Kenapa Profil @RadityaDika Tidak Ada di IDWriters.com ?

Aku paling suka tiba di sebuah kota pada pagi hari. Pagi selalu menahan perasaan, memperlambat sesuatu. (Aruna  & Lidahnya- Laksmi Pamuntjak 2015 )

Sekitar tahun 2004, ketika facebook belum merangsek, twitter belum ada, path apalagi, mayantara kita lebih banyak bergerilya di bawah permukaan.  Iya. Saat itu masih zamannya friendster, blogspot,  geocities dan milis (mailing-list). Dan saat itu milis dari yahoogroups menjadi kesayangan para penggiat internet pada masanya. Saya memilih untuk aktif sekaligus pasif. Aktif mengikuti banyak milis, namun pasif untuk ikut nimbrung dalam obrolan.

Ada dua kutub dalam dunia maya nusantara atau kita sebut saja mayantara. Bukan utara atau selatan melainkan kiri dan kanan. Walaupun pada akhirnya saya sadar terlalu dini untuk menyimpulkan kiri dan kanan ini.

Pertama, saya menyimak benar milis Sastra Pembebasan, yang dihuni oleh Heri Latief dan Sobron Aidit. Keduanya para penulis yang setiap hari memproduksi tulisan melalui milis dimaksud. Heri tinggal di Amsterdam dan Sobron tinggal di Paris. Sobron, adik DN. Menarik jika dua penulis ini juga membolehkan Ikranegara ikut dalam milis dimaksud. Ikra, tinggal di Amerika. Jika Heri dan Sobron agak “kiri” banget, maka Ikra agak kanan. Iya betul, Ikranegara yang menjadi Pak Harfan dalam filem  Laskar Pelangi, juga Kyai Abubakar dalam Sang Pencerah.

Milis ini setiap hari mendiskusikan, memperdebatkan dan saling ejek dengan bungkus “pergerakan.” Bicara kebijakan Megawati dan kepemimpinan baru militeris dari seorang SBY. Juga bicara dunia lama. Keadilan di muka bumi berawal dari kerja dan memperjuangkan kebenaran. Bicara tentang penindasan. Bicara kebijakan luar negeri Indonensia. Bicara tentang orang-orang kelayapan yang tak pernah bisa pulang di zaman Soeharto. Lewat sastra, manusia dibebaskan. Kira-kira begitu.

Kedua, saya menyimak betul milis JalanSutra, yang diasuh Wasis Gunarto dan  Bondan Winarno, dengan penggiat  antara lain Alm. Gatot Poerwoko, Lidya Tanod, Irvan Kartawiria, dan penyuka wine Yohan Handoyo. Jalansutra berarti cara untuk pelesir. Iya, karena milisnya bicara dunia jalan-jalan dan makan-makan. Bikin hidup lebih hidup. Bicara senang-senang. Orang dengan banyak uang. Makan, tidur enak, jalan-jalan dan nikmati kekinian. Jalansutra bukan versi lain SilkRoad. Sutra disini sama artinya dengan sutra dalam Kamasutra. Sutra adalah cara.

Saat itu Bondan masih aktif mengasuh kolomnya di kompas online: “jalansutra” dan rutin menulis di harian sore Suara Pembaruan. Bondan belum menjadi bintang televisi dan belum tertarik menjadi caleg saat itu. Bondan adalah veteran penulis cerpen dan karyanya jauh lebih keren dibanding penulis stensilan semacam Arman Dhani.

Dua milis ini lumayan produktif. Sering mengadakan kopdar. Yang menarik adalah keduanya memiliki hubungan yang akrab dengan koperasi. Sastra Pembebasan dengan sebagian penggiatnya bekerja dan berkumpul di  Koperasi Restoran Indonesia kota Paris sedangkan JalanSutra membentuk Koperasi  JS untuk memudahkan para anggotanya melakukan transaksi dan membeli sesuatu secara kloteran.

Kesamaan lainnya adalan, tulisan dalam milis begitu memesona. Ringkas tapi padat. Berbagi pengalaman dalam tulisan ringan dengan begitu sastrawi.

——

Dunia tulis menulis adalah dunia yang sederhana. Dunia dengan bermacam format. Menulis dengan penuh khidmat saya golongkan menjadi sastra. Pergumulannya selalu sama: Apakah semua tulisan disebut karya sastra. Ini semacam apakah infotainment dapat dianggap sebagai karya jurnalistik?

Mundur lagi ke belakang, ketika tahun 1993, muncul esai di kolom Kompas “Ketika Jurnalisme dibungkam dan Sastra Bicara”,  Seno Gumira Ajidarma  menyampaikan sejarah kita adalah sejarah dengan kecenderungan sejarah penguasa. Fakta yang direka untuk membuat raja bangga. Kabar kerajaan adalah kabar  panggung kekuasaan yang elitis, militeris dan hedonis tanpa pernah menghidupkan dan menggali fakta masyarakat bawah. Keagungan raja-raja. Selalu saja seperti itu.

Negarakertagama, yang ditulis prapanca tidak dikenal pada zamannya. Gaya reportase yang tidak disukai penguasa. Bicara lembu yang sebesar kambing. Mengkritik penguasa, bahwa di luar tembok istana, semuanya pucat dan kurus kering. Prapanca pun diduga bukan nama sebenarnya. Maka kita sepakat sebut saja Prapanca.

Jika lewat berita dan kerja jurnalisme sekiranya akan dibungkan dan dibredel, maka kemaslah menjadi karya sastra. Itu kira-kira pesan yang ingin disampaikan SGA.

Sutra ini juga dilakukan oleh Emha Ainun Najib ketika masih sering diminta menjadi pembicara dalam acara-acara di zaman Soeharto berkuasa. Ada Ainun mesti harus ada intel polisi dan babinsa. Suara Ainun selalu bikin merah telinga penguasa. Suatu saat, ketika sedang asyik  memberikan buah pikir ke khalayak, polisi melarang Ainun melanjutkan. Isi pidatonya tidak mencerminkan nilai-nilai pancasila dan UUD 45 yang murni dan konsekwen. Acara harus segera bubar. Ainun tidak hilang akal. Dia meminta polisi untuk memberikan izin padanya memimpin doa sebelum acara dibubarkan. Polisi menganggukkan kepala.

Maka, dengan gayanya, mulailah ia memimpin doa. Pada akhirnya menjadi salah satu doa terpanjang sepanjang masa, karena sebetulnya dia hanya memindahkan isi pidato dengan dikemas sebagi doa. Semua kalimat tinggal ditambahkan “Ya Tuhan”, “Ya Rabb”, “Oh Aduhai Baginda”, dan banyak kata lainnya yang erat disebut sapaan doa.  Kepala menunduk, tangan ditengadahkan. namun kontennya adalah konten pidato.

————

Sastra itu sederhana.

Konstruksi sastra kita sejatinya tidak berwujud sepeti pondasi batu kali dan adonan semen. Sastra ada dalam pikiran kita. Ketika UGM mengubah Fakultas Sastra menjadi Fakultas Ilmu Budaya di awal tahun 2000, sejatinya menurut hemat saya, dalam jalan pikiran akademisi-pun sastra tidak lagi terlalu penting. Umum mengalahkan khusus. Sastra menjadi budaya adalah semacam mengubah zaman perundagian kembali menjadi masa perburuan zaman batu. Sastra adalah budaya yang telah dimuliakan. Sofistikasi budaya. Kecanggihan buah karya manusia.

Namun apa boleh bikin. Budaya itu lebih luas sekaligus ringan. Mudah diterima masyarakat. Budayawan lebih enak dan ramah diterima pikiran daripada kesan yang diperoleh saat mendengar kata sastrawan.

Coba bayangkan pada zaman itu ketika kalimat ini meluncur “Anak sastra mau kerja apa?” atau  “Anak Jeng itu anak sastra kan? Kalau lulus nantinya kerja dimana sih Jeng”.

Sastra yang dikalahkan budaya.

Sastra harusnya memang banyak mengalah. Sastra juga perlu popularitas agar karyanya menyebar dan dinikmati banyak orang. Toh sastra adalah semacam buah karya yang menghormati soal “kebenaran”, tanpa perlu menggurui secara kasat mata. Nilainya muncul karena tak menggurui. Moral yang dikemas plastik kapsul agar mudah ditelan dan efeknya diam-diam bekerja tanpa peru merasa pahit seperti puyer.

Maka sebisa mungkin kata sastra dikemas dengan menjadi cukup: tulisan. Terlalu berat beban yang dipikul sastrawan dibanding penulis.

Atau jangan-jangan kata penulis adalah semacam istilah fakultas budaya UGM tadi untuk mengganti kata Fakultas Sastra. Bukti menyerah kepada pasar dengan alasan lebih mudah diterima. Bukankah seharusnya sastra pun agak jual mahal. Ada syarat kondisi tertentu untuk menjadikan karya disebut sastra. Lebih suka disebut Sastrawan atau penulis? Orang kita adalah orang yang membumi. “Penulis aja deh”. Agar hidupnya lebih tenang. Tidak banyak dituntut mempertahankan kualitas karya. Pilihan yang mudah. Namun bukan pilihan yang indah.

Sastra bernaung di pikiran, bukan di bangunan bernama fakultas atau kerja budaya bernama idwriters.com

Ketika sosok Pram dan GM mulai ditinggalkan generasi kini, maka muncul wajah baru, Penyuka jazz parfum dan insiden. Namanya SGA. Sebelah Gunung Agung.
Dalam pembukaan situs idwriters.com pun SGA sebagai sosok baru yang digadang-gadang menjadi sorotan. Mantan Pemred Jakarta-jakarta  ini dielu-elukan oleh para penulis muda. Generasi Muda yang mencintai negeri senja. Para penulis muda yang elukan kehadiran sosok Alina, dengan larik cahaya keemasan di jendela.

Di satu sisi, apakah bermunculan banyak penulis muda? Yang saya ketahui anak ideologis Mansour Fakih dan segala turunannya yang dulu aktif dalam LKiS  insist Jogja terus membangun karya. Terbitlah Ratih Kumala, Puthut EA, Eka Kurniawan, Astrid Reza, dan kawan-kawan dengan Komunitas Sumbu-nya. Juga teman di Makassar seperti Aan Mansyur dan teman-teman Kata Kerja. Saya yakin di daerah lain pun bermunculan para sastrawan muda. Iya sastrawan, bukan penulis. Alasan saya satu: menaruh hormat bagi para penulis yang takzim mengolah pikiran dengan hati, menjadi karya yang enak dibaca.

Kiri Kanan Kulihat Saja Banyak pohon Cemara..aa.aa. Ya, dan cemara itu bernama sastra.

Selamat menikmati Sabtu pagi,

Roy (yang sedang ngidam punya sepeda lipat)

 

 

 

*) Seperti biasa, saya  dituduh semena-mena membuat judul yang sama sekali ndak nyambung dengan isi tulisan. Saya ndak perlu minta maaf, karena itu bukan kesalahan. Termasuk kenapa foto orang ini ada di paling bawah tulisan. Ini soal iseng saja.

 

raditya_dika

 

 

 

 

Advertisements

Jelang Akhir Pekan

Besok sudah akhir pekan. Saatnya kita (terutama Anda, Anda, dan Anda) memiliki waktu lebih luang untuk mengurusi diri sendiri; melakukan kegiatan yang diinginkan, atau lebih leluasa hanyut dalam pikiran. Entah, pikiran yang imajinatif atau sekadar lamunan sambil lalu alias daydreaming. Sah-sah saja, ndak ada yang berhak melarang. Sehat kok, asal jangan keterusan.

Bisa jadi, sudah ada segudang ide melayang-layang dalam kepala Anda sekarang, membayangkan besok bakal ngapain aja (kecuali untuk Farah, yang naga-naganya masih sibuk bergelut dengan dunia pertukangan sampai beberapa hari ke depan). Sepertinya bakal menyenangkan, apalagi kalau bersama dia yang tersayang (asal orangnya bukan terserahan dan enggak dramaan), atau setidaknya dengan teman-teman. Ya, sebagai makhluk sosial, manusia memang saling membutuhkan satu sama lain. Tak sekadar sebagai lawan berinteraksi lewat kontak dan komunikasi, melainkan juga sebagai kawan yang sama-sama merasa punya ikatan. Saking kuatnya, sampai bisa menciptakan geng. Ke mana-mana selalu bareng, ngapa-ngapain selalu bareng, curhat bareng-bareng, nge-date bareng, juga hamil dan melahirkan bareng biar nanti anak-anaknya bisa sebaya lalu kembali mengulang model pertemanan seperti mama-mamanya.

Dalam pergaulan geng tersebut, ikatan yang kuat meruntuhkan sejumlah batasan. Sesama anggota geng selalu terbuka, tentu dengan asumsi saling percaya dan rasa nyaman untuk berbicara apa adanya. Sayangnya, kenyamanan ini seringkali ikut berubah seiring berjalannya waktu, memungkiri janji yang pernah diucapkan sebelumnya, semisal: “BFF!” Ketika sesama anggota geng saling berseteru, memisahkan diri, atau hanya gara-gara beda lingkungan. Silakan dihitung, ada berapa geng yang pernah Anda alami sejak masa SD, SMP, SMA, kuliah, di kantor, atau bahkan geng ibu-ibu/ayah-ayah di sekolah, geng arisan, geng motor yang serius–bukan cabe-cabean, geng golfer sesama eksekutif muda, dan sejenisnya. Kemudian, dari timeline selama itu, ada berapa orang anggota geng yang masih berteman baik sampai sekarang? Bila merunut tulisan Mas Nauval kemarin, beliau termasuk beruntung lantaran teman-teman gengnya meninggalkan banyak hal positif yang terus dikenang.

Di sisi lain, saat mencoba mengingat masa lalu itu, barangkali Anda teringat kenangan buruk, pengkhianatan, penelikungan, ejekan berlebihan, kebohongan dan sebagainya yang bikin sakit hati. Lebih sakit dari biasanya, karena hal-hal tidak menyenangkan itu dilakukan oleh teman sendiri. Sakitnya ganda. Namun bagaimanapun juga, semua itu sudah berlalu. Dengan pengalaman tidak menyenangkan yang dialami selama ini, telah mengantarkan Anda menjadi seperti saat ini. Baik atau buruknya kekinian Anda, dibentuk banyak hal. Termasuk sakit hati tadi. Misalkan saja, saat ini Anda merupakan orang yang cenderung pendiam, sukar untuk didekati, minim bicara, atau introvert, bisa saja dulunya adalah orang ceriwis, supel, aktif, dan sejenisnya. Hanya saja bedanya adalah, Anda yang saat ini lebih berhati-hati, memiliki wibawa dan karisma, serta disegani. Meskipun efek sampingnya adalah terkesan dingin dan menakutkan. Berbeda dengan sebelumnya, Anda memang merupakan sosok yang menyenangkan, bisa berbaur di mana saja, meramaikan suasana, tapi sering disepelekan dan tak cocok untuk memimpin sesuatu karena enggak digubris. Biarkan waktu yang menjawab, mana yang terbaik menurut Anda. Kendati tak mustahil ada orang yang mampu menjalankan kedua peran tersebut secara terpisah, di kantor atau di rumah, bersama kolega atau bersama pacar. Dan seterusnya.

