Farewell, 2014

Tidak menyenangkan memang. Namun perkenankan saya–beserta rekan-rekan di Linimasa–membuka tulisan piket kali ini dengan berbelasungkawa. Pancaran cinta kasih dari kami untuk semua penumpang dan kru penerbangan AirAsia QZ8501. Dekap erat kami untuk seluruh keluarga dan kerabat. Juga hormat kami kepada segenap pihak yang terlibat dalam proses pencarian maupun pendampingan.

Karya Ko Glenn

Karya Ko Glenn

***

Hari terakhir di 2014.

Pergantian tahun sejatinya hanya perubahan angka. Sesuatu yang mekanis. Konsekuensi logis dari sebuah gerakan linier, terus maju, dan mustahil terulang. Sebuah realitas yang dingin.

Apapun yang terjadi, detik demi detik tetap menyusun menit, dan seterusnya. Akan tetapi, apa yang terjadi dalam setiap detik itu menjadi komponen penyusun kehidupan. Selalu menggubah keadaan hati dan pikiran, entah jadi simfoni ceria atau tragedi memilukan. Meninggalkan kesan. Asa yang menghangatkan.

Banyak kawan yang berharap 2014 segera berlalu. Tak sedikit pula yang susah lepas dari kenangan indah yang telah berlalu. Mereka punya alasan masing-masing, dan semuanya bebas dari vonis benar atau salah. Hanya ada dua kesamaan yang mereka–kita–miliki: sama-sama menafikan saat ini, dan ketidaktahuan akan masa depan.

Dari ketidaktahuan akan masa depan, kita seringkali tak berada di saat ini. Melewatkan momen kehidupan begitu saja. Gara-gara ketidaktahuan akan masa depan itu pula, muncul dua hal yang diakrabi manusia fana sepanjang hayatnya: harapan, dan kekhawatiran. Dua hal yang sama-sama digunakan untuk menghadapi ketidakpastian. Sementara prediksi, ramalan, perhitungan, maupun hasil studi-studi Semiotika tetap membutuhkan pembuktian, tanpa menyisakan jeda untuk koreksi maupun revisi. Layaknya berjudi dengan peluang 50:50. Tak ada yang bisa dijadikan pegangan.

Anda pasti sudah tahu, harapan itu positif, sedangkan kekhawatiran itu negatif. Harapan itu menguatkan, dan kekhawatiran itu melelahkan. Dengan harapan, mudah bagi kita untuk bangkit dan bersemangat kembali. Dengan kekhawatiran, seolah tidak ada waktu untuk berhenti gelisah. Selalu susah. Jadi, pilihannya kembali ke Anda, ingin menyongsong misteri masa depan dengan cara seperti apa. Tidak lupa pula, baik harapan maupun kekhawatiran itu “menular”. Memengaruhi udara di sekeliling.

Hanya saja, jangan sampai diperdaya diri sendiri. Menjalani kehidupan dengan penuh harapan memang baik adanya. Namun akan berbahaya bila tidak dibarengi kemampuan menerima segalanya. Lewat harapan, seseorang berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkannya. Iya kalau berhasil, siapkah bila gagal? Tidak ada yang bisa menjamin kebahagiaan. Namanya juga misteri masa depan, selalu penuh kejutan. Pada umumnya, orang-orang dengan overdosis harapan atau terlalu berharap, sulit menerima kenyataan.

Berharap dapat pacar;
Berharap jadi cantik/ganteng;
Berharap terkenal;
Berharap naik jabatan;
Berharap segera dinikahi;
Berharap cepat kaya;
Berharap dapat warisan;
dan sebagainya.

Di sisi lain, kekhawatiran memang merugikan. Itu kalau kebanyakan. Tatkala memiliki sedikit kekhawatiran, kita bakal ingat pentingnya sikap berhati-hati. Justru lebih baik ketimbang berlaku serampangan. Kehati-hatian yang kita miliki, ibarat jaring pengaman dalam sebuah pertunjukan trapeze. Memang tidak ada yang ingin celaka, namun setidaknya tetap sigap saat terpaksa harus menghadapinya.

Keputusan akhirnya, lagi-lagi kembali di tangan Anda.


Sebenarnya, tidak ada yang perlu Anda iyakan dari beberapa paragraf di atas. Perkara setuju atau tidak, semua itu adalah hak para pembaca yang budiman sekalian. Lagipula, saya cuma manusia biasa; jago menasihati orang lain, tapi sulit menerima nasihat orang lain. Pun masih sering sukar menerima kenyataan, kerap khawatir berlebihan, bebal dan penakut. Salah satu bukti, entah sudah berapa puluh kali saya didorong untuk hijrah, tapi dengan jurus Seribu Kilah, pantat saya tetap menempel di sini, masih betah.

Layaknya orang normal pada umumnya, saya tetap punya harapan untuk menjadi seseorang yang lebih baik di 2015 mendatang–diupayakan mulai besok. Sebagiannya sudah saya tulis saat piket pekan lalu. Agak abstrak sih. Soalnya, saya tidak sreg dengan konsep menyusun list resolusi. Alih-alih tercapai, yang ada malahan menambah beban batin. Penginnya sih menjalani hidup yang mengalir saja, walaupun ndaktau muaranya ke mana.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, 2014 di mata saya sungguh berwarna. Cuma kadang-kadang warnanya ngejreng, ada kalanya gelap, lebih sering gurem. Kendatipun begitu, tetap banyak yang wajib disyukuri. Dompet tetap ada isinya, meski tak seberapa. Masih ada yang bersedia dikibuli, walau di seberang lautan sana. Punya teman-teman hebat, terlebih yang saban hari mengisi tulisan di sini.

Ya! Salah satu warna ngejreng yang sangat saya syukuri saat ini adalah kuning. Bukan Golkar yang pasti. Tapi kuning yang dipilih Mas Roy sebagai ciri khas background wadah tulisan rame-rame ini. Berasanya mirip pesta sunatan massal: selalu meriah.

Sedikit cerita ya. Kebagian jatah setiap Rabu, awalnya saya “bertugas” untuk menulis topik-topik yang berhubungan dengan agama, spiritualitas, dan berkutat di seputar itu. Sayangnya, saya bukan pakar ilmu komparasi agama yang telah diajarkan di perguruan tinggi bergengsi dalam dan luar negeri. Belum lagi sempat dikira ingin mempromosikan agama sendiri, mengembalikan kejayaan era Sriwijaya. Hahaha! Jadi tidak jarang melenceng, dengan sengaja. Untungnya ndak ada yang marah. Lagipula niatnya memang untuk saling berbagi, bukan menggurui, apalagi menghakimi. Makanya, seneng banget kalau ada yang meninggalkan komentar untuk berdiskusi, berinteraksi di sini. Manusiawi.

Seringkali juga malah bingung pengin nulis apa. Karena itu, yours truly ini juga menerima saran dan masukan topik dari para pembaca yang budiman sekalian. Kali-kali aja ada hal lucu buat didiskusikan. Kan, Internet butuh lebih banyak hati. Dengan media inilah kita ketawa-ketiwi bareng. Terima kasih.

Diberkatilah Mas Roy, Ko Glenn, Gandrasta, Kang Agun, Mas Nopal. Sebuah kehormatan bisa nyelip di antara mereka. Juga buat Fafa, yang entah karena angin apa nggandeng saya ikut nimbrung di Linimasa.

Doa dan harapan saya, semoga 2015 menjadi tahun kegemilangan bagi mereka, juga Anda, kita semua. Memberi kesempatan bagi kita untuk bermanfaat bagi sesama. Berlanjut sampai tahun-tahun berikutnya.

***

Hari terakhir di 2014. Rabu ini, buatlah ia jadi penuh arti. 🙂

Selamat menjalani tahun yang baru.

[]

Advertisements

Wawancara Yang Berbahaya

Di penghujung tahun itu biasanya ada film tahun ini atau album tahun ini. Hal yang biasa dilakukan oleh para kritikus film dan musik atau siapa saja yang ingin berkomentar. Nominasi Golden Globe sudah keluar dan pemenangnya akan diumumkan di awal tahun depan. Sekitar bulan Februari biasanya, berdekatan dengan NBA All-Stars dan Grammy Awards lalu ditutup dengan gelaran Oscar di bulan Maret.

Ada yang menarik yang terjadi di dunia perfilman Hollywood–selain dari tahun ini filmnya yang tidak setematik tahun lalu. Walau ada film yang patut diwaspadai itu seperti film Boyhood, Ida, Foxcatcher, Gone Girl, Selma, Birdman, Nighcrawler atau Under The Skin. Film Gone Girl itu bagus sekali sebetulnya. Berpotensi dapet nominasi atau bahkan bisa meraih banyak Oscar tahun depan. Setidaknya di kategori Best Director, Best Actress, Best Original Score dan Best Adapted Screenplay. Sayang tidak lolos sensor di Indonesia. Menurut sumber dari lapak sebelah katanya David Fincher tidak mau ada filmnya yang disensor sedikitpun. Ah, hilanglah harapan warga Indonesia melihat titit Batman di bioskop kesayangannya.

Selain itu yang patut disoroti di akhir tahun ini adalah film The Interview. Film komedi mengenai usaha pembunuhan Kim Jong Un yang dibintangi Seth Rogen dan James Franco ini ternyata memanaskan situasi politik antara Amrika Serikat dan Korea Utara. Film ini batal rilis di bioskop. Harusnya pas Natal kemaren sudah bisa dilihat di bioskop. Walaupun akhirnya mereka berkompromi dan menjualnya secara online. Filmnya lucu sekali. Kalo suka komedi dengan gaya 21 Jump Street atau sekuelnya 22 Jump Street pasti suka dengan film ini. Sudah bisa dibeli di iTunes, Youtube, XboxVideos dan Google Play dan di seetheinterview.com.

sonypic

Beberapa bulan sebelumnya, data rahasia Sony Pictures dijebol oleh para peretas yang menamakan dirinya sebagai Guardian of Peace. Banyak informasi penting dan rahasia dari karyawan Sony Pictures dan koleganya lepas ke tangan para peretas. Beberapa surel dari, ke, dan mengenai seleb papan atas Hollywood bocor ke publik. Tahukah anda bahwa ada wacana Idris Elba sebagai kandidat pengganti Daniel Craig sebagai agen 007? We can not have Black Bond for God’s sake. Not yet. Hollywood belum siap. Baru nyobain Chris Rock jadi host di Oscar dan Ricky Gervais di Globes aja para seleb Hollywood pada blingsatan. Gimana kalo James Bond item? Atau Superman rambutnya kribo? Mau? Ih.

Tuntutan dari para peretas ini adalah untuk tidak menayangkan film The Interview atau informasi yang mereka punya akan disebarkan ke publik dan akan mengancam akan melakukan aksi terorisme di hari penayangan film The Interview di New York City. Sony Pictures pun jiper. The Interview batal rilis di bioskop. Keputusan ini tentu sangat menampar Amerika Serikat sebagai land of the free and home of the brave dan juga negara adidaya (yang gak adidaya banget juga sih sekarang). FBI menuduh Korea Utara ada di belakang para peretas. Jaringan internet sempat dimatikan selama satu hari di Korea Utara. Korea Utara menyangkal bahwa mereka tidak melakukannya dan bahwa mereka mengklaim mempunyai pendukung di luar negara mereka. Saling tuduh. Tetap musuh.

