Dalamnya Hati, Siapa Yang Bisa Tahu?

Semalam saya tertegun membaca tulisan di foto ini. Foto ini diunggah oleh seorang teman di Path. Di antara sekian banyak gambar memes dan foto acara berbuka bersama, isi tulisannya cukup membuat saya terhenyak sesaat.

IMG_3488

Seperti meme lainnya, foto ini tidak sempurna. Ada beberapa typo yang sepertinya jadi ciri banyak gambar serupa. Tapi foto ini bisa membawa sejenak pikiran saya melayang ke beberapa tahun silam.

Saat itu saya terjebak dalam kemacetan lalu lintas Jakarta di malam hari. Nothing’s new there. Saya berada di dalam taksi. Kemacetan yang tak berujung, ditambah lagi keterbatasan fitur ponsel kala itu, mau tak mau membuat saya menanggapi ajakan obrolan supir taksi.

Dia berkata, kalau sebelum jadi supir taksi, dia bekerja sebagai supir bis dalam kota. Saya cuma menanggapi sekenanya, sampai dia berkata, “Kalau dipikir-pikir, Maghrib itu mewah ya, mas.”

Saya bingung, lalu bertanya, “Maksudnya gimana tuh, pak?”

Dia jawab, “Lha, iya. Maghrib itu waktunya cuma sejam. Pas matahari terbenam kan ya? Pas itu lagi macet-macetnya jalanan. Orang pada pulang ke rumah. Ya kalo di jalan, ndak bisa minggir sholat. Apalagi pas jaman nyupir bis dulu, mas. Waduh, ya mana bisa minggir buat sholat Maghrib.”

Saya tanggapi dengan singkat, “Didobel dong pak sholatnya?”

“Ya iya, mas. Dijamak (ed.: melakukan dua sholat dalam satu kali ibadah) terus, pas malemnya ama Isyak. Saya cuma bisa sholat Maghrib beneran pas Maghrib itu cuma seminggu sekali, mas, pas libur. Makanya, Maghrib itu mewah buat saya, mas.”

twilight-river-afternoon-sun-water-light-lantern

Saya tersenyum. Melihat ke luar jendela mobil, memandang ke macetnya jalanan, sambil penasaran, berapa orang yang berpikir sama dengan supir taksi saya saat itu.

Hanya kita yang tahu bagaimana cara kita berkomunikasi dengan Tuhan. Beribadah adalah urusan yang sangat personal, yang tidak bisa dipaksakan. Dan tidak perlu memaksakan diri. Percaya terhadap kepercayaan, atau memilih untuk tidak percaya pun, adalah pilihan dari relung hati ditambah kesadaran diri yang paling dalam.

Saya cuma yakin, bahwa supir ojek yang harus mengantar barang di tengah kemacetan jam berbuka puasa nilai ibadahnya tidak kalah dengan mereka yang kebetulan sudah berada di masjid dan mengaji. Sama-sama punya prioritas hidup yang mereka kerjakan.

Saya yakin, bahwa doa bisa terucap dalam keadaan apa saja, di mana saja. Seyakin itu pula bahwa Tuhan tidak pernah berhenti mendengar. Apapun, di mana pun, bagaimana pun.

(Courtesy of joydigitalmag.com)

(Courtesy of joydigitalmag.com)

After all, who are we to come between man and his faith?

 

 

 

 


iklan.

CmF1CZ2WEAAcAUI

Advertisements

Segalanya Berubah, Termasuk Agama

KONDISI dunia berubah signifikan sejak hampir sepekan lalu, ketika kekuatan demokrasi memaksa Inggris Raya untuk bercerai dari Uni Eropa–organisasi mentereng yang isinya eksklusif, hanya negara-negara dari Eropa Barat serta beberapa sekitarnya.

Perubahan adalah sebuah keniscayaan. Mau apa pun bentuknya, dan bagaimanapun bentuk hasil akhirnya, tidak ada yang bisa luput dari perubahan. Besar maupun kecil. Seperti itulah yang dihadapi dan dialami para rakyat Inggris, pemerintahnya, dan para petinggi Uni Eropa.

Tentu ada berderet-deret dampak dan implikasi yang dihasilkan. Beberapa di antaranya barangkali sudah mulai terjadi, dan tetap menyisakan banyak hasil analisis dan prakiraan. Mudah-mudahan saja para rakyat Inggris tidak jatuh dalam posisi yang patut dikasihani di kemudian hari.

Kebetulan masih bicara soal Inggris, bisa jadi perpisahannya dengan Uni Eropa lewat pemungutan suara Jumat lalu bakal memberi pengaruh sama luar biasanya dengan peristiwa munculnya Anglikanisme, atau sebut saja kekristenan ala Inggris Raya yang memisahkan diri. Konon gara-gara urusan kawin-mawin sang Raja Henry VIII, dan ditolak pihak gereja Katolik konservatif. Akhirnya dibentuklah struktur religius baru, menghasilkan perubahan secara menyeluruh dan sistematis.

Ada satu tuh gereja sekaligus sekolahnya di Jakarta, enggak jauh dari Tugu Tani.

Nah, kalau aturan-aturan baku agama saja bisa diubah perspektif atau cara pandangnya, apalagi urusan birokrasi dan kerja sama antarnegara yang saling bertetangga macam Uni Eropa? Namun tenang saja, pada kenyataannya perubahan-perubahan mendasar seperti ini terjadi hampir di semua agama. Mulai dari yang bentuknya paling fleksibel macam agama-agama tradisional, sampai yang upaya penyebarannya paling kencang sekalipun. Jangan harap skema institusi agama-agama modern saat ini masih berbentuk sama ketika pertama kali didirikan oleh para pembawanya masing-masing. Beberapa di antaranya bahkan mulai mengalami modifikasi dan perubahan oleh para pemimpin umat beberapa puluh tahun setelah wafatnya sang aksis.

Kembali mengambil contoh kehidupan religius Inggris. Sebelum Anglikanisme muncul dan memisahkan diri dari Katolik, sudah terjadi persinggungan besar dengan Protestanisme. Ratusan tahun sebelum perpisahan besar itu terjadi, pun telah diselenggarakan sejumlah konsili atau sidang raya, semacam majelis pembahasan dan penyusunan sistematika Kristiani yang dianggap sahih (dan berfaedah secara realistis, tentunya).

Dari sejumlah konsili tersebut, ada banyak poin yang menghadirkan perubahan besar dalam tubuh Ecclesiae, atau jemaat gereja. Kekristenan yang dijalani secara popular hingga saat ini saja–dengan prinsip Trinitas, dogma-dogma baku, cara pandang gereja pada banyak hal, sistem tata kelola gereja, Takhta Suci serta kedudukan Paus, dan lain sebagainya–merupakan hasil kesepakatan konsili-konsili. Dari konsili tersebut, ada banyak hal yang ditolak, dianggap bidah Kristiani, dianggap ketidaksesuaian tafsir, dan sebagainya.

Apakah semua penolakan itu diterima begitu saja? Tentu saja tidak. Buktinya, ada dua Paus di dunia. Satu yang berkedudukan di Vatikan, kini adalah Paus Fransiskus; dan Paus umat Gereja Ortodoks Koptik di Mesir dengan sistem administrasi berbeda, yang hampir semua ritus maupun sakramennya menggunakan Bahasa Arab dan setiap doanya patut disambut dengan “amin”, bukan “amen”.

Ada pula Gereja Ortodoks Rusia dengan pimpinan tertinggi pada Patriarch Kirill, yang baru ditemui Paus Fransiskus pertengahan Februari lalu setelah dua lembaga tersebut saling terpisah 1.000 tahun lamanya. Itu pun pertemuannya berlangsung di Kuba. Keren ya!

Pertemuan dan perbincangan “sang penerus Rasul Markus dan Rasul Petrus”: Paus Theodoros/Tawadros II dari Aleksandria dan Paus Fransiskus. Foto: catholicworldreport.com

Hal serupa juga terjadi dalam Protestanisme. Sebagai ilustrasi, baru di Jakarta saja saya bisa menemukan satu ruas jalan yang tidak besar-besar amat, namun ada empat gereja berdiri di sepanjang ruasnya. Empat gereja, sama-sama Kristen, akan tetapi berbeda denominasi: artinya bisa berbeda cara pandang terhadap pola hidup Kristiani, berbeda penafsiran atas Firman, berbeda metode khotbah dan pendekatan rohaniah pada umat, bahkan salah satu dari gereja tersebut dianggap memberikan ajaran bidah oleh ketiga lainnya.

Dalam Islam, sudah akrab bagi ruang pikir kita istilah Sunni atau Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), dan Syiah. Dua aliran besar yang memiliki banyak perbedaan mendasar. Saking mendasarnya, sampai-sampai dengan mudahnya bisa bikin sebagian orang menyebut aliran lain sebagai bidah. Kemunculan dua aliran besar tersebut jelas merupakan buah dari perubahan atas penyikapan, perlakuan, pemikiran, maupun penafsiran.

Belum berhenti sampai di situ saja. Aswaja dan Syiah kembali terbagi dalam beberapa mazhab. Lebih kepada perbedaan dalil fikih berdasarkan ulama-ulama besar tertentu, maupun aspek-aspek lain terhadap praktik kehidupan beragama. Dalam Aswaja ada empat mazhab besar: Hanafi, Maliki, Hambali, dan Syafii yang dianut secara mayoritas di Indonesia. Begitu juga Syiah dengan sepuluh mazhabnya.