Terlepas dari itu, gara-gara sikap peduli dan kepo beda tipis dalam kehidupan sosial kita saat ini, tak sedikit juga yang memilih untuk menghabiskan me time-nya sendiri. Menyepi di pojokan, seolah menciptakan tameng bertuliskan “jangan diganggu!” Kecenderungannya makin marak dalam beberapa waktu terakhir. Apakah tindakan itu salah? Oh, tentu tidak. Justru menjadi pengalaman baru yang meluaskan pandangan, bila kita yang biasanya selalu rame-rame, sesekali menghabiskan waktu sendiri. Silakan coba berkeliaran di mal seorang diri, sebagai permulaan. Tapi jangan luntang-lantung tak jelas tujuan, bisa berasa bego. Itu sebabnya bila jalan bareng teman lebih gampang keleleran, saking terlalu banyaknya pembicaraan.

Green Tea Latte

Tentukan mau lakukan apa; nonton, cari Wi-Fi atau baca di kafe (sambil pesan menu tentunya), ke toko buku, atau sekalian belanja bulanan. Pasti akan asing pada awalnya, namun lama-lama bisa terasa berbeda. Seolah benar-benar punya kendali atas diri sendiri, di saat ini. Terutama bagi Anda di kota-kota besar Indonesia, tongkrongannya banyak dan beraneka. Bisa-bisa di akhir pekan berikutnya, Anda malah ketagihan dan solo-visiting ke museum, art house. Atau malah bisa memunculkan semangat untuk solo-traveling.

Toh tidak ada salahnya memanfaatkan akhir pekan untuk hal-hal baru.

Selamat (menjelang) akhir pekan.

[]

20

Dear younger self,

Inilah dirimu di usia 30-an. Sudah bukan di awal, tapi belum di akhir.

Sejauh ini perjalanan hidup ternyata sangat menyenangkan. Di antara kita tidak pernah menyangka bahwa thirtysomething merupakan masa-masa keemasan.
Kita sudah tahu apa yang kita mau. Kita sudah tahu apa yang kita tidak mau. Kalaupun kita masih belum tahu, ternyata orang masih bisa maklum, karena kata orang-orang, “You’re still young!” Padahal rasio orang yang memanggil “pak” sudah jauh lebih banyak dibanding yang memanggil “mas”.

Tapi surat ini tidak mau mempermasalahkan hal itu. Surat ini ditulis karena aku ingin berterima kasih kepadamu, my younger self, atas segala hal yang sudah kau lakukan di usia 20-an yang lalu, yang ternyata membuat hidup lebih mudah (dan terasa lebih muda!) di dekade berikutnya.

Beneran lho! Ini buktinya:

1. Terima kasih telah menghabiskan usia 20-an menonton film-film klasik yang serius dari tahun 1920-an sampai tahun 1960-an. Sungguh, semakin berumur semakin susah rasanya berkonsentrasi menonton film-film ringan buatan Alfred Hitchcock yang hitam putih sekalipun. Apalagi di saat menonton harus teringat deadline presentasi ke klien besok pagi.

2. Terima kasih atas semua kaset, CD, dan mp files dari beragam jenis musik populer. Mulai Britney Spears sampai Billie Holiday ke Billie Joe Armstrong, semua kita lahap begitu saja, sampai iPod penuh. Maklum, semakin bertambah usia, semakin keukeuh sumekeh kita bertahan di musik yang kita dengarkan di usia remaja dan 20-an.

3. Terima kasih buat semua buku yang kita baca. Kamu mungkin kecewa kalau aku bilang bahwa aku ragu bisa menghabiskan “Sophie’s World” atau buku Haruki Murakami hanya dalam waktu lima hari sekarang-sekarang ini. Tapi itulah kenyataannya.

4. Terima kasih sudah makan semua makanan. Literally everything! Tenang saja. Pantangan makanan karena alergi, asam urat, darah tinggi dan kolesterol baru muncul saat umur 32.

5. Terima kasih karena sudah lulus kuliah. Chances are, the older we get, the harder it is to finish or complete anything.

6. Terima kasih sempat menjadi gembel dalam perjalanan backpacking. Semakin berusia, semakin penting faktor “yang penting nyaman”, dan bukan asal murah.

7. Terima kasih bisa bertahan melek tengah malam untuk clubbing, tanpa harus menyobek bungkusan sachet Tolak Angin dan tidur dari sore sebelumnya. Staminamu di usia 20-an untuk apapun memang tak pernah tergantikan.

(Courtesy of Google)

(Courtesy of Google)

8. Terima kasih mau keluar dari rumah dan hidup sendiri, meski dalam kamar kost dan asrama yang kecil. Ternyata ini latihan buat rumah tanggamu kelak.

9. Terima kasih buat semua “coba-coba” yang tidak pernah menjadi kecanduan. Candu itu mahal harganya.

10. Terima kasih tidak pernah menghamili anak orang di luar nikah, apalagi di luar pagar.

11. Terima kasih karena telah malas berolahraga (awal 20), mulai olahraga lagi (paruh 20), malas lagi (menjelang akhir 20), dan akhirnya rajin lagi karena kesadaran diri, bukan karena trend (akhir 20).

12. Terima kasih sudah mencoba bisnis dan gagal. Investasi networking yang kau bangun nilainya jauh lebih banyak dari kerugian materimu. Lebih baik sering gagal waktu muda daripada merana saat menua.

13. Terima kasih buat semua gonta-ganti pekerjaan dari satu profesi ke profesi lain yang terlihat tidak berkaitan. Terima kasih pernah jadi pelayan restoran, badut dan tukang terima telpon. Semua itu makin memperkaya pengalaman dan pengetahuan kita.

(Courtesy of Google)

(Courtesy of Google)

14. Terima kasih pernah turun ke jalan buat ikutan demonstrasi. Kalau sekarang disuruh ikut, komentar pertama pasti: “Ngapain? Panas, cyin!”

15. Terima kasih untuk pelan-pelan mulai menerima jati diri bahwa kamu berbeda dengan orang kebanyakan.

16. Terima kasih pernah jadi minoritas di kalangan mayoritas. Empati hanya bisa datang dari pengalaman pernah tertindas.

17. Terima kasih mau berganti pertemanan. Itu tandanya kita telah semakin tumbuh dewasa. Pertemanan mengikuti evolusi pikiran kita. Teman lama cukup hadir di Facebook saja.

18. Terima kasih atas kebiasaan untuk berbagi, baik dalam perkataan, sumbangan harta atau tulisan.

19. Terima kasih pernah jatuh cinta dan patah hati berkali-kali.

20. Terima kasih, bahwa dalam semua kesusahan, kamu memilih untuk terus hidup.

Love,

xoxo.

(Courtesy of Google)

(Courtesy of Google)

SEKS

Tergantung. Mau dilihat dari mana? Sebagai prokreasi atau rekreasi?

Minggu sore kemarin, dalam pertemuan tak sengaja di sebuah kafe yang baru buka. Pembicaraan menghasilkan satu kesimpulan: “kawin bukan melulu soal seks, seks tidak cuma penetrasi dan ejakulasi, penetrasi dan ejakulasi pun belum tentu hanya untuk membuahi.” Jelas, kesimpulan ini bukan suatu pemikiran yang baru atau revolusioner. Apalagi setiap orang memiliki persepsi masing-masing terhadap urusan yang satu ini.

Sama seperti makhluk hidup lainnya, manusia melakukan hubungan seksual untuk berkembang biak, meneruskan jejak karbon di muka bumi ini. Namun kita patut bersyukur, menjadi makhluk dengan pikiran dan perasaan. Sehingga dianugerahi kemampuan untuk bikin hubungan seksual bukan sekadar persetubuhan. Lengkap pula dengan bentuk genitalia sedemikian rupa, yang mengharuskan terjadinya kontak fisik secara langsung. Membuat manusia mengenal kata “intim” dan “mesra”. Berbeda dengan ikan, misalnya. Ketika sang betina harus men-squirt sel telurnya ke lokasi tertentu, untuk kemudian dibuahi pejantan secara terpisah. Ibarat punya anak dari hasil masturbasi.

Dengan pikiran dan perasaan, hubungan seksual bisa menjadi lebih nikmat dan menyenangkan, bahkan mampu membuat para subjeknya mengalami ekstase dalam arti sebenarnya. Dengan pikiran dan perasaan pula, aktivitas yang sama dapat terasa begitu menyakitkan, melukai, dan meninggalkan trauma. Hanya saja, karakteristik kedua kutub ini begitu versatile, sangat rapuh, terlampau luwes. Dalam banyak kasus, banyak orang tak sadar bahwa kenikmatan seksual yang ia rasakan mengarah pada adiksi, membuatnya terikat pada delusi. Kehilangan common sense. Saking parahnya, juga melibatkan pemaksaan. Menjadikan hubungan seksual tak lebih dari sekadar aksi untuk bisa muncrat doang. Membuat coli pantas disebut kemandirian seksual. Toh, senikmat-nikmatnya hubungan seksual, apa mesti berujung pada ketergantungan?

Pikiran dipengaruhi banyak faktor, termasuk nilai-nilai etika, standar moral, kaidah kepatutan, pertimbangan pribadi, dan alasan-alasan lainnya. Contoh umumnya, keperawanan dan ikatan pernikahan. Tanpa bermaksud sexist atau mengkultuskan selaput dara, diasumsikan bahwa perempuan akan lebih rela bersanggama dengan pasangan resminya, ketimbang separuh hati menyerahkan diri kepada pacarnya dengan embel-embel “pembuktian cinta.” Selain itu, konon, hubungan seksual yang dilakukan tanpa perasaan bersalah, dan dijalani dengan optimal oleh kedua belah pihak, akan terasa lebih menyenangkan. Berkemungkinan besar pula bisa menghasilkan pembuahan yang lebih baik, memang sangat dinantikan.

Sebagai sumber kreativitas, pikiran mewujudkan hal-hal baru dalam urusan seksual. Bisa berupa inovasi, fantasi, atau sekadar variasi. Selama tidak menghilangkan kenyamanan (dengan batas nyaman yang berbeda-beda), pikiran akan bersifat permisif dan mudah mendapat persetujuan. Sesuatu yang awalnya dianggap aneh/salah, bisa diterima siapa saja menjadi sesuatu yang wajar/benar. Misalnya, hingga era 70-an, hubungan seksual hanya lazim dilakukan di atas ranjang. Seiring berjalannya waktu, sah-sah saja bila pasangan suami istri ingin saling melancarkan serangan di dapur, ruang tamu, atau bahkan balkon loteng. Maupun perubahan gaya, dari posisi pemula (man-on-top alias posisi Missionary) jadi gaya berdiri, dan sebagainya. Beragam perubahan ini menjanjikan sensasi atau pengalaman seksual berbeda. Disebarluaskan secara terbuka pula.

Dewasa ini, pemikiran timpang mengenai struktur sosial gender juga mengemuka. Bagi oknum sebagian pria, terlebih yang merasa ganteng, merasa punya bentuk bodi idaman, merasa keren atau tajir melintir, juga merasa punya titit dan kelihaian seksual yang patut didambakan, kemampuan menaklukkan hati–dan kelamin–perempuan dianggap pembuktian sebuah keniscayaan. Atau versi ironisnya, cuma doyan “nyicip”. Apabila berhasil, bangga dan diumbar ke teman-teman satu geng laiknya sebuah pencapaian. Ndak tau kalau di semesta gay, apakah dengan latar belakang sama (pembuktian kalau masih laku, doyan “nyicip”) atau ada alasan berbeda.

Dari pikiran juga, seseorang bisa mengendalikan diri. Ibarat kata walaupun titit ngaceng maksimal, tapi tetap enggak asal sodok sana tusuk sini. Para cewek pun bisa tegas mengatakan tidak. Dengan berpikir, masih sempat mempertimbangkan konsekuensi yang bisa dihasilkan. Sila dibayangkan dan dibandingkan. [Cowok] Setelah sempat berhubungan seksual dengan pacar, apakah sanggup merasakan dan melawan dramanya? Apakah merasa terikat? Bak simalakama, apabila kamu terikat, maka kamu akan terpaksa merasakan ketidaknyamanan. Tapi apabila kamu tidak terikat, kamu dianggap cowok bajingan. Cuma mau ngewe doang. [Cewek] Setelah sempat berhubungan seksual dengan pacar, dan ternyata dia suka selingkuh tapi enggak mau mengaku salah, siap untuk putus? Di satu sisi, pasti pengin putus. Di sisi lain, pasti berasa enggak rela. Serba salah, kan?

Selain itu, pikiran juga bisa membuat seseorang begitu anti dan tabu terhadap hal-hal seksual. Pemikiran tertentu membuat seseorang lebih suka bersetubuh dalam kegelapan, melakukannya dengan cepat dan terburu-buru, enggan berkomunikasi dengan pasangan meskipun kenyataannya selama ini selalu dibuat tak nyaman dan “ditinggal dalam kondisi kentang”, menghindari berfantasi dan variasi, memutuskan untuk frigid, atau sekalian menjadi seorang aseksual maupun selibat setelah mendapat panggilan spiritual.

Sedangkan perasaan cenderung dipengaruhi dua hal: rangsangan indra dan perasaan itu sendiri. Dan kinerja perasaan tak akan bisa lepas dari pikiran. Keduanya saling sinergi, bisa menguatkan, atau malah melemahkan. Sederhananya, apabila tubuh mendapatkan sentuhan lembut di titik yang tepat, pasti ada yang tegang, bisa sange. Tanpa memandang siapa yang memegang, dan apa orientasi seksual orang yang dipegang. Kecuali kalau pikiran mengintervensi dengan kerisauan, dan penyebab ketakutan. Yang ngaceng akan layu seketika, gelisahnya batal. Ya pada intinya, Anda paham maksud saya.

Lalu, bagaimana sebaiknya memandang seks?

Tergantung. Mau dilihat dari mana? Sebagai prokreasi atau rekreasi?” Mau dilihat sebagai aktivitas berkembang biak, atau sebagai kegiatan yang memberi kenikmatan. Sebab pada dasarnya, seks tak bisa dilepaskan dari tujuan awal pelaksanaannya. Apakah ingin menghasilkan keturunan? Apakah ingin merasakan keintiman bersama pasangan? Atau keduanya? Terserah Anda sih. Jika bingung, ikuti saja panduan agama masing-masing. Bila agnostik, pakemnya cuma satu: “jangan buat jahat,” termasuk kejahatan seksual.