Yabeginilah kalau Hillary, lalu John Kerry yang jadi Menlu Amerika Serikat. Ribet. Hubungan Korut dan AS tidak akan pernah harmonis. Selalu terjadi miskomunikasi. Padahal tidak begitu sulit mendekati Kim Jong-un itu. Dia masih muda, 31 tahun, penggemar berat NBA, gamer akut dan juga penikmat Eric Clapton. Sekolahnya di Swiss. Rokoknya Yves Saint Laurent. Coba kalo Menlunya Dennis Rodman, hal ini mungkin tidak akan terjadi.

Sebetulnya ya kalo dicermati dengan seksama di film The Interview, mudah saja menebak siapa yang meretas data-data penting dari Sony Pictures. Bisa jadi Guardian of Peace itu adalah kemungkinan besar die-hard fans Eminem. Gak percaya? Kenapa? Coba tonton deh filmnya. Di lima belas menit pertama sudah ada jawabannya.

Oya. Hampir lupa. Selamat tahun baru. Mari kita songsong Tahun Kambing Kayu.

Mimpi Adalah Soal Waktu

Aku pernah menyarankan satu hal pada sekumpulan anak SMU di kelas menulis. Bunyinya begini: “Seringnya butuh waktu lumayan lama dan kerja keras untuk jadi seorang penulis yang baik. Kalian bisa saja baru mencapai tujuan di umur 40 nanti, tapi prosesnya akan sangat berharga.

Langsung tampak kekecewaan di wajah mereka. “Forty? Oh my goodness. I could be dead by then. And if I’m still alive, I’ll be too old enjoy anything.” Intinya, yang muda-muda ini ndak mau menghabiskan waktu sekian lama untuk hal yang belum mereka tahu betul. Rupanya, generasi muda sekarang kompetitif sekali.

Mereka ingin mencapai impiannya dalam waktu singkat. Mereka ingin aku mengatakan sesuatu seperti ini: “Pelajari kamus itu setengah jam, lalu tulislah karya hebat sebanyak 500 halaman. Tulis tentang apapun di dalam pikiranmu kecuali Sophia Latjuba. Tuntaskan dalam waktu sebulan dan jualah pada penerbit pertama yang menawarkan Rp. 2M. Jadilah cover majalah Times. Habiskan sisa umur kamu dengan membagi-bagikan tandatangan dan makan malam bersama Salman Rushdie.

Kalau saja hidup ini semudah itu. Kita semua sudah mencapai impian. Baik itu sekecil punya mobil, moderat seperti punya rumah, atau impian besar seperti jadi Miss Universe. Manusia bermimpi tentang banyak hal: uang, ketenaran, kemewahan, kekuasan, kesehatan, cinta, Miss Universe.

Beberapa diantaranya, tentu saja, ndak bisa terwujud. Ndak masalah berapa sering aku belajar pose dan jalan diatas catwalk, aku ndak akan pernah jadi Miss Universe. Kecuali dengan berusaha sangat–SANGAT–keras, sekeras Titiek Puspa menghentikan proses penuaan.

Impian yang lain bisa jadi tampak ndak mungkin. Tapi bisa dicapai melalui usaha jangka panjang. Victoria Becham, misalnya. Ia harus bernyanyi dulu dengan grupnya Spice Girls selama beberapa tahun sebelum mencapai impian terbesarnya—menikahi seorang bintang sepak bola.

Apapun bentuk impian itu. Kita mesti kerja keras dalam waktu yang panjang sampai ia tercapai. Kecuali kita sangat beruntung, sangat berbakat atau punya hubungan dengan Aburizal Bakrie.

Kalau impian itu segera terwujud, namanya mimpi buruk. Kita ndak tahu apa yang mengikuti impian itu selanjutnya.

Dunia butuh waktu untuk menentukan apa yang terbaik untuk kita. Kalau aku mengimpikan berada di puncak Himalaya, dan waktu terbangun tiba-tiba ada di sana. Aku pasti mati! Aku tidur cuma pakai celana dalam. Aku belum mempersiapkan mantel tebal, brkal makan yang cukup di udara dingin, dan kalimat sambutan kalau bertemu Yetti.

Ah, mungkin saja anda beruntung kalau satu diantara hal ini terjadi:
— Anda tahu rahasia spiritual Suzana.
— Anda memenangkan hadiah Rp. 123 juta dan ndak punya 123 orang saudara.
— Anda adalah pewaris tahta Majapahit dan berhak mengklaim wilayah kerajaan anda di masa lalu.
— Nama anda muncul dalam surat wasiat Aburizal Bakrie.

Anda adalah orang yang sangat berbakat kalau:
— Waktu masih bayi, kalimat pertama anda adalah “Ibu, aku mau kawin!
— Anda bisa menyebutkan nama semua laki-laki yang sudah tidur dengan Sarah Azhari.
— Waktu bersantai anda diisi dengan membuat game online.
— Anda bisa bikin musik dengan tiga organ tubuh yang berbeda.

Bahkan dengan semua bakat dan keberuntungan itu, tanpa kerja keras, kecil kemungkinan untuk berhasil. Kerja keras secara bertahap untuk mencapai tujuan seperti menabung di bank. Seiring dengan waktu, bunganya bertambah, dan sebelum kita menyadarinya, kita sudah punya uang untuk suntik Botox—atau operasi plastik.

Ndak memandang apa pekerjaan kita. Kalau kita mengusahakannya dengan sungguh-sungguh dan dalam waktu panjang, hasilnya semakin baik. Tanya saja Mike Tyson. Karirnya dimulai dengan kemampuan memukul telak yang bikin KO. Tapi, seperti semua orang berpengalaman, ia belajar teknik-teknik baru. Belakangan ia juga menggigit! Kedepannya jangan heran kalau ia menendang dan menembak.

Rumus yang sama juga bisa bermanfaat bagi kita. Cuma harus sabar dan terus berusaha. Ini mungkin makan waktu tahunan, tapi bukan sia-sia. Tergantung apa imipiannya lho ya…

Film dan Aku

Aku termasuk orang yang jarang ke bioskop. Tapi sekalinya ke bioskop, 3-5 film bisa aku tonton sekaligus. Bukan karena hobi atau kebiasaan, tapi lebih ke urusan waktu. Jangan pula mencari aku di festival film. Jarang datang. Aku lebih suka menonton film, di waktu dan tempat yang aku tentukan sendiri. Di saat perhatian dan batin aku sepenuhnya siap.

Karenanya aku pun jarang mengajak teman untuk nonton. Aku tak mau konsentrasiku diganggu dengan obrolan kecil saat film, atau mendengarkan suara mulutnya saat makan brondong jagung. Ganggu!

Aku tak bawel urusan nonton di mananya. Suara bocor, kursi tak empuk, atau popcorn kurang garing bukan faktor penentu. Kemacetan Jakarta, menjadi alasan utama. Praktis sajalah. Bagiku, yang penting aku paham ceritanya. Aku bisa mendengarkan dialognya. Dan aku ekspresi aktor aktrisnya terlihat jelas.

Saat menonton, kadang aku mencoba membaca pikiran sutradara. Apa yang hendak disampaikannya dari adegan tadi. Dan tak jarang pikiranku melantur ke ingatanku soal sutradara. Film apa yang pernah dibuatnya sebelum ini? Apa latar belakangnya? Perjuangannya? Pandangan hidupnya? Kesehariannya? Orientasi seksualnya? Hari gini, hampir semua sutradara bawel di media sosial.

Bagiku, film adalah ungkapan pribadi sang sutradara. Sutradara sedang bercerita. Memaparkan pikirannya. Menyampaikan pendapatnya lewat gambar. Penilaiannya terhadap kehidupan di sekitarnya. Semakin banyak observasi yang diserapnya, bisa dipastikan filmnya akan lebih menarik hatiku.

Bukan tak suka, tapi visual cantik bukan yang aku cari. Malah kadang aku rasa mengganggu. Semacam interupsi saat pembaca dongeng sedang bercerita. Pemandangan alam, contoh yang sering aku tonton.
Lebih sering aku maknai sebagai usaha sutradara untuk menutupi kelemahan filmnya. Dan memang sebagian besar film yang menonjolkan pemandangan indah secara berlebihan yang aku tonton, jarang memiliki cerita yang berkesan. Sesudah menonton pun tak ada bekas sedikit pun untuk dibawa pulang. Apalagi untuk dibahas saat ngopi bersama teman-teman.

Aku suka cerita film yang bisa menjadi bahan diskusi. Sendiri atau bersama teman. Aku suka cerita film yang bisa membuat aku merenung. Mempertanyakan pikiran dan pandanganku selama ini. Menggoyang keyakinan sekaligus mengobrak abriknya. Silakan. Dengan senang hati. Di kursi penonton, aku pasrah. Toh bukan film interactive macam Vivid yang aku tonton di bioskop.

Kemarin, aku menonton sebuah film laga buatan dalam negeri. Dipenuhi oleh aktor dan aktris cakep. Dan pemandangan yang maha indah. Tak dijelaskan dengan pasti, kapan dan di mana cerita ini terjadi. Sepanjang film, aku berusaha untuk menghargai usaha yang dikerahkan untuk pembuatan film ini. Mulai dari usaha mengshoot pemandangan alam, usaha aktor dan aktris belajar silat, usaha untuk menyodorkan genre baru dalam perfileman Indonesia. Belum sempat aku menyelami cerita filmnya, film keburu selesai.

Tontonlah Pendekar Tongkat Emas, karena ini film buatan Indonesia.

Kemarin, aku menonton sebuah film drama asal India. Di awal film tampak pembuatan yang sekenanya. Aku yakin bahkan mahasiswa di Indonesia bisa bikin adegan pesawat ruang angkasa mendarat di bumi lebih baik dari film ini. Cerita bergulir dengan gamblang dan sederhana. Mempertanyakan dan mentertawakan kehidupanku sehari-hari. Merefleksikan pandanganku tentang agama dan Tuhanku. Mengajak aku berpikir ulang tentang keyakinanku. Aktor utamanya di film itu tak tampan. Aktris utamanya tak cantik berlebih. Mereka berdua sepanjang film, seperti sedang duduk di meja ngopi bersamaku. Dan aku terlibat dalam perbincangan seru. Seolah aku ikut berinteraksi. Dan aku pulang menonton dengan oleh-oleh.

Tontonlah PK, karena ini film tentang manusia.

Kemarin, aku menonton sebuah film drama kecil buatan dalam negeri. Dari filmnya, aku bisa merasakan usaha pembuat film untuk menampilkan yang terbaik dengan dana terbatas. Beberapa editing yang tiba-tiba sedikit mengganggu. Cerita tentang tiga perempuan di kota Jakarta bergulir sangat sederhana. Masing-masing dengan masalahnya sendiri-sendiri. Hubungan mereka dengan pria dan wanita. Ketiganya mempertanyakan soal eksistensi kehidupannya. Bagian yang jarang dibahas secara terang-terangan. Perbincangan rahasia di malam hari. Saat kesunyian tiba. Tapi di film ini, kesunyian kota Jakarta itu ditampilkan keriuhan luar biasa. Sindiran, guyonan, terasa ingin dikedepankan oleh sutradara. Dan aku pun dibuat tersenyum olehnya sampai akhir film.

