Kita Juga Koruptor Apabila..

IMG_9729

Naik motor ndak pakai helm. Menerobos lampu merah. Beri uang damai kepada polisi. Melawan arus jalan. Serobot jalur pengendara lain lewat kiri. Ngebut di tol jalur darurat.  Masuk jalur busway. Naik motor gunakan trotoar. Menunggu lampu merah melebihi batas zebra cross.

Menyeberang jalan tergopoh-gopoh padahal ada jembatan penyeberangan di atasnya. Menunggu bus di jalur untuk penumpang keluar pintu. Menyeberang jalan ketika lampu hijau masih menyala. Naik bus bukan di halte.

Mengoper penumpang seenak jidat. Menghentikan kendaraan umum di tikungan. Menunda jadual keberangkatan tanpa alasan jelas. Ngetem terlalu lama. Memuat penumpang terlalu penuh hingga penumpang berasa jadi ikan sarden.

Buka restoran tanpa sedia parkir memadai hingga luber ke pinggir jalan. Ndak setor pajak hiburan. Kutip bahkan memaksa ikut serta sumbang PMI. Jualan pakai mobil di parkir pinggir jalan. Bikin daftar menu tanpa tertera harga. Gambar di daftar menu lebih gede, komplit, dan menggiurkan daripada pesanan yang nyata-nyata datang dan disajikan.

Ndak punya uang kembalian dan memberikan permen.

Pulang larut tapi ndak kerja melainkan numpang unduh dari jaringan internet kantor. Waktu istirahat buat tidur dan waktunya kembali kerja malah makan siang. Bikin-bikin rapat di luar kantor padahal bisa dilakukan di kantor sendiri. Pacaran pakai telpon kantor. Sibuk ngetwit dan ngepath saat jam kerja. Rapat cuma numpang ambil konsumsi tanpa pernah bicara dan berdiskusi. Bikin-bikin acara kantor demi kunjungi salah satu staf atau bos yang adakan resepsi di luar kota. Kebanyakan ambil fasilitas kantor: rumah istirahat misalnya. Setel musik selera sendiri keras-keras dan yang lain diem aja karena sedih dan ndak tega: sedih terganggu kerja dan ndak tega karena tahu selera musiknya rendah. Nunggak uang kas, tapi mau ikut makan-makan dan ngumpul-ngumpul pas ada acara.

Menunda pekerjaan dan lebih memilih internetan.

Tidak tertib administrasi sehingga waktu kerja dipakai untuk membereskan dan mencari-cari dokumen yang tercecer. Akibat banyak yang tercecer harus masuk di hari Sabtu -Minggu dengan pemakaian listrik, akses internet, dan telpon kantor.

Marah-marah pada bawahan tanpa alasan yang jelas. Marah-marah berlebihan di kantor. Menghambat izin cuti anak buah. Terima gaji tapi ndak berani ambil risiko. Masukkan ponakan jadi staf, manajer atau apapun, tanpa seleksi sewajarnya. Memasukkan anak anggota DPR ke kantor biar “dekat”. Memasukkan anak anggota Mahkamah Konstitusi biar perkara terkait kantornya “aman”.

Disapa  bukannya senyum malah merengut, padahal gigimu bukanlah aurat.

Memasukkan anak sendiri ke perusahaan rekanan. Membeli alat tulis kantor dengan anggaran kantor di luar spesifikasi yang wajar. Sudah dapat mobil dinas tapi masih minta reimburse uang transport. Mobil dinas dipakai buat kondangan.

… atau setidaknya kita adalah koruptor kelas teri maupun wannabe.

 

 

*gambar karya Glenn Marsalim dan mengambilnya tanpa izin.

 

Advertisements

Separuh

Minggu ini, Linimasa genap berusia 6 bulan. Tepatnya hari Selasa kemarin, tanggal 24 Februari 2015. Tergantung dari perspektif, bisa saja Anda bilang “baru 6 bulan”, atau “sudah 6 bulan”.

“Baru 6 bulan” karena biasanya yang namanya ulang tahun diukur dari genapnya hitungan satu tahun yang ditandai dengan tanggal dan bulan yang sama tapi tahun yang berbeda, sedangkan ucapan “sudah 6 bulan” bisa jadi diucapkan karena, well, di jaman sekarang, apapun dalam bentuk digital yang bisa bertahan lebih dari 3 bulan bisa dibilang cukup bagus. Selain persaingan yang semakin hari semakin kompetitif, mempertahankan perhatian pembaca juga bukan sesuatu yang gampang.

Sudah lebih dari 180 hari kami hadir setiap hari menemani Anda … hampir setiap hari, ding. Akhirnya kami sempat absen selama dua Jumat yang lalu. Farah Dompas, yang sudah kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi setelah cukup lama nggak ada yang memangku, mengalami jet-lag dan transisi adaptasi ke kehidupan baru yang membuat dia sempat jatuh sakit. Dari menggigil kedinginan di bawah nol derajat sehari-hari, laltu tiba-tiba harus lembur setiap hari dan membajak sawah di akhir pekan, membuat beliau ambruk.
Tapi jangan khawatir. Setelah masa istirahatnya dihabiskan dengan menonton film-film di Netflix, rasanya Farah sudah cukup segar lagi untuk kembali menulis secara rutin.

Dan rutinitas menjadi sesuatu yang sempat terhenti di Linimasa akhir-akhir ini, ketika popularitas cerita Ustadz Wadud karya Gandrasta melejit. Berhubung Fa berhalangan, maka cerita-cerita tersebut digilir secara berurutan, menggeser jadwal Glenn dan Roy. Ditambah dengan Dragono yang beberapa kali mengisi kekosongan Fa, maka saya sendiri sempat bingung, dan harus menanyakan ke grup kami, “Hari ini giliran siapa ya yang piket?”

Tapi saya pribadi melihat kejadian di atas sebagai jeda yang memang kami perlukan. Sesekali bolehlah rutinitas sedikit diacak. Toh di antara kami tidak ada yang benar-benar OCD memandang tulisan harus rapi setiap hari sesuai absen, seperti susunan buku dalam rak. Paling tidak, itu menurut saya, lho. Tidak dijamin juga kalau 6 penulis lain ternyata malah bertolak belakang dari apa yang saya perkirakan.

Maklum saja, kami tidak pernah bertemu beramai-ramai di dunia nyata.

Saya belum pernah ketemu langsung dengan Roy Sayur, Agun Wiriadisasra dan Farah Dompas. Ketemu Dragono Halim terakhir beberapa bulan lalu waktu ada kerjaan di Samarinda. Itu pertemuan kami ketiga, kalau tidak salah. Sudah lupa kapan terakihr ketemu Glenn Marsalim dan Gandrasta Bangko, meskipun kenal mereka sudah lama sekali, dan pernah ada masanya kami cukup sering bersua.

Linimasa diinisiasi Roy hanya bermodalkan perkenalan di dunia maya. Lantas obrolan kami bertujuh pun, berikut keputusan-keputusan mengenai pembagian hari, jadwal tulisan, serta rencana-rencana ke depan, cukup kami perbincangkan di grup WhatsApp. Kalau ramai, pernah terlewat sekitar 600-an pesan. Kalau sepi, bisa berhari-hari tak ada kicauan sama sekali. Apa yang kami perbincangkan? Apalagi kalau bulan tentang harta, wanita, tahta dan Anda. Namanya juga ngerumpi, yang diobrolin ya anything under the sun dong.

Kadang saya penasaran juga, kalau sudah ketemu di dunia nyata, apa bisa kami ngobrol seseru kalau ngobrol di dunia maya? Apa jangan-jangan malah jaim, karena malu-malu kucing? Padahal kucing di Lapangan Banteng dan Sarinah gak ada yang malu, karena kalau malu gak akan laku.
Tapi rasa penasaran itu tidak pernah sampai membuat saya memikirkan terlalu lama, karena rutinitas sehari-hari sudah menyibukkan kami. Apalagi dalam enam bulan terakhir, banyak perubahan yang sudah terjadi dari diri kami.

