Mari Jatuh Cinta

Sebelum bilang iya. Kita kembali dulu ke pertanyaan: Apa itu cinta? Pertanyaan yang entah berapa juta kali muncul dengan jutaan jawaban dari banyak bidang ilmu. Termasuk ilmu hitam.

Ndak. Kita ndak akan belajar mantra pengasihan. Tapi biokimia. Satu-satunya cabang ilmu yang menjawab pertanyaan diatas dengan lugas tanpa keterlibatan puasa dan doa-doa. Menurut biokimia, Cinta adalah cara alam agar manusia ndak punah. Pemicu prokreasi. Ya kapan sih alam basa-basi?

Ilmuan Helen Fisher dari Universitas Rutgers punya teori 3 tahap, 7 hormon.

image

Tahap Pertama: GAIRAH
Ini adalah tahap pertama dari cinta. Didorong oleh hormon seks, testosteron dan estrogen; baik pada pria maupun wanita. Awalnya, semata-mata nafsu. Hanya perlu 2 menit bagi tubuh untuk melepaskan hormon seksual. Lalu, apa yang memicu gairah?

Penelitian Psikologi meyakinkan bahwa 55% gairah dipicu oleh penampilan, gerak tubuh, dan preferensi. Tiga kriteria ini kemudian diatur lagi oleh kromosom warisan kedua orangtua. 38% dipancing oleh nada dan kecepatan berbicara. Lalu 7% sisanya oleh apa yang dikatakan seseorang.

Doa-doa dan kemampuan merayu seseorang menguasai 45% kemungkinan timbulnya gairah. berat badan, penampilan, harta, preferensi seksual, dan ilmu hitam menguasai hingga 55% kemungkinannya. Ndak salah kalau ustadz ganteng yang pandai bicara mudah sekali dicintai banyak orang.

image

Tahap Kedua: KETERTARIKAN
Ini adalah tahap menakjubkan dimana kita betul-betul jatuh hati. Semua hal adalah soal orang yang kita sukai. Sampai susah mikir yang lain. Tiga neurotransmitters yang terlibat di tahapan ini terdiri dari: Adrenalin, Dopamin dan Serotonin. Ketiga substansi ini bisa diproduksi 20 hingga 40 menit sejak kita merasakan pemicunya.

Ketertarikan akan mengaktifkan respon stress manusia. Meningkatkan kadar adrenalin dan kortisol dalam darah. Alhasil, efek kupu-kupu di perut, deg-degan, berkeringat dan mulut cenderung kering. Peningkatan dopamin menimbulkan efek kepuasan yang memuncak. Efek yang sama saat menggunakan kokain. Efek ini berakibat meningkatnya pelepasan energi, berkurangnya nafsu makan dan tidur, pikiran lebih fokus pada hal-hal kecil terutama yang menyangkut orang yang kita sukai. Lalu serotonin. Ini adalah zat yang bertanggung jawab pada munculnya “si dia” secara terus-menerus dalam pikiran.

Dalam tahap ini juga muncul “cinta buta.” Dopamin dan Serotonin mampui mengelabui nalar. Mengubah citra dan persepsi. Mengaburkan logika, seperti orang dalam pengaruh obat-obatan psikotropika atau ramuan mantra pengasihan. Yang tadinya ndak suka. Jadi suka. Meskipun udah dikasih tau, dia suami orang!

image

Tahap Ketiga: KETERIKATAN
Sepasang kekasih butuh waktu cukup panjang untuk menginisasi tahap ini. Sementara dua tahap di atas bisa timbul dalam waktu kurang dari 45 menit saja! yang menjelaskan “Cinta pada pandangan pertama.”

Dua hormon utama pada tahap ini: Oksitosin dan Vasopresin. Dalam konsentrasi akumulatif yang meningkat sejalan dengan berapa banyak hubungan sex yang telah dilakukan bersama. Selama pacaran, kedua hormon inilah yang ditimbun dalam tubuh. Mereka berperan ketika menentukan komitmen sepasang kekasih. Dalam kasus Ta’aruf, atau pendekatan tanpa sex, kedua hormon akan menyelamatkan pernikahan setelah berkomitmen. Serunya, tahap gariah dan ketertarikan mungkin terjadi setelah tahap keterikatan. Dan bisa mengulur waktu sexual fatigue (kebosanan).

Oksitosin, atau hormon pelukan. Adalah hormon yang sangat kuat yang dilepaskan selama orgasme. Sepasang kekasih akan merasakan lebih dekat dan terikat sesaat setelah berhubuungan sex. Hormon ini juga dilepaskan dalam jumlah besar saat melahirkan anak dan selama menyusui. Maka terciptalah hubungan keterikatan yang kuat antara ibu dan si bayi. Proses ini menguatkan perlunya menyusui anak (dan suami?). Sayangnya, sintesa oksitosin lebih tinggi dalam tubuh perempuan. Karena pria ndak melahiran, maka ia bergantung pada hubungan sex dan menyusui (masih dalam tahap penelitian apakah menghisap puting pria, berefek sama dengan wanita). Ini membuktikan kenapa laki-laki lebih mudah selingkuh ketimbang perempuan.

Vasopresin dikeluarkan sesaat setelah orgasme. Bersama oksitosin ia menimbulkan rasa hangat dan nyaman. Beberapa ilmuan mengasosiasikannya dengan perasaan terlindungi. Ia juga berefek diuretik, yang mampu mengontrol pelepasan urin, menekan rasa haus, sekaligus mengantuk di waktu bersamaan.

Setelah kita paham anatomi Cinta, sekarang mari jatuh cinta. Caranya: Temui seseorang. Siapa aja, terserah. Saling curhat selama 30 menit. Lalu saling menatap dalam tanpa bicara selama 4 menit.

Profesor Psikologi, Arthur Arun melakukan penelitian tiga langkah diatas pada sejumlah pasangan yang betul-betul asing satu sama lain. Mereka mengakui saling tertarik setelah 34 menit. Bahkan dua pasang diantara subjek penelitian Profesor Arun, menikah!!

Advertisements

Keindahan Tanpa Suara

Sejak siang, Atila sudah resah. Nanti malam mau kencan pertama dengan Andri. Pria paling ganteng di seluruh dunia. Menurut Atila. Mak comblang mereka cukup unik dan #kekinian: Tindr. Setelah lebih dari sebulan chatting dan sedikit teleponan, mereka memutuskan untuk bertemu. Siapa tau jodoh. Toh keduanya sudah sama-sama kepepet deadline. Mari kita akhiri gelar jomblo dan tuntaskan tanggung jawab berumah tangga ini.

Atila, eksmud bekerja di biro iklan Ibukota. Kantornya berada di lantai 25 sebuah gedung tinggi di Sudirman. Usianya 28 tahun. Hampir setiap hari Atila berolahraga di gym. Tak heran kalau tubuhnya langsing dan singset. Perawatan tubuh pun rutin dikerjakannya seminggu sekali. Model rambut klasik, panjang terurai. Lebih sering diikat buntut kuda. Ditambah karir yang membumbung tinggi, umpatan  “cantik-cantik kok masih jomblo ya?” sering di dengarnya. Baik di depan maupun di belakang.

Andri, pemilik perusahaan digital baru. Start Up istilahnya. Usianya 32 tahun. Di sela-sela kesibukannya membangun perusahaannya, Andri juga rajin merawat bentuk tubuhnya. Seminggu tiga kali, ikut kelompok Freeletics di GBK. Dua hari sisanya, Andri anggota paling rajin Jiu-jitsu. Dengan tinggi badan 182 cm, wajah tak kalah dengan model-model di sampul majalah Menshealth. Belum lagi selera Andri akan barang-barang bermerk dan berkualitas tinggi, umpatan  “ganteng-ganteng kok masih jomblo ya?” sering di dengarnya. Baik di depan maupun di belakang.

Mereka berdua kini duduk berhadap-hadapan. Di meja makan pada sebuah restoran semi formal. “Jangan serius-serius dulu lah, kan baru mau kenalan” begitu pikir Andri ketika memutuskan mau kencan pertama di mana. Atila mengenakan baju terusan berwarna hitam panjangnya di atas lutut.  Sepatu teplek tanpa hak. Dan tas bermerk kulit dibeli di Plaza Indonesia lantai dasar. Andri mengenakan kaos berlengan panjang berwarna hitam, dengan celana jeans. Sepatu sneakers kulit. Rambutnya rapih berbalur Pomade.

Setelah masing-masing memesan makanannya, dan pramusaji meninggalkan mereka berdua, tibalah pada bagian yang terberat: mau ngomong apa. Keduanya masih rikuh, sungkan ditambah beban jaim. Jantung mereka berdebar sedikit lebih kencang. Dan sebagai laki-laki, Andri merasa berkewajiban untuk bersikap laki-laki dengan membuka perbincangan.

“Gimana minggu ini?” tanya Andri.

“Yaaah gitulah, sibuk-sibuk gitu… Kamu?”

“Lumayan… Kamu di advertising agency kan ya? Itu ngapain sih?”

“Aku bagian kreatifnya gitu…”

“Wah seru dong. Ngapain aja sih kalo kreatif gitu?”

“Ya gitu deh, bikin-bikin iklan. Kalo start up itu ngapain sih? Sering denger tapi belum ngerti.”

“Yah digital-digital gitu lah. Sebenarnya kita rada mirip sih…”

“Owh ya? Gimana miripnya?”

“Ya gitu… Sama-sama cari klien dan ngerjain yang klien minta kan…”

“Ya sih…”

“Kamu kenapa kerja di advertising?”

“Suka aja. Kamu emang suka digital-digital gitu ya?”

“Iya. Emang kuliahnya juga digital sih.”

“Biasanya malam mingguan ngapain?”

“Kerja. Tapi di rumah. Kamu?”

“Gak ngapa-ngapain…”

“Kamu emang kuliahnya dulu advertising?”

“Iya.”

“Emang suka advertising dari dulu?”

“Hm, gak juga. Lucu aja sih…Kamu?”

“Aku hukum sih sebenarnya.”

“Owh jauh juga ya. Emang suka digital-digital gitu?”

“Seru aja”

“Owh gitu… Kamu hobbynya ngapain?”

“Hm…apa aja sih, yang seru-seru lah. Kamu?”

“Sama lah, yang seneng-seneng aja…”

“Suka masak?”

“Suka”

“Masak apa?”

“Yang enak-enak aja lah… Kalo kamu hobbynya ngapain?”

“Nonton sih aku.”

“Nonton apa?”

