Mengelilingi Sekeliling

Salah satu kebiasaan yang saya lakukan ketika bepergian, baik untuk liburan atau pekerjaan, dan harus menginap di hotel atau tempat penginapan sejenis adalah meluangkan waktu di pagi hari untuk berkeliling di sekitar area hotel tersebut. Biasanya kegiatan ini saya lakukan di pagi hari, sehari sesudah check-in.

Di desa Bantul, hari terakhir 2014. (Photo by Nauval Yazid)

Di desa Bantul, hari terakhir 2014. (Photo by Nauval Yazid)

Jadi, kalau misalnya hari Kamis ini saya masuk hotel, berarti besok pagi, di hari Jumat, setelah bangun pagi dan sebelum sarapan, saya akan berjalan kaki keluar dari kamar dan dari hotel untuk berkeliling melihat apa saja yang ada di sekitarnya

Kebetulan saya juga bukan pengejar momen matahari terbit atau sunrise, kecuali kalau memang tempatnya memungkinkan, seperti pergi ke Gunung Bromo atau Tiger Hill di kota Darjeeling, India. Apalagi kalau di menginap di tengah kota besar dengan gedung bertingkat, mana kelihatan?
Maka tujuan berkeliling di sekitar area hotel adalah untuk melihat suasana pagi hari, sebelum toko-toko buka, ketika petugas pengangkut sampah mulai parkir dan melakukan tugasnya, saat orang-orang yang mungkin tinggal di area perumahan sekitar hotel bergegas menuju tempat kerja, dan tentu saja tempat-tempat sarapan yang pelan-pelan ramai dipadati pengunjung.

Kafe hipster di depan hotel di Budapest. (Photo by Nauval Yazid)

Kafe hipster di depan hotel di Budapest. (Photo by Nauval Yazid)

Biasanya saya habiskan waktu sekitar 15 sampai 20 menit untuk berkeliling mengelilingi area tempat penginapan ini. Saat pagi hari buat saya adalah waktu yang tepat, karena cahaya matahari pagi bagus buat hasil potret di kamera (tujuan traveling adalah supaya bisa menghasilkan foto banyak, bukan? Oh bukan ya?), dan toko-toko belum buka, sehingga saya bisa puas melakukan window shopping tanpa harus berebutan dengan banyak orang.

Minggu pagi di Praha. (Photo by Nauval Yazid)

Minggu pagi di Praha. (Photo by Nauval Yazid)

Membebaskan pikiran dari kungkungan kamar hotel, seluas apapun, itu perlu. Kamar hotel atau tempat penginapan adalah rumah kita sementara saat bepergian. Tapi kadang kita terlalu bertumpu pada rumah sementara ini, sampai kita melupakan pekarangan yang mengelilinginya.

Temuan-temuan di sekeliling ini kadang membuat perjalanan jadi mengesankan.
Ketika saya memesan kamar di sebuah hotel di Budapest, saya hanya mencari yang di tengah kota, tanpa tahu bahwa ternyata hotel tersebut berada di tengah perkampungan kaum Yahudi yang hipster, dan ada synagogue (tempat ibadah orang Yahudi) persis di depan hotel.
Lalu tanpa saya sadari, sebuah hotel kecil di Yogya yang pernah saya inapi tahun lalu ternyata letaknya persis di seberang sebuah toko kacamata yang memakai nama saya sebagai nama tokonya. Kapan saya pernah bikin toko kacamata ya?
Dan tentu saja ketika harus mendaki lebih dari 500 anak tangga untuk mencapai kamar hotel di Pokhara, Nepal, maka rasa letih itu menjadi bagian dari pengalaman yang tak terlupakan, terlebih saat menyadari pemandangan yang ditawarkan.

Di atas kaki bukit di Pokhara, Nepal. (Photo by Nauval Yazid)

Di atas kaki bukit di Pokhara, Nepal. (Photo by Nauval Yazid)

When we travel, we just need to look around.

Advertisements

Easier Said Than Done

Apakah sikap “standar ganda” bisa langsung disamakan dengan sikap “munafik” atau “kemunafikan”? Mungkin banyak yang setuju, mungkin tidak sedikit yang menolak, atau barangkali ada yang menjawabnya dengan: “tergantung konteks”. Setiap orang berhak mempunyai pandangan berbeda mengenai hal ini, lengkap dengan alasan dan latar belakang argumentasi masing-masing. Dan eloknya, saya tidak perlu bersikap sok pandai menjabarkan asumsi psikologis atas masing-masing jawaban di atas.

Mari bermain-main dengan contoh saja. Disclaimer-nya, tulisan-tulisan di bawah ini bukan untuk membangun opini yang beraneka ragam. Lagipula, akan jauh lebih penting membangun rumah tangga yang harmonis, demi hidup yang lebih bahagia dan generasi penerus bangsa yang berkualitas. EHEM!

  • Aparat hukum republik ini akan memvonis mati para penjahat bidang narkotika. Seperti yang terjadi dini hari tadi, ada delapan orang yang dipaksa lekas-lekas kembali ke ribaan-Nya. Namun dari jumlah tersebut, tujuh di antaranya adalah warga negara asing. Menyisakan satu yang tercatat sebagai warga negara sendiri (entah apakah dihukum mati karena kejahatan narkotika, atau lainnya). Lalu, bagaimana sikap aparat hukum terhadap para penjahat besar urusan narkotika lainnya, yang merupakan “produk dalam negeri”? Sebagai catatan, untuk menjawab pertanyaan dalam ilustrasi ini, jelas memerlukan statistik. Biar tidak bias.
  • Masih berkaitan dengan hukum. Apa yang mendasari pemerintah menjatuhkan hukuman mati kepada para penjahat narkotika? Sebut saja bila dibandingkan dengan penjahat kemanusiaan yang bergerak di bidang hajat hidup orang banyak: korupsi. Atau bagi pelaku kejahatan yang linier dengan hukuman mati: pembunuhan.
  • Bahkan bila dipertanyakan secara global, jika hukum melarang keras manusia membunuh sesamanya, mengapa negara memerintahkan aparat untuk membunuh manusia lainnya?
  • Bergeser sedikit. Dalam beberapa hari terakhir, banyak aktivis dalam maupun luar negeri yang menyerukan pengampunan bagi Mary Jane (MJ). Puji Tuhan, setidaknya warga negara Filipina itu tidak termasuk dalam “rombongan” delapan orang di atas. Anggap saja (bila terjadi kesamaan dalam bentuk apa pun, yakinlah bahwa itu bukan kesengajaan), salah satu dari aktivis tersebut ternyata adalah orang dengan pandangan pro-choice bagi perempuan, maupun secara umum. Jadi, kasarnya, ibarat pengusaha fried chicken yang ikut menyerukan pentingnya bervegetarian.
  • Bencana memang tidak sepantasnya dijadikan bahan bercanda, tapi seperti idiom populer “easier said than done”, lebih mudah banyak berkomentar dan menganalisis kejadian tersebut ketimbang membantunya. Itu pula yang terjadi selama ini. Ketika bencana terjadi pada orang lain, ada yang dengan pongahnya menyebut bahwa itu merupakan hukuman tuhan atas kesalahan dan ketidakpatutan. Akan tetapi, kala bencana serupa menimpa diri sendiri, dengan pede-nya disebut sebagai ujian.
  • Atau juga seperti ini, mudah untuk memberikan nasihat kepada orang lain yang sedang alami kesusahan. Meminta mereka untuk sabar, untuk banyak beristigfar, untuk lebih tenang sebelum mengambil tindakan. Pokoknya, berasa jadi orang paling bijaksana sekecamatan. Sebaliknya, saat diri sendiri mengalami kesusahan serupa, tidak ada nasihat-nasihat orang lain yang bisa menembus kekalutan. Pakai berceletuk: “save Your hikmah for Yourself.”
  • Contoh lain yang agak ringan. Seorang cowok menikmati kepiawaiannya sebagai playboy, cenderung lebih menyukai cewek berpembawaan agresif, yang berani tampil seksi dengan rok mini, dan ga pake mikir kalau diundang ke indekos yang bersangkutan. Soal keperjakaan, entah sudah ngacir ke mana. Doyan OTS, hobi NSA. Tapi sang cowok menjadi sangat berang, ketika tahu bahwa adik perempuannya berpacaran dengan cowok berkelakuan sebelas dua belas dirinya. Meskipun pada dasarnya, sang adik melakukan itu dengan kesadaran penuh, dan ternyata juga masuk dalam kategori cewek berpembawaan agresif tadi.
  • Masih dalam lingkungan keluarga. Ketika seorang ayah yang perokok, memarahi habis-habisan putranya yang kepergok merokok. Sang ayah mengeluarkan kalimat andalan: “mau jadi apa kamu? Umur segini sudah merokok!” Dari liang mulut yang sama, juga keluar asap rokok.
  • Selalu menyebut film-film Indonesia kurang bagus, namun jarang atau bahkan tidak pernah menontonnya di bioskop. Tahunya cuma menunggu YouTube atau Ganool.
  • Ada juga yang mengkritik keras gelombang hipsterisme sebagai ketidaklaziman, keanehan yang dibesar-besarkan, upaya meningkatkan eksistensi semata, kehidupan antisosial, dan sebagainya. Namun saat objek hipsterisme tadi menjadi tren, hal populer, mendadak malah menjadi simpatisan.

Ya demikianlah beberapa ilustrasi, yang entah bakal dianggap menunjukkan sikap munafik, sikap standar ganda, or simply just two different things. Seringkali membingungkan, dan kondisi ini selalu terjadi dalam kehidupan.

Memang ya, sesusah-susahnya hidup sebagai manusia, jauh lebih susah menjalaninya sebagai manusia yang bijak dan mampu bertindak tepat.

[]

Age of Ultron: Avengers Yang Terlalu Bising Dan Ramai

(mungkin ada banyak spoiler di tulisan ini, jika belum menonton sebaiknya lihat tulisan linimasa yang lain saja, pasti banyak yang belum dibaca dan lebih menarik. Jika sudah menonton–apalagi Marvel fenboi–jangan misuh-misuh ya)

avengers

Sebetulnya saya banyak berharap pada film ini. Setidaknya menyamai dengan pendahulunya. Film yang pertama ramuannya pas, enak dilihat, jalan cerita jelas, setiap karakter pun punya peran yang jelas. Tapi jika anda memang mengikuti komik Marvel dari awal pasti tidak akan ada kesulitan mengikuti jalan cerita ini. Atau mengenali para superhero yang hadir di film ini. Tapi jujur saja semoga film ini bisa melewati raihan yang telah diperoleh oleh The Fast And Furious 7, yang pendapatannya sudah tembus 1 milyar dollar sehingga Fast Furious 8 pun akan segera dijadwalkan untuk diproduksi. Sinetron Tersanjung pun harus segera melipir. Gak ngerti juga kenapa film balap-balapan bisa menyedot begitu banyak penonton. Apa karena Paul Walker sudah meninggal? Mungkin.

