HOMOSEXUALIS[LA]M pt. 4

“Katakan, Sayangku, siapakah lelaki yang paling berkuasa di negeri ini? Adakah yang lebih kuat dan hebat dariku?”

“Ada. Bukan kau.” jawab sang kekasih dengan tenang.

Ia pun terperanjat. Kaget. Ia tak mungkin tertandingi. “katakan, siapakah dia?”

“Aku.”

“Kamu..? Tapi… Bagaimana mungkin kamu bisa lebih berkuasa dariku?”

“Aku tidak mengerti..”

“Iya. Kamu memang penguasa terhebat negeri ini, tak ada raja yang lebih berani darimu. Tapi, kamu dikuasai hatimu, Sayangku. Dan aku, akulah penguasa hatimu.”


Ilustrasi Mahmud Ghazni dan Malik Ayaz. Digambar oleh Ryan Grant Long
Ilustrasi Mahmud Ghazni dan Malik Ayaz. Digambar oleh Ryan Grant Long

Abad 8 masehi. Islam sedang jaya-jayanya. Abbasiyyah berhasil merebut hampir semua wilayah jajahan Umayyah. Hanya menyisakan Al Andalus. Mereka lalu membuat pasukan elit dan merekrut para budak keturunan Turki. Mamluk. Terkenal paling piawai di medan perang, tidak pernah tidak menang.

Wilayah kekuasaan Abbasiyyah pun semakin meluas. Dan, konsekuensinya, Islam pun semakin menyebar. Dan pada abad ke-10 akhirnya bisa memasuki wilayah India. Si Mahmud yang keturunan Mamluk akhirnya berhasil menaklukkan Ghazni. Jadilah ia ‘Sultan’ pertama dalam sejarah Islam.

Gak puas hanya jadi raja kecil di Ghazni, Mahmud pun terus berambisi menaklukkan daerah-daerah lain. Akhirnya wilayah Iran, Turkmenistan, Uzbekiztan, Kyrgyzstan, Pakistan, dan juga wilayah utara India semua masuk jadi wilayah kekuasaanya. Siapa yang tak kenal mahmud. Bagi rakyatnya, ia dianggap seorang patron sastra dan seni. Mahmud dipuja puji. Punya sembilan istri. Lusinan selir.

Tapi ke-sembilan istri dan lusinan selir tadi tidak ada yang bisa mengambil tempat paling spesial di hati Mahmud, padahal, hasil perkenthuannya sudah menghasilkan lebih dari lima puluh anak. Cintanya hanya untuk Ayaz.

Ayaz tidak rupawan. Wajahnya biasa saja. Kulitnya gelap. Seperti buah zaitun, katanya. Apalagi ia hanya seorang budak hasil rampasan. Tapi cinta Mahmud begitu tulus. Bahkan, di dalam cerita para sufi, kisah cinta antara Mahmud dan Ayaz ini dijadikan contoh ‘Ishq. Sebuah perasaan kasih yang begitu dalam, sampai-sampai bisa mengalahkan ego. Pengejawantahan cinta yang paling sempurna.

Rakyat bingung. Seorang sultan yang paling hebat justru melupakan para istri dan selirnya dan lebih memilih Ayaz. Udahlah mukanya biasa aja, cowok pula. Ada satu pujangga terkenal yang menulis tentang mereka. Kalau diterjemahkan seperti ini: “Bagaimana mungkin seorang burung bulbul (nightingale) lebih memilih mawar yang sudah tidak berbau, tidak juga memiliki warna yang indah?”

Namanya juga cinta. Susah dimengerti. Malik Ayaz jadi orang kepercayaan si sultan. Gak cuma soal hati, tapi juga soal pemerintahan. karirnya semakin lama semakin menanjak. Mulai dari prajurit, diangkat jadi panglima, dan akhirnya ia dihadiahi wilayahnya sendiri. Lahore. Di bawah pemerintahan Ayaz, Lahore yang tadinya porak-poranda karena perang menjadi begitu maju.

Dan pada suatu hari, ketika Mahmud sedang berdua-duaan dengan kekasihnya, Ayaz, ia bertanya:

“Katakan, Sayangku, siapakah lelaki yang paling berkuasa di negeri ini? Adakah yang lebih kuat dan hebat dariku?”

Puisi tentang Mahmud Ghazni dan Malik Ayaz

(bersambung)

(Baca cerita sebelumnya di sini.)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s