The More The Merrier

A band is like a marriage -you don’t know why it works, but when it does, everything feels right.

Ada benarnya perkataan dari Nuno Battencourt, gitaris Extreme, yang berambut bagaikan iklan Gadis Sunsilk, berjari lentik dan berkuku dengan kutek warna hitam ini. Memang tidak banyak band terkenal, sukses dan bertahan dengan formasi awal. Atau setidaknya ketika band tersebut mengeluarkan album perdananya.

Contoh paling over-rated tentunya adalah U2. Ya memang band yang terlalu sering dibicarakan. Apalagi kalo mendengar kiprah Bono dengan aktivitas kemanusiaannya. Tapi harus diakui, U2 itu mungkin band paling senior di dunia ini yang masih aktif bermain musik, mengeluarkan album, dan melakukan tur dunia di usia sudah menginjak kepala lima. Untuk era 90an kita bisa mengambil contoh Radiohead, dan yang lebih junior ada Colplay, dan Muse. Seingat saya mereka belum pernah mengganti personil selama perjalanan karirnya dan entah kenapa saya kesulitan mengambil contoh band dari Amriki.

Tapi banyak yang tidak tahu dibalik kesuksesan sebuah band itu sebetulnya banyak sekali konflik yang terjadi. Ketika semua personil mempunyai ego yang sama. Atau ego yang berlebih dibanding keduanya.U2 mengalaminya era pasca album Joshua Tree. Akibatnya mereka berganti identitas secara musik maupun kostum. Bono hampir selalu memakai kacamata. Begitu pula dengan The Edge yang selalu menutup kepalanya dengan kupluk atau peci. Radiohead pun begitu. Untuk mengurangi kejenuhan Thom Yorke bersolo karir. Jonny Greenwood pun mulai merambah ke dunia skoring musik dan berteman baik dengan Paul Thomas Anderson. Kerja sama keduanya telah telah menghasilkan There Will Be Blood dan The Master. Bukan karena materi. Tapi butuh “kesegaran”. Walaupun mereka secara tidak langsung sedang berselingkuh secara terang-terangan. In a good way. Yagaksih?

Ada contoh yang menarik diulas yaitu ketika Pat Smear, gitaris dari Foo Fighters dan eks gitaris tambahan dari Nirvana yang memutuskan untuk keluar karena merasa “lelah” bermain musik. Tapi bukan untuk mendalami agama tentunya. Alhasil Dave Grohl sebagai frontman dari band ini harus mencari gantinya yang mumpuni. Lalu didatangkanlah Chris Shifflett untuk jadi lead guitarist Foo Fighters. Problem solved.

Tidak berhenti di situ. Ternyata Pat Smear tetap memendam kerinduan untuk bermain musik. Tapi dia sungkan untuk mengutarakannya. Lagi pula dia yang meminta keluar dari awal dan sudah ada pula sudah pengganti dirinya. Apa yang dia lakukan? Akhirnya dia melepaskan egonya. Dia mengutarakan keinginannya kepada Dave Grohl untuk kembali ke Foo Fighters. Keputusan ini tentu disambut dengan lapang dada oleh Dave Grohl dan teman-temannya. Karena walau bagaimanapun Pat Smear adalah keluarga, bagian penting dari perjalanan Dave Grohl semenjak di Nirvana dan dilanjutkan ke Foo Fighters. Chris tetap menjadi gitaris utama di Foo Fighters dan Pat Smears lebih menutup kekurangan Dave Grohl ketika bernyanyi dan harus sambil bermain gitar. Saling mengisi. Tidak ada yang berubah. Malah semakin kokoh. Yakan?

The more the merrier. 

the-more-the-merrier-quote-1

Advertisements

Bertahan Merelakan

Vina berjuang mempertahankan hidup suaminya. Harta. Tenaga. Waktu. Semua untuk menyembuhkan kanker yang sudah menggerogoti 80% hidup suami tercinta. 20% lainnya adalah mukjizat dan pilihan. 5 tahun 2 bulan kemudian, suaminya meninggal. Perjuangan Vina berlanjut untuk melunasi hutang dan mencari pekerjaan.

Aldi berkeras Ibunya sedang berjuang. Ia menolak resolusi dokter melepas mesin dan selang-selang penyangga kehidupan. Setelah 2 tahun 8 bulan terbaring koma, 2 minggu lalu tante Diana terbangun. Makan teratur dan jalan-jalan ke Plaza Senayan dalam dorongan kursi roda.

Wanda dan Ryan 12 tahun pacaran. Putus sambung karena perkelahian dan perselingkuhan. Mereka memutuskan bertunangan dan merencanakan pernikahan. Daftar tamu dan pesanan tersusun rapi. Gedung sudah tersewa. Sayang, 3 minggu sebelum tanggal pernikahan, mereka pisah. Tanpa bisa dirundingkan ulang.

Wati menikahi Joko karena cinta. Melahirkan 2 putra yang kini berumur 3 dan 4 tahun. Ndak ada yang salah dari kehidupan mereka kecuali Joko sering pulang malam dan memukul Wati dikala senggang. Cinta membisikkan Wati untuk setia, sampai kedua anaknya meninggal di tangan Joko.

Sudah 1 tahun 6 bulan aku bertahan dengan Gebi, supirku. Bulan pertama ia berhutang 3 juta. Untuk bayar kontrakkan, katanya. Bulan-bulan berikutnya sering ndak masuk dengan aneka alasan. Sampai seminggu lalu ia datang terlambat dalam keadaan mabuk setelah dua minggu ijin sakit mata.

Entah mudah atau sukar. Hidup adalah konsekuensi dari serangkaian pilihan yang kita putuskan. Dan yang kita butuhkan adalah sesederhana mengetahui kapan terus bertahan dan kapan harus merelakan.

Kejujuran Rasa dalam Satu Klik

Minggu kemarin ada dua berita duka. Berpulangnya Lee Kuan Yew dan Olga Syahputra ke surga masing-masing. Media sosial pun dipenuhi dengan ucapan belasungkawa. Buat sebagian pasti ada yang benar merasa kehilangan. Dan buat sebagian besar lagi, bisa jadi tanpa rasa. Saya salah satunya.

Saya tidak pernah merasa punya hubungan apa pun dengan Lee Kuan Yew. Saya tidak pernah membaca buku mengenai dirinya yang menginspirasi. Sejarah hidup dan perjuangannya belum menarik untuk saya baca. Pun saat beliau masih hidup dan berkuasa, hampir tidak pernah membaca berita mengenai dirinya. Belakangan cuma tau dia sedang sakit.

Singapura buat saya adalah tempat rekreasi. Jalan-jalan, berbelanja, melihat taman cantik dan menyaksikan peradaban yang sepertinya lebih maju. Ditandai dengan antrian warga yang tertib. Trotoar yang rapih. Pengawalan kebersihan yang luar biasa. Tanpa maksud menghina, buat saya warisan Lee Kuan Yew terbesar adalah taman kota. Hampir setiap pojok kota taman ditata dan terawat rapih. Beragam jenis flora tropis tumbuh dengan mesranya.

Bukan salah rasanya kalau saya menjuluki Lee Kuan Yew sebagai The Great Gardener, salah satu tukang kebun terbaik dunia. Saya baru akan merasa sedih dan berempati kalau ada tukang kebun yang saya kenal secara pribadi meninggal dunia. Atau pasukan cleaning service apartemen yang setiap hari saya temui. Yang tidak sungkan membantu saya membawa barang ke lantai atas saat saya kesulitan. Atau pasukan sekuriti yang meminjamkan payung saat saya kehujanan. Atau tukang sayur yang selalu muncul setiap hari menawarkan sayur terbaiknya.

Semasa hidupnya, saya jarang merasa terhibur dengan lawakan Olga Syahputra. Sering kali saya merasa suaranya lebih merupakan polusi suara. Kencang dan menjerit memekakkan telinga. Saya mengagumi perjuangannya dari ‘orang biasa’ menjadi seseorang yang luar biasa dan konon dermawan. Saya tidak membencinya, tapi juga tidak merasa kehilangan saat beliau meninggal dunia.

Bagi saya, Olga Syahputra adalah simbol harapan. Dengan kerja keras, keberhasilan masih bisa diraih. Di tengah persaingan yang semakin tidak sehat. Mulai dari korupsi sampai ilmu hitam sudah dikerahkan. Bahwa keberhasilan bukan hanya milik orang-orang berwajah cantik dan tampan. Dan Olga berhasil meyakinkan bahwa ‘lucu’ adalah soal selera pribadi. Dan selera yang diyakini bersama adalah selera yang ‘benar’.

