Panduan Visual Pedoman Perilaku Penyiaran KPI

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengeluarkan himbauan agar semua operator televisi di Indonesia mematuhi Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) seperti  ini:

image

Himbauan itu perlu kajian lebih dalam. Utamanya berdasarkan perkembangan bahasa Indonesia nan demokratis dan dinamis. Karena, pedoman prilaku baiknya terang benderang demi terjaganya norma kesopanan dan kesusilaan. Juga terlindunginya anak-anak dan remaja. Maka, berikut ini adalah panduan visual Pedoman Perilaku Penyiaran KPI:

“KPI pusat melalui surat ini meminta saudara/i untuk tidak menampilkan pria sebagai pembawa acara (host), talent, maupun pengisi acara lainnya (baik pemeran utama maupun pendukung) dengan tampilan sebagai berikut:

1. Gaya berpakaian kewanitaan;

image

2. Riasan (make-up) kewanitaan;

image

3. Bahasa tubuh kewanitaan, (termasuk namun tidak terbatas pada gaya berjalan, gaya duduk, gerakan tangan, maupun prilaku lainnya);

image

4. Gaya bicara kewanitaan;

image

5. Menampilkan pembenaran atau promosi seorang pria untuk berperilaku kewanitaan;

image

6. Menampilkan sapaan terhadap pria dengan sebutan yang seharusnya diperuntukkan bagi wanita;

image

7. Menampilkan istilah dan ungkapan khas yang sering dipergunakan kalangan pria kewanitaan.”

image

Udah–

Advertisements

Menstagram, Really Men?

Kecuali para pria itu profesinya adalah model, personal trainer, bintang film, motivator fisik dan profesi-profesi lain yang memang perlu menampilkan fisiknya, bisa dipahami mengapa instagramnya dipenuhi selfie.  Instagram telah menjadi media untuk portfolionya. Menjaring potensial klien dan bisnis.

Belakangan semakin banyak pria-pria usia dewasa yang suka memamerkan keelokan fisiknya di Instagram. Dari kota besar kini merambah ke kota-kota kecil di Indonesia. Posenya pun bukan sembarang, tapi sering setengah telanjang. Lekuk-lekuk otot dan tubuhnya yang sempurna, menjadi bagian yang paling ditonjolkan. Memperlihatkan ekspresi wajah yang jantan. Bahkan tak sedikit pula yang telanjang walau malu-malu kucing. Erotisme maskulinitas pria masa kini seperti memasuki wilayah yang tadinya dikuasai oleh perempuan. Sambutlah, Menstagram.

Untuk siapa para Menstagram tersebut melakukan ini? Untuk menarik lawan jenis kah? Dalam sebuah survey kecil di Path, para perempuan kompak berkata bahwa pria-pria seperti itu hanya untuk dilihat atau tidur semalam saja. Jangankan untuk dinikahi, dipacari saja gak mau. Pria yang terlalu mencintai dirinya sendiri, tak menarik. Ada banyak alasan yang mengikutinya, seperti tak bertanggung jawab, penakut, anak mami, kemungkinan besar gay, dan lain sebagainya.

Untuk menarik perhatian sesama jeniskah? Bisa jadi. Karena kalau diteliti satu per satu, sebagian besar yang berkomentar dan memberikan tanda “hati” adalah kaum pria. Pria mengagumi bentuk tubuh dan fisik sesama pria?  Tanpa perlu terburu-buru menuduh orientasi seksualnya gay. Tapi baiklah kita sepakati dahulu bahwa Menstagram sadar sepenuhnya bahwa yang ngelike juga sebagian besar adalah sesama pria. Berarti, memang ada hasrat untuk menarik perhatian sesama jenis di Instagram. Atau setidaknya membiarkannya terjadi.

Relasi sesama pria itu menarik. Kalau ditarik ke belakang zamannya pria jadi kuli pekerja, maka yang terkuat mendapat pengakuan sebagai “pria tulen”. Maka muncullah tokoh-tokoh pria perkasa seperti Hercules. Zaman berkembang, pria yang pemikir dan cakap menjadi sosok pria idola. Kemudian pria yang terkaya menjadi panutan. Dan seterusnya sampai era digital memecah belah. Tak ada lagi satu tipe pria yang menjadi panutan. Tapi beragam. Sekarang masing-masing tipe pria punya “crowd”nya sendiri-sendiri. Demikian pula dengan Menstagram.

Dari runutan itu, dikagumi oleh sesama pria menjadi hal yang alami. Tak hanya ingin dikagumi oleh perempuan, para pria pun ingin mendapat pengakuan dari sesama pria. Sebagai lebih pintar, lebih kaya, lebih cerdas, lebih kuat, dan tentunya, lebih tampan. Yang berarti, sesama pria pun bisa menilai dan mengagumi pria yang tampan, berbadan bagus, bahkan seksi. Sama seperti sesama perempuan saling membandingkan kecantikan dengan perempuan lain. Sama seperti pria menilai mana perempuan yang cantik. Dan kalau ditarik lebih sedikit lebih jauh, berarti setiap pria punya fantasi erotis yang maskulin. Tak hanya fantasi terhadap perempuan

Fantasi itu kemudian ada yang dipendam karena dinilai tak sesuai dengan ajaran agama, adat, kodrat dan keluarga yang berlaku. Ada pula yang dengan santai menerimanya sebagai bagian yang manusiawi. Dan ada pula yang menentang habis-habisan. Group terakhir ini adalah yang sering disebut sebagai yang paling “laki banget”. Mereka sering mengekspresikan kejijikannya kalau melihat foto pria telanjang dada memamerkan otot. Apalagi kalo pose lagi mandi. Melihat para Menstagram berpose, para “laki banget” ini bisa membakar handphonenya.

Artinya, para Menstagram adalah pria yang memiliki sisi feminin yang besar. Feminin di sini tak berarti perempuan. Suka dengan keindahan (fisik), suka dengan pemujaan (likes dan lope), dan suka dengan pengakuan (jumlah followers). Dan ini harus diakui sebagai sifat yang manusiawi dan tak berhubungan dengan orientasi seksualnya. Tak berarti para Menstagram itu gay. Tapi pasti memiliki sifat feminin yang lebih dominan dibanding dengan maskulin.

Otot lengan yang sempurna, perut sixpack, rambut yang rapi dan kekinian, pose yang menggoda, itu adalah soal estetika. Yang selama ini digolongkan sebagai milik perempuan saja.
Menjadi masuk akal saat para perempuan (yang juga memiliki sifat feminin) menjadi tidak tertarik. Tapi bisa menarik bagi para perempuan yang memiliki sifat maskulin. Pemahaman maskulin dan feminin ini yang selama ini terjadi penyempitan makna. Maskulin hanya milik pria dan feminin hanya milik perempuan.
Sehingga banyak yang tidak terima, karena lantas dikaitkan dengan orientasi seksual. Padahal, sekali lagi, tidak ada hubungannya.

Saking khawatir sisi femininnya terbaca jelas, ada Menstagram yang berpose dengan pasangan perempuannya. Ada yang menyebutkan akun pasangan perempuannya di bio. Ada pula yang dengan sengaja berpose seolah habis berhubungan badan dengan perempuan. Atau sekedar memposting quote-quote bertema pria sejati. Ini berarti, citra adalah penting bagi Menstagram.

Karena begitu pentingnya, sebelum sebuah foto dirinya diunggah, bisa dipastikan dia memastikan fotonya itu sesuai dengan citra yang ingin ditampilkan. Sebagai pria berotot, pria eksotis, pria yang fun, pria yang seksi dan sebagainya. Dengan kesadaran akan dikagumi juga oleh sesama pria seperti disebut di atas.

Screen Shot 2016-02-27 at 3.13.42 PM

Sampai dua tahun yang lalu, media masih mempermasalahkan para pria yang suka selfie. Salah satunya NY Daily News yang mangatakan pria yang suka selfie sebagai: people who are narcissistic tend to think they’re better than others, but may have some simmering insecurities. Psychopaths have a lack of empathy for others and are prone to impulsiveness. Self-objectification refers to placing one’s value on appearance. Atau Haruki Murakami dalam bukunya berkata “a gentleman shouldn’t go on and on about what he does to stay fit”. Tapi tenang, mereka tidak dianggap sebagai pria yang berbahaya. Dan belum ada hadits yang menyarankan untuk membunuh Menstagram. Ini hanya perubahan perilaku seiring perubahan zaman.

Karena sebenarnya, narsis pun beragam bentuknya. Ada yang suka kalau dikagumi karena fisiknya, ada yang suka kalau dikagumi otaknya, kepiawaian menulisnya, kemampuan memasak, kecepatannya berlari, ketaatannya beribadah, kekayaannya, dan lain sebagainya.
Perbedaannya ada pada kemampuan mengontrol diri. Seberapa besar kemampuannya untuk menahan agar tak sampai berlebihan sehingga merugikan diri dan citranya. Bukankah semua yang berlebihan hanya akan menjadi senjata makan tuan? Dan kemampuan ini hanya bisa ada kalau memahami dan berempati terhadap sesama manusia.