Tontonlah Selamat Pagi, Malam, karena ini film tentang rahasia.

Satu pendapatku yang tidak bisa diganggu gugat: film adalah tentang kehidupan. Tak peduli apa pun genre filmnya. Kehidupan yang maha besar ini adalah ciptaan Tuhan. Aku hanyalah satu titik tak telihat dari kehidupan itu. Maka, menonton film apa pun, selama menampilkan cerita tentang kehidupan dan manusianya, aku yakini sebagai usahaku untuk memahami aku dengan Tuhan. Tuhanku.

Tanpa ini semua, film bagiku hanyalah deretan gambar tanpa makna. Lebih baik aku tidur. Karena mimpiku sering lebih seru.

Satu lagi pendapatku yang tidak bisa diganggu gugat: Nicholas Saputra belum jadi aktor. Nico adalah Nico, apa pun ceritanya, apa pun lakonnya. Nico adalah Rangga dan Joni selamanya. Kita tunggu saja, kapan Nico bisa pasrah dan bisa meniadakan dirinya sendiri saat sedang beracting.

Begitu Besar Rasa Cintanya Padaku Hingga Cintanya Cukup Untuk Rela Melepaskanku

Bila Anda ingin tahu posisi Anda di sisi Tuhan, lihatlah dimana posisi Tuhan di hati Anda. [ Imam Ja’far ash-Shadiq]

Ja’far ash-Shadiq (Bahasa Arab: جعفر الصادق), nama lengkapnya adalah Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abu Thalib, menurut wikipedia adalah Imam ke-6 dalam tradisi Islam Syi’ah. Ia lahir di Madinah pada tanggal 17 Rabiul Awwal 83 Hijriyah / 20 April 702 Masehi (M), dan meninggal pada tanggal 25 Syawal 148 Hijriyah / 13 Desember 765 M.  Ja’far yang juga dikenal dengan julukan Abu Abdillah dimakamkan di Pekuburan Baqi’, Madinah. Ia merupakan ahli ilmu agama dan ahli hukum Islam (fiqih). Aturan-aturan yang dikeluarkannya menjadi dasar utama bagi mazhab Ja’fari atau Dua Belas Imam; ia pun dihormati dan menjadi guru bagi kalangan Sunni karena riwayat yang menyatakan bahwa ia menjadi guru bagi Abu Hanifah (pendiri Mazhab Hanafi) dan Malik bin Anas (pendiri Mazhab Maliki). Perbedaan tentang siapa yang menjadi Imam setelahnya menjadikan mazhab Ismailiyah berbeda pandangan dengan mazhab Dua Belas Imam. [sumber]

Imam. Pemimpin. Doa. Agama. Tuhan. Hidup.  Apakah hidup kita melulu soal ini?

Ya! Menurut filem yang dibuat Rajkumar Hirani, PK, hidup manusia telah terjebak pada persoalan ini.

JEBAKAN?

Filem ini adalah filem hiburan. Tapi gagal untuk menjadi penghibur. Filem ini lebih mirip  khotbah jumat dengan cara lain. Filem ini adalah materi sekolah minggu dalam bentuk lain. Filem ini adalah filem sialan, bangsat, patut dihujat bagi sebagian yang lain. Provokatif, intimidatif, dan subversif. Ndak tanggung-tanggung, yang digugat adalah Tuhan. Bagi sebagian orang, ini adalah filem masturbatif. Begitu menyenangkan logika keimanan. Juga perwujudan dari pelajaran tentang kesalihan. Bicara Kesalihan sosial, tapi.

Tuhan menghilang! Begitu tulisan dalam poster yang ditempel dan dibagikan Tipsy, tokoh utama filem ini.

Dikisahkan Tipsy, pemuda planet lain mendarat di daerah tandus India, Rajashtan.  Hanya ada padang kering kerontang yang dibelah rel kereta. Pesawatnya gunakan kelambu awan. Semacam “Flying Nimbus” (筋斗雲), Kinto’un;  awan milik Guru Roshi yang dihadiahkan pada Goku, sebagai balas jasa menyelamatkan kura-kuranya dalam komik Dragon Ball. Tipsy mendarat dengan tanpa sehelai benangpun, kecuali satu benda: remote control. Bentuknya  seperti mustika kebiru-biruan. Kelap-kelip. Indah dan menarik perhatian. Dengan gawai yang dikalungkannya itu, dia mengendalikan pesawat antariksanya. Sekali usap, pesawatnya terbang. Sekali usap, pesawatnya menghilang, bersembunyi ke atas langit.

Celaka! Belum lama mendarat, kalungnya direbut berandalan tua. Saat akan merebutnya kembali, berandalan itu menaburkan pasir dan berhasil kabur naik gerbong terakhir yang kebetulan melintasi padang. Tipsy hanya berhasil merebut radio  transistor tua milik berandalan. Sejak saat itulah petualangannya dimulai.

Tanpa remote itu, dirinya ndak bisa pulang.

Alurnya jelas. Gurauannya pun cerdas. Bagaimana Tipsy memperoleh pakaian. Gampang. Dia ambil dari “mobil goyang”. Melalui pakaian pun filem ini berhasil mengejek strata sosial. Logika kemanusiaan yang mulai diejek pelan-pelan.

Dari pakaian yang dia ambil dari mobil goyang, banyak uang yang ada dalam dompet. Sebagai yang liyan dia sibuk mengamati. Saat di pasar dia lihat orang lain menukar kertas bergambar dengan makanan. Diikuti apa yang dilakukan orang-orang. Dia ambil kertas itu. Selembar uang bergambar Mahatma Gandhi. Lantas ia berikan pada penjual ubi. Berhasil. Namun yang ada dalam pikirannya adalah gambar itu yang mujarab. Maka seluruh benda dengan  wajah Gandhi ia copot dari dinding. Stiker, poster, surat kabar, dan apapun. Ditukarkannya kertas itu pada penjual. Tentu saja ia dicuekkin. Namun saat uang itu dikeluarkan, penjual paham. Tipsy juga mulai paham bahwa hanya gambar Gandhi dalam selembar kertas kecil bernama uang saja, laparnya bisa hilang.

Tunggu dulu. Belum berhenti sampai disitu. Suatu ketika ia mengenakan seragam polisi hasil mencuri dari mobil goyang yang lain. Ada yang lebih ampuh dari uang! Saat ia kenakan seragam itu dan berjlan di pasar, tanpa mengeluarkan uang, para penjual di pasar datang sendiri menghampiri dia dengan membawa sebungkus makanan.

Datangi, lalu berikan uang, lapar hilang. Dengan seragam polisi, diam saja pun lapar hilang. Makanan datang sendiri.

Filem ini adalah parodi kehidupan. Dengan latar belakang prikehidupan sosial budaya negeri India.

Dalam usaha mencari remote-nya yang hilang dia tertimpa musibah, namun menjadi berkah. Perkenalannya dengan si Penabrak, membuatnya ia berhasil memahami bahasa manusia. Suatu malam, diantarkannya ia ke komplek pelacuran. Ya. Dia tidak bercinta seperti dalam mobil goyang yang ia saksikan. Dia hanya ingin genggam tangan salah satu wanita untuk unduh sistem bahasa. Selama enam jam, di atas dipan berkelambu, ia genggam tangan perempuan itu. Setelahnya, ia lancar berbahasa India. Aca..aca..aca..

Diceritakanlah masalahnya pada Penabrak. Diberi petunjuk ia. Pergilah ke Kota Delhi, karena di kota itu kereta yang mengangkut pencuri remote control menuju. 

Dalam perjalannya, kisah inti dari filem ini bermula. Dalam perjalanan ia sibuk bertanya kemana remote-nya berada. Pertanyaan tak jelas membuat semua orang menduga ia mabuk. Nama Tipsy pun disematkan padanya. Ketika dia bertanya pada orang-orang  di pasar, di jalan, di pos polisi, di sekolahan, di rumah ibadah terkait masalahnya.  jawabannya satu:

“Mengadu saja kepada Tuhan!”

Saat itulah ia pertama kalinya mendengar kata Tuhan. Siapa tuhan, siapa dia. mengapa semuanya mereferensikan Tuhan untuk memecahkan masalahnya. Tuhan apakah orang super yang sanggup memberinya bantuan? Tibalah ia pada sebuah kuil. Atas petunjuk salah satu penjual souvenir ia membeli satu patung tuhan (dewa) sebelum berdoa.

Ia ikuti petunjuknya. Tipsy mulai melakukan percobaan, apakah benar Tuhan itu benar-benar membantunya. Saat berdoa untuk meminta makan, dengan mata terpejam ia khusyuk merapal permintaannya. “Saya lapar Tuhan”.

Kebetulan saat ia duduk di samping fakir. Tangannya diberikan sebungkus makanan oleh penderma. Ia membuka mata. Terbelakak! Kaget! Gembira! Tuhan itu nyata. Seketika diberinya makanan. Kontan saja dia kembali berdoa. meminta remote cotrol-nya. Berdoa. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Tidak juga ada! Tuhan tidak mengabulkan permintaannya. Dia kecewa. Dia protes pada penjual patung dewa. Bukannya mendapat penggantinya, penjual berhasil menjual sesaji lebih mahal lagi. India memang jago nyepik bukan? Dimintanya ia ke kuil agar lebih manjur.

Tetap saja, di depan kuil dia kecewa kembali. Bukannya remote yang diterima tapi sesaji yang telah diberkahi. Dia protes sembari berdesak-desakkan. Dia protes tuhan macam apa yang tidk memberikan bantuan tapi meminta uang sumbangan.

Tipsy tidak menyerah. Dia akhirnya mencoba lagi tanpa berdesak-desakkan. Dibawanya sesaji tersebut dihadapan Tuhan. Dia masuki gereja. Terang saja adegan selanjutnya dapat diterka. Dia dianggap gila. Di sana pendeta membawa anggur. Maka bawalah sebotol anggur esok harinya. Sayangnya saat ia bertanya di mana Tuhan, seorang menunjukkan arah masjid. Adegannya pun sama. Ia dikejar-kejar warga masjid. Tipsy lari membawa botol anggurnya. Beda Tuhan beda selera.

Kejadian demi kejadian menggambarkan soal ini. Bagaimana Tuhan harus didekati dengan beraneka cara. Baik dari pakaian, sesembahan, hingga cara berdoa.  Baginya, Tuhan terlalu ribet. Banyak manajer yang beda selera.  Terkadang saat dekati tuhan harus berjanggut, harus bersorban, harus menghilangkan kumis, harus gunakan cadar. Tapi semuanya sama, Tuhan meminta sumbangan uang.

Tipsy juga menggugat bagaimana Agama bekerja. Tuhan ini benar semestinya, tetapi kenapa jadi sulit. Bagaimana mungkin di India banyak yang kelaparan tapi salah satu ritual beragama dengan cara menuangkan susu sapi ke atas batu dan mengalirkannya di sungai. Bagaimana mungkin untuk berbakti pada tuhan, harus guling-gulingan di atas lantai kuil. Bagaimana mungkin dan bagaimana mungkin yang terus ia pertanyakan. Para manajer Tuhan yang mempersulit semuanya. Bukan tuhan. tapi para manajer yang merasa paling dekat dengan tuhan.

