Kisah Seribu Kunang-kunang di Bloomington dan Orang-orang Manhattan

typinginlondon_photoutama

Entah seberapa lekat antara Yuwono Sudarsono dan Budi Darma bersahabat. Dalam cerpennya yang dibuat tahun 1976, Budi memberikan catatan bahwa cerpen tersebut untuk Yuwono Sudarsono“. Cerpen Lelaki Tua Tanpa Nama diselesaikan Budi di London pada tahun 1976. Bisa jadi saat itu Yuwono kebetulan sedang menjadi mahasiswa The London School of Economics dan Budi menumpang menginap di rumahnya.

Umar Kayam menulis perihal Jane dan Marno pada tahun 1968. Kisah sejoli itu diberi judul Seribu Kunang-kunang di Manhattan. Pada tahun yang sama Horizon, majalah sastra terbaik (atau adanya cuma itu) waktu itu mengganjarnya sebagai cerpen terbaik.

Kisah Jane dan Marno adalah kisah anak manusia di belantara kota paling besar sedunia. Sepasang darling yang minumnya martini, gin, scotch, bourbon atau campuran vermouth. Juga pembicaraan soal Alaska, “musim summer” di Texas, Kansas dan Arkansas. Atau membicarakan Empire State Building dan New York Times. Juga pembicaraan ngelantur dua anak manusia ini soal Oklahoma City.

Lambat laun tulisan Umar “turun ke bumi”, dalam benak lelaki jawa yang tinggal di jawa. Artikel yang rutin dibuatnya di koran Kedaulatan Rakyat sejak tahun 1987. Kisahnya tentang warga masyarakat jawa melalui tokoh Mr. Rigen dan Pak Ageng juga Benny Prakosa. Walau terkesan berbeda, satu kota besar bernama Manhattan, kedua bernama Sleman atau Jogja atau Bantul, tapi yang disampaikan Umar adalah tetap soal hidup manusia dan alam lingkungannya. Tantangan atau pertarungan atau justru penyelarasan antara mikro dan makro kosmos. Sikap batin dan fenomena budaya. Menghirup dan meruap udara sekitar.

Pada saat menulis kisah Marno dan Jane dalam cerpen Seribu Kunang-kunang di Manhattan, Umar tidak sedang mengalami langsung alam barat, melainkan pemahamannya tentang barat berdasarkan ingatan pernah bersekolah disana. Umar bersekolah dan meraih gelar M.A pada tahun 1963 dari Universitas New York, dan meraih gelar  Ph.D dari Universitas Cornell dua tahun kemudian. Ketika menulis Seribu Kunang-kunang, dirinya sudah menjadi seorang Dirjen Radio, Televisi, dan Film Departemen Penerangan, yang ia jabat sejak 1966-1969 (dan jika benar ia ahir tahun 1932 maka ia menjabat Dirjen pada usia 34 tahun!).

Hal ini sedikit berbeda dengan Budi Darma. Orang-orang Bloomington, juga kumpulan cerpen, mulai ditulisnya ketika Budi sedang merampungkan kuliahnya di sana. Namun tetap saja, Budi tidak merampungkan satu cerpen pada tempat yang sama. Berdasarkan pengantar yang ditulisnya untuk Penerbit Noura Book (Mizan) di edisi terkini, cerpen yang dibuatnya ia tulis di beberapa belahan kota di Chicago, Aliquippa, kota kecil di negara bagian Pennsylvania, juga di London, Paris dan sebuah kota kecil di Belanda yang ia sendiri lupa namanya.

Persamaan dari Umar dan Budi adalah sama-sama mengaku bahwa cerpen mereka adalah fiksi berdasarkan fakta.

Jika fakta yang diperoleh adalah berdasarkan pengamatannya atas peristiwa yang dirasa, dialami, diresapi oleh penulis, maka karya yang dihasilkannya adalah sebuah fiksi yang mengendap dan “kaya”.  Saripati dan buah kehidupan sehari-hari yang dijalani. Sebuah kisah perjalanan panjang yang ditulis ringkas  agar enak dibaca dan sulit dilupakan.

Pertanyaannya adalah:

Apa yang bisa diharapkan dari penulis masa kini, yang lebih sibuk mengejar centang biru dan menenteng kamera untuk vlognya yang sungguh ala kadar? Juga pengalaman hidupnya yang sungguh kaya……… di sosial media.

Itu pun ternyata tak mengapa. Mereka pun sedang menikmati alam kekinian. Tantangan zamannya masing-masing. Toh, mereka penulis biasa saja dan tidak (sedang) membuat karya tulis bernama sastra.

 

salam anget,

loi cayul

 

 

Advertisements

Kesimpulan Minggu Ini

Sudah berjam jam menghadapi layar dokumen yang seputih hatiku, dan belum juga ada ide. Mengintip tulisan Nauval, sudah membicarakan Emmy. Mengintip tulisan Dragono, yang ternyata terinspirasi dari Twitter, lalu ikut mengintip ke sana, kok semakin tidak terinspirasi jadinya ya. Akhirnya saya berpikir kalau jangan-jangan pembaca Linimasa juga sama seperti saya di hari Jumat yang mulia ini, sedang sulit memaksakan otak untuk berpikir. Bisa jadi Anda juga masih dalam tahap penyesuaian berhenti merokok, dan sedang diet (kenapa juga sih). Intinya, saya pasang saja di sini gambar-gambar yang mengekspresikan dari apa yang saya alami akhir akhir ini, mudah mudahan Anda terhibur.

Ketika Anda minta disayang oleh seseorang tapi dia sedang enggak mood

7rcsxg4

 

Ah ini masalah kecil kok, bos enggak akan marah…woopsie.

sm4gfq5wiplx

 

Sehabis naik ojek di hari yang panas, lalu masuk mal yang adem…

fjzfqdn

 

Kentut yang disangka tak bersuara ternyata nyaring…

0nk37xq

 

Ketika saya kira saya depresi ternyata ini bulan tua AF.

zll6w1l

 

And this one just because it’s gorgeous, and I can’t stop watching it.

qqgwsmp

Tebak-tebak Buah Manggis si Emmy

Lagi-lagi soal televisi.

Maklum, sebagai penonton serial televisi, saya benar-benar terbuai dengan banyaknya serial televisi berkualitas, terutama dari Amerika Serikat dan Inggris. Kepuasan menonton serial televisi ini sudah sering kali saya tulis, baik di Linimasa maupun blog pribadi. Tapi memang nyatanya, rasa senang ini masih bertahan sampai sekarang. Puas rasanya menonton tayangan televisi yang bisa membuat saya terpaku dan kagum dengan jalan cerita yang disajikan. Malah sekarang kalau tidak ada film yang menarik di bioskop, saya memilih untuk menonton serial televisi. Lebih terhibur, dan lebih memberi asupan untuk otak dan hati. Apalagi media menontonnya makin banyak, dengan banyaknya pilihan aplikasi streaming yang ada.

Veep
Veep

Makanya, paling tidak buat saya, perhelatan Emmy Awards, ajang penghargaaan tertinggi untuk dunia pertelevisian di Amerika, menjadi sama menariknya untuk diikuti seperti Academy Awards buat penggemar film. Berhubung saat ini kita sedang berada dalam masa “Golden Age of (scripted program in) television”, atau banyak orang menyingkatnya dengan “peak TV”, maka persaingan Emmy Awards jauh lebih ketat dan selektif daripada Oscar.

