Elvis Has Left the Building, and I’m a Bit Bummed

The legendary couch potato struck again. Cuaca yang mendukung; hujan deras di akhir pekan yang membuat malas pergi, khawatir terjebak banjir, tidak membuat janji dengan siapapun, pura-pura lupa ada undangan pernikahan, dan situasi jomblo kronis membuat saya kembali berbaring di tempat tidur berjam jam, tidak bergerak bagaikan sayur mayur. Yang di layar? American Crime Story: The People v. O.J. Simpson. Ternganga melihat betapa piawainya Sarah Paulson, Courtney B. Vance, dan Sterling K. Brown  memerankan Marcia Clark, Johnie Cochran , dan Chris Darden (respectively).

american-crime-story-marcia-marcia-marcia

Mereka menang Emmy loh!

Selain dari Marcia yang merokok dan membuat saya jadi ingin (tapi tidak, loh), seperti biasa, ada beberapa kalimat yang diutarakan seperti menarik-narik tali di dalam hati. Dalam hal ini ketika Marcia Clark menatap tajam ke Chris Darden, sambil berkata bahwa, sayangnya mereka tidak bisa kembali ke masa lalu untuk undo hal-hal yang telah terlanjur dilakukan, kalau bisa dia dengan senang hati kembali ke masa lalu untuk mengubah beberapa hal dalam hidupnya.

Hal ini sebenarnya sudah saya tanyakan ke diri, mungkin beratus-ratus kali. Saya selalu mengatakan kalau saya tidak punya penyesalan. Apa yang sudah terjadi, kesalahan yang saya buat, dan kegagalan yang saya alami, berkontribusi dengan siapa  saya sekarang. Yah, kalau sekarang dipikir lagi, mungkin jika diberikan kesempatan lagi saya ingin memelihara gigi dengan lebih baik; mungkin mengurangi makanan manis dan menyikat dengan lebih saksama.

Kemudian saya membaca tulisan Nauval kemarin. Melihat video yang di-post Nauval, saya tersenyum sambil sedikit terharu. Betapa saya bisa empati. Saya juga pernah merasakan hal seperti itu bertahun yang lalu. Kemungkinan tidak akan pernah lagi. Berpikir bahwa kemungkinan besar tidak akan pernah terjadi lagi rasa ingin berbagi dan bertemu yang bisa diajak berbagi itu membuat saya agak galau. Lalu saya membaca tulisan Glenn. Kemudian mengingat-ingat kutipan dari beberapa film romantis yang saya tonton kalau sedang mood aneh. Bahwa sesuatu yang istimewa antara dua orang itu jarang sekali terjadi, karena itu jika terjadi nikmatilah, dan jangan biarkan dia pergi. Lakukan apapun supaya bertahan, karena itulah sumber kebahagiaan kita; cinta.

Entahlah benar atau tidak. Jadi kalau ada kesempatan untuk kembali ke masa lalu, selain gigi, kira-kira apa yang saya ubah lagi ya?

Advertisements

Magic Is When Magic Happens

Hari ini, saya “cuma” mau berbagi video ini, yang baru saya temukan kemarin:

Movie Night

Sudah ditonton?
Kalau belum, coba tonton dulu.
Langsung klik saja tautan video Youtube di atas.

Sekarang, sudah ditonton ‘kan?
Lalu apa komentar Anda? Komentar yang terlintas di benak Anda begitu selesai menonton video pendek itu untuk pertama kalinya?

Mungkin ada yang berpikir, “Sialan! Gue pikir apaan. Gue pikir film pendek beneran.”
Mungkin ada juga yang berpikir, “Yaelah. Gini doang.”
Atau mungkin ada yang berpikir, “Kayaknya gak mungkin deh terjadi di dunia nyata.”

Saya sendiri langsung tersenyum lebar selesai menonton video itu.
Belum terpikir apa-apa. Cuma tersenyum.
Tersenyum sebelum sadar bahwa ini adalah video iklan, ini alat promosi, ini manipulatif, dan lain-lain.
Tapi saya memilih untuk tidak memikirkan hal-hal tersebut, dan masih tersenyum, lama setelah video selesai dimainkan.

Bukan sekedar kebetulan juga kalau tema video itu dekat dengan saya. Terutama kesukaan karakter utamanya terhadap film. Dan menularkan kesukaannya terhadap film kepada orang-orang lain, sambil berharap ada satu orang saja yang mengerti apa yang dia sukai.

Bukan sekedar kebetulan juga kalau isi video itu memang pernah terjadi pada saya. Kejadian di masa lalu yang jauh sekali, saking jauhnya sampai saya perlu mengingat-ingat dengan keras detil sebenarnya yang pernah terjadi. Saat mulai susah mengingat karena jarak waktu yang jauh, saat itu kita sadar bahwa kejadian serupa mungkin tak akan pernah terulang lagi.
Because often in life, magic does not come twice.

Video pendek di atas menjadi pengingat saja, bahwa kita selalu ingin berbagi, dan ingin diperhatikan. Saat kita memperhatikan orang lain, dan sifatnya, sikapnya, serta kesukaannya, kita berharap bahwa kita juga diperhatikan dengan perhatian yang sama. Syukur kalau bisa berbagi kesamaan. Walaupun kalau tidak bisa berbagi, paling tidak kita lega bahwa kita pernah mengalami rasa suka.

And when such magic happens, you just know.

(Courtesy of projectdrivein.tumblr.com)

(Courtesy of projectdrivein.tumblr.com)

Cukup

KAPAN kita merasa cukup?

Bangun menjelang subuh, mengejar kereta menuju Jakarta pagi-pagi sekali supaya bisa hadir di kantor tepat waktu. Berebut tempat di dalam gerbong kereta bersama ribuan penumpang lainnya, bukan untuk duduk, melainkan berdiri. Kerap melewatkan sarapan. Sesampainya di kantor, bekerja dengan durasi normal.

Tak hanya fokus pada pekerjaan dan tenggat yang sedang ditangani, namun juga harus menyiapkan waktu dan tenaga untuk ramah sana sini biar bisa dibantu dan tidak dipersulit, bermuka tembok dan berhati batu biar enggak terikut drama yang terjadi, melengos menghindari rekan kerja yang menjengkelkan, dan sesekali menyelamatkan muka di depan atasan. Segala bentuk social engineering.

Kembali pulang dengan kereta sampai akhirnya tiba di rumah di atas pukul 8 malam. Itu pun kalau kondisi keretanya tidak menggila. Terus begitu keesokan harinya.

Lulus S-1 dan jadi sarjana dengan masa kuliah kurang dari empat tahun. Dirasa kurang, langsung meneruskan sekolah ke jenjang berikutnya. Bisa pakai duit orang tua, atau juga berburu beasiswa interlokal bahkan internasional. Jadi bagian dari Ivy League kalau bisa.

Berhasil kembali pulang dengan menggondol gelar Master, tentu bukan The Kung Fu Master, tapi tetap pilih tanding. Hanya saja, gelanggang pertandingannya yang belum jelas di mana. Sampai akhirnya mencoba mencemplungkan diri dalam berbagai kolam bidang. Berusaha mempraktikkan ilmu yang sudah susah payah dikumpulkan dan digenapi dengan sertifikat, penanda tuntasnya jenjang pendidikan. Biar berguna, katanya. Lalu untuk pertama kalinya, dibuat terkejut dengan pencapaian yang di luar perkiraan. Kecewa perdana setelah membawa rasa bangga ke mana-mana, and the first cut (usually) is the deepest.

Terus menerus melakukan rekonsiliasi dengan sisi pintar dan cendekia dalam diri sendiri, menyesuaikan antara harga diri dan kenyataan yang dihadapi. Apabila tidak bisa terima dengan hasil akhirnya, muncul keluhan, kejenuhan dan kebosanan, hingga akhirnya tebesit pemikiran untuk bersekolah kembali di jenjang yang lebih tinggi, yang lebih mumpuni secara akademik. Entah lantaran doyan belajar dan berjiwa ilmuwan; terkondisi untuk selalu merasa kurang demi memenuhi ekspektasi (baca: kebanggaan) orang tua, keluarga, atau siapa saja pokoknya orang lain; merasa menemukan dunia sendiri yang mengasyikan di balik lautan buku, jurnal ilmiah internasional, dan kumpulan data mentah atau sekunder; atau bersekolah jauh-jauh malah sebagai pelarian semata?

Merasa tertantang untuk terus berkarya. Berusaha menghasilkan sesuatu yang fenomenal secara positif dan berguna bagi banyak orang. Ingin agar keberadaannya bermakna, baik secara pro bono maupun dengan imbalan sepantasnya. Tetap ada sedikit dorongan ego dan narsisme terselip di sela-selanya. Riya sosial dan eksistensial.

Menerima semua tawaran kolaborasi dan kerja sama, deadline bertumpuk dan tak jarang jatuh pada waktu yang bersamaan. Sering begadang, tidak punya waktu yang cukup lapang untuk bertukar kasih sayang dengan seseorang, termasuk menyayangi diri sendiri dengan olahraga secukupnya dan asupan makanan yang layak. 24 jam dalam sehari terasa tidak pernah cukup, keletihan tak berkesudahan, lelah fisik dan psikis, tapi selalu bersemangat menyambut semua peluang dan kesempatan. Entah lebih berat ke mana tujuan utamanya: pencapaian dalam bentuk apa saja, atau haus pengakuan.

Pasangan muda. Baru menikah, dan baru banget dianugerahi buah hati. Masih amatir, wajar seringkali cemas; “Apakah aku sudah memberi dan melakukan yang terbaik untuk anakku?” Tanpa jelas batasan tentang “terbaik” itu.

Bayi sudah jadi balita, masuk Playgroup dan TK, sebentar lagi jadi murid SD, tetap dengan pertanyaan yang sama. Namanya juga orang tua, yang berusaha mencurahkan kasih sayang dalam bentuk terbaik bagi anak(-anak)nya. Lambat laun, hanya ada jawaban tunggal untuk pertanyaan di atas: “Aku enggak boleh salah, enggak boleh gagal (sebagai orang tua).”

