Fantasiku, Tuhanku

Dunia berputar mengikuti aku dan bukan sebaliknya. Semua ku atur semauku. Bahkan dalam urusan rasa. Cinta.

Selalu ada seseorang dalam hatiku, dan aku tidak pernah tahu apakah aku ada dalam hatinya. Dan aku tidak peduli. Ini hak aku untuk mencintainya. Bahkan menginginkannya. Hak aku pula untuk membawanya ke dalam hidupku. Dan dia tak bisa protes. Aku bahkan bisa membawanya ke dalam mimpi semauku. Aku tak peduli apakah dia suka atau tidak. Ini adalah mimpiku sendiri. Ini adalah fantasiku.

Fantasiku yang telah menafkahi hidupku selama belasan tahun. Imajinasiku yang telah menjadikan masa kecil di kamar tidur lembab dan sempit, menjadi lebih luas dari dunia. Melambung tinggi ke angkasa dan menari di Pluto atau terhempas ke dasar sumur terdalam di bumi, aku yang mengatur. Dalam duniaku ini, hanya ada satu Tuhan: Fantasiku.

Suara penyiar radio, misalnya. Pernah memenuhi hatiku yang masih perawan, sampai membuat aku kepayang. Suara serak-serak dan dalam seolah menghadirkan dirinya dan hidup bersamaku. Seperti pacar.

Rambutnya cepak? Ah sepertinya gondrong. Berkumis pasti. Badannya tidak berotot tapi cukup gempal. Pas untuk aku genggam saat tubuhnya ada di atas tubuhku. Suaranya yang dalam serak, pasti membangkitkan semua pori-pori dalam tubuhku ketika dia menghentakkan tubuhnya masuk ke dalam tubuhku.

Ah, hari ini dia absen siaran. Pastilah ada urusan yang lebih penting dari pekerjaannya. Mengurus ibunya bisa jadi alternatif yang seksi. Setiap malam ketika dia berpamitan dari ruang siaran, mengucapkan selamat malam dengan nada yang hangat, aku yakini hanya untuk aku seorang. Bukan untuk jutaan pendengarnya. Karena fantasiku tau, dia pun mencintai dan menginginkan aku.

Apakah suaranya membuatku ingin menemuinya? Mengkonfirmasi fantasiku? Untuk apa! Ini adalah urusanku. Dia tak perlu tau. Yang aku butuhkan darinya hanyalah suaranya. Suara yang memberikan nafas bagi tumbuh kembang fantasiku. Bukan kehadirannya. Karena kahadiran lebih sering merampas fantasiku. Kalaupun harus pergi, ijinkan aku lah yang mengusirnya.

Serunya lagi, ketika aku bosan padanya, ada tombol power off. Suaranya bisa kuhentikan kapan pun aku mau. Seandainya manusia bisa diperlakukan seperti ini, alangkah indahnya duniaku. Ada hanya saat aku butuhkan. Pergi saat aku tak inginkan. Cinta? Bagiku iya.

Bukankah cinta adalah soal rasa? Murni tanpa intervensi indera yang lain? Itu definisiku.

Fantasiku ini benar-benar maha daya. Melintasi ruang dan waktu. Melintasi zaman. Dari suara radio, tulisan sahabat pena, penyiar televisi, bahkan bintang film yang kuyakini sedang berlakon, tak aku pedulikan. Fantasiku mengenai dirinya adalah realitasku.

Saat orang lain baru termehek-mehek membaca tweet-tweet orang pujaannya, fantasiku sudah membawa orang itu hidup dalam hidupku. Dan tak jarang memasukkannya dalam hatiku. Membuka timelinenya setiap saat aku merindukannya. Untuk kemudian membayangkan seperti apa orangnya. Kepribadiannya, kebiasaannya, hobinya, rutinitasnya. Aku tak suka melihat foto wajahnya. Karena itu akan mengobrak abrik fantasiku tentang dirinya. Tapi sedikit tweetpic bagian tubuhnya, lebih membuka lebar imajinasiku. Makanya, aku tak begitu suka dengan acara kopi darat, atau dulu sering disebut Tweet Up. Karena lebih sering kecewanya. Yah gitu doang bo… Drop shaaay.

Sampai suatu waktu, ada sebuah akun twitter yang sepertinya bisa membaca kebiasaanku ini, aku mati kutu. Semua profil dirinya disembunyikan rapat-rapat. Hanya pernah tweetpic lengannya saat mendonasikan darahnya. Dia seperti hendak berkomunikasi denganku. Tweet kami bersahut-sahutan. Kadang biasa-biasa saja, tapi lebih sering mesranya.

Akun ini bangsat! Dia terlalu tahu bahwa aku sedang membangun fantasiku tentang dirinya. Satu tweet darinya adalah satu bata darinya untuk aku letakkan sehingga akhirnya tersusun. Dan satu tweet darinya pula, kadang menghancurkan batu bata yang telah aku susun rapih. Kecewakah aku? Sakit hatikah aku? Yang ada malah aku semakin bersemangat untuk membangunnya kembali. Aku dijadikannya budak oleh fantasiku tentang dirinya.

Posisi tidak berimbang. Karena dia dengan mudah menemukan seperti apa wujud rupaku, pekerjaanku, kebiasaanku bahkan jenis kelaminku. “Pengen fotoin kamu supaya punya foto lain untuk kamu pajang di internet” tweetnya suatu waktu. Saat itulah aku dipaksa menerima kekalahanku. Jujur, aku sempet berusaha untuk mengetahui siapa dirinya. Aku yakin dia juga tau itu. Tapi yang sangat mungkin dia tidak ketahui, bahwa usaha itu aku hentikan tak lama setelah dimulai. Untuk sebuah alasan sederhana, aku tak ingin tahu siapa dia sebenarnya. Aku mengambil keuntungan dari ketidak tahuanku tentang dirinya. Berupa kebebasan untuk membentuk angan.

Seperti tanah liat yang bisa kubentuk seenak hatiku. Dan sepertinya dia menikmati itu. Dia sering mentertawakan aku ketika kusodorkan hasil bentukan tanah liatku kepadanya. Tidak pernah dibenarkan. Tak jarang disalahkan.

Hubungan maya kami pun berkembang. Dia punya blog yang dia update secara berkala. Seolah hendak membuka dirinya perlahan-lahan. Aku sok cool. Kurang suka untuk bikin dia GR. Tapi toh apa yang ada di fantasiku adalah hak mutlak milikku.

Bahwa paragraf pertama tulisannya, bagaikan hembusan nafasnya di balik telingaku. Yang membangunkan setiap pori-pori tubuhku untuk bersiap dijelajahi. Satu kata yang ditulisnya, satu kancing bajuku lepas. Tanda seru pertama yang ditulisnya seperti melucuti kancing kait kutangku. Setiap titik pada tulisannya, seperti setitik peluh dari wajahnya yang jatuh tepat di putingku. Dingin dan lebih sensitif. Siap untuk dilahapnya. Kalimat demi kalimat adalah lumatan lidahnya di sekujur tubuhku. Penekanan kalimat kuhayati sebagai tekanan tangannya yang kekar agar tubuh kita semakin menyatu. Menulis baginya adalah orgasme intelektual dan kesenian. Bagiku adalah orgasme yang sesungguhnya.

Hanya di akhir tulisannya baru aku ijinkan diriku sendiri untuk sadar. Tuh kan, aku bukan perempuaaan…

0544563317cf231e84b97bb4548cc5dd

Unyu.

 

Advertisements

Kata-Kata Kota Kita

Orhan Parmuk, peraih nobel sastra tahun 2006, pernah menulis kenangannya tentang sebuah kota: Istanbul.  Dalam “Istanbul: Memories and the city”, Parmuk mengenang masa kecilnya yang liar dan penuh fantasi. Kota dengan dua jantung kenangan: Asia dan Eropa yang terpisah selat Bosphorus. Kenangan yang melankolik dengan gaya eropa. “I belong this city“, katanya.

dari nytimes

dari nytimes

Begitupun dengan penulis lainnya. Charles Dicken jatuh cinta pada kota tempatnya lahir, London. James Joyce dengan kota Dublin. Jorge Louis Borges mengenang Buenos Aires, dan penulis Mesir, Naguib Mahfouz dengan kota Kairo.

Walaupun sebagian dari kita lahir di desa, tapi istilah “kota kelahiran” pasti dimiliki masing-masing dari kita.

Saya senang sekali mengganti kata “georgia” dalam lagu “Georgia On My Mind” menjadi “jogja”, dan menyanyikannya.

Jogja, Jogja
The whole day through
Just an old sweet song
Keeps Jogja on my mind

I said a Jogja, Jogja
A song of you
Comes as sweet and clear
As moonlight through the pines

Lagu ini, siapapun yang menyanyikannya, baik Ray Charles, Willie Nelson atau Annie Lennox, membuktikan betapa  getas perasaan kita pada sebuah kota. Apa sih arti kota bagi seorang anak manusia?

Saat menulis tulisan kali ini, saya sedang berada di Kota Jogja. Bagi saya, Jogja tidak membuat jatuh hati sedemikian rupa. Biasa saja. Suka sih suka. Tapi biasa. Ndak nemen. Walau begitu, kota Jogja adalah kota dimana pertama kalinya saya jauh dari orang tua. Kuliah dan belajar hidup mandiri.

Kota apa yang paling saya sukai?

Cirebon.

Kota Cirebon adalah kota kelahiran saya.

pelabuhan cirebon

pelabuhan cirebon

Jaman masih sekolah dasar, saya baru tahu kalau kota yang saya tinggali ini disebut juga Kota Udang. Sebagian yang lain menyebutnya sebagai Kota Wali. Mengapa demikian? Karena kota ini didirikan, dan dikembangkan, salah satunya oleh Sunan Gunung Jati.