Kalau dari segi angka, memang sepertinya jauh lebih susah untuk dinominasikan di Emmy Awards.
Kurang lebih perbandingannya seperti ini:
– saat ini ditaksir ada 400 serial televisi di Amerika setiap tahunnya. Empat ratus serial, katakanlah rata-rata per serial ada 10 episode, berarti setahun ada lebih dari 4.000 episode serial televisi. Ini baru serial televisi, belum termasuk dokumenter, reality show, dan lain-lain.
– sementara setiap tahun sekitar 300 film panjang yang masuk shortlist untuk Academy Awards.
– nominasi dan pemenang Emmy Awards dipilih oleh anggota Television Academy yang totalnya berjumlah lebih dari 20.000 anggota.
– nominasi dan pemenang Academy Awards dipilih oleh anggota Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS) yang totalnya berjumlah lebih dari 6.000 orang.

The Americans
The Americans

Meskipun begitu, Emmy Awards sendiri cukup sering dikritik. Ada kecenderungan menominasikan serial dan aktor/aktris yang sama setiap tahunnya. Mungkinkah karena terlalu banyak serial televisi yang harus ditonton para voters untuk dipilih? Bisa jadi. Dan sejatinya memang serial televisi bisa menjadi tontonan yang familiar buat kita setelah kita terbiasa menontonnnya dalam waktu lama, setelah beberapa episode. Alhasil, sense of familiarity juga lah yang menentukan apakah serial tersebut bisa masuk nominasinya?

Solusinya? Tentu saja campaign. Segala macam publisitas dan promosi dikerahkan untuk mendorong serial-serial ini mendapat perhatian. Apresiasi positif dan critical reaction menjadi senjata penting. Apalagi sekarang situs-situs seperti Rotten Tomatoes dan media-media prestisius semacam The New York Times juga memberikan ruang khusus untuk kritik program televisi.

The People VS OJ Simpson
The People VS OJ Simpson

Dan dengan banyaknya program serial televisi, akhirnya penilaian terhadap “program terbaik/aktor terbaik/aktris terbaik” pun berbeda-beda. Penilaian satu ajang penghargaan dengan ajang penghargaan lain terhadap kategori “the best in TV” pun berbeda. Selain wajar, ini juga memperkaya pilihan, dan lagi-lagi, membuktikan bahwa memang we are living at the age of too much good TV.

Berhubung yang paling dekat dari semua ajang penghargaan televisi itu adalah Primetime Emmy Awards yang digelar Minggu, 18 September (di sini disiarkan langsung oleh StarWorld hari Senin pagi, 19 September), maka berikut ini tebak-tebakan saya siapa yang akan menang. Daftar lengkap yang panjang dari nominasi Primetime Emmy Awards bisa dilihat di sini ya:

Master of None
Master of None
  • Best Comedy Series: Veep
  • Best Lead Actor, Comedy: Aziz Ansari – Master of None
  • Best Lead Actress, Comedy: Julia Louis-Dreyfus – Veep
  • Best Supporting Actor, Comedy: Tituss Burgess – Unbreakable Kimmy Schmidt
  • Best Supporting Actress, Comedy: Anna Chlumsky – Veep
  • Best Drama Series: (aduh, ini berat banget, karena banyak yang saya suka. Tapi, mau tidak mau, harus the most personal favorite kalau memiih. Jadi pilihan saya …) The Americans

  • Best Lead Actor, Drama: Rami Malek – Mr. Robot
  • Best Lead Actress, Drama: Robin Wright – House of Cards
  • Best Supporting Actor, Drama: Kit Harrington – Game of Thrones
  • Best Supporting Actress, Drama: Constance Zimmer – UnReal

  • Best Limited Series: The People vs OJ Simpson

  • Best TV Movie: (sebenarnya nggak ada yang terlalu suka, jadi ini pilihan yang sifatnya menebak pilihan voters, yaitu …) All the Way
  • Best Lead Actor, Limited Series or TV Movie: Courtney B. Vance – The People vs OJ Simpson
  • Best Lead Actress, Limited Series or TV Movie: Sarah Paulson – The People vs OJ Simpson
  • Best Supporting Actor, Limited Series or TV Movie: Hugh Laurie – The Night Manager
  • Best Supporting Actress, Limited Series or TV Movie: Jean Smart – Fargo season 2
House of Cards
House of Cards

Apakah saya menonton semua pilihan saya ini? Jawabannya: 85%.
Kenapa cuma segitu? Ya lihat saja video ini.

Ingat: too much of a good thing is not good after all.

😉

The Night Manager
The Night Manager

Cipokan

MENGAWALI hari ini dengan secangkir teh hangat, serta selusin pertanyaan seputar etiket, etika, dan moral. Topik yang barangkali sudah basi, karena terus-terusan dibahas dan dipertanyakan sejak dahulu kala, namun selalu mencuat dalam kehidupan kita. Turun temurun, berulang, sampai bosan, padahal tetap kejadian.

Pemicunya sederhana; enggak sengaja membaca twit seorang teman kemarin malam.
capture

  1. Apa itu etiket?
  2. Apa itu etika?
  3. Apa itu moral?
  4. Apa yang menyusun dan membentuk etiket, etika, dan moral?
  5. Apa tujuan disusunnya etiket dan etika?
  6. Di antara etiket dan etika, di mana posisi moral? Melekat pada salah satu atau keduanya?
  7. Apakah tindakan di atas melanggar etiket, atau etika?
  8. Apa yang dilanggarnya?
  9. Apakah etiket tetap berlaku bila tidak ada orang lain di sekitar kita?
  10. Sama seperti pertanyaan di atas, bagaimana dengan etika?
  11. Bagaimana menjelaskan hubungan antara etiket dan etika, dengan kejujuran dan rasa malu?
  12. Boleh/tidak bolehkah berciuman mesra di lokasi umum?

Secara teoretis, jawaban untuk pertanyaan nomor 1 sampai 5 bisa didapatkan dengan mudah di buku, referensi online, bahkan dalam pelajaran di sekolah menengah.

Sederhananya, etiket berkaitan dengan perilaku sosial yang selaras dengan budaya, pantas, dan dianggap patut untuk dilakukan dalam sebuah kelompok sosial tempat seseorang tersebut berada. Bukan sekadar tunduk dan berperilaku yang demikian, etiket juga terkait rasa hormat dan santun terhadap orang lain. Sementara etika berhubungan dengan tindakan yang dianggap benar, dalam lingkup penerapan yang relatif lebih universal, dan diikuti dengan konsekuensi. Sedangkan moralitas lebih dititikberatkan pada kemampuan seseorang dalam menilai dan mempertimbangkan baik buruknya sesuatu. Itu sebabnya, moralitas sering disarukan dengan nilai-nilai agama, formulasi peraturan yang disebut turun dari tuhan.

Etiket dan etika sama-sama disusun atas dasar konsensus sosial budaya, alias kesepakatan bersama. Sehingga bisa dibilang, batasan-batasan dalam etiket maupun etika bisa selalu berubah seiring zaman dan kemajuan pemikiran manusia. Sesuatu yang dulunya dianggap biasa-biasa saja, sekarang menjadi sesuatu yang dianggap aneh. Contohnya, (1) perbudakan merupakan praktik yang lazim di masa lalu, (2) begitu juga dengan segregasi atau pemisahan berdasarkan warna kulit dan ras, (3) para atlet olimpiade yang bertanding dalam kondisi telanjang, (4) adu bunuh Gladiator, (5) para wanita Bali yang menjalani kesehariannya tanpa penutup dada, (6) para janda di India harus ikut membakar diri saat jenazah suaminya dikremasi, dan banyak lagi lainnya.

