Karena Kita Adalah Apa yang Tertera pada Senarai dalam Saku Celana

Max’s Father: Goddammit, Max! Get serious, for once! What are you going to DO with your life?
Max: Why is it always what will I do? “What will he do”, “What will he do,” “Oh, my god what will he do”, Do, do, do, do, do. Why isn’t the issue here who I am?
Uncle Teddy: Because, Maxwell, what you do defines who you are.
Max: No, Uncle Teddy. Who you are defines what you do. Right Jude?
Jude: Well, surely it’s not what you do, but the, uh… the way that you do it.

Accross the Universe – 2007 (Sony Pictures)

Siapakah kita?

Kita adalah apa yang dikatakan phone book tentang kita.

Kenapa phone book?

Karena phone book bisa secara terbuka dituliskan apa saja tanpa ada penghalang. Demi kemudahan mengingat dan mencari nama, demi penghormatan, demi kepraktisan dan ini terpenting demi dendam kesumat. Dapat juga muncul pada post-it yang tertempel di dinding kubikel meja kantor. Atau di balik nota. Atau halaman terakhir buku agenda.

Demi kemudahan karena paling mudah jika kita memiliki ingatan yang khas tentang seseorang. Misal, Roy-Linimasa. 081727xxxx atau Glenn-NASIAYAM, 0812129988xx. Ingatan bisa tentang pekerjaannya atau dimana kita bertemu.
Roy, deBRITTO ’98 081727xxxx
Sheque, PL ’94 081215030xx
Kirno-Indomie ext. 7930 0815108084xx
Irwan- Pepes Peda 021-75032xx

Demi penghormatan. Adalah penyematan nama karena pada dasarnya kita menghormati sosok mereka.
Ayang Bebeb 08152555xx (ya tahu sendirilah, pacar pujaan ati)
Menteri Keuangan 081666748xx (padahal ini no hape bini)
ATM Berjalan 081222345xx (padahal nomor telpon ayah sendiri)
Ini hanya kode nama yang kita pahami sendiri.

phonebook

Demi kepraktisan. Jauh lebih ringkas dan hanya kita yang paham dan ingat apa maksudnya. Jebakan dan blunder jika kita sendiri di lain waktu bingung sendiri siapa sebetulnya nama yang tertera pada gawai (hape) kita.
Kutil – 081802341xx (karena di leher kirinya ada kutil segede koin)
Codot – 0815469088xx (karena setiap ketemu bawaannya minta nyosor melulu)

Demi dendam kesumat.
Biasanya dilakukan untuk kesenangan, dendam dan hal-hal yang belum sempat terselesaikan. Mantan, Bos, Kakak kelas atau Mertua berpotensi besar masuk dalam kategori ini.
Beol Gaban 081201889xx (bos di kantor)
PejuSisa 085108877xx (senior di kantor yang kepo dan kerjaannya gosipin sobat sendiri)

Pencitraan boleh saja semaksimal mungkin. Siapa kita boleh jadi apa yang dipikirkan kita tentang kita sendiri. Namun, di lain sisi ada citra-citra lain yang tertanam dalam diri orang lain tentang kita. Coba cek sesekali atau tanyakan kepada orang tua, teman, pacar, pasangan, anak, sahabat, sebutan apa yang mereka simpan dalam phone book tentang nama kita.

Juga sebaliknya.
Coba cek phone book atau senarai kontak gawai kita. Adakah nama unik yang sengaja oleh kita disematkan kepada orang sekitar?

Pertanyaan Sabtu pagi ini dari saya.

Ingin terkenal atau dikenal?

Saya, memilih yang kedua. Kamu?

Advertisements

Sepotong Kue dari Je Ef We

Berada di tengah-tengah perhelatan mode akbar, sembari mengetik di salah satu komputer di media center, sesekali mengobrol dengan direktur komersil perusahaan tempat saya bekerja. Selebriti tua muda berlalu lalang, dari mulai Atiqah Hasiholan hingga Rima Melati. Di dalam ruangan show, sedang berjalan para model di atas runway berwarna putih bersih dengan pencahayaan juga putih bersih yang sangat terang, memastikan gambar yang tertangkap kamera terlihat sempurna. Kontras dengan runway dan lighting, semua yang ada di ruangan tersebut berwarna hitam, karena harus hilang sebagai latar belakang. Tidak boleh menonjol dan tidak boleh terlihat.

Sebentar sebentar mengetik, sebentar sebentar menanggapi obrolan. Sang direktur bercerita tentang awal kariernya di perusahaan ini. Bagaimana dia adalah rekrutmen profesional pertama di perusahaan keluarga. Dan sempat menerima tekanan dari karyawan yang lebih senior. Obrolan berpindah ke situasi perusahaan sekarang. Apakah kita sudah siap lompat ke dunia digital. Kami berpandangan dan bertukar mata tahu sama tahu. Ya sudahlah. Terdiam, saya mengambil lembar jadwal acara hari ini. Show masih berlangsung dan ruang tunggu sudah mulai penuh dengan bapak bapak berbatik dan ibu ibu berpakaian formal. Oh, pantas ternyata pertunjukan berikutnya milik satu yayasan yang setiap tahun melaksanakan show untuk amal.

Pak Direktur sudah pergi untuk berjalan mondar mandir lagi. Sementara saya masih di sini agak bingung harus menulis apa. Barusan saja ketua acara (yang mana saya wakil ketuanya) baru lewat, dengan muka galak. Kejar atau biar saja? Tetapi saya mengantuk. Walau dari tadi sudah menyeruput doppio espresso ditambah air panas hingga tiga perempat cangkir, tetap saja kurang mengganjal mata.

Seorang teman sejawat duduk di sebelah dan berkata, “Lei, lu harus memutuskan deh,” saya hanya melirik sambil menggumam tidak jelas,
“Apaan.”
“Lu mau melek apa merem?”
“Sial, kelihatan banget ya?”

Kemudian percakapan dilanjutkan dengan obrolan tentang acara yang teman saya pegang dan sudah berlalu, masalah masalah kecil yang tidak terlalu berarti tetapi ada. Anekdot anekdot sepanjang acara ini berlangsung terkadang membuat tertawa, terkadang alis mengerenyit mendengarnya. Setelah itu teman saya berlalu, saya kembali mengetik sampai saya dipanggil untuk membantu memeriksa tamu yang akan masuk ke show berikutnya. Begitu kurang lebih hidup saya seminggu ini. Maafkan jika kurang bermutu.

OCTOBER 24: A model walks the runway of Indonesia Fashion Forward featuring Spring Summer 2016 collection by I.K.Y.K during the Jakarta Fashion Week 2016 in Senayan City, Jakarta.

OCTOBER 24: A model walks the runway of Indonesia Fashion Forward featuring Spring Summer 2016 collection by I.K.Y.K during the Jakarta Fashion Week 2016 in Senayan City, Jakarta.

Atur Waktu

Ada satu rahasia umum tentang saya. Saking sudah dimaklumi sama teman-teman, sampai bukan jadi sebuah rahasia lagi.
Saya mempunyai time management atau pengaturan waktu yang jelek.
Dan, entah ini kebetulan atau tidak, saya sadar banget punya kelemahan ini.

Sejelek apa?
Kalau menurut saya yang mempunyai kelemahan ini, cukup jelek. Sangat jelek, malah.