The_White_Tiger

Tema filem ini sebetulnya tidak baru. Tentunya dengan berbagai medium cerita.  Buku pemenang “the Man Booker Prize” beberapa tahun lalu angkat isu yang serupa. The White Tiger dari Aravind Adiga berhasil mengusung tema “perbedaan”.  Bagian yang disentilnya juga soal sensitif:  Agama.  Dalam cerita buku tersebut, sang tokoh, Ashok Sharma menulis panjang kepada Perdana Menteri China, Wen Jiabao. Tulisannya dalam surat:

“Seluruh penulis terkenal dan terpenting juga terbaik yang pernah ada semuanya muslim, Tuan. Ada  Rumi, ada Mirza Ghalib, ada  Muhammad Iqbal, dan yang satunya saya lupa. Aneh bukan? Bagaimana bisa penulis terbesar adalah muslim, padahal seluruh muslim yang saya kenal rata-rata tak dapat menulis dan membaca, Tuan?”

BLARR! Aravind bicara soal pandangan kaum kebanyakkan india yang menganggap muslim India adalah bodoh dan terbelakang. Bercandanya nakal.

Apakah PK syarat sindiran tanpa bicara tarian dan nyanyi-nyanyian? Otentusaja teteup! Nyanyian, tarian bahkan kisah percintaannya dahsyat. Kisah cinta Muslim dan Hindu. Antara Rasfaraz dan Jaggu. Kisah cinta dua diaspora muda India yang menuntut ilmu di Belgia. Terpisah karena kesalahpahaman.  Cinta yang terhalang rintangan agama.

Lewat Jaggu juga Tipsy mendunia. Tipsy diberikan acara televisi. Pertanyaan Tipsy yang aneh namun secara logika benar, menarik perhatian Jaggu, sang reporter tipi yang telah pulang ke Delhi.

Karena acaranya populer, dianggap oleh pemuka agama mengganggu eksistensi otoritas lembaga agama. Tipsy ditantang oleh Yang Mulia, salah satu pemuka agama terkenal.

Pertanyaannya simpel. Apa agama Tipsy? Siapa Tuhan Tipsy? Apakah Muslim yang akan merenggut otoritas ajaran Hindunya? Pertanyaan itu disiarkan luas ke seluruh India. Secara langsung.

Tipsy bingung ditanya seperti itu. Dengan pelan ia menjawab.

“Saya bingung, Tuan”

Yang Mulia tersenyum. Dia merasa menang.

Tipsy melanjutkan. “Tuhan mana yang engkau bicarakan. Begitu banyak tuhan yang saya kenal dan ketahui. Tapi tuhanku hanya satu, yaitu yang menciptakanku. Sedangkan anda selalu berbicara tentang Tuhan yang ada di benak anda. Tuhan yang anda ciptakan. Tuhan yang ingin anda lindungi mati-matian”.

Tipsy menjawab pertanyaan sembari memegang sepatu milik sahabatnya, si penabrak yang tewas, menjadi korban pengeboman di stasiun kereta.

“Saya hanya melindungi Tuhanku, dari orang semacam kamu!” Yang Mulia berkata.

Tipsy menjawab kembali. “Bagaimana Tuan berani berkata seperti itu. Tuhan yang menciptakan miliaran galaksi, dan planet bumi hanya sebagian kecil dari ciptaan-Nya, dan tuan duduk di kursi mungil di sebuah sudut bumi, mau melindungi Tuhan? Sombongnya Tuan. Tuhan tidak perlu dilindungi. Tuan lah yang seharusnya meminta perlindungan.”

Dialog dalam filem ini terus bergulir. Debat di depan kamera.  Filem bejat ini malah lebih berisi dari sekadar ceramah agama. Kesalihan sosial yang selama ini dianaktirikan, bahkan oleh orang-orang yang merasa salih.

Agama. Tuhan. Cinta manusia. Problematika yang tak lekang oleh zaman.

Perkara doa yang terus menerus dipanjatkan.

Tuhanku, kalau aku mengabdi kepada-Mu karena takut akan api neraka, masukkanlah aku ke dalam neraka itu, dan besarkan tubuhku di neraka itu, sehingga tidak ada tempat lagi di neraka itu buat hamba-hamba -Mu yang lain.

Kalau aku menyembah-Mu karena menginginkan surga-Mu, berikan surga itu kepada hamba-hamba-Mu yang lain, bagiku Engkau saja sudah cukup.

Doa Rabi’ah al-‘Adawiyah kepada Tuhan melulu tentang cinta. Doanya begitu terkenal. Bait di atas adalah doa Rabi’ah yang diterjemahkan penyair Taufiq Ismail. Beda versi dengan yang biasanya kita ketahui? Ndakpapa. Toh, doa adalah bagian paling intim antara makhluk dan penciptanya.

IMG_6956

Perkara doa adalah inti dari filem ini. Apakah filem ini menuai protes? tentu saja! Pro-kontra saat ini masih berlangsung di India. Para pencibir mengharamkan filem produksi rajkumar Hirani. Juga membenci mati-matian Aamir Khan, pemeran Tipsy.

 

 

 

religious-tolerance

 

Filem yang layak ditonton. Kisah cinta manusia dengan tuhannya. Cinta manusia dengan manusia lainnya. cinta manusia bumi dengan planet lain. Cinta manusia dengan sosial budayanya. Cinta manusia dengan kepentingannya. Filem dengan banyak bumbu. Filem kari india.

Juga cinta segitiga. Tipsy, Jaggu dan Rasfaraz.

Jaggu, reporter itu sadar betapa Tipsy diam-diam mencintainya. Dia sadar saat akhirnya Tipsy pamit padanya dengan banyak membawa benda yang melulu tentang bumi. Suara klakson, jangkrik, suara manusia.  Untuk dikenang, katanya. Tipsy berbohong. Jaggu tahu, ada tulisan yang tak sempat terkirim dari Tipsy: “I Love You, Jaggu”.

Jaggu tahu kalau Tipsy tak tahu bahwa dirinya tahu Tipsy mencintainya.

Perpisahan yang menyakitkan. Tipsy yang memendam cintanya pada Jaggu. Tipsy pulang.

Di akhir cerita, Jaggu, akhirnya menjadi penulis buku. Dikisahkan ia membacakan cerita di depan penggemarnya pada sebuh toko buku. Peluncuran buku pertamanya.

Ia bacakan penutup bukunya pada para pembaca :

“Dari manusia bumi, dia belajar bagaimana caranya berbohong. Dari dia aku belajar bagaimana seharusnya manusia mencintai.”

Lanjutnya:

Begitu besar rasa cintanya padaku  hingga  cintanya cukup untuk rela melepaskanku.

Empat Sekawan dan Pohon Persik

Alkisah.. adalah Dharma, seorang bhiksu muda yang baru saja menyelesaikan pertapaannya dan ingin pergi ke sebuah desa di negeri seberang. Desa ini jaraknya jauh sekali, sementara ia sudah harus sampai di sana besok lusa. Dharma punya dua pilihan: ikut jalur yang biasa, dan kemungkinan sampai beberapa jam atau bahkan sehari lebih telat. Atau, mengambil jalan pintas melewati hutan lebat.

Kalau lewat hutan, ia akan sampai lebih dulu. Tapi siapa yang tau ada apa di dalam sana? Binatang buas yang sigap mengintainya jadi mangsa kah, atau justru tanaman beracun yang sekali sentuh bikin kulit melepuh? Karena diburu waktu, Dharma akhirnya memilih pilihan kedua. Akhirnya tibalah ia di mulut hutan. Hari sudah gelap, mau tidak mau ia harus bermalam di sini sebelum melanjutkan perjalanannya esok pagi-pagi sekali.

Setelah menyusuri hutan itu beberapa lama, dilihatnya ada sebuah pohon persik yang begitu rindang. “Mungkin aku bisa bermalam di sini”, pikirnya. Dharma pun terlelap tak lama setelah menyenderkan tubuhnya di batang pohon.

Beberapa saat kemudian, ia dibangunkan oleh seekor kera yang duduk tepat di depannya.

“Siapa kamu?” Tanya Si Kera.

“Aku Dharma.”

“Ngapain kamu tidur di bawah pohon ini?”

“Maaf, aku berjalan jauh sekali dan kelelahan. Bolehkah aku bermalam di sini?”

“Tentu saja boleh.” Belum sempat dijawab Si Kera, jawaban justru datang dari seekor gajah.

“Terima kasih, Gajah. Kau kah penjaga pohon ini?”

“Bukan, bukan aku saja. Aku, Si Kera, Si Kelinci, dan Si Burung Pipit lah yang menjaga pohon persik ini.”

Tidak lama kemudian, seekor kelinci melompat dari balik semak dan seekor burung pipit terbang dari balik dahan.

“Bermalamlah di sini.” ujar Si Kelinci.

“Kamu lapar? Biar kami ambilkan buah, ya?” Tanya Si Burung Pipit.

Si Kera kemudian menaiki punggung Si Gajah, ia kemudian mengangkat Si Kelinci dengan belalainya dan mendudukkannya di punggung Si Kera. Si Burung Pipit terbang ke atas kepala Si Kelinci, menggapai ranting terdekat dan memetik buah persik untuk Dharma. Buah-buah ini kemudian ditangkap oleh Si Kera.

Dharma kagum, sambil memakan buah pemberian empat sekawan ini ia pun penasaran dan akhirnya bertanya.

“Jadi, sebetulnya, siapa di antara kalian yang jadi pemimpin?”

Si Gajah, Si Kera, Si Kelinci, dan Si Burung Pipit terkejut mendengar pertanyaan Dharma. Mereka tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Mereka bersahabat lama sekali dan menjaga pohon persik bersama-sama.

“Jelas aku, dong. Akulah yang paling cerdik di antara kami semua.” Jawab Si Kera.

Mendengar jawaban Si Kera, Si Gajah pun protes.

“Mana mungkin kau pemimpinnya, sudah tentu aku yang pemimpin. Aku kan yang paling kuat di sini.”

“Tunggu dulu.” Ujar Si Kelinci. “Gajah, kamu mungkin yang paling kuat. Dan, Kera, kamu memang yang paling cerdik. Tapi aku yang lebih dulu di sini. Kan aku menggemburkan tanah sehingga pohon ini bisa tumbuh.”

“Kamu lupa, Kelinci?” Tanya Si Burung Pipit. “Aku kan yang membawa biji itu ke sini setelah buahnya kumakan. Jadi, harusnya aku yang jadi pemimpin. Karena kalau bijinya gak kubawa dari bukit sebelah, pohon ini gak mungkin ada di sini sekarang.”

Mereka kemudian beradu argumen, terus berdebat dan saling ngotot. Semua tidak mau kalah. Semua menganggap jadi yang paling benar.

Dharma pun berusaha melerai. “Sudah, sudah, jangan bertengkar. Maafkan aku yang sudah bertanya hal yang aneh, ya.”

“Tidak bisa.” jawab Kera. Kami harus tau siapa pemimpinnya ini sekarang juga.

“Menurutmu, siapa yang benar?” tanya Gajah.