Sekarang, kembali ke kasus cipokan di Soetta tadi. Apakah tindakan tersebut melanggar etiket atau etika?
Apabila iya, melanggar etiket atau etika terhadap siapa dan tentang apa?
Apabila tidak, perlukah mempertimbangkan perasaan yang muncul pada orang lain di sekitar mereka?
Bagaimanakah sebaiknya cara pasangan tersebut menyikapi orang lain, dan bagaimanakah semestinya cara orang lain menyikapi pasangan tersebut?

Apakah tindakan tersebut amoral?
Apabila iya, apa implikasinya? Terhadap pasangan itu sendiri, ataukah kepada orang lain?
Apabila tidak, apakah kamu juga ingin melakukannya? Lain kalau satu mau ciuman, yang satu lagi menolak karena merasa tidak nyaman. Jika terjadi pemaksaan, maka jatuhnya adalah kriminalitas, kan?

Dari penggambaran di atas, sepertinya ada satu hal yang terjadi: kita cenderung tidak nyaman ketika melihat sesuatu yang asing dan belum pernah kita temui/lakukan sebelumnya. Lalu, saat ada banyak orang yang merasa tidak nyaman dengan hal tersebut, menghasilkan penolakan secara luas. Pelanggaran akan berujung pada sanksi. Dalam hal ini, aktivitasnya adalah berciuman. Beda kasusnya dengan perbuatan turis Cina daratan yang boker sembarangan.

Perlu bukti? Silakan lihat gambar di bawah ini. Apa perasaan yang muncul? Risi? Biasa ajaPengen?

 

[]

…tapi memang sih, curi-curi ciuman di tempat umum itu rasanya menyenangkan :p

02:30 S01E02

Cerita sebelumnya bisa dibaca di sini

Pak Johnny sedang kunjungan dinas ke Singapura ketika dia mendapat kabar bahwa istrinya meninggal secara tidak wajar di mobilnya sendiri. Ada yang janggal dari kejadian ini. Semua tau itu. Yang menjadi pertanyaan kenapa? Dia bertanya kepada dirinya sendiri. Apakah pekerjaannya yang cukup kotor menciptakan musuh yang tega membunuh istrinya hingga terpotong-potong. Manusia macam apa yang melakukan hal itu? Dan dia tidak sendiri. Ada tiga keluarga yang menjadi korban. Dalam rangkaian waktu yang relatif berdekatan. Semuanya tewas dimutilasi. Johnny menghisap rokoknya dalam-dalam. Abu rokok jatuh ke celana jinsnya yang sudah lusuh.

Pemakaman baru saja rampung. Terlihat para sanak saudara dan teman terdekat berbaju gelap satu per satu mulai meninggalkan lokasi sambil mengucapkan belasungkawa kepada perempuan berparas jelita berkerudung hitam dan kacamata ala Jackie O. Dia hanya membalas ucapan belasungkawa dengan ucapan terima kasih dan senyum ala kadarnya. Mia berduka tapi tidak menangis. Sesuatu yang tidak biasa di usianya yang baru menginjak kepala tiga. Dia terus menatap pusara kedua orang tuanya yang tewas mengenaskan dan hingga kini belum diketahui pelakunya siapa.

Johnny mendekati Mia. Berdiri di sampingnya. Cuma tinggal mereka berdua di pemakaman itu. Mia menoleh, lalu kembali melihat pusaran kedua orang tuanya. Kita berada pada pihak yang sama. Pihak yang terluka. Apakah kamu pikir aku juga ingin menemukan pelakunya dan melihatnya menderita dan memohon untuk dikasihani sambil meregang ajal?  Iya, Mas. Saya cuma tidak mengerti apa yang dia cari. Barang berharga tidak disentuh. Tidak ada yang hilang. Kecuali nyawa orang tua saya. Hidup saya tidak akan tenang sampai kapanpun jika pelakunya tidak ditemukan. Betul. Jangan lupa dia bisa saja masih mencari korban berikutnya. Termasuk kita berdua. Hujan mulai turun dari langit yang mendadak gelap. Ayo Mia kita pulang. Nampaknya akan hujan besar sebentar lagi. Mereka pun berjalan bersama menuju pelataran parkir mobil. Sebelum berpisah menuju mobilnya masing-masing. Johnny berkata kepada Mia. Kita akan menemukan pembunuhnya. Itu janji saya.

wp-1472406291839.png


Tumben Bu Haji, jam segini baru dateng. Iya nih, Bang. Nganter anak sekolah dulu tadi. Bapaknya lagi sibuk. Berapa sekarang daging sapi? 140 ribu, Bu Haji. Naek nih dari sananya. Tambah sini tambah mahal aja, Bang. Ya udah ambil sekilo deh. Iya saya kan cuma dagang aja, Bu Haji. Losnya selalu penuh. Los paling besar di Pasar Kramat Jati. Tangannya lincah memainkan golok. Lalu dia asah goloknya agar lebih tajam. Setelah itu dia mulai memotong daging yang tergantung. Dia potong daging sapi itu seperti anak kecil memotong kue tart. Terlihat berantakan tapi hasilnya rapi. Bang Fahmi, saya ke sana dulu ya. Lupa tadi beli cabe. Entar balik lagi. Iya, Bu Haji. Jawabnya sambil melirik Bu Haji yang perlahan menghilang di balik kerumunan pembeli yang lalu lalang.

Apa Judul Biografimu?

​Dalam sebuah wawancara kerja. Sering calon pegawai diminta menceritakan latar belakang dirinya secara lengkap, tapi singkat. Padahal, lengkap susah jadi singkat. Dan singkat jarang lengkapnya. Bayangin sedang bikin judul buku biografi diri sendiri, katanya. Biasanya aku minta pewawancara tentukan kerangka waktu: sejak lahir sampai jadi nabi? Atau setelah selesai sekolah sampai lupa password Grindr?

Kecuali umur kita 3 tahun. Gampang. Judulnya: “Lactoseintolerant dan Burung Kunthul: Sebuah Biografi.” Tapi, setua ini? Terlalu banyak segmen yang sayang kalau dilewatkan. Kalo dipaksakan, berikut yang terbaik merangkum 36 tahun hidupku:

“Aku Butuh Boomerang Untuk Ikat Pinggang: Sebuah Biografi.

Timbangan Bilang Bersambung: Sebuah Biografi.

Gandrasta: Sodom & Gomorrah Abad 21.

10 Perintah Tuhan & Diet: Sebuah Kisah Perjuangan.

Gandrasta: Bukti Medis Naiknya Berat Badan Hanya Dengan Bernafas.

Kondom, Linimasa juga Alam Semesta: Sebuah Biografi.

Gandrasta: Homoerotisme dan Kolesterol.

Sesungguhnya Kamu Mendatangi Lelaki untuk Melampiaskan Nafsumu, Bukan Kepada Wanita, Malah Kamu ini Adalah Kaum yang Melampaui Batas: Sebuah Biografi.

Gandrasta: Mati Hanya Soal Waktu.

Gandrasta: ……

Halo Sobat Lamaku Kegelapan

Hampir setiap hari, di negeri yang amat beragam ini, bisa dipastikan ada hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Ketololan yang kita anggap seharusnya tidak perlu terjadi. Kebodohan yang kelewat batas. Kejijikan yang di luar batas. Tindakan yang tidak seharusnya. Yang semuanya sering membuat kita kecewa, kesal dan marah. Di saat yang bersamaan, ada banyak juga hal-hal yang kita anggap positif. Menjadi inspirasi bagi diri sendiri. Membanggakan nama Indonesia. Mengharumkan nama keluarga. Memperbaiki kualitas kehidupan sekitar. Yang semuanya membuat kita senang, bahagia dan bersyukur. Semua terjadi silih berganti, berulang terus setiap hari tanpa henti. Walau tak mungkin, bayangkan apa yang akan terjadi kalau semua sesuai seperti yang kita inginkan?

