Setengah-Setengah

Saat berlari, pasti banyak yang membagi jarak menjadi setengahnya. Tujuannya agar jarak panjang yang harus dilalui jadi tidak terlalu terasa berat dan panjang. Misalnya, jarak lari 10 KM, saat sampai di titik 5KM setidaknya dalam hati pelari akan berkata “sudah setengahnya”atau “tinggal setengahnya”.

Atau misalnya saat jam kantor memperlihatkan pukul 13:00 sesudah makan siang, akan banyak yang berkata dalam hati “sudah setengah hari ini”. Atau saat harus menghabiskan satu strip antibiotik. Atau waktu di perjalanan menuju suatu tempat yang jauh “sudah setengah jalan”. Dan semua aktivitas yang panjang lainnya.

topbanner-1

Tak terasa, 2015 sudah setengahnya. Banyak yang sudah merasa melakukan banyak pencapaian tapi banyak juga yang merasa belum ngapa-ngapain. Terutama jika banyak target 2015 yang belum tercapai. Cita-cita yang setengahnya pun belum tercapai. Tentunya, bisa membuat resah dan galau. Seolah berkejaran dengan waktu, dalam hal ini tahun. Apalagi bos perusahaan, pasti banyak yang merevisi target mereka menyesuaikan dengan keadaan selama setengah tahun berlalu.

Ini tentu tidak berlaku bagi aktivitas yang kita tak ketahui kapan ujung akhirnya. Belum pernah ada yang berani bilang kalau hidupnya sudah setengahnya. Siapa yang tau umur seseorang. Atau pernikahan. Kecuali memang sudah niat bercerai pada tanggal tertentu, tak ada yang bisa bilang kalau pernikahannya sudah setengah berjalan. Semua harus terus dijalani, dengan sepenuhnya. Bukan setengah-setengah.

Saat bumi diciptakan, hanya ada matahari yang terbit dan terbenam. Manusialah yang kemudian menamakannya “hari”. Sepanjang hari itu pun, demi rasa aman dan kekompakan, manusia pun membaginya lagi menjadi “jam”. Jam kemudian menjadi detik. Tanpa disadari, manusia terperangkap pada ciptaannya sendiri.

Bayangkan jika kita berada di suatu tempat tanpa jam, kalender dan penunjuk waktu lainnya. Semua tiba-tiba terasa berjalan begitu lamban. Seketika kita merasa limbung. Pegangan waktu mendadak hilang. Kita bahkan tidak bisa menentukan apakah ini sarapan atau makan siang. Karena matahari belakangan sering sama teriknya antara pagi dan siang. Kita mendadak kehilangan kebiasaan yang didasarkan oleh waktu.

Kecuali tempat berlibur dan berbulan madu yang memiliki tagline “where time stood still”. Kenikmatan akan semakin nikmat jika tidak diatur oleh waktu. Artinya, aktivitas yang menyenangkan akan semakin menyenangkan jika tidak diatur oleh waktu. Sementara aktivitas yang tidak menyenangkan akan lebih terasa ringan jika diatur oleh waktu.

Artinya, kalau orang suka memakai jam tangan, penunjuk waktu, bisa dipastikan dia tidak menikmati kehidupannya. Untuk apa tahu waktu kalau memang menikmati? Ingin diatur oleh waktu. Sementara yang tidak suka memakai jam tangan, identik dengan orang-orang yang ingin menikmati hidupnya. Tidak ingin diatur oleh waktu.

Walau 2015 sudah setengahnya, sepertinya akan lebih menarik dan instropektif jika kita menilai sendiri apakah semua yang kita kerjakan setengah hati? Apakah hasilnya setengah puas? Karena matahari sejak terbit sampai terbenam tak pernah setengah-setengah. Dan kita tidak pernah tahu apakah ini bukan setengah tahun atau setengah hidup. Sudahkah kita utuh di setiap saat?

Saat Anda membaca ini, penulis kemungkinan besar sedang setengah perjalanan larinya di sebuah race. Pasti ada yang setengah melahirkan bayinya. Ada yang sedang setengah bercinta. Ada yang setengah lagi menyelesaikan pekerjaannya.

Apapun aktivitasnya, semoga tidak setengah hati.

 

Advertisements

Triple H

Kita mengenal Triple H, sebagai bintang acara gulat di Amerika. Nama julukan ini berasal dari nama nama si pemeran Hunter Hearst Helmsley.

Kemarin dan saat ini saya masih berada di Kuta, Bali dalam rangka kerjaan. Dalam suatu sesi pertemuan dengan salah satu rekan kerja, dia bicara soal Triple H, akan tetapi  HHH yang dia maksud adalah Head, Heart, dan Hand.

AIGA-head-heart-hand

Sudah banyak teori yang bicara ini, namun sepertinya memang masih perlu terus menjadi perhatian karena begitu kontekstual dengan kehidupan kita sehari-hari.

Membaca tulisan Lei kemarin, ada satu kalimat yang bagus:

“… saya dengan kerepotan berusaha membuka pintu bilik dengan kedua tangan menjinjing belanjaan, Ibu yang penuh perhatian itu menonton saja kejadian tersebut.”

Dalam cerita Lei, seorang Ibu penuh perhatian banyak bertanya soal kondisinya, termasuk dengan beberapa komentarnya. Namun pada saat seharusnya dia menunjukkan perhatian dengan tangannya, misalnya membuka pintu,  si Ibu justru tak tergerak sama sekali. Sepertinya ada hubungan yang terputus antara isi kepala, isi hati dan gerakan tangan.

Kita memang peduli. Kita memang baik hati. Namun belum pada tataran praktek.

Sejak kecil, isi kepala anak-anak begitu dibangga-banggakan orang tua. Tapi kita terkadang lupa, isi kepala seharusnya diiringi dengan pencaran hati. Lalu diikuti dengan uluran tangan.

Tidak sulit namun sulit. Sederhana namun tidak sederhana. Begitu mudah namun ternyata tidak mudah.

Dalam lanjutan ceritanya, Lei juga menulis:

Seorang perempuan hamil besar (saya, dan yang besar bukan hanya perutnya) lagi-lagi menenteng beberapa plastik besar yang cukup berat. Lift berhenti, dan seorang perempuan setengah baya masuk. Menatap perempuan hamil, sang perempuan setengah baya berucap, “hamil gede gitu harusnya jangan nenteng-nenteng barang berat.” Perempuan hamil hanya tersenyum tak tahu harus bicara apa.

Kita terbiasa menasehati. Tanpa pernah mau melayani. Bisa jadi kecenderungan ini juga ada dalam diri saya sendiri.

Sewaktu saya kecil, saya teringat suatu kejadian. Kira-kira usia saya saat itu delapan atau sembilan tahun. Seorang rekan kerja Bapak datang ke rumah dan melihat tanaman di halam rumah yang cukup rimbun. Karena tertarik, Bapak itu meminta beberapa tanaman.  Ayah saya memang memiliki kesukaan berkebun. Beberapa tanamannya dia rawat dan melebihi perhatiannya pada Ibu.  Ada tanaman teh-tehan, soka, dan beberapa tanaman bonsai adalah caranya dia berpoligami. Istri-istri yang setiap sore diajak bicara dan disirami.

Ketika teman Ayah meminta tanamannya, Ayah  begitu semangat.  Dicabutnya tanaman soka miliknya, dibersihkan akarnya, dan dipotong beberapa daun-daunnya. Ayah  tidak memberikan kepada rekannya.

Mari saya antar“.

Saya ikut  Ayah  ke rumah temannya. Lalu, ayah, dengan peralatan yang dibawanya mengaduk tanah di halaman depan rumah rekan Ayah, menggemburkannya dan meletakkan soka yang dibawa. Menuntaskannya dengan riang gembira.

Setelah seminggu, Bapak bisa ganti ke media pot. Tapi sementara ini disini dulu saja…. Setiap sore jangan lupa disirami.“, Ayah berkata sembari memotong beberapa daun soka.

Saat perjalanan pulang, dia berkata: “Mas, bahkan berbuat baik itu juga harus hingga tuntas. Jika kita hanya memberikannya tanpa membantu menanamnya sendiri dan memberi tahu bagaimana merawatnya, kita tak membantunya seratus persen. Berbuat baik itu jangan nanggung. Dan jika ada kesempatan berbuat baik, maka jangan sia-siakan kesempatan itu.”

Kalimat itu sampai saat ini masih terngiang-ngiang. Menolong hingga tuntas. Berbuat baik jangan nanggung. Jika ada kesempatan berbuat baik, SIKAT!

