Caper Baper Kuper 

Sudah banyak barista yang pandai menyeduh kopi. Tapi jauh lebih banyak baperista, yang sering menyedih. 

Ada yang bilang jika anak kelahiran 70-80’an jago soal caper dan anak kelahiran 90’an lebih jago soal baper. 

Ketika informasi sedemikian mudah didapat maka ada baiknya yang kita lakukan adalah memilah dan memilih. Oleh karena itulah linimasa cukup memberikan satu tulisan baru setiap hari. Tidak perlu dua. 

Hingar bingar informasi membuat kita terlalu sibuk untuk banyak mengunyah sesuatu tanpa sempat memastikan apakah kita memang perlu. Datang silih berganti di layar televisi, radio, dan saat ini, gawai kita sendiri. 

Sebelum huruf X’ terucap atas respon informasi X, mata dan telinga kita sudah dijejali informasi A sampai Z. Lalu kita terlanjur bangga atas banyaknya info yang diterima. 

Padahal informasi sama seperti udara. Ada yang kualitasnya baik, dan nyaman dihirup, namun jauh lebih banyak yang mengandung polusi bahkan bersifat racun. Bahkan ketika kita pilih informasi sesuai minat saja pun variannya banyak. Padahal kita semua tahu, yang berlebihan itu cenderung ndak baik. 

Perlukah kita “puasa informasi”?

Puasa itu semacam detokfikasi. Meluruhkan racun tubuh. Menguras residu yang tak perlu. Ndak cuma makan dan minum. Puasa informasi di zaman sekarang itu semakin perlu. Cukup disantap saat pagi. Lalu saat akan istirahat malam. 

Mengapa? 

Karena saat ini menjernihkan pikiran, merawat akal budi, dan menjaga mood adalah cara penting dan sekaligus cara paling mudah untuk terus menghadapi ujian setiap hari.  Dengan cara apa? Salah satunya adalah lebih banyak waktu untuk bicara dengan diri sendiri. Bercakap-cakap untuk mengevaluasi apa-apa saja yang telah, sedang dan akan kita perbuat. Jika sudah cukup, barulah berdiskusi dengan pasangan atau sahabat kita. 

Siapa bilang jika mood itu mudah dirawat. Siapa bilang ego kita tak perlu digunakan. Siapa bilang emosi itu tak terpuji. Semua wajar dan manusiawi. Tapi kunci utamanya adalah pengendalian diri.

Kita seperti sedang bermain gim konsol. Ada remot di genggaman kita. Semua terserah kita hendak menekan tombol yang mana. 


Soal menjaga perasaan orang lain dan menghormati pilihan dan jalan pikir lawan bicara dapat lebih leluasa jika kita telah paham dan menguasai kemauan diri sendiri. Terlebih menguasai ego dan emosi diri.

Mempersiapkan diri menjadi pribadi tangguh. Sebelum melebur dengan kehidupan sosial, yang sehat dan saling menjaga privasi. 

Mau caper atau baper, setidaknya informasi yang kita kunyah setiap hari mencegah kita dari kuper. 

Karena, sebaik-baiknya informasi adalah yang dapat membuat kita makin mudah dalam beradaptasi tanpa meninggalkan jati diri.
Salam anget di tanggal muda,
Roy

Advertisements

Keberhasilan dan Kegagalan

Kurang lebih enam bulan yang lalu, saya menemukan sebuah pola makan; ketogenic diet. Seperti biasa, saya selalu terobsesi dengan pola makan yang menurut saya masuk akal dan bisa mendukung gaya hidup sehat, langsung saya melakukan riset, seperti membeli beberapa buku yang membahasnya, lalu membuka situs dan blog dari orang yang menjalankan, sekaligus mengumpulkan referensi dan resep yang kira-kira mudah saya praktekkan. Beberapa hari kemudian saya pun mulai eksperimen N=1 saya terhadap diri, untuk ketogenic diet ini.

Sekilas tentang ketogenic diet (untuk yang sudah paham lewatkan saja paragraf ini); adalah pola makan dengan memerhatikan komposisi makro nutrisi; lemak tinggi, protein sedang dan karbohidrat (sangat) rendah. Umumnya jumlah asupan karbohidrat harian ditekan hingga 20 gram saja. Berbeda dengan paleo yang fokusnya lebih ke jenis makanan yang ditengarai tidak pro inflamasi, jika keto, asal low carb, boleh dikonsumsi. Biasanya yang menjalani ketogenic diet ini meningkatkan satiety dengan mengonsumsi produk susu yang full fat, seperti krim, butter, dan keju yang full fat (bukan keju jadi-jadian ya).

Saat saya baru mulai satu atau dua minggu, adik lelaki saya yang obes montok, datang ke rumah untuk mengobrol, lalu saya bercerita singkat soal diet ini. Tanpa disangka, dia mengatakan kalau, “Sepertinya aku bisa tu, kak, aku coba deh!” Sungguh menggembirakan, karena sebelumnya saya selalu menjual gaya hidup Paleo ke dia dan beberapa kali juga ditolak mentah-mentah. Keesokan harinya dia pun mulai. Sejak minggu pertama secara stabil adik saya selalu kehilangan berat badan.

c993090e-b525-4462-9028-d02d2b621b11

My brother’s before picture

Dipercepat enam bulan kemudian, total turun berat badan adik saya hingga 30 kilogram lebih. Sedikit lagi dia berada di zona berat badan dua digit (alias below cepek), dan sudah berniat mulai olahraga.

5d8f7e24-893b-4e1f-930c-4dbe1fbd1a51

Yet another before picture.

 

Bagaimana dengan eksperimen saya?

Gagal total. Saya tidak berniat menurunkan berat badan, tetapi  lebih ke body fat percentage. Selama melakukan keto diet ini, saya melakukan semua yang disarankan. Mencatat semua asupan makanan, menakarnya sehingga makronutrisi mencapai target atau tidak lebih dari yang dianjurkan oleh kalkulator keto. Ketika sepertinya komposisi badan saya begitu-begitu saja, saya bahkan mencoba egg fast, yaitu selama seminggu atau lebih hanya mengonsumsi telur dan keju saja. Ketika itu berat badan saya sempat turun, tetapi begitu saya makan (keto) biasa lagi, kembali ke angka awal. Lalu mendengarkan saran dari adik saya, saya coba makan hanya satu kali sehari, karena toh, saya tidak merasa terlalu lapar. Intermittent fasting yang harusnya dilakukan secara intermittent saya lakukan setiap hari kecuali akhir pekan. Tentu semuanya saya lakukan sambil memerhatikan reaksi tubuh, tidak membabi buta.

WhatsApp-Image-20160420

Six months  later… (he’s the one in the middle)

Lalu apa reaksi tubuh saya terhadap ketone ini? Sepertinya tidak terlalu demen. Dalam rentang enam bulan, saya hanya haid satu kali saja, persendian saya sempat terasa ngilu (padahal sebelumnya belum pernah), beberapa kali mengalami heart burn (padahal sejak saya paleo, itu sudah jadi bagian masa lalu), energi berkurang drastis (saya jadi malas berolahraga), dan sebagai buah ceri di atas cake rendah karbohidrat, saya mengalami sembelit parah.

Lalu kenapa saya bertahan hingga enam bulan? Karena setiap kali saya mencari di internet soal gejala saya ini, hampir semua mengalaminya dan semua berkata kalau, “itu akan berlalu, hanya badan kita sedang menyesuaikan”. Saya sampai memeriksa ke dokter tentang haid saya dan ternyata memang efek dari pola makan yang berubah, dan saya belum menopause (thank cosmos for that). Tetapi akhirnya saya melempar handuk menyerah setelah mengalami sembelit parah untuk kedua kalinya. Ketika sedang dalam perjalanan dinas ke luar kota. Sungguh tidak ada kondisi yang menurunkan martabat lebih dari sembelit. Saya pun kembali ke paleo. Dalam beberapa hari saja, saya merasa jauh lebih baik. Energi kembali meningkat, perut tidak bermasalah, dan rasa ngilu dan sakit di persendian maupun bagian badan lain berangsur menghilang.