Contohnya begini.
Saya sering datang meeting mepet, bahkan terlambat.
Kalau janjian dengan teman-teman, pasti saya yang terakhir datang.
Lantas, “penyakit” orang yang sedang berada dalam tekanan agar tidak terlalu telat datang adalah berbohong.
Misalnya, di Jakarta. Ketika ada janji temu di Blok M, saya akan bilang kalau saya sudah di Senayan. Padahal baru sampai di Bunderan HI.
Misalnya, di Singapura. Ketika ada janji di Bugis, sementara saya berangkat dari Clementi, saya akan bilang kalau sudah sampai Redhill. Padahal baru sampai Holland Village.
Artinya, berbohong tentang posisi yang seolah-olah sudah dekat dengan tempat tujuan. Padahal masih cukup jauh.

Sepertinya satu-satunya kegiatan yang hampir tidak pernah terlambat datang adalah menonton film di bioskop. Atau datang konser. Atau kegiatan lain bersifat eventual yang memerlukan apresiasi dan konsentrasi penuh kita. Mungkin penjelasannya kurang mengena, tapi bisa dibayangkan, kira-kira jenis kegiatan apa yang biasanya membuat kita cenderung lebih taat waktu.

time-management

Tentu saja ketaatan waktu ini bergantung pada kebiasaan. Kebiasaan bisa muncul dari didikan dan lingkungan sekitar. Kalau sehari-hari naik angkutan umum, di mana tertulis jelas kendaraannya datang jam berapa, lalu menjelang datang ada tulisan “arriving in 2 minutes”, misalnya, dan kita terpapar dengan pemandangan seperti itu setiap hari, mau tidak mau alam bawah sadar kita sudah menggerakkan kita agar tidak melewatkan angkutan ini. Lalu ia akan menular kepada aktivitas lain yang memerlukan kehadiran kita.
Idealnya begitu.

Demikian juga dengan bagaimana kita dididik untuk menghargai waktu. Bisa lewat media agama, misalnya agar sholat lima waktu atau tidak alpa ke gereja setiap hari Minggu. Atau lewat media lain, seperti bangun pagi agar tidak lupa sarapan.

Namun ketika kita menginjak dewasa, tentu saja tidak ada lagi yang membimbing. Semuanya tergantung kita sendiri. Termasuk cara menghargai waktu. Soalnya, dibanding uang yang bisa dicari lagi, waktu tidak bisa kembali. Sekali terbuang ya terbuang selamanya.
Segala hasil didikan di masa lampau hanya akan membekas saja. Exposure lingkungan sekitar hanya sekedar mempengaruhi. Keputusan untuk hadir tepat waktu atau mengulur waktu, semuanya kembali ke kita sendiri.

24960207-Time-management-Vector-modern-illustration-in-flat-style-with-male-hand-holding-stopwatch-Stock-Vector

Dalam kehidupan nyata, kalimat-kalimat di atas sedang saya upayakan untuk diterjemahkan seperti ini.
Misalnya saya akan menonton film Bridge of Spies di bioskop jam 7:15 malam.
Sementara saat saya merencanakan nonton film tersebut, saya masih berkutat dengan pekerjaan saya sebelum makan siang.
Saya coba menghitung mundur:
– nonton jam 7:15
– kayaknya beli tiketnya nanti aja deh, 15 menit sebelumnya. Siapa tahu tiba-tiba gak jadi ‘kan Berarti jam 7 malam harus sudah di bioskop.
– hmmm, kayanya sebelum nonton, olahraga dulu masih bisa. Tempat olahraganya memang jadi satu dengan gedung bioskop sih. Tapi kan gak berarti tinggal menclok aja. Perlu jalan kaki (ini yang saya lupa! Kita perlu menghitung waktu berjalan dari satu tempat ke tempat lain!) lho. Ya let’s say jalan kaki 10 menit. Berarti jam 6:50 sudah keluar dari tempat olahraga.
– kalo jam 7 kurang sudah keluar dari tempat olahraga, berarti ganti baju dan mandi sebelum itu dong? Jam-jam abis Maghrib kayanya gak perlu antri deh. Ya udah, 15 menit. Berarti udah siap-siap mandi dari jam 6:35. Ya jam 6:30 lah.
– olahraga ngapain ya nanti? Lari dan light exercise aja deh. Dua jam cukup. Berarti jam 4:30 udah mulai olahraga. Jam 4:15 nyampe di tempat buat ganti baju dan sepatu.
– OMG! Jam 4:15 nyampe tempat olahraga? Dari kantor jam berapa? Itu kan jam macet! Berarti pesen ojek jam 3:30 deh.
– OMG, gue cuma punya waktu sampe jam 3 sore ngelarin kerjaan!

Skenario di atas pernah berhasil saya lakukan. Pernah gagal juga. Rasionya masih seimbang antara yang gagal dan yang sukses.
Yang jelas, jangan lupakan faktor-faktor penambah kegiatan saat mengatur waktu. Perhatikan berapa lama yang diperlukan hanya “sekedar” untuk berjalan, memesan dan menunggu taksi atau ojek, nge-check pesan masuk di ponsel, dan lain-lain. Semua terlihat sepele, terlihat kecil. Tapi, namanya juga kecil-kecil menjadi bukit. Sejumlah hitungan detik dan menit yang terlihat remeh temeh, bisa menjadi besar saat diakumulasi. Tahu-tahu, kita terbirit-birit berlari. Mengejar angkutan, memasuki bioskop, menghabiskan makanan.

When it comes to managing time, all we can do is just trying, and always trying, baby. Can we?

timeout

Pekan Penuh Kenangan

SEBENARNYA, ada banyak hal yang dapat dan ingin dibagi dalam piket Linimasa hari ini. Tapi seperti biasa, saking banyaknya, sampai-sampai bingung dan blank mau menyampaikan apa, serta dengan cara apa. Jadi, boro-boro deh mikirin soal faedah dan hikmah yang bisa dipetik (jambu kali… dipetik).

Akan tetapi, setidaknya ada tiga hal yang patut saya syukuri secara khusus dalam sepekan terakhir. Pertama, Samarinda akhirnya diguyur hujan deras, yang walaupun dibarengi dengan pemadaman listrik dan beberapa efek samping tidak menyenangkan lainnya, namun tetap begitu menggembirakan setelah kekeringan selama sekitar tiga bulan.

Kekeringan yang sampai bikin air laut masuk (intrusi) ke Sungai Mahakam; keran mampet karena PDAM menghentikan sementara produksi air bersih, apalagi sumur-sumur pun tak lagi bisa diandalkan. Tak kalah penting, hujan deras diharapkan bisa mengatasi kabut asap yang mengganggu selama ini. Meski di sisi lain, banjir mulai kembali terjadi di mana-mana. Mudah-mudahan, hujan deras serupa juga jatuh di provinsi lain pulau Kalimantan dan Sumatera.

Kedua, ada banyak pengalaman baru yang meninggalkan kesan menarik. Dari bagaimana menjalani hidup yang penuh agenda tanpa perangkat telekomunikasi; jadi susah menghubungi dan dihubungi padahal banyak janji. Mengikuti Sunday service atau kebaktian sebuah gereja progresif yang sangat menyenangkan, dan–menurut saya–berhasil menjembatani jurang kesenjangan antara kaum muda dan spiritualitas modern dengan persepsi yang universal. Serta merasakan berada dalam lingkar positif orang-orang yang berusia lebih muda, namun memiliki kaliber yang sudah luar biasa. Sedikit banyaknya, kali-kali kehebatannya bisa nyiprat. Lumayan.