Tanpa disadari, kecemasan dan kegundahan orang tua menular kepada sang anak. Ditunjukkan dalam bentuk pengajaran dan perintah: “Kamu enggak boleh bikin mama malu ya, Dear.” Berlaku untuk semua hal. Semua! Kecuali saat sedang bersantai bersama di mal atau tempat umum lainnya, ketika banyak orang tua yang asyik dengan aktivitasnya masing-masing, dan “memberdayakan” gaji para babysitter mereka.

Sang bocah didaftarkan ikut beragam kursus dan pelatihan, demi memunculkan dan menumbuhkembangkan bakat, katanya. Bidang seni, olahraga, pendidikan dan akademik, aneka bahasa asing yang biasanya muncul dilengkapi dengan subtitle-nya. Sesekali, sang bocah diminta tampil, unjuk kemampuan supaya bisa bikin banyak orang kagum. Entah, siapa sebenarnya yang sedang memamerkan apa saat itu. Terus berlanjut sampai sang bocah jadi manusia dewasa, siap menikah, dan siap menjadi pasangan orang tua berikutnya.

Kapan kita cukup?

Apa yang diberikan hidup untuk kehidupan kita enggak akan pernah cukup, sampai kapan pun. Toh, rasa cukup pada seseorang pun belum tentu bisa mencukupi seseorang yang lain.

25 Juni lalu, Bill Cunningham berpulang.

Wafatnya begitu disayangkan oleh banyak orang, termasuk mereka yang masuk dalam kelompok fashion elite dunia, para selebritis dengan popularitas lintas negara.

Siapakah dia? Seorang kakek, fotografer jalanan. Secara harfiah ia lebih terkenal sebagai itu, sebab lebih banyak memotret manusia-manusia yang sedang berlalu lalang di jalanan. Mencoba mengabadikan ekspresi kejujuran dari setiap orang–sama rata, tidak pandang bulu–lewat penampilan; apa yang mereka kenakan. Semua diterbitkan dalam rubrik “On the Street”-nya yang legendaris itu.

Foto: Getty Images

Foto: Getty Images

Apakah Bill wafat dalam keadaan cukup? Mungkin. Mungkin juga tidak.

Apakah Bill kaya raya? Kelihatannya tidak. Ia seringkali terlihat hanya mengendarai sepeda onthel dengan model jadul. Gaya berpakaiannya pun terbilang sederhana untuk seseorang dengan wawasan dan perspektif mode yang luas luar biasa. Bill sangat dikenali lewat jaket berwarna biru terang yang selalu dikenakannya, dibeli dengan harga sekitar USD 20 dan tidak pernah tergantikan hingga menjelang wafatnya. Robekan yang terjadi pada bagian dalam jaket itu pun hanya “diperbaikinya” dengan lakban. Ia merasa cukup dengan penampilannya.

Apakah Bill miskin? Tampaknya tidak, kendati ia hanya tinggal dalam sebuah kamar sederhana, dan sendirian.

Setelah membantu mengisi terbitan pertama majalah Details, Bill tidak pernah mau menerima apalagi menguangkan honornya. Cek tersebut disimpan kembali oleh pihak majalah, terus diperbarui, dan terus ditawarkan, tapi tak pernah digubris Bill. Sampai akhirnya majalah Details diakuisisi untuk lingkup bisnis yang lebih besar, jatah untuk Bill masih tersangkut di sana. Nominalnya yang tak kecil, membuat manajemen baru bahkan sampai harus memohon-mohon agar Bill mengambil jatahnya. Eh, Bill keburu berpulang. Ia merasa cukup dengan apa yang dimilikinya.

Terlepas dari dua hal di atas, seorang Bill Cunningham pasti tidak akan pernah merasa cukup terhadap karya-karyanya. Ia memotret, dan terus memotret. Kehidupannya dipenuhi dengan gambar dan tulisan. Sampai akhir hayatnya.

Snap!

Snap!

Coba terjemahkan kata settlement dan ungkapan sense of fulfillment.

Terus…

Kapan kita mau merasa cukup?

[]

The (Not So) Magnificent Seven

Baru beberapa hari lalu saya nonton The Magnificent Seven. Film bergenre western ini adalah remake dari film dengan berjudul yang sama yang dibut di tahun 1960. Kedua film ini terinsipirasi dari film Seven Samurai besutan Akira Kurosawa yang dibuat tahun 1954. Versi Yul Brynner yang dibuat tahun 1960 sudah menjadi film yang klasik dan ikonik. Kenapa demikian? Karena Marlboro sempat membuat iklan dari film tersebut. Iklan rokok yang kalau tidak salah dibuat ketika TV swasta mulai bermunculan di Indonesia pada awal tahun 1980an. Iklan rokok dengan para koboy yang sedang mengendarai kuda dengan balutan musik dari komposer Ermer Bernstein. Merokok Marlboro merah seakan keren pada saat itu. Bagaikan koboy yang membasmi kejahatan dan melindungi mereka kaum yang tertindas.

magnificent6Film Magnificent Seven tahun 1960 pun mendapat pujian dari Akira Kurosawa, sutradara legendaris dari Jepang yang banyak menginspirasi para sineas Hollywood pada tahun 60-70an. Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa George Lucas pun membuat Star Wars di tahun 1978 sangat terpengaruh oleh filmnya Akira Kurosawa yang berjudul The Hidden Fortress. Sebagai rasa hormat terhadap film The Magnificent (1960), beliau memberi sebuah katana kepada John Sturges, sutradara film tersebut. Karena beliau menganggap bahwa film tersebut memang mewakili film Seven Samurai versi Hollywood, khususnya film western. Atau film koboy.

magnificentDi tahun ini. The Magnificent Seven dibuat kembali. Entah apa pertimbangannya. Mungkin membangkitkan kembali agar film western bisa digemari. Setelah Django Unchained (yang tidak original juga) hasil karya Quentin yang tidak original juga lumayan mendapat apresiasi. Lalu dilanjutkan oleh Hateful Eight yang juga mendapatkan sambutan positif. Walaupun saya tetap tidak melihatnya sebagai film koboy. Tapi lebih ke film misteri yang settingnya western. Tapi apa persamaan dari kedua film tersebut? Tokoh kulit hitam menjadi tokoh utama. Di Django Unchained, Jamie Foxx menjadi sorotan. Lalu di Hateful Eight, Samuel L. Jackson yang menjadi tokoh utama. Antoine Fuqua, sutradara yang terkenal dengan film Training Day, Brooklyn’s Finest, The Equalizer, dan terakhir Southpaw berusaha mengangkat kisah jagoan yang berjumlah tujuh orang ini dengan tokoh utama Denzel Washington. Di sini saya mulai bingung. Padahal sudah pegangan. Apakah mungkin seorang koboy berkulit hitam? Jamie Foxx adalah mantan budak di Django Unchained. Samuel L. Jackson latar belakangnya jelas. Sementara di film ini, Denzel yang berperan sebagai dedengkot dari Magnificent Seven latar belakangnya tidak jelas. Saya tahu ini fiksi. Tapi tetap harus masuk akal. Adanya Byung-hun Lee (liat aksinya di film I Saw The Devil) sebagai koboy yang mahir bermain dengan pisau juga menjadi pertanyaan. Apakah mungkin seorang Korea menjadi koboy? Bahkan Denzel pun di salah satu adegan bahwa dia dari Shanghai. Walaupun itu guyonan atau koboy pada saat itu belum belajar geografi tapi terdengar rancu. Peran Ethan Hawke sebagai jago tembak lulusan Perang Sipil yang pensiun dini pun kurang digali lebih dalam oleh Fuqua. Padahal saya melihat dia berpotensi menjadi seperti Doc Holliday di film Tombstone yang juga bergenre koboy dengan tokoh Wyatt Earp yang dibintangi Kurt Russell. Yak. Saya yakin itu alasan Quentin Tarantino mengajak Kurt Russell bermain di Hateful Eight. Walaupun ini bukan pertama kalinya mereka bekerja sama.

magnificent3

Dari segi cerita pun film ini terasa tergesa-gesa untuk menceritakan ketujuh tokoh yang ada. Padahal dengan durasi film yang hampir dua jam setengah, film ini bisa fokus di beberapa tokoh sentral. Beberapa gaya teknik pengambilan kamera dengan extrem close-up yang mengadopsi Sergio Leone di film-film spagheti westernnya pun terlihat memusingkan. Komposisi musik yang dibuat oleh James Horner dan Simon Franglen pun tidak membantu. Yang menonjol di film ini justru Chris Pratt, yang berperan sebagai koboy paling nyantey. Mungkin belum saatnya film western merajai kembali bioskop. Toh True Grit yang banyak dibintangi bintang film ternama Hollywood tidak begitu berhasil. Begitu pula dengan The Assassination of Jesse James yang tidak begitu terdengar gaungnya. Kita harus sedikit sabar menunggu momen The Unforgiven datang. Sambil menunggu momen tersebut itu datang mari kita segarkan kembali ingatan kita ke iklan di mana TV-TV swasta masih memiliki acara yang berkualitas dan tidak ada belahan dada yang diburamkan KPI.

 

 

Papa

​”Papa tumben nggak ngabarin dulu?”
“Papa rindu cucu-cucu.”
“Udah tidur dong Pa, jam segini. Jam berapa tadi dari Bandung?”
“Papa mau liat cucu Papa.”

Aku antarkan Papa ke kamar Lina dan Via. Papa berjalan pelan. Melihat seisi ruangan dan mengecup kening cucu-cucunya satu-satu. Padahal baru minggu lalu kami ke Bandung merayakan ulang tahun Via.


“Lina nanti jadi orang sukses. Tapi kamu harus banyak maklum. Jangan dijadikan beban. Via, pemberani. Dia yang akan merawat keluarga kita nanti.”
“Apa sih Pa, maen ramal-ramalan. Teh panas Papa aku taro di kamar ya?”
“Papa mau makan. Kamu masak apa?”
“Aku masak sayur asem sama ayam goreng. Yaampun kebetulan banget deh Pa! Aku panasin dulu ya, udah masuk kulkas soalnya. Papa istirahat dulu deh, nanti aku panggil kalo udah siap.”