244b3c0ef7995388c39f2372279b0766

Ketika saya dan adik berdiskusi, kira-kira apa alasan keto diet ini begitu sukses di badan dia dan gagal spektakuler di saya, kami berkesimpulan, bisa jadi karena saya kurang cocok mengonsumsi dairy atau produk susu, atau mungkin juga karena empedu saya sudah diangkat. Kurang lebih tujuh tahun yang lalu, empedu saya dipenuhi dengan kristal, sehingga tidak bisa diselamatkan lagi dan harus diangkat. Sementara, empedu fungsinya adalah menghasilkan bile yang membantu mencerna lemak. Masuk di akal sih, tetapi ya ini memang mendukung pendapat kalau memang tidak semua pola makan cocok dengan semua orang.

tumblr_inline_niin9jlyxq1seuoqh

Nyaman Untuk Dilihat

Sekitar dua bulan lalu, saya duduk bersama beberapa orang yang menjadi juri di festival film yang kami selenggarakan. Salah satu juri tersebut penulis linimasa juga, yaitu Lei.
Bersama beberapa orang lainnya, kami ngobrol-ngobrol santai sembari makan siang seusai tugas penjurian selesai. Dari sekian banyak obrolan ngalor-ngidul, kami sepakat untuk membuka “rahasia” masing-masing.

“Rahasia” ini adalah film favorit kami, atau film yang paling sering ditonton berulang kali.
Kenapa “rahasia”? Karena kalau berbicara film yang paling sering ditonton di rumah, tentu saja jawabannya bukan film-film yang mengernyitkan kening yang dilihat. Justru film-film yang terkesan ‘remeh temeh’ yang mencuat di pembicaraan.

Saya memulai, “Sudah beberapa kali lho, kalau pulang ke rumah capek, bingung nonton apa, gue langsung aja tuh nonton lagi Bridget Jones’s Diary, sampai hafal lho dialog-dialognya!”
Yang lain menimpali, “Sambil nyanyi “All By Myself” depan TV?”

Bridget Jones's Diary (Courtesy of marieclaire.co.uk)

Bridget Jones’s Diary (Courtesy of marieclaire.co.uk)

Kami tertawa. Lalu kami sepakat bahwa film-film macam Notting Hill, Love Actually, When Harry Met Sally …, Sleepless in Seattle dan sejenisnya adalah semacam comfort film yang menyenangkan untuk ditonton berulang kali. Ini berlaku juga untuk film petualangan atau aksi macam Back to the Future atau Die Hard. Beda genre, tapi sense of familiarity masih sama.
Sama seperti makanan yang termasuk comfort food, maka rasa comfort film sudah kita ketahui dari awal sebelum kita mengkonsumsi. Berhubung kita tidak ingin berpikir dan spekulasi terlalu banyak terhadap sesuatu yang baru, maka kita pun acap kali mengkonsumsi comforting stuff ini.

Lalu ke mana film-film yang banyak disebut sebagai fllm-film terbaik sepanjang masa, seperti Citizen Kane, The Godfather Trilogy, The Seventh Seal atau Rashomon?
Tentu saja mereka masih ditonton dan diapresiasi. Bentuk apresiasinya secara khusus, tidak dengan memakai kaos oblong dan celana pendek di depan sofa sambil memeluk bantal di depan televisi. Atau bisa juga melakukan hal itu, namun perlu konsentrasi dan atensi yang lebih tinggi dibanding menonton film-film ringan lainnnya. Konsentrasi dan perhatian yang lebih tinggi ini memerlukan energi yang lebih banyak tentunya, sehingga sikap kita terhadap film-film ini tidak bisa se’santai’ saat menonton film-film ringan lainnya. Sikap kita yang lebih serius, perhatian kita yang lebih tinggi, mau tidak mau membuat kita harus menyiapkan waktu tersendiri untuk menonton film yang membutuhkan atensi lebih tinggi. Kalau tidak, bisa tidur di tengah-tengah.

Notting Hill (courtesy of ovationtv.com)

Notting Hill (courtesy of ovationtv.com)

Apakah kualitas film-film ringan tersebut lebih rendah dari film-film serius lainnya? Bisa panjang kalau diuraikan di sini. Secara singkat saja, saya akan menjawab kalau film-film ringan itu punya kualitas yang setara atau lebih tinggi dari film-film serius lainnya.
Kalau saya tidak salah kutip, aktor Charles Laughton pernah berkata,

“dying is easy. Comedy is hard.”

Ini sebuah mantra yang masih berlaku sampai saat ini. Membuat adegan sedih itu gampang. Tinggal teteskan air ke mata aktor, jadilah adegan sedih. Adegan lucu? Sometimes jokes do not translate easily. Oleh karena itu, penulisan komedi, atau komedi romantis, membutuhkan keahlian tersendiri. It takes a village to tell a joke.
Dan terbukti bahwa film-film ringan yang menjadi comfort film bisa ditonton kapan saja. Comfort films stand the test of time.

Love Actually (Courtesy of littlestuffedbull.com)

Love Actually (Courtesy of littlestuffedbull.com)

Apapun yang teruji ketangguhannya oleh waktu, anything that is timeless, they’re work of art.

Inilah 10 comfort film versi saya, secara acak:
• Bridget Jones’s Diary
• When Harry Met Sally …
• Sleepless in Seattle
• Working Girl
Same Time, Next Year
• Back to the Future
• Notting Hill
• Love, Actually
Roman Holiday
• ….. (isi sendiri. This is yours.)

Aku Bosan, Aku Berpikir, maka Aku Ada

KALAU dirasa-rasa, kayaknya beruntung juga bisa bertumbuh kembang menjadi seseorang yang mudah bosan; yang bisa dengan mudahnya melalui puncak excitement dan kemudian kehilangannya dalam waktu singkat, cenderung susah bertahan dalam satu keadaan, serta mengalami perubahan pikiran/perasaan/suasana hati dengan cepat.

Rasa bosan dan kebosanan itu enggak semestinya negatif melulu. Hanya saja, selama ini lebih condong dilekati dengan kesan tidak mengenakkan. Sesuatu yang harus dimitigasi sebelum menimbulkan kerugian dalam bentuk apa pun.

Kebosanan dituding sebagai salah satu pembunuh utama semangat, motivasi, obsesi, juga ambisi yang selama ini dianggap sebagai tenaga penggerak utama manusia mencapai beraneka tujuan. Padahal, dari kebosanan juga bisa muncul semangat, motivasi, obsesi, juga ambisi untuk sesuatu yang baru pada diri seseorang.

Hanya ada satu yang enggak bisa dikalahkan oleh kebosanan: insting untuk bertahan hidup.

Kebosanan juga kerap dimusuhi layaknya benalu, bom waktu organis dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Gara-gara rasa bosan, banyak pasangan yang sudah menikah, yang masih pacaran, atau yang hanya gebet-gebetan dihadapkan pada beberapa risiko. Entah itu perpisahan, atau dorongan untuk mencari selingan. Padahal, dengan mengamati rasa bosan itu sedikit lebih dalam, tidak mustahil para pasangan tersebut akan berhasil menguak masalah terbesar sebenarnya dalam hubungan mereka. Masalah serius yang berpotensi mengangkat hubungan mereka ke tahap selanjutnya, atau menyelamatkan mereka dari penyesalan terbesar dalam hidup.