Saya masih ingat, bagaimana di atas vespa, Ayah bersama saya pernah bertemu seorang pejalan kaki yang sibuk mencari alamat. Bukannya menunjukkan jalan, Ayah malah berkata: “Ayo naik, saya antar ke rumah saudara Adik“.  Padahal saya tahu sendiri sebetulnya, saat itu ayah dan saya berencana hendak pergi ke toko pancing langganan, tempat di mana ayah saya bisa mencari “istri muda” yang lain sebelum membawanya ke laut mengail ikan kakap.

Hal kecil semacam  itu sejatinya begitu banyak ditemui di sekitar kita. Perihal basa-basi dan tegur sapa sepertinya kita sudah jago semua. Namun, menawari teman kerja yang pulangnya searah,  membagi sebagian sarapan yang kita bawa dari rumah, menawari mobil yang akan berbelok untuk terlebih dahulu jalan daripada mobil kita, menawari teman yang lupa membawa dompet namun sudah terlanjur memesan banyak menu atau menawari banyak kesempatan kecil yang sebetulnya selalu tersedia kapan saja, setiap hari.

Jika kita sudah begitu canggih dalam praktek menawar di pasar senggol, mengapa kita tak mencoba menambah akhiran -i dalam setiap kesempatan?

Karena isi kepala yang baik dan hati yang tergerak, ternyata belum selesai. Masih ada giliran uluran tangan untuk menuntaskannya.

Salam hangat dari Kuta,

Roy

(yang lagi sebal cuaca Kuta kok hujan melulu).

 

Oiya, satu tembang menjelang Bulan Juni untuk kamu. Selamat menikmati. 🙂

Saya Tahu Niatmu Baik…

Beberapa hari yang lalu terbaca di post salah satu sahabat saya di media sosial mengenai pertemuannya secara tidak sengaja dengan teman lama yang jarang sekali bertemu, di bandara. Melihat sahabat saya baru sampai ke kotanya dari perjalanan yang sifatnya pekerjaan, temannya ini terucap, “Aduh ibu ini kerja terus deh, nggak kasihan anaknya ditinggal-tinggal terus? Suaminya siapa yang urus dong? Ngga komplain mereka?” Sahabat saya yang sudah lelah menerima saran yang tidak diundang hanya mendengus, “Kayaknya yang komplen cuma elu deh, nek” (catatan penulis: “nek” di sini bisa jadi hanya improvisasi penulis belaka).

Di negara yang warganya terkenal ramah ini memang jika diperhatikan, kita kaya sekali akan nasihat dan petuah, tetapi cukup miskin uluran tangan yang konkret dan tulus. Everybody seems to have an opinion about you, but no one actually wants to do anything about it. Pikiran lalu melayang ke hampir sembilan tahun yang lalu. Sebagai ibu yang baru melahirkan dan sudah dirumahkan selama lebih dari sebulan, begitu situasi dan kondisi memungkinkan, saya memberanikan diri berbelanja ke supermarket berdua saja dengan bayi berusia 7 bulan. Berbekal car seat dan baby carrier (dengan yakin saya memikirkan kalau sepertinya stroller akan terlalu merepotkan untuk dibawa kalau jalan hanya berdua) alias gendongan, kami berangkat. Setelah belanja, saya baru teringat kalau harus mengambil uang tunai di ATM, jadi dengan membawa dua jinjingan ditambah satu bayi digendong di depan saya pun mengantri. Seorang perempuan separuh baya yang juga mengantri di belakang mencolek dan bertanya,”bayinya masih kecil sekali ya, itu berapa bulan?”

“Hampir dua bulan,”

“Kok sudah dibawa jalan-jalan?”

Saya hanya menyeringai.

“Ini berangin loh, kok nggak dipakaikan topi? Nanti masuk angin.”

(Nyengir)

Si Ibu tampaknya masih ingin komentar tapi sudah giliran saya masuk bilik ATM. Begitu selesai, saya dengan kerepotan berusaha membuka pintu bilik dengan kedua tangan menjinjing belanjaan, Ibu yang penuh perhatian itu menonton saja kejadian tersebut.

Beberapa bulan sebelum itu, dalam sebuah lift. Seorang perempuan hamil besar (saya, dan yang besar bukan hanya perutnya) lagi-lagi menenteng beberapa plastik besar yang cukup berat. Lift berhenti, dan seorang perempuan setengah baya masuk. Menatap perempuan hamil, sang perempuan setengah baya berucap, “hamil gede gitu harusnya jangan nenteng-nenteng barang berat.” Perempuan hamil hanya tersenyum tak tahu harus bicara apa.

Beberapa hari yang lalu, di sebuah keriaan dalam mal pusat kota. Seorang perempuan (saya) bertemu dengan seorang pria cukup muda yang dikenalnya, tetapi sudah lama tidak berjumpa. Sambil air kissing sang pria berucap, “Kok kamu segeran sih sekarang, hepi nih di tempat baru?”

“…”

MjAxMy01NzI4YzM1ZDQxODAwZjYx

Semua yang telah dialami seolah meneguhkan hati, untuk:

  1. Tidak berkomentar yang sudah jelas, apalagi kalau tidak ada niat untuk menolong.
  2. Tidak memberikan nasihat jika tidak diminta.
  3. TIdak perlu mengisi keheningan, karena seringnya suara yang dikeluarkan justru lebih mengganggu dari keheningan yang terjadi.
  4. Jangan pernah berbasa-basi (terutama kepada perempuan) kalau dia terlihat tambah besar dengan segala eufimismenya. Kita tidak pernah tahu situasinya.

Hai

(28 Mei 2015)

Sudah lima menit saya berdiri di kedai kopi ini. Antrian panjang sepertinya tidak akan berkurang dalam waktu dekat.
Untungnya, ada Kindle hadiah ulang tahun kemarin dalam genggaman. Saya meneruskan lagi membaca buku To Kill a Mockingbird, sebelum sekuelnya diriilis bulan Juli nanti.
Tapi entah kenapa, mungkin karena belum tersentuh kopi, saya tidak bisa berkonsentrasi membaca argumentasi Atticus Finch di buku ini. Saya menghela nafas. Antrian masih belum bergerak banyak.
Saya mendongakkan kepala.
Tiba-tiba, saya lihat punggung itu. Punggung yang berjarak lima orang di depan posisi saya mengantri.
Satu, dua, tiga, empat, lima.
Punggung itu terbalut dalam atasan biru tua sementara bawahannya warna abu-abu. Paduan yang belum pernah saya lihat sebelumnya.
Saya ragu, apa benar ini … dia?
Semakin ragu-ragu, ketika saya berusaha keras mengingat raut mukanya dulu. Dan ini aneh. Saya tidak bisa mengingat sama sekali. Kok bisa sih?
Saya coba ingat-ingat lagi acara ulang tahun saya beberapa tahun yang lampau. Waktu itu, pernah trip ke Taipei. Tapi itu sendiri. Sebelumnya pernah dibuatkan surprise party di Surabaya. Nah, yang bikin surprise party itu siapa? Mustinya dia sih. Tapi kenapa kok gak inget sama sekali ya?
Saya menundukkan kepala sebentar, agar kepala ini bisa mengarahkan pikiran untuk mendengarkan suaranya.
Latte, to go, extra shot, non-fat milk.
Saya mengangkat kepala sambil tersenyum.
Tidak salah lagi.
Terkesiap, saya kaget karena sadar saya bisa tersenyum saat ini.
Lebih kaget lagi, karena sekarang dia melihat saya tersenyum sambil berdiri memegang kopinya.
Lalu dia berkata, sambil tersenyum balik, “Hai.”
Saya jawab dengan senyuman lebar, sambil tersenyum, “Hai.”

(Photo by Nauval Yazid.)

(Photo by Nauval Yazid.)

(28 Mei 2012)

Sudah lima menit saya berdiri di kedai kopi ini. Antrian panjang sepertinya tidak akan berkurang dalam waktu dekat.
Untungnya, Blackberry saya sudah dalam keadaan fully charged. Saya membuka beberapa pesan yang tidak sempat terbaca waktu naik ojek tadi. Saya benci kalau sampai harus mati gaya ketika terjebak dalam antrian panjang dan, terus terang, tidak penting seperti ini.
Tapi entah kenapa, mungkin karena belum tersentuh kopi, saya tidak bisa berkonsentrasi membaca messages teman-teman, apalagi yang ramai berceloteh di groups. Astaga, orang-orang ini. Do they have a life?
Saya menghela nafas.
Antrian masih belum bergerak banyak.
Saya mendongakkan kepala.
Tiba-tiba, saya lihat punggung itu. Punggung yang berjarak lima orang di depan posisi saya mengantri.
Satu, dua, tiga, …
Ah, kenapa harus bertemu dia sekarang sih? Mana lagi acak-acakan begini pakaian saya.
Dan mengapa dia harus memakai atasan putih seperti itu sih?!
Wait a minute.
That looks familiar.
My goodness.