Di media sosial tidak ada postingan cewek yang baru operasi membesarkan payudara, tidak ada masalah keluarga ditayangkan di tv nasional, dan tidak ada akun gosip. Di surat kabar tidak ada laporan tindakan kriminal, tidak ada selebriti cari sensasi, tidak ada pejabat pemerintahan berkata tak pantas. Teman-teman kita pun memposting persis seperti yang kita idamkan. Tak ada selfie berlebih, tak ada joke berselera rendah, tak ada foto pencitraan, tak ada foto makanan, dan lainnya yang mengganggu. Dan para celebgram mengajak followersnya untuk membersihkan lingkungan dan berdonasi untuk Orang Hutan. Para Vlogger dan Youtuber selalu memberikan rangsangan untuk mencari ilmu setinggi langit. Semua persis pleketiplek seperti yang kita bayangkan dan inginkan. Seperti idealnya harapan kita. Tak ada postingan atau seruan kegelapan.

Apakah kemudian hidup kita jadi tenang, tenteram dan sentausa? Masa depan anak-anak kita lebih terjamin dan karir pekerjaan kita berkembang pesat? Serta tak ada lagi tindakan kriminal yang disinyalir gara-gara Facebook? Akan tumbuhnya minat baca karena semua postingan media sosial menyarankan itu. Akankah kesempatan bersekolah akan terbuka lebar bagi seluruh anak Indonesia? Feminis tak lagi dianggap sebagai aliran sesat perempuan ingin jadi laki-laki. Menurunnya angka perkosaan dan meningkatnya jumlah umat beribadah. Tak ada lagi orang patah hati karena cinta tak lagi sembarang tebar. Kegelapan tak lagi ada karena hilangnya cahaya, tapi semua terang benderang.

Bagi sebagian besar yang menganggap ini benar akan terjadi, besar kemungkinan belum pernah berkreasi. Karena dalam setiap kreasi, ada satu hal yang mutlak diperlukan adalah tekanan. Tekanan untuk terus mencari kebenaran. Tekanan untuk menerobos kegelapan. Tekanan untuk kelegaan. Tekanan untuk keluar dari kegelapan. Coba lihat sekitar kita, musik, film, sastra, gadget, dan terobosan-terobosan inovasi lainnya, hadir karena tekanan. Masalah hidup sehari-hari. Patah hati. Retaknya hubungan keluarga. Sulitnya mencari uang. Peradaban jahiliyyah yang keras kepala. Semuanya memberikan inspirasi dan dorongan untuk berkreasi dan berinovasi. Untuk menawarkan setitik cahaya bagi kehidupan manusia untuk melanjutkan perjalanan dalam kegelapan.

Ada bercandaan tentang kota Singapura. Kota yang dinilai sempurna. Semua rapi jali, tertib, bersih, teratur, rendahnya tingkat kriminal dan tak ada wilayah kumuh tempat orang miskin hidup. Seorang sutradara pernah bertanya pada dirinya sendiri “what kind of movie can I make if I live in this city?” Walau sekilas terdengar seperti asal, namun pernahkah kita ramai-ramai menonton film Singapura seperti kita sekarang menonton Train to Busan buatan Korea? Atau film PK dari India. Atau Bangkok Traffic Love Story dari Thailand. Sejauh ingatan sepertinya belum pernah. Coba kita lihat film-film Indonesia yang populer. Semuanya bisa dipastikan berawal dari masalah. Dari kegelapan. Soal kemiskinan, kebebasan beragama, perempuan teraniaya, ketamakan, sampai makhluk halus. Film kemudian terus menerus mencoba menawarkan sinar untuk menerobos dan melalui kegelapan itu.

Sejarah Facebook, pasti semua sudah tahu. Berawal dari keinginan untuk menjadi sarana penyatu mahasiswa Harvard. Mark yang sebelumnya sudah menciptakan social networking Coursematch dan Facemash, adalah mahasiswa psikologi. Tanpa disadarinya, Mark paham akan keinginan dasar manusia untuk terhubung satu dengan yang lain. Sementara mahasiswa Ivy League yang selalu hidup dalam terpaan buku-buku membuat banyak dari mereka kehilangan kehidupan sosial. Malu-malu berinteraksi antar mahasiswa sehingga kesulitan menemukan dan membedakan cinta dan syahwat. Lebih jauh lagi, ketidak pedulian dan rasisme dengan mahasiswa dari negara lain. Dalam sebuah penelitian oleh American Academy of Pediatrics ditemukan 24% mahasiswa Ivy League rutin menenggak penenang dan ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder), dan 34% diantaranya merasa itu bukan masalah.

Album Beyonce terakhir Lemonade, banyak menuai pujian. Terutamanya, para fans yang merasa ini adalah album Beyonce yang sesungguhnya. Beyonce menjadi diri sendiri di album ini. Kemudian berkembang spekulasi bahwa hubungan rumah tangga Beyonce dengan Jay Z sedang retak. Lemonade kemudian dianggap sebagai refleksi, kemarahan, diskusi mengenai pernikahan. Tak berhenti di situ, Lemonade sepertinya didedikasikan untuk perempuan, terutamanya perempuan berkulit hitam. Dalam lagunya Don’t Hurt Yourself, Beyonce mengutip perkatan Malcolm X “The most disrespected person in America is the black woman. The most unprotected person in America is the black woman.” Tanpa adanya kegelapan dan masalah rumah tangga dan ras di Amerika, bisa dipastikan Lemonade tak akan berpengaruh malah mungkin tak pernah ada.

Lebih jauh lagi, agama dan kitab sucinya. Sepertinya tidak ada kitab suci yang hanya menampilkan kebersihan dunia semata. Terang benderangnya dunia tanpa kegelapan. Bahkan lebih seringnya kegelapan diceritakan sedemikian rupa sehingga saat Sinar itu datang, Dia hadir (se)bagai penyelamat. Mulai dari cerita tentang korupsi, perzinahan, kebohongan, pengkhianatan semua tertulis lengkap tanpa usaha untuk menutupinya. Bukan kemudian untuk meniadakan kegelapan itu, kitab suci kemudian memberitahukan umatnya bagaimana mengatasinya. Sudah dari sononya, selama kita hidup maka kita akan berteman dengan kegelapan. Karena kegelapan itu pula, 221-206 sebelum Masehi, Dinasti Qin menemukan lilin yang menggunakan lemak ikan paus, kemudian berkembang menjadi lampu minyak, bohlam, neon, lampu pijar, compact fluorescent light, sampai LED dan entah apalagi berikutnya. Dan apakah setelah semua terang kita nikmati, kini waktunya mengutuk kegelapan?

Bukan pula mengajak untuk memuja kegelapan. Tapi berusaha untuk berteman dengan kegelapan adalah usaha yang pantas untuk dicoba. Karena kegelapan, sebenarnya menjadikan terang semakin bersinar. Good Cop dan Bad Cop. Contoh yang baik dan contoh yang buruk. Dari mana pun persepsinya kita perlu keduanya. Kesia-siaan besar adalah berusaha untuk mensterilkan kehidupan. Kita perlu kekotoran supaya tubuh lebih tahan banting. Bukankah bunga Lotus terindah tumbuh dari lumpur terkotor? Itu pun kalau kita berhenti pada pemahaman hidup hanya pada terang dan gelap saja. Padahal ada temaram diantaranya. Ada subuh sebelum pagi dan senja sebelum malam.