Good, bad, who knows?”

Begitu kata salah satu tokoh dalam seri buku “Cacing dan Kotoran Kesayangannya”

Di sisi yang berlawanan dengan rasa bosan, enggak selamanya excitement berujung manfaat. Keduanya seperti CatDog, anjing dan kucing dengan satu badan; tak terpisahkan. Juga seperti Uroboros, ular yang melingkar berputar dengan menggigit (?) ekornya sendiri. Merupakan sebuah siklus logis ketika munculnya excitement pasti dibarengi dengan kebosanan, yang tinggal menunggu waktu untuk mencuat dan mengambil alih panggung pikiran. Bahkan bisa dibilang, momen munculnya kebosanan adalah salah satu titik krusial dalam kehidupan manusia. Sebab sikap serta cara saat menangani kebosanan pun bisa dijadikan salah satu pertimbangan atas kedewasaan maupun kebijaksanaan seseorang.

Melarikan Diri dari Kebosanan.

Mereka mengusir rasa bosan seperti tukang buah menghalau lalat dari hinggap di atas barang dagangan mereka dengan kebutan. Biasanya dilampiaskan dengan melakukan hal-hal yang dianggap menyenangkan, berhura-hura, dan sejenisnya.

Rasa bosan memang terasa hilang, namun dengan efek yang sementara. Pada akhirnya, mereka tetap tidak memahami rasa bosan tersebut. Sehingga berpeluang untuk kembali diganggu dengan kebosanan setelah segala jenis kegiatan yang–awalnya–menyenangkan (exciting) dan hura-hura tersebut makin terasa biasa.

Mengalahkan Kebosanan

Ya, mengalahkan. Mereka biasanya adalah orang-orang yang kreatif dan inovatif, yang menjadikan kebosanan sebagai salah satu bahan bakar untuk menghasilkan sesuatu. Tanpa ada kebosanan, nyaman dalam kenyamanan, tidak ada yang menggelitik untuk berkarya. Pokoknya jadi barang baru.

Meskipun tak tertutup kemungkinan bahwa mereka bakal kembali berurusan dengan rasa bosan, setidaknya bakal mereka hadapi dengan produktif, bukan semata-mata konsumtif. Meninggalkan sesuatu yang nyata, bukan angin doang.

Melampaui Kebosanan

Orang bisa bosan saat belajar, orang bisa bosan saat bekerja, orang bisa bosan saat melakukan beragam aktivitas, orang bahkan bisa bosan terhadap dirinya sendiri. Sebenarnya, siapa saja bisa menjadi orang yang mampu melampaui kebosanan dalam menjalani kehidupan masing-masing. Namun bagi para meditator, orang-orang yang berusaha mengenali dirinya sendiri lewat meditasi, kebosanan adalah salah satu fenomena penting batin.

Rasa bosan merupakan salah satu momok besar dalam berlatih meditasi. Begitu sukar diatasi. Brengseknya lagi (deceitfully), rasa bosan mampu melakukan kamuflase, menipu untuk menjatuhkan moral batin meditator, membuat mereka merasa gagal mengatasi rintangan dan mentok tak mengalami kemajuan. Hingga pada akhirnya, sang meditator pun benar-benar berhenti.

“Tidak ada kemandekan dalam bermeditasi. Mandek terjadi ketika kita benar-benar berhenti bermeditasi.”

“Mau sampai kapan kita lari dari rasa bosan? Saat kebosanan muncul, ya hadapi! Amati kebosanan itu. Lihat, apa yang muncul sesudahnya.”

Begitu kata seorang senior, beberapa bulan lalu.

Kebosanan, sesuatu yang tidak menyenangkan, menjadi kunci untuk sesuatu yang lebih tinggi.

Tak ada yang perlu menjadi lebih unggul.

Peduli sekaligus tidak peduli terhadap kebosanan.

Melihat kebosanan sebagai kebosanan.

[]

The Epitome of Coolness

Iman Bowie pernah ditanya oleh jurnalis beberapa minggu sebelum mendiang suaminya meninggal. Iman adalah mantan supermodel. Kalo tidak salah dia satu angkatan dengan Cindy Crawford atau Heidi Klum. “Apakah anda memberi saran kepada suami anda mengenai fashion?” Naomi pun dengan lugas menjawab, “Hah? Buat apa saya melakukan itu? David Bowie itu fashion!” Iman betul. David Bowie adalah ikon fashion. Mau pake baju apa aja kayaknya gak pernah salah. Dan untuk mencapai itu membutuhkan kerja keras, keberanian tingkat tinggi, percaya diri, dan tentu saja persona. Tidak semua orang bisa melakukan itu. Maaf.

Prince Roger Nelson, jasadnya baru dikremasi beberapa hari kemarin, setelah mendadak meninggal yang penyebabnya belum diketahui sampai sekarang. Mungkin beberapa hari lagi dari hasil autopsi akan menjelaskan apa yang menyebabkan dia meninggal seketika. Seminggu sebelumnya pesawat pribadinya harus mendadak mendarat karena kesehatan Prince memburuk. Kabarnya flu berat. Tapi keesokan harinya dia segar kembali. Sempat tur. Sampai ditemukan meninggal hari Jum’at kemarin di rumahnya. Overdosis? Mungkin.

prince6

Untuk yang belum tahu, semoga banyak yang sudah tahu. Prince adalah penyanyi, produser, gitaris, pencipta lagu dan juga seorang multi instrumentalis yang berasal dari Minneapolis, Amerika Serikat. Prince adalah saingan dari Michael Jackson. Namanya mungkin sedikit tertutup oleh bayang-bayang dari Michael Jackson yang lagunya lebih populer di tahun 80an. Jadi wajar memang kalo banyak yang belum tahu. Tapi banyak yang bilang juga bahwa Prince jauh lebih berbakat dari Michael Jackson. Saya salah satunya. Permainan guitar Prince itu menyamai Jimi Hendrix. Untuk urusan maen gitar, mungkin hanya Matthew Bellamy dari Muse yang bisa menyamai skillnya sekarang ini. Suara Prince itu seperti layaknya kulit hitam, luar biasa. Dia sangat terkenal dengan suara falsetto-nya. Untuk urusan menari, dia bisa melakukan apa yang James Brown lakukan. Jenis musiknya? Komplit. Dari funk, soul, rock, jazz, pop pun ada. Dia adalah seorang pribadi yang komplit dan juga perfeksionis. Dia memainkan semua alat musik di banyak album-albumnya. Penghargaan? Tujuh Grammy Award, satu Golden Globe Award, dan satu Oscar sudah diraihnya. Tidak banyak musisi yang mencapai tingkatan itu. Intinya dia adalah musisi yang jenius. Adakah musisi yang konser di O2 Arena, London, selama 21 hari berturut-turut dan semua tiketnya habis? Saya rasa cuma Prince yang bisa melakukannya.