Entah wangsit apa aku bikin masakan kesukaan Papa hari ini. Lina dan Via harus tau resepnya. Biar mereka bisa masak untuk kakeknya.

“Halo Ma? Missedcall ya? Aku lagi manasin makan buat Papa tadi. Laper kayaknya. Kok tumben sih Mama nggak ikut?”
“Maya. Mobil kami kecelakaan menuju Jakarta tadi. Papa kamu meninggal di RS Padalarang…”

Cinta Iki Loh…

Ada saatnya di mana berlari terasa berat sekali. Entah karena kurang tidur, malas, terlalu lama absen, atau bosan… Seperti malam itu. Kaki terasa berat dan mendadak nafas tersengal-sengal. Dalam usaha menyelesaikan “lariin sebisanya aja” mendadak terbayangkan bagaimana kalau saat itu, saya kena serangan jantung dan inilah saat menjelang maut itu. Yang pertama ada di pikiran, saya sendiri tidak mempercayainya, adalah cinta. Cinta dalam artian hubungan antar manusia. Seketika pikiran saya terbang ke setahun lalu, waktu sedang berlari juga di GBK. Seorang teman yang ikut berlari namanya Iki, bercerita tentang CLBKnya. “Balik-baliknya sama dia lagi… yaudahlah ya, aku enjoy” katanya sebelum kami berpisah.

Pacar Iki berprofesi make-up artist yang sedang naik daun. Sementara Iki sendiri bekerja di bidang digital. Anak hipster #kekinian. Saya belum pernah berkenalan dengan pacarnya ini. Beberapa kali liat fotonya, mendengar ceritanya dari Iki dan beberapa teman yang pernah menggunakan jasanya untuk berdandan. Mereka berdua tinggal di rusun bersama seekor anjing kecil bernama Yukiko. Kalau ketemuan dengan Iki pun jarang membahas soal hubungan asmara mereka. Lebih sering berbincang politik warkop, film, fashion, mencari pokemon dan berbagai topik tak penting lainnya.

2016-09-24-11-14-35

Sebelum tidur, adalah waktu yang tepat untuk buka-buka Path dan media sosial lainnya. Malam itu adalah malam minggu. Ada yang lagi berkumpul bersama teman-temannya jomblonya. Kemungkinan besar sedang saling menguatkan dan mempertanyakan makna cinta. Ada yang lagi bersama pasangannya menikmati malam yang akan terasa singkat. Ada yang bersiap tidur karena esoknya mau berolahraga pagi. Ada yang sedang mengutuk laki-laki karena pernah dipatahkan hatinya penyebab trauma tak berkesudahan. Ada yang sedang sibuk whatsappan sama cinta yang lain saat sedang bersama keluarganya. Ada yang sibuk bermain dengan bintang peliharaan dan hobi lainnya. Dan ada pula yang tak ada ide menulis untuk linimasa.com.

“Mau cari pasangan yang seperti apa?” Pertanyaan membosankan yang sulit dijawab tapi menarik untuk diketahui jawabannya. Rasa-rasanya hampir semua orang yang saya kenal punya kriteria yang kurleb sama: setia, baik, mandiri, pintar, nyambung dan seagama… kemudian ada beberapa syarat tambahan seperti badannya bagus, rajin olahraga, suka seni, tertarik politik, seksnya cocok, punya mobil dan rumah sendiri atau seenggaknya sedang kredit kepemilikan. Dan daftar yang semakin panjang. Semakin pernah patah hati, semakin panjang syaratnya. Tentunya semua wajar dan sah-sah saja. Di tengah kehidupan yang terasa semakin keras ini, pilihannya punya pasangan yang membahagiakan atau lebih baik tidak usah sama sekali. Tanpa permisi dan banyak basi-basi, foto Iki ini muncul di Path2016-09-24-11-14-12Dengan keterangan, “begini ini kalo punya pacar make up artist, mesti siap jadi kelinci percobaan”.

“Woooi ngapain lo?” tanya saya di Whatsapp langsung. “Lagi seseruan aja cyin… gak punya duit gak tau mau ngapain yaudah dandan-dandanan” jawabnya. Seketika hati saya mekar dan timeline Path saya jadi ceria melihat foto yang kurang ajar ini. Kurang ajar? Iya jelas kurang ajar. Di saat yang lain sedang mempertanyakan cinta, dan syarat pasangan yang semakin panjang, mereka sedang menikmati cinta. Merayakan cinta dengan cara yang sederhana cenderung apa adanya. Cenderung seadanya. Setau saya, tidak ada yang tampan, berotot, atau sedang memiliki kredit kepemilikan rumah diantara mereka. Tidak ada yang lulusan universitas terbaik dunia. Belum pernah mendengar mereka berniat menonton broadway di New York atau nonton konser di Australia.

Belakangan mereka lagi sering berjalan-jalan keluar kota. Dari postingan di instagramnya, tak ada kemewahan berlebih di situ. Tak ada postingan serba diatur. Yang ada hanya kehangatan cinta memancar tanpa ampun. Setidaknya membuat yang melihatnya optimis bahwa cinta tak pernah meninggalkan bumi ini. Dia hanya sedang mencari-cari tempat ternyamannya. Agar dia bisa tinggal lebih lama. Mari kita jatuh cinta pertama, sekali lagi. Dan sekali lagi.

2016-09-24-11-14-28

Mungkin benar, mereka juga belum mampu secara finansial. “Kalo mampu mah mau aja, keleuuus” terbayang ucapan Iki. Sederhana di sini tentu relatif. Apalagi kalau disempitkan maknanya pada finansial. Mungkin lebih cocok kalau disebut gak muluk. Mencoba menikmati dan menemukan kebahagiaan dari yang ada. Bukankah cinta lebih mudah tertarik pada kebahagiaan? Kesederhanaan dan kebahagiaan, dua kata yang relatif. Masing-masing punya ukurannya sendiri-sendiri. Sayangnya, semua yang tadinya sederhana perlahan makin rumit atau dirumitkan.

Berlari misalnya. Disepakati umat manusia sedunia sebagai olahraga paling sederhana sedunia. Cuma perlu sepatu untuk berlari. Itu pun ada yang berpendapat lari bertelanjang kaki lebih baik. Namun kenyataannya tak sesederhana itu. Sepatu lari berkembang jadi beragam bentuk menyesuaian bentuk kaki dan corak. Pakaian berlari pun semakin hari semakin banyak pilihannya sesuai dengan perkembangan teknologi. Perkakas teknologi pun semakin beragam. Jam yang awalnya untuk penunjuk waktu, jadi penunjuk kecepatan, detak jantung, arah kompas dan terakhir konon bisa untuk foto selfie dan langsung upload ke media sosial. Ambisi pun tak lagi sederhana. Yang tadinya lari rekreasi, berkembang menjadi ambisi untuk menyerupai atlet. Dari berlari untuk kesehatan diri sendiri kemudian jadi ikut lomba lari skala lingkungan, kota, luar kota dan luar negeri. Dari berlari sendiri, menjadi berlari di kelab lari dengan program untuk meningkatkan ketepatan dan kecepatan berlari. Padahal… awalnya sederhana: berlari. Sepertinya inilah cinta. Sebenarnya mah sederhana…

Di cerita yang lain, seorang teman melangsungkan pernikahan dalam kondisi yang sangat amat sederhana. Sederhana dalam segala segi kehidupan. Dengan cepat pasangan ini pun menjadi idola kami yang saat itu sedang mencari cinta. Pesta pernikahan sederhana yang syahdu dan khidmat tak pernah terlupakan seumur hidup saya dan teman-teman. Salah satu contohnya, undangan pernikahan yang ditulis tangan satu persatu oleh mempelai perempuan. Baju pengantin yang menggunakan gordyn tua di rumah neneknya. Tukang riasnya adalah teman-temannya sendiri saling mendadani. Fotografer? Para tamu saja menggunakan pocket camera masing-masing.

Menginjak tahun ketiga, saat sudah memiliki seorang anak, kehidupan mereka jauh dari sederhana. Baik secara finansial dan dalam segala segi kehidupan. Kami teman-temannya senang melihat kebahagiaan mereka. Sampai suatu malam kami dikumpulkan oleh sang istri yang mengutarakan niatnya untuk bercerai. Berceritalah asal mula keretakan keluarganya. Yang secara singkat bisa dibilang karena tak lagi sederhana. Saat finansial membaik, keinginan pun semakin banyak. Semakin besar ambisi dan semakin beragam kebutuhan. Termasuk hasrat untuk memiliki yang tak sepantasnya dimiliki. Ini tak hanya oleh sang lelaki tapi juga sang perempuan.

Ada pula kejadian sebaliknya. Saat menikah tak ada sedikit pun kesederhanaan. Pesta paling mewah yang pernah saya hadiri. Keduanya berasal dari keluarga berada. Dan sebelum berpacaran pun semuanya melalu perhitungan dan pertimbangan yang matang. Keduanya adalah orang yang cakap dan pandai. Soal fisik tak perlu diragukan. Dalam perjalanan pernikahannya, kesederhanaan menerpa. Menerpa? Ya karena menjadi semacam badai bagi biduk yang selama ini berlayar di laut yang tenang. Keretakan rumah tangga pun tak terelakkan.

Sambil merenungkan ini semua tak terasa latihan lari saya sudah mendekati 3 km terakhir. Dan berhenti untuk minum. Karena ini perenungan yang mengasyikkan untuk saya, maka saya pun melanjutkan

Lihatlah tulisan ini, bahkan saya membahas cinta dengan cara yang tidak sederhana. Benarkah “ignorance is bliss?” Sepertinya Iki bukan orang yang ignorant. Tapi mungkin memilih untuk ignorant saja dalam urusan cinta. Yang penting sama-sama mempertahankan dan memperjuangkan kebahagiaan berdua. Dalam kondisi apa pun dan di mana pun. 

