Saving All My Love For You

Ada satu kegiatan rutin yang selalu saya tunggu menjelang akhir tahun.
Kegiatan rutin itu adalah menutup buku.
Ini bukan sekedar “buku” biasa. Tapi ini adalah catatan keuangan pribadi yang dijalani setiap hari selama setahun penuh. Dan catatannya pun bukan berupa aplikasi atau catatan buku nota. Cukup sekedar celengan.

Iya.
Celengan.
Mau bentuknya apapun. Kalau saya bentuknya adalah tube atau kaleng bekas bungkus kaos yang pernah saya beli di Bangkok belasan tahun lalu. Di situlah tempat saya meletakkan sebagian uang setiap harinya. Jumlahnya tidak boleh bulat seperti 10 ribu, atau 20 ribu. Harus aneh, misalnya 19 ribu, atau 18 ribu, atau 23 ribu. Alasannya? Biar ada uang kecil saat diperlukan. Menaruh uang di celengan ini pun tidak harus setiap hari. Kalau saya mau bepergian selama seminggu, misalnya, maka saya akan menaruh uang untuk seminggu itu. Misalnya sudah saya tetapkan hari itu ingin menabung 21 ribu, berarti 21 ribu kali 7 hari. Yang penting ada jejak rekamnya.

Jejak rekamnya ini berupa coretan di kalender meja. Kalender ini ditaruh persis di sebelah celengan, lengkap dengan spidol. Berhubung posisi kalender dan celengan letaknya di sebelah lemari pakaian, mau tidak mau saya melihat mereka setiap hari.

Untuk apa uang ini saya sisihkan? Dulu, ketika memulai kegiatan ini sekitar 10 tahun silam, pikiran saya sederhana. Mau jalan-jalan di akhir tahun dengan uang yang terkumpul setahun.
Sempat terlaksana di tahun-tahun pertama.
Lalu mulailah kepraktisan hidup sehari-hari menggantikan segala rencana. Punya celengan di rumah berarti punya persediaan uang kas. Maka uang di celengan menjadi dompet saat membayar hantaran jasa cucian, makanan, kurir dokumen, dan lain-lain yang membutuhkan bayar di tempat.
Lama-lama isi celengan terkikis karena ini.
Saya pun memaksa untuk meletakkan kertas kecil di dalam celengan. Kertas ini bertuliskan angka jumlah uang yang diambil. Misalnya perlu bayar hantaran makanan sebesar 75 ribu, ya saya tulis 75 ribu di kertas itu. Nanti kertas itu saya masukkan ke dalam celengan.
Saat menjelang akhir tahun, saya akan buka celengan itu. Lalu saya akan lihat isi celengan dan tumpukan-tumpukan kertas.
Satu per satu, saya bayar kembali jumlah uang di tumpukan kertas. Setiap selesai membayar satu jumlah, saya coret angka di kertas itu. Lalu kertasnya dibuang. Begitu terus, sampai tak ada kertas lagi di dalam celengan.

Dan akhirnya, setiap tanggal 25 Desember, saya mempunyai celengan yang utuh lagi dengan uang tabungan harian selama setahun. Lengkap dengan kalender yang tercoret setiap hari selama setahun penuh.

Apa rasanya? Puas tak terkira!

Meskipun jumlahnya tak seberapa, tapi ada sense of completion, ada rasa puas karena telah menyelesaikan sesuatu. There is no greater satisfaction than finishing what we start.

Saya tidak ingin mengajak Anda melakukan hal yang sama. Bagaimanapun juga, setiap orang punya cara tersendiri dalam mengelola keuangan mereka. Kebetulan saja, meskipun ada tabungan, asuransi, reksadana dan investasi, saya masih ingin punya tradisi menyisihkan uang, literally, seperti yang diajarkan ke kita waktu kecil dulu.
Penghasilan saya tidak seberapa. Cukup buat saya hidup sendiri. Tapi saya percaya, bahwa pada akhirnya, it’s not about how much we make.
It’s always about how much we can save.

Piggy Bank (Courtesy of: homekeepingadventure.wordpress.com)

Piggy Bank (Courtesy of: homekeepingadventure.wordpress.com)

Perihal finansial dan keuangan selalu menjadi topik sensitif buat siapa saja. Tapi paling tidak, jika kita bisa jujur dengan diri sendiri tentang apa yang bisa kita lakukan untuk mengontrol apa yang kita punya, that’s a good start.

Saya sering cheating beberapa kali dalam mengisi celengan ini. Sering saya mengambil uang celengan dalam jumlah banyak untuk hal-hal yang kurang perlu, misalnya, bayar junk food delivery malam-malam. Atau tidak mengisi tabungan dalam beberapa hari. Namun pada akhirnya, saya tidak bisa menipu diri sendiri. Kalender itu menatap saya setiap hari setiap saya berganti pakaian.
Akhirnya, old habit dies hard. Tak kuasa untuk tidak tunduk pada aturan yang dibuat sendiri, celengan pun terisi kembali.
Yang menjadi pemicu salah satunya, tentu saja, kepuasan pada akhir tahun melihat kalender tercoret penuh.

Sense of completion. Mungkin itu yang ingin kita lihat bersama di setiap akhir tahun, dalam bentuk apapun. Finish what we start.

Dan saya ingin mengucapkan terima kasih buat semua pembaca Linimasa yang sudah setia membaca blog ini selama tahun 2015 ini. Kebetulan saya yang mengawali tahun 2015 dengan tulisan tentang kerja, dan yang menutup tahun 2015 dengan tulisan yang sedang Anda baca ini.

Selamat tahun baru. Semoga kita bisa selalu bisa menyisihkan sebagian hati untuk hal yang kita cintai.

Dan supaya judul artikel pas dengan isi, maka berikut lagu dari Whitney Houston.

Advertisements

Selingkuh

HAL ini sering terjadi; mudah ditemukan di sekitar kita lantaran dilakukan banyak orang. Sekilas terlihat menyenangkan sekaligus cendala, tapi bagi sebagian terasa menantang untuk dibuktikan keseruannya. Penuh drama, melibatkan taktik serta muslihat, sehingga membuatnya lumayan risi untuk diperbincangkan. Cukup disegel dengan kalimat sakti “tahu sama tahu sajalah, itu bukan urusan kita”, dan terus saja dilakukan sampai bosan.

Ya, begitu mengenggankannya pembicaraan soal selingkuh, wajar bila tulisan ini dianggap kurang kerjaan. Namun bagaimanapun juga, perselingkuhan adalah bentuk dari eksistensialisme praktis. Apalagi menjelang libur panjang mulai lusa, saat para peselingkuh wajib punya rencana untuk bisa membagi waktu bersama dua atau tiga kekasih agar semua tetap berjalan lancar, atau malah memutuskan lebih serius dengan salah satunya saja.

Dalam artikel Mas Gandrasta beberapa pekan lalu, hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya diperlukan waktu selama 34 menit untuk bisa merasakan bibit jatuh cinta. 30 menit saling berbicara, ditambah 4 menit saling berpandangan tanpa kata. Jangan-jangan, kondisi begini yang kemudian memicu seseorang untuk berselingkuh, dan seringkali ditambah kesediaan seseorang lainnya untuk jadi selingkuhan.

Terkesan gampang memang. Akan tetapi jangan lupa kalau manusia penuh dengan preferensi, apalagi untuk urusan naksir-naksiran. Tanpa preferensi, tentu tidak ada perasaan suka sebagai titik awalnya. Minimal secara visual.

Bila kembali ke 34 menit di atas, asumsinya pembicaraan selama 30 menit berlangsung lancar dan mengalir, tek-tok, dialogis dan berekspresi, bukan seperti interogasi. Setelah hati dibuat hangat lewat obrolan yang menyenangkan dan efek hormonal, tatapan mata bikin mental block makin luluh. Kesengsem deh. Soal preferensi, perbincangan itu tak sekonyong-konyong terjadi. Setidaknya ada wajah yang sanggup dilihat selama mengobrol, untuk selanjutnya ditatap lekat-lekat selama 4 menit. Proses naksir bakal gagal, kalau belum apa-apa sudah pengin ngakak lihat wajah si dia. Sayangnya, ada beberapa kasus yang tidak bisa dijawab teori ini. Kiwil dengan dua istri, misalnya.

Secara umum, selingkuh diartikan sebagai sikap tidak setia dan dilakukan sembunyi-sembunyi, lengkap dengan mekanisme pertahanan berupa kebohongan, serta bisa menyebabkan kekecewaan dan rasa sakit hati. Ketika seseorang yang sudah terikat komitmen perasaan terhadap orang lain, juga menjalin asmara dengan orang yang berbeda dan tidak saling tahu. Dengan demikian, perlu empat syarat untuk selingkuh:

  1. Sudah punya pasangan sebelumnya. Kalau belum punya pacar, siapa yang dibohongi?
  2. Tidak saling tahu. Kalau sama-sama tahu dan anteng-anteng saja, berarti itu bukan pacaran, tapi jadi selir atau poligami/poliandri.
  3. Mengerti kalau selingkuh itu tindakan yang tidak benar. Terdengar dungu memang. Tidak benar di sini karena bisa merugikan orang lain, namun itu kalau ketahuan. Jadi, para peselingkuh berusaha hati-hati dan cermat supaya tidak ketahuan.
  4. Ada emosi dan perhatian yang dicurahkan. Bila tidak pakai perasaan, tak ubahnya cuma hubungan transaksional.

Mengapa seseorang berselingkuh? Baik sebagai peselingkuh, maupun selingkuhan. Soalnya pasti tidak ada yang mau diselingkuhi, biasanya karena menyangkut harga diri.

Agak tricky menjawab pertanyaan ini, tapi berikut adalah beberapa alasan yang lazim kita dengar, atau kita gunakan (ngikik).

  1. Alasan naif: cinta,
  2. Alasan kausalitas: mencari seks (aktif), atau tak tahan godaan (pasif),
  3. Alasan egosentris: membuktikan keunggulan diri bisa menaklukkan banyak orang, bentuk ekspresi sosial dan gender,
  4. Alasan traumatis: membalas dendam, atau melampiaskan ke orang lain,
  5. Alasan bodoh: iseng, mumpung masih muda/masih bisa/masih belum menikah,
  6. Alasan evaluatif: bosan atau pelarian,
  7. Alasan kontemplatif: contentment.

Ketujuh alasan di atas memiliki spektrum masing-masing yang tampaknya tidak perlu dijelaskan lebih lanjut, tetapi kebanyakan orang Indonesia sudah kadung menyamaratakan semua alasan ke poin nomor 2 aktif. Apa pun latar belakangnya, perselingkuhan dianggap bermuara ke satu titik: selangkangan alias hubungan seksual. Padahal belum tentu itu yang dicari, walaupun pasti dicap mustahil.