Selain berprestasi ada satu lagi yang dipunyai oleh Prince. Dia seorang musisi yang eksentrik, unik, aneh kadang. Tapi di situlah kelebihannya. Dari segi tata busana, tidak ada yang bisa mengalahkan keanehannya. Sebagian mungkin akan jijik melihatnya. Gaya rambut pun begitu. Kumis juga. Kaca mata. Semuanya dia lakukan dengan sadar. Dia bunglon. Dia juga misterius. Jarang tampil di muka umum. Tapi tiap kehadirannya akan membuat perbedaan dan dia akan menjadi pusat perhatian. Satu waktu dia bisa berada di keramaian sedang menonton tenis di Wimbledon. Dan waktu lainnya dia bisa terlihat sedang melihat NBA. Tentunya dengan gaya berbusana yang mencengangkan. Dia berani menerjang batas gender. Dia juga androgini. Banyak yang menyangka dia adalah seorang gay. Orang bisa melihatnya sebagai lelaki yang seksi. Tapi ada juga yang bisa melihatnya sebagai pria feminin. Terobsesi dengan warna ungu. Tapi dengan begitu dia menyatakan sikap bahwa gender bukan sesuatu yang penting. Begitu pula dengan ras. Ini juga yang saya lihat dari David Bowie.

prince5

Satu lagi, dia juga seorang pemberontak. Tidak mau dikontrol. Masih ingat ketika dia mengubah namanya menjadi The Artist Formerly Known As Prince dan namanya hanya bisa digambarkan oleh simbol cinta di awal tahun 90an? Itu dia lakukan bukan tanpa alasan. Dia melakukannya sebagai tindakan protes terhadap Warner, sebagai label rekaman di mana dia bernaung. Ujungnya dia keluar dari label dan membuat label sendiri, dengan nama NPG, kependekan dari New Power Generation, yang juga nama band-nya. Prince adalah salah satu yang terdepan dalam urusan teknologi. Dia menjual albumnya di akhir tahun 90an dengan sistem online melalui internet. Ini adalah embrio dari penjualan album musik secara digital. Belum ada yang melakukan itu sebelumnya. Radiohead mengikutinya di awal tahun 2000an dengan album In Rainbows. Beberapa tahun kemudian iTunes mengadopsi sistem ini. Sekarang? Hampir semua album dijual atau bisa didengarkan secara digital.

Tahun 2007, Prince didaulat untuk mengisi acara di Superbowl Halftime Show di Miami. Malam itu hujan turun sangat deras. Semua bagian produksi khawatir dengan apa yang terjadi dengan acara apabila hujan tidak berhenti. Hujan adalah salah satu musuh apabila perhelatan diadakan di tempat terbuka. Tapi ini adalah ladang uang buat pawang hujan. Setidaknya di Indonesia. Produser dari perhelatan tersebut menghubungi Prince untuk memberitahu kondisi bahwa kemungkinan hujan tidak akan berhenti ketika Prince mengisi acara Superbowl Halftime Show. Lalu Prince pun menjawab. “Yes I know. Can you make it rain harder?”

Salah satu penampilan terbaik dari Superbowl Halftime Show. Prince memang menginginkan malam itu hujan. Karena dia memainkan “Purple Rain” di lagu terakhirnya. Pas kan?

Nostalgia Kecil

Belakangan group WhatsAppku bertambah dengan satu chatroom berisi kawan-kawan kelas 3 SMP. Awalnya berisi lima orang, bertambah dengan teknik penjaringan macam MLM. Masing-masing anggota mendaftarkan kawan lain yang tercecer entah di mana rimbanya. Dalam waktu seminggu lebih sedikit, terkumpul setengah dari seluruh siswa.

image

Tentunya percakapan dimulai dengan “hai” dan puluhan “apa kabar?” Dilanjutkan “di mana sekarang?” sampai “udah punya berapa anak?” Juga lainnya yang menjawab aneka penasaran masing-masing anggota. Kami mebagikan foto-foto masa lalu dan sekarang. Membuktikan kalau metabolisme, gravitasi dan waktu berlaku sama-rata untuk semua orang.

Sebagian besar sudah berkeluarga. Beranak-pinak dengan pasangan masing-masing. Punya kisah kehidupan sendiri-sendiri yang terlalu panjang dan klise kalau dibagikan dalam chatroom. Sebagian kecil melajang. Entah karena pilihan, terpaksa, atau enggan. Ini juga buka hal yang gampang dibagikan untuk orang yang cukup asing 20 tahun ini.

Karena SMP kami di Bandung, maka percakapan dalam bahasa sunda akan sering sekali muncul. Kelakar-kelakar khas tanah Pasundan dan selera humor mereka yang tinggi sangat menghibur. 70% dari anggota chatroom ini adalah silent reader. Kesibukan dan keengganan berpadu jadi alasan valid untuk diam.

Mengingat lagi kelakuan dan kebiasaan kawan-kawan kita. Minta maaf, kalau pernah berbuat salah. Bangga, kalau memang patut. Ada bully,curang, nyontek, nakal. Sebutkan saja semua jenis kenakalan jaman SMP, kami bisa menyebutkan nama pelakunya kalau masih ingat.

Rencana reuni berkembang dari satu tanggal ke tanggal berikutnya. Sedikit sekali yang terwujud. Kalaupun ada, biasanya spontan tanpa rencana. Beranggotakan 3 sampai 8 orang yang memang punya kesempatan waktu dan tempat serupa. Disusul dengan mengirimkan foto-foto hasil kumpul-kumpul itu untuk memancing reuni berikutnya. Berhasil? Belum tentu.

Percakapan paling seru biasanya menjelang malam. Hibrida lelah dan bosan justru berbuah topik hangat. Saling menyindir. Memuji. Rencana reuni lagi-lagi muncul. Dan, lagi-lagi mentah dalam wacana. Dengan umur rata-rata 35, semua anggota chatroom punya ritme kehidupan yang mirip satu dan lainnya. Chatroom sepi di jam-jam kerja.

Untungnya, belum ada dakwah agama atau jualan aneka barang dan asuransi. Belum ada alasan anggota chatroom untuk meninggalkan grup yang penuh canda.

Untuk orang-orang yang mewarnai minimal 9% dari waktu hidup kita di bumi, perkumpulan ini adalah nostalgia kecil yang mengungkap banyak hal. Terlebih, masa SMP adalah awal pematangan hormon dewasa yang berujung banyak akibat. Ketertarikan masa lalu tersibak. Siapa menyukai siapa mengalir santai. Penuh satir dan khawatir. Bagi beberapa orang, butuh dua dekade untuk bilang “suka” dengan terbuka. Yang lainnya terhubung lebih dari sekedar 1 tahun masa 3 SMP. Menjalin perkawanan lebih dalam lagi hingga usia dewasa. Sebagian, mungkin pernah saling mencintai. Memendamnya. Atau mewujudkan ketertarikan itu lewat sex. Banyak kisah manis. Ada juga yang pahit. Cinta ndak se-monyet apa yang dipercaya banyak orang di masa-masa remaja.

Secara politik masing-masing anggota chatroom berkonsolidasi. Ada kesepakatan ndak tertulis untuk sama-sama rindu. Berdamai dengan diri sendiri dan orang lain. Mengaduk-aduk kenangan yang lama terpendam. Apparently time doesn’t heal, it only blurred our memories.

Akhirnya, bergunakah menghadirkan masa lalu di kehidupan kita sekarang? Pertanyaan ini baru bisa terjawab kalau sudah melakukan satu hal paling penting dari nostalgia: reuni.

Ada Kos di Ongkos

Sebelum ini saya berpikir dalam hati “mengapa para eksekutif muda sehabis jam kantor suka menghabiskan waktunya di mall, cafe, resto dan sejenisnya?” Waktu menjadi bos dan memiliki anak buah, saya sempat berpikir kenapa anak-anak ini tak mau segera pulang? Mereka lebih suka menghabiskan waktunya di kantor. Kadang terasa seperti sengaja melemburkan diri.

Selain mengeluarkan uang lebih banyak juga menghabiskan energi tak berguna. Apa enaknya nongkrong di cafe mengenakan pakaian yang dipakai seharian tanpa ganti kancut peliket? Bukankah lebih enak olahraga lalu pulang tidur untuk beristirahat mempersiapkan tubuh menyambut hari esok? Atau mengistirahatkan dompet setelah mengeluarkan uang seharian. Sekedar menyendiri pun sepertinya ide yang baik untuk dilakukan.

