Kamu Orang Mana?

Maka dari kecil kita akan menjawab “orang Indonesia”.

Orang Indonesia dari mana?

Maka kita akan menjawab tempat kita dilahirkan. Kadang diikuti dengan suku.

Dari mana kah suku-suku orang Indonesia berasal?

Lebih dari 5 tahun, dr. Herawati Sudoyo, M.S., Ph.D. bersama rekan-rekannya dari Eijkman Institute, mengelilingi seluruh kepulauan Nusantara untuk bertemu dengan orang-orang suku asli. Dengan berbagai pendekatan sesuai dengan adat dan kebudayaan setempat Ibu Hera mengambil darah dari orang-orang asli untuk dicek DNA masing-masing. Buat apa?

“Jangan berani-berani lawan DNA” katanya saat menyampaikan hasil penemuannya. Karena DNA tak pernah berdusta. Dari DNA lah kita bisa mengetahui asal usul genetika kita. Campurannya dari mana saja. Pewarisan DNA kita ada tiga. Dari ayah dan ibu yang menikah, dari penurunan hanya ibu (ayah tidak ada kontribusi) dan hanya dari kromosom Y.

Gen campuran ternyata ditemukan pada hampir semua etnik di Indonesia. Yang dari ratusan ribu tahun yang lalu merupakan campuran dari Alatic, Sino-Tibet, Hmong-Mien, Tai Kadai, Austro Asiatik, Austronesia, Papua, Dravidia, Indo-Eropa, dan Niger-Kongo.
Manusia Jawa asli misalnya, ternyata membawa gen dari Austro-Asiatik dan Austronesia. Austronesia hampir ditemukan pada semua entik di Indonesia. Papua yang full gen Papua, saat bergeser ke kepulauan Alor ternyata ditemukan gen dari Formosa. Orang Mentawai 100% sama dengan Formosa.

“Tak ada gen murni. Manusia Indonesia ialah campuran beragam genetika dan semuanya pada dasarnya berasal dari Afrika” kata Hera menutup penjelasan yang menarik setelah menampilkan video perjalanan migrasi umat manusia 200.000 tahun yang lalu saat Homo Sapiens pertama.

Ada yang bertanya, apakah Pithecantropus Erectus (manusia purba yang juga disebut Java Man) ada hubungannya? “PUTUS” kata Hera, “dengan Bumi Nusantara. Tidak ada hubungan dengan turunan kita. Kemungkinan besar karena bencana alam.”

Pertanyaan mendasar, kalau sumbernya satu: AFRIKA kenapa kita bisa terlihat berbeda-beda? DNA kita bereaksi terhadap lingkungan kita. Lapangan mempengaruhi ketebalan kulit, tinggi badan, melanin dan pigmen. Makanya pelari Indonesia tak berlari secepat orang Kenya yang merupakan moyang orang Indonesia.

Penemuan yang membuka mata dan menjawab misteri asal mula orang Indonesia ini, menjawab satu misteri: lalu siapakah Pribumi dan Non-Pribumi?
Pribumi adalah sebutan untuk orang Indonesia ASLI. 100% orang Indonesia. Sekarang kita bisa menjawab dengan lantang: TIDAK ADA. Tidak ada orang Indonesia asli. Semua pendatang.
Kalaupun ingin dipecah, pribumi pertama datang dari Afrika 40-50 ribu tahun lalu di Timor yang terbukti dari bentuk tubuh berkaki panjang dan berambut keriting. Pribumi kedua, Deutro Malay dari daratan Asia Tenggara ke Sumatera melalui Sungai Siak. Pribumi ketiga, Proto Malay yang datang dari dan ke tempat yang sama. China pertama datang tahun 400-an bertemu dengan Cheng Ho di dekat Semarang. Pribumi India diketahui datang abad ke 4-5 dan seterusnya. Penjelasan ahli tata kota Marco Kusumawijaya ini digenapi oleh JJ. Rizal dengan perkataan “Pribumi itu sikap bukan darah”.

Orang Indonesia baru ada pada tahun 1945 sebagai kategori politik (warga) tak tergantung dari kategori genetiknya. Padahal dalam panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia ada 3 orang berdarah China dan 1 orang berdarah Arab. Lanjut Marco lagi. Yang berarti kalau kita saat ini masih menyebut Pribumi dan Non Pribumi artinya kita masih hidup di zaman kolonial.

Perspektif waktu menjadi penting karena 40-50 ribu tahun yang lalu kita semua pendatang. Maka soal rasa kebangsaan, nasionalisme dan kecintaan pada Nusantara, siapa yang dapat mendefinisikannya? Soe Hoek Gie, Hok Djin dan Ong Hok Ham yang saat itu disebut Non-Pribumi akan terasa lebih nasionalis ketimbang Pribumi yang membantai pasca 65.

Perbincangan ini akan semakin mengasyikkan saat kita bisa melepas atribut “pribumi dan non-pribumi” untuk kemudian menerima fakta bahwa kita semua adalah pendatang. Sehingga nasionalisme bukan lagi soal darah, tapi sikap. Tak lagi terbutakan oleh pemakai Batik setiap hari dan hafal Pancasila menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai wujud “Cinta Indonesia”. Tapi lebih kepada sikap, perilaku, perbuatan dan hasil yang memajukan peradaban orang Indonesia semakin beradab.

 

20160123_104552 20160123_104600 20160123_104612 20160123_120044

Tentunya temuan ini melegakan bagi saya sebagai keturunan China yang lahir di Indonesia. Sejak kecil sulit bergaul dengan tetangga sekitar di kampung Betawi. Belum lagi tuduhan Komunis dan Atheis. Bertahun lamanya di awal kehidupan bermasyarakat, saya merasakan kelimbungan identitas. Kalau saya bukan orang Indonesia lalu siapa saya? Di negara mana kah saya diterima? Ke dataran China tentu bukan pilihan. Tak ada saudara dan kampung halaman di sana.

Untuk ini semua, saya merasa kehadiran bintang-bintang bulu tangkis di masa jayanya seperti Liem Swie King dan Susi Susanti mulai meleburkan kita. Semakin ke sini semakin banyak bintang-bintang dari dunia POP yang keturunan China dan digemari oleh masyarakat Indonesia. Tentunya para politisi, negarawan, ahli sejarah, seni dan budaya keturunan juga semakin menghilangkan jarak. Dan yang sekarang paling hits di beragam media, gubernur DKI Jakarta: Ahok.

Sebentar lagi Sincia, Gong Xi Gong Xi.

 

Advertisements

Combo

Combo adalah kependekan dari combination. Semacam Jokowi untuk Joko Widodo. Jika tahu asal katanya maka kita pun akan paham artinya.

Combo awalnya diciptakan oleh Nuritaka Funamizu, saat tanpa sengaja mendesain permainan video game arcade (dingdong) Street Fighter II tahun 1989. Padahal tahun 1986, Renegade juga menggunakan fitur kemampuan pukulan dan tendangan beruntun. Juga di tahun 1987 kemampuan ini muncul dalam permainan Double Dragon. Hanya saja belum secara khusus oleh pembuat permainan disebut sebagai combo. Nuritaka-lah yang menyebut fitur combo bagi jagoan yang dapat melakukan pukulan dan tendangan beruntun saat pemain memasuki babak bonus menghancurkan mobil.

Combo juga kita kenal pada saat akan memesan menu makanan cepat saji. Pada papan besar yang menawarkan menu sajian terdapat paket kombo. Tentu saja artinya sama. Kata yang berasal dari Combination. Dengan adanya paket kombinasi ini diharapkan para pembeli akan tertarik membeli lebih banyak variasi menu dengan imbalan potongan harga. Strategi pemasaran ini sekarang sudah menjadi sesuatu yang lazim dan dilakukan oleh semua penjual makanan. Harga makanan borongan yang lebih murah jika dibandingkan dibeli secara terpisah adalah strategi jitu bagi konsumen untuk membeli lebih banyak.

Lantas apa makna combo bagi kehidupan sehari-hari?

Combo juga muncul dalam ibadah. Ketika sholat dilakukan sendirian nilai ibadahnya jauh lebih kecil dibandingkan jika dilakukan bersama-sama. Combo juga muncul saat mendaftarkan anak les musik. Dengan mendaftarkan les piano, bernyanyi, dan biola sekaligus ternyata harganya jauh lebih murah dibandingkan ambil kursus salah satu saja.

Demikian dengan combo sosial saat kita mendekati calon pasangan. Ada baiknya juga mengambil hati bukan saja si dia, melainkan juga adeknya, kakaknya, ibunya, bapaknya dan keluarga besarnya. Ongkosnya memang besar dan melelahkan. Tapi lakukanlah di saat mereka kumpul semua. Semacam pertemuan keluarga. Dengan bersikap santun dan apa adanya, bukan saja seluruh anggota keluarga menyukai kita, tapi juga si dia makin kepincut dengan pribadi kita.

Combo beruntun dalam versi video game pun bisa dilakukan untuk kepentingan lain. Datang ke kantor paling pagi. Melakukan tugas paling cepat. Senyum paling menawan. Kembali dari makan siang paling awal. Mentraktir rekan kerja. Saat akan pulang tidak lupa pamit pada atasan dan rekan. Hasilnya?

Tapi ternyata ndak selamanya paket combo ini manjur menjaring kebaikan dan manfaat lebih. Sistem bundling ini diduga juga salah satu cara dalam menjual suatu keburukan yang diselipkan dalam beberapa kemasan kebaikan. Barang kualitas rendah dan hampir kadaluwarsa, bahkan sudah, yang seharusnya dibuang ke tong sampah, justru dikemas kembali dalam satu paket parsel.