Jamak kita dengar: “ngapain dia selingkuh sama Si Anu kalau enggak buat ditidurin? Potong kuping gua!

Jika demikian keadaannya, giliran para peselingkuh dan selingkuhan saja yang menanyai diri mereka sendiri. Apakah hubungan klandestin yang tengah mereka jalani harus selalu diwarnai pertukaran lendir? Di sisi lain, sikap terhadap ihwal seksual ini pula yang membedakan antara perselingkuhan dengan open relationship. Dalam perselingkuhan, hubungan asmara dan aktivitas seksual dilakukan secara diam-diam, otomatis tidak disetujui pasangan. Sedangkan dalam open relationship berlaku sebaliknya, meski dengan syarat dan ketentuan khusus, dan untuk bisa menjalaninya benar-benar membutuhkan kedewasaan emosional yang sangat tinggi.

Kesimpulannya, dari hampir semua alasan di atas (kecuali poin nomor 2 aktif), belum tentu berujung pada aktivitas seksual. Bisa jadi setelah tujuan utama tercapai, sebuah perselingkuhan akan ditinggalkan dan pupus dengan sendirinya. Begitupun untuk alasan nomor 1, saking cintanya sampai-sampai menjadi Platonic Love, enggan untuk mengubah apa pun. Ibarat melihat bunga cantik yang mekar di pinggir jalan, dan memutuskan untuk menikmati keindahannya tanpa memetik agar tidak lebih cepat layu.

Untuk alasan nomor 2 pasif, silakan nilai sendiri. Apakah menggunakan jasa prostitusi sama dengan berselingkuh? Sebab komitmen untuk setia berlaku menyeluruh pada hati, pikiran, tubuh, dan kelamin. Atau piye? Selain urusan bayar membayar, di zaman sekarang hanya orang-orang dengan idealisme tinggi saja yang enggak langsung terima waktu disodori bodi keren, cowok ataupun cewek.

Poin ke-6 disebut evaluatif, karena kebosanan terhadap pasangan adalah sebuah masalah yang kata banyak orang bisa diselesaikan. Barangkali gara-gara susah berkomunikasi, akhirnya kebosanan itu menjadi kronis, rasa suka berubah jadi ill-feel. Hati yang gundah mendadak mendapat kenyamanan dari seseorang yang berbeda. Pedahal, jikalau benar-benar yakin dengan rasa bosan itu dan telanjur malas mengurusinya, mending putus sekalian, ketimbang selingkuh bikin perkara baru. Tidak bisa putus karena masalah hati dan sayang? Lah, katanya bosan. Jangan labil deh.

Pandangan berbeda untuk poin nomor 7. Saya merasa kurang sreg menggunakan kata “kepuasan” dibanding “contentment”. Kata “puas” identik dengan perasaan badaniah: kenyang, lega, mengarah ke jenuh, perasaan setelah mendapatkan sesuatu. Untuk urusan lega-legaan, ya jatuhnya seksual lagi.

Sebagai pembanding soal contentment ini, bagi Anda yang sedang atau sudah berpacaran/menikah, pernahkah Anda bertemu dengan seseorang yang lebih menyenangkan kala diajak berbicara dibanding pacar/pasangan sendiri? Begitu senangnya, sampai-sampai Anda selalu menantikan momen ngopi bareng dengan orang tersebut. Sepasang kekasih tidak mesti punya kegemaran yang sama, karena itu Anda lebih senang mengajak orang lain untuk nonton bareng festival film atau gig dan gegilaan bersama. Atau dengan rekan bisnis? Dan sebagainya. Semua berjalan mesra tanpa sedikit pun intensi untuk bobok-bobok lucu. Apa itu namanya? Perselingkuhan kognitif? Perselingkuhan koheren? Apa yang diperoleh? Emotional contentment? Associative contentment? Apa lah apa deh.

Pun, apabila perasaan contentment ini berubah menjadi lebih intim, giliran logika dan perasaan yang berperang. Memilih salah satu, atau tetap mempertahankan dua-duanya dengan risiko harus makan hati serta selalu melakukan penyesuaian diri. Kecuali Anda masih alay.

Melelahkan enggak sih? Worth it?

Bagaimana dengan para korban perselingkuhan? You’re obviously the survivors! But if You’re still with that cheater, obviously a dumb then. Sorry. 🙂

Sekarang, setelah kelar membaca sengkarut sotoy ini, siapa saja berhak berceletuk: “duelah, selingkuh itu buat dijalani kali, bukan buat dibahas-bahas.”

Kembali ke prinsip universal: “pengin selingkuh? Bersedia diselingkuhi, enggak?”

[]

Album Kesayangan Tahun 2015

Di penghujung tahun itu standar biasanya suka ada rangkuman kegiatan yang terjadi dari awal tahun sampai akhir bulan ini. Hanya tinggal beberapa hari lagi kita akan memasuki tahun 2016, menurut kalender Gregorian, yang diakui oleh seluruh dunia secara de facto. Di setiap aplikasi ataupun media sosial pun banyak yang aplikasi entah itu aplikasi tambahan atau memang media sosialnya yang mengeluarkan fitur tersebut. Di Facebook ada year in review untuk apa saja yang telah terjadi setaun ke belakang atau untuk yang lebih personal ada juga. Twitter pun punya Year In Review. Tadi malam saya mulai liat Best Nine versi Instagram berseliweran. Merangkum sembilan foto yang paling banyak di-like di Instagram.

Nah untuk di hari Selasa ini saya coba merangkum apa saja yang menjadi album favorit saya. Percayalah tidak akan ada Coldplay atau Taylor Swift di dalamnya. Tahun 2015 ini merupakan tahun yang bagus bagi dunia musik sebetulnya. Banyak sekali album yang berkualitas yang dirilis tahun ini. Mari kita cek. Semoga tidak ada yang terlewat ya. Ini cuma album favorit saya. Tidak mewakili para penulis Linimasa. Kalo merasa terwakili ya terima kasih. Kalo tidak ya masa sih ah. Daftarnya menurut abjad ya. 

2015

Alabama Shakes – Sound and Colour

Album kedua dari band yang digawangi oleh Brittany Howard ini berusaha keluar dari genre blues yang diusung di album perdananya. Tapi aroma blues tetap menjadi benang merah di album ini. Brittany, yang di album perdana vokalnya menjelma menjadi perpaduan antara Janis Joplin dan Etta James. Di album ini dia berusaha merambah wilayah baru dengan menjadi Prince, Marvin Gaye, Curtis Mayfield dan juga Erykah Badu. Suaranya tetap mencengangkan.

Beach House – Depression Cherry

Album pertama di tahun 2015. Ya mereka merilis dua album tahun ini. Produktif. Saya pilih album ini. Karena untuk setiap hari menuju senja dan lelah dengan rutinitas itu-itu saja, kita pasti membutuhkan sedikit Beach House untuk sekedar relaksasi. Album ini cocok diputar di tempat refleksi menggantikan lagu-lagu Kenny G. Bir atau substansi downer bisa menjadi teman baik untuk menikmati album ini.

Cover

Benjamin Clementine – At Least For Now

Benjamin meraih Mercury Prize melalui album ini. Artinya Benjamin Clementine meraihnya di album perdananya. Album yang juga sukses secara komersial di Eropa setidaknya. Amerika Utara masih demam Adele dan EDM. Untuk perbandingannya mungkin Nina Simone yang mendekati dari segi jenis suara. Dia bernyanyi seperti sedang membaca pusisi sambil diiringi oleh dentingan piano atau alat musik lainnya. Masa depan musik tidak sesuram yang kita kira. Ada harapan di pundak Benjamin Clementine.

 

aoty

Bjork – Vulnicura

Album ini adalah album patah hati versi Bjork. Album yang mengingatkan saya pada beberapa album awalnya di tahun 90an yang masih easy listening untuk ukuran Bjork. Album ini dirilis pasca perpisahannya dengan pasangan hidupnya bertahun-tahun menemaninya.

Cover

Dr. Dre – Compton

Album dari pemilik headphone merk Beats yang diakuisisi Apple ini merupakan sontrek dari film Straight Outta Compton. Biopik dari grup hip-hop paling berbahaya pada jamannya, N.W.A.  Coba satu trek bersama Eminem.

Father John Misty – I Love You Honeybear

Album kedua dari Josh Tilman dengan nama panggung Father John Misty ini merupakan album yang sungguh enak didengar. Apalagi di musim hujan seperti di bulan Desember ini. Tidak sulit untuk mencernanya. Tinggal pencet play dan rebahan. Beres.

aoty2

Florence + The Machine – How Big, How Blue, How Beautiful 

Kembalinya Florence, biduanita dari Inggris Raya bersuara tinggi dan melengking tapi tidak annoying. Di album ketiga ini dia berusaha untuk berdamai dengan dirinya sendiri walaupun sedang patah hati. Album yang akan dengan mudah masuk ke jajaran album ketiga terbaik.

Grimes – Art Angels 

Di genre elektro-pop ini saya sodorkan Claire Boucher. Penyanyi dari Kanada dengan nama panggung Grimes ini menyuguhkan musik yang komplit. Ada sedikit MIA. Ada sedikit Taylor Swift. Ada sedikit Depeche Mode.

Joanna Newsom – Divers

Kalo kamu suka Fiona Apple, Kate Bush, atau Regina Spektor. Atau mungkin suka ketiganya, maka ada 70% kecenderungan kamu juga bakal suka album ini. Ada kemiripan dari ketiga penyanyi yang saya sebut di atas dengan Joanna Newsom.

Julia Holter – Have You In My Wilderness

Album keempat yang ambisius. Eklektik. Tapi album ini lebih pop dibanding dengan album-album sebelumnya. Ada aroma psikedelik soft rock era 60an di lagu She Calls Me Home. Bukan album yang bisa dinikmati oleh setiap orang. Tapi Julia Holter tidak peduli.

front

Kendrick Lamar – To Pimp A Butterfly

Setelah mendengar album ini. Percayalah anda akan menganggap Drake itu sebagai rapper guyonan. Begini memang seharusnya membuat album hiphop. Pasca Eminem–mungkin dia adalah emcee terbaik untuk saat ini. Belum ada lawan sepadan.

Laura Marling – Short Movie

Transformasi Laura Marling dimulai di album ini. Setelah berakustik di empat album awalnya. Maka di album ini ia berusaha memainkan lagunya dengan format elektrik dan band. Tidak banyak yang berhasil melakukan perubahan ini dan bisa diterima oleh penggemarnya. Mumford & Sons gagal. Laura Marling tidak.

New Order – Music Complete

Sejak Peter Hook meninggalkan New Order tahun 2007–banyak yang menyayangkan kejadian ini. Peter Hook itu bagian yang tidak bisa dipisahkan dari New Order. Basslines darinya menghasilkan banyak lagu yang legendaris. Seperti Gallup di The Cure. Tapi penggantinya, Tom Chapman tahu itu. Ganjarannya, album ini justru seperti mengembalikan mereka ke era 80an.