Walaupun, saya tetap tidak merasa memiliki hubungan batin dengan almarhum. Saya tidak mengenalnya dan belum tertarik untuk mengenalnya lebih jauh. Ada banyak orang-orang inspiratif simbol harapan di sekitar saya, yang kalau salah satu dari mereka meninggal maka saya akan sedih. Sebutlah, Josephine Weratie Komara atau biasa disebut O’bin. Saya terinspirasi dengan perjuangannya bukan hanya melestarikan tapi terlebih mengembangkan batik dan beragam tekstil Nusantara. Atau saya menangis semalaman saat Yasmin Ahmad berpulang. Setiap iklan dan film yang diciptakannya telah menginspirasi pekerjaan saya sehari-hari sebagai pembuat iklan. Kalau Pedro Almodovar berpulang, sebagai fans sejati saya pasti akan merasa kehilangan. Apalagi kalau Nigella Lawson yang mangkat. Program TVnya hilang sesaat saja sudah bikin saya kelimpungan. Amit-amit jangan sampe.

enough-pro-smiley-face

Simbol muka sedih 🙁 yang terdapat di media sosial seperti Path misalnya, sejujurnya membuat saya bertanya apakah benar berita kematian Lee Kuan Yew membuat pemberi icon bersedih? Mungkinkah baginya setiap berita kematian siapa pun merupakan kesedihan? Atau memang sebaiknya ikut-ikutan saja untuk amannya?

Ketika Aquarius, toko kaset, CD dan DVD di kawasan Pondok Indah ditutup untuk selamanya, banyak yang  menyampaikan kesedihannya di media sosial. Dalam hati saya berpikir, benarkah sedih? Seingat saya saat Aquarius masih gegap gempita berdiri, tak ada satu pun teman saya pernah mengajak untuk berbelanja di sana. Check in di Aquarius pun rasanya tidak pernah. Lalu kenapa saat ditutup, jadi sedih dan kehilangan? Bukankah sebaiknya memang ditutup – karena kalau dipertahankan akan menyebabkan kerugian? Dan kalau memang ingin Aquarius tetap ada, berbelanjalah di sana saat toko masih buka. Merawat dan mempertahankan yang masih hidup lebih baik daripada menangisi saat sudah tiada.

Mencoba untuk selalu jujur pada perasaan sendiri, sepertinya adalah usaha yang pantas untuk dicoba. Di tengah perasaan kini menjadi urusan icon semata dan jari. Pembiaran yang terus menerus kita lakukan akan menghilangkan makna. Yang akibatnya, kita bersama akan mengalami kemiskinan yang sesungguhnya, kemiskinan rasa.

Mendesain Waktu

Jika memang waktu adalah bagian dari dimensi keempat dan yang kelimanyanya adalah cinta, maka jika kita cakap mendesain panjang lebar dan tinggi, maka sudah sepatutnya kita juga mulai belajar mendesain dan memanfaatkan waktu, terlebih cina. eh cinta.

Nilai estetique dari benda yang melingkupi duniawi mudah ditemukan disana-sini. Bagaimana dengan waktu? Bagaimana dengan cinta?

Karena cinta itu berat untuk dibahas dan dibahasakan,  seperti apa yang ditulis kawan amenkcoy.

IMG_0845

Maka apa boleh bikin, kita tinggalkan bicara cinta. Apalagi kepercayaan. Bicarakan waktu saja saat ini, lalu dan kemudian.

Kembali ke kalimat ini: Nilai estetique dari benda yang melingkupi duniawi mudah ditemukan disana-sini. Bagaimana dengan waktu? Bagaimana dengan cinta?

Mendesain waktu butuh keahlian juga. Bahkan harus. Tidak hanya menyodorkan waktu apa adanya. Namun memuliakannya, membuatnya canggih sehingga enak dinikmati tanpa meninggalkan fungsinya. Filem barat dan timur, utara dan selatan, tenggara, daya, laut, semuanya bicarakan waktu dengan berusaha mengangkanginya untuk menembus bolak-balik, maju-mundur, lompat, dan balik lagi. Jutaan manusia berusaha membuat waktu menjadi sesuatu yang dikuasai. Mekanisasi waktu. Membuatnya menjadi mesin.

Alangkah hebatnya bukan, tidak hanya langit dan bumi, tapi juga waktu ingin dikuasai.

Sebetulnya waktu cukup diberi sentuhan gaya saja disana dan disini. Biar kelihatan enak dipandang. Nikmat dialami. Indah dikenang. Awet ketika disimpan. Waktu yang disofistifikasi.

Buku Leces tampil apa adanya. Juga buku Kiky. Atau Exercise dan Kencana juga Kokuyo.  Tapi jika kita lihat buku tulis bikinan Korea, dari fisik kertas, tampilan sampul dan pilihan warnanya apik memikat mata dan hati. Mahal harganyapun tak mengurungkan niat kita membeli. Sama fungsinya. Tulis-menulis. Tapi nikmat rasanya untuk dimiliki. Sebagian menyukai buku organizer  mewah bersampul kulit?

Bagaimana dengan waktu. Harusnya bisa diberlakukan hal yang sama. Bisa dimodifikasi menjadi lebih lucu, unyu dan enak dinikmati.

Agak susah memang mendesain waktu. Wujudnya tidak dapat disentuh dan digenggam seperti gawai hape yang kita punya. Waktu mengalir melulu tiada henti. Waktu liar kesana-kemari. Bisa jadi berjalan linier, namun jangan menutupi kemungkinan waktu juga berjalan seiring namun beda jalan. Paralel.

IMG_0838

 

Waktu didesain untuk indah dan enak dirasakan itu juga butuh rencana. Mereka menyebutnya jadual. Ini sebetulnya adalah tahapan paling ringan mendesain waktu. Jika bentuk wadag dari benda bisa diubah menjadi bulat, lonjong, kotak dan mewarnainya hingga sedap dipandang mata. Merah kuning hijau dan tralala trilili, maka waktu juga boleh diringkus, diperpanjang dan dinikmati sesuka kita.

Saat kita bangun tidur sebaiknya saat ayam jago Pak RT bernyanyi di pagi hari. Saat kita berangkat kerja sebaiknya bertepatan dengan jadual kereta datang menghampiri. Saat memandang dia, sebaiknya saat dia lengah dan duduk seenaknya dengan rambut tergerai dan wajah manis plus senyum memesona.

Kita sama-sama diberi tanah lempung seukuran. dibentuk sedemikian rupa jadi mobil-mobilan, boneka barbie atau jadi bulatan kecil untuk peluru ketapel. Waktu juga begitu. Sama-sama diberi 24 jam sehari. Ada yang membiarkannya tergeletak. Ada yang merangkainya dengan pertemuan-pertemuan. Kegiatan-kegiatan. Dan ada juga yang berusaha mengembang-biakkan.

Apa? waktu bisa berkembang biak? Tentu saja tidak. Waktu bukan makhluk hidup yang bercinta dan memiliki keturunan. bahkan bercinta pun belum tentu untuk memperoleh keturunan. Waktu dapat dikembang-biakkan dalam limit pengertian jaga kesehatan dan memadatkan kualitas waktu.

Kesehatan untuk kuantitas usia. Memperpanjang kesempatan hidup. Kualitas untuk merasakannya lebih bermakna. Fungsinya yang dimuliakan.

Demi waktu. Akhirnya semua akan merugi, kecuali yang memaknainya untuk terus bermanfaat bagi sendiri dan orang lain. Juga menjalaninya penuh dengan kesabaran.

Konsep mendesain waktu belum menjadi hal yang enak dinikmati memang. Kemewahan sifatnya masih pada benda berwujud. Orientasi kepemilikan sesuatu yang dilihat dan dirasakan dan boleh banget dipamerkan. Kemewahan waktu masih jarang disadari dan dimanfaatkan sebaik mungkin.

Budaya ngaret sudah usang. Desainlah menjadi lebih simpel dan ringkas. Membuat waktu menjadi apa adanya. Tepat dan bermanfaat.

Akan tetapi..

Jangan salahkan orang yang sedang mendesain waktunya untuk sekadar leyeh-leyeh, gegoleran dan mager. Itu bagian dari keputusannya untuk membuatnya demikian. Toh bisa jadi dengan melakukan itu, dirinya merasa waktunya menjadi nikmat. Jangan deh ganggu kenikmatan orang.

Juga jangan iri hati jika ada yang mendesain waktunya menjadi padat dan bulat seperti milik Kim Kardashian. Setiap lima menit bertemua orang lain. Menjadikannya titik pertemuan dan menghasilkan suatu rencana pada dimensi lain. Iya. Dimensi kelima misalnya. Iya. Cinta namanya. Habiskan waktu dan didesain untuk asyik-masyuk bercinta melulu. Love melulu. Tak apa. Memang pilihan dia dan dia.