Sampai seorang teman hijrah ke Jakarta dari Samarinda. Hampir seharian penuh kami mencoba mencari sebuah kamar kos yang layak dengan harga yang menurut kami cukup pantas. Mulai dari pencarian di internet sampai langsung mengunjungi lokasi kos-kosannya. Ada yang berlokasi di pinggir jalan besar ada yang masuk ke gang. Ada yang bangunan tua, ada yang muda. Ada yang di rumah besar ada yang bangunannya memang dibikin untuk kos-kosan.

Perlahan jawaban di alinea satu sepertinya mulai terjawab. Dengan ongkos 3 jutaan sebulan di kawasan pusat Jakarta ini pun, kita baru bisa mendapatkan sebuah kamar kecil berukuran kurang lebih 3×5 m2. Di kawasan Cikini, dengan uang segitu kamar kos-kosannya bentukannya lebih mirip penjara tanpa jendela. Bau apek pun tak jarang menyengat. Kamar mandinya? Jangan ditanya. Biar kata di daerah mentereng, tetap tidak terurus. Beberapa menggunakan karpet yang melihatnya saja bisa bikin bersin-bersin.

Kesimpulan sementara, semakin strategis lokasinya maka semakin tidak terurus. Buat apa, toh tetap laku bahkan mengantre orang yang ingin mengontraknya. Kalau lokasinya masuk ke gang-gang, banyak kos-kosan yang mirip dengan gedung apartemen mini. Ukuran per kamar tetap kecil tapi karena gedung baru jadi lebih bersih. Harganya tentu lebih mahal. Tapi kalau gedung lama? Jendela berdebu pun tak ada yang membersihkan. Intinya, bahkan dengan uang sebesar 2-5 juta sebulan pun, kita belum mampu mendapatkan kamar yang nyaman di tengah kota Jakarta. Belum lagi tikus yang dengan leluasa berseliweran.

Lalu, siapa yang hendak buru-buru pulang ke kos-kosan dengan situasi seperti ini? Jawabannya bisa jadi sederhana, di kantor lebih nyaman daripada di kos-kosan. Setidaknya di kantor ada penyejuk ruangan, ada internet, ada sofa di pojokan buat membaca dan ada teman-teman menemani. Begitu badan letih tak tertahankan, balik ke kos tinggal tidur, mandi, berangkat lagi ke kantor. Dan berulang terus sampai situasi membaik dan bisa pindah dari kos ke tempat yang lebih baik.

Melihat menjamurnya bisnis kos-kosan dan kondisi seperti ini, kita bisa membuat sebuah lingkaran. Kerja di Jakarta – Tinggal di kos-kosan tidak nyaman – Pulang kantor ngemall – Uang lebih banyak keluar – Akhir bulan selalu kurang atau pas-pasan – Tuntutan hedon lain semakin meningkat – Selalu merasa kurang -Selalu merasa miskin – Cari kerja lagi dengan gaji lebih tinggi – Sementara harga hunian semakin tak terkejar – silakan lanjutkan sendiri.

Untuk masak sendiri? Lupakan. Hampir semua kos-kosan yang kami sambangi tak memiliki dapur yang layak dan bersih. Lalu bagaimana dengan kualitas makanan terjangkau yang sehari-hari kita makan? Silakan perhatikan sendiri kalau makan di restoran kelas menengah yang semakin ramai dan marak di Jakarta. Kualitasnya tidak semakin membaik seiring kenaikan harganya. Belakangan kita sering melihat cafe mewah yang menawarkan semua menunya terbuat dari mi instan. Bahkan resto di mall pun tak sedikit yang menawarkan kenikmatan maksimal tanpa diiringi dengan kualitas. Ada dua bahan pokok yang merajai: gula dan msg/perasa.

Energi dan gizi seperti apa yang bisa kita harapkan masuk ke dalam tubuh para pekerja muda kita? Jangan belaga gila membandingkan dengan Jepang yang sangat amat memperhatikan soal kualitas makanan yang masuk ke dalam tubuh generasi mudanya bahkan sejak masih SD. Bukan hanya ketinggalan, tapi Jakarta juga semakin mahal. Dengan asupan yang “asal” ditambah kegemaran olahraga yang semakin semarak, ini pertanda yang mengkhawatirkan.

Sempat terlontar “kenapa tak ada hunian yang nyaman tak harus mewah, bersih, terawat, dengan harga terjangkau sehingga para pekerja Ibu Kota bisa kerasan sehingga tak perlu menghabiskan uang lebih banyak di luar?” Seorang teman yang sebagian besar hidupnya di Ibu Kota tinggal di kos-kosan berkata “sepertinya kebutuhan untuk bergaul dan hedon tak bisa digantikan dengan hunian yang nyaman”. Kalau benar seperti itu, satu-satunya harapan yang bisa menggunting lingkaran mahal ini ada dari niat sendiri-sendiri. Siapa suruh tinggal di Jakarta?

IMG_9500

Kemanusiaan Yang Maha Esa

Sahabat saya ini sebetulnya ndak sahabat-sahabat amat. Belum lama kenal kecuali sejak November 2012. Kebetulan pernah satu kantor. Pernah satu bagian dan pernah satu pekerjaan. Ya, dipertemukan karena pekerjaan.

Kami sering ngobrol dan bersenda gurau. Namun jauh lebih sering memikirkan nasib masing-masing. Salah satu topik obrolan kami adalah soal Pancasila. Kami sepakat bahwa pancasila itu keren banget. Namun kadangkala berdebat soal apakah perlu dilakukan revisi dan bertukar tempat antara dua sila sehingga menjadi Kemanusiaan yang Maha Esa dan Ketuhanan yang Adil dan Beradab. Soal bagaimana bisa dan asal-usulnya, akan dibahas dalam kesempatan lain.

Sila kedua dengan Kemanusiaan Yang Adil Beradab konon berasal dari konsep  Henry Dunant, bapak palang merah, mengambil istilah rakyat bangsa Italia, Siamo Tutti Fratelli atau we are all brothers. Tapi itu sekadar obrolan omong kosong dua lelaki untuk melengkapi secangkir kopi dan sebats trz cabs.

Yang menjadi topik bahasan kami selalu berkutat soal hak manusia dengan kepentingannya masing-masing, dengan sikap politik masing-masing, dengan minat masing-masing, berhak untuk berbeda, terutama perbedaan dalam menentukan bagaimana dan apa yang membuatnya terus hidup dan menjalankan keseharian hingga membuatnya bahagia. Semacam pluralisme. Ndak aneh juga bicara ini karena sahabat saya ini skripsinya soal itu. Kira-kira topiknya dia begini: Liberalisme menuju pluralisme : sebuah pandangan yang menopang situasi plural. 

Pluralisme secara tepat dimaknai sebagai suatu pandangan yang menerima berbagai konsepsi mengenai tujuan-tujuan hidup. Pluralisme kemudian dipahami sebagai pemahaman bersama mengenai tradisi, identitas, dan moralitas. Keseluruhan aspek tersebut bermula dari pengertian manusia sebagai agen yang bebas. Seluruh pembicaraan mengenai bagaimana manusia hidup dalam situasi berbeda ditentukan pada tiga nilai dalam masyarakat modern:

Pertama, kondisi demokratis (pilihan sosial didasarkan pada prosedur yang bebas, tidak memaksa, dan menerima suatu diskusi terbuka pada isu yang akan diputuskan secara bersama).

Kedua, Liberalisme (suatu pandangan yang bertujuan untuk melindungi kebebasan seperti, kebebasan atas kepercayaan, kebebasan ekspresi, dan kebebasan untuk memilih).