“Menurutku? Hmm..” Dharma bingung.

“Siapa dari kalian yang paling lama di sini?”

“Akuuu!” jawab mereka serentak.

“Duh. Kalau begitu, siapa yang paling banyak kerjanya biar pohon ini tumbuh?”

“Akuuuuu!” semua masih menjawab berbarengan.

“Aku yang menanam bijinya.” kata Si Burung Pipit.

“Tapi aku yang menggemburkan tanahnya.” Kelinci tak mau kalah.

“Kalau tak kusirami, pohon ini tak mungkin tumbuh.” ujar Kera.

“Dan kalau tak kujaga, pohon dan buahnya pasti sudah habis dicuri binatang-binatang lain.” Gajah menimpali.

“Nah, kalau begitu kalian menjaga bersama-sama kan?”

“Iya.” jawab mereka.

“Kalau tidak ada salah satu dari kalian, pohon ini tidak akan tumbuh jadi sebesar ini.”

“Benar juga, ya..” Burung Pipit setuju.

“Kalau pohon ini rusak atau mati, bagaimana perasaan kalian?”

“Sudah pasti akan sedih sekali.” jawab Gajah.

“Ya, betul. Pohon ini hidup kami.” Kelinci mengiyakan.

“Dan kalau tidak ada pohon ini, aku tidak akan bertemu Burung Pipit, Gajah, juga Kelinci. Mereka keluargaku sekarang.”

“Kalau begitu, menurutku, tidak perlu kalian terus berdebat tentang siapa yang paling benar, atau siapa yang paling kuat. Karena yang paling penting adalah pohon ini bisa terus tumbuh, kan?”

“Iya.” empat sekawan itu setuju.

“Ya sudah, sekarang, kalian fokus saja merawat pohon ini biar tetap sehat dan meneduhkan orang yang lewat di bawahnya. Biar kita bisa makan buahnya bersama-sama.”

Keempat sekawan itupun sepakat dengan Dharma, mereka menghabiskan malam bersama di bawah pohon persik, saling bercanda dan bercerita.


Cerita di atas aku adaptasi dari folktale Buddhism.

Sekarang, yuk kita bayangkan kalau pohon persik tadi adalah Indonesia. Sementara kita semua adalah Si Kera, Si Gajah, Si Burung Pipit, dan Si Kelinci. Beragam; berbagai suku, kelas sosial, karakter, juga kultur. Semuanya berbeda. Pohon persik itu, sama seperti kehidupan kita, bisa langgeng kalau semuanya selaras.

Natal baru saja lewat sehari. Tapi aku sudah mendengar perdebatan tentang boleh tidaknya mengucapkan selamat kepada kawan-kawan beragama Kristen dari berbulan-bulan lalu. Dan mungkin, beberapa bulan lagi kita akan kembali mendengar perdebatan yang sama. Basi. Begitu terus setiap tahun.

Gak cuma ngucapin selamat aja yang dibikin susah, sampai sekarang teman-teman GKI Yasmin mau ibadah dan merayakan Natal pun gak bisa. Padahal kepala daerahnya udah diganti.

Menurutku, perdebatan soal “Ucapan Natal” ini seperti borok yang terus-terusan dikopeki padahal belum kering. Akhirnya ya gak sembuh-sembuh. Kalau Gus Dur masih hidup, mungkin dia akan komen “Gitu aja kok repot?”.

Gitu aja kok repot?

Kalau tidak mau memberi selamat, ya sudah. Ndak perlu kan pengumuman? Toh ndak ada yang salah dengan beropini. Tapi, ada opini yang lebih baik disimpan saja di dalam hati karena kalau diucapkan malah menyebarkan sentimen negatif atau bikin orang salah paham. Malah nambah masalah. Kalau ndak salah, Ali Bin Abi Thalib pernah bilang begini “Ucapkanlah hal-hal yang baik saja, atau mendingan diam sama sekali.” Jadi, kalo ucapan dan pikiran kita akan menyakiti orang lain, mendingan ya mingkem ae.

Kalau mau ikut memberi selamat? ya bagus. Tapi ya ndak perlu juga merasa jadi yang paling benar dan berakal. Merasa jadi paling toleran. Karena, sebenernya ya, toleransi beragama itu ndak cuma sama teman-teman agama lain. Tapi juga sama teman-teman seagama yang mungkin pendapatnya berbeda. Ndak perlu saling paksa pendapat, ya ndak?

Udah, ah.

Selamat Natal untuk teman-teman yang merayakan. Selamat liburan untuk semua. Semoga kita bisa semakin bijak dalam berpikir, berbuat, dan berucap. Dan semoga semua mahluk berbahagia. *kecup*

religious-tolerance

Have Yourself A Merry Little Christmas?

Melalui Linimasa, saya ingin mengucapkan Selamat Natal bagi semua yang merayakan, baik dalam rangka ritual keagamaan, maupun dalam spirit atau semangat.

Melalui Linimasa pula, saya ingin bilang kalau lagu bertema Natal yang paling sering saya dengarkan dan alunkan adalah lagu “Have Yourself a Merry Little Christmas”.

Rasa-rasanya, selain lagu “Yesterday” milik The Beatles, lagu ini termasuk lagu yang banyak banget versinya. Mulai dari Judy Garland yang menyanyikan pertama kali di film Meet Me in St. Louis, lalu versi Frank Sinatra yang sering diputar, sampai terakhir si raja galau 2014 dari Inggris, Sam Smith, tak ketinggalan membuat lagu ini makin terasa menyayat hati.

Meskipun begitu, tak ada satu pun dari versi-versi tersebut yang dituangkan dalam bahasa visual yang sangat emosional, seperti yang terlihat di video klip versi Kenny G.

Lihat saja di sini:

Manipulatif? Memang. Menguras air mata? Itu tujuannya.
Toh memang itulah jualan komoditas Natal (dan Tahun Baru): sensasi sentimental nan melankolis.

Berhubung untuk keperluan promosi lagu, maka digaraplah pemaparan visual lagu itu dengan baik.
Potongan klip film It’s a Wonderful Life, Miracle on 34th Street, Little Women dipilih dengan pas, sesuai dengan mood dan tone lagu. Diselingi pula dengan adegan-adegan dari film A Christmas Carol, dan juga The Bells of St. Mary’s, lengkingan saxophone Kenny G terasa tidak mengganggu seperti biasanya.

Apalagi cerita di video ini menghadirkan aktor Burgess Meredith, pemeran Penguin di serial televisi “Batman” tahun 1960-an. Dia berperan sebagai seorang penjaga bioskop yang kesepian. Dia mengira akan menghabiskan Natal sendirian. Yang menemani malam Natalnya adalah foto anak dan cucu, sambil sesekali melihat ke layar lebar, di mana potongan film dimainkan. Entah kenangan apa yang ada di benaknya saat melihat adegan-adegan itu. Lalu, tiba-tiba saja, keajaiban itu pun hadir. Pelukan dari sang anak dan cucu menghampiri. Warna kelabu berubah menjadi kuning kehangatan.

Happy ending. The way any feel-good Christmas stories are meant to end.

Namun ending untuk Burgess Meredith berbeda. Dia meninggal tak lama setelah video klip ini dibuat, pada usia 90 tahun, akibat penyakit Alzheimer. Natal terakhir aktor kawakan ini pun terpatri selamanya di ingatan jutaan orang yang telah melihat video klip ini.

Tanggal 25 Desember tak hanya notabene milik mereka yang merayakan Hari Natal. Tepat di hari ini, usia satu tahun tinggal 6 hari lagi, sebelum tahun yang lebih baru, lebih gres, hadir.
Beberapa hari sebelum tanggal 25 Desember, mood kerja sudah turun drastis. Males-malesan ke kantor. Sepertinya mengirim email reminder ke calon klien akan sia-sia, karena baru dibaca hari Senin pertama di bulan Januari.
Seakan-akan hitungan satu tahun sudah berakhir saat bulan Desember memasuki angka 20-an.

Semua film yang ditonton, musik yang didengar dan buku yang dibaca di sisa penghujung tahun, seakan tak berarti lagi. Rangkaian daftar “Top 10 of Something Something This Year” atau “Best of This Year” serta “Worst of This Year” sudah kenyang kita santap, bahkan sejak awal Desember.
Kita didikte untuk menghabiskan bulan Desember untuk leyeh-leyeh nrimo.

Padahal, masih ada 6 hari lagi untuk menciptakan keajaiban.

Tukang sapu penjaga bioskop di video klip di atas masih berpegang teguh pada keyakinan kalau dia tidak akan menghabiskan malam Natal sendirian. Setidaknya, foto-foto dalam dompet yang membuatnya bisa melalui kesendirian sementara, kalau saja ending video harus berakhir tidak sentimental.

Kalau ada yang memulai tahun ini dengan kehilangan kekasih, mungkin ada janji makan siang dalam 5 hari ke depan yang bisa membuat hidup anda berubah. Oke, tidak langsung berubah. Paling tidak, membuat kita mengakhiri tahun dengan senyuman. Sudah beda 180 derajat saat mengawali tahun dengan tangisan, ‘kan?

Kehilangan uang di awal tahun juga membuat kita murung. Lalu tanpa kita sadari, kita mati-matian bekerja sepanjang tahun, membuktikan ke dunia kalau uang memang bisa dicari. Akhirnya, setelah celengan dibuka, ada tabungan tersisa. Lumayan, bisa bertahan hidup sampai awal tahun, sebelum masuk kantor lagi.

Bahasa kita kaya dengan jargon atau pepatah. Salah satunya “hujan sehari bisa menghapus panas setahun”. Pertemuan dan kesempatan yang ada selama 6 hari ke depan, bisa mengubah pandangan kita terhadap setahun yang telah berjalan, dan akan berakhir sebentar lagi.

Kalaupun ada isak tangis tanggal 31 Desember nanti, biarlah itu pertanda ungkapan kebahagiaan.
Bahwa ada momen sekecil apapun dalam hari-hari ke depan yang membuat kita yakin kalau tahun depan lebih baik dari tahun ini.

If you’re not happy this Christmas, make it a happy one. There’s “merry” in Merry Christmas.

Tonton film yang ringan. Tertawa melihat gambar-gambar meme yang “garing”. Bernyanyi bersama sepanjang Christmas carols dinyanyikan. Membaca cerita humor. Menyalakan televisi saat film Home Alone diputar untuk kesekian kalinya.

Then the answer to the question “Have Yourself a Merry Little Christmas?” is … Yes.

It's A Wonderful Life (Courtesy of Tvtropes.org)

It’s A Wonderful Life (Courtesy of Tvtropes.org)

Perlu Judul?

Bersikap kaku dan aneh, terlalu formal, ndak fun, cenderung menakutkan, susah didekati karena aura yang intimidatif, selalu bertentangan dengan pendapat orang lain, negatif, irit bicara, tapi kalau sekali bersuara langsung nyelekit cocok buat digampar, seringkali congkak, dan sebagainya, dan sebagainya. Demikianlah kata mereka. Tentang saya. Sejauh ini. Walaupun tidak semuanya. Diam-diam, ada yang mengangguk di kejauhan. Membenarkan.