Misalnya anda perempuan dan baru berkenalan dengan seorang pria yang berpenampilan menarik di sebuah pesta. Pria itu juga memberikan tanda-tanda bahwa dia tertarik dengan anda. Saat pulang, anda langsung mengecek akun media sosialnya. Dan saat melihat akun instagramnya, ternyata dipenuhi dengan selfie beragam pose, mengenakan baju atau telanjang. sedang di gym atau pantai. Semua dipenuhi dengan wajah dan badannya. Masih akankah anda melanjutkan hubungan ini?

Atau anda seorang boss yang baru saja menginterview calon karyawan. Anda kemudian meminta bagian HRD untuk mengecek akun media sosial calon tersebut. “Waduh Boss, liat nih Instagramnya… setdah! Dah kayak model bokep gini boss…” kata HRD.

Atau anda seorang gay, baru berkenalan di Twitter dengan seorang pria. Anda langsung mengecek akun Instagramnya. Yang memang diisi dengan foto-foto menggairahkan yang memamerkan keindahan tubuh dan wajahnya. Anda akan menjadikannya calon pacar idaman, atau hanya akan memanfaatkan tubuhnya saja?

Menstagram bukan soal benar salah atau mulia hina. Ini adalah soal kesadaran bahwa social media telah berhasil mengangkat sisi feminin seorang pria yang selama ini diredam. Mungkin inilah era yang selama ini dinantikan sekaligus dikhawatirkan. Era di mana maskulinitas dan feminitas bergerak leluasa sesuai dengan ekspresi dari hati yang terdalam. Membuka diri atau menutup diri, era itu akan datang. Karena ini soal waktu. Dan tak ada yang bisa mengendalikan waktu. kecuali Sang Waktu sendiri.

jaden-smith-goes-shirtless-wears-a-dress-for-vogue-korea-01Jaden-Smith-to-Star-in-New-Louis-Vuitton-Womenswear-Campaign1

Jaden Smith To Star In New Louis Vuitton Womenswear Campaign

Kita Berbaring di Padang Rumput Lalu Memandang Langit dan Perlahan Mengatupkan Mata Merasakan Dibelai Semilir Angin

Jauhkan aku dari manusia yang tidak mau menyatakan kebenaran kecuali jika ia berniat menyakiti hati, dan dari manusia yang bersikap baik tapi berniat buruk, dan dari manusia yang mendapatkan penghargaan dengan jalan memperlihatkan kesalahan orang lain.

“Eh, tau gak. Gue kemarin lihat dia lho keluar kamer si Bapak itu pas lagi dines”.

 

Tidak ada yang lebih memberikan letupan semangat selain membicarakan orang lain. Karena bicara soal orang lain menjadikan kita laksana dewa yang sedang mengatur nasib makhluk ciptaannya. Berkuasa penuh, dengan berbagai macam emosi campur baur dan olah analisis mengapa begini, mengapa begitu.

“Lihat deh tuh, tas itu sama banget kan dengan punya aku. Apa-apa dia ngikutin gaya aku muluk sih..”.

 

Coba diingat-ingat, kapan terakhir kali kita membicarakan orang lain. Bisa jadi setelah membaca tulisan ini, kita akan kembali asyik masyuk membicarakan siapa lagi. Ini bukan soal peran media sosial dan gawai. Ini soal kebiasaan. Ini soal minat. Ini soal hobi. Ini soal watak. Gawat!

“Jadi, kalo mau cepet dapet target ya, lo kudu mau buka dua kancing lah pas nemuin klien, kayak si.. tau sendirilah lo.. Ahahaha bener kan omongan gue”.

 

Bahwa cara paling mudah agar kita lebih “tinggi” dari sekitar kita adalah dengan “memandang rendah” yang lain. Laksana alih-alih kita naik sebuah kursi kecil ketika akan foto bersama agar tertangkap jelas kamera karena kita berada di baris ketiga, kita lebih memilih mencangkul permukaan tanah depan kita agar baris kedua posisinya lebih rendah. Seperti bukannya berlomba menaiki anak tangga agar kita lebih mulia, siapa lebih tinggi derajatnya, namun memilih berlari sembari membawa kulit pisang dan satu ember oli. Agar yang lain, yang terpenting, jelek di mata sesama. Jatuh bergelimpangan. Rampung.

“Orang yang berjiwa besar memiliki dua hati, satu hati yang menangis dan yang satu lagi hati yang bersabar”

Arena yang paling sering dijadikan wahana saling bicarakan selain “kita” adalah gerobak sayur yang senantiasa keliling kompleks perumahan. Ini dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga. Atau kubikel salah satu ruang kerja. Biasanya dipicu oleh sepiring rujak buah. Atau grup whatsapp. Bagi bapak-bapak tentu saja warung kopi, angkringan, pojok tangga darurat tempat mereka mengepulkan asap. 

“Bukan saya bermaksud menjelekkan dia tapi kenyataannya tuh ya dia itu…”

Paling mudah memang membicarakan apapun selain kita. Bicarakan orang lain yang tak benar maka timbulnya fitnah. Jikapun benar, namun jika itu tidak akan membawa kebaikan bagi yang dibicarakan dan tak membuatnya senang, itulah ghibah. Dalam bahasa padang pasir, ada istilah Fastabiqul Khoirot. Berlomba-lomba dalam kebaikan. Saling mengumpulkan nilai sebanyak-banyaknya. Bukan saling mencoreng muka. Bukan menyematkan bau amis di pakaian sahabat, rekan kerja, atau pasangan kita sendiri.

“Ah, dulu tuh ya jaman masih kere, Bapak itu kan..”. 

Ada saatnya kita mulai membatasi ruang gerak kebiasaan lama. Mulai membedakan mana batas privasi orang lain dan ranah publik. Lebih mengenal dan menghormati kehidupan orang lain. Bahwa ketidaksempurnaan “selain kita” bukan menjadi alasan pembenar untuk dapat didiskusikan dan menguliti segala permasalahan yang menghinggapinya.

Apa yang lebih indah dari saling menjaga hati agar tetap berseri-seri?

Salam anget,

Roy

 

This AND That

It is the mark of an educated man to be able to entertain a thought without accepting it. – Aristotle

Just a short note on my past obsessive ramblings of thoughts. Otherwise I would never get over it and move on to other things.

I always respect anybody’s educated opinion, I really do. What bugs me if they stick to that and refuse to even listen to opposing opinions. As if only by listen, they would be forced to change their minds about what they strongly believe. Which are for most of things, not the case.

I’m not talking about opinion about arts, or things that are by nature subjective like those, but about the truth, or what we perceive as the truth.

I always thought that human is born a curious being. So when something come our way, why not look at it, listen to it, sense it and learn from it rather than cover your eyes, your ears and refuse to touch it all together.

Entertaining ideas, thoughts, beliefs, doesn’t always mean we accept it. It might be right, it might be wrong, but who are we to judge? Or how does it matter? If it’s wrong, don’t you think it’s even better for us to know?

You might find this annoying, but to me, fanaticism is a partial blindness. I think if you know more, you won’t be fanatic over one thing. Because you will see that there are lots – billions and billions – of options. Of knowledge. Turning our heads against them is just plain – well – stupid. Nobody, I mean NOBODY could tell us that we have to choose between this or that. “So whose side are you in? Science or religion/ spiritualism? Atheism or agnosticism? Skepticism or faith?” Nobody would hold a knife in your neck and make you choose, otherwise your throat would be slit. No.

So this is me: I strongly believe in science. I also believe there’s a higher power, an order, a cosmos. One day I wake up as an atheist. But every night I whisper gratitude to someone that I know will always listen to me. I don’t buy everything that presented to me, thus I’m a skeptic. But then I would try to know more about it, by reading. I also have faith, no, faith isn’t a strong enough word, I KNOW, that everything would be taken care of. Not by gods, but by us. Because we are gods of our own Cosmos.

Hidup itu Pilihan

Salah satu pekerjaan rutin saya setiap tahun adalah menonton ratusan film pendek. Semuanya buatan dalam negeri. Banyak yang bagus, lebih banyak lagi yang tidak bagus.
Dari ratusan film pendek itu, saya memberikan penilaian. Mana yang pantas untuk dipertontonkan, mana yang kurang pas. Tentu saja sesuai dengan kriteria yang sudah saya dan tim tetapkan bersama.

Yang menarik adalah proses menonton itu sendiri. Meskipun sebisa mungkin saya tidak perlu tahu siapa pembuat film, apalagi latar belakangnya, tak jarang ada rasa penasaran muncul.

