Semua dalam Sehari

Pagi itu saya bangun dengan mata agak sepet. Semalam agak susah tidur. Bukan, bukan karena sibuk nyari monster Pokemon Go! Kemungkinan karena kopi sore harinya yang kelewat kenceng. Secara otomatis turun dsri ranjang saya buka henpon mengecek jadwal sambil berjalan ke dapur. Hari ini ada dua meeting. Sambil membatin apa saja yang harus saya omongin pas meeting nanti.

Tangan saya bergerak secara otomatis meramu kopi dalam mokapot. Yang gak tau kenapa, membawa saya ke 9 tahun lalu ketika pertama kali bikin kopi sendiri. Mulai dari mesin kopi, french press dan berakhir di mokapot. Sejak saat itu rasanya gak ada kopi yang lebih enak selain kopi buatan sendiri.

tumblr_o65lr9n44V1rrrlk1o1_500

Aroma kopi menyebar ketika saya membaca sms dari nyokap yang bilang kalau hari ini dia berencana menemani paman yang sudah mulai rutin mencuci darah. Saya sering berpikir “kenapa nyokap gak mau pindah ke whatsapp? Old habits die hard?”

Sambil minum kopi, saya membuka timeline Path. Seorang teman dekat sedang dikerok punggungnya oleh istrinya. Masuk angin kayaknya. Dilanjutkan mengucapkan selamat ulang tahun berdasarkan notifikasi di Path. Membaca link yang disodorkan teman-teman. Membuka Facebook, Instagram, Twitter, sebelum memutuskan “hari ini akan jadi hari yang baik-baik saja”.

Meeting pertama dimulai dengan pengumuman, klien diganti. Iya, kalo brief ganti mah sudah biasa. Ini klien killer yang selama ini sering membuat orang bersedih bahkan menaruh dendam padanya, dipecat dari jabatannya. Gak perform. Ganti klien tentu berarti ganti brief. Dalam hati saya berkata “setdah, udah gahar gini aja masih dipecat jugaaa”. Sambil meeting saya sempat melirik notifikasi kabar gembira di henpon yang bilang meeting berikutnya diundur sampai Senin. Akhir pekan pun bisa segera dimulai.

giphydance

Setelah meeting, saya membuka pesan whatsapp. Salah satunya dari seorang teman kesayangan yang bilang ada bumbu pecel untuk saya. “Ketemuan hari ini bisa gak?” Tanya dia. Karena meeting kedua batal, saya langsung meluncur ke lokasi kami biasa bertemu. Gojek siang bolong panasnya memang gak kenal ampun seperti hukuman mati Freddy. Untung tempat pertemuan di mall yang sejuk. Di perjalanan saya sempat berpikir soal hukuman mati Freddy. “Apa ya yang dirasain nyokap bokapnya? Apa emang dia udah gak ada hubungan lagi sama keluarganya?”

Tak terlalu lama bumbu pecel pemberian pun sudah masuk ke dalam tas saya. Berlanjut teman saya bercerita soal kondisi teman kami yang terkenan kanker stadium akhir. Sambil bercerita kami pun mengenang perjalanan awal 3 tahun saat pertama kali tanda-tanda kanker paru-paru menyerang dirinya. Kebiasaan merokoknya saat itu tentu menjadi salah satu tertuduh utama penyebab kanker yang dideritanya. Sambil mendengarkan saya berpikir “duh, saya masih ngerokok nih… di toilet sih kebanyakannya, tapi tetep aja…”. Teman saya pun berencana untuk bezoek sore menjelang malamnya. Saya memutuskan untuk ikut mengantarkannya ke rumah sakit nanti.

Kemudian seorang teman lagi datang dan langsung membacakan berita dari media online berbahasa Inggris yang menuliskan perihal alasan Jokowi mengganti menteri-menterinya. Diskusi pun putar haluan membicarakan soal politik dalam bahasa rakyat. Masing-masing dengan teorinya sendiri-sendiri. Termasuk perihal Ahok yang ganti haluan dari independen ke parpol. Perbincangan berlangsung seru dan damai. Tentu ada beda pendapat yang membuat saya berpikir “untung juga punya temen-temen yang gak ngotot dan kentjeng… perbincangan jadi lebih ngalir dan politik sekedar jadi bumbu aja. Memang harusnya begitu aja sih.”

tumblr_nne8kc3GTx1utinl3o1_500

Dari perbincangan politik, lanjut ke perbincangan perselingkuhan yang terjadi di sekitar kami. Ada yang alus diem-diem ada yang sudah terang-terangan. Lalu bergulir ke soal cinta dan pernikahan masa depan. Di zaman Instagram ini, dan semakin banyak yang bercita-cita menjadi Yotuber, Vlogger, CelebIG, masih ada gak sih cinta untuk yang wajah dan fisik yang tidak Instagrammable. Berlanjut ke teman dekat yang berhasil menemukan tambatan hatinya via Tinder. Tentu beda dengan 5-10 tahun lalu. Di mana harus keluar rumah bertatap wajah dan bersosialisasi langsung untuk mencari jodoh atau sekedar cinta satu malam. “Seneng juga sih bisa mengalami kedua zaman ini” pikir saya…

tumblr_mdit1oRj8n1rl8i6zo1_500

Hujan deras sore ke malam itu, tak mengurungkan niat teman saya untuk bezoek ke rumah sakit. Saya menemani tapi tidak masuk ke dalam kamar. “Saya tak terlalu dekat dengan yang sedang sakit, saya tak ingin mengganggunya. Belum tentu dia siap dan mau menerima saya” pikir saya. Saya doakan saja dari luar. Sebelum akhirnya kami berpisah. Kebetulan di dekat situ ada mall yang jarang saya kunjungi. Lumayan lah sesekali mengunjungi wilayah jajahan orang lain.

Dalam perjalanan ke mall itu, saya sempat berpikir entah sudah berapa banyak teman, kerabat, saudara yang pernah masuk ke rumah sakit itu. Ada yang berhasil keluar, ada yang mengakhiri hidupnya di situ. Konon perawatannya kurang baik, tapi harganya lumayan merakyat. Bagaimana kalau suatu saat saya yang masuk rumah sakit? Amit-amit ah mikirin gituan, kata sebagian orang. “Tapi ini bukan tak mungkin, kalau bukan rumah sakit ini mungkin rumah sakit lain” pikir saya. Yang langsung membawa ingatan saya pada asuransi yang sudah saya siapkan selama ini. “Masih cukup kah dana segitu pas nanti saatnya tiba?”

Sesampainya di mall, ternyata banyak toko yang mulai tutup. Maklum lah ini bukan mall tujuan utama warga Jakarta. Ingin langsung pulang, lemes ngeliat macet di jalan yang parah. Ngider-ngider lagi, saya menemukan sebuah toko kue yang selama ini sering saya liat di media sosial. Kebetulan nih, lagi sepi. Akhirnya saya memesan makanan dan minuman sekedarnya. Anggaplah ongkos sewa duduk sambil ngecharge handphone. Sekalian mana tau ada monster Pokemon yang belum saya punya. Sambil duduk saya melihat sekitar yang cuma ada dua meja, tiga termasuk meja saya. Langsung kepikiran “kalau saya pemilik cafe ini, serem juga kalau malam Sabtu sepi begini…”

giphy

Sambil menembak satu persatu Pokemon, tiba-tiba sebuah pesan di whatsapp masuk. Teman yang tadi pagi dikerok punggungnya, mendadak ambruk tak sadarkan diri. Sekarang sedang berada di ICU sebuah rumah sakit. Saya pun melongo tak mengira sama sekali. Setau saya, teman saya itu orangnya aktif berolah raga. Walau memang, lagi-lagi ngerokoknya juga aktif pake banget. Selain terkejut, saya pun sedih mengenang anak dan istrinya. Teman saya pernah bercerita bagaimana spesialnya anak semata wayangnya yang diperoleh dengan susah payah. Saya tau, banyak yang telah dilakukannya untuk menyenangkan, membesarkan dan mendidik anaknya. Tak terasa mata saya mulai panas. Ajakan berdoa bersama dari group whatsapp langsung saya lakukan. “Beneran ya, gak ada yang tau… gak ada yang tau… semua bisa terjadi kapan dan di mana saja…” kata saya dalam hati.

