Rambut Tintin

Waktu SMU dulu, guruku pernah bilang: Perhatikan! Perhatikan semua yang ada di sekitar kamu dan pelajari. Kita semua saksi perubahan. Dan hanya sedikit orang yang memicu perubahan itu.

Ndak butuh waktu lama hingga kelas kami menyaksikan apa yang beliau maksud. Kami semua tercerai-berai jadi mahasiswa. Berubah dan terus berubah. Ndak bisa dihentikan.

Mungkin beberapa dari kami mencoba menghentikan perubahan. Tetap mendengarkan musik Ska dan berambut tintin. Tapi ya harus menikah dan bekerja. Keluar dari rumah orangtua dan gigit jari karena konser Ska termakam JKT48. Sebagian lagi menyuntikkan Botox dan serum H3. Mengoleskan campuran hialuronat dan koenzim Q10 atau pergi ke pakar bedah estetis. Demi tampil langgeng seperti masa SMU. Tapi, bulan lalu ia bercerai. Suaminya minta ia berubah, bukan memburu kekal.

Kita menyaksikan kematian telepon umum, wartel, kaset, rental dvd, pager, faksimili, telegram, celana baggy dan rambut tintin. Perubahan adalah takdir. Berubah seperti halnya dunia menuntut kita untuk ikut arus. Yang nekat bertahan, tergerus. Yang melawan arus, hangus.

image

Dunia bisnis bija jadi korban paling berdarah-darah dari perubahan. Ia ndak bisa cuma jadi saksi. Tapi harus jadi pelaku, bahkan pemicu. Terlalu banyak korban untuk dibeberkan di sini. Termasuk yang masih berjuang menentang perubahan. Seperti industri musik dalam meraih keuntungan jangka panjang. Entah mesti dilabeli putus asa atau inovasi, industri ini, di tanah air, telah menggeser gerainya ke restoran ayam goreng. Mencoba menawarkan diri pada penikmat ayam goreng, siapa tau mau membeli 12 lagu sekaligus! Macam berambut tintin di antara pomade dan jenggot lebat.

Kembali ke guruku tadi. Petuahnya jadi mantra:

Perhatikan! Perhatikan semua yang ada di sekitar kamu dan pelajari.

Advertisements

Rapuh. Catatan Kecil Marathon Pertamaku

Saat anda sedang membaca ini kemungkinan besar saya sedang hampir kehabisan napas di Gianyar, Bali. Menuntaskan ambisi yang dari tahun lalu sudah terucapkan: ikut full marathon race. 42, 195K. Tahun lalu saya menyelesaikan tantangan diri, menyelesaikan Half Marathon 21K di usia saya yang 41 tahun. Hesteknya #21at41. Saat sedang berlari itu, saya berkata dalam hati “kalau ini selesai, tahun depan ikut full marathon. Hesteknya #42at42. Lucu juga…”

Tapi sejak Februari 2015, saat program latihan dimulai, saya menyadari ternyata tidak selucu yang saya kira. Bisa dibilang saya tidak punya kehidupan sosial. Urusannya hanya masak pesanan nasi ayam, bikin pesanan iklan dan latihan lari. Yang paling memakan waktu bisa dibilang lari. Jakarta bukan kota yang bersahabat untuk pelari. Trotoar yang tak penuh jebakan dan kendaraan yang tak beraturan ditambah jambret yang selalu mengancam. Saya pun akhirnya memilih berlatih di GBK atau GOR Soemantri. Satu lingkar GBK itu 1K, sementara GOR Soemantri 400m. Kalau harus berlatih di atas 20K di GOR Soemantri, keluar-keluar rasanya akan seperti Hamster.

Semakin mendekati tanggal race, jarak latihan pun semakin bertambah. Telinga saya disumpal earphone untuk menghilangkan kejenuhan. Dan di suatu titik pun bisa hafal lagu-lagunya sehingga tak lagi membantu. Alhasil, saya sering berbincang dengan diri saya sendiri. Semacam meditasi. Kadang-kadang saat itulah saya mendapatkan ide untuk tulisan di linimasa.com.

Dalam keheningan dan kadang kegelapan, karena malam telah larut, saya hanya bisa mendengar suara nafas dan derap kaki saya. Keringat sudah mulai mengering. Kaki-kaki saya terasa pegal kadang tak terhankan. Kekhawatiran kalau tidak menuntaskan latihan maka saya tidak bisa menyelesaikan full marathon saya yang pertama nanti, memaksa saya terus berlatih. Beragam cara pun saya lakukan untuk mengurangi rasa sakit saat berlatih.

Suatu saat, saya diserang batuk pilek yang lumayan berat. Terpaksa berhenti latihan selama seminggu. Rasanya panik dan sedih. Saat memulai lagi pun, sepertinya saya belum sembuh 100%. Tapi rupanya inilah saat saya mendapatkan pelajaran yang paling menguatkan. Pelajaran untuk pasrah. Bahkan rapuh. Yang dimulai dengan menerima fakta bahwa tubuh saya tidak kuat dan saya hanyalah makhluk yang lemah. Di saat itu pula secara mengejutkan rasa sakit berkurang jauh.

Mungkin, teorinya begini. Benda yang keras, semacam tembok atau kayu, sangat menantang untuk dihancurkan. Segala alat diciptakan selain untuk membangunnya, juga untuk memecahnya menjadi serpihan. Atau binatang buas yang perkasa. Sangat mengundang manusia untuk berburunya. Beda halnya dengan benda-benda rapuh. Coba letakkan sebutir telur dalam genggaman, dan remaslah. Saat itulah mendadak tangan kita merasa lemah. Padahal telur adalah benda berkulit rapuh. Atau coba genggam seekor anak ayam yang baru menetas. Mendadak tangan paling perkasa di dunia pun akan menjadi lemah dibuatnya.

Dunia olahraga selama ini punya nyawa Citius, Altius, Fortius (bahasa Latin untuk “lebih cepat, lebih tinggi, lebih kuat”).  Tentunya ini cocok untuk para Atlet. Terutama di pertandingan kelas dunia. Tapi saya bukan atlet. Adalah kegilaan dan kebodohan kalau saya pernah berpikir saya bisa sekuat atlet. Atau bermimpi bisa berlari secepat pelari Kenya. Saya baru mulai berlari di usia 25 tahun. Dan tidak ada pelatih yang setia mendampingi. Dan di atas segalanya, eksistensi saya bukan dari berlari. Profesi saya bukan pelari. Dapur saya bisa mengebul bukan karena saya sering berlari.

Saat sedang belajar di Google Institute, saya mencoba mencari hubungan antara “melemahkan diri” dengan “kekuatan”. Benarkah ini ada atau mungkin hanya ada di pikiran saya saja. Bukan pelajaran universal. Saya pun bertemu dengan pemenang Olimpiade musim dingin asal Korea, Kim Yuna. Figure Negara yang sama sekali tak mengenal menari di atas ring es. Saya heran, bagaimana kita bisa lebih mengenal Lee-MinHo dan Bubble Tea? Padahal Kim Yuna adalah pesohor paling bersinar dengan bayaran termahal di Korea.

Di suatu wawancara, Kim Yuna berkata “saat saya bertanding di Olimpiade, saya merasa sayalah orang paling lemah di dunia. Saya hanya bisa memasrahkan diri saya sepenuhnya pada musik. Untuk kemudian melepaskan segalanya”.

Di dunia lari berlari, hal ini bisa dilihat dari kaos-kaos lari yang ditawarkan oleh label-label terkenal. Disain yang tadinya memberikan kesan kuat, cepat dan sporty, perlahan beralih menjadi lebih santai. Motif kotak-kotak, garis warna warni, kartun, bahkan kembang-kembang. Mungkinkah ini menjadi bentuk demokratisasi olahraga. Bukan lagi dominasi yang kuat, cepat dan tinggi. Tapi untuk dinikmati semua. Bahkan yang terlemah sekalipun.

Running-in-Full-Summer-Bloom-The-Nike-Photosynthesis-Pack-1 hulk-age-of-ultron-under-armour img-thing

Sekarang mungkin saya masih berlari atau berjalan kaki tak kuat lagi. Apa pun itu, saya hanya bisa bersyukur. Bukan hanya saya semakin mengenal diri dan tubuh saya. Saya pun belajar untuk melemahkan diri. Merapuhkan diri. Karena dari situlah saya menemukan kekuatan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Pasti lebih tahan lama ketimbang medali dan kaos finisher.

Di sebuah film yang saya lupa judulnya, ada yang bilang “the beginning might be exciting, the ending might be disappointing, what matter the most is what happens in between”.

Mengapa Juliana Jaya Tak Dikenal Lagi Ketika Jokowi Berkuasa

Sebelum ada alat pelengkap seperti pengesom, pengisi, pengikat, pelipat, pengerut, shirrer, puffer, penganyam, penyambung potongan kain, pengelim, dan pengetsa, maka benda ajaib yang awal diciptakan adalah mesin jahit. Di era keemasan revolusi busana, mesin jahit terjual lebih dari jutaan unit dan tersebar  ke seluruh dunia. Mesin jahit adalah barang konsumsi rumah tangga pertama yang tersebar luas dan menjadi simbol status rumah di Amerika.