“Hm… apa aja yang seru-seru ada di Ambas.”

“Owh di Ambas ada 21?”

“DVD sih, bajakannya…”

“Owh hahahaha aku juga suka nonton sih…”

“Nonton apa?”

“TV. Aku sukanya nonton reality show gitu…”

“Owh ya… aku malah kurang paham. Kardashian gitu ya?”

“Iya. Lucu tuh”

“Kamu suka warna hitam ya?”

“Iya. Seru soalnya.”

“Kamu juga suka hitam?”

“Iya. Lucu soalnya.”

Pramusaji pun datang mengantarkan pesanan mereka masing-masing. Atila dan Andri, lega seketika.

Seperti ini pula rasanya kalau berbincang dengan para seniman muda. Banyak yang memiliki kemampuan teknis prima. Tak banyak yang bisa menceritakan makna karyanya sendiri. “Lucu aja” dan “seru aja” jawaban paling sering yang mereka berikan ketika ditanya. Beri sedikit waktu, semoga mereka semakin matang dan bisa menjadi seniman besar. Yang berkarya dengan hati dan isi. Yang menjadi bagian dari sebuah zaman. Kegelisahan masa kini. Pernyataan jujur atas sebuah kenyataan. Sebentuk mimpi yang menginspirasi makhluk hidup di sekitarnya. Apalagi kalau bisa memberi harapan bagi yang melihatnya.

yi_artists_2014_740

Tak hanya kesulitan bercerita, sebagian besar dari mereka pun masih kesulitan menentukan harga. Jadi silakan berbelanja karya mereka sekarang. Siapa tau suatu saat mereka terkenal dan harga karyanya menjadi milyaran rupiah dan kita tak lagi sanggup membelinya 🙂

kopi-keliling_10112015

Tuan Uang, Bukan? Tunggu Sebentar, Saya Sedang ke ATM. *)

Who are we? We find that we live on an insignificant planet of a humdrum star lost in a galaxy tucked away in some forgotten corner of a universe in which there are far more galaxies than people.

Carl Sagan

Jika rentang waktu jangka pendek yang dikejar, maka NASA, sebuah lembaga riset antariksa milik Amerika adalah lembaga yang sangat boros dan patut dipersalahkan sebagai salah satu sumber defisit anggaran negara tersebut.  Apakah ini semata-mata soal uang? Soal perhitungan untung rugi?

Dan prasangka ini justru dialami oleh IPTN / Dirgantara Indonesia. Sebuah industri pesawat terbang dari negara berkembang yang akhirnya layu sebelum berlayar menjelajah angkasa raya. Dianggap sebagai proyek menara gading bagi sebagian pengambil putusan negeri ini pasca Krismon 1997.

Tapi langkah kecil mereka akan dilihat di kemudian hari.

Manusia dan pemikiran  semacam ini masih banyak. Manusia yang berdiri di ruang sempit. Dalam hening. Berkutat dengan gelas kimia. Berkutat di depan layar komputer. Sebagian dengan mesin tik. Sebagian di tengah hutan. Sebagian menyelam ke dasar samudra.

Apa yang diperoleh sains dengan teori dan eksperimennya, adalah himpunan dari pengetahuan tentang hal-hal yang relatif benar, yang ditapis dan dipisahkan dari pengetahuan tentang yang mutlak salah. Itu sebabnya Stephen Hawking misalnya menganjurkan agar seluruh ilmuwan mengumumkan seluruh kesalahan yang mereka tangani, bukan hanya kebenaran yang mereka temui. Kesalahan yang diumumkan membantu ilmuwan lain bertanya jawab secara lebih efisien dan lebih cerdas dengan kenyataan semesta—kenyataan besar yang jawabannya mungkin tak mudah dibuka dan tampak tak peduli pada kesulitan manusia, namun sungguh tak pernah berdusta.

Bisa jadi dalam hidupnya mereka tak menemukan sesuatu. Mereka mencoba banyak cara untuk satu hal. Mencipta. Melakukan cara baru. Mencari jalan paling mutakhir agar kualitas hidup menjadi lebih baik. Pun jika dalam hidupnya selalu gagal, tapi bisa jadi kegagalannya adalah jalan bagi peneliti dan generasi penerus berikutnya menjadi lebih mudah untuk membuat lompatan ilmu. (Nirwan A. Arsuka).

Ini juga yang dinarasikan dengan baik oleh Peter Thiel, salah satu mafia PayPal, investor pertama facebook dan pendiri Palantir, sebuah perusahaan periset big data yang mendapat gelontoran dana Amerika dan disinyalir membantu pemerintah AS untuk mencari  Osama Bin Laden. Peter Thiel menceritakan soal pentingnya lompatan bagi para Penemu lewat bukunya “Zero to One”.

Walau pada akhirnya langkah dari “tiada-menjadi-ada” ini yang diistilahkan “dari-nol-menjadi-satu” olehnya dikawinkan demi kepentingan ekonomi, yaitu teori kompetisi baik pasar sempurna atau monopoli, namun yang menarik dari uraian dalam bukunya adalah soal daya upaya untuk mencipta.

Peter Thiel tidak bicara rentang waktu, bagaimana ilmu dapat diketemukan secara beramai-ramai walau beda waktu. Saling menyumbangkan teori dan praktek secara turun-temurun. Melampaui jurang zaman. Dan pada akhirnya mendekatkan diri manusia kepada alam semesta.  Peter lebih menekankan nilai sebuah “temuan baru-menjauhkan-dari-kompetisi-lalu-bisa-monopoli”.

Namun pada pokoknya, ada sifat ilahiah yang ditiru anak manusia. Mencipta sesuatu. Apakah akan menjadi ilmu. Apakah dalam konsep Islam ini yang dinamakan kebaikan Jariyah?

Pelan-pelan saya belajar. Di dalam tubuh saya, di antara sel-selnya yang renik terdapat materi yang sama dengan yang terdapat di ruang-ruang senyap antar bintang. Saya adalah alam. Tubuh saya patuh kepada hukum gravitasi sama seperti benda-benda langit. Tubuh saya akan hancur terurai menjadi tanah dan debu. Suatu hari tubuh saya akan kembali ke alam. Namun, saya juga belajar mengatasi hukum-hukum alam yang deterministik sekaligus memanfaatkannya, dimulai dengan belajar berenang lalu naik pesawat terbang. (“Kebudayaan dan Kegagapan Kita” – Karlina Supelli, Pidato Kebudayaan tahun 2013).

Apakah soal mencipta adalah melulu dilakukan oleh para ilmuwan. Pelaku dunia sains? Seharusnya sih ndak mesti.

Walaupun Carl Sagan menulis novel tentang dunia astronomi yang digelutinya, namun dari novelnya kita bisa memahami, walau sebuah tulisan bisa jadi justru mengilhami ilmuwan untuk mencipta dan menekuni tentang suatu hal. Pemikiran futuristik yang dituangkan dalam tulisan bisa jadi mempengaruhi percepatan kemajuan ilmu dan teknologi. Memberikan inspirasi. Hal ini dapat kita temui dari banyak karangan fiksi ilmiah Jules Verne. Kisah-kisah petualangan dengan banyak piranti dan perabot yang melampaui zamannya.

This slideshow requires JavaScript.

Di luar itu penulis sendiri sebetulnya memiliki tugas yang sama dengan para saintis. Penulis sama dengan para pelaku kebudayaan lainnya.

Keselarasan ilmu. Seiring sejalan. Beriringan menuju altar kemajuan peradaban umat manusia.

Dalam Pidato kebudayaan Karlina mengingatkan perlunya keseimbangan dunia sains dan humaniora.

Dari salah satu sisi jurang itulah terdengar sindiran penyair William Blake kepada Newton sang begawan fisika jauh di seberang,

“May God us keep/From Single vision and Newton’s sleep!”

Blake menganggap Newton telah memicu cara pandang materialistik yang menciutkan dunia ke visi tunggal. Sungguh berbahaya jurang itu, kata Snow di bagian akhir kuliahnya. Ilmu dan teknologi akan melesat tanpa dibarengi dengan perkembangan kebudayaan dan moral yang memadai, padahal keduanya merupakan landasan material bagi hidup kita. Snow menutup kuliahnya dengan sebuah himbauan,

“Demi kehidupan intelektual … demi masyarakat Barat yang hidup kaya raya namun rapuh di tengah-tengah kemiskinan dunia, demi kaum miskin yang tidak perlu hidup miskin seandainya dunia cukup cerdas … Menjembatani dua budaya itu adalah sebuah keharusan, baik dalam arti intelektual maupun praktis. Ketika keduanya terpisah, masyarakat tidak lagi dapat berpikir dengan bijak.”

Dari sinilah amanat lain itu harus dipikul. Moral dan budaya yang dibangun dari sebuah keadaan tak kasat mata. Tidak berbau. Tidak berwarna. Dilakukan oleh budayawan. Dilakukan oleh Penyanyi. Dilakukan oleh Penari. Dilakukan oleh Artis jalanan. Dilakukan juga secara intelek oleh sastrawan. Misalnya bagi penulis, maka tugas kepengarangan itu muncul.

Namun bukan berarti mengarang pun harus dengan tujuan utama yaitu menjaga moral masyarakat dimana dirinya hinggap. Bukan.  Buatlah sebebas mungkin. Bahkan setelah teks lahir pun bukan lagi milik pengarangnya. Dia lepas. Seperti anak yang telah dilahirkan. Pemahaman konteks atas teks bahkan bukan monopoli penulisnya. Dia bebas mengekspresikan dirinya sendiri. Teks yang bermolek-molek di pikiran pembaca.

Apalagi soal moral. Pengarang tidak pernah mendapat disposisi dari siapapun juga untuk menitip pesan kebaikan moral dalam tulisannya.

Dan bahkan jikapun ada hal-hal berbau “chicken soup“, atau moralizing-wasaizing, tetap bukan semata-mata tugas pengarang untuk menjaga sesuatu hal luhur dipertahankan dalam masyarakat. Karena mengarang sebatas menyajikan. Tak ada paksaan untuk menyantapnya. Keinginan untuk membaca, keinginan untuk santap siang lahir dari masing-masing calon pembaca (atau calon bukan pembaca).

“Berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan” – (Bumi Manusia, Pram)

Berterima kasih kepada Minke dan Bumi Manusia atau berterima kasih pada Pramoedya Ananta Toer?  Berterima kasih kepada penambang tembaga, pencipta dioda, transistor, kepada Alexander Graham Bell, atau pendiri Nokia?