Maka, perlu kiranya kita ndak perlu tergumun-gumun pada suatu tawaran menarik yang murah, menggemaskan dan menawarkan nilai manfaat.

Bisa jadi membeli sesuatu cukup satu malah adalah sebuah tindakan yang lebih dari cukup. Terkadang melakukan sesuatu sendirian adalah sesuatu yang jauh lebih intim dan membekas. Bahkan jika perlu jangan pernah berpikir untung rugi dalam membeli sesuatu. Atau asal diskon. Juga berlaku dalam hal berbuat sesuatu.

Hanya pilih salah satu, jika memang perlu, bahkan harus, ya lakukan saja. Tak perlu menunggu dan ragu. Banyak atau sedikit, untung atau rugi, adalah persoalan yang manusiawi. Makhluk ekonomi akan selalu berpikiran soal itu semua.

“Jika boleh lebih, mengapa tidak?”

“Jika boleh empat, mengapa hanya satu?”

Tapi percaya sajalah. Hidup ternyata bukan melulu sekumpulan problematika matematis yang perlu dipertimbangkan soal angka dan jumlah. Hidup bukan melulu soal beruntun dan kombinasi. Hidup juga ternyata tidak harus bahagia. Apalagi menderita.


 

Jangan-jangan hidup adalah soal karena masih punya nyawa saja. Dan kita wajib untuk mempertahankannya. 😀

 

Selamat bermalam minggu.

Salam anget,

Roy

About Teddy

Melayangkan ingatan ke akhir abad ke 20 atau awal abad 21, saya kurang yakin. Dan karena saat itu belum ada social media, sepertinya sulit saya verifikasi. Suatu hari saya diminta untuk meliput satu pemutaran film oleh seorang sutradara muda. Judul filmnya Culik, dan tempatnya PPHUI. Filmnya gelap, secara harafiah maupun simbolik. Tetapi ada satu yang saya ingat jelas, walaupun ini sudah terjadi lebih dari sepuluh tahun yang lalu; kameranya bergerak terus. Sepanjang film. Saya juga ingat keluar dari ruangan teater merasa mabuk laut. Kemudian ada pula sesi tanya jawab dengan sang sutradara, Teddy Soeriaatmadja. Saya juga ingat kalau dari obrolan ini Teddy terkesan agak arogan, idealis dan tidak suka berkompromi. Kesimpulannya, impresi pertama saya kurang baik.

teddy-soeriaatmadja_photo

Teddy Soeriatmadja (Sumber: Jaff-Film Fest)

Maju beberapa tahun kemudian, sutradara muda berbakat ini mengeluarkan film-film seperti Banyu Biru, Ruang dan Badai Pasti Berlalu, yang dari membaca resensinya tidak membuat saya ingin menonton. Maafkan, kalau saya memang tipe penonton yang kurang nasionalis. Banyak sekali alasan saya untuk menghindari nonton film Indonesia, sementara alasan yang membuat saya jadi ingin menonton hanya sedikit sekali.

Maju lagi beberapa tahun kemudian, saya ingat tiba-tiba Ibu saya mengajak menonton film Indonesia, Lovely Man. “Kata teman Mama bagus!” Baiklah, saya akhirnya juga mengajak anak saya yang ketika itu saya pikir belum mengerti topik yang terlalu njelimet, tetapi saya agak kasihan meninggalkannya di rumah. Kami menonton dengan perjanjian, kalau menurut saya adegannya kurang sesuai, saya akan menutup mata anak saya dan dia akan menyumbat telinganya sendiri. Begitu saya paham soal tema dari film ini, saya mengharapkan melodrama mendayu-dayu tentang kaum yang dimarginalkan, apalagi kurang beruntung dari sisi materi. Ternyata saya salah. Filmnya sederhana, tak ada pretensi apapun, hanya menceritakan saja. Tidak juga ada kesan menghakimi, semuanya diserahkan ke penonton dengan kepercayaan penuh, kalau penonton cukup bijaksana dan cerdas melakukannya. Saya cukup heran ketika melirik ke penonton cilik sebelah saya yang tekun menonton sama sekali tak terlihat gelisah. Hanya sesekali menggenggam tangan saya lebih erat ketika ada adegan yang menimbulkan rasa takutnya. Kemudian terjadi adegan puncak, film berakhir, dan teater menjadi terang. Saya dan anak berpandang-pandangan. Lalu kami menangis bersama sambil berpelukan. Cukup lama, sampai ibu saya mencolek sambil menunjuk ruangan yang sudah kosong, mengajak keluar.

lovely-man

Lovely Man (Sumber: Filelengkap.com)

Saat itu saya berniat mengubah pandangan saya terhadap Teddy Soeriatmadja, karena begitu senangnya hati, melihat film Indonesia yang begitu jujur dan tidak ada embel embel moral maupun kearifan lokal. Paling tidak bukan pada bentuk yang dianggap orang kebanyakan. Tetapi Lovely Man berhasil menyentuh dan membuat saya memikirkannya hingga berhari-hari kemudian. Juga tentunya merekomendasikan ke teman-teman yang belum menonton. Yang sayangnya banyak dari mereka belum juga menonton karena waktu tayang yang blink and you missed it itu.

Lalu tiba di tahun 2013. Saya diundang menjadi salah satu juri festival film yang basisnya social media. Tentunya saya hadir dengan senang hati, apapun demi bisa menonton film yang mungkin orang lain tak bisa tonton. Salah satu yang masuk nominasi kategori naskah asli (kategori di mana saya jadi salah satu juri) adalah satu lagi dari Teddy; Something in the Way. Untuk kepentingan penjurian, diadakan screening di sebuah institut perfilman. Yang ternyata penontonnya hanya satu; saya. Di ruangan yang gelap saya kembali terbawa perasaan, lalu gemas karena tidak ada teman untuk membahas. Nafasnya masih sama dengan Lovely Man, tetapi ada sesuatu di Something in the Way yang membuat penonton lebih merasa tidak nyaman. In a good way (mudah-mudahan Anda mengerti maksud saya).

reza-rahadian-dalam-film-something-in-the-way

Something in the Way (Sumber: Muvila.com)

Tahun kemarin, saya kembali menjadi juri di kompetisi yang sama. Dan diadakan pemutaran film yang masuk nominasi (walau bukan kategori saya), tetapi begitu diberitakan kalau akan ada screening film Teddy yang baru, About a Woman, tentunya saya segera tunjuk tangan. Saya kali ini bersiap mengajak teman agar ada teman membahas, but he bailed on me (melirik tajam ke seseorang). Ternyata tetap beruntung, karena saya jadi berkesempatan berkenalan dan mengobrol banyak tentang proses pembuatan film ini dengan pemeran utamanya; Ibu Tutie Kirana.

maxresdefault1

About a Woman

Tiba waktunya menonton filmnya. And Teddy did it again. Baru kali ini saya melihat film Indonesia yang menceritakan isu begitu delicate dengan cara yang begitu sensitif, tak setitik pun ada judgement, rasa lebih tinggi dari penontonnya maupun dikte muatan tertentu. Begitu jujur, bahkan kamera terasa jujur, begitu diam dan hanya mengamati. Tetapi juga begitu relatable, sehingga di klimaks film, hati seperti tercabik cabik tak menentu (drama) tanpa harus melodramatis, dan tanpa menggunakan lagu score yang mendayu-dayu. Yang agak menyebalkan buat saya, penonton yang cenderung tertawa di bagian-bagian film yang uncomfortable. Heran, kenapa knee-jerk reaction mereka jadi tertawa. Tetapi dalam hati saya berkesimpulan kalau, mungkin itu cara mereka menghadapi ketidaknyamanan. Intinya, setelah menonton, saya merasa tenggorokan saya tersumbat hingga berjam-jam. Ketika berjumpa lagi dengan Ibu Tutie, saya memeluknya sambil mengucapkan terimakasih, because she’s so beautiful and wonderful in the movie (sama sekali bukan ‘res). Kalau Teddy hadir, mungkin saya juga akan peluk (#eh #memanggatelaja).

Setelah melihat ketiga film ini, saya dengan yakin memasukkan nama Teddy Soeriaatmadja sebagai salah satu sutradara yang filmnya tak akan saya lewatkan. Sebaiknya Anda juga jangan melewatkan. Walau film ini tidak akan tayang reguler di bioskop kesayangan Anda, monggo, dicari di bioskop-bioskop kecil independent, atau festival lokal, atau malah buat festival sendiri dan memasukkan ketiga film ini jadi agenda. I believe more people should watch them.

Tidak Bisa Jadi Mantan Karena Selalu Terikat

Ini kisah nyata.
Kejadian ini terjadi sekitar delapan tahun yang lalu, kalau nggak salah.
Waktu itu hari Minggu sore. Saya sedang di rumah, bekerja di depan laptop. Tiba-tiba teman saya memanggil lewat Yahoo Messenger.
Teman dekat saya ini seorang ibu muda, punya dua anak. Anak pertamanya perempuan. Anak keduanya laki-laki. Waktu itu dia masih tinggal di negeri tetangga. Sepanjang hidupnya memang lebih banyak dihabiskan di negeri orang. Baru dua tahun terakhir dia pindah kembali ke Indonesia.