Beralih ke Asia, jangan dikira agama-agama non-Samawi adem ayem tanpa perubahan besar dalam tubuhnya. Dalam Hinduisme modern, ketiga dewa Trimurti (Brahma, Vishnu, Siva) sama-sama memiliki kelompok pemujanya masing-masing. Ada pula yang lebih menjunjung aspek feminin dari dewata tersebut, yakni pemuja dewi-dewi pendamping/istri (Shakti). Ditambah lagi kelompok pemuja dewa-dewa lokal yang dipercaya sebagai pelindung suku, dan memiliki kedekatan sosiokultural terhadap etnik tertentu. Banyak!

Selain Hinduisme, India juga menjadi kampung halaman sejumlah ajaran. Ada Buddhisme, ada Jainisme, ada Sikhisme, ada Ahmadiyah, dan banyak lagi lainnya.

Buddhisme berasal dan pernah populer di sana, kemudian mengalami tekanan juga perubahan hingga nyaris punah menyisakan para umat di luar India. Selain itu, mazhab-mazhab Buddhisme terbentuk dalam konsili yang dilakukan ratusan tahun pascawafatnya Buddha. Dua kelompok mula-mula adalah Sthaviravada dan Mahasanghika, yang awalnya berselisih tentang aturan dan norma. Keduanya terus mengalami perubahan (modifikasi, pertambahan, pengurangan, pembaruan) selama ribuan tahun hingga akhirnya menyisakan tiga mazhab besar modern: Theravada yang ortodoks (yang saking ortodoksnya, sampai-sampai bisa bikin penganutnya seperti takfiri), Mahayana yang sinkretis, dan Tantrayana/Vajrayana yang esoteris. Makanya, ada mazhab yang mengharuskan bervegetarian tapi tidak perlu berpuasa, ada pula yang tetap boleh makan daging dengan beberapa kondisi tertentu tapi harus puasa, setiap hari.

Konsili seperti ini terus dijalankan untuk memastikan keaslian ajaran dan peraturan. Penyelenggaraan terakhir berlangsung 1954 silam di Myanmar oleh sekitar 2.500 Bhikkhu mazhab Theravada, dan memakan waktu dua tahun untuk pengulangan kembali serta penyelarasan seluruh ajaran Buddha.

Konsili Agung ke-6 Sangha (Theravada) dunia, 1954 silam di Burma/Myanmar. Foto: aimwell.org

Apakah berhenti sampai di situ? Tentu tidak. Beraneka sub mazhab bermunculan di Asia Timur. Implikasi politik terjadi dalam tubuh Sangha (komunitas para Bhikkhu/Bhiksu). Diangkatnya Sangharaja atau pemimpin tertinggi Sangha yang berafiliasi dengan dinasti yang berkuasa di negara-negara Buddhis Indochina. Dampaknya, meskipun tak seekstrem apa yang dilakukan Raja Henry VIII, tapi tetap ada kemungkinan batas toleransi dibengkokkan, bahkan menjadi tradisi yang bisa ditiru.

Di Thailand saja, contohnya. Setidaknya ada tiga kelompok Sangha berdasarkan tradisi dan afiliasi politik. Secara kronologi, yaitu: Maha Nikaya (kelompok umum, di luar lingkar kerajaan, heterogen), Dhammayuttika (berasal dari gerakan pemurnian penerapan aturan, lebih ketat, dipimpin Sangharaja, disokong kerajaan), dan Dhamma Nikaya (kelompok baru yang fenomenal, tapi ada beberapa aspek pengajaran dianggap bidah Theravada). Hal ini juga berpengaruh di Indonesia, dengan nuansa Dhammayuttika yang kental. Terlepas dari tepat tidak tepat ritus tradisi yang “diimpor”. Belum lagi masalah mana Bhikkhu benaran dan yang asal-asalan.

Untuk Tiongkok, kumpulan konsep yang diasumsikan sebagai agama asli bangsa itu adalah paganisme Tionghoa. Dari kepercayaan purba yang mengerucut menjadi Taoisme; kemunculan Konfusianisme; dan masuknya Buddhisme Mahayana pun diterima dalam bentuk sinkretisme. Penyatuan. Perubahan yang menghadirkan kepercayaan tradisional khas budaya Tionghoa berusia lebih dari 3 ribu tahun, dan terus dilakoni sampai sekarang.

Kebanyakan contoh ya.

Kembali ke Inggris lagi deh. Entah itu urusan agama sebagai sebuah institusi maupun politik, sama-sama encer. Terlalu encer malah. Saking encernya, sampai-sampai perubahan sekecil apa pun bisa memberi dampak yang terlampau besar. Tetapi malah diperlakukan seperti batu kali: keras. Saking kerasnya bisa bikin kepala seseorang bocor, bahkan pecah.

[]

Element of Surprise

Dua hari yang lalu Kanye West merilis video musik terbarunya yang berjudul “Famous”, yang diambil dari album terakhirnya “The Life of Pablo”. Video ini menuai kontroversi. Kenapa? Karena di video ini menampilkan George Bush, Donald Trump, Caitlyn Jenner, Kim Kardashian, Amber Rose, Chris Brown, Rihanna, Taylor Swift, dan juga Bill Cosby yang sedang tidur telanjang di dalam satu ranjang. Seakan-akan mereka usai melakukan orgy. Video musik yang kontroversial karena menampilkan seleb yang juga kontroversial. Untuk yang ingin melihat musik videonya bisa dilihat di sini.

kanye

George Bush, senior maupun junior adalah penyuka perang. Donald Trump adalah demokrat yang menjadi calon presiden dari Partai Republik. Dia mencapai tahapan tersebut dengan cara yang kontroversial dan tidak populis. Caitlyn Jenner, yang juga mertua tiri  dari Kanye West adalah seorang transgender. Dua tahun lalu namanya masih Bruce Jenner. Kim Kardashian, kita tahu dia terkenal dengan rekaman video yang sedang bersenggama dengan pacar-pacarnya. Taylor Swift terkenal dengan sering bergonta-ganti pacar dan di setiap akhir dari hubungannya maka akan lahir juga lagu yang bercerita tentang kisah cintanya. Bill Cosby adalah bintang kulit hitam yang sinarnya meredup di usianya yang semakin menua. Dia terkena kasus pelecehan seksual di masa jayanya.

Kanye West tahu apa yang dia lakukan. Dia memang menginginkan ini terjadi. Walaupun artis yang ditampilkan di video tersebut adalah bukan asli. Hanya mirip saja. Tapi pesannya sampai. Ini adalah strategi marketing yang jenius. Kalian bisa bilang apa saja mengenai Kanye West. Narsis atau apapun itu. Tapi dia selalu menarik perhatian dengan segala tingkah lakunya. Dan harus diakui dia selalu membuat karya yang tidak kacangan. Dibanding Drake misalnya. Karya-karyanya selalu bisa dipertanggungjawabkan. Dari segi artistik maupun lirik. Kontroversi hanya bumbu. Sejelek apapun disain dari sepatu Adidas “Yeezy”, tetap saja sepatu tersebut laku.

Kontroversi kadang dibutuhkan ketika anda bergelut di dunia hiburan. Atau politik. Sudah banyak sekali contoh dari mereka yang berhasil. Masih ingat ketika Paul McCartney dari The Beatles bahwa dia ditanya oleh salah satu jurnalis TV Amerika apakah iya pengguna LSD? Paul tidak mau berbohong. Dia jujur. Dia jawab iya. Apa salahnya menjawab jujur? Atau ingin jawaban yang nyaman? Tidak tapi membohongi diri sendiri? LSD membuat kecanduan seperti rokok. Atau ketika John Lennon berkata bahwa The Beatles lebih terkenal daripada Yesus? Mereka tidak pernah minta maaf. Kenyataannya memang begitu koq.

Donald Trump berkata bahwa harus dibuat benteng di perbatasan Meksiko dan melarang (untuk sementara) muslim untuk mengunjungi Amerika. Apa hasilnya? Sekarang dia saingan terberat dari Hillary Clinton. Melihat 52% rakyat Inggris yang ingin keluar dari Uni Eropa adalah juga satu gejala. Jujur saja, saya tidak akan terkejut jika dia menjadi Presiden menggantikan Obama. Bahkan jika disuruh memilih saya akan memilih Trump dibanding Hillary. Kenapa? Hillary kebijakannya standar. Status quo. Sementara Trump sedikit tidak bisa ditebak. Satu lagi dia ingin memberantas ISIS, walau eksesnya bisa sangat riskan. Karena ISIS di Suriah bukan masalah sederhana. Tapi apakah Hillary mempunyai kebijakan politik luar negeri yang mumpuni? Sementara dia masih dalam investigasi FBI dengan skandal email dan Benghazi yang mengambil nyawa Dubes AS untuk Lybia. Akibatnya dia dicopot sebagai Menlu diganti John Kerry. Tidak ada yang mending memang. Tapi Trump punya element of surprise. Itu yang saya tunggu.

Shine Bright Like a Diamond

Kalau udah besar mau jadi apa? Ini pertanyaan paling sering muncul waktu kecil dulu. Penguasaan kosa kata kita terbatas pada pilot, dokter, guru atau astronot. Setelah dewasa, 90% dari jawaban tadi meleset. Banyak yang lupa. Eh, malah pada jadi bajingan. Setelah dewasa juga kita baru tau, semua akan jadi tanah. Seperti semula. Hingga suatu hari. Seorang kawan memberitahu bahwa kita bisa jadi berlian! Sejak itu, cita-citaku: Shine bright like a diamond!