“Gak bisa sederhana lah urusan cinta maaah… Ini kan urusan pernikahan seumur hidup kalau bisa. Berkeluarga. Punya keturunan. Gila aja! Yang ada bukan sederhana malah ngegampangin!” Pertanyaannya, sejak kapan cinta lantas dihubungkan dengan pernikahan? Jangan-jangan pernikahan atau komitmen sudah menjadi beban tersendiri bagi cinta. Membuat cinta layu bahkan sebelum disemai. “Kayaknya gue cinta deh sama ni orang, tapi beda agama booo! Gak bisa buat kewongan buat apa?!” Padahal cinta tak pernah menuntut untuk menikah. Cinta tak pernah menuntut diprasastikan. Apalagi kalau cinta lantas dihubungan dengan seks… OK! sebaiknya tulisan ini dihentikan sebelum saya merancap lebih jauh :)))

Tulisan ini ditulis dengan seizin IG: @ikibaru yang deg-degan menanti tulisan ini :))) Terima kasih ya Iki dan Sas…

 

Mendengar Suara Warga 


Saya warga Jakarta sejak tahun 2004. 

Sejak 12 tahun lalu hingga sekarang, saya tergolong warga yang beruntung karena pernah merasakan naik ojek, kopaja, taxi,  bus kota baik yang ac maupun non-ac, commuter line, motor pribadi, mobil pribadi, mobil pakai sopir, gojek, grab, uber, hingga sekarang menggunakan sepeda untuk bekerja. 

Jadi tulisan ini bukan bicara jakartanisasi linimasa, tapi sekadar bercerita kota tempat saya tinggal terakhir lebih dari satu dekade.

Saya tak perlu bingung memilih siapa calon gubernur saya. Saya lebih berharap mengetahui seberapa jauh calon pemimpin saya memahami warganya. 

Saya tidak perlu memilih mana yang terbaik, akan tetapi pilihlah kami dan dengarkan suara kami. 

Bapak-bapak para Pemimpin, eh ralat, Pemimpi(n) yang ingin jadi pemimpin, dan sudah mau mendaftarkan diri, maka dengarkanlah baik-baik suara warga yang akan Bapak-bapak pimpin.

Warga Jakarta adalah kami. Apa yang ada di benak Bapak-bapak sekalian? 

Siapa sih warga Jakarta itu? 

  • Apakah para pekerja kantoran dengan gelar pendidikan sarjana? 
  • Atau mereka yang berjualan di pinggiran jalan Thamrin saat CFD berlangsung setiap minggunya? 
  • Atau para creme de la creme yang bolak-balik Jakarta, Kediri, Jakarta, Kudus, Singapura, Wina, Jakarta, Melbourne, saat liburan tiba dan menengok toko cukup lewat anak menantu?

Warga Jakarta adalah itu semua. Apa resep jitu Bapak-bapak untuk membawa kami menjadi lebih baik.

Apakah kami ingin MRT? bukan! Kami ingin hilir mudik kemanapun tanpa macet. Jika bagi para ahli MRT adalah resep jitu mengatasi kemacetan, saya akan ikut memeriahkan dan mendukung.

Baiklah, mari kita tengok demografi Jakarta. Berdasarkan angka BPS DKI, per 2015 Jakarta terdiri dari 10,2 juta jiwa. Adapun angkatan kerja sebanyak 5,2 juta jiwa. Jika ditambah usia pensiun, katakan saja 300 ribu jiwa maka 5,5 juta calon pemilih gubernur nanti. 


(selengkapnya bisa baca disini)

Apakah pembangunan yang akan ditawarkan para pemimpi(n) ini? Demi janji-janji semasa kampanye, maka akan banyak sekali program kerja pembangunan sarana dan prasarana fisik. Tujuannya satu: proyek dapat dibagi-bagi. 

Tapi apakah cukup soal ini saja? Selama pembangunan ini berkaitan dengan kelancaran transportasi, memperbanyak sarana publik, dan fasilitas pendidikan, kesehatan dan sosial budaya, saya juga akan mendukung dan merayakannya.

Bagaimana dengan pembangunan sosial?

Sebaiknya jangan lupa, walau berserikat dan berkumpul dijamin undang-undang, apakah pengrebekan atas nama adanya diskusi “sesat” masih dibiarkan? Apakah pihak minoritas, seperti LGBT masih teracam untuk mengekspresikan diri mereka? Apakah diskusi dalam forum akademik berkaitan dengan agama, apapun itu, masih rentan dibubarkan paksa? 

FP*, FB*, dan Fckin’ Fckin’ lainnya apakah tetap dapat bertingkah dengan melanggar koridor hukum? Jika Iya, kami akan urungkan niat untuk mendukung Bapak-bapak.

Dengan anggaran Rp60 trilyun setahun, Pak Anies atau Pak Ahok, apa yang bisa diberikan kalian kepada kami? 

Kita bagi tugas saja. Kami akan belajar lebih tertib dalam berlalu lintas. Kami akan sering saling mengingatkan untuk menjaga kebersihan. Kami nuga ndak akan pamer dengan banyaknya mobil di rumah dengan keliling jakarta setiap saat. Kami akan lebih sering naik kendaraan umum. Tapi, coba tertibkan armada bus yang asapnya mengerikan itu. Juga tindak tegas kopaja yang mengoper penumpang seenak tititnya. 

Gubernur yang baik, adalah yang menjadi mitra warga. Ndak perlu sok tegas dan arogan. Atau sok bijak dengan segala petuah bagaimana memperlakukan anak di sekolah dan di rumah. 

Kami butuh pemimpin yang hangat. Pemimpin yang mengayomi tapi siap diturunkan jika memang tak becus mengurus kami. 

Silakan Bapak-bapak mendengarkan kami. Banyak mendengar. Banyak mendengar dan banyak mendengar. 

salam anget,

RoySayur

*Om, kok Agus gak disapa?

Lihatnya aja udah eneg, ngapain dibahas. 💅🏻

Tes, Tes, 1…2…3…

Sejak dulu memang suka sekali dengan segala macam tes kepribadian, entah kenapa. Dan sepertinya saya tidak unik. Mungkin karena kita paling bisa kalau diminta (maupun tidak diminta) membaca orang lain, tetapi seolah buta jika membaca diri sendiri. So any insights are welcomed.

Dari mulai membaca karakter berdasarkan horoskop, lalu karakter berdasarkan shio, karakter berdasarkan horoskop digabungkan dengan shio, numerologi, dan kombinasi lainnya. Sempat membaca sampai selesai Personality Plus, lalu setelah mengikuti tesnya, kok saya termasuk ke dua tipe yang berseberangan, hampir sama persentasenya; choleric dan phlegmatic. Teorinya adalah jika ini terjadi, terjadi represi di masa kecil sehingga salah satu temperamen yang tadinya dominan kemudian teredam. Kok saya agak kurang terima.

tywin-explain-to-me-why-it-is-more-noble

Lalu secara tidak sengaja menemukan Meyers-Briggs type indicator yang berdasarkan teori Jung, menghasilkan 16 kepribadian yang sangat spesifik tergantung dari apakah kita ekstrover/ introver, merasa/ menggunakan intuisi, pemikir/ perasa, dan menghakimi/ mengamati. Mungkin terjemahan saya kurang tepat, tapi kurang lebih seperti itu. Dari semua kombinasi tipe itu, beberapa tes pertama saya mendapatkan hasil INTP.

Kemudian masukan dari teman saya yang lulusan psikologi mengatakan kalau Meyers-Briggs itu kurang tepat, dan sekarang lebih sering digunakan adalah The Big Five Personality  yang menentukan karakter kita dari lima poin: openness, conscientiousness, agreeableness, extraversion, and neuroticism. Ternyata saya lumayan terbuka akan ide baru dan abstrak, tinggi dalam conscientiousness yang berarti saya bertanggung jawab dan bisa diandalkan (kecuali dalam hal post linimasa tepat waktu, sepertinya hahaha), lumayan agreeable; yang berarti saya cukup bisa berempati dengan orang lain, tetapi tidak terlalu, rendah dalam extraversion, tentu saya memang introver dan rendah dalam neuroticism, yang berarti saya santai, optimis dan tidak kaku (sepertinya akan ada yang protes sedikit akan hasil yang satu ini).

328000919

Tetapi kok rasanya The Big Five itu kurang fun ya, ketika menerjemahkan dalam ke kehidupan, ya begitu saja. Sementara Meyers-Briggs yang kini tesnya lebih populer dilakukan melalui situs 16 Personalities tampak lebih menyenangkan. Dari hasil tes bisa dijabarkan panjang, bagaimana implikasi ke karier, kehidupan bercinta, keluarga, sebagai orang tua, teman maupun suami atau istri. Bahkan kita juga bisa melihat siapa saja tokoh terkenal yang memiliki kepribadian tipe sama dengan kita; yang hidup maupun karakter fiksi. Ketika saya mencoba tes ini lagi ternyata hasilnya berkali-kali INTJ, berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. The Architect judulnya. Keren ya. Lalu melihat tokoh fiksi yang sama INTJ; Tywin Lannister, Walter White, Petyr Baelish, Gandalf the Grey (tambah girang dong).

petyr-chaos-fb

Kok bisa kepribadian berubah? Ternyata bisa. Sejalan dengan usia dan pengalaman yang membentuk, tentu seperti laiknya play-doh yang ditetesi air kecil dalam waktu lama, kita berubah sedikit. Dalam kasus saya, dari pengamat, saya jadi lebih menghakimi. Tetapi saya menghibur diri dengan; paling tidak karena saya introver, pikiran menghakimi saya itu tidak saya umbar ke mana-mana. Mungkin saya bagi ke satu atau sedikit teman dekat yang saya percaya saja. Tidak saya gunakan untuk menciptakan kontroversi di linimasa medsos, menggalang pendukung, membuat pro-kontra atau menyerang orang baramai-ramai. Terkadang akhirnya yang penting hanya itu; berapa kali dalam seumur hidup kita, orang lain mendengar kata-kata kita, atau membaca tulisan kita dan berkomentar ke angin (keras atau dalam hati), “Berisik lu.”