PING!
Dia: “Hey, Val! Tumben online. Lagi ngapain?”
Saya: “Eh, elo. Lagi kerja, kirim-kirim email sambil cari data. What’s up?”
D: “Not much. Eh tapi kebetulan pas liat elo online ini, gue pengen cerita. Ada kejadian lucu minggu lalu.”
S: “Ada apa emang?”
D: “Anak gue yang laki! Jadi waktu itu kita kan lagi di depan TV. Gue, suami gue, anak gue. Anak gue kayak lagi nggak konsen nonton TV sambil main apalah mainannya. Tiba-tiba, nggak ada warning apa-apa, dia nanya ke gue ama laki gue, “Mom, Dad, what if I’m gay?””
S: “Wahahaha, terus?”
D: “Boook! Dia nanyanya nyante, lempeng, kayak masih asyik ama mainannya gitu. Gue bengong. Laki gue langsung nurunin korannya, ngeliat gue. Bingung lah dia.”
S: “Kebayang emang. Suami elo, gitu. Laki yang laki.”
D: “Makanya! Gue langsung ngasih kode ke suami gue supaya dia ke kamar aja. Ke manalah. Begitu dia cabut, gue tanya ke anak gue, “Why did you ask that?” Dia jawab, “Nothing, I just want to know.””
S: “Anak elo kan emang lagi masa-masanya pengen tau banget. Gak tau sekarang ya. Dulu pas jalan ama gue beberapa tahun lalu aja, udah ceriwis, dikit-dikit nanya.”
D: “Itulah. Umur 9 tahun sekarang, tapi udah level 4. Gue juga nggak tahu kok dia bisa nanya gitu. Trus ya gue bilang pelan-pelan, “Well, here’s what I think. I’m not gonna lie to you. I think it’s going to be difficult. It sure is not gonna be easy. But, keep in your mind, that no matter who you will be, or what you’ve become, you will always be my son. And I will keep loving you, no matter what.

(lalu saya terdiam agak lama)

D: “Val? Are you there?
S: “Hey. Yes. Iya, masih. I was just … Sorry. You got me choked for a while.
D: “Awww … Thanks. Well, I was holding back my tears as well when I said that. Gak tau gimana kok gue bisa blurt out kata-kata itu.”
S: “Trus anak elo gimana?”
D: “Anak gue? Elo tau kan anak gue? Dia dengerin sambil trus main. Pas gue udah kelar, dia cuma ngeliat ke gue bentar, dan bilang, “Okay, Mom. Thank you. I’m gonna go to bed now. Bye.” Dataaar! Lempeeeng! Kayak nggak ada apa-apa. Busyet, dah! Gak tau maknya udah nahan-nahan supaya gak nangis?”
S: “Hahahaha. Kebayang sih.”
D: “Gue juga nggak ngerti dia kok bisa dapet ide itu dari mana.”
S: “Ya dari mana-mana, lah. Anak jaman sekarang, very early adopter of information. Akses informasi lebih cepet nyampe ke mereka. Mereka terbiasa terima jutaan informasi dalam teks dan gambar dalam waktu singkat. Of course they will get used to assessing and weighing options very quickly ya, kalo menurut gue.”
D: “Iya sih.”
S: “But seriously, gue salut ama elo. You still stand by your loved ones. Gak gampang itu. Apalagi di sini.”
D: “Ya, bok. Anak gue sendiri. Hamilnya aja berat, ngelahirinnya susah, sekolahnya mahal. Ya gue kekep terus lah, sampe bisa beliin mak-nya rumah kalo bisa.”
S: “Hahahaha.”
D: “Ya kali ada mantan ibu, mantan anak. Mantan tuh mantan gebetan, mantan pacar …”
S: “Dih, nyindir gue?”
D: “Yeee. Mantan suami, mantan istri. Tapi mantan ibu, mantan bapak, mantan anak? Mana ada? Mau kata elo sok disowned keturunan, elo tetep kepikiran terus. Ya abis gimana dong? Gak bisa elo cut off emotional connection yang udah ngalir di darah elo. Elo tetep penasaran dan sayang ama mereka. ”
S: “Yeap. Spot on.

Thank you, Google.

Thank you, Google.

Imlek Sebentar Lagi

TAHUN Baru Imlek sebentar lagi. Kurang dari 14 hari. Nuansanya bakal merah-merah, suasananya pun bakal meriah-meriah. Meskipun kian lama, banyak yang merasa hari raya utama dalam budaya Tionghoa ini makin terasa seremonial rutin belaka. Ketika sudah pantas malu sama umur untuk ngumpulin angpao serta menikmati euforianya seperti anak-anak, tapi merasa masih sangat muda untuk menikah (alasan doang sih, padahal memang jomblo) dan kebagian tanggung jawab sosial sebagai yang bagiin angpao.

Ya, pada dasarnya Tahun Baru Imlek adalah hari raya budaya bagi semua yang masih mengakui ketionghoaannya, atau yang terlibat dalam ketionghoaan. Kecuali bagi umat Khonghucu, agama resmi keenam yang diakui republik ini, yang benar-benar menempatkan tanggal 1 bulan pertama dalam penanggalan Imlek sebagai sebuah momen religius tertentu.

Kalau memang malas merayakan, sebenarnya enggak masalah, apalagi di kota-kota besar ketika bahkan sesama Tionghoa saja tidak saling kenal. Paling-paling jadi dosa sosial gara-gara dianggap Cina aneh. Lagipula enggak ada musim semi di Indonesia, jadi Tahun Baru Imlek tidak bisa disamakan dengan Festival Musim Semi seperti di Tiongkok sana. Rada jauh dari inti cikal bakal perayaannya.

Karena itu, Tahun Baru Imlek bisa dirayakan tanpa peduli apa pun agamanya. Tetap bisa saling memberi ucapan selamat, saling berkunjung, makan-makan, bagi angpao, cerita ngalor-ngidul soal gosip terkini orang-orang Tionghoa sekota, sampai gosip internal dalam lingkaran keluarga, minum-minum lintas generasi, karaokean, bahkan main mahyong yang biasanya dilakukan nenek-nenek.

Perayaan tanpa pola yang baku, bahkan tidak ada ritual tertentu. Paling-paling bagi orang Tionghoa mainstream yang bukan monoteis, atau Buddhis KTP alias yang enggak terlalu ambil pusing dengan hal-hal begituan, Tahun Baru Imlek akan diawali dengan sembahyang leluhur dengan Samseng sebagai sesajian, maupun kepada altar-altar lain yang ada di rumah. Bisa juga ke kelenteng pada malam Tahun Baru Imlek, atau di pagi harinya. Kan rame-rame sama orang-orang Tionghoa lainnya. Bagi anak muda, seru-seruan dengan geng sendiri, juga siapa tahun bisa ketemu calon gebetan. Lumayan, tes pertamanya adalah nyaman tidaknya saat diajak berkeliling silaturahmi Imlekan ke rumah teman.

Jika enggak paham makna saat bersembahyang, sembahyangnya pun jadi sekadar “cung-cung-cep”, ehm… itu loh, “acung-acung-tancep” sambil memanjatkan doa-doa standar: mendapatkan kesehatan, panjang usia, kesejahteraan, bisnis yang lancar, toko sebelah kalah saingan, jadi orang kaya, anak-anak yang pintar, selalu menang taruhan bola, dapat menantu atau cucu yang bisa dibanggakan dan dipamerkan, dapat besan yang asyik, dapat pacar baru yang ciamik, bisa kuliah ke Singapura/Australia/UK/Amerika Serikat/Eropa atau mana saja yang keren-keren, dan sebagainya.

Namun terlepas dari semua hal di atas, Tahun Baru Imlek tetap jadi momen yang dinanti. Utamanya, ketika para orang tua bisa kembali berkumpul dengan anak-anak dan cucunya. Berkumpul dalam arti sebenarnya. Tumpek blek dalam satu lokasi yang sama dengan kostum terbaiknya, lalu foto bareng, menandakan masa, membekukan cerita.

Selain itu, tidak berbeda dengan umumnya hari raya-hari raya lain yang “ditanggal-merahkan” di Indonesia, sejumlah persiapan dilakukan menjelang datangnya Tahun Baru Imlek. Persiapan-persiapan yang lebih bersifat fisik, yang kasarnya, bisa dikerjakan orang suruhan. Akan tetapi, jangan salah, justru saat dilakukan sendiri bersama keluarga tercinta, kesan yang didapatkan jauh berbeda.

Da sao chu (大掃除) namanya, yang secara harfiah bisa diartikan: bersih-bersih besar-besaran. Idealnya, bagian ini berlangsung di setiap rumah, sejak satu-dua bulan sebelum Tahun Baru Imlek sampai maksimal di malam tahun baru. Yang dilakukan pun mulai dari renovasi rumah, ganti warna dinding maupun karpet, sapu-sapu dan ngelap-ngelap, sampai atur ulang tata letak perabotan. Lazim lah, pekerjaan-pekerjaan rumah tangga jelang hari raya.

Dari beraneka ragam tugas dalam da sao chu, kini umumnya dilimpahkan kepada para pembantu dan tukang. Tapi beruntung bagi saya, da sao chu kali ini masih bisa dilakukan bareng keluarga. Layaknya satu tim, yang masing-masing anggotanya kebagian tanggung jawab khusus. Kebetulan juga sih, kami bukan termasuk keluarga Tionghoa Indonesia yang mulai dari orang tua sampai anak-anaknya dibuat terlalu sibuk dengan kehidupan sehari-hari masing-masing. Ada kelebihan dan kekurangannya.