Gandrasta masih mengisi rumah sambil membagi waktu untuk bisa terus bercinta. Agun mengasuh keponakan sambil terus menjadi pengamat aktif musik dan film. Farah memonitor pergerakan media bagi beberapa korporasi. Glenn berkelana menjadi aktifis dan memberikan penyuluhan kepada berbagai lembaga masyarakat, sambil terus memasak. Dragono punya rencana besar dalam karir dan pendidikan yang sudah dia rintis, dan masih menjadi wartawan. Roy jatuh cinta dengan sepeda barunya yang dia naiki setiap hari, sebagai modal supaya kalau pensiun nanti tidak sering sakit. Saya sendiri, yang kebetulan the true underachiever di grup ini, kebetulan sedang menikmati kembali menghabiskan hari membaca buku-buku teori film seperti waktu kuliah lagi.

Baru semalam saya menonton episode terakhir serial “Parks and Recreation” yang akhirnya berhenti tayang setelah 7 seasons atau musim penayangan. Menonton series finale serial ini rasanya sama seperti menonton episode akhir dari serial-serial komedi Amerika lainnya yang sudah kita ikuti sekian lama. Ada bagian yang hilang, karena kita sudah menginvestasikan waktu kita untuk tumbuh bersama karakter-karakter yang sudah terlanjur kita cintai. Meskipun tidak setiap episode serial “Friends” atau “How I Met Your Mother?” kita sukai, atau bahkan ada satu atau dua musim penayangan serial itu yang bahkan tidak kita sukai, namun menghabiskan waktu bersama mereka sekian lama mau tidak mau membuat mereka secara tidak sadar sudah menjadi bagian dari hidup kita. Kita familiar dengan ciri khas karakter-karakter buatan itu. Kita tahu bagaimana cara Joey merayu, dan kita tahu apa ucapan khas Barney Stinson.

Friends

Friends

Terlalu awal dan mungkin muluk-muluk rasanya membandingkan Linimasa dengan scenario di atas. Tapi tidak berlebihan kalau kami ingin kehadiran kami bisa selalu mengisi waktu sarapan, makan siang dan ngopi sore Anda dengan manis. Anggap saja kami sedang berada di dekat Anda lewat tulisan, lalu kita sama-sama menghabiskan waktu bercanda dan bercerita.

Dan ketika sampai di ujung satu tulisan, akan selalu ada arsip tulisan lain yang menjadi teman Anda.

Enam bulan lagi Linimasa genap berusia setahun. Entah perayaan apa yang akan kami gelar. Kami hanya menunggu tren apa yang akan terjadi saat itu.

Yang jelas, kami hanya ingin menghabiskan waktu dalam cerita bersama Anda semua.

We love you all.

Ingin Ini Ingin Itu Banyak Sekali…

Terserah kamu mau punya teori seperti apa, atau mau idealis yang bagaimana. Tunggu aja nanti kalau sudah kawin.

Terdengar seperti ancaman, kalimat di atas sebenarnya menyampaikan pengingat, markah, isyarat supaya jangan kaget dengan perubahan yang bakal terjadi ketika sudah tak lagi hidup sendiri. Ujaran ini dilontarkan seorang kawan sebaya, sudah masuk kategori “Machmud Abas”, dan langsung diamini “Machmud-Machmud” lainnya. Diskusi informal tersebut ditutup dengan kalimat: “ya udah, kita doain kamu cepat kawin. Biar nanti bisa ngerasain sendiri.

*pencet tombol Rewind*

Mau bagaimanapun, selalu ada jurang yang memisahkan antara Das Sein dan Das Sollen dalam setiap hal; yang sedang terjadi dan yang diharapkan terjadi. Termasuk dalam kehidupan pernikahan. Dimulai saat pasangan pengantin baru dipuja kanan kiri. “Kamu beruntung loh dapat suami/istri dia,” diikuti dengan sederet kualitas-kualitas positif. Mulai dari rupawan, pintar cari uang, jujur, pintar, baik hati, pintar masak, sampai seksi ga ketulungan. Bikin senang. Namun lambat laun, menghasilkan rahasia-rahasia rumah tangga yang memang semestinya disembunyikan.

Sebelum menikah, sejumlah bayangan dimunculkan. Ada cowok-cowok yang berniat ingin jadi kepala rumah tangga idaman… semua orang. Tetap mampu mempertahankan kekerenan lewat penampilan, rajin nge-gym, atau berolahraga bersama teman-temannya. Ingin jadi hot young daddy yang tak segan jalan bareng anaknya saja. Ingin jadi sumber nafkah yang berkelimpahan bagi istri dan anak-anak, baik sebagai pekerja maupun pemilik usaha.

Ingin bisa mengantar jemput anak dari sekolah. Ingin bisa menyaksikan semua pertunjukan seni yang digelar di sekolah. Ingin punya cukup waktu untuk jadi partner diskusi yang menarik bagi sang buah hati. Ingin menjadi saksi bengalnya si putra yang jago sepak bola, atau populernya si putri di sekolah. Ingin memiliki fisik yang cukup kuat, untuk tetap sanggup menghadiri wisuda sang anak di luar negeri, menyeleksi calon menantu, mengantarkannya ke altar pemberkatan pernikahan atau mendampingi kala dia duduk berhadap-hadapan dengan penghulu. Ingin mendampingi, memberikannya nasihat dan petunjuk saat merintis usahanya sendiri, atau kala terlibat pertengkaran rumah tangga. Ingin tetap sigap untuk mendampingi anak/menantu saat menantikan proses persalinan di rumah sakit. Bahkan jika umur memungkinkan, ingin terus bisa berbagi cerita dengan cucu.

Di sisi lain, para cewek juga pengin jadi istri sekaligus mama terbaik. Bisa mempertahankan kecantikan yang telah membuatnya disunting seorang pria. Lalu, sebagian dari mereka berharap bisa menikah dan punya anak di bawah umur 30 tahun, bila memungkinkan. Bukan lantaran berpandangan tradisional atau konvensional, tapi mempertimbangkan selisih usia. Akan terasa menyenangkan, katanya, bila suatu saat bisa ke mal belanja diskonan bareng si anak gadis, atau ngafe-ngafe lutju bareng. Sambil menunggu momen tersebut, sang mama pun berusaha sekuat tenaga untuk membuat anak-anaknya tampil kece maksimal.

Kalau dibawa bernala-nala, memang ada baiknya begitu. Usia tidak punya bau. Mumpung masih muda dan bertenaga, mendampingi anak dan mengajarinya banyak hal sejak awal. Ben ndang mentas, kalau kata orang Jawa. Bakal senang rasanya, ketika di usia lepas SMA, sang buah hati sudah berkenalan dengan ihwal wirausaha, atau punya keahlian yang bisa di-freelance-kan. Sudah paham susah sekaligus menyenangkannya cari duit dengan gaya kekinian. Menyapihkan diri, berani lepas dari dekapan orangtua, yang dibiarkan tetap menikmati kesibukan bisnis dan usaha selama ini. Belum lagi kalau sang mama adalah wanita karier, yang bukan hanya mandiri, namun juga cerdas, punya kapasitas, dan berkarisma.

Semua gambar boleh comot Google.

 

Seru ya.

