Empat Sekawan dan Pohon Persik

Alkisah.. adalah Dharma, seorang bhiksu muda yang baru saja menyelesaikan pertapaannya dan ingin pergi ke sebuah desa di negeri seberang. Desa ini jaraknya jauh sekali, sementara ia sudah harus sampai di sana besok lusa. Dharma punya dua pilihan: ikut jalur yang biasa, dan kemungkinan sampai beberapa jam atau bahkan sehari lebih telat. Atau, mengambil jalan pintas melewati hutan lebat.

Kalau lewat hutan, ia akan sampai lebih dulu. Tapi siapa yang tau ada apa di dalam sana? Binatang buas yang sigap mengintainya jadi mangsa kah, atau justru tanaman beracun yang sekali sentuh bikin kulit melepuh? Karena diburu waktu, Dharma akhirnya memilih pilihan kedua. Akhirnya tibalah ia di mulut hutan. Hari sudah gelap, mau tidak mau ia harus bermalam di sini sebelum melanjutkan perjalanannya esok pagi-pagi sekali.

Setelah menyusuri hutan itu beberapa lama, dilihatnya ada sebuah pohon persik yang begitu rindang. “Mungkin aku bisa bermalam di sini”, pikirnya. Dharma pun terlelap tak lama setelah menyenderkan tubuhnya di batang pohon.

Beberapa saat kemudian, ia dibangunkan oleh seekor kera yang duduk tepat di depannya.

“Siapa kamu?” Tanya Si Kera.

“Aku Dharma.”

“Ngapain kamu tidur di bawah pohon ini?”

“Maaf, aku berjalan jauh sekali dan kelelahan. Bolehkah aku bermalam di sini?”

“Tentu saja boleh.” Belum sempat dijawab Si Kera, jawaban justru datang dari seekor gajah.

“Terima kasih, Gajah. Kau kah penjaga pohon ini?”

“Bukan, bukan aku saja. Aku, Si Kera, Si Kelinci, dan Si Burung Pipit lah yang menjaga pohon persik ini.”

Tidak lama kemudian, seekor kelinci melompat dari balik semak dan seekor burung pipit terbang dari balik dahan.

“Bermalamlah di sini.” ujar Si Kelinci.

“Kamu lapar? Biar kami ambilkan buah, ya?” Tanya Si Burung Pipit.

Si Kera kemudian menaiki punggung Si Gajah, ia kemudian mengangkat Si Kelinci dengan belalainya dan mendudukkannya di punggung Si Kera. Si Burung Pipit terbang ke atas kepala Si Kelinci, menggapai ranting terdekat dan memetik buah persik untuk Dharma. Buah-buah ini kemudian ditangkap oleh Si Kera.

Dharma kagum, sambil memakan buah pemberian empat sekawan ini ia pun penasaran dan akhirnya bertanya.

“Jadi, sebetulnya, siapa di antara kalian yang jadi pemimpin?”

Si Gajah, Si Kera, Si Kelinci, dan Si Burung Pipit terkejut mendengar pertanyaan Dharma. Mereka tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Mereka bersahabat lama sekali dan menjaga pohon persik bersama-sama.

“Jelas aku, dong. Akulah yang paling cerdik di antara kami semua.” Jawab Si Kera.

Mendengar jawaban Si Kera, Si Gajah pun protes.

“Mana mungkin kau pemimpinnya, sudah tentu aku yang pemimpin. Aku kan yang paling kuat di sini.”

“Tunggu dulu.” Ujar Si Kelinci. “Gajah, kamu mungkin yang paling kuat. Dan, Kera, kamu memang yang paling cerdik. Tapi aku yang lebih dulu di sini. Kan aku menggemburkan tanah sehingga pohon ini bisa tumbuh.”

“Kamu lupa, Kelinci?” Tanya Si Burung Pipit. “Aku kan yang membawa biji itu ke sini setelah buahnya kumakan. Jadi, harusnya aku yang jadi pemimpin. Karena kalau bijinya gak kubawa dari bukit sebelah, pohon ini gak mungkin ada di sini sekarang.”

Mereka kemudian beradu argumen, terus berdebat dan saling ngotot. Semua tidak mau kalah. Semua menganggap jadi yang paling benar.

Dharma pun berusaha melerai. “Sudah, sudah, jangan bertengkar. Maafkan aku yang sudah bertanya hal yang aneh, ya.”

“Tidak bisa.” jawab Kera. Kami harus tau siapa pemimpinnya ini sekarang juga.

“Menurutmu, siapa yang benar?” tanya Gajah.

“Menurutku? Hmm..” Dharma bingung.

“Siapa dari kalian yang paling lama di sini?”

“Akuuu!” jawab mereka serentak.

“Duh. Kalau begitu, siapa yang paling banyak kerjanya biar pohon ini tumbuh?”

“Akuuuuu!” semua masih menjawab berbarengan.

“Aku yang menanam bijinya.” kata Si Burung Pipit.