Walau dalam diam, aktivitas saat da sao chu terasa sangat dialogis. Saat menyapu, saat mengepel, saat mengecat dinding ruang depan, saat mengumpulkan sampah dalam satu kantong plastik, saat menggeser-geser lemari, saat rehat sambil bermandi keringat, saat mencuci tangan yang berlepotan debu, saat mendengar “tolong, itu, angkat ke sana” dari si bapak, bahkan saat rada kesal ketika sepatu kecipratan cat.

Serangkaian perbincangan lewat gerak karya… yang bikin pinggang serasa mau patah saja.

Sederhana memang, tetapi justru yang begini-begini ini, rasanya nempel di hati. Soalnya, memang setahun sekali baru gotong royong besar-besaran semacam ini.

Belum Imlekan, tapi hati sudah berasa senang. 🙂

[]

#OscarsSoWhite: Piala Yang Tidak Akan Pernah Menghitam

Sebetulnya saya agak males ngomongin ini. Karena sebetulnya hal yang tidak begitu penting. Tapi karena wacananya terus berlanjut dan semakin mendapat perhatian seleb dan akhirnya saya jadi ikut nyemplung juga. Maklum anaknya suka keseret arus. Coba kita telaah ya apa yang sebetulnya terjadi dengan perhelatan Oscar tahun ini yang menginjak tahun ke-88 yang akan digelar akhir Februari awal tahun ini.

whiteoscar

Setelah para nominasi Oscar diumumkan, seketika keputusan itu banyak menuai polemik. Yang menjadi masalah adalah tidak adanya aktor dan aktris kulit hitam yang dinominasikan. Hampir di semua kategori. Ada yang salah? Menurut saya tidak. Kenapa saya berani bilang begitu? Ya karena tidak ada yang layak untuk dinominasikan. Sesederhana itu sih sebenernya. Terus kenapa banyak yang sewot? Entahlah. Tapi istri dari Will Smith, Jada Pinkett-Smith yang vokal menyuarakan hal ini. Bahkan dikabarkan mereka akan memboykot perhelatan ini dengan tidak akan hadir. Jada menganggap Will Smith layak untuk dinominasikan di kategori Aktor Terbaik di film “Concussion”.

Satu lagi yang lantang menyuarakan hal ini adalah Spike Lee. Yang mau saya tanyakan kapan terakhir dia membuat film bagus? Kalo mau banyak aktor/aktris kulit hitam dinominasikan buatlah film yang bagus. Sesederhana itu. Ketika film “Straight Outta Compton” tidak mendapatkan nominasi apakah itu rasis? Atau karena film itu biasa saja? Saya juga bisa bertanya kenapa film “Love & Mercy” tidak mendapatkan nominasi satupun? Apakah AMPAS tidak menyukai Brian Wilson atau aktingnya Paul Dano? Dia putih. Brian Wilson itu legenda musik. Apakah itu rasis? Padahal film itu bagus sekali. Ketika film “Creed” hanya diwakili oleh Sylvester Stallone di kategori Aktor Pendukung Terbaik tapi tidak menominasikan Michael B. Jordan sebagai Aktor Terbaik apakah itu rasis? Tidak. Itu karena aktingnya biasa saja. Bukan karena dia berkulit hitam. Tapi dengan Matt Damon yang dinominasikan sebagai Aktor Terbaik di film “The Martian” itu memang cukup mengganggu saya. Aktingnya biasa saja untuk sekelas Damon. Saya lebih suka Michael Keaton di “Spotlight”, atau Dano di “Love & Mercy” yang masuk nominasi daripada Damon. “The Martian” film yang menghibur. Seperti “Armageddon”, tapi sutradaranya Ridley Scott. Bukan Michael Bay. Jadi tidak terjadi banyak ledakan yang berisik. Oya satu lagi Idris Elba layak dapet nomimasi di “Beast of No Nation”. Yang jadi pertanyaan, apakah film rilisan Netflix yang tidak tayang di bioskop bisa masuk ke Oscar?

whiteoscar2

Yang saya tanya sekarang sudah ada berapa aktor/aktris kulit hitam yang mendapatkan piala Oscar? Masih ingat dengan perhelatan Oscar tahun 2002 ketika itu Chris Rock yang menjadi pembawa acaranya? Siapa saja yang menang? Denzel Washington di film “Training Day”, Halle Berry di film “Monster’s Ball”, dan Sydney Poitier mendapatkan Honorary Award. Hitam sekali kan Oscar tahun 2002? Rasis dong? Less white? Yakan? Tapi mereka layak mendapatkannya. Kenapa Forest Whitaker bisa mendapatkan Oscar di kategori Aktor Terbaik pada tahun 2006 di film “The Last King of Scotland” mengalahkan Peter O’ Toole? Karena dia memang layak. Kenapa Jennifer Hudson mendapatkan Oscar di tahun yang sama di film “Dreamgirls” bisa mengalahkan Cate Blanchett? Karena memang dia pantas mendapatkannya. Ini sebetulnya hal yang biasa saja. Amrik presidennya hitam koq. Pernah punya menteri kulit hitam juga. Jenderal yang kulit hitam juga. Kalo memang populasi sineas kulit hitam “cuma” belasan persen di Hollywood ya ini hal yang wajar toh? Kenapa harus diributkan? Jangan bikin malu kulit hitam lah. Ice Cube saja tidak mempermasalahkan hal ini. Padahal film yang dibintangi anaknya yang berperan sebagai dirinya di “Straight Outta Compton” banyak pujian tapi tidak mendapat lirikan dari AMPAS. Tapi dia tidak ada niatan untuk memboykot. Kenapa harus memboykot toh dia juga tidak akan datang dari awal. Dinominasikan atau tidak.

whiteoscar3

Sebetulnya “perwakilan” kulit hitam di Oscar tahun ini sudah diwakili oleh satu orang. Pembawa acaranya. Yak. Tahun ini Chris Rock kembali menjadi pembawa acara Oscar untuk kali yang kedua. Banyak juga yang meminta dia untuk tidak tampil sebagai pembawa acara di perhelatan nanti. Tapi Chris Rock pintar. Pikirannya tidak sedangkal Jada. Ini sebetulnya yang patut ditunggu di Oscar tahun ini. Opening monologue dari komedian favorit saya ini akan membuat kuping sebagian orang panas. Chris Rock sangat mengerti dengan kondisi yang ada. Isu ini tentu akan mendapat perhatian besar dari dia. Dia sangat pandai memainkan isu rasisme. And oh trust me, mah nigga. He will deliver. The napalm bomb is gonna drop anytime soon. Setiap celetukannya nanti selama monolog akan menjadi wacana baru yang akan membuat orang bilang “Eh bener juga ya..”.  

whiteoscar1

Sekarang pertanyaannya, sebelum Halle Barry mendapatkan Oscar pertamanya di tahun 2002–siapa aktris wanita berkulit hitam yang pernah mendapatkan Oscar? Jawabannya TIDAK ADA. Kenapa? Tanya aja sama Martin Luther King Jr. Terus gimana kalo kita bikin petisi aja terus boykot NBA? Abis pemaen basket yang jago negro semua. Rasis! #NBASoBlack. C’mon people let’s get it trending. 

THE GENK

Tanya: Halo! Boleh nanya ya. Ngapain ya enaknya pas Lebaran Cina buat Gue and THE GENK. Yang penting asik dan heboh. 

Hanif and THE GENK, Depok.

Jawab: Pertama-tama, kita harus menyamakan persepsi dulu. Aku asumsikan: Lebaran Cina adalah hari raya Imlek. Asik-heboh adalah seru. Sekarang pertanyaan kamu jadi: Kegiatan apa yang seru di hari raya Imlek untuk saya dan THE GENK?

Gampang. Aku selalu mendukung tingkat emisi energi yang rendah dalam kegiatan manusia. Jadi, rekomendasi tertinggi pastinya di rumah saja! Kalau kamu memang mau keluar rumah, perhatikan halaman di depan atau halaman tetangga kamu. Ya, ambil sapu dan gunting rumput. Kamu ingin lebih jauh lagi? Sejujurnya rekomendasiku jadi sangat terbatas karena kamu pergi dengan THE GENK! Ini adalah masalah nasional—sangat berbahaya. 

What the hell are you thinking, Hanif? Apa kamu tidak sadar akan reputasi THE GENK? Aku kaget mendengar kamu mau pergi bersama…

image

Debut pertama THE GENK adalah abad ke-15. Kamu pernah dengar kisah “Bawang Putih-Bawang Merah”? Akhir kisahnya, Bawang Merah dan Ibunya menderita di hutan. Di sanalah mereka menyusun kekuatan rahasia bersama lelembut hutan membentuk: 

image

Since that time, THE GENK  has been on a worldwide mission to terrorize innocent people. Ia dinyatakan berbahaya oleh PBB. Terorisme, siapa dalangnya? Pemanasan global? Flu Burung? Pegel-linu? Kehamilan Kakakmu? Demam Disko? Kalau kamu sempat mendengar soal “Kolor Ijo”—tebak siapa dalangnya? 

image

Coba pikirkan lagi. Sebelum kamu membawa mereka merayakan Imlek. Kamu mestinya sadar THE GENK telah merugikan banyak orang. Anggotanya di mana-mana. Mereka melakukan korupsi secara sistematis. Menggerogoti sendi-sendi ketahanan satu bangsa. Kamu tau siapa penggagas slogan “enak jamanku tho?” Ya…

image

I bet you’re thinking: No way, not my THE GENK. My THE GENK is about as fun as koala. Sure, they’re lazy and out of work. Tapi mereka menunggu. Bayangkan, kalau kamu pergi merayakan Imlek bersama THE GENK. Mereka akan punya akses menyamar jadi barongsay bergigi baja. Mengganti petasan dengan molotov. Mendatangkan keributan. Mengancam kelesamatan pesta Imlek dan orang-orang yang merayakannya. Cold, calculated, and efficient—this is exactly how THE GENK operates, Hanif.   