Sesampainya di rumah, tanpa perjuangan berarti karena malam sudah cukup larut, seorang teman dekat mengabarkan, anaknya lolos masuk tahap final lomba piano. Berita menggembirakan ini lumayan membuat hati saya tersenyum. Semoga masa depannya dipenuhi merdunya lagu. Usianya yang masih 14 tahun, membuat saya berpikir soal anak-anak lain seusianya yang sedang mengidolakan Celeb Medsos. Atau sedang mengecat warna rambutnya jadi ombre. Sedang sibuk melangsingkan atau manjadikan tubuhnya berotot. Sedang berlatih di group paduan suara yang memenangkan penghargaan internasional. Sedang belajar aplikasi stop motion. Sedang mencoba menulis untuk jadi fashion blogger. Mematut diri depan cermin bercita-cita menjadi model Instagram. Dan anak-anak teman saya yang berkebutuhan khusus. Pikiran saya kemudian melayang ke sebuah iklan di masa lalu dan hati saya pun melantun.

 

Advertisements

Pohon Uang Itu Bernama Poke Stop

Ketika PokeStop diperkenalkan dalam permainan Pokemon Go, maka cita-cita banyak orang untuk memiliki pohon uang hadir. Pokestop adalah mata air sekaligus mesin ATM tak berbatas yang sanggup memberikan apa saja selama kita dekat dengannya. Poke ball, Great ball, Potion (cairan penyembuh), Super potion (cairan penyembuh yang lebih manjur dari potion), Razz berry (buah kesukaan monster), telor, Inkubator telor, dan terutama jika diberi Lure (umpan) maka sekawanan monster akan berdiam diri di “pohon uang” kita.

N-PokemonGo-logo

Kenapa disebut pohon uang? Karena selayaknya mesin atm yang tanpa punya angka yang tercantum dalam rekening, kita bisa mendapatkan sejumlah lembaran uang kertas, pokestop dengan baik dan sewajarnya menjalankan peran sebagai pohon uang itu.

Beruntunglah pemain yang tinggal dalam area pokestop. Siang malam tak akan kehabisan modal berupa poke ball. Juga bagi yang kantornya, kampusnya, kos-kosannya banyak pokestop. Mereka bagaikan lahir dari keluarga yang kekayaannya tak akan habis hingga tujuh turunan. Mereka yang bergelimang poke ball.

Bagi seorang muslim, maka anggap saja poke stop, yang kebetulan berada di areal mushola, seperti diminta untuk rutin ibadah. Jika sholat cukup lima waktu, maka poke stop boleh dikunjungi setiap lima menit. Mendekatlah padanya. Lalu lakukan ritual memutar pendulum berporos, maka segala amalan dan rejeki berupa poke ball, potion, telor akan berhamburan. “Barang siapa yang mendekat kepadaku, maka akan kuberikan sebagian kecil dari rejekiku”.

Karena poke stop-lah maka para pemain akhirnya keluar rumah untuk mendapatkan sesuatu. Poke stop menjadi tulang punggung permainan ini. Maka, jangan heran jika banyak orang sekarang lebih menyukai mengunjungi Grand Indonesia dibanding Plaza Indonesia, Lebih menyukai berlari di tugu Monas daripada di Senayan, yang kesemuanya hanya karena poke stop dengan taburan bunga sakura, tanda pohon uang yang telah diberkati dengan umpan.

Maka, bisa jadi, pada akhirnya lewat google, Niantic, akan menerima orderan sponsor berupa permintaan peletakan lokasi poke stop agar loka-nya banyak dikunjungi orang. Atau jika tak sabar menunggu kemungkinan itu, bagi yang lokasi bisnisnya kebetulan terdapat poke stop dapat menyisihkan sedikit uang untuk belanja lure dan  senantiasa memberikan “sesajian lure” tersebut agar pokestop di lokasinya terus bermekaran dan berguguran. Dijamin, kafenya akan menjadi meeting point favorit kawula pokemon.

Bagi yang belum pernah memainkan permainan ini, maka mohon dimaklumi saja. Namun perlu diwaspadai bahwa pada akhirnya arah permainan akan menurus pada irisan kehidupan kita sehari-hari. Segera lah bermain dan ikuti. Bisa jadi ini memang juga meansyikan bagi Anda. Gim dengan corak Virtual Reality, Augmented reality dan reality-reality lainnya. Jika dalam filem Divergent, setelah sang jagoan jelita disuntik cairan dia akan masuk dalam alam halusinasi-imajinasi, maka sepertinya arah permainan kita justru terbalik. Bukan kita masuk dalam dunia permainan penuh imajinasi, melainkan permainan yang masuk dalam realitas hidup kita. Secara sadar tanpa mata terpejam.

Divergent

Niantic kali ini baru menggunakan titik koordinat. Bisa jadi di kemudian hari mereka atau siapapun pihak lain dapat memanfaatkan titik altitudo alias ketinggian. Sehingga dalam satu kawasan gedung, setiap lantai memiliki poke stop masing-masing. Memiliki perbedaan jenis monster, walaupun dalam titik koordinat yang sama.

Sampai sejauh ini saya menganggap pokemon adalah singkatan dari pocket monster. Karena dalam permainan ini kita mengumpulkan monster yang dapat menjadi qorin. Melindungi dan menjaga tuannya. Tapi saat ini saya tersadar, bahwa di era saat ini semua orang telah memiliki pocket monster-nya masing-masing, yaitu gawai seluler yang kita genggam saat ini.  Ajaibnya, tidak hanya dipercaya untuk mencari monster.

Malah, lebih banyak yang berharap mendapat jodoh.

 

Kontro-PokemonGoAwkarin-versi 2.0

I don’t know why, but people seem to love controversy. Suka sekali, sampai jika sebenarnya kalau ditanyakan pada diri lebih dalam lagi, “Apakah saya memang tidak setuju dengan hal ini?” mungkin jawabannya, tidak juga. Lebih dalam lagi kalau pertanyaan menjadi, “Apakah saya peduli?” sebenarnya mungkin tidak juga. Hanya kebetulan (mungkin) waktu luang terlalu banyak, dan tidak ada hal dalam hidupnya yang lain yang perlu pemikiran dalam dan rumit, sehingga memerlukan banyak hal remeh temeh untuk diributkan, didebat, atau hanya untuk meneruskan berita-berita, maupun pesan-pesan yang berhubungan dengan isu itu ke media sosial maupun grup percakapan online, lalu lepas tangan dengan mengatakan kalau itu tidak mencerminkan pendapatnya. Bahwa “saya hanya meneruskan” dan kalau ada yang tidak setuju “don’t shoot the messenger.”

Sebagian yang paling keras bersuara biasanya justru yang tahu dari permukaan isunya.

Seperti minggu lalu, ayah saya tiba-tiba mengatakan kalau anak saya jangan ikutan main Pokemon Go. Ketika ditanya kenapa, ayah saya hanya bergumam kalau “katanya berbahaya” dan lebih jauh lagi mengajarkan hal yang negatif. Saya hanya tertawa, sambil bertanya, apakah beliau sudah mencoba dan melihat permainannya seperti apa?

“Belum,” kata ayah saya. Tentunya.

Jadi ingat iklan program TV zaman dulu, “Bursa Komedi, lucu sekali deh!”
“Sudah lihat apa belum?”
“Belum”

Kemudian saya lihat image ini di salah satu post di Path rekan saya.

IMG_0452

Jadi kalau mengejar Pokemon ga sempat buat yang lain ya? Hmm.

Seperti segala sesuatunya yang sedang dalam tahap fad, permainan itu datang, dan tentu akan ditinggalkan juga oleh sebagian orang yang sekarang bermain. Malah mungkin sebelum orang banyak reda berisik soal kontroversinya.

