Perlahan Dia Menghilang

Dunia terus berputar. Begitu banyak teknologi yang telah ditemukan oleh manusia sebagai makhluk yang paling cerdas di muka bumi. Tapi menurut saya dari semua penemuan yang telah ada itu terdapat dua yang paling penting. Nomer satu listrik. Nomer duanya adalah internet. Atau mungkin ada lagi yang lain. Tapi tanpa kehadiran listrik mungkin penemuan itu tidak akan berfungsi dengan sempurna. Pernah merasakan mati lampu selama seharian? Kalo pernah pasti merasakan begitu penting peran listrik di kehidupan manusia sehingga merasa kehilangan yang berujung pada sumpah serapah pada PLN.

Untuk nomer duanya mungkin internet. Berapa lama manusia modern bisa hidup tanpa internet? Untuk mereka yang pernah merasakan hidup di era 80-90an mungkin masih bisa bertahan agak lama. Mereka pernah hidup di jaman sebelum internet. Bahkan mungkin sebagian merindukan era ini. Informasi mungkin sedikit susah didapat di era internet. Atau lambat. Tapi ada beberapa hal lebih dinikmati ketika era internet belum ada. Kehidupan terasa lebih hidup setidaknya.

Tapi waktu terus bergulir. Mau tidak mau internet akan masuk ke seluruh pelosok kota ataupun desa. Suka tidak suka. Mau tidak mau. Internet akan mempermudah dan mempercepat kegiatan manusia yang dulu sulit sekali dilakukan tapi di sisi lain kehadiran internet pun akan membunuh penemuan yang telah ada sebelumnya. Berikut contoh bisnis yang mungkin akan hilang karena internet:

1. Warnet

Sulit sekali mencari warnet sekarang ini. Padahal dulu ini adalah kegiatan sehari-hari. Beberapa tahun lalu kita harus mengantri untuk mendapat tempat di satu warnet tertentu.

2. Toko kaset/CD

Sudah berapa outlet Aquarius atau Disc Tarra yang ditutup di Indonesia? HMV, sebagai salah satu toko retail CD/Kaset/DVD terbesar di dunia pun sudah menyatakan bangkrut di tahun 2013. Jika perusahaan sekelas HMV saja sekarat kita tidak usah tanya perusahaan sejenis yang lebih kecil.

3. Toko/Rental DVD

Blockbuster, rental video terbesar di dunia sudah menyatakan bangkrut beberapa tahun yang lalu. Rental DVD di Indonesia saya rasa sudah tidak ada. Lapak DVD bajakan saya rasa akan menyusul jika internet sudah cepat di Indonesia dan sudah masuk ke seluruh penjuru rumah di desa dan di kota.

4. TV Kabel

Ini efeknya belum terasa di Indonesia. Tapi beberapa tahun mendatang jika mereka tidak mengubah model bisnisnya maka mereka akan menyusul daftar tiga di atas. Kehadiran Netflix, Hulu, Amazon Prime dan yang lainnya akan terus mengancam harus diwaspadai atau mereka akan menjadi korban internet selanjutnya. Kehadiran Smart TV, Chromecast, Apple TV dan sejenisnya adalah indikator awal bahwa jika televisi bisa konek ke internet maka siapa yang membutuhkan (setidaknya paket film di) TV kabel?

5. Majalah/Koran

Saya sudah tidak langganan koran lagi sejak beberapa tahun lalu, Saya tahu saya tidak sendirian di sini. Majalah? Newsweek setelah 79 tahun berdiri akhirnya menyerah dan hanya mempunyai versi digital. Banyak majalah lokal yang sudah tidak terbit. Untuk mereka yang masih bertahan mereka berusaha untuk menempatkan kakinya di dua tempat berbeda. Versi cetak dan digital.

6. ….

Silakan isi jika ada yang terlewat atau tidak setuju dengan daftar di atas.

internet

Tapi jika diperbolehkan untuk memilih. Jujur saja saya lebih memilih untuk kembali ke era sebelum internet itu ada.

Entah kenapa. Kalo kamu gimana?

Advertisements

Jeff, Apakah Kamu Masih Mau Bekerja?

Dengar, Jeff. Aku mempekerjakan kamu karena kamu tampak seperti anak yang baik. Seorang anak dengan banyak potensi dan ambisi. Seseorang yang bisa aku andalkan datang setiap pagi, siap untuk bekerja, ingin belajar, dan lapar untuk sukses. Ketika kita pertama kali bertemu, aku melihat lebih dari sekedar ijazah gelar Master dari Universitas Indonesia. Aku melihat seorang anak yang tampaknya konsisten dan teguh pendirian atas setiap tantangan yang terjadi, bahkan jika tantangan itu adalah ketika aku melihat kelaminmu, secara ndak sengaja, di WC, bilik ke dua dari kanan.

image

Sejauh ini performa kamu cukup bagus dibanding anak-anak lain yang pernah bekerja di perusahaan ini. Aku bisa melihat dari bagaimana kamu berkeja sehari-hari. Memberikan laporan dn bahkan tiap kali kamu ijin ke belakang. Kita seharusnya berada di halaman yang sama mengenai hal ini. Penis kamu ndak dan ndak akan pernah mempengaruhi penilaian kerja kamu. Ini berlaku umum di setiap perusahaan, untuk semua karyawan.

Aku tau dan aku pernah lihat hal semacam itu sebelumnya. Panjang dan coklat terang. Ndak ada yang salah dengan itu, Jeff. Kalau kamu perhatikan, penismu agak miring ke kanan dengan sedikit tonjolan di bagian pangkalnya. Ini bisa jadi gejala hernia dan aku sarankan untuk segera melakukan pemeriksaan. Hernia bukan penyakit kronis, Jeff. Dokter punya banyak metode menghilangkannya dengan cara yang relatif mudah dan aman. Lebih menggembirakan lagi, perusahaan akan menanggung seluruh biaya pengobatan kamu. Tapi, sebelumnya kamu harus pastikan dulu itu adalah hernia. Kamu bahkan bisa minta aku secara pribadi untuk memeriksanya lebih dekat.

Perusahaan juga butuh orang yang sabar, Jeff. Aku yakin kamu memiliki kesabaran itu. Mengenai reaksiku yang langsung memegang penismu itu hanya spontanitas belaka. Sungguh bukan hal yang patut disesalkan. Kamu sudah memberikan inspirasi untuk aku pribadi dan perusahaan. Spontanitas adalah bagian dari kreativitas. Kita bisa mengolahnya jadi beraneka ragam aksi yang positif.

Kamu juga seharusnya sadar perusahaan ada di pihakmu sejak awal. Keadaan ini belum tentu kamu dapatkan di perusasahaan lain ataupun keluarga sendiri. Kebiasaanmu menurukan celana hingga ke lutut waktu buang air kecil juga bukan halangan untuk kembali bekerja di perusahaan ini. Secara pribadi aku mendukung kebiasaan ini. Aku juga akan meberlakukannya untuk seluruh karyawan laki-laki di perusahaan karena kamu begitu menginspirasi.

Aku tahu sekarang sudah dua minggu kamu tidak hadir tanpa keterangan. Dengan ini perusahaan menyatakan kemaklumannya dan dapat menerima kamu kembali dengan tangan terbuka. Perusahaan juga paham kalau kamu ketakutan waktu aku jongkok dan membuka mulut setelah waktu itu aku pegang penismnu. Yang satu ini adalah bentuk kekaguman. Bukankah tadi aku bilang, kamu menginspirasi?

Tidak ada maksud buruk dariku dan perusahaan. Spontan dan kagum adalah hal biasa. Justru menghembuskan angin segar yang jarang sekali dialami perusahaan di masa-masa sulit belakangan. Maka, perusahaan berencana memberikan kamu kenaikan gaji jika kembali bekerja. Jadi, Jeff, apakah kamu masih mau bekerja?

salam hormat,
Gandrasta Bangko

tembusan:
Direktur Personalia
Direktur Utama

Bikin Sendiri Surga Duniamu

Berbuka puasa rasanya seperti Surga dunia. Setetes kesejukan yang jatuh ke kerongkongan yang kering. Makanya banyak restoran dan cafe yang menawakan tajil. Bahkan beberapa memberikannya secara gratis kalau kita memesan makanan juga. Well, pasti udah ada hitung-hitungannya sih…

Padahal banyak sajian pencuci mulut atau tajil itu bisa dibikin sendiri dengan mudah. Pasti banyak yang berpikir jatuhnya lebih mahal. Tapi kalau dihitung dari kuantitas, kualitas dan kepuasannya, tak ada yang bisa menandingi. Dengan kata lain, kita bisa bikin Surga dunia kita sendiri.

