Sebuah Omong Kosong

PAK, kenapa ya, habis lulus kuliah kok sayanya berasa makin bego sik? Bukan malah makin pintar,” tanya saya kepada Pak Dosen, beberapa waktu lalu.

Ya justru memang harusnya begitu kali,” jawab Pak Dosen, membiarkan pikiran saya mengawang-awang, mencoba mencari batasan yang jelas dalam konteks tersebut.


Saat seseorang berani berharap, berarti seharusnya ia juga berani menghadapi apa pun yang bakal terjadi di masa depan. Hanya saja, lebih sering kita dapati orang-orang yang sangat berharap atas sesuatu, mengerahkan segalanya demi mencapai tujuan, dan terlampau bersemangat menjalaninya tanpa sempat belajar atau mempersiapkan diri mengantisipasi hasil akhir yang mereka temui. Syukur-syukur kalau berhasil mencapai apa yang diinginkan. Namun saat terjadi sebaliknya, kenyataan yang tak sesuai harapan itu malah membuat mereka terhenyak, terpukul, bahkan tenggelam dalam frustasi. Itu pun masih mending kalau dampaknya hanya ditimpakan kepada diri sendiri, namun akan sangat merepotkan jika ikut dicurahkan kepada orang lain. Salah satu contoh nyatanya seperti yang ditulis Ko Glenn, Minggu kemarin. Ketika banyak orang tua berharap anak-anaknya bisa jadi sesuai keinginan mereka, dan seterusnya.

Dalam hal ini, saya mungkin cuma bisa berteori dan terdengar seperti kaset rusak dengan isi rekaman yang sama, tapi kita cenderung lebih suka menyantap keberhasilan maupun kegagalan dalam kesan dramatis. Ya, logikanya, semua orang berharap mendapatkan hal-hal yang baik, maupun sebaliknya, menghindari hal-hal buruk. Hal-hal baik tadi bisa kita rangkum dalam bentuk keberhasilan atas apa pun, dengan kegagalan sebagai lawannya. Monster jahat yang harus diusir jauh-jauh.

Sebagai hal baik, keberhasilan begitu dirayakan sampai bisa bikin mabuk dan lupa daratan. Begitupun dengan kegagalan, yang bila kecantol rasanya kurang afdal kalau tanpa ratapan dan nestapa. Sama-sama menguras perhatian dan tenaga, membuat sesuatu yang sejatinya temporer seolah bisa terasa hingga durasi yang cukup lama. Entah ada apanya, namun banyak orang yang betah berlama-lama dalam apa pun yang tengah mereka rasakan. Susah move on, dan selalu terikat pada kenangan masa lalu.

Tak jarang, orang-orang tersebut adalah kita sendiri.

Keberhasilan dan kegagalan, bila dilihat dalam persepsi yang netral, hanyalah sebuah konsekuensi. Hasil akhir dari sebuah proses dengan segudang pembelajaran di dalamnya. Yang lebih berfaedah untuk dibawa-bawa ketimbang sekadar euforia. Dengan kegagalan, seseorang akan lebih cermat dan berhati-hati bertindak di masa depan. Tapi dengan keberhasilan, seseorang akan lebih mudah bernostalgia dan berupaya agar dapat mengulang pengalaman yang sama. Akan tetapi bila tak hati-hati, dikotomi antara keberhasilan dan kegagalan yang bakal berputar-putar di situ saja, menjadi semacam cincin Uroboros, atau seperti seekor anjing yang begitu bersemangat mengejar ekornya sendiri.

Dengan demikian, mungkin tidak ada salahnya untuk mulai meratapi keberhasilan dan merayakan kegagalan. Sebab keberhasilan berpotensi menjebak kita dalam kenyamanan (secara berulang-ulang), sementara kegagalan dapat mendorong kita agar belajar dan bisa menjadi lebih baik.


Setelah lulus, justru akan terasa ada begitu banyak hal yang masih harus dipelajari. Makanya berasa bego. Kalau sudah merasa pinter, ya berarti ada yang keliru,” kata Pak Dosen kala itu.

[]

Advertisements

Junk Food Di Hollywood

Begitu banyak sekali film Hollywood dengan waralaba-nya. Hanya menawarkan formula yang kurang lebih sama. Entah siapa yang memulai ini. Tapi seingat saya James Bond franchise adalah termasuk film yang paling awet. Sejak taun 60an agen 007 ini sudah menginvasi Hollywood melalui Sean Connery dan Dr. No. Ada prekuel, sekuel, spin-off, reboot atau entah istilah apalagi.

genisys

Syarat utama dalam membuat franchise film bisa awet adalah filmnya laku dan mengikuti selera pasar. Sesederhana itu. Formula ini masih dipakai oleh para penggiat sinema di Indonesia agar tetap menonton filmnya. Film horror dengan bumbu seks, aktris seksi, aktor ganteng. Jalan cerita tidak penting. Yang penting laku. Judulnya memang berbeda-beda begitu pula sutradara dan produsernya. Tetapi mereka menawarkan hal yang sama. Itulah kenapa film mereka pun layak dilabeli sebagai waralaba.

Fast And Furious adalah termasuk film franchise yang sukses. Sudah memasuki seri ke tujuh. Bahkan seri ke delapan pun dikabarkan akan segera digarap. Seri terakhirnya termasuk yang paling laris. Mungkin karena di sana ada mendiang Paul Walker bermain. Selain itu ada juga Transformers yang sudah melewati edisi ke empat. Entah ada terusannya atau tidak. Semoga tidak. Johnny Depp sampai sekarang tidak bisa melepaskan imej Jack Sparrow gara-gara Pirates of Caribbean. Beberapa film terakhirnya flop. Mari kita berdoa semoga Black Mass tidak bernasib serupa.

jurassic

Film franchise terbaru yang fenomenal dari segi pendapatan adalah Jurassic World. Baru tayang kurang lebih satu minggu film ini sudah mengantongi 500 juta dollar. Rekor baru. Kenapa film ini begitu banyak penontonnya? Karena dinosaurus? Chris Pratt? Nostalgia? Saya belum nonton film ini. Tapi karena semua orang nonton film ini saya jadi males. Jalan ceritanya juga pasti gitu-gitu aja. Dinosaurus kabur dari taman terus merangsek sampe ke kota. Yakan?

Sepertinya Jurassic World ini akan melewati raihan The Dark Knight dan The Avengers dari segi pendapatan. Karena relatif tidak ada saingan. Mad Max: Fury Road pun sudah mulai turun dari beberapa bioskop. Age of Ultron sudah mangkat ke Asgard. Satu-satunya yang bisa menghentikan melajunya film ini mungkin Terminator: Genisys yang dikabarkan rilis bulan Juli ini. Kenapa begitu? Karena para penonton pasti kangen melihat akting Arnold Schwarzenneger di film ini. Di dua film sebelumnya hanya ada Christian Bale, Sam Worthington dan satu lagi siapa itu cewek yang jadi penjahatnya saya lupa di Rise of The Machine. Terakhir Arnold tampil di Terminator adalah di Judgment Day di tahun 1993? Saya ingetnya koq Axl Rose lagi lari-lari pake hot pant putih sambil nyanyi You Could Be Mine. Lupa. Maklum masih TK dulu pas nonton film itu.