Kota Cirebon adalah kota yang membuat akrab gunung Ciremai dan Laut Jawa. Mereka disatukan oleh kota ini. Sejak lahir hingga selepas SMA saya menghabiskan waktu di kota ini. Kota yang tidak besar namun juga tidak kecil. Sedang-sedang saja.

Beruntunglah bagi kita yang lahir di kota pesisir. Kota yang menjadikan warganya relatif lebih ekspresif, berani berargumen, dan terpenting: apa adanya. Kota pesisir dengan para nelayan dan memiliki pelabuhan yang cukup layak untuk disinggahi kapal besar. Kota ini merupakan pusat perniagaan bagi daerah sekitarnya: Indramayu, Kuningan, Majalengka dan Brebes.

Warga pesisir itu punya ciri khas tersendiri. Jika berselisih paham dengan tetangga, berselisih sajalah. Ndak papa. Toh setelahnya kita melaut. Seminggu kemudian kita lupa. Pulang ke darat dengan hasil tangkapan. Lain halnya dengan kaum agraris di tengah pulau. Masyarakat yang bercocok tanam. Jika berselisih paham, ladang mereka bersebelahan. Pagi bertemu tetangga, siang bertemu di ladang, sore bertemu lagi di beranda rumah. Berselisih paham akan panjang urusannya. Lebih baik dipendam dan saling menjaga perasaan.

Mungkin karena sebab ini juga, ikatan antara warga pesisir dan tanah kelahiran tidak begitu lekat. Mudah saja untuk bertahun-tahun tak pulang. Memang sudah suratan takdir, sejak lahir, kami memiliki kesamaan dengan Bang Toyib.

Sebetulnya tidak banyak hal istimewa dari Cirebon. Suhu udaranya panas, lebih lembab, dan secara sosio-kultural tutur bahasa warganya dengan gaya orang pasar. Blak-blakan, bahkan terkesan kasar.

Tapi cobalah sesekali mampir untuk wisata kuliner. Empal gentong di daerah krucuk, nasi jamblang di sekitar pelabuhan, mie koclok di Panjunan, nasi lengko di Pagongan, tahu gejrot dimana-mana, sate kalong, dengan pilihan sate kerbau rasa manis dan gurih atau bubur docang yang begitu otentik,  sulit untuk dihindari untuk menyantapnya dua kali. Makanan khas kota ini lumayan unik. Fusion. Sebagian dari hasil laut, sebagian lainnya berasal dari gunung. Ndak percaya, coba saja santap sajian nasi jamblang. Nasi dengan bungkus daun jati. Nasi, sambal, blekutak (cumi dengan kuah hitam yang berasal dari tintanya), perkedel, sate kentang, tahu kuah, jambal roti, semur daging, pusu (paru digoreng garing), dan tempe.

Cirebon_Skyline

Cirebon, adalah kota asal ayah saya.

Semenjak kecil Ayah tinggal di dekat pasar. Namanya Pasar Kramat. Letaknya tidak jauh dari Balaikota Cirebon. Saat saya kecil juga sering dititipkan ke rumah nenek. Karena rumah nenek tepat dibelakang pasar sehingga kamar mandinya seringkali menjadi tempat penjual pasar maupun pembeli singgah untuk menyelesaikan urusan. Judulnya: berbagi. Atas kemurahan hati nenek, setiap pagi di meja makan menjadi penuh dengan penganan kecil, hasil pemberian pedagang pasar. Sebut saja: kue serabi, kue cucur, dan kue jalabiya, selalu tersedia di atas meja. Tentu saja para cucu lain juga senang bertandang di rumah nenek. Banyak penganan yang siap disantap. Tidak lupa minuman orson, yang sebetulnya mudah membuat anak kecil batuk. Tapi apa boleh bikin. namanya juga anak-anak. Sikat!!

Masa kecil adalah masa dimana saya bisa dengan bebasnya mengambil isi toples diam-diam dan mencomot pemen cocorico, permen davos, permen cicak, permen karet yosan maupun pusan gum (yang kemasannya memuat satu huruf untuk dirangkai menjadi nama merek permen karet tersebut), juga rengginang. Untuk penganan terakhir saya ndak pernah menyentuhnya sama sekali. Seiseng dan selapar apapun.

Kakek adalah seorang penjaga sekolah merangkap penjaga kebun melati milik juragan warga keturunan arab. Setiap hari kakek dan nenek, dibantu adik-adik ayah memanen bunga melati. Konon katanya, sehari dapat menghasilkan hingga dua kuintal kuntum bunga. Bayangkan saja berapa luas kebun melatinya. Kata nenek, belum pernah dalam sejarahnya kakek mengambil sebagian melati untuk diam-diam dijual dan masuk kantong sendiri. Padahal peluang itu terbuka lebar. Kakek saya orang bodoh. Kakek saya orang jujur. Klop. Mungkin itu yang membuat dirinya hidup sederhana namun penuh dengan rasa syukur.

Kakek, cerita ayah, adalah orang yang loyal pada majikannya. Namun dasar  namanya arab, tak ada bonus yang didapat kakek. kesepakatannya sangat jelas: Kakek akan mendapat bagian sepuluh kilo bunga melati untuk setiap kali panen dan tambahan insentif berupa  beras, dan ini yang terpenting: gratis  menggunakan rumah milik si Arab, yang letaknya dekat pasar itu. Iya, rumah yang ditinggali ayah saya bersama adik-adiknya bukan milik kakek-nenek. Mereka hanya menggunakan. Sekadar menumpang.

Untuk menambah penghasilan dari penjualan bunga, kakek juga membantu orang-orang dengan menyembelih hewan ternak. Spesialisasinya kambing. Kemampuan ini menurun pada Kakak saya. Hingga saat ini, saat hari raya kurban, kakak selalu diminta bantuan untuk menyembelih hewan kurban di masjid dekat rumah. Saya? Pingsan.

Kelebihan lain tinggal di pesisir pantai adalah begitu mudahnya menyalurkan hobi para pemancing. Hampir setiap hari, saat masih sekolah dasar, saya hampir setiap hari diajak ayah untuk memancing di laut. Bukan, bukan karena semata-mata tinggal di pesisir pantai, melainkan pada dasarnya ayah adalah seorang pemancing dengan kadar akut. Saking tergila-gilanya pada dunia kail-mengail, pernah suatu ketika saya begitu kesal pada ayah karena lebih banyak habiskan waktu dengan perlengkapan lengkap alat mancingnya. Karena kesal, saat menuliskan data diri pada kolom isian buku kenang-kenangan SMA,  pekerjaan orang tua, saya tulis: “pemancing”.

Ini adalah bentuk protes saya, karena setiap hari jika di rumah, ayah hanya mengurus umpan, membereskan kail dan tali, serta menjadwalkan memancing untuk waktu berikutnya. Cukup memancing di tepi pelabuhan atau menyewa kapal kecil. Belum lagi jika kegiatan memancingnya ingin sukses. Ayah punya ritual tersendiri. Ayah, dengan perintah, yang mau-ndak mau, meminta saya mencari udang hidup di tepi pantai sebagai umpan. Tentu saja sepulangnya ayah dari bekerja dan sepulangnya saya dari sekolah.

Ayah adalah orang lapangan. Belajar itu ya di luar ruangan. Tak pernah sekalipun membelikan saya buku. Seingat saya Ayah hanya sekali membelikan buku. Judulnya Kisah 25 Nabi dan Rasul. Hingga saat ini saya belum pernah tuntas membacanya. Berbeda dengan ibu. Seringkali Ibu membawa pulang majalah Intisari. Setiap bulan. Tentu saja  saya lahap intisari hingga tuntas. Dari sampul depan, daftar anggota redaksi hingga iklan halaman belakang. Lewat intisari minat baca semakin tumbuh.

Walau minat baca tinggi, akan tetapi daya beli keluarga saya rendah. Ada prioritas lain yang harus dipenuhi. Jika ingin terus membaca, seringkali saya meminjam  buku dari perpustakaan umum. “Perpustaaan 400” namanya. Kebetulan jaraknya tidak jauh dari rumah. Biasanya saya naik sepeda berboncengan dengan kakak, untuk menuju kesana. Perpustakaan milik pemerintah daerah yang ndak memungut bayaran. Pinjam maupun baca ditempat selalu menjadi pilihan di kala senggang.

Apakah Anda pernah dengar lagu khas Cirebon?

Akeh wong padha kedanan masakan,
akeh wong padha kelingan pelayan
Ora klalen kesopanan ning sekabeh lelangganan

Yen balik tas jalan-jalan mingguan
mumpung bae tas gajian kaulan
Warung Pojok go ampiran etung-etung ke kenalan
Tobat dhendhenge emi rebuse,
Sega gorenge dhaginge gedhe gedhe

Adhuh kopie, tobat bukete
Adhuh manise persis kaya pelayane
Pura-pura mata mlirik meng dhuwur
padhahal ati ketarik lan ngawur
Nginum kopi mencok nyembur kesebab
nyasar meng cungur
Tobat dhendhenge emi rebuse
Sega gorenge dhaginge gedhe gedhe
Adhuh kopie tobat bukete
Adhuh manise persis kaya pelayane

Jika sulit menyanyikan lagu ini, tonton saja klip berikut ini.