Sufjan Stevens – Carrie  and Lowell

Selama Stevens berkutat di permasalahan asmara, mitos dan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab–maka ia akan terus membuat album yang bagus. Carrie and Lowell adalah album yang tidak berlebihan. Sufjan Stevens berusaha menjadi dirinya sendiri. Bernyanyi untuk dirinya sendiri. Dan kita hanya bisa menikmati.

Tame Impala – Currents

Album ketiga dari band Kevin Parker. Lebih enak didengar. Lebih mudah dicerna dari dua album sebelumnya. Bayangkan jika punya banyak lagu seperti It Feels Like We’re Going Backwards di satu album. Tidak akan langsung jatuh cinta satu kali mendengar album ini. Tapi begitu kamu mulai suka maka kamu gak bisa lepas dari Currents. Sebagus itu.

Wolf Alice – My Love Is Cool

Ketika kamu mendambakan band yang digawangi para perempuan cantik dan penuh nuansa grunge di era 90an. Maka Wolf Alice adalah jawabannya. Di satu lagu mereka bisa beringas. Tapi di lagu lainnya mereka bisa begitu lembut. Ada sedikit Jekyll and Hyde di album ini.

Ada yang terlewatkah? Selamat Tahun Baru!

 

 

Saga Natal

Di Lapangan Blok S, pangan dekat tempat tinggal saya sewaktu kecil, ada sebuah pohon besar bernama Pohon Saga. Dari pohon tersebut, menghasilkan biji Saga. Warnanya merah, kecil-kecil, bertebaran di sekitaran tanah akarnya. Buat yang belum pernah melihat, ini saya ambilkan dari Google.

5347721991_43c69f080a biji-dari-buah-saga-matang-pohon

Setiap habis berjalan-jalan, ke Gereja atau Sekolah, selalu melewati Lapangan Blok S. Ibu sayalah yang mengenalkan akan jenis buah ini dan sekaligus permainannya. Sederhana sekali kalau diingat. Tapi tetap penuh tantangan. Cuma diserak di lantai, dan kemudian dijentikkan agar satu biji saga kena dengan satunya lagi. Tapi sebelum dijentikkan, jeda antara biji yang satu dengan yang lain, harus digaris menggunakan jari dan jari tak boleh mengenai biji Saganya. Kalau kena jari, ganti pemain. Kalau sukses, silakan disentil sampai kena. Syaratnya lagi, tak boleh mengenai biji Saga yang lain di lantai. Siapa yang berhasil mengumpulkan biji Saga terbanyak, dialah pemenangnya.

Dari biji Saga ini pulalah saya mengenal warna merah. Iya, warna merah yang saya suka. Dan di kemudian hari selalu menjadi panduan saya saat mendisain. Ingin mencapai warna merah Saga. Tidak cemplang, tidak terlalu pekat. Merah yang alami. Dan menurut mata saya, merahnya sangat berkelas.

Sejak mengenal biji Saga, saya hampir selalu membawa sekantung biji Saga. Dari mulai saya kuliah, pindah kos saat bekerja, mengontrak, sampai punya tempat tinggl sendiri. Dua mangkok biji Saga menjadi bagian dari hiasan rumah. Setiap kali melihatnya selalu bisa memberikan rasa bahagia. Dan sedikit optimisme, kalau boleh lebay.

20151226_172011

Dari dulu pula, ada tantangan yang saya buat sendiri. Gimana caranya, bisa bikin ronce biji Saga. Masalahnya, dulu belum ada bor yang mikroskopik. Mengingat biji Saga yang ukurannya sedikit lebih besar dari biji Jeruk. Dan sekalinya ada, biji Saganya pecah saat dibor. Mau dibuat ronce buat apa? Saya membayangkan, kalau ada pohon Natal yang dihias menggunakan ronce biji Saga sepertinya akan jadi indah. Apalagi kalau pohon Natalnya benar pohon Cemara asli. Bukan plastik.

Setiap kali saya melihat dua mangkok biji Saga, jadilah semacam tantangan hidup. Tak hanya mengingatkan pada masa lalu, tapi juga harapan akan masa depan. Sepertinya saya akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia kalau saya bisa menemukan cara membuat lubang kecil di biji Saga, kemudian meroncenya. Kalau mau dibilang obsesi kecil, bisa juga.

Sampai ketika saya berkunjung ke sebuah pasar malam di Siem Reap kemarin. Bukan hanya terkejut, saya bahagia luar biasa ketika melihat sebuah booth yang menjual perhiasan yang terbuat dari RONCEAN BIJI SAGA! Karena tak ada yang tau cerita pribadi saya dibalik biji Saga ini, saya tak bisa membaginya kepada siapa pun. Sampai saya menuliskannya di sini.

2015-12-05 18.20.34 2015-12-05 18.20.42 2015-12-05 18.20.27

Penjualnya bercerita bahwa dia memang memiliki pohon Saga yang tumbuh di belakang rumahnya. Mengebornya satu per satu pun ternyata memang tantangan tersendiri. Satu persatu karyanya saya pegang. Dan mendadak saya seperti dibawa ke zaman sekolah di Lapangan Blok S.

Natal 2015.

Melihat dua mangkuk biji Saga di atas meja. Bendanya tetap sama. Biji Saga tetap tumbuh, walau jumlahnya sudah tidak sebanyak dulu. Merahnya masih seindah dahulu. Tapi sayanya yang berubah. Kini dua mangkuk biji Saga bukan lagi tantangan. Sudah ada yang berhasil memecahkannya. Tapi zaman yang membuat saya melihat biji Saga dengan berbeda.

Yang tadinya tantangan menjadi kenangan. Yang tadinya khayalan menjadi kenyataan. Yang tadinya harapan menjadi keberhasilan. Seperti makna Natal untuk saya. Karena selalu jatuh berdekatan dengan Tahun Baru, Natal semacam “pemanasan” untuk mulai berencana, berharap dan berkhayal .

Tepat di hari Natal kemarin, saya dan Ibu sengaja mampir ke Lapangan Blok S. Kami ingin melihat apakah pohon Saga masih ada. Kegembiraan luar biasa saat melihat biji Saga berserakan di tanah. Ingin rasanya memungut semua biji Saga yang ada. Biji Saga yang diam-diam selama ini telah menjadi bagian dari hidup saya. Mulai dari warna merahnya yang menginspirasi sampai bentuknya yang membangkitkan imajinasi.

2015-12-25 13.14.46

Karena Kita Melayu Maka Jagoan Kita Mendayu-dayu?

Cinta Melulu

Nada nada yang minor,

lagu perselingkuhan

atas nama pasar semuanya begitu klise

elegi patah hati

ode pengusir rindu

atas nama pasar semuanya begitu banal

ohooo

lagu cinta melulu

kita memang benar-benar melayu

suka mendayu-dayu

  • efek rumah kaca- “cinta melulu”

 

Peran Kasim bagi Dinasti Ming begitu penting. Di era 1600-an, perdana menteri-nya pun seorang kasim dan memiliki “pasukan kasim”. Mereka tidak hanya menjadi penasihat kaisar atau raja, namun juga ikut dalam pasukan bersenjata.

Pada tahun 1644, para pemberontak memasuki Beijing dan Dinasti Ming akhirnya jatuh. Mereka bukan kalah perang dengan melawan, melainkan bunuh diri beramai-ramai. 🙁

Kasim adalah penasihat yang dikebiri. Bermacam-macam alasannya. Supaya ndak menghamili selir raja, apalagi ratunya. Atau memang wataknya doyan aja dikebiri. Namun, dalam sejarahnya secara politis kasim muncul akibat balas budi. Para pemimpin yang membalas jasa para pengikutnya ketika pergantian takhta. Putra, putri, cucu yang makin lama makin banyak. Solusi di Tiongkok cukup elegan. Mereka memperkerjakan kasim yang tentunya tidak akan memiliki keturunan dan tak menikah. Maka tak ada balas jasa hingga harus beranak pinak tujuh turunan.

Namun ada satu kelemahan dari keberadaan kasim: mereka tak memiliki semangat juang layaknya lelaki lain. Ini soal testosteron.

Testosteron.svgSoal isu testosteron juga saya rasakan saat melihat nukilan filem AADC jilid 2. Filem besutan mbak Mira Lesmana ini kembali hadir menjumpai kita tahun depan. Wajah Rangga beringas? bisa jadi. Ganteng? So Pasti! Tapi kurang greget. Wajah lelaki yang selalu rutin ke salon dan menyukai lagu-lagu Barasuara. Wajahnya mulus. Bisa jadi dia selalu mengoleskan Egyptian Magic Cream setiap hari.
IMG_0260

Kesan pertama saya melihat tokoh Rangga adalah melihat vokalis Kahitna sedang ber-ye-ye-ye-ye-uwo-uwo-uwo. Diakhiri dengan (lagi-lagi)  “Yeyeyeye” hingga suaranya lenyap. Dan model rambutnya itu loh, kok Riri Riza banget?

Di filem AADC Rangga sempat berkelahi, entah dengan siapa namanya. Saya lupa. Oh iya. Borne. Pria yang rambut cepaknya lebih terkesan macho. Semacam Samuel Rizal. Namun ini Febian Ricardo.

 

lihat tanda tanya itu// jurang antara kebodohan dan keinginanku// memilikimu sekali lagi

Begitu pun puisi yang dipilih. Puisi Aan bagus. Tapi bukan untuk Rangga. Puisi ini cocok untuk disampaikan Rumi kepada Syamsuddin Tabrizi.  Atau biar agak moderen dan ngeh, dari Batman kepada Robin.

Ketika buku Aku,  karya Sjumandjaja selalu ditenteng Rangga jaman masih sekolah. Maka setidaknya ada jiwa Chairil Anwar yang mewarnai gaya tutur Rangga.

Luka dan bisa ku bawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih perih

Dan aku akan lebih tidak peduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Laki banget. Lelaki yang tak mau peduli. Yang tak akan pernah mengakui adanya kebodohan dalam jiwanya. Karena begitulah lelaki. Walaupun selalu ‘ditolol-tololin ceweknya‘, dia akan selalu merasa ‘lebih’. Puisi Chairil, begitu kental nuansa testosteronnya. Sedangkan Rangga? Semacam lagu Kahitna. Dimana setiap dengar lagu-lagunya yang dibayangkan adalah seorang lelaki dengan kedua sayapnya, membawa tongkat dengan diujungnya gambar hati. Lalu memeluk lelaki lain.  Ampun dah!

Jika mau kasih sontrek, Efek Rumah Kaca! Mengapa? Karena ‘Pasar Bisa Diciptakan‘. 🙂

ByXPp5lCYAAQTP1

Konon katanya syuting  AADC jilid 2 belum rampung. Masih ada syuting di NewYork. Bolehkah Rangga dibuat sangar, Tante Mira? Om Riri?