Alamiahnya segala sesuatu yang duniawi, seks bisa dipandang dari dua sisi. Baik dan buruk. Selain sebagai hubungan suami istri demi mendapatkan keturunan, agama-agama perenial purba menganggap bahwa seks adalah salah satu jalan menuju kontak ketuhanan, sesuatu yang transendental.

Di timur Indonesia, ada istilah “Mati Kecil” selaras dengan yang ingin dicapai dari praktik Kama Sutra. Maupun lelaku Maithuna, hingga jauh ke Eropa sana dengan Hieros Gamos-nya. Tapi ya itu tadi, lantaran transenden (baca: sulit dipahami) dan versatile, kearifan-kearifan ini malah disejajarkan dengan tindakan zina belaka: seks karena nafsu. Seks pun dianggap sangat berbahaya, selain sebagai satu-satunya cara untuk mendapatkan keturunan. Sayangnya, demi menjauhkan diri dari “bahaya” tersebut, manusia dibuat membencinya dengan cara-cara yang misoginis. Seks dibuat sedemikian menjijikan, manusia dibuat sedemikian malu dengan tubuh serta ketelanjangannya sendiri (coba tonton “Carrie” keluaran 1976), dan kenikmatan seksual dibuat tak terjangkau bahkan menyakitkan. Sebut saja praktik menjahit labia pada anak-anak di Afrika, atau mutilasi berupa pemotongan klitoris, salah satu organ seksual penting perempuan. Merampas kemerdekaan seseorang atas tubuhnya sendiri.

Kendatipun demikian, bersikap imbang akan jauh lebih baik. Seks tak lebih dari aktivitas alami untuk memenuhi salah satu kebutuhan dasar manusia. Posisinya berada di bagian paling bawah Piramida Maslow, bersama makan, minum, dan tidur. Akan tetapi, bukan berarti pula seks dilakukan segampang mengambil gelas, menuang air, lalu minum, sebab bakal terasa biasa. Kehilangan kesakralannya, sekadar jadi ajang pelepas gairah semata. Apalagi kalau terlampau sering, bae-bae jenuh.

Itu sebabnya, kawin bukan melulu soal seks. Karena kalau demikian, berarti ikatan suci pernikahan tak lain hanya legitimasi untuk ngeseks. “Bayarannya” adalah maskawin dan kehidupan bersama sampai akhir hayat/hubungan. Selanjutnya, seks tidak cuma penetrasi dan ejakulasi. Karena hubungan seks bukan sekadar gerakan berulang-ulang yang melelahkan, melainkan aktivitas yang mengejawantahkan kasih sayang dan kenikmatan jasmani serta rohani. Terakhir, penetrasi dan ejakulasi pun belum tentu hanya untuk membuahi. Karena orgasme adalah hak asasi setiap orang, bukan hanya untuk cowok yang ejakulasi, melainkan juga kesempatan bagi cewek untuk kejet-kejet atas persetujuannya sendiri.

[]

Berdasarkan Kisah Nyata (Trilogi Oscar Jilid Dua)

Film biografi atau biasa disebut biopic yang merupakan kependekan dari biographical motion picture adalah film yang dibuat berdasarkan kisah nyata. Biasanya diambil dari kisah seleb atau tokoh yang terkenal. Atau bisa juga dari orang yang biasa saja tapi mempunyai cerita yang menakjubkan. Di tahun 2014-2015 ini atau setidaknya pada award season ini disengaja atau tidak ternyata banyak sekali biopik yang dibuat, dan semuanya berkualitas bagus. Berikut film-filmnya tidak menurut abjad:

Chris Kyle

The most lethal sniper in U.S. military history. Ini adalah julukan dari Chris Kyle. Konon dia sudah menembak kurang lebih 160 orang (tidak ada data yang akurat). Clint Eastwood sebagai sutradara film ini dengan judul American Sniper dengan Bradley Cooper berperan sebagai Chris Kyle. Film yang mengundang kontroversi di Amerika karena dianggap sebagai film yang pro-perang dan menuai polemik apakah Chris Kyle itu pahlawan atau penjahat perang. Tapi yang jelas film ini adalah film perang terlaris sepanjang sejarah Hollywood. Enam nominasi Oscar sudah didapat. Bradley Cooper meraih nominasi Oscar ketiganya di tiga ajang Oscar terakhir. Sebelumnya di film American Hustle dan Silver Lining Playbook dia pun mendapat nominasi. Tapi tetap dia tidak akan naik ke podium dan meraih Oscar tahun ini. Saingannya berat.

James Brown

Film Get On Up yang diproduseri oleh Mick Jagger dari The Rolling Stones ini sebetulnya bagus. Setidaknya akting Chadwick Boseman sebagai James Brown layak mendapatkan nominasi di kategori Aktor Terbaik. Mengingatkan pada Jamie Foxx yang berperan sebagai Ray Charles di film Ray. Mungkin kurang di promosi dan marketing sehingga film ini tidak mendapatkan lirikan dari berbagai ajang penghargaan.

Alan Turing

Satu dari dua lulusan Cambridge yang difilmkan tahun ini. Ilmuwan serba bisa dari Inggris ini pengaruhnya sangat terasa sampai hari ini. Beliau adalah dianggap sebagai pionir dalam menciptakan konsep pemrograman komputer di era Perang Dunia II. Mesin Turing adalah cikal bakal komputer yang kita pakai hari ini. Benedict Cumberbatch sebagai Alan Turing pun bermain apik sehingga dia mendapatkan nominasi pertamanya di ajang Oscar ini di kategori Aktor Terbaik. The Imitation Game sudah tayang di bioskop di Indonesia. Ayo kalo mau liat akting komputer segede alaihim gambreng dan meweknya Benadryl Camouflage inilah saatnya nonton ke bioskop.

Martin Luther King, Jr.

Silakan klik di Trilogi Oscar Jilid Pertama

Stephen Hawking

Eddie Redmayne is the man. Satu-satunya pengganjal Michael Keaton mendapatkan Oscar di kategori Aktor Terbaik tahun ini adalah dia. Eddie memainkan peran sebagai Stephen Hawking yang juga sekolah di Cambridge ini dengan baik sekali. Kalo sudah menonton film My Left Foot yang dibintangi Daniel Day-Lewis atau Russell Crowe yang bermain sebagai John Nash di film A Beautiful Mind, Eddie sudah berada di level mereka. Filmnya pun layak tonton. James Marsh sebagai sutradara film dari The Theory of Everything ini selain menceritakan bagaimana Stephen Hawking muda yang jenius sebagai cosmologist tetapi juga sengaja banyak menyisipkan kisah cinta dari Stephen Hawking yang janggal. Half science, half love stories.

Margaret Keane

Film Tim Burton yang kesekian tanpa kehadiran Johnny Depp dan Helena Bonham Carter. Big Eyes menceritakan awal kehidupan seorang pelukis wanita bernama Margaret Keane yang diperankan oleh Amy Adams hingga dia bertemu dengan suaminya Walter Keane yang diperankan oleh Christoph Waltz. Film yang bergenre comedy drama ini sudah menghasilkan Amy Adams satu Golden Globe, dan beberapa nominasi lainnya di ajang penghargaan film. Tapi tidak di Oscar. Tim Burton tidak butuh Oscar.

du Pont

John Eleuthère du Pont merupakan keturunan dari keluarga kaya raya Dinasti du Pont. Keturunan Perancis yang bermigrasi ke Amerika Serikat. John pun pengusaha yang bergerak di berbagai bidang. Dia adalah penggemar olah raga. Terutama gulat. Saking antusiasnya dia membuat sasana gulat untuk mereka yang membutuhkan. Sasana tersebut bernama Foxcatcher, sama dengan nama judul film ini. Steve Carrell, sebagai John du Pont di film ini mendapatkan dua adik kakak pegulat profesional bernama Mark Scultz (Channing Tatum) dan Dave Schultz (Mark Rufallo), juara gulat di Olimpiade 1984 untuk dilatih menuju turnamen gulat kelas dunia berikutnya. Film ini menghasilkan nominasi Oscar untuk Mark Rufallo sebagai Aktor Pendukung Terbaik dan Steve Carrell di Aktor Terbaik, dan Sutradara Terbaik untuk Bennett Miller. Oya film ini juga akan tayang di bioskop akhir bulan ini.

Selamat menonton.

 

nb: teaser jilid tiga: boyhood as a nightcrawler in budapest and a birdman in a whiplash. 

USTADZ WADUD Bagian-5

Cinta

Kami ingat betul peristiwa ini. Kami berada berkumpul membentuk lingkaran luas dengan pusat dua orang yang berdiri tegang. Wadud dan Warti. Kalau ada yang hendak diajak damai, itu adalah diri mereka masing-masing. Kami memaku pandangan tak lepas dari mereka berdua. Bukan bagaimana akhirnya, tapi seperti apa prosesnya. Jangankan suara, desah nafaspun kami pendam sedalam mungkin. Telinga adalah indra tertajam yang ada saat itu. 

Sekarang akal sudah surut, sepenuhnya dikuasai nurani. Air mata adalah untaian kata-kata tanpa susunan frasa yang jelas. Seperti air mata, kata itupun mengalir dari relung-relung kelenjar bernama jiwa. Hati menjelma jadi mulut yang bisa berbicara lantang. Baik Wadud atau Warti akan menjelaskan. Sebuah penjelasan monolog yang berbicara pada diri sendiri. Juga warga Jatinom.

Kang! Aku ngaku salah kang, aku pembunuh!! Aku ini lebih rendah dari binatang ampuuuuun
Jangan diam saja kang Wadud, ampuni Warti. Sumpah demi Allah Warti siap dipenjara. Matipun Warti sudi asal kang Wadud mau kasih ampun

Ustadz Wadud tidak menunjukkan gerakkan, baik badan maupun mulutnya terkunci rapat. Warti membujur lagi di depan sang ustadz. Kali ini dengan darah yang mengalir dari telapak kakinya. Warti lupa kalau ia adalah manusia, ia merasa dirinya sebagai binatang jalang yang siap dihukum karena menyakiti majikannya. Warti meraung mengampun-ampun. Kemudian warti melepaskan pandang ke sekelilingnya. Memandangi mata kami satu persatu, seakan meyakinkan kami untuk menjadi saksinya. Saksi sebuah tragedi.

Bapak-bapak Ibu-ibu warga Jatinom. Saya mohon untuk mengingat ini baik-baik. Saya Warti membunuh Yu Darmi. Membakarnya hidup-hidup sampai gosong. Saya Warti, anjing betina yang gila!
Ampuuun!
Maafkan saya…

Warti berdiri, melempar kain sarung burung Hong dan membuka bajunya. Kutang yang basah karena keringat lelah itu menyembul dari balik baju yang ia tanggalkan di lantai aspal. Ia menjadi betul-betul gila, atau kami yang gila, karena tidak bereaksi apa-apa.

Ini saya Warti bapak-bapak ibu-ibu. Bunuh saya! Saya salah, saya bersalah, Dosaaaa!

Sekarang giliran kami yang mengelurakan air mata. Kami menundukkan kepala pertanda maaf sudah berada di ujung lidah, hanya tak mampu mengucapkannya. Kami merasa, pastilah ada alasan yang bisa dipertanggungjawabkan oleh Warti sehingga Yu Darmi menemui ajalnya kemarin malam. Sekali lagi, diam adalah jawaban dari kami semua. Tapi bukan sang Ustadz. Setelah ia memungut kain sarung burung Hong di samping jalan yang dilemparkan Warti, ia menjerit:

Wartiii!! Bukan salahmu!

Kami terkejut dibuatnya. Teriakkan Ustadz Wadud seperti gemuruh halilintar di tengah senyapnya suasana malam itu. Tidak biasanya beliau menggunakan volume suara setinggi itu. Dibebani dengan kaget luar biasa, mulut kami bak batu yang tidak bisa dibelah oleh apapun. Warti menoleh ke arah suaminya berdiri. Ia beranggapan kalau masalah ini menemui ujungnya. Harapan yang jauh dari kenyataan.

Bukan salahmu Warti, dosa itu dosaku. Darmi, kamu, aku dan kerusakkan yang ada di sini semua salahku!…

Kang-kang, ngomong apa? Jangan kasihan sama aku kang Wadud. Aku hanya minta dimaafkan, itu saja. Bukan kakang yang salah, tapi aku kang, aku yang membakar Darmi kemarin

Sambil menunjuk ke arah Danang sang ustdaz berkata:

Warti istriku, kamu lihat sepupumu itu disana? Kamu lihat seorang pria muda yang duduk diatas sepeda motornya itu?

Ketahuilah, dia itu Jiwaku! Danang adalah kekasihku
Aku mencintainya

Ya Allah aku mencintainya

Baik kami, Warti, Danang, atau mungkin Wadud sendiri tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Antara Ustadz yang meracau atau jeritan hati yang tak lagi bisa dibisukan. Pembuluh darah siapa saja di tempat itu pasti dialiri darah dengan debit tinggi. Semua menegang mendirikan kuda-kuda waspada yang tidak begitu berguna. Terlalu jauh dari yang kami bayangkan.

Sekarang Warti mengerti posisinya. Ia adalah pecundang, sedari awal ia adalah pecundang. Semua keragu-raguannya mendadak dijawab oleh Ustadz Wadud. Warti sudah kehilangan semuanya. Kebebasannya, sinar wanita, dan yang terpenting cintanya. Berjuang untuk kehampaan. Apa yang ia pertahankan selama ini adalah sekumpulan kebodohan tanpa bayangan. Pria yang ia pikir mencintainya ternyata menjalin kasih dengan sepupunya sendiri, Danang. Warti bahkan lebih rela kalau Yu Darmi yang memenangakn hati sang Ustadz, ketimbang Danang.

Ya Allah aku mencintainya…

Warti Astini bisu. Teriakkan yang memilukan dari benak kalbu perempuan ini mati terduduk bersama hilangnya kepercayaan. Kepercayaan yang terlalu naif bernama cinta. Yang Warti mengerti sejak awal perjumpaan dirinya dengan Ustad Wadud adalah ketertarikan seorang perempuan terhadap laki-laki yang mengiming-imingi dirinya dengan pesona. Sedangkan cinta barulah Warti pahami detik ini.

Warti istriku, inilah suamimu, ustadz sok suci yang kau agung-agungkan selama ini ulama gadungan yang tak mampu menaklukkan dirinya sendiri

Tindakan hakim-menghakimi sekarang berubah arah. Wadud harus menjatuhkan putusan berat terhadap dirinya sendiri. Vonis kafir melekat pada diri sang Ustdaz. Dosa kafir tak termaafkan. Ia menjadi kafir karena jatuh cinta. Kemudian ia menjadi dosa karena tak mampu membunuh cintanya.