Mungkin pendapat mereka benar adanya. Mungkin bisa juga seperti adagium “Tak Kenal Maka Tak Sayang, Sekali Sayang Tak Bakal Lekang”. Ndak ada yang tahu pasti. Tapi gara-gara itu semua, rasanya pengin banget jadi orang yang puitis dengan indera lebih sensitif terhadap hidup dan kehidupan di sekeliling. Juga romantis. Sedikit perubahan dari kondisi yang ada saat ini. Menjadi pribadi yang lebih lunak. Lagi-lagi, ada yang mengangguk di kejauhan. Mengiyakan. Meskipun kata Sang Tathagata, semua hanyalah jerat delusi semata.

Mohon maklum, Guru. Saya masih berusaha belajar membuka mata. Masih jauh tahapannya dari menutup mata, untuk mulai melihat dengan hati.


 

Puitis. Batin yang begitu mudah tergugah.

Ketika melihat sehelai daun–apa pun itu–rontok, jatuh perlahan dari tangkainya. Berpisah. Ia sempat berputar-putar indah di udara selama beberapa saat. Indah dalam ketidakberdayaannya. Kemudian mendarat di permukaan tanah dan pergi terseret angin. Dibawa entah ke mana.

Ketika melihat bulir-bulir air yang menempel di kaca jendela saat gerimis menjelang senja. Mati lampu saat itu. Titik demi titik. Beberapa di antaranya bertemu, menyatu, menjadi lebih besar. Cukup berat, hingga meluncur perlahan kemudian. Mengalir, berkumpul dengan sesamanya.

Ketika melihat sang kekasih. Tertidur pulas. Bibirnya terkatup rapat. Hangatnya masih berbekas. Damai, meski hanya berbungkus selimut bergambar beruang cokelat dari perut ke bawah. Lehernya sedikit berkeringat, gerah tampaknya. Akrab dengan aromanya. Dengkurnya halus, tapi terus ada. Seperti energi yang sengaja dipenjara, agar siap menggila saat kembali dilepaskan esok harinya.

Maaf. Picisan. Akan tetapi sekiranya demikian. Membantu memaknai hidup dengan kesan berbeda. Rehat sejenak dari dunia yang tergesa-gesa.


Romantis. Hati yang lebih lembut.

Ketika bisa menjawab semua pertanyaan “buat apa?” dengan kalimat “demi cinta.

Tahi kerbau memang. Tak bisa bikin kenyang memang. Hanya saja, hampir seisi dunia masih terlampau mudah dibuat takluk olehnya, oleh sesuatu yang sampai saat ini belum saya anggap sebagai sebuah keniscayaan. Sesuatu yang berada di luar akal sehat. Sesuatu yang kerap kali mengganggu dan menyusahkan. Membuat kita makin hanyut dalam keadaan. Tapi tetap ada, dan terus kuat mencengkeram.

Kenyataannya, saya bukanlah kekasih. Masih sangat jauh dari kualitas itu. Mbuh, saya sendiri enggan, dilucuti dengan yang namanya cinta. Dibuat telanjang, bergumul, dan menjadi pecinta. Itulah sebabnya, dengan mudahnya saya bisa berbicara: “aku cinta kamu?

Lebih dari sekadar urusan raga. Cinta memang–yang selama ini saya yakini–jauh lebih tinggi. Nisbi dari berahi; menjadi bagian sekaligus terpisah jauh. Bikin mabuk. Saking mabuknya, sampai-sampai banyak yang bingung membedakan keduanya. Kabur. Samar. Harus ditampar. Begitu muntah, isinya mulai dari puja-puji sampai caci maki. Tergantung apa yang masuk sebelumnya.

Ndaktaulah bagaimana. Jangan tanya soal cinta sama saya.

 


Dari ihwal puitis sensitif dan romantis di atas, intinya cuma satu: saya pengin berubah. Angka tahun yang bikinan manusia aja berubah, masa’ saya yang manusianya ndak ikut berubah? Cita-citanya sih mulia, berubah menjadi persona yang lebih baik, akal budi, simpati dan perasaannya. Minimal berubah jadi baik bagi diri sendiri, syukur-syukur juga bisa dirasakan orang lain. Tapi lagi-lagi, ndaktahulah nanti bakal seperti apa. Biarlah saya berusaha semaksimal mungkin, sendiri. Kalau nanti perlu bantuan, paling juga nyari sendiri. Ya kan?

Juga ndak paham, mengapa mendadak bicara soal ini sekarang? Padahal ujung akhir tahun tepat jatuh di piket pekan depan. Tadinya malah pengin bicara soal film Bollywood teranyar yang masuk Indonesia: “PK”. Film yang ternyata jauh lebih transendental ketimbang ceramah-ceramah agama beberapa abad belakangan, dan/atau Mbak Fahira Idris, dan/atau FPI, dan/atau para pendeta yang berhasil mendirikan denominasi sendiri saking hebatnya berkhotbah, dan/atau para penyelenggara upacara pembakaran kertas nama demi “kavelingan” di surga dengan ajimat suku kata-suku kata tertentu, maupun kelompok-kelompok sayap kanan lain dari agama apa pun. Biar. Nanti saja dibahasnya. “Esok kan… masih ada…,” begitu katanya mendiang Utha Likumahuwa, kepada seorang nona manis. Lagipula toh di Linimasa sudah ada Mas Nauval, jawaranya urusan film.

Kembali soal harapan untuk berubah tadi. 2014 bakal berakhir sebentar lagi. Beberapa perubahan–atau upaya menujunya tengah saya usahakan. Orang-orang idealis lebih suka menyebutnya sebagai resolusi. Barangkali Anda juga punya resolusi masing-masing. Baik yang moril maupun materiil. Asal jangan ill-will. Soal kesan dan kenangan, mungkin bakal saya tulis pekan depan. Yang pasti, saya ingin membuka tirai beledu baru panggung 2015 dengan sejumlah kebaikan. Meninggalkan keburukan-keburukan yang merugikan orang lain. Mudah-mudahan bisa jadi kenyataan. Toh kebaikan itu universal. Baik ya baik, apapun perbedaannya. Buruk ya buruk, apapun alasannya.

Selamat Natal. Selamat berlibur. Tuhan, memberkati kita.

[]

Babi Itu Halal

Setidaknya ada tiga ayat di Al Qur’an yang mengharamkan umat Islam untuk mengkonsumsi babi dalam bentuk apapun. Ada di Surat Al-Baqarah ayat 173, Q.S Al-An’am 145, Q.S Al-Maidah ayat 3.



 

Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi — karena sesungguhnya semua itu kotor — atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Q.S Al An’am ayat 145. 


pig2

Saya hanya ambil satu ayat aja. Karena kurang lebih artinya sama. Sama-sama kabur dan multi tafsir. Selain di Islam kalo tidak salah Kristen dan Yahudi juga ada yang mengharamkan babi. Yang jadi pertanyaan itu, kenapa harus babi sih? Karena kotor? Tidak bersih? Tidak aman untuk dikonsumsi? Berbahaya untuk kesehatan?

pig

Sementara di Inggris sana, ada yang menulis bahwa setiap satu ons daging babi itu bisa membantu membuat 185 produk yang semuanya dipakai oleh semua umat manusia. Tanpa pandang agama. Ya. Babi itu sama bergunanya dengan pohon kelapa. Atau ganja. Hampir semua bagian bisa bermanfaat bagi manusia.

Lalu bagaimana dengan mereka yang makan gorengan di pinggir jalan? Bersihkah? Sehatkah? Lalu bagaimana mereka yang makan sate kambing? Bersih? Mungkin. Sehat? Belum tentu. Lantas bagaimana dengan mereka yang mengkonsumsi ayam goreng dari KFC atau BigMac dari McDonalds? Sehat? Itu junk-food kan? Haram? Menurut MUI sih halal.

Indonesia dengan penduduk muslim terbanyak di dunia ini ternyata tercatat juga sebagai penduduk dengan pengidap stroke terbanyak di dunia. Dan mereka yang mengidap stroke itu tentunya bukan karena mereka mengkonsumsi babi. Masa harus babi lagi sih yang disalahin.

Oya. Selamat Natal bagi yang merayakan. Selamat liburan. Jangan buang sampah dari mobil ya.  Jangan lupa cek trigliserida dan LDL ya sehabis liburan dan makan enak nanti. Udah ah, saya mau ngabisin sop kaki kambing dulu nih. Keburu dingin.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (QS. 6:141)

Menunggu Pocong

Di alur cerita horror biasanya ada adegan satu orang yang cukup brilian keluar dari kumpulannya, berjalan sendirian dan menunggu—siapa tahu ada Michael Jackson lewat. Tapi, kita tahu sebagai penonton, di sini serunya. Dengan menunggu seperti itu, kita akan dibuat kaget dengan pocong atau kuntilanak yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Ya, kita semua tahu, tokoh itu sengaja dibuat menunggu untuk dihampiri si pocong. Anehnya, kita tetep kaget!

image

Jreeeng! (dari Google lah, mau dari mana lagi)

Apa yang terjadi lebih ironis lagi. Kita, sebagai penonton, menunggu dengan penuh antusias dan sudi membayar beberapa persen dari gaji bulanan untuk melihat sesuatu keluar dari balik pohon, melompat, dan bikin pingsan seseorang yang sama-sama menunggunya dengan kita. Kebodohan saling tunggu ini jadi lingkaran setan. Rupanya menunggu bisa jadi bisnis. Produser film tahu betul apa yang kita tunggu. 

Ini namanya kecolongan. Kita mudah dijadikan bulan-bulanan karena menunggu. Lebih lagi, menunggu bisa jadi sangat merugikan. Bayangkan kerugian yang dialami si penunggu diatas tadi. Pertama, disamperin Pocong. Kedua, kaget. Ketiga, ndak dapat apa-apa, kecuali emang dia mau liat pocong.

Seorang dokter gizi pernah mengingatkan sesuatu 15 tahun lalu. Ia bilang: “Kalau kamu mau melakukannya, lakukanlah sekarang!” Ini berlaku umum. Bukan hanya untuk diet, tapi juga pekerjaan, bisnis, dan Pocong. Pemasaran yang baru membutuhkan lebih sedikit perencanaan dan lebih banyak interaksi. Lebih banyak sekarang dan lebih sedikit nanti. Ini soal kesempatan—yang kebanyakan ndak datang dua kali. 

Menunggu lalu Menunda
Apa yang bisa dibanggakan dari menunggu? Kesabaran. Lihatlah para pemancing ikan mujaer professional di Taman Mini. Mereka adalah para pemenang lomba menunggu yang paling dramatis. Hadiahnya, tingkat kesabaran yang tinggi plus sepiring makan malam mujaer balado. 

Terlalu kecil hasil yang didapatkan dari memperpanjang waktu tindakan. Kita seringnya menunggu lalu diikuti dengan menunda. Ini jadi kebiasaan. Dalam pekerjaan, ia mengecilkan nilai efisiensi. Dalam bisnis, ia menghapus peluang jadi besar. Di alam gaib, ia mendatangkan Pocong!

Kesempatan adalah Mukjizat
Keajaiban paling massif yang dimiliki manusia beruntung abad ini adalah kesempatan (untuk ndak menyebutkan anak Aburizal Bakrie). Alam menurunkan aneka peluang dalam kapasitas yang kecil. Saat kita kejatuhan satu diantara yang sedikit itu, hukumnya dosa kalau ndak segera bertindak. Jangan menunda. 