Berlian pada dasarnya adalah atom karbon terimbas tekanan. Ketika atom karbon terkena suhu dan tekanan ekstrim, mereka secara teroorganisir saling mengikat dan membentuk kristal. Satu atom karbon terikat kovalen dengan empat lainnya, dan semakin lama mereka terkena suhu dan tekanan ekstrim tadi, semakin banyak ikatan antar atom yang terjadi. Semakin besar pula ukuran berlian yang lahir.

image

Karena berlian terbuat dari karbon, dan tubuh manusia terdiri dari sekitar 18% unsur karbon; maka sangat mungkin untuk mengubah abu manusia menjadi berlian. Abu manusia terdiri dari banyak sekali unsur hara. Ia harus dimurnikan lebih dulu hingga minimal 99%-nya adalah karbon. Untuk seseorang dengan berat 80kg, karbon murni yang didapatkan bisa mencapai 2.5kg. Selebihnya hancur dalam proses pembakaran dan hilang selama pemurnian. Karbon dari tubuh manusia ini kemudian ditempatkan dalam sebuah wadah kedap bertekanan tinggi. Ia akan berubah menjadi grafit. Lalu, tekanan dinaikkan hingga 6 gigapaskal (60,000 kali tekanan atmosfer bumi) bersuhu 1,500 derajat celcius. Dibiarkan hingga dua minggu untuk mendapatkan 0.3 hingga 0.5 karat berlian. Dan 3 sampai 4 bulan untuk mennghasilkan berlian 1 karat. Proses ini haruslah dilakukan di sebuah laboratorium presisi. Ndak murah, tapi juga ndak semahal berlian alami, karena ilmu pengetahuan memotong jutaan hingga milyaran tahun waktu yang dibutuhkan bumi menempa berlian.

image

Hanya ahli yang dibekali peralatan pendeteksi khusus saja yang bisa mebedakan berlian alamai dan biakkan. Warna dan tampilannya ndak beda. Berlian dari tubuh manusia biasanya berwana putih jernih, kekuningan karena unsur nitrogen dan, paling sering, kebiruan karena unsur boron dalam abu karbon. Saat keluar dari wadah kedap ia masih harus menjalani proses pemotongan sesuai pesanan. Akhirnya, seseorang bisa disandang di jari tangan orang yang ia cintai.

Seperti catering di Gedung Pernikahan; rumah-rumah duka di Jakarta punya rekanan masing-masing. Mereka menyebutnya Memorial Diamonds. Beberapa diantaranya: Alrogdanza.com, LifeGem.com, dan dna2diamonds.com. Algordanza berpusat di Swiss. Dua lainnya di Amerika Serikat. Laboratorium serupa banyak berdiri sejak puluhan tahun lalu. Melayani secara komersil industri alat berat, medis, hingga perhiasan. Salah satu yang terbesar di dunia, Ila Technologies di Singapura. Cultured Diamond seperti ini bisa ditemui juga di toko Gordon Max di Pacific Place Mall dan Dharmawangsa Square.

image

Berlian biakkan harganya bisa hanya 30% dari berlian alami. Tapi, berlian dari tubuh manusia harganya meroket dari USD 5,000 sampai USD 20,000 (harga Algordanza per Juni 2016), tergantung besar, jenis potongan dan hasil akhir yang diharapkan. Masalahnya sekarang, bisakah kita menjual berlian dari tubuh manusia, kalau dibutuhkan? Lebih penting lagi: ada ndak yang mau beli?

KUKURUYUUUK (bagian 3)

Catatan Harian Pedagang Nasi Ayam

Memasuki bulan Ramadan, terutamanya menjelang hari Lebaran, sepertinya hampir semua pedagang makanan sibuk melayani pembeli. Mulai dari untuk acara buka bersama, hantaran, bahkan banyak pedagang makanan yang menawarkan jasa pengiriman Sahur. Hidangan yang ditawarkan pun aneka rupa, mulai dari sajian buka puasa sampai makanan besar yang jenisnya tak terkira banyaknya. Bahkan banyak ragam yang hanya baru kita lihat berseliweran di media sosial, terutamanya Path. Path yang sering digunakan untuk mengucapkan terima kasih kepada pengirim.

Nasi I Am (yang tadinya bernama Nasi Ayam Jagoan) punya ceritanya sendiri menjelang bulan-bulan penuh berkah ini. Di sela-sela kesibukan terselip banyak cerita bahkan beberapa diantaranya membuka mata akan apa yang terjadi di belakang layar.

  1. DetikFood is Good

Screen Shot 2016-06-25 at 12.29.21 PM

Di awal berjualan, ada seorang pemesan bernama Odilia. Semua berjalan seperti biasanya. Pesan, dimasak, antar. Hanya saja saat menuliskan alamat pengiriman, sempat terkejut karena ditujukan untuk Detik. Tak terlintas sedikit pun bahwa dari pembelian itu, berbuah sebuah tulisan di detikfood.com http://food.detik.com/read/2012/08/16/194232/1993672/933/kukuruyuuk-ini-paket-nasi-ayam-yang-komplet-sedapnya Tulisan yang hadir bertepatan dengan awal bulan Puasa.

Bahagia dan bangga rasanya, untuk pertama kali dagangan diliput oleh media. Saat tulisan ini ditayangkan waktu sudah menjelang malam. Saya pun meretweet tautan itu seraya berterima kasih kepada Odilia. Karena badan lelah, saya pun langsung tertidur.

Subuh saya bangun seperti biasa, mata saya membelalak melihat pesan SMS dan email yang jumlahnya ratusan! Belum pernah terjadi dalam hidup saya. Dan ketika saya buka handphone saya yang bersuhu panas itu, saya hanya bisa melongo melihat antusias dan minat orang untuk bertanya bahkan langsung berniat membeli dagangan nasi ayam yang umurnya baru hitungan bulan.

Saya terdiam sesaat. Panik sudah tak ada gunanya lagi. Satu persatu saya dahulukan menjawab pertanyaan. Dilanjutkan dengan menerima pesanan. Saya mencoba atur sedemikian rupa disesuaikan dengan kapasitas dapur yang masih kecil. Asal tau saja, saat itu rice cooker yang saya miliki berukuran 500 ml saja. Jadi setiap satu porsi nasi ayam, saya harus mencuci dulu rice cooker itu sebelum menggunakannya kembali.

Sejak pagi itu, hidup saya berubah. Tak ada lagi kehidupan lain selain di dapur. Selama sebulan penuh, saat orang berpuasa, saya sibuk memenuhi pesanan. Dan kalau diingat sekarang, saat itu sebenarnya lebih mirip kegilaan. Apalagi saya belum paham menangani krisis di dapur. Bukan hanya mau menangis rasanya, tapi saya benar menangis di dapur. Badan rasanya mau tumbang, tapi pesanan tak boleh ditolak. Dan saat Lebaran tiba, saya tidur lelap seminggu.

Selamanya 16 Agustus 2012 akan menjadi hari penting bagi saya. Mungkin inilah ospek akan kuliah memasak yang baru saya masuki. Ujian awal yang menentukan apakah saya harus maju terus atau mundur selamanya. Anehnya, saat masa ospek ini usai, ada semacam kerinduan untuk mengulang kegilaan ini.

2. Ditukar Kue

2015-10-20 12.12.34

Hantaran Kue Lebaran sudah menjadi tradisi. Kita sering melihat ribuan jenis kue tersedia baik di toko maupun di media sosial. Beragam kreativitas terpampang dan selalu menampilkan kebaruan. Pernahkah kita berpikir penerimanya? Kalau terima satu atau dua, dengan senang hati kita memakannya. Tapi bagaimana kalau ratusan?

Suatu hari kami mengirimkan Nasi Ayam ke sebuah rumah di kawasan Mega Kuningan. Begitu pesanan tiba, Kurir diminta untuk menunggu sesaat oleh Security. Tak diduga, Kurir kami mendapatkan sebuah kue. Sambil melongo kebingungan, Kurir membawa kue pemberian itu kesaya. Begitu saya buka, bukan kue sembarang kue, tapi kue dari toko kue ternama yang harga kuenya bisa dipastikan di atas Rp 500.000,- ke atas. Giliran saya yang melongo. Apa maksudnya?

Sebelum tergoda memakannya, saya memastikan dengan mengirim pesan via WA ke pemberi kue menanyakan maksudnya. Siapa tau dia mengira Kurir ini bisa membawa kue ke alamat lain.

“Owh itu memang untuk Kurir saja, Mas…”

“Untuk Kurir?”

“Iya Mas, saya gak punya lagi tempat untuk menyimpan kue-kue kiriman. Kulkas sudah gak cukup. Liat aja nih…” katanya sambil mengirimkan foto via Whatsapp. Sebuah ruangan berAC yang dipenuhi dengan tumpukan kue. Melihat tumpukan itu bisa dipastikan jumlahnya ada sekitar 50 an boks kue yang belum dibuka.

Semakin ke sini saya semakin paham, untuk beberapa keluarga yang terbiasa menerima banyak kiriman makanan terutamanya kue, sering membentuk sebuah “tim” yang bertugas menerima dan mengatur arus lalu lintas kiriman makanan yang diterima selama Ramadan. Ada yang sampai ke meja makan mereka, tapi banyak juga yang numpang lewat saja. Salah satu kebijakan yang mereka terapkan adalah memberikan kiriman makanan itu ke Kurir sebagai tanda terima kasih. Ibarat mendapat rezeki nomplok Kurir kami membawa pulang sebuah Kue mahal untuk keluarganya hari itu. Di kemudian hari pernah terjadi Kurir membawa pulang tiga boks Kue!

3. Ayam Kampung Anoreksia

2016-06-09 12.06.42

Setelah lebih dari dua tahun berdagang, akhirnya kami memutuskan untuk bekerja sama dengan dua supplier Ayam Kampung yang merupakan bahan pokok. Menjelang Lebaran, bisa dipastikan ukuran Ayam Kampung semakin mengurus. Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan sampai suatu ketika ukuran Ayam Kampung yang kami terima benar-benar kurus bagai anoreksia. Pastinya saya tidak bisa menerima itu karena benar di bawah standard. Anehnya lagi, bukan hanya dari supplier itu saja, tapi hampir di semua tempat yang menjual serempak menjual Ayam Kampung Anoreksia.