Ada juga yang menabung waktu dengan mendesainnya secara ketat. Kerja keras. Lalu di akhir hari, bulan atau hidupnya, Mendesain waktu menjadi lebih lentur. Menikmati apa adanya. Leyeh-leyeh di kala senja.

Pernah mencoba mendesain waktu orang lain? membuatnya bekerja untuk kita. mengajaknya bertemu  pada satu titik waktu. Tertawa bercanda dan akhirnya berpelukan menangis berdua? Semacam mendesain waktu bersama untuk berbagi waktu bersama. Rasanya bagaimana?

Atau mendesain waktu untuk diri sendiri. Malas bertemu orang-orang. Semacam me time. 

metime

Kelas lebih tinggi dalam mendesain tentu saja tidak hanya untuk rentang jangka pendeque, melainkan jangka panjang tanpa meninggalkan detil. setahun kedepan begini. Dua tahun kedepan begini. Agar lima tahun saya begini, setiap bulan saya kudu begitu dan begono. Setiap hari berarti harus begitcu.

Jika lima tahun begitu maka diharapkan sepuluh tahun lagi jadi begitulah. Duapuluh tahun lagi ya gitu. Melinimasakan hidup diri sendiri. Menggaris-garis waktu. Membuatnya runcing, lentur, tegas, dengan ornamen warna-warni atau polos, dengan disiplin ketat dan kaku atau memilih membiarkan waktu berjalan menyusuri hamparan luas ketidakpastian masa depan. Kita susuri sungai yang belum terpetakan . Merelakan nasib sendiri pada keadaan.

Pasrah pada waktu. Memberikan kesempatan waktu untuk mendesain garis hidup kita.

Pilihan. Tidak melulu Pemilu. Pilihan, selalu ada di setiap kesempatan.

Selamat pagi, waktu. mari kita mencumbu Sabtu.

Salam anget dari sini.  *pegang dada kiri*

Roy, (yang sedang memulas waktu menjadikannya lebih manis saat dijilat. lebih berwarna di kala gelap. dan lebih lembut saat dipeluk).

 

Demam Panggung

Jadi, Ibu punya anekdot yang sampai sekarang masih suka diceritakan kalau beliau sedang ingin mempermalukan saya. Waktu umur saya kurang lebih 6 tahun, Ibu meminta tolong mengantarkan barang ke tetangga sebelah rumah. Pada jaman itu pagar rumah masih rendah, jadi sebenarnya kalau beliau mau, barang yang diantarkan itu bisa dilemparkan saja ke sebelah, tapi atas nama kesopanan, dan karena beliau baru melahirkan anak kedua, saya yang diutus untuk pergi. “Ada bel kok di pagarnya, kalau tidak ada orang pencet saja” katanya. Setelah berjalan ke rumah sebelah, saya berdiri di depan pagarnya, tanpa berani memencet belnya. Mungkin mengharapkan keajaiban bahwa aura saya akan terasa sang tetangga sehingga dia melongok ke luar. Tetapi tidak, jadi saya balik lagi ke rumah, gagal mengantarkan. Ibu heran dan bertanya, apakah bel sudah dibunyikan dan tidak ada yang keluar? Saya jawab, aku tidak berani membunyikan belnya karena takut mengganggu. Ibu mengeluarkan suara yang bisa jadi mengekspresikan frustasi atau entahlah. Akhirnya beliau menelepon tetangga tersebut dan membuatnya menunggu saya di depan untuk mengantarkan barang tersebut.

Cerita ini ternyata kurang lebih akan berulang hingga sekarang. Saya jarang berani memperkenalkan diri lebih dahulu. Bicara di depan orang banyak bisa membuat saya mendadak sesak napas. Waktu saya masih sekolah, walau saya tahu jawaban yang ditanyakan guru, saya lebih memilih diam daripada tunjuk tangan duluan dan harus menjawab keras-keras disaksikan seluruh kelas. Lebih jauh lagi, walaupun saya sering tidak berani tidur sendiri, tapi saya tidak takut sendiri. Bersosialisasi dalam waktu lama membuat saya lelah sekali, yang menyembuhkannya terkadang membutuhkan saya diam di kamar sepanjang akhir pekan dengan interaksi minimum dengan manusia lain.

Kalau dulu saya sering dituduh pemalu atau sombong, kalau sekarang saya bisa klaim saya introver. Saya gembira ketika buku Quiet: The Power of Introverts in a World that Can’t Stop Talking tulisan Susan Cain dilansir. Mungkin, di balik kekurangan saya ini ada potensi tersembunyi yang bisa digali, pikir saya. Tetapi ternyata tidak juga. Malah buku itu menjadi menyebalkan di tangan orang-orang yang sangat bangga menjadi introver, dan tentunya merasa dirinya lebih istimewa dan pandai dibandingkan rekannya yang lebih banyak bicara. Orang-orang ini juga menuntut yang lain agar mengerti para introver, dan tidak mengusik mereka menjadi quietly brilliant (seperti layaknya ponsel HTC). Kok jadi over-glorifying dan penuh dengan self-entitlement.

Setelah merasakan sendiri sepanjang ingatan saya menjadi orang introver, saya tidak merasa lebih pintar dari yang ekstrover. Saya perhatikan beberapa teman saya yang introver juga ada yang cerdas tapi tidak sedikit juga yang cupet. Saya sempat berharap kalau bawaan ini bisa ada tombol nyala/ matinya supaya kalau saya dibutuhkan berbicara di depan orang ramai bisa saya matikan dulu sebentar, jadi tidak malu-maluin. Bos saya juga berpesan kalau saya tidak bisa menghindari tampil selamanya, (padahal kalau boleh memilih, saya cukup puas berlindung di balik bayangan seperti drakula) jadilah sekarang saya harus mempersiapkan diri ekstra kalau diperlukan tampil. Walaupun jadinya saya lebih pede berbicara di depan orang (banyak maupun sedikit), mata saya tetap terpaku ke sontekan yang saya bawa. Itu saja sudah bagus. Mimpi saya adalah, bisa seperti seorang rekan kerja saya, bisa presentasi di muka umum dengan santai, dan mengembangkan satu kalimat menjadi ber-alinea-alinea secara verbal. Wow sekali bukan? Saya percaya dengan latihan, (mungkin) saya bisa paling tidak hampir seperti rekan kerja itu. Saya dan Anda yang introver belum tentu lebih pintar dari kebanyakan orang, kok. Sambungan kabel di dalam kepala kita saja yang berbeda.

Typo-nya mengganggu tapi ya begitulah...

Typo-nya mengganggu tapi ya begitulah…

Ekspresi

Selama 7 hari penuh minggu lalu, rasanya susah buat saya untuk rehat sejenak, dan bernapas. Maklum, pada minggu itu, rangkaian acara 21 Short Film Festival digelar. Kebetulan saya terlibat di penyelenggaraan acaranya. Bak angin tornado yang datang tak diundang, tiba-tiba kami semua sudah berada tepat di tanggal-tanggal penyelenggaraan, dan bukan masih dalam rencana berminggu-minggu, atau berbulan-bulan sebelumnya.

Buat yang terbiasa terlibat mengerjakan acara atau event, pasti bisa merasakan keletihan luar biasa ketika berada tepat di tengah-tengah penyelenggaraan acara.

Demikian pula di hari Sabtu minggu lalu. Hari itu adalah hari yang paling padat di festival kami: 7 pemutaran dalam sehari. Ini yang di bioskop saja. Lalu ada 4 workshops di sebelah studio. Jadwal sudah diatur sedemikian rupa, agar bisa dimulai dari pagi, dan selesai tidak terlalu malam.

Tapi manusia bisa berencana, Tuhan yang menentukan.
Mendadak saja pagi kami diawali dengan kejutan dari ruang teknis. Ada masalah dengan projector. Tidak bisa lama-lama menunggu, akhirnya diputuskan bahwa pemutaran pertama mundur. Padahal antrian penonton sudah mengular. Alhasil, jadwal seluruh screenings hari itu mundur 20 menit. Sesi tanya jawab di pemutaran-pemutaran awal kami potong durasinya. Test film sebelum pemutaran dipercepat.
Akibatnya, seharian itu kegiatan saya adalah menunggu penonton keluar di satu pemutaran, test film untuk pemutaran berikutnya, memasukkan penonton untuk pemutaran berikutnya. Dan berulang terus enam kali dari pagi sampai malam. Repeat.

Rasanya ingin menggantungkan kedua kaki saat pulang.

Keesokan harinya, saya bangun dengan perasaan berat. Maklum, hari terakhir. Ada malam penghargaan. Sepertinya masih harus menyisakan energi yang sebenarnya sudah tak bersisa ini.
Lalu seperti biasa, bangun tidur bukannya kuterus mandi tidak lupa menggosok gigi, tapi malah check ponsel. Mata yang masih belum terbuka lebar ini melihat deretan notifikasi chats dan email masuk.