Tengok desktop anda sekarang. Ya, sebelah situ. Itu kertas apa? Anda sudah menundanya selama seminggu. Di layar ada satu tulisan yang sengaja dibiarkan atas nama ‘bukan saat yang tepat.’ Pilihannya cuma dua: sekarang atau lupakan! 

Boleh Menunggu, asal…
Anda tahu hasil akhirnya. Artinya, tahu pasti apa yang kita kerjakan. Kita paham betul visi dan pencapaian. Jangan jadikan menunda itu kegiatan yang sia-sia. Samsung tahu betul kenapa ia menunda mengeluarkan Galaxy S17 lima tahun dari sekarang. Ia memilih untuk mengeluarkan banyak turunan-turunan smart phone itu dalam rangkaian ponsel goblok, kurang pintar, agak pintar, dan-nantinya-jenius. Ia meraup lima kali lipat keuntungan daripada cuma mengeluarkan si jenius dalam sekali terjang. Menunggulah dengan cerdas.

Akhir Penundaan
Ini hampir bisa dipastikan dialami semua penunda. Akhir dari penundaan adalah penyesalan. Apapun bentuknya. Berapapun biayanya, penyesalan adalah bentuk lain dari kerugian. Tingkatnya kadang ndak terukur. Kerugian yang tak terukur hampir sama dengan bencana alam, tanyakan saja pada ahli keuangan. 

Baiklah, anda tidak merasa rugi bertemu dengan pocong. Anda juga rela membayar pertemuan itu–belum termasuk biaya popcorn dan soda. Padahal anda sudah melepaskan satu kesempatan besar dengan biaya rendah: berinteraksi dengan pocong. Menunggulah dengan cerdas—di kuburan. Peluang untuk jadi besar adalah ketika anda memenangkan interaksi dan menarik tali pocong diatasnya. Lalu menggunakannya untuk jaminan kekayaan. Sayangnya, peluang untuk penyesalan masih terbuka lebar di sini: Pocong menagih imbalannya—who doesn’t? 

Maka, angkat telepon atau tulislah sebuah kalimat atau desainlah halaman itu segera. Menunda sampai nanti percuma saja!

Tunggu dulu!…

Betul kan. Anda tidak mematuhi perintah untuk menunggu. Anda tetap meneruskan bacaan ini. Satu lagi keanehan dari menunggu. Ia akan hilang kalau dalam kalimat perintah.

Setahun Sekali

Tiga hari lagi, umat Nasrani akan merayakan hari Natal. Tujuh hari kemudian, dunia akan merayakan pergantian tahun. Kedua hari besar tersebut dipenuhi dengan harapan. Hari Natal  dipenuhi dengan harapan abadi akan perdamaian dunia. Dan malam Tahun Baru yang dipenuhi dengan harapan akan kehidupan yang lebih baik.

Harapan adalah api abadi yang menyemangati hidup. Memberikan alasan untuk bangun dari tidur setiap pagi. Menggerakkan kaki melangkah untuk mencapai tujuan dan tangan untuk bekerja dan berkarya. Harapan adalah energi dahsyat yang bisa membuat Bandung Bondowoso membangun seribu candi. Menguatkan Suciwati Munir selama delapan tahun berdiri di depan Istana Negara setiap hari Kamis. Dan menjadi semangat ribuan anak muda mengantri untuk membeli tiket konser Suju.

Harapan memiliki sisi balik bernama Kekecewaan. Saat harapan tak tercapai, segala perjuangan terasa sia-sia dan sering disertai dengan kemarahan dan kesedihan. Tuhan pun diharapkan hadir setiap saat. Berdoa saat berharap di awal, dan berdoa lagi saat kebahagiaan atau kekecewaan di ujung. Di mana Tuhan berpihak saat ada dua harapan pada kedua kubu, menjadi misteri abadi. Untuk kemudian disebut takdir.

Keluarga Ade Sara tentu berharap Ahmad Imam Al Hafitd dan Assyifah Anggraini dihukum seberat-beratnya. Sebaliknya, keluarga Ahmad Imam Al Hafitd dan Assyifah Anggraini berharap hukuman seringan-ringannya. Korban Lapindo tentu berharap ganti rugi sebesar-besarnya. Sementara Lapindo berharap tidak perlu ganti rugi. Petani cabe tentu berharap harga cabe yang tinggi dengan daya beli tinggi, sementara pedagang sambal berharap harga cabe serendah mungkin agar bisa untung lebih besar. Indonesia berharap dolar Amerika serendah-rendahnya, dan Amerika berharap tetap menjadi negara Adi Kuasa.

Tuhan bagaikan Hakim Agung yang diharuskan bisa memberikan jawaban seadil-adilnya akan harapan umat manusia. Manusia berusaha, Tuhan menentukan. Dan kalau belum puas dengan keputusan Tuhan, buat sebagian manusia, masih ada kekuatan ilmu lain. Cinta ditolak, Dukun bertindak. KPK mendatangi, Tuyul menghalangi. Bisnis gagal, Santet menyelamatkan.

Maria yang sedang hamil tua, naik keledai dituntun suaminya Yosep mencari penginapan. Namun tak satu pun yang mau membukakan pintunya karena mereka miskin. Sampai akhirnya Maria melahirkan bayi Yesus di kandang domba. Ini adalah dongeng dahsyat tulisan manusia yang melintasi ruang dan waktu. “Sesungguhnya, tidak seorang pun yang tahu kapan persisnya Yesus dari Nazaret dilahirkan ke dunia ini. Tidak ada suatu Akta Kelahiran zaman kuno yang menyatakan dan membuktikan kapan dia dilahirkan. Tidak ada seorang saksi hidup yang bisa ditanyai” – Ioanes Rakhmat

Kelahiran bayi Yesus, disimbolkan sebagai pembawa harapan akan terang. Cahaya di ujung lorong gelap. Pembawa damai diantara perseteruan manusia. Sang Sejahtera yang akan menyelamatkan dunia dari kemiskinan. Sang Waktu yang akan memberikan usia lebih panjang di dunia. Raja Cinta yang akan mendekatkan setiap insan dengan pasangan hidupnya. Peace on earth, seruan doa dunia di malam Natal berabad lamanya.

Dunia menaruh harapan pada dongeng? Pada khayalan penulisnya? Yesus diperlakukan setara dengan Dukun, Tuyul dan Santet? Bahkan di cerita kelahiran Yesus, ada kehadiran Tiga Raja dari Timur yang membawa dupa, mas dan mur. Yang bukan tidak mungkin dimaksudkan sebagai simbol dari sogokan untuk memenuhi harapan manusia di dunia.

Kandang domba tempat Yesus dilahirkan, ditafsirkan sebagai tempat yang kotor dan hina. Mencerminkan sifat manusia yang tidak ingin dekat dengan kemiskinan materi. Takut miskin. Membimbing manusia untuk menjadi materialistik. Padahal bisa saja diceritakan kandang domba adalah tempat di mana sinar jutaan bintang bisa masuk ke dalamnya melalui atap jerami, menjadikannya tempat termewah dan terberkati di dunia.

Bintang di atas palungan, yang disimbolkan sebagai penunjuk arah bagi manusia yang mencari terang. Sehingga saat kegelapan datang, menjadi menakutkan. Kegelapan dinilai sebagai keterpurukan, hukuman, ketidakhadiran Tuhan, Sang Cahaya Abadi. Padahal, bagaimana mungkin kita memahami terang tanpa kehadiran gelap. Terang dan gelap, saling membutuhkan dan saling memuliakan.

Cerita ini dilatar belakangi kejadian di tahun 8-4 SM. Berabad kemudian, sifat manusia belum berubah. Inilah mungkin yang menjadikan dongeng kisah malam Natal, abadi. Relevan. Menyentuh. Setahun sekali.

kelahiran-yesus

 

Selamat Pagi, Selamat Bermimpi

Sudah saatnya kata-kata yang mandul kita hamili; yang pesolek ngapain dicolek, toh lama-lama kehabisan molek. Sudah saatnya kata-kata yang lapuk diberi birahi. Supaya sepi bertunas kembali, supaya tumbuh dan berbuah lagi.  [Sajak ‘Sudah Saatnya’ – Joko Pinurbo]”

Ketika blog rame-rame ini hadir, para penulisnya tidak memiliki dugaaan apa-apa soal mau kemana blog ini mampir dan berakhir. Awalnya sederhana: Saya ingin onani, bukan hanya di sudut kamar mandi, namun juga di hadapan publik. Menulis sesuai selera saya sendiri. Suka tidak suka, pembaca silakan nilai sendiri. Toh saya sudah puas dengan ritual saya menyetubuhi hasrat, pikiran, gairah dan menuangkannya dalam tiap baris postingan. Celakanya saya tidak mau melakukannya sendirian. Saya mengajak banyak kawan.  Maka sejak 24 Agustus tahun ini, saya dan kami, dengan caranya masing-masing, tidak memilih berorasi. Kami pilih jalan lain. Onani dengan hati.

“Aku menyadari sepenuhnya bahwa aku tidak lebih dari sebuah mesin pembuat buku.” — Chateaubriand.

Waktu bergulir. Hampir genap empat bulan kami, setiap pagi, dengan menggunakan medium yang lain,  seperti mesin pembuat tulisan. Tanpa jeda. Apakah kami terjebak dari kegiatan memuaskan diri sendiri menjadi mesin pembuat cerita? Seharusnya tidak. Rutinitas yang kami pilih sendiri seharusnya menyenangkan dan tidak memberatkan. Bosan tentu saja, tapi bosan yang ngangenin. Bosan yang bikin kami kecanduan. Kami malah begitu gelisah, para rekan pembaca setia linimasa mulai jengah dan mual dengan riak, ombak, dan guyuran hujan kata-kata kami. Oleh karena itu mari dimulai dengan kata “kita”. Kami dan Anda, yang melebur dalam satu nasib sepenanggungan.

Kita.

Anggap saja kita adalah saudara. Satu ayah satu ibu. Hanya beda kelamin saja.

On n’peut pas et’ plus proch’ parents / que frere et soeur assurement

“Ndak ada rasa kekeluargaan yang lebih erat daripada antara saudara laki dan perempuan.” [les mots-1964]

lirik ini adalah lagu yang sering disenandungkan Charles Schweitzer, kakek Jean-Paul Sartre ketika Jean masih imut.

Tapi rasa-rasanya ini tepat kita usung, biar ndak cepat bosan. Jika Anda lelaki, anggap saja penulis linimasa ini adik perempuan yang sedang belajar menulis diari. Jika Anda perempuan, anggap saja kami ini adik lelaki yang sedang belajar menulis surat cinta.

Bahkan kami sendiri pun, penulis linimasa, terbagi dalam beberapa kategori. Glenn Marsalim dan Gandrasta Bangko itu agar lebih mudah dimengerti,  dibayangkan saja bagai dua emak-emak yang sedang berdiri menawar sayur-mayur depan komplek rumah, sembari menggosip kesana-kemari sembari membunuh waktu menunggu para suami pulang. Obrolannya tidak jauh dari soal ancaman harga cabe yang meroket, ancaman keberadaan tetangga baru yang ternyata janda, juga soal keluhan  bengalnya anak-anak zaman sekarang, yang jika dimintakan tolong susahnya setengah mati, tapi ketika ada maunya, anak-anak itu siap dijadikan hamba sahaya.