“Eh, film ini bagus. Siapa yang bikin?”
“Oh, anak baru, mas. Baru pertama kali bikin film.”
“Oh ya? Dari mana?”
(misalnya) “Dari Jayapura.”
“Wah! Keren juga.”

Di saat seperti itu, saya suka tergoda mengambil kesimpulan cepat: berarti anak-anak Jayapura sudah bisa bikin film pendek yang bagus ya.

Lalu saya melanjutkan seleksi film lagi. Menonton satu per satu. Awal-awal masih semangat. Tetapi seringnya terasa letih dan lelah. Mata sudah capek melihat layar televisi atau laptop. Apalagi kalau film-film yang ditonton secara berturut-turut kualitasnya kurang baik.
Kalau sudah begitu, kadang tak sengaja saya lihat latar belakang pembuatnya.

“Ini dari tadi nonton film buatan komunitas X. Ya ampun. Jelek-jelek semua. Saking jeleknya, pas logo komunitas mereka keluar, gue udah curiga duluan. Dari mana sih?”
“Itu dari (misalnya) Jayapura, mas.”
“Ha? Dari Jayapura juga? Tapi bukan sama seperti yang bagus yang kita tonton kemarin kan?”
“Bukan.”
“Kok bisa sih, yang satu bagus banget, yang satu hancur banget?”
“Ya nggak tahu.”

Dan saya memang tidak mencari tahu lebih lanjut. Tetapi saya bisa menduga-duga sambil berkhayal.

Acap kali saya membaca atau mendengar komentar orang yang mempertanyakan, kenapa kualitas karya, dalam hal ini karya seni visual, dari teman-teman di luar Jakarta atau di luar Jawa, hasilnya kurang bagus. Saya cuma mengernyitkan kening, setengah protes. Nggak kok. Yang jelek ada, yang bagus ada. Mereka menghirup udara yang sama.

Ada yang memberikan hipotesa, kalau adanya keterbatasan akses informasi. Karena terbatas, jadi tidak banyak referensi. Saya mengernyitkan kening lagi. Nggak kok. Yang jelek ada, yang bagus ada. Mereka menghirup udara yang sama. Mereka sama-sama melek internet.
Kalau yang satu memilih sinetron sebagai acuan referensi, sementara yang lain memilih Youtube, atau rela mengutak-atik VPN demi akses ke Vimeo, maka itu sudah pilihan masing-masing.

Dan semua karya berpulang pada pilihan.

shutterstock_230171401

Sama-sama punya kuota data, tapi ada yang memilih untuk menghabiskannya demi eksis di media sosial, ada yang memilih untuk mengunduh materi belajar.
Sama-sama punya akses ke Youtube, tapi ada yang memiliih untuk menonton kucing berbicara, ada juga yang memilih untuk melihat tutorial mengoperasikan kamera.

Saya jadi ingat cerita pak Aris Prasetyo. Dia guru pembina ekstra kurikuler film di SMP Negeri 4 Satu Satap di kaki Gunung Slamet, kabupaten Purbalingga. Saat saya bertemu langsung dengannya dua tahun lalu, kami semua bertanya, bagaimana dia bisa menjadi pembina ekstra kurikuler film di tempat terpencil.
Lalu dia bercerita. Dia meminjam kamera video temannya. Kamera video ini sederhana, karena biasa dipakai untuk dokumentasi acara pernikahan. Pak Aris tidak pernah mengoperasikan kamera sebelumnya.
Lalu dari mana dia belajar? Dari Youtube. Dia tonton satu per satu video tutorial mengoperasikan kamera video, termasuk membenahi kalau ada kerusakan. Lalu ilmunya dia tularkan ke anak didiknya.
Sudah bukan rahasia umum lagi kalau anak-anak di kaki Gunung Slamet ini lebih memilih untuk putus sekolah, bekerja membantu orang tua mereka di sawah, atau pergi ke kota sekitar mencari pekerjaan. Namun pak Aris tidak ingin anak-anak ini putus sekolah. Maka diciptakannya ekstrakurikuler membuat film. Anak-anaknya ketagihan. Mereka betah di sekolah. Lalu mereka berbondong-bondong membuat film pendek. Film-film mereka banyak memenangkan penghargaan tingkat nasional, mengangkat nama kota mereka.

Pilihan. Kita dihadapkan pada begitu banyak pilihan setiap detik.

Apalagi di saat-saat seperti ini, kala nalar kita dan kemampuan berpikir logis kita sedang diuji.
Stupidity is contagious. Maka pilihan untuk mempertahankan kewarasan pikiran menjadi hal mutlak yang perlu dilakukan.

Mulai membaca buku lagi. Belajar bahasa asing baru. Menonton film dokumenter. Ikut kuliah online gratis. Menyadari bahwa di luar Indonesia ada bagian dunia yang lebih luas lagi dengan ragam agama, budaya, kebiasaan dan aturan yang mungkin kita belum tahu. Tidak perlu ke sana kalau belum mampu, cukup mencari tahu. Berbicara pada orang lain karena ingin mendengar apa yang dia katakan.

Selalu ada pilihan untuk hidup, dan hidup lebih baik.

(Courtesy of manataka.org)

(Courtesy of manataka.org)

Ketidaktahuan Itu Manusiawi Kok, tapi Prasangka Tidak

TIDAK tahu ya tidak tahu, atau belum tahu. Itu saja, bukan lainnya.

Karena itu, bersikaplah selayaknya orang yang tidak tahu jika memang tidak tahu. Hindari bersikap lain, atau siap-siap saja ketambahan drama tak berguna. Drama yang buat apa dicari, seolah hidup yang tengah dijalani saat ini kurang melelahkan saja.

Akan tetapi, banyak orang yang tidak tahu kalau mereka tidak tahu, atau malah merasa sudah tahu dengan kepercayaan diri berlebih.

Mereka tidak sadar bila sebenarnya mereka tidak tahu, bahkan tidak mau menerima kenyataan bahwa mereka tidak tahu demi gengsi dan harga diri.

Mengapa bisa begitu?

Sebab tidak ada seorang pun yang mau dianggap bodoh!

Ketidaktahuan tidak sama dengan kebodohan. Tidak tahu bukan berarti bodoh. Jangan bias dengan penggunaan kata ignorance dalam bahasa Inggris, yang bisa sama-sama diartikan sebagai ketidaktahuan maupun kebodohan.

Ada perbedaan besar dan mendasar di antara keduanya. Sayangnya, di negara ini, kita kerap dihadapkan pada anggapan timpang bahwa ketidaktahuan dan kebodohan itu ibarat kembar dempet; kalau tidak tahu pasti bodoh.

Buktinya, kita masih sering mendengar hardikan: “Begitu aja kok enggak tahu?! Dasar bodoh!” di lingkungan sekolah, kampus, tempat kerja, kehidupan sosial, bahkan dalam rumah sendiri sejak seseorang masih kecil, dan akhirnya meninggalkan dampak sampai ybs dewasa. Termasuk melakukan tindakan yang sama kepada anak-anaknya dengan efek serupa. Begitu yang terjadi secara berulang dan terus menerus.

Sejauh ini, hanya ada dua cara untuk mengatasi ketidaktahuan:

  1. Mencari tahu dengan berbagai metode,
    1. Bertanya
    2. Membaca
    3. Menguji coba
    4. Melihat
    5. Pengindraan lainnya (menyentuh, mengendus, mengecap, mendengar)
    6. Penalaran atau perenungan
  2. Diberi tahu.

Dari kedua cara di atas, informasi yang diperoleh pun belum tentu benar dan apa adanya sebelum sungguh-sungguh terverifikasi.

Lalu, mengapa ketidaktahuan sampai bisa diidentikkan dengan kebodohan?

Ini kata Ko Glenn dalam tulisan Minggu kemarin.

1. Jangan Banyak Bertanya

Semakin sedikit bertanya, semakin mudah hidup di Indonesia. Semakin banyak bertanya akan banyak label yang melekat dan menyusahkan di kemudian hari. Misalnya: bodoh, kurang memperhatikan, kritis bahkan pembangkang. Ini tak baik untuk jenjang pendidikan dan karir.

Kalau ada pertanyaan, usahakanlah cari tahu sendiri dulu. Sekarang kan sudah ada Google Institute. Atau, bertanyalah hanya di ruang-ruang privat. Bertanya di depan umum di negara ini bisa dinilai sebagai serangan.

Sudah jelas kan hubungannya. Antara ketidaktahuan, pertanyaan yang disampaikan, rasa malu dan harga diri tidak ingin dianggap bodoh serta jadi bahan tertawaan.

Ironisnya, banyak orang yang tak mau dianggap tidak tahu (karena dianggap bodoh), tapi malah doyan menganggap orang lain bodoh (karena tidak tahu). Lengkap dengan tudingan benar/salah, baik/buruk, bagus/jelek, dan sebagainya. Sampai-sampai menjadikan mereka para polisi moral yang tahu segalanya.