Suatu hari, istriku. Seorang laki-laki muda kau ajak ke Mesjid. Ia menjabat tanganku, ia berkata asalamualaikum dengan nada yang datar sederhana, seakan runtuh leluri Al-Quran yang berdengung sepanjang hayatku. Tiba-tiba saja aku sadar. Aku jatuh cinta…

Kau tahu, aku bersamanya hampir setiap detik, bahkan dalam Sholatku, dalam melagukan Al-Quran, atau memejam saat berwudlu. Warti Istriku, bahkan kau adalah wanita pilihan Danang untuk pendamping hidupku
Aku jatuh mencintai sepupumu itu sarung ini buktinya
Warti aku tidak bisa mengibaratkannya, maaf, cinta macam apa yang aku idap ini? Yang aku tahu, Danang mencintaiku bukan karena aku Ustadz Wadud, atau tampang bodoh ini begitu menggiurkan birahi, atau aku paham agama. Tapi karena ia adalah seorang Danang Lesmono… Dan aku mencintainya karena aku adalah seorang Gojali dari rantau

Cinta sendiri membenci manusia, mereka sepakat menghinggapi anak manusia, bercokol menyedot sari-patinya, dan meninggalkannya dalam luka kronis bernama patah hati. Apabila luka ini sembuh, bekasnya tak lekang, ia bersisa bak amputasi. Apabila luka tak kunjung pulih, tentulah mati akibatnya. Tugas Cinta atas Warti sudah selesai, saatnya untuk pindah ke lain korban. Warti ditinggalkan dalam luka besar menganga. Luka jiwa yang membanjirkan tangisan dan luka tubuh yang menghabiskan darah. Warti menusukkan tubuhnya pada pancang bambu di pinggir jalan. Ia terluka di dua tempat, pinggang dan hati sekaligus tanpa ampunan.

Kenapa kang Wadud lakukan ini?

Pertanyaan terakhir Warti sebelum penghujung nyawanya berhembus pelan. Wadud kali ini betul-betul membisu. Akibat yang ia bawa serta jauh melampaui nalar manusia. Korbannya mencakup nyawa, jiwa, dan cinta. Dalam pada itu, manusia juga bisa balik membunuh cinta. Yu Darmi contohnya, ia memasung cintanya terhadap sang Ustadz hingga kering tanpa sisa. Ia tak hendak mencuri atau bersikap ngawur ditengah-tengah dua cinta lain yang ada. Ya, Darmi adalah wanita penuh perhitungan, sehingga ia berlaku jitu, Warti bisa saja ditaklukkan dengan mudah, tapi Danang? Ustadz Wadud sudah bertukar nyawa dengan pemuda ini. Kematian Wadud adalah kehancuran Danang, dan begitu sebaliknya. Dan sekali lagi, bukan kehancuran yang Darmi inginkan.

Tiba-tiba. Sebongkah batu cukup besar mendarat di kepala Ustadz Wadud yang sedang khusyu memeluki Istrinya berusaha menyumbat luka tusukan dengan kain sarung burung Hong yang ia pegang. Ia tak segera bergerak. Batu kedua mendarat di pelipis kirinya, kali ini mengakibatkan robekan yang mengeluarkan darah. Ganti bu Sinom melempar sang Ustadz dengan batu sambil berteriak Kafir!!. Teriakkan itu seperti menyemangati kerumunan warga yang semakin banyak mengitari. Mereka yang terpaku, mendadak tercabut dan memunguti apa saja yang ada di sekitarnya untuk dilemparkan. Bertubi-tubi. Ustadz Wadud sudah berubah menjadi sasaran lempar seperti tiang pualam muzdalifah. Beliau bermandikan darahnya sendiri. Kanan-kiri, atas-bawah, darah sang Ustadz tak lagi bisa bibendung tangan. Kami merajamnya.

Kami tak mendengar teriakkan dari pihak yang menderita di bawah tangan-tangan kami yang semakin cepat melontarkan jahanam yang rajam. Sebaliknya, pekikan tinggi disertai auman suara mesin justru datang dari arah belakang kerumunan. Danang menerobos kerumunan dengan motor bebeknya, beberapa dari kami terpelanting jatuh ke parit, sebagian sempat sadar dan menghindar. Mungkin karena terkejut, kami memperlambat laju lemparan batu atas sang Ustadz.

Danang meninggalkan tunggangan motornya seperti gerakan membuang. Ia menyeruak ke tengah dan memeluk Ustadz Wadud. Lebih tepat disebut sebagai menamengi. Kini lelaki belia itu bak badan kedua bagi Ustadz Wadud. Batu-batu terpaksa mendarat di sekujur tubuh Danang, karena ia melindungi kekasihnya. Menurut Danang, tidak ada kata terlambat, ia tahu setiap desah nafas sang Ustadz, walaupun pada batas hembusan terakhir. Ia yakin Ustadz Wadud masih bernyawa.

Intuisi bercampur naluri, tak dinyana, juga muncul dari seseorang yang mengemban cinta. Sekotor apapun kondisi orang tersebut, sebuah indra tambahan berkecamuk diantara degup jantung dan aliran nadi-nadi pikirannya. Seperti Danang ini. Bagi sebagian orang, sang Ustadz telah gugur bersama istrinya, tapi untuk Danang, sang Ustadz berusaha menggapai dirinya bersama cikal nyawa yang hampir sampai pangkalnya. Yang mengatakan demikian tentu bukan kami, itu adalah bisikan nurani yang entah bagaimana bisa sampai pada nalar Danang. Sebuah kesadaran yang berada di bawah sadar yang lagi-lagi berkata benar.

Kamu jangan menyusulku

Dari balik cecair plasma kental berwarna merah, kalimat tersebut menelisip keluar. Ustadz Wadud masih bernafas. Baik Danang atau Ustadz Wadud sudah sama-sama mengeluarkan darah. Darah mereka bercampur dan saling tukar, susul-menyusul kemudian jatuh mewarnai tanah pijakkan mereka berdua. Kalau ada yang menyadarinya, mereka saling tatap, pandangan yang tak memerlukan lisan. Mereka betul-betul berbicara.

Setidaknya sebuah kehormatan untukku, mati demi Ustadz yang aku cintai, ujar Danang terburu-buru.
Bodoh, kamu harus hidup!
Hidup untukku hanya jika ada seorang bernama Gojali yang goblok mau jatuh cinta sama anak SMA bernama Danang

Kami terhenyak-gemetar, ketika mendengar suara tawa dari sasaran lempar kami itu. Kami berhenti melontar batu.

Hahahaha, jadi sekarang aku goblok dan kamu bodoh?
Iya! Lebih gila lagi kita sekarang tertawa
Danang, si goblok ini masih hidup
Dan tidak akan pernah mati, sekali lagi sarung ini saksinya

Dengan susah payah Danang berdiri dan membopong Ustadznya. Seandainya batu-batu itu masih beterbangan, pasti tidak akan dia hiraukan. Dalam pikiran pemuda ini hanya ada satu perintah: selamatkan kekasihmu! Demikian sehingga sekarang mereka berdua, satu membopong dan lainnya dalam bopongan, berjalan menjauhi kerumunan.

Jangan tidur!
Tidak tidur
Jangan tidur
Tidak tidur
J a n g a n  t i d u r
Tidak… tidur
Jangan…..

Wadz dzaariyaati dzarwaa (Adz Dzaariyaat (51):1). Wan najmi idzaa hawaa (An Najm (53):1). Wal aadiyaati dhabhaa. Fal muuriyaati qad-haa. Fal mughiiraati shubhaa. Fa atsarna bihii naqa a (Al Aadiyaat (100):1, 2, 3, 4). Wal ashr (Al Ashr (103):1). Yaa ayaatuhan nafsul muthma-innah. Irjiii ilaa rabbiki raadhiyatam mardhiyyah (Al Fajr (89):27, 28).

Demi angin yang menerbangkan dengan sekencang-kencangnya. Demi bintang apabila terbenam. Demi yang berlari kencang terengah-engah, lalu memercikkan api, lalu menyerbu di waktu subuh, maka ia menerbangkan debu. Demi masa. Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai.

Entah karena kehabisan tenaga atau dengan kesadaran penuh. Tepat di jembatan kecil yang melintang dari sisi satu ke sisi lain beralaskan kali juren, Danang jatuh ke kanan. Mereka bertiga, Danang, Ustadz Wadud, dan kain sarung burung Hong masuk ke dalam kali. Mengalir bersama derasnya kali Juren yang kecoklatan. Seperti batu yang tenggelam, kami tidak dapat melihat mereka lagi. Hanya kain sarung yang bisa kami selamatkan, ia tersangkut pada batang bambu yang menjorok ke tepian kali. Dan seterusnya, baik bersama nyawa maupun menjadi sepasang bangkai, mereka hilang dalam liuk aliran air sungai.  

image

Sumber: Google

Kali Juren

Kali Juren kecoklatan tetap seperti dulu, hanya saja langgar yang bersebelahan dengannya hampir rubuh dimakan cuaca. Langgar mungil yang tak lagi bisa hidup karena ditinggalkan umatnya. Di dalam langgar tak bisa ditemukan perlengkapan ibadah sebagaimana mestinya, semuanya hancur atau diselamatkan ke Mesjid Agung. Hanya ada mimbar lapuk dan seonggok kain sarung kusam bercorak burung Hong di bagian dalam ceruk setengah lingkaran tempat imam memimpin jemaatnya.

Di sisi kali ini juga tidak lagi ada bangku-bangku pancing, bahkan jembatan bambu yang dulu menghubungkan kedua sisinya hilang atas alasan yang beragam-ragam. Kami lebih memilih menyebrang di dekat perbatasan desa daripada mendirikan lagi jembatan bambu baru seperti dulu. Desas-desus mengatakan ada dua nafas gaib di kali Juren. Kadang nafasnya menenangkan kadang memilukan.

Sekarang genap dua tahun lewat beberapa jam dari kejadian itu. Masih banyak diantara kami yang menjadi saksi, menjadi pelaku, dan menjadi hakim dari peristiwa itu. Pengadilan tanpa jaksa dan pembela. Pastilah masih membekas sebegitu dalamnya dalam benak kami masing-masing. Seorang janda, seorang istri, seorang Ustadz, dan seorang pria muda meninggal dunia. Hanya ada dua keranda dan dua penguburan yang kami laksanakan bersamaan. Dua lainnya, kali Juren sudah mewakilinya untuk kami. Sejuknya air kali menjadi salam penghormatan kami sedalam-dalamnya kepada mereka yang saling mencinta. Ya, mereka sungguh berkorban demi cinta. Kalau ditanya mengenai sisa-sisa dan saksi yang lebih berbicara daripada kami, mungkin kami akan menunjuk ke arah langgar Juren. Kain sarung yang bersemayam di dalamnya adalah bukti pengorbanan cinta yang penuh luka, dua tahun lalu di Jatinom. Bukan benci alasan kami untuk enggan menuturkan kisah ini kembali. Kami merasa malu; kemudian menjadi tabu. 

Kami terpaksa, mungkin Tuhan kami yang memerintahkan demikian. Kamipun mendegar bisikan-bisikan. Bisikan yang kami dengar sejak kecil, sejak apa yang disebut siraman rohani menyuburkan hati kami. Sejak kalimat-kalimat itu menjadi kemutlakan sekaligus perintah yang turun langsung berdengung-dengung dari kisi-kisi bambu di bilik-bilik petani, di relung-relung mimbar langgar, di keheningan malam yang dua pertiga, di kejauhan lewat corong-corong jumat, dan di hadapan kami sendiri lewat lembaran-lembaran berabjad arab. Mungkin Ia mengharuskan. Mungkin. Atau mungkin

Wa la qad yassarnal qur-aana lidz dzikri fa hal mim muddakir (Al Qamar (54): 17-22-32-40). Dan sungguh telah kami mudahkan Al Quran ini untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?

TAMAT

USTADZ WADUD Bagian-4

Prasangka

Kematian Darmi membawa jutaan praduga. Seperti biasa, warga Jatinom menghubung-hubungkannya dengan klenik dan takhayul yang dipercaya sejak dahulu. Bu Sinom bahkan mengatakan kalau orang semacam Darmi ini membawa malapetaka. Buktinya, Darmi mati dalam keadaan hangus terbakar. Bu Sinom yang berbadan gemuk itu dengan berapi-api mengajak warga Jatinom untuk melaksanakan upacara ruwatan agar terhindar dari bala yang akan datang menimpa mereka.

Sama sekali bukan perasaan menang yang dirasakan Warti. Ia diam tak mampu berucap. Mungkin sesal mungkin juga lega. Kematian Yu Darmi adalah kesalahan sekaligus harapan bagi Warti yang menantikan kehangatan suaminya. Warti Astini adalah pemenang bungkam dalam pertarungan dua pendekar perempuan asal Jatinom. Dalam hal ini, piala yang diperebutkan adalah cinta Ustadz Wadud. Nyatanya, Darmi belum betul-betul menjadi pecundang dalam kematiannya kemarin, ia justru terlepas dari derita cinta yang tidak akan Wadud serahkan padanya maupun Warti. Dan Warti menangis, baik untuk kekhilafannya atas apa yang dialami Yu Darmi pun untuk kenyataan lain yang akan segera ia hadapi.

Adalah Ustadz Wadud, Sukini, dan Niniek yang merasakan adanya hawa kejanggalan pada kematian Yu Darmi yang sekaligus menghanguskan rumah beserta isinya. Ustadz Wadud sadar kalau Yu Darmi adalah musuh bebuyutan istrinya; sedang Sukini dan Niniek juga tahu kalau Wartilah yang paling membenci Yu Darmi selama ini. Ada angin busuk di Jatinom selama pencarian sisa-sisa Yu Darmi di rumahnya oleh pihak kepolisian.

Malam harinya, ditengah evakuasi jenazah Yu Darmi, Niniek meyakinkan Sukini untuk segera menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Warti. Perasaannya mengatakan kalau Warti turut andil dalam peristiwa ini. Sepakat mereka menemui Warti yang terduduk diam di ruang tengah rumahnya. Adzan Isya baru berkumandang saat Niniek masuk menemui Warti, Sukini membuntutinya di belakang. Warti mengakui semuanya, dengan mudah. Ia tidak mencoba untuk mempertahankan posisinya. Ia tidak berusaha berada di pihak yang benar. Ia telah membunuh Yu Darmi. Dengan mudah Warti membeberkan rinci demi rinci kejadian malam itu. Warti menangis sejadi-jadinya bersama kedua mantan teliksandinya, Sukini dan Niniek. Sekarang bingung dan gamang berlipat tiga. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan. Untuk Warti, pilihannya sangat sedikit. Penjara atau pergi menghilang entah kemana. Merekapun tidak sadar kalau telinga di depan pintu mendengarkan semua percakapan dan tangisan sesal di ruang tengah.

image

Sumber: Google

Ustadz Wadud yang sedari awal menyimpan syak wasangka atas istrinya mendapatkan kepastian secara tidak langsung. Baginya, inilah kali pertama nguping pembicaraan orang lain. Tapi semua itu ia lakukan demi kebaikan, demi jawaban kematian Yu Darmi. Wadud melangkah pelan membuka pintu dan melihat keadaan di dalam. Terkejutlah tiga perempuan yang belum siap atas kehadiran sang ustadz di hadapan mereka. Tangisan Sukini semakin keras, sedangkan Niniek buru-buru pergi kebelakang. Warti, perempuan gagah ini berdiri berjingkat dan menyeka air matanya. Ia memandangi Wadud yang tak berkata apa-apa. Sinar mata sang Ustadz menggambarkan kekecewaan mendalam. Rasa sesal yang sulit terbayar. Warti paham keadaan ini. Ia harus melakukan sesuatu.