Kenyataannya, kita semua tetap takluk dengan misteri masa depan. Tidak ada yang mustahil, termasuk kemustahilan itu sendiri. 😀 Impian pun ada untuk dicapai, meskipun seperti yang kita ketahui, hasil akhirnya cuma dua. Apabila tercapai, maka pantaslah kita untuk terus memanjatkan rasa syukur. Apabila meleset, berarti kenyataan tak sesuai rencana. Harusnya sih ndakpapa. Hanya saja, mereka-mereka yang belum menikah biasanya punya tingkat optimisme yang tinggi. Sampai akhirnya mesti dibuat waspada dengan jawaban berikut ini:

Terserah kamu mau punya teori seperti apa, atau mau idealis yang bagaimana. Tunggu aja nanti kalau sudah kawin. Biar nanti bisa ngerasain sendiri.” Setingkat lebih tinggi ketimbang pertanyaan “kapan kawin?” dan sejenisnya.

Teruntuk semua orangtua, muda maupun tua, You Rock! Keren dengan kekerenannya masing-masing. Banyak pula yang enviable, patut bikin iri. Uwuwuwuwu

Teruntuk Anda yang punya sikap dan pilihan berbeda soal pernikahan, termasuk yang masih menanti kesiapan, You’re awesome too! Nothing can bring You down!

[]

Manusia Burung Terbang Meninggalkan Masa Kanak-Kanak

Si Manusia Burung itu rupanya telah terbang tinggi meninggalkan masa kanak-kanaknya. Betul. Birdman yang memenangkan pertarungan itu meninggalkan Boyhood yang cuma menyisakan satu piala Oscar untuk Patricia Arquette di kategori Aktris Pendukung Terbaik di malam penganugrahan Academy Awards yang ke-87 di Dolby Theatre, Los Angeles, California, malam tadi. Untuk lihat daftar lengkap pemenang silakan lihat di sini.

Tidak terlalu mengejutkan sebetulnya. Karena Birdman memang layak menang, bahkan di semua nominasi yang mereka raih. Bagaimana Innaritu yang diganjar sebagai sutradara terbaik adalah hal yang wajar. Sutradara Birdman ini selalu memiliki ide-ide yang tidak lumrah dilakukan sutradara lainnya. Sejak Death Trilogy, dia selalu mencoba melompat lebih jauh. Dan sejauh ini berhasil. Bagaimana Birdman dibuat dengan teknik one long continuous shot (hanya menggunakan satu kamera dengan teknik hand-held) adalah hal yang luar biasa dan bisa sangat melelahkan (lebih jelasnya untuk teknik sinematografi bisa dibaca di sini).

Kamera yang terus bergerak mengikuti aktor, dari jarak dekat. Menuju lorong-lorong di belakang panggung, naik turun tangga, melihat kru yang hilir mudik dan para aktor yang mempersiapkan untuk pertunjukan selanjutnya beserta friksi-friksi yang ada. Innarritu dan Lubezki sebagai pemenang di kategori Best Cinematography mengajak penonton untuk merasakan apa yang terjadi jika berada di belakang panggung Broadway bersama Birdman.

Dari segi cerita pun Birdman layak untuk mendapatkan Best Original Screenplay. Bagaimana kecemasan seorang mantan superstar pemeran superhero bernama Riggan Thomson yang sudah pudar sinarnya sedang berada di krisis separuh baya. Dia selalu dihantui oleh kejayaan dari masa lalu.

Michael Keaton bermain sangat baik sekali di film ini. Sehingga melihat film ini seperti sedang melihat semi-biopik. Dia sangat layak untuk mendapatkan Aktor Terbaik. Karena cuma dua orang di dunia ini yang bisa memerankan Birdman. Michael Keaton dan Jim Morri.. eh Val Kilmer. Tapi apa daya AMPAS rupanya lebih memilih Eddie Redmayne untuk meraih penghargaan Aktor Terbaik. Kecewa, tapi harus diakui Eddie Redmayne, yang memakai tuksedo biru malam tadi (Harusnya merah ya? Kalo biru Bluemayne dong?) bermain apik sebagai Stephen Hawking dari muda hingga duduk di kursi roda. Klise memang.

Bahkan Julianne Moore pun mendapatkan Aktris Terbaik karena berperan sebagai professor yang menderita Alzheimer. Bagi-bagi kue? Mungkin. Karena itu satu-satunya yang didapat dari film The Theory of Everything. Itu juga terjadi pada Imitation Game yang hanya meraih piala di kategori Best Adapted Screenplay. Bendhisdick Cuminhermouth gagal meraih Oscar pertamanya. Whiplash di luar dugaan mendapatkan tiga Oscar kemarin malam. Di kategori Best Supporting Actor ini bukan kejutan. J.K. Simmons tidak ada lawan. Yang paling mendekati cuma Edward Norton. Kategori lainnya adalah Best Sound Mixing dan Best Editing. Di kategori terakhir ini saya kira Boyhood yang bakal menang. Tapi memang Tom Cross berhasil membuat film ini begitu menegangkan. Banyak menahan nafas menonton film ini.

Was I rushing or was I dragging?

Kenapa Boyhood cuma mendapatkan satu Oscar kemarin malam? Richard Linklater dengan idenya yang ambisius dengan membuat film selama dua belas tahun adalah hal yang sangat luar biasa dan membutuhkan dedikasi yang tinggi. Dia sudah mendobrak pintu dan mengajak para sineas film bahwa selalu ada cara baru, gaya baru bagaimana membuat film yang bagus. Tapi tidak mahal. Instant classic. Kalo The Grand Budapest Hotel gak usah diceritain ya. Itu sih film Wes Anderson yang sangat Wes Anderson. Too Wes for Wes. Wes on steroid. 

Tapi ya memang selalu ada kontroversi dalam ajang penghargaan apapun. Buat mereka para pendukung Boyhood dan penikmat Before Trilogy atau Dazed and Confused tidak usah kecewa. Lagu ini saya persembahkan untuk anda para pembaca Linimasa sebagai pelipur lara. http://youtu.be/mYFaghHyMKc

“Your masquerade I don’t wanna be a part of your parade..”


nb: dear AMPAS, boleh gak buat taun depan saya minta John Travolta dan Idina Menzel yang jadi host? 

Komunikasi Sekarang

Dunia digital sudah bikin lompatan besar dalam komunikasi. Sosial media menggesernya lebih jauh lagi. Pesan-pesan lisan berkurang. Bicara tatap muka jadi canggung. Ngobrol melibatkan autocorrect. Atau dibantu Siri. Pertemuan boleh ditukar webinar atau group whatsapp dan blackberry messenger. Manusia bersatu di dunia maya. Terpecah belah di dunia nyata. Mematikan beberapa industri yang pernah trendi di jamannya seperti telegram, faksimili, pager atau morse.

Ndak gampang. Mengonversi semua unsur komunikasi lisan dalam pesan digital susah-susah gampang. Untungnya budaya komunikasi kita berkembang dengan aneka rintangan dan solusi.

EMOSI
Karena nulis “aku sedih” meninggalkan banyak interpretasi dengan level berbeda-beda, maka emosi satu ini bisa diungkapkan dengan cukup menuliskan:

🙁 atau
(T_T)

Yang terakhir bisa berarti menangis atau kelilipan atau kepala suku Indan Apache. Menangis minimal punya dua sebab, bahagia atau susah. Untuk menangis bahagia bisa gunakan ini:

(TvT)

Bagaimana kalau “aku sedih sekaligus senang.” Seperti waktu kita mendengar kabar rumah tangga Nassar dan Muzdalifah retak? Gunakan ini:

;(

Sepertinya senang dan marah punya emoji terbanyak. Yang paling sederhana:

🙂 atau
(♥_♥) dan lain sebagainya.

Marah. Berurutan, tergantung jenis dan preferensi seksuil:

┌П┐(•_•)┌П┐ atau
8==D (_o_)’.’) You!

Emosi yang paling rumit sekalipun selalu ada solusinya. Kepengen:

(:-Þ)~

Menendang seseorang tepat di buah zakar:

(x)(x) atau
(#!#) atau
*@@* atau
>ofo< atau
)gg(

Bahkan untuk menggambarkan seseorang.