Daripada mengutuk segala tindak kegelapan, mengapa tidak berkreasi untuk mengatasi kegelapan. Daripada menutup mata anak-anak pada tindak kegelapan, mengapa tidak membuka pikirannya untuk memahami. Mana tahu dari situ keluar inovasi-inovasi terang yang bisa ikut memajukan peradaban. Daripada membuang ludah menghina kegelapan yang tak akan pernah pergi, mengapa tidak berbincang mengenai solusi. Menjadikan kegelapan sebagai sumber inspirasi. Tenaga yang tak berkesudahan untuk berkarya dan berbuat. Ketakutan akan kegelapan adalah bentuk kegelapan tersendiri. Kebencian akan kegelapan adalah juga kebencian pada kehidupan dan manusia.

Seseorang yang taat berdoa, suatu siang merasa ngantuk tak tertahankan. Sebelum terlelap tidur, dia meminta kepada Tuhannya untuk dibangunkan saat waktu berdoa tiba. Pintanya dikabulkan. Seekor kucing menjilat-jilat telinganya sehingga dia terbangun. Segera dia terbangun dan berdoa. Saat berdoa dia berterima kasih pada Tuhan telah membangunkannya. Tapi alangkah terkejutnya dia saat mendapat wangsit bahwa bukan Tuhan yang telah membangunkannya. Tapi kucing tadi adalah jelmaan Iblis. Setengah terkejut dia pun bertanya kepada kucing itu “mengapa kamu membangunkan aku untuk berdoa? Bukankah kamu lebih senang kalau aku tidak berdoa?” Kucing kemudian menjelaskan “karena kalau kamu ketiduran dan tidak berdoa, saat terbangun kamu akan berdoa lebih banyak dan khusuk untuk memohon ampunanNya. Dan saat itulah aku akan semakin tersingkirkan”. Sejak saat itu, kucing menjadi sobat perjalanannya.

kot2greffespatch

 

 

Karena yang Berjalan Sendiri, Membawa Keramaian di Dadanya *)

Asasi manusia pertama kali adalah bertahan hidup. Menangis karena haus. Menangis karena lapar. Menangis karena takut. Lalu kita belajar hal lain.

Menghindar dari bahaya. Berlari dari kejaran hewan buas. Menggerakkan seluruh tubuh saat tenggelam. Juga menghindari ancaman. Juga menghindari rasa kurang nyaman. Juga melupakan ingatan. Terlebih kenangan mantan. Terkadang, saking hebatnya, kita terpaksa menyangkal atas sesuatu yang ndak sesuai keinginan. Lari dari kenyataan. Tapi memang inilah sesuatu yang ada sejak mula. Jika ini dapat membuat hidup kita lebih nyaman, tentram dan terus bertahan, maka ndak cuma pertahanan fisik, melainkan juga mempertahankan kesehatan akal dan pikiran. Secara otomatis ingatan akan hilang, atau lambat laun berganti versi menjadi sesuai keinginan.

Bertahan hidup dengan menciptakan fantasi sendiri. Maka bersyukurlah kita yang pandai menghibur diri.

Ini semua sudah cukup.

 

Cukup. Semua kelebihan manusia, semua prestasi orang lain, semua rejeki milik siapapun juga, akan menjadi biasa dengan kata  ini: “cukup”. Bapak ndak mau nambah toko? Cukup. Bapak ndak nambah anak? Cukup. Bapak ndak mau naik pangkat? Cukup. Ndak mau diteruskan hubungan kita? Cukup. Kita lama ngobrol via sosmed, apa ndak mau ketemuan? Cukup.

Seseorang berkata soal cukup suatu ketika: Cukup. Tak perlu bertatap muka. Aku tahu kamu ada. Yang penting ada. Ada kamu. Itu sudah cukup. Jikapun kita selamanya begini, aku pasrah. Tak perlu dilawan. Berdamai dengan keadaan. Pasrah. Menerima keadaan tanpa melawan. Waktunya untuk menjatuhkan diri di hamparan rumput ilalang. Matahari hangat bersinar menerpa. Toh akhirnya kita sama-sama pulang. 

Benarkah kita harus pasrah? Apakah tepat jika kita menaruh masa depan dan menyandarkannya pada kata nasib. Atau takdir.

Saat susah, ini kehendak Tuhan. Saat senang, karena usahanya sendiri. Pasrah dilakukan saat dalam posisi yang sulit. Bagaimana saat merayakan keunggulan, apakah juga ada kata “pasrah” melintas dalam benak kita? Mengapa takdir dekat dengan cobaan? Mengapa pasrah muncul saat terjepit?

Bagaimana kalau kita biasakan bicara takdir saat penuh rejeki? Bagaimana kalau kita bicara pasrah saat semua orang di bawah kendali kita?

Jika saja Mark Zuckerberg atau Elon Musk berkata: “Namanya juga takdir Tuhan…“, saat ditanya wartawan mengapa mereka bisa kreatif dan menelorkan banyak inovasi. Sayangnya kalimat tadi lebih banyak muncul saat seseorang sedang kesulitan atau kesusahan. Ketika Lionel Messi menerima penghargaan sebagai pemain terbaik dunia, akankah dia berkata dalam kata sambutannya: “Saya hanya pasrah saat main bola. Lawan-lawan saya saja yang kurang beruntung..“.

Asasi manusia pertama kali adalah bertahan hidup.

Dan hidup kita bukan mimpi. Keberanian sesungguhnya adalah menghadapi dan bergulat dengan kenyataan hidup sehari-hari. Ada perih. Ada duka. Ada nelangsa. Ada sepi. Tapi setidaknya terselip tawa, binar mata dan dada yang bergemuruh.

Asasi manusia pertama kali adalah bertahan hidup.

Bertahan menuju pulang.

 

Salam anget,

Roy

 

 

 

 

*) Judul dan Youtube diperoleh dari Ria Fahriani.

Aku tak Berasap, Maka aku Ada

Yep, Anda tak salah dengar; saya berhenti merokok. Hari ini hampir dua minggu saya tidak merokok tembakau. Mungkin terdengar seperti seujung kuku, dua minggu tidak merokok. Tetapi buat saya yang telah merokok selama 21 tahun, dengan break hanya ketika hamil dan menyusui, percayalah kalau dua minggu itu terasa lama.

tumblr_m51x0cuyfv1r3gb6ao1_500

Alasan saya berhenti cukup sederhana; saya sudah mendaftar di obstacle race awal bulan depan. Dalam rangka itu, saya dan teman-teman yang telah mendaftar juga sempat latihan trail run di Gunung Pancar Sentul. Ketika itu sementara mereka masih bisa berlari dengan santai, saya terengah-engah sulit sekali bernapas. Selain ingin napas lebih panjang, saya juga sebal mendengar anak saya melaporkan kalau dia tidak bisa tidur karena seminggu belakangan saya mengorok.

tumblr_m1hv010vgl1rrarcyo1_500

MENGOROK.