Perkara menjalani hidup tanpa perangkat telekomunikasi, jelas bukan kejadian yang diinginkan. Bukan pula bermaksud untuk menjauhkan diri dari dunia luar maupun pengalihan digital seperti kayak sedang menyepi. Hape satu-satunya kecemplung. Ya sudah, wasalam. Kalau sudah begini, mau tidak mau harus bisa sintas dalam kehidupan sosial dengan segala keterbatasan dan upaya pinjam-meminjam.

Berbeda halnya dengan pengalaman menjadi bagian dari jemaat ibadah pagi yang terselenggara sedemikian rupa, dan berlangsung hanya sekitar 90 menit secara tepat waktu. Sebagai seorang pembelajar Buddhisme ortodoks, it was an awakening experience. Sangat terasa bahwa kebaktian tersebut benar-benar humanity friendly, dan anak muda banget terkait konsep dan fokus perhatiannya.

Dimulai dari hal-hal fana, seperti desain dan tipografi yang digunakan dalam berbagai media penunjang kebaktian, lagu-lagu pujian yang dinaikkan, sampai khotbah yang disampaikan. Karena itu, tak heran bila aula lokasi kebaktian selalu penuh setiap sesinya. Ribuan orang selalu berusaha untuk tidak ketinggalan, kendati boleh dibilang hampir tidak ada ritual kaku yang dijalankan kala itu. Sampai-sampai agak merasa ironis pada diri sendiri, lantaran untuk pertama kalinya berlari memburu tempat duduk kebaktian. Tindakan yang tidak pernah dilakukan kalau ke vihara selama ini.

Berikutnya, kita pasti sama-sama setuju bahwa ide kreatif dan inspirasi positif tersebar di mana-mana dan bisa ada pada siapa saja. Percaya atau tidak, the positivity and inspirations overwhelmed me. Terlampau banyak aura positif dan pendorong semangat yang ditularkan dari orang-orang tersebut. Sebuah pengingat yang baik untuk terus belajar dan berusaha meningkatkan kemampuan. Kalau sudah begini, urusan yang tersisa hanyalah antara saya dan diri saya sendiri. Siap lebih maju, atau tetap ingin merasa seperti remah-remah rengginang.

Ketiga, akhirnya berhasil bertemu dengan hampir semua kakak-kakak penulis Linimasa, Jumat lalu. Hampir, lantaran dari delapan, masih kurang satu. Entah (ya sudahlah ya…), kapan bisa ketemunya.

Serunya terasa macam tweet-ups seperti beberapa tahun lalu. The real tweet-ups. Ketika tweets tergantikan dengan obrolan, avatars tergantikan dengan paras, emoticons tergantikan dengan ekspresi wajah. Seru, bisa bertatap muka dan berinteraksi langsung dengan orang-orang yang dikagumi.

1efe600a99a4d69d3e7d27ffc29aba33

Lengkap dengan barbuk-nya. :p

Terima kasih untuk semua pengalaman ini. 🙂

Oh ya, selamat Hari Sumpah Pemuda bagi Anda yang merayakan.

Sumpah, jangan jadi sampah.

[]

Video Musik Terbaik Sejagat Raya

“Hallo Rick?! Baru denger lagu Hurt versi Cash.. Dengerin ya.. pokoknya gua gak mau tau. Itu lagu harus gua yang bikin musik videonya. Gratis! Jangan kemana-mana! Gw ke studio sekarang!” Mark langsung menutup telpon. Rick hanya bisa melongo. Mark begitu emosional, gelisah, kalut sekaligus sangat berapi-api setelah mendengar lagu tersebut. Mark lalu menyalakan Lucky Strike sambil memasukan dompet ke belakang saku celana 501-nya yang sudah lusuh. Kunci mobil yang tergeletak di meja makan pun segera dia sambar. Tergesa-gesa dia masuk ke dalam mobil Ford Mustang merahnya. Sempat terdiam sejenak walaupun mobil sudah menyala. Dia menghela napas panjang. Lalu menginjak gas dalam-dalam meninggalkan kopi yang baru setengahnya dicicip di atas meja makan. Masih hangat. Uapnya masih mengepul.


Akhir tahun 2002 album terakhir dari Johnny Cash yang berjudul American Recording IV: The Man Comes Around baru saja rilis. Mark adalah satu orang pertama yang mendengarkan album tersebut karena kedekatannya dengan Rick sebagai produser dari album tersebut. Mark juga lah yang banyak membuat beberapa video musik dari Nine Inch Nails. Closer, The Perfect Drug adalah dua di antaranya. Ada kedekatan emosional kenapa dia begitu ngotot ingin membuat video musik untuk lagu Hurt.

johnnycash6

Dia penggemar Nine Inch Nails sekaligus juga pengagum Johnny Cash. Sudah lama dia ingin sekali membuat video musik buat Johnny Cash. Namun waktu belum berpihak kepadanya. Setelah mendengar lagu Hurt versi Johnny Cash di kepalanya langsung bertumpukan ide dan gagasan apa yang akan dia perbuat dengan musik videonya. Universal sudah setuju. Tapi dia harus berpacu dengan waktu. Kesehatan Johnny Cash memburuk. Dan keengganannya untuk bepergian jarak jauh. Mark hanya punya hitungan hari. Mark ingin memotretkan seluruh karir keseluruhan karir Johnny Cash dari tahun 1950an sampai era millennium ke dalam satu musik video berdurasi kurang dari empat menit. Mark merasa Hurt adalah lagu yang sangat mewakili Johnny Cash. Pikirannya langsung melayang ke Nashville, The House of Cash!


Trent Reznor, frontman Nine Inch Nails sedang di studio ketika menerima kiriman video dari Mark Romanek. Dia sedang bersama David Fincher dan baru saja akan mengerjakan proyeknya. “Gimana kalo kita liat video musik ini dulu? Cuma empat menit. Rick Rubin maksa nih suruh cepet-cepet liat video ini.” Trent tidak meminta persetujuan dari David Fincher dan langsung nyetel video tersebut. Semenit setelah video itu usai mereka berdua terdiam. Yang ada hanya Trent Reznor yang berurai air mata sambil lirih berkata, “Holy shit, David! This is not my song anymore..” David Fincher berkaca-kaca. Lalu cuma dia berbisik “Oh well, Trent.. I think we need a beer,” ujarnya sambil berjalan lunglai menuju kulkas.

June Carter meninggal empat bulan setelah video ini rampung. Serangan jantung. Johnny Cash menyusul tiga bulan kemudian. Kehilangan June Carter memperburuk kondisi kesehatannya. Dia tidak tahan hidup berlama-lama tanpa June disisinya.

Shinta

Masih ada tiga bangku kosong di baris ke empat. Aku dan seorang perempuan bergegas menduduki tempat itu bersebelahan. Kami berdua ketinggalan pembukaan Guru Wali Kelas soal jadwal pengayaan menghadapi ujian akhir kelas 6 SD.