Akhirnya di sebuah kesempatan, saya pun menginterview mengapa hal ini bisa terjadi. Terutamanya menjelang Lebaran. Rupanya, para pemilik catering besar sudah jauh-jauh hari memesan Ayam Kampung yang berukuran normal ke para supplier. Tentunya karena mereka memesan dalam jumlah besar dan sudah membayar di muka, mereka mendapatkan kesempatan untuk menerimanya terlebih dahulu. Masuk akal mengingat Opor Ayam, memang lebih enak pakai Ayam Kampung. Dan tentunya itu merupakan menu wajib menyambut Lebaran.

Selain seperti dikejar target penjualan dan memenuhi permintaan Ayam Kampung yang meningkat di bulan Ramadan, banyak peternakan yang memotong peliharaan mereka lebih cepat dari biasanya. Masih muda udah dibunuh. Percaya atau tidak, saya pernah menerima paha Ayam Kampung berukuran tak lebih dari 5 cm!

Belajar dari situasi ini, dan mengingat bisnis saya masih skala rumahan, saya pun mencari akal agar tetap kebagian Ayam Kampung berukuran normal. Walau tak selalu berhasil, tapi hantaran Nasi Ayam dagangan untuk para pemilik peternakan dan sedikit tip untuk pengantar lumayan memuluskan bisnis saya. Kalau pun kebagian Ayam Kampung berukuran kecil, setidaknya bukan anoreksia tapi seukuran Peragawati.

 

Maya Nyata Ternyata Sama-sama Fana Karena Dia Adalah Uang

Masih saja banyak netizen maupun citizen yang menganggap sesuatu yang maya itu tak layak atau setidaknya tak sebanding dengan dunia nyata. Artis sinetron itu artis sungguhan, sedangkan seleb twitter atau instagram itu artis karbitan atau malah bukan artis dan sok iye aje. Kira-kira seperti itu. Bahwa apa yang terjadi di media sosial, apa yang disampaikan dalam vlog, blog, dan percakapan dunia maya, kadarnya tidak lebih dari percakapan di bangku taman, pojok kafe, atau arisan.

Coba deh kita pikir-pikir lagi.

Hal paling maya yang sampai saat ini menjadi hal paling penting bagi sebagian besar peradaban manusia apalagi di saat hari raya dan tanpa sadar kita mengamininya adalah “uang”.

Uang sejatinya ndak riil. Uang masa kini yang ndak jelas datangnya dari mana, kapan, kenapa bisa, dan bagaimana mendapatkannya untuk kemudian diternakkan.

Ketika kertas yang dikeluarkan bank sentral nilainya begitu luhur, sedangkan kertas bikinan pabrik kertas leces nilainya tak seberapa, menandakan bahwa tanpa sadar kita sama-sama mengamini bahwa kertas berwarna disertai angka tertentu itu bernilai. Bukan karena zat atau material yang terkandung, melainkan kesepakatan semua orang, walaupun nilai instrinsik uang kertas tak seberapa besar dibanding nilai tukarnya.

Vladimir Kush 1965 - Russian painter - The Surreal Landscapes - Tutt'Art@

Beda ketika uang masih dibuat dengan bonggolan emas, perak atau perunggu, yang bilamana diukur nilai emasnya tanpa perlu melihat angka yang tertera pada uang tersebut, memang bernilai. Jika koin pecahan emas ini bopeng dan angkanya luntur, dikumpulkan dan ditimbang pun masih laku dengan nilai yang nyaris setara dengan nilai tukar koin tersebut. Nilai intrinsik sama dengan nilai tukarnya. Klop!

Katakanlah, 1 dinar, seberat 10 gram emas, setara dengan 1 ekor kambing, maka pilihan transaksi dalam pasar adalah 1 kambing dapat dibeli dengan 1 dinar, atau 1 kambing dapat dibeli dengan 10 gram emas, atau 10 gram emas dapat dibeli dengan 1 dinar.  Kesetaraan. Bukan jender, tapi nilai uang dan barang.

Hingga awal abad 20, konsep ini masih berlaku. Setiap bank sentral suatu negara hendak mengeluarkan pecahan uang kertas maka mereka diwajibkan menyiapkan cadangan emas yang nilainya setara dengan jumlah uang yang akan dikeluarkan tersebut. Jadi uang adalah cerminan, atau fotokopian, atau salinan dari nilai emas yang ada dan tersimpan di bank sentral. Seolah-olah uang yang beredar di masyarakat adalah “surat utang” bank sentral kepada setiap pemegang uang bahwa para pemegang uang punya jatah emas yang disimpan oleh bank sentral dan sewaktu-waktu monggo aja kalau mau diambil.

Kecuali usai pertemuan Bretton Wood.

Secara historisis konteks ekonomi internasional, sebelum menggunakan sistem moneter Bretton Woods ini, basis pertukaran dunia menggunakan standar emas sebagai standar mata uangnya. Emas menjadi suatu alat tukar dalam perdagangan internasional. Negara-negara berlomba-lomba menyimpan kuantitas cadangan devisanya berupa emas di bank sentral mereka. Mata uang suatu Negara dikonversi dengan daya belinya terhadap emas. Pada masa itu perekonomian berjalan secara self-regulating dimana perekonomian secara natural bebas mengalir dalam bentuk uang dan investasi sesuai dengan azas Adam Smith laissez-faire yang menyerahkan perekonomian pada equilibrium pasar. Pada masa pre-Bretton Woods, selain emas, Negara-negara juga banyak mengkonversi mata uangnya dengan Poundsterling Inggris (yang sebenarnya adalah mata uang yang berbentuk perak) karena Inggris pada saat itu adalah Negara yang berkembang secara industrial (F, Deyanto).

Bentuk uang juga dapat berupa warkat atau sering disebut giral. Ada cek dan bilyet giro yang dapat dicairkan. Selembar kertas yang telah divalidasi dan nilainya dipersamakan dengan uang di dalam rekening seseorang. Warkat ini adalah cerminan rekening kita di bank. Jika rekening kosong, maka ada yang disebut “cek kosong”, cek dengan nilai tertentu yang tak dapat dicairkan karena rekening pemilik tak mencukupi nilai yang tertera.

Kemudian seiring perkembangan zaman, dunia maya memperkenalkan  uang digital, dengan masyarakat less-cash society, emoney maupun bitcoin.

Sejatinya ketika dunia maya memperkenalkan uang digital sejatinya uang sudah menjadi “maya-kuadrat” atau “mayaception”. Mengapa?

Uang justru kembali kepada khittahnya saat pertemuan Bretton Wood untuk menjadi maya dan tak nyata. Ia lepas dari alasan apapun untuk muncul. Saat ini bahkan fisik uang menjadi lenyap dan digantikan dengan bit-bit sinyal di atm, layar ponsel, maupun ebanking layar laptop dengan sedert angka-angka. uang tak membutuhkan fisik lagi sekarang. Cukup angka. Dan kita ternyata cukup puas dengan semua ini. Bank Sentral semakin senang. ndak perlu capek-capek cetak duit lagi.

Transfer uang bukan lagi masuk dalam amplop lalu dikirim oleh ponakan atau burung merpati yang diletakkan dalam lipatan surat cinta.

Pemalsu uang yang bingung ketika toko-toko ndak mau terima pembayaran cash melainkan via gesek atau transfer. Ada sisi positif juga sisi negatif. Seperti koin, selalu memiliki dua sisi (entahlah dengan bitcoin yang tak punya tampilan fisik). Perusahaan yang menerima pesanan cetak uang akan terancam bangkrut, karena menganggur ndak mencetak uang lagi. Atau setidaknya hanya mencetak uang ala kadarnya, misalnya untuk uang fisik baru dalam rangka hari raya untuk dijadikan angpau. Bahkan 5 tahun ke depan angpau akan lebih disukai jika berbentuk emoney atau flazz.

Sekarang mari kita ingat-ingat lagi, apakah kita benar-benar memiliki uang? Dan apakah uang itu riil?

Jika yang dimaksud adalah memiliki nilai-nilai angka rupiah tertentu? Iya. Kita dapat mengaksesnya via atm dan ponsel. Apakah kita memiliki fisik uang? Ndak mesti. Karena apa yang ada di dompet hanya ala kadarnya jika dibandingkan dalam rekening bank. Uang menjadi maya. Ia berkelindan dengan dunianya sendiri dalam alam digital. Semakin jarang ia menampakkan diri dalam bentuk lembaran uang kertas. Uang gentayangan dalam alam roh. Tanpa wujud namun selalu masuk dalam mimpi buruk dan mimpi indah setiap insan. Bahkan ada yang menjadi tujuan hidup untuk selalu bersamanya.

Uang bernilai karena sama-sama kita akui ia bernilai. Saat barang produksi langka bahkan tidak ada, termasuk makanan, minuman, dan kebutuhan pokok lainnya hilang dari pasaran, yang tersisa dari hidup kita adalah angka-angka dalam layar kaca ponsel kita, tanpa kita tahu bisa bermanfaat untuk apa. Uang kehilangan kesaktiannya. Ia tak mampu memiliki daya upaya membeli sesuatu. Nilainya menjadi anjlok dan semakin tak bernilai.

Contoh ekstrim lainnya, jika kita terdampar di pulau kecil sendirian, sinyal kencang dan bisa ebanking, tapi jauh dari mana-mana dan kita lapar. Go-food tak ada, nelayan yang mampir tak ada, maka kita hanya dapat menatap nanar layar ponsel kita. Angka-angka yang  tak bisa dimakan dan dijadikan tumpuan bertahan hidup. Kita mati kelaparan.