1. Lychee Ice Tea

Sering banget kita kesel kalo di pesan ini di cafe, dikasih Lychee yang cuma sebutir. Mentok 3 butir. Itu pun dengan harga yang bikin lebih kesel. Padahal, bisa bikin sendiri loh!

Caranya, beli sekaleng Lyche yang biasanya sudah bercampur dengan sirup. Dan Nu Green Tea Less Sugar. Buka kalengnya Lychee, sisihkan. Buka Nu Green Tea dan tuang ke gelas (yang kalau mau dicampur es batu silakan saja) setengah gelas. Ambil buah Lycheenya sesuka hatimu. Mau sepuluh butir juga sampe penuh tuh gelas silakan hahahahah. Icip. Kalau dirasa kurang manis, tambahkan saja cairan sirup dari kaleng Lychee.

Dari sekaleng Lychee kurang lebih terdapat 15 butir Lychee. Bayangkan, berapa banyak gelas Lychee Ice Tea yang bisa dibikin sendiri. Lebih murah? Pastilah. Apalagi kalau belinya patungan.

LYCHEEiceTEA

2. Coco Ketan

Sajian ini bisa didapat di gerai Haagen Dasz, tentunya dengan harga yang lumayan. Padahal bikin sendiri sangat mudah dan rasanya bisa jadi lebih enak.

Caranya, beli saja bubur ketan hitam yang pasti mudah didapatkan di bulan puasa ini. Beli es krim Vanila merk apa saja sesuai selera. Kerok es krim dari wadahnya, letakkan di atas bubur ketan hitam. Coco Ketan pun siap dimakan. Kalau ada dana lebih, bisa taburkan remahan Oreo di atasnya, atau kacang-kacangan sesuai selera.

DSC02891

3. Jus Jeruk Es Batu Nanas

Selain rasanya yang seru, sajian ini juga cantik tampilannya. Membuatnya pun mudah. Hanya memang perlu sedikit waktu lebih.

Di saat sahur, tuangkan jus Nanas ke dalam cetakan es batu. Jus Nanas bisa dari merk apa saja. Kalau tidak ada jus Nanas, bisa juga Jambu Biji atau rasa apa pun yang agak asam. Masukan ke dalam lemari pendingin. Silakan memulai hari.

Menjelang waktu buka, tuangkan jus Jeruk ke dalam gelas. Bisa dari sirup atau bubuk seperti NutriSari. Tuangkan setengah gelas saja. Keluarkan lah jus Nanas yang sudah menjadi es batu. Tuangkan ke dalam jus Jeruk. Tunggu sebentar sambil diaduk-aduk agar es batu Nanas sedikit mencair. Rasanya menyegarkan dan unik karena campuran dari dua jus pilihan rasa sesuai selera.

Silakan berkreasi sendiri dengan kombinasi rasa buahnya.

SEDIKIT RAHASIA DAPUR…. Es batu jus Nanas yang dicampur dengan Sprite kalau di cafe atau resto sering diberi nama Fruit Punch :). Jadi dengan es batu jus buah di kulkas, ada beragam sajian segar yang bisa dibikin sendiri.

4. Affogato Dalam Mulut

Kalau di cafe, Affogato biasanya disajikan dengan es krim vanila di atas secangkir espresso panas. Rasanya pahit-pahit manis menyegarkan dan bikin melek.

Lagi di jalan dan waktunya berbuka? Beli es krim Magnum (yang Almond lebih cocok). Kemudian segera kunjungi saja gerai Sevel atau McD terdekat. Kopi hitam dari dua gerai ini, rasanya lumayan. Buka es krimnya, makan es krimnya segigit, tahan di mulut, teguk kopi hitam panasnya. Es krim vanila dan coklat dari Magnum akan melebur di dalam mulut dengan rasa kopi. Bisa dilakukan sambil berdiri di pinggir jalan menyaksikan langit senja Jakarta yang belakangan lumayan dramatis.

Kalau ditanya “buka pake apa?” silakan jawab “Affogato dong!”

IMG_2183

5. Pukis Karamel

Kue Pukis mudah dijumpai. Mungkin banyak yang sudah bosan dengan rasanya. Padahal dengan sedikit tambahan, cinta lama bisa kembali bersemi.

Menjelang berbuka, saat orang antri di restoran atau food court, kunjungi supermarket atau Sevel. Carilah selai Karamel. Kalau tidak ada Karamel, bisa juga selai coklat atau bahkan susu kental manis. Ukuran kecil saja. Beli Pukis. Saat masih hangat, tuangkan selai di atasnya. Kalau belum puas juga, taburkan kacang di atasnya. Bisa kacang apa saja, hancurkan sedikit saat masih dalam kantongnya. Buka kantongnya dan taburkan deh di atas Pukis berselai tadi.

6. BanaChoc

Ide yang ini didapat saat berkunjung ke bazaar hipster Ibukota. Dengan nama yang unik dan kemasan ketje, sajian ini dijual dengan harga yang lumayan. Bikin sendiri? Gampang pake banget!

Beli pisang *deuh…* buka kulitnya dan iris memanjang atau melebar. Gak punya pisau? Iris pake sendok. Gak punya sendok? Iris pake penggaris. Gak punya penggaris, gak usah diiris deh. Kemudian ambil sesendok selai coklat. Yang agak mahal Nutella. Tuangkan di atas pisang. Jangan kebanyakan yaaa… Kalau ada remahan kacang, silakan taburkan di atasnya. Silakan menikmati rasanya jadi hipster Ibukota.

7. Coconut on Coconut

Seorang teman yang sedang berada di Amerika yang pertama kali memposting di Pathnya. Air Kelapa muda yang dimakan dengan es krim Kelapa. Yuk bikin sendiri!

Es krim kelapa muda kalau di Indonesia sering disebut Es Dung-Dung. Kalau ke supermaket ada tuh yang jual dari Walls. Rasanya lumayan. Nah tinggal cari yang jual Air Kelapa Mudanya deh. Minta sama daging kelapanya juga. Bawa pulang dan masukkan keduanya ke dalam kulkas. Air kelapa muda di bawah, es krim dung-dung di atas.

Beduk buka pun berbunyi, tuang Air Kelapa Muda ke gelas. Tuang es krim Kelapa di atasnya, aduk aduk sedikit biar es krimnya melarut. Pake sedotan, nikmati secuil surga dunia. Kalau ada Nata de Coco, bisa juga tuh dicampur ke dalamnya.

Eh, sebelum dinikmati jangan lupa difoto buat disebarkan di media sosial. Silakan berbangga hati sambil bilang “akhirnya bisa nyobain yang lagi ngetrend di Amerika”.

8. Manisan Apel Jeruk

Mau tantangan yang lebih? OK, sajian berikut ini bisa bikin kamu dikagumi teman-temanmu. Bikinnya memang agak sedikit menantang. Sedikiiit…. Cuma perlu sedikit kemampuan untuk memarut.

Parutlah Apel. Bisa Washington atau Manalagi atau Apel Hijau Malang. Parut lebar apelnya. Parutan memanjang loh ya. Parutan tersebut masukkan ke dalam jus Jeruk. Kalau rajin bisa hasil perasan sendiri. Kalau malas bisa pakai jus Jeruk kotakan atau sachet. Sajikan dingin atau tambah es batu.

Sepertinya ini bukan resep. Tapi sekedar ide. Yang bisa jadi sudah ada di benak pembaca atau bahkan banyak pembaca yang sudah tahu lebih dahulu. Tulisan ini adalah hasil dari kegemasan banyaknya makanan yang dijajakan saat ini, sebenarnya murah dan mudah. Tapi kemasan dan suasana yang menyertainya menjadikannya mahal.

Seperti menu minuman di sebuah cafe hipster tertulis Arnold Parmer

2015-06-15 13.49.59

Yang mana adalah jikalau bagaimanapun bilamana adalah… Ice Lemon Tea 🙂

Kalau pembaca punya ide lain, silakan sampaikan di kolom komentar ya…

Sepeda Adalah Koentji

IMG_9574

Sepeda adalah Koentji

Sepeda adalah alat transportasi paling keren. Saya meyakini kalimat tersebut sepenuh hati. Mengapa? Karena sepeda hampir-hampir membuat saya lupa bagaimana rasanya menyukai jalan raya terakhir kali.

Sebetulnya ndak benar-benar cukup sepeda. Perlu ada tambahan: lipat. Karena sejak saya gunakan sepeda lipat, jalanan kota yang saya tinggali benar-benar jauh lebih bersahabat dan menyenangkan.

Apa saja yang membuat saya menyukai jalanan Jakarta karena sepeda lipat?