Selama ini saya sering terganggu dengan anggota keluarga yang mengorok karena saya seorang light-sleeper. Saya juga merasa tak mungkin saya mengorok karena akan terbangun karena suaranya. Tetapi ternyata, setelah saya coba googling, perokok yang sudah bertahun-tahun merokok seringnya menjadi pengorok juga. SAYA. PENGOROK. That’s it, I have to quit smoking.

tumblr_m5j25alysh1qdtu3ro1_500

Bagaimana caranya? Berhenti saja, kalkun dingin. Tidak terlalu jauh berpikir, hanya sehari ke depan, setiap hari. Saya enggak mau berpikir apakah minggu depan masih bebas tembakau, apalagi bulan depan. Satu hari saja dulu.

tumblr_m1uo9iryts1qdtu3ro1_500

Ternyata setelah dijalani, saya tidak terlalu merasakan ingin merokok yang gimana banget sampai menggigit kuku atau jittery seperti yang saya sering lihat di film-film. Biasanya malah yang mencetus rasa ingin kalau saya melihat tempat-tempat yang biasa saya gunakan buat duduk dan merokok. Atau waktu tertentu yang biasanya jadwal saya merokok. Atau terkadang hati mencelos jika teringat betapa mengasyikkan mengobrol dan bergosip dengan sahabat-sahabat sambil merokok. Lalu kemudian saya sempat hangout dengan mereka, lalu bisa melaluinya tanpa merokok! Yay! Tetapi justru gejala-gejala hilangnya nikotin dari tubuh dalam bentuk fisik dan mental itu yang saya rasakan agak aneh. Sampai saya harus menanyakan ke teman saya yang pernah melaluinya, apakah dia merasakan juga, tetapi dia hanya memandang saya seolah saya gila.

tumblr_m0es12plzv1qdtu3ro1_500

Lalu saya kembali lagi ke Google, dan ternyata saya tidak sendiri dalam merasakan gejala itu. Hanya memang kasusnya tidak terlalu banyak. Termasuk di antaranya, adalah.

  • Perut bergas dan jika dibuang lebih aromatik dari biasanya. Hal ini sudah dikonfirmasi dari si anak yang sering menjadi korban.
  • Jika banyak orang berhenti merokok melaporkan konstipasi, saya malah jadi kelewat lancar dalam urusan “itu”.
  • Malam hari badan suka gatal mendadak di bagian yang sulit digaruk. Punggung misalnya.
  • Proses kerja otak jadi lambat sekali. Ini agak mengherankan karena kabarnya nikotin menyebabkan oksigen tidak lancar aliran ke otak, dan dengan berhenti merokok harusnya otak dipenuhi oksigen yang segar, sehingga jadi mendadak cerdas dong ya
  • Beberapa hari pertama: sakit kepala. Ini juga kabarnya dengan alasan sama dengan yang saya ungkapkan di atas.
  • Setelah berolahraga suka merasa berkunang-kunang seperti akan pingsan, tetapi tidak. Sampai pingsan juga.

tumblr_l7fchi57wn1qd8ctso1_500

Sebagian dari gejala ini masih saya rasakan hingga sekarang, dan kabarnya dari tulisan yang saya baca, akan hilang dalam waktu 8 sampai 12 minggu. Masih lama sekali ya. Tapi saya cukup tabah, karena manfaatnya pun mulai terasa. Laporan dari anak mengatakan saya tak lagi mengorok. Lalu ketika saya lari, kaki lebih cenderung menyerah dulu dibandingkan nafas. So yeah, wismilak (no pun intended, karena rokok saya tadinya bukan itu).

David Bowie

Lagu ini saya persembahkan ke sebatang rokok yang pergi begitu cepat dan meninggalkan saya dengan keperihan yang dalam.

Catatan kaki: semua gambar diambil dari tumblr saya dan sahabat saya dulu sekali. Saya hanya bertahan beberapa bulan turut menyumbang, sementara sahabat saya meneruskan hingga dua tahun. Feast your eyes hereThank you for Smoking.

Titik Balik Yang Membuat Kita Kebalik Sebelum Akhirnya Membaik

Akhir pekan lalu, saya menonton film The Happy Ending (1969). Film ini bercerita tentang seorang perempuan bernama Mary Spencer, yang juga seorang istri dan ibu rumah tangga (diperankan sangat baik oleh Jean Simmons, yang mendapatkan nominasi Oscar lewat perannya di sini). Film diawali dengan masa pacaran Mary sebelum akhirnya dia menikah. Saat pernikahan, pikiran Mary melayang pada ending film-film klasik Hollywood yang sering ditontonnya, yang semuanya berakhir dengan adegan pernikahan, dan tulisan “The End”.
Bahkan di film ini sendiri, tulisan “The End” itu muncul di awal film. Namun sejalan dengan bergulirnya cerita film, tiba-tiba kita diperlihatkan Mary yang secara impulsif pergi ke luar kota dengan tiket sekali jalan, meninggalkan keluarganya. Adegan demi adegan flashback muncul.
Ternyata selama ini Mary depresi. Dia tidak bahagia dengan pernikahannya. Dia mengisi botol parfum kosong dengan vodka, supaya orang tidak curiga dia sedang minum alkohol. Suaminya sempat selingkuh, tapi itu pun ditanggapi dengan dingin.
Mary terjebak dengan idyllic idea of marriage, dan tidak siap dengan kehidupan nyata. Maka dia memilih untuk keluar, meskipun dengan resiko hidupnya berantakan. Suami Mary sempat meminta kembali, meskipun di akhir film Mary bertanya lagi:
“Tell me. If we were not married in the first place, if we’re still single, would you still consider me?”
Suami Mary, yang sekarang sudah jadi mantan suami, cuma terdiam.
“The End”.

The Happy Ending (1969)
The Happy Ending (1969)

Akhir dekade 60-an di Amerika Serikat memang dipenuhi dengan karya seni, baik itu musik, buku, atau film, yang mempertanyakan jati diri karakter. Banyak pengamat berkata, inilah awal era “me-attitude”. Orang banyak memberontak, mendobrak pakem atau norma kehidupan suburban style era 50-an. Revolusi budaya dimulai. Gerakan women lib dimulai. Perempuan mempertanyakan fungsi mereka sebagai bagian dari masyarakat.

Tetapi, sepanjang menonton film The Happy Ending ini, saya justru melihat relevansi ide cerita itu sampai sekarang. Tentu saja, ada beberapa film lain dengan tema serupa yang saya ingat. Misalnya, film Audrey Hepburn favorit saya, Two For The Road (1967). Cerita tentang sepasang suami istri (Hepburn dan Albert Finnery) yang setiap tahun dalam annual holiday trip mereka selalu berusaha menemukan jawaban atas pertanyaan: masihkah mereka cinta satu sama lain?

Two for the Road (1967)
Two for the Road (1967)

Beberapa tahun kemudian, tema serupa banyak diangkat kembali oleh film-film lain, salah satunya The Story of Us (1999), salah satu film underrated dari Rob Reiner, di mana Bruce Willis dan Michelle Pfeiffer mati-matian mempertahankan rumah tanggal mereka selama 15 tahun.

Saya tidak menikah, belum ada rencana juga untuk menikah. Meskipun begitu, saat menonton (ulang) film-film di atas (berkali-kali), pertanyaan yang sama menghinggap di kepala:
At what point does a relationship go wrong? Di titik mana sih hubungan asmara ini menjadi kacau balau? Doesn’t it start well at the beginning? Isn’t everything starting great?

Kalau kita menuruti beberapa teori, ada yang bilang, 3 bulan pertama setelah pacaran pasti akan bosan. Atau kalau tidak, setelah 5 tahun menikah, pasti muncul friksi besar yang akan menentukan masa depan pernikahan itu, mau langgeng atau tidak.

The Story of Us (1999)
The Story of Us (1999)

Namun nyatanya, tidak pernah ada angka absolut. Jangankan beda orang, kita sendiri pun berubah sesuai dengan waktu yang terus berjalan. Maksudnya, cara kita menjalani hubungan dengan orang 10 tahun lalu dengan cara kita sekarang, pasti berbeda.
Different sets of expectation, different sets of practicality, and other countless differences.