Wolverine: }:|
Frida Kahlo: {:|
Budi: (:{|)
Ibu Budi: (:|.)

INTONASI
Ada empat intonasi yang bisa diungkapkan lewat contoh ini:

“kamu di mana?”
“KAMU DI MANA?!”
“kamuu di manaaaaa?”
“kamu… di mana…?”
(:|.): “kamu di mana (:{|)?

Kerasa kan bedanyaaaaa? Dan berikut ini untuk kasta lebih rendah:

k4mu Dm4n4?

Supirku, Gebi, bisa memanfaatkan intonasi sekaligus kasta untuk melemahkan lawan bicara:

Maff om gangu nanty sya mao pnjem uwang lg 1jt bwat byar kntrakan nanty lngsng di ptong aj om dary gajy bulanan per 300 sekaly lg maff om menggangu maksih om…

Tertawa:
hahahahahaha
hihihihihi
kwkwkwkwkwkwk
xixixixixi

Meski masih penuh perdebatan mengenai makna sesungguhnya. Gunakan dengan bijak karena ini berkaitan langsung dengan itikad kita berkomunikasi dengan lawan bicara.

JANGAN GUNAKAN PERANTARA!
Autocorrect, Siri dan makhluk goib digital lain sebaiknya jangan dilibatkan dalam komunikasi dua arah. Terbukti banyak peristiwa komunikasi berakhir fatal karena mereka ndak kenal emosi dan intonasi.

Friend on iPhone: “Siri, tell my wife I love her.”
Siri: “Ok, sending ‘I love her’ to your wife.”
Friend: “No no no!”
Wife SMS: “WHO IS HER?!”

Kejadian lain bersama autocorrect:

Pak, anal meetingnya bisa dimulai?
aku tai
“(:|.) tai. Karena (:{|) setorkan hartanya secara anal.”

Cina Tak Berbendera

Belum lagi jam sekolah usai, Vincent yang masih 5 SD dijemput oleh Ibunya pulang. Teman-teman sekelasnya tampak kebingungan. Demikian pula Vincent. Hanya Ibu dan Guru yang memberikan kesan tau sama tau. Vincent pun meninggalkan kelas. Ketika berjalan di lorong sekolah Katolik itu, Vincent menemukan dirinya bukan satu-satunya. Ada banyak teman-temannya yang juga dijemput oleh ayah atau ibu mereka.

Sesampainya di rumah, Vincent segera berganti baju yang sudah disiapkan. Sehelai kemeja merah dan celana jeans. Ibu Vincent menyisir dan merapihkan Vincent yang tampak siap pergi ke pesta. Sebelum meninggalkan rumah, Ibunya memakaikan jaket berwarna hitam. Bagian kerah merah yang masih menonjol, dilipat masuk ke dalam agar tak terlihat sama sekali. Vincent diam dan menurut saja.

Di dalam bis menuju ke kawasan Jakarta Utara, Vincent menahan panas cuaca. Ingin rasanya dia melepas jaketnya. Tapi tatapan Ibu yang penuh arti selalu berhasil mengurungkan niatnya. Sebotol air mineral di tangannya lumayan menjadi penyejuk setiap saat. Mereka berdua diam sepanjang perjalanan. Tangan mereka bergandengan.

Sesampainya di perumahan tujuan, mereka berdua pun turun dari bis. Jalanan tampak sepi seperti kuburan. Hanya tampak beberapa orang berkerumun di depan rumah. Para pria merokok sambil berbincang seru. Beberapa tampak lebih berani memperlihatkan pakaian merah yang dikenakannya.

Di sebuah rumah sederhana di kompleks itu, Vincent dan Ibunya pun masuk tanpa perlu mengetuk terlebih dahulu. Begitu sampai di dalam, barulah jaket hitam di tubuh Vincent dilepas. Kemeja merah yang dikenakannya basah sebasah-basahnya. Sementara Ibu segera menuju ke kamar mandi untuk berganti baju berwarna merah pula.

Rumah full AC itu mengeringkan basah kemeja Vincent dengan segera. Vincent duduk di sofa kulit sambil terus menatap ke seluruh tamu yang ada di ruangan itu. Semua mengenakan pakaian bernuansa merah. Ada yang sambil makan, berbincang seru, dan di pojokan rumah sekumpulan remaja berbincang dengan serunya. Sesekali terdengar “ssssh….” ketika suara mulai mengencang. Kompak, suara pun mereda kembali.

Seketika Ibu yang sudah berdandan cantik menarik tangan Vincent dan menuntunnya untuk berdoa di halaman belakang rumah itu. Tiga batang hio dinyalakan, digerakkan ke atas dan ke bawah, membungkuk, tegak lagi, mengibas hio lagi sebelum akhirnya ditancapkan di mangkuk kuningan di atas meja altar. Di atas meja itu tampak beberapa foto orang tua. Ada yang masih hitam putih dan ada yang sudah berwarna. Asap hio sedikit masuk ke dalam rumah.

Setelah ritual berdoa selesai, Ibu dan Vincent berdiri di depan kakek nenek dan buyut yang masih hidup dan duduk di kursi masing-masing. Mereka bergantian mengepalkan tangan dan membungkuk di hadapan mereka. Belum lagi bisa berdiri tegak lagi, biasanya para kakek dan nenek akan menarik pundak Vincent dan Ibunya untuk memeluk dan mencium dengan mesra. Beberapa kali kening Vincent dikecup cukup lama. Terdengar doa dan pesan disampaikan oleh para tetua.

Hidup jujur, lurus, jangan berbohong, rajin belajar dan bekerja, dan harapan untuk mengenang mereka tersirat menjadi doa wajib setiap ritual sungkeman ini. Vincent yang terdiam sementara Ibu tampak lebih luwes berkomunikasi dan bersosialisasi. Setelahnya, tak lupa amplop berwarna merah dimasukkan ke dalam kantong kemeja Vincent.

Belum selesai. Masih ada oom, tante dan saudara lain yang lebih tua yang juga harus diucapkan selamat. Bedanya, tak perlu sungkeman. Bahkan beberapa oom dan tante funky segera memeluk saja sambil berkata “Kiong hi…kiong hi…”. Ada yang ikut memasukkan amplop merah ke kantong kemeja Vincent, ada pula yang tidak.

Setelah selesai, Vincent mengeluarkan seluruh amplop merah yang dikantunginya dan dititipkan ke Ibunya yang membawa tas.  Acara makan-makan dimulai. Beragam jenis chinese food dan makanan tradisional Indonesia membaur di atas meja. Lontong Cap Gomeh di samping Bakmi Goreng. Kuah Bakso di sebelah Ayam Bali. Babi panggang bercengkerama dengan Sate Madura. Nasi putih dan nasi kuning bersebelahan. Buah Pir Shanghai ditata padu dengan Apel Manalagi. Dan manisan Longan Lychee berseling dengan Es Cendol.

Vincent duduk di samping Ibunya yang bercerita satu persatu siapa anggota keluarga di rumah itu. Tak semua langsung bisa diingatnya. Vincent mencoba memperhatikan wajah mereka dengan seksama. Apalagi, semua perempuan yang hadir selain mengenakan pakaian berwarna merah, juga seperti mengenakan seragam: kebaya. Kebaya bersulam kembang-kembang di bagian kerah sampai ke bawah. Dan kain batik beragam motif berseliweran ke sana ke mari. Motif buketan, burung, kupu-kupu, rumah-rumahan berseling dengan kain batik sogan cokelat dari Solo, dari Lasem, Cirebon dan tentu saja Pekalongan. Sementara para tamu pria, mengenakan kemeja biasa atau batik lengan panjang.