Kemudian ada pula satu situs atau blog yang menyasar ke anak muda, membicarakan siapa lagi kalau bukan awkarin. Di antara komentar yang mendukung dan berterima kasih karena sudah menulis hal ini, ada pula yang menyatakan simpatinya kepada Karin Novilda, dan mengatakan kalau dia adalah korban kebencian dan bully massal. Kebetulan salah satu yang berkomentar paling keras ini saya kenal orangnya, dan saya 99 persen yakin kalau ketika memberikan komentar itu, yang bersangkutan hanya skimming Instagram, dan kemungkinan besar belum melihat satu pun videonya. Termasuk video yang menunjukkan kedua pasangan berasyikmasyuk lalu Karin berkata dan menunjukkan kalau pacarnya (yang ketika itu berusia 15 tahun) ngaceng bereaksi secara fisik atas stimulasi yang diberikan. Dan ini terjadi di video yang dipasang tanpa restriksi usia. Dan kebetulan anak saya ketika saya tanya mengaku sempat melihat salah satu video Karin, walau dia tidak ingat yang mana. Kalau ternyata yang membela Karin ini ternyata ayahnya anak saya, ya itu mungkin kebetulan saja.

Bunga Tidur, Bukan Bunganya Lagi Tidur

Dari sekian banyak hal menakjubkan di dunia, salah satu yang membuat saya paling terkesima adalah mimpi. Literally, dreams. Mimpi yang kita impikan setiap kita tidur di malam hari. Atau setiap saat kita tidur.

Kebetulan saya orang yang mudah sekali bermimpi. Entah itu tidur di waktu reguler seperti malam hari, tidur siang kalau memang bisa, ketiduran di dalam mobil sewaktu melakukan perjalanan, atau sekedar ketiduran di sofa depan televisi. Bisa dipastikan selalu ada mimpi yang hadir.

Yang membuat saya semakin fascinated soal mimpi ini adalah begitu banyaknya teori tentang mimpi.

dreams-and-types-of-dreams

Ada yang bilang, mimpi itu wujud “nyata” atas hal-hal yang kita tekan.
Ada juga yang berpendakat, mimpi itu keinginan terpendam yang tak kesampaian.
Ada beberapa orang berkata, kalau mimpi itu ilusi dunia paralel dari dunia nyata yang kita jalani sehari-hari.

Lalu ada yang mungkin terdengar sotoy, bilangnya kalau kita mimpi tentang seseorang, bisa jadi orang itu yang kangen sama kita.
Kalau saya mimpi tentang Bradley Cooper, emang Bradley Cooper kangen sama saya? Kenal aja enggak!

Selain teori tentang arti mimpi, pendapat tentang hal-hal yang memicu mimpi pun berbeda-beda.

Ada yang bilang, kita bisa mimpi kalau sedang dalam keadaan lelah.
Ada yang berujar, minum teh sebelum tidur bisa memicu hadirnya mimpi yang absurd. Pendapat ini sempat saya yakini cukup lama, karena dulu cukup rutin minum teh setiap malam. Namun setelah rutinitas itu terhenti, saya pun masih mimpi terus.

original

Satu hal yang sedikit saya sesali sampai sekarang adalah tidak pernah mencatat secara rutin mimpi yang saya alami. Memang, lebih sering lupa tentang mimpi semalam begitu bangun pagi. Kalaupun ada mimpi yang luar biasa sampai membuat saya bengong saat bangun tidur, biasanya keheranan itu tidak berlangsung lama. Segera terganti oleh rutinitas hari itu.

Semalam saya bermimpi dua hal yang berbeda.

Mimpi pertama cukup sederhana.
Saya mengantar dan menemani seorang teman perempuan untuk menonton film di jam midnight show hari Sabtu malam. Filmnya adalah film Hollywood yang diadaptasi dari film suatu negara di Eropa. Entah apa judulnya, filmnya berjenis komedi romantis.
Uniknya, di tengah-tengah film saya mengantuk. Saya kembali ke mobil, menunggu teman saya. Di sana saya bertemu teman lain yang datang dengan pacarnya. Lalu setelah film selesai, teman saya datang, kami memutuskan untuk menumpang menginap di rumah penduduk setempat dekat bioskop. Kami berpikir, sudah terlalu malam dan terlalu jauh.

Lalu setelah sempat terbangun beberapa saat, saya tidur lagi.

Mimpi kedua, tak kalah sederhana. Saya datang ke sebuah taman yang cukup besar di pinggiran kota kelahiran saya. Rupanya di sana banyak keluarga dari berbagai kalangan berkumpul. Sebagian besar mengenakan baju berwarna putih.
Tiba-tiba saya bertemu seorang teman lama. Sudah bertahun-tahun kami tidak bertemu. Lalu dia memanggil kedua anaknya, yang sudah besar. Mereka mencium tangan saya, seperti keponakan bertandang ke rumah paman.
Sebelum hilang ketakjuban saya, teman saya mengenalkan saya kepada orang lain. Di kehidupan nyata, saya hanya pernah sekali bertemu dengan orang ini. Dia lebih tua, dan sudah berpulang. Tapi di mimpi ini, dia tertawa lebar, menjabat tangan saya dengan erat, lalu mengajak ngobrol sambil berkelakar.

Colorful-drawing-of-woman-dreaming

Mimpi-mimpi yang sederhana, namun terasa nyata, yang sampai akhirnya membuat saya memutuskan untuk menulis tentang mimpi hari ini.

I don’t think we can ever fully understand dream. Yang bisa kita lakukan adalah menganalisa, menelaah, dan mengira-ngira. Seperti hal-hal lain yang tak kasat mata namun ada di kehidupan, mimpi juga hadir menemani kita.

Paling tidak, dengan hadirnya mimpi, saya bisa bersyukur bertemu dengan orang atau kejadian yang suasananya tak mungkin terjadi di dunia nyata. It takes surreality to make us feel real.

And that’s the beauty of dream.

52722a498355e

Jadi, mimpi apa Anda semalam?

Mari Makan

KETIKA lapar, benar-benar lapar, seharusnya ya makan.

Setelah makan lapar hilang, perut kenyang, tubuh pun kembali mendapat tambahan sumber tenaga. Terkadang pakai bonus berupa nikmat berserdawa. Semuanya menjadi sebuah kondisi yang patut disyukuri, walau sebiasa apa pun sensasinya lantaran sudah terjadi dan dialami sejak masih bayi.

Hal sesederhana ini yang sebenarnya terjadi pada semua orang secara alamiah, yang kemudian entah karena tuntutan zaman dan peradaban, bosan, atau sekadar demi reputasi dan pergaulan, banyak kesan yang dipaksa berubah.

Kenyang itu di perut, bukan cuma di mulut, apalagi di mata.

Boleh dibilang lidah hanyalah salah satu bagian kecil dari sistem pencernaan. Namun dibanding jeroan lain dalam tubuh manusia, justru lidah seolah yang jadi komandannya.

Bersekutu dengan hidung, lidah seakan memutuskan apa yang boleh masuk dan turun lewat kerongkongan, dan yang harus dimuntahkan. Saat proses ini terjadi, lidah memberi instruksi kepada organ-organ lain dalam tubuh untuk terus bekerja.

Melalui lidah dan hidung pula, kita mulai bisa membeda-bedakan makanan: yang enak, dan yang tidak enak. Preferensi itu terus melekat hingga akhir hayat, bahkan sampai lidah mulai kehilangan sensitivitasnya.

Apakah tidak boleh menggemari makanan enak? Tidak ada yang melarang kok. Hanya saja, penting untuk melihat makanan sebagaimana mestinya. Tak melekat, dan tak mudah dibuat gundah hanya gara-gara makanan. Adanya gado-gado, ya makan gado-gado. Adanya fried chicken, ya makan fried chicken. Adanya sayur bening dan ikan asin, ya dimakan. Kalau pengin dan bisa beli, ya beli yang lain. Apabila tidak, ya enggak pakai ngedumel atau dipaksakan.