Pembagian rapor ujian tengah semester ini lumayan membosankan kalau Mamanya Chelsea ndak duduk di sebelahku. Ia mengambil alih perhatian dari guru walikelas yang sibuk membuat biaya daftar ulang Rp. 50 juta seolah masuk akal untuk orangtua murid. Diantara gemuruh kaget dan protes seisi ruangan, Mamanya Chelsea terus bercerita soal keluarga besarnya.

image

Untuk perempuan berumur 39 tahun, Shinta, cukup cantik. Ibu dua anak ini mengenakan kemeja panjang viscose dan celana linen yang sama putih. Kerudung corak koral berbahan katun menutup rapi kepala hingga menjulur ke dada. Menenteng Louis Vuitton Speedy 30 Damier Ebene Canvas dengan sedikit celah untuk kepala botol Aqua 330ml. Semerbak Dior Poison masih berada di tahap middle notes. Artinya, ndak lebih dari 30 menit lalu ia menyemprotkan parfum itu. Mungkin di mobil saat perjalanan ke Sekolah. Anak sulung Shinta, Chelsea, sekelas dengan anakku Sekar. Info lain sepanjang pidatonya di bangku sebelah antara lain:

Chelsea susah bangun pagi. Hal ini dialami hampir semua anak kelas 6 SD. Kemungkinan besar, 30% dari mereka pergi sekolah hanya dengan sikat gigi atau berkumur. Suaminya, pernah harus pesan taxi karena ada meeting di kantor pusat Bank Mandiri. Sementara mobil mesti antar sekolah. Chelsea bisa seharian nonton Youtube. Selama manusia terkoneksi dengan internet, hal ini susah dihindari. Shinta cuma membolehlan Chelsea pegang ponsel di akhir pekan karena suatu hari tagihan kartu kredit ayahnya meledak akibat ratusan transaksi apple store. Dan lainnya. Dari soal Kacang Dua Kelinci hingga kabut asap di Riau. Chelsea dan papa Ardi (Suami Shinta) sekarang menunggu di Mall Ciputra. Ndak jauh dari Sekolah.

Akhirnya rapor anak kami dibagikan. Shinta lebih pendiam kali ini. Perhatiannya terpecah antara lanjut cerita dan mendengarkan panggilan guru wali kelas. Setelah rapor di tangan. Ia langsung buka halaman nilai-nilai dan membahasnya satu-satu. Membandingkan nilai UTS Chelsea dan Sekar. Menunjuk-nunjuk catatan wali kelas di buku rapor. Komentar panjang lebar. Buatku, keakraban kami sudah masuk botol NuGreen Tea Low Sugar ke dua dengan sisa seperempat dari penuh. Lalu, ia tunjuk kertas rapor Sekar.

“Wah harus diperbaiki nih nilainya.”
“Iya. Mudah-mudahan UAS nanti lebih bagus.”
“Di rumah harus diajarin beragama juga anaknya. Jadi nilai moralnya bisa meningkat.”
“Nilai moral? Ini nilai praktik agama lho…”
“Ya sama aja!”
“Oh gituu… Eh iya, aku penasaran. Papanya Chelsea namanya Ardi kan ya?”
“Iya bener.”
“Masih kerja di Mandiri?”
“Masih. Kenapa?”
“Ndak apa-apa. Aku cuma inget aja, Ardi ndak pernah pake kondom…”

Haze Craze

Hallo…

How are you, darl…

Aiyooo, I can not breath lah now, weather so bad….

Eh why why?

The haze laaah… From your country…

Ah so sorry for you. What do you do about it?

Can not do anything looor… Stuck at home. Kids can not go to school. You?

I am home, doing work.

Aiyo do something laaah, can not tahan anymore.

I waaant, but do not know what to do.

Yell on social media, perhaps?

Done already. 

Your President quiet?

Apparently he is doing something.

But the haze is getting worse, you see.

I heard about it.

You heard??? I experience it!!!

Hey, you ask your government to do something also.

How can I? They said many of those companies who burn the forrest are from my country.

That’s what I heard also…

So I guess both of our Leaders are discussing now lor..

And babies are dying while they are discussing.

Take so looong, more than two months already, still can not fix it.

Hayah I also dunno what to do. 

I have no idea what’s going on, actually.

Neither do I.

All I know I am suffocated now…

And so does people in Sumatra and Kalimantan 

Ya ya, I read babies and elderly people are dying. Poor thing…

And orang utan also… 

But you in Jakarta, ok maaah…

Well, the sky is grey…

But still can breath…

True that… But you know…

What?

You know the feeling of helpless? It’s like I wanna do something but dunno what to do. 

Hmmm…

And you read all the situation is getting worse everyday. Every single day, on social media. Twitter lah, Facebook lah, Path lah, all the news are so bad.

Teruk hoh…

You suffocate because of the haze, I suffocate because of feeling helpless.

You seriously think we can not do anything?

You tell me.

You the creative mind, maybe can think of something?

If I know what to do, don’t you think I might have done it?

Your country social media so strong, tweet lah!

Done already…

Gather all your friends to protest to the government?

Some friends I know do that already.

Or maybe, should stop buying products from those companies?

Can, but not going to stop the fire now, right?

True, but that’s the best we can do, right?

Some activist I know are already talking to the President.

And?

They give up.

I also.

PST

 

JAKARTA ENAK

Baiklah. Kali ini saya lagi ndak ingin bicara soal hati. Saatnya bicara soal kaki. Iya, kaki.

Kaki gunanya selain menendang adik kelas saat SMA, menjegal teman sejawat, satu-satunya organ vital saat lari dari  segala kewajiban, juga tentu saja dipergunakan untuk berjalan santai keliling kota.

Kaki satu-satunya gawai anugrah tuhan yang diberikan kepada kita agar kita bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya sesuai kehendak kita. Oleh karena itu kita harus sering-sering bepergian. Jika tidak, Tuhan bisa murka. Bukan kaki yang dikasih, melainkan akar.

Lalu, sejak Negeri Api menjajah umat manusia, segalanya berubah. Masalah mulai timbul ketika kebutuhan manusia untuk selalu pergi tidak diimbangi kemampuan fisik. Kita akhirnya bisa pergi dengan perahu. Kita boleh terbang dengan pesawat. Kita bisa ngebut dengan mobil. Bisa bergaya dengan sepeda.

penulis, sebagai orang pertama indonesia yang menggagas "Jakarta Enak Dengan Sepeda" dan Gerakan #Panoselfie

penulis, sebagai orang pertama indonesia yang menggagas “Jakarta Enak Dengan Sepeda” dan Gerakan #Panoselfie

Muncul motif ekonomi. Ndak semua harus kita miliki. Banyak manusia dengan otak cenes mulai berusaha cari cuan. Di Amerika abad 19  jalur kereta api jadi pendorong laju ekonomi. Masyarakat sisi pantai timur mulai beranjak pergi ke daratan barat. Mencari penghidupan lebih baik.

Di Indonesia, biar menjajah nusantara bisa dengan leluasa, maka dibuatlah jalan tol gratis dari Anyer menuju Panarukan oleh Daendles. Maka mobil, andong, motor akhirnya bisa menelusuri lekuk lanskap pulau Jawa. Kemudian hari muncul Bus AKAP yang membolehkan kita naik dengan gratis, tapi bayar saat mau turun. Dari Jakarta menuju Surabaya boleh juga naik kereta.

Intinya: Moda transportasi adalah alat yang sungguh pital. Ndak percaya, coba tanya Mak Erot.

Baiklah.

Saat kita sibuk dengan asap, sebagian lain sibuk dengan aplikasi teknologi internet. Ada gojek, ada uber, ada grab-bike, ada macam-macam lainnya.  Menjadi penting karena sepertinya pemerintah selalu ketingalan jaman soal beginian.