Percuma Rangga sering main bareng Kill The DJ, jika kemayunya ndak secadas rapper Bang Juki van Yodjo itu. Atau boleh saja ketika di pertengahan Rangga wajahnya menjadi Mas Juki. Buat saja ceritanya Rangga ketabrak sepeda, lalu operasi ke Korea.

juki

ini bukan skena hansiep Baramuni. Ini Juki

Jika yang dikesankan adalah pria cerdas, nyastra dan  suka kekerasan, saya usul Matt Damon saja yang perankan tokoh Rangga.

“Kok bule?”

Kenapa ndak?

Lalu tiba-tiba mbak Mira Lesmana sms saya:

“Gimana kalau Gubernur Ahok aja yang jadi Rangga? Kan Galak.”

Jangan mbak, ini filem AADC, bukan Wong Fei Hung.

 

 

Selamat siang.

Roy.

 

bonus.

 

Dua Sisi setiap Cerita

Beberapa hari belakangan ini saya baru mulai menonton serial TV The Affair musim kedua. Setelah sekian lama terputus dari season pertamanya, saya sempat lupa alasan saya menyukai show ini. Buat yang belum pernah mencoba menonton, The Affair menceritakan tentang dua pasangan suami istri. Ada cerita pertemuan, maupun perpisahan. Entah mengapa buat saya banyak bagian dari serial ini yang sangat membuat hati saya terasa ditarik-tarik. Mungkin juga karena aktor yang terlibat begitu piawai mempermainkan perasaan kita hanya dengan tatapan, gerakan dan air mata yang terkumpul di ujung mata walau berusahan disembunyikan. Mungkin juga karena apa yang dikisahkan di sini lebih kurang sudah pernah saya alami dalam perjalanan hidup (stop smirking).

SHOW_42_34_35_1.eps

Yang paling menarik dari serial ini menurut saya adalah cara berceritanya. Setiap scene yang melibatkan sepasang pria dan perempuan karakter utamanya, selalu diceritakan dua kali, dari masing-masing sepasang mata yang mengalaminya. Some people may find this annoying, but for me it’s very interesting. Karena tidak hanya apa yang terjadi terkadang berbeda, secara visual pun diceritakan berbeda. Bahkan, dilihat dari sisi sang pria, sangat “big picture” oriented, sementara detail detail yang tadinya tak disebutkan akan terlihat ketika kita melihat cerita dari sisi perempuan.

Kecantikan karakter perempuan, ketika diceritakan dari sisi pria begitu memesona. Kulit mereka bersinar dan cara berdandan dan berpakaian mereka pun lebih dipikirkan, terkadang terlihat menggoda dengan sengaja. Begitu juga sikap para perempuan ini di mata pria. Sangat akomodatif, kecuali yang jelas-jelas mereka katakan kalau mereka keberatan. Pria juga melihat mereka sendiri lebih agreeable, lebih romantis dan lembut terhadap perempuan.

23AFFAIR-tmagArticle

Ketika kita diceritakan dari sisi perempuan, mereka sendiri terlihat biasa saja, baik dandanan maupun cara berpakaiannya. Kulit dan rambut pun ditata seadanya. Hal umum yang ketika pria menceritakan terlihat biasa-biasa saja, akan terlihat detail yang tidak jarang membuat kita tercetus, “ooo, maka dari itu…” Mimik dan sikap sang perempuan juga lebih bernuansa, dan menggambarkan suasana hatinya cukup jelas, walaupun karakter pria terlihat tidak ngeh akan hal ini. Memang demikian, karakter pria dinggambarkan lebih tertutup, lebih cuek dan lebih dingin ketika diceritakan dari sisi karakter perempuan. Versi mana yang paling mendekati kenyataan? Kita tidak pernah tahu, ini yang membuat penasaran. Karena biasanya tidak ada saksi ketiga dari kejadian ini. Terkadang kita diberikan cerita selewat mengenai kejadian ketika digambarkan oleh orang lain di luar yang terlibat, tetapi ini pun hanya secara verbal saja, nyaris tidak pernah secara visual.

Menonton The Affair, membuat saya berpikir, kalau selama ini kita sering mendengar, selalu ada dua sisi dari satu cerita. Tetapi apakah benar, begitu berbeda kelihatannya? Tentunya kita juga tahu bahwa persepsi kita dibentuk dari pola pikir yang dibentuk dari masa lalu; baik itu pengalaman, pendidikan, ajaran, prinsip hidup, dan apa yang kita percayai. Nyaris tidak mungkin rasanya kita ‘memaksa’ orang lain untuk melihat hal-hal dengan cara yang persis sama dengan cara kita sendiri. Mereka mungkin tidak mengalami apa yang sudah kita alami. Mereka memiliki orang tua yang berbeda. Mereka mungkin tidak punya belief system yang tepat sama dengan kita. So why bother imposing our point of view to others in the first place?

Selamat berhari Natal untuk pembaca linimasa yang merayakannya! Buat yang tidak merayakan, selamat hari ketika jalur matahari dalam rotasi bumi mencapai titik terjauh ke arah selatan dari khatulistiwa! Mungkin ini juga tidak terlalu akurat karena saya percaya kalau perhitungan tahun Masehi perlu lebih banyak kalibrasi, tidak cukup hanya tahun kabisat saja. Tetapi Anda boleh memercayai yang lain, karena saya tidak akan memaksa!

10+ Film Paling Berkesan Ditonton di Bioskop Tahun 2015

Film tidak harus ditonton di bioskop. Saya setuju. Apalagi dengan kemajuan teknologi sekarang ini. Banyak film dengan kualitas baik hadir lewat media streaming video service. Bisa lewat Amazon, Netflix, dan beberapa situs lainnya. Dari dalam negeri pun sudah mulai muncul beberapa situs serupa.

Namun tidak ada, atau belum ada, yang bisa mengalahkan sensasi bioskop. Sebuah ruang besar yang gelap, dengan layar lebar yang membuat kita terpaku akan kedigdayaannya. Selama 2-3 jam pandangan kita terkonsentrasi apa yang kita lihat dan dengar di layar sebesar puluhan meter di depan. Ini belum termasuk proses keluar rumah, mengantri tiket dan makanan kecil, mengajak teman atau pacar, serta semua hal yang menjadi cinemagoing experience lengkap.

Setiap menjelang akhir tahun, saya selalu membuat daftar film-film yang saya tonton di bioskop dengan sensasi menonton yang mengesankan. Bukan, ini bukan daftar film “terbaik”. Ini daftar film-film yang saya tonton tahun ini dengan pengalaman menonton yang masih saya ingat sampai sekarang. Filmnya sendiri mungkin belum tentu dianggap banyak orang sebagai yang “terbaik”. Toh pengalaman menonton film itu pasti personal. Pengalaman satu orang dengan orang lain pasti berbeda. Ada beberapa film di bawah ini yang saya tonton berdua, bertiga, atau beramai-ramai, lalu di akhir film ada yang menyeletuk “Filmnya nggak bagus menurutku, ah!” Sementara saya cukup tersenyum karena mengambil kesimpulan sebaliknya. You may watch a film together, but how the film speaks to you, that’s always personal.

Biasanya saya menulis daftar ini di blog pribadi saya dalam bahasa Inggris. Untuk pertama kalinya, saya menuliskannya di Linimasa, karena saya cinta kalian semua. Aaawww.

Dan dalam urutan abjad, maka 10+ film yang paling berkesan waktu saya menontonnya di bioskop tahun ini adalah:

a. 99 HOMES
Tanggal menonton: 22 Oktober

99 Homes

99 Homes

Dari menit-menit pertama, saya sudah tercekat. Sutradara film ini, Ramin Bahrani, banyak menggunakan extreme close up untuk memperlihatkan ekspresi muka Andrew Garfield dan Michael Shannon dengan dentuman musik perkusi dari komposer Antony Partos dan Matteo Zingales yang tak kunjung berhenti. Ini film drama, tentang seorang pria yang berjuang mati-matian agar tidak kehilangan rumah tempat tinggalnya. Alhasil, menonton ini di malam hari, di layar lebar membuat saya ikut merasa tegang. Ikut merasakan penderitaan karakter fiktif yang terkesan nyata. Diam-diam saya bertepuk tangan seusai pemutaran fllm ini.

b. BAJRANGI BHAIJAAN / THE GOOD DINOSAUR
Tanggal menonton: 28 Juli / 12 Desember

Satu film drama Bollywood, satu film animasi dari Pixar. Keduanya terpaut beberapa bulan tanggal penayangannya. Namun keduanya memiliki kesamaan: menguras air mata.
Saya jarang menangis saat menonton di bioskop. Tetapi untuk kedua film ini, saya bisa mendengar isak tangis sendiri. Ya, saya sadar sekali ketika menonton keduanya, saya sedang dimanipulasi. Yang memanipulasi saya adalah cerita, musik, akting, dan semua yang membuat make-belief experience ini sangat berhasil. Resepnya sama, yaitu put an ordinary character in an extraordinary situation, especially journey, to unravel his or her true self. Di Bajrangi, karakter utama melibas nilai agama untuk menyelamatkan anak kecil. Di Good Dinosaur, karakter utama melibas ketakutan sendiri untuk menjadi dewasa. Jadilah the tearjerking moments of the year.

c. INSIDE OUT
Tanggal menonton: 22 Agustus

Banyak orang menangis nonton Inside Out ini. Tetapi saya tidak. Justru saya tercengang. Bagaimana mungkin menggambarkan perasaan dan emosi manusia dengan jelas? Sepanjang film saya bengong melongo. Film ini membuktikan sebuah pendapat yang sulit, yaitu suatu teori rumit akan berhasil apabila bisa diterangkan dengan bahasa mudah ke anak umur 6 tahun. Dan film ini sukses melakukannya, in an almost effortless manner.

d. LELAKI HARAPAN DUNIA
Tanggal menonton: 28 November

Lelaki Harapan Dunia

Lelaki Harapan Dunia

Tidak banyak film Malaysia yang saya tonton. Kalaupun sempat, biasanya film arthouse atau independen. Ketika tahu bahwa film ini diputar secara terbatas bulan lalu, saya bergegas menyempatkan. Dan sepanjang film saya tergelak terus. Cerita film mungkin akan sedikit mengingatkan kita pada bands of merry men with weird personalities seperti di film-film Wes Anderson atau Coen Brothers, namun dengan setting di sebuah desa terpencil di Malaysia, malah mengingatkan kita akan film-film Indonesia tahun 1970-an. Isu yang ditawarkan, seperti takhayul, konflik agama, dan lain-lain, terasa sangat dekat dengan kita. Salah satu film yang menyenangkan untuk ditonton ulang.