Tapi sepertinya tren ini tidak akan pernah berhenti. Malah akan memicu film lain untuk dibuatkan franchise-nya. Kalau begitu maka saya tantang Robert Zemeckis untuk membuat franchise lanjutan dari Back To The Future dan Ridley Scott untuk membuat franchise lanjutan dari film Blade Runner.

Setuju? Atau ada ide lain?

Tiur Janda Bahenol

Aku ndak percaya kalau aku pernah menciptakan mantra sekotor ini. Siang ini, waktu mbongkar kumpulan artikel di PC-lama, dia muncul. Tulisannya merah-merah dan besar. Waktu aku lihat tanggal terakhir benda ini bercokol sebagai file, adalah 2001. Amit-amit…

Tiur Janda Bahenol

Namaku Tiur, janda bahenol
Profesi jualan lobang dan alkohol
Kalau harganya pas, monggo dibedol

Semua laki-laki ketar-ketir
Dicolek sekali langsung melintir
Dilayani ya cengar-cengir

“Dek tiur, malam ini mau kemana?”
“biasa mas… ngangkang”
“waahh malam ini kakap ya?”
“bukan mas, malam ini giliran manuk perkutut!”
“lah, manuke mas kapan toh dek dapet giliran?”
“oalaahh mas, aku ndak ngelayani cabe rawit”

Aku Tiur, janda bahenol
Dari kecil memang sering melotot kalau lihat yang nonjol
Yang itu lhoo, nol.. satu.. nol

image

Sepuluh tahun bisnis selangkangan
Masih muda dan persis ratu kecantikan

Mas Gatot Kaca pelanggan utama
Penjual sayur mayur dan manufaktur
Laki-laki kaya raya asal Jakarta
Cukup pengalaman dan cukup umur

Ohhhh mas Gatot Kaca yang bijaksana
Ohhh mas Gatot Kaca yang gagah perkasa

“loh mas gatot kaca kok ganteng……”
“loh aku deg…degan”

Aku Tiur, janda bahenol
Jatuh cinta pada mas Gatot Kaca
Untukku Cinta itu haram katanya

Aku Tiur, janda bahenol
Baru sekali merasakan Cinta
Baru pertama butuh Cinta
Bukan untukku katanya

ohh mas Gatot Kaca
Demi cinta kutinggalkan bisnis tukar menukar cairan
Ohhh mas Gatot Kaca
Demi Cinta kujalankan bisnis sayur-sayuran

Atau setidaknya demi cinta aku rela sendirian
Kalau memang cinta itu bukan untukku dan haram, biarkan aku diam
Mencintai kesepian

Ohhh mas Gatot Kaca…..kawin yuk!

Kunjungan Malaikat

Seandainya Angeline tidak meninggal dan tumbuh menjadi dewasa, dan kemudian membenci orang tua aslinya yang telah menyerahkannya pada orang tua angkat yang terus menyiksanya seumur hidup. Berhak kah Angeline? Perih luka fisik hilang seiring pertumbuhan sel baru. Luka batin dan kenangan buruk, selamanya melekat. Saat Angelin dewasa menyimpan dendam pada orang tua kandung dan angkatnya, berhak kah kita menghakiminya sebagai anak kurang ajar?

Di sekolah, Angeline akan diajarkan untuk menghormati orang tua. Tanpa syarat. Karena di kelas reproduksi dijelaskan bagaimana Ibunya telah mengandung selama 9 bulan dan mempertaruhkan nyawanya saat melahirkannya. Angeline diwajibkan untuk menulis puisi sebagai bentuk penghargaan kepada Ayah yang telah bekerja keras membanting tulang untuk biaya sekolah dan masa depannya. Siapa bisa membayangkan, apa yang akan ditulis Angeline?

Di rumah ibadah, Angeline diwajibkan untuk terus tunduk dan patuh pada orang tuanya. Karena Surga ada di telapak kaki Ibu. Melawan orang tua, apalagi dendam adalah dosa. Dan terkutuklah anak yang membenci kedua orang tuanya. Angeline ditugaskan untuk memberikan tanda bakti kepada orang tua yang sering pula disebut perwakilan Tuhan di dunia. Entah apa yang bermain di benak Angeline saat dia bersimpuh di depan kedua orang tua angkatnya?

Di pergaulan, saat Angeline berkeluh kesah tentang kedua orang tua asli dan angkatnya, kalimat sakti “biar bagaimana pun juga, mereka adalah orang tuamu” akan meluncur untuk membungkam. Angeline yang ingin sedikit saja meringankan beban batinnya, bisa jadi mati akal tak tahu harus ke siapa mengadu. Berkeluh kesah di blog dan media sosial pun bisa jadi dilock, karena Angeline khawatir dihujat oleh jutaan manusia dan bisa jadi bencana nasional dengan julukan “ANAK DURHAKA” saat masuk ke media.

Tulisan ini ditulis dengan asumsi bahwa pemberitaan di media 100% benar. Karena toh bukan itu pointnya. Lepas dari bagaimana cerita sebenarnya, pernahkah kita berpikir bahwa cinta kasih dan penghargaan anak ke orang tua, adalah kealamian yang harus ditumbuh kembangkan. Bukan otomatis  yang kalau menjadi kewajiban semata, akan menjadi kebohongan dan kemunafikan tersendiri. Sebaliknya, apa rasanya menjadi orang tua yang mendapatkan penghargaan dan cinta kasih anak yang palsu? Lebih baik daripada ketulusan? Banyak yang bilang, ketulusan sudah menjadi barang langka yang sebentar lagi masuk museum.

Hanya karena, seorang pria dan wanita bersetubuh, kemudian sperma muncrat dan salah satunya berhasil sampai ke telur, maka mereka lantas dinilai pantas berpredikat orang tua. Padahal menjadi orang tua adalah gelar prestisius yang diberikan oleh semesta saat kedua orang tak hanya menciptakan, tapi juga mengasuh, membimbing, dan membesarkan anaknya dengan penuh rasa cinta. Gelar sekolah saja baru diberikan setelah melalui beragam tes dan ujian.

Sejak dilahirkan, anak dirawat dan dibesarkan sampai orang tau menganggap anaknya pantas menjadi anak orang tuanya. Sebaliknya, setelah anak dewasa dan mulai memiliki pikiran dan perasaannya sendiri, akan menilai apakah semua yang telah dilakukan orang tuanya cukup pantas untuk dianggap sebagai orang tua yang baik.

Tragedi Angeline ini semanusianya patut untuk dijadikan refleksi diri. Apakah kita selama ini sudah dengan mudah menghakimi anak yang tidak mencintai orang tuanya, sebagai anak durhaka? Apakah orang tua selama ini sudah menganggap anak sebagai investasi yang harus balik modal saat anak telah dewasa? Kalau anak selalu dicekoki untuk berbakti dan mencintai kedua orang tuanya, sudahkah orang tua melakukan yang sepantasnya dilakukan? Kalau anak selalu dirasa kurang pantas untuk disebut anak, bagaimana dengan orang tua?