Jangan lupa, makanan yang cantik dan indah belum tentu enak. Kalaupun enak, setelah dikunyah dan masuk dalam usus pun akan berubah jadi bubur campuran beraneka ragam bahan. Makanan, minuman, cemilan, semua jadi satu. Toh semua itu tetap dicerna; diserap nutrisinya dan dibuang sampahnya.

Kenyang, bukan kekenyangan.

Cukup makan dan cukup kenyang. Itu intinya.

Rasa lapar merupakan sinyal bahwa tubuh memerlukan pasokan sumber daya untuk bisa bekerja seperti biasa. Isi perut yang lapar, bukan mata. Sehingga akan sangat baik jika makan secukupnya demi rasa penuh yang pas.

Alamilah keseimbangan. Terlalu lapar tidak mengenakkan, terlalu kenyang pun tidak nyaman. Begah dan susah bergerak, bahkan sampai terasa ingin muntah.

Makan untuk hidup, bukan untuk gaya.

Mungkin kamu sudah pernah baca artikel yang menyatakan bahwa anak muda zaman sekarang (baca: the millennials) banyak yang keren, atau terlihat keren dalam keseharian, tapi sebenarnya bokek. Salah satu indikatornya adalah makanan yang disantap. Menjadi semacam lingkaran setan, antara bokek, dan upaya untuk mempertahankan ilusi image keren tersebut.

Punya uang pas-pasan, tapi pengin makan di kafe beken dengan banderol gila-gilaan. Itu pun hanya untuk sepotong kue, atau croissant, dan secangkir latte. Jelas enggak bikin kenyang. Padahal harganya sama dengan tiga porsi pecel lele garing bersih dan es teh manis.

Demi bisa makan di tempat tersebut, oknum ybs rela untuk “berpuasa”, menahan lapar dengan sedemikian rupa. Kenyangnya enggak seberapa, maag rusak.

Serupa tapi tak sama, yakni waktu istirahat makan siang. Berani berkata tidak, atau bahkan jujur dengan mengaku sedang bokek ketika diajak pergi ke restoran menengah oleh rekan sekantor. Kalau sudah begitu, paling-paling dikatain sombong, dan apabila mereka benar-benar temanmu, pasti bisa mengerti.

Ini enggak ada sangkut pautnya dengan reputasi. Sebab, reputasi itu melekat dengan kepribadian dan tindakan, bukan urusan makan apa dan di mana. Beda cerita kalau namanya business lunch. Cukup dengan berpikir realistis: cukup makan dan cukup kenyang, bisa kerja, dan isi dompet relatif aman. Jangan sampai penyakit tanggal tua datang lebih awal.

[]

Era 80an Tidak Akan Pernah Mati

Sejarah akan berulang dengan sendirinya. Entah siapa ini yang membuat kutipan. Tapi yang jelas masih relevan sampai sekarang. Dari aspek politik, mode, musik, atau pun film. Tentunya kita masih ingat ketika The Strokes dan The Killers menggebrak dengan musik jadulnya di awal millennium. Dari situ dimulailah banyak musik yang mendaur ulang genre musik jaman dulu. Gejala itu sampai sekarang masih berlanjut. Kita tahu sekarang ada The 1975, The Weeknd, CHVRCHES, atau musik sejenis lainnya yang kita sebut dengan electro-pop ini sebetulnya hanya daur ulang. Di tahun 80an kita menyebutnya synth-pop atau new wave. Beberapa pentolannya masih aktif bermusik. Sebut saja Pet Shop Boys, Depeche Mode atau New Order.

stranger7

Gejala ini rupanya menjalar ke dunia sinema. Banyak sekali film yang dirilis. Entah itu reboot, spin-off, atau remake yang diadaptasi dari film era 80an. Tidak usah saya sebut ya. Terlalu banyak. Saya sebut deh satu film yang lagi tayang di bioskop. Ghostbusters. Tapi ada satu serial rilisan Netflix yang menurut saya layak tonton. Kenapa? Karena serial ini berhasil mengembalikan era saya ketika masih bayi. Era 80an. Itu saja? Tidak. Ada satu nama yang kalian pasti rindukan: WINONA RYDER. Usia serial ini baru seminggu. Tapi berhubung Netflix yang menayangkan maka semua delapan episod sudah langsung dinikmati. Itu salah satu kelebihan Netflix dibanding dengan serial “konvensional” lainnya yang harus menunggu minggu depan ketika satu episod habis. Ngeselin kan? Maenin perasaan orang lain. Tega banget sih. Anak orang digituin.

stranger3

Serial ini sangat bagus sekali. Untuk yang suka film di era 80an pasti suka dengan film ini. Apalagi jika mengikuti film Spielberg semacam E.T, atau Third Encounters of The Close Kind. Atau film-film dari Stephen Kings, John Carpenter. Atau bahkan Super 8-nya J.J. Abrams. Stranger Things bergenre supranatural sci-fi horror. Film remaja. Hantunya juga gak serem koq. Seru. Premisnya ada anak kecil yang hilang misterius dan anak cewek dengan kemampuan telekinesis yang tiba-tiba muncul. Standar kan? Tapi The Duffers Brothers berhasil meracik formula yang pas. Ada sedikit X-Files, sedikit Dungeons & Dragons, sedikit Star Wars, sedikit Indiana Jones, sedikit Back To The Future.

stranger1

The Duffer Brothers berhasil meramu semua elemen dari film yang ia suka menjadi serial yang membangkitkan nostalgia ke era 80an. Tapi tidak basi. Tidak berlebihan. Tidak pretensius kalo anak jaman kiwari banyak bilang. Perlu diperhatikan juga para akting Winona Ryder sebagai ibu dari anak yang hilang aktingnya total. Dia bermain sangat apik. Mungkin ini akting Winona yang paling baik selama karirnya di dunia film. Sebelum hiatus karena ketauan ngutil di Saks Fifth Avenue.

Tidak berhenti di situ. Duffer Brothers nuansa kental 80an itu tidak afdol kalo tidak dibarengi dengan skoring musik dengan balutan synthesizer yang mencekam dari Kyle Dixon & Michael Stein. Synthesizer sangat populer di tahun 80an. Dan terakhir yang harus dinikmati adalah sontrek dari serial ini penuh dengan musik di era 80an. Dan untuk itu maka saya sengaja buat playlist yang lagunya muncul di Stranger Things. Dengerin ya. Capek saya bikinnya ih.

Selamat marathon ya akhir pekan ini. Dan tetaplah penasaran dengan apa yang terjadi di luar sana.

Dear Karin Novilda @Awkarin,

Belum pernah gue nonton vlog lokal dan gak berenti nonton sampe selesai semua episode. Biasanya, baru 30 detik pertama saja gue udah bosen dan skip. Vlog loe yang pertama kali bisa bikin gue diem di tempat hampir 3 jam. Bayangin, 3 jam waktu gue, gue pake dan ikhlas buat nonton vlog loe. Jujurnya gue emang baru tau soal loe gara-gara nama loe rame diomongin di media sosial.

Sebelum nonton gue tadinya ngarep bakal nontonin vlog alay yang cemen lah. Ternyata enggak tuh! Loe bisa bikin adegan sederhana sehari-hari jadi menarik buat ditonton. Loe bisa ngedit yang mainin emosi penonton. Loe gak egois dengan menghadirkan tokoh-tokoh yang menarik di sekitar loe. Gue jadi senyum-senyum sendiri nontonin loe dan temen-teman pake kostum lari-lari di mall. Gue ikutan ngeri pas denger loe jerit liat binatang masuk ke mobil. Dan yang terpenting loe udah berbagi soal kehidupan pribadi loe.