Namun terkadang, tidak ada trigger atau pemicu apapun yang membuat seseorang menjadi tidak bahagia. Sometimes, the sparks just stops. Keceriaan berhenti. Komunikasi tidak lancar. Hubungan fisik semakin jarang terjadi.
Happiness lasts not forever. Happiness lasts while it lasts.

Mungkin tidak perlu dicari tahu apa penyebabnya. Mungkin pertanyaannya bukan “apa yang menyebabkan”, tapi “bagaimana sekarang?”
We are not happy. Now what?

Ada yang memilih untuk mencari solusi bersama. Ada yang memilih untuk berpisah. Titik balik hubungan kita mungkin bukan untuk membalik atau reset ke awal hubungan yang bahagia, tetapi untuk melangkah maju.

Dua dari tiga film yang saya tulis di atas memilih untuk memisahkan karakter utama pria dan perempuan. Satu lagi memilih untuk meneruskan hubungan, meskipun luka, mistrust, sakit hati yang timbul akibat percecokan tidak akan pernah bisa hilang.
Dan ketiga film itu punya kesamaan setelah credit title mulai dinaikkan: mereka semua membuat saya berpikir lama setelah filmnya selesai.

Berpikir, bahwa mungkin yang namanya happy ending is only the beginning.

And life, with or without love, still goes on.

Sudah dari Dulu

VIDEO bertajuk Gema Pembebasan UI bikin ribut jagat maya pekan ini. Berupa rekaman amatir yang dibubuhi tanda air di pojok kanan bawah, dan menampilkan Boby Febry Sedianto berorasi dengan banyak gerakan canggung.

Banyak hal yang diributkan dari video ini, baik secara konteksual maupun lainnya. Mulai dari pesan dan seruan Boby untuk menolak Ahok atas dasar dalil agama, latar belakang organisasi yang diwakili oleh Boby (diasumsikan dari watermark), penggunaan atribut kampus yang dinilai tidak etis, sampai cara Boby berbicara, kamera yang goyang sana sini, dan kualitas unggahan.

Setelah video ini menjadi viral dan membuat Boby harus merilis surat permohonan maaf resmi bermaterai, keributan masih berlanjut, bahkan meluas. Kali ini tentang gelombang radikalisme di kampus; lingkungan akademik yang seharusnya dipenuhi dengan diskusi, argumentasi, dan ekspresi kognitif secara bertanggung jawab. Pasalnya, kelar urusan Boby, muncul beragam video serupa di berbagai universitas Jakarta. Salah satunya seperti yang di-retweet dalam timeline saya hari ini.

Evelyn Beatrice Hall terkenal dengan ungkapan:

I disapprove of what you say, but I will defend to the death your right to say it.

Yaudahsik… Biar saja para mahasiswa tersebut tetap melakukan apa yang ingin mereka lakukan, asal bukan melakukan apa yang diinstruksikan/dipaksakan kepada mereka. Anggap saja mereka sedang learning by doing, dan memang merupakan hak personal mereka untuk tampil seperti ini. Mana tahu kalau sudah gedean dikit nanti, pengalaman ini jadi salah satu embarrassing moment seperti yang dimiliki semua orang dari masa lalunya.

Kalau dipikir-pikir, mereka sama saja seperti Awkarin yang menggunakan media audiovisual untuk menarik perhatian orang lain sebanyak-banyaknya. Sama-sama ada yang memuji, dan ada yang mencaci.

Bedanya, Awkarin utilizes her daily life as an asset. Dia sudah sangat kreatif dalam mengemas kehidupannya sedemikian rupa untuk bisa dinikmati publik. Sedangkan para mahasiswa di atas baru merasa “berperan dalam sesuatu yang besar” lewat transfer dan infiltrasi doktrin-doktrin organisasi yang menjamah mereka. Entah seperti apa cara dan metodenya, kemungkinan besar para mahasiswa simpatisan tersebut mudah dibuat terperangah dengan pesan-pesan yang disampaikan.

Tak menutup kemungkinan, setelah ini bakal ada lebih banyak lagi video-video serupa dari berbagai kota di Indonesia, lantaran makin banyak mahasiswa yang berpikir: “keren juga ya kalau bisa begitu.

Toh dalam banyak kasus, pola pikir yang seperti ini bukan ujuk-ujuk muncul setelah mereka jadi mahasiswa. Melainkan ditumbuhkan lebih awal, bahkan sejak dari rumah dan di lingkungan sekolah menengah. Banyak orang menjadi rentan berpikiran sempit dan picik karena pengaruh lingkungan, terlebih untuk hal-hal yang berbau keagamaan. Pokoknya, semua hal yang (terkesan) sejalan dengan ajaran agama, sudah pasti bagus. Begitupun sebaliknya. Semua dipukul rata.

Contohnya seperti kejadian yang saya alami saat jadi anak Mading di SMA.

Saat itu bulan Oktober, dan edisi Mading bertema Halloween. Sebagai ornamen utama, ada pentagram atau bintang lima sudut dengan garis tepi saling memilin, dibingkai dengan dua lapis lingkaran. Ornamen tersebut dibuat dengan karton hitam, serta spidol warna perak dan emas. Bagian lingkaran dihiasi tulisan aksara Rune, yang sengaja dipilih karena film dan novel “The Lord of The Rings” sedang menjadi tren.

Belum genap 24 jam Mading naik tayang, anak-anak kelas 3 mendatangi kelas dan mengarak saya (dan beberapa tim Mading) lainnya untuk turun ke lapangan tengah, tepat di depan masjid sekolah. Di sana, mereka menuntut agar seluruh isi papan Mading diturunkan.

(kurang lebih seperti ini)

Dia: “Kami meminta agar Mading diturunkan!

Saya: “Ini ada apa?

Kami enggak terima ada gambar-gambar Satanis, berhubungan dengan setan ada di sekolah ini… yang bentuknya bintang terbalik, ada tulisan-tulisan penyihir!*

Tanya-tanya dulu lah. Kok tahu-tahunya itu Satanis?

Pokoknya kami minta itu diturunkan, atau kami yang akan turunkan sendiri!

Ya klarifikasi dulu. Itu bukan Satanis, itu kita gambar-gambar sendiri kok.

Kakak kelas lain: “Halah! Apa itu klarifikasi… klarifikasi…? Ga ngerti! Udah hajar ajaaa… Banyak bacot!

Mbatin: “oh, ga paham arti kata klarifikasi…

Para kakak kelas itu adalah anggota Rohis. Kebetulan.

Waktu masih SMA saja sudah begini, sepertinya wajar apabila saat jadi mahasiswa bisa tambah parah.

[]

*) Tulisan Rune: “besok enaknya makan apa ya”

Plotpoint Kehidupan

catatan redaksi linimasa:

Juru Baca adalah akun yang digunakan oleh Hasan Aspahani. Jika tak ada aral melintang setiap dua pekan Hasan Aspahani akan mengisi linimasa Selasa bergantian dengan Agun Wiriadisasra.

TERHUBUNGKAN dengan kawan-kawan SMA dalam grup Whatsapp itu membahagiakan. Bisa berbagai kisah konyol dari masa-masa sekolah yang seakan tak pernah habis. Bisa ikut  bahagia bagi teman yang naik jabatan. Bisa kasih atau diberi ucapan selamat atas satu pencapaian. Kirim doa untuk kawan yang naik haji.  Oke, oke, kadang memang menyebalkan juga karena harus menerima meme, joke, atau postingan berantai yang sama dengan berbagai grup lain. Juga guyonan daur ulang dengan cap baru bernama Mukidi.