Perut kenyang, puas tertawa, berlanjut dengan nyanyi bersama. Donna Donna-nya Joan Baez berganti dengan Widuri-nya Broeri Pesolima. Bridge Over Troubled Water-nya Simon Garfunkel disambung dengan Lisoi dari Sumatera Utara. Lagu-lagu dari ABBA selalu berhasil membuat hadirin bergoyang disambut dengan alunan Hutauruk Sisters. Di tengah kemeriahan nyanyi bersama itu, sudah semacam tradisi untuk para anak bernyanyi satu persatu. Tak ketinggalan Vincent.

Vincent berdiri dan berjalan mendekati piano. Oom yang sore itu bertindak sebagai pianis seolah berbisik menanyakan lagu apa yang hendak Vincent bawakan. Setelah mengangguk setuju, Vincent berdiri tegak dengan tangan di belakang. Mengalun lirih dari mulut Vincent

Tanah air ku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidakkan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai

Walaupun banyak negeri kujalani
yang mahsyur permai di kata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Disanalah ku rasa senang
Tanah ku tak kulupakan
Engkau kubanggakan

Tanah air ku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidakkan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai

Perayaan Imlek di antara tahun 1985 – 1999 di Indonesia, dalam ingatan.

 

En Kol Chadásh Táchat Hashámesh

ilalang embun

Salah satu pernyataan  dari Jacques Derrida dalam of grammatology (1967) adalah kutipan  “there is no outside-text” (il n’y a pas de hors-texte)” yang muncul ketika menyinggung soal Rosseau. Oleh beberapa orang, termasuk  Foucault, disalahtranslasikan menjadi “there is nothing outside of the text” dan diartikan menjadi tak ada yang lain kecuali dari kata-kata itu sendiri.

Tapi untuk membahas ini perlu banyak halaman dan kicauan yang belum tentu enak dibaca, maka saya alihkan saja dengan kalimat lain yang hampir mirip namun maknanya berbeda jauh.

There is nothing truly novel in existence. Every new idea has some sort of precedent or echo from the past.

Pernyataan ini sejalan dengan pepatah latin: Nihil Sub Sole Novum. Atau dalam bahasa ibrani menjadi אין כל חדש תחת השמש (en kol chadásh táchat hashámesh), yang termuat dalam Perjanjian Lama, Ecclesiastess 1: 9. There is nothing new under the sun. 

Tak ada hal baru selama kita hidup di dunia, dengan sinar mentari yang melingkupinya. Semua adalah pengulangan. Bahkan cerita yang ditulis sastrawan, novelis, cerpenis, dan pengarang stensilan. Semua adalah rumusan ide yang berkelindan dari masa lampau hingga kini dan tertuang dalam teks.

Termasuk hasrat anak manusia. Soal teori bahagia, misalnya.

Dalam ajarannya yang tertuang dalam Aranavibhanga Sutta (Majjhima Nikaya 139. 9), Buddha membagi bahagia menjadi dua bagian: bahagia indrawi, ketika kenikmatan diperoleh ketika kita mendapatkan sesuatu, terlibat dalam hal-hal, dan Dhamma, Kenikmatan pelepasan, lenyap dan pupusnya hal-hal.

Dalam realitas, banyak cara menuju bahagia. Sebagian dari kita melakukannya dengan berbelanja. Sebagian lagi dengan berwisata. Sebagian lainnya dengan bercinta. Juga sebagian melakukan samadhi.

Samadhi adalah jalannya; tiada samadhi adalah jalan yang salah (Anguttara Nikaya 6:64).

Pengertian Samadhi diambil dari ajaran Buddha yang ditulis dengan rendah hati dan tenang oleh Ajahn Brahm dalam bukunya “Bukan Siapa-Siapa”. Dalam tulisannya, Ajahn mengingatkan bahwa salah satu yang mencegah kita memperoleh kebahagiaan adalah karena kita menginginkan kebahagiaan. Berhasrat ingin bahagia. Hasrat yang dengan mudah akan membawa banyak kefrustasian.

Untuk menjadi tenteram, bukan dengan menginginkannya, namun dengan melepas segala keinginan. Termasuk keinginan untuk bahagia.

Sebagian lain, ingin bahagia, dengan cara mendekatkan diri pada Tuhan.

Pada tahap tertentu, seseorang yang melakukan “laku” akan mengalami jhana, baik para mistikus Hindu, Kristiani, Muslim maupun Buddha. Atau setidaknya mengalami pengalaman spiritual mendalam. Saking hebatnya, sebagian dari mereka menganggapnya penyatuan dengan Tuhan. Manunggaling kawula gusti.  Batin sepenuhnya manunggal, perasaan kebahagiaan dan kekuatan, ketiadaan sang “aku”- sungguh luar biasa dahsyat. Membiarkan segalanya tenang sampai pada titik pupus dan lenyap.

Heri est historia, crastinum mysterium. Yesterday is a history, tomorrow is mystery. Yang sudah terjadi biarlah berlalu, yang akan datang serba belum pasti. Ketenaran, jabatan, harta, kesehatan, kepandaian, semua yang bersifat tidak abadi dan hebat itu lenyap, apakah kita akan terpuruk tanpa harapan? Sic transit gloria mundi. Begitulah keluhuran duniawi lewat begitu saja. Bagi sebagian lain, inilah perlunya iman. Misteri hidup dijalani dengan iman, adanya keniscayaan dan rasa percaya, bahwa yang terbaik akan menimpa kita.  Begitu sederhana tapi palung.

Dalaaaaaaaaaam.

Sang Buddha pernah mengingatkan: “Kesabaran adalah tapa yang tertinggi” (Dhammapada, 184). Sabar yang dimaksud adalah bukan berarti sabar menanggung rasa sakit, namun sabar dalam artian laku sederhana mengamati tanpa terlibat dengan cara apapun. Kesabaran sejati ketika segala sesuatu lenyap dan menjadi hening. Saat ego pupus.

Ketika untuk menjadi seseorang, kita harus melakukan sesuatu.  Namun saat berhenti melakukan sesuatu, ketika keadaan sabar penuh, kita akan lenyap. Menjadi seseorang yang tak terdefinisikan masa lalu dan terpenjara harapan dan rencana masa depan.

Apakah hal ini sesuai dengan keadaan dunia modern? Ketika untuk duduk diam pun ada ongkos yang harus dibayar?

Tantangan hidup saat ini jauh lebih mengerikan. Semuanya soal pilihan. Meringkuk di dalam goa, atau berteduh di bawah pohon rindang, dan menenangkan pikiran di puncak gunung. Atau kita maju ke medan perang, hidup bermasyarakat dengan segala tantangan dan tentengan.

Ini yang disebut oleh Mohamad Sobary dengan Kesalihan Sosial. Tidak hanya menghadap Tuhan, namun berjuang dalam hingar-bingar kehidupan. Berupaya menjalani hidup dan mewarnainya dengan iman. Mencari makan dengan benar dengan cara mencari rejeki dengan benar dan lalu mengeluarkan rejeki itu juga di jalan yang benar. Dengan hasrat yang terus dijaga, dirawat dan tumbuh dengan sewajarnya.

Bahagia di tengah keramaian pasar. Bahagia yang tak menyendiri, namun berupaya meraihnya bersama-sama orang lain, tanpa kecuali. Membumikan nilai-nilai kebenaran dan menterjemahkan bahasa langit agar bisa nyaman dikenakan seperti sandal jepit.

Toh inilah hidup. Terkadang hal yang indah dalam hidup adalah ketika tindakan terbaik yang kita terima bisa berasal dari orang luar yang tak ingin dibalas. Juga kebalikannya, ketika rasa sakit yang kita derita berasal dari seseorang dalam hidup dan begitu memperhatikan kita.

Akhir kata, semoga kita memperoleh bahagia lahir maupun batin. Bahagia kehidupan di dunia maupun setelahnya. Hidup bahagia secukupnya. Karena manusia, punya hak untuk bahagia. Tentu saja, bahagia dengan caranya masing-masing.