Kenapa buat gue penting? Karena gue juga pengen belajar Rin. Gue pengen banget tau soal kehidupan loe dan temen-temen loe. Bukan cuma karena gue kepo, karena gue juga pengen ngerasain hidup di masa yang sama tapi dengan cara pandang yang beda. Gue pengen tau apa sih yang bikin loe hepi dan apa yang bikin loe sedih. Gue pengen mencoba untuk paham hal-hal apa yang menginspirasi loe. Intinya, gue pengen tau soal dunia loe.

Dan gue harus berterima kasih sama loe karena loe udah mengijinkan gue menonton cuplikan kehidupan loe. Dunia loe seru. Dunia loe asik. Di beberapa bagian dari vlog loe, loe bikin gue bernostalgia waktu umur gue 19 tahun. Waktu seks jadi kayak obsesi dan gue pengen nyobain semuanya. Waktu bokep jadi tontonan gue diem-diem. Waktu ngomong jorok gue omongin di luar rumah. Waktu gue pengen coba-coba segala gaya baju. Yang sekarang baru gue tau, itu semua karena gue pengen merasa diterima. Gue pengen jadi anak gaul. Gue pengen hidup bareng temen-temen gue.

Kita sama. Bedanya, di zaman gue dulu belum ada Youtube. Belum ada Instagram. Belum ada Twitter. Gue gak bisa berbagi seluas loe. Gue gak bisa berekspresi seperti loe. Untuk gue mencari dan menarik perhatian orang, ya paling ke tempat keramaian kayak mall dan jalan raya.

Yang gue kagum dan akan selamanya kagum, adalah loe udah bikin dari yang gak ada jadi ada. Percaya deh Rin, itu gak semua orang bisa bikin. Dan itu aja udah bikin loe jadi spesial. Loe berbakat. Kita semua yang pernah nyoba nyoba bikin vlog paham dan tau betapa sulitnya bikin vlog. Betapa ribetnya dan capeknya jalan ke mana-mana sambil nenteng selfie stick. Belum lagi ngerencanain adegan. Mesti selalu siap dengan segala kemungkinan dan kejutan. Satu hal lagi, yang menurut gue paling berkesan dari vlog loe adalah, loe bisa bikin dari hal yang biasa banget di sekitar jadi tampak seru dan menarik.

Loe mungkin sekarang lagi sedih. Semoga loe sedih beneran. Jujur sempet terlintas jangan-jangan tragedi hidup loe kali ini adalah settingan buat ngedongkrak nama loe. Tapi itu namanya gue berburuk sangka sama loe. Gue cuma mau bilang, kalau loe bener lagi sedih banget seperti di vlog loe, sedihlah. Sedih sepuasnya sampe loe lega lagi. Tapi gue mohon loe kembali berkarya lagi. Bikin lagi vlog loe yang jujur dan apa adanya itu. Hidupin lagi instagram loe yang keren-keren itu. Teruslah berekspresi, Rin. Umur loe masih muda dan masa depan loe bersinar.

IMG_2745 IMG_2746 IMG_2747 IMG_2748

Gue menulis ini karena gue takut kalau loe kemudian jadi takut untuk terus maju. Loe mulai menutup diri. Bahkan mungkin loe mengubur bakat loe yang luar biasa. Anggap aja apa segala hujatan yang barusan loe terima, sebagai masukan supaya loe lebih baik lagi berkarya. Orang tua selalu berusaha untuk melindungi anak-anak mereka, termasuk loe. Walau selalu ngakunya menghargai kebebasan berekspresi, keragaman individu dan kesetaraan gender, tapi ternyata juga tergagap saat melihat keluwesan loe bermedia sosial dan kemerdekaan loe berekspresi. Kaget melihat perempuan seusia loe yang tak seperti bayangan dan idealnya menurut orang tua. Maklumin aja lah…

Percaya deh, sampai umur berapa pun, hujatan akan selalu ada. Hinaan, cacian, makian, itu kayak gak pernah selesai. Sampai suatu saat loe bisa membuktikan diri loe. Dalam hitungan detik, semua akan jadi pujian.

Gimana loe membuktikan diri loe? Kenapa gak loe coba bikin film, misalnya. Atau hasil-hasil karya lain apa aja yang emang loe suka. Loe beruntung bisa hidup di zaman yang semua ada kompetisinya. Menangin satu-satu, Rin. Dari pertarungan kecil lama-lama jadi besar. Semoga pas masa ini nanti datang, dan loe liat ke belakang, loe akan melihat kejadian hari ini jadi salah satu hari yang mengubah hidup loe jadi lebih baik. Ah siapalah gue ngajarin loe. Jelas-jelas loe lebih berbakat dari gue. Gue gak bisa lah bikin vlog, Rin wkwkwkwkwkwk.

Gue share di Path soal vlog loe. Dan gue mau loe tau, temen-temen gue juga banyak yang suka dan kagum sama vlog loe. Mereka ada yang bekerja di bidang kreatif periklanan, digital, PR, Ibu Rumah Tangga sampai NGO yang bergerak di bidang hak-hak perempuan dan kesehatan reproduksi. Kami semua sepakat, vlog loe menarik, seru dan keren. Kami suka sama postingan loe. Tuh buktinya ada yang ngefans sampe skrinkep postingan IG loe yang gue pake di tulisan ini. Waktu ada teman kami yang bilang “amit-amit jangan sampe anak gue nanti bikin begituan” dalam hati kami bilang “kaleeem, belum tentu bisa juga, keleus… emang gampaaang?” Apalagi kita semua tau, secara akademis loe peraih peringkat tiga UN SMP di Riau 2013

Dan kami sadar, kami juga seperti loe waktu kami seumuran loe, Rin. Yang loe lakukan itu adalah yang kami lakukan ketika kami seumuran loe. We were once was you. Bahkan mungkin masih ada hal yang ada di diri loe sekarang sebenarnya masih ada di diri kami. Bedanya cuma, di usia kami sekarang kami udah takut dan males aja untuk terlalu jujur di media sosial. Dalam kehidupan sehari-hari? Jangan ditanya. Mulut kami lebih comberan lah! Hahahahaha.

Kalo loe butuh saran mungkin yang bisa gue saranin adalah loe bikin aja postingan loe eksklusif. Loe jadi bisa menyaring siapa aja penonton loe. Risikonya memang kemungkinan tawaran untuk endorsement jadi berkurang. Sampai nanti closed group loe membesar dan makin besar bukan gak mungkin loe bisa bikin aliran indie vlog :). Atau ya udahlah, loe perhalus aja dikit omongan loe. Jangan loe anggap ini sebagai usaha untuk membungkam loe, tapi anggap aja latian buat loe lebih dewasa. Apa pun keputusan loe tapi please Rin, jangan pernah berhenti. Percaya deh di dunia ini, lebih banyak yang cuma bisa ngomong dan komplen ketimbang yang bisa bikin dan berkarya. Ngebacot emang lebih gampang yak, hahahaha.

Sebelum gue menyelesaikan surat ini, gue mestinya memperkenalkan diri gue di awal. Tapi gue lupa saking semangatnya nulis ini. Nama gue Glenn Marsalim, panggilan gue Glenn. Di Twitter, IG dan media sosial lain akun gue @glennmars Tadinya gue pengen follow akun medsos loe sebelum gue tau semua udah loe tutup. Dan iyes, gue udah subscribe vlog channel loe.

So here you go, semoga loe bisa baca tulisan ini. Dan setelah loe baca, loe bangkit lagi, hidup lagi, ceria lagi, dan berkarya lagi tanpa menjadikan loe besar kepala juga. Semoga loe mendapat kesempatan yang jauh lebih besar ketimbang gue waktu gue seumur loe.

Salam kenal,

Glenn

Selamat Hari Anak Indonesia 2016

 

Roda-Roda Bahagia

Tadi pagi, saya berangkat dari Bandung menuju Jakarta dengan hanya membutuhkan waktu kurang dari 2 jam. Selepas pintu tol Pasteur pukul 04.00 wib dan sampai di tol dalam kota sebelum pukul 06.00 wib. Seharusnya perjalanan ini tidak saya lakukan mengingat saya ndak tidur semalaman. Tapi dengan bekal segelas kopi JJ Royal racikan sendiri sebelum berangkat dan sebotol krating daeng selama perjalanan, mata melek tanpa rasa kantuk. Setibanya di rumah, langsung tepar dan baru bangun pukul 11.30 wib tadi. Maka maklum saja jika tulisan ini dibuat sekarang.