Entah apa yang akan ditawarkan oleh Joss Whedon, sang sutradara dan juga penulis naskah dari Avengers: The Age of Ultron, ini selain perkenalan dari Vision yang boleh diacungi jempol. Tapi yang lainnya tidak ada yang istimewa. Proses dibalik “lahirnya” Ultron sebetulnya lebih menarik untuk diulas di di film yang konon bakal menjadi film terakhir Whedon menyutradarai Avengers. Winter Soldiers, The Guardian of Galaxy atau X-Men terakhir lebih oke dari film ini.

Dari segi cerita film ini berusaha menyederhanakan cerita yang sebetulnya agak kompleks. Semuanya terkesan terburu-buru. Marvel mungkin lupa bahwa banyak penonton yang tidak mengikuti komiknya. Atau mungkin film pertamanya. Terlalu banyaknya cameo yang tidak penting pun sebenarnya jadi membingungkan. Padahal Joss Whedon diberi keleluasaan dari segi finansial (film ini menghabiskan 250 juta dollar) dan dari segi durasi film itu sendiri yang hampir menyamai film India, hampir dua jam setengah. Tapi justru dengan keleluasaan ini justru membuat Whedon terlena dan banyak memasukan karakter yang sebetulnya tidak harus muncul dan malah membuat penonton tertegun dan bertanya-tanya.

Efek yang ditimbulkan setelah menonton film ini yaitu ketika saya pipis di urinoir sambil melihat langit-langit. Lho, kenapa saya membandingkan film ini dengan Transformers ya? Two hours of noise. Jangan-jangan sutradaranya Michael Bay? Padahal saya sengaja melakukan advance booking untuk menonton film ini. Takut kehabisan tiket dan terhindar dari spoilers di ranah media sosial yang sering kali terjadi.

Tapi saya yakin film ini tetap akan laku. Amerika terlalu mencintai Avengers dan film ini baru rilis di sana awal Mei nanti. Tapi untuk melewati FF7? Saya ragu. Ini mungkin hanya karena Whedon terbebani dengan kesuksesan Avengers (2012) atau dengan akan rilisnya Dawn of Justice tahun depan dan juga film Star Wars yang saya yakin akan melewati raihan film ini dari segi pendapatan.

avengers1

“So tell me Marvel, do you bleed?” 

nb: gambar saya curi dari internet. 

8 Menu Kekinian

Trend bergulir. Ada yang berulang. Banyak juga yang ditemukan. Termasuk dalam makanan. Berikut panduan menu kekinian. Untuk pedagang silakan dicamkan. Untuk pembeli siapkan uang.

1. Apapun + Nutella.
2. Apapun + Ovomaltine.
3. Apapun + Green Tea.
4. Apapun + Red Velvet.
5. Apapun tanpa gluten.
6. Apapun organik.
7. Apapun yang mentah + garam.
8. Apapun yang disajikan dalam ruangan bertema Industrial.

image

Begini kira-kira ruang makan bertema industrial. Sumber: Google

Jalan Sunyi

large

Beruntunglah setiap manusia yang masih boleh memilih jalan hidupnya sendiri. Menikah atau lajang. Menjadi karyawan atau pengusaha. Memiliki anak atau tidak. Ke kantor naik kendaraan umum atau pribadi. Hidup sehat atau hidup enak. Mempercayai agama atau tidak. Dan semua pilihan lain yang buat sebagian manusia bukan lagi pilihan tapi paksaan atau keharusan.

Jangan keburu senang saat punya pilihan, karena menentukan pilihan pun bukan perkara mudah. Apalagi seenak perut. Kecuali hidup sendiri di dunia ini. Tak peduli dengan sekitar apalagi omongan orang. Pilihanku adalah pilihanku, pilihanmu adalah pilihanmu. Asal bisa dan berani bertanggung jawab dengan pilihannya sendiri. Tidak merepotkan dan menyusahkan orang lain.

Lebih sering, pilihan yang mengutamakan dan mementingkan diri sendiri, bisa memberikan kelegaan. Plong! Selain membawa ke sebuah jalan sepi. Jalan di mana banyak pohon rindang dan dipenuhi kicauan burung. Bunga dan buah tumbuh dengan indah di sepanjang jalan. Semua tinggal petik. Tinggal dinikmati. Tak ada yang menghalangi. Apalagi meyangkal dan memarahi.

Jalan sepi tak ada orang lain. Berjalan sendiri. Bebas menentukan kapan mau duduk sebentar untuk beristirahat, sebelum melanjutkan lagi. Sekehendak hati berlari atau merangkak. Saking sepinya tak ada lagi yang melihat. Tak ada yang mempedulikan. Seperti niatan awal ketika masuk ke jalan ini, tak perlu mempedulikan orang lain. Bahkan di banyak ruas jalan, hanya nafas sendiri yang terdengar. Suara detak jantung sendiri yang bisa menenangkan dan theurapeutic. Seperti seorang bayi yang sedang ditepok-tepok pantatnya secara ritmis sampai tenang tertidur pulas.

Bernyanyi kencang setengah berteriak pun tak ada yang mendengar. Apalagi protes.

Semuanya indah dan sesuai kata hati sampai jalan sepi itu berubah menjadi jalan sunyi. Jalannya masih sama. Tapi yang jalan yang berubah. “Listen to yourself”, “listen to your heart”, ” do whatever makes you happy”, “peduli apa kata orang”, “peduli setan apa kata orang!” dan segala petuah yang menekankan pentingnya kembali ke diri sendiri, ternyata lebih sering membuahkan rasa sunyi.

Dalam kesunyian bisa ditemukan keindahan. Keindahan yang berteman akrab dengan Ketakutan. Perlahan ketenangan tak lagi menenangkan tapi menghanyutkan. Membawa ke tempat tertinggi setinggi tingginya di langit tertinggi. Sampai tak berani melihat ke bawah lagi. Karena jatuh paling menyakitkan dan mematikan adalah jatuh dari tempat tertinggi.

Setelah berjalan sekian jauh di jalan sepi, bukan hanya rasa sunyi dan ketakutan yang bisa mendera, tapi juga hilangnya keutuhan manusia. Bukankah manusia dilahirkan untuk menjadi makhluk sosial. Yang untuk menjaga kelangsungan hidupnya, membutuhkan orang lain. Mandiri sering diartikan sebagai sendiri. Sendiri sering ditafsirkan sebagai prestasi.

Manusia diciptakan untuk bertahan, di situasi apa pun. Beradaptasi untuk kemudian melanjutkan hidupnya. Mencari keramaian di tengah kesunyian. Menemukan keriuhan di dalam kesepian. Mendengarkan suara di gema yang hening. Merayakan cinta di dalam diri sendiri.

Indah? Silakan teruskan perjalanan di jalan ini. Perlahan mata tak lagi bisa melihat walau terbuka. Karena mata perlu pancingan yang terus menerus untuk melihat. Sebelum menjadi tato yang tak lagi terlihat di tubuh pemiliknya setelah bertahun bertengger di tubuhnya. Karena telinga perlu mendengarkan beragam suara untuk bisa melatih pendengaran. Dan mulut perlu dilatih untuk berbicara sebelum menjadi gagap untuk akhirnya menjadi kelu dan bisu.

 

 

Tentang Peribahasa dan “Kuingin Menjadi Flaneur”, Seperti Ucapan Nassim Nicholas Thaleb Kepada Charles Baudelaire

Apakah di antara kita ada yang ingin bercita-cita meraih nobel? Ekonomi misalnya. Maka rajin-rajin lah menulis sesuatu yang tak dibaca siapapun,  dengan teori yang tak digunakan siapa pun, dan beri kuliah yang tak dimengerti siapa pun. Olok-olok ini disampaikan Nassim Nicholas Taleb saat hadir dalam suatu panel di Moskwa dengan salah satu pembicara Edmund Phelps, peraih Nobel Ekonomi tahun 2006.

Nassim adalah praktisi bisnis. Pernah menjadi pialang saham dan setelah bukunya terbit ia diangkat sebagai Profesor Kehormatan di New York University’s Polytechnic Institute. Sekarang menyebut dirinya sebagai flaneur – menurut Charles Baudelaire, istilah ini direkatkan pada orang yang kerjaannya berjalan berkeliling kota untuk mengalami peristiwa, bermeditasi di kafe-kafe yang tersebar di muka bumi.

Banyak orang yang mengenal Nassim sebagai penulis Fooled by Randomness dan The Black Swan. Tapi jarang orang mengenal beberapa hasil tulisan dirinya yang lain, yang lebih random, lebih dark. Salah satu judul bukunya yaitu Ranjang Prokrustes. Dalam edisi aslinya diberi judul The Bed of Procrustes: Philosophical and Practical Aphorism. 

TheBedOfProcrustes

Buku ini bukan berupa narasi. Seluruhnya melulu tentang peribahasa.

Buku ini adalah buku dimana dirinya mengaku kalah bahwa manusia memang memiliki batas pengetahuan, juga kesalahan dan bias manakala menangani hal-hal yang berada di luar bidang pengamatan, yang tak diamati, dan yang tak bisa diamati- yang tak diketahui; yang terletak di balik tabir tak tembus pandang; yang terserak berkilau bagai cahaya di atas cahaya.

Mengapa demikian?

Menurutnya, karena akal budi itu sejatinya malas. Lebih menyukai dan memilih mereduksi informasi sehingga setiap realitas yang ditemui akan diamputasi sesuai kategori yang jelas dan telah dipahami oleh pikiran sendiri. Kita jarang menunda kategorisasi dan merasakan terlebih dahulu atas apapun yang terjadi. Otak kita cenderung memaksakan narasi yang keliru dan terlalu sederhana ketimbang membiarkan tanpa narasi. Kita sejatinya memiliki “kebencian pada yang abstrak”.  Karena akal kita tak piawai menangani yang tak terjelaskan.

Maka akal sangat berpotensi menjadi alat delusi diri yang hebat. Akal kita memang tak dirancang untuk menghadapi kerumitan dan ketidakpastian linier.

Hal ini sejalan dengan pendapat (justru)  peraih nobel yang lain. Namanya Daniel Kahneman, seorang psikolog yahudi  yang meraih nobel ekonomi tahun 2002 dengan konsentrasi utamanya adalah perilaku dan cara kerja otak manusia dalam memutuskan sesuatu. Dia adalah penggagas utama bidang kajian Ekonomi perilaku. Bahagia dan rasa puas itu berbeda. Otak yang menyimpan perasaan saat mengalami dan otak yang menyimpan ingatan tentang perasaan saat mengalami itu berbeda. Jebakan nalar yang tak menyukai kerumitan, katanya.