  1. Sepeda lipat tidak melibatkan parkiran dalam setiap aktivitasnya. Jika saja parkir dianggap pamrih. Maka dengan sepeda lipat, saya tidak berpikir pamrih dalam bersepeda. Kemanapun akan selalu ada tempat. Bersepeda menjadi ikhlas.                                                 IMG_9668
  2. Jalanan Jakarta memberikan ruap suasana pagi dengan pohon rindangnya. Hal tersebut hanya bisa dirasakan jika kita naik becak dengan atap dilipat. Atau naik mobil sport dengan kap terbuka, atau mobil trungtung pengangkut pasir, naik gerobak, atau bersepeda.                                                                                   IMG_2746
  3. Dengan bersepeda saya paham benar bahwa  jalan sekitar Taman Suropati itu relatif tinggi dan jalanan menuju Tugu Tani relatif menurun. Jalan Thamrin depan Sari Pan Pacific menuju Sarinah juga menurun. Mengapa demikian? Karena gowesan setiap lintasan terasa benar mana yang semakin berat atau ringan, tergantung pada sudut kemiringan jalan.  Konsekuensi lanjutannya, kita menghargai benar bahwa jalan tidak hanya belok kanan kiri, tapi juga naik turun.                          ecopark
  4. Ringkas karena jika capek, bisa panggil taksi atau gojek. Karena saya juga manusia biasa yang memiliki dengkul mudah nyeri. Maka ndak perlu paksakan diri. Fit? Gowes. Pegal? Taksi. Sepeda dilipat dan letakan di bagasi.

    This slideshow requires JavaScript.

  5. Sepeda itu mesin waktu. Jika jalanan semakin macet justru semakin cepat. Karena semua kendaraan terhenti dan sepeda dapat meliuk-liuk diantara spion mobil dan plat nomor. 
  6. Dengan bersepeda pengeluaran biaya bensin/ menjadi nol rupiah. Hanya saja tagihan warteg samping kantor sedikit membengkak.
  7. Bersepeda membuat kita hidup seperti yang ada di tipi. Menguasai jalanan dengan santun, menikmati hidup dan menjadikan kota arena bermain kita.

Selamat pagi, Satu lagu dari saya.

Salam anget dari hati.

Roy

Mari Berkorespondensi

Tiba-tiba saya teringat percakapan dengan beberapa rekan saya dahulu sekali. Saya bercerita bagaimana kalau saya mengetik emoticon tersenyum atau memasukkan emoji tersenyum ke percakapan di gawai (mari mengikuti istilah om Roy), saya pun jadi ikut tersenyum. Rekan-rekan saya menertawakan kebiasaan saya itu dan mengatakan kalau mereka tidak melakukannya. Mungkin saya latah saja, tetapi saya merasa kalau emoji terkadang bisa turut menyampaikan yang tidak tersampaikan dalam percakapan melalui teks.

Korespondensi melalui surel maupun perakapan lewat teks memang agak rumit. Dengan risiko mengatakan yang sudah jelas, sejelas keriput di bawah mata saya di hari yang terang benderang, percakapan tertulis sangat berbeda dengan percakapan tatap muka langsung, di mana yang terlibat percakapan tersebut berada dalam situasi yang sama (walau suasana hati tetap siapa yang tahu), dan konteks juga bisa diaplikasikan tanpa usaha. Sementara komunikasi tertulis semua itu harus diusahakan dan sebisa mungkin dijelaskan dari awal ketika percakapan dibuka. Karena itu (mungkin), komunikasi tertulis ada peraturan yang – saya kurang paham apakah – tersurat maupun tersirat.

Buat yang pekerjaan sehari-harinya mengirimkan puluhan surel ke kolega, klien maupun partner dalam pekerjaan, mungkin ilmu seperti ini sudah di luar kepala. Tetapi saya cukup terkejut juga melihat tidak sedikit yang kurang memahaminya. Terutama korespondensi resmi dalam konteks bisnis dan pekerjaan. Melihat post saya minggu lalu, mungkin paham dengan sekretaris salah satu petinggi di kantor yang suka menyingkat kata yang tidak umum disingkat dan terlalu langsung ke permasalahan tanpa ada basa-basi. Tidak hanya membuka surel dengan “D.H.” sang Mbak juga selalu mengirimkan undangan untuk rapat tanpa ada detail mengenai perihal maupun agenda dari rapat tersebut. Ketika saya selidiki, rupanya alasannya adalah; beliau takut terkena semprot amarah, sehingga jika diminta mengirimkan undangan untuk rapat, tidak berani bertanya kembali mengenai agenda dan detail yang tentu saja bagi yang diundang cukup penting.

Baiklah, coba kita runut isi surel yang menyenangkan dan baik untuk dunia profesional. Dimulai dengan kata sapaan yang tidak disingkat. Jika si penerima surel sudah dikenal dengan baik, dan atau posisi beliau lebih tinggi, bisa menggunakan “Dear Ani” atau apapun yang disuka termasuk “Ani yang baik”, atau kalau belum terlalu akrab dan posisi dia paling tidak setara, “Hai Ani” atau “Hi Ani” juga bisa diterima. Selanjutnya menurut saya akan membuat hati sejuk di antara hari yang sibuk kalau kita saling mendoakan kesehatan masing-masing pelaku korespondensi. Bentuknya sebaiknya bukan pertanyaan, tetapi semacam tuduhan, contoh; “semoga Ani dalam keadaan baik dan sehat”. Setelah kalimat tuduhan mendoakan, langsung sampaikan inti pesan dengan runut dan lengkap. Jika ada topik yang berbeda, mulai dalam paragraf baru. JIka semua sudah tersampaikan, tutup dengan ucapan terimakasih atas perhatian sang penerima pesan, dan boleh juga menyelipkan kalimat bahwa jawaban dan atau kabar baik sangat dinantikan, kalau memang pesannya mengandung unsur pertanyaan atau keputusan dari sang penerima. Sebelum nama bisa cantumkan “salam” atau jika ingin berbahasa Inggris “with best regards” atau hanya “best”. Sesungguhnya kalau menurut saya pribadi, jarang ada yang menilai seseorang dari kata-kata sebelum tanda tangan atau nama. Tetapi jika ada yang menaruh kutipan setelah nama, jangan heran jika seseorang dinilai dari sana. Seperti waktu di pekerjaan terdahulu, saya pernah menerima surel dari seorang pekerja media yang membubuhkan kutipan setelah namanya; “If you’re not in fashion, you’re nobody”. Reaksi saya; “hokedeeee” dengan mata saya berputar hingga putihnya saja yang terlihat.

Satu lagi saya selipkan pesan sponsor: sebagai pekerja media, saya tak jarang melihat puluhan surel dari humas setiap harinya. Dan cukup sering (walau sekarang saya lihat lebih jarang, terimakasih Kosmos) surel dari humas itu mengandung lampiran rilis dan foto yang jumlahnya bisa mendekati atau lebih dari 10 megabyte. Mudah-mudahan para humas ini paham, kalau kantor media umumnya tidak memberikan jatah mailbox yang besar kepada karyawannya. Jadi surel dengan lampiran raksasa nasipnya antara: 1. Tersangkut di server kemudian dikembalikan ke pengirim, atau; 2. Langsung dihapus karena akan mengurangi kapasitas mailbox untuk menerima pesan lain yang memang ditunggu. Bersahabatlah dengan cloud computing dan usulkan agar menyimpan segala rilis dan foto di awan awan tersebut untuk diakses media jika mereka membutuhkan.

Mungkin demikian saja pesan saya kali ini. Jika ada pertanyaan saya menerima korespondensi, asal dilakukan sesuai pakem yang telah disetujui.8ee65df5f3c5489fbb0a2fd39159251e

20 Album Berusia 20 Tahun di 2015 (Bagian 1)

Setiap generasi punya musiknya sendiri.

Inilah yang selalu saya percayai. Kenapa begitu? Karena tidak akan pernah habis-habis perdebatan soal era musik yang baik.
Mereka yang tumbuh dan berkembang di era 70-an pasti akan menyebut musik era 70-an adalah yang terbaik. Lalu mereka yang menggeliat di era 80-an pasti akan dengan bangga mengakui kalau musik era 80-an adalah yang paling mumpuni. Demikian seterusnya lingkaran ini bergerak.

Yang pasti, musik yang kita dengar pada saat tumbuh dan berkembang adalah musik yang akan mengendap di diri kita paling lama. Kapan kita tumbuh dan berkembang? Umumnya pada saat kita remaja.

Saat dunia kita umumnya terkonsentrasi hanya pada sekolah dan di luar sekolah, kita bisa lebih mudah mengapresiasi apa yang sedang menjadi trend waktu itu. Kalau perlu, dikonsumsi langsung dengan cara apapun. Seakan-akan fokus hidup kita hanya untuk sekolah, dan menjadi dikenal di sekolah.