Tidak menunggu ular keluar dari sarangnya, Warti segera melompati meja di depannya, kemudian ambruk membujur di kaki Ustadz Wadud. Ia sujud pada suami tercintanya. Bersama air mata yang tak kunjung reda, Warti meraung-raung, mencengkeram erat kaki suaminya yang mematung di depan pintu. Sejenak ia mengumpulkan sisa-sisa kesadaran yang ia miliki, kemudian digabungkan menjadi permohonan ampun. Warti mengiba pengampunan dari Ustadz Wadud.

Ustadz Wadud menitikkan air mata. Ia tak bisa menerima apa yang didengarnya. Istri yang ia percaya melakukan pembunuhan. Apa lagi yang lebih buruk dari kejadian ini, pikirnya. Walau berilmu agama tinggi, meski berhati bijak, namun Wadud tetaplah seorang anak manusia yang punya rasa. Bagi Ustadz Wadud, inilah saatnya untuk pergi. Kemudian sang ustadz menunduk, memungut badan Warti dari lantai dan menegakkanya di kursi. Wadud memandangi Warti cukup lama. Komunikasi mata jauh lebih bermakna dibanding lisan. Mereka mungkin saja saling bertukar kecewa atau bisa jadi, saling kecam. Yang jelas, pintu depan terbuka lebar untuk Wadud. Ia berdiri dan pergi.

Seperti biasa, Danang melarikan Ustadz Wadud dengan motor ke Mesjid Agung Jatinom. Entah apa yang dipikirkan Danang saat itu, saat sang Ustadz keluar dari rumah dengan mata berair. Yang jelas ia tahu barusan ada peristiwa buruk di dalam rumah, karena Warti mengejar laju motornya dengan telanjang kaki. Ia tidak menekan gas kencang-kencang karena bimbang, sang ustadz meminta agar diungsikan ke mesjid sedangkan Warti, sepupunya, terseok-seok mencoba menyusul lari motor bebek Danang di belakang. Yang lebih mengherankan untuk Danang bukan kegilaan Warti mengejar motor, tapi sarung yang ada dalam genggaman Warti sepanjang larinya itu.

Wadud tahu ia dikejar Warti di belakang. Ia juga tahu kalau istrinya itu sangat pantang menyerah. Teriakkan Warti bisa membangunkan warga sekampung. Atau lebih buruk, mereka berdua bisa dianggap maling. Ustadz Wadud menepuk pundak Danang yang berarti tanda untuk berhenti. Ia memutuskan untuk berbicara dengan Warti. Wadud siap atas apa yang akan terjadi. Wadud juga siap apa yang akan ia lakukan. Ia tidak ingin kegelapan ini terus mengendap. Ia turun dari motor dan mencegat Warti yang masih berlari.

Terlambat bagi mereka bertiga, warga sudah keluar dari rumahnya masing-masing. Mereka berkumpul di lokasi dimana Danang menghentikkan motornya dan Wadud berdiri tegak di jalan aspal sempit yang diapit rumah-rumah berteraskan parit. Kira-kira tiga ratus meter dari rumah sang ustadz…

(bersambung: Cinta–TAMAT)

USTADZ WADUD Bagian-3

Warti Astini

Perawakkan gadis ini cenderung mungil, sama sekali tidak imbang dengan tingkah polah dan keberaniannya yang tersohor itu. Warti, begitu orang memanggilnya sejak kecil, adalah anak kepala desa Sribit, Sukarti. Ibunda Wartilah yang menjabat sebagai kepala desa, sedangkan Ayahnya, Dr. Darmuji adalah kepala puskesmas di Jatinom.

Kepemimpinan sang ibu sepertinya menurun pada Warti. Ia tumbuh sebagai gadis lincah penuh ide cemerlang dan cenderung gegabah dalam bertindak. Perkumpulan pemuda di kawasan Sribit dan Jatinom ia pimpin dengan flamboyan. Beberapa acara penting di Kecamatan Jatinom, seperti layar tancep, dangdutan, dan muludan ia pula yang menggagas.

Tidak sedikit pemuda Sribit dan Jatinom yang mengincar Warti. Sayang mereka harus terduduk kaku, ketika mengetahui Wartilah yang memukul mundur Jono ‘Bacok’ si perampok hingga masuk bui di Boyolali. Pemuda-pemuda tadi beranggapan Warti terlalu perkasa untuk menjadi seorang Ibu. Siapa sangka diantara keperkasaan itu terselip satu kelemahannya, Cinta. 

Kini Warti mengurangi kegiatan kepemudaanya di kampung. Ia mengabdikan dirinya sebagai istri seorang Ustadz ternama, Ustadz Wadud. Awalnya Warti adalah gadis berumur dua puluh tahun yang tomboy, sekarang pagi-pagi betul ia biasa berbelanja ke pasar membeli keperluan rumah tangga lengkap dengan pernak-pernik kecantikan dan bahan brokat. Perubahan Warti bukan tak disadari teman-temannya, mereka melihat panutannya berubah drastis seperti itu justru gembira. Warti sekarang seorang istri.

Enam bulan sudah umur pernikahan Warti dan Ustadz Wadud. Sejak tiga bulan lalu, keluarga Warti kerap menanyakan apakah sudah ada tanda-tanda si jabang bayi di perutnya? Warti cuma tertunduk seraya menjawab seadanya dengan teramat diplomatis. Dalam batin Warti iapun bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi, mengapa Tuhan tak juga memercayakan seorang anak pada mereka? Tidak hanya itu, ia juga menyayangkan ketaatan Wadud yang berlebihan, sehingga kehidupan seksual mereka tak selancar orang biasanya.

Banyak alasan sang ustadz jika bersangkutan dengan urusan yang satu itu. Tahajud, witir, mengaji dan lain-lain sehingga upacara menafkahi batin bagi Warti sering tak terpenuhi. Semakin hari semakin memburuk. Tak ada niatan Warti untuk berfikir bahwa cinta Wadud padanya sudah memudar, ia membuang jauh-jauh syak wasangka macam itu. Ustadz Wadud, seperti banyak orang kira, adalah laki-laki baik-baik yang setia.

Namanya perempuan apalagi seorang istri, biasanya dianugrahi dengan indra keenam, perasaan tajam. Begitupula Warti, sejak menginjak setahun umur pernikahan mereka, ia merasa ada yang salah di suatu sudut yang ia sendiri belum ketahui dalam bahana rumah tangganya. Tidak mungkin ia mencurigai perempuan-perempuan lain, mereka adalah kawan-kawan Warti sendiri sejak kecil, ia tahu betul siapa mereka, dan keberanian macam apa yang mampu menggerakkan mereka sedemikian rupa hingga sanggup merebut hati sang Ustadz dari Warti istrinya. Kecurigaan kemudian tertuju pada satu-satunya rival Warti di awal perkawinannya, Yu Darmi, si janda desa.

Sejak pikiran tentang Yu Darmi ini terlintas, Warti segera menyebar telik sandi di sempada Jatinom dan Sribit. Puluhan jumlahnya, dengan periodik melaporkan apa-apa yang mencurigakan ketika mereka menguntit sang Ustadz kemanapun ia pergi. Selama tiga bulan kegiatan memata-matai itu hasilnya nihil. Ustadz Wadud tidak jauh-jauh dari Mesjid, langgar, pak Rahmat, keluarga Yamin, dan Danang. Keseharian sang Ustdazpun dihapalnya luar kepala, tidak ada yang aneh. Hingga suatu saat, dikala Warti mau menghentikan grelia telik sandinya, ia mendapat berita dari Sukini bahwa Yu Darmi berkunjung ke Langgar kali Juren dan bertemu suaminya. Warti tidak lantas sembrono, ia sengaja mengulur waktu, baginya titik terang sudah mulai terlihat, ia harus hati-hati betul dalam bertindak. Dua minggu lamanya, setiap rabu petang sang Ustadz berkunjung ke rumah Yu Darmi, beberapa lama di dalam, dan keluar lagi menuju Mesjid Agung Jatinom sebelum ia pulang ke rumahnya sendiri.

Tidak seperti biasa, kali ini hari kamis Ustadz Wadud bertandang ke rumah Yu Darmi. Sukini dan Ninik seperti biasa berada tidak jauh dari sana. Tidak biasanya pula, sang ustadz lebih lama berada di dalam rumah Yu Darmi dan keluar membawa bungkusan plastik hitam. Dalam perjalanan menuju Mesjid agung Jatinom, Ustadz Wadud berjumpa Danang yang segera melarikannya dengan motor bebek ke Mesjid. Sial bagi Sukini dan Ninik, mereka tak bisa mengimbangi kecepatan motor Danang dan kehilangan kesempatan untuk melihat apa isi bungkusan dari Yu Darmi tadi. 

Mereka berdua melaporkan apa yang dilihatnya barusan pada Warti. Sekali lagi Warti menahan diri, ia harus bertindak cermat untuk urusan ini. Keesokan lusanya Warti menemukan bungkusan hitam dalam lemari, ia buka dengan tergesa-gesa. Di dalamnya terdapat kotak bertuliskan Danar Hadi yang di dalamnya lagi tersemat sarung cantik pesisiran bercorak burung Hong. Terbelalaklah mata Warti melihatnya, Yu Darmi harus diberi pelajaran pikirnya. Adalah nista memberi hadiah pada suami orang, apalagi secara diam-diam. Kesabaran Warti sudah mencapai puncaknya, ia tidak bisa diam terus. Ia harus bertindak.

Darahnya mendidih malam itu ketika Warti berlarian menghampiri rumah Yu Darmi. Ia tendang pintu rumah Yu Darmi kencang-kencang hingga terbuka dan merangsek masuk ke dalam. Pertempuran seperti tempo hari di pasar wetan tak terelakkan. Antara Warti dan Yu Darmi betul-betul pecah kesumat. Yu Darmi terpaksa menjamu tamu tak diundangnya dengan pertahanan penuh, sungguh ia tak sangka akan dilabrak seperti ini. Warti membabi-buta mengayunkan pukulan dan tendangan bertubi-tubi; porak poranda perabotan Yu Darmi dibuatnya. Diantara mereka tidak diperlukan komunikasi untuk saling mengerti, mereka sama-sama tahu apa sebabnya perang ini terjadi. Kalau bukan malam ini, mungkin besok atau lusa, yang jelas suatu saat, hari ini pasti tiba.

Tidak ada saksi, tidak ada penonton, tersisa dua pilihan terakhir: membunuh atau dibunuh! Perkelahian di dalam rumah sempat berlangsung lama, dua jam sudah adu kelincahan berlangsung sengit. Silih berganti mereka melancarkan serangan memanfaatkan apa saja yang ada di sekitar mereka, terkadang pindah ruangan, terkadang ada benda-benda terbang, terkadang ada meja-meja melayang. Begitu seterusnya.

Lama berselang Yu Darmi mulai terpojok. Warti, walau bagaimana lebih muda usianya, energi dan kekuatannya berada diatas Yu Darmi yang berumur empat puluhan. Pada sebuah serangan kilat, Warti memukul jatuh Yu Darmi ke arah ranjang, tanpa sengaja cempor diatas ranjang terjatuh dan menimpa kepala Yu Darmi. Janda paruh baya itu obong. Ia menggelepar-gelepar diatas ranjangnya sendiri bermandikan api. Tamat riwayat Yu Darmi bersamaan dengan langkah seribu Warti meninggalkan rumah yang perlahan dilahap api. Sumpah pastu Yu Darmi memakan dirinya sendiri. Ia mati ditangan Warti. 

Darmi

Belakangan Darmi sering mengajak lelaki masuk ke dalam rumahnya. Ia yang sejak delapan tahun lalu ditinggal mati suaminya tak ubahnya seorang perempuan haus darah lelaki. Tidak kenal asal-usul dan latar belakang, asal mereka lelaki dan punya urusan nafsu sama dengannya, pasti dipersilakan masuk ke dalam. Yu Darmi, begitu ia sering dipanggil, menjadi buah bibir suami-suami hidung belang di Jatinom.

Menurut Murtini, ibunda Darmi. Anaknya itu memang memiliki hati yang keras, tapi pada dasarnya ia lemah lembut. Sudah lama mereka berdua tidak saling tegur sapa. Darmi dan Murtini bukan ibu-beranak yang akur, dua-duanya pernah jadi kembang desa, dua-duanya juga pernah bersuamikan orang yang sama. Kehidupan mereka cukup pelik, terutama urusan laki-laki. Lain halnya dengan harta, baik Murtini dan Darmi bergelimangan harta sepanjang hidupnya. Tanah dan pesawahan yang mereka miliki tersebar hingga ke Klaten barat, keduanya saling bersusulan melakukan ekspansi kepemilikan tanah. Perang kekayaan yang berlangsung lama itu sepertinya dimenangkan oleh Darmi. Setelah ia menggeluti usaha jual-beli perhiasan, Darmi juga memegang tender proyek-proyek lokal yang diprakarsai pemerintah daerah. Dari situ, jalan mulus terbuka lebar bagi Yu Darmi untuk menguasai Jatinom.

Beberapa hari setelah ia mengadakan pembukaan lahan perkebunan jagung dan jati di Sribit, Darmi pergi menemui pak Gubernur di Semarang. Dari sana, satu lagi proyek besarnya terbuka. Bekerjasama dengan Fakultas pertanian Universitas Satyawacana Salatiga dan Bogasari, Darmi menyediakan lahan seluas 20 hektar untuk percobaan penanaman gandum. Hasilnya, luarbiasa, sekarang Darmi adalah janda sekaligus jutawan yang cukup disegani di Jawa Tengah. Desas-desus kelabu mengatakan kalau Darmi ada main dengan pak Gubernur, maka dari itu proyek gandum ada di tangan. Tapi anjing boleh menggonggong khafilah tetap berlalu.

image

Jatinom. Sumber: Google

Berbicara tentang musuh-musuh Darmi tidak akan ada habisnya. Mereka terdiri dari pejabat-pejabat daerah, para pengusaha, hingga yang terpenting; seluruh wanita yang menyandang gelar Ibu-ibu. Tak terkecuali ibu Gubernur. Kebencian wanita nomor satu di Jawa Tengah ini pernah betul-betul membludak tak terkendali. Ia bersama beberapa centeng dari kepolisian setempat melabrak istana Darmi di Jatinom. Sayang Darmi tidak ada di rumah, alhasil ia hanya bisa mengobrak-abrik rumah Darmi dan meninggalkannya tanpa tanggung jawab. Sekembalinya Darmi dari Surabaya surat tuntutan resmi masuk ke kantor kejaksaan tinggi Semarang. Singkat cerita, Ibu gubernur dijatuhi hukuman memberi ganti rugi miliaran rupiah atau masuk bui. Darmi menang lagi.