e. MAD MAX FURY ROAD
Tanggal menonton: 14 Mei

Tanggal di atas adalah tanggal pertama kali saya menonton film ini di bioskop. Setelah itu saya menyempatkan menonton lagi, dan lagi. Sensasi setiap menonton film ini setelah beberapa kali masih sama, “Whoa! What was that I just saw?” Tak cukup kata sifat yang bisa dengan pas menggambarkan keindahan film ini. It is the most exhilarating sensory visual experience in cinema this year.

f. PIKU
Tanggal menonton: 12 Mei

Piku

Piku

Tidak banyak film yang akan bertahan dalam ingatan kita. Dari yang sedikit itu, film Piku masih membekas di ingatan saya sampai sekarang. Saya masih tersenyum saat mengingat film ini. Cerita seorang anak perempuan yang sendirian merawat ayahnya yang unik, sementara sang anak juga pekerja kantoran, terasa nyata. Bahkan sampai ketika cerita harus bergulir menjadi cerita perjalanan dari Delhi ke Calcutta, drama yang tersaji masih terasa grounded on earth. Tidak dibuat-buat. Hampir setengah jam pertama film hanya memperlihatkan rumah dua karakter utama ini. Namun mata kita tidak dibuat bosan melihatnya. Saat saya menceritakan ini kepada seorang produser film, dia berkata, “Berarti sutradara film ini hebat. Dia tahu bagaimana menempatkan kamera dengan baik. Dia tidak sibuk dengan tata kamera yang berlebihan. Dia tahu kekuatan cerita ada di mana, dan bisa melihat tanpa harus mengintrusi.”
Banyak cerita yang bisa diambil dari film ini. Momen-momen kecil yang tersebar dari ujung sampai akhir film akan membuat kita tersenyum. Kalau boleh saya memilih satu saja film favorit sepanjang tahun 2015, mungkin film inilah yang menjadi pilihan saya.

g. SPY
Tanggal menonton: 16 Mei

Film tentang mata-mata yang paling menyenangkan untuk ditonton tahun ini justru film parodi dari genre tersebut. Melissa McCarthy is all game di film yang mengeksploitasi tidak hanya fisik, namun comic timing yang sempurna. Meskipun begitu, kejutan justru datang dari Jason Statham. Siapa sangka action star ini bisa melucu dengan tanpa beban? Saya tertawa terbahak-bahak menonton film ini, sampai harus meluangkan waktu untuk nonton lagi. The funniest film of the year by far.

h. STAR WARS: THE FORCE AWAKENS
Tanggal menonton: 19 Desember

Tentu saja tidak lengkap daftar ini tanpa mengikutsertakan film yang paling ditunggu-tunggu di paruh kedua dekade ini. Saya tidak perlu menerangkan lebih lanjut lagi. The hype is justified. The wait is over. The film is worth all praises. Mata saya terbelalak dan bibir langsung tersenyum begitu mendengar alunan musik John Williams menggelegar saat tulisan khas Star Wars terlihat naik dari bawah ke atas di layar lebar. Momen-momen seperti kembalinya Han Solo dan Chewbacca, helm yang dikenakan Rey pertama kali di padang pasir, sampai munculnya R2D2 kembali, membangkitkan sensasi nostalgia buat para penonton film-film Star Wars. Maybe the nostalgic feeling clouded our perception towards the film, but then, that’s part of the experience.

i. THE WALK
Tanggal menonton: 8 Oktober

The Walk

The Walk

Saya takut ketinggian. Saat menonton trailer film ini, langsung terbayang rasa mual. Waktu itu sempat berjanji, “Nggak akan nonton film ini di IMAX. Pasti muntah!” Tentu saja saya melanggar janji sendiri. Menyaksikan film ini di IMAX, tepat di tengah-tengah, membuat lutut saya bergetar keras selama 40 menit terakhir. Saat Joseph Gordon-Levitt mulai meniti tali yang menghubungkan kedua menara World Trade Centre, jantung ini terasa lemas sekali. Saya cuma bisa menghempaskan badan ke kursi. Kepala menunduk, sambil mata masih pelan-pelan mencuri pandang apa yang ada di layar. Bukan film horror, tapi ini film yang membuat seluruh badan lemah tak berdaya. Ditambah dengan ending film yang mengharukan, saat kita menyadari makna kata “forever”, lengkaplah The Walk menjadi salah satu film yang paling mendebarkan sepanjang tahun 2015.

j. WHIPLASH
Tanggal menonton: 14 Februari

Beruntunglah mereka yang menunggu film ini sampai hadir di bioskop. Dentuman drum dan band ensemble yang mengusung musik jazz sayang kalau hanya didengar di laptop atau layar televisi. Tentu saja akting JK Simmons juga terlihat lebih menacing di layar lebar, tetapi tata suara, editing dan musik film inilah yang membuat Whiplash menjadi the most musical experience in film of the year.

Inilah 10+ film dengan pengalaman yang berkesan waktu ditonton di bioskop sepanjang tahun 2015. Daftar ini, tentu saja, tidak mewakili daftar serupa yang mungkin saja dibuat oleh teman-teman penulis Linimasa lain. Jadi, kalau mau tahu apa film-film pilihan dari teman-teman penulis Linimasa lainnya, silakan tanya sendiri ya.

😉

Arogansi Tak Membuatmu Jadi Lebih Keren

SELAMAT liburan panjang, khususnya bagi Anda yang cukup beruntung tidak harus bekerja menjelang Natal dan pengujung tahun. Namun bagi Anda yang tetap harus masuk kantor (seperti saya), atau mesti menjalani rutinitas profesi seperti biasa di mana saja, kira-kira sudah berapa kali harus berurusan dengan orang-orang arogan sepanjang setengah pekan ini? 🙂

Arogansi atau sikap angkuh dalam konteks hubungan kerja, sudah dianggap biasa, lazim, dan wajar terjadi. Apalagi di kota-kota besar sekarang, ketika kehidupan profesional kian kompleks, proyek-proyek yang ditangani makin ambisius juga fenomenal. Ditambah semakin banyak orang mementingan komunikasi ringkas yang mekanis dan efisien. Seringkas: “saat ini kita sedang terlibat kerja sama, dan saya perlu Anda untuk melakukan ini, ini, dan itu. Ada masalah?”; “saya tidak berurusan langsung dengan Anda, jadi sebaiknya Anda berkoordinasi dengan pihak lain yang berkepentingan,”; serta “apa kualitas yang Anda miliki sampai-sampai pantas untuk saya perhatikan?

Belakangan ini, sepertinya ranah profesional semakin lekat dengan arogansi atau sikap angkuh. Pasti selalu ada yang arogan saat berurusan atau berhubungan dengan orang lain dalam konteks pekerjaan. Baik antara atasan dan bawahan, pemberi jasa dan klien, rekan kerja sama, atau konsumen dan staf. Sejumlah batasan pun jadi tidak lagi relevan untuk dipertimbangkan. Yaitu usia, hubungan kekerabatan, hingga etiket. Sebab tidak berkontribusi langsung terhadap pencapaian kerja, bahkan cenderung dapat menghambat progres.

Kini, tatkala hampir semua orang berburu pencapaian dan pengakuan sosial, serta dituntut bergerak supercepat demi mengatasi keterbatasan waktu, bisa jadi arogansi muncul sebagai sesuatu yang alamiah dan sesuai perkembangan zaman. Ihwalnya, berbicara soal keangkuhan, ada tiga jenis manusia di muka bumi ini: yang merasa pantas arogan, yang merasa tidak nyaman bersikap arogan, yang ingin arogan tapi bingung mau menyombongkan apa.

Tak sedikit yang merasa pantas bersikap angkuh setelah memiliki jabatan atau kedudukan, memiliki wewenang tertentu. Padahal sudah menjadi kesepakatan umum, seorang atasan atau majikan pemberi gaji tidak sepatutnya bersikap arogan kepada bawahan.

Agak serupa, ada yang merasa berhak angkuh karena mempunyai kepandaian/keahlian khusus yang sangat dibutuhkan (“sudahlah, kamu ngerti apa sih?”), maupun merasa cukup keren untuk jadi orang arogan (kaya, cakep, dan sebagainya). Dalam kasus ini, bibit-bibit arogansi tumbuh tinggi, mendapat dorongan yang cukup untuk mekar indah, akan tetapi durinya melukai perasaan orang lain. Kepandaian adalah katalisator semu untuk bersikap arogan, dan arogansi adalah ilusi superioritas.

Di samping itu, ada yang tanpa sengaja bersikap angkuh karena lepas kendali waktu berhadapan dengan orang-orang menyebalkan, berkapabilitas rendah, nyolot, berkelakuan buruk, dan sebagainya. Sudah keliru, malah ngeyel. Agak dilematis memang. Sebaik-baiknya perilaku seseorang, tetap punya batas kesabaran. Itu sebabnya, terpujilah mereka yang meski sedang kesal namun tetap mampu melampiaskannya secara santun dan beradab.

Terakhir, tak sedikit pula yang bersikap angkuh lantaran memang tidak pernah diajari atau dididik menjadi pribadi yang santun. Anak-anak muda kekinian misalnya, walaupun tidak semua, yang barangkali hanya mengenal istilah Budi Pekerti (BP) sebagai salah satu mata pelajaran berisi penyuluhan tentang narkoba, menjauhi seks bebas, atau pemeriksaan kebersihan kuku, potongan rambut, panjangnya rok, dan hal-hal normatif lainnya. Kala berbicara dengan orang lain, bahkan yang lebih tua sekalipun, angkuh sekali. Pastinya, ada perbedaan yang sangat jelas antara gila hormat (yang sepaket dengan arogansi serupa), dan tata cara bertindak.

Apa yang sebaiknya kita lakukan?

Boleh dibilang, setiap orang dilahirkan dengan hak dan kemampuan yang sama untuk jadi arogan. Bedanya, beberapa waktu kemudian, ada yang berkesempatan dan berkeinginan untuk arogan, ada yang sebaliknya. Semua tergantung pembawaan (Innatism-nya John Locke), ataupun asuhan lingkungan (Tabula Rasa).

Untuk bisa bersikap arogan, diperlukan kebanggaan. Untuk memiliki kebanggaan, diperlukan kualitas (atau yang dianggap kualitas). Sehingga bagaimanapun juga, Anda patut bersyukur atas kualitas tersebut. Tetapi, kualitas-kualitas tersebut akan jauh lebih memukau bila dilengkapi dengan sikap rendah hati. Minimal tidak angkuh lah, biar jadi lebih baik. Mengacu pada kaidah sosial; jangan perlakukan orang lain dengan tindakan yang kita tidak ingin dapatkan dari orang lain. Lagipula, ada perbedaan mendasar antara bersikap angkuh dan bersikap tegas dalam memimpin.