Uang tak dapat hidup sendirian. Ia harus berdampingan dengan “sesuatu lainnya” agar bernilai. Uang mustahil untuk hidup sendirian. Uang hanya terus menjadi bayang-bayang. Namun anehnya, kita sebagian menjadikannya sesembahan. Dan celakalah yang ternyata menuhankan uang. Karena tuhannya begitu getas, rapuh, dan tanpa ada daya upaya.

Jadi.. masih cinta mati sama Dia?

Salam anget,

LoiCayul

 

 

 

catatan:

Namun, tetap patut diakui, bahwa dunia fana sekaligus maya kekinian masih menomorsatukan uang dan terus berjaya. Karena semua orang masih sepakat sama-sama menjadi hal paling favorit setiap hari. Bisa nambah amalan atau nambah dosa. Bikin hepi atau bikin iri. Padahal ya gitu deh. Ndak nyata. Getas, Rapuh, seperti perasaan jomblo.

 

Assalamualaikum Tanpa Waalaikumsalam

“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
“Silakan duduk, pak.”
“Terima kasih.”
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya mau bayar zakat fitrah, mbak.”
“Baik, pak. Sudah tahu ya hitungannya?”
“Sudah.”
“Buat berapa orang, pak?”

Dia terdiam.

“Pak?”
“Ya?”
“Bapak bayar zakat untuk berapa orang?”
“Oh, untuk satu orang, mbak.”

Kali ini giliran perempuan itu yang terdiam, sambil melihat cincin yang melingkar di jari manis orang yang duduk di hadapannya. Tanpa sadar dia terus menerus melihat, membuat orang di depannya kikuk. Buru-buru dia mengeluarkan formulir dan mulai menulis.

“Silakan bapak tulis nama, lalu alamat email atau nomer telpon. Nanti tanda tangan di bawah.”
“Bayarnya harus tunai?”
“Bisa pakai kartu debit juga, pak.”

Lalu dia keluarkan dompet dari saku celana. Saat membuka dompet, ada foto sepasang pria dan wanita yang tersenyum lebar. Baju mereka putih. Sang wanita berdandan lebih tebal dari kebanyakan perempuan lain. Tak sengaja dia melihat foto itu, dan semakin mengernyitkan kening. Tapi buru-buru ia tepis praduganya.

“Ini kartu debitnya.”
“Baik, pak. Silakan PIN-nya.”

Dia memasukkan PIN ke mesin debit.

“Ini kartu dan bukti debitnya. Ini formulir zakatnya, untuk satu orang ya pak. Sekarang kita baca doa. Sudah tahu doanya, pak?”
“Tahu, tapi saya tidak hafal, mbak.”
“Oke, kalau begitu kita sama-sama baca doa dulu ya, pak.”

Berdoa selesai.

“Sudah selesai pak, pembayaran zakatnya. Ada yang lain bisa saya bantu?”
“Uh … Di sini buka terus ya? Dari jam berapa sampai jam berapa, mbak?”
“Setiap hari, pak, sampai dua hari sebelum Lebaran. Dari jam 10 pagi sampai jam 8 malam.”
“Mbak yang jaga terus setiap hari?”
“Ada yang gantian jaga, pak.”
“Oh …”
“Kenapa, pak?”
“Nggak apa-apa, mbak.”

Kembali dia terdiam.

“Pak?”

Dia hanya tersenyum.

“Maaf. Saya harus pergi dulu, mbak. Terima kasih bantuannya.”
“Terima kasih juga, pak.”
“Erm, assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”

Dia bangkit dari kursi stand pembayaran zakat. Beberapa puluh meter melangkah, dia membalikkan badan. Penjaga zakat sudah melayani tamu lain. Dia membalikkan badan kembali untuk berjalan pulang.

Sepanjang jalan, dia duduk di jok belakang mobil. Dia memainkan cincin di jari manisnya. Dia menghela nafas, sambil sesekali melihat jalanan di luar. Hujan deras membuat kemacetan semakin bertambah. Dia merebahkan diri. Lalu seperti teringat sesuatu, dia menegakkan tubuhnya lagi. Jangan tidur sekarang, pikirnya. Nanti saja begitu sampai di rumah.

Satu jam kemudian dia sampai.
Dia keluarkan kunci dari saku celana. Dia buka pintu.

“Assalamualaikum.”

Hening. Dia nyalakan lampu. Dia buka sepatu. Dia menuju kulkas.

Tak ada jawaban. Dia tidak menunggu jawaban.

Toh sehari-hari sudah biasa seperti itu. Hari-hari sejak delapan bulan lalu tepatnya. Ada salam yang tak pernah terbalas. Dan tak akan pernah terbalas.

Salam yang selama bertahun-tahun selalu terjawab saat dia pulang atau saat dia janji bertemu. Salam yang pernah dia harus tunggu sampai delapan minggu setelah sang penjawab salam harus pergi tiba-tiba. Dan tak pernah kembali.
Sementara dia hanya bisa memainkan cincin yang selalu dia pakai, meskipun tak bermakna lagi.

“Who am I kidding here?”, ucapnya dalam hati, sambil menghempaskan diri ke sofa.

Seperti biasa dia hampir terlelap di depan televisi.

Tiba-tiba ponselnya bergetar.

Sebuah pesan singkat masuk.

“Assalamualaikum. Pak, saya petugas zakat yang tadi sore melayani Bapak. Bolpen bapak ketinggalan. Bisa saya antar ke mana ya?”

Dia tersenyum.

7dbbfe0ab24618c8a404636dd3b8157d

Percaya Sejak Awal

KEGIATAN itu disebut kelas katekisasi pranikah bagi umat Kristen dan Katolik, atau dinamai persiapan pranikah dalam komunitas agama lain. Berupa serangkaian sesi kursus singkat yang berlangsung dengan durasi beragam, mulai dari cuma hitungan jam sampai sepanjang enam bulan.

Sesuai namanya, kelas-kelas tersebut diselenggarakan di dalam lingkungan tempat ibadah. Diikuti oleh para pasangan yang berencana menikah, dan diisi berbagai paparan keagamaan serta diskusi topik-topik terkait. Bertujuan agar peserta bisa lebih siap menyongsong kehidupan pernikahan, dan mampu mengarunginya dengan kelanggengan yang religius. Termasuk supaya menghindari munculnya sebab-sebab perpisahan, apalagi perceraian.

Sejauh ini, ada pengurus tempat ibadah yang mewajibkannya sebagai prasyarat pemberkatan pernikahan. Tetapi ada pula yang keikutsertaannya bersifat sukarela, agar tidak muncul kesan bahwa lembaga keagamaan mempersulit para calon pengantin. Terlebih untuk agama maupun mazhab minoritas. Sebab pada dasarnya, pernikahan (maupun perceraian) tetap merupakan hak individual secara penuh, sedangkan agama berperan normatif dan seremonial saja. Hanya mengatur tentang tata cara. Padahal di sisi lain, kelas-kelas persiapan pranikah bisa menjadi jembatan komunikasi yang paling krusial bagi para calon suami istri.

Kelas-kelas persiapan pranikah yang demikian tidak sekadar menyebar ceramah tentang dogma, melainkan jadi semacam sesi konseling yang memungkinkan mereka–calon pengantin–saling terbuka dan jujur, sampai benar-benar siap dengan apa pun yang bakal dihadapi. Untuk itu, mereka akan dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang paling personal sekalipun, tentu tanpa bermaksud untuk merendahkan. Pertanyaan-pertanyaan dengan jawaban mencengangkan, yang barangkali belum pernah disampaikan sebelumnya.

Beberapa di antaranya seperti berikut.

“Apakah kamu sudah pernah melakukan hubungan seksual? Jika pernah, dengan siapa?”

“Berapa besar penghasilan dan pengeluaranmu per bulan?”

“Apakah kamu bisa dan mau bekerja?”

“Apakah kamu siap punya/tidak punya anak?”

“Apakah kamu bermasalah dengan keluarga?”

“Apakah kamu bermasalah dengan keluarga pasanganmu?”

“Apakah kamu memiliki kebiasaan buruk?”

“Apakah kamu memiliki penyakit tertentu?”

“Apakah kamu pernah berselingkuh?”

“Apakah kamu benar-benar menginginkan pernikahan ini? Kenapa?”

“Apakah kamu benar-benar siap untuk menikah? Kenapa?”

“Apa yang tidak kamu sukai dari pasanganmu? Kenapa?”

dan sebagainya…

Pertanyaan-pertanyaan di atas menjadi sangat penting, karena mereka akan segera menikah dan menjadi satu kesatuan yang sakral secara agama. Prinsipnya sama seperti premarital check up atau pemeriksaan kesehatan menyeluruh sebelum menikah, demi mengetahui dan mengantisipasi segala kemungkinan yang bisa terjadi demi kebaikan bersama. Kalaupun nantinya bisa terjadi apa-apa, toh secara logika masih jauh lebih baik putus menjelang pernikahan, ketimbang telanjur menikah, menyesal kemudian, dan merasa enggak bisa berbuat apa-apa. Lantaran lebih banyak yang memilih tahan malu dan sakit hati, ketimbang berani bersikap dan unjuk diri.

…dan rasa-rasanya, sudah ada beberapa tempat ibadah di Jakarta yang berani menghadirkan kelas katekisasi seperti ini. Setidaknya gratis, dan bisa jadi semacam pencegahan. Meski risikonya adalah protes dan rasa benci dari para orang tua yang gagal berbesanan.

Masalahnya, seberapa siapkah kamu untuk ikut di dalamnya?