Ibu kandungnya atau istri gubernur sekalipun bertekuk lutut di depan janda ini. Kekuatan dan aura Yu Darmi yang mumpuni membuat siapa saja rela menggadaikan kebahagiaannya untuk bersanding dengannya. Kalau ada yang sempat mencatat, sekarang ini lebih dari dua puluh persen suami-suami di Sribit dan Jatinom menceraikan istrinya demi Darmi. Tapi apa mau dikata, bukan mereka yang Darmi butuhkan. Ia membutuhkan sesuatu yang pastinya tidak datang dari pria-pria hidung belang itu.

Pucuk dicinta ulam tiba. Yu Darmi melintasi mesjid Agung Jatinom sepulang ia dari Semarang. Suasana di sana ramai sekali, tidak seperti biasanya, tapi hari ini bukan sekatenan atau bulan syawal. Penasaran Yu Darmi terjawab saat pak Lurah memberitahukannya dua hari kemudian bahwa di Jatinom ada seorang Ustadz muda bernama Wadud yang ilmu agamanya pilih tanding. Awalnya Yu Darmi sama sekali tidak perduli atas keterangan pak Lurah tadi, hingga suatu hari Darmi mengunjungi tanahnya di seberang kali Juren. Kebetulan sang Ustadz sedang berdiri di depan langgar Juren yang berhampiran dengan kali. Disitulah Darmi sontak terserang cinta pandangan pertama. Tidak ada yang bisa menjabarkan apa yang Darmi rasakan saat itu, ia beranikan diri untuk mendekat melihat dengan lebih jelas keajaiban yang menyergah matanya barusan. Tidak salah lagi, mimpi darmi terjawab sore itu, Ustadz Wadudlah yang ia tunggu-tunggu selama ini. Darmi kasmaran.

Berhubung cintanya itu seorang Ustadz, adalah tidak mungkin kalau tidak berkunjung ke langgar atau Mesjid. Ustadz pastilah tidak berjarak jauh dari dua bangunan itu. Maka, Yu Darmi rajin ke Mesjid. Subuh hingga Isya, bahkan menjelang malam ia mulai mengikuti kegiatan pengajian ibu-ibu di Jatinom yang dipimpin oleh Ustadz Wadud, yang diprakarsai oleh Warti. Karena Warti adalah gadis yang cukup agresif dan menonjol diantara peserta pengajian lainnya, Yu Darmi sadar kalau Warti bakal jadi penghalang hubungannya dengan Wadud. Yu Darmi memang tidak pandai beribadah, tapi ia cukup bijak untuk menahan cintanya.

Warti berkali-kali menyinggung kejandaannya di mesjid, sebelum maupun sesudah kegiatan pengajian. Warti juga pernah menyatakan bahwa Juren Demiters haram untuk seorang Janda, klub itu hanya diperuntukkan bagi orang baik-baik. Begitu buruknya status janda dimata Warti saat itu. Tak ayal Yu Darmi kesal bukan kepayang melihat polah Warti yang menjadi-jadi, tragedi pasar wetanpun pecah. Hingga berkahir dengan pernikahan antara Warti dan sang Ustadz. Bagi Yu Darmi, pernikahan Warti cuma menurunkan status menjadi gencatan senjata dari siaga satu.

Darmi cukup arif untuk tidak merusak kerukunan rumah tangga Ustadz Wadud. Kebiasaannya mengendalikan nafsu itu membuat Yu Darmi semakin hari semakin bijaksana. Kegiatan bisnis sering ia serahkan pada Melanie, sekretarisnya. Sehari-hari Yu Darmi sibuk bercocok tanam dan pergi ke Mesjid. Suatu hari dokter melarangnya berjalan terlalu jauh karena artrithis yang diidapnya sering kambuh. Daripada menanggung akibat yang lebih buruk, Yu Darmi memilih untuk banyak dirumah ketimbang bepergian keluar. Ia juga memohon sang Ustadz di langgar Juren untuk mulang ngaji di rumah sampai khatam. Gayung bersambut, Ustadz Wadud berjanji memenuhinya setiap rabu malam di rumah Yu Darmi.

Dua minggu sudah Ustadz Wadud tidak datang ke rumah Yu Darmi, karena sang empunya pergi ke Jakarta dan Bandung, mengurusi proyek gandumnya. Melanie mengabarkan Ustadz Wadud bahwa Yu Darmi sudah pulang, dan siap meneruskan pengajian, sekalian ada oleh-oleh dari Bandung untuknya. Hari itu Rabu malam, jadi sang Ustadz memutuskan pergi keesokan harinya. Setelah Surat Al-baqarah selesai dibaca dan dipahami isinya, Yu Darmi memberikan oleh-oleh molen Kartika Sari yang didapatnya dari Bandung. Di tengah jalan Ustadz Wadud bertemu Danang dan mengantarkannya ke Mesjid Jatinom. Bapak-bapak pengajian sudah menunggu disana. Oleh-oleh tidak sampai ke rumah, plastik hitam berisi oleh-oleh itu malah habis disikat peserta pengajian. Danang yang makannya paling banyak bahkan membawa dua potong dalam sakunya.

Tidak ada angin tidak pula hujan. Warti ngamuk di hadapan Yu Darmi keesokan harinya. Darmi menunggu momen-momen ini dengan penuh kesadaran. Kayu sudah terlanjur hangus, badan terlanjur basah, yang akan terjadi, terjadilah pikirnya. Begitulah, hingga Yu Darmi mati terbakar diatas ranjangnya sendiri.

Danang Lesmono

Kalau Danang memang mau membeli sehelai kain batik ia bisa saja pergi ke Solo, Jogja, atau Pekalongan; tapi tidak ia lakukan. Danang tidak tahu kalau buah tangannya nanti adalah batik, maka ia pergi ke Semarang mencari sesuatu yang mungkin bisa berarti bagi Ustadz Wadud.

Puluhan gerai elektronik, pakaian, perhiasan, dan perkakas ibadah sudah ia masuki. Sayangnya, Danang selalu keluar dengan tangan kosong. Tidak satupun yang mewakili apa yang dia inginkan. Tidak sajadah, tidak kemeja, bukan lampu meja, bukan pula cincin emas. Danang pantang terlihat lelah, pertokoan di Pandanaran, Gajah Mada dan Simpanglima ia susuri dengan teliti. Survey kado ini akhirnya menemui titik cerah.

Tidak sengaja Danang terduduk di pelataran sebuah toko. Ia membeli teh botol unutuk menawarkan kehausan yang menggila di tengah hari. Ia menatap ke atas sejenak dan memutar badan dengan cepat, kemudian masuk ke dalam toko. Danar Hadi nama tokonya. Ada beratus-ratus kain bakal dan pakaian jadi di dalamnya. Tentu Danang yang anak SMA itu kebingungan luar biasa, meski naluri mendorongnya untuk membawa pulang sesuatu dari sini.

Dua orang ibu-ibu yang kebetulan berada di dalam dengan sedikit melengking salah satunya menunjuk-nunjuk sebuah kain di lemari kaca, mereka saling membicarakan buah karya yang satu ini. Danang mendengarkan apa yang sedang diperbincangkan. Sebuah kain sarung pekalongan berumur setengah abad dengan corak pesisir bergambar burung Hong. Dari sinilah ia mengetahui makna si sarung. Rupanya bukan kain biasa. Lima puluh tahun lalu Oey Kam Liem asal desa Karangturi, Pekalongan mencanting mori panjang untuk putrinya. Ditengah-tengah proses ngelorod, putri nyonya Oey meninggal dunia terserang malaria. Sang putri tercinta meninggalkan seorang anak dan suami. Nyonya Oey dengan perasaan putus asa menyambungkan kedua ujung kain tadi menjadi sarung tanpa tumpal. Kemudian beliau menyerahkan sarung itu pada menantu dan cucunya di Semarang. Ia memberikan sarung indah tadi sebagai ucapan terimakasih atas kesetiaan cinta menantunya, dengan harapan burung Hong kemerahan yang bertengger manis di sisi jahitan bisa membawa kebahagiaan abadi bagi menantu dan cucunya kelak.

Dengan jalan yang tidak banyak diketahui orang, berpuluh tahun kemudian kain sarung itu berada di gerai Danar Hadi berbandrol satu juta delapan ratus ribu rupiah. Uang Danang mencukupi untuk membeli sarung batik bermakna tadi. Hingga akhirnya kain sarung burung Hong berada di tangan Danang yang pada giliranya nanti ia berikan pada Ustadz Wadud.

Jalan pulang ke Jatinom ia lalui dengan gelisah dan tergesa-gesa. Seperti ada sesuatu yang memaksanya berlari terbirit-birit. Masih karena desakan sesuatu tadi, ia masuk ke kamar pengantin sang Ustadz dan menyeretnya keluar. Di keremangan lampu lakon menak, Danang menyerahkan sarung burung Hong. Danang berbinar-binar melihat reaksi ustadznya itu. Ustadz Wadud hampir tidak bisa mengatupkan rahang-rahangnya saat melihat apa yang ada di dalam bungkusan hitam. Sang ustadz mengeluhkan kenapa Danang berlaku bodoh membelikan benda mahal ini untuknya. Danang paham sekali kekecewaan, keluh kesah, dan kontra dari sang Ustadz yang tidak perlu dijawab dengan kalimat-kalimat. Ia kemudian memeluknya erat.

Danang Lesmono adalah nama yang Sukrismini berikan pada anaknya setelah tiga bulan berselang dari hari kelahiran. Prapto sang ayah buntu memikirkan siapa nama anak bungsunya itu. Kakak Danang semua laki-laki. Mas Bayu, Mas Yuwono semua bekerja di Jakarta. Danang memang anak emas bagi pasangan Sukrismini-Prapto. Mereka tidak membiarkan anak terakhirnya ini mengikuti jejak kakak-kakaknya ke Jakarta. Lagipula tidak terlintas sedikitpun di benak Danang untuk pergi merantau dari Sribit, desa kelahirannya. Baginya, Sribit adalah ibu kedua setelah kasih sayang Sukrismini.

Danang Lesmono sejak kecil sudah menunjukkan berbagai kecerdasan. Tidak jarang kami warga Jatinom merasa kalau Danang berkelakuan lebih dewasa dari umurnya. Diantara kawan-kawan sebayanya, Danang sering dijadikan andalan untuk segala keperluan. Dari PR sampai urusan perasaan. Ia cukup dikagumi guru maupun orang tua di Sribit dan Jatinom. Beberapa beranggapan kalau keturunan keluarga Truno Lesmono, kakek Danang dan Warti, memiliki marwah yang baik. Keluarganya juga cukup berada. Prapto memiliki peternakan ayam dan bebek yang lumayan menjanjikan. Prapto bisa memberangkatkan anak-anaknya ke Jakarta juga berkat hasil usahanya itu. Kecuali Danang, karena alasan yang ia sendiri belum paham sepenuhnya. Antara ego dan kasih sayang.

Mendengar perseteruan dua perempuan di pasar wetan yang secara tidak langsung disebabkan oleh Ustadz Wadud, Danang tandang dengan ide cemerlang. Mempersilakan sang Ustadz untuk hijrah sejenak ke Sribit, ke rumahnya. Tentu Sukrismini dan Prapto setuju-setuju saja. Diinapi seorang ustadz terhormat pastilah suatu kebanggaan tersendiri. Begitu juga dengan Danang. Tidur seatap dengan pria yang ia cintai tidak mungkin ia tepis percuma.

Kami sadari kalau cinta Danang sungguh bersambut. Ustadz Wadud juga mencintainya dengan sepenuh hati. Bentukan Cinta yang kami kenal sejak lama, namun tidak bisa kami jabarkan. Tidak pula untuk dibicarakan. Yang kami rasakan, Danang dan sang Ustadz memiliki kedekatan istimewa.

Pertemuan pertama mereka yang atas undangan Warti sepertinya berbekas dalam. Danang menyalami Ustadz Wadud dengan takzim. Saat itu takdir bertengger di bumbungan atap Mesjid agung Jatinom. Cinta jatuh ke bawah, menelisip masuk ke hati dua pria yang saling memberi salam. Hanya mata yang mampu berbicara. Tanpa kata mereka berbicara bahasa bunga. Sebuah bahasa yang hanya bisa diterjemahkan oleh kamus cinta. Cinta kemudian menajamkan intuisi Danang dan sang Ustadz untuk selalu merindu. Rindu membacakan ayat-ayat kasih yang ditutup tutur bait-bait kerinduan berikutnya. Juga dengan takzim kini mereka bukan lagi saling menyalami, tapi menyelami. Begitu dari hari ke hari. 

Kisah cinta mereka berlanjut. Sekarang Ustadz Wadud serumah dengan Danang. Terlalu banyak kesempatan yang memberikan peluang bagi cinta untuk bermekaran. Senyum diantara keduanya adalah cinta. Tiap gerak mereka adalah cinta. Nafas bagi mereka adalah juga cinta. Seperti ada kelambu yang menutupi mata. Baik Danang atau Ustadz Wadud belum menyadari apa yang akan mereka hadapi di depan. Ujian terberat untuk cinta mereka. Saat-saat dimana cinta harus berseteru dengan Tuhan. Atau sebaliknya.

(bersambung: Prasangka)

USTADZ WADUD Bagian-2

Menikah

Pernikahan sang Ustadz dan Warti berlangsung meriah. Jatinom berubah ingar-bingar. Woro-woro disebar. Berita pernikahan mereka ada di kolom kecil harian Suara Merdeka. Judul kolomnya: Pak Ustadz Jatinom akhirnya menikah. Di beberapa surat kabar daerah lain kisah ini justru dijadikan komoditi utama, dimulai dari sebuah perkelahian dua pendekar wanita asal Jatinom yang mencengangkan, kemudian diakhiri dengan keputusan menikahi Warti sebagai jawaban. Tetamu yang berdatangan membuat kecamatan Jatinom jauh lebih riuh dibandingkan kota Salatiga di akhir pekan. Berbondong-bondong warga dari puluhan kampung turun memadati pelataran Mesjid Agung Jatinom membawa berbagai hadiah sebagai ucapan turut berbahagia.