Dalam sebuah komentar, seseorang dengan penuh emosi berkata “enggak kira ya, orang berpendidikan bisa sesadis itu!” Ini adalah masalah baru lagi. Saat orang yang dinilai berpendidikan, beragama dan beruang (bukan binatang – red.) maka segala tindakan dan ucapannya sering langsung dianggap kebenaran dan manusiawi. Lebih bermartabat dan pantas dihormati. Hanya karena seseorang keturunan bangsawan, konglomerat, pejabat, purnawirawan bahkan dukun dan orang tua, sering langsung posisinya ditempatkan di atas rakyat biasa. Dan ketika mereka melakukan kesalahan atau tindakan yang tidak pantas, bukan hanya kaget tapi kita kecewa. Padahal kita dikhianati oleh pencitraan yang kita telah bangun sendiri. Sapa suruh?

Siapa yang mengucapkan sering dianggap lebih penting daripada apa yang diucapkan. Makanya kita sering terbius oleh quote-quote, kata-kata berima dan pantun yang indah ketimbang berpikir kritis tentang isinya. Saking terbiusnya kita, sampai membawa seseorang yang pandai berkata-kata bisa menjadi menteri.

angel_wings_psd_by_mithos_2000

Dari cahaya engkau diciptakan. Sampai pagi setelah malam. Sampai terang setelah gelap. Sampai hidup setelah mati. Sampai bercahaya setelah kembali.

Selamat jalan, Malaikat. 

 

 

 

Tentang Dinosoless

Tulisan pagi ini saya tulis saat berada di bus, menuju salah satu obyek wisata bersama seluruh rekan kerja saya. 
 

Apakah Anda pernah bernasib sama dengan saya? Ketika urusan kantor, untuk dan atas nama kebersamaan, dengan perasaan gamang menghabiskan akhir pekan ke luar kota. Biasanya dengan embel-embel judul “gathering”.

Bos merasa ndak enak kalau dalam enam bulan ndak mengajak seluruh anak buahnya pergi tamasya. Begitu juga dengan perasaan anak buah. Ndak enak kalau ndak ikut hadir dalam acara “kebersamaan”.

Sama-sama ndak enak sebetulnya. Saya pribadi selalu berpikir bahwa hari libur sebaiknya ya bersama keluarga. Lha kok ini bersama rekan kerja lagi. Lain cerita jika gathering ini menjadi family gathering dimana seluruh karyawan boleh membawa anggota keluarga. Wajib malah. 

Jika “gathering” saat hari kerja sepertinya sebagian akan lebih menyukainya. Seakan-akan rutinitas kantor diganti acara liburan. Ini lebih menyenangkan. Toh akhir pekan masih dapat berkumpul dengan keluarga masing-masing.

Lalu apa yang dilakukan para Bapak, seperti saya, jika akhir pekannya terpakai kegiatan kantor? Apakah harus menggantinya dengan cuti di hari Senin Selasa?

Sepertinya mustahil. Cara paling gampang, mensubtitusi “waktu keluarga” dengan “oleh-oleh”. Ini manjur bagi Bapak yang anak-anaknya relatif sudah besar. 

Jika anak kita masih kecil, iagak kurang efektif. Ingatan anak sederhana saja: “Kalau papah pakai baju batik, berarti besok aku bisa renang dan jalan-jalan.” Oleh-oleh ndak begitu manjur. Mereka ndak terlalu suka benda. Mereka lebih menyukai bermain-main. Mereka lebih menyukai kehadiran daripada bingkisan. 

Oleh karena itu, semalam, sebelum pagi ini saya pergi bersama rekan kerja, saya ajak mereka nonton di bioskop. Harapan saya, mereka tidak merasa hak-nya terkirangi karena bapaknya pergi di akhir pekan.

“Dinosolessnya nakutin Yah”, begitu kira-kira komentar si kecil usai menonton filem dinosaurus kemarin.

“Selem banget dan kejem ya Yah..”
“Nak, kelak besar nanti kamu bakalan mengerti yang serem-serem itu yang akan dihadapi setiap hari. Dan sekarang Ayah sedang pergi bersamanya..”

salam anget di hari sabtu. 

Roy 

You’re My Constant

Saya pindah tempat lagi kemarin. Bukan rumah, bukan, rumah saya masih sama. Tetapi meja tempat saya bekerja. Saya sudah ditransfer ke majalah lain di dalam grup dari dua bulan yang lalu, tetapi sebelum benar-benar harus, saya masih menunda terus memindahkan isi meja kerja saya ke tempat yang baru. Sampai yang menggantikan saya di majalah sebelumnya sudah hadir, dan saya mulai berkemas dengan perasaan haru biru. Tanpa mengucapkan “selamat tinggal” yang resmi (kecuali kepada meja saya yang sudah saya gunakan selama 4 tahun lebih), saya pun memindahkan semuanya.

OK, mungkin saya agak terlalu dramatis, mengingat saya hanya pindah ke gedung sebelah, apalagi minggu depan majalah yang sebelumnya saya tempati juga ikut pindah ke gedung yang sama. Tapi tetap saja ada yang berubah. Hampir semua berubah.

Perubahan memang punya cara yang lucu untuk pelan-pelan menangkap saya, terutama ketika semua mulai terasa nyaman. Kalau Anda sudah setua saya, mungkin di satu saat pernah berpikir kalau; mungkin di usia seperti ini perubahan tidak akan terjadi sebrutal waktu masih muda. Tapi ternyata salah. Dan dari yang saya lihat, kita bisa memilih tidak bergerak bersama perubahan dan menjadi tidak relevan, bahkan seolah hidup di masa lalu atau ikut bergerak, dan tak jarang menemukan diri di tempat yang benar-benar baru. Tidak seperti tubuh manusia yang akan lebih sehat di keadaan homeostasis, keseimbangan yang sempurna dan menjadikan semuanya tidak berubah dalam waktu yang lama di luar tubuh kita mungkin hanya mitos belaka. Atau hanya terjadi dalam waktu sangat singkat.

Semakin seringnya perubahan yang terjadi, saya terkadang mendambakan adanya constant di hidup saya. Elemen yang tidak berubah di hidup saya. Seperti kalau kita mengacu ke mathematical constant, apakah itu fungsi yang menurut perjanjian awal tidak berubah, walaupun semua nilai berubah. Atau sebuah x dan y yang tidak berubah walau rumusnya berganti-ganti. Atau nilai-nilai yang secara umum telah dipahami tidak akan berubah seperti 0, 1 atau pi. Dalam banyak kasus, anggota keluarga inti adalah constant saya.

Tetapi tidak jarang terjadi, seperti manusia pada umumnya itu saja tidak cukup. Memang indah rasanya kalau setiap hari dari pagi hingga petang, saya terombang ambing oleh dunia di mana saya tidak memegang kendali. Banyak sekali elemen, baik manusia, situasi atau kondisi yang tanpa disangka bisa memengaruhi hal-hal yang saya pikir sudah direncakan dengan matang dan kecil kemungkinan bisa diubah. Tetapi di ujung hari saya tahu saya akan pulang ke anak saya. Saya akan tidur seranjang dengannya, sambil mengobrol sebelumnya tentang apa yang terjadi hari itu, mungkin menonton Adventure Time bersama, atau membaca dari satu buku bersama.

Kalau saya melihat ke sekeliling saya, ternyata cukup banyak teman-teman yang (secara tidak disangka) cukup lama berada di dekat saya, dan tetapi sering bertemu untuk melepas rasa rindu walau tidak setiap hari bahkan setiap minggu. Belum lagi seorang kekasih yang beberapa tahun belakangan ini jadi bagian hidup.