Buat saya dan jutaan orang Indonesia yang menjalani usia belasan tahun di era pertengahan 90-an, mengkonsumsi musik berarti:
– menabung untuk membeli kaset, karena CD mahal sekali, dan belum tentu tape recorder kita punya tempat untuk memainkan CD;
– pinjam teman sekelas, dengan janji akan dituliskan lirik lagunya, kalau di dalam kaset tidak ada teks lagu di leaflet kaset;
– membaca tangga lagu di majalah HAI, dan pura-pura tahu lagu apa saja yang lagi ngetop;
– menunggu radio memutarkan lagu itu;
– kalau lagunya lagi ngetop, minta request lagu, dengan harapan request dan ucapan salam pengantar lagu ke calon pacar bisa dibacakan;
– kalau gak punya calon pacar, cukup menyiapkan kaset kosong, lalu siap-siap merekam lagu dari radio dengan intuisi sempurna kapan harus tekan tombol “stop” sebelum suara penyiar ikut ke dalam rekaman kaset;
– nonton di MTV yang direlay Anteve, meskipun kemungkinannya kecil, karena keburu kalah oleh ibu dan kakak yang menonton telenovela.

Kalau dibaca Anda yang baru lahir di tahun 1990-an akhir proses mendengarkan lagu di atas, kok kelihatannya ribet ya? Mungkin kalau dibandingkan dengan era streaming sekarang, jelas berbeda. Maklum, kami adalah generasi terakhir remaja tanpa akses Internet, bahkan baru punya alamat email sebelum krismon (krisis moneter).

Memang tidak ada pilihan lain. Tapi saya lebih senang menyebutnya dengan “there is this art of waiting in consuming the music.”

Sebagai seorang anak sekolah yang tidak terlalu cemerlang prestasi akademisnya, malah mengisi dengan ikut kegiatan ekstra kurikuler, dulu saya lebih senang menghafalkan lirik lagu ketimbang menghafalkan rumus fisika. Uang saku yang diberikan orang tua habis untuk membeli majalah dan kaset.

Satu kaset yang baru bisa dibeli setelah menabung sebulan, bisa didengarkan berulang-ulang sampai pita kaset jadi keriting. Satu album yang berisi 12-13 lagu bisa kita hafalkan dari awal sampai akhir. Kita tidak bisa pindah lagu dari satu album ke album lain hanya dengan satu click, karena jaman itu ya apanya yang mau diklik?

Dan tidak terasa, titik pertengahan era 90-an, tahun 1995, sudah berusia 20 tahun.

Beberapa situs internet “merayakan” sejumlah album musik yang dianggap masih layak didengar dua dekade kemudian.

Di bawah ini ada beberapa album yang dulu pernah saya beli, saya rawat dan saya dengarkan berulang kali. Mereka mungkin bukan yang “terbaik”.
Tapi yang pasti, lagu-lagu di setiap album ini pernah begitu kuat terpatri di memori.

Oleh karena itu, urutan dua puluh album yang tahun ini berusia dua puluh tahun dibuat berdasarkan abjad judul albumnya. Mereka adalah:

1. The Beatles Anthology: Volume 1

The Beatles Anthology Vol. 1 (Wikipedia)

The Beatles Anthology Vol. 1 (Wikipedia)

“Hanya” dengan bermodalkan lagu “Free as a Bird”, lagu terbaru The Beatles dalam 25 tahun, album ini sempat membuat heboh industri musik … dan saya, yang kebat-kebit deg-degan karena akhirnya bisa beli dan punya album The Beatles sendiri!

2. Batman Forever OST (Various Artists)

Batman_Forever_soundtrack

Michael Keaton adalah Batman di masa kecil saya, Christian Bale adalah Batman di masa dewasa saya, George Clooney adalah Batman yang sebaiknya kita lupakan, sementara Val Kilmer adalah Batman di masa remaja saya. Sekumpulan lagu di album ini membuat saya sempat menyukai aliran musik alternative. Meskipun tidak semua lagu ada di film, tapi album ini masih bisa dinikmati sebagai album utuh yang berdiri sendiri. Tentu saja, yang paling sering direwind alias diputar berulang kali adalah “Hold Me, Thrill Me, Kiss Me, Kill Me” (U2) dan “Kiss From a Rose” (Seal).

3. Bidadari (Andre Hehanussa)

Bidadari (Wikipedia)

Bidadari (Wikipedia)

Ada tiga lagu jagoan di album ini, yaitu “Bidadari”, “Karena Kutahu Engkau Begitu”, dan “Kuta Bali”. Itu sudah cukup buat saya membeli kaset ini tanpa pikir panjang lagi waktu itu. Dan tidak ada remaja Indonesia waktu itu yang tidak tahu lagu-lagu tersebut. Ngomong-ngomong, apa kabar om Andre sekarang ya?

4. Bintang-Bintang (Titi DJ)

Titi_-bintang

Album yang manis. Lagu yang menyenangkan. Entah di mana sekarang kaset album ini berada. Lagunya mengingatkan saya pada suasana sore hari yang gerimis sambil berjalan kaki sepulang sekolah.

5. Dangerous Minds OST (Various Artists)

Dangerous Minds OST (Wikipedia)

Dangerous Minds OST (Wikipedia)

Pendongkrak membeli album ini adalah lagu “Gangsta’s Paradise” yang dinyanyikan Coolio. Sehari bisa diputar dua puluh kali di radio waktu itu. Tapi setelah didengarkan seluruh album, banyak lagu yang rap dan R&B yang enak buat diputar di pertandingan basket antar kelas. Dan tentu saja, semakin sah pakai kemeja flannel kotak-kotak.

6. Daydream (Mariah Carey)

Daydream (Wikipedia)

Daydream (Wikipedia)

Kita tidak akan pernah bisa menjangkau suara tinggi jutaan oktaf persis seperti Mariah Carey. Tapi kita dengan pede ikut bernyanyi lagu “Fantasy” atau “Always Be My Baby” setiap dua lagu itu diputar.

7. Design of a Decade (Janet Jackson)

Design of a Decade (Wikipedia)

Design of a Decade (Wikipedia)

Gara-gara lagu “Runaway”, saya beli kaset ini. Tentu saja satu album enak semua, karena ini adalah kumpulan hits Janet Jackson, dengan dua lagu baru. Meskipun menyenangkan, tapi entah kenapa rasanya berbeda. Tidak seperti waktu membeli album Janet Jackson sebelumnya yang diberi tajuk “janet.”. Banyak desahan di album itu. Bikin deg-deg ser …

8. Dunia (GIGI)

Dunia (Wikipedia)

Dunia (Wikipedia)

Sekolah saya pernah didatangi GIGI. Kami disuruh pulang cepat, karena kelas akan dikosongkan sebelum GIGI manggung. Saya dan teman-teman, yang sudah terlanjur hapal di luar kepala lagu “Janji” dan “Nirwana”, memilih menunggu. Tapi GIGI terlambat datang. Kami keburu lapar, dan kami pun pulang. Toh ketika ada jam kosong, kalau ada yang bawa gitar, pasti akan menyanyikan salah satu dari dua lagu di atas.

9. HIStory: Past, Present and Future, Book I (Michael Jackson)

HIStory: Past, Present and Future, Vol. 1 (Wikipedia)

HIStory: Past, Present and Future, Book I (Wikipedia)

Ada teman satu sekolah yang terdaftar jadi anggota resmi fan club Michael Jackson. Waktu album ini mau keluar, hampir tiap hari bolak-balik ke toko kaset yang berbeda, untuk memastikan bahwa album ini sudah dijual apa belum. Hari pertama, dia langsung beli. Saya cuma bisa ikut mendengarkan lewat Walkman yang dia bawa diam-diam ke sekolah. Langsung jatuh cinta dengan “Scream”, “Earth Song”, dan tentunya “You’re Not Alone”.

10. Jagged Little Pill (Alanis Morissette)

Jagged Little Pill (Wikipedia)

Jagged Little Pill (Wikipedia)

Pengakuan: inilah album pertama yang saya hapal dari depan sampai belakang. Itu maksudnya, dari lagu pertama di side A, sampai lagu terakhir di side B. Dari “All I Really Want” sampai “Wake Up”. Tentu saja yang masih hapal di luar kepala sampai sekarang adalah “You Oughta Know”, “Head over Feet”, “Ironic”, “You Learn“, “Hand in My Pocket” … Eh banyak juga ya.
Sebagai “anak daerah”, kecewa karena Alanis Morissette hadir cuma semalam saja konser di Jakarta pada saat ulangan catur wulan. Semoga dia akan datang kembali suatu saat nanti.