Itu kan baju pemberian saya dulu!
Kenapa dia tidak mengembalikan atasan putih itu? I mean, since I’ve returned every-single-thing that had been given to me … Good God. Some people have no bloody manner, indeed!
Tidak salah lagi. Ini pasti dia.
Saya menundukkan kepala sebentar, agar kepala ini bisa mengarahkan pikiran untuk mendengarkan suaranya. Lagi pula, terlalu pusing kepala ini memikirkan banyak hal.
Americano, mas. Take away.
Saya terperangah. Pandangan saya menerawang.
Ya Tuhan. Of all the times in the world, why now? Why bloody now?
Dan sekarang, dalam ketidaksiapan, tak sengaja mata kami bertemu.
Saya tidak tahu, harus tersenyum, atau harus berkata apa.
Buru-buru saya memalingkan muka.
Dia masih terpaku sesaat.
Tapi tak lama kemudian, dia pun memalingkan muka, meski terlihat aneh saat dia melakukannya.
Toh saya merasa lega, bahwa dia tidak mendengar saya berucap dalam bisikan lirih, “Hai.”

(Photo by Nauval Yazid.)

(Photo by Nauval Yazid.)

(28 Mei 2010)

Sudah lima menit saya berdiri di kopi ini. Antrian panjang sepertinya tidak akan berkurang dalam waktu dekat.
Untungnya sudah ada koran The Jakarta Post hari ini di sebelah tempat antrian. Tumben. Biasanya koran ini baru akan ada siang nanti.
Tapi entah kenapa, mungkin karena belum tersentuh kopi, saya tidak bisa berkonsentrasi membaca berita yang tersaji. Bahkan membaca tulisan sendiri di halaman 28 pun, yang keluar di depan mata hanya rangkaian benda-benda tak berbentuk.
Atau mungkin bukan sentuhan kopi yang saya cari? Mungkin bukan.
Dan membayangkan teori itu sendiri pun sudah membuat saya senyum sendiri. Tapi buru-buru saya mengeluarkan suara batuk kecil, supaya tidak dicurigai sebagai orang gila oleh orang-orang di dekat saya sekarang.
Lalu saya mengangkat kepala, melihat sekeliling kedai ini.
Tiba-tiba, saya lihat punggung itu. Punggung yang belum pernah saya lihat sebelumnya, tapi intuisi mengatakan bahwa punggung ini adalah milik seseorang yang selama ini hanya saya lihat di foto yang dikirim lewat email.
Dia berjarak lima orang di depan posisi saya mengantri.
Satu, dua, tiga, empat, lima.
Apa benar ini dia?
Kaos kuning, celana jins biru tua. Persis seperti foto profile akun Twitternya. Dan bukankah ini juga persis seperti foto yang dia kirim semalam?
Hang on.
Saya keluarkan ponsel Nokia, lalu buru-buru saya ketik:
“Hey, sudah sampai? Kalo sudah, boleh minta tolong pesenin dulu, if you don’t mind? Cappuccino satu, minta susunya yang non-fat ya. Hehe. Thanks!”
Sent.
Kurang dari semenit kemudian, dia mengeluarkan ponsel dari kantong celananya. Pemakai Nokia juga ternyata. Entah apa yang dia baca, tapi dia tersenyum.
Lantas dia memasukkan lagi ponsel itu.
Saya diam melihatnya.
Lalu saya teruskan membaca koran yang masih saya pegang. Saya menghela nafas.
Samar-samar terdengar suara, “Mas, cappuccino dua, satu pake susu non-fat, satunya lagi yang biasa. For here.”
Saya tidak bisa lagi menahan senyuman saya.
Buru-buru saya keluar dari antrian. Sekarang saya berdiri di belakangnya. Saya tepuk punggungnya di sebelah kanan pelan-pelan. Dia menoleh.
Dia tersenyum.
Saya tersenyum.
Seperti berebutan, kami saling menyapa, “Hai.”

(Photo by Nauval Yazid.)

(Photo by Nauval Yazid.)

Terserah Saja

KAMU orang Buddha, kan?

Tebal muka dan telinga. Sepertinya kemampuan itu benar-benar diperlukan kaum Buddhis di Indonesia (atau dunia) saat ini. Ketika semua orang, more likely the narrow-minded ones, selalu bertanya tentang Ashin Wirathu dan status kebhikkhuannya secara berulang-ulang. Pertanyaan itu–beserta banyak turunannya–disampaikan dengan penuh semangat, seakan Ashin Wirathu adalah seorang bhikkhu yang bisa langsung ditemui di vihara terdekat.

Bicara punya bicara, sebelum terus membaca, perlu saya sampaikan bahwa piket Linimasa hari ini bukan merupakan sebuah apologia saya, yang kebetulan seorang Buddhis, dan kalau tidak salah juga kebetulan menjalankan mazhab Buddhisme yang sama dengan Ashin Wirathu.

Dari Google.

Dimunculkan pertama kali di sampul muka majalah Time edisi Juli 2013, wajah Ashin Wirathu dipasangkan dengan tajuk “The Face of Buddhist Terror”. Ia dituding sebagai promotor gagasan tertentu, yang kemudian berujung menjadi kebencian dan konflik Rohingya. Banyak orang di Indonesia yang lebih demen menyebutnya sebagai konflik antara kaum Buddha Myanmar dan warga Muslim Rohingya.

Dalam beberapa pekan terakhir, atau hampir dua tahun setelah pemberitaan Time, mendadak sampul depan majalah itu kembali seliweran di ranah maya. Utamanya di Facebook serta portal berita, dan dilekatkan pada sejumlah artikel tentang kekacauan di Myanmar, yang mengutip ulang pernyataan Ashin Wirathu dari pemberitaan resmi sebelumnya. Pada konteks ini, yang dimaksud pemberitaan resmi adalah ketika seorang jurnalis bertanya maupun melakukan konfirmasi langsung kepada Ashin Wirathu, bukan dengan metode lain.

Selebihnya, artikel-artikel tersebut juga tertaut dengan pemberitaan soal gelombang pengungsi (atau human trafficking?) asal Rohingya dan Bangladesh yang terombang-ambing di laut, dan ditolak sejumlah negara di Asia Tenggara, hingga akhirnya diterima dan ditampung warga Aceh. Tindakan baik dan mulia, yang seyogianya nanti tetap ditindaklanjuti secara bijaksana.

Dengan demikian, klop sudah penempatan plotnya.

  1. Banyak orang Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar, karena menghindari situasi buruk.
  2. Situasi buruk tersebut disebabkan oleh propaganda seorang bhikkhu bernama Ashin Wirathu.
  3. Orang Rohingya adalah muslim, sedangkan bhikkhu Ashin Wirathu adalah Buddhis.

Kesimpulan dapat ditarik dengan mudah, cukup lewat tiga poin di atas. Tak perlu berpayah-payah mengklarifikasinya lagi. Lalu, kesimpulan itu berkembang sedemikian rupa hingga menghasilkan ungkapan “kekejaman umat Buddha”, “orang Buddha teroris sebenarnya”, “teroris berkepala botak”, “pembantai berjubah cokelat”, dan seterusnya. Sampai-sampai melegitimasi sekelompok orang melakukan sejumlah tindakan di dalam negeri.

Okay, I won’t talk about this part any further.

Di kantor, para kolega mulai menyelipkan kata “Buddha” dalam pertanyaan-pertanyaannya kepada saya sejak beberapa pekan terakhir. Pertanyaan-pertanyaan itu saya jawab dengan sebagaimana mestinya, lantaran sudah kenal dengan mereka. Walaupun ujung-ujungnya, respons terakhir yang saya dengar adalah: “tapi bener loh, ngeri betul di sana.

Bagaimanapun juga, saya kok punya firasat kalau pertanyaan-pertanyaan sejenis, bahkan yang disampaikan dengan lebih kasar dan cenderung bukan bertujuan untuk mencari tahu, dialami para Buddhis lain. Lebih dari itu, tidak sedikit pula umat Buddhis yang ikut bingung.

Cuplikan

Ketika ditanya.

Terhadap ini semua, meskipun secara politis saya tidak sehaluan dengan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi), the only government-affiliated-but-religiously-questionable Buddhist organization in Indonesia, namun saya tetap mengapresiasi pernyataan sikapnya secara institusional demi meredam potensi gejolak lebih lanjut.