Mari kita bicara soal perjalanan.

Perjalanan Bandung-Jakarta di Sabtu pagi memang menyenangkan. Sepi dan lancar. Hanya satu dua kendaraan berat yang berjalan pelan di lajur kiri. Di sisi kanan, semua kendaraan kecil melaju kencang, tapi berat juga. Kendaraan kecil dengan sopir yang banyak menanggung beban berat. Ehehe. Terbukti mereka malah berpergian di waktu fajar. Jika bukan berat, apakah namanya?

Usai lebaran, tanggal tua dan THR yang tanpa sisa. Target semesteran kedua mulai dijelang. Semua pekerja kembali merayakan realita hidup. Tidak hanya di Jakarta, namun juga di kota-kota lainnya. Jalanan Jakarta mulai macet. Bagi kota lain di pulau Jawa, usai lebaran juga berangsur normal, namun dengan aktivitas ekonomi yang cenderung turun. Pasar dan mal tidak terlalu ramai.

Dalam perjalanan Bdg-Jkt, saya sempat mampir di loka rehat. Membeli satu onigiri tuna mayo, sekaleng nescafe, dan CD Noah. Sampai saat ini onigiri belum saya makan, karena ternyata hanya lapar mata. Nescafe juga belum saya buka segelnya. Hanya Ariel Noah menjadi teman perjalanan saya. Maaf, Sophia, Aa-nya uda dengan aku pagi-pagi.

Dengan volume suara yang saya setel kencang, dan sengau Ariel berdendang, saya berpikir soal perjalanan hidup setiap makhluk.

Pohon di pinggiran jalanan tol mungkin bersyukur dia ndak ikut ditebas seperti sahabatnya karena kebetulan tumbuh tepat di lintasan jalan tol. Tapi pohon mungkin juga iri ingin merasakan berlalu-lalang. Lalu saya juga kagum dengan para sopir truk besoooar dengan muatan lebih besooooar, yang jalannya seperti berjingkat-jingkat. Harus membawa angkutan tanpa bisa membawa lari kendaraannya. Kapan dia mandi, apakah dia sudah unduh pokemon go, atau nonton vlog Awkarin di youtube, kapan terakhir makan KFC.

Lalu karena suara Ariel lirih, saya pun malah jadi berpikir soal nasib pemuda ganteng dengan titit gede dan bersuara emas ini. Setelah melesat jauh ke bintang bersama Peter Pan, lalu terjerembab masuk bui karena videonya bersama Luna, dan akhirnya kembali bangkit bersama Noah dan kembali jatuh ke pelukan janda cantik segala zaman.  Sebuah perjalanan hidup yang indah? Menyenangkan?

Lalu saya entah kenapa tiba-tiba jatuh kasihan kepada roda. Bergulir cepat tanpa jeda. Berada di bagian bawah dengan mengarungi kerasnya aspal jalanan. Ban mobil memang lebih tangguh dan harus lebih tangguh dari Ali Topan maupun Boy. Rasa kasihan sebelumnya menjadi sirna. Mereka adalah roda-roda yang berbahagia. Melakukan perjalanan dengan menyetubuhinya tanpa luput sejengkal pun.

Sekeras apapun itu.

[]

Lanjutkan Sistem

Seperti perasaan negatif yang kita alami lainnya, rasa ketidaknyamanan yang umumnya dirasa, kalau tidak salah berasal dari sistem kepercayaan yang ditanamkan sejak dulu. Mungkin dari mulai kita begitu muda, sampai rasanya tidak sadar ketika itu mulai terbentuk sesuatu yang mengakar dalam diri. Begitu beranjak dewasa, bisa jadi kita jadi sadar, dengan begitu secara sadar juga berusaha mengenyahkan belief system yang tidak jarang membuat posisi diri jadi lebih sulit, atau jika masih nyaman dengan sistem ini, atau tidak sadar akan meneruskan sampai mati.

“Ngomong apa sih, Lei?”

Soal seks, sebenarnya. Saya tiga perempat yakin, kalau di pikiran bawah sadar sebagian besar masyarakat Indonesia, seks adalah hal yang masih membuat jengah untuk dibicarakan secara terbuka, dan blak-blakan. Dipikirkan sendiri; boleh saja. Mencari “materi” seperti video, gambar atau teks untuk referensi di internet; tak ada yang melarang. Dijadikan bahan bercanda; tentu seru, apalagi kalau dengan sesama gender. Tetapi god forbid kalau tiba-tiba orang membuka pembicaraan di forum resmi atau setengah resmi, bahwa seks adalah kebutuhan primal manusia. Dan banyak cara yang bisa diambil untuk memenuhinya. Terasa panik juga dan darah mengalir deras begitu anak kita bertanya, “Ma, Pa, sebenarnya kalau orang berhubungan seks itu artinya mereka ngapain?”

Biasanya jika mendapatkan diri di posisi demikian, reaksi kita bisa berbeda-beda. Jika dari yang saya tengarai, dari kecil hingga dewasa, kira-kira seperti ini.

Marah dan menghardik.
Pengalaman masa kecil sampai remaja, bahkan sampai usia saya 20an diwarnai dengan adegan seperti ini; di ruang keluarga kami sedang menonton sebuah film bersama. Lalu ada adegan pria dan perempuan berciuman. Ayah saya sudah dipastikan langsung bereaksi dengan, “Leila, hayo, kamu belum 17 tahun!” atau ketika saya sudah melewati usia itu, “Leila…”
“Pa, aku udah 22 tahun.”
“Kamu tadi bukannya belum solat Isya?”
“Iya nanti aja”
“Hayo sekarang! Jangan ditunda-tunda”

Every. Time.

2a9541413297939b5a036bb930ec72a8c386e7d4cfb78ec1b45b335ddb453618

Tertawa.
Ini sudah saya ceritakan sebelumnya di post ini. Ketika itu saya sedang menonton film di screening tertutup, tentang hubungan seorang perempuan yang sudah berusia 60an, dan pria yang baru menginjak usia 20an. Filmnya sama sekali bukan dibuat untuk lucu-lucuan, dan diceritakan secara sensitif. Tetapi ketika adegan menjadi terlihat sangat intim dan membuat sedikit tidak nyaman, penonton malah tertawa seolah itu adegan komedi.

49711793

Bercanda.
Ketika itu sedang konferensi digital, dan ada satu founder vibrator dengan teknologi bisa dikendalikan secara remote dengan aplikasi dari mana saja, asal aplikasi di ponsel (sebut saja) istri, terhubung dengan aplikasi di ponsel (sebut saja) suami. Tujuannya mulia, karena sang founder pernah LDR dengan istrinya ketika dia harus menuntut ilmu di luar negeri, karena itu muncul ide untuk membuat suami bisa memuaskan hasrat istri dari mana pun di dunia ini. Orang asing dan sebagian orang Indonesia menanggapinya dengan ketertarikan yang tulus. Sebagian besar pria Indonesia menjadikannya running joke sepanjang konferensi.

fcc1eeb6299c2b9cf4be54362a940bb4

Kabur.
Ketika itu saya sedang punya pacar, dan ada teman saya yang, kalau ingin mampir ke rumah bersama anaknya, pasti bertanya dulu ke saya, apakah pacar saya sedang ada di rumah saya. Kalau ya, dia mengatakan kalau lebih baik dia tidak jadi saja. Jika saya tanya kenapa, dia selalu menjawab; “Kalau anak gue tanya itu siapa, gue bingung jawabnya!”

Saya hanya garuk-garuk kepala, kenapa harus bingung, sih? Kenapa tidak jawab apa adanya saja, toh tidak ada sangkut pautnya dengan dia?