Salam bahagia di Sabtu yang hangat,

Roy

 

Ambisi

Seorang teman pernah berujar ke pasangannya, “Kamu itu orang yang gak punya ambisi dalam hidup! Bahaya! Mau jadi apa kalo gak punya ambisi?” Pertanyaan itu, yang kemudian mereka taruh di media sosial dengan tambahan icon senyuman, membuat saya tersenyum kecut. Dalam hati saya membatin, “Waduh. Lha apa kabar saya yang memang gak punya ambisi dari dulu?”

Waktu remaja, salah satu film yang pernah saya tonton adalah film Sabrina versi daur ulang buatan tahun 1995. Secara keseluruhan, film Sabrina versi warna memang tidak seistimewa versi aslinya yang hitam putih tahun 1954, namun ada satu adegan yang menempel di ingatan sampai sekarang.

Alkisah Sabrina (Julia Ormond) baru saja pulang dari berlayar bersama Linus Larrabee (Harrison Ford). Saat sampai di rumah, dia mendapati ayahnya, Mr. Fairchild (John Wood) membaca majalah. Mr. Fairchild sendiri adalah supir keluarga di rumah Linus. Mr. Fairchild dan Sabrina sendiri tinggal di sebuah rumah kecil, semacam cottage, di kompleks rumah milik keluarga Larrabee yang luas. Rumah ini diisi oleh banyak jurnal dan buku, yang seakan mengelilingi Mr. Fairchild.

Setelah berbasa-basi menanyakan bagaimana perjalanan Sabrina, Mr. Fairchild kembali diam dan tenggelam dalam bacaannya. Sabrina melihat ayahnya sambil tersenyum.
Lalu dia berkata,

“I love so many things about you, Dad. But you know what I love best of all? You became a chauffeur because you wanted to have time to read. All my life, I’ve pictured you… sitting in the front seat of a long succession of cars… waiting for the Larrabees and reading.”

Mr. Fairchild mendongak sesaat, tersenyum seolah membenarkan perkataan Sabrina barusan. Menjelang akhir film nantinya, Mr. Fairchild memberikan uang yang cukup banyak agar Sabrina bisa pergi dan tinggal di Paris. Sabrina kaget melihat uang itu. Ayahnya menjelaskan, bahwa uang itu adalah hasil tabungan dia bertahun-tahun. Tak sekedar menabung, karena selama menyupiri keluarga Larrabee bertahun-tahun, dia selalu mendengar dari kursi supir tentang saham, pasar modal, dan obrolan bisnis lainnya yang dilontarkan lewat telepon oleh keluarga Larrabee di belakang kursinya. Hasil pendengaran itulah yang kemudian dia tabung dan investasikan, sambil terus membaca buku, koran dan majalah di sela-sela menunggu majikannya.

Sabrina (Courtesy of Snakkle.com)

Sabrina (Courtesy of Snakkle.com)

Dan semua musik yang kita dengar, film yang kita tonton dan buku yang kita baca waktu kita berusia anak-anak sampai remaja akan mempunyai pengaruh yang lebih kuat dibandingkan dengan apa yang kita konsumsi di umur 20-an dan seterusnya. Maklum, saat itu otak kita masih dalam fase berkembang dan menyerap lebih kuat terhadap segala yang kita rasakan. Itulah yang lantas jadi patokan saya dalam menjalani hidup, yaitu punya waktu cukup.

Seiring berjalannya waktu, ternyata waktu bukan urusan sepele. Uang bisa terus menerus dicari, tapi waktu yang hilang tidak akan pernah kembali.

Punya waktu cukup untuk membaca buku dan menonton film tidak bisa hitung secara kuantitas. Apalagi kalau kita sering terjebak dalam kemacetan tak berujung. Waktu adalah alat ukur yang tak ternilai. Kalaupun dipaksa dinilai dengan uang, maka jumlah uang seberapapun tak akan pernah bisa menggantikan.

Buku yang baik, film yang bisa dinikmati, musik yang bisa didengar, serta pasangan hidup atau keluarga yang bisa bikin kita bahagia, adalah investasi waktu.
Dan waktu juga yang menentukan, apakah investasi kita terhadap semuanya ini adalah investasi yang sukses, atau malah “bodong”. Tidak ada yang tahu.

Thus, my ambition is time.

Saya sering membeli buku dan blu-ray, serta menonton film di bioskop. Punya uang yang pas untuk membeli dua hal itu, tentunya setelah kebutuhan rumah dan makanan terlengkap, sudah lebih dari cukup. Masih sehat dan punya waktu untuk mengkonsumsi semua, that is a blessing. Tentu saja akan banyak tambahan keinginan setelah ini, seperti pengen punya pasangan yang mengerti kegemaran kita, pengen upgrade koleksi film, pengen beli rak buku baru, dan lain-lain. But let’s go back to the basic: is there enough time?

Selamat Tahun Baru (lagi). Selamat menata hidup kembali.

Mari Bermuka Tembok

Tidak untuk memperingati kelahiran siapa pun, bukan pula untuk merayakan sebuah pencapaian spiritual apa pun. Demikianlah Tahun Baru Imlek, momen tahun baru dalam penanggalan bulan ala Tionghoa, yang masih kerap dijuluki “hari rayanya orang Cina” di Indonesia. Hari raya yang bukan gara-gara agama.

Namun bukan cuma penanda hari pertama di bulan pertama, Sin Cia (新正) menjadi semacam hasil kodifikasi budaya, yang prosesnya terus bergulir sejak lebih dari 5 ribu tahun lalu.

Mau dilihat dari sudut pandang yang mana? Budaya peradaban agraris? Historis dan politis? Religius? Mitologis? Feodalisme Tiongkok kuno? Sosialisme Republik Rakyat Tiongkok? Kapitalisme bisnis “Made in China”? Atau dilihat sebagai oasis di tengah represi Orde Baru? Sembarang aja.

Berfungsi ganda, Tahun Baru Imlek juga merupakan perayaan menyambut datangnya musim semi, waktunya para petani untuk kembali berladang. Memberikan pemaknaan yang literal untuk kata “baru”. Perayaan ini mulai dikenal pada masa Dinasti Xia (2070-1600 SM), rezim semi-mitologis penyusun dasar kebudayaan Tionghoa. Setelah Dinasti Xia runtuh, skema penanggalan Imlek selalu berubah sesuai kemauan penguasa.

Menjadi penanda zaman dan simbol kekuasaan, permulaan tahun Imlek diambil sesuai waktu berdirinya suatu dinasti. Di masa Dinasti Han (206 SM-220 M), penanggalan Imlek disusun ulang dan distandarisasi menggunakan tahun kelahiran Kongzi (孔子) atau Khonghucu (孔夫子) sebagai permulaan. Ini sebabnya para penganut Khonghucu menggunakan istilah Kongzili (孔子曆) yang secara harfiah berarti “Penanggalan Kongzi”.

Dengan demikian, siapa saja, selama memiliki darah Tionghoa dan masih mengakuinya, berhak untuk merayakan Tahun Baru Imlek. Tanpa sekat agama. Plus dengan catatan tambahan: kalau mau merayakan. Pasalnya, tak sedikit yang kadung salah paham, menganggap Sin Cia sama seperti hari raya-hari raya pada umumnya. Harus ada sembahyang khusus, mesti begini ndak boleh begitu, dan seterusnya. Padahal, bagi yang masih menganut kepercayaan tradisional Tionghoa, atau Khonghucu, atau Buddhisme Mahayana, dan sejenisnya, tentu akan mewarnai Sin Cia dengan sembahyang tertentu. Namun bagi orang Tionghoa yang Muslim maupun Kristen, terlebih dari gereja yang menajiskan hio dan sajen altar leluhur, Tahun Baru Imlek ya dirayakan dengan berkumpulnya seluruh anggota keluarga lintas generasi, serta menyambung silaturahmi. Sebuah identitas budaya. Wahana untuk saling menguatkan kala rezim Soeharto. Ketika harus bikin surat izin tidak masuk sekolah, biar bisa Imlekan.