Lalu, apa yang harus kita lakukan apabila berhadapan dengan orang angkuh? Pada dasarnya, ya terserah masing-masing. Hanya saja, jangan memubazirkan waktu dan tenaga untuk memberikan tanggapan yang sia-sia, dan jangan merendahkan diri dengan membalas keangkuhan tersebut lewat keburukan yang sama. Rugi baper terhadap orang angkuh. Minim faedah. Jika serangan balasan berhasil, paling-paling hanya feeding the ego dan sensasinya bertahan sesaat. Belum lagi ada kemungkinan berlanjut ke masalah berikutnya, yang dalam konteks pekerjaan bisa berujung pada pemecatan. Iya kalau masih muda, masih punya banyak kesempatan untuk intern sana magang sini. Lah kalau sudah terbelit macam-macam tanggungan. Panik?

Tidak mudah memang, tapi salah satu cara terbaik untuk meng-counter arogansi adalah bertindak sebaik mungkin sampai membuat pelakunya merasa konyol, menelan kesalahannya sendiri. Dengan catatan, Anda di posisi yang benar dan mampu mempertanggungjawabkan tindakan tersebut. Jika tidak, ya doyong. Pasalnya, banyak yang justru bersikap angkuh supaya tidak ditimpakan kesalahan. Yang penting nyaring dan keras bersuara, supaya pihak lawan keder.

Terus, kira-kira sudah berapa kali Anda bersikap arogan sepanjang setengah pekan ini? 🙂

Lagi-lagi, selamat berlibur. Besok dan lusa sama-sama tanggal merah, sama-sama untuk memperingati hepi besdey.

[]

Harrison Ford: The Lucky Bastard

Ada berapa banyak aktor Hollywood dari era 70an yang masih bertahan sampai sekarang? Kita punya Al Pacino, Robert De Niro, Martin Sheen, Harvey Keitel, Robert Duvall, Jack Nicholson, Dustin Hoffman, Gene Hackman. Hmm.. Siapa lagi ya? Tapi siapa di antara mereka yang bintangnya masih bersinar? Siapa di antara mereka filmnya yang menjadi jaminan box office? Tidak ada. Semuanya sudah mulai meredup. Kecuali satu nama: Harrison Ford. Padahal dibanding dengan semua aktor yang semua disebut–Harrison Ford adalah mungkin salah satu yang memiliki kemampuan akting terbatas. Dia bukan aktor watak. Semenjana.

ford

Tapi dibalik aktingnya yang biasa saja, Harrison Ford selalu mendapatkan peran yang ikonik dan film yang dibintanginya selalu menjadi film yang laris manis. Karirnya dimulai di tahun 70an. Dia juga punya peran sedikit di The Conversation (1974) dan Apocalypse Now (1978). Tapi titik baliknya dimulai ketika dia mulai bekerja sama dengan George Lucas di American Grafitti (1973). Film pertama Lucas yang sukses secara komersial ini membuat ia mempunyai modal yang cukup untuk membuat franchise yang menjadi fenomena pop culture di seluruh dunia yang masih bertahan hingga saat ini: Star Wars. Perannya sebagai Han Solo di trilogi pertama Star Wars membuat namanya melambung. Han Solo buat sebagian penggemar Star Wars mendapatkan tempat tersendiri dibanding dengan Luke Skywalker yang diperankan oleh Mark Hamill. Ikonik.

ford2

Keberuntungan itu berlanjut ketika Steven Spielberg menawarkan peran utama di film Indiana Jones–yang juga menjadi franchise yang sukses dan menjadi film box office. Perannya sebagai Indiana Jones masih bisa dilihat di franchise terakhirnya, Indiana Jones and The Kingdom of The Crystal Skulls.

ford3

Ridley Scott pun rupanya tertarik untuk memakai jasanya di film Blade Runner. Dan jadilah ia menjadi Rick Deckart. Film ini menjadi salah satu film sains fiksi yang paling berpengaruh di dunia. Film ini tengah diproduksi sekuelnya dengan tambahan Ryan Gosling untuk menemani Harrison Ford. Keberuntungan masih berpihak di pundaknya. Tren ini terus  berlanjut sampai era 90an. Tiga film yang diambil dari buku Tom Clancy menambah deretan perannya sebagai jagoan Hollywood. Kali ini sebagai Jack Ryan di film The Hunt For Red October (1990) dilanjutkan oleh  Patriot Games (1992) dan diakhiri oleh Clear and Present Danger (1994). Perannya sebagai Presiden Amerika Serikat di Air Force One (1997) dan juga sebagai dokter yang teraniaya di The Fugitive (1993) semakin mengukuhkannya sebagai tokoh protagonis yang paling disukai di dunia sinema Hollywood.

ford4.jpg

Di film terakhirnya, Star Wars: The Force Awakens, perannya masih penting. Bersama dengan Mark Hammil sebagai Luke Skywalker dan Carrie Fisher sebagai Leia. Ini adalah kelanjutan dari trilogi pertama. Film keempat Star Wars bagi mereka bertiga. Dengan setting sekitar 30 tahun setelah Return of The Jedi–maka ini adalah film yang paling ditunggu oleh para penggemar Star Wars. Karena banyak yang menganggap prekuel trilogi adalah produk gagal. Walaupun masih dibilang sukses dari segi keuntungan. Kalo di dunia musik ada Adele dengan album “25”-nya yang sukses dan banyak memecahkan rekor. Maka untuk di dunia film, The Force Awakens akan memecahkan beberapa rekor. Prediksi saya film ini akan melewati raihan Avengers, The Dark Knight, Jurassic Pratt, atau mungkin Titanic dari segi penonton terbanyak.

ford9

Selamat ya, Disney. Selamat sibuk ngitung cuan di awal taun. Selamat Natal dan selamat liburan juga buat kalian yang merayakan.

Pola Asuh

Aku percaya pola asuh masing-masing orangtua adalah unik. Ia berbeda antara satu keluarga dan keluarga lainnya. Bahkan berbeda antara generasi satu dan selanjutnya; meskipun masih dalam satu garis keturunan.

Satu pertemuan dengan sekolahan Sekar, melibatkan ahli psikologi anak. Mereka menggolong golongkan pola asuh berdasarkan interaksi orangtua pada anak. Ide yang paling populer tentang hal ini datang dari Diana Baumrind, tahun 1960. Baumrind tertarik terhadap cara-cara orangtua mengontrol atau bersosialisasi dengan anak-anak mereka. Dibedakan lewat dua interaksi. Pertama: responsif. Atau berapa banyak kemerdekaan yang orangtua berikan pada anak. Kedua: tuntutan. Atau berapa banyak ketaatan yang ketat yang diberlakukan orangtua pada anak. Kedua interaksi ini kemudian digolongkan lagi dalam empat kategori. Meskipun peneliti yang berbeda memberikan nama yang berbeda, secara umum disebut: Otoriter, Tegas, Permisif, dan Lepas (Tidak terlibat).

image

Otoriter, yang menekankan ketaatan buta, disiplin keras, dan mengendalikan anak-anak melalui hukuman. Bisa juga melibatkan tidak adanya kasih sayang orangtua.

Permisif, yang ditandai dengan kehangatan emosional dan keengganan untuk menegakkan aturan. Kadang-kadang begitu longgar hingga cenderung tidak terkendali dan sukar menempatkan standar.

Tegas, pendekatan yang lebih seimbang di mana orang tua berharap anak-anaknya memenuhi standar perilaku tertentu, tetapi juga mendorong anak-anak mereka untuk berpikir sendiri dan mengembangkan rasa otonomi.

Kemudian, peneliti menambahkan gaya keempat, orangtua Lepas (Maccoby dan Martin 1983). Orangtua Lepas, seperti halnya tipe permisif yang gagal dalam menegakkan standar. Ditambah keridakmampuan menciptakan dan memelihara kehangatan. Mereka menyediakan anak-anak makanan dan tempat tinggal, tapi udah. Sampai di situ aja.

Lalu, gimana sih penggolongan diatas pada kenyataannya? Misalnya, Sekar ingin pergi dengan kawan-kawannya ke DWP. Dalam pikiranku, agenda utamanya melibatkan pesta, alkohol, dan bisa jadi narkoba. Maka:

Orangtua otoriter mungkin mengatakan: “NO WAY! Kalo Kakak nekat pergi tanpa ijin, Om Gendut bakar arena DWP itu!”
Orangtua tegas menanggapi: “Jangan. Om Gendut ndak ijinin Kakak ke sana sama temen-temen Kakak. Tapi Om Gendut punya tiketnya lho. Gimana kalo pergi sama-sama? Kalo keliatannya aman, Kakak boleh deh pergi sendiri.”
Orang tua permisif akan mengatakan: “Tentu, have fun ya Kak! Tapi ati-ati!”
Orangtua Lepas bisa menjawab: “Terserah…”

Lebih jauh, penggolongan pola asuh ini bisa memprediksi kesejahteraan anak. Termasuk keterampilan sosial, prestasi akademik, dan perilaku sosialnya. Gaya otoriter, Permisif, dan Lepas berakibat jangka panjang.

Anak-anak dari orang tua otoriter, misalnya, dapat berbaur dengan baik di sekolah dan ndak memperlihatkan prilaku yang menggangu. Tapi, mereka cenderung ndak punya kepekaan sosial, rendah diri, dan depresi. Mereka mungkin tumbuh jadi orang yang sangat cemas yang kurang menyadari potensinya. Karena, mereka berkembang untuk memuaskan hasrat dan tuntutan orangtua mereka. Beberapa anak bahkan meniti karir di bidang yang sama dengan orangtuanya, bukan karena pilihan. Tapi anggapan orangtua bahwa wartawan lebih rendah dari dokter. Kuliah harus ITB, selebihnya universitas abal-abal. Atau, mungkin pernah denger: “kalo ndak masuk jurusan IPA, berarti anak-anak bodoh.

Anak-anak dari orang tua Permisif mungkin merasa terpenuhi hak-hak istimewanya. Dimanjakan dengan materi yang hadir begitu saja saat diminta. Ketika masalah tiba, anak akan kesulitan memecahkannya lewat usaha dan logika diri sendiri. Ia mungkin berekasi dengan cara yang berbahaya, termasuk prilaku seksual, salah berkawan, bahkan penyalahgunaan obat-obatan. Dengan demikian, mereka lebih mungkin terlibat dalam perilaku bermasalah meski mereka punya harga diri lebih tinggi, kepekaan sosial yang lebih baik, dan tingkat depresi yang lebih rendah dibandingkan anak dari asuhan Otoriter.

Dan orang tua lepas, tentu saja, akan menabur malapetaka seumur hidup. Ketidakpedulian dan ketidakmampuan mereka untuk menangani anak-anak mereka ndak bisa menghasilkan hal positif apapun. Peneliti juga yakin, hanya sebagian kecil anak-anak yang selamat hingga dewasa lewat asuhan lepas. Orangtua bertanggung jawab hanya secara materi atau biologis. Di beberapa kasus, cuma mampu melahirkan. Ndak bisa mengasuh. Apalagi membesarkan anak-anaknya. Yang paling mengerikan, pola asuh sedikit-banyak menurun. Anak-anak yang selamat dari pola asuh macam ini, meski ndak secara keseluruhan, juga menerapkan hal yang sama dalam keluarganya.