Boro-boro berpikir menata ulang aturan main transportasi. Masih banyak bus yang usianya sepantaran itik Puspa dan masih beroperasi setiap hari. Hasilnya, asap hitam dan kandungan emisi karbon yang jauh dari ambang batas. Apa susahnya sih menekan operator jasa transportasi untuk wajib mengganti mobilnya setiap 6-10 tahun sekali?

Lalu apa tindakan otoritas transportasi darat saat tahu banyak bus dan kopaja yang seenak titit menurunkan penumpang di pinggir jalan dan mengopernya ke bus atau kopaja di belakangnya.

Juga soal taxi yang tak paham jalan. Atau argo kuda.

Ketika Uber dan Gojek menawarkan sesuatu yang lebih pasti. lebih nyaman. lebih murah, semuanya gelagapan. Semuanya kebakaran jembut. Kecuali konsumen. Mereka diuntungkan.

Saya sedikit mengamati obrolan singkat di path yang bicarakan soal ini.

ngambil dari akun path olia maznyah

ngambil dari akun path olia maznyah

Saya hindari kata Pemerintah. Saya akan coba selalu menyebut kata pengelola negara saja.

Pengelola negara memang sejak lahir harus ketinggalan zaman. karena produk yang dihasilkan adalah ketentuan. Mereka harus mengamati, meresapi dan akhirnya ejakulasi dengan mengeluarkan policy.  Masalahnya adalah, pengelola negara lahir dari mana. jaman dahulu pengelola negara itu lahir dari kekuasaan yang sudah ada. Status quo. Melanggengkan kuasa. Jaman sekarang?

Pengelola negara jaman sekarang itu semuanya titipan pengusaha swasta, para donatur pemerintahan Jokowi. Boleh dari parpol, boleh juga dari pemilik modal. Ya sudahlah ya. Asal ndak jelek-jelek amat kita terima dulu aja. Mereka ada di posisi pimpinan. Sedangkan di sisi bawahan, para highlander birokrat yang dari muda sampai setengah tua jadi PNS ya gitu gitu aja. Ndak banyak perubahan yang berarti. Mereka masih dengan gaya baca koran, main candy crush di hape (dulu di komputer desktop), atau mabal ke tanah abang cari cemilan dan kerudung. Untuk bapak-bapaknya masih bicara batu cincin, dan awewe. Ndak ada lagi yang lain.

Tiba-tiba, pengusaha takzi merasa terancam. Mereka merasa sudah banyak ngasih sesuatu buat Kepala Dinas, Pak menteri dan ntah siapa lagi. makanya ketika ada uber, yang boleh gratis saat promo dan susah dipalak karena ndak jelas rimbanya, maka wajar mereka kebakaran bulu ketiak. Enak aja! Gua banyak kasih sana-sini, situ cuma modal aplikasi di hape cina, udah bisa cuan banyak. Gitu kira-kira.

Baiklah. Biar sama-sama enak. Biar Jakarta enak (sengaja nyebut jakarta dulu aja, mau kota lain ntar teralu melebar masalahnya), maka seharusnya kita banyak belajar dari negara lain yang juga memiliki masalah yang sama.
Singapura sudah bikin ketentuan. Walau baru akan berlaku pada Bulan Desember tahun ini (penyesuaian 3 bulan sejak peraturan diterbitkan – September 2015),  setidaknya Otoritas Transportasi darat Singapura  membuat  aturan main yang jelas dengan poros utama demi kepentingan konsumen. Ada tiga hal pokok utama:

  1. Semua penyelenggara transportasi harus terdaftar dan mendaftarkan diri ke dinas perhubungan darat.
  2. Atas pendaftaran tersebut, otoritas memiliki kewenangan dan daya paksa agar penyelenggara transportasi melaporkan operasional perusahaan dan sewaktu-waktu otorits dapat memeriksa perusahaan, termasuk melakukan pemeriksaan keuangan, hubungan kontrak pekerja, agen dan perkiraan perhitungan pengenaan tarif.
  3. Otoritas akan membuat perturan khusus yang harus dipatuhi oleh seluruh penyelenggara jasa takzi-takzi, baik konvensional maupun berbasis aplikasi.

Begitu. Jika Singapura sudah bikin, bagaimana dengan kita. Ya itu tadi. Pengelola negara kita mah selow beibeh. Kecuali penyokongnya teriak. Misal, Blue bird merasa terancam dengan uber. Ekspress juga. Tadinya mereka bertengkar, sekarang agak bersatu karena sudah punya musuh bersama yaitu Uber.

Pengelola negara jangan terjebak dalam pikiran sempit plat hitam dan plat kuning. Apa untungnya bagi pendapatan negara. Bepikirlah secara dewasa. Jika memang uber lebih menguntungkan masyarakat dari sisi ekonomis, tinggal bagaimana mekanisme perlindungan konsumen. Bagaimana caranya mengawasi seluruh plat hitam ini.  Bagaimana mekanisme pengaduan konsumen jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Sudah selayaknya pengelola negara berpegangan pada komitmen pengelola jasa transpostasi terhadap “service level” yang dijanjikan kepada konsumen. Bukan berapa banyak jatah amplopan bulanan. Bukan berapa jatah saham jika sudah go-public.

Beberapa pihak selalu mensyaratkan tujuh hal untuk beroperasinya perusahaan taksi sebagai berikut:

  1. harus berbadan hukum indonesia
  2. berdomisili jelas
  3. mekanisme pemesanan
  4. jumlah minimal kendaraan
  5. ketersedian pool untuk pelayanan dan pemeliharaan
  6. uji kelayakan kendaraan
  7. ijin setiap kendaraan untuk beroperasi

Sebetulnya ketujuh syarat tersebut dapat lebih dikerucutkan menjadi cukup kewajiban terdaftar sebagai badan usaha di indonesia dan kantor pengaduan, demi pajak dan pertanggungjawaban hukum. Selain itu perlu penakanan pada  syarat pelayanan prima (SLA dan QoS). Soal mekanisme pemesanan, jumlah kendaraan, pool dan kelayakan kendaraan, biar itu menjadi selera pasar. Konsumen yang akan menilai, termasuk perbandingan harga dengan layanan.

Bagaimana? Yok lah buat Jakarta lebih enak.

Jakarta enak milik kita bersama.

Ada pendapat? ayo kita berdiskusi.

Muahhhh!

Mencari Koneksi

Sudah lama sekali sejak terakhir kali saya jatuh cinta. Sampai lupa rasanya. Lupa apa yang membuat rasa tertarik pertama kali, sehingga ingin tahu lebih banyak. Lupa rasanya terobsesi ingin stalking orang ini hingga semua halaman yang keluar ketika Google namanya saya buka satu per satu. Siapa tahu bisa dapat informasi baru tentang dia. Lupa betapa serunya membaca satu per satu post di blog-nya hanya untuk mengerti lebih dalam lagi tentang kepribadiannya. Sungguh lupa perasaan itu saking lamanya.