Diantara ribuan hadirin pernikahan, ada dua orang yang tidak tampak batang hidungnya. Pertama adalah Yu Darmi, satu lagi Danang. Yu Darmi pasti tidak sudi menghadiri pesta rivalnya itu, dan itu sangat beralasan, toh tidak ada undangan yang sampai di depan rumahnya. Sedang Danang, Pergi ke Semarang. Sebelumnya ia sibuk menghitungi receh dalam celengan Semar, kelak uang receh tersebut dibarter dengan sebuah cinderamata bagi sang Ustadz.

Tanpa dua orang diatas, Wadud mengucapkan ijab-qabul dengan fasih. Disampingnya terduduk Warti, matanya sembab akibat tangis tak kunjung henti. Kami mengerti apa yang Warti rasakan saat itu, tangisan gembira bercampur haru yang hanya dimiliki mempelai wanita berbahagia di dunia. Laras pelog, macapat, dan asamarandana bertalu-talu bergantian memeriahkan pesta resepsi di balai desa Jatinom. Penari-penari khusus didatangkan dari Boyolali, kabarnya para penari tersebut tidak meminta bayaran, tarian itu berupa persembahan untuk yang terhormat Ustadz Wadud. Di samping kiri-kanan balai desa berderet makanan enak-enak. Melimpah ruah berkah pernikahan wadud, sampai-sampai empal gentong Cirebon, sate Blotongan, dan tumpang koyor ikut hadir menyemarakkan perasmanan pernikahan sang Ustadz. Pesta ini diikuti dengan pagelaran wayang menak di malam hari, selama tiga malam penuh. Ceritanya juga berganti-ganti, malam pertama bercerita tentang Syaidinna Ali, malam kedua tentang Sunan Kalijaga, dan terkahir mengisahkan epos Rama-Shinta yang diibaratkan sebagai Wadud dan Warti.

Hari ketiga Danang datang tergopoh-gopoh ke depan balai desa. Ia beranggapan kalau pesta pasti sudah selesai, nyatanya pesta masih terus berlangsung hingga beduk subuh hari berikutnya berkumandang. Sesampainya Danang di depan pelaminan, kedua mempelai tidak berada di tempat. Bu Sinom yang sejak awal mengurusi protokol pesta menunjukkan kemana mereka berdua pergi. Rupanya ruangan di bagian belakang balai desa berubah fungsi sebagai kamar pengantin penuh bunga, disitulah Wadud dan Warti selonjoran melepas lelah. Danang dengan penuh senyum membuka pintu kamar tanpa mengetuk, ia memandangi Ustadznya tertidur di kursi, dan Warti sepupunya meringkuk diatas dipan lebar. Danang sadar betul kelelahan yang menyergah dua mempelai itu, tapi ia tidak ambil pusing, ia membangunkan Ustadz Wadud dengan hati-hati.

image

Batik Pekalongan motif Burung Hong. Sumber: Google

Sang Ustadz digiringnya ke ruang sebelah, ruangan yang cahayanya tergantung kerlap-kerlip lampu luar. Wadud menurut saja kemana Danang menarik lengannya sembari cengengesan. Setelah dirasa cukup aman, Danang mengeluarkan buah tangan dari saku celana dan memberikannya pada sang Ustadz. Disini wadud terkesima dengan apa yang ia terima, benda berbentuk kotak yang keluar dari tas plastik hitam itu temaram disirami lampu dari luar. Ringan, tapi berlabel Danar Hadi. Di dalamnya adalah sarung batik tulis bermotif pesisiran dengan aksen burung hong besar di tengah-tengah. Danang menjelaskan kalau sarung ini asalnya dari Pekalongan, dan burung Hong berarti kebahagian sepanjang masa. Mendengar keterangan Danang tadi sang Ustadz hanya tersenyum keheranan. Peristiwa ini menjadi nadir kisah Danang dan Wadud di kemudian hari.

(bersambung: Warti Astini, Darmi, dan Danang Lesmono)

Pitch

Salah satu kata dalam bahasa Inggris yang paling ditakuti adalah “pitch”. Bukan tanpa huruf P (karena untuk ini sudah ada obat penawar rasa gatal) dan bukan berawalan huruf B (karena untuk ini, apalagi yang mengacu kepada jenis orang tertentu, belum ada obatnya).

Kata “pitch” ditakuti oleh pemain cricket atau baseball tepat di detik-detik penting saat pemain mulai melempar bola. Kata “pitch” juga menjadi momok setiap kontestan penyanyi yang bersaing di ajang lomba pencetak bintang di televisi. Kata “pitch” bisa bikin resah gelisah berhari-hari bagi pegawai di perusahaan iklan saat hendak mempresentasikan ide mereka di depan calon klien.

Beberapa hari yang lalu, saya terlibat penyelenggaraan sebuah workshop pendanaan film. Intinya, workshop ini membuka kesempatan bagi mereka yang punya ide cerita film untuk mendaftarkan karya mereka. Siapa tahu ide cerita itu bisa kita danai untuk dijadikan film. Dan workshop ini bertujuan untuk mempersiapkan mereka agar mereka siap untuk “pitch”, alias jualan mati-matian gagasan dan rencana mereka agar ide bisa terwujud dan bisa ditonton banyak orang.

Dari sekian banyak pertanyaan selama workshop 2 hari itu, rupanya ada satu pertanyaan yang terus banyak ditanyakan peserta dalam berbagai variasi pertanyaan:
“Kalau misalnya kita belum punya karya apa-apa, karena ini project pertama kita, lalu apa yang bisa kita presentasikan?”

Dari beberapa mentor yang datang silih berganti, semua menjawab pertanyaan tersebut dengan berbagai variasi jawaban yang kurang lebih intinya sama:
“Sell yourself. You must have something in you or your work to sell.”

Contohnya:
– tidak punya portfolio pernah bikin film sebelumnya, jadikan saja salah satu bagian naskah film yang akan dipresentasikan itu ke dalam gambar hand drawing;
– punya pengikut banyak di Twitter atau Instagram? That’s something! Apalagi di jaman sekarang ‘kan?
– punya kenalan banyak di, misalnya, jasa sewa angkutan? You can strike a partnership with them!
– masih berhubungan erat dengan teman-teman SMA, kuliah dan kantor lama? Hello, free promotion!

tumblr_m3tbw3zNGv1r56z3w

Sell yourself.
Pitch yourself.
Life is about selling.

Bukan hanya dalam konteks workshop dan membuat film di atas, tapi pergerakan kehidupan membuat kita harus bisa membuat diri kita unik dan tak terganti.
Paling tidak ini yang pernah kami sampaikan ke satu sama lain dalam grup perbincangan sesama penulis Linimasa dulu: “make yourself irreplaceable in your line of work.

Itu memang tujuan akhir kerja keras kita.
Tapi sebelum ke sana, mem-“pitch” diri sendiri adalah pekerjaan rumah (pe-er) nomer satu setiap kita akan melangkah.

Kenapa harus hire saya meskipun saya belum berpengalaman kerja? Justru karena baru pertama kali bekerja, maka semangat saya mengerjakan ini akan sangat jauh melebihi mereka yang sudah berpengalaman kerja.

Kenapa harus project saya yang kalian pilih? Karena project yang berawal dari hati akan mudah dijalani bersama.

Kenapa harus saya yang jadi pacar kamu? Karena kamu belum laku, tapi saya masih mau sama kamu, maka jadinya gak ada lagi “saya” atau “kamu”, tapi cuma “kita berdua”.

Lalu muncul pertanyaan baru:

Kalau kalian harus “pitch” tentang Linimasa, kira-kira apa ya?

Masih Januari

Terlalu lekas waktu berdampak.

Baru pekan keempat 2015, sejibun peristiwa sudah terjadi. Tak perlulah saya sebut soal hiruk pikuk yang terjadi di negara kita, apalagi di belahan lain dunia. Terlalu jauh, bahkan boleh dibilang terlalu tidak signifikan dengan kehidupan kita masing-masing. Bukan menganjurkan untuk bersikap apatis nan individualistis, melainkan kembali mengingatkan bahwa standar “penting/tidak penting” setiap orang punya ukuran berbeda.

Ketika semua orang memang berhak berkomentar, namun senyaring atau sehebat apapun komentar itu, ya sekadar komentar. Paling jauh hanya bisa dijadikan penanda keberadaan, eksistensi, itu pun di akun media sosial masing-masing, atau isi blog yang bisa dibaca umum, lalu kembali ditanggapi. Komentar untuk komentar. Toh, pada kenyataannya, justru komentar yang sayup-sayup disampaikan dalam ketertutupan jauh lebih didengarkan si empunya kepentingan. Itu artinya, kemungkinan besar bukan komentar Anda, apalagi saya. Jadi, tak perlulah buang tenaga percuma.

Kembali soal pekan keempat 2015. Momen-momen penting bisa saja berupa peristiwa sepele, bagi sebagian orang. Kesempatan memenangkan arisan bulanan perdana misalnya. Sambil menunggu payroll dikucurkan dari atas, isi dompet mengalami kelegaan. Dengan kelegaan itu juga, akhirnya bisa menunaikan janji ingin membawa kerabat memeriksakan kesehatan paru-parunya. Maklum, sedang musim penghujan. Yang bersangkutan selalu terbangun dengan keadaan sesak napas saban ba’da subuh.

Ada yang harus mempertanyakan kesiapan diri menjalani komitmen, dan ketegaran menghadapi perubahan dalam hubungan. Saat sang kekasih memutuskan untuk meneruskan studinya di Amerika Serikat. Enggan memberikan kepastian kapan pulang. Ikatan emosional terancam di ujung tanduk. Adu argumentasi pasti terjadi, siapa saja menjelaskan apa saja. Menjadi titik untuk mempersiapkan diri menghadapi semua yang mungkin terjadi.

Berbanding terbalik dengan kisah sebelumnya, ada yang tengah bersiap-siap kembali ke Tanah Air. Mencoba untuk hidup di lingkungan yang masih masuk “daerah kekuasaan”: banyak rekan dan handai tolan. Kembali menjejakkan kaki di tanah yang dihuni orang-orang dengan perangai beragam. Orang-orang yang sayangnya–mengutip isi pidato kebudayaan yang disitat Mas Roy Sayur dalam tulisan Sabtu lalu, memiliki lima ciri khas buruk dan satu ciri khas baik. Tapi tenang saja, sikap kritis nan rebel justru tumbuh subur dalam suasana yang tidak stabil polaritasnya. Sepulangnya ke kampung halaman, besar kemungkinan keberadaan si polan bakal lebih mengemuka. Lebih sukses pun. Amin!

Ada yang sedang tersenyum kecut, lantaran aplikasinya ke luar negeri ndak tembus. Akhirnya mencoba menghibur diri dengan beralibi bahwa cuma orang pinter nan hebat saja yang bisa menembusnya, dan masih ada kesempatan-kesempatan berikutnya. Baiklah. Barangkali sehabis ini, ada segudang peluang yang siap dijalankan. Siapa tahu.

Masih soal fase hidup sepasang manusia, ada yang melangsungkan pernikahan tahun ini. Ibarat seremoni gunting pita meresmikan ruko baru, pernikahan menjadi penanda diawalinya sebuah perjuangan baru. Pernikahan dengan segala macam alasan yang mendominasinya. Sedangkan di bawah instalasi-instalasi atap seng lainnya, ada pasangan yang baru berbaikan kembali. Akhirnya bisa saling mengecap kehangatan dan manisnya status nikah muda. Sebaliknya, ada yang baru pertama kali geger besar. Sebuah pengalaman anyar yang berujung pada tiga kemungkinan: menguatkan, mematahkan hati, atau malah cukup sekadar tahu.

Ada yang mendadak mengalami perombakan struktur kerja di kantor masing-masing. Mendadak, lantaran keputusan tersebut diambil dengan kesan gali lubang ketika sudah kebelet buang air besar. Tanpa persiapan dan proyeksi kerja yang jelas. Sehingga formasi yang dimodifikasi, masih kabur apa implikasinya. Siapapun yang mengalami ini, tentu boleh dibilang telah mencicipi perubahan ala tahun baru.

Ada yang tiba-tiba gemar merenung. Kejenuhan membuatnya bertanya: “mau ngapain?” Pertanyaan yang mestinya terlintas dalam pikiran semua manusia, setidaknya beberapa belas menit setelah belakang kepala menyentuh bantal. Berusaha tertidur, memisahkan diri sejenak dari ingar-bingar kehidupan.

Sumber: devianart

Keriuhan dalam hidup seringkali memaksa kita semakin menjauh dari impian, aspirasi, tujuan utama, cita-cita, harapan. Seolah membuat kita menjalani hidup dalam labirin, yang ironisnya kita bangun sendiri. Makin kompleks kehidupan kita, makin rumit pula percabangan alur labirinnya. Temboknya pun makin kokoh, setiap kali kita merasa ketambahan beban. Bisa bikin terjebak seumur hidup.

Apapun yang tengah terjadi, baik atau buruk, itulah komponen pengisi hidup kita saat ini. Dan apapun yang tengah terjadi saat ini, baik atau buruk, jelas berpengaruh pada apa yang akan terjadi nanti. Dengan demikian, apapun alasannya, tidak ada yang perlu disesali. Toh, sang waktu tetap terus berlari.

Ada sebuah kelakar yang cukup populer di kalangan Buddhis hingga saat ini: “Saat diterpa keburukan, bergembiralah. Saat mendapat keberuntungan, bersedihlah.” Bergembira dalam kemalangan. Itu artinya cadangan buah karma perbuatan buruk berkurang. Sebaliknya, meratapi keberuntungan. Itu artinya cadangan buah karma perbuatan baik juga berkurang. Dengan catatan tetap bijaksana. Tidak mencari-cari kemalangan atau mendekati penyebab musibah, dan tidak menolak kebaikan atau menepis keberhasilan.

Namanya juga kelakar, besar kemungkinan keliru. Entahlah. Tergantung bagaimana Anda mencernanya. Namun dari kelakar ini, tersirat petuah bahwa janganlah terlalu lama digoncang kesedihan maupun dibuai kebahagiaan. Ketika mengalami kemalangan, petiklah pelajaran dan berhati-hatilah di masa depan. “Jangan menyemai bibit karma buruk lagi.” Sedangkan ketika menikmati keberhasilan, jangan lupa daratan dan terus lakukan yang terbaik di masa depan. “Semai bibit-bibit karma baik baru.

Perpetual causality, life it is.

Bersyukurlah Anda, yang saat ini sedang merasa berbahagia. Sedangkan bagi Anda yang tengah merasa berbeban berat, bermuram durja, penuh keluh dan penolakan, semoga lekas diringankan. Minimal, mampu menjalaninya tanpa menambah beban pada diri sendiri. Jangan lupa, ini baru Januari. Masih ada sebelas bulan lainnya yang siap dijalani, dengan misterinya sendiri-sendiri.

[]

Dibuang Sayang Dan Yang Terlupakan (Trilogi Oscar Jilid Pertama)

Amerika Dan Laki-Laki Berkulit Putih.