Mengapa mereka bisa bersikap begitu padahal mereka tidak benar-benar tahu?

Karena prasangka dan anggapan keliru.

Prasangka: “pendapat (anggapan) yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui (menyaksikan, menyelidiki) sendiri.” – Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Berdasarkan definisi tersebut, prasangka sendiri muncul dari ketidaktahuan yang dibiarkan, mengendap menjadi sikap sok tahu yang masif dan bisa berdampak melalui tindakan.

Kembali ke kalimat di beberapa paragraf atas; mereka tidak sadar bila sebenarnya mereka tidak tahu, bahkan tidak mau menerima kenyataan bahwa mereka tidak tahu demi gengsi dan harga diri.

Semuanya kian lama kian seperti kerak jelaga di pantat panci. Menghitam, mengeras, dan susah untuk dibersihkan lagi.

Entah, apakah mereka sadar atau tidak jika prasangka yang mereka simpan dan sebar luaskan bisa merugikan orang lain, bahkan diri mereka sendiri.

Silakan jawab ini, kalau bisa.

Kalau belum tahu, kenapa bersikap seakan sudah tahu?

Kalau belum tahu, kenapa bicara seakan sudah benar-benar tahu?

Sejatinya, tak ada yang salah dengan menjadi seseorang yang tidak tahu. Ketidaktahuan itu manusiawi, dan semua manusia terlahir besertanya. Yang salah adalah ketika menjadi seseorang yang tidak mau tahu, dan menggunakannya untuk mengusik orang lain, serta kecanduan atasnya.

Saran aja sih. Supaya dari tidak tahu menjadi tahu, setidaknya bertanyalah. Punya otak yang sehat, mulut yang normal, dan telinga yang berfungsi baik, kan? Mari dipergunakan dengan sebaik-baiknya.

Kecuali kalau memang dasarnya bebal, susah obatnya.

[]

Witness Me! Mad Max Akan Merajalela di Oscar 2016

Hari Senin depan, tanggal 29 Februari 2016, pagi hari sekitar pukul 08:00 WIB pengumuman pemenang Oscar akan dimulai. Perhelatan akan digelar di Dolby Theatre, Hollywood, California. Kak Leila sepuluh hari sebetulnya sudah membahasnya di sini. Saya di sini cuma menambah yang belum dibahas. Poinnya kurang lebih sama. Apa coba? Tahun lalu J.K. Simmons di film “Whiplash”, Julianne Moore di “Still Alice”, dan Patricia Arquette di film “Boyhood” yang sudah bisa diprediksi akan menang jauh hari sebelum Oscar diumumkan. Yang menjadi misteri cuma di kategori Best Actor, apakah Michael Keaton di “Birdman” atau Eddie Redmayne di “The Theory of Everything”. Saya masih kesal sampai sekarang karena saya menganggap Keaton yang lebih pantas mendapatkannya. Eddie Redmayne masih panjang karirnya. Walaupun memang aktingnya luar biasa sebagai Stephen Hawking di film tersebut.

Nah, untuk tahun ini ada dua kuda pacu yang berlari kencang di Oscar 2016 ini. The Revenant dengan 12 nominasi dan Mad Max:Fury Road dengan 10 nominasi. Dua film ini mempunyai satu kemiripan. Yang satu dikejar. Yang satu lagi mengejar. Tapi prediksi saya Mad Max: Fury Road akan meraih Oscar lebih banyak dari The Revenant. Setidaknya lima dari sepuluh kategori akan disabet Mad Max: Fury Road di Oscar tahun ini. Film ini akan seperti “Whiplash” tahun kemaren. Akan bikin kejutan. Oke sekarang waktunya kita bagi-bagi kue. 

Kalau menginginkan George Miller mendapatkan Oscar di kategori Sutradara Terbaik maka harus merelakan Mad Max: Fury Road untuk mendapatkan Film Terbaik. Akankah Spotlight akan meraih Film Terbaik di kategori ini? Seperti film Argo beberapa tahun ke belakang? Film ini sangat apik. Bernas. Satu Oscar akan diraih Spotlight di kategori Best Original Screenplay. Film ini mengingatkan saya pada film “All The President’s Men” yang dibintangi Robert Redford dan Dustin Hoffman. Kedua film ini mempunyai tema yang mirip. Cuma beda era. Keduanya diangkat dari kisah nyata. Sebuah surat kabar yang melakukan investigasi yang menguak kebusukan satu institusi. Yang satu institusi keagamaan. Satu lagi institusi pemerintahan. Tapi saya tetap menjagokan Mad Max: Fury Road sebagai Film Terbaik.  Ketika “Lord of the Ring: The Return of the King” bisa memenangkan film terbaik di tahun 2004. Maka semua kemungkinan terbuka. Jangan kaget juga kalo Big Short dapat Oscar di kategori Film Terbaik ini.

Sutradara Terbaik akan diraih oleh George Miller di film Mad Max: Fury Road. Film ini begitu segar. Inovatif dan juga feminis. Dulu kita punya Sigourney Weaver atau Linda Hamilton. Maka era ini kita mempunyai Imperator Furiosa yang dibintangi Charlize Theron. Butuh dua puluh tahun Miller untuk menyelesaikan film ini. Naskah untuk film ini sudah ada di benaknya sejak lama. Mel Gibson sejatinya akan tetap menjadi Max Rockatansky. Tapi karena produksinya selalu mundur karena selalu menemui kendala dan akhirnya peran tersebut diberikan kepada Tom Hardy. Mel Gibson sudah terlalu berumur untuk memerankan peran ini. Film yang didominasi oleh adegan kejar-kejaran enak dipandang. Tidak membosankan karena kita selalu disuguhi dengan visual yang ajaib. Itu kenapa Mad Max akan mendapatkan Oscar di kategori Best Visual Effect, Best Costume, Best Make Up and Hair Styling, Best Film Editing, Best Sound Mixing. Film bergenre post apocaliptyc tidak pernah dibuatkan semenyenangkan ini. Dan jangan lupa, Miller berhasil membuat Mad Max sebagai waralaba yang patut diperhitungkan di luar Hollywood. Ini adalah film terbaik tahun 2015 versi saya. Karya anak bangsa Australia. Ganjalan Miller untuk meraih kategori ini adalah Alejandro Iñárritu di film The Revenant. Tapi ia sudah menang tahun lalu melalui “Birdman”. Apa mungkin menang lagi tahun ini? Satu hal yang pasti. Ada yang akan membuat sejarah tahun ini. Dia adalah Emmannuel Lubezki. Dia saya prediksi akan mendapatkan Oscar ketiganya secara berturut-turut di kategori Sinematografi Terbaik di film The Revenant. Di tahun 2015 dia mendapatkannya di “Birdman”. Dan tahun sebelumnya di film “Gravity”.

Untuk kategori Aktor Pendukung Terbaik ini mungkin lebih ke tribut ke Sylvester Stallone yang sudah mendedikasikan hidupnya untuk film selama puluhan tahun. Stallone juga berhasil melanjutkan waralaba film Rocky di film “Creed”. Kuda hitamnya yaitu Mark Rylance yang berperan sebagai mata-mata di “Bridge of Spies”. Sementara untuk kategori “Aktris Pendukung Terbaik”  sepertinya kategori ini sudah terkunci oleh Jennifer Jason Leigh. Perannya sangat solid dan menjadi pembicaraan di film “Hateful Eight”. Quentin berhasil menjadikan Jennifer seperti Christoph Waltz di Inglorious Basterds dan Django Unchained. Tapi Alicia Vikander–yang mendapat dua nominasi di Oscar tahun ini– bisa saja menjadi ancaman serius. Atau Kate Winslet juga menyabet Oscar keduanya tahun ini melalui film “Steve Jobs”.

Sementara film “The Big Short” berusaha menjelaskan istilah-istilah ekonomi yang bikin dahi berkenyit dengan menampilkan cameo seleb agar terlihat sederhana. Film ini juga dibuat dengan agak komedi. Latar belakang sutradara dan film-film sebelumnya bisa menjelaskan hal ini. Film yang menceritakan krisis ekonomi tahun 2008 memang hasil kebobrokan para institusi keuangan terkemuka di Amrik sana. Hal yang sebetulnya bisa dihindari jika saja mereka hati-hati dan tidak tamak. Maka di sini The Big Short akan meraih Oscar di kategori Best Adapted Screenplay.