Selamat berakhir pekan. 🙂

Minggu depan, saya akan teruskan cerita tentang kota kelahiran saya. Jika tuhan mengizinkan dan jika saya masih minat meneruskan. Ohiya, bagaimana dengan kota kelahiran kamu? Apa makanan khas dan lagu daerahnya?

 

 

*

 

 

 

nb: soal kuliner kota Cirebon, boleh juga baca ulasan apik teman saya

Susah(nya) Tidur

circadianclocksBerbahagialah mereka yang bisa tidur nyenyak di malam hari. Gak cuma asal tidur aja, tapi tidur yang berkualitas. Waktunya pas waktu tidur, durasinya cukup, dan nyenyak. Dengan jam kerja yang nggilani, bagi saya sebagian orang, hal ini adalah sebuah kemewahan.

Gak ingat kapan terakhir kali punya “quality sleep”. Sejak lulus SMA, ritme tidur saya berubah total. Jam biologis jadi amburadul karena tugas-tugas kuliah dan pekerjaan. Apalagi sejak tinggal di Canada. Perbedaan waktu 12-13 jam dengan WIB & WITA itu asoy banget. Ada aja pesan yang masuk di jam-jam tidur, mulai dari obrolan penting sampai basa-basi yang basi banget. Suara dan sinar dari layar ponsel itu sangat menggangu dan intrusif. Mau matiin ponsel tapi orangtua jauh, kalo ada emergency gimana? *amit-amit* (hashtag: nasib) (hashtag: firstworldproblem).

Tapi saya gak sendirian. Di Linimasmas ada Long-long dan Masagun yang punya masalah sama. Di Twitter? lebih banyak lagi. Sampai-sampai ada kelompok Tarekat Al-Insomniyyah. Liat aja timeline Twitter setiap dini hari. Pasti ada aja yang ngetwit “insom nih..”

insom

Tapi apa penyakit susah tidur yang kita alami ini Insomnia? belum tentu. Ternyata ada yang namanya Delayed Sleep Phase Disorder (DSPD).

  • Kalau kamu susah untuk tidur, gak nyenyak, durasi tidur sangat pendek, dan masih ngerasa capek banget pas bangun tidur, itu Insomnia.
  • Kalau kamu susah tidur, tapi bisa nyenyak, dan durasinya normal, berarti DSPD. Tidur lebih larut dan bangun lebih siang.

sleepphase

Saya sendiri mengidap DSPD. Kata seorang dokter, cukup kronis. Karena sudah menahun, akibatnya DSPD ini berpengaruh ke produksi hormon saya. Gak sehat banget lah pokoknya. Walaupun selalu digampangkan, tapi masalah tidur ini bisa berakibat buruk buat tubuh kita. Mulai dari depresi sampai pemicu kanker dan juga obesitas.


Kalau Insomnia bisa diobati dengan hypnotherapy, DSPD gak bisa. Gak mempan, katanya. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan dan mengurangi DSPD:

  1. Chronotherapy:

Bahasa simpelnya: ngatur jam tidur. Setiap harinya kita tidur dua-tiga jam lebih lama, sampai akhirnya jam tidur kembali ke waktu yang normal. Ini agak susah dilakukan buat mereka yang kerja kantoran.

  1. Bright Light Therapy:

Katanya, yang paling ampuh adalah sinar matahari. Kita tinggal duduk berjemur setiap paginya selama 30 menit – 1 jam. Ini susah dilakukan mereka yang tinggal di bagian utara bumi. Waktu musim dingin, malamnya jauh lebih panjang dan jarang banget ada matahari. Cara yang lain adalah dengan menggunakan sinar lampu yang sangat terang. Tapi ini jadi mirip anak ayam 😐

  1. Chamomile Tea & Lavender Oil:

Cara pengobatan herbal/holistik banyak banget digemari, mungkin karena efek samping yang hampir gak ada. Katanya teh bunga chamomile ampuh bikin rileks dan ngantuk, apalagi kalau dicampur dengan spearmint. Terus tambahkan, deh, essential oil di bantal biar tidurnya bisa nyenyak. Cara lainnya adalah dengan mandi air hangat 1-2 jam sebelum tidur. Dengan begitu kita mengirim sinyal ke tubuh untuk beristirahat.

  1. Melatonin:

“Hormon ngantuk” yang memang diproduksi oleh tubuh kita ini banyak di jual bebas. Katanya bisa ngobatin DSPD sampai jet lag. Dosis yang dijual juga bermacam-macam, mulai dari 1-10 mg. Katanya, dosis yang rendah justru ampuh mengobati DSPD. Tapi pemakaian di atas 4-6 minggu tidak dianjurkan.

crythm

Atas anjuran si dokter, saya akhirnya mencoba melatonin. Siapa tau bisa normal lagi.

Semalam saya sudah niat tidur cepat. Semua gawai disimpan jauh-jauh. Konsumsi melatonin jam 10 malam, jam 11 sudah lelap…….

 

tapi saya harus terbangun karena mimpi duduk satu ruangan dengan kuntilanak. Rupanya salah satu efek samping Melatonin adalah ‘vivid dream’ pada fase REM! Duh… susahnya tidur..

 

calvin-hobbes

 

garfield

Yang Pergi

Tahun 2014 sudah tinggal sebulan lagi. Sebulan lebih sedikit. Inilah saatnya para media massa sedang sibuk mengulik dua hal: kejadian-kejadian sepanjang tahun untuk dijadikan bahan tulisan kaleidoskop, dan ramalan-ramalan mulai dari ahli nujum sampai analis untuk materi prediksi tahun depan.

Tulisan hari ini bukan akan mengulas dua hal tersebut, meskipun akarnya dari hal yang pertama. Ketika kami, yang masih muda, segar bugar dan sehat ceria ini sepakat akan menurunkan tulisan-tulisan seputar “2014 menurut saya” mulai bulan depan, mulailah kami berpikir dan mencari apa yang mengena di hati kami masing-masing. Dari pencarian itu, ada beberapa orang yang kepergiannya tahun ini terasa menusuk pikiran saya.

Orang-orang ini tidak saya kenal secara pribadi. Namun saya dan mungkin Anda tumbuh bersama mereka. Saya bisa makan di depan mereka tanpa mereka merasa terganggu. Kalau saya ketiduran di depan mereka pun, mereka tidak tahu. Ada layar lebar dan layar kaca yang memisahkan kami.

Meskipun terpisah, namun hubungan antara pengagum dan yang dikagumi itu terasa dekat. Terlebih yang dikagumi adalah orang yang memang mumpuni. Artis, seniman, thespian, jenius di bidangnya.

Makanya, kepergian komedian Jojon di bulan Maret lalu terasa menyedihkan. Masih ingat ayah dan ibu suka membangunkan saya malam-malam. “Tuh, ada Jayakarta Group di TV.” Itulah saat Jojon dengan kumis a la Chaplin atau Hitler dan celana bretel yang kedodoran dan ngatung, hadir bersama Uuk, Esther dan Cahyono. Berempat mereka menghibur kita semua dengan bercandaan yang, meski kadang slapstick, tapi tidak pernah sekalipun merendahkan penontonnya. Tentu saja, dengan tampilan khas kostum yang terlihat aneh, Jojon sering kali menjadi obyek bercandaan, selain Esther dengan dasternya juga. Lihatlah klip di bawah ini. Masih terasa fresh ditonton sekarang pun.

Saat usia beranjak dan lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah bersama teman-teman, pergi ke bioskop sering jadi pilihan utama. Kami terbahak-bahak bersama melihat Mrs. Doubtfire. Sebelum itu, saya tercengang saat nonton Aladdin. Yang mencuri perhatian tentu saja adalah karakter Genie. Pergantian suara, karakter, perubahan kostum, ekspresi, yang bisa belasan kali dalam waktu semenit, membuat saya heran. Siapa orang ini dengan energi yang berlebih? The man with the unstoppable energy.
Or so it seems.
Karena pada akhirnya energi itu berhenti, atau dihentikan sendiri oleh pemiliknya, Robin Williams, bulan Agustus lalu. Sampai saat ini, saya belum berani nonton film-filmnya lagi. Patch Adams, Flubber, Good Morning, Vietnam, dan tentu saja, Dead Poets Society serta Good Will Hunting.
Robin Williams, manusia penghibur, yang menjadi bagian dari kenangan kita.

Ada satu film Robin Williams yang terasa berbeda dari film lain. The Birdcage. Menjadi pasangan gay yang harus berpura-pura menjadi pasangan heterosexual demi pernikahan anaknya, tampilan Robin Williams terasa humanis, meskipun masih melucu.
Saat menonton film ini pertama kali adalah saat-saat saya mulai mempunyai ketertarikan lebih pada film. Barulah tahu bahwa film ini disutradarai oleh seseorang bernama Mike Nichols.

Lalu mulailah saya mencari film-film lama karya Mike Nichols. Tak ada satu pun yang tidak sukses membuat saya terhenyak. Who’s Afraid of Virginia Woolf? mencengangkan dengan dialog-dialog yang brutal. The Graduate adalah film wajib tonton buat pria-pria yang tidak tahu harus berbuat apa dalam hidup, sambil mendengarkan lagu “The Sound of Silence”-nya Simon & Garfunkel yang menjadi soundtrack film. Carnal Knowledge membuat saya harus jujur kepada pasangan dalam hal seks. Heartburn menyadarkan lagi bahwa hubungan dengan orang ber-ego tinggi itu tidak mudah. Dan tentu saja Working Girl membuat orang jadi feminis, siapapun itu. Tentu saja, nama Mike Nichols pun menjadi jaminan saya di kemudian hari bahwa semua film yang dia buat di kemudian hari menjadi jaminan tersendiri. Dan terbukti benar. Angels in America. Closer. Wit.