Berterima kasihlah kepada diri sendiri. Karena dengan terus berkehendak hidup maju dan mulia, adalah langkah awal kita menikmati hidup dan saling tolong-menolong sesama manusia. Lalu kita dapat melakukan banyak hal dengan ketulusan niat dan senyum hingga akhir hayat.

Lalu  “keberadaan” kita akan melampaui tahun, abad dan zaman.

 

Akhir kata, selamat hari Sabtu. Selamat menikmati tanggal muda.

Roy.

 

 

 

 

*) dari puisi Sapardi Djoko Damono. teks aslinya:

TUAN

Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar, saya sedang keluar.

Ajang Ketika Kita Telanjang

Bagaimana kelihatannya ya, kalau kita telanjang? Sejujurnya saya cukup dangkal untuk peduli akan jawaban dari pertanyaan ini. Mungkin itu juga sebagian (sebagian, bukan hanya) alasan kenapa saya pemerhati gaya hidup sehat termasuk nutrisi, agak mendekati obsesif.

Tetapi selain telanjang yang ini, saya juga sempat terpikir soal telanjang yang lain. Ketika beberapa bulan yang lalu saya ditugaskan untuk post pekerjaan yang berbeda, sungguh saya merasakan perbedaan perlakukan sebagian orang. Terutama yang sebelumnya tidak mengenal saya. Yang teman lama yang tadinya sudah lupa jadi ingat. Yang semulanya tak pernah menegur duluan jadi sangat ramah jika bertemu. Undangan dengan catatan yang sangat personal dan manis berdatangan.

Saya tentu tidak keberatan. Siapa yang tidak suka kalau semua orang baik kepada kita? Tetapi memang bawaan orok ya, seolah lebih bisa legowo kalau diacuhkan orang daripada “dianggap”. Bukan urusan low self-worth, tetapi mungkin ada beberapa jenis orang yang agak risih kalau mendapat perhatian istimewa. Mungkin saya salah satunya. Selama ini hidup di belakang layar terasa nyaman saja. Mendapat perlakuan seperti ini bukan membuat saya duduk nyaman menikmati, malah membuat jengah dan mengaca diri.

Obama family arrives at US Capitol prior to inauguration swear-in

Jangan tanyakan kenapa saya pakai gambar Obama.

Kalau kita ditelanjangi dari semua yang kita miliki; profesi, kedudukan, kepemilikan, apakah apa adanya kita masih layak dicintai, ditemani?

Tak jarang kita begitu sibuk mengisi otak, mengasah keahlian, membangun citra. Terkadang kita lupa sesekali kembali ke diri dan bertanya, apakah kita masih menjadi pribadi yang menyenangkan untuk orang di sekitar kita? Otak yang selalu mengkalkulasi keuntungan sesuatu atau seseorang terhadap pekerjaan atau citra, terkadang jadi lupa untuk mendengarkan dengan tulus, tanpa prasangka maupun formula untuk menjawab. Dan tak jarang teman baru maupun lama hanya membutuhkan itu. Butuh didengarkan dengan seksama, tanpa dihakimi. Sikap yang berhati-hati akan intensi seseorang di dekat kita, yang tidak ingin orang lain mengambil keuntungan dalam kelemahan kita, tidak jarang lupa untuk menemani seseorang, and just be there for them. Membuka hati untuk seseorang dengan ikhlas. Walaupun kesannya menjadi terlalu naif.

Mudah-mudahan ketika saya telanjang, masih ada yang dengan sukarela menjadi teman saya. (Atau malah banyak, karena saya tidak pakai baju sambil menuduh “gila, gila”?)

Aku Berlindung Dari Gempuran Iklan Yang Mengepung

Tiada hari tanpa Star Wars. Itulah yang terjadi selama setahun terakhir ini. Setahun? Rasanya lebih ya. Mungkin dua tahun. Yang jelas, sejak J.J. Abrams diumumkan menjadi sutradara baru Star Wars, publik langsung terkesiap. We sit up and take notice. Dan sejak saat itu, bergulirlah pelan-pelan iklan tentang Star Wars baru ini.

Mulai dari isu bocornya script. Lalu pengumuman siapa saja yang membintangi film ini. Lantas foto mereka berkumpul untuk table read atau membaca naskah film bersama-sama. Kemudian foto-foto suasana syuting diunggah ke media sosial. Bintang-bintang baru di-brief dengan cermat agar tidak membocorkan rahasia cerita. Boleh saja diwawancarai tentang Star Wars, tapi mereka biasanya akan tersenyum, memberikan jawaban yang vague atau tidak berkomentar sama sekali. Tentu saja ini menimbulkan analisa macam-macam, yang berujung pada spekulasi cerita. Muncullah berbagai teori cerita di forum-forum. “Permainan” ini semakin memanas saat judul baru resmi diumumkan. The Force Awakens. What kind of force? Whose force? Why does it need awakening?

IMG_1599

Teaser trailer dan teaser poster muncul. Para fans berteriak. Beberapa bulan kemudian, final trailer dan final poster diluncurkan. Para fans menjerit. Komentar menggebu-gebu bermunculan di berbagai media, mulai dari media massa konvensional sampai media sosial. Mulai dari yang menyembah-nyembah sampai yang mencaci maki.

Dan sekarang, saat ranggal rilis sudah sangat dekat, gempuran itu semakin terasa. Kalau saya pergi dan pulang beraktivitas, pasti saya akan melewati jalan-jalan besar dengan billboard berisi iklan promosi gratis tiket Star Wars. Mulai dari bank, ponsel, sampai produk F&B.

IMG_1597

Atau ada juga yang menawarkan produk merchandise Star Wars. Kalau lagi kena macet, maka saya akan membuka ponsel. Eh lha kok ada promosi gratis tiket Star Wars plus merchandise juga di beberapa aplikasi obrolan. Buka media sosial, ada yang mengunggah sampul beberapa majalah. Isi sampulnya? Apalagi kalau bukan karakter-karakter Star Wars. Tentu saja dalam berbagai versi. Malah ada yang sampai 8 versi.

Tidak menampilkan sampul? Majalah pun masih memuat iklan bertema Star Wars. Saya berpikir, iklannya pasti seputar produk-produk untuk para fanboys, pangsa pasar terbesar film in. Ternyata tidak. Produk kosmetik remaja putri pun bisa masuk mendukung franchise ini!

IMG_0923

Kemarin pagi saya curhat ke salah satu grup WhatsApp, “Gila ya. Brand sebesar Star Wars iklannya jor-joran di mana-mana. Ini udah sampai taraf mengepung sih. Online, offline, no product and no one is immune from Star Wars. Atau karena brand-nya sebesar Star Wars, makanya semua mau jump in?’

Salah satu teman berkata, “Mungkin meskipun brand udah besar, tapi bisa jadi mereka insecure juga dengan kepungan aktif model film-film Marvel ya, Val. Walaupun nggak ada yang rilis barengan, but still, it’s comparable. Mana figurines yang lebih bagus, mana merchandise yang lebih oke. Dan pangsa pasarnya kan mirip.”

Makes sense, saya bilang. Apalagi sampai 10 tahun lalu, ketika film terakhir Star Wars diluncurkan, Marvel belum menunjukkan dominasinya. Justru Marvel mengisi kekosongan Star Wars (live action version ya) dalam satu dekade terakhir ini.

IMG_1598

Lalu teman lain berujar, “Aduh, aku lelah melihat Star Wars di mana-mana ini. Malah menurunkan hype dan membuat aku jadi over expecting.”

Hahaha, kok bisa sih?

Lanjutnya, “Ya abis, udah dari awal kena exposure Star Wars ini. Dari awal banget. Udah tau tampang cast-nya sekarang kayak gimana. Udah kebayang kayak gimana look filmnya. Jadi gak misterius lagi, gitu lho. Gak ada sense of anticipation jadinya. Eh ini berlaku juga buat film-film lain, ding. Gak cuma Star Wars. Mau film dari dalam negeri, atau luar negeri, kayanya sama aja sekarang effort promosinya.”

Lho kan tujuannya supaya mengajak orang tahu proses pembuatannya gimana? Jadi merasa dekat gitu? Nggak ya?

Pungkasnya, “Ya nggak lah. ‘Kan aku mau nonton di bioskop supaya bisa deg-degan anticipating gitu. Mendingan cuma tau dikit, cukup tau judul, sinopsis yang gak panjang-panjang, pemainnya siapa, posternya kayak gimana, udah. Lha ini kan kayak aku ikut bikin filmnya, udah tau dari awal. Hahaha.”

Saya ikut ketawa. Lalu saya menambahkan sambil menanyakan, bukankah semuanya begitu? Maksudnya, dengan kehadiran media sosial dalam genggaman kita setiap saat, bukankah semuanya ingin berbagi setiap saat, setiap waktu?
Tentu saja ini berlaku buat semua orang, semua produk, semua aktivitas dengan akun media sosial. Of course there is too much noise out there. And how you beat the noise? By creating bigger, louder noise. Toh tinggal kita yang memilah dan memilih apa yang kita mau ikuti.

IMG_0997

Artinya, kepungan dan serangan promosi itu tidak bisa dihindari. It is inevitable. Kalau mau berlindung, take cover. Log out atau matikan ponsel sementara waktu, atau abaikan dan hiraukan saja. Saat ini diperkirakan ada tiga milyar jenis informasi dalam teks dan gambar yang berseliweran di dunia maya setiap detiknya. Tiga milyar. Setiap detik. Kita sudah terbiasa menerima begitu banyak informasi setiap saat mata kita menatap gawai. Dari yang terbiasa menerima, feeling overwhelmed mungkin pada awalnya, akhirnya kita mau tidak mau akan memutuskan informasi mana yang akan kita terima berdasarkan kedekatan hati. Ini sesuai dengan beberapa tulisan Glenn akhir-akhir ini.

Lalu, siapa yang dekat dengan Star Wars? Tentu saja mereka yang sudah akrab dengan franchise berusia hampir 40 tahun ini. Mereka yang menonton dulu sudah menjadi orang tua, bahkan kakek sekarang. Mereka mungkin menularkan kecintaan mereka ini kepada anak dan cucu mereka. Lagi pula, brand ini harus diakui cukup pintar menjaga rentang waktu dari satu trilogi ke trilogi lain. Tentu saja saya lebih familiar dengan trilogi ke-1 sampai ke-3 dari tahun 1999 ke 2005, meskipun dari segi kualitas, jauh lebih suka trilogi ke-4 sampai ke-6 dari tahun 1977 sampai 1983.