Ketika sebuah film menyajikan tentang holocaust atau sesuatu yang berkaitan dengan NAZI maka itu akan mendapat perhatian para juri Oscar. “Son of Saul” menawarkan itu. Film dari Hungaria ini begitu emosional. Karena kita diajak untuk melihat kamp konsentrasi dari dekat. Untuk itu Best Foreign Film akan jatuh kepada Son of Saul.  Sementara “Bridge fo Spies” akan meraih satu Oscar di kategori “Best Production Designer”. Namun pilihan sulit sebagai pengagum Amy Winehouse dan Nina Simone di kategori Film Dokumenter Terbaik. Film “Amy” di beberapa ajang penghargaan serupa film ini pun juara. Maka kategori ini akan menjadi milik Amy. Yang menjadi pertanyaan saya adalah kenapa AMPAS sebagai asosiasi juri Oscar ini tidak menyertakan “Listen To Me Marlon” atau “Going Clear: Scientology and the Prison of Belief” dan malah memilih film Joshua yang berjudul “Senyap” yang menurut saya standar saja?

Untuk kategori Film Animasi Terbaik sih ini tinggal merem. Setelah Wall-E, mungkin Inside Out adalah film rilisan Pixar favorit saya untuk kategori animasi. Tidak banyak film yang bisa membuat mata saya berkaca-kaca. Ceritanya orisinil dan pintar. Cuma Anomalisa yang akan menjadi rintangan. Sementara di kategori Best Song sepertinya tahun ini menjadi tahunnya Lady Gaga. Setelah sukses menyanyikan lagu kebangsaan di Superbowl. Lalu juga berhasil mendapatkan trofi perdananya di Golden Globes. Tidak berhenti di situ dia terus melaju dengan dipercaya untuk melakukan tribut untuk David Bowie di Grammy. Maka tahun ini dia akan menggondol Oscar pertamanya melalui lagu Till It Happens To You yang di ambil dari film “The Hunting Ground”. Alasan lainnya, saya tidak mau Sam Smith menang. Ada masalah?

Ennio Moricone usianya sudah di kepala delapan. Satu angkatan dengan Clint Eastwood. Banyak sekali karya yang sudah dihasilkan oleh mereka berdua. Quentin Tarantino sebagai penggemar Ennio dan juga spaghetti western bahkan sudah memintanya untuk mengisi skoring di salah satu filmnya sejak “Inglorious Basterds”. Tapi karena kesibukannya dia menolak. Dan Quentin terpaksa mendaur ulang karya Ennio yang sudah pernah dipakai di film lainnya. Di “Django Unchained” pun, kesempatan itu tidak juga hinggap. Sampai ketika di “Hateful Eight”, Quentin bisa berkolaborasi dengan Ennio Moricone. Mimpi yang menjadi kenyataan. Semua nominasi Oscar 2016 bisa diklik di sini.

Sambil menunggu kurang dari seminggu. Mari kita segarkan ingatan kita dengan monolog pembuka dari Chris Rock yang tahun ini menjadi host untuk kedua kalinya. Ini adalah cuplikan (yang ternyata sudah diedit dan saya tidak menemukan versi penuh) dari monolog pembukanya di tahun 2005. What a lovely day!

Taksonomi Calon Gubernur DKI 2017

The “I’m better than everyone else here.”
Adhyaksa Dault

image

The “Maybe in 2423.“
Nachrowi Ramli

image

The “Goldmember girl.”
Hasnaeni Moein

image

The “I know how but I’m lost.”
Marco Kusumawijaya

image

The “I don’t know. I won Twitter ballot.”
Biem Benjamin

image

The “I can’t do this but I’m confidence.”
Ichsanuddin Noorsy

image

The “Who are you again?”
Mohamad Sanusi

image

The “Really, Jakarta?”
Abraham Lunggana

image

The “Social Media Buzzer is still a thing” Feb 29th, 2016 update
Ridwan Kamil

image

The “Mirror mirror on the wall, who’s the prettiest of them all?”
Sandiaga Uno

image

The “(insert stream of the most vulgar curse words)”
Ahmad Dhani

image

The “Bring it on, bitches!”
Ahok

image

The “Sodom and Gomorrah.”
Gandrasta Bangko

image

Panduan Menjadi Warga Negara Indonesia yang Bahagia

Berikut adalah panduan untuk menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) yang baik berdasarkan pengalaman dan pengamatan sepanjang hidup. Panduan ini dibuat bertujuan agar para pembaca bisa mendapatkan tempat dan kedudukan yang layak di masyarakat dan kemungkinan besar di akhirat.

1. Jangan Banyak Bertanya

Semakin sedikit bertanya, semakin mudah hidup di Indonesia. Semakin banyak bertanya akan banyak label yang melekat dan menyusahkan di kemudian hari. Misalnya: bodoh, kurang memperhatikan, kritis bahkan pembangkang. Ini tak baik untuk jenjang pendidikan dan karir.

Kalau ada pertanyaan, usahakanlah cari tahu sendiri dulu. Sekarang kan sudah ada Google Institute. Atau, bertanyalah hanya di ruang-ruang privat. Bertanya di depan umum di negara ini bisa dinilai sebagai serangan.

2. Jadilah Sama

Makanya kita suka sekali mengenakan seragam. Mau di sekolah, kantor, atau acara perkawinan. Tampil beda, itu bisa dinilai sebagai pembangkang. Tak perlu lah berusaha untuk jadi berbeda. Apalagi menonjol. Nanti banyak yang tidak suka dan akan berusaha meruntuhkan.

Kalau pun ingin berbeda, kulo nuwun dulu. Minta izin pada sebanyak mungkin orang agar mendapat restu. Setelahnya, baru bersama-sama berbeda.

3. Jangan Menjadi Diri Sendiri

Untuk apa menjadi diri sendiri kalau itu akan membuat kamu dikucilkan dan diasingkan. Bukan hanya akan mempersulit karir tapi juga kehidupan. Kamu mungkin dilahirkan unik dan berbeda. Tapi tolong, kubur dalam-dalam keunikanmu itu.

Kadang, kamu pun tak boleh menjadi diri sendiri demi karir orang tuamu, demi bisnis pasangan hidupmu, untuk kebaikan bersama.

4. Tampilkan Doamu

Baiknya pilihlah agama yang dipeluk oleh mayoritas penduduk Indonesia. Dan rajin-rajinlah berdoa sesuai dengan ajaran agama. Pun belum bisa sepenuhnya, kenakanlah pakaian yang sesuai dengan ajaran agama. Bukan hanya penerimaan, tapi juga pujian akan didapat.

Jangan lupa, pastikan sebanyak mungkin orang tau saat sedang berdoa. Bukan hanya untuk Tuhan. Ingat, Tuhan ada di mana-mana, dan besar kemungkinan ada di Twitter, Instagram dan Facebook.

5. Sesuai Kodrat

Lahir, sekolah, bekerja, menikah, mati. Ini adalah kodrat. Melawan ini berarti ada kesalahan. Dan bukan hanya kamu yang akan menanggung tudingan, tapi juga keluargamu. Jangan lupa untuk melaksanakan kodrat sesuai usia yang disepakati bersama.

Di setiap jenjang kodratmu itu, pastikan sebanyak mungkin orang yang ikut merasakan kebahagiaan. Ini perlu. Ingat, kamu tak boleh bahagia sendiri di negara ini. Kebahagiaan adalah milik bersama. Semakin banyak yang ikut berbahagia, semakin besar pahalamu.

6. Berpenampilan Menarik

Kalau ada uang lebih, lebih baik bedah plastik ketimbang menambah ilmu pengetahuan. Karena penampilan yang menarik dan simpatik, akan lebih membuka jalan ketimbang kecerdasan. Yang cakep bisa jadi pimpinan, yang cakap jadi anak buah yang cakep.

Ini pun akan menunjang kepopuleran di media sosial. Semakin sering selfie, bisa semakin banyak followers. Jangan lupa, follower adalah mata uang terkini. Lumayan bisa buat nambah-nambah jajan. Toh di negara ini, siapa yang ngomong lebih penting dari apa yang diomongkan.

7. Panjang Sabar

Terimalah kenyataan bahwa di negara ini semua butuh waktu. Bergerak cepat sendiri akan membuat lebih cepat lelah. Ingat, bergerak sendiri bisa dinilai sebagai pembangkang. Akan banyak orang yang akan merasa dirugikan. Sesuatu yang baru, butuh waktu.

Orang sabar disayang Tuhan. Orang sabar banyak berkah dan pahala. Kalau sudah tidak sabar, kendalikan hawa nafsu. Ingat selalu, mengendalikan hawa nafsu adalah salah satu bentuk ketaatan pada agama.

8. Jadilah Kaya

Atau setidaknya berpenampilan dan bergaya seperti layaknya orang kaya. Tak ada tempat bagi orang miskin. Apalagi kalau berharap untuk didengarkan. Orang miskin akan tersingkirkan. Halalkan segala cara untuk menjadi kaya atau berpenampilan kaya. Demi kelancaran usahamu.

Berpenampilan kaya pun akan mempermudah untuk bergaul dengan orang-orang yang lebih kaya, yang akan membuka banyak peluang meningkatkan kekayaanmu.