“Seorang yang berpenampilan bhikkhu (Ashin Wirathu), penampilannya memang kepalanya tidak berambut dan berjubah. Tapi bukan jaminan representasi dari Buddhis. Jadi bukan konflik Buddha dengan Islam,” kata Wakil Ketua Walubi Suhadi Sendjaja kepada VIVA.co.id, Jumat (22/5).

Kendati masih ada beberapa bagian pesan yang berpotensi menyebabkan salah kaprah.

“Kita perlu katakan bahwa Buddha kami dengan Myanmar berbeda,” ujar Ketua Walubi, Arief Harsono di gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI), Jalan Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (20/5). Dikutip dari detikNews.

Pertanyaan saya, Buddhanya model apa? Kok beda?

Selain itu, padahal Konferensi Agung Saṅgha* Indonesia (KASI)** juga telah menegaskan sikap institusional atas konflik kemanusiaan di Myanmar, 2013 lalu. Namun barangkali gara-gara KASI bukan merupakan bagian dari Walubi, dan tidak terlalu dikenal pemerintah, jadi pernyataan sikap tersebut relatif kurang digubris publik. Menguap begitu saja.

Cuplikan

Ketika para bhikkhu dan bhiksu Indonesia, menyampaikan imbauan kepada “koleganya”.

Terlepas dari hal-hal di atas, saya juga pengin menyampaikan pandangan sebagai seorang Buddhis mazhab Theravada. Lebih semacam sikap pribadi sih, soalnya ndaktau apakah umat Buddhis Indonesia lainnya setuju atau tidak.

  1. “Apakah Ashin Wirathu benar-benar dalang dari kekacauan di Myanmar? Penyebab terjadinya kerusuhan, pembunuhan, perusakan dan pembakaran, serta pengusiran warga Rohingya?”

Sejauh ini baru ada satu fakta yang tak terbantahkan mengenai kondisi tersebut; saya, Anda, kami (sesama Buddhis), kita (sesama warga Indonesia) tidak sedang berada di Myanmar sebelum dan saat pertikaian terjadi. Setelah itu, barulah melangkah pada ihwal pemberitaan majalah Time. Apakah sudah dibaca? Atau hanya berpatokan pada foto? Foto-foto resmi, atau foto-foto yang dicuplik kembali? Foto-foto dengan caption asli dari sang fotografer, atau telah disunting?

  1. “Katakanlah Ashin Wirathu benar-benar penebar kebencian dan pemicu permusuhan secara gamblang, lalu bagaimana kamu memandangnya?”

Bila memang demikian adanya, maka dewan Saṅgha Myanmar harus bertindak mencopot status Ashin Wirathu dari kebhikkhuannya. Menjadikannya umat biasa. Karena tindakan penyebaran kebencian termasuk pelanggaran dalam tata tertib dan aturan kebhikkhuan, termasuk mencederai tujuan hidup pertapaannya. Setelah berstatus umat biasa, giliran pemerintah Myanmar menjalankan hukum positif yang berlaku. Hanya saja, ketegasan pemerintah setempat bisa diragukan. Sebab ada spekulasi yang menyebut pemerintah mendukung gagasan dan propaganda Ashin Wirathu.

Di sisi lain, Buddhisme tidak mendorong terjadinya pengkultusan kepada siapa pun dan apa pun. Kesalahan adalah kesalahan, baik dilakukan oleh orang biasa, orang penting, pemuka agama, maupun pelacur sekalipun. Umat Buddha juga diharuskan bersikap kritis. Sehingga jika Ashin Wirathu benar-benar bersalah, bukan malah dilindungi oleh para umat dan simpatisannya.

Ndak ada umat Buddha di Indonesia yang kenal, atau mungkin berguru pada Ashin Wirathu.

  1. “Kemudian, apa hubungan antara ajaran Buddhisme dengan kekacauan Rohingya?”

Apakah ada ajaran agama yang menganjurkan pembunuhan, atau penindasan terhadap orang lain? Kendatipun jawabannya sudah cukup gamblang, mengutip seorang teman; “Bigots will be bigots, Gon.” Tak mustahil para bigots berjumlah banyak. Tapi kebangetan kalau ada agama, yang umatnya bigots semua.

  1. “Terus, bagaimana sikap umat Buddha Indonesia? Apa yang harus dilakukan?”

Nah, ndak tahu. Setiap orang bisa mikir, maka itu berhak memiliki pemikiran masing-masing terlepas dari apa pun agamanya. Terserah saja. Ada yang menyebut umat Buddha adalah pecinta damai palsu, ada juga yang menyebut pelaku kekacauan di Myanmar tidak mewakili ajaran Buddhisme, ada pula yang bisa membedakan antara urusan politik dan ajaran agama.

Namun yang jauh lebih penting ketimbang pertanyaan di atas adalah penanganan para pengungsi. Mereka mau diperlakukan sebagai apa? Korban konflik agama atau konflik sosial-politik? Sentimennya berbeda, kan?

Apa pun tetek bengeknya, mereka adalah manusia yang tengah kesusahan dan perlu dibantu. Cuma agak konyol, saat sebagian warga Indonesia melancarkan kecaman terhadap sesamanya yang kebetulan beragama Buddha dan ikut-ikutan marah soal pengungsi Rohingya tanpa berbuat apa-apa, sementara pemerintah Myanmar masa bodoh. Dan apa saran terbaik Anda untuk pemerintah Indonesia?

  1. “Lalu menurutmu, apa yang sedang terjadi di Indonesia mengenai hal ini?”

Enggak tahu. Barangkali memang banyak orang doyan bikin dan terlibat dalam drama doang. Atau mungkin memang doyan memandang rendah orang lain yang berbeda latar belakangnya.

  1. (Mau nambah pertanyaan, silakan)

Kamu orang Buddha, kan?

Bukan. Aku orang gila, nyembah galon akwa.

[]

*) Saṅgha: sebutan untuk komunitas bhikkhu, bhiksu/bhiksuni, dan Lama Tibet secara global.

**) KASI: organisasi resmi para bhikkhu, bhiksu/bhiksuni tiga mazhab utama agama Buddha di Indonesia. Tidak berafiliasi dengan Walubi, dan tidak menjangkau ranah politik.

Tentang Rasa Sang Nona Dari Jogja

Saya rasa, semenjak Reza Artamevia, Indonesia sekarang ini belum memiliki penyanyi wanita yang berkualitas baik dari segi suara, penampilan ataupun bakat. Mungkin ada tapi terlewat, tapi yang jelas saya tidak menemukannya di Krisdayanti, Rossa ataupun Raisa. Entah karena saya kurang gaul ato gimana–sampai suatu ketika saya secara tidak sengaja menemukan penyanyi bernama Leilani Hermiasih di internet. Frau adalah nama panggungnya. Baru dua album dia rilis dan bisa diunduh gratis di sini.

frau1

Pertama kali mendengar langsung suka karena musiknya berbeda. Penampilannya pun berbeda. Sederhana. Segar. Walau banyak sebagian orang yang membandingkan dirinya dengan Regina Spektor. Atau ada sedikit Fiona Apple mungkin. Musiknya kebanyakan hanya berisi suaranya yang diiringi oleh piano yang bernama Oskar. Lirik lagunya campur. Ada yang Bahasa Indonesia dan juga Inggris. Kemampuan bermain pianonya juga di atas rata-rata. Seperti BB King yang dengan Lucille-nya. Oh, banyak sekali ya orang yang menamai benda kesayangan yang dinamai layaknya binatang piaraan atau kekasih. Saya namai henpon saya Frans, kadang Herlambang.

Tapi sayangnya saya agak kesulitan untuk mendapatkan kesempatan melihatnya penampilannya secara langsung. Karena dari kabar burung yang saya dengar, Frau agak jarang tampil di atas panggung. Beliau hanya melihat musik sebagai hobi, dan lebih mengutamakan untuk menyelesaikan sekolahnya dulu yang konon sekarang sudah mau menyaingi seri henpon Galaxy Samsung.

Sampai akhirnya hari Jum’at kemarin saya berkesempatan untuk melihatnya secara langsung di IFI Bandung. Teman saya yang sudah di lokasi menyebutkan bahwa gak boleh moto pas lagi dia konser nanti. Lalu saya bilang oke. Itu keren. Saya sudah dalam taraf terganggu oleh orang-orang yang banyak memoto atau bahkan merekam pertunjukan secara berlebihan.

20150523141235

Semua penonton duduk di kursi yang sudah disediakan. Menikmati pertunjukan dengan khidmat. Itu yang mereka mau. Dan itu juga mungkin yang sebagian penonton inginkan. Pertunjukan yang lebih intim. Semi resital. Terkadang ada asap menyembur dari belakang panggung. Tidak jarang saya mencium bau-bauan lavender, melati, ataupun stroberi, ataupun rempah-rempahan ketika pertunjukan berlangsung. Saya lihat sekeliling tidak ada yang lagi nge-vaping. Oh. Ternyata ini memang Frau dan manajemennya yang sengaja buat ulah.