Ada faktor nostalgia yang berperan besar juga dalam kepopuleran brand Star Wars, dan juga franchise lain.
Kenapa bisa nostalgia sells?
Lebih baik kita sambung minggu depan ya.

Cukup juga ‘kan waktu seminggu buat Anda menimbang-nimbang buat nonton Star Wars nanti bareng kami?

IMG_1006

The Pleasure of Silence

PASTI akan sangat menyebalkan, ketika kita berbicara, atau terpaksa harus berbicara dengan seseorang yang sok tahu dan sok signifikan.

Ciri-ciri umumnya:

  • Kerap membeda-bedakan lawan bicara secara diskriminatif; bersikap—seakan—baik di hadapan orang-orang tertentu, atasan, gebetan, atau siapa lah; namun menjawab sekenanya, sombong dan angkuh, tidak menghargai orang-orang yang dianggap tak penting, kurang keren, dan sebagainya. Kok bisa tahu? Katanya, orang yang tulus dan ikhlas itu kelihatan bedanya dibanding yang fake.
  • Selalu ingin mendominasi pembicaraan, minimal dia yang harus banyak bicara dan “mikrofonnya” tidak boleh direbut. Haus perhatian. Caranya,
  • Kerap menggunakan nada bicara yang tinggi agar lebih bisa didengar, memaksa didengar, memberikan penekanan pada hal-hal yang berkaitan dengan dirinya saja, serta cenderung tidak memedulikan tanggapan orang lain, kecuali kalau nyolot.
  • Merasa tersinggung apabila dikonfrontasi, juga saat ditinggalkan pendengarnya. Seolah semua orang harus bersedia menyimaknya sepanjang waktu.
  • Seringkali memotong pembicaraan, baik untuk menanggapi, atau untuk langsung dialihkan ke topiknya sendiri.
  • Termasuk seringkali memotong pertanyaan, untuk langsung melontarkan jawaban. Entah benar atau tidak. Pokoknya, dia yang paling dulu menjawab.

…dan pada kenyataannya, saya merasa ya begini ini *malu*. Sampai perlahan sadar, dan pengin tobat. Dari yang “begini”, jadi berusaha “pernah begini”. Masih belajar.

Hanya saja, pada umumnya, saat nyadar muncul pertanyaan “kenapa kok aku bisa begitu ya?” Takjub dengan diri sendiri di masa lalu. Mencari apa penyebabnya. Berpikir keras sepanjang malam. Penasaran.

Apakah alamiah? Bahwa seseorang pasti akan mengalami fase hidup kurang baik dulu, untuk selanjutnya mulai ngeuh dan berubah jadi lebih baik. Perkaranya, ada yang cepat, ada yang lama, dan mungkin ada yang enggak kunjung datang kesadaran itu sampai tua.

Kurang lebihnya seperti ini.

Ada masanya, kita sama sekali tidak tahu apa-apa, termasuk tidak tahu soal ketidaktahuan itu sendiri. Biasa, masih anak-anak.

Ada masanya, kita mulai paham bahwa sebenarnya kita tidak tahu apa-apa. Saat itu, biasanya kita juga mengerti dan mulai memberi respons atas ketidaktahuan. Apakah perlu untuk menjadi tahu serta berupaya mencapainya? Apakah ketidaktahuan itu sangat tidak menyenangkan, atau terasa biasa-biasa saja lalu membiarkan semua berjalan apa adanya.

Kemudian, ada masanya, kita berusaha untuk tahu semuanya, atau untuk kelihatan seperti tahu semuanya. Seringkali, ini menyangkut ilusi harga diri.

Ada masanya, dengan anggapan telah tahu semuanya atau ingin terlihat seperti orang yang tahu semuanya, kita banyak bicara, dermawan memberi argumen dan penjelasan, yang terkadang enggak jelas apa manfaatnya.

Semua pertanyaan, baik yang memang ditanyakan kepada kita maupun sebenarnya ditujukan ke orang lain, pasti kita yang menjawab. Menyambar pertanyaan dengan cepat, dengan intonasi yang keras dan suara nyaring supaya mampu mengambil alih perhatian. Bahkan jawaban—yang belum tentu tepat—sudah kita lontarkan sebelum si penanya selesai menyampaikan pertanyaan. Merasa sudah paham pertanyaannya, bahkan sebelum nada bertanya. Pokoknya, berusaha untuk menunjukkan bahwa kita memang yang paling tahu, paling pintar, paling berwawasan. Apalagi kalau sampai dipuji orang lain, atau merasa dikagumi. Seakan jadi bahan bakar untuk terus bersikap seperti itu, tetap bersemangat  menyambar pertanyaan yang ditujukan kepada orang lain.

Ya, selamat, akhirnya mendapat label sosial baru. Mudah-mudahan “serbatahu”, bukan “sok tahu” atau “penahujar bubuhan Banjar.

Entah mana yang lebih banyak, yang serbatahu atau yang sok tahu. Jumlahnya tentu berbeda dalam kehidupan sosial kita masing-masing.

Bagaimana caranya menghadapi orang-orang seperti itu? Tinggal pilih:

Iyain aja
Diemin aja
Tinggalin aja, atau
Tinggalin aja setelah dia selesai bicara

Namun jangan salah sangka dulu, tinggalin di sini belum tentu dicampakkan total, kecuali kalau memang sebegitu sulit diterimanya. Tetap manusiawi dong. Kali-kali mereka memang belum sampai ke tahap yang lebih anteng. Kalau sudah insaf, boleh dong disapa-sapa lagi. Sebab dibutuhkan kemampuan dan kesabaran khusus untuk bisa terus ada bersama mereka.

– Kalau memang pengin dilawan, ya berisiknya jadi dobel dong

Yang pasti, sekarang saya merasa jauh lebih nyaman dan menenangkan dalam diam. Sangat-sangat menikmatinya malah. Menjawab hanya saat benar-benar ditanya, bersuara ketika memang diperlukan, minim kata-kata, sampai-sampai dianggap sakit, atau apatis, atau tidak peduli. Kecuali kalau kerja. Soalnya kalau mau berisik lagi, wis akeh tunggaléeman-eman tenaga. Termasuk di media sosial. Di-scroll ajadibiarin. Belum tentu yang dikoarkan berfaedah juga. Selain menyita tenaga dan waktu sendiri, juga bikin orang lain terpaksa mendengar/membaca serta terganggu.

Mau cari apa sih dengan bersikap reaktif sok penting?

Sejauh ini, cuma bisa mikir, barangkali memang begitulah tahapannya. Dari tidak tahu, menjadi tidak tahu dan berisik, menjadi diam, menjadi tahu, menjadi tahu dan bersuara, menjadi hening.

[]

Adele 25: Susahnya Hijrah Dari Zona Nyaman

Album ketiga Adele yang bertajuk “25” (walau ia sekarang sudah berumur 27 sekarang) konon sudah menembus satu juta setengah kopi. Gabungan dari penjualan fisik dan non-fisik. Sembilan ratus ribu unduhan melalui iTunes. Album ini juga tidak akan ada di layanan streaming musik kesayangan anda. Entah itu Pandora, Spotify, Deezer atau layanan sejenis. Keputusan yang diambil sendiri oleh Adele.  Rekor untuk penjualan album di abad 21 ini masih dipegang oleh NSYNC yang dalam seminggu sanggup menjual 2.5 juta kopi. Apakah Adele bisa melewati NSYNC. Kita lihat dalam beberapa hari ke depan.

adelegif2

Kita semua sudah tau kalo Adele itu berbakat, bersuara bagus, lagunya enak didengar dan mempunyai pribadi yang menyenangkan. Tapi kenapa albumnya selalu laku dan ditunggu? Sederhana saja. Karena dia seorang penyanyi wanita yang tidak neko-neko. Tidak usah membuat kontroversi yang tidak jelas. Tidak usah membuat lirik yang mengumbar seksualitas yang kampungan. Ataupun berdandan nyaris telanjang di panggung dengan joget yang erotis. Itu yang membuatnya berbeda. Sudahlah. Biarkan Trio Macan yang melakukannya. Amerika Utara kehilangan sosok itu dan Adele berhasil mengisi kekosongan itu. Satu lagi, setelah dia memenangkan Oscar dengan lagu “Skyfall”–dia menghilang dari peredaran. Nyaris tidak terdengar kabar darinya. Yang kita tahu bahwa dia telah mempunyai anak yang bernama Angelo.

Hello, it’s me
I was wondering if after all these years you’d like to meet

Sampai pada akhir Oktober lalu dia mengeluarkan snippet lagu berjudul “Hello” yang cuma berdurasi beberapa detik melalui Instagram-nya tapi liriknya begitu bermakna bagi penggemarnya. Lagunya sih menurut saya biasa saja. Tapi ini kejutan yang menyenangkan. Hasilnya, video lagu ini memecahkan rekor dari dari Taylor Swift (dengan lagu “Bad Blood”) dari segi penonton. Dua puluh empat juta dalam jangka waktu sehari saja.

Ini lagu perkenalan kedua yang sangat Adele. Benang merah yang menyambungkan album “25” dengan “21” dan “19”. Ditampilkan dengan live secara apik melalui Youtube dengan full band dan diakhiri dengan “This is the whole new me.” setelah lagu selesai sambil tertawa renyah khas Adele. But is it the whole new you,  Adele?

Di lagu ini dia berusaha keluar dari zona nyaman. Memainkan lagu pop yang modern. Lagu yang mengingatkan pada “I Knew You Were Trouble” dari Taylor Swift. Temanya pun mirip.  Formula ini juga dia lakukan di lagu “Water Under The Bridge” dan “River Lea”. Tapi saya yakin banyak yang lebih suka Adele dengan tampilan lama.

Dua lagu yang bernuansa 90an. Saya jadi ingat sampai saat ini belum ada yang menggantikan posisi Whitney Houston atau Mariah Carey di masa jayanya. Adakah sekarang penyanyi yang bisa mengganti posisi mereka? Belum ada. Di sini Adele akan merebut tahta mereka. Mumpung sedang ada kekosongan kekuasaan dan relatif tidak ada saingan. Sementara lagu “All I Ask” yang ditulis bersama Bruno Mars ini sangat berpotensi untuk menjadi lagu ketiga yang hits dan (saya yakin) akan segera dibuatkan video musiknya. Pertama kali mendengar–lagu ini langsung mengingatkan saya pada lagu Mariah Carey yang berjudul “My All”. Adele belum pernah menyanyi dengan nada setinggi ini setau saya. Dua lagu ini akan menjadi hits dalam beberapa minggu ke depan mengikuti “Hello” dan “When We Were Young”.