Silakan tambahkan sendiri kiat-kiat untuk menjadi warga negara Indonesia yang baik di kolom komentar 🙂

BukuBaruMice

Disfruto

Sepertinya sederhana dan mudah, tapi nyatanya begitu sulit. Teorinya gampang, tapi prakteknya astagpilulo. Memperlakukan orang lain dengan baik, tanpa kecuali. Saya sendiri masih jauh dari harapan dalam soal ini.

Kita bisa jatuh cinta dengan cara orang lain bersikap terhadap kita. Seolah-olah kita hanya satu-satunya manusia yang tersisa di muka bumi.

Sekarang mari kita ingat-ingat kembali, kapan terakhir kita merasa diperlakukan istimewa? Saat naik uber dan disapa sopir dengan sumringah? Saat dilayani membeli kopi di St. Ali? Saat pramugari tersenyum seraya menyodorkan permen fox aneka rasa? Saat atasan memuji? Saat anak memeluk kita sebelum tidur? Atau saat pasangan kita berada dipelukan sembari goyang?

Lalu apa balasan kita?

Sebatas ucapan terima kasih atau lebih? Apakah saat menutup pintu kita sudah ucapkan terima kasih kepada pak sopir? Apakah kita sudi memberi tips yang diletakkan di toples depan kasir atau barista? Apakah kita anggukkan kepala sembari tersenyum kepada pramugari jelita nan baik hati? Membalas pujian atasan dengan bekerja lebih semangat dan hasil nyata? Mendongeng kisah si kancil hingga anak terlelap? Memijat pasangan ketika badan pegal padahal kita sendiri merasa tulang kita terlepas dari engselnya satu sama lain?

Ini agak mudah jika sepenggal skenario hidup memberikan kita rasa manis. Membalasnya, tak perlu mikir seharusnya.

Bagaimana jika ternyata saat naik taksi blue bird malah mas sopir ndak tau jalan dan ketiaknya bau maling? bagaimana jika pesanan picolo namun yang diberikan malah kapucino? Bagaimana jika tiba-tiba ada tas kresek berisi makanan jatuh dari atas kabin saat ditata pramugari? Bagaimana jika kita disentil atasan di hadapan kolega saat rapat resmi? Bagaimana jika anak kita protes karena kita tak menghadiahkan perhatian yang cukup padanya? Bagaimana sikapa kita saat butuh memeluk ternyata pasangan kita sibuk dengan gawai dan teman-teman whatsapp grup-nya?

Ketika positif ditanggapi positif mudah, apakah kita juga perlu mengalah ketika hal negatif menimpa kita? Wajar jika kita marah. Itu hak kita. Menyuarakan apa yang ada di hati. Apa yang terlintas di pikiran. Bukankah unek-unek seharusnya dikeluarkan daripada berubah wujud menjadi batu empedu?

Tapi apa iya kita seperti itu terus menerus? Saya terkadang menyesal telah memarahi tukang parkir karena mereka lebih mirip ninja. Datang tiba-tiba saat kita telah susah payah maju mundur maju mundur tanpa bantuannya dan akan meninggalkan arena. Saya sering bertanya-tanya mengapa saya tega mengatakan pada mas taksi agar sebaiknya jadi penjual pulsa saja daripada banyak bertanya mau lewat mana. Saya juga seringkali menyesal ketika anak-anak minta jalan-jalan ke taman dekat rumah tapi saya delegasikan kepada mbak-mbak yang memang bertugas mengasuh dan menyuapi mereka saat jam makan tiba.

Pernahkah kita jatuh cinta pada sebuah sikap? Ketika saat mereka ditekan dan kita marahi atau setidaknya tidak diperlakukan dengan baik namun tetap tersenyum? Mereka berani mengorbankan perasaan tercabik-cabik dan tetap memberikan tatapan mata melayani dan sabar. Bisa jadi karena memang tugasnya. Tapi lebih pasti, mereka menampilkan usaha keras bahwa “Bapak berharga di mata kami. Atas kekesalan Bapak, saya tetap akan melayani Bapak”.

Saya ndak tau bagaimana kehidupan pribadi mereka. Apakah CS yang selalu menerima keluhan pelanggan kehidupannya normal dengan banyak tawa? Apakah pelayan restoran selalu mudah membayar kontrakan rumah? Apakah pramugari tersebut ndak pusing saat kontrak kerja tak boleh menikah dihadapkan dengan desakan calon mertua untuk meresmikan hubungan dengan anak mereka?

Wajah adalah kaca display. Senyuman adalah etalase. Binar mata adalah tampilan eksterior. Bisa jadi apa yang ditampilkan berbeda dengan isi. Tapi setidaknya menghargai tampilan luar adalah cara mudah menjalani hari-hari ketika kesulitan menimpa.

Ndak adil rasanya jika kita meluapkan emosi semata-mata hanya karena kita kecewa. Alasannya dua. Pertama, bisa jadi mereka ndak sengaja. Kedua, jika pun sengaja, ada kesempatan kita untuk berbuat mulia: menahan emosi dan menjaga perasaan mereka.

Menjadi bangsawan bukan karena darah biru kita. Bangsawan di era digital adalah soal sikap kita. Bangsawan bukan karena garis keturunan namun menjaga martabat dengan berlaku sopan tanpa kecuali.

Ada yang bilang bahwa yang paling berpotensi menyakiti kita adalah orang yang kita sayangi. Mengapa?

Karena kita menaruh harapan lebih di pundak mereka. Berharap mereka membalas perhatian kita. Berharap mereka melakukan apa yang kita inginkan. Berharap membalas mencintai. Berharap selalu ada saat kita mau. Karena kita telah melakukan semua itu. Seolah-olah kita melakukan sesuatu yang harus mendapatkan hasilnya. Sesuatu yang transaksional. Bertukar aksi.

Bagaimana dengan pilihan untuk tanpa pamrih saja? Susah. Begitu susah! Berbuat sesuatu karena memang kita menyukai melakukan itu.

Dalam banyak hal kita menyerah dengan kondisi kita adalah manusia biasa. Bukankah manusiawi. Berlindung di balik kemanusiawian kita sejatinya kita bisa lebih mulia. Bukankah muka berjerawat adalah hal manusiawi, tapi mengapa kita berusaha memiliki wajah mulus?

Sabtu pagi baru dijelang. Banyak waktu luang untuk melakukan segala hal. Semuanya adalah pilihan. Kita dianggap baik atau kita berpikir kita baik. Ndak perlu bertanya pada orang lain apakah kita baik.

Perlakukan saja orang lain, seperti kita ingin diperlakukan. Memang klasik. Tapi ternyata sulit.

Salam anget,

Roy
+bonus: suara merdu sahabat saya, Gandrasta.

Gula itu Tak Selalu Manis

Sesuai kebiasaan dan sangat tertebak, kali ini saya ingin membahas soal makan dan pola makan lagi. Mungkin disebabkan oleh pembahasan tadi malam, yang diakibatkan oleh post Glenn di socmed yang mengatakan kalau makanan instan sekarang berusaha semakin menyerupai makanan resto, sementara makanan restoran malah bangga mengadaptasi makanan instan. Ketika saya bertanya untuk meminta penjelasan, Glenn memberikan ini.

AsRa-SMnOzVHgOI-hqtaNh-zIF4D2QJt0atK_oTkrdlN

Tentu tidak ada yang salah dengan konsep ini, saya hanya mendadak berpikir, kalau banyak yang dari kita yang berdalih tidak ingin menyiapkan makanan from scratch atau dari awal, dan akhirnya memilih makanan dari dalam kemasan untuk dikonsumsi di rumah karena “tidak sempat”, “keburu lapar”, “keburu ngantuk”, “belum belanja” dan lain sebagainya, kira-kira alasan restoran ini apa ya? (Kurang lebih sudah tau sih jawabannya, apalagi selain…MSG). Di kala banyak orang mengucapkan hamdalah atas kehadiran GoFood karena ini berarti pilihan ketika mereka lapar, sementara di rumah tidak ada makanan jadi maupun makanan mentah, ataupun jika ada makanan mentah, tidak berinspirasi untuk mengolah. Tetapi jika yang di restoran jadi banyak menyajikan makanan dalam kemasan yang diolah lagi, kira-kira apa yang akan terjadi, ya?

Saya cukup yakin ini bukan hal yang baru; dan saya sudah menulis beberapa kali, bahwa seperti layaknya kepercayaan, pola makan adalah milik Anda dan Anda seorang. Setelah saya perbarui materi bacaan saya, juga tontonan dengan berbagai dokumenter, baik yang menarik atau yang membosankan, akhirnya saya menyimpulkan beberapa hal, dan salah satu atau salah dua diantaranya mungkin menyangkut apa yang saya tengarai di atas.