Ada email dari Vitri, fotografer event.
Setiap pagi, dia akan mengirim foto-foto dari semua kegiatan dan apa saja hal unik yang terjadi di festival kami pada sehari sebelumnya. Saya buka satu per satu foto. Nyaris tanpa ekspresi saya melihatnya.

Tiba-tiba saya berhenti di foto ini.

XXI Short Film Fest., Sabtu, 21 Maret. (Photo by Vitri Yuliany)

XXI Short Film Fest., Sabtu, 21 Maret. (Photo by Vitri Yuliany)

Saya tertegun. Lama saya memandang foto ini. Saya terkesiap.

Saya tidak tahu kapan persisnya foto ini diambil. Yang jelas, saya cuma bisa menebak, bahwa foto ini diambil dari deretan kursi paling depan. Berarti foto ini diambil waktu pemutaran film paling penuh. Foto ini diambil diam-diam dari bawah kursi. Sekali lagi, ini hanya tebakan.

Dan tentu saja tidak ada dari kami satu pun yang mengenal orang-orang yang terekam dalam foto ini. Mungkin mereka juga tidak mengenal satu sama lain. Tapi yang jelas, mereka menjalani kegiatan yang sama: melihat apa yang kami hadirkan di layar lebar.

Sejenak rasa letih yang terbangun dari semalam hilang begitu saja saat melihat foto ini. Tak jemu-jemu memandangnya.

Terbersit rasa senang yang tak bisa dijabarkan kata-kata. Foto seperti ini seakan mengingatkan kita kembali, kenapa kita menyenangi apa yang kita kerjakan.
Apresiasi. Apresiasi membuat kita mencintai pekerjaan kita.

Buat saya, itu sesederhana melihat kursi bioskop terisi. Lalu penonton berhenti melakukan aktifitasnya, dan terpaku di layar. Satu studio bioskop gelap, hanya ada layar yang ditembakkan dari belakang kursi teratas. Puluhan atau ratusan orang seakan pasrah terhadap apa yang akan mereka lihat. Suara mulai terdengar, entah dari musik atau dialog pemain film.
Dan beberapa menit kemudian, terdengar tawa. Atau mungkin isak tangis. Mungkin ada yang tidur dan mendengkur.
Terakhir ada tepuk tangan. Dan kata “tepuk tangan” bisa diganti dengan cemoohan, karena saya pun pernah merasakannya.

Pujian atau cacian adalah bentuk apresiasi. Foto ini menangkap momen sebelum keduanya terjadi. Yang terjadi sesungguhnya di setiap pemutaran kami kemarin, untungnya, adalah tepuk tangan yang mengiringi sesi tanya-jawab dengan para sutradara. Melihat foto ini tanpa tahu kejadian sesungguhnya akan membuat kita menebak-nebak apa yang akan terjadi setelahnya.

Foto akan selalu menjadi bagian kenangan tak terlupakan dari sebuah peristiwa yang sudah lewat.
Namun tidak semua foto bisa menjadi penyemangat untuk terus melakukan apa yang memang kita bisa lakukan. It’s magical how a picture can bring out the best in what we excel at.

Foto yang penuh ekspresi adalah foto yang ‘hidup’.

Untuk semua yang ada di foto ini, terima kasih.

The Truth Is (Still) Out There

Berita itu saya dengar tadi malam. Berita yang menyenangkan buat saya. Seperti para fenboi yang menunggu gadget favoritnya. The X-Files akan kembali ke TV dengan bintang yang (masih) sama yaitu David Duchovny sebagai Fox Mulder dan Gillian Anderson sebagai Agen Dana Scully. Serial TV yang dimulai pada tahun 1993 hingga 2002 ini masih menyisakan banyak misteri. Sembilan musim sudah dilewati dan 202 episode sudah berlalu. Sempat pula diangkat ke layar lebar walaupun tidak terlalu sukses. Serial TV tidak harus diangkat ke layar lebar. Begitu juga sebaliknya. Setelah 13 tahun akhirnya FOX akan kembali menayangkan lanjutan dari serial ini.

Serial ini (bagi yang belum tau) adalah berkutat pada Agent FBI Scully dan Mulder yang berusaha menyingkap kasus yang belum terungkap karena melibatkan fenomena extra terrestial, supranatural atau alien. Hubungan antara kedua agen ini pun menjadikan serial ini begitu menarik untuk diikuti. Mereka memiliki sifat yang saling bertolak belakang. Mulder dicitrakan sebagai agen FBI yang mempercayai adanya alien di muka bumi ini. Sedangkan Scully lebih skeptis karena latar belakangnya sebagai dokter.

Beberapa waktu yang lalu mungkin kita masih ingat serial TV, True Detective, yang dibintangi Matthew McCounnaghey dan Woody Harrelson yang saling bertolak belakang. Atau antara Sherlock Holmes dan Dr. Watson. Baik di serial TV yang diperankan oleh Benazir Cucumber dan Martin Freeman atau di layar lebar yang dibintangi Robert Downey Jr. dan Jude Law. Bertolak belakang tapi saling mengisi. Hubungan platonik banyak orang bilang. Para penonton setia menunggu apa yang akan terjadi di antara mereka. Banyak yang mengharapkan agar Scully dan Mulder memadu kasih. Layaknya Rachel dan Ross di serial Friends. Atau Carrie dan Mr. Big di serial Sex and The City.

The X-Files adalah serial TV dengan genre science fiction terpanjang yang pernah ditayangkan oleh TV (khususnya FOX). Berawal dari Mulder yang terobsesi untuk mencari adiknya, Samantha Mulder, yang menghilang dan dia sangat yakin bahwa alien telah menculik adiknya. Dari sana cerita berkembang dan semakin kompleks karena banyak melibatkan politik di FBI itu sendiri, konspirasi teori, dan karakter yang misterius seperti Smoking-Man perwakilan dari The Syndicate.

The X-Files ini adalah serial yang mempunyai cult follower dan telah menjadi pop culture. Seperti Star Wars atau Star Trek di film layar lebar. The X-Files juga telah membuka pintu untuk serial science fiction lainnya untuk tayang di layar kaca seperti Lost, Dark Skies dan Fringe atau Profiler. Bahkan Chris Carter sebagai penggagas serial ini membuat spin-off dari serial ini dengan judul The Lone Gunmen. Komik pun dibuat dari serial ini. Game-nya pun dibuat yang dirilis oleh PlayStation.

Saya sebagai Raelian–yang percaya dengan adanya keberadaan alien di dunia ini–cuma bisa berharap di enam episode terakhir ini semua pertanyaan terungkap. Monster-of-the-week, The Smoking Man, teori konspirasi, dan juga itu hubungan antara Mulder dan Scully agar lebih diperjelas statusnya. Tiga belas tahun itu waktu yang terlalu lama untuk menunggu.

Dulu serial ini ditayangkan RCTI hari Rabu malam jam delapan malam kalau tidak salah. Tidak ada salahnya kalau ada stasiun TV lokal yang menayangkan ulang serial ini. Ah tapi jangan terlalu berharap dengan TV-TV lokal yang lebih mengedepankan saga dari Nazar dan Muzdalifah yang tidak berkesudahan. Mendingan juga sambil nunggu serial lanjutan ini tayang saya coba segarkan ingatan anda terhadap serial TV ini dengan lagu dari Catatonia yang berjudul Mulder & Scully.

 “This is a hallucination. It has to be. And either I am having it, or you are having it, or we are having it together.”

 

Apa Definisi dari “Definisi”?

Dengan sukarela dikerangkeng definisi.

Ya, mungkin begitulah kiranya ketentuan hidup kita sekarang. Kita, yang konon pantas disebut manusia-manusia modern. Makhluk organis yang selalu bertumbuh dalam fleksibilitas. Saking fleksibelnya, sampai-sampai ndak sadar kalau sudah membuatnya rentan, rawan, vulnerable, fragile. Ibarat bombon karet yang ditiup menjadi balon berisi gas bau mulut. Makin besar ukurannya, kian tipis lapisannya. Lalu *PLOP!* Pecah.

Begini.

Sebagai makhluk pengguna daya pikir dan akal budi, manusia menciptakan perkakas imajiner untuk membantunya menggarap ladang kehidupan. Perkakas imajiner itu disebut “definisi”. Milik bersama, dibuat bersama-sama, digunakan bersama-sama, diutak-atik bersama-sama. Bila sudah waktunya, ya bisa dirusak bersama-sama, diganti dengan yang baru.