Eh lho, katanya 20 album? Kok baru 10?

Sabar ya.

Sisa 10 album berikutnya, ditambah bonus, ditunggu saja minggu depan.

Sekarang, silakan dengarkan satu per satu lagu di bawah untuk menemani hari ini.

Ada request?

Suvenir

Takluk dalam kenangan, adalah selemah-lemahnya manusia atas sesuatu yang internal, berasal dari dalam diri. Ketika seseorang menyerah secara sukarela, bersedia dibuat hanyut dan larut dalam pusaran emosi masa lalu, sampai kemudian tersadar harus kembali menjalani misteri yang tak kalah menggusarkan: masa kini.

Selama manusia masih memiliki (baca:dengan gampang dikuasai) perasaannya sendiri, selama itu pula manusia tidak akan pernah menang melawan kuasa kenangan.

Kala terlintas dalam pikiran, dengan atau tanpa penyebab, manusia langsung tercerap di dalamnya. Mengalami putus kontak dengan sekeliling selama beberapa saat. Ukuran yang bias. Bisa milidetik, menit, bahkan berjam-jam. Sebagai bukti, tak terhitung berapa kali kita bisa tersenyum di tengah-tengah suasana ingar-bingar, merasa kesal atau marah seorang diri, mendadak sedih dalam kebisingan, dan mengeluarkan beragam ekspresi lain tanpa mampu dibendung. Silakan diingat kembali, ya kenangannya, ya sensasinya.

Memang, banyak yang kerap kadung jemawa, merasa berhasil mengungguli perasaannya sendiri. Berlindung di balik ketegaran, merasa kokoh berhadapan dengan kenangan. Padahal tanpa ia sadari, dengan meladeninya saja sudah merupakan bentuk ketaklukan. Percuma meratapi kenangan, mubazir pula tertawa gembira terhadapnya. Dalam kenangan, nilai baik dan buruk luruh dimakan waktu. Semua tiba-tiba merasa jauh lebih tua, sebuah efek yang niscaya dari kenangan.

It’s a losing game.

Tapi apakah salah, jika sama kenangan aja kalah? Oh tentu saja tidak. Namanya juga manusia, makhluk yang selalu memerlukan (atau mendapatkan) akhiran “–wi” sebagai permakluman: manusiawi.

Bisa jadi ini bukan persoalan menang atau kalah, dua sisi realitas yang tak terpisahkan, pembeda antara kuat dan lemah. Sebab yang terjadi adalah kepasrahan, untuk kembali merasakan, entah, kenangan yang menyenangkan; kenangan yang menyedihkan; kenangan menyenangkan yang malah menyisakan kesedihan lantaran rindu, penyesalan, atau apa pun itu; maupun kenangan tidak menyenangkan yang kemudian menimbulkan rasa syukur serta perasaan berterima kasih sepenuhnya.

Dalam momen-momen tersebut, manusia seakan kehilangan daya. Mirip seperti serpihan gabus yang jatuh di sebuah jeram. Bisa dibawa berputar 360 derajat tanpa ada kejelasan sedikit pun, ini bakal berujung ke mana atau akan jadi seperti apa. Untuk kondisi begini, banyak begawan yang sepakat sama-sama berpetuah: “nikmati saja. Kita bisa apa?

Sayangnya, kala “menikmati” momen itu, manusia lupa logika dasar bahwa waktu dan prinsip aksi-reaksi berjalan linier. Terus maju ke depan, lurus, ajek, tanpa pernah sedikit pun menoleh balik. Ya! Logika. Tidak pernah minta diajak, namun sejatinya penting untuk digamit turut serta. Biar ndak gila.

Sekuat apa pun kesan yang dihasilkan oleh ingatan-ingatan tersebut, kenangan tetaplah kenangan, sesuatu yang bisa disebut macam hantu gentayangan. Hanya muncul dari masa lalu, mengusik, tapi tak bisa diapa-apakan. Karena dengan mengikuti dan meresapi perasaan yang timbul secara sepenuh hati sekalipun, tidak akan mengubah apa-apa. Begitulah yang kita rasakan dan terus urusi sepanjang hayat. Apakah melelahkan? Besar kemungkinan.

Biar bagaimanapun, perasaan, tetaplah perasaan.

Dan boleh jadi, demikianlah, hidup ternyata tak lebih dari pilinan kejadian yang dirajut dengan perasaan. Hidup pun menjadi kumpulan kenangan.

Segudang cenderamata.

Cuma itu.

[]

Half Time: Taylor Swift 1:0 Apple Music

Setelah Apple mengumumkan akan merilis Apple Music akhir bulan ini–dua hari yang lalu Taylor Swift membuat surat terbuka melalui situs tumblr-nya yang berjudul To Apple With Love. Intinya dia keberatan dengan kebijakan Apple Music yang akan memberikan free trial selama tiga bulan bagi mereka yang akan menggunakan layanan musik streaming mereka. Taylor Swift mengancam akan menarik album 1989 dan melarang Apple Music untuk menjajakan lagu dari album tersebut secara gratis. Menurut pembelaannya ini bukan untuk dirinya. Dia sudah tidak memerlukan uang dari streaming musik. Dia mewakili musisi-musisi yang baru masuk ke industri musik. Mereka tidak akan mendapat apa-apa selama tiga bulan pertama.

taylorswift3

Berita ini tentu saja membuat heboh dunia maya dan dunia nyata. Karena ini bukan pertama kalinya Taylor Swift mengancam. Dulu ketika album 1989 baru rilis–yang merupakan album kelima Taylor Swift–dia memutuskan untuk menarik semua lagunya dari Spotify. Sampai sekarang tidak ada lagu Taylor Swift dari album studionya. Karena dia menolak untuk menggratiskan lagunya. Tapi Daniel Ek tetap bergeming dan lebih memilih untuk tidak ada lagu dari Taylor Swift di Spotify, bahkan dia mengeluarkan surat balasan. Ini juga sebetulnya sebelumnya sudah dilakukan oleh Thom Yorke dan Nigel Godrich yang menolak untuk menggratiskan album teranyar dari Atoms For Peace melalui Spotify dan lebih memilih situs BitTorrent untuk menjual lagunya secara digital.

TaylorSwift

Namun surat terbuka itu ternyata sampai ke Senior Vice President for Internet Software and Services–Eddie Cue–melalui akun twitter-nya menyatakan bahwa dia mendengar keberatan dari Taylor Swift dan akan segera mengubah kebijakannya mengikuti keinginan dari Taylor Swift yang mana adalah tetap membayar royalti kepada musisi dan label walau Apple Music masih dalam masa free trial selama tiga bulan pertama. Ya memang Taylor Swift–suka tidak suka adalah termasuk 100 wanita yang paling berpengaruh versi Forbes sekarang ini. Tapi apakah Apple sebagai perusahaan terkaya nomer 12 di dunia ini harus mendengarkan keluhan dari seorang Taylor Swift dan menurut begitu saja? Mereka bisa saja tidak menggubris keberatan dari seorang Taylor Swift dan saya rasa tidak akan terjadi hal yang merugikan secara finansial bagi Apple. Spotify menolak dan mereka tetap bisa menambah pelanggannya secara signifikan. Apa yang Apple takutkan?

LONDON - JUNE 15:  Steve Jobs, Chief Executive Officer of Apple computers, launches iTunes Music Store in the territories of Great Britain, Germany and France, on June 15, 2004 in London. The iTunes store allows users to buy and download albums or individual songs from a library of 700,000 songs.  (Photo by Ian Waldie/Getty Images)

LONDON – JUNE 15, 2004: Steve Jobs, Chief Executive Officer of Apple computers, launches iTunes Music Store in the territories of Great Britain, Germany and France, on June 15, 2004 in London. The iTunes store allows users to buy and download albums or individual songs from a library of 700,000 songs. (Photo by Ian Waldie/Getty Images)

Ini apa artinya? Apple menyerah pada Taylor Swift? Ini adalah langkah mundur bagi Apple. Setidaknya buat saya. Taylor Swift lebih besar dari Apple. Ini hipotesa awal yang saya ambil. Apa yang terjadi kalo Steve Jobs masih hidup? Apakah dia akan melakukan hal yang sama? Saya rasa tidak. Ini preseden buruk buat Apple. Justin Vernon dari Bon Iver pun menyuarakan hal yang serupa melalui akun twitter-nya. Intinya Apple sekarang sudah tidak inovatif lagi. Tidak seperti dulu. Steve Jobs tidak pernah melihat layanan streaming musik sebagai ancaman. Dia juga tidak melihat adanya keuntungan yang signifikan dari layanan ini. Gak ada cuannya. Kalaupun dia setuju dengan kebijakan Apple Music tetapi dia pasti tidak akan menggubris apa yang dikatakan Taylor Swift. Google aja dilawan apalagi cuma Taylor Swift.