Jadi. Terserah kamu mau melakukan apa. Tapi sebaiknya kamu merayakan tanpa THE GENK; atau aku laporkan ke Polisi!

Jakarta Tak Perlu Warga Miskin?

Buat sebagian besar warga Jakarta, Singapura sudah layaknya seperti tetangga. Sejak kecil, berlibur ke Singapura memberikan kebahagiaan yang luar biasa. Apalagi sekarang sejak adanya pesawat terbang ekonomis yang menjadikan kelas menengah Jakarta bolak balik ke Singapura. tak hanya berbelanja, tapi juga berobat, berwisata, ngopi-ngopi atau bahkan kencan gelap sesaat.

Sejak itu pulalah tertanam konsep kota yang ideal adalah Singapura. Trotoar yang bersih, lampu lalu lintas yang teratur, tingkat kriminalitas yang terbilang rendah, tepi sungai yang tertata apik sehingga bisa menjadi daya tarik wisata, pasar basah yang tidak bau menyengat, kendaraan umum yang selalu tiba tepat waktu, kemacetan yang minimal, banjir yang hampir tak pernah datang, dan tak ada kawasan kumuh di tepi sungai. Seluruh warga bisa hidup tenteram, aman, dan sepertinya bahagia lahir batin.

Begitu pulang ke Jakarta, mendadak semuanya itu hilang. Kota yang semrawut, kotor, berantakan, dan kawasan kumuh yang dihuni oleh warga miskin tersebar di seluruh penjuru kota. Membuat sakit mata warga kelas menengah. Terutamanya saat membawa turis dari negeri yang lebih maju, rasa malu dan tidak percaya diri pun menyelinap pelan-pelan. Tak hanya rumahnya yang kumuh, warga miskin yang tinggal di kawasan kumuh pun perlahan kita anggap sebagai musuh bersama.

Warga miskin yang tinggal di tepi sungai, dituduh menjadi penyebab penyempitan sungai yang mengakibatkan banjir. Warga miskin yang tak memiliki pekerjaan sering muncul di media sebagai pelaku tindak kekerasan. Warga miskin yang sering melanggar aturan lalu lintas sebagai penambah kesemrawutan. Menyulitkan warga yang mengendarai mobil. Secara singkat dan gamblang, warga miskin adalah musuh utama pembangunan dan kenyamanan kota.

Penggusuran wilayah kumuh terutamanya tepi sungai pun mendapat sambutan positif bagi sebagian besar warga kelas menengah Jakarta. Harapan kota yang indah nan permai seperti Singapura mulai menunjukkan titik terang. Sungai dan kali yang bersih sehingga mengurangi banjir sebentar lagi akan terwujud. Warga miskin itu memang tak seharusnya tinggal di situ. Mereka tinggal di tanah tanpa izin. Dan di atas segalanya, toh mereka mendapat ganti tinggal di Rusunawa yang disediakan gratis oleh pemerintah. Rusunawa tentunya lebih nyaman daripada di tepi sungai. Kurang enak apalagi coba?

Ketika terjadi bentrokan saat penggusuran, media sosial pun terpecah. Saat ada yang teraniaya dan terluka pun tak dianggap penting. Kekerasan yang dilakukan oleh Ormas, pantas untuk dikutuk. Tapi jika dilakukan oleh Pemerintah demi kepentingan kota, wajar dan pantas dilakukan. Warga miskin dinilai memang layak diperlakukan sedemikian rupa. Merekalah penghambat dan penghalang selama ini. Penyebab segala nista kota. Kalau tidak mau diatur sebaiknya mereka pergi saja dari Ibukota kita tercinta ini. Kalau mau tinggal di sini, ya harus ikut aturan rimba: siapa kuat dia menang.

Bagi yang biasa tinggal di rumah tanah, tinggal di Rusunawa tentu butuh penyesuaian. Apalagi kalau ukurannya tak lebih dari 15m2 dengan ancaman bangunan perpanjangan setiap 2 tahun dan bisa dirubuhkan kapan saja tanpa hak ganti rugi. Setelahnya? Mereka pun harus pergi. Silakan cari tempat tinggal sendiri. Di kota yang tak lagi sanggup mereka tinggali.

Sementara, sebagian besar kelas menengah, bisa dibilang tak bisa lagi hidup tanpa pembantu dan sopir. Buktinya, saat musim Lebaran tiba, banyak yang mulai jejeritan mengeluh. Atau saat hendak membangun atau merenovasi rumah, mana ada warga kelas menengah yang mengerjakannya sendiri? Semua panggil tukang. Tengah malam kelaparan? Ada tukang nasi goreng dukduk yang melintas. Tak punya waktu mengurus surat-surat, ada banyak tukang yang siap membantu. Tukang parkir yang siap memberikan panduan slot parkir kosong. Pramusaji yang menjadikan acara ngopi-ngopi jadi lebih nikmat. Supir gojek, taksi, bis, bajaj, semuanya ada di Ibukota dan sebagian besar mereka tinggal di daerah kumuh.

articlecitypatterns_11

Kalau seluruh warga miskin Jakarta, perlahan menepi dan tinggal di lingkar luar kota apa yang akan terjadi? Tentu harga jasa mereka akan semakin mahal. Karena biaya transportasi mereka akan semakin meningkat. Dan semakin mereka terpinggirkan, perlahan akan pergi dan mencari nafkah di kota-kota lain yang “menerima” kehadiran mereka.

Tentunya kelas menengah tak perlu khawatir, akan selamanya ada tenaga-tenaga yang siap mengerjakan pekerjaan mereka selama ini. Bahkan mungkin lebih profesional. Tapi, dengan biaya yang semakin tinggi. Saat membangun rumah, maka harus “mengimpor” tukang dari kota lain. Saat kelaparan tengah malam, tak ada lagi penjaja makanan yang lewat. Tanggal cekak? Tak ada lagi warteg tempat seluruh warga miskin dan pekerja kelas menengah makan bersama. Tukang urut langganan? Tak lagi tersedia setiap waktu. Persis seperti yang terjadi di Singapura saat ini. Tenaga kerja kasar dan buruh yang harus diimpor dari Pakistan, Filipina, Indonesia, India dan lain-lain.

Tindak kriminalitas akan menurun? Tentu tidak juga. Karena ini soal tindakannya, bukan pelakunya. Semua kelas warga bisa dan sering melakukan tindak kriminalitas. Kita sudah menjadi saksi bahwa pencuri dengan nilai terbesar di Ibukota ini sebenarnya dilakukan oleh warga menengah ke atas. Kecelakaan di jalan raya pun banyak yang dilakukan oleh pemilik mobil mewah. Perampokan? Bukankah para koruptor banyak yang tinggal di Ibukota? Warga miskin tidak taat aturan, banyak. Tapi banyak juga kelas menengah dan atas yang mengendarai mobil dan parkir keluar dari marka. Warga miskin sering membentuk kelompok-kelompok yang meresahkan warga. Itu terlihat. Tapi bukankah lebih banyak lagi warga kaya yang membentuk kelompok dan merugikan warga lain, yang sialnya tidak terlihat. Atau bahkan sulit untuk dibuktikan.

Hidup berdampingan antar kelas, tentunya menjadi ideal. Karena ideal makanya sulit untuk diwujudkan. Tapi bukan tidak mungkin bahkan menjadi kewajiban bersama. Membutuhkan waktu yang lama tapi lebih menjanjikan keharmonisan untuk kota. Wilayah kumuh yang kalau dikelola dangan baik dan bijak, akan menambah keindahan dan karakter kota yang memiliki nilai tersendiri. Percayalah, selamanya Jakarta bukan Singapura. Dan sebaiknya Jakarta tak jadi Singapura. Karena Jakarta memiliki keunikan, ciri khas, kebudayaan, kelebihan yang sering membuat warga Singapura iri. Dan, menurut kabarnya, Singapura menyesal telah mensterilkan kota eh, negaranya dari wilayah kumuh dan memelihara warga miskinnya http://m.thejakartapost.com/news/2016/01/23/in-search-kampung-spirit-jakarta.html

kalisunter - ken pattern

homeontheciliwung-2 traditions

Ken Pattern's Stone Lithograph "Benhil" during the opening of Ken Pattern's Charity Art Exhibition at Grand Melia Hotel, Jakarta (Monday, April 26, 2010) organized by The Canadian Women's Association. And exhibition open until May 22, 2010. ----- JP/P.J.LEO

"Kali Ciliwung - Sunda Kelapa" by Ken Pattern

“Kali Ciliwung – Sunda Kelapa” by Ken Pattern

seluruh ilustrasi di artikel ini karya Ken Pattern, http://www.kenpattern.or.id

Iqra

Untuk menjadi sebuah dogma atau suatu doktrin, sebuah pemikiran filosofis harus ditransformasikan oleh teori. Kurang lebih begitu.

Teori menjadi sebuah tangga penghubung antara langit filosofis menjadi sebuah doktrin yang ‘agak’ membumi. Dengan demikian, ndak semua yang jatuh dari langit, dapat dipergunakan langsung oleh kehidupan yang menjejak tanah. Ada piranti yang mengubahnya agar mudah dikunyah.