Definisi digunakan untuk mengenali segala sesuatu. Bentuknya adalah kesepakatan. Semacam label. Sesederhana kertas tempelan bertuliskan “gula” untuk batuan putih yang terasa manis, “garam” untuk batuan putih yang terasa asin, “mecin” untuk batuan putih yang terasa bukan manis pun bukan asin melainkan gurih, dan kawan-kawan mereka yang lain. Bahkan analogi ini masih terlalu gampang, masih bendawi. Sebab definisi juga kita gunakan untuk mengenali dan membedakan hal-hal tak kasatmata, yang ghoib. Coba jawab pertanyaan ini:

Apa yang dimaksud dengan rasa manis/asin/gurih/pedas/pahit/hambar itu?

Lalu, “kenapa rasa manis/asin/gurih/pedas/pahit/hambar kita sebut ‘manis/asin/gurih/pedas/pahit/hambar’?

Kesepakatan membuat semua definisi menjadi baku, berdaging, berkekuatan, dan mengikat sehingga tak boleh dilanggar. Menimbulkan ilusi baru: benar versus salah. Buktinya, ketika seseorang menyebut gula rasanya asin, dia dianggap salah. Either dia dicap bodoh, kurang berwawasan, atau tidak tahu. Orang-orang di sekitarnya akan berusaha menyadarkan, berupaya menjadi sang penyelamat dengan membuatnya kembali ke pengertian yang benar bahwa: (1) rasa gula adalah manis, dan (2) rasa yang dihasilkan dari gula adalah rasa manis. Bila langkah ajakan pertobatan itu direspons dengan perlawanan, either dia dicap gila atau kafir rasa. Diharamkan bikin es teh, atau asinan buah.


Ada miliaran, triliunan definisi. Semuanya lengkap dengan ketentuan “begini benar, begitu salah.” Ketentuan, (dianggap) sudah “tentu”, (dianggap) sudah “pasti”

Kita, nenek moyang kita, neneknya nenek moyang kita, nenek moyangnya nenek moyang kita, dan seterusnya pun telah hidup sampai kemudian mati dengan definisi-definisi tersebut. Namun entahlah, berapa banyak di antara kita–dan siapa saja–yang sadar, kitalah yang menciptakan definisi dan mempergunakannya selama ini. Sementara kita terus bersikap seolah-olah tercipta dalam definisi, dan harus tunduk padanya. Batin merespons dengan membabi-buta, babi (celeng) yang buta, seruduk sana sini yang penting bikin rusak dan tidak tertangkap.


Definisi “indah”: “keadaan enak dipandang; cantik; elok.

Lalu, dari sisi orang lain, yang tidak enak dipandang, tidak cantik, dan tidak elok berarti tidak indah. Kalau tidak indah, terus harus digimanain?

Dikasihani?

Diolok-olok?

Dibiarkan?

Ditertawai?

Dibikin supaya indah?

Disemangati?

Dijauhi?

Ditemani?

Apa?

Sedangkan, dari sisi diri sendiri, yang tidak enak dipandang, tidak cantik, dan tidak elok berarti tidak indah. Kalau tidak indah, terus mau diapain?

Mengasihani diri sendiri?

Malu?

Berbesar hati?

Memperbaiki ketidakindahan tadi?

Depresi?

Disembunyikan?

Masa bodoh?

Apa?


Terlepas dari dualitas “benar dan salah”, mending pakai “membahagiakan dan menyengsarakan.” Daripada menjebak diri sendiri dengan definisi untuk menentukan benar atau salah, mungkin akan lebih patut jika didasarkan pada kesan membahagiakan atau menyengsarakan. Sesuatu yang terasa benar belum tentu sungguh-sungguh membahagiakan. Sebaliknya, sesuatu yang menyengsarakan belum tentu sungguh-sungguh salah. Begitupun dua kemungkinan lainnya. Bagaimana memastikannya?

Tergantung. Dari mana?

Udahlah, santai aja.

Yang penting, asal jangan terpenjara.

Toh, apakah definisi benar-benar mewakili kenyataan?

Sumber: Facebook

Sumber: Facebook

[]

Bonekaku Diperkosa Ayah

Kudatangi kantor polisi. Pagi sekali, bahkan aku baru melihat dahi mentari memanas di timur jauh. Kukayuh sepedaku kencang-kencang dan berjanji jika nanti ada sesiapa di depan jalanku pasti kutabrak dan mati, aku tidak peduli.

Pak polisi, aku mau menuntut! sekarang!”
Ada apa pagi begini dik? ayo duduk sini, nah ini kursinya,” kursi kecil yang berderit di setiap gerakan pantatku.
Mau melaporkan pemerkosaan.
Siapa yang diperkosa?.. adik diperkosa? Sama siapa?
Bukan.. bukan aku!” kukeluarkan si Patsy dari dalam tas.

image

Ini Pak! bonekaku Patsy diperkosa.”
Sebentar… sebentar. Siapa namamu, umur, dan di mana rumahmu dik?,” pria buncit ini menghampiri dan memegang pundakku.
Bapak mau apa?..” kuhempas tangannya dari pundakku tadi, dan berlari ke balik tirai di jendela depan.
“Jangan mendekat! biar aku bicara dari sini, supaya bapak tidak memperkosaku,” tirai ini tipis sekali ternyata.
Namaku Ambar, 16 tahun, dan bapak tidak perlu tahu rumahku.
Baik, baik. Siapa yang memperkosa bonekamu?
Patsy! namanya Patsy.. panggil dia dengan nama itu, jangan boneka, atau tidak akan kujawab nanti.
Baiklah siapa yang memperkosa Patsy?
Ayah. Semalam ayah memperkosa Patsy, sampai berdarah, nih lihat darahnya masih ada baunya amis!” aku tahu Patsy diperkosa sampai sekarat, ayah memang kejam. Kemudian tangisku datang, menyesali penderitaan Patsy, kenapa aku lalai menyimpannya. Pak polisi buncit itu mengambil tisu dan menyeka darah patsy yang bening-kental.

Waduh..bagaimana ya dik. Patsy itu sebuah boneka, bukan makhluk hidup, jadi sulit untuk memprosesnya. Begini saja adik bapak antarkan pulang ya?
Lihat ini!.. Patsy bergerak hidup kan?” Kurebut patsy dari atas meja dan kutancapkan tali yang terselip di pantatnya ke sumber listrik. Dan dia bergerak, tersendat, bergerak lagi, mati, tersendat, bergerak lagi, dan buru-buru kucabut tali itu supaya patsy tidak kehabisan tenaga.
Lihat dia masih hidup! Dia butuh bantuan segera! bukankah tugas polisi untuk menyelamatkan nyawa? patsy sekarat! Jelas di sekarat, dulu gerakannya bagus, lincah buka-tutup, buka-tutup, tarik-tarik, buka-tutup manis sekali
Bagaimana ya dik habis, bagaimana ya baiknya?
Begini saja! sekarang antarkan aku ke pengadilan, yang seadil-adilnya. Kalau aku tidak mendapatkan keadilan, maka aku akan menyusul patsy ke akhirat!
Baiklah ayo!..” si buncit bergegas mengajakku ke sebuah bangunan lama, dengan papan tulisan yang berderet di depannya, dan aku curiga.

Tempat apa ini?
Ini namanya KUA, pengadilan yang paling adil sedunia, percayalah.” Dia membuka pintu. Ada dua orang di dalamnya. Aku percaya ini adalah ruang pengadilan yang mulia. Meja besar, kursi-kursi yang berbanjar rapi, patung burung di tengah, dan gambar nyonya-nyonya dan bapak-bapak di kanan kiri burung itu. Si buncit menghampiri salah seorang dari dua pria yang berdiri menghadap kami dan berbisik, aku yakin dialah hakimnya.

Pak hakim, gelar sidang sekarang! aku mau keadilan! Lekas panggil jaksa, pembela, dan tangkap ayahku!” Tiba-tiba ayah ibuku menerobos masuk.

Itu dia pak hakim, dia ayahku, pak polisi tahan dia!
Kemana sajau kau nak? kami mencarimu dari tadi.
Diam ayah! ayah kejam, kenapa ayah lakukan itu tidakkah ibu cukup buat ayah? kenapa harus patsy? kenapa bukan aku?. Patsy masih terlalu kecil, dia tidak sebanding dengan ayah. Sakit jiwa!”

Tangsiku menjadi-jadi, tidak tertahan, dan berteriak. Pak hakim menghampiri ayah dan menyilakan mereka duduk di barisan terdepan. Ibu menangis.
Baiklah, sidang akan saya mulai
Sebentar! kenapa hanya ada hakim, polisi, dan jaksa mana pembela dan para penonton, ruang sidang ini sepi aku tidak mau bersaksi seorang diri.
Tunggu.” Si buncit berlari keluar dan melambaikan tangan pada siapa saja yang melintas, dia berbisik dan mereka masuk satu demi satu hingga memadati ruangan.