Dalam bahasa Jawa, ungkapan yang pas untuk karya-karya Mike Nichols adalah “nguwongke wong”. Memanusiakan manusia. Hampir semua karakter utama di film-film Mike Nichols terasa berjejak pada tanah dan kenyataan sehari-hari, sehingga mereka terasa humanis. The fictional characters feel human. Itulah mengapa menonton film-film Mike Nichols memberikan ingatan yang kuat di memori.

Dan itulah mengapa saya sempat tidak percaya bahwa Mike Nichols telah pergi pada pertengahan November lalu. Inilah pertama kali saya bisa menulis sedikit tentang kepergian beliau.

Beberapa tahun lalu, di segmen In Memoriam di perhelatan Academy Awards, Queen Latifah membuka segmen ini dengan berucap:

“… we spend a moment remembering people we have lost. To those of you watching around the world, they were images of inspiration … These artists give us afternoons, weekends, years, lifetimes of enjoyment. They’re not really gone. They’re all around us, everywhere we look.”

Selamat jalan.
Terima kasih.

Blup… Blup… Blup…

Mau tau caranya?

Baskom, kamu isi air penuh-penuh. Kamu masukin kepalamu.”

“Trus, kamu teriak kuat-kuat. Sekencang-kencangnya. Sampe capek. Sering-sering aja begitu.

***

Di rumah, mahasiswa semester V itu pun mempersiapkan baskom penuh air. Sejenak, mendadak ia teringat masa kanak-kanaknya. Selalu kungkum air hangat ketika mandi, dan menghabiskan lebih dari 60 menit bermain air sampai kulit jemarinya kisut semua. Kehidupan terasa lebih hangat dan menyenangkan, ringan, tanpa beban.

***

Kian petang. Ia mulai menjalani petunjuk yang disampaikan beberapa jam sebelumnya itu. Bersimpuh menghadap baskom hitam yang bau plastik. Ndak pakai gerakan dramatis apa-apa, ia masukkan kepalanya ke air sedalam cuping telinga setelah menarik napas panjang.

HAAAAARGH…!” Ia mulai berteriak dalam air. Senyaring-nyaringnya. Sekuat tenaga. Sampai terasa panas batang tenggorokannya. Tindakan itu ia ulangi sampai empat atau lima sesi, masing-masing berlangsung kurang dari lima menit. Di sesi pertama, teriakan itu menggema dalam rongga kepalanya. Ia mendadak menghentikan latihannya. Takut-takut teriakannya terdengar seisi rumah. Bisa bikin kaget dan panik, pikirnya. Baru pada sesi kedua, ia sadar bahwa teriakannya hanya nyaring dalam bola kepala saja. Partikel air hanya menyisakan bunyi lirih, beserta letusan gelembung udara. “Blup… Blup… Blup…Ndak signifikan.

***

Kurang lebih lah.

Demikianlah “jurus” yang dibagikan seorang (almarhum) penyiar radio asal pulau Jawa–ninetyniners Bandung, begitu katanya–kepada penyiar magang, si mahasiswa. Berkaitan dengan pita suara, dan warna vokal untuk dipakai mengudara.


Era media sosial, sekarang. Ketika semua orang bebas berbicara, dan meninggalkannya di linimasa sendiri-sendiri untuk dibaca manusia lainnya, lalu berharap mendapat ratusan respons biar berasa populer. Ketika makin banyak “lulusan Twitter/Facebook/Instagram Institute”, ketimbang para ahli benaran. Ketika kata eksis mendadak punya makna sosial berbeda, dan seolah hanya bisa tercapai dengan bertindak ceriwis terhadap hampir semua hal. Mulai foto makanan sampai UMK. Dari kegalauan delusif sampai debat enggak penting tentang apa saja mengenai presiden ketujuh republik ini.

Khusus untuk contoh terakhir di atas, sumpah ya, melelahkan dan bikin muak saking seringnya. Tidak mustahil, Anda yang sedang baca tulisan ini sekarang, juga kerap menyimak bahkan tercemplung dalam perdebatan itu. Rata-rata dipicu posting-an di halaman depan Facebook. Bisa berupa status panjang lebar, juga berupa foto sharing-an dengan caption yang berparagraf-paragraf, atau tautan artikel tendensius dari situs-situs berkedok portal berita maupun blog yang Anda tahu sendirilah nama serta rupanya.

Mereka, yang terlibat dalam perdebatan berwujud puluhan hingga ratusan komentar, terlihat mengerahkan semua daya upaya untuk berargumentasi; berusaha menunjukkan bahwa hanya dia dan pemikirannya sajalah yang paling benar. Sedangkan partisipan lainnya tersesat, keliru, dungu, fanatik, pantas untuk dicemooh dan ditertawakan. Tanpa sadar, mereka seperti berteriak di dalam sebaskom air. Merasa nyaring dan menggemparkan, padahal kenyataannya hanya berupa bunyi mirip kentut setengah jadi.

Tidak ada yang luput dari kekonyolan ihwal perdebatan itu. Merasa terpanggil untuk menyampaikan pembelaan dan pernyataan penguat, padahal hanya dalam beberapa menit kemudian status pemicu perdebatan bergeser ke bawah, terganti dengan posting-an yang lain. Lalu, para pendebat dari kedua sisi pun tetap tak tergoyahkan. Teguh dalam hematnya masing-masing dengan cara yang boros tenaga. Tidak ada yang berpindah.

Ndak ketemu.

Seperti dua lingkaran dalam Diagram Venn. Terpisah sangat jauh, saking berbedanya, sampai-sampai ndak layak lagi disebut sebuah Diagram Venn. Setiap lingkaran mewakili/diisi orang-orang berpikiran homogen. Pendapat setiap orang dari lingkaran yang sama, diiyakan, diapresiasi, dan dipuji. Semua instrumen yang digunakan untuk memperkuat gagasan pun dianggap sebagai objek yang paling tepat, dan mewakili realitas. Sementara pendapat setiap orang dari lingkaran di seberang, ditolak, direndahkan, dan dihina. Itu pun kalau terdengar/sudi didengarkan dengan jelas oleh penghuni lingkaran satunya. Semua instrumen yang digunakan orang di lingkaran seberang pun dianggap sebagai objek abal-abal, hasil kamuflase, mengada-ada, dan kebohongan. Lagipula, tidak ada yang bersedia untuk ke luar dari lingkaran masing-masing. Nyaman secara khayali.

 

Mana yg benar?

Mungkin salah satu di antaranya.

Mungkin keduanya.

Atau mungkin tidak ada sama sekali.

 

Bukan perkara lingkaran mana yang benar dan salah, melainkan gaung semu yang hanya menggema dalam ruang terbatas; lingkaran homogenitas. Senyaring apapun dukungan atas sebuah pemikiran, atau sekeras apapun penolakan atas pemikiran yang berlawanan, hanya riuh rendah dalam lingkaran. Ndak peduli, mungkin juga ndak sadar kalau ternyata masih ada ruang tanpa batas di luarnya.

Walhasil, perdebatan nihil hasil. Membuang waktu, menyita perhatian dan konsentrasi, sok dramatis, tidak produktif, tanpa faedah yang berarti. Paling banter ya melatih kemampuan mengetik dengan cepat, meskipun kadang tidak tepat, banyak typo-nya.

Ehm, walau bagaimanapun, ialah hak setiap orang untuk ngapain aja, terlebih di dunia maya. Selama tidak ad hominem alias penghinaan yang bisa dituntut sebagai delik aduan, ya terserah Anda saja. Satu hal yang pasti: itu ngganggu. 🙂


Anyway, rupanya “jurus” teriak dalam air tidak mempan memodifikasi pita di tabung tenggorokan. Sampai saat ini, suara saya masih cempreng. Berasanya sih bikin ilfil. Tidak terdengar dalam, teduh, dan menenangkan seperti kebanyakan suara cowok yang sudah rampung pubertasnya. Malah ketambahan sengau, mirip orang yang baru kelar selesma.

[]

Iklan Layanan Masyarakat: United States of Indonesia

Apa yang membuat Obama menjadi Presiden selama dua periode? Karena didukung banyak seleb? Atau karena lawannya enteng? Atau karena dia item? Atau karena dia dari Partai Demokrat? Biar aplusan gitu. Kan sebelumnya dari Partai Republik. Sebelumnya lagi dari Partai Demokrat. Sebelumnya lagi Partai Republik. Jadi entar Presiden Amerika selanjutnya kemungkinan dari Partai Republik. Bukan Hillary Clinton. Amrik kan sexist. Udah 40an presiden gak ada yang perempuan. Gitu ya? Atau gimana?

Tapi yang jelas kampanye Obama yang ditekankan selama dua periode itu adalah Obamacare. Program asuransi kesehatan yang terjangkau bagi seluruh masyarakat Amerika Serikat. Undang-undangnya sudah rampung. Tapi sepertinya undang-undang Affordable Care Act ini koq ribet sekali. Harus begini harus begitu. Memusingkan. Seperti premi asuransi kebanyakan. Belum lagi UU Kesehatan ini masih menyisakan kontroversi dan resistensi dari oposisi. Masih banyak yang tidak setuju dengan program Presiden Obama ini. Atau mungkin akan dijegal jika Obama sudah lengser.

Sementara di belahan negara lain, sebut saja Indonesia, diam-diam sudah meluncurkan Undang Undang Kesehatan yang kurang lebih isinya sama. Asuransi kesehatan. Namanya BPJS, kependekan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. UU ini sudah diresmikan tahun 2013 di era Pemerintahan SBY. Mungkin ini warisan dari SBY yang patut kita acungi jempol. Walaupun embrionya sudah ada sejak era Megawati.