Sama halnya dengan berbagai fenomena alam yang terjadi selama ini. Bagi sebagian orang hal tersebut adalah nyata-nyata. Bagi sebagian lain itu hanyalah pertanda. Ada hal yang harus ditelaah sebelum dikonsumsi.

Daging sapi mentah perlu dimasak. Beras perlu dikukus. Sayur perlu ditumis. Juga perkataan orang-orang mulia. Banyak yang tak bisa ditelan begitu saja. Seperti kearifan zen. Petuah Nabi Khaidir, Guru atau bahkan perkataan orang tua kita.

Ketika ada sebuah peristiwa, orang tua kita sering berkata: “hati-hati”.

Apakah arti hati-hati disini? Apakah sekadar kita untuk mawas diri? Sejatinya mawas diri ndak cukup. Hati-hati berarti kita harus secara intens untuk membaca banyak gejala. Jika menyeberang lihat kendaraan yang melintas. Jika akan ujian, perhatikan pelajaran dan perkataan guru. Jika ingin mencari jodoh lihat semua aspek dari calon pasangan yang kita taksir.

Hati-hati disini juga berarti kita siap melangkah maju, mundur sejenak, sedikit melipir ke ke samping, dan gerakan apapun saat menghadapi segala. Hati-hati adalah sikap prudent. Melaksanakan sesuatu dengan dilengkapi rambu-rambu. Penuh syarat. Jika tak terpenuhi maka sebaiknya tidak usah saja. Ada syarat yang dilanggar, maka lebih baik mundur teratur.

Begitu juga ketika kita mendengar kalimat ojo dumeh tansah eling lan waspodo. Semacam jangan mentang-mentang dan kita harus senantiasa ingat dan mawas diri. Karena hidup tidak akan lepas dari “berputarnya roda kehidupan”, yang selalu berubah. Mentang–mentang kaya, kemudian merasa bahwa apa saja dapat dibeli dengan uang. Mentang-mentang berkuasa, kemudian sok berkuasa, apa saja bisa dikuasai sendiri, bertindak seenaknya sendiri. Mentang-mentang cantik dan indah tubuhnya, kemudian mengumbar cinta seenaknya sendiri, melanggar sana melanggar sini. Mentang-mentang miskin, kemudian merasa minder dan bersembunyi di dalam tempurung.

Ketika selalu ingat dan waspada diterapkan maka akan lahir bijaksana, juga bersahaja dan sederhana, pun sabar dan menerima, serta yang terpenting bisa “merasa”. Tidak hanya simpati namun juga empati.

Hidup keseharian sepertinya adalah hal yang rutin, dan berulang karena ada ilusi imajiner bernama mingguan. Seolah-olah kita hidup berulang dari senin menuju senin berikutnya. Dari rumah ke tempat kerja dan begitu terus. Padahal nyatanya tidak. Karena walaupun loka dan rasa yang sama saja, sejatinya dimensi waktu hingga saat ini tak dapat diulang. Usia kita semakin bertambah. Mental kita pun seharusnya berubah. Tidak hanya keriput yang bertambah. Sikap batin kita makin matang seharusnya.

Hidup rutin bisa berubah menjadi hidup yang keras. Bos yang galak, rekan yang kerja yang sering memfitnah, sahabat yang sulit menyediakan waktu luang, pasangan yang juga malah kadang merongrong, tekanan orang tua yang mengatur sana-sini, menjadikan hidup yang keras dijalani dengan ‘tidak kerasan’ (ndak betah dan nyaman).

Lalu apalagi yang dapat kita lakukan selain berdoa? Perlukah kita juga melakukan sesuatu yang nyata secara fisik dan pikiran? Ya itu tadi. Iqra. Membaca kehidupan perlahan-lahan. Tidak bergegas. Tidak perlu merasa kalah atas pencapaian gemilang sahabat kita. Tidak perlu susah saat melihat derai tawa orang lain di saat kita sedang gundah gulana. Karena hidup memang demikian adanya. Selalu bersikap baik dan rendah hati, jalan paling aman untuk hidup yang nyaman.

Ada lebih, ada yang melebihi. Yang penuh, ada yang lebih penuh. Yang kosong, ada yang lebih kosong. Yang pandai, ada yang lebih pandai. Yang kaya, ada yang lebih kaya. Di atas langit masih ada langit.

Maka siapakah dari kita yang melaksanakan kehidupan dengan hati-hati dan akan selalu bahagia?

Yaitu orang-orang yang berserah. Orang-orang yang menjalani hidup sekuat tenaga tanpa pernah berpikir apa nanti jadinya. Karena setiap manusia telah diciptakan lintasan hidupnya.

Maka maha benar Pidi Baiq dengan kesantunan petuahnya:

“Kerja mah apa ajalah. Yang penting capek”.

 

Salam anget,

Roy

Bukan Penyakit Menular

Dimulai dari kemarin, sahabat saya mengatakan dia mengalami “migren di pagi hari” dan saya sudah paham sekali dengan kode itu biasanya tidak ada hubungan dengan penyakit migren itu sendiri. Ternyata kelompok obrolan di ponselnya yang terdiri dari ibu-ibu murid sekolah anaknya sedang ribut karena e-flyer sebuah jaringan dukungan sesama teman dari organisasi LGBT dan mencantumkan juga organisasi dengan menggunakan nama universitas tertentu.

Kutipan tidak langsung kata-katanya adalah “Serem ya” dan “Memang benar homoseksualitas sudah menyebar di kampus- kampus”. Kami; saya dan sahabat saya lalu berdiskusi sejenak, membahas apakah ada gunanya kita melepas enerji untuk membantah di grup ini, sampai pada kesimpulan, nantinya akan jadi debat kusir dan sudahlah biarkan saja, dan kami pun pindah topik.

Pagi ini saya bangun, dan melihat e-flyer yang sama dikirim ke forum obrolan teman-teman sekolah saya yang isinya perempuan semua, dengan embel-embel kata “mengerikan”. Lalu karena saya merasa lebih tahu rekan-rekan saya dan salah satu sayang saya ke mereka sampai puluhan tahun ini, karena saya mengerti mereka tidak memiliki niat buruk terhadap apapun, saya memutuskan bertanya kembali, “mengerikan kenapa?  Mereka toh hanya menawarkan support?” Lalu sebagian dari mereka mengalihkan pembicaraan lebih ke soal organisasi yang lalu dibantah oleh insititusi pendidikan tersebut, dengan mengatakan kalau organisasi yang menggunakan nama itu tidak resmi dan tidak diakui. Mungkin buat sebagian besar orang tua hal ini melegakan, tetapi seperti saya ketahui beberapa teman saya dan saya sendiri berpikir kalau dikeluarkannya pernyataan seperti itu dari sebuah insitusi pendidikan yang harusnya tidak ada haknya turut campur dengan kehidupan pribadi siswanya, agama, dan di negara yang memiliki undang-undang memberi kebebasan warga negaranya untuk berorganisasi, adalah sikap pengecut.

Kemudian pembicaraan berlanjut kembali, dan setelah saya bagikan ke kelompok percakapan yang lain ternyata mereka mengalami hal yang sama. Saya bersyukur punya teman-teman yang berani menyuarakan pendapat mereka, walau tak populer, di kelompok-kelompok tersebut. Seperti saya duga, kelompok yang menghakimi menyebutkan kata “nanti tertular” atau “bukannya diobati kok malah didukung”. Saya berusaha jawab pendek kalau menjadi LGBT itu bukan infectious disease, dan tidak bisa ditularkan. Sementara teman saya melemparkan kalimat favorit hari ini, “Kalau homo bisa direkrut, gue udah punya harem dari dulu.”

Sampai tulisan ini diangkat, diskusi di berbagai kelompok masih jalan. Di grup tertentu saya sudah menyerah, merasa sudah menjelaskan maksud dan memberikan pengertian, kalau sebagian dari mereka ternyata tetap tidak sependapat, ya apa boleh buat. Oh ya, saya juga ingin memberikan link ini yang isinya adalah press release dari organisasi yang diperdebatkan.

Selamat hari Jumat, dan mari sebarkan kasih sayang!

Surat Penuh Cinta Untuk Oom Woody

Dear oom Woody Allen,

Apa kabar, oom? Sehat? Aku jarang denger kabar oom sakit soalnya. Semoga oom dalam keadaan sehat selalu. Masih bisa main trombone dan klarinet ‘kan, oom? Syukurlah kalau masih bisa.

Oh iya, hampir lupa. Happy belated birthday ke-80 tanggal 1 Desember kemarin ya, oom. Lupa mau kirim kartu ucapan. Abis oom nggak pakai e-mail, sih. Kalo oom pakai e-mail ‘kan cepet. Apalagi kalau pakai WhatsApp.

Eh, oom. Gini. Aku nulis surat ini pas lagi inget oom. Soalnya beberapa hari yang lalu, aku nonton film oom yang terakhir, Irrational Man. Nontonnya di rumah. Maaf, oom. Film oom jarang yang masuk di bioskop sini. Terakhir ya Magic in the Moonlight. Itu juga telat lebih dari enam bulan diputernya, oom.

Oke, balik lagi ke Irrational Man. Bosen aku nontonnya, oom. Dari menit-menit awal, aku sudah bisa nebak ceritanya kayak gimana. Nanti karakternya ngapain, jadi kayak gimana, udah bisa ketebak banget, oom. Itu Joaquin Phoenix, Emma Stone, Parker Posey, mereka kan kayak ngulang karakter-karakter di film-film oom dulu. Yang kalo gak oom sendiri yang main, pasti ada tante Mia Farrow atau tante Diane Keaton.
Aku betah-betahin nonton, karena kan aku gak pernah kelewatan nonton film-film oom satu pun. Tapi ya itu. Kayak udah pernah nonton sebelumnya.