Sepenting itukah Taylor Swift buat Apple Music? Saya rasa tidak. Ide dari Taylor Swift mungkin masuk akal. Tapi Apple bisa bilang tidak. Tidak usah terlihat panik. Daripada parno itu para petinggi Apple saya kasih lagu deh buat menghibur diri, bisa buat Taylor Swift juga lagunya.

taylorswift7

Jadi skor sementara di paruh waktu adalah Taylor Swift 1:0 Apple Music. Bye.

Job Desc: Menawar Kehendak Tuhan

Lima hari menjelang acara. Hujan volume sedang mengguyur Jakarta. Sore. Waktu banyak orang pulang kerja. Macet di mana-mana. Genangan air dan sumbatan kendaraan melumpuhkan sebagian besar jalanan. Aku sudah duduk di rumah waktu email dari Project Director masuk. Surat penawaran harga dari pawang hujan. Besarnya Rp. 56 juta!

Hampir tiap acara kami menyewa pawang hujan. Karena seringnya hujan dianggap gangguan ketimbang berkah untuk acara-acara luar ruangan. Sewa pawang biasanya terselip dalam anggaran komite. Besarnya ndak terlalu signifikan. Antara Rp. 1 juta sampai Rp. 4 juta, tergantung lokasi dan luasnya. Maka, ia selalu ada. Entah pekerjaannya sukses atau ndak. Entah dibutuhkan atau ndak. Jadi semacamn pelengkap yang aneh rasanya kalau sekonyong-konyong dihapus. Sampai sore itu.

Aku balas email dengan satu pertanyaan sederhana: KOK MAHAL BANGET?!!! Dengan harga setinggi itu harus ada standar pekerjaan yang jelas. Lengkap dengan cara kerja, target dan laporan berkala.

image

Mendung. Sumber: Google

Sehari kemudian, Project Director menyampaikan balasan dari sang Pawang. Pada dasarnya pekerjaan ini belum punya dasar ilmiah yang cukup. Belum, karena bisa saja suatu hari nanti, seperti akupuntur dan poligami, praktik ini bersertifikat ilmiah.

Pawang hujan bukan menolak hujan, tapi memindahkan awan hujan ke tempat lain. Biasanya gunung, laut, perbukitan atau sungai. Karena acara kami berlangsung di pesisir pantai, maka bebannya lebih berat sekian kali lipat. Apalagi, kami minta sejak empat hari sebelum acara berlangsung. Serupa dengan rekayasa cuaca versi badan Meteorologi yang menaburkan kapur untuk menolaknya. Pawang Hujan juga memancarkan energi panas di kawasan yang diinginkan untuk mengusir awan jenuh. Caranya?

Metode 1: Pawang menyaratkan beberapa kaleng bir atau kopi untuk minum makhluk halus pengusir hujan. Andaikan memang semudah ini, aku juga akan sajikan, bahkan, Jack Daniels untuk makhluk halus yang bisa mengusir lemak!

Metode 2: Pawang merapal mantra dan meminta panitia ikut serta mengucapkan mantra tersebut. Sama dengan berdoa. Bedanya, kita ndak tahu doa ini ditujukan pada siapa.

Metode 3: Pawang minta disediakan beberapa rantang nasi dan sebuah payung hitam. Apa yang harus aku tulis dalam tata cara bekerja? Piknik?

Metode 4: Pawang membalikkan sapu lidi bekas dengan menancapkan bawang merah dan cabai merah. Ditambah daging kambing, kecap dan merica; mungkin lebih meriah.

Metode 5: Pawang melarang panitia untuk mandi sepanjang hari. Bukankah ini termasuk pelanggaran hak asasi manusia?

Metode 6: Pawang minta disediakan berpuluh-puluh batang rokok dari lintingan daun nipah. Entah cara ini betul-betul efektif atau ndak, tapi terdengar seperti disponsori Gudang Garam.

Metode 7: Pawang tidak diperkenankan menyentuh air dan harus puasa ngebleng. Tidak makan dan minum selama satu hari satu malam. Sejauh ini bukan ditujukan untuk panitia, aku bisa terima.

Metode 8: Pawang dan panitia berziarah ke makam leluhur. Lalu meminta mereka untuk menghalau hujan. Permasalahan dengan metode ini: leluhur kami yang berada dalam makan, rata-rata, sudah ndak bernyawa!

Metode 9: Pawang meminta panitia melempar celana dalam bekas ke atas genting. Aku ndak.mau komentar soal ini…

Tidak. Pawang Hujan yang akan kami sewa berlatarkan syariah. Ia kemudian mengutip satu Haditz:

اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا، وَلاَ عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ عَلَى الآكَامِ وَالجِبَالِ وَالآجَامِ وَالظِّرَابِ وَالأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan atas kami! Ya Allah, turunkanlah hujan pada dataran tinggi, pegunungan, perbukitan, lembah-lembah dan tempat-tempat tumbuhnya tanaman.”~HR. Bukhari no. 1013, 1014 dan Muslim no. 897

Dalil diatas, dipercaya dapat menolak hujan tanpa bikin tuhan marah. Sayangnya, ia tidak bisa diucapkan orang sembarangan. Hanya Storm (X-Men) dan Pawang Hujan kami yang punya kedudukan lebih dari siapapun, karena tuhan akan mendengar dan mengabulkannya. Ia bahkan memberi garansi kalau akhirnya tuhan berubah pikiran dan menurunkan hujan, Ia akan mengembalikan seluruh dana yang telah kami berikan. Dengan Job Desc: menawar kehendak tuhan lengkap dengan tujuan kerja dan jaminannya, kami sepakat di angka Rp. 19 juta.

Akhirnya, hari H tiba. Acara kami aman sejahtera tanpa gangguan hujan selama dua hari penuh. Pawang Hujan berhasil melobi tuhan untuk memindahkan awan ke tempat lain. Pawang Hujan dapat uang.

Bayangkan, berapa banyak yang bisa diselamatkan di musim banjir nanti…

Pargiyani

Pargi panggilannya. Sejak mens pertama kali, Pargi bertekad untuk menjaga keperawanannya sampai dia menemukan pria yang dinilai pantas menjadi suaminya. Menjadi Imam bagi rumah tangganya. Sholat lima waktu tak pernah dilewatkan. Bulan puasa selalu dijalani dengan hati riang. Baginya, bekerja adalah ibadah. Pekerjaannya sebagai baby sitter sampai pembantu rumah tangga dijalani dengan ketekunan yang di atas rata-rata. Membuatnya menjadi rebutan majikan.

Memasuki usia 30-an, Pargi mulai gelisah. Jodoh seolah semakin jauh dari harapan. Belum ada satu pun pria yang mencintainya. Kalau pun ada yang PDKT, ujung-ujungnya hanya mau duitnya. Maklum, karena masih single, Pargi terbilang lumayan tajir. Handphone terbaru bisa dimilikinya, mengirim uang ke Mbah di kampung tak pernah alpa, pulang kampung setiap Lebaran sudah menjadi tradisi.

Tradisi yang makin tahun makin bikin risih. Permintaan Mbah dan pertanyaan para tetangga tentang status lajangnya, dianggap mulai mengganggu. Setiap kembali ke Jakarta, mencari duit menjadi tujuan sekunder mengalahkan tujuan primer: CARI SUAMI. Tawaran majikannya untuk mengambil kursus bahasa Inggris atau menjahit atau memasak, ditampiknya mentah-mentah. Mencari jodoh lebih baik daripada mencari ilmu. Membina rumah tangga lebih mulia daripada membina masa depan.

Jatuh bangun asmara dilaluinya. Sampai di suatu siang, Pargi bertemu dengan seorang bapak teman lamanya. Bapak itu memiliki seorang anak pria yang masih lajang. Dengan niat untuk memperkenalkan, siapa tau jodoh, Pargi menyambut dengan penuh semangat. Bisa diduga, tak berapa lama setelah perjumpaan dengan anak pria itu, Pargi menikah.

Berjuta harapan dan impian pun mengisi setiap sudut ruangan Ijab Kabul. “Nanti setelah menikah, aku kan akan punya anak, dan bisa menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Biar suamiku yang bekerja. Aku di rumah mengurus anak, dan ibu mertuaku yang sudah mulai menua. Dia mulai sakit-sakitan” kata Pargi menjelaskan rencananya. “Saya ingin segera punya anak, karena kan saya sudah gak muda lagi. Suami saya lulusan Pesantren. Insya Allah bisa memberikan contoh yang baik bagi anak-anaknya…” tutup Pargi sebelum pamit pada majikannya untuk cuti menikah.