Pengasuhan tegas, yang menyeimbangkan tuntutan dan respon emosional. Memberi pengakuan dan kebebasan berfikir anak, adalah salah satu indikasi yang paling konsisten dari kompetensi sosial. Dengan demikian, anak dari orang tua tegas biasanya berkembang lebih baik di sekolah, punya kepekaan sosial yang prima, dan ndak menunjukkan perilaku bermasalah.

Studi menunjukkan, manfaat dari orangtua tegas dan kerugian dari orangtua lepas mulai tampak sejak awal tahun prasekolah dan terus berlanjut sepanjang masa remaja, dan menjadi dewasa lebih awal. Sebuah studi pada 1,000 remaja, oleh Pusat Nasional Ketergantungan dan Penyalahgunaan Zat di Amerika Serimat melakukan pendekatan “hands-on” (kira-kira setara dengan gaya otoriter atau tegas) versus “hands-off” (mirip dengan Permisif atau gaya Lepas). Penelitian ini menemukan bahwa remaja yang hidup melalui asuhan “hands-on” punya 25% risiko penyalahgunaan narkoba yang lebih rendah daripada mereka yang tinggal bersama orangtua “hands-off.” Lalu, 57% dari remaja dengan pengasuhan “hands-on” memiliki hubungan yang sangat baik dengan ayah dan ibu mereka. Sebaliknya, hanya 13% dari remaja dengan asuhan “hands-off” yang punya hubungan baik dengan ayah dan ibu mereka.

Kesederhanaan Kelas Dunia – Catatan Kecil dari Angkor Wat International Half Marathon 2015

Kegemaran saya berlari, ternyata bisa membawa sampai keluar negeri. Sebagai hadiah ulang tahun dari teman-teman dekat yang juga suka berlari, tahun ini saya ditraktir berlari di Angkor Wat, Siem Reap. Selama ini, race yang saya ikutai paling seputaran CFD, Alam Sutra, Bekasi, BSD, paling mentok sampai ke Bali. Bali Marathon itu pun sudah kemewahan buat saya. Bayangkan beli tiket, akomodasi, dan lain-lain “hanya” untuk berlari di sebuah race. Saya bukan pelari serius apalagi ambisius, Berlari adalah bagian keseharian saya saja. Sebagai upaya untuk menjaga kebugaran.

Berangkat ke Siem Reap tanpa harapan, tanpa bayangan. Bersama kedua teman pelari, Laura Bee dan Rani Riskadewi. Walau sebelumnya sudah sempat google-google tetap saja sedikit terkejut melihat kota kecil yang lebih mengingatkan saya pada kota Pangkal Pinang sepuluh tahun lalu. Tak bisa berbahasa setempat. Cuaca panas. Semua transaksi menggunakan mata uang Dolar Amerika. Bahkan untuk membayar Tuk-tuk yang merupakan transportasi utama di sana.

2015-12-02 16.59.46 2015-12-03 10.53.28 2015-12-06 15.35.44

Race Pack Collection (RPC), rangkaian pertama dalam sebuah race event. Diadakan di sebuah Hotel yang sudah agak tua. Mengingatkan saya pada hotel-hotel di Jakarta seputar 80-an. Tak seperti RPC di Ibukota, kali ini lebih mirip acara Pemilu di Kelurahan. Pelari diharapkan mencari nama sendiri di papan raksasa. Setelah menemukan nama, di situ tertera nomor kode. Nomor kode akan dicatatkan di secarik kertas kecil. Dengan kertas kecil itulah baru kita mengantri mengambil Race Pack. Daftar Pelari pun masih dilakukan secara manual. Tak diminta identitas atau apa pun dari pelari. Hanya diminta tanda tangan saja setelah Race Pack diberikan.

Tak ada booth yang menawarkan barang-barang keperluan berlari terkini. Yang ada hanya sebuah meja kecil yang menjual hasil kerajinan warga Jepang yang tinggal di Siem Reap. Tidak ada musik menghentak yang menyemangatkan. Semuanya sunyi saja. MC? Lupakan. Seiring mengambil Race Pack kita bisa menyaksikan pelari dari berbagai negara turun dari Tuk-tuk. Semua berjalan kalem. Tak ada kehebohan. Isinya Race Pack? Kaos berlari, Chip Timing yang harus dikembalikan sesudah race, sebuah brosur panduan race, kata sambutan dan sponsor.

2015-12-04 11.29.35 2015-12-04 11.42.09 2015-12-04 11.50.24

Awalnya sempat mulai meragukan event ini. Tapi saat melihat daftar peserta yang juga mencantumkan negara asal peserta, di situ lah saya baru menyadari, Angkor Wat International Half Marathon benar-benar menghidupkan makna International. sepertinya 95% peserta berkewarga negaraan Perancis, Inggris, Belanda, Swedia, Jepang, Australia, Singapore, Malaysia, dan 75 negara lainnya. Peserta Indonesia kurang lebih sekitar 30-an. Peserta dalam negerinya saya perkirakan sekitar 5%-nya saja.

Dari buku panduan di dalam Race Pack itu, saya baru tersadar tahun 2015 adalah tahun ke-20 penyelenggaraan Angkor Wat Half Marathon. Dari jumlah peserta sekitar 190 pelari, tahun ini sekitar 7000-an pelari. Tahun ke-20. Bukan pekerjaan mudah untuk mengadakan dan menjaga sebuah acara bertahan selama itu kan? Selain komitmen juga pasti didukung oleh Pemerintah setempat. Yang meyakininya sebagai bagian dari pariwisata negeri.

Hari race pun tiba. Subuh itu masih gelap. Saya mulai melakukan pemanasan sambil tentunya lirak lirik melihat peserta lain. Saat pemanasan itulah matahari pagi mulai muncul. Muncul di saat bulan masih bertengger. Muncul dibalik Angkor Wat. Kuil yang dibangun pertengahan abad 12 di zaman kejayaan Suryavarman II. Angin pagi semilir bikin merinding. Menyaksikan pemandangan yang selama ini cuma bisa saya lihat di Google Image.

2015-12-06 05.35.52 2015-12-06 05.43.23-1

MC acara menggunakan bahasa Inggris mulai bersuara. Berselingan dengan MC berbahasa Khmer. Kalau di race biasanya diputar lagu-lagu menghentak pemberi semangat, kali ini berbeda. Mereka sangat percaya diri untuk memutarkan lagu-lagu tradisional mereka dengan irama mendayu-dayu. Sempat mengira ini adalah lagu kebangsaan. Tapi sulit untuk percaya karena iramanya yang terlalu mellow. Peserta dari berbagai negara itu pun seperti ikut menikmati. Beberapa ikut berjoged sambil bertepuk tangan.

2015-12-06 06.02.20

Sebelum race dimulai, saya sempat memperhatikan peserta yang rata-rata berusia sekitar 30 tahun ke atas. Sepertinya sedikit sekali yang mengenakan pakaian dan sepatu berlari terbaru. Rata-rata sepatu lari yang kelihatan sudah dibawa berlari jauh. Pakaiannya pun seadanya. Hampir tak ada yang menggunakan Compression. Bahkan peserta dari Australia mengenakan kaos yang lebih cocok buat kaos tidur bertuliskan besar: BILLABONG.

Racepun dimulai. Telat 30 menit dari jadwal. Tak ada yang protes. Semua mulai berlari dengan santai riang. Di depan tentu tampak pelari ambisius sudah mulai memimpin race. Di sepanjang jalan kita dipertontonkan hutan, danau yang luas, berbagi kuil sekitaran Angkor Wat, anak-anak kecil di kampung sekitar ikut menyemangati. Sayang saya tidak mengambil foto selama berlari. Saya lebih memilih untuk menikmati saja race ini. Lintasan yang flat membuat lari tanpa harus berpikir strategi. Ini race di luar negeri pertama saya. Saya ingin melihat dan menyerap sebanyak mungkin.

Sampai melewati sebuah gerbang candi yang besar bernama Victory Gate. Saat melewati itu entah bagaimana perasaan melankolis muncul. Kurang ajar! Saya merasa bersyukur untuk umur yang dianugerahkanNya. Saya merasa terselamatkan oleh teman-teman yang sayang sama saya. Dan di atas segalanya kesehatan dan kekuatan untuk berlari di separuh usia rata-rata usia manusia di bumi masa kini. Saya pun melambatkan lari dan bahkan berjalan. Seolah refleks tangan saya ingin mengusap dinding batu dari Victory Gate. Dalam hati saya berdoa untuk bersyukur seraya mengamini kehidupan ini adalah kemenangan. Ini foto Victory Gate yang saya colong dari Google.

SouthGate_0501_0412

Menjelang gars finish, pelari dari berbagai negara yang sudah lebih dahulu finish berteriak memberikan semangat. Ada yang saya pahami ada yang tidak karena menggunakan bahasa Jepang. “YOU CAN DO IT!!!” atau “SMILE SMILE SMILE!” dan beragam ucapan pembangkit semangat lainnya. Setelah melewati garis finish yang terbuat dari bambu mirip gerbang 17-an di Kelurahan, tak ada deretan meja panjang minuman dan pisang yang menanti. Kita harus melepas chip dari sepatu kita sendiri untuk ditukarkan dengan medali. Jangan dikira medalinya besar sebesar medali yang sudah saya terima. Warnanya emas berkilau dengan diameter kurang lebih 3 cm seolah tak peduli dengan medali-medali dari race di belahan dunia lain yang besar dan semakin membesar.

2015-12-06 09.44.09  2015-12-06 09.48.13

Teman kami Ncess yang batal ikut di saat terakhir. Dan Nat yang gagal dibujuk untuk ikutan lagi.

Teman kami Ncess yang batal ikut di saat terakhir. Dan Nat yang gagal dibujuk untuk ikutan lagi.

Di garbing finish, tak ada panggung, apalagi band. Pelari berkerumun di berbagai payung yang sudah disiapkan. Dari kejauhan terdengar MC menyebutkan pemenang podium HM Pria: Fraser Thompson (Australia) dengan catatan waktu 01:12:19,8, Necko Hiroshi (komedian ternama dari Jepang yang sudah berkewarga negaraan Kamboja 3 tahun lalu) 01:13:46,6 dan Hiratuka Jun (Jepang) 01:13:46,9. Di podium perempuan: Phap Sopheak di tempat pertama dengan catatan waktu 01:23:43.5, disusul Vivian Tang (Singapura) , disusul Maire Nic Amhlaoibh di tempat ketiga 01:31:43.