Teman yang sama juga sering berkata kalau worst case scenario dia dalam hal parenting adalah jika anaknya bertanya soal seks. “Gue harus jawab apa, gila! Mending gue pura-pura bego atau belagak tidur aja.”

Errr. Good luck growing up, kid!

efpf2

Sulit memang mengubah belief system diri. But it’s doable. Lebih bisa dilakukan lagi menanamkan belief system ke anak kita. Apakah kita mau melakukan hal yang sama? Atau berbeda? Pilihan pada masing-masing, asal dilakukannya dengan sadar saja.

Have an amazing weekend!

Dari Mana Datangnya Ide?

Bulan depan, tepat dua tahun saya bergabung dengan Linimasa. Menulis setiap minggu tanpa jeda. Sebisa mungkin saya menulis tepat waktu. Artinya, tulisan sudah dibuat sebelum hari giliran saya, yaitu hari Kamis, tiba.

Namun ternyata cukup sering juga tulisan saya buat waktu hari Kamis sudah berjalan beberapa jam. Seperti tulisan yang Anda baca sekarang.

Kadang ide tulisan sudah datang dari beberapa hari sebelumnya. Kadang juga tidak pernah hadir setelah beberapa saat lamanya.

Dulu saya pernah menulis di sini, kalau salah satu kebiasaan yang saya lakukan sebelum menulis untuk Linimasa adalah menonton film. Menontonnya tentu dengan pamrih, yaitu berharap bisa muncul ide dari film yang ditonton.

narrative-clipart-CLIPART_OF_10212_SMJPG

Metode ini pernah berhasil beberapa kali. Namun tidak bisa saya lakukan secara rutin. Kadang kala saya masih harus bekerja sampai larut malam di hari Rabu. Pulang ke rumah, hanya bisa merebahkan badan, sampai lupa mengganti baju yang melekat.

Kadang ide muncul waktu sedang berlari. Satu kali lari di atas treadmill bisa saya lakukan selama 45-50 menit. Sambil mendengarkan musik, biasanya pikiran suka berlari-lari sendiri memikirkan random things. Ini suka terjadi setelah menit ke-20. Kalau sudah ketemu satu hal dari banyak hal yang melintas di pikiran, saya suka mengeksplorasi pikiran itu lebih dalam, sambil berlari. Lalu setelah turun dari treadmill, buru-buru mencatat di ponsel, agar tidak lupa.

Namun lagi-lagi aktivitas lain sering mengganggu rutinitas ini. Meskipun masih mengalokasikan waktu untuk berolahraga, kalau dalam minggu itu ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal, maka frekuensinya semakin berkurang.

toonvectors-37067-140

Tentu saja, ide menulis yang paling hakiki adalah dari membaca. Baik itu membaca buku, majalah, artikel tulisan, atau apapun bentuk tulisan lainnya. Cuma memang saya akui, frekuensi membaca buku dan menyelesaikannya dengan tuntas saat ini lebih sering terjadi kalau sedang bepergian.
Sementara itu, kalau dalam satu minggu hanya brief pekerjaan yang sedang dibaca, kok rasanya tidak pantas dijadikan bahan tulisan ya?

Kami bertujuh yang menulis di Linimasa ini punya grup di aplikasi WhatsApp. Grup kami cukup aktif dalam berbagi informasi tentang apapun di muka bumi.
Salah satu hal yang selalu kami bagi, meskipun tidak selalu dikatakan setiap minggu, adalah, “nulis apa ya kali ini?”
Atau, “eh gue telat ya nulisnya. Meeting dulu / masih di jalan / belum tau nulis apa nih / baru bangun, dan lain-lain.”

Tapi kami semua percaya tentang sense of completion. Kalau belum berbagi tulisan di hari yang sudah ditentukan, rasanya belum lengkap menjalani hari. Karena kami hanya bisa berbagi dengan Anda lewat tulisan ini.

writing-clipart-cartoon-girl-writing-clipart-free-clipart

Jadi, jawaban pertanyaan dari judul di atas, tentu saja, ide datang dari mana saja. Ide datang saat kita melakukan apa saja. When it strikes you, count yourself lucky.

Yang jelas, ide tidak bisa ditunggu. Ide harus dicari. Kami pun akan selalu mencari, dan tidak mau berdiam menunggu.

Kayak jodoh.

Museum Nasional: Akhirnya Ketemu yang Sungguhan

LAHIR dan besar di Samarinda, museum pertama yang saya kunjungi justru berada di Tenggarong, ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara: Museum Mulawarman.

Lupa kapan waktu persisnya, namun yang jelas baru kali itu saya benar-benar melakukan “kontak” dengan artefak sejarah, termasuk benda-benda yang pernah disebut dan ditampilkan fotonya dalam buku pelajaran IPS SD.

Gedung Museum Mulawarman itu dulunya merupakan istana Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, bentuk terakhir dari Kerajaan Kutai yang masih tercatat sebagai kerajaan tertua di Indonesia. Sehingga hampir semua koleksi yang dipamerkan berhubungan dengan keberadaan kesultanan, budayanya, dan runutan era peradaban di Kaltim. Mencakup objek-objek arkeologis yang ditemukan di hulu Sungai Mahakam.

Di salah satu ruangan, ada jejeran (sesuatu yang seperti) batu dengan tinggi sekitar  1 meter. Lengkap dengan torehan tulisan beraksara asing.

Jadi, ini yang namanya prasasti. Batu yang dipahat berupa tulisan dari zaman dulu.” Kurang lebih begitulah penjelasan Pak Romiansyah, guru SD yang mendampingi kunjungan darmawisata saat itu.

Namanya juga anak-anak, pasti penasaran dengan hal-hal yang baru mereka lihat. Prasasti itu pun disentuh, dipegang-pegang, bahkan diketuk-ketuk.

Tok… Tok…

Kok ada keluar suara?

Prasasti-prasasti itu ternyata imitasi. Terbuat dari fiber dan bertekstur khusus, meskipun dibuat semirip mungkin dengan batu kali sungguhan. Ya, yang begitu saja sudah cukup kok.

Sampai pada Jumat (8/7) pekan lalu, iseng datang ke Museum Nasional dan akhirnya bisa melihat langsung bentuk asli Prasasti Yupa/Prasasti Muara Kaman/Prasasti Kutai, atau yang ditulis sebagai Prasasti Mulawarman dalam kartu penjelasannya. Diketuk-ketuk juga. Refleks.

Batunya padet.

Hanya saja, tetap ada yang disayangkan. Baik atas prasasti-prasasti asal Kaltim tersebut, maupun terhadap tata kelola penyajian koleksi di Museum Nasional tersebut.

>> Di Tenggarong, replikanya saja menjadi salah satu atraksi utama. Semua Prasasti Yupa dikumpulkan dalam satu ruangan khusus. Sedangkan di Museum Nasional, prasasti-prasasti Kerajaan Kutai tersebar di beberapa titik. Tiga prasasti berada di seberang Taman Arca, di bawah lengkung jalur menuju ruang Prasejarah. Beberapa Prasasti Yupa lainnya ditempatkan di lantai 2 gedung samping, mengenai peradaban manusia. Prasasti-prasasti Kerajaan Kutai itu sangat mudah dikenali karena bentuknya yang cenderung kasar, tinggi. Tanpa hiasan maupun ornamen layaknya prasasti-prasasti asal pulau Jawa yang lebih muda.

IMG_0932

Tiga di antara Prasasti Yupa, ditempatkan di depan Taman Arca. Barangkali termasuk yang belum terbaca dan diketahui makna tulisannya.

IMG_0957

Prasasti Yupa utama, yang menjelaskan silsilah Raja Mulawarman hingga ke Kudungga, kakeknya. Ditempatkan di lantai 2 gedung eksibisi tematik.