Aku siap pak hakim, cepatlah!” Aku berlari duduk di kursi tunggal terdepan dan kukeluarkan patsy.
Di mana kau bertemu patsy nak?
Di lemari ibu tiga tahun yang lalu, itu boneka ibu.. sudah sewajarnya diturunkan pada anaknya bukan? Namanya Patsy Vibra, marganya Made in-USA. Dia orang luar negeri pak hakim, lihat saja rambutnya.” Tangis ibu bertambah kencang dan kudengar gemuruh suara para penonton yang diselingi dengan tawa terpendam. Bapak hakim segera memukul-mukulkan palunya untuk menenangkan penonton.

Apa yang menimpa patsy?”
Dia diperkosa, semalam dia diperkosa ayah di kamar mandi, aku melihatnya sendiri. Sekarang Patsy sekarat, lihat dia bergerak hanya sedikit, tidak lincah. Dia butuh pertolongan, kalau tidak dia mati pak hakim, aku akan menyusulnya...” Bapak hakim berdiri dan berteriak.
Siapa di sini yang dapat menyembuhkan patsy?”
Saya pak hakim! Saya dokter.” jawab salah seorang penonton. Dokter penyelamat Patsy.

Nak, serahkan patsy pada pak dokter, biar dia mengobatinya.”
Ragu-ragu kusodorkan patsy yang terbaring lemah pada dokter yang menghampiri. Dokter ini membawa sekotak perlengkapan, dan membawa Patsy ke belakang ruang sidang. Aku khawatir kalau-kalau jiwa Patsy tak terselamatkan. Badanku gemetar membayangkan Patsy yang merintih kesakitan, apakah dia bisa sembuh seperti sedia kala?

Sambil menunggu pengobatan patsy akan saya bacakan vonis untuk terdakwa. Karena terdakwa melakukan pemerkosaan terhadap Patsy yang masih kecil, maka dikenakan hukuman cambuk satu hari sekali selama tiga bulan, tanpa tahanan.” Hatiku berdebar-debar saat pak hakim menimpakan putusan pada ayah. Inilah keadilan.

Gemuruh penonton meledak-ledak menertawai ayah si terdakwa. Ibu tetap menangis.
Pak hakim siapa yang nanti menghukum cambuk ayah?”
Ibumu. Biar ibumu yang melakukan setiap harinya.” Tawa penonton tak kunjung reda walaupun bapak hakim sudah lelah memukul-mukulkan palunya ke meja.

Tak lama dokter tadi muncul dengan senyuman.
Dia sudah sembuh nak!lihatlah gerakannya kembali lincah.” Buru-buru kurebut patsy dari tangan dokter dan kembali kulistriki.
Betul! Dia sembuh lihatlah, lihat mulutnya menggeliat lincah. Buka-tutup, buka-tutup, tarik-tarik, buka-tutup. Horeeee! Patsy pulih!

Ibu masih saja menangis. Tanpa sadar penonton sudah begitu penuhnya hingga memadati halaman dan jalan-jalan di luar ruang sidang. Kasus pemerkosaan memang sangat menarik perhatian masyarakat, aku yakin mereka berpikiran yang sama dengaku. Mereka mendukungku.
Baiklah, sidang selesai. Silakan kembali berkegiatan masing-masing.
Tunggu pak hakim! bapak belum memukulkan palu tiga kali!” Hampir saja putusan hakim tidak sah, dan hukuman ayah tidak berlaku. Duk duk duk, kami pulang.

Pagi berikutnya kutemani ibu untuk menyambuk ayah dengan sapu lidi sebelum berangkat ke kantor. Dan begitu seterusnya hingga tiga bulan berlalu. Aku puas. Itulah hukuman bagi pemerkosa!

Sekarang kusimpan Patsy di tempat semula, baik-baik. Ternyata di lemari ibu banyak teman-teman Patsy. Tentunya dia akan bahagia bersama kawan-kawannya. Mereka kebanyakan tak bernama, kecuali satu yang masih kuingat. Namanya Betty, dia kakak Patsy karena marganya sama dan berukuran lebih besar. Mereka semua manis-manis, dan aku akan menjagannya. Aku janji!

How Could You?

Di benua Eropa saja, terdapat lebih dari 500 versi cerita Cinderella. Ada versi China yang berjudul “Ye Xian” diperkirakan ditulis di abad ke 9. Sangat mungkin karena penggunaan sepatu sebagai identitas Cinderella. Mengingat pada masa itu, semua perempuan China diikat kakinya agar tidak bertambah besar. Kaki kecil dianggap sebagai simbol kecantikan.

Tapi Charles Perrault diyakini sebagai penulis asli di tahun 1690-an. Dari mana pun asalnya, cerita Cinderella telah beranak pinak hampir di seluruh penjuru dunia dan dibaca oleh milyaran penduduknya sejak pertama kali diterbitkan. Dan tentunya “Bawang Merah Bawang Putih” dari Indonesia. Atau film “Ratapan Anak Tiri” di tahun 1974.

Cerita mengenai gadis cantik, yang ditinggal mati oleh ayah ibunya dan kemudian diasuh oleh seorang Ibu Tiri. Ibu Tiri yang digambarkan kejam ini memiliki dua anak perempuan lagi yang memiliki sifat pemalas, jahat dan merasa paling cantik. Sampai akhirnya, Cinderella melalui sepatu kaca sebagai identitas,  diselamatkan hidupnya oleh seorang Pangeran. Dan mereka pun hidup bahagia selamanya.

Para pejuang hak perempuan, di suatu masa selalu menggunakan cerita Cinderella sebagai bukti bagaimana perempuan selalu dilemahkan. Sebagai makhluk yang harus diselamatkan oleh laki-laki. Stereotyping bahwa Ibu Tiri adalah jahat. Dan perempuan baik itu diidentitaskan dengan kelemah lembutan. Keberanian perempuan dianggap sebagai kekurang ajaran. Dan tentunya, menikah (apalagi dinikahi oleh Pangeran) menjadi syarat mutlak kebahagiaan seorang perempuan.

Cinderella Complex yang dicetuskan pertama kali oleh Colette Dowling, menjelaskan tentang perempuan yang cantik fisik, lemah lembut, sopan santun, pekerja keras, mandiri, pada akhirnya akan dinilai dan dijatuhkan oleh sesama perempuan dan diselamatkan oleh laki-laki. Mengukuhkan posisi laki-laki di atas perempuan. Sehingga laki-laki pantas untuk menguasai perempuan.

Atas alasan yang sama, maka terbitlah gerakan yang memperjuangkan kesetaraan bagi perempuan. Kartini tentu menjadi salah satu yang ternama di negara ini. Iklan-iklan yang menggunakan momentum ini pun tak terbilang banyaknya. L’Oreal, because you are worth it. Dove, yang selalu mendobrak makna cantik yang selama ini ditumbuh kembangkan oleh iklan dan pop culture.

Yang menarik untuk diamati adalah perubahan brand Lux. Dari awal masuk ke Indonesia diposisikan sebagai “sabun kecantikan bintang-bintang holywood”, sebagai cerminan perempuan saat itu yang menilai dan mengidolakan perempuan dari kecantikannya semata. Ikut berkembang saat perempuan pun mulai bekerja dan berkarya. Walau profesi yang ditampilkan masih berdekatan dengan perempuan dan kecantikan, seperti penari dan bintang film. Sampai di suatu titik, Lux menjadi sabun yang “memahami wanita apa adanya”. Sebuah pernyataan mengenai kebebasan perempuan untuk menjadi apa pun yang diinginkan.

lux

Padahal di tahun 64, Lux mengeluarkan iklan pertamanya dengan lirik lagu:

 “A woman’s born to softness, and that’s the way it is. A soft and magic creatures some man will call his”

Dengan alasan kesetaraan dan mendobrak nilai perempuan sebagai makhluk lemah ini pula, keberadaan sinetron dipertentangkan. Apa sih yang sinetron tampilkan? Ibu tiri yang jahat pada anak perempuan tirinya. Istri pertama yang rela diselingkuhi suaminya demi mempertahankan keutuhan rumah tangga dan nilainya sebagai perempuan. Seorang dokter perempuan yang cerdas baru benar menemukan kebahagiaannya saat dilamar oleh pria pujaan hatinya. Perempuan yang ambisius cenderung bersifat jahat sementara yang ‘nrimo’ bersifat baik hati.