Kembali kepada pendapat Nassim dalam bukunya. Ada ketidakcocokan antara keacakan dunia kita sekarang yang kaya informasi, dengan interaksi rumit dan intuisi kita atas peristiwa, yang berasal dari cara hidup lebih sederhana yang dihuni leluhur kita. Warisan arsitektur mental yang makin lama makin tidak cocok dengan dunia tempat kita hidup.

Akibatnya terjadilah tipu menipu ini. Memaksakan seluruh fenomena dalam kategorisasi sesuai peta yang mereka pahami. Oleh Nassim ini disebut arogansi epistemik. Dilakukan oleh orang bodoh zaman digital, yaitu mereka yang terdidik, akademisi, jurnalis, pembaca koran, sainstis mekanistis.  Mereka disebut bodoh karena kemampuan mereka yang luar biasa untuk meremehkan apa yang tak mereka lihat, yang tak bisa diamati. lalu mereka memasuki alam dan kondisi penyangkalan. Orang yang melakukan reduksi secara keliru, yang menghilangkan sesuatu yang sejatinya penting.

Bagaikan menerima tamu seorang musafir. Kita persilakan tidur di ranjang, namun dengan syarat prinsip ranjang kita harus pas. Maka ketika musafir itu, dengan panjang tubuh yang melebihi panjang ranjang tidur terlentang, kakinya menjulur. Celakanya, kita memaksakan diri demi prinsip, mengamputasi kelebihan itu. Terkadang kaki, namun lebih sering kepala yang diamputasi.

images-65

Dampak dari zaman pencerahan adalah kecenderungan kita menyalahkan dunia karena tak cocok dengan dengan ranjang rasional kita. Keinginan kita agar segala hal masuk akal bagi kita (rasionalisme) selalu bersitegang dengan kenyataan apa adanya (empirisme). Kita mengubah diri agar cocok dengan teknologi, mengubah etika demi kecocokan kita dengan pekerjaan, ingin sekali kehidupan pribadi cocok dengan teori ekonomi dan hitung-hitungan matematis, dan meminta kehidupan kita cocok dengan narasi.

Maka yang dibutuhkan saat ini adalah sikap tegar.

Tetap hadir dan merasakan sesuatu yang tak kita ketahui. Jika tidak, berarti kita rapuh. Nassim berupaya menghargai alam  yang menghadirkan ketegaran dan dalam miliaran tahun membuat yang rapuh tersisih. Orang klasik lebih tegar, katanya. Mereka menghormati yang tak diketahui. Mereka memiliki kerendah-hatian epistemik.  Orang modern lebih banyak mengalami autisme pseudosains  naif.

Lalu apa sebaiknya yang perlu dilakukan? Nassim menganjurkan agar kita memiliki sikap tiga serangkai: Keterpelajaran, Keanggunan, dan Keberanian untuk melawan kepalsuan, sikap sok pintar, dan sikap anti- seni budaya.

images-64

Mengapa?

Seni itu tegar. Seni membuat hidup layak dijalani: seni, puisi dan peribahasa.

Maka Nassim begitu mengagumi peribahasa.  Singkat, padat namun penuh makna. Ini sejalan dengan heuristis Gigerenzer dan Goldstein: ” Lebih sedikit itu banyak”.

Baginya peribahasa adalah utama. Seperti dalam Amsal dan pengkhotbah. Juga seperti Quran yang mengandung penuh peribahasa yang terkonsentrasi. Sebagai nubuat sastra bagi Nietzsche dalam Zarathustra atau anak Lebanon Utara, tetangga desa asal Nassim, bernama Kahlil Gibran.

Selain agama, dahulu katanya, peribahasa muncul dimana-mana. Dalam Simposium, yaitu pesta minum kota Athena di abad keempat sebelum masehi. Dimana semuanya yang terpelajar berkumpul, minum-minum dan bicara “hanya” cinta. Tempat orang-orang keren berbicara soal hati dan perasaan. Mereka menikmati peribahasa peribahasa Herakelitos dan Hippokrates.  Bahkan seorang budak Suriah bernama Publilius Syrus mendapat kebebasan berkat keahlian berbahasanya.

Peribahasa digunakan dalam banyak keperluan. Eksposisi, teks keagamaan, nasihat nenek pada cucu, untuk menyombong, sebagai satire, mengungkap filosofi yang tak tembus pandang, filosofi yang relatif lebih jernih,  juga gagasan yang sangat jernih. Peribahasa, begitu privat. Sesuatu yang harus diselami sendiri oleh pembaca.

Peribahasa ada bermacam-macam. dari yang kering, dan ada yang kelewat sering dipakai yang isinya adalah kebenaran penting yang sudah pernah kita pikirkan (jenis yang membuat orang cerdas bergidik membaca The Prophet Gibran); peribahasa yang menyenangkan; yang tak tak pernah kita pikirkan tapi memancing ucap “Nah”, seolah-olah mendapat penemuan penting.

Namun peribahasa paling penting adalah yang belum pernh terpikir dan perlu dibaca berkali-kali untuk disadari bahwa isinya kebenaran penting, terutama ketika sifat kebenaran terpendamnya-nya sangat kuat sehingga begitu dibaca langsung terlupa.

Peribahasa menuntut kita mengubah kebiasaan membaca kita dengan cara pembacaan secara bertahap, karena setiap peribahasa adalah satuan utuh, narasi utuh yang terpisah dari yang lain.

Nassim dengan usil mendefinisikan arti Nerd: adalah orang yang meminta kita menjelaskan sebuah peribahasa.

Bagi Nassim, peribahasa adalah suara-suara dari balik tabir tak tembus pandang. Dengan membebaskan diri dari segala batas, pemikiran dan kegiatan yang melumpuhkan bernama pekerjaan, usaha, maka unsur yang tersembunyi dalam tekstur realitas mulai menatap kita, katanya.  Dan misteri yang tak pernah terpikirkan oleh kita, muncul di depan mata.

Salam hangat,

Roy

IMG_9998

Bonus:

Pidato Dahniel Kahneman dalam forum Ted selengkapnya dalam Bahasa Indonesia:

Semua orang berbicara tentang kebahagian akhir-akhir ini. Saya meminta seseorang menghitung jumlah buku yang judul bukunya mengandung kata “kebahagiaan” dan yang telah diterbitkan lima tahun terakhir. dan mereka menyerah setelah sekitar 40 (buku), padahal masih ada lebih banyak lagi. Ketertarikan terhadap kebahagiaan sangat besar,dikalangan para peneliti. Ada banyak pembimbingan kebahagiaan. Semua orang ingin membuat orang lain lebih bahagia. Tapi meskipun begitu banyak penelitian telah dilakukan,ada beberapa jebakan nalar yang membuat hampir mustahil untuk berpikir jernih tentang kebahagian

Dan pembicaraan saya hari ini sebagaian besar mengenai jebakan-jebakan nalar itu. Ini berlaku bagi orang kebanyakan yang berpikir tentang kebahagiaan mereka sendiri, dan juga berlaku bagi kaum terpelajar yang berpikir mengenai kebahagiaan, karena kenyataannya kita sama “parah”-nya dengan orang lain. Jebakan pertama adalah keengganan untuk mengakui kerumitan. Kenyataannya kata kebahagiaan itu tidak terlalu berarti lagi karena kita menggunakannya untuk terlalu banyak hal yang berbeda Saya pikir kita bisa batasi maknanya menjadi hanya satu arti tertentu tetapi secara umum ini akan menjadi suatu pengorbanan dan kita harus menerima pandangan yang lebih kompleks tentang arti kesejahteraan. Perangkap kedua adalah adanya kerancuan antara pengalaman dan ingatan:pada dasarnya ini adalah soal merasa bahagia dalam hidup anda dan merasa senang tentang hidup anda. atau merasa senang dengan hidup anda Dan kedua hal itu merupakan dua konsep yang sangat berbeda, dua hal itu adalah ganjalan dalam teori kebahagiaan. Dan yang ketiga adalah ilusi yang timbul karena pemusatan perhatian, dan kenyataan pahit bahwa kita tidak mampu memikirkan apapun yang berpengaruh pada kesejahteraan tanpa membiaskan apa yang penting. Jadi ini benar-benar sebuah perangkap nalar. Yang tidak bisa dihindari

Sekarang, saya akan mulai dengan sebuah contoh tentang seseorang yang melakukan tanya jawab setelah kuliah saya. [tidak jelas…] Dia bilang dia pernah mendengarkan sebuah simponi yang musiknya luar biasa indah tapi diakhir rekaman musik itu, ada cacat suara yang sangat jelek. Dan ia menambahkan dengan sangat emosional, hal itu merusak kesan keseluruhannya. Padahal tidak demikian. Apa yang rusak adalah ingatan tentang kesan itu. Ia tetap mengalami pengalaman itu. Ia menikmati musik yang luar biasa indah selama 20 menit. Yang hilang percuma karena sebuah ingatan; ingatan yang rusak, dan hanya ingatan rusak itulah yang ia simpan.

Apa yang ditunjukkan hal itu, sebenarnya, adalah mungkin kita memikirkankan diri kita dan orang lain dalam dua sisi yang berbeda. Kita mempunyai sisi yang mengalami, yang hidup di saat ini dan menyadari saat ini, yang mampu merasakan kembali masa yang telah berlalu padahal sisi itu hanya memiliki saat ini. Sisi yang mengalami ini yang membuat seorang dokter– biasalah, ketika dia bertanya, “Sakit tidak kalau saya sentuh disini?”Kemudian ada sisi yang mengingat, sisi yang mengingat ini yang hitung-hitungan, dan yang memelihara cerita hidup kita, yang membuat seorang dokter datang dan bertanya, “Apa yang kamu rasakan akhir-akhir ini?” atau “Bagaimana perjalanan anda ke Albania?” atau hal lain semacam itu Keduanya adalah hal yang sangat berbeda, Sisi yang mengalami dan sisi yang mengingat Ketidakmampuan membedakan keduanya adalah bagian dari kerancuan dalam teori kebahagiaan.

Sisi yang mengingat ini, adalah pendongeng. Dan sebenarnya berawal dari respon dasar ingatan kita– yang mulai dengan seketika. Kita tidak hanya bercerita ketika kita ingin bercerita. Ingatan kita senantiasa bercerita, apa yang kita simpan dari semua pengalaman kita adalah sebuah cerita. Dan ijinkan saya mulai dengan sebuah contoh. Ini adalah sebuah penelitian lama. Tentang pasien-pasien yang menjalani prosedur yang menyakitkan (pemeriksaan via dubur). Saya tidak akan perjelas. Sekarang prosedurnya sudah tidak begitu menyakitkan. namun masih menyakitkan ketika penelitian itu dilaksanakan pada tahun 1990-an. Pasien-pasien diminta melaporkan sakit yang mereka rasakan setiap 60 detik. Pada dua orang pasien. Itu adalah rekam jejak mereka. Kalau ada yang bertanya, “Siapa yang lebih merasakan sakit?” dan itu adalah sebuah pertanyaan sederhana.Sebenarnya, Pasien B lebih merasakan sakit. Proses kolonoskopi nya lebih panjang, dan dari setiap menit rasa sakit yang dirasakan oleh Pasien A Pasien B lebih lama merasakannya.