Ketiga, Pluralisme (pandangan yang mengedepankan hak setiap individu untuk mendefinisikan dan menjalankan hidup menurut cara pandang masing-masing dalam keadaan damai).

Melihat ketiga aspek penting tersebut, maka dapat dimaknai bahwa masyarakat liberal adalah suatu kondisi minimum untuk mewujudkan suatu keadaan untuk hidup berdampingan dalam perbedaan, Karena masyarakat liberal dibentuk dari individu-individu yang memegang komitmen dalam perbedaan, dan terkadang tidak saling cocok mengenai apa yang disebut sebagai hidup yang baik dan cara mewujudkannya. Dalam perwujudan masyarakat modern, sebagai sebuah masyarakat liberal, Pluralisme tumbuh sebagai implikasi clan keyakinan yang mendasar bahwa setiap individu memiliki hak untuk memilih sendiri bagi dirinya dalam memandang konsepsi mengenai kebaikan hidup. Pembelaan terhadap Pluralisme, mengemuka dengan disampaikannya ide mengenai Incommensurability nilai-nilai.

Beberapa sistem nilai secara bersamaaan sesungguhnya dapat secara sama divalidasi dalam status Incommensurable, karena menentukan satu nilai yang mengatasi nilai-nilai yang lain adalah suatu kemustahilan, jika kita mau berkomitmen pada kehidupan damai dalam perbedaan. Asumsi yang dibuat dalam melihat nilai-nilai Incommensurable satu sama lain adalah secara sederhana atas pemahaman bahwa tidak mungkin menentukan suatu ukuran rasional dalam menakar nilai-nilai tersebut dalam suatu skala hitung. Sampai pada titik ini dapat dimengerti bahwa dimungkinkan adanya suatu tarik-menarik di antara perbedaan-perbedaan nilai-nilai itu dalam suatu sistem moral.

Implikasi dari Liberalisme adalah: masyarakat liberal tidak hanya melindungi kebebasan setiap individu, namun juga memperbolehkan tumbuh berkembangnya perbedaan dan persaingan pandangan dalam melihat dunia secara konseptual. Berpikir untuk melewati batas ideologi pribadi dan kelompok atas nama kebebasan individu sebagai agen bebas adalah sesuatu yang menjadi cerminan masyarakat liberal yang pluralis.

Apa yang kemudian menjadi penting adalah usaha untuk mewujudkan suatu masyarakat liberal yang menyadari nilai-nilai Pluralisme dalam dirinya. Namun nilai yang ada dalam dirinya itu harus dibentuk dan dihadirkan. Incommensurability nilai-nilai memungkinkan hal tersebut, karena kesadaran untuk memahami yang lain akan muncul dan menyadari potensi sebagai agen yang bebas, individu tidak terkurung dalam eksklusivitas identitas dan nilainya, tetapi memiliki jiwa inklusif yang memungkinkan perkembangan pribadinya dalam mewujudkan cita-cita hidupnya. Principle of harm yang muncul kemudian lebih sebagai suatu resep untuk mengobati kemungkinan yang ditimbulkan suatu penguasaan mayoritas atas individu, karena adalah lebih baik mengembalikan suatu konsepsi kebaikan kepada individu daripada memberikannya pada kelompok atau budaya yang dianut mayoritas.

Hal ini dimungkinkan untuk mencegah terjadinya suatu intervensi ilegal atas individu.

Saya sebagai senior agak bingung dengan konsep abstraksi dia. Tapi saya gengsi. Seringkali menolak apa yang dikatakan sebelum benar-benar dipahami. Karena itulah memang tugas utama senior. Berusaha tampil lebih oke dan lebih tahu dari junior.  Tapi saya meyakini apa yang ditulisnya dengan segenap kesungguhan hati. Itu saja sudah lebih dari cukup. 🙂

Pun sebetulnya konsep ini pernah saya tulis dalam bentuk lain di beberapa tulisan, misalkan dalam format steller “dan sesungguhnya“.

Setelah saya amat-amati, tulisan dia cukup dirumuskan dalam beberapa kalimat pendek sebagai berikut:

bayangan masa kecil tentang hari esok. ada yang cerah. ada yang yang diharapkan. tentang kebaikan dan nurani yang terus berkembang.
ada tawa dalam setiap peristiwa.
jika nyatanya kita menanggung perih, itu adalah cara agar kita terus menjadi manusia. tak segalanya indah. juga tak selalu luka.
kita hanya bisa jalani segenap jiwa sepenuh hati. dari senja ke senja. dari luka menuju luka. antara tawa dan tawa.
dimana kita lahir. dimana kita meregang nyawa. dan kita mencintai apa yang bisa dan mungkin.

tak ada yang sempurna tanpa kecuali. karena manusia.
ada sebuah negeri yang berisi tawa dan gembira. tapi tentu saja dalam impian belaka. karena setiap negeri menyimpan banyak kisah. banyak keringat. juga perih. juga hingar bingar kemenangan atas kekalahan yang lain.
masa kecil kita tak semuanya indah.
masa tua kita, tak ada yang tahu.
bagaimana jika mati saja?

Oh ya, junior saya itu bernama Darma. Terinspirasi dari nama organisasi kewanitaan terbesar jaman Orba, Darma Wanita.

Salam hangat dan selamat bermalam minggu,

Roy

 

Renungan Jumat

Tadi pagi saya terlibat diskusi yang seru dan lucu di konferensi yang sedang saya datangi ini. Kurang paham tujuannya, karena umumnya diskusi yang terjadi ketika seseorang atau satu perusahaan ingin pick the audience’s brain, tetapi ini tampaknya tidak begitu. Judulnya adalah bagaimana proses berkencan setelah tinder dan untuk orang-orang yang tidak lagi berusia 20-an. 

dating-is-cool-meme

Seperti saya duga, ternyata akhirnya banyak cerita seru soal keberhasilan dan kegagalan Tinder, dan beberapa kisah sukses hingga yang akan menikah. Salah satunya adalah (ternyata) teman saya yang kurang lebih usianya sebaya.

Rata-rata yang bercerita menyebutkan berapa banyak kurang lebih mereka menemukan match, berapa date  (baik maupun buruk) yang mereka lalui, lalu hasil yaitu seperti teman saya yang menemui calon suami, atau seperti yang lain; dapat pacar saja tidak.

d8b488e9b630470272b1eb16536be931

Saya malah dalam hati berhitung dan tidak juga dapat angka kasarnya; berapa match yang saya pernah dapat dari awal saya on and off menggunakan Tinder. Entahlah. Kalau sampai date, ermmm… ternyata setelah saya hitung, masih di bawah sepuluh orang. Dan sebagian tidak ada second date. Dan belum pernah ada pacar sampai sekarang.

Dari diskusi tersebut juga akhirnya berkesimpulan, kalau ternyata Tinder itu hanya membantu kita bisa bertemu dan berbicara dengan lebih banyak orang yang, kalau dengan cara pra internet, mungkin tidak ada kesempatan bisa bertemu. Tetapi bukan berarti setelah kita bertemu yang tampaknya mungkin potensial, lalu semuanya jadi segampang menjentikkan jari (yang sebenarnya untuk sebagian orang tidak gampang juga, sih). We still have to do the messy stuff. Meeting them, talk to them, be real, not being a fake (isn’t that a same thing?), be nice to them, let them know (if not subtly) that we like them. Jadi sebenarnya Tinder tidak membuat berkencan lebih muda ya? Secara teknis, sama saja.

bca765424c7aa5dacd5a81469b49efcf

Lalu ketika kami tiba pada kesimpulan itu, terlintas di kepala saya adalah; saya lelah. Seperti juga yang terpikir oleh saya ketika beberapa kali menjalani proses tersebut. Tapi jika saya ingat kembali kisah sukses teman saya, jadi rasanya cukup optimis. Mungkin saya belum lelah, hanya belum bertemu dengan seseorang yang bisa membuat semua proses itu kembali tampak menyenangkan.

