana, sampai akhirnya di tengah-tengah “sesi” malah disodori BlackBerry Pearl. Setelahnya, pada ngakak semua.

9. BlackBerry Curve 8520

Foto: homeshopping.pk

Foto: homeshopping.pk

Makin lengket dengan jenis smartphone ini, ndilalah bisa menang undian BlackBerry Curve dalam acaranya Telkomsel Samarinda beberapa tahun lalu. Dengan HP ini juga, belajar cara baru menulis artikel secara mobile. Papan QWERTY-nya cukup handy saat bekerja, termasuk ketika tur perjalanan darat menembus hutan Kaltim dari Samarinda ke utara sampai perbatasan Malaysia. Walaupun kekuatan sinyalnya cuma EDGE, tapi tetap lancar BBM-an dan berkirim email. Sampai pakai BlackBerry Curve ini, HP Nokia-nya masih digunakan loh.

10. BlackBerry Onyx 9700

Foto: perfect-mobiles.blogspot.com

Foto: perfect-mobiles.blogspot.com

Masih kepincut dengan varian BlackBerry, pilihan jatuh ke Onyx dengan lapisan faux leather di penutup belakangnya. Keypad-nya jauh lebih empuk dan tanpa bunyi ketukan. Cocok banget buat pekerjaan. Eh sayang, HP-nya jatuh dari kantong jaket saat bawa motor. Ya sudah, wassalam… Diambil orang.

Beberapa tahun lalu iseng cek PIN BBM-nya, ternyata aktif, dipakai orang.

11. Samsung E2152

Foto: technave.com

Foto: technave.com

Namanya juga baru kena musibah, ya beli HP penggantinya tipe biasa-biasa saja. Tetap bisa kameraan, bisa Radio FM, bisa memutar musik, ada senternya. Sengaja pilih yang bisa dua kartu, karena nomor cantik yang dibelikan mantan kadung dipakai dan diketahui banyak orang meski lumayan kerepotan ngisi pulsanya tiap bulan.

Setelah menabung sekian lama, akhirnya bisa kebeli iPhone 4 juga. HP Samsung pun dihibahkan ke mama. Sejak iPhone 4, akhirnya terus-terusan pakai HP layar sentuh yang desainnya kotak-kotak.

Dari semua HP di atas, tak ada satu pun yang enggak punya memori mengesankan. Ada HP yang dipakai buat SMS gebetan, sampai jempol pegal. Ada juga yang dipakai telepon-teleponan tengah malam sampai ketiduran, eh bangun-bangun HP-nya sudah panas tapi teleponnya masih tersambung. Ada yang dipakai untuk kirim MMS atau pesan bergambar dari katalog layanan premium. Bukan sekadar gawai telekomunikasi, HP-HP jadul tersebut juga bisa jadi semacam memorabilia. Sumber sekaligus penyaji kenangan. 🙂

[]