Seberapa siapkah kamu untuk sungguh-sungguh bisa percaya?

[]

Petualangan Benny dan Tini

Aku itu tidak pernah mudik lho. Oya? Emang orang tuamu asli Bandung ya? Iya. Bahkan sampai kakek buyutku semuanya asli dari Bandung. Kamu emang kalo mudik kemana sih? Oh. Kalo aku sih mudiknya ke Tasik. Atau ke Sumedang. Itu kampung halaman dua orang tuaku. Seru ya. Enak ya bisa mudik. Pengen deh sekali-kali mudik. Yaudah mudik ke sini aja. Ayo mau gak? Kita kan belum pernah ketemu juga. Emang kamu Bogornya sebelah mana sih? Tuuuuuutt..

Njing! Brengsek! Benny banting telponnya ke kasur. Lalu dia bangun dan ambil kembali henponnya. Benny pencet *666#. Lalu pencet Cek Kuota. Tertera di layar henpon TiPhone-nya yang sudah butut: Sisa kuota Paket Cepet Banget Deh Rp 50rb Anda sudah habis. Silakan isi ulang. Info hubungi 666. Ini paket emang cepet banget abisnya. Tukas Benny dalam hati. Telco bangsat.

Hallo? Tini? Eh. Maap. Tadi pulsanya abis. Hehehehe. Ih. Kenapa gak ngomong. Padahal kan bisa Tini telpon balik. Mumpung kenceng ini wifi. Ah. Gapapakoq. Jadi bener nih kamu nantangin aku datengin ke Bogor. Yakalo punya nyali sih. Kalo gak punya sih gak usah. Deal!

carpenters

H+2. Jam 4 pagi. Hujan rintik-rintik. Benny sudah memanaskan motornya. Seminggu sebelumnya dia sudah servis motor bebek keluaran Jepang di bengkel kesayangan dekat rumah. Liat speedometer. Ah bensin abis. Jam 4:30 dia pun berangkat setelah berpamitan kedua orang tuanya. Mampir dulu ke pom bensin terdekat. Full, Kang. Siap. Bade kamana, Kang. Meni nyubuh. Ka Bogor, Kang. Nuhun, Kang. Beni melipir setelah bensin penuh terisi. Dia menyalakan lagu di henpon. Dengerin Mbak Karen ah. Dia pencet The Carpenters. Pencet play. Lalu dia buka aplikasi Whatsapp. Aku udah mau jalan ini, Tini. Tiga jam lagi kita bertemu. Jangan lupa mandi ya :p Beni masukan henpon ke saku jaketnya. Lalu dia mulai perjalanan untuk menemui Tini yang belum pernah liat wujud fisiknya. Padahal sudah tiga bulan dia berkomunikasi.

Sudah di Padalarang. Yes. Sebentar lagi masuk Cianjur. Hujan masih turun. Rintik-rintik. Benny tidak peduli. Dia tidak sabar ingin bertemu. Dia memacu motornya. Ciranjang. Yes. Jalanan agak padat. Mungkin banyak yang mau berlibur ke Taman Safari. Ujarnya dalam hati. Dia susul satu per satu mobil di depannya. Kaca helmnya burem. Kena rintik hujan. Dia usap dengan jari tangan kirinya. Lalu dia lihat ada motor RX King dari arah depan dengan kecepatan tinggi menuju arahnya yang berusaha menyusul Toyota Avanza di sebelah kanan jalan. Sebelah kiri jalan padat mobil beriringan. Benny tak punya banyak waktu dan pilihan. Dia melambat dan menunggu motor itu menubruknya. Brak! Beni cuma bisa menahan helmnya agar tidak lepas. Motornya oleng terpelanting ke kanan jalan. Badan Benny melayang ke sebelah kiri jalan. Duk! Kepalanya yang berbalut helm mengenai bumper besi mobil Kijang Innova. Tubuhnya terjerembab, bergulingan dan tersungkur di pinggir jalan. Beni mengerang kesakitan. Banyak mobil berhenti. Motor pun begitu. Orang-orang yang sedang menunggu warung di sepanjang pinggir jalan datang untuk menolong Benny.

Benny tak bisa menggerakkan badannya. Sakit sekali. Remuk. Darah mengucur keluar dari balik helmnya. Benny sekuat tenaga merogoh henpon. Orang-orang mengerubunginya. Terdengar berisik. Tapi Benny tak bisa mendengar percakapan mereka. Dia buka Whatsapp. 213 unread messages. Grup jahanam. Dia pencet nama Tini. Dia baca pesannya. Iya. Hati-hati ya. Aku udah gak sabar ketemu kamu. Benny tersenyum tapi matanya berair dan satu bulir air mata menetes ke layar henponnya. Darah mengucur dari tangan menuju jempolnya. Benny dengan tenaga yang hanya sedikit tersisa berusaha balas pesan dari Tini. Maaf, kita belum bisa bertemu hari ini. Klik send. Benny pun lunglai tak sadarkan diri. Ramai-ramai para warga menggotong Benny ke tempat yang lebih nyaman. Lagu dari The Carpenters masih terdengar sayup dari earphone-nya. “Before the rising sun we fly.. So many roads to choose.. We start out walking and learn to run.. And yes, we’ve just begun..”

Oh. Jadi kamu pacaran sama Si Beni anak Bandung ini tapi kamu belum pernah ketemu orangnya? Yagitudeh, Mah. Koq bisa sih. Anak jaman sekarang koq aneh. Mereka sedang berbuka bersama di rumah. Ya bisa dong, Mah. Ini kan udah abad 21. Emang jaman Mamah yang masih pake kartu pos dan wesel. Papah Tini yang sedang ngemil combro nyeletuk sambil nonton TV. Kurang ajar! Hahaha. Tini dan Papahnya tertawa. Terus kamu gak ada rencana ketemu dia? Tini terdiam sebentar. Ada sih. Kalo jadi H+2 nanti Benny mau kemari. Oh. Coba Mamah pengen tahu orangnya kayak gimana. Ganteng koq, Mah. Percaya deh. Ah. Kamu ini belum ketemu aja koq bisa bilang ganteng. Kalo kayak Brad Pitt itu baru ganteng. Nanti kenalin ya kalo dia jadi kemari. Pasti, Mah. Wajah Tini sumringah. Lalu dia ambil henponnya. Dia ingin segera kasih kabar baik ini ke Benny.

Yang Polos Belum Tentu Mudah

oleh: Suprihatin

Kitab Suci Kesatria Cahaya yang digurat Paulo Coelho menuliskan sebuah mantra: “Solve et coagule”. “Larutkan dan kentalkan, pusatkan dan pancarkan kekuatanmu sesuai dengan situasi”. Begitulah, bahwa ada kalanya kita masuk dalam sebuah kondisi di mana kita perlu bertindak. Namun ada kalanya pula saat-saat di mana kita hanya perlu menerima…

 

march-dash-easy-ways-corn-omelet-ftr

Yang Polos Belum Tentu Mudah

“Mas, kalau pesan yang polos bisa?”

“Ya bisa bu, tapi lama…”

Potongan dialog itu terjadi tepat di sampingku saat mengantre pesanan omelet untuk teman sarapan di hotel. Seorang perempuan berbusana anggun bertanya dengan berhati-hati kepada koki hotel yang sedang mengaduk omelet dan kemudian menjawab dengan alis yang berkerut. Dari nada suaranya yang sangat berhati-hati aku merasakan keengganan dalam pertanyaannya. Sepertinya ia sudah tahu jawaban dari pertanyaannya itu. Selain itu pesanan itu bukan untuknya. Itu pesanan kawannya yang enggan ikut mengantre.

Alhasil, benarlah apa yang diramalkan tuan pikiran. Jawaban sang koki seperti yang ia duga. “Bisa, tapi lama…”. Ini semacam jawaban yang mengambang: antara ya dan tidak. Tidak menolak, tapi juga tidak menerima.

Mengapa yang polos menjadi tidak mudah?

Begini,

Pagi itu tamu hotel yang menggunakan jatah sarapannya cukup banyak. Atau malah terlalu banyak. Bahkan beberapa kawan lain yang mengikuti konferensi terpaksa dialihkan ke hotel lain karena tidak tertampung. Di antara para tamu, cukup banyak yang ingin menjajal omelet. Entah itu karena cara memasaknya yang khas, atau karena aromanya yang menggoda selera. Pagi itu koki menggoreng omeletnya dengan menggunakan dua wajan kecil. Satu ia gunakan untuk menggoreng isian, satu lagi ia gunakan untuk menggoreng omeletnya. Setelah tumisan isian siap, ia akan memindahkannya ke wajan lain lalu menciduk telor dan mengaduk-aduknya beberapa kali. Setelah itu ia kembali mengisi wajan yang tadi ia gunakan, untuk menumis isian yang baru. Pada wajan yang sudah berisi telur, koki membagi adonan telurnya menjadi empat: satu ke depan, satu ke belakang, satu ke samping kiri, dan satu lagi ke samping kanan. Adonan itu lalu digulung dan dipindahkan ke piring-piring yang disodorkan para tamu –termasuk saya– yang sudah mengantre lebih dari 10 menit.

Saya mengamati koki bekerja dengan runtut, sistematis, seolah-olah pekerjaan itu merupakan sebuah tatanan yang memang seharusnya demikian. Tatanan –yang terdiri dari menggoreng isian, memasukkannya dalam wajan, menambahkan telur, dan menggoreng isian yang baru, lalu memasukkannya dalam wajan, menambahkan telur, dan menggoreng isian yang baru– ini buyar ketika kemudian ia harus melayani permintaan satu omelet polos.