Bagaimana dengan Dragono Halim. Dia anak sulung. Anak mahasiswa yang lebih suka tidur di kampus daripada pulang ke kos-kosan. Hidupnya penuh energi. Tapi anak sulung yang baik. Tenang, pembawaannya menentramkan. Mengasuh adik-adiknya yang hilang arah. Sekalinya pulang ke rumah, dia tidak lupa membawa oleh-oleh buat orang tua dan adik-adiknya. Sayangnya oleh-olehnya selalu saja tak kasat mata. Cerita tentang dunia kampus, hiruk pikuk pergerakan, dengan buih putih di sudut bibirnya.

Lalu apa kabar dengan Agun Wiriadisasra. Ini anak kedua. Ndak mau sekolah. Maunya main gadget muluk. Bangga dengan gelang DWP dan ndak mau dilepasnya hingga Lenny Kravitz manggung tahun depan. Bicara hal baru. bahkan sebelum hal itu ada. Dia bicara, lantas para penemu dan insan kreatif sibuk mewujudkan hal-hal yang baru saja dibicarakannya.

Nauval Yazid adalah adik bungsu. Dia memiliki sedikit masalah. Namun masalahnya agak-agak gawat. Hal yang paling dirisaukan adalah  soal orientasi seksualnya. Dia bingung antara memilih menjadi pacar aktor ternama atau petinju amatir. Dia pusing ingin ikut terkenal atau ingin didekap dengan otot-otot dan ornamen urat menjalar disekelilingnya. Ibunya, Glenn Marsalim sering memarahinya. Ibunya selalu pusing tujuh keliling. Tapi apa daya, akal anak jauh lebih banyak daripada Ibunya. Wajar tanpa pengecualian.

Sedangkan Roy Sayur ini figur bapak yang sering salah masuk kamar antara kamar istrinya, Nyonya Glenn Marsalim atau ke bilik pembantu rumahnya, Zus Farah Dompas. Kesalahan terbesar dari Nyonya Glenn adalah merekrut mantan pekerja NGO yang memperjuangkan nasib TKW untuk menjadi pembantu rumah tangganya. Lebih sering membaca buku daripada menyapu. Lebih sering menonton berita daripada menyetrika.

Roy Sayur ternyata lebih sering salah mampir, tanpa sengaja. Mengendap masuk ke halaman belakang. Menggoda penghuni kos-kosan mahasiswi milik Ibu Gandrasta.

Tapi ya sudahlah. Bukankah setiap keluarga punya problematikanya masing-masing. Jangan pikirkan apa yang menjadi masalah kami. Kita memikirkan tentang kita saja.

Banyak yang bertanya mengapa tagline linimasa adalah “karena internet butuh lebih banyak hati”.  Ini sebetulnya gaya-gayaan saja. Tanpa makna tersembunyi dan mengusung nilai-nilai luhur. Toh kami ini apa? Hanya kaum borjuis ibukota, baik ibukota negara, provinsi maupun penghuni sementara pelosok Kanada.

Kami ingin simpel seperti pengakuan pariyem. Kami ingin sederhana seperti sepetak meja dengan berbagai pilihan kolesterol di atasnya. Gerak langkah akal itu membosankan. Menulis dengan tumpuan hati seperti menarik bagi kesehatan kami. Tidak lagi jemari, tapi qalbu hati yang menekan tuts hape atau kibor komputer kami.

Bukankah persepsi hati akan jauh lebih kaya jika sekadar akal dan intelektual? Persepsi akal akan butuh banyak bantuan perantara dalam mengenal objeknya, seperti huruf, konsep, atau representasi. Sedangkan kami tidak mau repot dengan soal itu. Hati adalah soal intuisi, yang langsung menembus objeknya. Ketergantungan pada “perantara”, yang disebut Bergson sebagai “simbolisme’ akan berputar-putar sibuk bicara media. Bicara mak comblangnya. kami ndak mau ba-bi-bu. kami ingin langsung menusuk, eh ralat: Kita. Kita ingin membicarakan langsung soal “jantungnya”.  Akal akan sulit bicara realitas yang sejati.

Bagi seorang Rumi, akal, dengan logika sebagai andalannya ibarat kaki palsu yang terbuat dari kayu. Dan kita tahu, selemah-lemahnya kaki adalah kaki palsu, apalagi terbuat dari kayu.

Cinta, misalnya, sulit dipahami oleh akal diskursif, berapapun buku teori cinta kita baca, kita ulangi dan coba kita pelajari. Cinta hanya dapat dipahami dengan “mengalami”. Inilah yang disebut pengenalan langsung secara intuitif. Dengan hati. Mengenali sesuatu tanpa berjarak, tapi mendekap erat. Objek yang hadir dalam subyek.

Kita tak hanya ingin berkenalan dengan wajah. Kami juga ingin berkenalan dengan hati.

Boleh?

Bagaimana dengan kritik Moralizing Wasaising. Blog ini terlalu chicken soup. Muatan moralnya seperti kepala sekolah yang menasihati siswi kesusteran.

Kami tak membantahnya. Kita bicara apa adanya.

Seorang sahabat Kanjeng Nabi memuji seorang saleh.

“Mengapa ia kau sebut sangat saleh?”– Gusti Kanjeng Nabi bertanya.

“Soalnya tiap saya masuk masjid ini dia sudah salat dengan khusyuk dan tiap saya sudah pulang, dia masih saja khusyuk berdoa.”

“Lalu siapa yang memberinya makan minum?” Kanjeng Nabi bertanya lagi.

“Kakaknya”, jawab sahabat.

“Kakaknya itulah yang layak disebut saleh”.- ujar Kanjeng Nabi.

Sahabat itu diam.

Apakah kisah diatas adalah soal moralizing wasaising? entahlah.

Sekarang sabtu pagi jelang natal, waktunya kita menarik selimut dan tidur lagi. Sebelum tidur, seperti biasa izinkan  saya bacakan sepenggal Abdul Hadi W.M.

Bawakan aku sebutir embun semalam 

membuat bunga itu bermimpi.

Selamat pagi, selamat bermimpi.

Tentang Jilbab

Henrietta Edwards' 165th Birthday

Tadi pagi saya kaget melihat Google Doodle ini. Rupanya hari ini Henrietta Edwards berulang tahun yang ke-165. Beliau ini salah satu tokoh utama perjuangan hak-hak perempuan di Amerika Utara, khususnya Canada.


Ngomong-ngomong soal perempuan, saya jadi ingat, beberapa hari lalu saya menonton film asing yang premisnya begitu menarik dan menggelitik. Judulnya The Source (La Source Des Femmes).
Mengambil tempat di wilayah utara Afrika, ada sebuah desa kecil yang daerahnya begitu tandus dan berbatu-batu. Karena mereka masih hidup dalam budaya Muslim yang begitu kental, maka para perempuan di desa ini diwajibkan untuk mengurus rumah. Mulai dari memasak, mengurus anak, sampai ke mengambil air bersih yang jaraknya berkilo-kilo meter dari desa.

La-source-des-femmes-poster
Karena jalannya begitu terjal dan menanjak, tak jarang para perempuan ini jatuh hingga menyebabkan keguguran. Ke mana para pria desa ini? Ada, tapi setiap hari mereka hanya sibuk minum teh dan ngobrol-ngobrol. Dan akhirnya, karena muak melihat para pria yang begitu malas dan mengatasnamakan agama, para perempuan di desa ini pun punya ide brilian. Mereka sepakat untuk melakukan mogok massal. Mogok untuk bersetubuh dengan para suami, sampai mereka mau membantu para istri membangun saluran air ke desanya.

Tentu saja jalan untuk meyakinkan para suami ini tidak mudah. Ada satu adegan yang dialognya sangat membekas di kepala. Waktu itu ada seorang anak laki-laki yang begitu soleh, beliau memengaruhi pria-pria lain di desa itu agar semua perempuan mengenakan jilbab. Sang ibu yang sudah paruh baya pun sontak marah dan berkata kalau pada awalnya anjuran berjilbab itu untuk membedakan perempuan terhormat dan perempuan budak, tapi karena saat ini sudah tidak ada perbudakan, ya ngapain pake jilbab?

Argumen sang ibu ini benar. Mungkin ada yang belum tau, tapi budaya berjilbab untuk perempuan memang bukan budaya bawaan Islam.


Dulu, sekitar abad 13 BC, jilbab hanya boleh digunakan para perempuan ningrat di Assyiria. Perempuan kebanyakan dan para pekerja seks dilarang mengenakan jilbab. Begitu juga halnya di masa Mesopotamia, Iberian Peninsula, juga Yunani dan Romawi Kuno. Para perempuan di jaman itu digambarkan mengenakan pakaian serupa jilbab yang menutupi bagian kepala dan wajah. Pada waktu itu jilbab menunjukkan status dan strata sosial, gak semua orang bisa punya privilege untuk menutupi wajah dan kepalanya.

Digambar oleh: Malcolm Evans

Digambar oleh: Malcolm Evans

Menurut Leila Ahmed, seorang pakar Islam kontemporer dari Mesir, anjuran untuk berjilbab bagi perempuan Muslim justru datangnya bukan dari Muhammad SAW. Pada masa itu, jilbab sudah banyak digunakan oleh perempuan Palestina dan Syria. Kemudian karena mereka hidup berpindah-pindah dan berdagang, maka budaya mengenakan jilbab inipun semakin meluas.

Dan anjuran untuk mengenakan Jilbab untuk istri-istri Muhammad SAW (QS 33:33) pun jadi kewajiban moral karena kedudukan sosial mereka yang berbeda dari perempuan lainnya di masa itu. Para ahli sejarah berpendapat kalau, di era Muhammad, jilbab digunakan untuk membedakan perempuan Muslim dari perempuan Pagan dan budak.

Perlukah berjilbab? Jilbab yang benar itu bagaimana? Kenapa jilbab jadi sebuah keharusan padahal jaman perbudakan sudah gak ada lagi? Kalau urusannya sudah menyangkut fiqh dan yurisprudensi Islam, saya nyerah. Gak berani jawab. Saya cuma berani menjawab dari pendekatan sejarah dan budaya saja. Tapi, ada tulisan menarik tentang ini. Ditulis oleh KH. Husein Muhammad, seorang ulama yang juga feminis.

Tentu saja, kalau soal jilbab, jawaban setiap orang pasti berbeda.
Ada yang memutuskan untuk langsung berjilbab karena kewajiban, ada yang bilang mau menjilbabkan hatinya dulu. Ada yang hanya menutup kepala dan membiarkan leher terbuka (seperti yang dilakukan nenek saya dan nenek-nenek lainnya), ada jilboobs, ada juga yang berjilbab syar’i. Bebas. Pilihan masing-masing.
Tapi yang jadi masalah adalah ketika sekelompok perempuan yang sudah mengenakan jilbab sesuai syariat yang mereka percayai, malah merendahkan perempuan lain yang tidak seperti mereka. Atau sebaliknya. Ya ndak?