Di setiap lautan, terapung mesin singer; sepanjang setiap jalan yang diinjak oleh kaki orang beradab, sahabat yang tak kenal lelah dari persaudaraan besar perempuan sedunia ini meneruskan misi kegunaannya. Bunyinya yang menggembirakan dikenal ibu muda Jerman yang kokoh seperti gadis ramping Jepang mengenalnya; Mesin itu sama terdengar jelas oleh gadis desa Rusia yang berambut kuning muda sampai ke senorita Mexico yang bermata hitam. Mesin itu tidak memerlukan penerjemah, bernyanyi di tengah salju Kanada atau di padang Pampa Paraguay; Ibu Hindu dan gadis Chicago malam ini mengerjakan setik yang itu-itu juga; kaki-kaki yang tidak kenal lelah dari Nora Irlandia berkulit putih menggerakkan pedal yang sama dengan pedal yang diinjak kaki putri Cina berkulit kuning yang kurang terpelajar, sehingga mesin Amerika, otak Amerika, dan uang Amerika membawa kaum wanita dari seluruh dunia ke dalam satu kekeluargaan dan persaudaraan wanita yang universal.


Brosur Singer tahun 1880 “Genius Rewarded; or the Story of the Sewing Machine.

Dalam Report on Manufacturers (1791) yang ditulis Alexander Hamilton, empat perlima dari pakaian rakyat Amerika dibuat dalam rumah tangga sendiri untuk dipakai sendiri. Setelah ditemukan mesin jahit, dalam paruh akhir abad XIX, Amerika Serikat mengalami Revolusi Sandang- menjangkau lebih jauh barangkali daripada apa saja yang telah terjadi sejak kelahiran teknologi tekstil modern.

Setelah mesin jahit menjadi bagian penting kelengkapan rumah tangga, busana warga Amerika tahun 1800-an menjadi semakin semarak dan semanak. Mesin jahit membantu mengubah arti sosial busana. Makin banyak rakyat Amerika yang dapat memakai pakaian yang lebih cocok daripada sebelumnya.

Mesin jahit dapat melakukan 250 setik jahitan setiap menit, tujuh kali lebih banyak daripada tangan penjahir mahir sekalipun. Para perempuan muda berlomba menguasai hal baru. Menjahit gunakan mesin. Dengan pedal yang diinjak turun naik, dan tangan terampil yang memastikan kain terjahit sempurna sesuai pola.

Ada alternatif tambahan bagi gadis muda dan ibu rumah tangga  selain memamerkan hasil masakan. Pada tahun 1860-an corak-corak mode berubah. Kini mesin jahit menghasilkan rok luar dengan hiasan yang rumit, kesempatan baru untuk memamerkan jahitan indah dan hiasan rumit. Kegembiraan baru dalam berbusana.

Saya tak paham benar apakah mesin jahit (misalnya merk) Singer pertama kali datang dibawa noni-noni belanda atau murni kerjaan pedagang dari perwakilan Singer di negeri asia yang hadir di Batavia. Mungkin Anda lebih tahu.

Adalah pemandangan umum dan lumrah duapuluh hingga limabelas tahun lalu ada satu mesin jahit dengan pedal terlihat di sudut ruang rumah setiap warga kelas menangah. Bahkan saat bertandang ke rumah teman atau saudara, suara latar bunyi mesin jahit sedang bekerja adalah hal biasa. Masih terngiang ingatan tentang pemandangan potongan kain berserakan, gunting tergeletak, botol kecil bertuliskan “singer” dengan ujung kerucut dan minyak di dalamnya  dan suara panggilan dari Nenek yang meminta saya memasukkan benang ke mata jarum karena daya penglihatan matanya yang sudah tak awas lagi.

Saya masih sempat merasakan dan gunakan mesin jahit milik almarhumah Nenek. Ya, Nenek masih gape memainkan jemari dan kaki untuk membuat pakaian gunakan mesin jahit miliknya. Sedangkan adik perempuan saya, untuk memasukkan benang dalam lobang jarum yang melekat di mata mesin jahit saja tidak bisa. Bahkan ibu kandung saya tidak dapat gunakan mesin jahit milik ibunya.

Beberapa kali kuku jempol kaki saya terluka dan hampir lepas karena bermain pedal mesin jahit. Saya juga masih ingat satu tebakan yang pernah dilontarkan pada saya mungkin duapuluhlima atau tigapuluh tahun lampau: “Ibunya menjahit, bapaknya merokok, apa hayoooo..?”. 

Pada masanya, mesin jahit adalah gadget andalan para ibu rumah tangga. Sama halnya seperti pinsil alis bagi perempuan masa kini.

Bagaimana dengan Anda, punya pengalaman menarik dengan mesin jahit?

Irama dan Alasan (d/h Rhyme and Reason)

Mungkin ada hubungannya dengan usia, tetapi saya suka pola dan rutinitas. Pola membuat saya merasa aman, sehingga saya bisa membuat garis garis yang tak kasat mata di kepala dan menghubungkan hal-hal yang sepele, sehingga menjadi suatu bentuk yang bisa saya mengerti. Kalau Anda pernah melihat saya sedang diam dengan mata memandang ke barang yang tidak ada seperti berpikir keras, itu kemungkinan saya sedang membuat pola di kepala saya. Atau mungkin juga saya sedang menimbang apakah saya perlu ke toilet atau bisa menahannya setengah jam lagi.

Contoh kecil dari pentingnya pola adalah, serial TV. Saya paling suka bagian awal dari sebuah serial, di mana kita diperkenalkan dengan karakternya, dan diberikan informasi mengenai latar belakang mereka. Dari sini diharapkan kita mengerti, kalau karakter ini berbuat sesuatu, apa proses logika dan pengambilan keputusan yang dilakukan, dengan sejarah hidup dan latar belakang yang dimilikinya. Satu serial biasanya mengandung beberapa karakter yang saling mengisi dan melengkapi jalan cerita yang terjadi, dan mereka biasanya memegang peran masing-masing yang sesuai dengan “sifat” yang sudah dibangun dari awal. Walaupun tidak jarang ada terjadi pertukaran peran, atau kejadian yang di luar karakter, biasanya ada penyebabnya yang membuat para penonton manggut-manggut, “ooo iya sih, kalau gue jadi dia, gue juga bakal bantai semua keluarganya di sebuah pesta pernikahan.” (Kalau Anda bisa empati dengan Lord Frey, lebih baik kita tidak berteman saja). Saya menonton serial Mr. Robot walau belum selesai, dan saya agak terganggu dengan ketidakadaan pola di sana.

Really, Elliott?

Really, Elliott?

Mengenai latar belakang karakter, tidak bisa lebih jelas lagi, karena Mr. Robot adalah salah satu serial di mana kita bisa mendengar inner monologue sang karakter utama. Tetapi apa yang dikatakan oleh monolog tersebut selalu tidak konsisten dengan apa yang kita lihat di layar. Pembangunan karakter juga terlihat agak asal, dengan banyak karakter minor yang dikupas lebih dari seharusnya, dan sebaliknya, karakter mayor yang dibuat sangat stereotipikal dan kilse. Sifat dan quirks para karakter ini pun ditarik dan dipasang sesuai maunya pembuat serial. Hari ini Elliott jadi sociopath yang tidak tahu bagaimana bicara dengan manusia, tapi esoknya dia ternyata mampu merayu seseorang untuk melakukan yang dia mau, hari ini dia genius yang sangat kalkulatif sehingga nyaris tidak pernah membuat salah dalam hidupnya, besoknya dia melakukan kesalahan yang begitu bodoh dan melarikan diri dari kesalahan itu dengan ngobat. Kemarin saya mengajukan kasus saya ini kepada Agun, dan dia sempat membela Elliott dengan, “namanya juga junkiebut it sounds like a plot cop out to me. Jadi intinya saya juga penasaran untuk lihat finale dari serial ini. Bisa jadi sang penulis jagoan sekali sampai saya belum menangkap rhyme and reason dia. Atau memang Sam Esmail gaya menulisnya seperti seorang yang hidup dengan ADD. Berarti saya memang tidak cocok.

Agent Broyles is not impressed.

Soal rutinitas. Saya dulu sering mengamati rutinitas Ayah saya dan berkomentar dalam hati, apa dia tidak bosan dengan rutinitas sehari-harinya yang sama terus. Pagi hari setelah sembahyang, dia akan jalan pagi. Kembali dari jalan pagi sarapan telur setengah matang, toast dan kopi. Kemudian beliau mandi dan berangkat ke kantor. Besoknya begitu lagi, sama persis. Sehingga kalau Ibu saya ke luar kota, yang pertama ditanyakan beliau pasti, “yang menyiapkan sarapan saya siapa?” dan saya cukup sering mengemban “tanggung jawab” tersebut. Kalau diajak sarapan di luar rumah pun Ayah saya suka agak bingung, dan akhirnya lebih sering menolak. Dengan alasan, “Nanti kopinya ndak enak.” Siapa nyana kalau saya kurang lebih jadi mirip beliau. Kalau saya sudah merasa aman dengan komposisi makanan tertentu, saya akan membawa bekal ke kantor dengan makanan tersebut sampai saya tidak bisa memakan lagi karena bosan. Tetapi saya tentu tak sekaku Ayah saya, kalau ada yang mengajak makan siang dan kebetulan jadwal saya memungkinkan, dengan senang hati saya menyimpan bekal saya dan makan di luar (bukan kode) ruangan kerja saya. Terkadang di pekerjaan kita memang sering terjadi hal-hal yang di luar ekspektasi, atau di luar zona nyaman kita, sehingga mungkin secara emosional saya ingin ada yang menanti saya, sesuatu yang familier, walau itu hanya berbentuk sekotak makan siang yang saya sudah tahu isinya apa.