ADELE-BRITS_240.jpg

Secara keseluruhan album “25” adalah album yang aman. Tidak ada yang istimewa dari album ini. Tidak ada lagu seperti “Chasing Pavement”, “Don’t You Remember”, “Rolling In The Deep”, ataupun “Someone Like You”. Tapi walau bagaimanapun dia adalah Adele dengan kepribadiannya yang apa adanya. Tidak jaim. Tidak sok diva. Tapi dengan menjadi dirinya sendiri justru di situ letak kekuatannya. Tidak semua seleb bisa melakukan itu. Karena dia memang orangnya menyenangkan, cockney accent dan juga ditambah dengan british sense of humour-nya (yang ini agak subjektif memang) yang kental yang membuat dia akan tetap disukai.  Ada penyanyi wanita yang mengacungkan jari tengah ketika pidato kemenangannya di Brits Awards 2012 tidak selesai dan dipotong karena Blur akan segera tampil? Saya kira tidak ada.

Bahkan ketika dia melakukan prank acara BBC pun dia tetap menyenangkan sekaligus mengharukan. Kapan lagi penggemarnya yang beruntung mendapat durian runtuh berupa private concert bersama Adele?

 

 

 

 

 

Setiap Kemenangan Berdiri di Atas Darah

image

Hari Pahlawan bulan November ini berwarna sekali. Beberapa orang bicara soal bagaimana menghargai patriotisme orang lain. Bahkan punya ide mengadakan kewajiban Bela Negara untuk penduduk sipil. Sebagian lainnya membuka fakta yang disimpan dalam-dalam. Minimal ndak diajarkan di depan kelas. Seperti kesaksian yang dibeberkan di Tribunal Rakyat Indonesia 1965 di Den Haag. Dengan cita-cita menyampaikan fakta, mengakuinya, dan paling penting: berusaha agar kejadian serupa ndak terjadi lagi, kapanpun dalam kehidupan modern Republik Indonesia.

Kegiatan belajar dari masa lalu ini dimulai dengan menyampaikan fakta. Terlepas dari nilai baik-buruknya, fakta adalah bekal kita memutuskan kebenaran. Kita perlu fakta untuk bertindak. Menjadi lebih baik atau sekedar menyingkap cakrawala. Di sisi lain, fakta juga bisa sangat menyakitkan. Membuka luka lama. Membangkitkan macan tidur. Fakta adalah Kotak Pandora untuk setiap pembohong di bumi ini.

Maka, ndak kurang dari pelaku 10 November sendiri jadi sorotan. Bung Tomo rasialis sejati. Pembantai warga keturunan. Pengecut yang absen di laga pertempuran. Imam Bondjol adalah ketua ISIS abad ke-19 di Sumatera. Menyebar teror ke Mandailing Natal. Mengorbankan ribuan orang Batak dan Minang atas nama kemurnian Islam. Soekarno mendaftarkan ratusan orang kepada pemerintahan Asia Timur Raya. Menyakiti sekian banyak perempuan. Mendeklarasikan diri sebagai pemimpin seumur hidup. Soeharto berani turun dalam kecamuk Bosnia-Serbia. Membebaskan status petani melampaui kelas buruh di jamannya. Mencapai swasembada yang hampir ndak mungkin terjadi di negeri manapun di masa sekarang. Gajah Mada membantai rombongan kerajaan Sunda. Mengakibatkan friksi etnis yang bertahan ratusan tahun ke depan di pulau Jawa. Gerakan Bersiap Agustus 1945 hingga Desember 1946. G/30S 1965. Malari 1974. Reformasi 1998. Dalam hal ini, fakta mampu merobohkan satu bangsa yang berjaya berlandaskan rekayasa.

Proses selanjutnya, mengakui. Ndak gampang. Ndak akan pernah gampang, karena kita manusia. Alam mengajarkan kita proses evolusi. Cara paling aman dan nyaman untuk berubah. Alam juga menceritakan soal revolusi. Melalui bencana bumi, kosmos, dan wabah. Cara tercepat dan memakan banyak korban untuk berubah. Peristiwa di atas adalah revolusi kecil bikinan manusia. Terjadi dalam waktu singkat, juga jatuh banyak korban. Tapi belum tentu mendorong perubahan, selama manusia punya pilihan untuk menyangkalnya. Alam ndak memberikan manusia kemewahan untuk memilih. Akui dan berubahlah, maka kita akan jadi lebih baik.

Kalau memang kita mau bersaksi atas kebenaran. Seorang pahlawan bagi satu kaum, bisa jadi penjahat untuk kaum lainnya. Berlaku juga sebaliknya. Atas kesadaran bahwa setiap kemenangan berdiri di atas darah. Maka, pastikan semua Pahlawan adalah seseorang yang menang dengan menumpahkan darahnya sendiri.

#PrayForParis, Rasa Memiliki yang Manusiawi

Sejak pertama kali masuk ke dunia periklanan, ada satu pertanyaan yang sering saya lontarkan ketika kumpul-kumpul: “brand apa yang kalau dihilangkan akan bikin loe sedih atau merasa kehilangan?” Ada 3 jawaban besar yang keluar, Indomie, Teh Botol dan Blue Bird. Ada beberapa brand lain yang disebutkan tapi saya lupa.

Kalau ditanya alasannya, beragam pula.

“Ya gimana ya, dari kecil gue nyalain kompor pertama buat masak Indomie.”

“Gue gak bisa sehari apalagi seminggu gak minum Teh Botol. Kayak ada yang kurang!”

“Blue Bird itu di benak gue ya taksi terbaik lah di Jakarta. Transportasi umum impian pertama gue  waktu gue pertama kali naik gaji.”

Intinya, semua mengarah pada sejarah kehidupan. Bagaimana brand-brand tersebut telah mengambil bagian yang berarti dalam hidup. Bahkan berhasil menciptakan ketergantungan. Sehingga di alam bawah sadar tercipta kesan bahwa tanpanya, kelangsungan hidup kita terganggu.

Bukan pekerjaan mudah untuk brand-brand tersebut bisa masuk ke dalam kehidupan. Bukan saja menawarkan produk yang baik, tapi juga berguna. Bukan saja berguna, tapi konsisten. Bukan hanya konsisten tapi terus menerus berinovasi. Pembeli harus merasa menjadi yang utama. Penting. Segala komplen dan masukan harus ditangani dengan profesional.

Kedekatan inilah yang mahal. Rasa memiliki inilah yang tak ternilai dari sebuah brand. Mirip dengan pacar yang kita cintai sepenuh hati. Saat putus, kita merasa kehilangan. Dengan catatan kalau kita benar mencintainya selama berpacaran. Dalam evaluasi nilai sebuah brand, “rasa memiliki” menjadi paling bernilai. Lebih bernilai dari harga pabrik dan kantor. Dari rasa memiliki itu pula, mempengaruhi pergerakan sahamnya. Rasa memiliki itu pula memiliki daya menggerakkan yang dahsyat.

Demikian pula dengan brand “PARIS”. Paris sejak awal berdiri telah membangun posisinya sebagai kota yang romantis. Kota fashion. Kota seni. Kota yang harus dituju bagi para pencinta keindahan. Bagaimana menara Eiffel selalu diproyeksikan dengan keanggunan. Karena identik dengan keindahan, maka Paris bukan hanya berhasil membangun rasa memiliki, tapi juga rasa melindungi.

Warga Jakarta pun sudah “diakrabkan” dengan kota Paris. CCF (Centre Culturel Francais de Jakarta) aktif melakukan edukasi, terutamanya bagi yang ingin belajar bahasa Perancis. Festival Film Perancis sudah masuk ke dalam agenda pencinta film di Ibukota. Novel dan film berlatar belakang Paris pun banyak beredar. Ingat film Eiffel I am In Love? Bagi para pengembara dunia, berfoto dengan latar belakang Menara Eiffel seperti sudah kewajiban. Pencinta fashion? Tak perlu diragukan. Paris menjadi kota yang dituju. Pencinta makanan? Datanglah ke bazaar makanan, hampir bisa dipastikan ada makanan yang berasal atau diinspirasikan oleh kota Paris. roti Perancis (Baguette), siput (Escargot), apalagi bagi para peminum wine. Jangan lupa… Anggun C. Sasmi. Penyanyi kebanggaan Indonesia yang berkarir di Paris. Bahkan menjadi tamu kehormatan peragaan busana Jean Paul Gaultier.

open-house-institut-francais Cover_Eiffel icha_paris_1986024218800_1447381192-19_9_FSP sexy-anggun

Menjadi wajar ketika serangan di kota Paris terjadi kemarin, menggerakkan banyak netizen. Dalam hitungan jam, sudah ada image yang menyatakan bela sungkawa. Ada pula yang menyampaikan analisanya, ada yang ikut mengutuk, tagar #SaveParis #PrayForParis dan sejenisnya pun bermunculan. Banyak avatar pun diganti dengan simbol Peace dan Menara Eiffel. Tak sedikit yang menampilkan foto-foto perjalanannya di Paris sebagai tanda ikut berbela sungkawa. Singkat kata, rasa memiliki telah berhasil dibangun oleh kota Paris. Bahkan bagi yang belum pernah berkunjung atau tidak bisa berbahasa Perancis.

Jembatan dari kota Paris ke berbagai kota lain di dunia, tidak tercipta dalam satu malam. Bertahun lamanya. Dengan upaya dan dana yang tidak sedikit. Jembatan ini pula yang kemudian dipertanyakan, kenapa tidak ada #PrayforLebanon, Gaza, Syria dan lainnya yang bahkan memakan korban lebih banyak. Jawabannya bisa dipastikan karena “jembatan” yang tidak pernah dibangun. Rasa memiliki yang belum ada. Apalagi keakraban. Yang tentunya disebabkan karena negara-negara itu sedang berkecamuk. Sehingga kita belum pernah menikmati Festival Makanan Lebanon, atau Festival Film Gaza apalagi Pusat Edukasi Syria. Misalnya…

-ibbG9yT  vs  11209401_897350477009036_6415169007560729641_n

Salahkah jika warga dunia terasa lebih bersimpati kepada serangan di Paris? Sepertinya bukan soal salah atau benar. Lebih ke kewajaran. Manusiawi. Karena manusia hanya akan bereaksi hebat pada hal-hal yang akrab dengan dirinya. Pada kedekatan. Bahwa kemudian dinilai sebagai kelatahan semata, sepertinya tidak semudah itu juga untuk latah kalau tidak ada rasa memiliki. Trend sulit menjadi trend tanpa kemampuannya untuk bisa diadaptasi.