Kelak semua pegawai kantoran, TNI, Polri, BUMN, PNS, akan dan harus memiliki kartu BPJS ini. Untuk mereka yang sudah terlanjur memiliki jaminan kesehatan dari perusahaan asuransi akan segera dikonversi ke BPJS. Mereka yang mempunyai Jamsostek akan segera berganti nama menjadi BPJS-Ketenagakerjaan. Pengguna Askes pun begitu. Bukan pegawai kantoran gimana? Bisa dan harus punya juga. Caranya? Tinggal daftar ke kantor BPJS (biasanya dulunya kantor Askes) terdekat. Males ngantri? Tinggal daftar online. Preminya? dari 25.500 ribu/bulan (kelas 3), 45.500 ribu/bulan (kelas 2), 59.500 ribu/bulan (kelas 1). Pengen kelas VIP? Tinggal upgrade. Miskin gak punya uang? Ada Jamkesmas. Penyakit yang dicover apa aja? Hampir semua. Atau mungkin semua. Sakit gigi, kecelakaan, melahirkan, operasi ringan atau berat. Bius ringan. Bius total. Mau lebih jelas? Telpon aja ke 500400. Atau mention ke ke @BPJSKesehatanRI.

Yang jelas perusahaan asuransi swasta sekarang lagi ketar-ketir kabeh. Pendapatan turun. Kapan terakhir ada telepon dari telemarketing asuransi yang menawarkan program asuransinya ke hape kamu? Sudah lama sekali ya gak ada. Kalau masih ada juga gak ada masalah koq, tinggal jawab aja gini, “Maaf, saya sudah pake BPJS, Mbak.” “Semua penyakit di-cover. Terima kasih atas tawarannya.” Beres.

Jadi kesimpulannya? Indonesia > Amerika Serikat.

See ya later, Uncle Sam!

PANDUAN POTONG KUKU KAKI UNTUK PENGIDAP OBESITAS

Medis mengartikan obesitas sebagai kelebihan berat badan setidaknya 10% diatas berat ideal maksimum relatif berbanding tinggi badan. Deskripsi macam ini terlalu rumit. Ndak praktis. Gampangnya, cobalah berdiri pinggir jalan, cegat angkutan umum yang lewat. Kalau mereka ndak berhenti,

SELAMAT! Anda obesitas!

Cara lain. Naiklah Lion Air. Kalau anda ndak bisa pasang sabuk pengaman tanpa menahan nafas panjang. Atau Anda menyembunyikan dua ujung sabuk pengaman dalam celana dan pura-pura nyambung. Atau Anda malu-malu minta sabuk pengaman tambahan,

SELAMAT! Anda obesitas!

Bisa juga. Tunggulah sampai musim pemilihan tiba. Kalau Anda butuh dua bilik pemilu untuk mencoblos dan penyelenggara pemilu ndak mengijinkan, sementara pihak Kelurahan dengan segenap saksi pemilu angkat tangan ndak membela kebutuhan Anda,

SELAMAT! Anda obesitas!

Juga. Kalau ritual potong kuku kaki selalu berakhir dengan pendarahan,

SELAMAT! Anda obesitas!

Aku ndak bisa bantu soal angkot, pesawat dan bilik pemilu. Tiga benda itu terlanjur diciptakan diskriminatif. Beserta ribuan benda lainnya, termasuk toilet portable. Inovasi sering lupa sama toleransi. Tapi, potong kuku kaki, aku punya panduannya.

Sumber: Google

Sumber: Google

Potong kuku kaki adalah soal pengamatan dan target. Bedanya, orang obesitas ndak bisa melakukan manuver ini karena rintangan lemak yang menggunung di sekitar dada, perut dan paha. Akibatnya, potong kuku kaki terasa seperti perang. Yang kalah, berdarah. Yang menang, cantengan.

GUNTING KUKU LENGKUNG

Siapkan gunting kuku berbentuk lengkung karena ini akan sangat membantu. Hindari gunting kuku biasa yang lurus. Selain Anda harus menemukan target, juga mesti membentuk lengkung dengan benda lurus. Salah sedikit, rumah sakit!

LATIH PERNAFASAN

Bagian ini sangat penting. Olah pernafasan adalah esensi dari seluruh teknik potong kuku kaki yang kita bicarakan. Berlatihlah tiap hari tarik nafas dan simpan dalam diafragma. Bukan perut! Diafragma! Intinya, tariklah nafas tanpa membuat perut menggembung lebih besar. Pertama-tama, ini akan sangat sulit dilakukan. Tapi kalau Anda punya tekad kuat untuk memiliki kuku kaki yang rapi, Anda pasti bisa!

TEMUKAN TARGET

Tentunya kuku kaki. Percayalah, untuk beberapa kasus obesitas, ada yang ndak bisa lihat kuku kakinya. Intiplah kuku kaki yang dimaksud dengan sekuat tenaga membungkukkan kepala dan memicingkan mata ke arah jari-jari kaki. Saat mata Anda menemukannya, langsung eksekusi!

LIPAT KAKI

Seperti sepak takraw. Posisi ini adalah yang paling meemungkinkan. Perhatikan. Lipatan kaki ini hanya akan bertahan tidak lebih dari 80 detik. Lebih dari itu, biasanya sering terserang kram atau kesemutan. Jadi, lipatlah kaki ke atas. Dekatkan ke muka dengan trik gulung perut di bawah ini.

GULUNG PERUT

Setelah pernafasan. Teknik menggulung perut berada di posisi penting kedua. Tarik nafas. Simpan dalam diafragma. Letakkan tangan diatas perut. Tekan ke dalam dan membungkuk! Tahan! Kalau Anda tidak bisa menggulung perut ke dalam. Anda ndak obesitas. Anda hamil!

DILIHAT, DILIPAT, DITAHAN, DIPOTONG, DILEPAS!

5D. Urutannya persis seperti itu. Temukan target, lipat kaki ke arah muka, tarik nafas, tahan! Potong! Lepas! Dengan gunting kuku lengkung Anda hanya membutuhkan 2 kali 5D di masing-masing jari kaki. Artinya, 20 kali 5D untuk menyelesaikan semuanya. Dalam satuan waktu, butuh 1 menit 40 detik saja!

Coba deh…

Soal Minggu Ini

Berapa umurmu?

Berapa saudaramu?

Berapa nilaimu di sekolah?

Berapa kali kamu mencontek?

Berapa rangkingmu?

Berapa gelar sarjanamu?

Berapa kali kamu sudah bercinta?

Berapa lama kamu bercinta?

Berapa kali orgasme?

Berapa ukuran penismu?

Berapa ukuran payudaramu?

Berapa persen fat tubuhmu?

Berapa followersmu?

Berapa klout scoremu?

Berapa cepat larimu?

Berapa kali ke gym dalam seminggu?

Berapa piala yang kamu raih?

Berapa penghargaan yang kamu dapatkan?

Berapa komunitas yang kamu ikuti?

Berapa ukuran minus kacamatamu?

Berapa sering ke cafe?

Berapa sering ke mall?

Berapa sering clubbing?

Berapa banyak tawaran pekerjaan untukmu?

Berapa lamaran yang kamu kirimkan?

Berapa gajimu di kantor?

Berapa kali pindah pekerjaan?

Berapa banyak jabatanmu?

Berapa luas koneksimu?

Berapa teman akrabmu?

Berapa teman orang pentingmu?

Berapa banyak pejabat kenalanmu?

Berapa teman artismu?

Berapa kali berjumpa dengan mereka?

Berapa harga handphonemu?

Berapa hobimu?

Berapa banyak tas koleksimu?

Berapa koleksi sepatumu?

Berapa banyak koleksi jam tanganmu?

Berapa koleksi bokepmu?

Berapa pengaruh kenaikan harga BBM dalam hidupmu?

Berapa harga jualmu?

Berapa luas ruanganmu di kantor?

Berapa tabunganmu?

Berapa investasimu?

Berapa untungmu?

Berapa rugimu?

Berapa harga mobilmu?

Berapa harga rumahmu?

Berapa sering kamu travelling?

Berapa banyak negara yang sudah kamu kunjungi?

Berapa jumlah cap di paspormu?

Berapa kartu kreditmu?

Berapa kali jatuh cinta?

Berapa kali patah hati?

Berapa hati sudah kau hancurkan?

Berapa banyak pacarmu?

Berapa banyak istrimu?

Berapa banyak anakmu?

Berapa biaya hidupmu?

Berapa biaya keluargamu?

Berapa uang sekolah anakmu?

Berapa selingkuhanmu?

Berapa pelacur pernah kau tiduri?

Berapa gigolo pernah kau bayar?

Berapa kali menikah?

Berapa asuransimu?

Berapa limit kartu kreditmu?

Berapa tabungan hari tuamu?

Berapa kolesterolmu?

Berapa berat badanmu?

Berapa kali serangan jantungmu?

Berapa rutin check kesehatan?

Berapa rumahmu?

Berapa mobilmu?

Berapa usia orang tuamu?

Berapa sering bertemu orang tuamu?

Berapa anak yang sudah menikah?

Berapa cucumu?

Berapa uban di rambutmu?

Berapa lama penismu bisa tegang?

Berapa kali pura-pura orgasme?

Berapa lingkar pinggangmu?

Berapa ukuran plus kacamatamu?

Berapa kali sholatmu?

Berapa sering ke Gereja?

Berapa rutin berdoa?

Berapa kali ganti agama?

Berapa dokter sudah merawatmu?

Berapa biaya operasimu?