Tapi, bila ada pertanyaan lain: “Penderitaan sebesar apa yang pasien-pasien ini pikir mereka rasakan ?” Inilah kejutannya: Ternyata Pasien A memiliki ingatan lebih buruk tentang proses kolonoskopi dibanding Pasien B. Ada perbedaan cerita tentang proses kolonoskopi dan karena bagian paling kritis adalah bagaimana ceritanya berakhir — dan memang kedua ceritanya sendiri biasa-biasa saja — namun salah satu dari cerita ini meninggalkan bekas… (tertawa) salah satu dari cerita ini meninggalkan bekas lebih dalam dibanding yang lain. Dan cerita yang lebih berbekas adalah ketika rasa sakit terasa pada puncaknya di penghujung proses. Dia menjadi cerita yang buruk. Bagaimana kami mengetahuinya? Karena kami bertanya pada pasien-pasien itu sehabis proses kolonoskopi,dan bertanya lagi jauh setelah prosesnya selesai, “Seburuk apakah keseluruhan proses?”dan apa yang dalam ingatan A jauh lebih buruk daripada yang di ingatan B.

Disini ada konflik tajam. antara sisi yang mengalami dan sisi yang mengingat. Dari sudut pandang sisi yang mengalami, tentunya, B yang lebih menderita. Sekarang, apa yang bisa dilakukan terhadap pasien A, dan kami sungguh-sungguh melakukan eksperimen klinis,yang sudah pernah dilakukan dan terbukti berhasil, kita sebenarnya bisa memperpanjang proses kolonoskopi pasien A dengan membiarkan selangnya tetap didalam tanpa terlalu banyak menggoyangnya. yang akan tetap menyebabkan pasiennya menderita, namun hanya sedikit dan sakitnya jauh lebih berkurang dari sebelumnya. Dan apabila hal ini dilakukan selama beberapa menit, kalian telah membuat sisi yang mengalami dari Pasien A merasa lebih parah, Dan membuat sisi yang mengingat dari Pasien A merasa lebih baik,karena sekarang kita telah memberikan Pasien A cerita yang lebih baik tentang pengalamannya. Apa hakekat sebuah cerita? Dan ini berlaku untuk semua cerita yang diceritakan oleh ingatan pada kita, dan juga berlaku untuk semua cerita yang kita karang.Hakekat sebuah cerita adalah perubahan. perubahan besar antara momen dan akhir cerita.Akhir cerita adalah sangat penting dan dalam hal ini, akhir cerita menjadi penentu.

Sedangkan, sisi yang mengalami hidup terus menerus tanpa akhir. Ia memiliki momen-momen pengalaman sambung menyambung Lalu, Apa yang terjadi dengan momen-momen itu? Jawabannya cukup jelas. Mereka hilang untuk selamanya. Maksud saya, hampir semua momen hidup kita — dan saya hitung — dimana keberadaan kejiwaan adalah sepanjang kira-kira 3 detik. Yang artinya adalah, kalian tahu, dalam satu kehidupan terdapat sekitar 600 juta (keberadaan psikologis) Dalam sebulan terdapat 600.000. Hampir semua tidak meninggalkan jejak. Hampir semua terabaikan. oleh sisi yang mengingat.Namun, meski begitu, kita tetap merasa bahwa mereka adalah penting, dan yang terjadi pada saat mengalami momen-momen tersebut adalah hidup kita. Terhadap sumberdaya terbatas yang kita habiskan ketika kita masih dibumi ini. Cara menghabiskannya tampak menjadi seusatu yang relevan, namun cerita itu bukan cerita yang disimpan oleh sisi yang mengingat.

Jadi kita memiliki sisi yang mengingat dan sisi yang mengalami. dan keduanya sangat berbeda satu dengan lainnya. Perbedaan terbesar antara mereka adalah dalam memaknai waktu. Dari sudut pandang sisi yang mengalami, ketika berlibur, dan minggu kedua sama bagusnya dengan minggu pertama, maka pengalaman liburan selama dua minggu dua kali lebih baik dari pada liburan satu minggu. Itu tidak berlaku bagi sisi yang mengingat. Bagi sisi yang mengingat, liburan selama dua minggu tidak jauh berbeda dengan liburan selama satu minggu karena tidak ada penambahan ingatan baru. ceritanya belum berubah. Dalam hal ini, waktu merupakan variabel yang kritis yang membedakan sis yang mengingat dari sisi yang mengalami Waktu hanya sedikit berpengaruh pada cerita ini.

tapi sisi yang mengingat melakukan lebih dari sekedar mengingat dan bercerita. Sisi yang mengingatlah yang sebenarnya membuat keputusan karena, bila kalian memiliki seorang pasien yang pernah… mengalami dua proses kolonoskopi dengan dua dokter yang berbedadan sedang memutuskan untuk memilih (dokter) yang mana, yang memilih adalah sisi yang mempunya ingatan yang lebih menyenangkan dan dengan cara itulah dokter tersebut terpilih. Sisi yang mengalami tidak memiliki suara dalam hal ini. Kita sebenarnya tidak memilih berdasarkan pengalaman-pengalaman. Kita memilih berdasarkan ingatan dari pengalaman-pengalaman. Bahkan ketika kita berpikir tentang masa depan, kita biasanya tidak menganggap masa depan kita sebagai pengalaman. Kita menganggap masa depan kita sebagai ingatan yang kita harapkan. Dan pada dasarnya memang tampaknya, kita dijajah oleh sisi yang mengingat, dan kalian bisa berpikir bahwa sisi yang mengingat seperti menyeret sisi yang mengalami kedalam pengalaman-pengalaman yang tidak dibutuhkan sisi yang mengalami.

Saya merasa begitu ketika kita pergi berlibur dan ini yang biasanya sering terjadi, alasan kita berlibur sebagian besar karena demi memuaskan sisi yang mengingat itu. Dan ini memang agak kurang masuk akal menurut saya Maksud saya, seberapa banyak sebenarnya ingatan yang kita pakai ? Ini salah satu penjelasan tentang besarnya dominasisisi yang mengingat ini Dan ketika saya memikirkan ini, saya teringat pada liburan kami di Antartika beberapa tahun lalu, yang merupakan liburan terbaik yang pernah saya alami, dan secara relatif saya lebih sering memikirkan liburan itu dibanding liburan-liburan yang lainSaya mungkin hanya menggunakan ingatan saya tentang liburan selama tiga minggu itu, mungkin, sebanyak kurang lebih 25 menit dalam 4 tahun terakhir. Jika saya membuka folder yang berisi 600 foto, saya mungkin akan menghabiskan 1 jam waktu tambahan. Nah, liburannya tiga minggu, tapi ingatannya paling lama satu setengah jam. Kelihatannya ada suatu keanehan. Mungkin ini terdengar sedikit berlebihan, mengenai begitu mnimnya keinginan saya untuk mengkonsumsi ingatan, namun, meskipun saya melakukan lebih banyak lagi, akan tetap muncul sebuah pertanyaan. Mengapa kita sangat menekankan ingatan dibandingkan pengalaman?

Jadi mari kita lakukan sebuah percobaan terhadap pikiran kita Bayangkan jika liburan kalian selanjutnya anda tahu pada akhir liburan semua foto-foto kalian akan rusak, dan kalian akan meminum obat penghapus ingatan sehingga kalian tidak mengingat apa-apa. Nah, apakah kalian akan memilih liburan yang sama? (Tertawa) Meski anda memilih liburan lain, akan tetap terjadi konflik antara kedua sisi itu. dan kalian butuh memikirkan jalan keluar dari konflik itu, dan sebenarnya tidak semua mudah dimengerti karena, jika kalian berpikir berdasarkan waktu, maka kalian akan mendapat satu jawaban. Dan bila kalian berpikir berdasarkan ingatan, kalian juga bisa mendapatkan jawaban yang lain. Kenapa kita memilih liburan yang kita lakukan, hal ini adalah sebuah masalah yang kita hadapi sebuah pilihan diantara kedua diri kita

Saat ini, kedua diri kita memunculkan dua teori kebahagiaan. Tetapi terhadap diri kita, kedua konsep kebahagiaan itu hanya bisa diterapkan salah satu dari konsep itu. Jadi anda bisa tanya tentang: Seberapa bahagia sisi yang mengalami itu ? Dan anda bisa tanya tentang: Seberapa bahagia momen-momen dalam hidup sang sisi yang mengalami ? Dan semua itu — kebahagian dalam tiap momen adalah sebuah proses yang rumit. Emosi-emosi apa saja yang bisa diukur? Dan, ngomong-ngomong, sekarang setelah kita punyapemahaman yang lumayan bagus tentang kebahagiaan dari sisi yang mengalami sejalan dengan waktu. Bila kalian bertanya tentang kebahagiaan dalam sisi yang mengingat akan menjadi suatu hal yang sangat berbeda. Ini bukan mengenai seberapa bahagia kehidupan seseorang ini adalah mengenai seberapa puas seseorang ketika ia memikirkan tentang hidupnya. Hal yang sangat berbeda. Siapa saja yang tidak dapat membedakan hal itu, akan mengacaukan penelitian tentang kebahagiaan, dan saya adalah bagian dari peneliti kesejahteraan yang sudah lama ikut mengacaukan pelajaran mengenai kebahagiaan karena hal itu.

Keberadaan dari kebahagiaan sisi yang mengalami dan kepuasan sisi yang mengingat telah diakui secara luas dalam beberapa tahun terakhir, dan saat ini ada upaya-upaya untuk mengukur keduanya secara terpisah, Gallup Organization mengadakan sebuah pollingdimana setengah juta orang telah diwawancara tentang apa opini mereka tentang hidup mereka sendiri dan tentang pengalaman mereka. Dan telah ada upaya-upaya lain di jalur yang sama Jadi beberapa tahun terakhir ini kita telah mulai mempelajari tentang kebahagiaan dalam dua diri kita. Dan pelajaran utama yang kita dapat menurut saya,adalah keduanya sangat berbeda. Kalian dapat mengetahui seberapa puas seseorang terhadap hidup mereka. tapi itu tidak memberikan pencerahan apa-apa tentang seberapa bahagia mereka dalam menjalani hidupnya, dan sebaliknya. Hanya untuk memberikan kalian sedikit korelasi, korelasi ini mengenai 5 Apa artinya bila kalian bertemu seseorang,dan anda diberitahu, oh ayahnya setinggi 6 kaki, Tapi apa yang kalian tahu tentang tingginya? Kalian mungkin mengetahui sesuatu tentang tinggi orang itu, namun ada banyak ketidakpastian. Sama tidak pastinya ketika saya memberitahu kalian bahwa ada orang yang memberi nilai 8 tentang hidupnya dalam skala 1 sampai 10, Ada banyak sekali ketidakpastian mengenai seberapa bahagia sisi yang mengalami dalam diri mereka Jadi korelasinya rendah.