Selama lebih dari satu jam pertunjukan berlangsung. Dan di sela sesi pertama berakhir ada kertas yang dibagikan ke penonton. Mengenai kesan dari konser yang dinamai Tentang Rasa ini. Selain itu mereka juga membagikan minuman ringan dari botol yang mereka kemas sendiri. Isinya macam-macam. Ada teh, susu, kopi, sirup rasa jeruk. Non alkohol yang jelas. Padahal saya mengharapkan ada yang isinya bir. Tapi tidak ada. Ya sudahlah. Saya kan hidup di kota syariah. Yang jelas mereka ingin para penonton merasakan pengalaman yang berbeda ketika menikmati musik sambil menyecap bau-bauan dihembuskan ke seluruh ruangan. Atau sambil minum yang disediakan oleh sang penyanyi. Sensasi baru.

Karena menikmati musik itu tidak harus berdiri paling depan. Tidak harus ajrut-ajrutan. Tidak harus teriak-teriak. Tidak harus berkeringat. Tidak harus foto-foto. Tidak harus selfie/wefie lalu di-unggah saat itu juga ke media sosial kesayangan. Tidak harus begitu.

(nb: Oya, Leila, tolong nanti kalo cover lagu Radiohead jangan Fake Plastic Tree, High & Dry, atau Creep. Masih banyak koq yang oke buat diaransemen ulang. OK Computer ke atas deh. Morning Bell misalnya.)

Mencari Surga di Lomba Olahraga

Bukan. Maksudku bukan menang lomba atau proses mencapai garis finish. Tapi apa yang ada di balik celana ketat peserta pria. Silakan lihat gambar di bawah biar gampang membayangkannya.

Dari asumsi bahwa lomba olahraga adalah surga dunia, aku berangkat penuh optimisme ke sebuah kompetisi duathlon. Ternyata, jauh dari harapan. Gambar di atas hanya ilusi atau udara terlalu panas sampai mataku ndak lagi bisa bekerja seperti biasanya?

Sambil kecewa, aku menemukan beberapa fakta. Rupanya surga itu sembunyi karena berbagai hal alami.

Ukuran Rata-Rata
Pria Indonesia ndak sebesar ukuran rata-rata di Eropa. Asia bahkan dikenal punya ukuran penis terkecil ketimbang benua lain. Afrika menduduki urutan teratas, disusul Eropa dan Amerika. Di acara yang aku datangi kemarin, ada satu tonjolan menyenangkan dari seorang pemenang. Sayangnya ia orang Aljazair. Jika kawasan Timur Tengah kita keluarkan dari Asia, hasil statistik di atas mesti di ralat dengan memasukkan Asia dalam daftar micropenis. Kita ndak sedang membicarakan performa ya. Terbatas soal ukuran. Ini sedikit menurunkan optimisme, tapi tetap bisa terjadi anomali.

Aliran Darah
Pada saat berolahraga aliran darah akan berpusat pada organ yang membutuhkan. Tubuh akan mengatur efisiensi oksigen dan karbondioksida lewat aliran darah menuju dan meninggalkan, terutama, paru-paru, jantung juga otot. Tentunya penis bukan organ utama yang dibutuhkan waktu berolahraga. Berkurangnya aliran darah ke penis, mengakibatkan penyusutan. Penyusutan ini juga berguna untuk melindungi penis dari cedera. Beberapa atlit mengakui kalau tiap kali ia berlatih, penisnya bisa menyusut sampai ke ukuran anak-anak. Meski porsi penyusutannya berbeda-beda, ia akan berkisar antara 30% hingga 60% dari ukuran normal. Sekarang, kita tahu apa yang terjadi pada penis atlit Asia.

Hormon
Fungsi penis juga terkait oleh pancingan hormon. Dari sini, selain aliran darah, testosteron punya pengaruh besar dalam menentukan ukuran dan sensitivitas penis. Sayangnya, ketika adrenalin mengalir kencang selama berolahraga, testosteron akan berkurang. Keseimbangan produksi kedua hormon diatur oleh otak dengan tujuan yang jelas: Untuk melindungi penis dari cedera, tubuh harus menyusutkan sekaligus memastikannya ndak gampang melar karena rangsangan.

Jadi, usaha mencari surga di lomba olahraga, di Indonesia… lupakan!

Bicara Anak: Imbalan Setelah Kewajiban?

Bagi sebagian besar orang tua, ada satu musim yang menambah sedikit kerepotan: musim ujian anak. Di musim itu para orang tua mencoba sebanyak mungkin bersama anak untuk mendampingi saat mereka belajar. Ada yang membantu dengan mengawasi, ikut mengerjakan, memberikan soal bayangan, dan tentunya membantu dengan doa. Intinya, semua orang tua menginginkan anaknya lulus ujian dengan nilai semaksimal mungkin.

Setelah musim ujian usai, pasukan orang tua semacam terbelah dua. Sebagian ada yang merasa perlu dan baik untuk memberikan imbalan (reward) untuk anaknya. Sebagian lagi merasa tidak perlu. Bagi yang memberi imbalan, biasanya karena anak dianggap telah menyelesaikan tugasnya dengan baik. Apalagi biasanya ujian disambung dengan musim liburan. Bukan imbalan karena sudah selesai ujian, tapi liburan karena sekolah memang sedang libur.

Sedangkan pasukan orang tua yang tidak memberikan imbalan, mereka beranggapan bahwa bersekolah adalah kewajiban. Sudah disekolahkan, maka anak pun wajib untuk ujian. Bukan sesuatu yang harus dirayakan. Pun berprestasi di sekolah, merupakan kewajiban. Perayaan terbesar adalah kepuasan hati anak saat dia berprestasi, tak harus disertai dengan penghargaan materi atau liburan. Cukup dengan ucapan selamat dan pengakuan dari orang tua, guru dan teman-temannya merupakan penghargaan terbesar dan terbaik untuk sepanjang hidupnya.

Tidak ada yang benar apalagi salah. Semua orang tua berhak menentukan mana yang terbaik bagi anaknya. Karenanya, telah dilakukan sedikit survey terhadap beberapa teman mengenai topik ini. Komentar datang dari ibu, ibu tunggal, ayah, ayah tunggal dan bahkan yang belum memiliki anak.

Denny, ayah 3 anak.

Intinya sih mesti kontekstual.

Seorang anak memang harus melakukan kewajibannya, tapi mesti dilihat seberapa dia mampu melakukannya. Kewajiban cuma salah satu hal yang masuk dalam matrikulasi isu, kemampuan juga harus ada di sana.

For instance, Harry (daughter) doesn’t really need a reward for achievements in art, but she might need one for achievements in science.

Clarissa (daughter), on the other hand, needs to be rewarded for persistence in everything. The kid is multi talented, but needs to learn to persevere.

Henry (son), must be rewarded for smallest achievements that would be considered trivial for the rest of us. The kid’s autistic.

All three of them, are properly rewarded when they do things beyond their responsibilities or capabilities. We pay them money when they recycle some of the waste, like newspaper, etc.

Applied properly, reward is still a most ethical behavior modification tool, and a powerful one at that.

Lisa, baru menikah belum punya anak.

Gue bertekad kelak pas punya anak, gue mau kasih reward hanya untuk effort yg luar biasa, bukan result. Misalnya, kalo main LEGO, bisa bikin pesawat sesuai manual, dapet cium. Tapi kalo bisa bikin pesawat (yg bagi mata gue keliatan kaya bekicot) dengan caranya sendiri, gue pajang di ruang tamu, gue banggakan ke kakek nenek tantenya dll., dan tentu saja gue beliin LEGO baru.

Sukses itu gampang. Banget. Lah wong tinggal nyontek manual.

Berani gagal gegara nyoba approach baru, itu luar biasa.

Reward gak cuma berbentuk fisik. Aku pernah nonton di TedX, ada yang berargumen bahwa reward fisik (duit, mainan, esgrim, dll.) bagus untuk aktivitas mekanis. Sementara reward non-fisik (pujian, pengakuan) bagus untuk aktivitas kreatif/problem solving. Sementara aku memanfaatkan reward fisik untuk menghemat willpower saat berusaha mencapai sesuatu yg berat.

Contohnya, sekarang aku berusaha brenti merokok. Udah 3 minggu, beratnya craving amit-amit deh, tapi yang bikin aku sanggup bertahan adalah Razer Kraken Pro, yg bakal kubeli sebagai hadiah kalo aku bisa bertahan 2 bulan lagi.