Terima kasih kami untukmu, Gus Dur.

Terlepas dari semua latar belakang tersebut, kini Tahun Baru Imlek hanya menjadi hari raya. Cenderung lebih berasa rutinitas seremonial saja. Tanggal merah, waktunya liburan bagi yang tidak merayakan, dan saatnya untuk kembali berkumpul dalam suasana perayaan. Hiruk-pikuk terjadi di dalam griya-griya orang Tionghoa. Seisi rumah bersih-bersih, seluruh anggota keluarga bersiap-siap, semua hanyut dalam kerepotan tahunan.

Para remaja dan pemuda Tionghoa yang sekolah, kuliah, atau kerja di luar kota maupun luar negeri, harus siap-siap mudik. Wajib, ketimbang disumpahi durhaka oleh orangtua. Mereka yang ngekos di pusat kota pun mesti pulang ke daerah penyangga.

Enaknya, suasana menjadi ramai. Ada keakraban dan kehangatan. Canda tawa, senda gurau, bermain dengan keponakan-keponakan lucu, temu kangen dengan teman-teman, mendengar cerita tempo dulu yang inspirasional atau meninabobokan, nonton dan ngakak bareng nonton filmnya Stephen Chow, makanan dan minuman lezat berlimpah, serta mendapat angpao (紅包).

Enggak enaknya, siap-siap untuk mengerahkan kemampuan tebal kuping dan muka, serta tidak gampang tersinggung. Menghadapi pertanyaan “mana pacarmu?” dari Shushu1) (叔叔) yang bila dijawab “belum” akan langsung disambut dengan tawaran untuk dikenalkan dengan anaknya si ini dan itu, pertanyaan “kapan kawin?” dari A-yi2) (阿姨), pertanyaan “sekarang kerja apa?” dari Yipo3) (姨婆), mendengar mereka saling adu keren berlibur ke Eropa atau Kanada, terpaksa menyimak A-Khiu4) (阿舅) menceritakan tentang anaknya yang tidak bisa pulang karena masih kuliah di Melbourne, atau melihat para sepupu laki-laki yang mempromosikan hasil modifikasi mobil masing-masing. Bila diambil sisi positifnya, ya barangkali mereka memang perhatian dan peduli, bukan kepo. Bisa juga mereka sedang berbagi informasi, supaya kita mencoba berlibur ke Eropa atau Kanada, kapan-kapan. Termasuk menunjukkan bahwa kemajuan teknologi sudah sedemikian canggih, mulai urusan gawai digital sampai mobil dua kursi yang tanpa bak belakang tentunya. Masih lebih baik sih, dibanding pamer pacar masing-masing, yang bikin pangling kalau enggak pakai gincu-bedak.

Sayangnya, semenjak Tahun Baru Imlek terang-terangan menjadi hari libur nasional, justru urusan enggak enak seperti di atas yang lebih mencuat. Bukan antara orangtua-anak-saudara kandung, melainkan dengan para famili yang cuma ketemu setahun sekali. Gara-gara ini, makin banyak orang Tionghoa yang memilih menghabiskan libur Tahun Baru Imleknya ke luar kota atau luar negeri bersama keluarga inti. Juga banyak muda mudi Tionghoa yang langsung cabut setelah memberi sungkem Tahun Baru Imlek serta permohonan maaf kepada orangtua. Apakah salah? Technically, no. Cuma ya sayang aja, momen yang harusnya sukacita gembira ria, eh malah bikin dongkol.

Kalau sudah begini, akan lebih baik bila kita–para cokin–bersikap lebih bijak. Jika pernah dibuat sangat risi dan terganggu dengan celetukan dan pertanyaan orang, jangan sampai celetukan dan pertanyaan itu terlontarkan ulang dari mulut kita sendiri. Biarkan Tahun Baru Imlek tetap menjadi momen yang menyenangkan dan menggembirakan, meskipun dalam keadaan yang pas-pasan.

Anyway, selamat menyambut Tahun Baru Imlek.

恭喜發財

新年快樂

Boleh comot punya jiran, lucu sih.

[]

1) Adik laki-laki ayah

2) Adik perempuan ibu

3) Adik perempuan nenek dari ibu

4) Adik laki-laki ibu

If It Bleeds, It Leads. (The Oscar Prediction)

Ketika Babi Bersayap

Jaafar, seorang nelayan miskin dari Gaza yang sudah lama tidak mendapat ikan, akhirnya “ketiban rejeki nomplok”. Masalahnya, si “rejeki” ini muncul dalam wujud seekor babi hitam yang hanyut terbawa ombak dari Vietnam.

When Pigs have Wings

Saya masih ingat betapa sakitnya perut ini menahan tawa di menit-menit pertama menonton “When Pigs Have Wings” (2011). Film satir yang menyorot konflik Israel-Palestina ini beda dari biasanya. Jauh dari kesan serius, film ini berhasil menyajikan bagaimana denyut sosial masyarakat di daerah konflik dan membalutnya dengan humor-humor yang akrab di telinga.

whenPig

Bayangkan saja bagaimana repotnya Jaafar. Si babi ini sudah tidak halal, tidak kosher pula. Dia harus mencari cara bagaimana caranya membuang si babi. Berbekal kemampuan Bahasa Inggris yang sangat seadanya ia menawarkan babi (yang disebutnya “big) ke petugas PBB. Gak hanya itu, ia juga mencoba memusnahkan si babi dengan meminjam senjata AK47 milik sahabatnya. Sampai ke.. berusaha menjual si babi ke perkampungan Yahudi!

Cinta Gak Ada Apa-Apanya

2015-02-14 13.10.45

Berkatalah Hanief setengah menyelidik kepada Ibunya yang sedang jatuh cinta. Sejak ditinggal pergi suaminya 8 tahun yang lalu, ini kali pertama dia jatuh cinta lagi di usianya menjelang 70 tahun.

“Ibu… Ibu yakin sama dia?”

“Kalau cinta mesti nunggu yakin dulu, kamu tak akan lahir di dunia ini, Hanief.”

“Tapi Ibu sekarang sudah umur berapa…”

“Sejak kapan cinta kenal usia? Waktu kamu masih SD dan jatuh cinta, apa pernah Ibu melarang? Bilang itu cinta monyet saja, seingat Ibu tidak pernah.”

“Untuk apa, Bu?”

“Jatuh cinta? Untuk apa? Sejak kapan cinta mesti punya tujuan? Apalagi kalau cinta mesti punya tujuan yang menguntungkan bukan cinta namanya, tapi investasi.”

“Jadi dia memang yang terbaik buat Ibu?”

“Itu hanya Ibu bisa jawab nanti, sebelum Ibu meninggal.”

“Ibu ingin bersamanya saat waktu Ibu tiba nanti?”

“Nanti kapan? Nanti mati? Hush! Siapa yang tahu siapa yang akan mati duluan? Kalau dia yang mati duluan? Atau kamu mati duluan?”

“Ibu bahagia sekarang?”

“Ah Ibu selalu merasa bahagia. Ya dibikin bahagia aja. Makanya Ibu masih laku kan…”

“Bedanya jatuh cinta yang dulu sama yang sekarang apa?”

“Sejak kapan sih cinta buat dibanding-bandingkan? Dinikmati aja…”

“Kalau Ibu nanti gagal lagi?”

“Ya jatuh cinta lagi lah!”

“Apa yang bikin Ibu jatuh cinta sama dia sih?”

“Karena Ibu bisa bersama dia walau gak ngobrol. Gak ngapa-ngapain. Gak jalan ke mana -mana. Gak main apa-apa. Bahkan saat lagi gak bersama pun, Ibu merasa bersama dia.”