Berapa lama di rumah sakit?

Berapa lama di rumah duka?

Berapa banyak dosamu?

Berapa banyak pahalamu?

Berapa orang yang mencintaimu?

Berapa orang yang membencimu?

Berapa amalmu?

Berapa qurbanmu?

Berapa hari kamu berpuasa?

Berapa besar artimu di dunia?

Berapa beruntungnya kamu?

Berapa meruginya kamu?

Berapa umurmu?

Kisah Laki-Laki Yang Menyukai Aroma Tubuh Perempuan Dengan Dua Ulat Bulu Di Dahinya

Apakah kamu pernah jatuh cinta pada aroma tubuh?

Ketika semerbak bau keringat yang menyeruak dari tubuh membuatmu merasa hangat, nyaman, dan kangen. Aku pernah mengalaminya pada suatu ketika.

Begini ceritanya.

Ketika pertama kali kenal dengannya, hatiku luluh lantak. Pipi gembil menggemaskan. Poni rambut yang menyentuh alisnya. dan matanya itu lho, berbinar-binar seperti lampu taman. Aku jatuh cinta sejak dirinya memandang aneh wajahku. Binar matanya seperti ingin tertawa. Tapi hatinya menahan diri. Waktu itu, aku memang tak setampan saat ini.

Ketika pertama kali bersalaman, bau tubuhnya bau matahari. Seperti jemuran di loteng kos-kosan. Mustahil jika dikatakan wangi. Tapi entah kenapa, tiba-tiba, aku menyukai dirinya. Suka pada bau tubuhnya. Suka pada ketidakpeduliannya pada aroma.

Alis matanya tebal seperti ada ulat bulu yang menempel pada dahinya. Jika dia mengernyit, dua ulat bulu itu bersentuhan. Aku suka.

Pucuk dicinta ulam tiba. Setiap hari, sejak pertemuan itu aku diperbolehkan menjemput dirinya.

Tugasku simpel. Setiap jam sepuluh pagi bawa mobil Mazda Vantrend warna hijau. Menuju suatu tempat yang memang telah dijanjikan. Setelah sampai, parkir di tepi jalan. Lalu menunggu. Tak lama, perempuan itu muncul. Tanpa basa-basi dia buka pintu sendiri, dan duduk di sebelahku. Gerakan rutinnya pun masih kuingat: Senyum. Lempar tas ke jok belakang, lalu rebahkan sandaran kursinya dan tidur. Jika sudah begitu baru kujalankan mobil dan mengantarnya ke rumah.

seperti ini kira-kira

seperti ini kira-kira

Hingga saat ini aku yakin dirinya tidak benar-benar tidur sepanjang perjalanan. Aku selalu membayangkan diam-diam dia mencuri pandang. Apalagi yang kurang? Lelaki membawa mobil, dengan kacamata hitam. Gagah bukan? Ketika tingkat kegagahanku optimal, ada perempuan yang diam-diam memerhatikan. Oh Tuhan, Engkau sungguh jahanam!

Di dalam mobil dia tidak ingin kusetelkan lagu dari CD. Juga radio. Dia lebih menyukai keheningan. kami masing-masing diam. Apa yang lebih indah dari sebuah perjalanan hening, dalam satu mobil, antara lelaki dan perempuan?

Apalagi bau tubuhnya jelas tercium. Jika suatu kali ada yang bertanya padaku apakah surga itu tetap, maka tanpa ragu kukatakan: “Surga itu berjalan, dengan empat roda”. Juga kutambahkan: “Surga itu warnanya hijau toska”.

Baiklah, kusebut saja sebuah nama. Sasa. Tapi memang perempuan yang bau tubuhnya membuatku mabuk kepayang ini bernama  Sasa. Setidaknya dia memperkenalkan diri dengan nama itu: Sasa. Bukan Miwon atau Ajinomoto. Jangan tanya nama lengkapnya. Sejak pertama berkenalan hingga saat ini, dia tak tahu nama lengkapku. Vice versa. Adil bukan?

Om, aku panggil Loi aja ya. kalau Roy pasti sudah banyak yang panggil. Om Loi. Om yang bibirnya seksi.”

Hahaha..“, aku tertawa bangga.

Hahaha..“, dia tertawa entah kenapa.

Jika ada orang lain yang menyebut namanya, dia akan menengok dan tersenyum. Sasa memang ramah. Senyum dengan bonus poni yang tersibak.

Ketika Tuhan kusebut jahanam, karena memang tuhan begitu jahanam. Bagaimana ndak? Perempuan jelita, dengan wajah ayu memesona, seharusnya dilarang ramah. Pokoknya haram hukumnya. Cantik itu harusnya membuat luka. Cantik itu sebaiknya judes dan menyebalkan. Jadi tidak salah tingkah, kami, para laki-laki untuk menggoda dan tak mendapat apa-apa. Tapi perempuan satu ini tanpa cela. Ketika kugoda, dia balas menggoda. Bahkan bau tubuhnya, yang seharusnya membuat orang lain menjauh, bagiku malah makin jatuh cinta.

Aku. Dia. Tidak pernah end. 

Apakah ramah adalah bagian dari warisan genetik? entahlah. Masih menjadi pertanyaan bagiku. sasa ramah dan ayahnya pun seringkali tersenyum padaku. Mesem. Sumringah. Jika tertawa, ayahnya akan memamerkan deretan gigi yang kekuningan. Saat senyum, baginya dunia gelap. Tapi bagiku, saat Ayah dan anak tersenyum, dunia sebaiknya segera tutup toko saja. Hari telah selesai. Siap melakukan perhitungan amal perbuatan.

Kami tidak memiliki ikatan darah. Ayahnya kukenal baik. Aku kenal Sasa dari ayahnya. Keluarga Sasa adalah keluarga terpandang. Kakeknya pengacara terkenal di Kota Jogja. Tiyos namanya. Beberapa orang lama Jogja akan mengenal baik keluarga ini. Ayahnya pun seorang pengacara. Jika kamu sempat ke kota Jogja, coba saja cari di yellow pages: Tub. Advokat. Alamat: Sapen, belakang IAIN Kalijaga.

Setiap pagi tugasku tetap sama. Naik GL-Pro menuju Sapen. Lalu meminta kunci mobil dan menjemput dirinya. Apakah Ayahnya tidak sempat? Iya. Apakah Ibunya tidak sempat? Iya. Sasa anak masa kini yang kini telah menjadi masa lalu. Dilahirkan dari orangtua yang sama-sama bekerja. Ayah ibunya orang baik. Kekeliruan terbesar dalam hidupnya mungkin cuma satu: menugaskanku untuk menjemput dirinya setiap hari.

Sayangnya sudah lama aku tak pernah lagi menjumpainya. Terakhir aku bertemu dengannya ketika Brasil menjuarai Piala Dunia di Jepang. Wajahnya hingga kini masih terngiang-ngiang. Sasa. Entah siapa nama panjangnya.

Om Loi! Apa kabar? Sasa kangen!

SMS itu datang pagi ini. Nomor yang tak kukenal. Tapi siapa lagi selain dia yang menyebut aku dengan sebutan Om Loi. Dalam era whatsapp, langka rasanya ada yang mengirim kabar dengan SMS. Kubalas: “INI SASA? APA KABAR?

Om Loi, Sasa sekarang hidup mandiri“.

Oh iya? Apa kabar Ayah Ibu?” kutanya dengan sedikit basa basi.

Cerai.

Aku terdiam. Diam. Dan diam. Lama sekali…

Mobil Vantrend kuparkir di halaman rumahnya. Anak usia tiga tahun loncat dari pintu. Dilupakan kotak makannya. Lupa tas warna pink-nya. Dia berlari dan menyeruduk di pelukan ayahnya. Kusaksikan itu setiap hari. 20 tahun lalu.

Bau tubuhnya masih tercium. Tapi kali ini, semerbak aroma luka.

Selamat siang Sasa. Om Loi juga kangen kamu.

Lucky Number 13

Ini tulisan ke-13 saya di sini. Tidak terasa. Sudah tiga bulan saya dan teman-teman bergantian menulis untuk Linimasa.
Sudah serupa warteg. Tulisan-tulisan yang disuguhkan rasanya berbeda-beda. Beda orang beda karakter, katanya.

Tulisan Nauval seringnya melankolis, kerap menyentil pojok hati yang kadang sudah berdebu karena ditinggalkan—atau malah sengaja dilupakan. Setiap membaca tulisan-tulisannya ulu hati selalu hangat. Kadang mata pun berembun.

Long-long paling piawai mengajak merenung lewat kata-kata. Rasanya adem. Sementara tulisan-tulisan Masagun selalu penuh analisa dan matang. Yang paling lembut di antara kami bertujuh justru Gandrasta. Orang ini penuh rasa cinta.

Aku suka sekali gaya tutur Papah Glenn yang apa adanya. Suka atau ndak suka, semua dijembrengin. Sementara Masungu itu Linimasmas yang paling puitis. Kaya diksi. Romantis. Lihat saja betapa indahnya resensi yang dia buat setiap pagi. Kalau tulisan-tulisan kami ini film, maka Masungu adalah Roger Ebert-nya.


 

Selain mereka berenam, ada beberapa orang lain yang “rumah”nya sering saya kunjungi. Hari ini saya ingin mengenalkan mereka kepada kalian:

1. SASTRI

sastri

Sama seperti namanya. Blog ini milik Sastri, seorang travel journalist. Tulisan-tulisan Sastri begitu “bersih”. Deskriptif sekali. Mengalir. Sekilas mengingatkan saya dengan tulisan Ahmad Yunus.