Apa sih, yang membuat kita tercetus rasa tertarik ke seseorang? Seperti yang saya pernah tulis, kalau saya sering menanyakan mengenai suka atau tidaknya dia terhadap film horor. Tetapi toh, bukan berarti semua fans film horor saya merasa cocok, bahkan akrab. Apalagi ketika di luar dari subyek itu kita seperti kehabisan pembicaraan. Ternyata dia referensi bacaannya mirip dengan kita? Bukan jaminan saja, siapa tahu dia cuma punya, tetapi belum membaca lewat dari halaman dedikasi. Bahkan ketika membaca saya suka heran kalau dua orang bisa memiliki cara pandang yang sangat berbeda mengenai sebuah buku – padahal fiksi sederhana. Contohnya serial Harry Potter. Jadi apa, dong?

large

Sepertinya jika ditanyakan setiap orang pasti memiliki jawaban berbeda. Bahkan bisa jadi satu orang, per kasus juga berbeda jawabannya. “Karena dia cakep, kak.” atau tidak jarang mendengar, karena dia yang paling gigih mendekati dan tidak mudah menyerah. Atau seperti partner saya yang mengatakan ketertarikannya pertama ke saya karena saya menunjukkan ketertarikannya pada dia. Jadi, mana duluan, ayam atau telur?

Kalau anak muda (bukan seperti saya yang anak tua) boleh memiliki kriteria ini itu, yang ketika saya masih cukup belia malah agak sinis memandangnya. Tetapi begitu mencapai usia ini kok saya malah berpikir kalau memiliki kriteria itu masuk akal dan akan memudahkan proses screening. Tentunya dengan satu syarat penting: jangan sampai jatuh cinta. Begitu sudah naksir, namanya kriteria dan proses seleksi bubar semua. Tetapi siapa yang bisa menyalahkan kalau saya romantis? Bahkan di usia segini pun, saya masih ingin merasakan lagi jatuh cinta. Mungkin kali ini tidak buta, melek saja, karena semakin tua, semakin banyak pertimbangan. Masih ingin merasakan rasa ingin bercerita yang begitu deras, sehingga kita harus meneleponnya dan berbicara bermenit-menit tanpa ada dead air. Atau sebaliknya, dengan senang hati memandang wajahnya dan mendengarkan dia bercerita dengan senyum di mulut. Rasa ingin membagi senang dan suka. Ingin menyentuh kulitnya. Ingin membuat resensi verbal dari buku yang baru kita baca atau film yang baru kita tonton dan mendengar pendapat dia soal subyek itu. Masih banyak keinginan yang sulit terhapus walau di usia pertengahan ini (middle age, maksudnya).

Salahkan film Disney Princess? Tetapi saya tidak ingin diselamatkan, saya bisa menyelamatkan diri saya sendiri, anak saya dan mungkin beberapa orang lagi. Terkadang saya hanya ingin ditemani, dengan seseorang yang spesifik, tetapi juga umum. Maaf kalau jadi curhat.A-Single-Man-scene-a-single-man-22583324-604-327

Membaca Tulisan

Ada satu kebiasaan yang saya lakukan dari kecil sampai kuliah.
Saya suka membaca keras-keras tulisan yang saya baca. Terutama dalam bahasa Inggris.
Saat saya sedang membaca sebuah tulisan, biasanya di koran atau di majalah, saya suka membacanya dengan lantang. Seolah-olah saya ini penyiar.

Kebiasaan ini tidak dimulai atas suruhan siapa-siapa. Guru les bahasa Inggris waktu kecil dulu cuma menyarankan agar saya banyak membaca. Tentu saja bacaan buku bahasa Inggris. Supaya saya tidak salah pronunciation atau mengeja, membacanya tidak boleh dalam hati. Harus dilafalkan. Kalau terdengar salah, langsung dikoreksi.

Ternyata kebiasaan ini masih berlanjut. Terutama di saat sudah mulai nyaman dengan ejaan yang benar. Kalaupun ada kata yang belum familiar, tinggal buka kamus. Apalagi jaman sekarang, tinggal buka Google Translate. Kalau belum tahu cara mengucapkan kata, tinggal tekan tombol volume. Lalu terdengar suara pengucapan kata yang benar.

nlyl_reading_man_with_glasses

Toh masih menyenangkan juga saat kita bisa membaca tulisan sambil mendengarkan suara kita sendiri. Seolah-olah tulisan itu menjadi semakin personal sifatnya. Tulisan yang ditulis orang lain akan terasa lebih dekat dengan kita. Tulisan yang kita tulis, terutama untuk orang lain, akan menjadi lebih terasa nyata.

Aha!

Berapa banyak dari kita yang sadar akan pentingnya poin terakhir di atas?

Seorang teman pernah berkata waktu kami baru masuk dunia kerja, “Sadar nggak, kalau separuh hidup kita nanti akan dihabiskan dengan membuat draft email?”

Saya masih belum ngeh. “Hah? Maksudnya?”

“Lihat saja nanti. Waktu sudah kerja, satu hari bisa kita habiskan hanya untuk menulis email. Make sure bahwa orang yang terima email itu sepaham sama kita. Itu ‘kan susah. Soalnya bahasa tulisan. Bahasa tulisan yang formal lagi. Jadi ya harus politically correct, tapi di sisi lain, harus bisa mudah dipahami.”

teacher-clip-art-646132

Belasan tahun kemudian, saya cukup melihat folder “Drafts” di salah satu mailbox, dan menatap tumpukan rancangan email. Ada beberapa yang tak pernah terkirim, karena sudah lewat dari tenggat waktu. Ada beberapa yang belum terkirim, karena belum sreg dengan isinya.

Berkomunikasi lewat bahasa tulisan itu tidak pernah gampang. Membuat orang lain paham dengan maksud kita tanpa kehadiran kita, tidaklah mudah. Tulisan kita sejatinya membuat orang lain bisa membayangkan seolah-olah kita yang sedang berbicara langsung.

Makanya, saya tersenyum membaca tulisan Gandrasta hari Senin kemarin. Tulisan mempunyai nyawa sendiri. Ada senses atau panca indra yang tak terlihat, tapi dapat terbaca di setiap tulisan. Buktinya? Coba baca dengan lantang tulisan yang Anda temui. Kalau Anda bisa membaca dengan lancar, berarti tulisan itu bernyawa. Lain halnya kalau Anda harus membaca laporan sidang atau buku panduan mesin gergaji. Tulisannya memang sengaja dibuat kaku. Meskipun begitu, dia harus memberi petunjuk. Tetap saja tulisan yang bersifat guidance itu harus menuntun pembacanya untuk mengerjakan apa yang harus dikerjakan.

Saya teringat lagi dengan celotehan Ivan Lanin di Twitter beberapa hari lalu. Kurang lebih dia berkata, kalau kita sedang stuck dalam menulis, coba baca lagi apa yang sudah kita tulis. Dibaca dengan lantang. Biasanya dari situ kita bisa melihat apa permasalahan dari tulisan yang sudah kita buat. Selain itu, kita bisa lebih lancar juga melanjutkan apa yang akan kita tulis. Kenapa bisa begitu? Karena kita menulis apa yang ingin kita sampaikan secara lisan.

Jauh sebelum berinteraksi dengan Glenn di Linimasa, saya sudah kagum dengan tulisan-tulisannya. Setelah mengenal beliau secara langsung, saya selalu merasa seolah-olah Glenn sedang bercerita di samping saya saat membaca tulisannya. Tidak semua orang bisa menulis seperti ini. Tidak mudah juga mencapai tingkat penulisan seperti ini. Butuh kejujuran dan kebiasaan menulis secara rutin.

gif_ss_readF

Semua orang punya kepribadian sendiri-sendiri. Saya tidak akan pernah bisa menulis apa yang Gandrasta, Glenn, semua penulis Linimasa lain, atau semua penulis lainnya ciptakan. Anda pun sebaiknya tidak meniru mentah-mentah tulisan atau gaya tulisan.