Sambil berlalu menerima omelet 10 menit jatah saya, terdengar suara seorang ibu bertanya atau lebih tepatnya mengomel:

“Pesanan saya mana Mas? Kok lama banget?”

Sebuah pertanyaan yang kosong-hampa-pecah, di antara deretan pengantre yang saling pandang dan bergumam: “Yo antre”.

[]

*) Suprihatin, Pengajar, Penulis, dan Penyunting Lepas.

Menurutnya:

Sebagai penulis dan penyunting lepas, saya antusias terhadap berbagai jenis tulisan. Terbiasa bekerja teratur, sistematis, namun terbuka terhadap perubahan, ide dan konsep baru. Cukup inovatif dan berfokus terhadap solusi. Mampu bekerja sama dalam tim maupun individual.

Sebagai pengajar saya adalah sekaligus pembelajar. Sekadar ingin berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Ybs dapat dihubungi melalui meetitien@gmail.com

 

THR Hello Kitty

Pagi-pagi, tiga OB kantor datangi mejaku. Minta THR tambahan. Tambahan dari THR utama yang mereka dapatkan secara wajar dari pekerjaannya. Buat mudik katanya. Mereka minta Rp. 250,000,- aja; cukup untuk naik bus ke kampung.

Biar ndak melanggar aturan kerja dan keimanan, aku kasih dua tantangan. Pertama:

Carikan aku AMIDIS HELLO KITTY sebelum jam tiga sore. Yang berhasil akan memenangkan Rp. 1,000,000. Hanya untuk satu orang yang paling cepat.

image

Sekitar jam dua siang, satu OB masuk ruangan, bawa AMIDIS HELLO KITTY. Dua lainnya belum kembali. Cari AMIDIS HELLO KITTY entah kemana. Satu orang kembali jam tiga lewat sepuluh menit, tangan kosong. Terakhir muncul jam empat dua puluh menit, juga tangan kosong. Jam setengah lima sore kami berkumpul untuk penyerahan uang pemenang. Lalu, tantangan kedua:

Pemenang silakan berbagi pada kedua kawannya.

Pemenang: “dibaginya berapa-berapa pak?
Aku: “terserah. Seiklhas kamu aja.
Pemenang: “tapi Pak, ini kan hak saya? Si Bandi sama Jun kan gak dapet barangnya!
Aku: “nah, sekarang kamu ada di posisi aku waktu kalian datang minta THR tambahan.

Padahal ya, dia bisa beri kedua kawannya masing-masing sesuai permintaan, Rp. 250,000. Lalu, bawa pulang dua kali lipatnya. Sayang, Ramadan ndak berpengaruh banyak untuk jiwa pemenang.

Cerita Makanan

Minggu lalu saya merapikan album foto di ponsel. Setelah saya amati dengan seksama, ternyata sebagian besar diisi dengan foto-foto makanan. Dan setelah saya perhatikan lagi, ada beberapa makanan yang memiliki lebih dari tiga foto. Artinya saya makan berulang kali dan setiap kali memakannya saya merasa wajib untuk memotretnya. Inilah yang kemudian menjadi syarat untuk saya masukkan ke dalam daftar My Favorite Food. Beberapa ada yang saya temukan sendiri, ada dagangan teman, ada hasil membaca di internet dan sebagainya. Karena saya termasuk pemalas jalan, maka sebagian besar makanan yang di daftar ini saya peroleh berkat jasa GoFood.

1. Nasi Sego Madre

MADRE

Ternyata Nasi Sago Merah ini yang paling sering saya pesan. Di lidah saya, semuanya pas. Nasinya pulen dan lauk di atasnya pun nikmat. Ada yang Ikan Tuna Asap Rica-Rica dan Ayam Kampung Suwir Sambel Ijo. Dari segi harga pun sangat bersahabat. Satu bungkus Nasi Sego Madre ini dijual seharga Rp 25.000,- saja. Dibungkus daun dan dalam plastik yang membuatnya praktis buat dibawa ke mana pun. Selain Nasi Sago, Madre juga menjual asinan yang tak kalah nikmatnya.

Untuk memesannya, mesti sering-sering cek FB: Madre Homemade atau IG: @madrehomemade atau langsung kontak  WA 0816 1146718 / 0856 8892998

2. Pho Saigon Delight

2015-11-29 08.17.58

Saya penggemar berat makanan Vietnam. Terutamanya Pho. Rasanya yang menyegarkan membuatnya cocok buat dimakan kapan saja. Terutamanya pas lagi bingung mau makan apa. Yang paling sering saya pesan antar dari Saigon Delight. Kuahnya menyegarkan, dan tidak menggunakan MSG sehingga tidak bersisa di lidah. Selain memang Chefnya asli dari Vietnam, Saigon Delight juga menggunakan banyak dedaunan asli Vietnam yang tak bisa dijumpai di restoran Vietnam lain di kota ini. Kalau biasa memesan Pho Ayam atau Daging, coba Pho Vegetarian yang nikmat dan memiliki sensasi ringan yang berbeda. Banh Minya pun nikmat dan menyegarkan. Favorit saya? Banh Mi Cold Cuts.

Harganya memang sedikit mahal, satu porsinya sekitar Rp 70.000,- Tapi karena porsinya besar, saya bisa memakannya dua kali. Lokasi Restorannya berada di The Bellagio Mall Kav E4/, Jl. Mega Kuningan Barat, Duren Tiga, Jakarta Selatan. Untuk delivery +62 21 30066192

3.  Bakmi Kangkung Si Jangkung

IMG_8871

Kalau sedang di Grand Indonesia seorang diri, dan bingung mau makan apa, pilihan saya selalu jatuh pada Bakmi Kangkung yang letaknya ada di Food Louvre ini. Saya lebih suka bihunnya ketimbang bakmi. Dan biasanya saya minta ekstra kuah dan lebih sedikit bihun. Dengan jeruk limau dan sambalnya, sambil minum es teh tawar, beban hidup sedikit terlupakan 🙂 Dan kalau masih kurang kenyang, Si Jangkung juga menyediakan Siomay yang tak kalah nikmatnya.

Lokasinya di Skybridge Food Louver, Grand Indonesia, Lantai 3, Jl. M. H. Thamrin No.1, Jakarta 10310.

4. Bakmi Yong Yam

IMG_6044

Bisa dibilang inilah makanan paling nyaman yang hampir saya pesan setiap Minggunya. Terutama sejak ada GoFood karena lokasinya yang agak jauh. Bakmi resep Singkawang ini keistimewaannya ada pada tekstur bakminya yang pas, tumisan daging manis dari karamelisasi gula serta sapi kontet cincang yang dipadatkan di atasnya. Biasanya saya menambahkan pesanan Pangsit. Karena dalam seporsi Pangsit itu juga ditambahkan cacahan daging sapi kontet padat yang bisa saya tambahkan sendiri saat makan. Harga Bakmi YongYam spesial ini, Rp 28.000,-. Kalau ditambah Pangsit Rp 25.000,- dan Gojek sekitar Rp 25,000 maka tak sampai Rp 100.000 saya bisa dua kali makan. Hari Minggu pun tinggal leyeh-leyeh seharian.

Lokasi: Jl. Mangga Besar Raya No. 116A, seberang Rs. Husada.

5. Oden – Papaya

IMG_7224

Oden semacam kuah campur dari Jepang. Kuahnya sendiri adalah kaldu yang dicampur Dashi, semacam penyedap rasa yang biasa digunakan di berbagai kuah Jepang. Isinya beragam, ada potongan labu, tahu, bakso ikan, telur dan lainnya. Favorit saya adalah yang siap saji dari Supermarket Papaja. Dengan harga di bawah Rp 50.000,- dan rasanya yang benar-benar menyegarkan, menjadikannya pilihan aman setiap saat. Kadang saya makan begitu saja, kadang saya tambahkan bihun atau konyaku noodle kalau ada dan taburkan sedikit cacahan daun bawang.

PAPAYA SUPERMARKET Jl. Melawai No.28, RT.3/RW.1, Melawai, Jakarta Selatan, T. +62 21 72793777

6. Nasi Pecel Ramidjan

IMG_2024

Saya belum banyak mencoba Pecel yang ada di kota ini. Yang membuat saya jatuh hati pada Pecel Ramidjan adalah rasanya yang halus dan sopan. Saya bukan penyuka pedas yang berlebih atau gurih berlebih. Makan di tempat atai delivery menggunakan GoFood membuat Pecel Ramidjan pilihan utama kalau saya rindu masakan rumahan. Biasanya saya selalu minta tambahan Brongkos dan Kreceknya. Saat memakan pun saya pisahkan karena saya tidak suka nasi Pecelnya banjir.

Pecel Ramidjan, Jalan Professor Joko Sutono SH No.3, Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, T: +62 21 7208448

7. Cheetos Puffs Cheddar Cheese

IMG_0085

Saya penggemar cemilan atau yang seperti tertera di kemasannya, makanan ringan ekstrudat. Kegemaran saya selalu berganti dari waktu ke waktu. Tergantung apa yang terbaru dan tersedia di supermarket. Belakangan ini saya tergila-gila pada Cheetos Puffs Cheddar Cheese ini. Kalau ada yang sebelum ini suka dengan Puffs import dengan harga selangit, bisa mencoba versi lokal yang sama nikmatnya. Untuk menambahkan sedikit kenikmatan, saya menaburkan bumbu Italian, yang biasanya saya dapatkan dari IG: @si_mir

Jarang terlihat karena sepertinya laku keras. Dapatkan di Supermarket, mini market, hyper market terdekat di kota Anda.