13 Maret 2015, Disney meluncurkan film terbarunya, Cinderella. Disutradarai oleh Kenneth Branagh dan Lily James sebagai Cinderella dan Cate Blanchett sebagai Ibu Tiri. Tak ada twist berarti di film ini. Semua masih seperti cerita aslinya. Satu-satunya bagian perlawanan Cinderella ketika dilecehkan oleh Ibu Tirinya adalah kalimat “how could you?” yang diucapkan dengan tatapan dalam. Selebihnya, Cinderella di film ini masih perempuan yang cantik, lemah lembut, rajin, pekerja keras, berteman dengan tikus, dilecehkan oleh sudara perempuan tirinya dan akhirnya diselamatkan oleh laki-laki.

http://www.hollywoodreporter.com menulis “Happily Ever After With $132.5M Global Debut” sebagai tanda kesuksesan film ini di berbagai penjuru dunia. Di Jakarta sendiri, beberapa bioskop bahkan membuka dua theatrenya untuk film tersebut. Berbondong para orang tua pun membawa anak-anak mereka (terutama anak perempuan) untuk menonton film ini. Film yang sebenarnya, tak berbeda jauh nilainya dengan sinetron. Sampai tulisan ini diterbitkan, belum terdengar adanya perlawanan terhadap film ini. Kritik atau diskusi terbuka bagaimana film ini bisa menanamkan nilai perempuan yang lemah pun tak terdengar. Semua terhibur. Semua menikmati. Para pejuang kesetaraan perempuan dulu pun mungkin sudah membawa anak perempuannya menonton Cinderella.

ibutiri

Padahal apa bedanya tawa penuh kejahatan Cate Blanchet dan Meriam Bellina? Ibu Tiri dikukuhkan kembali sebagai perempuan yang jahat. Kelemah lembutan Lily James tak beda dengan Revalina S. Temat sebagai Bawang Putih. Semua sama. Hanya mungkin perbedaanya di film ini, para penonton perempuan dan gay bisa juga terhibur oleh tonjolan di selangkangan Pangeran yang diperankan oleh Richard Madden.

set_cinderella_disney_prince_bulge

Anak-anak perempuan pun kini punya impian baru. Menjadi Cinderella. Seperti tampak di salah satu akun instagram anak perempuan yang dilahirkan dan dibesarkan di ibukota. Tak suka dan dilarang menonton sinetron. Ditanamkan pemahaman bahwa perempuan bisa menolong dirinya sendiri tak selalu perlu bantuan laki-laki. Fasih berbahasa Inggris dan siap menyambut kekuatan dan kesetaraan laki-laki dan perempuan.

image2

Lux pun memiliki tagline terbaru “Just A Little Lux”, perempuan pun diberi impian bisa mendapatkan pangerannya dengan setetes sabun Lux cair.

 

How could you…

 

Ngidhidaba & Daku Yang Maha Patuh

Bulan depan Perdana Menteri Ngidhidaba merayakan ulang tahunnya yang ke-78. Ngidhidaba, sebuah negara tropis paling maju sejagadmaya dengan separuh penduduknya adalah waria.

Profil penduduk Ngidhidaba jelas: sebagian pria kewanita-wanitaan dan sebagian wanitanya keibuan. Sayangnya ibu-ibu di Ngidhidaba banyak yang kesepian. Ibu-ibu yang lelah berebut mencari calon suami hingga mati. Bersaing dengan ibu-ibu lain dan para waria kesetanan. Banyak juga Ibu-ibu yang berdoa sepanjang malam kapan suaminya lekas pulang.

IMG_0491

profil rumah penduduk Ngidhidaba

 

Eksistensi para waria ini begitu mencengkeram. Waria memenuhi parlemen, pemerintahan, dan lembaga pendidikan. Minggu lalu, Komisi X Parlemen Ngidhidaba berhasil membatalkan amandemen Undang-Undang mereka yang berencana mendirikan KPW, Komisi Pemberantasan Waria. Bukan soal cicak versus buaya. Ini soal kebebasan waria berkerudung tanpa perlu mencukur jenggot dan kumis.

Di jalanan, banyak laki-laki dan laki-laki lain bergandengan tangan. Sedangkan ibu-ibunya sibuk wara-wiri sembari menggenggam kenangan dan harapan. Ini belum seberapa. Jika cermat, sebagian ibu-ibu jyang alan-jalan di mal, di pasar, di kantor dengan tatapan kosong dan terkesan menggenggam dendam. Hih, Ngeri! 

Perdana Menteri Ngidhidaba bernama Aku. Iya, aku, pemimpin negera ini. Bulan depan aku memang ulang tahun. Yang paling heboh dan ingat atas hari ulang tahunku adalah Ibu Negara. Tentu saja. Selain karena di hari ulang tahunku kami akan makan mewah, main domino semalam suntuk, memanggil artis ibukota, pesta kembang api, ada satu hal yang membuat dirinya selalu ingat hari ulang tahunku.

Begini ceritanya.

Tepat seminggu sebelum hari ulang tahunku, biasanya Negara Api menyerang. Peristiwa dimana penduduk kami merasa sedih. Kami berperang mati-matian. Sebagian perempuan dengan mudahnya berganti profil. Ibu-ibu menjadi janda. Sebagian prianya juga bermasalah dengan status. Dari status in a relationship tiba-tiba menjadi it’s complicated. Serangan Negara Api, dilakukan sejak dini. Saat Perdana Menteri Ngididhaba masih dalam kandungan.

IMG_0454

sebagian besar sosok penduduk negara Ngidhidaba

Serangan Negara Api ndak seberapa dahsyat. Tapi trauma yang ditinggalkan dari serangan itu, jauh lebih dahsyat dan hampir-hampir saja menodai tahta suci Vatikan. Memang ndak nyambung. Tapi lagi kepingin saja bilang “tahta-suci-vatikan”

Negara api, negara yang kecil mungil. Jika Ngidhidaba sebesar batu akik, maka negara api sebesar upil. Jika Ngidhidaba didominasi waria, negara Api penuh dengan pandita. Slogan negerinya: “Panyu Nyumu Hire!”. Sebuah slogan maha dahsyat, yang jika kalimat itu diperdengarkan, maka setiap penduduk yang mendengarnya siap mati syahid. Bahkan tingkat kesyahidan Panyu Nyumu Hire ini melebihi tingkat loyalitas anak muda ISIS. Karena selain berani mati, Panyu Nyumu Hire berarti juga siap hidup syahid. Hidup di jalan Gupadh, nama dewa sembahan mereka.

Gupadh mengajarkan kebaikan bagi negara api. Dalam kitab suci mereka, Nyigas, terdapat 7 keutamaan larangan ajaran Gupadh: Pertama, Dilarang masturbasi di kamar mandi. Kedua, Dilarang menonton video porno saat bekerja, Ketiga, Dilarang menonton video porno di rumah. Keempat, Dilarang berlama-lama di kamar mandi, kecuali rela diduga sedang masturbasi. Kelima, Dilarang tertawa saat berkomunikasi, karena tertawa saat berkomunikasi dapat dipastikan sedang haha-hihi dengan lawan jenis. Dan ini adalah dosa terbesar versi Gupadh: Tertawa-bersama-yang-bukan-muhrimnya. Keenam, Dilarang membuat password dan kunci di seluruh properti, baik pintu rumah, sekolah, gawai, sampai surat elektronik. Semua harta adalah milik publik. Ketujuh, Dilarang berdoa tanpa menangis. Untuk yang terakhir, terus terang penulis juga tidak tahu alasannya. Tidak sempat mengetahui lebih lanjut karena saat akan dikonfirmasi, para pelaku yang memedomani sikap hidup ini masih sibuk menangis. 

Negara Api memang aneh. …atau bisa jadi hanya lelah.

Hingga  saat ini Ibu Negara masih sibuk dan panik mencari tahu mengapa negara api rutin menyerang negerinya tepat seminggu sebelum baginda perdana menteri berulang tahun. Ibu negara Ngidhidaba sampai harus membentuk tim task force yang diberi judul Tim Khusus Waspada Serangan Negara Api, disingkat menjadi JKW4DWP. Ketidaknyambungan ini membuktikan Ibu negara begitu sibuk panik.

Jika ada teknologi yang berkenan melompati waktu, maka teknologi itu pasti telah dibeli oleh seluruh penduduk Ngidhidaba. Sayangnya kemajuan teknologi informasi sejagadmaya belum dapat memenuhi keinginan ini. Januari, Februari, Maret, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, Desember. Ini cita-cita dalam kalender mereka. Alasannya: Negara api tidak menyerang. Kedua, Pemimpin mereka awet muda.

Sayang seribu sayang, teknologi Ngidhidaba baru sebatas layanan komunikasi menonton gratis Nicholas Saputra lagi masak, Nicholas Saputra lagi mandi, dan Nicholas Saputra jatuh cinta lagi.