“I love it! All my friends in Singapore are now doing Singapore Marathon today. I think I’ve made the right choice. It’s better to be here. You see the sunrise, the forrest, the temple, the lake… There they see buildings. Weather is good, race track is flat… So gonna come back here next year with my kids” kata salah seorang pelari asal Singapura. Di pesawat kembali ke Jakarta pun saya menguping sekumpulan orang Australia yang ngobrol menceritakan kebahagiaan dan kepuasannya mengikuti race ini. Sebuah race International yang diselenggarakan dengan penuh kebersahajaan dan penuh percaya diri.

2015-12-03 12.01.43

 

Makanan dan Akal Sehat

Beberapa hari yang lalu saya makan di tengah-tengah restoran. Benar-benar di tengah. Karena posisi ini saya bisa melihat dengan jelas seluruh aktivitas restoran. Keluarga yang sibuk mencari tempat duduk yang dianggap paling nyaman, anak kecil yang berlarian kesana-kemari. Seorang nenek yang ternganga dengan daftar harga,  sekumpulan anak muda yang selfie, dan wajah-wajah cemas pelayan restoran.

Persis di meja saya masih tergeletak sepiring nasi dengan beberapa gumpalan tisu diatasnya. Juga tulang-belulang ayam. Sobekan saos kemasan. Di sebelahnya sepotong kue yang hampir masih utuh dan secangkir air.


Beberapa saat sebelumnya saya menyaksikan pelayan restoran yang terpaksa mengambil beberapa nampan piring kotor dengan banyak sisa makanan. Saya perhatikan, sisa makanan tersebut dibuang dalam tong khusus, dan kemudian piringnya diletakkan dalam rak  yang nantinya akan dibawa oleh petugas lain untuk dibersihkan.

Dalam laporan National Geographic pada edisi bulan apa (saya lupa), yang jelas tahun lalu, rumah tangga di Amerika rata-rata hanya memakan 60% makanan yang disajikan. Sisanya terbuang tak sempat termakan. Sajian steak rata-rata bersisa 20%. Penganan dari buah labu bahkan hanya dikonsumsi 30%. Acar, selada, dan makanan bermuatan sayur bersisa 40%. Dan berdasarkan perhitungan NG, sisa makanan rumah tangga Amerika sanggup memberi makan  beberapa juta keluarga negara dunia ketiga.

Di sisi lain, Jonathan Safran Foer dalam salah satu bukunya, Eating Animals, menulis bahwa pemanasan global jauh lebih disebabkan oleh industri makanan. Terutama peternakan. Dalam salah satu sub bab buku tersebut, Safran menceritakan satu-satunya peternak kalkun yang secara alami masih ada di Amerika. Kalkun yang masih bisa terbang dan hinggap di atas genting. Yang saat salju menumpuk di ladang masih dapat berlarian. Berlari kesana-kemari. Kalkun satu-satunya yang benar-benar diterbakkan di alam bebas. Tanpa kandang dan suntik hormon.

Menurut peternak itu, kalkun yang disantap di rumah tangga keluarga Amerika adalah kalkun yang bahkan berjalan pun tak kuasa. Setiap hari diberi makan dalam kandang dan disuntik dengan berbagai macam ramuan. Daging yang gemuk namun bukan daging yang berasal dari otot-otot kalkun yang kuat.

Begitupun dengan industri ayam pedaging. Bagaimana diceritakan, demi kebutuhan daging, ayam-ayam dipelihara tidak lebih dari 3 bulan. Ayam yang tidak pernah keluar kandang. Makan, makan dan makan. Lalu dipotong. Tentu saja gemuk dengan rangsangan hormon tertentu. Ayam pedaging tentu saja berbeda dengan ayam petelur. Dimana ayam petelur tak lagi membutuhkan ayam pejantan. Ayam betina yang dipaksa bertelur setiap hari. Dengan porsi makan yang dipaksakan. Sama-sama ayam, namun berbeda dosis suntikan. Ayam pedaging dan petelur.

Ada sesuatu yang jomplang disini. Di satu sisi, demi kebutuhan konsumen, industri peternakan menghalalkan segala cara demi quota kebutuhan daging.  Namun di sisi lain para anggota keluarga dengan seenaknya banyak menyisakan makan malam mereka.

Lihat saja di KFC, berapa banyak daging yang masih menempel dan berapa banyak sisa saos yang dihamburkan. Lihat saja di IKEA, berapa banyak butir bakso terbuang. Lihat saja kedai penjual burjo. Lihat di banyak warung mie ayam. Jangan lupa, coba ingat-ingat makan siang kita tadi barusan. Apakah semuanya tandas dihabiskan?

Pangan adalah salah satu kebutuhan primer. Menjadi sekunder ketika pangan menjadi sajian. Menjadi tersier ketika sajian itu sudah dianggap kemewahan. Makanan sebagai gaya hidup.

Sekarang, kenyang saja tidak cukup. Bahkan tidak perlu. Lidah pun dibuat bingung. Lebih manja dari anak bungsu. Makanan menjadi sebuah pencapaian. Wajar? Silakan Anda sendiri yang menilai.

Makanan dan sajian masakan adalah bagian dari olah budaya. Sebuah cara kita bertahan hidup. Lalu entah sejak kapan menjadi sebuah cara menampilkan citra diri.

Pernahkan Anda masak sendiri lalu menyantapnya sendiri? Bagaimana jika makanan itu tumbuh di pekarangan sendiri. Dipelihara sendiri. Terlalu berlebihan?

Baiklah.

Ada kalanya kita perlu kembali bertanya. Apakah sajian yang ada di hadapan kita tiba-tiba muncul dari langit. Apa saja yang dikorbankan dari sebuah sajian masakan.

Berapa tangan dan berapa ratus jam yang dibutuhkan oleh tangan terampil pemijat khusus sapi ketika seekor sapi wagyu yang disembelih, sehektar sawit yang dibakar untuk minyak goreng terbaik, puluhan pon rumput dan seratusan liter air untuk segelas susu murni.

Itu pun jika organik. Bagaimana dengan makanan hasil mutasi? Jika pun Anda tahu bagaimana prosesnya, bisa jadi apa yang akan kita makan langsung melenyapkan selera kita.

Sepertinya setiap agama mengajarkan hal yang sama. Secukupnya. Perut yang diisi secara adil antara air, udara dan makanan. Kita hanya perlu makanan yang memang diperlukan dan menyehatkan. Namun tidak perlu berlebihan.

Karena bagaimanapun juga, perut kita bukan keranjang sampah. Apalagi keranjang nafsu.

 

Selamat berakhir pekan,

Roy

Keseimbangan (Bukan) adalah Koentji

Kurang lebih satu tahun yang lalu (atau mungkin lebih, saya sering kehilangan jejak waktu), saya turut sebuah forum perempuan bekerja yang keynote speaker-nya adalah Ibu Mari Pangestu. Ketika itu pembahasan mengenai, mengapa perempuan bekerja yang jumlahnya cukup banyak hingga level manajerial, tetapi kemudian berkurang drastis ketika memasuki level senior manager hingga CEO. Kemudian Ibu Mari menyebutkan soal istilah “peran ganda perempuan” yaitu sebagai pembina keluarga sekaligus pencari nafkah. Yang menarik adalah Ibu Mari menyebutkan bahwa dia tidak menyukai istilah ini. Entah saya sedang melamun ketika beliau menyebutkannya, atau memang tidak disebutkan lebih lanjut, tetapi saya tidak menangkap alasannya, mengapa istilah ini tidak disukai. Kalau saya mau mengarang, mungkin karena istilah ini memang agak seksis, karena “tugas” pembina keluarga  dan pencari nafkah harusnya tidak hanya disebutkan untuk perempuan, tetapi kalau tanggung jawab sudah berbicara, gender apapun akan memilikinya.

3a5bffb

Seperti juga layaknya pembicaraan mengenai perempuan bekerja, pasti ada sebutan mengenai work-life balance. Frase enigmatis yang seolah menjadi dambaan semua orang, tetapi tidak ada yang pernah menyaksikan keberadaannya. Setelah merasakan menjadi pasangan suami istri dengan anak, kemudian orang tua tunggal, semakin dirasakan kalau work-life balance itu hanya tujuan kosong tanpa ada ejawantahnya, terutama jika disebutkan tanpa rencana aksi yang jelas. Justru karena kata-kata ini, banyak sekali Ibu bekerja yang menghabiskan waktunya dengan merasa bersalah, meninggalkan keluarganya begitu lama untuk mencari nafkah. Seolah kewajiban dia ditambah satu lagi, selain berakrobat berkarir di luar rumah dengan mengurus ini itu soal anak, rumah tangga dan pekerjaan rumah; mencari keseimbangan antara itu semua. Digembar-gemborkan seperti seorang perempuan tidak bisa bahagia dan sempurna jika tidak bisa mencapai work-life balance. What a bunch of bull crap.

Kenyataan yang dihadapi; seperti semua hal di dalam hidup, itu adalah pilihan. Kita boleh memilih bekerja hanya jam 8 pagi hingga jam 5 sore, tanpa lembur sama sekali, menolak ditugaskan ke luar kota, pamit pulang ke rumah di tengah meeting yang baru dimulai sore hari, melewatkan acara “penting-tak penting” yang fungsinya lebih memperluas jejaring, dengan konsekuensi tentunya. Dan seringnya konsekuensi itu adalah perkembangan karier yang layu sebelum berkembang, juga penghasilan yang begitu-begitu saja. Tidak seimbang juga, tetapi kalau itu memang membuat bahagia, kenapa tidak? Demikian juga jika ketika memilih untuk mengejar karir atau tidak memiliki kemewahan untuk memilih (jika menjadi orang tua tunggal, contohnya).

Dari apa yang sudah dijalani, saya merasa kalau kunci agar jadi bahagia – seperti juga dalam hal lain di kehidupan ini, adalah ikhlas. Mungkin bisa pakai istilah work with passion atau apalah itu. Jika kita cukup beruntung, untuk bisa memiliki satu tim baik di rumah maupun di tempat kerja yang mendukung, sehingga bisa berkonsentrasi penuh ketika sedang berada di tempat kerja maupun di kantor, maupun ketika bertemu sahabat, lakukan lah hanya itu. Beri 100% ketika Anda di tempat kerja, supaya ketika kembali ke rumah dan memberikan 100% kepada keluarga tidak ada rasa yang tertinggal kalau merasa belum selesai di kantor. Atau kalau masih merasakan juga, ikhlaskan kalau mungkin kita tidak bisa mengendalikan semuanya.

Benar-benar kemewahan rasanya, ketika bisa tenggelam dalam pekerjaan ketika di kantor, kemudian pulang ke rumah dan bisa tenggelam dalam kasih sayang dengan keluarga dan menikmati keduanya dengan sama penuhnya. Bahwa kenikmatan tersebut akan menimbulkan kebahagiaan yang (mungkin) lebih dari kebahagiaan yang dirasakan ketika kita bisa mencapai work-life balance.