Yang Pergi Dan Akan Tetap Abadi

Tahun 2016 masih tersisa 3 bulan lebih 8 hari lagi.
Tapi bisa dibilang, ini tahun yang mencengangkan untuk kepergian para pesohor, seniman, artis dan figur publik populer.
Dari awal tahun, kita banyak mendengar kabar orang-orang ternama berpulang. Volume berita ini cukup sering terdengar. Apalagi di paruh pertama tahun ini.

Ketika saya melempar pendapat ini di grup chatting kami, Gandrasta berkomentar, “Bukankah itu wajar ya, memang setiap tahun banyak orang tenar meninggal?” Memang benar, dan saya setuju. Hanya saja, menurut saya, tahun ini terasa lebih mengharukan rasanya, karena yang berpulang adalah para seniman atau artis yang sangat kaliber di bidangnya. Kaliber pula popularitasnya. After all, this is the year that The Greatest himself has left the building.

Tapi rasa mengharukan itu bisa jadi karena kita yang meratapi kepergian sebenarnya merasa dekat dengan karya mereka. Kita mungkin tidak mengenal mereka secara pribadi. Yang kita kenal dari mereka adalah sebagai ahli di bidang yang mereka tekuni selama bertahun-tahun, berdekade-dekade, sehingga membuat kepergian mereka terasa menyesakkan.

Namun rasa sesak itu biasanya tak lama menghinggap di dada. Ia akan terganti dengan senyuman lega, saat kita sadar bahwa mereka yang telah pergi telah meninggalkan banyak karya yang bisa kita terus dengar, putar, mainkan dan lihat setiap saat kita merindukan mereka. They’re not really gone. Imaji kita terhadap mereka akan terus ada, dalam bentuk terbaik yang pernah kita rasakan.

Selama dua bulan terakhir, ada tiga tokoh yang kepergiannya sempat membuat saya tercenung.

Selayaknya orang-orang lain yang menghabiskan masa pra-remaja di awal 1990-an, saya akrab dengan lagu-lagu dari album soundtrack film Pretty Woman. Meskipun saat itu belum boleh menonton filmnya karena batasan umur, tapi lagu-lagu seperti “It Must Have Been Love” atau “Fallen” sangat akrab di telinga. Sampai akhirnya beberapa tahun kemudian bisa menonton filmnya secara sah, age-wise, barulah saya merasakan the magic of the film.

Pretty Woman

Pretty Woman

Lalu saya tahu nama sutradara itu. Garry Marshall. Saat VCD mulai marak di pasaran, saya mencari film-film karya beliau. Frankie and Johnny. Beaches. Overboard. Semuanya film-film mainstream yang menyenangkan untuk ditonton. Tak segan-segan membuat kita tersenyum atau menangis, atau keduanya. Demikian pula dengan Runaway Bride, The Princess Diaries, atau film-film “hari liburan” yang menjadi trademark beliau di akhir karirnya, seperti Valentine’s Day, New Year’s Eve, dan Mother’s Day.

Valentine's Day

Valentine’s Day

Film-film arthouse? Bukan. Film-film berkualitas mumpuni? Tidak juga. Film-film yang akan ditonton berulang kali? Sangat mungkin. Film-film yang sudah menjadi “comfort food”, sehingga kadang kita tidak hiraukan lagi siapa pembuatnya. Namun saat kita tersadar akan karya-karya yang dihasilkan, barulah kita terkesiap.

Garry Marshall berpulang pada akhir bulan Juli lalu.
Tak lama berselang, seorang aktor komedi mengikuti jejaknya.

Namanya Gene Wilder.

Saya mengenalnya pertama kali di akhir tahun 1980-an, ketika di suatu hari Minggu, saya pergi diajak menonton film di bioskop. Saat itu, saya belum terlalu tahu banyak tentang film. Jadi saya menurut saja saat diajak menonton film berjudul See No Evil, Hear No Evil. Film yang sangat kocak, tentang dua orang, satu tuli dan satu lag buta, yang harus lari dari kejaran penjahat.
Saking lucunya film ini, saya terus ingat dengan karakter penjaga kios koran yang tuna rungu. Itulah pertama kalinya saya mengenal Gene Wilder.

See No Evil, Hear No Evil

See No Evil, Hear No Evil

Pertemuan berikutnya pun berlangsung cukup sering. Saat saya punya akses untuk meminjam film-film lama, maka di sela-sela menonton film serius, saya memilih untuk tertawa bersama Gene Wilder di film-film lamanya: The Producers. The Woman in Red. Stir Crazy.

Tapi tawaan paling kencang yang saya rasakan adalah saat menonton dua film yang dibintangi Gene Wilder dan disutradarai Mel Brooks, yaitu Blazing Saddles dan Young Frankenstein.

Young Frankenstein

Young Frankenstein

Mungkin dua film “gila” ini bisa dibilang dua dari sedikit sekali film paling lucu sepanjang masa, yang masih lucu ditonton sampai sekarang. Terlebih lagi di film Young Frankenstein, di mana Gene berperan sebagai Dr. Frankenstein, ekspresi serius dan nakalnya membuat cerita yang dia tulis sendiri ini semakin lucu. Sebuah film yang menyenangkan untuk ditonton berulang kali, karena membuat tertawa. Dan ternyata, saya masih tertawa kencang sekarang, saat menonton filmnya lagi ketika mendengar kabar beliau berpulang bulan lalu, sama seperti tertawa kencang belasan tahun lalu ketika menemukan film ini pertama kali.

Yang belum sempat saya lakukan untuk menonton film-filmnya lagi adalah film-film karya Curtis Hanson. Dia adalah sutradara dan penulis skenario ternama di Hollywood, yang baru saja meninggal dunia minggu ini, beberapa hari lalu.

Berbeda dengan sutradara lain, Curtis Hanson membuat saya tertarik untuk tahu lebih banyak tentang film. Tentu saja pemicunya adalah karya terbaik beliau, salah satu film terbaik sepanjang masa bernama L.A. Confidential.

L.A. Confidential

L.A. Confidential

Menonton film ini pertama kali membuat saya terhenyak. Begitu rapi, begitu cermat, dan begitu menarik untuk diikuti. Pertama-tama sedikit bingung untuk diikuti. Namun saat cerita mulai bergulir dan satu per satu motif setiap karakter terbuka, saya bengong. Bagaimana mungkin ada film sedetil ini? Saat itulah saya tertarik untuk tahu lebih banyak tentang film-film serupa, yaitu genre film noir. Dan bisa dibilang, L.A. Confidential lah salah satu film yang memulai lifetime obsession saya terhadap diskursi film.

L.A. Confidential

L.A. Confidential

Melihat ke belakang, saya semakin kaget saat tahu bahwa Curtis Hanson juga menyutradarai film-film yang saya tonton dan sangat enjoy saat menontonnya: The Hand that Rocks the Cradle. The River Wild. Bagaimana mungkin dua film thriller ini bisa hadir dari tangan yang sama?
Jawabannya mungkin ada dari kepercayaan beliau terhadap film yang dikerjakan. Curtis Hanson seems to fully put his faith on each of his project.

Dari tangan yang sama, hadir film 8 Mile, film hip-hop yang kualitasnya tidak pernah bisa ditandingi sejauh ini dari pemusik lain yang ingin membuat film serupa. Lalu film In Her Shoes masih menjadi salah satu film bertema sisterhood yang paling baik. Dan salah satu film favorit saya, Wonder Boys, adalah film tentang coming-of-age dari seorang pria paruh baya yang membuat hati hangat saat menontonnya.

Semoga kehangatan ini masih terasa saat menonton lagi puluhan karya yang mereka tinggalkan.

Thank you for a lifetime of entertainment, gentlemen.

So long.

Antara Biksu, Bhikkhu, dan yang Palsu

BIKSU. Kata ini tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), menjadi sebutan baku dan populer untuk para pendeta atau petapa (Buddha) pria yang memiliki sejumlah ciri khas. Karena itu, cenderung sangat mudah untuk mengira seseorang yang berkepala plontos, dan mengenakan pakaian berkibar seperti jubah berwarna abu-abu/kuning/cokelat/merah maroon sebagai biksu. Padahal, belum tentu.

Sampai saat ini, Buddhisme terbagi dalam tiga mazhab utama. Dengan perspektif ortodoksi, urutannya adalah Theravada, Mahayana, dan Tantrayana dengan area persebaran berbeda. Theravada lebih banyak ditemui di negara-negara Indochina, dan Sri Lanka; Mahayana mendominasi Asia Timur; sedangkan Tantrayana berpusat di Tibet.

Diserap dari bahasa Sanskerta (bhikṣu), sebutan biksu lebih banyak digunakan dalam lingkungan Mahayana. Sementara penganut Theravada menggunakan sebutan Bhikkhu dari bahasa Pali, bahasa tutur yang digunakan Buddha saat berkomunikasi dengan umat, murid, dan orang awam dari berbagai macam golongan. Sederhananya, apabila Sanskerta adalah bahasa khusus kasta-kasta tinggi, maka Pali digunakan oleh rakyat jelata dan kaum paria yang berada di luar kasta. Tidak punya bentuk tulisannya sendiri.

Bhikkhu dan biksu pada dasarnya sama-sama menjalani kehidupan petapa, bukan profesi atau sekadar gelar. Lelaku. Ada seperangkat aturan kedisiplinan dan kepatutan yang tidak boleh dilanggar sepanjang hidupnya, dengan sanksi paling berat berupa pelepasan jubah dan dikembalikan menjadi umat perumah tangga.

Setiap mazhab memiliki standar etikanya masing-masing. Bhikkhu Theravada tunduk pada 227 aturan baku, tetapi berbeda dengan biksu Mahayana. Jumlah aturan yang dijalankan di Mahayana Tiongkok berbeda dengan di Jepang dan Korea, begitu pula dengan di Tibet. Terlepas dari itu, tetap ada sejumlah perbedaan mencolok antara aturan yang berlaku dalam tradisi Theravada dan Mahayana.