Anak pertama pun lahir. Dalam situasi yang kurang kondusif. Realita lebih sering menampar impian. Sejak tinggal bersama mertuanya, banyak hal baru yang ditemui Pargi. Ternyata suaminya karyawan kontrakan yang sebelum menikah habis masa kontraknya. Ternyata pria yang diharapkan menjadi Imam keluarga adalah anak manja yang tidak bisa berinisiatif, apalagi bekerja. Ternyata ibu mertuanya mata duitan, yang selalu memihak anak dan suaminya. Ternyata Pargi menjadi tulang punggung keluarga barunya itu. Ternyata suami lulusan Pesantren tak menjamin akal sehat untuk mencari penghasilan demi anak yang di kandungan istri. Ternyata rumah barunya tak sebersih kamar kos-kosan yang selama ini Pargi tempati. Ternyata tikus dari got belakang rumah sering masuk dan mencuri makanan. Ternyata tabungan Pargi perlahan lenyap oleh suami dan ibu mertuanya. Dan ratusan kenyataan lagi yang perlahan membuat Pargi sering sakit. Hati maupun fisik.

maid-story-4

Beragam cara Pargi lakukan agar suaminya bisa mulai bekerja. Mulai dari jualan Wingko Babat buatan sendiri, jualan kue jajanan, menjadi montir, jual barang online sampai yang terkini menjadi supir GoJek. Tak satu pun nyantol di suaminya. “Maksud saya, mbok ya suami saya tuh mikir… saya kerja keras banting tulang buat anak dan keluarga dia, sementara dia enak-enakan di rumah mainan henpon. Puter otak kek? Cari jalan kek?” Pargi mulai komplen pernikahannya yang baru masuk tahun kedua.

Bulan puasa sudah tiba. Menuju Lebaran. Pargi berpuasa sambil mengurus anaknya yang sudah mulai comel. “Ibu…” menjadi kata pertama yang bisa diucapkannya. Menangis setiap pagi melihat Pargi pergi bekerja. Gembira berloncatan kecil saat Pargi pulang ke rumah. Anaknya menjadi fokus hidupnya kini. Sambil sesekali terlintas keinginan untuk bercerai. Mengakhiri mimpi buruk ini dan memulai hidup baru di kampungnya bersama Mbah dan anaknya. Keinginan yang salah satunya terhadang pada kekhawatiran apa kata Mbah dan orang-orang di Kampungnya. “Kok sendirian? Mana ayahnya? Kasian kamu jadi janda… Salah pilih laki-laki sih…” terus berputar di kepala Pargi setiap hasrat bercerai menghampiri.

Bulan puasa sudah tiba. Menuju Lebaran. Pargi berpuasa sambil mengurus anaknya yang sudah mulai comel. Kalau tahun ini tak pulang kampung juga, genaplah dua Lebaran, dia tak berjumpa dengan Mbah dan orang-orang Kampungnya.

Gawai

Hape. Saya lebih suka menyebutnya dengan gawai.  Sekarang, semakin canggih dan mudah dibawa kemana-mana.

Pertanyaannya:

1. Sudah berapa banyak aplikasi ngobrol atau juga media sosial yang kita pasang?

2. Sudah berapa banyak aplikasi tersebut yang dihilangkan karena ribut dengan pasangan?

Saya ndak paham benar dengan gaya hidup dan pola pikir anak kelahiran akhir 80-an dan awal 90-an. Faktanya mereka sudah memasuki dunia kerja. Sebagian pegawai magang dan karyawan baru di tempat kerja saya rata-rata kelahiran 90-an.

Hal yang menarik dari mereka adalah mereka bisa mendapatkan pasangan dari aplikasi yang ada di gawai, lalu PDKT, lalu jadian, lalu marah-marahan, lalu putus. Semuanya terjadi di layar gawai tanpa pernah sempat bertemu.  Ini agak mendingan.

Sebagian lain ada yang setiap kali hendak pulang ke kosan menghapus semua riwayat obrolan. Biar aman katanya. Biar ndak ribut dengan pacar saat inspeksi mendadak.

Sebagian lain malah memiliki kata kunci untuk akses masuk beberapa aplikasi seperti twitter, facebook, instagram, icloud, bahkan path secara bersama-sama.

Ada yang mention gebetan ketahuan pacar. Ada yang lope-lope path mantan, ketahuan bini. Ada yang iMessage mesra-mesraan dengan tetangga, eh ketahuan anak.

Banyak yang menemukan pasangan lewat teknologi. Namun lebih banyak yang merasakan sakit hati karena teknologi. (ini lebih mirip curhat ndak sih?) 😀

28_2013-beritagar-istri-intip-ponsel-suami

 

Jika ternyata membuka gawai pasangan itu adalah perbuatan yang dapat dipidana, kenapa kita tetap terus melakukannya?

Jika tahu bakal ketahuan, kenapa kita tetap bermain perasaan saat menggenggam gawai?

 

Baiklah. Ini tidak hanya dialami generasi (kelahiran) 90-an. bagi generasi sebelumnya, yang agak tergagap dalam menyesuaikan diri dengan pesatnya teknologi mengalami hal serupa. Kehidupan sosial yang terkait erat dengan teknologi. Gawai menjadi pengganti merpati pos dan secarik surat.

Pertanyaan lain yang dapat diajukan lagi, misalnya:

Apakah gawai yang tak terkunci boleh kita akses?

Apakah gawai yang terkunci tapi kita tahu kata kuncinya boleh kita akses?

Apakah kita boleh memaksa pasangan kita membuka gawai kita?

Ndak percaya dengan pasangan? Kenapa harus dipertahankan?

Bukankah salah satu bualan terbesar di dunia ini adalah “pasangan yang saling mencintai tanpa ada rasa saling percaya?”

 

 

Salam anget,

Roy

Komunikasi

Terjadi beberapa waktu yang lalu, ketika sedang mengobrol dengan rekan saya yang seorang PhD ilmu sosiologi, kami sedang membicarakan kalau, apakah benar ada segolongan orang yang derajatnya lebih tinggi dari orang lain hanya karena lahir dengan nama keluarga tertentu? Rekan saya mengiyakan tanpa ragu. Tentunya salah satu alasannya karena dia pun menjadi salah satu anggota dari golongan yang sedang kami bicarakan. Tanpa berpikir panjang saya membuat celetukan bahwa, pikiran itu seperti feodalisme buat saya. Tanpa disangka rekan saya menukas, “lei, kamu pakai istilah yang benar dong, jangan mengikuti kebanyakan orang yang menggunakannya dengan salah.” Kesombongan saya tercuil rasanya, tetapi saya berpura-pura tertawa sambil menampik dengan meminta maaf kalau saya salah semantik.

Setelah berpisah dari rekan saya itu saya langsung mencari tahu apa sebenarnya arti kata feodalisme dan ternyata di wikipedia bahkan turut dijelaskan penggunaan yang salah, yaitu seperti yang saya lakukan di depan teman saya. Malunya.

Berlalu lah hari hari di mana saya dengan bebas menggunakan kata yang saya hanya tahu lewat percakapan tanpa memeriksa dulu dengan detail apa artinya dan bagaimana menggunakannya di dalam percakapan.

Apakah saya mau meneruskan berbicara tentang semantik? Tidak juga. Hanya ingin membagi kejadian memalukan saja. Satu lagi yang ingin saya bagi. Suatu hari saya mendapat email resmi dari sekretaris salah satu petinggi perusahaan. Surel ini dibuka dengan “D.H.” yang membuat saya sejenak tertegun dan berpikir. Dan ternyata “D.H.” itu kepanjangan dari “Dengan Hormat”. Astaga sekali bukan?

Saya tidak terlalu cerewet soal menyingkat kata di percakapan teks lewat ponsel, karena saya sendiri seringkali bergulat dengan keypad yang terlalu kecil untuk jempol yang terlalu besar. Tetapi pada korespondensi resmi yang saya tahu diketik dengan keyboard ukuran besar dan komputer, dan yang dipilih pun kata pembuka yang tidak segitu panjangnya juga.

Satu cerita lagi. Waktu itu saya menanyakan sesuatu ke seorang eksekutif humas sebuah merk kecantikan. Kemudian dia membalas pesan pendek saya dengan kata ganti orang “kamu”. Patut dicatat kalau beliau sangat paham identitas saya ya. Dan saya tidak gila hormat. Gila yang lain, ya, tapi bukan yang itu.