Lagian, apa yang diharapkan oleh mereka yang “mengkritik” kehebohan #PrayForParis? Untuk bersimpati pada setiap petaka yang terjadi di dunia, sepertinya kemustahilan. Hampir setiap hari terjadi. Haruskah kita peduli pada semua? Di saat yang bersamaan, upaya membungkam dengan “yaudah biasa-biasa ajalah”, akan menggiring pada sikap masa bodoh, apatis dan tidak peduli.
Kedekatan Paris dan dunia sudah terlalu dekat. Bahkan keinginan untuk ikut-ikutan masuk ke dalam gerbong kereta yang dipenuhi oleh banyak orang, adalah kewajaran. Bukankah kita selalu merasa lebih nyaman bersama ketimbang sendiri?

Yang mungkin sebaiknya menjadi pertanyaan yang jawabannya hanya ada di batin kita masing-masing adalah, seberapa jujur dan tulus kah kepedulian kita. Apa pun bentuk kepedulian, apa pun tindakan yang kita ambil, ketulusan menjadi kunci utamanya. Kepedulian yang datang dari hati, tak memerlukan pengesahan dari siapa pun. Ikut-ikutan saja pun tak ada salahnya, selama tulus juga ikut-ikutannya. Tidak semua harus jadi leader dan tak ada leader tanpa follower.

Rasa memiliki ini juga yang menjadi tantangan utama, bahkan tujuan utama brand. Dan manusia. Iya, manusia. Bukankah manusia ingin memiliki dan dimiliki? Bukankah manusia ingin ada yang melindungi saat diserang. Ingin ada yang menolong saat terjatuh. Dan bahkan ingin dikenang saat sudah tiada. Menjadi orang baik saja, sepertinya belum cukup. Untuk bisa membangun rasa memiliki, seseorang harus pula “berguna” bagi sekitarnya. Kalau perlu bagi negaranya. Tidak ada jalan pintas untuk membangun ini. Diperlukan ketekunan, inovasi dan terpenting konsistensi. Kalau mau belajar dari Perancis yang konsisten membangun kedekatan dengan warga Jakarta sejak 1900.

PATH. Aplikasi Pamer Anak, Tempat, Hidangan?

IMG_0323

Iseng saya menggambar ilustrasi di atas di sela kesibukan meeting yang tiada henti. Maksud hati ingin sama-sama mengasingkan diri, adakan rapat di sebuah tempat nun jauh dari kantor, tapi apa daya. Lokasi boleh jauh dari mana-mana, namun tingkat mengakses media sosial malah meningkat tajam.

Bukankah kita semua memang  begitu?

Bangun tidur, yang dicari pertama kali adalah hape. Dahulu ada masanya aplikasi pertama yang dibuka adalah sms. berharap ada balasan sms (sisa mengobrol semalam). Lalu ketika facebook menguasai dunia persilatan, apapun yang kita temui akan diposting dalam wall atau apalah namanya di akun kita. Kemudian disusul dengan twitter. Aplikasi burung biru dengan segala drama dan romantikanya. Lantas muncul instagram. Layar dipenuhi gambar ciamik dari segala penjuru dunia. Termasuk barisan ‘sista-sista penjual onlen’ yang bisa bikin ngakak sendirian gara-gara membaca komentar numpang iklan mereka, baik di akun Maia maupun Mulan Jameela.

Sekarang, sebgaian besar teman-teman saya lebih aktif di aplikasi Path. Dimana bahkan pertemanan yang terbatas saja masih disediakan fitur inner circle. Lebih karib dari sekadar teman. Fitur di balik layar yang memberikan kemudahan bagi kita manakala akan memuat gambar atau tulisan yang menurut kita hanya layak disampaikan kepada orang-orang yang kita percayai.

Path, menjadi salah satu aplikasi paling diminati saat ini. Bukan karena sebagian kecil sahamnya dimiliki keluarga Bakrie. Bukan.

Path menawarkan privasi. Walau sebenarnya privasi semu karena terbuka kemungkinan apa yang disampaikan dalam path diteruskan ke media sosial lain seperti twitter, facebook, instagram dan aplikasi komunikasi semacam whatsapp dan telegram.

Dan selama fitur screen capture ada, maka tak ada yang rahasia di dunia maya.

Ini yang sebetulnya harus sama-sama diperhatikan. Secara psikologis kita merasa nyaman dengan teman-teman kita. Merasa aman dengan orang-orang yang kita kenal baik saja. Maka isi dari Path sifatnya relatif lebih personal. Intim.

Tapi namanya juga orang timur. Terkadang kita gatal untuk juga menambah hubungan pertemanan dalam path kepada orang yang sama sekali belum kita kenal. Entah maksudnya apa. Bisa jadi akan terulang masa-masa keemasan #TwitterCrush, dan berharap terjadi #PathCrush.

Saya bertaruh dengan teman saya bahwa Path pada akhirnya akan juga ditinggalkan pelan-pelan. ketika semua penghuninya sudah merasa jemu. Path menjadi ajang Pamer Anak, Tempat, (dan) Hidangan. Silakan kamu skrol layar hape. Berapa proporsi gambar anak bayi baru duduk di korsi anak kecil di restoran dengan tangan belepotan, atau anak bayi yang dipaksa pakai pinsil alis oleh ibunya. Juga pamer tempat. Entah itu hotel tempat menginap yang dibiayai negara, kunjungan ke tempat wisata acara kantor. Atau juga lokasi dimana kita jarang sekali bisa hadir disana. Misalnya saja. @LP Cipinang. @Rumah Tahanan KPK. @Istana Negara @Hati_nya.

Bagaimana dengan hidangan? Wah ini juaranya. Biasanya sepaket dengan tempat restorannya. Walau terkadang isinya hanya semangkok bakso. Segelas bir.

Ada juga yang menganggap huruf h pada Path adalah Harta. Hahahaha. Bisa jadi.

Karena Path, berapa kali kamu kecewa karena tak juga disetujui permohonan pertemanan? Karena path berapa dari kita yang akhirnya putus hubungan? Tapi saya yakin akan jauh lebih banyak yang lebih ikrip dan bahagia gemah ripah loh jinawi dengan berbagi keceriaan lewat postingan melalui Path.

Terlepas dari itu semua, pada akhirnya kita akan menemui hal baru. Path akan sepi. Akan muncul aplikasi lain yang jauh lebih intim, lebih bisa pamer, dan seakan-akan lebih akrab. Banyak cara orang ingin menghibur diri. Diciptakan, dikenalkan, dirayakan, lantas menyurut. Lalu mati.

Misalnya saja aplikasi yang dapat mengirim aroma dan bebauan. Saya yakin #petrichor, #bau_abab, #kentut_mantan_Vs_kentut_ayang bakalan jadi trend. Atau aplikasi yang dapat memindai secara otomatis retina mata dan mimik muka lawan bicara kita sehingga dapat dipastikan antara apa yang diketik dan suasana batin sesungguhnya sesuai atau tidak.

Dunia yang kita huni adalah dunia yang memiliki kecendrungan selalu berlawanan dalam segala hal. Ada siang ada malam. Ada terang ada gelap. Path, memiliki keduanya. Ada yang membuat intim dan personal tanpa banyak orang tahu, namun sekaligus memperluas cara dan gaya dalam memamerkan diri.

Begitulah kira-kira. Apakah  setuju? Apa arti Path bagi kamu?

 

EnRaHa

Seperti anak perempuan pada umumnya (atau tidak, saya belum melakukan penelitian yang menyeluruh), saya mengalami pertumbuhan hanya selama di sekolah dasar saja. Selanjutnya, nyaris tidak ada lagi. Jadi begitu saya masuk SMP, tinggi saya hanya sedikit berbeda dari keadaan sekarang, di usia 28 ini (ehm). Lalu ketika itu saya tinggal di pedalaman nan terpencil nyaris tanpa hiburan yang berarti. Jadi harap maklum, ketika usia 13 tahun, saya mulai belajar menyetir mobil. Di waktu itu dan tempat itu terasa wajar saja terjadi. Tentunya ketika sudah bisa cukup lancar menyetir, saya tidak lantas nekad ke mana-mana sendiri, karena toh, di sana tidak ada tempat untuk ke mana-mana sendiri. Selalu ada orangtua yang mendampingi.

driving-dogs-no-time-to-explain

Tetapi sejak itu, entah mengapa saya jadi menikmati menyetir kendaraan ke mana-mana. Malah sekarang saya selalu jadi supir pilihan kalau keluarga saya pergi antar kota maupun antar provinsi, dengan catatan; adik lelaki saya tidak ikut. Kalau pun dia ikut, saya selalu jadi supir pendamping. Saya jarang keberatan, karena daripada mati gaya di perjalanan jauh, saya lebih memilih menyetir atau menjadi navigator.

Sejak memiliki rutin di Jakarta, saya jadi agak malas menyetir, kecuali akhir pekan. Untuk ke kantor sepertinya lebih praktis memilih kendaraan umum. Kalau macet bisa ditinggal untuk meneruskan dengan moda transportasi yang lain, daripada terkurung di dalam kendaraan sendiri. Saya perhatikan juga dalam perjalanan ke tempat kerja, mobil begitu banyak yang hanya terisi oleh satu orang saja. Sudah begitu masih mengeluh macet juga? Oh come on, lah, cuy, get real. Mengutip seseorang yang saya lupa siapa, you’re a part of the problem, so you better not complaining.

Karena sudah jarang menyetir, dan bisa dibilang hanya menganggap mobil hanyalah alat yang membawa saya dari poin A ke poin B, saya jadi tidak terlalu memerhatikan fungsi yang lainnya. Mobil yang dimiliki keluarga saya pun, termasuk fungsional saja, tidak ada yang mewah. Sampai akhir pekan lalu.

background

Sebuah perusahaan mobil Jerman meminjamkan mobil SUV-nya selama akhir pekan untuk dicoba. Langsung menemukan betapa nikmatnya menyetir dan seolah menyatu dengan kendaraan yang sangat intuitif dan seolah ‘hidup’. Langsung kembali sadar kalau harga memang tidak bohong (ya iyalah). Betapa hati girang ketika menginjak gas dan mobil meluncur seolah kijang yang berlari deras, terbebas dari semak yang menghadang. Pokoknya akhir pekan kemarin membuat saya teringat betapa saya senang sekali menyetir. Lalu berharap si mobil Jerman tidak kapok meminjamkan lagi di masa depan.