Perihal diet dan makanan, Bhikkhu Theravada masih diperkenankan menyantap daging (selama memenuhi kondisi-kondisi tertentu), namun harus menjalankan puasa makanan sejak tengah hari sampai fajar. Namun biksu Mahayana harus menjadi vegetarian, dengan frekuensi yang lebih banyak. Biksu Mahayana juga ada yang boleh bercocok tanam, terutama untuk memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.

Bhikkhu dan biksu sejatinya adalah orang-orang miskin, tidak memiliki harta atau kekayaan materi, dan lazimnya hidup dengan sokongan dari para umat perumah tangga. Termasuk saat bepergian, atau memenuhi undangan. Selalu didampingi umat biasa. Menerima pemberian untuk memenuhi kebutuhan pokok, tapi tidak boleh meminta apalagi meminta-minta. Kondisi yang seperti ini pernah menyebabkan para Bhikkhu di India terdesak pada beberapa abad lalu. Banyak di antaranya terpaksa kembali menjadi umat biasa, ada pula yang eksodus ke Sri Lanka.

Jangankan memiliki harta atau kekayaan materi, para Bhikkhu bahkan tidak diperkenankan menyimpan atau memegang uang, emas, logam-logam mulia, permata, dan sejenisnya. Dari ketentuan ini saja, bisa tampak jelas mana yang merupakan Bhikkhu sungguhan, dan yang gadungan. Terlebih di Indonesia, hanya ada sedikit Bhikkhu dan biksu. Jauh berbeda dengan, katakan saja, Thailand. Ketika kita bisa melihat beragam kelakuan aneh orang-orang yang berjubah Bhikkhu di sana. Termasuk yang menggunakan penampilannya sebagai kamuflase atas tindakan kejahatan.

img_1466

Memasang iklan di Facebook, “Bhikkhu” ini menampilkan foto-foto ritualnya memberkati mobil baru. Lah! Ngawur!

Sayangnya, jangankan orang-orang yang non-Buddhis, banyak juga umat Buddhis awam yang masih terlampau asing dengan figur para pemimpin agamanya sendiri. Sehingga gampang ditipu Bhikkhu atau biksu abal-abal, terutama dari Tiongkok. Biasanya sih, para biksu palsu tersebut datang dengan membawa gelang atau aksesori sejenis, menawarkannya dengan bahasa Tionghoa yang agak kurang jelas, kadang-kadang malah cuma bicara “Amituofo… Amituofo…” Di Samarinda, saya bahkan pernah ketemu biksu palsu yang ngomong “Gongxi facai! Gongxi facai” Lah, dia pikir lagi Imlekan apa ya?! Begitu saya jawab pakai bahasa Tionghoa, dia terkejut. Tampang saya mungkin enggak ada Cina-cinanya sama sekali. HAHAHA!

Di Indonesia, cukup imigrasi saja yang bertindak. Kebetulan para biksu palsu tersebut adalah warga negara asing. Tidak perlu seperti di Malaysia, yang sudah memiliki Sangha Sanctity Protection Centre (SSPC), semacam Satgas untuk menyisir dan menindak biksu gadungan.

Foto: Liputan6.com

Foto: Liputan6.com

Buddhis Indonesia pasti gedeg juga sih dengan keberadaan biksu-biksu palsu, maupun mereka yang memanfaatkan ketidaktahuan umat awam untuk mencari keuntungan. Tapi bagaimanapun juga, penting untuk selalu kritis dan berusaha terus mengenali.

[]

Guru Agama Bernama Abid Ghoffar bin Aboe Dja’far

JIKA harus membuat daftar nama-nama guru agama maka saya harus memasukkan namanya: Abid Ghoffar bin Aboe Dja’far.  Pasti tidak di urutan pertama, tapi harus ada dalam urutan sepuluh teratas.

Dia tidak mengajar seperti guru agama di sekolah arab – madrasah ibtidaiyah –  di kampung saya dulu, di mana saya belajar tarikh, fiqih, tauhid, tajwid, hadist, dan khat alias menulis indah. Dia bukan pengkhutbah seperti paman saya yang di sela-sela waktu sibuknya suka melayani pertanyaan saya soal agama. Bukan. Di bukan guru seperti itu.

Dia jauh. Tak terjangkau. Tapi dia dekat merasuk ke dalam alam pikir saya.

Dia mula-mula memikat saya karena kemerduan suaranya. Ia seorang penyanyi. Penyanyi pop yang berbeda. Ketika penyanyi-penyanyi seperti Iis Sugianto, Nia Daniati, dan sederetan nama lain – yang lagu dan musiknya bisa saling dipertukarkan – menguasai ruang dengar masa kecil saya dulu dia menyeruak dengan jenis musik yang berbeda. Waktu itu saya tak tahu apa bedanya. Tapi saya menyukainya, membuat saya mendengarkan berulang-ulang. Lirik-liriknya tak melulu soal cinta, benci, rindu, dan atau patah hati yang dangkal, meskipun dia juga menyenandungkan lagu asmara.

Selain lagu cinta dia juga menggubah lagu-lagu religius yang dari situ saya belajar banyak soal religiositas dan kemudian dari situ saya tanpa sadar memperkaya dan membangun pondasi keberagamaan saya.

Tentu saja saya waktu itu mendengarkan lagu-lagu anak-anak yang riang dari penyanyi cilik kala itu: Chicha dan Adi. Juga Ira Maya Sopha dan Debby Rhoma Irama.  Dan menghafalkannya untuk menyanyi di depan kelas pada pelajaran kesenian.

Penyanyi itu datang lewat kaset yang dibawa kakak sepupu saya. Dia sekolah pertanian di ibukota provinsi. Tiap kali pulang liburan dia selalu membawa kaset baru salah satunya adalah penyanyi ini. Hanya ada satu satu pemutar tape di rumah kakek. Di situlah kami mendengarkan lagu-lagu penyanyi balada itu.

Ini salah satu lirik lagunya yang memukau saya sejak 1979 – tahun ketika album pertamanya keluar dan terjual dua juta keping –  itu:

Pernah kucoba untuk melupakan Kamu
Dalam setiap renunganku
Melupakan semua yang Kau goreskan
pada telapak tanganku
Dan juga kucoba untuk meyakinkan fikiranku
Bahwa sebenarnya engkau tak pernah ada
Bahwa bumi dan isinya ini tercipta kerana
memang harus tercipta

Bahwa Adam dan Hawa tiba-tiba saja turun
Tanpa karena makan buah khuldi dahulu
dan aku lahir juga bukan kerana campur tanganMu
Hanya kerana ibu memang seharusnya melahirkanku

Tetapi yang kurasakan kemudian
Hidup seperti tak berarti lagi
dan ternyata bahwa hanya kasih sayangMu
yang mampu membimbing tanganku
Oh oh yang mampu membimbing tanganku

Tuhan maafkanlah atas kelancanganku
mencoba meninggalkan Kamu
sekarang datanglah Engkau bersama angin
agar setiap waktu aku bisa menikmati kasihMu.

Jika mengenang masa-masa itu – masa ketika saya yang baru bisa membaca, dan sudah mendengarkan lagu ini sambil membaca lirik lagunya – saya seringkali takjub sendiri. Kok saya suka ya? Kok saya terpukau ya? Saya tak pernah bosan. Tak pernah sengaja menghafalkan tapi sejak saat itu saya tak pernah lupa, meskipun sampai beberapa tahun kemudian saya tetap tak mengerti.

Saya tak pernah ingin bertanya apa artiya lirik lagu itu pada guru-guru agama saya yang lain. Apakah boleh orang melupakan Tuhan? Kok berani sekali dia? Apa boleh orang mengingkari kekuasaan Tuhan atas dirinya? Apa boleh orang meniadakan Tuhan atas hidupnya? Meskipun dia kemudian menyadari bahwa dia salah dan kembali kepada Tuhan.

Lagu itu – seperti saya sebutkan di atas – membangun kesadaran pada saya bahwa beragama atau dalam hubungan kita dengan Tuhan kita boleh kritis kok. Kita boleh mempertanyakan hal-ihwal iman itu. Jika niat kita bertanya itu benar, maka kita akan sampai pada jawaban yang benar. Dan itu – dalam kesadaran saya kemudian – lebih baik daripada tunduk saja tanpa pernah mempertanyakan apa-apa.

Baiklah, saya sebutkan saja, penyanyi itu namanya Ebiet G. Ade. Nama yang saya sebutkan pada judul tulisan ini adalah nama aslinya. Bahkan cara dia mengutak-atik namanya pun sejak itu seperti menjadi tren yang banyak ditiru biduan lain.

ebiet

Saya tak pernah menyebut lagu-lagu Ebiet yang sejenis itu sebagai lagu religius. Ia dulu tak pernah secara sengaja mengeluarkan album religi menjelang bulan puasa seperti banyak dilakukan penyanyi-penyanyi sekarang. Ia dengan enak menyusun trek lagu di album-albumnya dengan lirik-lirik bertema kaya: balada cinta, religiositas, atau hubungan manusia dan alam.

Pada suatu ketika di acara Mimbar Agama di TVRI – stasiun ini menggilir acara mimbar agama-agama – lagu ini dinyanyikan oleh satu vokal grup (aha, ini istilah yang bisa jadi kata kunci menebak saya dari generasi apa). Eh, di ketika lain di stasiun satu-satunya itu lagu ini dinyanyikan lagi di mimbar agama lain.  Lho, saya pikir, apakah Ebiet rela lagunya dinyanyikan oleh umat dari agama yang tak sama dengannya? Saya tak tahu apa jawaban Ebiet, tapi sepertinya ia tak pernah keberatan.