Gak cuma pintar bertutur, Sastri juga pintar motret. Tulisan-tulisan dia yang cantik itu ditunjang dengan foto yang gak kalah bagusnya. Keliatan jelas kalau setiap perjalanan dia selalu pakai hati.

2. CHIPPING IN

eva

Sama seperti Long-long, tulisan-tulisan mbak Eva Muchtar selalu bikin adem. Di saat yang sama tulisannya begitu… dalem. Mengajak kita untuk mendengar. Satu hal yang sering banget terlupakan.

3. TERSENGAT KALIMAT

teguh

Teguh Afandi mahir sekali menulis cerpen. Gayanya antara surealis dan realis, tapi ndak “ketinggian”. Saya paling suka kalau dia sudah bahas soal kultur atau kebiasaan masyarakat tertentu. Semoga suatu saat tulisan dia ini bisa dibukukan.

 

Apa blog favoritmu? bolehkah dibagi di kolom komentar? 🙂

Jaman Tanpa Penanda Jaman

Kecemburuan itu datang lagi. Rasa iri itu menyeruak lagi, tepatnya dua minggu lalu.

Hari Jumat, 7 November lalu, media sosial Indonesia riuh rendah. Video iklan aplikasi LINE yang mengimajinasikan sambungan cerita film Ada Apa Dengan Cinta? (AADC) hadir di dunia maya. Enam pemain utama film hadir, lengkap dengan karakter masing-masing seperti di film aslinya. Tentu saja, Rangga dan Cinta pun masih dibawakan oleh Nicholas Saputra dan Dian Sastro. Sekian tahun berpisah di layar, mereka masih bisa membawakan kedua karakter itu dengan pas. Apalagi video iklan ini durasinya cuma 10 menit. Cerita pun makin fokus ke mereka berdua. Footage film yang menjadi inspirasi, berikut potongan lagu-lagu dari album soundtrack film asli, disisipkan dengan manis.

Sontak sebagian besar orang yang pernah merasakan gegap gempita 12 tahun lalu, saat film dan soundtrack AADC pertama kali dirilis, mendadak heboh. Terutama mereka yang melewati masa remaja, duduk di bangku SMP dan SMU (sebelum balik lagi ke singkatan SMA) pada saat itu, merasa menemukan kepingan lagi kenangan masa silam. Dalam dua hari, video iklan itu menembus angka lebih dari 2 juta views di Youtube. Album soundtrack AADC langsung menembus peringkat pertama album paling laris di iTunes sehari sesudah video iklan dirilis. Kabarnya, rating film AADC di Kompas TV yang ditayangkan dua hari setelah video iklan dirilis, termasuk yang sangat baik. Siapa pengkonsumsi semuanya? Tentu saja mereka yang dulu berusia remaja yang benar-benar menjadi target market film itu dulu.

Dan di sinilah sedikit keirian itu muncul.

Tentu saja ini bukan iri atas larisnya AADC lagi. Apalagi iri melihat Cinta masih bisa masuk ruang tunggu bandara tanpa boarding pass … lagi.

Rasa cemburu itu muncul mewakili generasi 90-an yang hadir nyaris tanpa film Indonesia. Masih pakai kata “nyaris”. Meskipun ada film Indonesia kala itu, tapi tidak ada yang bisa mewakili perasaan remaja yang sedang bergejolak di masanya. Ciiieee … Maksudnya memang tidak ada film yang bisa capture the spirit of its young people begitu.

Padahal ini penting.

Suatu masa biasanya akan diwakili oleh dua hal yang gampang diakses remaja di periode tersebut: musik dan film. Kedua hal ini akan merepresentasikan banyak hal yang bersifat sosiologis dan psikologis kalau mau ditelaah lebih lanjut. Terutama musik dan film lokal. Meskipun mungkin tampilan di layar atau yang terdengar di lagu belum tentu adalah cerminan kondisi saat itu, tapi siapa yang mengkonsumsi mereka? Sebagian besar siapa lagi kalau bukan remaja. Masih banyak waktu luang di luar sekolah, masih suka menghabiskan waktu di bioskop, atau kirim request lagu di radio. Kehadiran musik dan film lokal seakan mewakili apa yang mereka rasakan. Kedekatan bahasa, raut muka dan gaya yang serupa, mau tidak mau bisa mengurangi jarak.

Jadi bayangkan saja kami, yang menjadi remaja di pertengahan tahun 1990-an, harus hidup tanpa film lokal. Boro-boro film remaja. Saat itu, kalau ada film Indonesia masih bisa dibilang “mending”. Cuma sebatas “mending”, karena kalo ditonton pun, ogah-ogahan. Inilah masa yang banyak dicap sebagai “mati suri perfilman Indonesia”. Akibat manipulasi politik dan ekonomis, akhirnya yang muda yang mati tak berdaya. Lebay sih.

Padahal hanya selisih beberapa belas tahun sebelumnya, film Gita Cinta dari SMA dirilis laris di tahun 1979. Eddy D. Iskandar sebagai penulis, laris juga menulis film-film lain, seperti sekuel film ini, Puspa Indah Taman Hati, yang dirilis tak lama setelah Gita Cinta.
Di tahun ini pula, Warkop DKI muncul dengan film Mana Tahan.

Gita Cinta Dari SMA (Courtesy of Wikipedia)

Gita Cinta Dari SMA (Courtesy of Wikipedia)

Tak berselang lama, di pertengahan tahun 1980-an, muncul dua film dengan sosok idola remaja yang bertolak belakang: Lupus dan Catatan si Boy. Satu dari novel, satu dari drama radio. Satu dari kelas ekonomi menengah hampir ke bawah, satu lagi naik BMW dan liburan ke Amrik. (Masih ada yang ngomong pakai kata “Amrik”?)
Dua-duanya punya kesamaan: memaksakan diri jadi franchise, sehingga sekuel demi sekuel dibuat, dan tidak bisa bertahan dari segi kualitas.

Lupus: Tangkaplah Daku Kau Kujitak (Courtesy of Google)

Lupus: Tangkaplah Daku Kau Kujitak (Courtesy of Google)

Mereka terengah-engah, apalagi di awal 1990-an, saat lampu bioskop untuk film lokal hampir meredup. Dan memang sudah meredup saat diakhiri dengan film Rini Tomboy, dan diawali dengan Gadis Metropolis. Film-film dengan istilah “bupati” (buka paha tinggi-tinggi) dan “sekwilda” (sekitar wilayah dada) bersliweran. Plot sama, tinggal ganti judul dan pemain.

Lenyaplah sudah idola remaja di layar lebar. Penanda jaman 1990-an hanya bertumpu pada musik, layar kaca, tanpa ada film lokal.

Titik cerah itu muncul saat gadis kecil bernama Sherina hadir, dan memuncak dengan pemuda galau bernama Rangga yang gemar membaca dan menulis puisi.
Lanjutannya pun masih terasa manis. Film-film macam Jelangkung dan Eiffel I’m in Love juga laris. Makin banyak film Indonesia beredar dengan segment masing-masing. Meskipun indikasi angka laris masih cenderung turun, namun semangat masih tampak nyata.

Remaja awal 2000-an punya strata yang sama dengan remaja akhir 1970-an dan pertengahan 1980-an. Mereka semua punya penanda jaman bernama film remaja Indonesia.

Sedikit tentang Perempuan

Perlu waktu sembilan tahun, sampai Church of England bersedia memperkenankan perempuan untuk jadi uskup.

Dimulai pada 2005. Kritik atas terbatasnya gerak kaum perempuan dalam tubuh gereja Anglikan khas Inggris itu dikemukakan. Muaranya, voting sinode menyetujui amendemen peraturan tersebut Senin kemarin, beberapa jam sebelum pengumuman kenaikan harga BBM di sini.

Gebrakan besar–cuma bagi warga Inggris–ini belum menjamin akan ada uskup perempuan dalam waktu dekat. Bukan mustahil, gelombang penolakan terus mengalir, syarat prosedural tambahan dapat diberlakukan. Membebani langkah para perempuan yang terpanggil untuk menjadi uskup, dalam organisasi gereja yang dianggap bidah oleh gereja Katolik Roma itu.

***

Amina Wadud dan makmumnya.

Dukungan maupun hujat tak putus-putusnya dilontarkan kepada Amina Wadud.

Perempuan 62 tahun itu menimbulkan kontroversi global, setelah bertindak sebagai imam Salat Jumat di Manhattan, juga pada 2005. Salat Jumat yang diikuti seratus orang (60 perempuan, 40 laki-laki) tersebut tanpa pemisahan saf, muazinnya juga seorang perempuan.

Salat dilangsungkan di Synod House, sebuah bagian dari katedral. Pasalnya, tiga masjid setempat menolak Amina Wadud dan makmumnya. Lalu, satu tempat netral yang sejatinya adalah pusat aktivitas religius-pluralistis India mendapat ancaman bom gara-gara bersedia menerima Amina Wadud. Synod House dipilih, karena Amina Wadud ingin menunaikan salatnya di tempat yang tersucikan secara spiritual.

***

Ndak perlu nunggu 21 April, Mother’s Day, atau peringatan-peringatan sejenis untuk nulis soal perempuan, atau membicarakan topik yang pakai embel-embel kata “emansipasi” di depannya. Toh, meskipun diskursus atau pembicaraan mengenai kesetaraan antara laki-laki dan perempuan selalu digencarkan pada momen-momen tertentu setiap tahun, tetap belum bisa mengubah realitas di beberapa bidang yang terjadi hingga saat ini.