No. 52

Beberapa minggu yang lalu, saya membaca buku “Every Day” karya David Levithan. Buku ini cukup menarik. Karakternya tak bernama, sampai-sampai si karakter harus menamai dirinya dengan huruf A saja. Kenapa dia tak bernama? Karena dia hidup sebagai orang yang berbeda-beda setiap harinya. Saat bangun tidur di pagi hari, dia mendapati dirinya hidup di tubuh orang lain. Dia akan menjalani sehari penuh sebagai diri orang lain itu, sebelum kemudian dia tidur dan menjalani hidup sebagai orang yang lain lagi. Mau pria, perempuan, tua, muda, gay, straight, kurus, gemuk, menikah, lajang, setiap hari A selalu bangun tidur untuk mencari tahu siapa dirinya di hari itu. Anehnya, jiwanya selalu sama. Dan jiwa yang sama ini yang membuat kita terus membaca buku ini sampai tuntas. Meskipun ending yang dipilih penulis tidak terlalu istimewa, paling tidak rasa penasaran kita terus terjaga.

Every Day by David Levithan

Every Day by David Levithan

Kalau Anda pernah menonton serial “Quantum Leap” di SCTV pada pertengahan 1990-an, maka Anda pasti tahu bahwa ada kemiripan antara serial televisi dan buku ini. Memang, keduanya nyaris serupa. Bedanya tipis sekali. Kalau “Quantum” sering kali meloncat ke historical events dalam dekade yang berbeda-beda, maka lompatan “Every Day” cukup terjadi dalam runtutan waktu sesuai kalender, dan dalam jarak lokasi yang kerap kali berdekatan. Tapi yang jelas, keduanya mempunyai kesamaan. Karakter utama di masing-masing cerita, baik “A” di “Every Day” atau Dr. Sam Beckett di “Quantum Leap”, harus menjalani hari sebagai orang lain setiap harinya. Hari mereka tidak akan selesai sebelum mereka bangun keesokan harinya (untuk “A”), atau setelah misi mereka selesai (untuk Dr. Sam Beckett).

Serial "Quantum Leap"

Serial “Quantum Leap”

Baik “Every Day” atau “Quantum Leap” memang cerita fantasi. Dan mungkin, demikian pula dengan Linimasa ini.

Saya tidak tahu apakah Roy Sayur pernah membaca buku atau menonton serial yang saya sebutkan di atas. Sepertinya belum. Entahlah. Sampai saat ini saya belum pernah bertemu langsung dengan beliau. Entah apa pula yang membuat dia nekat mengajak saya bergabung di Linimasa ini 53 minggu yang lalu.

Tapi yang saya lihat, ada sedikit persamaan antara (tampilan) Linimasa ini dengan kedua cerita di atas. Setiap hari, kita melihat dan membaca satu tulisan di halaman muka Linimasa. Baik dari ponsel, tablet, atau laptop, ketika kita buka Linimasa.com, hanya ada satu tulisan di satu hari yang ditampilkan. Suka tidak suka, mau tidak mau, itulah cerita yang kita baca untuk mengawali hari.
Demikian pula dengan tulisan ini. Inilah tulisan yang akan mengawali hari kita semua di hari Kamis tanggal 27 Agustus ini. Tentu saja Anda bisa membaca tulisan lain, mulai dari kolom komentar di bawah sampai di bagian arsip, tapi itu bisa dilakukan setelah Anda terpapar dengan satu tulisan di muka. Bukan tulisan yang lain.

Atonement. (Courtesy of philzine.wordpress.com)

Atonement. (Courtesy of philzine.wordpress.com)

Sometimes we cannot choose what to begin our day with. Most of the times, we just fall for it. But how we deal with it, that’s another matter.

Kadang kita bangun dengan kesal karena mimpi buruk, kadang kita bangun dengan senyum karena mimpi bagus. Kadang kita sarapan dengan roti gosong, kadang kita sarapan dengan air putih saja sambil terburu-buru.

Kadang tulisan kami bisa membuat Anda tersenyum, sering kali membuat Anda berpikir, “apa siiih?” Kadang tulisan kami bisa membuat Anda terharu, tapi lebih sering membuat Anda manggut-manggut tanpa ekspresi.

Toh perbedaan itu yang membuat kita menjalani hidup. Tidak ada hari yang sama. Rutinitas boleh sama, tapi tidak ada hari yang sama persis seperti hari sebelumnya.

Bekas gedung bioskop di Donggala, Sulawesi Tengah. Photo taken by Nauval Yazid.

Bekas gedung bioskop di Donggala, Sulawesi Tengah. Photo taken by Nauval Yazid.

Saya tidak bisa berkata atas nama penulis yang lain. Tapi setiap hari, Anda pasti merasakan perbedaan dari kami. Glenn mengamati keadaan sekitar dengan cermat. Gandrasta selalu bisa menampilkan sensasi yang masih ada isi. Agun meneliti budaya pop dengan baik. Dragono menulis pemikiran mendalam tentang kemanusiaan yang hampir selalu bersifat Zen. Saya suka mengawang-awang. (Dulu) Farah menampilkan jelajah pikiran anak muda yang banyak maunya. Sekarang Leila menampilkan tulisan khas tentang hidup yang praktis dan taktis. Roy senang bermimpi. Dan Anda masih membaca sampai sekarang.

Minggu lalu adalah tulisan saya yang ke-52, yang artinya sudah 52 minggu (sekarang 53) saya menulis setiap Kamis tanpa jeda. Sudah setahun penuh.
Hari Minggu kemarin, empat dari kami bertemu untuk makan siang. Tidak semuanya bisa ikut, memang, karena kesibukan dan keperluan masing-masing. Tapi itulah namanya kehidupan, tidak bisa dipaksakan meski telah direncanakan. Dan kami hanya bercerita sambil bercanda. Toh tidak ada yang perlu dirayakan terlalu berlebihan. Apalagi tepat di hari ulang tahun Linimasa kemarin, mata uang kita terpuruk, sementara tak kurang dari tiga stasiun televisi nasional juga berbarengan merayakan hari jadinya masing-masing.

It cannot be more random than that. But that’s life.

Half-full glass

Tulisan di Linimasa.com tidak ada yang sempurna. Ada pengulangan, dan kadang ada kontradiksi antara satu sama lain. Tapi yang jelas, semuanya berwarna.
Dan ketika Anda memilih untuk mengawali hari dengan membaca tulisan kami, maka kami merasa tugas kami telah selesai di satu hari. Untuk itu kami ucapkan:

Terima kasih.

Sampai jumpa lagi besok.

Pokhara, Nepal

Pokhara, Nepal

Ngerepotin Orang

SETIAP dari Anda pasti pernah berada dalam situasi seperti ini; ketika ada seseorang, entah teman, kenalan, saudara, sanak keluarga, tetangga, rekan kantor maupun kolega, atasan, guru dan dosen, atau siapa saja, datang untuk meminta bantuan. Hanya saja, terlepas dari pembawaan kita yang (barangkali) ringan tangan dan punya empati tinggi, bantuan yang mereka minta itu malesin sekaligus ngerepotin dan enggak penting-penting amat secara bersamaan. Kalau diminta, bikin males, tapi kalau enggak dilakukan, takutnya malah jadi drama dan bikin enggak enak suasana. Berpotensi mengganggu hubungan sosial. Jadi mau tidak mau, permintaan itu pun diiyakan.

Tidak mustahil, banyak dari kita yang kerap mengiyakan permintaan bantuan orang lain, tapi ngedumel dalam hati. Dengan begitu, bantuan tidak diberikan dengan mulus. Permintaan tersebut malah membuka kesempatan untuk mengomel, mengeluarkan energi negatif yang meletihkan. Juga menyita waktu serta tenaga, yang justru sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk sesuatu yang lebih penting dan berguna. Termasuk mengajari yang bersangkutan cara melakukan sesuatu yang ia minta sebelumnya, ketimbang terus menerus mengaku enggak bisa, agar ke depannya tidak perlu merengek minta bantuan ke orang lain. Di mana-mana, lebih baik memberi kail daripada sekadar menyedekahkan ikan, kan?

Mengenai hal ini, mending tidak perlu dikasi contoh ya. Soalnya, setiap orang pasti punya batas toleransi kelebayan masing-masing. Namun pada intinya, begitulah. Kita pasti bisa membedakan, mana permintaan bantuan yang benar-benar karena tidak bisa dilakukan oleh yang bersangkutan, dan mana yang memberi kesan kalau si empunya permintaan cuma malas belajar untuk melakukannya sendiri.

Di sisi lain, mungkin tanpa disadari, kita juga pernah berada di posisi sebaliknya; justru menjadi yang ngerepotin orang lain, dan malas melakukan sesuatu. Masih mending kalau dilakukan tanpa sadar, ketimbang memang sengaja punya sikap seperti itu dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, jangan heran kalau banyak teman atau kenalan, yang sering banget menolak permintaan kita. Terkesan tidak mau membantu. Padahal, ternyata memang karena permintaan kita malesin orang lain.