“Tapi kan Ibu beda agama…”

“Ah Ibu yakinnya, di mana ada cinta di situ ada Tuhan.”

“Dia Lebaranan, Ibu Natalan…”

“Satu perayaan agama setahun saja bisa bikin Ibu bahagia. Dua perayaan setahun? Surga dunia.”

“Kapan Ibu akan memperkenalkan dia ke saya?”

“Kapan kamu siap?”

“Kapan Ibu rencana mau upacara pernikahannya?”

“Sejak kapan kamu gantian jadi Ibu begini sih?”

Cinta yang sejak awal menguping perbincangan mereka, tersenyum penuh misteri.

Ngeselin!

 

 

 

 

 

Kukayuh Bukit Menanjak dan Kutemukan Hamparan Luas Hijau Rumput Ilalang Dengan Matahari Bersinar Cerah dan Jalan Setapak di Antaranya

“If you see the teeth of the lion, do not think that the lion is smiling at you.”

Kalimat ini disampaikan penyair Al Mutanabbi Al Kindi. Penyair yang dikenal egomaniak. Bombastis. Pada akhirnya ia mati terbunuh. “I am the one whose literature can be seen (even) by the blind.  And whose words are heard (even) by the deaf. The steed, the night and the desert all know me. As do the sword, the spear, the paper and the pen.”

Saat itu satire belum begitu diterima masyarakat. Apalagi Arab. Sepertinya saat ini pun kecanggihan intelektual agak tersendat  zaman internet, yaitu ketika satire tak lagi dipahami. Era nerdifikasi. Lenyapnya sarkasme karena pikiran-pikiran yang terlalu mekanistik menerima hinaan secara literal.

Padahal seni menghina adalah seni yang begitu menggugah selera dan menimbulkan daya tarik ketika kemampuan seseorang dalam menghina tanpa menyinggung;  Sedangkan naif adalah kebalikannya. 

Mari kita buktikan. Apakah Anda naif atau tidak.

Tiga kecanduan paling berbahaya adalah kecanduan heroin, karbohidrat, dan gaji bulanan.

Hal tersebut kita peroleh dari orang yang berpandangan luas, Karl Marx. Dia menyadari bahwa budak bisa lebih mudah dikendalikan kalau dia diyakinkan bahwa dirinya adalah pegawai. Namun, tentu saja berbeda antara budak zaman Romawi dan Osmani dengan pegawai zaman sekarang. Sebab, budak tidak perlu menjilat tuannya.

” Mas, mas, sekarang bukan zamannya lagi menjilat mas. Anda keliru”.

Apa dong?

“Sekarang jamannya nyebokin bosnya”.

Oke. Lanjuuuut.

Jika Anda tak menganggap dan mengangguk setuju bahwa pekerjaan adalah perbudakan sistemik, artinya Anda buta.  Atau punya pekerjaan.

Tapi hal itu tak perlu diambil pusing. Toh, saat ini adalah zaman modern, dimana kita ciptakan generasi muda tanpa kepahlawanan, umur tanpa kebijaksanaan, cinta tanpa pengorbanan, dan kehidupan tanpa kemuliaan.  Ini zamannya kecanggihan teknologi. Bedanya teknologi dan perbudakan itu kan hanya pada bahwa budak sadar mereka tidak merdeka.

Jika pun Anda menolak soal ini tak apa. Anda perlu mengingatkan diri Anda akan sesuatu yang jelas: daya tarik berada pada yang tak dikatakan, tak ditulis, dan tak ditampilkan. Perlu keahlian untuk mengendalikan kesunyian.

IMG_8777

Cara berpikir orang era modern itu sejatinya konyol. Namun, sayangnya mereka tak menyadarinya. Atau memang konyol sejak lahir dan tumbuh terus saat dibesarkan.  Peristiwa biasa adalah ketika seseorang datang ke hotel dan meminta barang bawaannya dibantu seorang portir. Menjadi aneh ketika menemui orang tersebut di sore hari sedang asyik angkat beban di gym.

Sama halnya dengan pegawai kantoran yang mengeluhkan susahnya mencari slot parkir mobilnya. Mereka harus datang pagi, untuk saling berebut. Selanjutnya setelah mobilnya aman dan nyaman, mereka akan sibuk dan bergegas olahraga pagi: berlari, main basket atau ngegym.

Orang dari kelas super keren akan selesaikan dengan satu gigitan: Berangkat kerja gunakan sepeda lipat. Olahraga sejak keluar rumah dan menertawakan yang berebut parkiran sembari menaruh sepedanya di kolong meja. Setelah itu bisa bebas duduk leyeh-leyeh, sembari menunggu jam kerja. Bagi sebagian orang, termasuk saya, ukuran sukses salah satunya adalah berapa banyak waktu yang Anda buang.

Semakin banyak orang pandai tapi sebetulnya mereka adalah akademisi yang beruntung bekerja di berbagai institusi. Mereka pandai, namun jauh dari kata jenius. Apalagi super keren.

Imajinasi orang jenius jauh melebihi kecerdasannya.  Tapi kecerdasan akademisi jauh melebihi imajinasinya. Hanya sedikit mengingatkan bahwa empat orang modern paling berpengaruh Darwin, Marx, Freud, dan Einstein adalah cendekiawan tapi bukan akademisi. Memang sulit membuat karya yang murni ketika berada dalam institusi.

Celakanya, orang pandai bisa kelihatan atau nyata-nyata menjadi sangat bodoh. Apalah artinya kepandaian jika tak memiliki keberanian. Orang bodoh memiliki sesuatu yang tak dimiliki orang pandai: Kenekatan.

IMG_8389

Kantor lama saya, sudah saya anggap bubar sejak kedatangan pemimpin baru. Institusi saya bubar. Benar-benar bubar. Karena yang ada adalah sosok pemimpinnya. Institusi yang berubah dengan nilai-nilai yang dianut pemimpin. Institusi lama saya gagal tetap menjadi institusi, ketika menyerah pada keinginan satu dua sosok pemimpinnya. Padahal saya tahu benar pemimpinnya tidak lebih pintar dari bawahannya. Sayang sekali, lama sekolah tinggi-tinggi tak menjadikan banyak orang pandai untuk memiliki sikap berani. Pemimpin macam apa yang peduli pada bagaimana petugas pameran harus mengenakan pakaian. Atau memutuskan tari-tarian apa yang cocok  selama lima menit disajikan, menjelang dirinya akan naik ke atas podium dan mengawali pidato. Saya sedang tidak bicara Agus Martowardoyo lho ini.

Cinta tanpa pengorbanan itu seperti pencurian.

Cinta pada sebuah institusi dengan diam saja atas segala kekonyolan adalah pencuri. Mengharap gaji bulanan tanpa memiliki sikap berani. Untuk mengatakan tidak pada hal-hal yang seharusnya memang wajib dikatakan tidak. Menaruh hormat lah pada orang-orang yang berbuat sesuatu bukan karena kebutuhan, namun karena memang harus melakukan itu karena kewajiban. 

Ketakutan terbesar manusia zaman klasik adalah kematian tak terhormat; ketakutan terbesar manusia modern hanyalah kematian. Dan ketakutan paling konyol orang yang takut mati adalah dimutasi.

Jalan semakin menanjak. Kukayuh lebih hebat. Kuatkan semangat. Persiapkan dengkul lebih kokoh, Paha lebih kencang dan harapan lebih tinggi. Bahwa di atas bukit ada hamparan luas ilalang hijau dan menguning. Di bawah sinar matahari kukayuh sepeda. Jalan setapak yang jarang dilalui orang. Yang terjadi biarlah terjadi. Karena yang tak kita ketahui adalah daya tarik hidup ini.

Akhir kata:

sebagian besar orang perlu melebihi pendahulunya; Saya ingin melebihi orang-orang yang hidup sesudah saya;

Salam hangat di hari Sabtu.

Roy.