Donny, ayah satu anak.

Nyokap gue gak ngasih apa-apa biar gue juara kelas atau apa gitu di sekolah. Kata dia, “lah, itu kan kewajiban elo. Ngapain gue kasih kado.” Hahahahahahahahaha

Denisa, ibu satu anak.

Orangtua gue juga ga pernah kasih reward. Paling waktu SD dulu pertama kali puasa 30 hari penuh dari subuh sampe maghrib, dikasih angpao. Wis itu thok.

Jujur gw sekarang ngerasanya “ini gw manjain Dony (anak laki-lakinya) ga sih?”

Soalnya beliin dia mainan itu gampang banget — dan setengahnya karena dulu kalo gue minta mainan ga pernah dikasih 😆 Kaya balas dendam, hahaha. Waktu dia sukses tidur sendiri, dapet reward (lokomotif Thomas); waktu sukses potty training juga dapet lokomotif Thomas. Itu masih taraf normal ga sih? 😅

Mungkin ntar kali ye pas anaknya udah SD gitu (sekolahnya lebih “serius”, hahaha) baru mikir soal reward ini.

Dito, lajang.

Sebagai anak dari keluarga sederhana, gak ada tuh istilah hadiah naik kelas, kelulusan apalagi ranking.

Tetapi ekosistem apresiasi tidak selalu “salah” sih, akan tetapi pembinaan karakter achiver mungkin yang penting

Harumi, ibu seorang anak.

Aku kalau target prestasi ga tercapai aku rasanya malu dan ga worthy fasilitas yang diberikan ortu. Tapi kalau orang tua janji menurutku harus ditepati, tergantung kesepakatan aja. Kalau menurut performance appraisal ya ‘meet expectations’ sama ‘exceed expectations’ tentu ada perbedaan.

Viva, ibu seorang anak.

Aku kalo ngasih reward (baca: es krim) ke anak biasanya pas dia mau & berhasil ngikutin kegiatan orangtuanya yang harusnya dia ga ikut tapi kita paksa ikut. Misal ga cranky pas nonton konser & ga banyak digendong pas hiking 😀 oh satu lagi, mau difoto buat produk dagangan kami 😁😁

Karimah, ibu seorang anak.

Kalau aku dulu bayar uang sekolah aja udah bersyukur ya kak😂😂😂 trus punya mamak ambisius gila, kalau gak juara 1 atau 2, 6 bulan ke depan dia akan nanyain gw lebih kejam lagi dengan aksesoris rotan nya.

Tapi skrg anakku kalau makannya pinter sambil ambil rapot *playgrup catet* bapaknya sudah menjanjikan spinosaurus abis ambil rapot. Kami terbawa arus orangtua jaman sekarang yang mementingkan kebahagiaan anak2 spt nya😁😁😁

Delilah, lajang.

Kayaknya awalnya hal2 kayak begini harmless dan semacam penyemangat aja. Tapi karena Ibu Suri semacam embisyes dan tau anaknya bisa dipecut, dia macam ngasih standar (tinggi), walau mungkin dia juga tahu anaknya bisa tanpa diancem ancem ataupun diiming imingin.

Buatku itu semacam jatah makan Gandy’s setahun 3 kali, padahal steaknya cuma separoh 😂😂

Fransisca, ibu 3 anak.

Ga pernah ditawarin reward or dikasih waktu masih kecil, aku rasa itu bagus buat aku. I can see back then that my parents provide for us. Mereka ga pernah minta aku berprestasi or apalah namanya tapi terasa ada ruang dari mereka untuk aku mencoba, berusaha dll.

Sekarang sama bocah2, kami ga pernah netapin standard prestasi akademik, ga pernah bahas rangking, ga pernah maksa mereka belajar di rumah or bikin PR. Kami bicara investment sama anak2, bahwa sekolah & pendidikan adalah hak mereka, bahwa how they use that is entirely their way of building their future, bahwa akan lebih banyak hal bisa dilakukan di masa depan jika mereka mau lebih menyimak & mengeksplorasi materi pelajaran. Dan aku selalu encourage mereka untuk menantang & bertanya. Edukasi bukan soal mengirim anak ke sekolah melainkan bagaimana membuat sekolah jadi ga “penting”.

Sri, ibu 2 anak.

Aku ga ada reward sih Kak buat anak2. Hari2 biasa dan hari2 kelar ujian mereka juga dapat kebebasan yang sama. Dapat sesuatu yang sifatnya material dan immaterial bukan sebagai reward tapi kebutuhan mereka sbg anak2. Kebetulan anak2ku bukan anak2 yang Brand Minded (moga2 begitu terus) 😂😂😂

Desi, ibu 2 anak.

Gak pernah kasih reward sama anak2 tiap mereka dapat juara, padahal yang cowok lulusan terbaik satu sekolah.

Setuju sama murid ya tugasnya belajar, dan menurut gue kalo dia berprestasi itu reward dia utk dirinya sendiri jadi lebih semangat dan percaya diri.

Itu mungkin juga karena my parents never gave me any rewards for being the best at school.

Burhan, ayah 3 anak.

Biasanya sih, reward diberikan sebagai bonus, bukan target utama. Reward ada untuk menjaga agar mood bocah selalu positif atau happy. Nah tapi ya diliat juga apakah si bocah happy nggak selama di sekolah. Makanya kita picky sama sekolah. Gimana bocah bisa nerima pelajaran kalo ngga happy atau positif?

Dan kita juga ngga ngejer si bocah jadi juara kelas. Yang penting minat & bakat diri terbangun, karena buat kita itu penting saat nanti dia dewasa kelak. Berusaha yang terbaik buat diri sendiri tanpa tekanan, hingga mungkin akan ada bonus reward.

Ciyus mat sik 😁

Lia, pengantin baru.

Dulu sih ga pernah dapet reward. Boro2 hadiah liburan, hadiah macem kotak pensil baru aja kudu nabung dari duit jajan 😂😂😂

Flora, ibu seorang anak.

Kalo menurut teorinya mbak Prita Ghozie, belajar dan berprestasi adalah kewajiban anak. Sehingga sebaiknya tidak ada reward. Krn kemudian membuat anak berprestasi hanya utk reward, bukan karena dia merasa dia bisa berprestasi.

Reward, terutama dlm bentuk uang bisa diberikan ketika anak melakukan hal di luar kwajibannya. Misal: bantuin ayahnya cuciin mobil. Atau sama emaknya disuruh ke kios sayur beli sayuran. Atau misalnya emaknya bakul kue, sesimpel dia bantuin ngayak tepung or ngocok telor.

Demikian kak. Tapi itu teori ya. Aku sih kemaren ngasih hadiah waktu awan berhasil puasa sebulan penuh :):):):)

Inem, menikah belum memiliki anak.

Academic achievement ndak pernah di-reward karena sudah hygiene factor. Tapi kalau pain related seperti ke dokter gigi, dikasih insentif di awal doang.

Bunda, ibu seorang anak.

Anakku nggak dikasih reward kok. Cuma selama ujian dikasih semangat ajah.

Lativia, ibu dua anak.

Gue gak pernah kepikiran ngasih reward untuk prestasi sekolah. Kado biasanya dapet  waktu ulang tahun, natal dan oleh2 kalau bapak/ibunya pulang dari LN. Gak inget itu waktu bertepatan dengan dapet rapor atau kenaikan kelas karena, lagi-lagi, gak pernah kepikiran kasih reward kalau rapornya bagus.

Sari, lajang.

Selama ada reward ya ada punishment. Kalo gak mencapai goal ya gak dikasih reward sebagai punishment. Gak apa-apa sih kalo dibawa santai. Tapi kalo gak dpt reward itu dijadiin standar kegagalan sih itu mah sedih. Orang harus memecut diri buat puasin standar reward orang lain.

Deswita, lajang.

Almarhum orang tuaku ga pernah biasain kasih reward untuk urusan yang menurut mereka emang jadi bagian kewajiban anak2nya.
Karena mereka ini emang rada2 free thinkers pulak, mereka santai bilang bahwa mereka bukan orang tua yang melihat anak sbg investasi mereka.
Mereka ga setuju dengan ortu2 yg ‘pampering’ anak dengan fasilitas lebay dan jadikan anak sebagai ‘investasi’ atau atribut pencitraan ortu.

Setelah dua2nya ga ada, gue berefleksi. Ada ortu yg memang cenderung melihat anak kayak investasi, dan investasinya harus ‘balik’. Anak diharapkan selalu ‘lebih’. Ada ortu yang meskipun metodenya ga lazim kayak alm ortu gue, yg lebih melihat anak sbg sosok-sosok sesama manusia/individu.