Jadi apa inti tulisan saya kali ini? Nantikan di post minggu depan ya!

Hari Pertama

(1 Ramadhan, 04:05 pagi)

I am so not looking forward to this”, gumamnya sambil beranjak dari tempat tidur dengan berat hati.

Hari puasa pertama. Hari yang berat buat yang berpuasa. Jam tidur terganggu. Tubuh kita kaget dengan perubahan jadwal makan.

But every Ramadhan feels anew.

Hari ini hari pertama Andi puasa sendiri lagi. Well, technically, tidak sendiri. Ada Kevin Spacey, Robin Wright, dan sejumlah bintang serial televisi lain yang menemaninya saat sahur. Tapi di kehidupan nyata, Ramadhan ini adalah Ramadhan yang menurut Andi akan terasa sepi.

Sekitar empat tahun yang lalu, dia pernah bertanya-tanya, siapakah yang akan menemaninya berpuasa di rumah kecil yang baru dia lunasi.

Sekitar tiga tahun yang lalu, dia pernah bertanya-tanya, apakah perlu membuat meja makan yang cukup untuk dua orang, padahal dia tinggal sendiri.

Sekitar dua tahun yang lalu, dia pernah bertanya-tanya, apakah pantas membangunkan seseorang di waktu sahur, meskipun orang itu sebenarnya memang selalu mengharapkan sapaan Andi di awal hari.

Sekitar setahun yang lalu, dia sempat bertanya-tanya, bagaimanakah rasa makanan yang buru-buru dia siapkan untuk sahur berdua, meskipun senyuman manis dari seseorang di meja makan sudah menghapus kekhawatirannya.

Sekitar sebelas jam yang lalu, dia masih bertanya-tanya, kapankah pekerjaan membungkus kardus dan boks yang berisi sejumlah pakaian ini selesai. Ini baru pakaian. Belum lagi barang-barang pemberian lain yang Andi ingin segera kembalikan ke pemberinya.

Andi menghela nafas panjang. Diaduknya bubur ayam instan yang masih panas. Layar televisi mulai memainkan lagu tema House of Cards. Andi tak bergeming. Matanya masih menatap ke arah pojokan kamar. Setumpuk kotak-kotak coklat bertuliskan nama dan alamat pengiriman telah Andi susun dengan rapi.

It’s gonna be fuckingAstaghfirullah. Udah puasa, ya. Shit. Astaghfirullah lagi. Goodness! It’s gonna be freaking hard!”, gumam Andi.

Mangkuk bubur sudah cukup hangat untuk bisa dimakan. Tapi Andi masih terus mengaduk. Nafsu makannya lenyap begitu saja. Dia letakkan mangkuk di meja makan, dan mengambil cangkir kosong di lemari.

Damn it. Aduh, ya Allah, sorry, I mean, sialan! Ini kenapa belum masuk kardus sih?”

Dada Andi tiba-tiba terasa sesak. Cangkir itu masih dipegang dengan erat. Teringat lagi saat mereka membeli perabotan bersama, sampai ke ujung timur Singapura. Semakin erat pula genggaman tangan Andi di cangkir itu.

Lalu terdengar suara SMS masuk di ponsel. Terkesiap, Andi meletakkan cangkir itu di meja.

Nama ayah Andi terpampang di layar. Andi melihat sepintas isi SMS yang terpotong. Slide to view.

Andi menggigit bibir membaca pesan panjang itu.
Dia tersenyum menahan haru.

Dia balas, “insya Allah, Pa.”

IMG_8456

(1 Ramadhan, 03:15 pagi)

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

Ali menolehkan kepalanya ke kanan, mengakhiri sholat tahajud. Dia duduk, terpekur sesaat, sebelum melihat jam dinding. Pukul 03:15 pagi. Oh, masih jam tiga, pikirnya. Dia lanjutkan berdoa.

Tiba-tiba dia tersadar.

Masya Allah, jam 3 pagi!”

Buru-buru dia berdiri dan merapikan sajadah. Setengah berlari dia pergi ke dapur. Sampai di sana, satu panci dan satu wajan sama-sama mengeluarkan asap. Ali heran, siapa yang masak?

Nuwun sewu, pak. Sahurnya sebentar lagi siap.”

Mbok Parmi, masih mengenakan mukena, mematikan kompor. Ali hanya mengangguk dan mengucapkan “terima kasih” dengan lirih.

Di meja makan, supirnya, Darmo, sudah menyiapkan piring dan gelas. Masing-masing hanya ada satu piring, satu sendok, satu garpu dan satu gelas. Kursi makan yang lain pun sudah disingkirkan Darmo, hanya menyisakan satu kursi untuk majikannya.

“Monggo, pak. Saya makan di dapur nanti sama Parmi.”

Ali menarik kursi. Ada yang terasa janggal buat Ali. Padahal sudah lebih dari enam puluh Ramadhan dia lalui.
Dia nyalakan televisi, tapi dia matikan lagi.
Dia bangkit menuju musholla mengambil Al Qur’an.
Namun langkahnya terhenti di ruang tamu.

Di situ terpampang foto keluarga Ali. Foto yang diambil waktu Lebaran lima tahun lalu. Saat itu anak perempuannya sedang hamil besar, anak laki-laki tertuanya akan pindah ke luar negeri, dan anak laki-laki paling kecil hampir selesai mencicil rumah.

Di foto itu ada seorang perempuan lain yang menggamit lengan Ali. Perempuan itu tersenyum lebar. Senyum yang tak pernah berubah dari saat mereka bersanding di pelaminan.

Senyuman yang sekarang hanya bisa Ali lihat dari foto itu, dan foto-foto lainnya. Senyuman yang membuat benda mati seperti foto lama masih terasa hidup.

Paling tidak itu yang Ali katakan untuk menghibur dirinya.

“Mah …”, tutur Ali, nyaris tak terdengar.

Panggilan sayang Ali untuk perempuan itu selama lebih dari tiga puluh enam tahun.
Panggilan sayang Ali untuk perempuan yang tak pernah alpa menyiapkan sahur untuk Ali, meskipun tak pernah ada kewajiban baginya untuk mengikuti dan menjalani apa yang Ali tekuni.
Panggilan sayang Ali untuk perempuan yang dia ucapkan saat Ali menciumnya delapan bulan yang lalu, yang merupakan ciuman terakhir di antara mereka.

Ali menghela nafas panjang. Dia merebahkan badan di kursi ruang tamu. Dia tengadahkan kepalanya, menerawang ke langit-langit rumah. Dia ingat-ingat lagi, semua makanan yang pernah Ali santap selama sahur hampir empat dekade ini. Semua yang istrinya siapkan semalam sebelumnya. Semua yang selalu tersaji hangat. Kini hanya mata Ali yang terasa hangat, karena ada yang jatuh menetes di pipi.

“Pak, sahurnya sudah siap.”

Ali menyeka matanya. Dia berdiri menuju meja makan. Saat dia duduk dan mulai membuka piring, ponselnya mengeluarkan bunyi pertanda pesan masuk. Rupanya anak-anak Ali sudah meninggalkan pesan selama dia sholat tadi.

Dibacanya satu per satu. Ada yang aneh. Tidak ada pesan masuk dari anaknya yang paling kecil, Andi.

Tapi Ali paham. Di antara ketiga anaknya, Andi yang paling jarang berkomunikasi. Seminggu sekali sudah cukup. Itu pun kalau mereka sama-sama ingat. Seakan ada bagian dari hidup Andi yang tidak ingin dia sampaikan ke ayahnya, meskipun Ali mengetahui segalanya.

Ali membalas pesan-pesan dari kedua anaknya, yang dia yakin masih belum bangun, karena perbedaan waktu.
Tapi Andi?

Ali terdiam sejenak.
Lalu dia tulis:

Assalamualaikum, Ndi. Jangan lupa sahur. Papa juga mulai puasa hari ini.”

Ali terdiam lagi. Jarinya sudah siap memencet send. Namun dia lanjutkan menulis pesan:

“Ini puasa pertama Papa tanpa Mama kamu. Tapi insya Allah Papa siap. Puasa itu yang tahu cuma kamu sama Allah. Papa ndak tau kamu sebenarnya puasa apa ndak, kamu juga ndak tau puasa Papa gimana. Meskipun selama ini kita puasa didampingi orang yang kita cintai atau sayangi, tapi kalau kita memang niat puasa karena ibadah, meskipun orang yang kita cintai sudah pergi, pasti ibadah akan tetap dilancarkan. Jangan lupa minum madu supaya sehat ya, Ndi. Wassalamualaikum.”

Send.

Beberapa detik kemudian, Ali melihat tulisan Read di layar ponsel.

Ali tersenyum.

Alhamdulillah.”