Menikmati kembali menyetir, jadi mengingatkan soal EnRaHa. Kata yang saya pertama kali dengar di film Happy-Go-Lucky ini seperti selalu terngiang saat saya berada di belakang kemudi. Walaupun tidak ada artinya, tetapi sang instruktur di film itu juga menyebut “the all-seeing-eye”. Dan sejak pertama kali melihat itu, saya langsung mengerti. Karena begitu kita ada di belakang kemudi, badan kendaraan seolah menjadi badan kita. Selain mata yang bisa melihat ke depan dan ke samping, kita dibantu oleh rearview mirrors untuk melihat ke belakang. Kita menjadi “the all-seeing-eye”. EnRaHa. Karena ketika di jalan, masalah kita bukan kemacetan. Hell is other drivers. Yang tidak mau mengalah ketika berpapasan di perempatan. Yang berkeras jalan 40 km/jam di jalan kosong melompong. Yang selalu berpindah jalur ketika semua mengantri. Yang berhenti mendadak tanpa menyalakan lampu sign untuk menurunkan penumpang. EnRaHa. Selalu waspada dan melihat segala penjuru. Karena tidak jarang hal terjadi bukan karena kebodohan atau ketidakwaspadaan kita, tetapi karena kelalaian orang lain. EnRaHa. Karena kita punya kepentingan dan hak di jalan raya, tetapi begitu juga orang lain yang ada di jalan tersebut. Jangan sampai kepentingan kita untuk bertanya arah ke tukang rokok jadi sumpah serapah orang di belakang yang harus mengerem mendadak dan jalannya terhalang oleh kita. EnRaHa. Karena hujan hanya beberapa tetes saja bisa membuat semua jadi seolah lupa cara mengemudi normal dan seolah berlomba bodoh saling mendahului ignorant, ingin lekas sampai tujuan. Mungkin lupa kalau mobil mereka ada atapnya, jadi hujan tidak hujan toh mereka tidak basah.

anigif_enhanced-21061-1434382767-20

(Maaf kalau random, dan maaf juga minggu lalu alpa menulis. Bahwa kekurangan adalah milik manusia dan kesempurnaan adalah milik Bunda Dorce.)

Teman Mantan Itu Bukan Mantan Teman

Beberapa hari yang lalu, saya berjumpa seorang teman lama di sebuah acara. Saking kagetnya karena sudah sekian lama tidak bertemu, kami langsung mojok. Tidak lagi mengindahkan acara yang kami hadiri, kami memilih untuk mengobrol dan tertawa hampir sepanjang malam.
Di sela-sela obrolan, saya berkata, “Eh, bentar. Apa kabar temenmu, UN? Udah lama gak lihat kalian jalan bareng. At least gak di-tag di Instagram atau Path.”
Jawaban teman saya, “Ya ampun, gue pun udah lama gak ketemu dia. ‘Kan gue temenan sama YK. Jadi ya pas UN putus sama YK, whichever version you believe ya, bok, siapa yang mutusin siapa, ya at the end of the day, gue temennya YK duluan. Hashtag #TeamYK gitu.”
Kami tertawa. Meskipun tak lama setelah kami berpisah dan pulang ke rumah masing-masing, saya tidak habis pikir.

Ketika dua orang memutuskan untuk mengakhiri hubungan dan berpisah, apakah hanya dua orang itu yang berpisah? Apakah ada orang-orang lain?

300 can you remain friends with your ex

Dalam kasus perceraian, atau hubungan apa pun yang mengikat secara hukum, persoalan ini kadang menjadi pelik. Apalagi kalau ada keturunan biologis. Tak jarang prosesnya berlarut-larut.

Namun dalam jenis hubungan lain yang kasat hukum, dan banyak kita alami sendiri, persoalan ini tak kalah ribet ujung-ujungnya.

Saya jadi ingat film Husbands and Wives karya Woody Allen. Film tahun 1992 ini saya tonton beberapa tahun sesudahnya, waktu sudah kuliah dan sudah mulai sedikit paham tentang jalan ceritanya. Maklum, film ini memulai ceritanya dari sepasang orang yang akan bercerai setelah lama menikah. Keputusan mereka ini mereka sampaikan ke teman-teman mereka. Alih-alih berempati, teman-teman mereka malah sibuk menganalisa pernikahan dan hubungan mereka masing-masing. Mereka pun dikacaukan sendiri dengan kebingungan mereka, harus berpihak kepada siapa. Kepada istri? Kepada suami? Tapi kalau saya berpihak ke suami, nanti dianggap tidak fair?

Husbands and Wives by Woody Allen.

Husbands and Wives by Woody Allen.

Aha! That’s the word. Fair. Atau padanan kata lainnya, “netral”. Yakin warna abu-abu itu bisa persis 50% hitam dan 50% putih? Kalau komposisinya 49% dan 51%?

Beberapa tahun lalu, I had a big breakup. Hubungan kami berjalan cukup lama. Cukup lama untuk mempunyai teman-teman yang dekat dengan saya dan mantan as a couple, not just individuals. Ketika kami berpisah, meskipun tidak ada kesepakatan, kami memutuskan untuk mengatakan langsung ke beberapa orang teman. Reaksinya, tentu saja, ada yang sedih, lalu menanyakan bagaimana keadaan sekarang, dan sejenisnya. Ada juga yang tanpa tedeng aling-aling langsung bertanya, “Aduh, terus sekarang gue gimana? I mean, I befriend you both. Aduh, kalian kan temen gue semua. Aduh …”
Jujur saja, waktu itu saya langsung ketawa di depan dia dan berkata, “Gue yang putus, kenapa malah elo yang heboh ya?”

Tapi perlu waktu ternyata untuk memahami kegelisahannya. Semakin kita beranjak tua (come on, we all are), semakin selektif kita dalam berteman. Memutuskan hubungan pertemanan tidak pernah mudah. Ada faktor kenyamanan berbeda yang hanya bisa kita dapatkan pada teman. Makanya, the older we are, the lesser friends we have, but they are only the few good ones.

Seorang teman dekat pernah mengatakan ini dengan tegas.
“Pada akhirnya, gue gak bisa netral. Never. Lebih baik gue jujur bahwa gue lebih deket ke siapa, karena pertemanan itu tergantung siapa yang bisa membuat gue nyaman. Gue lebih nyaman ngobrol ke siapa, gue lebih enak cerita atau curhat ke siapa. Itu sih. Kenal baik, of course masih kenal baik. Gue lebih senang jadi teman yang jujur, daripada harus pura-pura baik.”

article-1333112818891-1266B3EE000005DC-530160_636x312

Kalau diurai lagi the comforting factor ini, cabangnya bisa banyak. Misalnya, kesamaan dalam selera makan. Atau kesamaan hobi. Kalau dulu ketika kita masih dalam hubungan meyakini bahwa opposite attracts (yang satu suka posting foto selfie, yang satu suka posting foto pemandangan), maka ketika putus, yang terjadi ya yang seharusnya: opposite divides. Lalu teman-teman di luar hubungan yang selama ini mengamati perbedaan, pada akhirnya memilih, mana di antara kedua orang ini yang mempunyai banyak kesamaan dengan mereka, sehingga mereka merasa nyaman.
As simple as that.

Toh, pertemanan yang jujur adalah pertemanan yang bukan sekedar basa-basi.

Kenapa Banyak Cewek Naksir Cowok Bad Boy? Ndaktaulah

SEJAK sekitar lima purnama lalu, Pangeran Rama bisa kembali bernapas lega. Pikirannya tenteram seperti sediakala, setelah ia berhasil merebut kembali dan menyelamatkan Putri Sinta, kekasih tercinta dari Rahwana alias Sang Dasamuka. Barangkali cuma itu yang ada di benaknya, tanpa ngurusin politik internal antara Rahwana dan Wibisana, yang kemudian mengambil alih tampuk kekuasaan di kerajaan selatan Jambudwipa tersebut. Yang jelas, sepulangnya Rama dan Sinta, dan pasukannya ke Ayodhya, ritme kehidupan mereka kembali seperti sebelumnya. Anteng adem ayem.

Sampai di suatu petang, ketika Rama sedang santai habis makan malam.

Sinta: “Mas, di sini ngebosenin”

Rama: “Maksudnya?

Sinta: “Ya bosen. Membosankan

Rama: “Gimana… Gimana… Aku ndak ngerti”

Sinta: “Ya gimana mau ngerti, kamunya sendiri juga ngebosenin”

Rama: “Aku ngebosenin? Syukur-syukur kamu sudah aku selamatkan dari penculik. Ndak tau diuntung!

Sinta: “Ya justru itu. Mas Rahwana itu ternyata asyik orangnya. Heboh. Gayanya keren. Dia juga bisa macem-macem, mukanya aja ada sepuluh. Party-party animal gitu. Gegilaan seru-seruan bareng lah”

Rama: “Jadi, kamu sudah ngapa-ngapain sama dia? Cih!”

Sinta: “Malah enggak, ya kita seru-seruan aja. Lagian, waktu balik ke sini kan kamu sudah minta aku buktikan kesucian pake Agni Parikhsa. Hasilnya bagus-bagus aja, kan? Duh… Lagian bukan itu juga maksudku. Intinya, kamu orangnya ngebosenin, Mas

Rama: “Ya sudah, kalau kamu bilang begitu. Balik aja sono ke Alengka. Enggak usah di sini

Sinta: “Err… Kan Rahwananya sudah Mas bunuh

Rama: “Eh, iya juga sih. Tapi aku marah! Enggak terima aku dibanding-bandingkan sama raksasa itu!”

Sinta: “Kamu itu sebenarnya baik, Mas. Tapi ya gitu, saking baiknya sampai jadi malesin. Setelah peristiwa kemarin, rasanya kamu terlalu baik buat aku. Aku enggak bisa. Biar ini jadi keputusanku, Mas. Jaga diri baik-baik ya. Jangan lupa lepas soft lens kalau mau tidur ya…

Sinta pun kemudian pergi. Kemungkinan besar cari pacar lagi.

Setelah insiden penculikan, yang sebenarnya hanya pergi tapi lupa bawa colokan charger HP, pandangan Sinta terhadap kriteria cowok idamannya berubah. Enggak sekadar baik, ramah, santun, berbudaya, beretiket, pintar, berwajah ganteng, jago cari duit, penurut, lemah lembut dan sifat-sifat positif lainnya, Sinta mulai menyukai cowok yang asyik, spontan, gayanya keren, berani, lumayan nakal, enggak terlalu rapi-rapi banget, supel, banyak temannya, cerdik, serta punya tindik, dan bertato yang kelihatan tanpa harus buka baju. Entah sih, sekaligus dengan bonus bisa bikin yang enak-enak atau enggak. Sinta mulai lebih menyukai bad boy sebagai pacar.