Terus, kudu piye?

Sebenarnya, tidak ada ketentuan etis untuk menghadapi kondisi seperti ini. Baik si peminta bantuan, dan si penerima permintaan, sudah punya kemampuan menimbang dan memikirkan tindakan masing-masing. Kemampuan itu tumbuh seiring pertambahan usia dan tingkat kedewasaan. Cuma, bagaimanapun juga, kita tidak bisa mengabaikan realitas bahwa setiap orang pasti memiliki kesibukan hidupnya masing-masing. Jadi, mari bertanya kepada diri sendiri. Sebegitu pentingkah permintaan kita, atau sebegitu tidak-mampunya-kah kita sampai-sampai harus dilimpahkan ke orang lain? Kecuali bila Anda adalah orang yang cuek bebek atau sok bergengsi tinggi, pasti akan memerlukan sejumlah waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Kita memang makhluk sosial. Sampai kapanpun, tidak akan pernah bisa lepas dari interaksi dan kontak dengan sesama. Akan tetapi, di luar dari hubungan darah, terlebih antara orang tua dan anak, bersikap individualistis merupakan pilihan hidup dan hak setiap orang. Dengan konsekuensi logis, sikap individualistis juga harus dibarengi dengan kemandirian. Seseorang yang sudah memutuskan untuk jadi individualis, tidak hanya mampu dengan mudah menolak permintaan orang lain, namun juga berusaha harus mampu menangani sendiri masalah-masalah yang mereka hadapi. Supaya tidak perlu datang meminta bantuan kepada orang lain. Imbang, kan? Walaupun ini di luar urusan duit dan harta. Sebab, individualisme itu lumayan berbeda dengan pelitisme alias meditisme bin kikirisme.

Lalu, bagaimana bila kita merasa belum sanggup jadi seseorang yang individualistis, atau juga tidak tega untuk menjawab dengan kata “tidak mau”? Nah, tetap tidak ada salahnya kok jadi seseorang yang memiliki kemampuan terbatas, dan akhirnya terpaksa mendatangi orang lain untuk minta bantuan. Namun alangkah baiknya jika kita bijak bersikap.

  • Kalau kita sudah pernah merasakan tidak nyamannya direpotkan orang lain, apa masih tega buta tuli ngerepotin orang lain?
  • Jangan sekali-kali pakai hal-hal abstrak sebagai pembenaran. Seperti pahala, karma baik, dan sebagainya. Ingat, Anda manusia biasa, bukan malaikat Raqib atau ‘Atid.
  • Kalaupun terpaksa harus minta bantuan orang lain, jangan lupa bahwa kita adalah peminta bantuan, bukan majikan. Apalagi untuk bantuan-bantuan yang tidak berbanderol. Bedakan antara hubungan profesional yang terukur, dan yang atas dasar kekeluargaan serta persaudaraan. Tidak ketinggalan, seberapa gawat daruratkah bantuan yang Anda perlukan? Jangan berlebihan.
  • Alih-alih minta bantuan bulat-bulat, kenapa tidak minta bantuan untuk diajari? Setidaknya bisa menyisakan bekal untuk menghadapi masalah yang sama di masa depan. Hitung-hitung meningkatkan kemampuan. Di sisi lain, si pemberi bantuan juga bisa sedikit merasa berguna, lantaran sudah membuat orang lain yang tadinya tidak bisa, menjadi bisa. Mutual.
  • Masih perlu diajari cara mengucapkan terima kasih?
  • Bukan sebuah keharusan, tapi cara terbaik untuk membalas kebaikan orang lain adalah dengan kebaikan juga. Jangan cuma baik saat ada perlunya saja.
  • Khusus untuk kamu yang dimintai bantuan, jangan sungkan untuk membantu lebih jauh. Caranya, arahkan mereka, yang memerlukan bantuan, agar belajar. Minimal mendapatkan wawasan baru terutama mengenal masalah yang tengah mereka hadapi. Sejahat-jahatnya menolak membantu orang lain, lebih jahat lagi membiarkan orang lain bertahan dalam ketidaktahuan, ketidakmampuan, dan kemalasan.

Ceritanya sih begitu. 🙂

[]

Sleep Now In The Fire

Saya sebenernya lagi males nulis. Ide tulisan sih ada. Tapi koq ya males aja. Padahal ada waktu untuk itu. Tapi tadi malam saya memilih untuk jalan-jalan karena ngidam makan tongseng sambil nunggu Arsenal lawan Liverpool. Sekarang pun saya belum tidur ini. Untung Liverpool maennya bagus. Walaupun hasilnya draw. Wajarlah. Lawannya Arsenal. Maen di Emirates pula. Yang penting gawang Mignolet masih perawan. Padahal sudah tiga pertandingan.

Karena pertandingannya berlangsung dini hari, maka saya coba isi waktu luang saya untuk nonton film (yang biasanya gak pernah sampe beres). Tapi bingung nonton apa ya. Setelah liat folder di komputer, eh nemu film dokumenter Capitalism: A Love Story karya Michael Moore. Akhirnya nonton lagi itu aja. Biar tematik juga. Mata uang seluruh dunia sekarang kan lagi ajrut-ajrutan kan gara-gara China. Black Monday cenah kalo kata para jurnalis di sana. Tapi saya lebih suka Monday Mayhem. Lebih terkesan brutal.

Isi filmnya ya gitu. Keserakahan para petinggi-petinggi institusi keuangan yang memanipulasi data dan menyebabkan krisis di Amerika tahun 2000an akhir yang juga melebar ke seluruh dunia. Michael Moore memang setau saya isi filmnya seperti itu. Menelanjangi sisi buruk dari Amerika Serikat. Entah mengenai senjata api seperti di Bowling For Columbine atau mengenai Perang Teluk di Fahrenheit 9/11.

Ada satu lagi karya Michael Moore yang sangat relevan dengan situasi keuangan di dunia sekarang ini. Video musik ini berlokasi tepat di depan New York Stock Exchange di tahun 1999. Direkam secara langsung. Agak mirip dengan pertunjukan terakhir The Beatles Rooftop Concert. Dadakan. Kayak secret gigs gitu. Kejadian ini sempat membuat ricuh karena dilangsungkan di jam kerja dan Zack De La Rocha sebagai frontman dari band Rage Against The Machine juga sempat memaksa masuk ke gedung NYSE. Wall Street dikabarkan ditutup pada hari itu karena gerombolan massa yang berkumpul di sana bisa berpotensi memicu kerusuhan. Judul lagunya Sleep Now In The Fire. Setau saya ini sebetulnya bukan video musik aslinya. Banyak yang diedit. Tapi kurang lebih muatannya sama.

“There is no other pill to take, so swallow the one that makes you ill,”

Uang dan Waktu

image

Uang. Aku adalah salah satu penggemarnya. Kita bisa melakukan banyak hal dengan uang; membeli sesuatu, mempengaruhi orang, membuat perbedaan dalam kehidupan orang, makan, minum, semuanya. Dalam undangan pernikahan sengaja dituliskan: “Tanpa mengurangi rasa hormat, kami akan sangat berterima kasih apabila tanda kasih sayang yang akan diberikan tidak berupa cinderamata atau karangan bunga,” sehingga orang tau bahwa kita lebih suka hadiah uang. Kita tau betul orang yang memuja uang–bahkan seluruh keberadaan mereka dibangun di sekitar menemukan uang, menghabiskannya, atau ndak kehilangan sedikitpun dari apa yang sudah mereka hasilkan. Uang adalah bagian penting dari kehidupan dan bahkan jika kita ndak suka, uang secara nyata membuat dunia berputar.

Dalam bidang usaha, kita akan menggunakan uang sebagai alat ukurnya. kita menghitung nilai ekonomi dari aset dan kewajiban. Untung dan rugi. Apapun yang ndak bisa diterjemahkan dalam istilah moneter, ndak akan menambah atau mengurangi nilai perusahaan. Dalam kasus ini, untuk mengukur kesuksesan bisnis, uang adalah nilai tukar yang utama.

Simpulan bisnis di atas sayangnya menular pada pelakunya. Manusia lalu mengkultuskan uang sebagai nilai pribadinya. Seperti bisnis, manusia juga mengalami untung dan rugi. Namun, uang bukanlah nilai tukar yang utama.  Mata uang utama bagi manusia adalah waktu.

Waktulah komoditas terbesar manusia. Semua orang, ndak peduli tua atau muda hanya memiliki sejumlah waktu seumur hidupnya. Ndak bisa beli lebih dari itu. Kadang-kadang orang bertanya, “Apa yang bisa kita berikan untuk orang yang memiliki segalanya?” Jawabannya selalu sama: waktu. Waktu merupakan hal yang paling berharga yang kita bisa kita dapatkan dan berikan.

Jika Anda seorang pekerja di Jakarta. Silakan bikin skema gaji per jam. Lalu kalikan dengan waktu yang Anda habiskan untuk bekerja. Termasuk menuju dan pulang dari tempat kerja. Lalu kurangi dengan gaji bulanan Anda. Itulah nilai yang Anda buang tiap saat. Karena belum ada bisnis yang betul-betul berkomitmen untuk membayarkan sejumlah waktu untuk pegawainya. Sebaliknya, mereka senang betul kalau waktu pegawainya dikonversikan dengan uang yang akan dihitung dengan teliti lewat absensi dan gaji.