Pelajaran apa yang bertahun-tahun kemudian saya catat adalah betapa universalnya dasar-dasar keberagamaan dan keberimanan itu.  Tapi baiklah, sebelum kawan-kawan saya makin yakin memberi saya cap sekuler bin liberal, saya sebaiknya tak usah memperpanjang contoh bagaimana lagu-lagu religius Ebiet membantu saya menjadi perindu keberagamaan yang damai dan teduh. Apa yang akhir-akhirnya rasanya akan semakin keras usaha untuk mewujudkannya.

Oh, ya, lirik lagu yang saya kutip utuh di tulisan ini judulnya Hidup I (Pernah Kucoba untuk Melupakan Kamu). Dan satu lagi, Ebiet juga yang membuat saya ingin bisa main gitar tapi sampai hari ini keinginan itu tak pernah bisa saya capai. Dia memang bukan guru musik saya.

Pesan dari @perempuansore

img_7557

Apakah kamu pernah ingin bunuh diri? Setidaknya sesekali keinginan itu hinggap di kepalamu bukan? Sangkaku setelah itu kamu makin merasa buruk: menyesal, merasa berdosa, tidak berguna, berasa aneh, dan ingin bunuh diri lagi. Haha, bisa kok. Kalau rencana bunuh dirimu yang pertama gagal atau keburu ketahuan orang. Ih menyebalkan ya? Orang mau bunuh diri kok dipakai becandaan.

Kuberitahu kau sesuatu. Menurutku, nyaris setiap orang hidup itu pernah ingin bunuh diri. Mengapa? Berikut ini beberapa alasan yang kuketahui mulai dari yang lebay sampai yang pelik. Tapi ingat ya, jangan pernah bilang pada orang yang ingin bunuh diri kalau alasan mereka lebay. Nanti mereka jadi ingin bunuh diri (hehe damai damai)….

Aku pernah mengenal seseorang yang ingin bunuh diri karena cintanya ditolak. Dan kau tahu, menurutku film-film drama India yang diputar salah satu stasiun televisi itu justru memberi contoh. Bagaimana seorang mantan pecandu narkoba yang sudah dinyatakan sembuh, bisa langsung kambuh karena cintanya ditolak calon mertua. Dia juga bisa langsung sehat kalau gadis pujaannya datang dan menyuapinya obat. What the, banget kan?

Ok, kita lanjutkan. Kasus percobaan bunuh diri berikutnya dipicu karena isteri kabur dengan pria idaman lain dan meninggalkan empat anak yang semuanya masih balita. Kita tak tahu apakah keinginan bunuh dirinya itu akibat pengkhianatan yang tak tertanggungkan perihnya. Atau karena kebingungan bagaimana nanti mengurus empat anak balita itu. Kita tak tahu, apakah seseorang mencintai orang lain karena memang mencintai pasangannya atau karena kita sesungguhnya mencintai diri kita sendiri?

Kasus ketiga yang kutahu yaitu percobaan bunuh diri seorang isteri yang selama ini merasa hidupnya sangat beruntung: bersuami tampan (mantan model majalah ibukota) dan mapan (direktur utama di perusahaan ayahanda). Tiba-tiba tanpa sebab musabab suaminya pergi dan memilih pria lain yang disebutnya sebagai cinta sejati. Perasaan beruntung yang selama ini memenuhi rongga dada mengempis dan berubah menjadi rasa pedih tiada tara. Ternyata semua yang dia rasakan selama ini palsu belaka, fatamorgana.

Tunggu, masih ada beberapa kasus lain yang tak kalah dramatik. Seorang teman lama curhat panjang via whatsapp ingin bunuh diri karena tak kunjung dapat promosi. Sementara rekannya yang baru bekerja, sudah menduduki level manajerial meski hasil kerjanya tak ada yang beres. Ia bilang ingin bunuh diri karena merasa hidup tak adil kepadanya. Bagiku, keinginan bunuh dirinya itu lebih karena ia bingung memutuskan sebaiknya ia akan menjadi bagaimana. Sebab ukuran segala sesuatu selalu materi, yang tampak. Jadi orang baik, idealis, pekerja keras ternyata justru sulit jadi kaya dan naik pangkat. Tapi berubah menjadi jahat, bermalas-malasan, sungguh beban yang sulit dipikul orang-orang yang memang sejatinya baik. Bingung kan?

Nah, dari semua kasus-kasus percobaan bunuh diri itu sebagian besar disebabkan oleh alasan ekonomi. Dijerat utang kartu kredit misalnya. Atau ditipu rekan bisnis yang bermulut manis tapi berhati bengis. Atau ditinggal mati suami yang ternyata meninggalkan warisan berupa utang ratusan milyar plus istri simpanan beranak tiga.

Jangan! Jangan bunuh diri dulu. Itu semua yang kutulis cuma contoh. Supaya kau tahu bahwa di dunia ini yang punya masalah dan ingin bunuh diri bukan cuma kamu. Bahwa di luar sana keinginanmu jadi keinginan orang lain juga. Atau kata filsuf, bunuh diri itu hasrat manusiawi. Menurut data yang kutelusuri di internet, versi WHO setiap detik sekitar 40 orang melakukan bunuh diri di seluruh dunia. Tekanan karir dan pendidikan adalah alasan terbesar di negara industri. Adapun di negara berkembang, kemiskinanlah faktor utama.

So what?

Begini, aku tidak berani menasihatimu. Aku kan bukan ayah ibumu. Juga tak mau mengguruimu dengan dalil-dalil agama bahwa “bunuh diri itu dosa, besar pula”. Tidak. Itu biar jadi wilayah ustazah atau ustad saja. Tapi, kalau yang pernah kurasakan keinginan bunuh diri itu muncul karena dunia yang kita huni terasa tak nyaman lagi untuk hidup apalagi bertumbuh. Lalu bunuh diri menjadi semacam katastropi[1] menuju dunia lain yang (dibayangkan) lebih indah. Dunia di mana setiap orang dianggap penting. Dunia di mana teks-teks GBHN[2] diterapkan dan bukan paraphernalia[3] belaka. Kalian yang generasi net tentu tak tahu lagi apa itu GBHN. Lekas-lekaslah kau cari di internet. Itu peninggalan sejarah paling patriotis dari abad orde baru.

Dunia lain itu sungguh ada pren. Hampir sebagian besar orang yang ingin bunuh diri kini sudah ke sana. Sebagian kecil masih ada yang hanya sebentar di sana. Sebagian lagi sudah berdiam di sana dan hanya sebentar-sebentar saja di dunia kita. Iya, sungguh. Termasuk mereka yang mengakunya tidak pernah punya niat bunuh diri (ingat, pengakuan itu belum tentu benar). Tinggal mereka yang jauh dari peradaban saja yang tidak mampu pergi ke sana walaupun mungkin sebenarnya mereka ingin juga.

Apakah ceritaku mulai meyakinkan? Kalau belum lanjutkan dulu membacanya baru nanti kau putuskan, oke?

Nah, dunia lain itu banyak sekali pintunya. Ada yang semacam reinkarnasi. Kamu hanya perlu duduk manis, mengetuk pintu dan menyebut identitasmu maka voila… kamu yang selama ini putus asa mencoba segala macam diet sekadar supaya bisa memakai baju pestamu dua tahun lalu tiba-tiba menjelma menjadi kamu yang baru, the new one: kasual tapi modis, langsing dan elegan, atau kurus laksana model rahasia piktoria? Ini dunia yang sangat indah sehingga tidak ada pilihan untuk menjadi seseorang yang tidak kau inginkan: gembrot dan pendek, lengan berotot yang membuatmu semacam gadis perkasa yang tidak membutuhkan kasih sayang pria, atau hidung pesek dan rambut bercabang yang kusut walau diapa-apakan. Nggak ada bro, sis.

Jika selama ini prestasimu di dapur sebatas mendidihkan air dan merebus mi instan, kamu bisa berubah jadi chef hebat. Mau pizza, burger, spaghetti, lasagna, atau masakan-masakan Italiano dengan gampang bisa kau buat (ssst… kalau yang ini sih nggak berhasil di aku karena perutku lebih condong selera Jawa).

Di dunia baru ini kamu juga bisa ganti profesi menjadi siapa saja yang kau inginkan. Iya seperti kata motivator yang bilang bukunya dicetak terbatas tapi ternyata bisa kau temui kapan saja di toko buku. Aku tahu kau bosan kan setiap saat dipaksa hati nuranimu untuk bersikap adil, mementingkan orang lain, berbuat jujur sementara kamu sendiri ditindas dan diabaikan? Di sini, kamu bisa memilih peran antagonis. Atau bahkan bermutasi jadi monster yang menghabisi orang-orang di dunia nyata yang menindasmu. Aha, kamu ingin menjadikan bosmu sebagai sasaran pertama kan?

Tapi nih, seenak-enaknya di sana, sepertinya tidak ada atau belum ada manusia yang sungguh-sungguh ingin tinggal di dunia itu selamanya. Mereka memang betah berlama-lama di sana. Ada yang hampir 24 jam bolak-balik ke sana. Tapi tetap saja mereka masih sesekali datang dan kembali lagi ke dunia nyata kita ini. Jadi mungkin seburuk apapun kondisimu, mungkin dunia kita ini tetap lebih baik. Kita hanya perlu pergi sesekali dan kembali lagi. Seperti kata pepatah. Kita menyukai pergi tetapi kita lebih menyukai pulang. Ya. Mungkin begitu. Mungkin.

NB: aku mendapat pesan dari seseorang yang menyebut dirinya @perempuansore. Ada satu tempat tujuan jika kau ingin bunuh diri. Tempat itu sangat tenang, damai, menentramkan. Tempat di mana hasratmu untuk bunuh diri berubah menjadi energi yang membuatmu kembali hidup. Satu tempat yang semua orang memiliki kuncinya: menulislah. Ya, menulislah dan buatlah dirimu menjadi apa saja yang kau inginkan. Ciptakan hanya apa yang menurutmu baik; dunia yang lebih ramah bagimu atau bagi semua orang seperti impian di dasar hatimu. Ya. Menulislah, dan jangan bunuh diri.