Kenapa ya, oom? Kenapa sih, oom?
Apa mungkin karena ini film ke-46 oom dari tahun 1965? Wow. Dalam 50 tahun, oom sudah bikin 46 film. Hampir setahun sekali ya.
Iya sih, mbak Cate Blanchett pas terima Golden Globe buat film oom, Blue Jasmine, juga bilang gini:

“Woody Allen writes and directs these things with such alarming regularity that we almost take him for granted.”

Tapi apa jadinya gitu, oom? Sekarang-sekarang ini, oom tinggal ngulang tema-tema yang sudah oom kerjakan selama ini, terus dimodifikasi dikit-dikit?

Annie Hall

Annie Hall

Nih ya, oom. Ini cuma menurut pendapatku yang sotoy lho.
Di Irrational Man, karakternya pada terinspirasi dari Dostoyevsky. Ya ampun, oom. Masih belum move on dari Crimes and Misdemeanors, yang oom ulang juga di Match Point?
Terus Magic in the Moonlight juga ada resemblance dari Scoop. Terus To Rome with Love cuma ngelanjutin petualangan oom Woody di Eropa dari jaman Everyone Says I Love You, yang tentunya jauh lebih bagus.

Padahal nih ya, oom, tak kasih tahu deh. Oom tahu dong, dulu aku pernah cerita, kalau aku mulai nonton film-film oom dari jaman SMA. Dan itu sudah bikin aku ternganga-nganga waktu nonton film-film lama oom. Annie Hall. Mikirnya, ih bisa ya, film komedi romantis dibuat jadi fantasi yang pintar. Terus Manhattan. Abis itu Broadway Danny Rose. Ya ampun, oom, itu aku ngakak sepanjang film! Terus Zelig. Kayak niat banget oom bikin film dengan detil dokumenter seperti itu. Terus personal favoritku, Radio Days. Gak sekedar nostalgia, tapi heartfelt juga. Lalu The Purple Rose of Cairo, yang menurutku salah satu film komedi fantasi terbaik sepanjang masa.

The Purple Rose of Cairo

The Purple Rose of Cairo

Eh terus pas awal 2000-an gitu, aku mulai khawatir. Kok film The Curse of Jade Scorpion kayak gitu? Terus Hollywood Ending. Terus Anything Else. Ya ampun, oom, ini sih pengulangan dari film-film lama oom sendiri.
Memang, ada film-film oom selama 15 tahun terakhir ini yang bikin aku pas nonton berasa “wow, he’s still got his wits in him!” Seperti Vicky Cristina Barcelona. Terus Midnight in Paris. Terakhir ya Blue Jasmine. Tapi ya udah. Itu aja. Sisanya? Been there done that banget, oom.

Aku salut sih sama, oom, tiap tahun bikin film. Mudah-mudahan bisa sampe kayak Manuel Oliviera, yang meninggal di umur 105 tahun dan masih bikin film sampe akhir hayatnya. Cuma, apa oom perlu keluar dari comfort zone? Ini aja bikin serial buat Amazon, katanya oom kesusahan, dan nyesel dari awal, kenapa diiyain.
Tapi kalau bikin film terus, nanti itu lagi, itu lagi, cerita dan karakternya.

Everyone Says I Love You

Everyone Says I Love You

Cuma, kalau oom Woody maunya kayak gitu, dan udah dipercaya ama studios yang mau biayain film-film oom karena nama oom udah jadi brand sendiri, ada ciri khas di setiap film, terus aktor-aktor pada ngantri main di film oom, ya udah lah ya. Satu surat cinta kayak gini ya ndak ada artinya apa-apa, tho?
Wong ya syukur kalo oom Woody bisa baca dan ngerti ini. Google Translate juga pasti acak adut nerjemahin surat ini. Aku gak mau aja, instead of being Irrational Man, you will also be an irrelevant man later.

Aku tetep sih akan nonton film-film oom. Practically, aku tumbuh dan berkembang sama film-film oom.
Jadi, mumpung oom masih hidup, masih aktif berkarya, aku cuma mau bilang, thank you for your films, oom Woody Allen.

Teriring salam manis,

Xoxo.

Magic in the Moonlight

Magic in the Moonlight

Babiku Bagiku

ADALAH attachment, kata yang digunakan Pali Text Society*) di Bristol, Inggris sebagai terjemahan dari Upadana, istilah yang banyak disampaikan Buddha dalam sesi-sesi khotbah dan diskusi semasa hidupnya, untuk kemudian diingat sebagai ajaran, dihafal secara kronologis, lalu dituliskan dan disusun menjadi berpuluh-puluh jilid Tipitaka.

Lewat kata attachment itu pula, para Buddhis kebanyakan–terutama mazhab Theravada–yang tidak pernah mempelajari bahasa Pali bisa mengerti bahwa Upadana berarti kemelekatan pada batin. Sesuatu yang muncul secara alamiah sebagai efek samping, residu, yang bila tidak ditangani sebagaimana mestinya malah bisa menjadi sebab negatif baru. Ya, kurang lebih mirip seperti lapisan licin bening supertipis di permukaan tegel kamar mandi yang selalu basah gara-gara keran shower kurang rapat.

Kemelekatan memunculkan keinginan, baik keinginan untuk menjadikan (embodiment) maupun menghilangkan (disembodiment) sesuatu. Keinginan mendorong terjadinya tindakan, dan setelah proses berlangsung serta menyisakan hasil, maka perasaan yang ditimbulkan lagi-lagi mampu menjadi sebuah kemelekatan. Sebuah lingkaran.

Salah satu sumber kemelekatan adalah makanan. Namun bukan makanannya, melainkan perasaan yang dicandui dalam sepanjang prosesnya. Sebelum, sedang kepengen makan sesuatu, bersantap, dan setelahnya;

  • Saat kunyahan pertama,
  • Saat fokus mengurusi detail-detail makanan,
  • Setiap kali pikiran memerintahkan kerongkongan dan mulut mengeluarkan gumam “hmmm…” sambil menutup mata, atau mata melebar berbinar, dan macam-macam ekspresi lainnya sebagai penanda nikmatnya santapan,
  • Saat menghabiskan bagian terbaik dari makanan itu di akhir santapan,
  • Saat hanyut sejenak dalam nikmat mulut dan perut setelah bersantap, bahkan
  • Saat hati mencelos begitu tahu warung makan favorit tutup, dan sebagainya.

Sangat mudah untuk memiliki kemelekatan pada daging Sus domesticus alias babi ternak. Karakteristik yang khas mengenai tekstur, kelembutan, tingkat kematangan, resapan bumbu, serta jenis masakan yang tepat, bisa menjadi semacam pengalaman menyenangkan, untuk kemudian dapat dengan mudahnya dirindukan.

Tapi bukan untuk semua orang.

Kegandrungan terhadap aneka kuliner berbahan dasar daging babi ternak sangat terbatas.

Bagi rekan-rekan muslim, jangankan daging, bahkan segala sesuatu yang berkenaan dengan hewan ini adalah haram tanpa terkecuali. Begitu pula bagi para umat Yahudi dengan hukum Kosher-nya. Dengan demikian, urusan babi ternak sudah masuk dalam ranah moralitas yang tidak bisa ditawar-tawar dengan alasan apa pun.

Sedangkan bagi para Buddhis, sebagai contoh berbeda, ihwal makan masakan berbabi bukan merupakan perkara boleh/tidak boleh, melainkan pertanyaan “mengapa?” dan “terus, kenapa?” kepada diri sendiri kembali soal kemelekatan di atas tadi. Dalam hal ini pun, yang boleh dikonsumsi adalah daging babi ternak, bukan babi hutan atau spesies babi lain yang bertaring.

Berbeda halnya dengan pandangan-pandangan spiritual tradisional. Dalam tradisi Khonghucu, salah satu agama resmi baru di negara ini, ataupun Tao dan kepercayaan tradisional Tionghoa, babi menjadi salah satu sajian upacara khusus selain kambing. Bukan cuma potongan daging, melainkan satu badan utuh tanpa jeroan dan bagian-bagian non-konsumsi lainnya. Juga dalam ritual suku-suku asli Nusantara. Di Papua, babi menjadi maskawin.

Terlepas dari pandangan religius tertentu, ada pula kelompok orang yang menolak konsumsi daging babi ternak dengan alasan kebersihan dan higienisnya. Barangkali menurut mereka, semua restoran atau penjual masakan berbahan babi pasti jorok dan primitif, dan tidak ada satu kecanggihan teknologi apa pun yang bisa benar-benar mensterilkan daging babi ternak agar layak dikonsumsi seperti makanan-makanan komersial berbahan daging hewan lainnya.

Bicara-bicara soal masakan babi, tidak banyak kota di Indonesia yang punya sikap biasa-biasa saja terhadap ragam kuliner ini. Setidaknya ditandai dengan label blak-blakan.

Di banyak kota, kebanyakan restoran babi tersembunyi, hanya diketahui secara terbatas, letaknya seringkali nyempil, benar-benar hidden gems. Dalam hal hak administrasi pun, banyak yang boro-boro diinspeksi petugas instansi demi mendapatkan sertifikasi higienis. Begitu tahu soal daftar menunya, kesan petugas seolah-olah bahkan dengan menjual masakan berbabi saja, keberadaan restoran itu sudah terlarang. Masih mending di Samarinda dan Balikpapan, atau Banjarmasin sekalipun yang sangat kuat nuansa keagamaannya, restoran berbabi tetap ada dan menjadi legenda selama berpuluh-puluh tahun walaupun dengan papan nama seadanya.