Entah berapa rupiah dikeluarkan manusia untuk membeli waktu. Lewat botox, operasi plastik, injeksi enzim dan hormon, atau sekedar memakai cream malam. Waktu memberikan pelajaran dan kesabaran untuk manusia. Ia membentuk ruang berkembang yang nilainya ndak bisa dihitung dalam satuan harta. Kita punya sedikit waktu untuk mencapai cita-cita. Dan begitu banyak waktu untuk ndak mengejarnya. Dari sini, istilah “buang waktu” terdengar seperti pelecehan. Bahkan lebih gila dari buang uang.

Selama waktu bisa menghasilkan uang dan uang ndak bisa ditukar waktu, sebaiknya mulai berhitung ulang. Karena satu jam di kemacetan nilainya jauh berbeda dengan satu jam bersama anak tercinta.

Children Will Listen

Subliminal Message, atau dalam bahasa Indonesianya disebut pesan terselubung, atau pesan di bawah kesadaran yang melihatnya. Pesan yang bisa jadi sebenarnya bukan yang dikehendaki yang menyampaikannya. Pesan yang tak tersurat tapi tersirat. Yang jika dibawa ke meja hijau akan sulit untuk membuktikannya.

Deburan pesan yang menerpa setiap hari, menghantam hampir semua manusia di dunia. Seperti saat Anda membaca tulisan ini. Atau saat melihat media sosial, tv, film, gambar, dubsmash, dan sebagainya, semuanya menyampaikan pesan. Bagi penerima yang sudah memiliki pemikiran dan keteguhan mental pun, pesan-pesan terselubung ini bisa masuk dan perlahan menjadi kenyataan. Pada dasarnya, kenyataan adalah pesan-pesan terselubung yang disampaikan secara terus menerus.

Bagaimana kalau pesan-pesan itu sampai ke panca indera anak-anak kita? Yang masih polos dan menerima semua yang dilihat sebagai kebenaran dan kepatutan.

Apa kira-kira yang mereka pikirkan saat merela melihat akun Instagram @PrincesSyahrini? Yang dengan bebas dan luwes memamerkan kekayaan dan harta yang dimilikinya sebagai simbol kesuksesan yang #Bukan_Khayalan_Semata. Berpindah dari satu negara ke negara lain dengan pesawat jet pribadi sambil menenteng tas yang harganya cukup untuk membeli sebuah rumah di pinggir Jakarta.

syr1t

Perlahan dan pasti, Syahrini menyampaikan pesan “pamerkanlah kekayaanmu untuk meraih kesuksesanmu.” Tapi jangan salahkan Syahrini kalau anak Anda semakin hari semakin materialistis. Karena Syahrini hanyalah menjadi Syahrini. Dia menjadi dirinya sendiri. Dan besar kemungkinan dia tak menyadari apa yang sedang dilakukannya.

Atau saat anak-anak menonton tingkah Sony Wak Waw yang sedang mempermalukan dirinya sendiri dan mendapat sambutan dan penghargaan dari orang-orang di sekitarnya. Besar kemungkinan, pesan “permalukanlah dirimu untuk meraih ketenaranmu” akan semakin diyakini sebagai kebenaran kalau tidak mau dibilang sebagai satu-satunya cara.

Soni Wakwaw

Bukan ingin untuk protes atau ikut-ikutan bersuara, pernahkah terpikirkan apa yang generasi muda kita -khususnya yang sedang kuliah belajar untuk meraih cita cita sebagai Duta Besar – pikirkan saat mengetahui seorang Pelukis (atau memiliki hobi melukis) diangkat menjadi Duta Besar Indonesia untuk Bulgaria? Bukan bermaksud merendahkan profesi Pelukis, tapi bukankah seorang Duta Besar perlu memiliki latar belakang, pengetahuan dan wawasan Hubungan Internasional, Ilmu Sosial dan Politik? Karena kalau Sosialita mungkin lebih cocok untuk jadi Duta Besar Bvlgari.

Dalam sebuah tulisan di Kompas, tertulis empat kriteria seseorang bisa menjadi Duta Besar. Kriteria tersebut yaitu paham betul daerah bertugas, memiliki inisiatif dalam berbagai bidang yang menguntungkan Indonesia, memiliki solusi dalam penyelesaian konflik bilateral, dan memiliki konsep dalam menjembatani hubungan Indonesia dengan tempat bertugas.

50191_620

Kalau memang benar Indonesia harus punya masa depan yang lebih baik dari sekarang, bukankah sudah menjadi kewajiban kita sebagai “orang tua” untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan dan kebajikan. Pesan klasik yang bisa menjadi bekal abadi di masa depan. Bukan sekedar pendidikan di bangku sekolah, tapi pendidikan dalam arti seluas langit dan pemahaman sedalam inti bumi.

Karena memilih Duta Besar adalah hak Presiden RI sepenuhnya, benarkah keputusan pengangkatan ini peduli pada masa depan Bangsa?

Kekhawatiran ini pula mungkin yang membuat Stephen Sondheim menulis lagu  “Children Will Listen”

Careful the things you say
Children will listen
Careful the things you do
Children will see and learn
Children may not obey, but children will listen
Children will look to you for which way to turn
To learn what to be
Careful before you say “Listen to me”
Children will listen
Careful the wish you make
Wishes are children
Careful the path they take
Wishes come true, not free
Careful the spell you cast
Not just on children
Sometimes a spell may last
Past what you can see
And turn against you
Careful the tale you tell
That is the spell
Children will listen

 

Berita Minggu Ini

  • Sesaat setelah Alexander Graham Bell menciptakan telpon, dia mendapat 3 miskol dari Chuck Norris.
  • Chuck Norris pernah berkunjung ke Planet Mars; Itulah mengapa disana tak nampak tanda-tanda kehidupan.
  • Chuck Norris dapat mengiris pisau tajam terbelah menjadi dua, dengan menggunakan mentega.
  • Chuck Norris ndak pernah pakai jam tangan, karena dia yang menentukan jam berapa sekarang.
  • Chuck Norris juga kemarin datang ke pameran mobil di Jakarta. Karena iseng dia belah pameran jadi dua. GIIAS dan IIMS 2015. GIIAS dibuat oleh Gaikindo sebuah asosiasi industri otomotif dan diselenggarakan di BSD-Tangerang. Sedangkan IIMS dibuat oleh Dyandra, yang selama ini kongsi dengan Gaikindo tapi sekarang jalan sendirian bikin pameran di Kemayoran. Dyandra, memang kerjaannya bikin pameran. Pecah kongsi? Bisa jadi. Selama 10 Hari sejak tanggal 20 sampai dengan 30 Agustus kita boleh jenguk deretan mobil baru maupun lawas yang dipamerkan.

Hal yang menarik adalah kedua perhelatan tersebut dibuka secara resmi oleh Pak JeKa.Sebetulnya ada satu lagi pameran otomotif khusus alat berat. Penyelenggaranya Pemprov DKI. Apa saja merek otomotif alat beratnya, belum ada konfirmasi jelas. Apakah Komatsu, Kobelco, Hitachi, Caterpillar atau entah apa lagi alat berat spesialis buldoser penuh otot mencengkram tembok dan langit-langit bilik rumah. Mereka sedang beraksi bongkar-bongkar bangunan.

Ketua penyelenggara pameran khusus Pemprov DKI adalah Julius Caesarahok. Mereka sedang belajar menggunakan kembali arti kuasa, wewenang, hak warga, mendengar, kepentingan, hak milik, dan banyak kata-kata serapan lainnya dalam pagelaran Industri Desa Galia di Kampung Pulo Jatinegara.

Julius Caesarahok lupa di Kampung Pulo ada Chuck Norris, warga urban dari Surabaya, yang berjualan soto sejak 24 tahun lalu di samping pintu rel kereta Jatinegara. Chuck dan sebagian warga masih doyan minum jamu dan pil biru. Jangankan Satpol PP, bahkan jika tentara pun masuk Kampung Pulo, bisa-bisa malah  Monas yang roboh.Apalagi katanya ada Habib yang sudah berhasil menghubungi Chuck Norris untuk serius tangani masalah ini. Entah deh apa jadinya jika Julius Caesarahok berhadap-hadapan dengan Chuck Norris.