Banyak orang baru akan datang dari hidup kita. Tidak sedikit juga yang akan meninggalkan hidup kita (atau pindah ke perimeter di mana tidak terdeteksi dengan indera atau perangkat telekomunikasi sederhana). Emosi, situasi, kesadaran dan cara kita hidup selalu berubah, dan ini bisa mengubah semuanya. Alangkah indahnya kalau saya bisa bilang dengan keyakinan, apapun yang terjadi di dunia ini, you’ll be my constant. Mungkin pun akan berubah.

If you understand the reference, let's be friends!
If you know the reference, let’s be friends!

In the Future, the Past will be Present

Semalam saya menonton ulang film Still Alice. Film yang diangkat dari novel berjudul sama ini berkisah tentang Alice, seorang profesor linguistik yang terserang penyakit Alzheimer. Padahal usianya belum lanjut. Padahal sebagai ahli bahasa, dia terkenal dengan artikulasi tutur bahasa yang baik, dan tingkat kecerdasan di atas rata-rata. Mendadak, semua hal yang sudah dipelajari selama hidupnya, yang membuat dia dikenal banyak orang, hilang begitu saja. Dia bilang, “It’s like the words are hanging in front of me, but I can’t reach them.

Beberapa bulan yang lalu saya menonton film ini dengan harapan Julianne Moore, yang memerankan Alice, akan mendapatkan Oscar sebagai Aktris Terbaik atas penampilannya yang luar biasa. Beberapa bulan setelah Julianne Moore akhirnya mendapatkan Oscar tersebut, saya masih terkesima melihat penampilannya yang, saking luar biasanya, membuat saya terpekur lagi setelah film berakhir.

Still Alice
Still Alice

Dari awal film, kita diperlihatkan kebiasaan Alice bermain “Words with Friends” (semacam “Scrabble”) bersama anak tertuanya. Permainan yang membuat saya tersenyum, karena sampai sekarang, saya masih suka bermain “Scrabble” pula di iPad. Lalu dalam hitungan sekitar 90 menit, kita melihat cepatnya penyakit Alzheimer menggerogoti jiwa Alice, sehingga dia tidak lagi mengenali anaknya sendiri, dan tidak mampu menyampaikan apa yang ingin dia ucapkan. Semua terasa begitu nyata, meskipun cerita ini hanya rekaan di layar saja.

Kebetulan sebelum menonton film ini untuk kedua kalinya, sekitar dua minggu lalu saya membaca buku Then Again, karya Diane Keaton. Ini memang Diane Keaton, aktris pemenang Oscar di film Annie Hall, dan istri Sonny Corleone di The Godfather Trilogy itu. Ternyata dia seorang penulis yang cukup mumpuni.

Hal itu sudah terbukti di bagian awal buku “Then Again” ini. Tanpa menunggu sampai bagian tengah buku, dia bercerita bahwa sebagian besar buku ini terinspirasi dari sang ibu, Dorothy Hall, yang selalu menulis jurnal setiap hari selama hidupnya. Jurnal ini dimulai dengan catatan yang deskriptif tentang kesehariannya sebagai ibu rumah tangga. Namun seiring perjalanan usia, entries jurnal ini menjadi semakin pendek. Saat sang ibu mulai didiagnosa penyakit Alzheimer, seperti Alice di atas, catatan di jurnal pun menjadi satu kata saja. “Think. Again. Doors.” Dan kata-kata yang seolah tak berhubungan, namun sebenarnya mengungkapkan perasaan yang tak bisa lagi tersampaikan dengan jelas.

Then Again
Then Again

Baik Alice maupun Dorothy tak akan pernah menyangka bahwa mereka akan menghabiskan hari tua mereka tanpa masa lalu. Siapa yang akan pernah mengira kalau suatu hari kita akan kehilangan ingatan? Tidak ada yang pernah menginginkan hal itu terjadi.
Dan kita tidak pernah mengira, bahwa ternyata kenangan masa lalu yang akan membuat kita hidup di masa depan. Bahwa ternyata kehidupan di masa depan akan ditentukan oleh apa yang bisa kita kenang dari masa lalu. Masa kini akan menjadi masa lalu di masa depan.

Delapan bulan yang lalu (ternyata Linimasa sudah lama juga ya berkiprah), saya pernah menulis tentang kebiasaan. Apa yang biasa kita lakukan sekarang akan menjadi bagian dari masa lalu di masa depan. Dan hasil dari kebiasaan ini akan menjadi bagian yang bisa kita kenang. Ketika usia merenta, kita berpegang pada kenangan yang tersisa.

Kebiasaan menulis setiap film yang selesai ditonton di bioskop, ditambah serial atau film televisi, masih berjalan sampai sekarang. Yang baru saja dilakukan dari awal tahun kemarin adalah mulai mencatat buku apa saja yang sudah selesai dibaca. Yang belum dilakukan adalah menulis jurnal atau catatan harian pribadi. Entah kenapa, menulis catatan pribadi untuk berlaku jujur pada diri sendiri masih terasa berat dilakukan. Semoga suatu hari keengganan ini bisa berubah.

Sepatutnya memang kita sibuk mempersiapkan diri untuk masa depan saat ini. Tetapi pastikan bahwa nantinya ada sesuatu dari masa sekarang yang bisa kita ingat dengan manis sebagai bagian dari masa lalu di masa depan. Apalah artinya hidup di hari tua tanpa kenangan yang berbuah senyuman.

It’s good to remember. It always is.

Soal Teman

DEMIKIANLAH yang kudengar…

Tak bergaul dengan yang tidak bijaksana,
bergaul dengan mereka yang bijaksana,
menghormat yang patut dihormat…

Enggak perlu saya sebutkan dari mana kalimat di atas berasal, nanti dikira misi terselubung. Tapi yang jelas, saya sih setuju-setuju aja dengan pesan yang disampaikan. Asal tidak sekadar diartikan secara verbatim.

Mengapa?

Karena, bukan perkara gampang untuk memutuskan apakah seseorang sudah cukup bijaksana dalam hidupnya atau tidak. Silakan bertanya kepada diri sendiri: “siapa gue? Sok menilai orang lain.” Selain itu, biar enggak gamang, minimal diperlukan kesepakatan sosial yang mendeklarasikan bahwa si ini atau si itu adalah seseorang yang bijaksana. Seperti yang terjadi dalam lingkungan masyarakat adat. Toh, belum tentu pula hasil kesepakatan bersama itu sahih. Seringkali, perspektif orang banyak juga bias, ndak bisa dijadikan pegangan yang baik. Apa pun latar belakang mereka. Nanti malah kayak bagian awal cerita si Alfa di “Gelombang”. Analoginya, deskripsi sepuluh tunanetra atas rupa seekor gajah, tetap tak akan sanggup mengalahkan pengalaman melihat langsung seekor gajah dengan mata kepala sendiri.

