HOMOSEXUALIS[LA]M pt. 3

(sambungan dari Part 1 & Part 2)

Ruangan besar itu begitu lengang. Hanya ada dua kursi yang saling berhadapan dan dipisahkan sebuah meja. Lelaki itu bernama Amir. Di depannya duduk seorang panglima Taliban. Berjubah putih, sorban yang sewarna, dan janggut yang panjang melewati dagu. Mereka tidak saling berbicara. Di dekat pintu ada seorang penjaga yang berdiri tegap dengan senapan di punggungnya.

Tak berapa lama pintu pun dibuka. Suara musik serta-merta menghambur ruangan. Disusul derap-derap langkah. Seorang lelaki yang juga berjanggut, bersorban, dan bersenapan berjalan masuk. Ia menjinjing radio player usang. Di belakangnya terlihat seorang anak kecil. Sohrab namanya. Gemerincing gelang-gelang di kakinya melengkapi musik yang mengalun.

Sohrab memasuki ruangan sambil menari. Berjinjit lalu berputar. Begitu gemulai. Badannya berbalut kain sutera warna biru tua. Wajahnya yang halus dan matanya yang lebar dibingkai maskara dan celak warna hitam. Rautnya murung. Dua orang penjaga bersenapan tadi terus bertepuk tangan, seolah memaksa Sohrab untuk terus menari.

Amir mengalihkan pandangannya. Ia tidak tahan. Anak lelaki yang dipaksa menari ini keponakannya.

***

Cerita di atas adalah sepenggal adegan dari film The Kite Runner. Film adaptasi dari buku berjudul sama karangan Khaled Hosseini.


Bacha Bazi di awal tahun 1900an
Bacha Bazi di awal tahun 1900an

Bacha Bazi berasal dari bahasa Persia, Baacheh Baazi. Simpelnya, mereka adalah anak laki-laki penghibur. Ini merupakan tradisi Afghanistan yang sudah berumur ratusan tahun. Katanya, sih, adaptasi dari kebudayaan Persia Kuno dan Romawi.

Para lelaki Taliban mengambil anak-anak lelaki yatim piatu atau mereka yang dari keluarga tak mampu untuk didandani seperti perempuan. Mereka dijual bak budak. Dipaksa menari dan benyanyi di depan puluhan lelaki dengan iring-iringan musik. Untuk menghibur hati dan juga pemuas hasrat seksual.

Bacha merupakan symbol kekayaan dan kekuasaan laki-laki Taliban. Semakin manis rupa, semakin halus kulit, semakin lentik jemari ketika menari, maka semakin tinggi pula status sosial sang tuan.

Biasanya para “tuan” ini memiliki lebih dari satu Bacha dengan rentang umur yang bervariasi. Rata-rata usia 8-17 tahun. Dan sudah “aturan main”-nya ketika para Bacha ini beranjak dewasa, biasanya mereka juga membeli anak-anak lelaki untuk dijadikan Baacha Bazi. Begitu seterusnya. Kalau mereka coba kabur, anak-anak ini akan dipukuli bahkan tak jarang dibunuh.


Sangat ironis. Untuk negara yang sudah jelas-jelas menyandang cap ‘homophobic’ dan dengan tegas menjalankan memaksakan hukum Shariah, Bacha Bazi yang merupakan konsep jaman batu ini justru tumbuh begitu subur. Memang, pada praktiknya hal ini illegal. Tapi karena para tuan ini adalah orang-orang yang berkuasa, jadi kebiasaan ini tetap dijalankan.

Satu pasal di undang-undang Taliban bahkan menyatakan “Mujahiddin dilarang membawa anak laki-laki tanpa ‘facial hair’ ikut masuk ke dalam kamar-kamar pribadi mereka.”
Ironis, kan? Kelompok fundamentalis Islam garis keras bahkan merasa perlu secara spesifik mencantumkan ini ke dalam undang-undang mereka.

Sepertinya memang praktik ini sudah jadi rahasia umum dan diterima secara diam-diam, sekeras apaapun hukum syariah yang dijalankan. Sampai-sampai ada perumpamaan seperti ini: “Ketika seekor burung terbang melintasi Kandahar, ia hanya mengepakkan satu sayap. Satu untuk terbang, sedang yang satu lagi untuk menutupi bokongnya.”

(bersambung)

2 thoughts on “HOMOSEXUALIS[LA]M pt. 3 Leave a comment

  1. budaya yang telah mengakar lebih dahulu sulit dihilangkan dan dibongkar sama sekali… dibanding dengan pata rasul sebelum nabi Muhammad, mabi saw lebih berhasil. umat dulu ada yang membunuh nabinya, mengusir dan akhirnya mereka dibinasakan-Nya diganti dengan umat lain….

Leave a Reply