28918134

  1. Jangan percaya dengan apa yang dikatakan “penelitian” atau “riset” atau “studi”

Sebagai konsumen media, saya juga mengalami kebingungan kronis akan berita tentang diet dan nutrisi. Hari ini kita disuruh makan ini. Besok makanan yang sama disebutkan bisa menyebabkan kanker. Lusa makanan ini jadi super food. Beberapa minggu kemudian disebutkan jadi salah satu dalang obesitas. Jadi mana sih, yang benar? Tidak ada dan semuanya.

Saya tidak mengatakan kalau semua orang perlu mengubah pola makan, tidak juga kalau semua orang perlu menghilangkan lemak tubuh. Kalau Anda merasa nyaman dengan kondisi sekarang, good for you! Tetapi jika Anda termasuk yang masih ingin mencari keseimbangan, atau ingin lebih sehat dan bebas keluhan rutin sakit di tubuh, mungkin Anda mencari cara untuk menyaring berita-berita yang tidak konsisten. Jawaban sesungguhnya ada di diri. Tidak ada cara tahu lebih baik dari membuat eksperimen. I believe it all comes down to biology. Tidak semua fungsi tubuh kita sama persis dalam memroses makanan. Saya juga yakin bahkan flora usus masing-masing orang pun berbeda. Tidak seperti saya yang langsung merasa sebah dan ingin pingsan kalau minum susu, sepertinya sebagian besar orang terlihat baik-baik saja mengonsumsinya. Eksperimen yang saya maksud adalah mencoba clean eating (apapun itu definisi menurut Anda) selama dua minggu atau satu bulan (karena menurut saya satu minggu belum cukup untuk tubuh beradaptasi dan merasakan keuntungannya), lalu setelah itu satu per satu Anda coba mulai lagi konsumsi makanan yang dicurigai bisa bermasalah sambil mencatat apa yang Anda rasakan.

Tidak harus jadi ilmuwan kok, untuk bereksperimen. Contoh, beberapa minggu yang lalu saya merasa sulit tidur dan ketika tertidur, mudah terbangun dan gelisah. Kemudian saya lihat kalau konsumsi kopi saya akhir-akhir itu memang agak brutal (hingga 5 cangkir sehari). Saya buat eksperimen dengan mengurangi hingga dua cangkir saja. Ternyata saya tidur bisa lebih cepat, nyenyak dan keesokannya bangun jauh lebih segar. Setelah beberapa hari saya coba juga minum kopi hingga tiga cangkir, masih tidak apa-apa. Dengan begitu saya tahu kurang lebih ambang batas konsumsi kopi saya, dan sepertinya berubah semakin saya bertambah usia ataupun sesuai dengan perubahan gaya hidup saya. Tidak ada salahnya mencari informasi di media atau buku atau film, but take it with a grain of salt. Karena belum ada satu pun riset mengenai makanan pernah dilakukan dengan sempurna; di mana subyek dikurung di satu tempat yang bisa mengontrol semua asupan makanan mereka 24/7, sampling yang benar, periode waktu yang cukup, dilakukan double blind (bisa Google kalau kurang familier dengan istilah ini), baik pemberian asupan dan pengukurannya dan dilihat hasil dari semua segi, tidak dibingkai dengan kepentingan satu pihak saja.

11374672_891293937632290_1186270837_n

  1. Cari gaya hidup yang bisa dipertahankan sampai mati

Saya sering menguping percakapan orang di sekitar, contoh mengenai keinginan menurunkan berat badan. Lalu ada saja yang berkomentar seperti, “gue pernah setiap hari, lima hari seminggu olahraga di gym 3 jam, turun deh 5 kilo dalam dua minggu. Tapi ya begitu kerjaan sibuk, naik lagi deh.” atau, “temen gue ada yang berat badannya turun cepat cuma makan sup dua minggu”. Ya bener sih, cepat kurus, tapi apa itu sustainable, dan lebih penting lagi, sehat?

Satu poin yang cukup penting lagi dan baru saja disampaikan beberapa hari yang lalu oleh idola segala usia, FX Mario, you cannot out train a bad diet. Kalau tujuan Anda lebih sehat, atau mengurangi lemak tubuh, prosesnya adalah sebagian besar dari asupan makanan, dan ditambah olahraga jika Anda ingin menyempurnakan dan meningkatkan kebugaran. Bereksperimen dan dapatkan pola makan yang Anda paling nyaman dan menghasilkan kesehatan optimal, and stick to it. Okelah sesekali jika ingin sekali nikmati saja makanan yang menurut Anda kurang baik buat tubuh, tetapi lalu ingatkan untuk segera kembali ke rutin. Cari frekuensi olahraga yang paling bisa diakomodir oleh kesibukan, and stick to it. Sesekali ditambah jika sedang santai, atau dikurangi ketika sedang merasa kurang fit, tetapi tetap jaga rutin Anda. Sungguh menyenangkan loh, punya rutin itu!

08931550d26e29741ab849e40a9c7657932b8f554eccd520427361429229b72d_1

  1. Akhirnya dunia kesehatan sepakat memilih villain

Apapun itu aliran Anda; low carb, high fat maupun high carb, low fat, sepertinya mereka akhirnya sepakat bahwa; gula adalah musuh. Jika Anda membaca ada hasil “riset” yang mengatakan bahwa gula tidak ada akibat buruknya terhadap tubuh, coba dicek siapa yang membiayai “riset” ini. Karena akhir-akhir ini, Food Giants seperti Coca Cola, Kellogs’ dan sebagainya sudah cukup kerap mendanai riset tentang nutrisi dan kesehatan. Sungguh konsep sempurna conflict of interest.

Jika menurut Anda dengan meminum kopi atau teh Anda black tanpa gula saja cukup mengkategorikan hidup menjadi bebas gula, coba lihat dalam lemari Anda. Karena bisa dikatakan gula ada di semua makanan dalam kemasan. Kecap, jus, teh dalam botol, kopi dalam botol dan kaleng, saus tomat, mayones, roti, biskuit, kornet, bahkan mie instan, selai hazelnut (dimulai dengan N dan belakangnya utella), selai kacang, puding, es campur, es krim, semua mengandung gula yang bisa dibilang tinggi. Sereal untuk sarapan? Tinggi banget! Belum lagi jika Anda penyuka produk dengan label “low fat” atau “fat free”, bisa dijamin gulanya ditambah lebih banyak lagi. Untuk mengetahuinya tinggal baca label pada kemasan. Sementara jumlah yang direkomendasikan untuk dikonsumsi hanya 25 gram atau 6 sendok teh satu hari (untuk perempuan), rata-rata konsumsi manusia (saya tidak menemukan statistik khusus Indonesia) mengonsumsi hinggal 20 sendok teh setiap hari. Sebagian besar adalah konsumsi dari gula yang tersembunyi. Bukan hanya diabetes, gula kini dicurigai memberi makan berbagai penyakit lain, seperti penyakit jantung, trigliserida yang tinggi, kanker, hingga alzheimer’s (yang kini disebutkan sebagai diabetes tipe 3, karena begitu eratnya kaitannya dengan diabetes). Dokumenter yang membukakan mata terhadap isu ini adalah That Sugar Film. I suggest you see it.

Apakah Anda ingin menikmati pizza mie instan, Oreo goreng atau es krim Mars atau Snickers, kembali lagi pada pilihan. The best you can do is making an informed decision.

 

How to Stay Sane (Living in this Country)

  1. Rapikan tempat tidur setelah bangun pagi. Terdengar sederhana, tapi patut dicoba. Ada rasa puas saat meninggalkan kamar dalam keadaan rapi. Tidak harus sampai sangat bersih, tapi cukup rapi. Selimut dilipat, bantal guling tertata seperti sedia kala.
    Once you complete this, it’s actually the first accomplished mission of the day.
  2. Menulis. Apapun. Lebih baik menulis kejadian yang terjadi kemarin. Meskipun itu sekedar naik kendaraan umum dari rumah ke tempat beraktivitas. Atau menu makan siang kemarin. Atau gosip yang beredar di kantor. Yang penting, menulis. Dan menulis di sini adalah menulis dengan tangan, pena dan kertas. Sejelek apapun tulisan tangan kita.

  3. Membaca. Apapun. Lebih baik buku fiksi. Commit atau tetapkan niat untuk membaca paling tidak 10 halaman tiap hari. Makanya, lebih baik bacaan yang menyenangkan. Bukan kitab suci, bukan diktat kuliah atau materi brief pekerjaan.

  4. Sarapan. Silakan skip makan siang, atau makan malam sekalipun. Tapi jangan sekali-sekali meninggalkan sarapan. Tidak pernah ada alasan terburu-buru sehingga tidak sempat sarapan.

  5. Bergerak. Tidak punya waktu buat olahraga? Commit atau tetapkan niat untuk berjalan kaki. Keluar dari meja kerja untuk makan siang, tidak melulu panggil OB untuk membelikan makanan. Memanggil kendaraan umum tidak persis di depan rumah atau kantor, tapi ada jarak sekian ratus meter dari tempat biasanya.