Secara konkret, kita–dan sebagian besar masyarakat–kerap menilai seseorang secara visual, pun dalam bentuk asumsi. Melihat seseorang bertato, langsung dicap orang ndak bener; melihat seseorang menggenggam kaleng bir, langsung dicap doyan mabuk; melihat seseorang berhijab, langsung bisa dianggap halus budi pekerti; melihat wanita karier yang harus meeting di sana sini, langsung dinilai bukan ibu yang baik; dan seterusnya. Padahal belum tentu kita lebih bijaksana ketimbang mereka, yang ada malah sikap sok kenal dan sok tahu. Laiknya yang terjadi antara (mohon koreksinya) Nabi Musa dan Nabi Khidir. Menjauhkan–yang bisa saja berupa–kesempatan emas, bertukar pikiran dan memperluas wawasan dari siapa saja.

Di sisi lain, bukan mustahil jika justru lewat berteman dengan bermacam jenis manusia, bisa menumbuhkan pemahaman dan kebijaksanaan kita sendiri. Menjadi pengetahuan penting untuk menjalani hidup, setidaknya agar mengerti yang benar-benar baik (bukan sekadar menurut anggapan umum) dan tidak. Menumbuhkan simpati. Pengetahuan, yang dengan sendirinya akan membuat kita terus merapat atau menjauh. Sebab ada masanya, kita belum/tak sepenuhnya mengenal siapa yang sedang berada dalam lingkar pertemanan, serta menyadari apa dampaknya terhadap hidup kita secara luas.

Seperti bunyi sebuah idiom populer entah dari bumi belahan mana: “Berteman dengan tukang minyak wangi, maka akan ikut berbau harum. Berteman dengan tukang ikan, maka akan ikut berbau amis.” Untuk idiom ini, saya tambahkan kalimat sendiri: tapi minyak wangi tak bisa diminum, namun ikan bisa dimakan serta menyehatkan. Tidak sama dengan bersikap oportunis, yang saat berteman dengan tukang minyak wangi, selalu berusaha supaya kena banyak percikan parfum. Dan saat berteman dengan tukang ikan, selalu berupaya supaya bisa mendapatkan banyak ikan terbaik untuk diri sendiri. Aji mumpung yang serakah.

Di titik ini, diperlukan lebih dari sepasang mata untuk melihat. Bola mata, dan mata hati.

Kemudian, ihwal memberikan penghormatan yang pantas, kepada orang-orang yang memang layak mendapatkannya. Hormat dalam makna yang denotatif, yang bisa dilakukan baik kepada bos di kantor, kepada orang tua di rumah, bahkan kepada seorang tukang becak sekalipun. Bedanya, sikap hormat dan sikap feodal itu beda tipis. Apalagi di Nusantara yang menjunjung tinggi adat ketimuran. Lagi-lagi, diperlukan kebijaksanaan untuk mampu melakukannya dengan tepat.

Hormat kepada pimpinan di kantor memang wajib dilakukan, selama bukan bertujuan untuk menjilat dan melakukan pencitraan. Hormat kepada orang tua pun memang seharusnya selalu dilaksanakan, tapi–menurut saya–penghormatan sebagai sikap etis berbeda dengan kesukarelaan untuk dikendalikan. Misalnya: ketika diharuskan kuliah di jurusan tertentu yang berlawanan dengan aspirasi pribadi dan cita-cita Anda, atau dipaksa menikah dengan anak seorang kenalan, maupun terus menerus dianggap sebagai anak kecil yang belum mampu menghidupi diri sendiri sehingga pendapatnya tidak pernah dianggap. Idealnya, sah-sah saja untuk berbeda pandangan, selama tidak dilampiaskan dalam bentuk intimidasi dan ancaman, maupun tindakan kurang ajar dan kriminal.

Akan tiba waktunya, ketika orang tua dan anak sedang berbicara, mereka adalah kumpulan orang yang sama-sama dewasa. Bertanggung jawab penuh atas kehidupan masing-masing. Terus belajar menjadi manusia yang lebih baik.

Terkait hal ini, akan sangat bijaksana, apabila Anda pernah merasakan pengalaman tidak menyenangkan dengan orang tua, agar tidak terulang kepada anak-anak sendiri. Kecuali kalau Anda adalah penganut paham “Tiger Mom”-isme.

असेवना च बालानं
पण्डितानञ्च सेवना,
पूजा च पूजनीयानं
एतं मङ्गलमुत्तमं.


Terlepas dari serangkaian pandangan di atas, saya mah pasrah aja kalau dicap sebagai tukang tafsir ayat kitab suci kelas kambing nan serampangan. Pastinya, saya merasa beruntung berkawan (dan berlawan) dengan orang-orang yang ada di sekeliling saya sekarang karena satu dan lain hal.

Terima kasih ya. 🙂

[]

Meraba Masa Depan Industri Musik

musicfuture6

Setelah membaca artikel mengenai masa depan industri di Guardian, saya melihat bahwa masa depan industri musik adalah menggratiskan semua layanan streaming musik (maaf saya belum menemukan padanan kata streaming dalam Bahasa Indonesia). Daniel Ek, sebagai CEO Spotify mengamini wacana ini. Layanan gratis musik streaming gratis justru akan menyelamatkan industri musik, bukan membunuhnya. Para pendengar freemium Spotify jauh lebih banyak daripada layanan berbayar. Dengan layanan gratis ini justru memberikan pendengar pengalaman dan apabila mereka puas dengan layanan gratis bukan tidak mungkin mereka akan pindah ke layanan berbayar dengan kualitas suara yang lebih bagus dan bebas iklan.

musicfuture2

Yak betul gratis. Seperti kita mendengarkan radio AM/FM di jaman yang sudah hampir kita lewati. Kita tidak pernah membayar uang untuk mendengarkan lagu di radio. Hanya ada konsekuensi untuk mendengarkan iklan setelah lagu habis–dan apabila keberatan tinggal cari gelombang lain. Bahkan di Norwegia, radio FM/AM akan segera dihilangkan di tahun 2017, karena 50% dari pendengar radio di sana mendengarkan radio secara digital, tidak melalui radio konvensional. Saya yakin ke depannya negara lain akan segera menyusul. Setidaknya di Skandinavia dan melebar ke negara Eropa lainnya.

Inilah masalah yang dialami oleh Tidal–yang tidak memiliki fitur gratis. Pelanggannya tidak bertambah secara signifikan. Para pendengar musik rupanya tidak begitu peduli dengan kualitas suara yang didengarkan. Dan enggan untuk membayar 20 dollar hanya untuk mendengarkan lagu dengan kualitas CD. Semua terdengar sama. Dengan harga langganan yang relatif mahal–bahkan untuk negara maju–bahkan model seperti ini justru memicu pembajakan ilegal. Jay-Z has 99 problems and Tidal is one of them.

musicfuture4

Lalu dari mana musisi mendapatkan uang? Banyak cara sebetulnya. Bisa melalui off-air seperti manggung, atau menjual merchandise, atau menjual CD/vinyl rekaman mereka. Lebih sulit dilakukan memang untuk musisi baru. Itulah kenapa jarang sekali musisi baru yang mengandalkan mata pencaharian utamanya dari bermusik. Tapi kalo musikmu bagus pasti banyak menarik pendengar.