Rasa-rasanya, sudah ada lusinan artikel tentang bad boy’s charm yang beredar selama ini. Mulai yang hanya sekadar lucu-lucuan, sampai membahas dari sisi psikologi. Tetapi sampai sekarang, pada kenyataannya masih banyak cewek yang cenderung lebih mudah naksir dan suka–menghindari penggunaan istilah “jatuh cinta” yang tidak tepat–dengan cowok-cowok bandel sebagai pacar, meskipun bolak balik dibikin mewek, sakit hati, dan lain-lain. Sampai akhirnya berujung pada tiga kemungkinan: menikah dengan si bad boy apa pun kondisinya kemudian, putus lalu tak lama kemudian menikah dengan cowok lain yang lebih kalem, putus dan memerlukan waktu pemulihan yang cukup lama.

Kalau begini, jadi siapa yang salah? Para cewek, para cowok bad boy, atau lingkungan mereka masing-masing? Yang bila mengacu pada artikel Gandrasta Senin kemarin, pertanyaan di atas bisa dibuat lebih gamblang. Siapa yang salah? Cewek yang naif atau sengaja cari drama hidup, atau memang si cowok yang bajingan? Silakan Anda jawab masing-masing, baik yang pernah atau tengah berada dalam kondisi seperti itu, atau jomblo yang pengin ikut berpartisipasi.

Saya tidak akan jawab pertanyaan tersebut di sini, bisa bias. Karena saya cowok, bukan berada di tengah-tengah. Namun barangkali beberapa poin berikut ini bisa mewakili.

Kenapa banyak cewek yang naksir cowok bad boy?

Telah banyak artikel yang memuat beragam spekulasi mengenai pertanyaan di atas. Bisa jadi beberapa di antaranya mewakili apa yang Anda yakini sampai saat ini. Beberapa di antaranya, cowok yang masuk kategori bad boy itu…

  • tampil lebih keren,
  • punya appeal atau daya tarik yang lebih kuat, termasuk dari gaya dan kemampuannya,
  • mudah terbayang-bayang dan diidamkan karena pesonanya,
  • dirasa mampu mendominasi atau memimpin,
  • punya sikap yang berkesan, atau paham bagaimana harus bersikap di hadapan cewek,
  • sosok yang berani, melanggar batas, aturan, dan sejenisnya,
  • kalau dipacari, dianggap bisa memberi bumbu atau warna dalam hidup
  • dan alasan lain-lain, silakan tambah sendiri.

Terus, apakah cowok yang bukan bad boy memiliki kualitas yang berkebalikan dengan hal-hal di atas? Mbuh. Yang pasti, sampai-sampai ada ungkapan: “bad boys and good girls always attract each other”. Kalau sudah begini, kuncinya adalah ketertarikan. Berarti, bad boy jauh lebih mampu menarik cewek ketimbang cowok kalem yang adem ayem.

Di sisi lain, karakter cowok bad boy itu kerap dirasa menantang untuk ditaklukkan. Apalagi kalau sang cowok adalah teman sekolah, atau mahasiswa, atau rekan sekantor yang paling cakep. Aura ke-bad-boy-annya mengundang untuk ditundukkan. Jika demikian, berarti memang dasar para cewek tersebut doyan tantangan, dan berjiwa kompetitif dibanding cewek-cewek lainnya. Harap dipahami, bila seorang cewek sudah bertekad untuk “menguasai” seorang cowok idaman, harus ngeuh dengan bermacam konsekuensi yang bisa dihadapi. Walau pada akhirnya ya susah juga, secara di zaman sekarang banyak yang baperan.

Kemudian, kenapa di atas disebut-sebut soal cewek naif? Sebab, hanya karena tertarik dengan seorang cowok bad boy, si cewek punya ekspektasi yang tinggi untuk bisa mendapatkannya, dan memperbaikinya. Membuat si bad boy jadi good boy hanya bagi dirinya seorang. Ya, memang tidak menutup kemungkinan ada saja yang berhasil, semua atas nama cinta. Hanya saja jangan lupa, bad boy, atau bahkan para cowok pada umumnya punya persepsi berbeda soal cinta.

Selain itu, ada juga cewek-cewek yang memang pengin sekadar pacaran dengan bad boy sebelum nantinya mereda seiring usia dan mulai berpikir tentang pernikahan. Kan jamak ditemui istilah: “bad boys are boyfriend materials, not husband materials.” Ehm, mungkin boleh-boleh saja kali ya. Selama tidak ada yang membohongi satu sama lain. Namanya juga masih muda ini. Namun bagaimanapun juga, cewek adalah makhluk dengan perasaan. Pasti lumayan susah untuk berdamai dengan kenangan sendiri.

Terakhir, lebih kasuistis lagi, sebagian cewek suka dengan bad boy karena para cowok-cowok itu mampu mendominasi, bisa dengan mudahnya melarang, memerintah, menyuruh, dan sebagainya tanpa daya memprotesnya. Ya kalau begini, berarti kembali ke pembawaan si cewek sendiri. Tidak mustahil sikap penurut itu menunjukkan bahwa cewek-cewek tersebut memang submissive, dan justru malah tidak suka dengan cowok baik-baik yang mudah dikuasai atau dikendalikan. Kecuali kalau sudah jadi suami, ketika para istri ditakuti, namun cuma bisa diomongkan sesama suami saat menongkrong bareng di bar. Jeleknya kalau kebiasaan ini terbawa sampai menikah. Ketika hubungan yang harusnya adil dan setara, malah bikin makan hati salah satunya. Sayangnya, karena sikap submissive itu pula, banyak yang enggak mau maupun enggak berani menuntut, atau minta pisah kalau memang sudah sampai tahap yang membahayakan.

Silakan dipikirkan.

Apakah para cowok harus jadi bad boy untuk bisa disukai?

Begini, beda loh antara cowok yang sengaja bersikap atau menjadi bad boy demi tujuan-tujuan tertentu, dengan cowok yang sebenarnya tidak sadar kalau dirinya bersikap bad boy dan enggak punya niat untuk jadi playboy. Jelas yang paling brengsek di antara keduanya adalah cowok bad boy yang jelas-jelas sadar akan sikapnya, dan justru malah mengeksploitasinya habis-habisan demi bisa menarik perhatian cewek-cewek.

Cowok yang menikmati perangainya sebagai bad boy dan hobi ngajak tidur sana sini, cenderung punya rasa percaya diri yang kuat. Mereka percaya diri mampu meredakan amarah pacarnya dengan sikapnya yang manis dan menggemaskan; mereka percaya diri tidak bakal ditinggalkan pacarnya meski sekampret apa pun kelakuannya; kalaupun ditinggalkan mereka percaya diri akan mudah mendapatkan pengganti yang baru. Apabila memang tidak ingin pacaran dulu namun tetap pengin bobo-bobo lucu, mereka juga percaya diri bisa dengan gampangnya menggaet partner ONS-an.

Nah ini dia, kalau kamu adalah cewek yang punya pacar seperti ini, adalah pilihan yang logis untuk mempertimbangkan putus. Sekarang, apa yang bikin kamu ragu? Angan-angan bahwa dia pasti akan berubah suatu saat nanti? Atau, kamunya yang terlalu malas untuk kembali memulai jalinan kepercayaan dan membangun hubungan emosional dengan orang baru? Atau bahkan kamu sendiri enggak tahu apa alasannya tetap bertahan dengan cowok model begitu? Yowes, hidup-hidupmu sendiri, ya ditanggungjawabi sendiri.

Memang kayaknya gampang banget kalimat-kalimat ini ditulis, apalagi oleh seorang cowok yang konon katanya selalu berpegangan pada logika. Ya memang pada dasarnya gampang kok. Perasaan itu adalah properti milik manusia, harusnya dikuasai, bukan malah berbalik menguasai. Paling apa sih yang dirasakan setelah putus? Kangen? Kesepian? Ingat dengan kenangan-kenangan lama? Sedih karena sudah tak bersama lagi? Enggak ada lawan peluk/cium/teman bobo? Lahir sendirian, nanti mati pun sendirian. Setidaknya, satu-satunya figur yang pernah jadi tempat kita bergantung adalah orang tua, bukan pacar. Apalagi masih pacar, belum juga resmi sebagai pasangan legal di mata hukum.

Itu kalau berpacaran dengan bad boy yang sengaja mempertahankan sikap brengseknya. Lah, kalau berpacaran dengan bad boy yang semata-mata cowok badung, kekanak-kanakan, dan mokong tambeng, enggak bisa diomongin, tapi enggak punya niat selingkuh main-main dengan kesetiaan, jelas beda cerita. Bisa-bisa kamu harus lebih galak atau lebih sabar dibanding mamanya sendiri. Paham aja kan maksudnya gimana. Cara mengatasinya pun gampang-gampang susah. Cukup beri “mainan” kegemarannya, dibolehin melakukan hobinya, dikasih makanan enak, atau ditawari manuver baru saat lagi nyampur. Pokoknya dibikin senang aja, pasti anteng.

Jikalau kamu memang benar-benar enggak tahan dengan bad boy, apa pun kategorinya, ya sudah, pilihannya jelas. Berpacaranlah atau menikahlah dengan cowok yang baik-baik banget. Tapi pastikan dulu, jangan sampai baiknya kebablasan. Bisa-bisa kamu enggak hanya menikah dengan dia, tapi dengan mama dan papanya lantaran dia terlalu berat ke orang tua ketimbang kamu.

Kesimpulannya, berpacaran dengan bad boy atau good boy menawarkan kelebihan, kekurangan, dan sensasinya masing-masing. Kalau cocok ya cocok, kalau enggak cocok ya enggak cocok. Mau diteruskan, silakan, enggak mau diteruskan, ya itu hak asasi, kan. Di sisi lain, cowok (yang punya daya tarik) pun berhadapan dengan pilihan untuk berpacaran dengan cewek anteng, cewek agresif, cewek playgirl, cewek dramatis, dan sebagainya. Sami mawon.

Ribet? Siapa suruh jadi manusia?

Anyway para jomblo, selamat menikmati kebebasan. Toh, kebanyakan orang belum bisa membedakan antara pacaran dan urusan basah-basahan doang. 😀

[]