Justru Yang Tak Terlihat Jadi Terlihat

Beberapa tahun silam, salah satu dosen kuliah saya untuk mata pelajaran manajemen seni pernah berkata, “The good stage management is when you realize it’s not there.” Waktu itu konteksnya kami sedang belajar tentang manajemen pertunjukan seni. Ketika kita datang untuk menyaksikan sebuah pertunjukan, misalnya pertunjukan teater, maka kita akan duduk untuk melihat dan mungkin ‘masuk’ ke dalam cerita yang dipentaskan.

Kalau pertunjukan mengalir lancar, maka kita sebagai penonton akan puas. Kepuasan itu, yang mungkin kita tidak sadari, bersumber pada kelancaran stage management pertunjukan itu. Para runners bekerja dengan cepat mengganti props di atas panggung. Penata cahaya bekerja sesuai petunjuk. Penata musik tidak terlambat memainkan musik di setiap adegan. Aktor tidak lupa dialog mereka. Semua itu dibawah kendali stage manager yang menerjemahkan kemauan sutradara ke dalam catatan yang lebih detil untuk setiap kru dan pemain.

Kita tidak pernah sadari hal ini, karena pertunjukan berjalan lancar. Kita baru menyadari saat pertunjukannya terganggu.

Tiba-tiba ada lampu yang menggantung nyaris jatuh. Lalu ada barang yang tiba-tiba masuk ke tengah panggung. Musik yang terdengar lebih dulu dari semestinya. Di saat hal-hal seperti itu terjadi, mungkin kita akan tertawa kecil, sambil bertanya-bertanya, “Gimana sih ini? Mana sutradaranya? Kok nggak becus bikin pertunjukannya?”

Ada tangan-tangan tak terlihat yang membuat sebuah kegiatan berjalan lancar.

Seorang teman yang berprofesi sebagai humas pernah berkata bahwa “being a consultant or a PR person is always about behind the scene, not parading ourselves in front. That would only defeat our own work purpose.
Lantas saya bertanya, “berarti justru orang-orang yang nggak banci tampil dong yang harusnya kerja jadi PR ini?”
Dia tertawa kecil, “kalau mau “tampil”, silakan pakai media sosial masing-masing saja. But please separate your private socmed from work. Agak tricky memang, kerja ketemu orang, tapi nggak “tampil”. Because when we meet people, it’s all about the cause of work first, not us as a person. It’s always about work.

(Courtesy of ruralindiaonline.org)

(Courtesy of ruralindiaonline.org)

Pernyataan teman saya semakin memperkuat keyakinan bahwa dalam dunia pekerjaan profesional, kita adalah pekerjaan kita. Meskipun kita tidak tampil di depan, namun kontribusi tangan kita dalam membuat sebuah produk, jasa, atau apapun yang kita kerjakan bisa berjalan dengan lancar, maka hasil kerja keras kita pun bisa terlihat.

Saya mengamini apa yang pernah kami, sesama penulis linimasa, diskusikan dulu: bahwa tidak penting menjadi terkenal, tapi lebih penting kalau cukup dikenal.

Bagaimana cukup dikenal? Banyak caranya. Salah satunya dengan menekuni bidang yang kita kerjakan dengan baik, konsisten dalam waktu cukup lama.

After all, reputation matters.

(Courtesy of johnsteeper.com)

(Courtesy of johnsteeper.com)

Keragaman Itu Perlu

AGAK janggal barangkali, tapi sebagai seseorang yang bukan muslim, sangat menarik bagi saya untuk sedikit tahu tentang ihwal empat mazhab besar fikih Islam Ahlussunah Wal Jamaah atau Sunni. Yakni mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, serta Hambali. Menjadi salah satu komponen penting dalam konfigurasi keislaman selama ini, lewat keberadaan Ijma’ dan Qiyas.

Perbedaan-perbedaan di antara keempatnya relatif ringan, trivial, bukan sesuatu yang fundamental atau mendasar, serta lebih bersifat preferensi. Setidaknya demikian yang saya tangkap sejauh ini dari sudut pandang eksternal.

Salah satunya seperti pembahasan tentang posisi tangan saat bersedekap kala menunaikan salat, maupun ketentuan untuk merapatkan saf dengan atau tanpa menempelkan ujung luar jari kaki dengan dalih-dalih tertentu.

Perbedaan-perbedaan tersebut hadir bersama argumentasi dan latar belakang, yang banyak di antaranya didasarkan pada observasi maupun praktik-praktik valid lainnya. Meski begitu, boleh dibilang tidak ada salah satu mazhab yang dianggap lebih benar dibanding lainnya. Pilihan untuk menjalankan salah satu mazhab dalam kehidupan beragama sehari-hari pun dipengaruhi budaya dan lingkungan sekitar, serta tentu saja kenyamanan. Termasuk di Indonesia, yang secara mayoritas melakoni mazhab Syafi’i.

Kondisi ini merupakan salah satu bentuk keragaman yang mustahil untuk dihindari, pun tidak hanya terjadi dalam institusi Islam saja. Hampir semua agama besar dunia, juga diwarnai perbedaan-perbedaan semacam ini. Hanya saja, lantaran berupa urusan langitan yang sakral dan suci, maka ada ranah perbedaan yang masih bisa dimaklumi, ada pula yang dianggap terlarang bahkan menghinakan. Misalnya antara Sunni dan Syiah, Buddhisme umum dan Nichiren Shoshu, bahkan antara Nichiren Shoshu dengan Soka Gakkai, Kristen umum dan Saksi-saksi Yehuwa, serta berbagai kasus lainnya yang melibatkan dua label agama berbeda.

Gara-gara itu, akhirnya muncul dorongan–umumnya dari para Puritan maupun yang merasa suciwan–untuk menghapuskan perbedaan. Metodenya hanya dua: penghapusan secara harfiah, atau mengubah perbedaan menjadi persamaan.

Tidak ada yang patut dipujikan dari keduanya. Akan tetapi, realitasnya, perjalanan sejarah kerap diwarnai dengan perayaan atas peristiwa-peristiwa tersebut. Penumpasan kaum kafir dan para outsider yang disebut biadab karena berbeda (nama) sesembahan maupun caranya beribadah.

Memorabilia berlebihan atas seseorang yang berpindah agama dalam bentuk prasasti, monumen, dan sebagainya. Terus berlanjut sampai sekarang, apalagi jika yang bersangkutan adalah seorang figur publik. Kepindahan tersebut seakan jadi berita penting, terus menerus mendapatkan ekspose dengan porsi berlimpah. Anehnya lagi, perubahan label religius itu dihinakan oleh sekelompok orang namun malah disyukuri oleh kelompok yang lain. Padahal, apa gunanya sih? Toh, agama dan keimanan ialah urusan antara manusia pelaku dengan tuhannya masing-masing. Enggak ada hubungannya dengan elu pujian ataupun keluh hinaan orang lain.

Demikianlah keragaman, sebagai sebuah konsekuensi logis dari loncatan nalar dan akal.

Mau ditekan dengan bagaimanapun juga, keragaman pasti akan selalu muncul sebagai sebuah keniscayaan. Lagipula bila tanpa keragaman, mereka, para kaum Puritan dan yang merasa suciwan (baca: bigot) pasti kehilangan sasaran. Objek yang seolah melegitimasi mereka untuk berpikir dan bertindak macam-macam.

Tanpa keragaman, kepada siapa mereka akan meneriakkan pertentangan, (sok) kebenaran, dan seruan bertobat?