Dengan memberikannya secara gratis adalah salah satu cara yang efektif. Entah melalui Youtube, Spotify, Soundcloud atau layanan streaming musik lainnya. Avicii dengan singelnya “Wake Me Up” yang hits itu, menghasilkan banyak uang dari layanan musik streaming daripada penjualan CD dan iTunes digabungkan! Saya masih belum paham kenapa masih ada yang membeli lagu melalui iTunes dengan kualitas mp3–sementara mereka bisa membeli CD atau mendengarkannya secara gratis. Ada yang bisa menjelaskan?

musicfuture3

Lalu bagaimana dengan di Indonesia? Saya rasa arahnya akan menuju ke sana. Walaupun masih lama. Padahal sebagai negara dengan penduduk terbanyak di seluruh dunia nomer lima–itu adalah potensi. Yang menjadi kendala adalah apalagi kalo bukan koneksi internet yang lamban. Selama koneksi internet kita menyaingi ranking sepakbola Indonesia di FIFA maka Indonesia masih akan tertinggal. Selama BUMN masih diselimuti korupsi akan sulit untuk Indonesia untuk mengejar negara Asia lainnya. Listrik aja masih byar pet apalagi koneksi internet?

Yagak Pak Dahlan?

(nb: gambar-gambar saya comot dari google)

Chickenpox si Cacar Air: A Field Guide to Your Family Reunion

image
Asian Bitch... this is NOT a joke

Tanya: Hi, Gue Aini. Gue mau ada reuni keluarga besar, tapi gue lupa-lupa-inget gitu karena gue sekolah di luar negeri, dah lama ga ketemu. Yang gue inget cuma Mimi, sepupu gue yang dulu dipanggil si “Cacar Air” (Chickenpox in English). Gimana ya biar gue bisa inget mereka lagi? Mereka sih pastiya inget gue. 

Jawab: Hi Aini yang punya keluarga besar, sekolah diluar negeri, pinter berbahasa Inggris, sepupunya Chickenpox si Cacar air, dan diingat orang. Gini, mari kita jelajahi keluarga kamu satu-satu. 

Ika
Dia adalah orang yang mau menggagalkan studi luar negeri kamu. Kamu masih ingat ndak? Ika lari-lari bawa bungkusan di Bandara sebelum kamu berangkat. Katanya, bungkusan itu berisi daster-nya supaya kamu ndak lupa. Namanya ada di kartu kredit kamu. Ya, yang suka dipakai belanja sembarangan itu. Tagihannya juga ditujukan ke alamat Ika. Oh iya, dulu Ika kamu panggil Ibu. 

Pak Zaid
Pak Zaid is your mother’s “man.” He is not your father, like real father, but Pak Zaid is the one Mama loved. Gitu deh. Tapi, semua kebutuhan keuangan kamu dia yang tanggung. Dia juga suka telepon kamu dengan suara serak: “Ati-ati ya, Flu Babi!” 

Abdul
Dia penggemar Madonna dan Kylie Minogue. Kamu pernah marah besar sama Abdul karena berebut lipstick. Dia punya buku diari yang dinamai: “Paula Abdul.” Kamu pernah baca “Paula Abdul” sampai selesai dan tiba-tiba kamu sadar kalau Abdul suka pakai pakaian perempuan. Sekarang dia resmi dipanggil Paula. Dulu dia abang-mu. 

Darsih
Yang satu ini ndak perlu dipedulikan lah. Asal dikasih makan aja pasti idup. Kalau nyuci suka nggak bersih. Dia ini didatangkan langsung dari Nganjuk. Darsih pernah hampir jadi mama kamu. 

Pak Akbar
Kalau sampai dia muncul di acara reuni artinya kamu harus segera lari jauh-jauh. Dia ayahnya Ika. Sudah meninggal 3 bulan lalu. 

Chickenpox si Cacar Air
Dia emang gitu kok orangnya. Udalah. Oh iya, itu bisa dikatakan tidak menular, asal jaga jarak 20 meter dan rajin cuci tangan.

Produktif?

Screen Shot 2015-06-06 at 7.17.31 PM

Ada benarnya… Karena dengan memproduksi maka tubuh dan pikiran kita akan aktif. Perasaan kita akan dipenuhi dengan harapan akan hasil yang baik. Seluruh energi akan terarahkan pada proses demi hasil yang sesuai harapan. Dan menjauhkan kita dari “pikiran yang enggak-enggak” serta hasrat untuk bergosip dan membicarakan keburukan orang lain. Terlebih, sirik pada keberhasilan orang.

Harap diingat, produktif tidak sama dengan sibuk. Karena sibuk belum tentu menghasilkan. Buat sebagian besar kelas menengah, nongkrong di cafe pun merupakan bentuk kesibukan. Mencari kutu di tangga depan rumah pun disebut kesibukan. Memilih baju untuk dipakai hari itu juga sering disebut kesibukan.

Produktif yang berasal dari kata “producere” memiliki makna “menghasilkan sesuatu”. Terutamanya berupa barang dan komoditas. Hasil nyata yang kalau bisa diperdagangkan. Bukan hasil pemikiran. Karena pemikiran mutlak diperlukan jika hendak menghasilkan benda. Sementara pemikiran saja, belum tentu menghasilkan benda nyata. Mungkin lebih mudahnya, dengan bahasa terkini “berkarya”.

Benda nyata itu bisa berupa macam. Mulai dari kerajinan tangan, masakan, jahitan, dan tentunya juga tulisan. Di bagian awal ketika kita bekerja untuk menghasilkan benda, mau tidak mau, suka tidak suka, mulut kita diam. Tangan bekerja, mata melihat, dan lebih sering pikiran kita berbincang dengan diri kita sendiri. Tusuk jarum masuk di sini keluar di situ lebih baik, benang berwarna jambon sepertinya lebih sesuai, kata ini lebih pas untuk mengekspresikan, ditambah sedikit pala sepertinya akan lebih nikmat, dan beragam diskusi lain yang tersimpan dalam hati.

Sampai kemudian di satu titik di tengah, semua sudah fix dan mantap sehingga tak perlu lagi diskusi hati, hanya tangan dan kaki yang bergerak. Saat itulah biasanya pikiran kita mulai melayang, tak jarang merenung hal-hal lain yang terjadi di diri kita. Soal masalah hidup, pekerjaan lain, tugas, keluarga, teman, saudara, terus menerus terkadang sampai ke masalah pokok yang sebenarnya. Saat kita berproduksi, pikiran dan perasaan kita menembus kulit luar yang terlihat. Sampai pada titik inti. Seringnya saat kita sampai di titik itu, kebanyakan masalah sebenarnya bukan masalah kalau tidak dipermasalahkan.

Bukankah penyebab semua masalah ada di diri kita? Hasrat untuk segera menikah sementara belum menemukan pasangan yang sesuai. Keinginan memiliki sesuatu tapi belum cukup uangnya. Berharap orang lain berubah sesuai kehendak diri. Menginginkan lebih dari cukup padahal cukup adalah cukup. Belum lagi kerepotan memikirkan soal pencitraan kebaikan yang mustahil bisa terus menerus. Atau harapan pujian di media sosial yang lebih sering bersifat maya ketimbang nyata.