Kami tinggal terpisah di berbagai kota tapi sebagian besar menetap di Balikpapan, kota SMA kami.   Kawan-kawan kami yang satu kota saya kira lebih banyak memetik bahagia dengan keterhubungan itu. Mereka bisa atur waktu piknik ke Pulau Derawan, berkemah di Pantai Lamaru, bertakziah ke kawan yang kemalangan, atau membezuk ke rumah sakit.

Terakhir kali, bulan lalu, mereka tur bareng ke Banjarmasin, main ke pasar terapung, menyinggahi kawan yang bekerja di cabang sebuah bank, dan yang membuka praktek dokter di sana.   Saya dan kawan-kawan di luar Balikpapan hanya bisa mengirim jempol atau berkomentar ini-itu. Kawan-kawan yang berbahagia. Jenaka  seperti sedia kala.

Grup Whatsapp ini terbentuk tahun lalu. Tepat ketika  25 tahun – ya saya sudah seberumur itu –  kami meninggalkan SMA. Ada reuni perak yang juga tak bisa saya hadiri. Bertemu dengan guru-guru yang sudah di ambang masa pensiun.

Menengok ke masa 25 tahun lalu itu, saya kini bisa menyimpulkan itulah plotpoint pertama dalam hidup saya, dan kawan-kawan saya, dan mungkin juga siapa saja yang hidup di negeri ini. Negara ini  masuk ke wilayah pribadi warganya lewat aturan – yang kadang-kadang diurus dengan tak becus – jenjang pendidikan.  Wajib belajar namanya.

Oh ya, plotpoint adalah istilah dalam penulisan skenario berbasis 8 sekuens.  Syd Field menegaskannya ketiga menguraikan struktur tiga babak.

Penulis skenario mula-mula akan menetapkan tiga babak cerita yang masing-masing babak itu digerakkan oleh satu plotpoint. Plotpoint itu seperti pengungkit yang membuat cerita bergerak. Lulus SMA adalah plotpoint I dalam perjalanan hidup saya. Tepatnya adalah: lulus dan saya menerima undangan kuliah gratis di Jawa. Lalu cerita hidup saya kemudian bergerak ke berbagai arah dan menyampaikan saya pada tempat yang tak pernah saya bayangkan.

Jika film cerita dengan delapan sekuens berdurasi maksimal dua jam memerlukan dua plotpoint, maka dalam hidup manusia tentu saja bisa ada banyak plotpoint-plotpoint yang membawa saya ke sekuens berikutnya dari kehidupan.  Lulus kuliah, menikah, punya anak pertama, menerbitkan buku pertama, pindah kota mengikuti pekerjaan…

Kesadaran ini membantu saya memahami dan mengikuti pertumbuhan dua anak saya. Putri sulung saya kini di tahun akhir SMA, sudah memutuskan memilih akuntansi ketimbang psikologi.  Si bungsu kelas dua SMP yang baru saja berganti ekstrakurikuler dari sepakbola ke tenis meja, ikut seleksi pengurus OSIS dan terpilih menjadi anggota seksi Kerohanian. Pada hari Jumat ia kerap jadi muazin di sekolah masjidnya.

Ada kesenjangan antara saya yang lulus SMA 25 tahun lalu dengan anak-anak saya.

Generasi native digital ini tak bisa lepas dari gawai, juga ketika hadir di meja makan. Generasi yang 24 jam terhubung dengan internet. Anak-anak yang risau ketika sambungan internet bermasalah dan tak peduli ketika koran telat diantar.

Sejauh ini saya dan istri saya bisa berdamai dengan anak-anak kami generasi digital ini meskipun misalnya si sulung itu tak punya kesadaran untuk sekadar menyisihkan piring kotor bekas makan sendiri dari meja. Bicara dengan istilah-istilah singkat yang tak langsung kami fahami: putab (untuk seragam putih abu-abu), bindo (untuk pelajaran Bahasa Indonesia)…

Saya bisa berdamai dengan mengingatkan diri sendiri bahwa ini adalah sekuens kehidupan dan anak-anak saya akan menemukan plotpointnya sendiri dan saya tak ingin dan tak bisa punya peran banyak di situ.

Saya tak tahu bagaimana kelak anak saya mengenang masa-masa SMA-nya sekarang kelak 25 tahun kemudian. Bagaimana mereka mengingat pentas musikal mereka di Tejak (saya harus bertanya apa itu yang ternyata adalah Teater Jakarta di Komplek TIM, Cikini), dan bagaimana mereka  memproduksi helat musik besar yang mendatangkan Kahitna, Tulus, Gigi…. Dulu, saya dan kawan-kawan SMA saya sudah bangga banget bisa bikin pentas bersama tujuh SMA di Balikpapan dan diberitakan oleh Majalah Hai.

Ada beberapa rancangan hidup yang saya dan istri saya harapkan akan menjadi plotpoint lain bagi kami.  Kami mungkin tak lagi terlalu berani bertaruh dengan keputusan-keputusan besar. Tapi ada hal-hal terjangkau, hal-hal kecil yang bisa kami putuskan yang kami harapkan akan membawa serangkaian perubahan penting dan berterusan. Terima kasih untuk Malcolm Gladwell yang meyakinkan saya dalam hal ini lewat bukunya Tipping Point.

Kami tak ingin hidup kami mandek.

Kami butuh plotpoint lain yang terus menggerakkan kehidupan kami.

[]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hari Korban

Anakku, dapat tugas menulis dari sekolahnya. Tema Idul Adha. Mesti melibatkan keluarga, kawan atau tetangga dekat. Mungkin karena alasan gampang, Sekar pilih aku sebagai korban. Pertanyaannya:

Kalo om diperintah tuhan untuk nyembelih aku, gimana?

The Sacrifice of Isaac by Caravaggio

Aku meremehkan tugas ini. Salah. Ini pertanyaan berat. Aku bisa berbohong demi nilai bagus dan etis. Bisa juga ndak jawab, tapi terlampau egois. Sementara, jawaban apa adanya bisa berakibat fatal.
Satu hal yang ndak diinginkan dunia dari manusia: menjadi diri sendiri. Sebagai kumpulan sosial, kita punya standar-standar. Sepatutnya ditaati, agar masuk dalam kumpulan sosial. Waktu menjadi diri sendiri keluar dari pakem, kumpulan ini akan mengidentifikasikannya sebagai pembangkang. Entah baik atau buruk, si pembangkang harus siap hidup di luar lingkaran. Dikucilkan. Bahkan untuk kasus iman, hukuman mati.

Meski manusia mengakui unik antara satu dan lainnya. Menyangkal hal ini sudah jadi konsensus bersama. Kita hidup di era berbeda itu dosa.

Ah, bisa jadi aku terlalu khawatir. Sekar udah besar. Generasi yang ndak lagi kenal kertas koran, harusnya lebih terbuka dengan perbedaan. Pun, perbedaan ini nanti lebih jadi bekalnya belajar ketimbang doktrin ribuan taun yang ndak mau berubah.

“Om mendingan masuk neraka ketimbang nyembelih Kakak.”
“Aku harus tulis apa nih?’
“Ya udah tulis gitu aja tadi…”
“Nanti guru aku kaget dong?”
“Gini, sekarang Kakak yang jawab. Kalo tuhan perintah kakak untuk bunuh Om Gendut, gimana?”
“Tuhanku ga gila gitu ooommm…”