Yang penting, rasakan tulisan kita.
Rasakan dengan membacanya sendiri. Saat kehabisan nafas dalam membaca, berarti tulisan sudah terlalu panjang. Pendekkan. Jangan terlena dengan penggunaan tanda baca koma. Lupakan kalimat majemuk. Buat kalimat singkat.

Yang penting, pesan sudah tersampaikan.

Nah, bicara soal pesan yang tersampaikan, cara mudah menyampaikan kabar saat ini adalah dengan mengirim email.  Sudahkah kamu tahu cara membuat email dan apa saja kegunaan email, kamu bisa membacanya lebih seksama disini

Salam

SaveSave

SaveSave

SaveSave

The Aftertaste of Revenge

SALAHKAH kiranya jika dikatakan bahwa memiliki dendam adalah hak setiap orang? Hak emosional, lebih tepatnya. Sesuatu yang muncul secara alamiah sebagai sebuah respons.

Menjadi makhluk berperasaan yang memiliki ketahanan mental serta kadar kebijaksanaan berbeda-beda dalam menjalani hidup, barangkali ada orang yang memiliki keteguhan batin tak tergoyahkan, beda tipis dengan cuek, namun ada lebih banyak lagi orang yang awam dengan keterampilan seperti itu. Sehingga mereka hanya bisa bereaksi sesuai aksi: dicubit-sakit, ditampar-perih, ditinju-ngilu, dihina-malu, digunjingkan-marah dan sebagainya. Kemudian rasa sakit, perih, ngilu, malu, dan marah tadi menyisakan ketidaknyamanan—bahkan kebencian—terhadap si pelaku. Mendorong sang korban untuk melampiaskan ketidaknyamanan yang ada. Entah bagaimanapun caranya, yang penting ada pembalasan. Jatuh-jatuhnya, cubit dibalas cubit, tampar dibalas tampar, tinju dibalas tinju, hinaan dibalas hinaan, gunjingan dibalas gunjingan, dan seterusnya. Ada pembalasan yang dilakukan saat itu juga, tapi ada juga yang baru bisa dilakukan setelah si korban benar-benar merasa kuat atau jauh lebih unggul, posisi tertindas-menindas berbalik.

Meskipun jawaban untuk pertanyaan di atas adalah “barangkali tidak salah,” akan tetapi hampir semua ajaran agama mengimbau bahkan memerintahkan penganutnya untuk jauh-jauh dari dendam. Lantaran perasaan tersebut diklaim hanya akan membawa keburukan dalam kehidupan, juga mendorong seseorang cenderung bertindak melanggar aturan kemoralan. Ada ajaran agama yang mendoktrin bahwa memiliki, menyimpan, dan melampiaskan dendam itu pokoknya salah tanpa bisa dibantah. Ada pula yang menjabarkan bahwa memiliki, menyimpan, dan melampiaskan dendam itu sia-sia, semu, dan merugikan diri sendiri. Berikutnya, ada yang lebih ekstrem lagi, sampai-sampai kerap berhasil menjadi semacam turning point dalam kasus ini. Yaitu membalas perbuatan buruk, dengan kebaikan yang jauh lebih unggul. Dengan harapan si pelaku perbuatan pertama bisa merasa malu, sungkan, dan akhirnya menyesal dengan tindakannya. Entah argumentasi mana yang Anda akrabi selama ini, pasti ada alasannya sendiri. Kembali lagi, setiap orang memiliki karakteristiknya masing-masing.

Memang ada istilah “sweet as revenge,” ketika pembalasan dendam terasa begitu nikmat dan menyenangkan. Sama nikmatnya seperti rasa geregetan yang dibayar lunas, gemas yang sudah antiklimaks. Sama rasanya seperti menonton sinetron akhir 90-an sampai pertengahan 2000-an, saat sang protagonis akhirnya mampu membalas perbuatan mertua jahat, dan sebagainya. Hanya saja, dendam membuat keburukan terasa jauh lebih kuat. Teramplifikasi. Membuat kita, sebagai si pembalas dendam, tidak jauh lebih baik dari si pembuat keburukan awal.

Isi paragraf di atas ini memang klise. Sudah kerap disampaikan di sidang jemaat, majelis taklim, maupun mimbar-mimbar khotbah. Lagi-lagi, ada yang nyantol dan berusaha untuk menghindari jadi pembalas dendam. Tapi ada yang saking emosionalnya, sampai-sampai enggak bakal bisa tenang sebelum dendamnya terbalaskan. Ya baiklah. Namanya juga hak emosional. Silakan dilancarkan pembalasan itu. Silakan mengalami puasnya sebuah pelunasan. Silakan merasa jauh lebih hebat dibanding sebelumnya. Nanti kalau semua itu sudah selesai, silakan dirasakan kembali, bagaimana kesannya. Pasalnya, banyak yang kerap luput akan satu hal saat berurusan dengan pembalasan dendam. Yaitu, apa yang ada setelahnya.

Percaya tidak percaya, nikmatnya pembalasan dendam hanya akan menyisakan ingatan dan kehampaan. Sehampa pertanyaan: “Sudah? Begini doang?” atau “Oh, jadi cuma begini doang?” yang disampaikan ke diri sendiri. Seperti kembang api malam tahun baru. Gegap gempita sejenak, kemudian sisa bau abu dan sampah kertas. Kegembiraan atas pembalasan pun paling-paling hanya bertahan dalam waktu singkat, yang walaupun terus dikoar-koarkan dengan penuh kebanggaan, lambat laun bikin bosan juga. Baik si pendengar, maupun si penutur. Kalaupun menghasilkan kesan superior, paling banter cuma feeding the ego. Semu.

Pendapat di atas mungkin cocok untuk pembalasan dendam yang negatif, saat perbuatan buruk dibalas dengan perbuatan buruk. Di sisi lain, bagaimana dengan pembalasan dendam yang positif? Saat perbuatan buruk dibalas dengan prestasi. Keunggulan dalam konteks yang berbeda.

Motivasi untuk menjadi lebih baik atau untuk mencapai kesuksesan, walau hanya gara-gara dipicu dendam, sepertinya memang jauh lebih berfaedah ketimbang sekadar kebencian atau perasaan tidak suka. Tapi silakan konfirmasi lagi diri sendiri, apakah kerja keras dan usaha cerdas untuk mencapai semua keberhasilan itu melulu hanya untuk membalas dendam saja? Kayaknya, terlalu rendah sebuah pencapaian, jika cuma untuk jadi ajang pembuktian keunggulan. Feeding the ego. Saat keberhasilan mandek dan berbalik jadi kegagalan, ada peluang ilusi harga diri dan kebanggaan kembali menggerogoti. Kalau mau keren ya keren aja, bukan untuk bikin mantan nyesal. Kalau mau sukses ya sukses aja, bukan untuk mengalahkan orang lain.

Bisa jadi ini adalah salah satu cara kehidupan membuat kita jadi lebih bijaksana. Bahwa ternyata pembalasan dendam itu cuma senikmat gurihnya snack ciki-ciki di dalam mulut. Setelah masuk tenggorokan, bekasnya hilang tak bersisa. Angin doang.

Enggak percaya? Monggo dicoba. Meski sepertinya, kita semua sudah pernah merasakannya. Baik berdendam, maupun melampiaskannya. Ya setidaknya jangan sampai kita jadi penyebab dendam deh.