Seberapa besar korban serangan Negara Api? Dahsyat lah pokoknya. Berapa lama serangan Negara Api? Hanya satu hari, tapi dampaknya sepanjang tahun, setiap malam, setiap desahan nafas penduduk kedua belah negera bersengketa. Biasanya menelan berapa korban jiwa? Ini anehnya, hanya tiga. Perdana Menteri, Ibu Negara dan Pemimpin Negara Api. Maksudnya? Iya, hanya jiwa yang jadi korban. Fisik mereka baik-baik saja. Bagaimana dengan para waria? Apakah mereka ikut bertempur di medan laga? Oh iya tentu saja. Waria sibuk membela harga diri pemimpinnya.  Lalu masalahnya apa? Di situlah masalahnya, sebetulnya tak ada masalah. Serangan Negara api kepada Negara Ngidhidaba sejatinya adalah serangan ingatan dan kenangan. Pertanyaan terakhir: Kenapa kok model tulisannya jadi semacam Frequently Asked Questions gini *bengong*? Biar keren. Asal kamu tahu aja ya, postingan FAQ lagi ngetren, tauuuuk.  

Sudah saatnya Negara Api dan Ngididhaba menempuh jalan damai. Sengketa yang diakhiri. Tanpa perlu menambah korban jiwa lagi. Perlu ada pertukaran budaya. Negara api mulai menerima keberadaan waria, dan warga Ngidhidaba belajar untuk tidak lagi masturbasi di kamar mandi.

Tiba saatnya menata hubungan diplomatik, bukan hanya bilateral. Namun juga dengan negara lain. Agar hidup rukun dan damai. Agar Adem Ayem. Tentrem. Sederhana. Baik memilih Pondok Djaya atau Simpang Raya. Medan Baru atau Andra Wina. Dekat Tangga atau Lantai Tiga. Baik Garuda versi Nasi padang atau Garuda versi pempek. Dari Sabang hingga Pasar Santa.

Oh iya, Pemimpin Negara api itu bernama Daku. Nama lengkapnya Daku Yang Maha Patuh. Nama yang hampir sama dengan Pemimpin Negara Ngidhidaba.

Lengkapnya: Da Aku Mah Apa Atuh.

 

..

..

Selamat pagi,  salam anget dari hati..

Roy, pria dengan sejuta pesona.

 

 

keep-calm-and-say-da-aku-mah-apa-atuh

Just Because …

… because it always feels good to love first, to spare a space in heart and mind solely for one other person, and no one else, just no one else but this special person, he or she who gets us up and about every single day, to think of nothing but giving our utmost thought effortlessly, selflessly, smoothly, and willingly, to initiate help without being asked to, to give without wanting anything in return, to wait in vain without knowing, to anxiously look forward to each and every clue, and also hint that brings joy, all of those without realizing that maybe, subconsciously, we don’t want anything back.

When you have given your love with all your might, perhaps you don’t care about being loved in return.

Love is …

Beeping heart

Beeping heart

Apa?

BARANGKALI, salah satu hal yang paling menyedihkan di muka bumi ini adalah hubungan yang kabur juntrungannya. Ketika tidak jelas apakah seseorang menjalankannya dengan perasaan cinta, atau gara-gara pertimbangan lainnya. Atau malah sebenarnya tidak tahu apa-apa. Pokoknya dijalani. Serba buram, namun terlampau sok percaya diri. Hanya bermodalkan asumsi, mirip bonek, lalu membuatnya bergulir begitu saja, tak tahu bakal mengarah ke mana. Terus seperti itu, sampai akhirnya menggenapi bunyi sumpah janji: “hingga maut memisahkan.” Yang secara tidak langsung menyodorkan makna alternatif: “sudah telanjur.

Jauh lebih menyedihkan ketimbang–yang dikira–cinta tak berbalas, maupun–yang dikira–cinta dipendam sendiri, atau–yang dikira–cinta terhalang latar belakang keluarga dan agama.

Terlebih bila di sisi berseberangan, sang pasangan pun salah kira. Menganggapnya “inilah cinta (?)” Ibarat dua orang buta yang saling tuntun. Sama-sama gulita, sama-sama tidak tahu sedang menghadapi apa, sama-sama mengiyakan, sama-sama menafikan. Kemudian terjadi silang pendapat, untuk yang pertama dan seterusnya. Bisa bikin menangis, bisa bikin tertawa, bisa bikin kelahi, bisa bikin merasa nyaman, bisa bikin tak mau lepas, bisa bikin sayang (lebih tepat diwakili dengan istilah éman dalam bahasa Jawa), bisa bikin sakit hati, bisa bikin mau bunuh diri, bisa bikin pengin cari pelarian, bisa bikin make-up sex, dan bisa bikin macam-macam lainnya. Rona kehidupan yang wajar, kata sebagian orang. Disebut wajar, lantaran terus menerus terjadi selama ini tanpa benar-benar bisa dipahami. Terus menjadi misteri yang kerap terasa absurd. Pengalaman absurd yang kemudian dipukul rata dengan kalimat: “begitulah nikmatnya kehidupan,” dengan arti kata “nikmat” yang ambigu, yang tak bisa dihindari, atau yang tak diketahui cara untuk menghindarinya. Sehingga mau tak mau ya dibiarkan terjadi. “Dinikmati” detik demi detiknya, kemudian menghilang sekejap mata, berganti dengan sensasi pengalaman yang lain lagi.

Atau sebenarnya, perlukah dihindari?

Bila mampu?

Tergantung kesepakatan umum?

Apakah mengantarkan pada kebahagiaan?

Mungkin.

Entahlah.

Ndak tau.

L, is for the way You look at me.

O, is for the only one I see.

V, it’s very extraordinary.

E, is even more than anyone that You adore.

~ NKC

Ah, seandainya cinta bisa sesederhana lirik lagu jadul itu. Kala terjadi, langsung mudah dikenali dengan tepat. Benar-benar sebagai sebuah rasa cinta. Bukan sesuatu yang dikira cinta pada awalnya, namun semakin lama semakin terasa tidak jelas, atau malah terasa layaknya sebuah lara.

Tahu dari mana sih kalau itu adalah cinta? Benar-benar cinta? Banyak yang bilang “I just know it” kala ditanya apakah sedang benar-benar merasakannya. Tidak jelas apa cakupan dari “just know it” tersebut. Banyak yang merasakannya hanya gara-gara pandangan mata, bunyi dan suara, kekaguman dan rasa suka, atau sekadar crush. Naksir seseorang, kemudian setelah beberapa puluh kali kencan, perasaan yang bikin naksir tadi makin kuat, atau malah tercecer entah jatuh di mana.

Oh iya, ini juga. Bila yakin itu cinta, apakah benar-benar mencintai si dia, sang objek perasaan cinta? Atau jangan-jangan, sebenarnya malah lebih mencintai diri sendiri, yang sedang merasakan cinta. Yang sedang gembira-gembiranya, dengan hati berbunga-bunga. “Cinta pada perasaan jatuh cinta itu sendiri,” kata seorang kenalan. Dan mungkin ini musababnya, putus cinta itu terasa menderita. Sengsara.

Tak sedikit pula yang merasakannya seperti ungkapan “witing trisno jalaran soko kulino,” berasa cinta karena telah bersama-sama sekian lama. Padahal ada kosakata lain untuk mewakili perasaan itu: nyaman.

Ehm, apa jangan-jangan cinta itu sederhananya memang perasaan nyaman ketika bersama seseorang? Nyaman yang bikin éman. Lalu, kalau merasa nyaman bersama beberapa orang sekaligus, bisa pula disebut cinta? Sepertinya iya. Tapi, katanya, bukan rasa cinta yang bisa/harus dibawa nikah. Begitu, bukan?

Terlepas dari itu, apabila memang merasakan–yang namanya–cinta, terus harus diapakan? Ada ketentuan harus dikejar? Harus dimenangkan (hatinya)? Harus dimiliki dengan dipacarin, dikawinin? Bagaimana kalau tidak dipacarin atau dikawinin? Bukan benar-benar cinta gitu?

Apakah juga harus bercinta? Nah! Apakah bila cinta harus bercinta? Kalau perasaan cinta harus ditandai dengan bercinta, jadi cinta yang tanpa bercinta tidak bisa disebut cinta? Ga usah bingung. Ini bukan sedang membicarakan cinta ibu pada anak, kakak pada adik, guru pada murid, cinta kepada bangsa, negara, dan agama, atau cinta kepada alam semesta. Tapi ya tetap berbicara soal cinta antara manusia. Ada loh yang saking cintanya sampai-sampai éman dibawa bercinta. Mau disebut apa? Aneh? Ganjil? Gila?

Toh kalaupun sudah berasa cinta, sudah dipacarin, sudah dikawinin, sudah bercinta penuh gelora, ada jaminan tidak bakal berubah? Cinta bisa dikalahkan dengan perubahan? Kebosanan, misalnya? Tetap bisa absurd? Beneran tai kucing terasa cokelat?

Bagaimana nih?

Jadi, sebenarnya, cinta itu sebenarnya apa sih?

[]