Ya enggak kenapa-kenapa juga sih kalau Prasasti Yupa dari pedalaman Kaltim dibawa dan disimpan di Jakarta, jauh dari “kampung halamannya”. Kan awalnya untuk dipelajari, dan dijaga kondisinya. Tinggal bagaimana memperlakukannya saja.

>> Agak mengganjal rasanya, ketika melihat ada coretan kode dengan cat putih di ruang kosong prasasti. Tidak adakah cara lain yang lebih etis untuk menandai artefak sejarah dibanding mencoretinya? Penomoran seperti ini tidak terjadi pada prasasti saja, melainkan juga di arca-arca, dan peninggalan sejarah lain.

>> Masih mengenai prasasti. Entah karena kekurangan tempat, atau sekadar memanfaatkan ruang kosong, dua area terbuka yang nyempil di depan Taman Arca samping pintu masuk utama dijejali prasasti-prasasti dari berbagai era. Jadi sempit sekali, bikin pengunjung awam enggan untuk singgah dan memerhatikan detailnya.

IMG_0929

Dibanding yang lain, prasasti warna merah terang di sebelah kanan sangat menarik perhatian. Tulisannya pun besar dan mudah dibaca: HYDRANT :p Sempit banget, kan?

>> Dari hampir semua area pameran terkategorisasi, hanya area arca dan prasasti saja yang terkesan bercampur baur tanpa benang merah jejak masa (timeline). Penataannya seakan bertujuan dekoratif, supaya rapi, jadi semacam hiasan bangunan. Sama-sama arca, sama-sama prasasti, digabrukin semua jadi satu.

IMG_0934

Barangkali ada pertimbangan arkeologis tersendiri di balik penataan seperti itu, akan tetapi sangat terasa mengganggu ketika dua arca yang bersebelahan ternyata berasal dari zaman yang berbeda. Kemudian, ada arca lain dari masa yang sama, yang lokasinya di pojok ruangan.

Belum lagi arca-arca bernuansa Hindu dan Buddha ditempatkan secara acak, dicampur. Kenapa arca-arca bernuansa Hindu tidak dikumpulkan jadi satu, begitupun dengan arca-arca Buddhis? Tujuannya sederhana kok, supaya lebih mudah ditelusuri, dicermati, dan dinikmati detail-detailnya.

>> Apabila ingin berbagi informasi, apalagi pengetahuan bidang tertentu, alangkah lebih baik apabila disampaikan dengan benar dan tuntas. Bukan sekadarnya. Sehingga pengunjung museum tidak akan pulang dengan informasi keliru, atau clouded knowledge.

Kesan seperti itu yang ditangkap dari membaca kartu-kartu keterangan di hampir semua arca atau prasasti. Hampir semua, sebab ada yang tidak dilengkapi penjelasan apa pun. Berikut adalah salah satu contohnya.

IMG_0926

Pada kartu penjelasan ini, seolah terkesan bahwa Amoghapasha Avalokiteshvara adalah entitas tunggal. Padahal Amoghapasha dan Avalokiteshvara adalah dua figur berbeda. Amoghapasha memang kerap disalahkirakan sebagai Avalokiteshvara ala Tibet secara tampilan artistik.

Dalam kasus ini, istilah-istilah yang ditampilkan memang berasal dari ranah keagamaan tertentu, tapi mbok ya sedikit cermat saat menyajikannya. Setidaknya atas nama arkeologi budaya. Saya sendiri pun bukan seorang pelaku Buddhisme aliran Tibet.

Apakah penting? Namanya kan museum.

Terlepas dari beberapa hal di atas, Museum Nasional tetap merupakan salah satu museum besar dengan koleksi cukup komprehensif di Indonesia yang pernah saya kunjungi. Rasanya menyenangkan, dan bakal datang ke sana lagi.

Di sisi lain, semoga makin banyak kota di Indonesia yang memiliki museum besar, membanggakan warga setempat, dan menyenangkan untuk didatangi.

[]

Mari Kita Menengok Agak Ke Kiri (1)

Michael Moore, di film terakhirnya, Where To Invade Next, kali ini dia tidak bercerita mengenai peperangan, senjata, institusi keuangan atau mengenai jaminan kesehatan di negeri Amerika Serikat. Di film dokumenter ini lebih bercerita bagaimana Moore membandingkan negara Amerika Serikat dengan negara-negara di Eropa. Film ini lebih mudah dicerna. Lebih ringan. Lucu juga. Tidak seperti film-film sebelumnya.

whereto1.jpg

Pertama dia pergi ke Italia. Dia mewawancara seorang pasangan yang baru menikah. Mereka membeberkan bahwa mereka mempunyai waktu cuti yang panjang. Cuti yang ternyata jauh lebih banyak dari kebanyakan perusahaan di Amerika Serikat. Mereka bisa mempunyai cuti yang bisa mencapai delapan minggu. Mereka mempunyai cuti menikah dan bulan madu. Yang artinya mereka tetap dibayar ketika menikah dan bahkan dibiayai ketika mereka berbulan madu. Ini tidak terjadi di Amerika Serikat. Setidaknya menurut pengakuan Michael Moore. Intinya para pekerja di Italia mendapatkan libur yang lebih banyak daripada mereka yang bekerja di Amerika Serikat. Total bisa mencapai dua bulan cuti setahun. Plus gaji ketiga belas. Rugikah pemerintah Italia? Atau perusahaan yang memperkerjakan mereka? Tidak. Justru kebalikannya. Mereka bahagia.

Moore pergi ke Lardini Company. Perusahaan ini memproduksi Dolce & Gabbana, Burberry, dan juga Versace. Dia menemukan hal yang sama. Dia bertanya kepada CEO Lardini. Apabila dia mengikuti cara kerja perusahaan di Amerika mungkin dia bisa menjadi lebih kaya. Mereka balik bertanya. Apa artinya menjadi lebih kaya jika karyawanmu tidak bahagia? Dengan memforsir karyawan agar bekerja lebih keras. Dengan jam kerja yang mendekati romusha tidak akan membuat karyawan lebih produktif. Mungkin pekerjaan bisa selesai. Tapi itu tidak membuat mereka lebih banyak tersenyum. Ketika atasan liburan maka bawahan pun membutuhkan liburan. Dengan liburan mereka akan kembali bekerja dengan perasaan yang rileks. Tidak stress. Mereka juga sedikit mempunyai karyawan yang sakit. Sakit kan asal muasalnya kalo tidak dari makanan ya pikiran.

whereto

Di perusahaan motor Ducati pun begitu. Mereka rata-rata memberlakukan hal yang sama. Dan mereka tidak takut dengan serikat pekerja. Mereka justru merangkul serikat pekerja. Mereka menganggap komunikasi dua arah adalah hal yang sangat sehat dan diperlukan oleh perusahaan. Karena yang paling tahu kondisi perusahaan adalah para karyawan. Bukan komisaris, dirut, atau kepala cabang.

Apabila ini bisa berjalan dengan baik di Italia. Saya koq punya keyakinan ini juga akan berjalan mulus dengan Indonesia. Apa artinya menjadi lebih kaya jika karyawanmu jarang tersenyum, tidak sejahtera, dan sering sakit?

Indikator Perairan yang Layak Direnangi

Entah pantai, danau, maupun kolam renang. Berikut 6 indikator dari yang paling layak direnangi:

  1. Kosong!

Pantai Nyang Nyang, Uluwatu.

  1. Ada beberapa orang berenang dan duduk-duduk.

Pantai Petitenget

  1. Ada banyak orang berenang dan berkerumun.

Pantai Seminyak

  1. Ada buaya, anaconda, piranha atau makhluk sejenisnya yang membahayakan nyawa kita.

Kolam Renang di Florida. Sumber: Google.

  1. Ada mbak-mbak pakai high heels.

Sebetulnya lebih absurd dari ini. Tapi Mbak Imey Mey cukuplah kasih gambaran. Makasih Mbak. Sumber: Clip Cabe Cabean oleh Imey Mey

  1. Ada orang berenang PAKAI BAJU LENGKAP!!

Harus pake caption ya? Ampun…