Mungkin penghargaan Oscar tahun 2015 paling tidak disukai oleh mereka yang menjuluki dirinya sebagai modern feminis dan pejuang anti seksisme. Kemarahan membuncah di internet khususnya di media sosial ketika seluruh nominasi Oscar ini diumumkan. Lihat gambar di bawah. Adakah yang berkulit hitam? Klik di sini untuk melihat semua nominasi Oscar ke-87 yang akan digelar pada tanggal 22 Februari 2015 di Dolby Theatre, Los Angeles, California. Penghuni Oscar adalah 94% berkulit putih dan 77% adalah laki-laki. Dengan rata-rata usia di 60an. 2% berkulit hitam. Latin lebih sedikit lagi persentasenya.

oscar87

Bagaimana mungkin Oscar mengabaikan begitu saja film LEGO yang begitu bagus dari segi cerita, pengisi suara ataupun segi lainnya. Film yang sukses secara komersial ini juga sudah mendapatkan banyak nominasi dan penghargaan di hampir semua ajang penghargaan film. Kecuali Oscar. Kenapa? Apa karena pembuatnya bukan Pixar? Atau karena secara tidak langsung sudah mempromosikan produk LEGO yang notabene bukan dari Amerika Serikat? Mungkin itu penyebabnya. Di Golden Globes pun film LEGO kalah oleh How To Train Your Dragon 2. Dilaporkan produk LEGO laku keras setelah penayangan film ini di bioskop. Beberapa outlet Lego di berbagai negara kehabisan stok. Migawd.

oscar87-1

Gone Girl dan Unbroken adalah dua film yang lahir dari rahim dua ibu yang ditelantarkan oleh Oscar tahun ini. Gone Girl yang diadaptasi dari buku Gillian Flynn (seorang ibu), dengan judul sama hanya menyisakan satu nominasi aktris terbaik, Rosamund Pike. Tidak yakin juga dia akan menang di sana. Ada dua wanita bernama Julianne Moore dan Marion Cotillard yang siap menghadang. Sedangkan Unbroken adalah film mengenai perempuan yang disutradarai oleh perempuan. Sutradara film tersebut adalah istri dari Brad Pitt. Tidak ada nominasi buat Ava maupun Jolie.

Black Live Matters?

Selma adalah nama kota bersejarah di Alabama yang menghasilkan Voting Rights Acts of 1965 yang ditandatangani oleh Presiden Lyndon B. Johnson. Undang-undang itu lahir melalui jalan yang panjang dan berdarah. Puncaknya ketika 600an orang yang sedang berunjuk rasa dengan berjalan kaki dari Selma ke Montgomery diserang oleh polisi. Unjuk rasa tanpa kekerasan ini dipimpin oleh King, Bevel, SCLS. Malcolm X juga ada di sana. Banyak korban berjatuhan sehingga kejadian ini dijuluki Bloody Sunday. Yak betul. Kejadian ini menginspirasi U2 membuat lagu Sunday Bloody Sunday. Sutradara Selma adalah seorang perempuan berkulit hitam bernama Ava DuVernay. Produsernya pun seorang perempuan berkulit hitam bernama Oprah Winfrey. Film Selma hanya mendapatkan dua nominasi. Film Terbaik dan Lagu Terbaik. David Oloyewo sebagai King tidak mendapat restu dari Oscar di kategori Aktor Terbaik.

oscar87-5

Oya. Happy Martin Luther King, Jr. Day!




teaser bagian 2: Alan Turing, Stephen Hawking, James Brown, Margaret Keane, du Pont, Martin Luther King Jr. dan Chris Kyle.

USTADZ WADUD Bagian-1

Subhaanal ladzi khalaqal azwaaja kullahaa mim maa tumbitul ardhu wa min anfusihim wa mim maa laa yalamun (Yaasin (36):36). Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka, maupun dari apa yang mereka tidak ketahui.

Itulah surat penghabisan yang dibacakan Ustadz Wadud pada pengajian terakhir sebelum beliau meninggal dunia dua tahun lalu. Kini tidak satupun umat yang sudi membicarakan perihal Sang Ustadz di Jatinom. Berita meninggalnya Ustadz Wadud tersiar dari Boyolali, Jatinom, Kembang Sari, sampai kota Salatiga. Berita ini berkembang dan berkurang sesuai penuturnya, namun yang pasti sang Ustadz meninggal dalam rajam pada tahun 1998. Hukuman kuno yang melibatkan sejumlah massa dengan melemparkan batu pada terdakwa hingga menemui ajalnya. Kamilah saksinya.

GOJALI

Kini kami kisahkan sang Ustadz. Beliau lahir di Kotacane, Aceh Tenggara tiga puluh dua tahun silam. Terlahir dengan nama Gojali, gelar Wadud didapatkannya setelah mengenyam enam tahun sekolah dasar, tiga tahun sanawiyah, dan lima kali menuntut ilmu religi di pondok pesantren yang berbeda. Kiranya pendidikan agami inilah yang begitu besar mengukir jiwa beliau, betapa wajahnya bercahaya memancarkan kebijakan. Menurut pak Rahmat yang membawa Gojali ke Jatinom lima tahun lalu, beliau sedari kecil memiliki kecerdasan yang cemerlang, kebetulan ayah Gojali ini kenal dekat dengan pak Rahmat. Tidak salah kalau keluarga Yamin yang sejak Aisyah, Ibu  Gojali, meninggal dunia mencintainya setara putra mereka sendiri. Ia nantinya menjadi putra sulung keluarga Yamin setelah Gatot sang ayah menyerahkannya dalam asuhan keluarga Yamin diperantarai pak Rahmat. Air muka beliau yang tenang dan kemampuannya dalam memahami Islam menjadikannya layak dihormati.

Gojali muda mengenal timangan bunda hanya sebentar, sebelum ia dikirim ke sekolah pengajian Al-Quran di Lhokseumawe. Dari sana Gojali malang melintang dari ponpes satu ke ponpes lainnya. Kabarnya beliau pernah mengalami masa pendidikan di Islamabad, tapi kabar ini belum terang betul kesahihannya. Sekembalinya ia ke Aceh dari Pakistan itulah gelar Wadud mulai diperkenalkan. Awalnya hanya ayah, kemudian saudara-saudara, akhirnya siapapun yang mengenalnya lupa kalau ia bernama Gojali. Padahal kedua nama itu memiliki arti yang sama mulia.

image

Sumber: Google

Al-Wadud merupakan nama Tuhan, satu dari sederet Asmaul Husna yang berjumlah sembilan puluh sembilan. Artinya Maha pencinta. Tapi nama ini pulalah yang kelak mematikan jalannya di dunia. Atas nama cinta ia harus kembali pada sang Khalik begitu cepatnya. Warga Jatinom tahu betul kenapa Wadud berpulang, mereka yang mengirim beliau menghadap Tuhannya, atas nama cinta. Atas nama cinta.

Pak Rahmat di hari ketika ia mengenalkannya pada kami berkata kalau Wadud ini harus dipindahkan dari tanah rencong ke Jawa. Beliau hanya berpesan untuk merawat Wadud sebaik mungkin, segala kebaikkan yang ia bawa dan segala keburukan yang ia perbuat sepenuhnya tanggung jawab pak Rahmat, sedangkan keluarga Yamin hanya jadi penjamin pendidikannya saja. Di mana Gatot, ayah kandungnya? tidak satupun dari kami yang paham betul. Yang kami tahu, Ibunya meninggal tahun 1970. Wadud masih berumur 2 tahun kala itu. Pak Rahmat adalah ayah angkatnya, dan keluarga Yamin adalah orangtua angkat Ustadz Wadud.

Kami sering mendapatinya mengaji di langgar dekat kali Juren. Tahajudpun ia kerjakan di langgar itu. Kami menjulukkinya sebagai penunggu langgar Juren, atau kasarnya demit Juren. Ia hanya tersenyum kalau kami teriaki demit Juren! sebagai ucapan salam kala berpapasan di tengah jalan. Minggu demi minggu perempuan-perempuan pinggir kali Juren membludak mendengarkan alunan ayat-ayat Al-Quran yang ia lantunkan. Mereka berkelompok membentuk suatu majelis pengajian yang secara bergiliran menyesaki langgar tiap pukul lima sore, sebelum waktu maghrib tiba.

Alasannya gampang, Wadud ganteng, setidaknya ini yang selalu dielu-elukan Warti pada teman-temannya di kampung seberang. Tidak lama, Kali Juren sudah menjadi pusat pengajian di Kecamatan Jatinom. Tidak mau kalah dengan kaum hawa yang giat mengaji. Pemuda dan bapak-bapak Jatinom juga membentuk majelis serupa di mesjid Agung Jatinom. Namanya mesjid pastilah lebih besar ukurannya, lebih banyak pula manusia yang mampu ditampung di dalamnya. Tak ayal Wadud berubah menjadi Usatdz sejak diundang memimpin pengajian di majelis ini.

Adalah Danang, anak Pak Prapto asal desa Sribit, suatu hari menghadiri majelis pengajian di mesjid Agung Jatinom atas undangan Warti sepupunya. Danang yang baru saja lulus SMA penasaran, kenapa perempuan-perempuan seperti sepupunya itu gandrung betul dengan sang Ustadz. Oleh karena itu, ia jauh-jauh bermotor dari Sribit ke Mesjid Agung demi menyembuhkan penasarannya. Lepas Maghrib, Danang bersama pemuda-pemuda lain duduk melingkar beralaskan karpet hijau dengan poros elips menghadap Ustadz Wadud. Warti dan kerumunan perempuan kampung berada tidak jauh dari situ, mengawasi dari duduknya, kadang mereka tergelitik saat Ustadz Wadud berseloroh tentang kebodohan yang dilakukannya sewaktu kecil, kadang mereka tertegun khusyu mendengarkan alunan Al-Baqarah yang indah bukan kepayang.

Kemahiran bercerita inilah yang memikat segenap warga Jatinom. Ustadz sekaligus pendongeng bagi mereka teramat langka, terlebih seseorang yang imbang antara ilmu agama dan selera humornya. Yu Darmi, janda paruh baya yang suka hura-hura itu bahkan sudi menginjakkan kakinya di Mesjid. Singkat cerita, Ustadz Wadud adalah angin segar di semerata Jatinom saat itu.

Dua tahun tak terasa berlalu dengan cepatnya, kini Wadud punya Fans Club. Juren Demiters. Tahu sendiri siapa pendirinya, Warti. Diam-diam anggotanya mencapai ribuan orang, perempuan-laki, tua-muda, termasuk Danang dan Yu Darmi, secara tidak sengaja menjadi anggota fans club tadi karena seringnya muncul di Mesjid.

Sebagai penyiar kabar keberadaan si ganteng Wadud di Jatinom, Warti merasa jasa-jasanya itu menempatkan dia diatas semua perempuan lain. Ia merasa Wadud adalah miliknya, sekarang dan kelak saat sang Ustadz memperistrinya. Di tengah-tengah usaha Warti menembaki Wadud dengan panah cinta, Yu Darmi maju-jumawa ke tengah gelanggang dengan dalih ia lebih berpengalaman. Serta-merta Warti dan Yu Darmi menjadi dua kutub yang saling menghunus senjata pamungkas.

Pernah suatu hari di pasar wetan, Yu Darmi berhampiran dengan Warti. Tanpa basa-basi, Yu Darmi mengambil terong dan menghantamkannya persis di muka Warti. Tidak mungkin Warti muda yang lincah itu diam saja, ia meradang dan membalas Yu Darmi dengan tendangan keras di perut. Yu Darmi tersungkur penuh kotoran di lantai pasar yang becek. Tidak disangka-sangka wanita bernama Darmi itu sudah siap celurit di tas belanjanya, dengan sigap pula ia bangkit dari Lumpur dan menghujani Warti sabetan-sabetan maut. Satu-dua hujaman celurit Yu Darmi bisa dihindari, tapi saat Warti jatuh diatas ember ikan emas, tubuhnya tersangkut dan Yu Darmi mampu melukai kaki kiri Warti. Perempuan Jatinom bukan perempuan lembek biasa, kini balik Warti menancapkan sebilah bambu penyangga warung di pundak Yu Darmi. Keduanya roboh kesakitan. Sebelum ada nyawa melayang, keduanya dipisahkan warga, tapi siapa bilang mereka sudah selesai bertarung. Tidak ada senjata, mulutpun jadi. Sumpah serapah silih berganti meramaikan suasana pasar.

Sejak saat itu, Ustadz Wadud diminta warga kampung untuk segera beristri. Kekacauan serupa bukan tidak mungkin terjadi lagi dengan tingkat kehancuran yang lebih dahsyat.

Pak Rahmat hanya punya seorang anak perempuan bernama Yuni yang sudah memiliki suami dan dua anak. Dari keluarga Yamin, punya satu anak laki-laki, masih kecil. Diantara ketidakmungkinan menjalin persaudaraan dengan kedua orangtua angkatnya, Usatdz Wadud memilih diam dan pindah sementara ke Sribit.

Danang dan keluarganya dengan senang hati memberikan satu kamarnya untuk Wadud. Sribit berubah menjadi sebuah desa tempat Ustadz Wadud bertafakur, siapa yang akan diperistrinya. Kandidat yang ada, tiba-tiba saja menyusut menjadi hanya dua, Warti atau Yu Darmi. Yang lain merasa rendah diri, tidak berani tampil diantara dua perempuan kuasa itu.

Wadud yang tertutup agaknya merasa sedikit terdesak dan butuh suatu pertimbangan. Kedua orangtua angkatnya menyerahkan sepenuhnya keputusan pelik itu pada Wadud, mereka memilih jalan demikian karena menganggap Wadud sudah cukup bijak memilih-memilah mana manfaat mana mudharat. Di lain pihak, Warti dan Yu Darmi, sudah siap sedia menjadi nyonya Wadud. Sang Ustadz yang gundah itu terpaksa berkeluh-kesah dengan seorang anak berumur 19 tahun bernama Danang. Danang, walau belia punya hati cukup luas untuk menampung cerita Ustadznya.

Atas saran Danang itulah Wadud memilih Warti sebagai istri. Keputusan yang diambil diatas gundah dengan pertimbangan seorang anak muda yang belum cukup pengalaman. Kami sadar, putusan Ustadz Wadud ini tidak lebih baik dari kejadian-kejadian berikutnya. Agaknya inilah tonggak kemerosotan pamor sang Ustadz kelak.

Yu Darmi, pulang sebagai pecundang. Ia hanya bisa diam, keputusan sudah jelas, Wadud memilih Warti ketimbang dirinya. Kemudian Darmi bersumpah, suatu saat Ustadz Wadud pasti akan ditelentangkan diatas ranjangnya, sumpah pastu yang nantinya terbukti terbalik.

(bersambung: Menikah)