Semua ini hanya bisa terjadi, saat mulut terkunci dan biarkan anggota tubuh lain yang bekerja. Banyak yang menyebut saat berkarya sebenarnya kita sedang bercinta dengan diri kita sendiri. Makanya buat sebagian orang lebih suka berkarya di ruangan tertutup tanpa gangguan bahkan handphone pun dimatikan. Terisolasi. Serupa dangan “me time” yang sudah menjadi kebutuhan pokok di tengah hiruk pikuk sekitar. Tak heran kalau banyak orang berlibur mencari tempat yang sepi. Dan biasanya semakin sepi dan terisolir sebuah penginapan, semakin mahal harganya. Semakin jauh dari keramaian, semakin eksklusif rasanya.

Jadi, bisakah kita berkesimpulan bahwa berproduksi memberikan rasa dan sensasi yang sama dengan liburan? Yang pasti, menjadi produktif dan berlibur sama-sama bisa membuat kita bahagia.

Sepertinya sebagian besar dari kita bisa merasakan betapa lambannya bisnis berkembang belakangan ini. Harga perlahan semakin mahal, tidak diiringi dengan penghasilan yang meningkat. Banyak bos mulai ancang-ancang untuk menyelamatkan perusahaannya. Karyawan mulai berpikir lebih keras untuk mendapatkan penghasilan lebih. Sekalian persiapan kalau-kalau kena PHK. Produktivitas menurun. Ditambah lagi media yang sering memberikan gambaran keadaan yang tidak semakin baik.

Berproduksi (baca: berkarya) bisa dijadikan pilihan yang pantas untuk dicoba. Ketimbang duduk merenung, mungkin ada baiknya mulai menulis di blog yang sudah lama tidak diupdate. Daripada kongkow bergosip, membuka buku resep dan mencoba masakan baru bisa jadi alternatif yang lebih seru. Bengong di kemacetan bisa diatasi dengan merajut kaos kaki si kecil di rumah. Duduk sendirian di cafe menanti klien yang terjebak macet, bisa diisi dengan menggambar.

Merasa tak berbakat di bidang kerajinan tangan, tak perlu dipaksa. Kita semua diciptakan untuk memproduksi H2O. Mari berolahraga. Manfaat fisik berolahraga, sepertinya semua sudah tau. Coba pilih olahraga yang membutuhkan gerakan yang sama terus menerus. Istilahnya cardio. Seperti berjalan kaki, berlari, berenang, bersepeda, atau bahkan menyapu.

Hasilnya seperti apa nanti, anggaplah bukan urusan kita. Karena proses saat berproduksi itulah yang sedang kita cari. Yang kita butuhkan. Kita butuh berlibur. Mulailah berproduksi.

NB:

Kalau berproduksi anak? Silakan jawab sendiri.

Baridin O Baridin

Disekanya noda putih itu dengan tisu. Di kening, dagu dan sedikit saku baju. Lalu ia tersenyum dan memandang pria di atasnya yang juga tersenyum.

Besok aku tugas luar kota. Kamu mau oleh-oleh apa?“, Baridin bertanya sembari mengenakan helm dan mengancingkannya.

Oh gitu, jadi setelah enak-enak kamu ngabur dines gitu, Mas?”

Hahaha!“, Baridin tertawa. Diceknya kaca spion. Lalu ia starter GL-Pro tua.

Eh, kok kamu malah tertawa?

Hahaha! Senin lusa aku sudah balik lagi kok. Kamu jaga diri baik-baik. Kamu aku oleh-olehin bakpia patuk saja ya?

Oh Jogja. Bowo membatin. Dia tak menjawab. Hanya kepalanya yang ia geleng-gelengkan. Tangannya merespon dengan tangan menggeleng-geleng juga. ” Dadaaah“.  Ia setengah berteriak sembari menyaksikan motor itu menjauh dan akhirnya menghilang.

——————-

 

Baridin segera menghambur ke dalam kamar. Mirna, istrinya, tersenyum.

Pa kabar anak kesayangan kita?”

Istrinya tak menjawab, hanya mengelus-elus perutnya yang membuncit.

Sikunya mulai keluar lagi ya, Sayang? Tuh..tuh… Wah, anak Papah tau nih papahnya pulang“. Baridin tertawa dan mencium perut istrinya. Dipeluk dan lalu bertubi-tubi ia kecup.

Papah sudah makan?”

Baridin tak menjawab. Dalam benaknya terbayang sorot mata  Bowo.

Papah sudah makan, Pah?”

Sekarang Baridin membayangkan ubun-ubun Bowo. Ada dua!

PAH!”

Eh, iya Mah.. napa Mah? Papah sudah makan tadi di kantor. Biasa. Nasi Kotak.

———————-

 

Merasa tumben bak mandi tak terisi penuh, Bowo membuka keran. Lalu ia berwudhu. Bagian kanannya ia basahi dan basuh berulang kali. Tangan kanan dan kakinya. Kemudian bagian yang kiri.

Diraba-rabanya ventilasi di atas pintu kamar mandi. Tangannya terhenti. Ia ambil benda itu. Satu sachet shampoo ia robek. Isinya dituang ke telapak tangan kiri.

Diguyur seluruh tubuhnya. Dari rambut hingga mata kaki. Lalu ia tempelkan tangan kanannya dengan telapak tangan kiri. Setelah digosok-gosok ia usap-usap rambutnya yang basah. Tengkuknya sedikit ia tekuk. Sekarang ia memijat-mijat kulit kepala. Pikirannya melanglang buana.

Baridin o Baridin. Mengapa engkau masih kembali. Bukankah Kau telah memiliki istri. Baridin O Baridin. mengapa kau masih bisa berdiri, padahal kau pernah mengecewakanku. Katanya kamu harus melupakanku. Baridin O Baridin. Kamu masih lengket. Kamu masih berisik. Kamu masih menawan. Kamu dan kamu masih milikku.

Bowo mengambil sabun cair di tepi dinding bak mandi. Dituangkannya dalam spon. Setelah diremas-remas ia balur ke sekujur tubuhnya.

Baridin o Baridin. Mengapa kamu perhatikan aku. 

Digosok wajahnya tanpa spon.

Baridin, lihat! jerawatku tumbuh satu. Kupastikan ini milik kamu.

Digosoknya dada dan seputar pusar dengan gerakan memutar.

Baridin, lihat! Masih ada noda lengket di sela pusarku. 

Tangan Bowo terus menggosok dan semakin ke bawah.

Baridin oh. Baridin Oh. Baridin lihat Oh! Bari.. Baridin. Oh. BARIDIN OH. BARIDIIIIIIIIIIIIIIIN!

———————-

Seorang perempuan gemuk menggendong bayi mungil menuju meja pendaftaran. Seorang lelaki mengikutinya dari belakang, tapi sepertinya urungkan niat untuk terus mengikuti dan memilih duduk sembari memainkan hape di kursi panjang ruang tunggu.

Ini hari Sabtu.

Mereka tak sadar sepasang mata bola memandang dua sejoli ini. Pandangan dari seorang pria setengah baya yang sedang menahan rasa mulas perutnya. Agak jauh memang jarak antara ruang tunggu Bidan Wati dan Pak Mantri. Hilir mudik pengunjung klinik, dan suara televisi di pojok atas ruangan membuat suasana klinik ini lebih mirip halte busway.

Pandangan itu tetap lekat. Memandang si bayi yang rupanya mulai menangis karena diletakkan di atas timbangan. Ibunya berusaha menghibur. Bapaknya masih saja sibuk bermain hape.

Punya hape baru rupanya. Pria itu membatin.