Kita tahu tentang sesuatu yang mengontrol kepuasan dalam kebahagiaan diri. Kita tahu bahwa uang itu sangat penting, tujuan adalah sangat penting. Kita tahu bahwa kebahagiaan pada dasarnya adalah merasa puas dengan orang-orang yang kita sukai, menghabiskan waktu dengan orang-orang yang kita sukai. Ada banyak kesenangan-kesenangan lain, namun hal ini mendominasi. Jadi, bila kalian ingin memaksimalkan kebahagiaan dalam dua diri, kalian akan berakhir melakukan dua hal yang sangat berbeda. Pada dasarnya yang saya katakan disini adalah kita seharusnya tidak usah memikirkan kebahagiaan sebagai sebuah pengganti kesejahteraan Itu adalah dua hal yang berbeda.

Sekarang, singkatnya, alasan lain kita tidak dapat berpikir jernih mengenai kebahagiaankarena kita tidak memperhatikan hal yang sama ketika kita berpikir tentang kehidupan, dan ketika kita menjalani hidup. Jadi, kalau kalian menanyakan pertanyaan sederhana tentang seberapa bahagia orang-orang di California, kalian tidak akan mendapat jawaban yang tepat. Ketika kalian menanyakan hal itu, kalian berpikir orang-orang pasti lebih bahagia di California, dibandngkan, sebut saja, orang yang hidup di Ohio. (Tertawa) Dan yang terjadi adalah ketika kalian berpikir tetang hidup di California, kalian memikirkan kesenjangan yang ada antara California dan tempat-tempat lain, dan kesenjangan itu, sebut saja, ada dalam iklim. Namun, ternyata iklim tidak begitu penting bagi sisi yang mengalami dan bahkan tidak seberapa penting bagi cerminan diri yang memutuskan seberapa bahagia seseorang itu. Sekarang, karena cerminan diri itu lebih berkuasa, kalian mungkin akan memutuskan — beberapa orang mungkin akan memutuskan pindah ke California. Dan menarik untuk diikuti apa yang kemudian terjadi pada orang-orang yang pindah ke California dengan harapan lebih bahagia. Sisi yang mengalami dari diri mereka tidak akan menjadi lebih bahagia. Kita tahu itu. Namun satu hal akan terjadi. Mereka pikir mereka lebih bahagia, karena, ketika memikirkan kebahagiaan mereka teringat pada seberapa buruk iklim di Ohio. Dan mereka akan merasa kalau mereka membuat keputusan tepat.

Akan sangat sulit untuk berpikir jernih tentang kesejahteraan, dan saya harap saya telah memberikan kepada kalian gambaran kesulitan itu.

Terima kasih.

Style is Forever

People watching sambil duduk di bagian luar sebuah kafe atau restoran adalah salah satu kegiatan kegemaran saya ketika berkunjung ke negeri orang. Terutama kalau saya sedang ada di kota-kota Eropa yang penduduknya terkenal stylish. Begitu pun ketika di Milan beberapa minggu yang lalu, senang rasanya menyesap kopi atau minuman apa lah sambil memerhatikan orang lalu lalang. “Kalau kataku di sana lebih gaya kaum prianya daripada wanita, kak” seorang teman meninggalkan komentar di salah satu akun social media saya. Setelah saya perhatikan, ternyata memang benar. Tetapi ada yang menarik juga saya perhatikan; ketika seorang perempuan sudah cukup berumur, mereka malah terlihat sangat gaya. Memang tidak terlalu mencolok atau menarik perhatian berlebihan, tetapi umumnya mereka mengenakan jaket atau blazer dengan potongan rapi dan pas, baju dalaman yang tidak neko neko tetapi neckline sangat sesuai bentuk tubuh, rok atau celana yang jahitannya terlihat rapi dan sepatu dengan ujung lancip, baik kitten heels, sol datar maupun hak sedang. Menyenangkan sekali dilihatnya.e94c97463f156275057836521535b0c2

Beberapa tahun yang lalu ketika saya menceburkan diri di media yang cukup banyak membahas fashion dan tren, saya sempat silau. Dikelilingi oleh para editor fashion, bertemu dengan desainer maupun tokoh-tokoh ritel fashion membuat saya ingin mengikuti apa yang sedang in saat itu. Tetapi ketika mencapai usia tertentu, saya mulai berpikir kalau mengikuti tren sepertinya sudah kurang sesuai. Saya mulai memerhatikan perempuan-perempuan stylish yang sudah berumur dan mempelajari formula mereka.

Mengenakan pakaian yang kita merasa nyaman ternyata penting; bagaimana kita bisa percaya diri kalau tidak merasa nyaman? Berlaku pula untuk sepatu. Kalau merasa bukan tipe yang mengenakan hak tinggi, sepatu model maskulin seperti loafers atau brogue yang bermutu baik juga sangat pantas digunakan, terutama untuk gaya androgini. Peraturan berikutnya yang saya tengarai adalah; busana dengan kualitas baik, tidak perlu kuantitas banyak. Kalau mampu membeli basic pieces dengan harga cukup tinggi lebih baik, dan pastikan mereka dapat dipadupadankan dengan apa saja. Salah duanya bisa jadi jaket atau blazer tailored berkualitas baik sesuai dengan bentuk tubuh dan kemeja katun dan sutra. Perlu diperhatikan juga, ketika mencapai usia tertentu, frill, renda dan perpaduannya dengan warna pastel tak lagi membuat kita terlihat girly, justru tampak lebih tua. Siluet tegas dan sederhana selalu lebih baik, apapun acaranya.

2235954b551dbf63dc2ca8e352ee16f5

Tidak hanya soal busana, terlihat pantas di usia ‘dewasa’ juga berarti harus menjaga agar potongan rambut selalu rapi dan tidak ada uban yang nampak (kecuali kalau memang memutuskan mewarnai rambut abu-abu, yang saya akui sempat saya pertimbangkan). Selain itu riasan juga harus strategis, karena warna kulit tak sesegar ketika usia (lebih) muda, tetapi juga tidak perlu menggunakan warna berlebihan, cukup fokus di satu bagian, seperti bibir ATAU mata. Oh ya, ada satu lagi poin favorit saya; jadikan sunglasses aksesori tidak ada matinya yang bisa menyembunyikan banyak hal (baca: kerutan), bahkan semua hal.STREET STYLE RED LIPSTICK THEURBANSPOTTER 3

Fashions fade, but style is forever, kata Yves Saint Laurent. Mungkin tak usah muluk-muluk ingin segaya Iris Apfel atau seelegan Anna Wintour, tapi tetap menjadi diri sendiri tanpa harus menolak kenyataan usia saja sepertinya sudah cukup jadi lifegoal.

(Gambar diambil dari Fashion Over 50 Street Style Pinterest)

Yang Pergi, Yang Kembali

Pernah melihat meme gambar orang memegang koper, lalu ada tulisan “Once a Year, Go to A Place You’ve Never Visited Before”? Kurang lebih seperti itu tulisannya. Katanya quote itu berasal dari ucapannya Dalai Lama, walaupun keabsahannya diragukan. Apalagi Dalai Lama sepertinya jarang traveling.

Dan buat orang-orang yang sering bepergian, quote ini seakan jadi mantra untuk memvalidasi keinginan menjelajah bagian dunia yang belum pernah dikunjungi. Sah-sah saja memang. Terlalu kecil rasanya apabila kita hanya dikungkung kamar, rumah, jalanan menuju tempat kerja, kafe tempat ketemuan, bioskop tempat kencan, dan makam para leluhur. Sekedar pergi sejenak dari rutinitas ke tempat asing akan membebaskan pikiran kita.

Namun kalau kita ternyata pergi ke tempat yang sudah pernah kita kunjungi sebelumnya, apa kita melanggar ucapan Dalai Lama tersebut? Lha, emang Dalai Lama bapak saya?

Seperti yang sudah pernah saya tulis 2 minggu lalu di sini, kebiasaan saya menghabiskan ulang tahun adalah dengan pergi ke suatu tempat. Tidak harus tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, karena beberapa tahun lalu, menghabiskan sore hari saat ulang tahun di pantai Parangtritis yang terakhir saya kunjungi waktu kecil pun, pernah juga dilakukan.

Tahun ini, salah satu kota yang saya singgahi dalam perjalanan birthday trip adalah Berlin. Kota tempat saya mendarat pertama kali ini bukanlah kota yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Sekitar lima tahun lalu, saya sempat menghabiskan waktu cukup lama di sini. Alhasil, sempat terbersit keraguan, mau ngapain ya dua hari di sini nanti?
Apalagi pemandangan di luar bandara Tegel di pinggiran kota Berlin masih terlihat sama. Mulai dari arah petunjuk jalan ke tengah kota, truk-truk yang melintas, sampai pohon dan awan yang menaungi hari, semua masih terlihat sama. Strange. Dulu datang waktu musim dingin, sekarang datang di musim semi.

Namun ternyata keraguan itu langsung sirna.
Pertama, saya menginap di Berlin di rumah seorang teman dekat yang bekerja di sana, dan mempunyai dua orang anak balita. Jadilah saya mengisi waktu dengan berceloteh bersama mereka, menebak gambar coretan anak umur 2 tahun yang bisa saja berubah (hari ini bilang “ini gambar penguin”, besoknya bilang “ini gambar pesawat”), sampai ikut mengantar ke taman bermain sejenis pre-school, dan melihat kebiasaan orang tua lainnya saat mengantar anak mereka. Mungkin kalau saya memutuskan untuk tidak singgah di kota ini, belum tentu saya mengalami kejadian-kejadian di atas.

Kedua, sepanjang jalan dari airport menuju rumah teman tersebut, saya melihat lagi kota Berlin yang tidak banyak berubah, terutama dari segi infrastruktur.
Malah waktu melintas daerah Potsdamerplatz, saya cuma membatin, “Oh, itu kantor Berlinale. Oh, itu Dunkin’ Donuts tempat quick breakfast pake kupon satu donat dan satu kopi € 1.5 dulu. Oh itu Alexandra tempat makan siang makanan Asia yang ngantrinya naujubilah.”
Lalu tiba-tiba, saat melintas kompleks museum dan National Gallery, mata saya melihat spanduk yang letaknya cukup jauh. Namun dari sisi kanan jendela mobil, saya bisa melihat gambar perempuan dengan topeng di mata, lalu di sebelahnya ada tulisan “Mario Testino In Your Face Exhibition” dalam warna hitam dan merah. Sontak saya berpikir, “Ha? Ada pameran foto Mario Testino? Fotografer selebriti itu?”