  • Selain bisa punya 7 seat (kursi) yang memuat 7 orang penumpang, Honda BR-V juga dirancang memenuhi karakter kondisi jalan di Indonesia. Untuk itu Honda BR-V diposisikan sebagai mobil model crossover utility vehicle (CUV) yang ada diantara tipe SUV dan MPV. “Prototipe Honda BRV diposisikan sebagai mobil crossover antara SUV dan MPV yang memadukan desain tangguh dan kenyamanan sebuah SUV dengan utilitas MPV tujuh penumpang,” ujar Presiden Direktur PT Honda Prospect Motor (HPM), Tomoki Uchida, di Tangerang, Kamis (20/8/2015). Dengan diluncurkan secara resmi penampakkan Honda BR-V mulai terlihat. Seperti sudah diberitakan sebelumnya, Indonesia menjadi negara pertama lahirnya Honda BR-V di dunia. Dibekali dengan transmisi CVT dan manual 6 percepatan, Honda BRV menggunakan mesin 4-silinder 1.5 L i-VTEC. Tenaga yang dihasilkan dari mesin Honda BRV maksimum 120PS pada 6.600rpm dan torsi max 145Nm pada 4.600rpm. (Baca juga: Mobil Honda BR-V 2015 ‘Adik’ HRV Gunakan Transmisi CVT & Manual 6 Percepatan). Harga Honda BR-V tidak jauh berbeda dengan prediksi dan perkiraan harga Honda BRV selama ini antara harga Honda Mobilio dan Honda HRV. Harga CUV Honda BRV dibanderol mulai Rp230 juta hingga Rp265 juta. Akan mulai diproduksi pada awal tahun 2016, Honda BR-V baru sudah bisa dipesan secara pre-order (inden) di pameran mobil GIIAS 2015 ICE BSD. Rencananya Honda BRV akan diproduksi di Karawang, Jawa Barat, Indonesia.
  • Polda Metro Jaya menambah jumlah personelnya untuk mengamankan proses penggusuran permukiman warga di Kampung Pulo, Jakarta Timur.  “Polda turunkan 150 personil untuk menambah pasukan. Tetap kita akan bereskan hari ini,” ujar Wakapolda Metro Jaya Brigjen Nanang J di Kampung Pulo, Jakarta Timur, Kamis (20/8). Penambahan personil ini ditujukan guna melancar relokasi yang terhambat aksi penolakan warga. Menurutnya relokasi akan tetap dijalankan sesuai dengan instruksi Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Bersamaan itu, Kapolda Metro Jaya, Irjen Tito Karnavian beserta Brigjen Nanang tiba di lokasi untuk meninjau pasca bentrokan yang sebelumnya terjadi. Aksi ini bahkan sebelumnya mengakibatkan bentrok antara warga dengan Satpol PP dan Kepolisian. Pemprov DKI Jakarta awalnya menurunkan 2.150 personil gabungan TNI, Polisi, dan Satpol PP untuk merelokasi warga. Proses relokasi yang dipimpin langsung Wali Kota Jakarta Timur Bambang Mustawardana sedianya akan merelokasi warga ke rumah susun yang sudah disediakan Pemprov DKI.*) 
  • Pakar telematika Roy Suryo, akhirnya membuat akun twitter dengan nama @KRMTRoySuryo. Sebabnya, Roy gerah namanya dipalsukan oleh beberapa akun twitter yang mengatasnamakan dirinya. Untuk menunjukan akun twiternya asli, Roy pun menulis KRMT Roy Suryo ASLI dalam akunnya. Roy pun menjelaskan niat utamanya adalah menutupi akun-akun palsu yang selama ini mencatut namanya. Beberapa akun palsu itu antara lain bernama @suryoroy atau @roysayur.\\\”Ini untuk menutupi twit ngaco yang dilakukan akun palsu seperti @suryoroy atau @roysayur. Kasihan yang sempat mem-follow akun-akun palsu tersebut,\\\” tutup dia.\\\”@ojat Ya mas, akun ini asli (tidak seperti @suryoroy atau @roysayur) yg twit-twitnya sudah ngaco & banyak korbannya selama ini …\\\” tulis Roy.

    \\\”@agoesaswari Insyaallah bermanfaat dan ini memang akun asli kok, sumonggo dicermati saja sebelum memastikannya,\\\” jawab Roy pada tweeps yang lain.

  • Chuck Norris mustahil kena serangan jantung, karena jantung ndak mungkin sebodoh itu melakukan serangan kepada seorang Chuck Norris.

Demikian sari berita minggu ini.

Sampai jumpa.

Chuck Roy

 

 

*) republika.co.id (20/8/2015)–

Surat Cinta untuk Restoran Restoran di Jakarta

Saya masih ingat ketika Jakarta masih terbatas sekali pilihan restorannya. Makanan cepat saji yang ada baru Kentucky Fried Chicken. Dulu belum terkenal sebagai KFC. McDonald’s hanya angan-angan. Dairy Queen dan Burger King sempat buka sebentar di Ratu Plaza kemudian menghilang begitu saja, membuat saya patah hati karena rindu Blizzard-nya. Masakan Italia yang lumayan autentik tetapi masih terjangkau jarang sekali. Mungkin juga pilihan saya lebih terbatas lagi karena ketika itu kantung saya masih kantung uang jajan anak sekolah yang sesekali ditraktir makan orang tua, ya. Saya ingat waktu itu mengidamkan makan di sebuah restoran Italia di Plaza Indonesia, berjudul Maxi’s. Ketika akhirnya terjadi rasanya senang sekali, karena pada zaman itu memang rasanya mahal.

Thanks, Google Image!

Thanks, Google Image!

Kalau sekarang? Mau restoran gaya apa pun ada di Jakarta. Tinggal pilih sesuai selera dan bujet, tentunya. Sebagai seorang yang doyan makan, saya cukup sering mencoba restoran baru yang hampir setiap bulan atau bahkan minggu buka di ibukota tercinta ini. Kalau tidak bayar sendiri, saya cukup beruntung – karena bekerja di media gaya hidup – sering diundang ke restoran-restoran oleh klien, partner, maupun tempatnya sendiri sehingga bisa mencicipi tanpa harus bayar.

Dari segi rasa, restoran di Indonesia cukup bersaing. Tidak semua istimewa, memang, tetapi nyaris tidak pernah yang jauh dari pengharapan. Underwhelming, sometimes, but still good enough. Yang menurut saya bisa menjadi jauh lebih baik justru di bidang pelayanan. Rasanya seperti tidak ada renjana dalam menyajikan hidangan maupun layanan kepada para tamu.

Contoh dari masa lalu; saya pernah terdampar di Amerika Serikat dan karena mendadak miskin, harus jadi tenaga kerja gelap dan bekerja sebagai seorang pramusaji di restoran yang cukup sederhana dan menurut saya makanannya tidak istimewa. Tetapi kepala pramusaji kami, namanya Alex (saya tidak ingat nama keluarganya), punya standar yang cukup tinggi dalam servis. Sistem kami dulu lebih ke sistem zona; setiap pramusaji pegang beberapa meja yang dia layani dari awal (mencatat pesanan) hingga akhir (memberikan bill dan membayarkannya ke kasir sampai mengembalikan uang). Ketika saya baru masuk, Alex mengajarkan saya sebuah sistem, bagaimana mencatat pesanan tamu, sehingga ketika makanan siap, saya langsung tahu tanpa bertanya kembali ke tamu (atau istilahnya “melelang piring”) siapa memesan apa. Hal ini sepanjang ingatan saya jarang sekali diterapkan di restoran-restoran di Jakarta. Bahkan ketika di sebuah meja hanya ada dua orang tamu, kami akan ditanyakan kembali apa adalah pesanan siapa ketika hidangan datang.

everytime-i-visit-a-restaurant

Baru saja siang hari tadi (saya menulis ini di malam hari) saya menghadiri pertemuan kecil di restoran, tamunya kurang lebih 20 orang. Restoran ini cukup baru, di sebuah mal besar di pusat kota, dan sepertinya cukup populer. Kami disajikan set menu dengan tiga pilihan hidangan utama. Saya termasuk yang awal datang, bersama tiga orang undangan lainnya yang juga sudah datang langsung diminta dan dicatat pesanannya. Tamu lain mulai berdatangan, acara sudah hampir dimulai. Tiba-tiba ada pramusaji lagi yang mendatangi kami yang datang awal dan bertanya soal pesanan kami beserta detailnya, kami pun mengulanginya lagi. Acara pun berlangsung, dan setelah selesai dan para tamu masih meneruskan diskusi informal, pramusaji berdatangan dengan hidangan utama, sambil bertanya-tanya, “Grilled chicken? Siapa tadi yang pesan grilled chicken?” Yang sedang berdiskusi tetapi diam-diam perutnya sudah keroncongan dan kebetulan memesan grilled chicken dengan segan, malu malu tapi mau ada yang memanggil, ada yang mengangkat tangan atau mengangguk. Proses ini pun berulang beberapa kali sampai semua hidangan keluar. Diskusi pun terganggu alirannya. Koreksi saya kalau saya salah, tetapi acara seperti ini kemungkinan besar tidak direncanakan mendadak, berarti restoran punya waktu beberapa hari – paling tidak – untuk mempersiapkannya. Termasuk mengatur set menu. Dan harusnya termasuk mengatur sistem pemesanan. Misalnya saja – saya agak mengkhayal – menggunakan stiker yang mewakili tiga hidangan utama. Stiker warna hitam mewakili barbecue brisket, kuning spaghetti, merah japanese style beef, yang diam-diam ditempel di belakang sang pemesan (sebagai tambahan informasi yang sudah dicatat). Makanan datang, langsung diletakkan dengan tepat ke sang pemesan, tamu senang, sang pengundang tenang, restoran juga menang. Mungkin sudah waktunya menjadikan restoran tidak hanya “tempat makan di luar rumah” tetapi jadi pengalaman santapan yang menyenangkan dan berkesan?

Maya atau Nyata, Manusia Ya Manusia

Beberapa waktu lalu, saya baru menyelesaikan membaca buku “Modern Romance” karya Aziz Ansari. Aziz ini adalah komedian dari Amerika Serikat yang berasal dari orang tua imigran asal Iran. Aziz pernah menjadi pembawa acara MTV Movie Awards. Beberapa stand-up comedy shows yang dia gawangi, sukses besar. Ada beberapa potongan klip-nya di Youtube. Saya mulai familiar dengan Aziz saat dia main di serial “Parks and Recreation”.
Dengan portfolio seperti ini, saya pikir buku “Modern Romance” ini adalah buku komedi tentang perjalanan hidup dan karir dia. Mirip dengan buku-buku serupa dari komedian seangkatannya, seperti Mindy Kaling, Tina Fey, dan rekannya di serial “Parks”, Amy Poehler. Ternyata saya keliru.