Peran ortu yg begini kayaknya lbh cenderung menantang anak menemukan diri sendiri, dan punya hak, kewajiban/tanggung jawab ke diri sendiri dulu sebelum bisa diharapkan berguna ke orang lain.

Satu contoh aje ye…

Di malam gue pulang setelah dapat penghargaan Citra Pariwara (penghargaan untuk iklan Indonesia. Semacam Citra untuk dunia film) untuk iklan Sunlight cair. Kira2 dah nyaris jam 2 pagi lah. Di meja makan ada piring n mug kopi gue bekas sarapan. Masih kotor. Ada note nyokap gue: Tadi pagi kamu tidak tinggalin info yang jelas! Siapa yg harus cuci? Si mbok jg tidak kamu minta tolong! Pls tk care of this mess.
Note nyokap gue di post it. Ditempelin di? Botol Sunlight cair!😂😂😂😂😂
Jadi sambil nyuci piring gue nyadar sepenuhnya. Jangankan sekedar menang pariwara, menang nobel pun sebetulnya emang ga perlu segitunyalah😂😂
Krn buat org2 kayak nyokap gue/ortu sealiran beliau, intinya bukan ‘kontes’, menang ini-itu, ‘masup TV’. Melainken kitanya dulu yg genah😂😂

Gaban, ayah satu anak.

Biarin aja sih…

Sebagai pembaca, Anda pun diundang untuk ikut berkomentar. Siapa tau komentar Anda bisa membantu para orang tua semakin menemukan cara terbaik untuk membesarkan anak. Daripada memilih disimpan dalam hati saja seperti Solanum Melongena, ayah satu anak dan suami dua istri.

working-hard-meme_9-300x300

 

Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki

“Bangsa yang sekaligus mengalami ketersesatan intelektual, politis, kultural, spiritual, bahkan ketersesatan teknis untuk soal-soal yang sangat sederhana. Mencari Tuhan, yang didatangi dukun. Mencari ulama, yang dikejar pedagang. Mencari orang pandai, yang ditunggu pelawak. Mencari soto enak, pergi ke tukang tambal ban. Mencari pemimpin, yang dijunjung bintang film. Mencari bintang, yang diburu meteor. Mencari tokoh, yang disongsong perampok. Plastik diwarnai keemasan, emas dijadikan ganjal lemari. Nasi diperlakukan sebagai kerupuk, terasi didewakan sebagai makanan utama.

Bangsa yang kehilangan parameter hampir di segala bidang. Bangsa yang memilih langsung presidennya, namun tanpa melewati pijakan substansi demokrasi. Bangsa yang ditenggelamkan oleh air bah informasi tiap hari, namun semakin tidak mengerti apa yang seharusnya mereka mengerti. Bangsa yang sudah kehilangan ukuran apakah mereka sedang
maju atau mundur, apakah mereka sedang dihina ataukah dimuliakan, apakah mereka pandai atau bodoh, apakah mereka menang atau kalah. Bangsa yang peta identifikasi dirinya makin terhapus, sebagai manusia, sebagai rakyat, atau bangsa.

Bangsa yang-sesekali-menjalankan hukum, namun tanpa kesadaran dan hikmah hukum, tanpa kesanggupan untuk mengapresiasi nikmatnya berkebudayaan hukum. Bangsa yang sangat tampak secara wadak sedang menjalankan ajaran agama, namun hampir tak terdapat pada perilakunya dialektika berpikir agama, tak ada kausalitas mendasar antara input dan output nilai agama. Bahkan terdapat diskoneksi ekstrem antara praksis kehidupan beragama dengan hakikat Tuhan”.

Dikutip dari Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki oleh Emha Ainun Nadjib di Kompas 17 Februari 2005. Baca lengkapnya di sini.

Pembuka Cerita

Apa yang membuat kita bisa jatuh cinta pada satu serial televisi? Bisa jadi para pemainnya, atau jalan ceritanya, atau kebetulan saja lagi menemukan serial tersebut saat memindai banyaknya saluran televisi di depan kita.

Tapi mari kita kesampingkan sejenak faktor-faktor tersebut.

Apa yang membuat kita bisa jatuh cinta pertama kali pada satu serial televisi?
Buat saya, opening sequence atau bagian pembuka serial tersebut.

Beberapa hari yang lalu, serial “Mad Men” mengakhiri penayangannya setelah 7 seasons atau musim penayangan. Kebetulan saya mengikuti serial ini dari awal. Tentu saja, seperti layaknya serial lain yang kita ikuti, saya pun sudah familiar dengan karakter-karakter serial tersebut. Demikian pula dengan jalan cerita masing-masing karakter. Namun ada satu hal yang saya sadar akan membuat saya merasa kehilangan, yaitu adegan pembukanya.

Mad Men

Mad Men

Setiap episode serial “Mad Men” dibuka dengan siluet seorang pria melayang dari ketinggian gedung, jatuh menyusuri rangkaian billboard iklan yang dipasang, seiring dengan munculnya nama-nama pemain, sampai akhirnya pria tersebut duduk membelakangi kita dengan sebatang rokok di tangan. Indah, berkelas, dan mempunyai lagu tema instrumental yang khas. Lagu ini berjudul “A Beautiful Mine” karya RJD2. Saking nempelnya lagu ini dengan adegan ini, sampai-sampai pembuat serial “Mad Men”, Matthew Weiner, pernah berujar di panggung Emmy Awards saat karyanya mendapatkan Emmy pertama sebagai Serial Drama Terbaik tahun 2008, “We can never get rid of our opening song. We just love it!”

Sangat jarang sebuah opening sequence dari serial televisi disebutkan saat serial tersebut memenangkan penghargaan tertinggi pertelevisian Amerika. Padahal adegan pembuka ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari serial televisi. Tentu saja, seperti layaknya sampul buku atau cover majalah, adegan pembuka serial televisi adalah impresi awal buat kita, para penonton televisi, untuk bisa tertarik terhadap apa yang kita tonton.

Bahkan adegan pembuka bisa jadi tontonan tersendiri, lepas dari apapun episode yang akan ditayangkan, di musim penayangan kapanpun. Contoh jelasnya “The Simpsons”. Urutan adegan pembuka selalu sama selama 26 tahun terakhir. Yang berbeda di setiap episode adalah tulisan yang Bart Simpson tulis di papan sebagai hukuman, dan bagaimana satu keluarga The Simpsons akan duduk di depan televisi. Seniman sekaliber Banksy pun pernah membuat adegan pembuka serial ini.

Tidak semua serial bertahan lama sepanjang “The Simpsons”. Tapi itu tidak menghalangi beberapa serial untuk melakukan update saat memasuki musim penayangan baru, meskipun deretan pemain, judul serial, dan tentunya lagu yang digunakan pun, masih sama.
Tapi selalu ada celah untuk menyegarkan rutinitas.

Contohnya serial “Friends” dengan lagu “I’ll Be There For You”, yang sama-sama sudah menjadi bagian tak terpisahkan antara keduanya.
Meskipun kita sudah sangat familiar, bahkan sampai ke ketukan nada dan urutan nama pemain yang muncul, namun pembuat serial ini masih bisa bermain-main dengan nama para pemainnya saat Courteney Cox baru menikah dengan David Arquette beberapa tahun lalu. Caranya? Tambahkan saja nama Arquette di belakang nama semua pemain dan kru!

Ada kenangan yang terpisahkan antara lagu dan serial, seperti halnya lagu karya grup The Rembrandts dan juga enam teman yang sering nongkrong di kafe Central Perk di atas. Demikian pula dengan lagu “I Don’t Want to Wait” milik Paula Cole, yang selamanya akan selalu saya asosiasikan dengan serial “Dawson’s Creek”.

Meskipun tanpa lagu, adegan pembuka dengan komposisi musik tertentu bisa membuat kenangan tersendiri buat kita, penontonnya.

Paling tidak, tema musik pembuka serial televisi bisa membuat saya panik setengah mati karena masih belum menyelesaikan urusan di kamar mandi, sementara lagu tema serial “Knight Rider” sudah mulai berkumandang dari ruang keluarga.
Itu hari Rabu malam.
Kalau hari Jumat malam, saya bisa buru-buru menyelesaikan makan malam saat lagu tema “MacGyver” mulai terdengar, lalu berlari untuk duduk di depan televisi. Sementara beberapa jam sebelumnya, tepatnya di Jumat sore, kadang saya harus menahan kesal, karena saat itu adalah waktunya mengikuti les tambahan, sementara dari televisi mulai terdengar suara instrumental pembuka serial “Beverly Hills 90210”.