Begitu sampai di tempat menginap, saya buka laptop, Google, dan ternyata benar, ada pameran foto tersebut. Beli tiket online (diskon € 1 buat si donat), lalu besok pagi saya bergegas ke pameran tersebut.
Dua lantai dengan masing-masing empat lorong panjang dihiasi oleh foto-foto selebritis dunia hasil imajinasi gila Mario Testino yang bisa mengubah Kate Winslet menjadi Elizabeth Taylor, Jennifer Lopez menjadi petinju macho, Kate Moss seperti Maria yang perawan, dan masih banyak lagi. Lengkap dengan panduan audio visual di sebelas titik foto utama yang kita bisa dengar dan lihat videonya, menghabiskan dua sampai tiga jam di pameran ini seakan tidak berasa apa-apa.

Mario Testino: In Your Face (photo by Nauval Yazid)

Mario Testino: In Your Face (photo by Nauval Yazid)

Lalu saat panggilan perut untuk makan siang sudah berbunyi, saya melangkah keluar dari Kulturforum termpat pameran tersebut diadakan. Saat berjalan menuju tempat pemberhentian bis, tiba-tiba saya melihat di sisi kiri saya ada tulisan “Ken Adam’s Film Design: Bigger than Life”. Tulisan ini terdapat di Filmmuzeum. Awalnya, saya malas ke tempat ini, karena sudah pernah berkunjung sampai ke gudang tempat mereka menyimpan film. Tapi tulisan di spanduk ini membuat saya penasaran:
– ada eksibisi film desain? Wah, ini jarang sekali diadakan!
– siapa sih Ken Adam? Taunya cuma nama samaran karakter Joey Tribiani di serial “Friends”.

Makan siang ditunda, dan saya pun masuk untuk membeli tiket pameran ini. Ternyata Ken Adam, atau Sir Ken Adam, adalah production designer peraih Academy Awards, BAFTA Awards, dan penghargaan film bergengsi lainnya untuk karya-karyanya di banyak film-film ternama. Bahkan kita bisa memegang buku sketsa desainnya untuk film The Last Emperor. Kita bisa mellihat dari dekat rancangan kapal selam untuk film-film James Bond, seperti You Only Live Twice atau Moonraker yang dia ciptakan. Prototipe kapal luar angkasa untuk film Star Trek yang pertama pun dia buat.

Ken Adam's Film Design: Bigger than Life (photo by Nauval Yazid)

Ken Adam’s Film Design: Bigger than Life (photo by Nauval Yazid)

Benar-benar pengalaman yang menakjubkan. Hanya dalam dua kali dua jam, saya dibawa masuk ke dunia yang penuh dengan sensasi artistik yang selama ini hanya kita lihat dari jauh lewat majalah dan film. Menatap karya seni dari dekat, beberapa sentimeter di depan mata dalam ukuran yang besar membuat kita bisa mengapresiasi dan menikmati seni seutuhnya.

Dan itulah seni traveling tanpa rencana. Seperti Leila pernah bilang sebelumnya, bahwa “sometimes the best traveling plan is the one without any plans”, maka saya mengamini ucapan tersebut.

Selalu ada sesuatu yang baru di tempat yang lama tidak kita kunjungi. Pikiran dangkal saya selalu berkata, bahwa kekayaan alam akan selalu ada di situ sampai kapanpun. Tapi pertunjukan, pameran, atau pergelaran yang sifatnya sementara, tidak akan selalu ada ketika kita akan kembali. Mungkin ini yang dinamai dengan “live the moment” saat bepergian. Entahlah. Toh saya bukan Dalai Lama yang petuahnya bisa dijadikan quote berujung meme.

Oh, dan satu lagi.

Satu hari tersebut saya akhiri dengan menyeruput triple espresso shots latte di sebuah kedai kopi ternama The Barn. Dan menurut teman saya, jalan Auguststrasse tempat kedai kopi ini berada adalah daerah hipster.

The Barn (photo by Nauval Yazid)

The Barn (photo by Nauval Yazid)

Ealah mak, lima tahun lalu, mana ada kata “hipster”?!

Masih Hal yang Sama

Kita baru Kartini-an lagi kemarin. Momen yang–bagi sebagian orang–dirasa tepat untuk kembali berbicara tentang perempuan dan keperempuanannya di Indonesia, baik yang setuju maupun menolak apa pun itu lewat beragam alasannya. Bukan cuma pembahasan antara laki-laki dan perempuan, bahkan juga antara sesama laki-laki, maupun sesama perempuan. Sebab ada anggapan, hanya aktivis saja yang saban hari konsisten berbicara tentang topik ini; memang kerjaannya. Terserah mazhab pikirnya.

Jikalau saya boleh menarik kesimpulan secara diskursif, topik bahasan yang barangkali sudah mencuat sejak pertama kali manusia mengenali perbedaan visual antara penis dan vagina ini, pada dasarnya hanya beranjak dari satu hal: laki-laki dan perempuan tidak sama. Itu saja bukan? Dari situ, seiring perkembangan peradaban manusia di seluruh penjuru dunia, bahasan ini ketambahan perspektif aneka bidang, dibikin rumit dan seringkali tak terjangkau, mbulet ra karu-karuan. Ketidaksamaan antara laki-laki dan perempuan tak lagi sekadar urusan hayati, melainkan dibakukan dalam konsensus sosial kemasyarakatan, kaidah religius, ekonomi dan ketenagakerjaan, pendidikan, kesehatan, hiburan, seni, serta masih banyak lagi. Namun sayangnya, semua pembahasan itu kerap menempatkan perempuan dalam posisi yang pantas didiskreditkan. Meskipun tak sedikit perempuan yang akhirnya mampu memanfaatkan diskredit tersebut, untuk tampil lebih kuat, lebih tangguh, dan lebih digdaya ketimbang banyak laki-laki.

Sampai sejauh ini, saya masih yakin bahwa tidak ada yang lebih unggul (superior) maupun lebih rendah (inferior) dalam bahasan soal perbedaan fisiologis antara laki-laki dan perempuan. Kedua jenis manusia ini setara dalam segala perbedaannya. Itu saja. Akan tetapi, mungkin sejak Hawa terkena bujukan setan dan mengajak Adam melanggar perintah Tuhan bersama-sama sampai diusir jadi penghuni bumi, atau ketika Pandora membuka kotak derita yang melepaskan segala bentuk duka ke dunia, seolah-olah dimunculkan kesan bahwa perempuan adalah pembawa malapetaka. Semenjak saat itu, perbedaan antara laki-laki dan perempuan terus berubah. Dari dua dataran yang terpisah jurang, menjadi dua permukaan yang terpisah tebing. Hasilnya: “perempuan tidak boleh begini!”, “perempuan enggak perlu begitu!”, “buat apa perempuan begitu?”, “dasar perempuan!”, dan sebagainya tanpa melewati proses yang adil terlebih dahulu. Pengebirian kehendak dan pengerdilan. Lagi-lagi disayangkan, banyak perempuan yang kadung tumbuh berkembang dengan pola pikir seperti itu, baik yang diajarkan ayah maupun ibu, sehingga menjadikannya makhluk yang “kalah sebelum berperang” melawan keadaan. Berikut beberapa di antaranya.

  • Perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, karena nanti bakal jadi istri juga, seorang ibu rumah tangga yang tugasnya cenderung domestik.
  • Perempuan harus bersikap nrimo, pasrah terhadap apa yang ditentukan.
  • Perempuan tidak boleh mengejar, tapi harus jadi yang dikejar. Kenapa ada istilah “diperistri” namun tak ada “dipersuami”? Tidak, ini tidak berbicara soal siapa yang membayar maskawin, uang susu, dan objek transaksi kepada siapa.
  • Perempuan tidak boleh bertato.
  • Perempuan harus jadi ibu rumah tangga, biar urusan pendapatan menjadi tanggung jawab suami.
  • Perempuan harus menikah, melahirkan, dan dihinakan bila tidak memberi ASI.
  • Perempuan harus melayani suami, termasuk secara seksual. Sementara para laki-laki belum tentu mampu, atau mau peduli dengan kepuasan sang istri.
  • Dalam banyak kasus, ada perempuan terang-terangan mendapati suaminya berselingkuh. Namun lebih memilih tetap bertahan sambil sakit hati ketimbang berani memutuskan berpisah dan berdiri di atas kaki sendiri.
  • Perempuan dianggap sebagai sumber godaan, menjadi penyebab atas pelecehan yang dialaminya sendiri (what a nonsense!).
  • Perempuan yang bukan perawan dianggap tidak suci lagi. Padahal ada laki-laki yang “sukses” memperdaya, dan dianggap berhasil membuktikan kelelakiannya.
  • Ada bidadari di surga, lalu mana bidadara-nya? Lagian, terasa agak dangkal kalau merendahkan kebahagiaan surgawi ke tingkat paling primordial, berupa kenikmatan yang diperoleh tak jauh-jauh dari lubang.
  • (silakan tambah sendiri…)

Lalu, apa tujuan dari tulisan Linimasa hari ini? Bukan. Bukan untuk menumbukkan antara Feminisme dan Machoisme–yang cenderung lebih berbentuk klub untuk suka ria bersama, bukan juga untuk mengobarkan pertikaian pikiran antara siapa pun. Begitu juga dengan tulisan-tulisan bertopik sama sebelumnya, yang bisa Anda baca kembali di daftar arsip.

Anda perempuan atau laki-laki, saya (atau kami) tidak ngurusi. Anda setuju atau menentang konsepsi soal emansipasi melampaui jenis kelamin dalam arti luas, saya (atau kami) tak terlampau peduli. Yang jelas, perbedaan antara perempuan dan laki-laki itu beranjak dari urusan fisiologis. Perbedaan yang tidak membuat salah satu berkedudukan lebih tinggi ketimbang lainnya. Perbedaan yang tidak menghilangkan kewajiban untuk saling menghormati dan menghargai. Perbedaan yang tidak memangkas kebebasan pribadi untuk memilih dan menentukan sikap dalam hidup selama tidak melanggar kepatutan universal. Perbedaan yang tetap melandasi empati. Perbedaan yang tetap memanusiakan manusia lainnya.

Mengutip kata-kata seorang kawan:

Untuk wanita Indonesia…

Ingat bahwa tidak ada hak masyarakat memaksamu, menyuruhmu, menilaimu atau mengarahkanmu ke suatu standar tertentu. Bukan karena masyarakat tidak baik. Tapi karena mereka tidak pernah serius menilai dan menghakimi para laki-laki.

Dan itu tidak adil.

Tambahan dari saya, omongan masyarakat, cibiran orang lain tidak bakal bermanfaat apa-apa dalam hidup Anda. Cuma bikin lelah, dan sedikit memberikan bumbu drama bagi Anda yang memerlukannya. Tapi ya gitu, kalau dicibir orang rasanya enggak enak, cengli dong kalau tidak mencibir orang lain juga. 🙂

Ya, walaupun pada akhirnya, suka-suka Anda mau setuju dengan isi paragraf sebelum ini atau tidak.