 

Buduran, 4 Januari 2016

Titien Soe.

Sementara ini berkarya sebagai dosen di salah satu kampus komunikasi di Surabaya, Stikosa-AWS. Menurutnya, semoga cerpen ini bisa menginspirasi, setidaknya menunda atau jika bisa menggagalkan rencana bunuh diri.

 

[1] Dari KBBI online, katastropi dapat diartikan sebagai penyelesaian (akhir) suatu drama

[2] GBHN: Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) adalah haluan negara tentang penyelenggaraan negara dalam garis-garis besar sebagai pernyataan kehendak rakyat secara menyeluruh dan terpadu. GBHN ditetapkan oleh MPR untuk jangka waktu 5 tahun. Dengan adanya Amandemen UUD 1945 di mana terjadi perubahan peran MPR dan presiden, GBHN tidak berlaku lagi.

[3] Dianalogikan sebagai dekorasi atau pajangan

Keliling Dunia dengan Tote Mangkok Ayam

Malam itu ruangan sempit ini masih dipenuhi aroma nasi ayam. Bisnis yang baru berjalan belum tiga bulan ini sudah menuntut penamaan dan logo. Walau ini, atau karena ini, adalah bidang pekerjaan sehari-hari, saya cenderung menggampangkan. Apa ajalah yang cepet. Jadilah awalnya bernama Nasi Ayam Jagoan. Kenapa Jagoan? Kan dari Ayam Jago… Gampang kan. Lalu tibalah saatnya mencari logo. Saat sedang browsing Facebook, saya menemukan sepasang teman dekat saya sedang jualan kaos:

kaos

Saya pun mengirim email, mau menanyakan apakah gambar ini boleh saya pakai untuk logo bisnis nasi ayam saya. Dan kalau boleh, berapa harganya supaya bisa jadi hak milik. Seperti tertera di gambar di atas, postingan itu bertanggal 11 Juni. Tepat 7 hari kemudian, saya mendapatkan email dari teman saya itu. Tajuk emailnya: Selamat Ulang Tahun. Dan sejak itulah, logo itu diizinkan untuk bisnis saya. Maknanya pemberian ini dalam. Ini bukan kado bisnis. Namun demi kenyamanan bersama, saya pun memutuskan untuk membalik arah hadap ayamnya. Kami memutuskan semua boleh mengenakan gambar ini untuk kepentingan bisnis apa pun, selama saling memberi tahu saja supaya tidak tumpang tindih.

Inilah awal mula mengapa kaos mangkok ayam dijual oleh @medusa.yourock sementara tote di @mangkokayamID.

Mereka melanjutkan menjual kaos, saya melanjutkan berdagang nasi ayam. Namanya iseng, kali-kali untung, saya mulai berdagang tote bermotif mangkok ayam ini. Awalnya, buat kantong pembelian nasi ayam yang menggunakan kantong plastik kresek. Menyenangkan pembeli kan, beli nasi ayam dapat tas tote canvas mangkok ayam. Saat sample pertama dikirimkan, hasilnya jauh dari perkiraan. Kebagusan! Dan secara hitung-hitungan harga gak masuk. Mesin jahit supplier sudah kadung jalan, produksi tak lagi bisa dihentikan. Yaudahlahyaaaw… kita jual aja. Pesanan tiba, saya promosikan di Path. Ada beberapa yang pesan tapi kurang signifikan. Kemudian titip jual di online shop milik teman, belowcepek.com Iya, pada saat itu saya menjual seharga Rp 99.000,- saja. Dengan untung segitu kalau kata Gandrasta Bangko lebih baik bunuh diri :))) Di kepala saya, Rp 5.000,- kalau untung tetap untung.

Kemudian saya pun mencoba menjualnya menggunakan akun IG dan FB pribadi. Kebetulan saat itu saya ada perjalanan ke Jogja. Dan ini adalah postingan pertama dari hotel Phoenix:

2014-06-24-13-34-36

Tak seperti makanan, tote bag tidak memiliki tanggal kadaluwarsa. Tanpa terasa tiba-tiba batch pertama habis terjual. Saya hitung-hitung, untungnya hanya cukup untuk memesan lagi dengan jumlah yang sedikit lebih banyak. Hitung punya hitung, akhirnya saya memesan kembali dengan jumlah yang sama. Keuntungan kecil yang didapat saya putuskan didonasikan saja pada sekolah anak jalanan di depan Gedung Nyi Ageng Serang. Sekolah yang hampir setiap hari saya lewati kalau mau pergi ke pasar. Kebetulannya, permintaan mulai ada sedikit. Aneh juga, di awal pas stock banyak, gak ada yang mau beli. Pas mau abis, eh baru berdatangan.

Entah dari mana mulainya, dalam perkembangan selanjutnya, tote ini menjadi seperti tote wajib untuk jalan-jalan. Dalam dan luar negeri. Menjelajah ke tempat-tempat yang sepertinya baru bisa saya kunjungi di kehidupan berikutnya. Kiriman pembeli pun sering menampilkan cerita-cerita yang menyenangkan. Mengenai tempat, sejarah, kebiasaan dan lain-lain dengan bahasa seperti teman bercerita. Ini yang menjadi semangat berjualan. Selain harga yang sudah bisa dinaikkan, sehingga bisa dapat untung sedikit lebih banyak.

Beberapa foto dan cerita yang menarik dan indah akan saya bagikan untuk pembaca linimasa.com Berbagi keindahan adalah berbagi kebahagiaan. Total tempat yang sudah dikunjungi tote ini adalah lebih dari 167 tempat di dunia. Demi keamanan dan kenyamanan bersama, serta kejaran petugas pajak, nama pemilik foto tidak dicantumkan. Mari keliling dunia sambil mendengarkan salah satu lagu favorit saya, What A Wonderful World yang dibawakan oleh Ken Hirai

2014-09-11-06-38-54

The Naked Cowboy in New York City!!! Saya baru tau adanya makhluk legendaris ini di kota New York. Kota yang selama ini cuma saya tonton di film-film. Info selengkapnya silakan Google sendiri. Lumayan banyak cerita mengenainya. Bahkan dia bisa dipanggil untuk acara pribadi loh!

12670103_10153318006640671_7656504226041709588_n

Salah satu foto yang banyak mengundang lope-lope. Masih di NYC, tapi ini di Central Park saat menjelang Natal.

10399814_10153446613560671_8349787747356013724_n

Bunga Sakura bersemi di Shinjuku National Garden, Jepang.

12552910_10153276354975671_3956930345199514361_n

Simbol kota Rio de Janeiro, Brazil.

12243286_10153172019425671_4751440520862300668_n

Perayaan hari kemerdekaan di Krakaw, Polandia.

13164461_10153518741475671_8201550228292634693_n

Benteng terpanjang di dunia, The Greatwall of China.

12642754_10153309778535671_2449136867569856998_n

Taman Hutan Madagascar.

12144857_10153126609175671_4930046082961595687_n

Campus Yale

12140899_10153126611320671_7683277902646607558_o

Di Paris. Ada yang pernah nonton film Eiffel, I am in Love? Ini sutradaranya 🙂

2016-06-20-12-28-46

Procida, pulau di mana koleksi puisi Pablo Neruda ditulis dan diterbitkan dengan judul Il Postino.

2016-07-11-21-17-18

Kayak di film-film ya 🙂 ini kiriman dari Prinsenstraat, Amsterdaam.

13133382_10153518741205671_719606691984531862_n

Kennedy Space Center, Cape Caneveral, Florida.

2016-06-22-18-48-56

Piazza Domenico di Maggiore, di depan kampus Universitas Orientale, Napoli

12107978_10153126611535671_2417733674357514023_n

Zurich, Switzerland

13474959_10153478114662186_3279802813685066881_o

Dari kota paling romantis di dunia…

2016-03-14-18-08-18

Fushimi Inari Shrine, Japan

2016-01-31-16-47-53

Salzburg, Austria

2016-01-10-00-40-19

Spanyol

2016-01-10-00-50-14

Saat demo di depan Gedung Parlemen, Argentina

2016-01-31-18-09-54

Melbourne, Australia

 

12115500_10153126632295671_199714272917584747_n

Kenilworth Castle, Inggris

2016-09-06-16-43-00

Hanoi, Vietnam

Cape Town – Afrika Selatan. Di sisi kanan adalah Cape Town Stadium tempat Piala Dunia 2010 diselenggarakan.

Matera, Italia.

Burma, Myanmar

Sejujurnya, sampai saat ini tempat ini di mana masih misteri. Ada yang tau?

12118739_10153131394720671_6790815124402657091_n

Georgetown, Malaysia

2016-08-18-18-35-58

Cinta dalam perjalanannya ke Amsterdam barusan ini.

2016-05-25-18-43-13

Mananga Aba Beach, Sumba Barat Daya.

2016-08-10-08-50-30

Bunaken, Manado.

2016-05-25-22-13-00

Pantai Mendorak, Sumba Barat Daya

12651310_10153319834885671_8121719187711263395_n

Toraja, Sulawesi Selatan13230306_10153544381865671_6815122016836414760_nTanjung Meraha, Sumba Barat Daya.

Ah, sebelum saya dimarahin Roy Sayur karena mengupload terlalu banyak foto, silakan kunjungi Instagram @mangkokayamID, Facebook https://www.facebook.com/mangkokayam/ atau Steller https://steller.co/s/697eVP6W2zN – Kebetulan sekarang lagi buka PO. Kali-kali berminat memiliki tote ini kan 🙂 #ad

Rupanya, melalui kegiatan @pulkam di Twitter setahun sekali, saya diizinkan melihat keragaman Indonesia saat merayakan Lebaran. Dan melalui Tote Mangkok Ayam ini saya diperlihatkan pada keindahan dunia. Sepertinya ada Yang Mengetahui, kehidupan saya selama ini berkutat di rumah dan sekitarnya saja.

2014-09-10-22-22-28

Pssst…. tote mangkok ayam pun bisa duduk di kursi yang sama dengan Princess Syahrincess loh :))) Happy Sunday.