 

Suara tangis bayi makin melengking.

Ih, kok Mirna gendutnya gak sembuh-sembuh?

Ibu itu  panik dan meminta perawat mengangkat bayinya.

Kamu juga sekarang gendut! Apa gendutnya menular padamu?

 

Suara bayi ini semakin menjadi-jadi. Hampir seluruh pengunjung ruang tunggu memandang bayi itu.

Mana oleh-olehnya?

Ibu itu semakin panik. Wajahnya begitu kesal memandang perawat yang tetap saja konsentrasi mengukur berat badan si bayi.

Jangankan oleh-oleh, sudah empat bulan kamu ndak maen ke rumah. Baridin Baridin O Bari.. Pria ini tiba-tiba tak lagi berpikir. Dilihat lelaki bertopi tak lagi bermain hape. Bayi kecil itu tiba-tiba terdiam saat diangkat oleh lelaki itu. Digendongnya. Dilihatnya Ibu si bayi  tersenyum. Ia tak lagi panik. Lalu mencium kening si bayi. Tak lupa ia juga mengecupkan bibirnya ke pipi kanan si Lelaki.

Pria pemerhati pasangan ini terhenyak. Kali ini mulasnya sirna. Berganti tiba-tiba ia sesak napas. Bahkan kini, tak kuasa menghirup udara. Pandangan matanya berkunang-kunang. Kursinya berputar. Dunia menjadi gulita.

Samar-samar dilihatnya lelaki bertopi mencium perempuan itu tepat di keningnya. Lama sekali.

Pria dengan sesak napas dan gelap pandangannya itu itu tiba- tiba berdiri dan berlari menuju pintu keluar.  Tangannya gemetar. Tubuhnya lunglai. Tak kuasa ia berlari. Tapi ia terus berlari. Tepat di samping tong sampah dekat parkiran, ia terjungkal.

Air matanya jatuh.

11829557186_571f8b8ecb

..

————————-

Suatu malam, seorang lelaki sedang menonton televisi. Berita tentang seorang menteri yang menjadi tersangka karena pengadaan gardu listrik begitu menarik perhatiannya.

Sebuah pesan singkat masuk ke layar hape yang tergeletak di atas sofa. Diambil dan dibacanya tulisan di layar:

Aku memang tak  memiliki rahim. Tapi aku masih punya hati.  

 

 

..

..

[]

 

Jakarta, 6 Juni 2015, 02.13 WIB

 

 

 

*) Terbakar Cemburu – Padi

 

 

Meringis Skeptis

Siapapun yang termasuk dalam group chat, apapun itu aplikasinya pasti sudah kenyang mengalami yang namanya pesan yang diteruskan atau forwarded message. Sebenarnya kalau dirunut, sepertinya ini asal muasalnya adalah surat berantai, yang kemudian jadi e-mail berantai (yang dulu sering pakai embel-embel ancaman “teruskan ke 10 orang yang Anda kenal atau Anda akan terkena sial tujuh turunan mandul” dan semacamnya), sekarang jadi pesan berantai. Versi sekarang sebenarnya sudah jarang sekali pakai ancaman, tetapi herannya kok banyak sekali yang masih dengan suka rela meneruskannya.

Memang tidak semua isinya mengesalkan, terkadang ada doa (sepertinya masih banyak fansnya), sekedar trivia yang cukup informatif, tetapi tidak jarang berita omong kosong daur ulang dari jaman e-mail berantai dahulu. Atau sekedar berita bombastis yang sudah dibantah oleh pihak yang lebih memiliki kredibilitas. Biasanya kalau mendapatkan yang begini saya akan memberi tahu kepada penerus di grup “Itu hoax, jangan diteruskan lagi,” yang kemudian biasanya diikuti dengan penerus berita merasa malu (atau tersinggung karena kejudesan saya). Memang, gerakan menyeleksi teks kemudian mengkopi dan memindahkannya ke jendela obrolan yang berbeda dan tekan kirim, lebih mudah daripada memeriksa kebenaran berita tersebut. Tapi selalu ada pilihan untuk tidak meneruskan, loh.  be-skeptical-question-everything

Saya kira tadinya skeptisisme hanya langka di negara ini saja karena sejak kecil kita sudah dihimbau untuk tidak mempertanyakan hal-hal yang disuapi dari guru dan pendidik lainnya. Apalagi soal agama. It’s blind faith or none at all. Tapi artikel yang ditemukan teman saya ini berkata lain. Dari cerita tentang eksperimen yang dibuat untuk membuktikan, apakah media memeriksa dan melakukan verifikasi sebelum menayangkan berita kesehatan dengan klaim yang populer ini membuktikan; bahwa profesi dan institusi yang seharusnya paling skeptis saja sering melewati proses pemeriksaan sebuah riset kesehatan hasilnya valid atau tidak. As if berita dan update dari dunia kesehatan terutama nutrisi setiap hari kurang membingungkan saja. Setiap hari ada saja berita baru mengenai kita “harus mengonsumsi lebih banyak lemak dan protein” lalu esoknya ada berita “protein terlalu banyak bahaya untuk kesehatan” dan terus demikian. Untuk proses due dilligence sebuah riset kesehatan memang sudah ada standarisasinya. Tetapi bagaimana proses due dilligence untuk rakyat jelata seperti kita, yang selalu dibanjiri dengan informasi bertubi-tubi setiap hari? Apakah kita harus percaya bahwa dengan minum jus buah dan sayur setiap hari bisa meluruhkan seluruh racun dalam tubuh (Jawabannya tidak)? Apakah kita harus percaya kalau infused water lebih baik dari air biasa? (Coba jawab sendiri)? Apakah gula organik lebih baik dari gula biasa (cari tahu)?

Sepertinya sekarang waktunya kita asah sifat skeptis kita. Terutama yang membuahkan rasa ingin tahu untuk menggali lebih dalam. Mendapatkan berita terusan di grup? Kalau informasinya bersifat praktis seperti lalu lintas yang dibuka tutup karena acara di satu kota, teruskan lah ke rekan Anda yang kira-kira membutuhkan. Jika terbaca seperti menakut-nakuti dengan kata-kata “bahaya” atau “awas” kemudian diikuti dengan “mengandung minyak babi” mungkin Anda patut ragu. Doubt is good. Keraguan membuat kita mempertanyakan. Pertanyaan membuat kita mencari tahu. Pencarian itu akan menghasilkan pengetahuan atau pencerahan. Mendengar berita mengenai suara terompet dari langit dan yakin kalau itu tanda-tanda dunia akan berakhir? Boleh saja. Lebih boleh lagi kalau Anda cari informasi lebih banyak soal fenomena ini. Pada akhirnya apa yang kita percayai ya terserah kita. Ketika memikirkan banyak kemungkinan, bukan berarti kita menjadi tidak percaya apa yang kita percaya. Bingung ya? Saya juga. Kata Artistotle, “It’s the mark of an educated mind to be able to entertain a thought without accepting it.” Keingintahuan mengenai ateisme tidak menihilkan kepercayaan kita terhadap tuhan. Membaca buku tentang atau kitab agama lain tidak akan menjadikan kita syirik. Rasa ingin mencoba diet mayo bukan berarti saya tidak lagi menganut paleo (tetep).

THIS!
THIS!