[]

Turun Salju di Jakarta

Siang ini entah kenapa terasa begitu dingin, bersaljukah Jakarta tercinta? Dalam setiap kesempatan aku mendamba turunnya salju di kota metropolitan, semua jadi putih. Sudirman putih. Senayan putih. Tanah Abang putih, rumahku putih. Dan bisa kukenakan kacamata salju pemberian kawanku ini di Jakarta, dan bisa kukenakan mantel bulu cantik ini di Jakarta.

Kupandangi sekali lagi kaca jendela. Semua masih sama saja. Jakarta tetap dalam multiwarna. Hanya hujan turun begitu derasnya. Terjebak di dalam rumah. Hujan ini tidak memberikan sela sedikitpun untuk melempar pandang jauh kedepan, bagaimana aku bisa berjalan? Aku mau keluar.

Baiklah! aku bukan manusia kalah. Kacamata ini kupakai, mantel ini, sarung tangan, dan sepatu boot; semua kukenakan seperti musim salju di bumi belahan utara. Kupantulkan diriku di depan cermin, ya tuhan! seperti beruang madu berambut keriting dan buta.

Tuhan lihatlah! Kau pasti terkecoh. Kubuat ini diluar jalur aturanmu, dan kau tak bisa memahamiku. Kau turunkan hujan, badai, banjir sekalipun. Aku takkan menyerah ya tuhanku. Kenapa bukan kau saja yang menyerah dan berikan apa yang kumau. Aku mau lihat salju di Jakarta!

Sekarang, iringi aku ya tuhan. Kutapaki halaman rumah. Air sudah membasahi rambut dan leherku. Cepat! berjalanlah cepat. Sedikit berlari kujauhi rumahku tadi menyusuri bahu jalan yang panjang ke arah barat. Adakah dia disana? Air mencapai telapak kaki dan sekarang bahkan aku tidak bisa melihat sepatu bootku tadi. Kupaksa kakiku dan terseok, kemudian berhenti. Air menambah hingga lima kali berat mantel panjangku. Menambah lima kali berat sepatuku, lima kali berat baju, celana, kutang, semuanya. Sekarang apa? Kau hentikan aku dengan air ya tuhan? Tidak! aku tidak mau pulang. Aku belum menemukannya…

Tepat seratus kaki dari pintu. Aku berhenti, diam, berdiri, statis untuk waktu yang tidak ditentukan. Kini air sudah menenggelamkan pantat hingga sejajar pinggang. Aku tidak bergerak, tidak bisa kugerakan badan ini. Kini aku seperti beruang yang menunggu ikan salmon di hulu sungai. Sepi, ditemani suara hujan. Berdenting bergantian. Sejenak hening. Aku dengar bisikkan. Aku tidak mau pulang!

Badan ini terhuyung ke kiri, ke kanan, airnya bergejolak. Apa gerangan yang terjadi? Tuhan akankah kau merobohkanku lalu tenggelam-mati? Robohlah aku digelayuti banjir yang semakin tinggi. Jeritku ditelan hujan. Hanya kaulah tuhan, yang mampu membawaku pulang. Aku tidak peduli pulang ke rumahku atau rumahmu.

Tidak puas air menyelinap dalam pakaian dan kulit, dia juga hendak memenuhi paru-paru dan perutku. sekarang semua tampak biru-abu. Hingga…

Tunggu! ada yang datang. Kupaksa mataku untuk membuka lebar, siapa itu? Kaukah itu? Semakin dekat. Diraihnya aku dengan tenaga yang amat besar, dia laki-laki. Berarti dia bukan tuhan.

Kau sekarang selamat beruang bodoh!” Hanya teriakan ini yang kudengar. Dan hitam…

image

Aku kenal ruangan ini. Bukan akhirat. Ini kan kamarku? Kenapa aku kembali, bukankah aku tidak menyerah?

Ada kertas putih lebar di atas bantal. Kusapu tulisan yang mengotori kertas itu dengan mata dan seksama… Ah, akhirnya Kau menyerah tuhan.

Beruang bodoh! apa kau mau mati? Lain kali kalau mau bunuh diri jangan di depan mataku. Kalau sudah bisa buka mata hubungi aku: 0856100000.

Beruang Jantan

NB: Jangan dulu mati sebelum kau menemuiku

Kudekap kertas itu, jantung ini berdegup kencang. Ia melampaui desah nafasku sendiri. Segera aku melompat ke arah jendela dan kubuka lebar-lebar tirainya. Akhirnya. Akhirnya turun salju di Jakarta.

Hanya manusia yang jatuh cinta yang dapat melihat salju di Jakarta

Maria dan Fatima

“Pesawatku mendarat jam 17.55” kata Fatima di telepon untuk Maria di seberang pulau. Mereka sudah terpisah sejak Sekolah Dasar di sebuah desa di Jawa Tengah. Tak hanya satu sekolah mereka pun bertetangga. Hampir tidak ada sore dilalui tanpa bermain bersama. Walau masing-masing memiliki hobi yang berbeda. Maria lebih suka main masak-masakan dan penganten-pengantenan, sementara Fatima lebih suka panjat pohon dan main gundu.

Perbedaan ini rupanya malah semakin mengeratkan persahabatan mereka. Dunia adalah keluasan tanpa tepi bagi kedua bocah ini. Tak ada sudut desa yang belum pernah kena jejak kaki kecil mereka. Senja di desa itu sepi seperti kuburan kalau Maria dan Fatima berlibur keluar desa. Atau saat ujian kenaikan kelas tiba. Membuat banyak penduduk desa merasa kehilangan. Sampai-sampai orang tua mereka masing-masing diinterogasi tetangga tentang keberadaan dua anak itu kalau senyap beberapa hari. “Ke mana anak-anak? Sepi bener udah lama?”

Seperti Metro Mini, hanya Tuhan yang bisa menebak jalan hidup. Selepas SD, Maria dan Fatima berpisah. Maria ke Kupang seiring penugasan ayahnya yang berpofesi sebagai tukang kayu. Sementara Fatima pindah ke Jakarta melanjutkan sekolah bersama Budenya yang kaya raya. Pada saat itu belum ada email apalagi Twitter. Hubungan mereka berdua yang awalnya direkatkan oleh surat menyurat perlahan menjadi jarang sebelum akhirnya lenyap.

“Aku jemput… aku yang jemput kau, Fatima” kata Maria seolah tak percaya apa yang didengarnya. “Kau sendiri ke sini?”

“Aku sama anakku, semata wayang… Rahman. Sudah kelas 2 SD dia” jawab Fatima sembil disergap rindu.

“Batalkan hotelmu, kau dan anakmu tinggal sama aku. Mau ya? Mau? Aku bawa kau dan anakmu keliling kota. Kita jalan-jalan, makan-makan, senang-senang…Mau ya?” Maria berharap.

“Mau? Mau ya katamu? HARUS DONG!” Jawab Fatima sambil tertawa.

Besok adalah hari besar bagi kedua sahabat ini. Setelah berpisah lebih dari 15 tahun berpisah. Waktu yang cukup lama untuk membuat manusia berubah. Satu ucapan saja dari sahabat, berpotensi mengembalikan bukan hanya kenangan tapi juga perasaan yang pernah ada. Hangat dan tenteram. Perasaan yang memberikan kepercayaan diri untuk menghadapi segala macam cobaan yang akan menghadang di kemudian hari.

Maria duduk sendirian di kursi panjang depan Bandar Udara El Tari di Kupang. Duduk dengan rapih menantikan teman lamanya. Wajahnya sesekali tampak menerawang mengenang dan penasaran seperti apa teman lamanya ini. Dalam hatinya berpikir kalimat pertama apa yang akan diucapkan nanti. “Apa kabar?” sepertinya terlalu basi. Apa kira-kira yang akan Fatima ucapkan ketika pertama kali menemui dirinya? Akankah persahabatan mereka masih seperti dulu? Ah, mungkin meminta maaf karena tidak bisa menghadiri pernikahan Fatima menjadi pilihan yang terbaik.

Pintu kedatangan terbuka. Beberapa orang keluar terlebih dahulu. Terutama yang hanya menjinjing tas ransel. Maria celingukan berusaha mencari teman perempuannya bersama anaknya. Matanya terus tertuju pada pintu yang terbuka itu. Perlahan kepanikan mulai tampak di wajah Maria seiring semakin sedikitnya penumpang yang keluar dari pintu itu. Lima, sepuluh menit perlahan pintu kedatangan mulai tak terbuka lagi. Maria mengeluarkan ponsel dari tasnya.

“Fatima… di mana kau? Aku di depan pintu kedatangan…”

“Kamu di mana Maria? Aku di dekat gerbang. Aku mencarimu tadi tapi tak kelihatan…”

“OK, kau diam di situ, aku yang mendatangi. Gerbang utama kan? Tunggu tunggu….”

Di benak kedua perempuan itu mempertanyakan bagaimana mungkin mereka tidak lagi saling mengenal teman lama mereka. Rasa penasaran menambah bumbu pertemuan ini.

“Fatima…” ujar Maria saat melihat seorang perempuan bersama anak laki-lakinya. Perempuan itu menoleh dan sebayang rasa terkejut menghampiri masing-masing. Namun belum lagi sempat berkata apa pun mereka berdua berpelukan.  Semua rencana kata sambutan dari Maria buyar sudah. Sulit untuk berkata saat kerongkongan tercekat. Riak perlahan menjadi gelombang dahsyat. Membawa mereka ke masa lalu dan menyatu kembali untuk membawa cerita. Napas mereka berdua lambat laun menjadi seirama. Degup jantung mereka pun mereda senada. Sebelum akhirnya masing-masing rela melepas.

“Rahman, ini Tante Maria…” Rahman yang hendak menyalami Maria ditarik dan didekap dengan erat.

“Rahman tolong ya, fotoin Tante dan Ibumu…”

Rahman mengangguk dan mengambil kamera.

Sebelum berpose, Maria membetulkan jilbab Fatima yang mulai miring. Sementara Fatima membalas dengan merapihkan beberapa helai rambut Maria yang menyembul dari kerudung suster ordo Jesuit yang dikenakannya. Mereka berangkulan. Sore itu matahari pergi tersenyum.

11098284_831457466931623_804388944_n

Asing Asong Asu

Beberapa hari yang lalu sebuah bank lokal bernama BNI terbuka jalannya untuk membuka kantor cabang di Korea. Hal tersebut ditandai dengan kesepakatan antara  Indonesia dan Korea dalam perjanjian bilateral kedua negara. Atas kesepakatan tersebut  BNI diperkenankan untuk membuka  usaha di sana dan sebagai balasannya Shinhan Bank, sebuah bank asal Korea boleh beroperasi di sini.