Beverly Hills 90210

Beverly Hills 90210

Kalau Anda mulai bertanya-tanya kenapa semua serial di atas hadir sebelum abad 21, itu karena tak banyak serial saat ini yang menaruh perhatian khusus pada adegan pembuka, sebelum kita digiring masuk ke cerita episode yang sedang berjalan.
Hampir semua serial buatan Shonda Rhimes (“Grey’s Anatomy”, “Scandal”, “How to Get Away With Murder”) tidak terlalu menaruh perhatian pada opening titles ini. Judul serial dimunculkan sekilas saja. Nama-nama pemain muncul sejalan dengan adegan yang sedang berlangsung. Metode ini banyak digunakan di serial-serial sekarang, dengan pertimbangan bahwa perhatian orang semakin pendek karena terbagi dengan smartphone, interaksi di media sosial, sehingga takut kalau mereka tidak terpikat langsung dengan jalan cerita serial televisi, maka mereka tidak akan menonton serial tersebut sama sekali.

Kalaupun ada perkecualian, mungkin hanya beberapa saja, seperti “Game of Thrones” atau “Unbreakable Kimmy Schmidt” yang digarap dengan serius. Lalu ada juga “House of Cards” dan “Daredevil”, semuanya dari Netflix, yang cukup sukses mewakilkan mood dan tone serial lewat scoring yang sangat berat dan serius di opening title.

Daredevil

Daredevil

Dan mau serius, atau jenaka seperti lagu pembuka serial “Si Doel Anak Sekolahan”, yang jelas serial televisi tak akan lengkap tanpa musik pembukanya. Opening theme of a TV series gives us what we already know, what we can expect, and at the same time, ensures us of that we’re home with the people we know the most.

And that is the magic of television.

PS: oh iya, cuma mau kasih tahu kalau dari semua serial televisi yang ada di atas, opening title favorit saya bukan salah satu dari mereka. Favorit saya?
Ini dia: the most glorious TV series opening of all time!

Kapan?

Setiap hari, ada begitu banyak hal yang ingin disampaikan, namun bingung harus memulainya dari mana. Seperti yang terjadi saat ini, ketika otak terasa begah setelah kebanjiran begitu banyak informasi yang sempat menarik perhatian, kemudian teronggok laiknya tumpukan barang di gudang. Entah mau diapakan, dan enaknya digimanain.

Ada satu hal yang cukup menarik perhatian kemarin petang. Urusannya sih ndak jauh-jauh dari selangkangan. Ternyata, usia legal untuk melakukan hubungan seksual di Norwegia adalah 16 tahun, atau kurang lebih setara dengan umur pelajar Kelas XI (kelas 2 SMA) di Indonesia. Implikasi sederhananya, barangkali, setiap warga negara Norwegia yang telah berusia 16 tahun atau lebih, diperbolehkan terlibat dalam sebuah aktivitas seksual secara sadar dan sukarela tanpa harus khawatir bakal terjerat pasal Statutory Rape.

Sayangnya, saya bukan periset maupun penganalisis. Sebab, akan sangat menarik untuk melihat data valid mengenai beberapa hal. Misalnya, hubungan antara pemberlakuan usia legal seksual tersebut dengan tingkat kehamilan yang tidak diinginkan, serta angka aborsi ilegal, maupun menilik pengaruh kebijakan tersebut dengan persepsi anak muda Norwegia dalam memandang hubungan seksual.

Di sisi lain, tidak kalah menarik bila membandingkannya dengan kondisi anak muda di Indonesia. Gambaran kasarnya, ketika remaja usia 16 tahun di Norwegia sudah diperkenankan melakukan hubungan seksual (dengan/tanpa kewajiban terikat pernikahan), bagaimana dengan remaja Indonesia yang diam-diam juga mulai mencoba, atau bahkan telanjur menikmatinya secara membabi buta? Hingga akhirnya berujung pada kehamilan yang tidak diinginkan, dan tindakan kejam berupa aborsi, pembunuhan bayi setelah dilahirkan, maupun penelantaran. Apalagi dari sudut pandang lain, Indonesia merupakan negara agamis, yang menempatkan agama–lengkap dengan Imtak–sebagai satu-satunya tameng pamungkas untuk semua hal-hal buruk. Sedangkan Norwegia terkenal sebagai negara yang sangat sekuler, yang menempatkan tuhan pada posisi sangat intim; dalam benak dan hati masing-masing penduduknya.

Biarlah para pemegang data valid yang menjawabnya.

Ada sebuah teori sosial–kalau saya tidak salah ingat–yang secara garis besar mengemukakan bahwa makin sering dan mudah sesuatu didapatkan, maka terasa makin biasa atau bahkan menjemukan ketika mendapatkannya. (Mungkin pemikiran ini yang menyebabkan cowok atau cewek harus jual mahal, agar terkesan lebih menantang untuk ditaklukkan serta layak diperebutkan. Terasa istimewa.)

Jika dikaitkan dengan regulasi seksual ala Norwegia tadi, bisa jadi urusan syahwat itu mereka perlakukan tak lebih dari sekadar hal alamiah dan manusiawi, serta cenderung biasa namun tetap tunduk pada hukum. Jadi, tidak bikin panik asal mengaburkan gambar belahan dada di layar televisi, lantaran seolah semua pria yang menontonnya akan langsung ereksi massal dan sekonyong-konyong cari pelampiasan.

Akan tetapi, kembali ke Norwegia sana, alih-alih dibiarkan menggelinding begitu saja dan menjadikan mereka bangsa yang biadab, ternyata telah disiapkan paket pendidikan seksual kepada anak-anak. Bertolak belakang dengan ungkapan populer di Indonesia: “ah, kalau soal itu mah enggak usah pake belajar-belajar, bisa tahu sendiri,” dengan dampak yang relatif memprihatinkan. Karena pada akhirnya, media pornografi penuh kamuflase yang dijadikan rujukan.

Tidak tanggung-tanggung, materi pendidikan seksual bagi sekurang-kurangnya anak kelas 3 sekolah dasar Norwegia, tampil tanpa tedeng apa pun. Gamblang serta buka-bukaan, bisa bikin risi, tapi sekaligus jelas, dan mampu menjabarkan dengan komprehensif. Video berikut ini adalah salah satu cuplikan episodenya, hanya saja cukup NSFW.

Okelah, video tadi mungkin dianggap terlalu vulgar dan tidak sesuai dengan so-called budaya ketimuran. Namun setidaknya menyampaikan informasi yang netral, dan tidak cenderung menyesatkan seperti beragam mitos seksual yang dipegang teguh hingga saat ini. Toh, berdasarkan riset UNESCO, ada beberapa fakta terkait penyampaian pendidikan seksual terbuka kepada kaum muda. Beberapa di antaranya. (1) Tidak ada satu pun program tersebut yang mengarahkan dan mendorong kaum muda untuk cepat-cepat melakukan hubungan seksual, (2) Lebih dari sepertiga program tersebut menunda keinginan kaum muda untuk melakukan hubungan seksual.

Asumsinya, pendidikan seksual yang disampaikan bukan melulu soal aktivitasnya saja, melainkan juga pemahaman bahwa setiap orang berhak mengatakan tidak dan menolak ajakan berhubungan seksual. Menghindari paksaan dan ketidaknyamanan fisik maupun mental, juga menekankan bahwa hubungan seksual seharusnya mengikuti prinsip hukum yang berlaku di wilayah masing-masing. Adil, kan?

Semuanya mengarah pada pertanyaan, kapan pendidikan seksual yang komprehensif semestinya diberikan pada remaja Indonesia? Apa mesti tunggu makin banyak laki-laki yang tidak paham bahwa sebenarnya para perempuan perlu merasakan orgasme juga?

[]

Tautan terkait.

Pertarungan Yang Tak Pernah Berhenti

(ada baiknya pencet tanda play agar lebih afdol, durasi tidak sampai tiga menit koq.)

theone1

theone2

theone4

theone6

theone7

theone8

“There’s a watch in my pocket and its hands are broken.
The face is blank but the gears are turning.
Confusion is a fundamental state of mind.
It doesn’t really matter what I’m figuring out.
I’m guaranteed to wind up in a state of doubt
And sanity is a full-time job
In a world that is always changing,
And sanity is a state of mind
That you believe in, sanity.
There’s a shadow on the wall where the paint is peeling.
My body’s moving forward but my mind is reeling.
Depression is a fundamental state of mind.
It doesn’t really matter how my day has turned out.
I always end up living in this world of doubt
And sanity is a full-time job
In a world that is always changing,
And sanity will make you strong
If you believe in sanity.”

theone9

(nb: lagu dari Bad Religion – Sanity, gambar dari internet.)