Suasana yang pasti membosankan.

Selain itu, jangan lupa, selalu ada bigot di setiap agama.

[]

Wild Is The Wind (Bagian 2)

Klik untuk baca bagian pertama

“Baiklah Robert. Saya tidak bisa lama-lama. Saya harus pergi.” Robert pun membersihkan mulutnya dengan tissue lalu berkata “Oya sebelum kamu pergi bolehkah saya meminta nomer telponmu?” “Tentu saja. Tidak ada masalah.” Kathleen lalu memanggil waitress untuk meminjam pulpen dan secarik kertas. Lalu dia mencantumkan nomer telponnya di kertas tersebut. “Ini nomerku, Robert. Telpon aku kapan saja.” Robert pun berdiri sambil melihat kertas dengan barisan nomer yang berderet. “Oh, ya. Terima kasih.” Kathleen pun tersenyum “Ok. Saya harus pergi. Sampai jumpa lagi” Robertpun membalas “Ya, terima kasih telah menemani saya hari ini. Jangan dulu tidur malam ini. Seseorang akan mungkin akan menelponmu.” Kathleen pun berlalu sambil menjawab “Saya meragukannya, Robert.”

Mulai malam itu hingga tiga puluh hari berikutnya. Robert tidak pernah absen untuk menelpon Kathleen. Walau untuk hari berikutnya Robert hanya lebih banyak mendengar dan sesekali menimpali jika memang Kathleen membutuhkan. Mereka bisa menelpon sampai dini hari. Sampai salah satunya mengantuk. Atau dua-duanya mengantuk. Robert ada di sana karena Kathleen membutuhkan. Bukan sebaliknya. Robert tahu Kathleen sedang mempunyai masalah. Tapi Robert enggan untuk bertanya langsung. Tapi dengan Robert menelponnya mungkin dia bisa meringankan dan melupakan masalah dengan sejenak. Robert agak khawatir dengan kondisi yang melanda pada Kathleen. Robert beberapa kali melihat konsernya tanpa sepengetahuan Kathleen. Dan dia mencium ada sesuatu yang salah dengan penyanyi pujaannya itu. Robert tidak mau masalah yang dideritanya menjadi memburuk. Sudah terlalu banyak teman-teman dekat Robert yang meninggalkannya karena kecerobohan atau karena masalah yang mereka derita sehingga mereka harus mengakhiri hidupnya dengan overdosis obat-obatan ataupun alkohol. Robert melihat ada potensi itu pada Kathleen. Dan pada hari-hari berikutnya ramalan Robert pun terbukti. Ada satu malam ketika Kathleen menelpon ketika dalam keadaan menangis. Tapi dia tidak berkata-kata apa-apa. Hanya isak tangis yang bisa dia dengar, sampai dia berkata, “Aku rasanya ingin mati saja, Robert.” Sambil menutup telpon dan meninggalkan Robert sendiri dengan kepanikan.

wildisthewind3

Robert pun tertegun sejenak. Lalu dia mengambil botol kecil dari laci. Dan menaburkan serbuk putih tersebut di atas meja kaca yang sudah ia bersihkan. Serbuk putih itu sekarang sudah membentuk garis memanjang. Lalu Robert menundukan kepalanya dan menempelkan hidungnya ke serbuk putih tersebut. Dia menutup salah hidungnya dengan menekan jari telunjuknya dan “Srooot…Aargh.” Robert seketika mendongak setelah dia menghirup semua serbuk yang ada diatas meja. Lalu dia menggosok-gosok giginya dengan telunjuknya sambil melihat cermin di depannya. Meminum sisa bourbon yang ada di gelas lalu menyalakan rokok. Tak lama kemudian dia segera meluncur dan pergi dengan baju seadanya. Tidak flamboyan seperti ketika dia manggung.

Setelah ada di depan pintu apartemen. Lalu dia mengetuk pintu sebanyak tiga kali. Lalu dia menunggu. Tak ada jawaban. Lalu dia mengetuk lagi. Tak lama terdengar suara langkah yang mendekati pintu. Lalu dia mendengar suara pintu dibuka. Terlihat Kathleen sedang bercucuran air mata dan langsung memeluk Robert. Robert pun menyambutnya. Lalu mereka masuk ke dalam.

Tiga puluh menit kemudian, Robert yang sedang merokok sambil berbaring di kasur dan hanya mengenakan celana dalam pun memulai pembicaraan. “Kathleen, bolehkah saya membawakan salah satu lagumu?” “Yang mana?” “Wild Is The Wind” “Oh. Dengan senang hati. Itu bukan laguku koq. Kenapa lagu itu?” “Saya pernah liat dirimu konser di Town Hall membawakan lagu itu. Saya pikir itu versi terbaik.” Kata Robert sambil menghembuskan rokoknya ke langit-langit. “Kathleen kamu itu adalah penyanyi paling berbakat yang pernah saya lihat. Janganlah mengambil keputusan yang bodoh. Sementara saya hanya penyanyi biasa saja. Cuma saja saya menemukan formula yang tepat untuk menjadi seperti ini. Mungkin kamu hanya membutuhkan istirahat dari semua keriuhan ini. Cobalah pergi ke tempat kamu belum kunjungi. Mungkin itu akan membantumu berpikir lebih jernih.” Kathleen cuma menghela nafas panjang sambil menatap langit-langit apartemen. “Mungkin kamu benar. Bagaimana jika Afrika?” “Sound like a plan, Kathleen.”

 

nb: David Robert Jones adalah David Bowie dan Eunice Kathleen Waymon adalah Nina Simone. Cerita pendek ini hanya fiksi belaka. Apabila memang sama dengan kenyataannya apa mau dikata. 

M7: It’s a Goodbye

Dia selalu datang saat hujan. Kali ini, alam ndak lagi ikut aturan musim. Cuaca bisa berganti seketika. Siang panas. Sore hujan. Malam banjir. Pagi kembali kerja. Donnie memutuskan Obsession pagi ini. Dengan asumsi, siang nanti mulai mendung, lalu hujan turun sampai malam. Kalaupun ia salah, Obsession biasanya cuma meninggalkan jejak hangat yang ndak terlalu melukai orang sekitarnya. Kehangatan buah pala dan nilam yang lekat di kulit.

image

Pukul 09.12 lewat pesan WhatsApp.

Haryo: “aku mau cerai.”
Donnie: “kita belum menikah.”
Haryo: “I mean from Mia.”
Donnie: “Ok.”
Haryo: “why ok?
Donnie: “why not ok?
Haryo: “I’m expecting more from you. A little empathy maybe?
Donnie: “M7, kamu berharap terlalu banyak dari orang asing.”
Haryo: “you’re no stranger to me. You know me.
Donnie: “You’re not like that. Itu yang aku tau. And you survived. Udah.”
Haryo: “kamu. Keras banget ya Don?”
Donnie: “I have no choice.
Haryo: “kita punya pilihan kok…”

Seketika Obsession hilang kehangatannya. Buntu. Ada yang ndak seimbang. Ini bukan cinta, apalagi persahabatan. Di satu pihak, pembicaraan ini buang-buang waktu. Di lain pihak, butuh sekedar pembenaran. Jika dipaksakan, akan saling melukai. Jika diteruskan, bisa saling menyakiti.

Haryo: “so, it’s a goodbye Donnie?
Donnie: “it’s a goodbye M7.

Donnie menurunkan kaca mobilnya. Membiarkan angin menerbangkan Obsession melintasi jalan Tb. Simatupang. Mungkin ia segera bercampur dengan aneka uap Senin pagi. Bisa jadi hinggap di hidung seseorang yang termenung di halte Cilandak dan membuatnya berfikir: siapa yang mengorbankan kehangatan hari ini?