  6. Matikan televisi.

  7. Dengarkan musik. Pilih musik yang belum pernah kita dengarkan sebelumnya. Jangan buru-buru matikan di 1-2 menit pertama. Tahan sampai 5 menit. Tahan mendengarkan musik itu sambil beraktivitas. Memasak, merapikan rumah, membaca catatan kerja, apapun. Jangan ganti musik itu sampai 5 menit. Setelah itu, kalau masih tidak suka, baru boleh diganti.

  8. Berbicara dengan orang lain. Bukan lewat aplikasi di ponsel. Berinteraksi secara nyata. Setelah pesan gado-gado, lengkap dengan tambahan “pedas, tidak pakai pare, bumbu dipisah” dan lain-lain, coba mulai pembicaraan singkat. “Dari jam berapa bapak jualan?” “Biasanya abis jam berapa, sih?” Tidak perlu terlalu banyak bertanya. Satu atau dua pertanyaan sudah membuat orang lain berbicara. We all want to be asked and heard.

  9. Kurangi gula.

  10. Ini yang paling susah: love someone.

  11. Setelah semuanya poin di atas tercapai, tidur. Padamkan lampu. Matikan ponsel. Tidak perlu memberitahu Anda sedang tidur di media sosial. Just sleep.

sleep

Repeat.

Kita Semua Adalah Ateis

Hanya Sebuah Penuturan Ulang

PERNAHKAH bertanya kepada diri sendiri, mengapa mempercayai apa yang dipercayai saat ini?

Pernahkah bertanya kepada diri sendiri, mengapa memilih untuk memeluk agama yang saat ini sedang dijalani?

Mengapa percaya bahwa Kristus Yesus sebagai satu-satunya jalan menuju keselamatan, bukan pada hukum karma atau reinkarnasi?

Mengapa percaya bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang tiada lain selain-Nya, dan Nabi Muhammad adalah rasul-Nya, bukan pada Empat Kebenaran Mulia dari Buddha?

Mengapa percaya bahwa Taurat adalah satu-satunya wahyu Tuhan, bukan Bhagavad Gita?

Pernahkah bertanya kepada diri sendiri, mengapa surga dalam agama kita masing-masing memiliki gambaran serupa bumi namun dengan segala hal yang lebih baik?

Pernahkah bertanya kepada diri sendiri, mengapa Tuhan mengatur segalanya dalam gaya dan bentuk serupa dengan kondisi di mana dan masa ketika kitab suci ditulis?

Pernahkah bertanya kepada diri sendiri, mengapa perwujudan Tuhan memiliki rupa yang sama seperti manusia atau hewan-hewan yang hidup berdampingan dengan kita?

Apakah agama yang kita jalani saat ini punya peran yang kuat dalam kebudayaan kita masing-masing?

Pernahkah mempertanyakan, atau setidaknya merasa sedikit curiga bahwa setiap pemeluk agama sebenarnya menjalankan ajaran yang sudah mengakar kuat dalam lingkungan masyarakatnya sendiri, namun masih tetap merasa ditakdirkan atau beruntung menjadi umat agama tersebut, serta menganggapnya sebagai satu-satunya agama yang benar?

Tidak perlukah kita merasa agak gusar saat mengetahui bahwa setiap pemeluk agama memilih ajaran yang dijalankannya bukan karena nilai-nilainya; bukti-bukti valid; ketentuan moral; atau bentuk peribadahannya, melainkan karena mereka terlahir dalam lingkungan beragama tersebut?

Walaupun ada sekian banyak agama di dunia ini, mengapa hampir semua umat memilih agama yang ada dalam jangkauan sekelilingnya?

Apakah kita seorang Kristiani karena terlahir di Amerika atau Eropa; seorang Muslim karena terlahir di Arab Saudi atau Indonesia; seorang Buddhis karena terlahir di Jepang atau Tiongkok; seorang Hindu karena terlahir di India?

Apakah bisa dikatakan bahwa urusan agama ternyata sebatas persoalan daerah saja?

Bila terlahir di negara lain, apakah kita yakin bakal tetap menganut agama yang sedang dijalankan saat ini?

Apakah agama yang kita jalankan saat ini juga dianut oleh orang tua dan kakek nenek kita?

Apakah kita adalah orang pertama yang mengetahui dan menjalankan ajaran agama kita saat ini?

Apakah kita tahu bahwa setiap pemeluk agama sebenarnya menjalankan ajaran yang ditanamkan oleh orang tua masing-masing?

Apakah kita tahu bahwa setiap anak-anak belum memiliki pemahaman, pengalaman, dan kebijaksanaan pribadi yang cukup untuk memilih agama yang dianggapnya tepat?

Apakah setiap anak-anak yang beragama sebenarnya hanya menjalankan agama orang tuanya?

Setiap dari kita, orang-orang beragama, tentu sangat percaya dan sepenuhnya yakin bahwa agama yang kita anut saat ini adalah yang paling benar, sedangkan agama-agama lain salah. Kita bahkan rela mempertaruhkan nyawa untuk itu.

Lalu, apakah kita tahu bahwa ada lebih dari 20 agama besar dan ribuan paham kepercayaan yang tersebar di seluruh dunia? Bahkan dalam Kristen saja ada lebih dari 45 ribu denominasi atau tubuh gereja yang berbeda-beda, dan masing-masing dari denominasi tersebut yakin bahwa ajaran mereka yang membawa kebenaran sejati dibanding yang lain.

Apakah kita menyadari bahwa setiap penganut agama apa pun di dunia ini juga begitu taat, tulus, dan beriman, sama seperti diri kita masing-masing?

Apakah kita tahu bahwa mereka juga memiliki kitab-kitab suci yang tidak boleh diingkari, para pendakwah, orang-orang yang mengalami mukjizat serta keajaiban ilahiah, bisa merasakan hadirat Tuhan, digerakkan oleh kuasa-Nya, mencintai Tuhan di atas segalanya, dan membela imannya dengan kegigihan yang sama seperti diri kita masing-masing?

Akan tetapi, setiap agama bersifat eksklusif dan bertentang satu sama lain dalam banyak hal. Jadi, apakah semua agama sama benarnya, atau tidak sepenuhnya? Namun entah bagaimana, kita tetap bisa merasa bahwa agama kita adalah pengecualian, merupakan yang paling benar. Bagaimana bila orang lain pun beranggapan begitu terhadap agamanya masing-masing?

Kita sering diperingatkan bahwa ketidakpercayaan terhadap agama yang dianut saat ini dapat membuat kita terjerumus dalam neraka dan kehilangan nikmat surga. Akan tetapi, neraka dan surga dari agama yang mana?

Kita juga sering diperingatkan untuk selalu percaya pada Tuhan, agar tetap bisa diselamatkan. Akan tetapi, Tuhan yang mana?

Bagaimana dengan kemungkinan salah pilih? Apakah Yahweh? Apakah Allah? Apakah Siva? Apakah Tuhan dari agama di belahan dunia lain yang bahkan nama-Nya belum pernah kita dengar?

Pertanyaan di atas mungkin dijawab dengan “bagaimana jika kamu salah?” akan tetapi, bagaimana jika ternyata kita tidak salah?

Apakah kita sebenarnya sudah menjadi ateis, kecuali pada Tuhan dari agama kita sendiri? Sebab jelas bagi kita bahwa penganut agama lain adalah orang-orang sesat, padahal mereka juga berpikir sama terhadap kita. Cara kita memandang mereka, sama persis dengan cara mereka memandang kita.

Setiap umat beragama menjalankan ajaran-Nya dengan alasan yang sama seperti kita terhadap agama masing-masing, akan tetapi tetap ada alasan untuk menyebut agama mereka keliru. Kita juga tidak pernah membayangkan bakal terjerumus dalam neraka agama mereka.

Apakah tidak benar, jika agama disebut sebagai gagasan dari manusia kuno ketika berusaha ingin menjelaskan dunia yang penuh kekacauan dan ketidakpastian pada masa itu dengan pemahamannya masing-masing?

Apakah kita masih memerlukan cerita-cerita penenteram agar membuat kita merasa aman?

Bila demikian, mungkinkah kita mulai berhenti menyebut bahwa budaya kita lebih baik daripada budaya orang lain, suku kita lebih dimuliakan daripada suku lain?

Apakah tidak lebih baik jika kita mulai membuka diri, memahami sudut pandang berbeda, dan menyadari hal-hal baru meskipun itu menghancurkan kesombongan kita, melukai ego, atau bahkan menusuk pola pikir kita selama ini, dan membuat kita paham bahwa tak semua hal bisa terjawab begitu saja?

Apakah kita siap menghadapi pertanyaan-pertanyaan mendasar ini?

…dan “bukankah lebih baik menerima kebenaran yang pahit, daripada kisah bohong yang menyenangkan?” (Carl Sagan)

[]

Ditulis oleh orang yang masih punya agama, kok. Jadi, tenang saja.