Buku “Modern Romance” bertutur tentang betapa ribetnya memulai dan menjalin hubungan asmara di era digital. Ya, ini bukan buku biografi, tapi murni pengamatan Aziz dan ahli sosiologi, Eric Klinenberg, yang membantu menulis buku ini. Bertahun-tahun mereka mengamati, melakukan survei dan sesi FGD (focus group discussion) tentang bagaimana orang-orang mencari pasangan hidup di dunia maya. Bisa jadi, kata “orang-orang” ini diganti dengan kita.

Dari sekian banyak poin menarik yang dituturkan di buku ini, ada satu yang menarik perhatian saya.
Menjelang akhir buku yang cukup tebal ini, Aziz berkata:

Online dating dan smartphone membuat kita bisa mengirim pesan ke siapa pun di seluruh dunia. Namun perubahan dalam digital communication ini membawa pengaruh besar. Saat kita melihat ke layar ponsel dan melihat ada pesan masuk, mungkin dari orang yang sedang kita incar untuk kita dekati, seringnya kita melihat ada kotak atau lingkaran yang berisi pesan tersebut. Dan seringnya kita lupa untuk melihat bahwa ada manusia di balik kotak atau lingkaran. Sejalan dengan semakin seringnya kita mencari pasangan hidup lewat jalur online, kita lupa bahwa di setiap pesan masuk, di setiap profile online dating, ada manusia yang hidup, bernafas, dan punya kisah yang kompleks, persis seperti Anda.”

Cukup lama saya memandang kutipan di atas, dan sedikit terhenyak. Jangankan pesan di aplikasi online dating. Kadang saya pun lupa kalau ada manusia “beneran” di balik setiap pesan di WhatsApp atau LINE atau jalur komunikasi instan lainnya. Paling jelas kealpaan ini terlihat saat kita sedang marah. Kalau sudah marah, kita bisa merepet menulis begitu banyak kata, seolah-olah tidak memberikan kesempatan kepada lawan bicara untuk membela diri. Well, at least, saya pernah melakukan itu, sih. Lalu menyesal setelah beberapa saat kemudian.

Thank you, Google Image!

Thank you, Google Image!

Kutipan di atas dilanjutkan oleh Aziz dan Eric dalam contoh-contoh nyata yang praktikal. Misalnya saja, saat mulai mengajak orang berkenalan di dunia maya. Mereka menyarankan agar mulai menyapa orang seperti ketika bertemu orang untuk pertama kali di bar atau club. Tidak perlu menghabiskan alfabet terlalu banyak seperti “Yo, wuuuzzuuupp ma guuurrrllll/boyyyyzz?!”. Coba lafalkan saja kalimat di atas. Susah, tho? Yang lebih gampang memang cukup “Hey, what’s up?”, karena di dunia nyata pun, kita juga mengatakan hal yang sama, seperti “Hai, boleh kenalan?”
(Kalau nggak boleh, ya nggak pa-pa. Penduduk Indonesia hampir 300 juta kok saya, eh kamu, masih jomblo. Jleb.)

Memang, butuh keinginan kuat untuk sekedar mengirimkan pesan kepada orang yang belum kita kenal. Seringnya kita takut, atau jiper/keder/minder duluan karena melihat profil orang tersebut. Padahal, seperti yang sudah dibilang di atas, ada orang beneran kok di setiap profil ini. Artinya, orang aslinya bisa dipastikan jauh berbeda dengan yang terlihat di profil.

Online world, let alone social media, can make us whoever we want to be.
Siapapun bisa menampilkan citra apapun yang ingin ditampilkan di media sosial. Apalagi “sekedar” profil dating. Maklum, dalam kapasitas jumlah kata-kata yang singkat, ukuran foto yang sekecil-kecilnya, kita ingin menarik minat orang lain sebanyak-banyaknya. Karena berlomba-lomba ingin menjadi terlihat yang paling oke/kece/keren, maka aplikasi pemoles foto pun laris manis. Kalau perlu, foto dari 5 tahun lalu kita poles lagi dengan Camera 360. Deskripsi diri sekedarnya saja, kalau perlu pakai Google Translate.
Akhirnya, online profile hanya mewakili maksimal sekiar 1% dari jati diri asli kita. Tentu saja, the other human parts, the rest of 99% yang membuat orang itu menyenangkan, karena dia bangun tidur dengan bekas iler, tapi bisa membaca 200 halaman dalam waktu sejam, dan bisa membuat kopi enak sekaligus telur dadar yang nikmat untuk sarapan, tapi bisa bete karena gak bisa ganti ban mobil, all of the flaws and imperfection that make one perfect are often unheard and unseen.

Thank you again, Google Image!

Thank you again, Google Image!

Bukan salah kita juga kalau belum bisa melihat atau mendengar bagian tersebut, karena bisa jadi kita tidak akan mendapat kesempatan itu. And it’s more than fine.
Paling tidak, kita sudah berusaha untuk mengorangkan orang. Dalam bahasa Jawa, ada istilah “nguwongke wong”, atau memperlakukan manusia sebagaimana mestinya. Tantangan besar memang saat kita hanya melihat sedikit bagian dari orang lain itu, baik dalam bentuk gambar atau tulisan singkat. Tapi ingatlah selalu, bahwa ada jemari yang menulis dan nafas yang berhembus penuh harapan, bahkan di satu kata yang paling pendek pun: “Hai”.

(Di bawah ini ada beberapa snippets dari buku “Modern Romance” versi Kindle yang saya capture dengan ponsel.)

(Mau) Bertanya dan (Bersedia) Mendengarkan

PERNAH dengar istilah “Triad KRR”? Sebutan ini dicetus-populerkan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), menjadi julukan untuk tiga risiko yang mengancam kehidupan remaja sebagai calon generasi produktif sebuah bangsa.

Meskipun KRR merupakan akronim dari “Kesehatan Reproduksi Remaja”, namun Triad KRR terdiri atas seksualitas, HIV/AIDS, dan Napza (jadi singkatan dalam singkatan; Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif Lainnya). Entah bagaimana penjabaran hubungan antara seksualitas dan Napza dalam spektrum perspektif BKKBN, biarlah lembaga terkait yang menjelaskannya. Yang pasti, ada ratusan orang dari segudang instansi, yang saban bulan menyambangi sekolah dan area sejenis, menyampaikan penyuluhan dan pengarahan kepada para siswa untuk:

  • Selektif memilih lingkaran pergaulan,
  • Menghindari segala perilaku menyimpang, termasuk
  • Tidak merokok dan mengonsumsi minuman keras,
  • Menjauhi narkoba, pornografi, dan seks bebas,
  • Membentengi diri dengan ajaran agama serta meningkatkan iman dan takwa, sehingga
  • (Pokoknya!) yang boleh, boleh, dan yang tidak boleh, ya tidak boleh.

Rasanya, sejak saya masih SMP sampai sekarang–lebih dari sepuluh tahun setelahnya, pesan yang disampaikan selalu sama. Itu-itu saja. Namun aneka rupa perilaku menyimpang yang dilakukan remaja, bahkan anak-anak makin menggila (menurut standar kelaziman di Indonesia). Bikin para orang tua makin berat menghela napas, makin sering mengelus dada.

Kalau sudah begini, apanya yang salah?

  • Subjeknya, atau remaja yang selalu berganti?
  • Pola pikir dan sikap remaja yang kian nekat?
  • Perubahan zaman dan cepatnya arus informasi?
  • Nilai-nilai peradaban yang bergeser?
  • Lingkungan yang makin permisif dan memaklumi, termasuk minimnya teladan?
  • Kurangnya pengawasan dan pendampingan orang tua?
  • Cara penyampaian pesan yang kurang mengena?
  • Pesan yang disampaikan kurang tepat?
  • Atau, gabungan dari semuanya?

Saya yakin, setiap poin di atas bisa menghasilkan penjelasannya masing-masing, dan cukup panjang lebar. Bahan seminar maupun sarasehan. Kemudian, sebelum saya makin terdengar seperti Pembina Upacara yang sibuk berbicara tanpa ada yang peduli–kecuali yang apes berada di barisan depan, biarlah bagian ini berhenti sampai di sini.

Lalu, apa hubungannya dengan tulisan Linimasa hari ini?

Memanfaatkan Senin pagi yang tanggal merah kemarin, boleh dong iseng nongkrong di kafe lokal. Sekitar pukul 9 pagi Wita, hampir seisi ruangan penuh dengan remaja berseragam, basian upacara bendera peringatan kemerdekaan sekolah masing-masing. Mereka berhimpun, saling bercengkerama, sambil makan dan minum.

Kalau begini situasinya, berasa wajar aja ya kan?

Ini tambahannya.