“Tapi aku yang menggemburkan tanahnya.” Kelinci tak mau kalah.

“Kalau tak kusirami, pohon ini tak mungkin tumbuh.” ujar Kera.

“Dan kalau tak kujaga, pohon dan buahnya pasti sudah habis dicuri binatang-binatang lain.” Gajah menimpali.

“Nah, kalau begitu kalian menjaga bersama-sama kan?”

“Iya.” jawab mereka.

“Kalau tidak ada salah satu dari kalian, pohon ini tidak akan tumbuh jadi sebesar ini.”

“Benar juga, ya..” Burung Pipit setuju.

“Kalau pohon ini rusak atau mati, bagaimana perasaan kalian?”

“Sudah pasti akan sedih sekali.” jawab Gajah.

“Ya, betul. Pohon ini hidup kami.” Kelinci mengiyakan.

“Dan kalau tidak ada pohon ini, aku tidak akan bertemu Burung Pipit, Gajah, juga Kelinci. Mereka keluargaku sekarang.”

“Kalau begitu, menurutku, tidak perlu kalian terus berdebat tentang siapa yang paling benar, atau siapa yang paling kuat. Karena yang paling penting adalah pohon ini bisa terus tumbuh, kan?”

“Iya.” empat sekawan itu setuju.

“Ya sudah, sekarang, kalian fokus saja merawat pohon ini biar tetap sehat dan meneduhkan orang yang lewat di bawahnya. Biar kita bisa makan buahnya bersama-sama.”

Keempat sekawan itupun sepakat dengan Dharma, mereka menghabiskan malam bersama di bawah pohon persik, saling bercanda dan bercerita.


Cerita di atas aku adaptasi dari folktale Buddhism.

Sekarang, yuk kita bayangkan kalau pohon persik tadi adalah Indonesia. Sementara kita semua adalah Si Kera, Si Gajah, Si Burung Pipit, dan Si Kelinci. Beragam; berbagai suku, kelas sosial, karakter, juga kultur. Semuanya berbeda. Pohon persik itu, sama seperti kehidupan kita, bisa langgeng kalau semuanya selaras.

Natal baru saja lewat sehari. Tapi aku sudah mendengar perdebatan tentang boleh tidaknya mengucapkan selamat kepada kawan-kawan beragama Kristen dari berbulan-bulan lalu. Dan mungkin, beberapa bulan lagi kita akan kembali mendengar perdebatan yang sama. Basi. Begitu terus setiap tahun.

Gak cuma ngucapin selamat aja yang dibikin susah, sampai sekarang teman-teman GKI Yasmin mau ibadah dan merayakan Natal pun gak bisa. Padahal kepala daerahnya udah diganti.

Menurutku, perdebatan soal “Ucapan Natal” ini seperti borok yang terus-terusan dikopeki padahal belum kering. Akhirnya ya gak sembuh-sembuh. Kalau Gus Dur masih hidup, mungkin dia akan komen “Gitu aja kok repot?”.

Gitu aja kok repot?

Kalau tidak mau memberi selamat, ya sudah. Ndak perlu kan pengumuman? Toh ndak ada yang salah dengan beropini. Tapi, ada opini yang lebih baik disimpan saja di dalam hati karena kalau diucapkan malah menyebarkan sentimen negatif atau bikin orang salah paham. Malah nambah masalah. Kalau ndak salah, Ali Bin Abi Thalib pernah bilang begini “Ucapkanlah hal-hal yang baik saja, atau mendingan diam sama sekali.” Jadi, kalo ucapan dan pikiran kita akan menyakiti orang lain, mendingan ya mingkem ae.

Kalau mau ikut memberi selamat? ya bagus. Tapi ya ndak perlu juga merasa jadi yang paling benar dan berakal. Merasa jadi paling toleran. Karena, sebenernya ya, toleransi beragama itu ndak cuma sama teman-teman agama lain. Tapi juga sama teman-teman seagama yang mungkin pendapatnya berbeda. Ndak perlu saling paksa pendapat, ya ndak?

Udah, ah.

Selamat Natal untuk teman-teman yang merayakan. Selamat liburan untuk semua. Semoga kita bisa semakin bijak dalam berpikir, berbuat, dan berucap. Dan semoga semua mahluk berbahagia. *kecup*

religious-tolerance

Iklan

4 thoughts on “Empat Sekawan dan Pohon Persik

      1. Harusnya ada,

        Mungkin itu masa, diantara jahiliyah dan pencerahan.

        ketika agama bukan dipandang sebagai alat pencapaian, tapi sebagai bagian dr puzzle hidup yg harus dilengkapi,
        Ketika agama dalam proses pembelajaran, bagi pengikutnya,ataupun yg menentangnya

        Uwwwm, kapan ituya
        Nanti saya kabari kembali jika ada datanya.

        Namanya juga his-story,
        Kalo ga simpangsiur, justru (ceritanya) ga menarik.

        Ada salam dr

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s