Terakhir, tahun lalu, dalam sebuah bazar hipster yang menjual aneka makanan kekinian. Ada salah satu stan mencoba memasarkan penganan berbahan babi yang sudah terkenal lebih dulu di Surabaya. Takut-takut, promosinya pun hanya secara tertutup di Path, dengan gambar logo yang dipotong (karena bergambar babi), dan sistem pesan terbatas. Responsnya: “namanya juga Samarinda, Gon.”

Berbeda lagi dengan di Kota Malinau, Kalimantan Utara (Kaltara), atau Kota Tanjung Redeb, ibu kota Kabupaten Berau yang ada Pulau Derawannya itu. Meskipun ada banyak warga Tionghoa, Dayak, dan non-muslim lain di sana, namun tidak ada satu pun restoran berbabi. Penjual dagingnya pun nihil. Sehingga minimal setahun sekali, menjelang Tahun Baru Imlek, warga Tanjung Redeb menyeberangi laut ke Kota Tarakan di utara, membeli daging babi ternak mentah maupun sudah dipanggang, sebagai bagian dari lauk utama mereka dalam suasana hari raya.

Kenapa kok enggak ada yang jualan (daging babi)?” tanya saya.

Ya susah sih di sini. Daripada kita diomongi macam-macam, lebih baik diam-diam beli, dimakan di rumah,” jawab seorang teman di Tanjung Redeb, beberapa tahun lalu.

Tak perlu jauh-jauh, dalam lingkungan kerabat sendiri pun, saya akan sangat ditegur bila mengucapkan kata “babi” dengan agak nyaring, meskipun tidak di depan umum. Babi di sini tentu merujuk pada makanan, bukan kata makian. Gara-gara kebiasaan itu, agak kikuk juga ketika sedang menjamu makan seorang kawan, dan mendadak ia bertanya “di sini enggak ada babi, ya?” saat seorang pramusaji melintas. Padahal itu hanya sebuah pertanyaan biasa.

IMG_8203

Seminyak, Bali (September 2015).

Kayaknya, citra haram yang melekat pada daging babi ternak ini memang begitu kuat, sampai-sampai bisa meresap ke dalam sendi-sendi kehidupan sosial. Akhirnya malah memunculkan kemelekatan baru, untuk memberangus siapa pun yang menjual masakan berbabi.

Padahal bisa dipastikan, sejauh ini tidak ada satu orang Indonesia pun yang sengaja ingin menggunakan masakan berbabi untuk mencederai kehidupan keagamaan orang lain, atau menggunakan papan promosi menu yang dipasang di depan warung untuk menggoda orang-orang masuk dan makan lewat aromanya yang sedap.

Tidak hanya itu, sering didapati peristiwa saat pramusaji atau juru masak malah mencoba memastikan si pelanggan memang benar-benar ingin memesan babi dengan pertanyaan: “ini masakan babi, lho.” Utamanya kepada pengunjung baru, yang datang sendirian, dan dari wajahnya tak dapat diterka suku maupun agamanya. Berhati-hati untuk tidak salah menyajikan.

Kalau sudah begini, mudah-mudahan ke depannya makin banyak restoran berbabi yang berdiri, tak paranoid dalam menampilkan keterangan tentang bahan sajiannya, dan biasa saja. Biar makin banyak kompetitor, makin enak kualitas rasanya. Baik pemasak maupun pemakan sama-sama enggak merasa risi sendiri.

IMG_8893

Warung baru di Samarinda. Satu-satunya dan yang pertama pasang beginian di pinggir jalan. 😀

… dan soal moral orang lain yang sengaja menyantapnya atas kemauan sendiri, jelas bukan urusan kami.

[]

*) Pali Text Society, berdiri sejak 1881. Mulai menerjemahkan Tipitaka Pali sejak 1895 sampai sekarang (belum tuntas), dan telah menghasilkan 43 jilid buku, meskipun banyak pihak menyebut hasil terjemahannya kurang memuaskan.

Kenapa Leo Akan Dapat Oscar Tahun Ini

Lupakan kontroversi Oscar yang dikabarkan terlalu putih karena tidak ada satu pun aktor atau aktris berkulit hitam yang terpilih sebagai nominasi di semua kategori. Jawabannya mudah sebetulnya. Karena tidak adanya aktor atau aktris untuk dinominasikan. Siapa? Will Smith di “Concussion”? Atau Idris Elba di “Beast Of No Nation”? Atau karena sedikitnya nominasi yang diberikan ke film “Straight Outta Compton”? Ini bukan masalah rasis atau tidaknya AMPAS sebagai juri dari Academy Awards. Tapi lebih karena memang sedikit film berkualitas yang menampilkan kulit hitam sebagai aktor atau aktrisnya tahun ini. Tidak usah banyak berpolemik lah. Dikit-dikit rasis. Dikit-dikit seksis. Dikit-dikit apalah. Udah gak musim.

leo

Ada yang lebih penting untuk dibahas di Oscar yang menginjak tahun ke-88 ini. Yaitu kategori Aktor Terbaik. Kenapa? Karena ada satu nama, Leonardo DiCaprio. Kegagalannya mendapatkan Oscar telah menjadi bulan-bulanan media setiap dinominasikan di ajang Oskar. Dia sudah empat kali dinominasikan di ajang ini. Sudah lebih dari dua puluh tahun dia berkarir di dunia film. Tapi Dewi Fortuna masih belum berpihak juga. Tapi tahun ini, melalui film The Revenant–nominasi kelimanya–saya prediksi dia akan mendapatkan Oscar pertamanya. Kenapa?

leo wall

Yang pertama, ini adalah peran yang tepat bagi Leonardo DiCaprio yang berperan sebagai Hugh Glass di mana dia hampir mati karena serangan beruang, dan ditinggalkan oleh teman-temannya dalam keadaan luka berat karena dianggap beban di perjalanan yang masih jauh dan musim dingin akan segera tiba. Dibanding dengan peran sebelumnya sebagai Jordan Belfort di film Wolf of Wall Street–dimana dia juga mendapat nominasi untuk aktor terbaik–peran ini lebih menantang dan menderita. Melihat dari tiga pemenang terakhir di ajang Oscar ini mereka yang memenangkan piala adalah mereka yang “menderita”. Eddie Redmayne tahun lalu memenangkannya melalui film “The Theory of Everything”, dengan berperan sebagai Stephen Hawking. Tahun sebelumnya, Matthew McConnaughey memenangkannya dengan berperan sebagai hedon yang terkena virus HIV di film “Dallas Buyers Club”. Dia harus mengurangi berat badannya hingga puluhan kilo. Daniel Day-Lewis juga demikian. Dengan menjadi presiden Amerika bernama Abraham Lincoln di film “Lincoln”. Leo memang tidak menguruskan badannya sekian kilo. Tapi dengan membiarkan jenggotnya tumbuh berantakan itu adalah hal yang cukup. Peran ini memang tepat untuk Leo.

leo rev4

Kedua, film The Revenant adalah film yang paling mendapat nominasi tahun ini. Meraih dua belas nominasi, termasuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Aktor Terbaik dan juga Aktor Pendukung Terbaik. Dengan faktor pendukung ini akan membuat daya tawar Leo untuk mendapatkan Oscar pertamanya semakin besar. Peran Leo sangat vital di film ini. Dengan bantuan Chivo sebagai sinematografer handal (yang saya juga yakin dia akan mendapatkan Oscar pada tahun ini) sangat membantu dalam menggambarkan penderitaan Leo. Film The Revenant pun sangat berpotensi untuk mendapatkan Oscar di kategori Film Terbaik. Saingan terberatnya mungkin Mad Max: Fury Road dan Spotlight.

leo rev

Keempat, Leo sudah mendapatkan sinyalemen dengan mendapatkan Golden Globe beberapa minggu lalu. Tahun lalu pun begitu. Tapi di kategori komedi/musikal. Sementara tahun ini dia mendapatkannya di kategori Drama. Di tahun 1994 Leo kalah di “What’s Eating Gilbert Grape” oleh Tommy Lee Jones di film “The Fugitive”. Wajar dia belum diperhitungkan saat itu. Tapi akting paling oke sebetulnya dari semua film yang dinominasikan. Di tahun 2004 Leo di film “The Aviator” dikalahkan oleh Jamie Foxx yang berperan sebagai Ray Charles di film “Ray”. Di tahun 2007 melalui film “Blood Diamond” dia dikalahkan oleh Forest Whitaker yang berperan sebagai Idi Amin di “The Last King of Scotland”.

Ketiga, kompetisi untuk kategori Aktor Terbaik ini relatif mudah dibanding tahun lalu atau tahun-tahun sebelumnya dimana Leo dinominasikan. Tantangan terberatnya mungkin hanya di Eddie Redmayne yang memerankan tranny di “The Danish Girl”. Tapi ia sudah Leo kalahkan di Golden Globes. Walaupun tidak bisa dibilang patokan. Tapi arah ke sana sudah terlihat. Tahun ini? Selain Eddie Redmayne, dia akan berhadapan dengan Matt Damon di film “The Martian”, Bryan Cranston di film “Trumbo”, dan Michael Fassbender di film “Steve Jobs”.

Setuju kan kalo Leo bakal dapet Oscar tahun ini? Yang gak setuju sini kumpulin uangnya. Kita taruhan aja.