[]

Merah Darah Di Hamparan Salju

Abad Sembilan Belas

Adalah seorang Guillerme Del Toro yang mencoba bereksperimen dengan mempotretkan suasana New York di akhir abad 19. Anda akan disuguhi dengan tata busana para ningrat di era itu. Glamor. Apabila anda mengira film ini film horor, maka anda akan kecewa. Banyak yang melabeli film ini dengan genre horror. Saya sama sekali tidak setuju. Ini adalah film dengan nuansa gothic-romance. Gotik identik dengan suasana yang gelap dan mencekam. Tapi belum tentu menakutkan. Buat sebagian orang, saya setidaknya, akan melihatnya sebagai sesuatu yang indah. Pan’s Labyrinth, film yang melambungkan namanya pun bukanlah film horror. Itu film bergenre dark-fantasy. Tapi saya yakin Del Toro banyak terpengaruh oleh film Rebecca, Notorious atau The Shining. Rumah berhantu bisa menjadi sesuatu yang enak dipandang mata. Tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Tapi ini bukan film The Martian yang pasti akan menghibur semua orang yang bahkan membuat saya hampir lupa kalau film ini disutradarai oleh Ridley Scott. Saya hampir mengira ini film keluaran Marvel/Disney dengan sontrek yang familiar. Film yang sangat Michael Bay.

fargo4

Sembilan Belas Sembilan Puluh Enam

Film yang nyaris diabaikan. Padahal film ini banyak meraih banyak penghargaan di berbagai festival film. Didominasi oleh Frances McDormand di kategori Aktris Terbaik dan Coen bersaudara di kategori Penulis Terbaik dan Joel Coen di kategori Sutradara Terbaik dan juga tentu saja Film Terbaik di tahun itu. Apa yang membuat film ini istimewa? Film ini diangkat dari kisah nyata. Dialek dari film ini adalah yang menjadi pembeda. Tidak seperti orang Amerika pada umumnya. Seperti orang Jerman yang berbahasa Inggris tapi sok Amerika. Entah ini bualan atau nyata konon memang begitu cara mereka berbicara. Tapi justru elemen itu yang membuat film ini istimewa. Ditambah dengan isi cerita, jalan cerita dengan balutan black-comedy-crime-drama maka film ini menjadi film yang harus masuk dalam daftar film antrean (jika belum menonton). Film yang unik dan langka.

fargo5

Dua Ribu Empat Belas

FX merilis serial Fargo, judul yang diambil dari nama kota kecil di negara bagian North Dakota, Amerika Serikat. Serial ini adalah adaptasi dari film tahun 1996 dengan judul yang sama. Setahun lalu, ketika film ini akan tayang. Saya sempat skeptis. Tidak mungkin serial ini akan menyamai atau mendekati filmnya. Karena jarang yang begitu. Tapi saya salah. Ini serial yang berhasil di mata saya. Benang merahnya tetap ada. Tapi dengan jalan cerita yang berbeda. Ganjarannya adalah Emmy Awards dan Golden Globe Awards di kategori Serial Terbaik dan Aktor Terbaik untuk Billy Bob Thornton.

fargo

Sembilan Belas Tujuh Puluh Sembilan

Atas kesuksesan di musim pertamanya, maka FX memutuskan untuk memperbarui musim kedua dari Fargo. Serial dari musim kedua ini dibintangi oleh Kirsten Dunst. Cewek cantik Hollywood bermuka Batak. Tidak seperti serial True Detective yang bagus di musim pertama tapi (dianggap) flop di musim kedua–hal ini saya jamin tidak akan terjadi pada Fargo. Malah saya prediksi akan lebih bagus dari musim pertamanya. Kenapa? Karena dari awal serial ini sudah langsung menggebrak dan membuat dahi berkenyit. Apaan ini? A crime that shouldn’t be all over again? Penasaran kan? Lantas kalau begitu apa hubungannya Crimson Peak dan Fargo kalau begitu?

fargopeak3

Keduanya banyak mengumbar darah di hamparan salju.

Berceritalah Melalui Panca Indera

Sari muridku menulis paragraf ini:

Matahari membakar di ujung timur. Sinarnya menandakan pagi tiba. Suharto telah siap di lapak bukunya. Ia mulai menumpuk barang dagangannya yang sudah lapuk di makan usia dan debu dari jalanan ramai yang hanya berjarak 1 meter di depan lapak. Istrinya menemani dengan gelisah sambil menimang si bungsu yang kurus kering kelaparan. Suharto terlihat sedih…

Tulisannya tentang seorang penjual buku tua di Bandung bernama Suharto. Sari melakukan observasi dan wawancara langsung selama kurang lebih 2 minggu. Mendatangi rumah Suharto dan menemui beberapa penjual buku di sana. Memoto dan mencatat nama-namanya serinci mungkin. Ndak ada kurang. Sampai Ilham, juga belajar di kelas yang sama, menyatakan keberatannya.

Ilham bilang tulisan Sari memihak. Seperti kebanyakan tulisan manusia lainnya; Sari mengandalkan mata lebih dari indera lain yang ia miliki. Sinar, ramai, 1 meter, kurus, sedih. Persepsi pengelihatan itu mengalir deras di tiap kalimat. Ini baru satu paragraf. Padahal tulisan Sari sampai 6 ribuan kata.

Bagi Ilham yang tuna netra, tulisan Sari sukar dipahami. Ilham ndak tau sinar Matahari. Ia belum pernah lihat wujudnya. Jangankan sinarnya, matahari ia kenal lewat kokokkan ayam, panas dan wangi daun yang melakukan fotosintesa. Ramai, Ilham alami dari aneka suara dan bebauan yang mulai heterogen di udara. Satuan panjang ia kenal lewat langkah, jengkal dan volume bunyi dari sumber suara atau pantulan benda di depannya. Ia ndak tau kurus dan gemuk kecuali ia bisa meraba tubuh seseorang. Lalu emosi ia tangkap dari campuran reaksi lawan bicara dan perasaannya sendiri.

Sari juga ndak salah. Ia terlahir dengan mata. Dunia mengajarinya lewat pengelihatan. Kitab agamanya memerintahkan iqra! (baca). Orangtuanya bilang liat-liat saat menyebrang jalan. Hukum negerinya cuma terima saksi mata. Saksi telinga ditolak di pengadilan. Indahnya pulau Bali seringnya soal pemandangan, bukan wangi sambal matah.

Ilham berbeda dari Sari. Diluar sana ada ilham lain dengan kondisi yang beragam-ragam. Ndak bisa mendengar, mencium, menyecap atau meraba. Permintaan mereka sederhana: berceritalah melalui panca indera. Gunakan semua anugerah dengan berimbang, sebelum kita kehilangan salah satunya.

image

Panca Indera. Sumber: Google

Dengan bimbingan Ilham, Sari menyesuaikan paragraf soal Suharto si penjual buku tanpa mengurangi makna seperti ini:

Matahari terbit di ujung timur. Hangatnya menandakan pagi tiba. Suharto siap di lapak bukunya. Ia mulai menumpuk barang dagangannya yang berbau apek karena umur bercampur pengap debu dari jalanan riuh yang hanya berjarak 2 langkah di depan lapak. Istri Suharto menemani sambil membelai si bungsu yang kelaparan. Suharto menitikkan air mata…

Berkurangnya otoritas mata membebaskan pembaca dari paksaan interpretasi citra. Sekarang, emosi bukan hak penulis. Ia sepenuhnya dikembalikan pada pembaca. “Suharto menitikkan air mata” jauh lebih kompleks dari sekedar “sedih.” Karena, ndak semua yang terlihat benar adanya.