Di Kuala Lumpur Malaysia,  Bank Muamalat Indonesia, salah satu bank syariah yang sejatinya sebagian besar modalnya dimiliki asing telah membuka cabang beberapa waktu lalu, hanya saja pengoperasiannya terbatas karena hingga saat ini negeri jiran melarang  bank asal Indonesia turut bertransaksi dalam mata uang lokal (ringgit).

Bagaimana di negara lain? Sebelumnya Indonesia juga telah bekerjasama dengan China terkait kemungkinan  bank asal China masuk ke Indonesia melalui pembukaan anak perusahaan (subsidiary) maupun akuisisi. Saat ini satu bank komersial asal China telah mengambil ancang-ancang untukmemasuki pasar Indonesia. Nama bank tersebut China Construction Bank. Sebagai perimbangannya, bank lokal kita yang bernama Bank Mandiri tengah memproses status menjadi full branch di Shanghai untuk bisa bertransaksi dengan menggunakan mata uang lokal.

Asing dan tak asing.

Selalu saja menarik untuk dibahas. Isu ini kembali mengemuka sejalan dengan situasi politik dalam negeri. Soal Sipadan Ligitan. Soal Ambalat. Soal Natuna dan soal-soal wilayah perbatasan lainnya. Bagaimana dengan isu asing dan tak asing dalam ranak ekonomi? Sama-sama sensitif.

Asing dan tak asing. Selalu tentang nasionalisme.

Masih relevankah?

Apalagi saat ini Komisi XI DPR dan pemerintah telah sepakat memasukkan soal pembaharuan dan penyempurnaan RUU Perbankan dalam Program Legislasi Nasional 2015. Apa sih Prolegnas itu? Silakan cari sendiri. Masuknya RUU Perbankan dalam program legislasi merupakan inisiatif DPR.

Sebagian  suara berpendapat bahwa soal asing dan tak asing bukan suatu masalah. Akan lebih tepat jika menyikapi secara lebih fokus apa peranan bank asing maupun modal asing dalam  membangun perekonomian bangsa.

et

Sudah ada yang menghitung seberapa besar bank asing memberikan pembiayaan bagi sektor produktif? Apakah bank asing berkenan membiayai proyek infrastruktur yang cenderung memerlukan modal besar dengan jangka waktu yang lama? Pernahkah pengusaha Indonesia memanfaatkan jaringan internasional bank asing untuk kemudahan pasar luar negeri dan kemudahan ekspor, semisal Citibank dan  HSBC?

Asing dan tak asing.

Apa sih asing itu?

Bagaimana kalau kita sepakati saja bahwa bank asing adalah kantor cabang bank asing yang belum memiliki badan hukum yang terdaftar di Indonesia? Juga bank yang kepemilikan modal oleh orang asing maupun badan hukum asing lebih dari 50%? Jadi kalau saya bikin bank lokal lalu sahamnya sebagian besar dibeli asing maka dapat dikategorikan bank asing? ya!

Benarkah bank di Indonesia boleh dimiliki oleh asing hingga sebesar 99%?

WOW?

Mau tidak mau hal tersebut memang faktanya. Usai krisis ekonomi di akhir tahun 90-an, permodalan bank hanya dapat dipenuhi dengan masuknya modal asing. Begitu perlunya kita  pada modal sehingga keran kepemilikan dapat dibuka hingga  99% saham dimiliki asing. Apakah kita sedemikian liberal? Ya. Liberal mentok. Namun ini adalah buah konsekuensi dari kesunyataan defisit modal.

Lantas apakah setelah sekian lama berjalannya waktu hal tersebut masih relevan?

Mari kita kaji lagi. Sebagian lain menawarkan konsep lain bernama resiprokal. Atau asas resiprositas. Kita harus memberlakukan dan meminta diberlakukan sama dengan perlkuan negara lai pada perusahaan kita. Apa bisa?

Padahal faktanya membuktikan: Kita jauh lebih perlu modal asing dibanding asing memerlukan modal kita. Bukan begitu? Seharusnya kita pun sadar pada fakta lain: Negara lain memerlukan potensi pasar kita yang begitu besar (dibaca konsumen) dibanding kita harus ekspansi ke luar negeri.

Namun wakil rakyat kita di parlemen, maupun pemangku kepentingan yang memiliki wewenang soal ini banyak yang terjebak dengan “asas resiprositas”. Mereka beranggapan bahwa dengan perlakuan yang sama dan diterima oleh bank milik dalam negeri yang beroperasi di negara lain dapat menyelesaikan masalah dan memberikan kesempatan kepada bank lokal berusaha di negara lain. Ini adalah jebakan logika berfikir tanpa menyadari fakta yang ada. Dalam pasal 48  UU OJK No. 21 Tahun 2011  menyatakan bahwa:

Semua bentuk kerja sama internasional, termasuk di bidang pengaturan, pengawasan, dan penyidikan, wajib didasarkan pada prinsip timbal balik yang seimbang.

Mengapa disebut jebakan?

Karena jika kita mau jujur dan berkaca dan sadar, maka sejatinya:

  • Kita tidak dapat mengatur ketentuan negara lain kecuali diatur dalam MoU dan kesepakatan bilateral. Negara lain mau atur apa saja, terserah dia.
  • Kondisi bank lokal di Indonesia tidak semua mau dan mampu melakukan ekspansi ke luar negeri, karena pada dasarnya pasar lokal dalam negeri lebih menjanjikan dibandingkan mengembangkan sayap ke luar.
  • Asas resiprositas lebih banyak menguntungkan bank asing karena pasar indonesia jauh lebih diminati bank asing daripada bank lokal melakukan ekspansi. Bank lokal lebih memiliki hasrat menjadi tuan rumah di negara sendiri.

Ya sudah jika itu susah, bagaimana jika kita gunakan asas yang lain. Apa itu? Sebagian orang usulkan Asas national treatment yang artinya memberlakukan bank asing sama persis seperti memberlakukan bank lokal. Misalnya BRI bermain di kredit mikro, maka citibank boleh juga memberikan kredit semacam itu. Misalnya Bank Mandiri boleh buka cabang dan ATM dimana-mana, maka CIMB Niaga boleh buka juga di seluruh pelosok.

Apa iya? Sejujurnya, kita masih memerlukan perlakuan khusus bagi bank lokal dan membatasi ruang gerak bank asing.

Masih perlu adanya pembatasan bagi bank asing. Misalnya hanya dapat beroperasi di kota Metropolitan. Juga tidak melakukan ekspansi usaha di bidang kredit usaha mikro, dan kecil. Bank asing didorong untuk memberikan pembiayaan kepada sektor produktif misalnya pertanian, maritim, infrastruktur, pertambangan dan jasa pariwisata.

Bank asing harus membuktikan terlebih dahulu peranannya atau kontribusi terhadap pembangunan nasional. Ketat atau longgarnya ketentuan dan kebijakan otoritas diperlukan dibuat seakurat mungkin sesuai dengan kinerja masing-masing bank asing.

Kenyataannya, bank asing sebagian besar bermain di wilayah aman tanpa kontribusi yang jelas: Kredit konsumtif. Jualan jasa kartu kredit.

Jika bank asing terbukti memberikan kontribusi yang signifikan bagi pengembangan usaha dan pembangunan nasional secara berkelanjutan, maka tak ada salahnya bank asing tersebut secara individu mendapatkan beberapa kemudahan lain dalam beroperasi.

Isu lain yang perlu diangkat dan mendapatkan rumusan yang terbaik dan cocok bagi kondisi Indonesia adalah semangat mengharuskan kantor cabang bank asing untuk mengubah status badan hukumnya menjadi locally incorporated dengan mendaftarkannya menjadi Perseroan Terbatas dengan berkedudukan hukum di Indonesia.

Beberapa cabang bank asing misalnya (lagi-lagi) citibank, hingga saat ini bukan berbentuk perseroan terbatas sebagaimana yang diatur dalam ketentuan kita. Mereka hanya cabang dari perusahaan induknya. Belum berbadan hukum Indonesia. Bukan PT. Bank Citibank. Hanya citibank. Titik.

Sudah seharusnya mereka “dipaksa” mendaftarkan diri menjadi PT. Tapi sebagian lain (tentu saja) menolak dan beranggapan tidak perlu.

Sebagian pihak menganggap bahwa ini adalah pelanggaran kesepakatan dengan WTO terkait jaminan kepastian berusaha bagi modal asing di suatu negara.

Maka apakah perlu diambil jalan tengah: Arah kebijakan ini tidak secara gamblang tertuang dalam ketentuan, melainkan nafas dan semangatnya menjadi pokok pikiran para pemangku kepentingan jasa keuangan Indonesia, bahwa bank asing harus segera ganti baju dan memiliki “KTP”.

Secara makro, dengan beralihnya bank asing menjadi perusahaan lokal  akan menguntungkan stabilitas sistem keuangan. Karena terhadap kemungkinan dampak krisis suatu negara dimana bank asing juga beroperasi maupun jika negara dimana kantor pusatnya berkedudukan mengalami masalah krisis ekonomi atau semacam itu, maka tidak secara langsung memberikan dampak yang signifikan bagi bank di Indonesia, mengingat permodalan dan ketentuan prudential telah dijalani secara mandiri.

Lalu, perlukah  batas waktu kantor cabang bank asing harus mengubah statusnya menjadi semacam perseroan terbatas? Ini soal pilihan. Bagaimana anggota parlemen menyikapi permasalahan tersebut. Kepentingan akan mengemuka. Apakah ini persoalan ekonomi semata? Seharusnya malah tidak. Secara politis pun perlu diperhitungkan. Apakah asing dan tak asing merupakan isu penting, ataukah sekadar alat untuk memperkuat posisi tawar pihak tertentu terhadap pihak lainnya.

Jangan sampai guyonan atau joke semacam bandar narkoba berlaku juga di kalangan jasa keuangan nasional. Apa itu? Bahwa ketika polisi berhasil mengrebek satu bandar narkoba, sejatinya itu adalah informasi dari bandar lain dengan niat hanya satu: menyingkirkan persaingan usaha.

Soal ekonomi sejatinya soal hati. Soal bagaimana mensejahterakan warga tanpa kecuali. Tentang melindungi dan memiliki keberpihakan. Bahkan jika kita mau menaikkan level diskusi, maka soal asing dan tak asing bukan saja soal periuk nasi. Ada yang lebih hakiki: Ini soal harga diri. Bahwa negara tidak alpa dalam mengisi kolom absensi. Bahwa negara sebagain suatu bangsa memiliki harga diri. Berdikari.

Jika ada yang ikut berusaha di negeri ini. Buka pintu lebar-lebar. Jika ternyata tak memiliki kontribusi. Sebaiknya segera jabat erat tangan mereka, dan segera ucapkan: “selamat malam..”.

Soal ekonomi juga soal hati. Bahwa di dalam tubuh yang kenyang, terdapat hati yang riang.

Salam dua jari!

Roy