Sebagian besar siswa cowok berasap dari mulut (1). Terus, sebagian besar siswa, cowok atau cewek, santai berbicara dengan menyelipkan kata-kata menyumpah di tengah kalimatnya. Seperti: “anjing…”, “bangsat…”, dan sebagainya (2). Okelah, saya tidak terlalu ambil pusing untuk kelakuan nomor 1 dan 2. Barangkali karena pemandangan dan celetukan tersebut makin jamak saya (kita) temui dalam kehidupan sehari-hari. Toh setelah mereka akil balik dan punya KTP, mereka juga berhak untuk menjadi perokok. Kemudian soal kata-kata kasar, sudah dianggap biasa, colloquial expression. Justru seseorang sudah terkesan akrab dan nyaman, kala bisa melontarkan kata-kata tersebut tanpa sungkan dan ragu. Ya, kan?

Perhatian saya mulai terusik, saat terdengar celetukan seorang siswi SMA yang datang bersama tiga temannya (dua cewek, satu cowok). Di tengah-tengah menikmati makanan, dia ngomong gini:

Bokep itu kan ngajarin kita… Kan ceweknya cantik-cantik.

Sebagai catatan, saya tidak sengaja menguping (kayak kurang kerjaan aja). Kalimat itu dilontarkan sebagai bagian dari perbincangan biasa, terdengar lancar, lantang dan tanpa kesan malu-malu. Mudah-mudahan saya salah dengar, soalnya bukan apa, lantaran si pengucap adalah cewek usia remaja, yang sudah mendapatkan akses pada pornografi dan kemungkinan besar tanpa dibarengi penjelasan berimbang dari yang berkompeten. Dari kalimat yang ia lontarkan, asumsinya, yang ia maksud “ngajarin” adalah bagaimana para AV Stars tampil sebagai aktris, riasannya, penampilannya, atau lainnya.

Foto diambil dari posisi nongkrong, dan cewek SMA duduk di kursi paling ujung.

Foto diambil dari posisi nongkrong, dan cewek SMA duduk di kursi paling ujung.

Rokok, bagi sebagian pihak, bisa termasuk dalam kategori “Zat Adiktif Lainnya” pada Napza. Dengan ini, para remaja yang saya lihat kemarin pagi, rata-rata sudah berpotensi bersinggungan dengan salah satu dari Triad KRR. Berarti, seharusnya ditanggulangi, kan? Apalagi dampaknya jelas. Minimal, menyita sekian persen dari uang saku yang mereka dapatkan dari orang tua.

Pornografi, jelas berhubungan dengan seksualitas. Scara, tujuan produksi, pemasaran, dan penyebarluasannya adalah untuk menstimulus syaraf. Membangkitkan fantasi; bikin tegang. Namun saat dikonsumsi remaja, atau siapa pun tanpa pemahaman dan kesiapan isi kepala, bisa menyebabkan kesalahpahaman, ketidakmampuan mengendalikan hasrat (ini yang bikin pornografi gampang dijadikan kambing hitam untuk meningkatkan kasus pencabulan, perkosaan, dan pelecehan seksual), termasuk meningkatnya angka seks tanpa tanggung jawab dan di bawah umur, yang secara legal melanggar hukum negara (berbeda dengan seks pranikah di usia dewasa, dalam kondisi tertentu, sehingga secara teknis tidak berdampak pada pidana). Pastinya, pornography is not sex education.

Silakan cari tahu sendiri deh, dan sudah banyak beredar di Internet, soal mispersepsi-mispersepsi seksualitas yang dikira fakta gara-gara bokep. Misalnya: kelokur di lokur adalah salah satu metode kontrasepsi (hello… Do You know about pre-cum?); the squirting partner is a sign of male’s sexual prominence; moan is a sign of pleasure (repeat after me: P-A-I-N); size is everything, dan masih banyak lainnya. Syukur-syukur sih kalau habis nonton bokep malah bersemangat untuk nge-gym atau olahraga, terinspirasi bisa punya bentuk tubuh ideal macam para pemainnya. Tapi ya mustahil banget ada orang nonton bokep kayak nonton video motivasi kebugaran tubuh.

Sekali lagi, jangan lupa, setelah mereka berusia dewasa (17 tahun ke atas), secara hukum mereka berhak membeli rokok, dan mengkonsumsi segala bentuk pornografi.

Usia memang bertambah, akan tapi persepsi mereka terhadap rokok dan pornografi ya tetap sama: sama-sama bikin “enak”. Bahkan menjadi adiksi, yang kemudian barulah dibahas pakai politik dan debat kusir oleh para pakar, saat para remaja tersebut sudah berusia 25 tahunan ke atas. Sudah jadi kebiasaan yang lengket. Telanjur. Telat. Perihal ini pula, tidak tepat bila mencela dan menghina para perokok maupun penikmat bokep di usia dewasa mereka. It’s on their own consent.

Kalau sudah begini, izinkan saya memukulratakan, bahwa para siswa yang merokok dengan leluasa dan mafhum dengan pornografi tadi, setidaknya sudah tiga kali mendapatkan penyuluhan bertema sama di sekolah. Mereka akan sama seperti siswa-siswa lainnya, yang duduk, menyimak penjelasan sampai selesai, dan memberi ilusi kepada narasumber maupun pihak sekolah seolah mereka sudah paham dan seiya sekata dengan materi penyuluhan yang disampaikan.

Di posisi ini, alangkah baiknya jika indoktrinasi atas semua yang dilarang-larang itu, diubah saja. Terutama untuk para remaja-remaja kita.

Banyak anak muda yang tahu merokok itu tidak baik, lengkap dengan alasan-alasannya. Tak sedikit pula yang sepakat bahwa pornografi itu harus dihindari, karena jorok, menjijikkan, dan sebagainya, kadang juga lengkap dengan argumentasi mengenai kerusakan jaringan otak akibat paparan selama sekian hari. Hanya saja, mereka tetap merokok, meski diam-diam. Apalagi kalau nonton bokep, enggak mungkin nobar, karena pasti awkward. Trus, para orang-orang dewasa, penyuluh, dan mereka yang merasa bertanggung jawab pada moralitas anak bangsa, hanya bolak balik menyerukan “JANGAN MEROKOK! JANGAN NONTON PORNOGRAFI! JANGAN LAKUKAN SEKS BEBAS!” dan sebagainya, dan sebagainya. Semua merupakan kata perintah, dengan tanda seru. Pada saat ditanya “kenapa?” Jawabannya hanya “POKOKNYA ENGGAK BOLEH!” Meninggalkan sang manusia belia di persimpangan ketidaktahuan, dengan pertanyaan yang menggantung, dan bersiap menjelajah sendiri.

(Seruangan dengan bocah ini, saat nongkrong di lokasi berbeda, sepuluh bulanan lalu.)

Namun pernahkah siap menyediakan waktu, perhatian, dan simpati, dengan bertanya “Kenapa sih kamu merokok? Kenapa sih kamu nonton pornografi? Kenapa kamu lakukan seks bebas?”

Menyediakan waktu untuk mendengarkan, menyediakan perhatian untuk benar-benar memahami, dan menyediakan simpati untuk mencoba berdiri dari posisi si empunya penjelasan. Sehingga yang berlangsung kemudian bukan penghakiman, tapi diskusi untuk mencoba berbagi pemahaman, memperpendek gap antara si orang dewasa dan si remaja.

Sayangnya, kita terbiasa berada dan tumbuh kembang di lingkungan yang membungkam pertanyaan, terlebih yang sensitif-sensitif macam di atas. Yang lebih suka bilang “ndosah tanya-tanya, nanti bikin malu”, ketimbang “kalau kamu ada yang dibingungkan, tanya mama/papa ya. Jangan orang lain.” Akhirnya, jadi gampang ndak-nyamanan, sampai dewasa.

Mengambil contoh siswi yang bicara soal bokep tadi. Dia cewek (lazimnya, konsumen pornografi didominasi oleh cowok), dan dia bisa mengutarakan hal tersebut secara lantang di depan teman-teman satu geng (berarti, dia merasa nyaman berada dalam lingkaran tersebut).

Coba saja ketika ada orang lain (dari luar geng), yang lebih tua (guru, maupun lainnya), atau yang asing (penyuluh dari instansi luar sekolah), berbicara soal pornografi kepadanya, pasti dia akan bersikap normatif. Menjawab “iya”, untuk pertanyaan yang umumnya harus dijawab “iya”, begitupun sebaliknya. Sekadar lip service, biar tidak memalukan diri sendiri, takut dicap yang macam-macam. Malangnya, kebiasaan keliru ini bertahan sampai dewasa, menyusun kepribadian yang sejatinya membohongi diri sendiri. Voila! Karakter kebanyakan manusia Indonesia.

Ironisnya, manusia adalah tempatnya kesalahan, tapi tidak ada satu pun manusia yang suka dengan perasaan ketika disalahkan. Pasalnya hanya ada hukuman, minim pembelajaran. Jadi, ujung-ujungnya, banyak yang berlomba melempar, mengubur kesalahan, atau malah menghilang, ketimbang mengakui kesalahan untuk serendah-rendahnya dipermalukan. Termasuk untuk soal ini.

Ingin tahu, bertanyalah. Setelah bertanya, simak, dan komunikasikan. Harap diingat, mereka masih remaja. Harusnya, kita yang (mengaku) sudah dewasa berusaha memahami mereka, bukan memaksa mereka untuk memahami kita.

Sebaik-baiknya hasil akhir sebuah komunikasi adalah mengerti, bukan menghakimi.

[]