8. Texas Fried Chicken

IMG_7928

Saya percaya, makanan tak bisa dinilai hanya dari enak atau tidak enak. Tapi lebih seringnya ada cerita atau sejarah yang menyertainya yang menjadikannya istimewa. Texas Fried Chicken adalah salah satunya. Dari saya SD, ayam goreng Texas ini menjadi favorit melebihi franchise dari luar yang juga tersedia saat itu. Ditambah lagi mereka menjual ati dan ampela gorengnya juga. Setiap kali saya makan di sini, saya selalu bernostalgia. Aroma pasar Blok M lokasinya dulu, suara-suara keramaian, suara ibu saya yang saat memesan dan membayar serta kegembiraan saat mengunyah kulit ayamnya, kembali dengan manisnya dalam ingatan.

Ada 3 cabang, yang paling sering saya kunjungi berada di Jl. Cikini Raya No. 60 A. Kalau ke sini, jangan lupa pesan es kopinya yang juga nikmat dan menyegarkan.

6. Affogato Pannacotta Etc.

IMG_6738

Kadang saya ingin ngopi tapi saya juga ingin makan dessert tapi saya tak ingin mengeluarkan uang terlalu banyak. Beruntunglah di Pannacotta Etc., Affogato yang ditawarkan menggunakan Pannacotta sebagai gantinya es krim yang lazim digunakan. Jadi daripada memesan Espresso dan Pannacotta terpisah dan jadinya lebih mahal, pesan saja Affogatonya. Paket 2 in 1 yang bisa memuaskan kedua keinginan dengan satu harga. Psstt… ini adalah salah satu trick yang hanya tadinya hanya saya bagikan ke teman-teman terdekat.

Lokasi yang paling sering saya kunjungi yang di Pacific Place. Dengar-dengar, cabang yang di Senayan City sudah ditutup. Pacific Place Lantai 4, Jl. Jend. Sudirman, T :+62 21 57973540

10. Papaya Bakery

2015-12-26 08.07.41

Jujurnya saya tidak ingat apa nama toko kue yang terletak di dalam Supermarket Papaya ini. Dari selama ini mencoba, sepertinya hampir tidak ada yang tidak enak. Terutamanya bagi yang suka kue dengan tekstur ringan dan tak giung. Pilihan utama saya ada pada Coffee Jellynya. Rasanya kopinya benar seperti rasa kopi, bukan perasa. Tekstur jellynya pun pas. Sebenarnya kue-kue ini cocok buat dimakan sendiri atau hantaran. Dari tampilannya yang serius pun terlihat niatnya. Saran saya, selalu hanya membeli kue dari toko kue yang ramai. Karena itu berarti perputaran kuenya pun cepat dan kita selalu mendapat kue yang baru jadi.

Papaya Fresh Gallery, Jl. Melawai No.28, RT.3/RW.1, Melawai, Jakarta Selatan. T: +62 21 72793777

 

Ludahku Ibadahku


Farhan bingung. Ludah di dalam rongga mulutnya semakin bertambah. Pak Haji yang sedang berkhotbah tak diindahkannya sama sekali.

“Telan. nggak. telan. nggak. telan? Kalau ditelan nanti aku batal. Tapi eh. Tapi ini kan ludah sendiri. Masa batal sih. Tapi eh tapi kalo jumatan mulut penuh gini, gimana aku konsen. Sial! Terus mau dibuang kemana coba?” 

Sepanjang duduk jelang sholat jumat pikiran Farhan tak tentu arah. Dia gelisah. Setidaknya berkecamuk dalam pikirannya apakah ludah sendiri dalam mulutnya boleh ditelan tanpa membatalkan puasa. Dia ragu. Apakah jika sepanjang sholat dalam kondisi mulut penuh ludah yang semakin banyak akan mengganggu konsentrasi dalam beribadah. Dia mengingat-ingat semua perkataan guru madrasahnya. Dia berusaha memastikan apakah ayahnya atau ibunya pernah bahas soal air ludah di bulan puasa. Dia hanya ingat perkataan ayahnya:

“Kalau mas Farhan lulus, tidak ada bolongnya, satu kalipun, Ayah nanti belikan Mas Farhan iWatch.”

BOOM! Saat itu Farhan bereaksi dengan tanpa reaksi berlebih. Kalem. Biasa saja. Wajahnya lurus. Tanpa mimik muka berlebihan. Padahal dalam hatinya, ada seekor tupai muda yang kesana-kemari menari, melompat-lompat, menyulut petasan, berlari keliling monas. Lalu membeli bensin. Menuangkan dalam botol kaca. Menyulut sumbu dari kaos dalam bekas, lalu melemparnya di antara ibu-ibu gendut pegawai BUMN yang berkeringat, berjilbab, menggerakkan pinggul mereka yang sebesar drum aspal, dan semerbak bau gorengan di antara basah ketiaknya. BOOM! Farhan melempar molotov. Ibu-ibu BUMN menjerit. Dia tertawa! Hahaha. Farhan melayang-layang membayangkan seluruh teman SMP-nya akan terkagum-kagum saat halal-bihalal di hari pertama masuk sekolah. Farhan, pria terkeren dengan iWatch hitam di pergelangan kirinya. 

Glek! Tanpa sadar. Diakui atau tidak, ada sepercik ludah yang terkumpul dalam rongga mulutnya tertelan saat membayangkan iWatch dan serpihan tubuh ibu-ibu BUMN. 

Gawat!”

Mulutnya sudah semakin menggelembung. Penuh ludah. 

“Duh apa ya kata Pak Mursid soal nelen ludah. Aku lupa. Sial. Bentar-bentar…”

Ludah kan produksi lidah sendiri. Eh bawah lidah sendiri. Eh kelenjar ludah dimana aja lah yang penting mulut. Terus keluar. Apakah wajib dikeluarkan? 

“Kampret!”

“Gara-gara nyadar ada ludah jadi bingung mau ditelen apa gak nih. Coba gak sadar dan gak mikirin ini. Pasti gak sengaja dan gak nyadar sebagian juga ketelen. Kan gak sadar.”

“Kampret!”

Gak enak emang. Kayak mikirin napas. Tarik. Buang. Tarik. Buang. Coba pas lupa. Coba pas lagi gak inget atau bahas soal nafas. Gak disuruh dan gak pake tenaga juga napas dengan sendirinya. Gak enak banget pas inget. Tarik napas kayak disuruh. Buang napas juga.”

“Hih!

Sial

Farhan masih berpikir dan terus mengingat-ingat. Pak Haji sedang menengadahkan tangan di atas mimbar dan memimpin doa pada khotbah yang kedua.

“Busyet dah. Sial dah. Aku mau bilang amin aja kagak bisa. mulut dah penuh ludah gini.” 

“Ini kan ludah aku sendiri. Harusnya gak papa dong ditelen. Gak bikin ilang haus juga. Eh agak mendingan sih. Basah-basah dikit. Toh gak minum dari aer keran kayak jaman SD dulu. Toh gak diem-diem minum segelas aer dingin dari botol di dalam kulkas”. 

“Tuhan kan maha pemurah. Masih aci lah. Sama malekat masih itungan dong walau nelen.”

“Sial!”

Kondisi mulutnya sungguh memprihatinkan. Menggelembung. 

Udah kayak ikan mas koki kali ya”.

Lalu petaka itu datang. Muadzin sudah mengumandangkan Iqomah. Seruan agar jamaah siap-siap untuk sholat. Sebelah Farhan, seorang anak muda dengan mengenakan sarung aroma molto sudah berdiri. Farhan gelisah. Farhan ragu. Dia berpikir apakah kopiahnya saja yang dia tanggalkan dan dijadikan wadah sementara membuang ludahnya. Di saat terjepit malah pikirannya semakin menjadi-jadi. 

Masih untung sih ya. Coba tadi pas sahur jadi makan ikan asin. Terus eh ikan asinnya ada yang nyelip di gigi. Terus gak sengaja kejilat lidah. Pasti batal. Iya  kan batal kan?” Sembari menerawang, lidah Farhan ikut menjelajahi geliginya. Sadar atau entah tak sadar. Mendadak iya dapat membaui aroma ludahnya sendiri. 

Bah! Bau pesing.”

Dia membatin penuh kesal. Ludah dalam kondisi penuh dan dia harus berjalan karen diminta seorang bapak-bapak untuk maju ke depan. Merapatkan barisan. Dia maju. Mulutnya penuh. Farhan memelihara gunung Semeru. Lava dan ludah. Amarah dan sebal. Tapi berharap tidak mau batal puasa. 

iWatch, tunggu aku. Kubereskan dulu urusanku ya. Aku pasti ak…”

ALLAHU….AKBAR“, suara Pak Haji menandakan sholat jumat dimulai. 

Farhan kaget. Dengan latah dia pun menarik tangannya untuk melakukan gerakan takbirotul iqrom dan dengan lantang menyeru: “ALLAHU..

BYAR! Semua ludah dalam mulutnya tumpah. Bagai lava yang muncrat dari bibir kawah candradimuka. Farhan kaget. Farhan malu. Farhan merasa semua ludah membasahi dada, muka, mata, hidung, dan..

“Han.. han, ayo sahur. Ahahaha. Kamu ngeludah sambil tidur ya?” Fikar, kakaknya tertawa melihat seluruh wajah Farhan penuh dengan air ludah yang dimuncratkan ke atas. Lalu kembali lagi ke mukanya. Farhan bingung. Lalu tersenyum. Ada perasaan, entah apa, dalam dirinya, justru merasa bahagia. 

Han, ibu bikin sambal terasi dan goreng ikan asin nih. Ayo nak lekas kemari”. Suara ibunya memanggil dari ruang makan. 

Untuk beberapa saat Farhan sepertinya berhasil melupakan iWatch…

..dan ludahnya.

[]

Jakarta, 18 Juni 2016