Dua contoh di atas, misalnya. Sebagai peristiwa yang tergolong terlalu sensitif untuk dibicarakan di warung kopi sambil mengudap pisang goreng, tapi terlalu penting untuk dilewatkan sebagai momen pergolakan keperempuanan, urusan uskup gereja Anglikan maupun Amina Wadud tentu tidak bakal dicueki dan menguap begitu saja. Hanya saja sedinamis apapun pembahasannya, pasti buntu begitu berhantaman dengan pernyataan: “Mau punya uskup perempuan? Sudah sesat makin sesat!”, atau “Sampai kapan pun, perempuan tidak boleh jadi imam. Melanggar fikih!” Menegaskan bahwa kitab suci–agama-agama Samawi, khususnya–sudah mencantumkan ketentuan baku bagi posisi perempuan dalam urusan agama. Saklek. Ada perempuan yang menerima kenyataan ini dengan pasrah, tapi tak sedikit pula yang merasakan protes dalam hati.

Agak berbeda dengan pandangan agama-agama non-Samawi. Perdebatan tentang keperempuanan dan institusi agama bisa terkesan tarik ulur. Salah satunya, upaya membangkitkan kembali tradisi Bhikkhuni Buddhisme Theravada, yang telah punah sejak beberapa abad lalu dan dinilai mustahil untuk diselenggarakan lagi sampai saat ini. Mustahil, bukan lantaran tidak boleh, melainkan perangkatnya sudah tidak ada. Itu sebabnya, perempuan Buddhis Theravada zaman sekarang paling mentok hanya bisa ditahbiskan menjadi Atthasilani (seperti yang bisa ditemukan di STAB-STAB). Atthasilani kurang lebih sejajar dengan Samanera, calon Bhikkhu, plus beberapa aturan tambahan demi muruah kaum hawa. Sementara dalam Buddhisme Mahayana, keberadaan Biksuni masih ada, termasuk di Indonesia.

Terlepas dari itu, perempuan tetap memiliki kedudukan yang setara dengan laki-laki dalam hal prestasi spiritual. Perempuan juga bisa mencapai kebuddhaan sebagai Arahat, sebagai orang yang diajari. Sedangkan perempuan Buddhis yang umat awam dapat dilatih dan diangkat menjadi Pandita; berhak berceramah, berhak memimpin Puja Bhakti, berhak mengesahkan pernikahan, berhak menjadi kepala vihara.

Obrolan di atas baru pada ranah agama. Lumayan susah diotak-atik. Belum lagi pada ranah-ranah yang lain.

***

Sampai saat ini, sebagian besar manusia dengan selangkangan berbatang, masih kerap memperlakukan perempuan dengan tindakan dan perspektif yang tidak patut. Tak jarang berlaku secara komunal, menjadi budaya dalam lingkup bermasyarakat. Walaupun belum tak semuanya dikategorikan sebagai kejahatan.

Buktinya, seperti tulisan Gandrasta dua pekan lalu. Ketika perempuan seakan-akan boleh distempel dengan label “Penjahat Sosial”, jika masih lajang di usia 30 tahun ke atas. Dengan label tersebut, mereka digunjingkan, dicibir, diejek, didesak, orangtua mereka juga ikut-ikutan dibuat gusar, dan dikelilingi dengan ketidaknyamanan. Pertanyaannya, siapa yang memperbolehkan tindakan cap-mengecap itu? Sudah idealkah kehidupan rumah tangga si pengecap? Sebegitu kurang kerjaankah si pengecap, sampai ngepoin kehidupan pribadi orang lain?

Isu lainnya, terkait keharusan bagi para calon Polwan untuk menjalani pemeriksaan keperawanan, sebagai bagian dari tes kesehatan. Oke, pemeriksaan keperawanan memang disebut bukan sebagai penentu kelulusan, tapi kita tetap berhak mempertanyakan alasannya. Sebegitu pentingkah motifnya? Apakah tindakan ini masih didasarkan pada pandangan konservatif yang menganggap bahwa selaput dara adalah bukti kesucian? Sehingga tidak utuhnya selaput dara menandakan bahwa si empunya adalah perempuan hina? Terus, kalau dianggap hina, boleh makin dihina-hina harga dirinya, begitu? Kalau iya, duh, masih punya empati enggak ya?

Kemudian, masih ihwal selaput dara juga, para laki-laki kerap merendahkan perempuan. Memang terdengar remeh, dan seringkali dianggap sebagai kelakar ringan, bikin ketawa. Namun ungkapan “buka segel” saat malam pertama seolah menempatkan seorang perempuan, sang istri, laiknya barang yang baru dibeli di swalayan. Lembar etiketnya mencantumkan amaran: “jangan diterima apabila segel rusak/terbuka.” Kalau begini, apa bedanya antara pernikahan dan jual beli, dengan maskawin sebagai banderolnya? Sayang, belum ditemukan metode untuk mengenali titit perjaka dan titit berpengalaman, yang pemiliknya seringkali dijadikan mentor rekan-rekannya.

Sama halnya dengan kekeliruan sosial yang terus dipertahankan sampai sekarang. Yaitu anggapan yang mengatakan “cowok nggodain cewek = wajar, cewek nggodain cowok = genit,” atau “cowok nembak cewek = wajar, cewek nembak cowok = agresif.” Bagaimanapun, perempuan dan laki-laki sama-sama memiliki hati, pikiran, dan mulut. Kalaupun ada perempuan yang malu-malu, ada pula laki-laki yang terlalu dungu menangkap kode-kode umpan lambung di udara. Artinya, sama-sama memerlukan komunikasi, bukan gengsi. Kalau belum yakin cinta/ndak cinta, ya jangan seperti Rangga yang nggantungin Cinta sampai 12 tahun lamanya. Bikin puisi jago, giliran harus ngomong malah plonga-plongo. Untung masih ketolong cakep (#eh).

Satu lagi topik pembahasan yang tak kunjung kelar sampai sekarang. Jangankan perempuan, semua orang sepatutnya berbusana dengan sopan. Akan tetapi, apabila ada perempuan yang merasa nyaman dengan mengenakan rok mini atau pakaian seksi tanpa motif macam-macam (masih debatable), tidak serta merta bisa dijadikan pembenaran untuk melakukan perkosaan, bukan? Memang ada istilah “namanya kucing disodori ikan”. Masalahnya, apakah kecerdasan semua laki-laki di Indonesia ini setara dengan kucing tadi? Ndak punya kekuatan untuk mengendalikan diri dari gejala fisiknya sendiri? Lucu, alih-alih menyalahkan pemerkosa, eh malah sang korban yang digelari gatel. Mau bagaimanapun, dalam sebuah aktivitas seksual yang dipaksa, perempuan lah korbannya. Perempuan yang diperkosa lalu kesenengan itu cuma ada dalam skenario film bokep. Dusta semua.

Menelus ke bidang lainnya, sampai kapan kecantikan dan lekuk tubuh perempuan dijadikan alat utama untuk mempromosikan dagangan? Jangankan yang jualan bra dan celana dalam berenda, lah wong iklan permainan online juga menampilkan perempuan dengan eksploitasi berlebihan di area belahan payudara. Ya bedanya samar sih, antara orang yang niatnya cari penghasilan, dengan pablik fijyer yang haus pujian dielu-elukan berbodi seksi.

Foto: Pinterest

Foto: Pinterest

Pun para bos. Memang berhak mengatur urusan personalia di perusahaannya dengan sesuka hati. Tapi, bakal ketahuan jelas bos itu adalah orang macam apa, bilamana lebih memilih pelamar yang modalnya hanya tubuh semlohai menggemaskan, ketimbang yang benar-benar kompeten dan sesuai kebutuhan perusahaan. Tindakan itu namanya apa, kalau bukan mengkondisikan perendahan perempuan? Bisa jadi para perempuan pun berlomba-lomba menampilkan keseksian, yang seringkali artifisial, dipaksakan, buatan, menghilangkan kecantikan alamiahnya.


Masih banyak sih, tapi mari kita akhiri saja sampai di sini.

Perempuan dengan segala kompleksitas, misteri, dan keindahannya. Bahan perbincangan dan sumber inspirasi yang tak ada habis-habisnya. Makhluk yang kerap mendapat perlakuan merendahkan, karena saking tinggi kedudukan asalinya.

[]

Lebih Indah Dari Warna Aslinya

Beberapa minggu lalu dunia maya sempet dihebohkan oleh bututnya Miley Cyrus membawakan lagu Babe I’m Gonna Leave you dari Led Zeppelin. Hasilnya banyak yang misuh-misuh karena Miley telah menodai kesucian lagu tersebut. Tapi entah karena Miley yang nyanyi atau entah karena memang lagunya terlalu berharga untuk dibawakan ulang oleh seorang Miley Cyrus. Tapi ada yang sempet terlewat dari bahasan tersebut–bahwa sesungguhnya lagu Babe I’m Gonna Leave You itu aslinya merupakan lagu dari Joan Baez. Bukan Led Zeppelin.

coverversion  coverversion3

Banyak sekali band/penyani yang menyanyikan lagu dari musisi/band lainnya. Mereka melakukannya untuk apresiasi terhadap band/musisi yang telah menginspirasi band mereka sebelum mereka populer. Atau memang ada yang sengaja melakukannya hanya untuk parodi. Atau karena mereka memang suka dengan lagu tersebut dan merasa cocok dengan karakternya. Hal yang sangat lumrah. Ketika Jimi Hendrix pertama kali mendengar album The Beatles: “Sgt. Peppers and The Lonely Heart Club Band”, beliau langsung memutuskan untuk membawakan semua lagu yang ada di album tersebut untuk pementasan di keesokan harinya bersama band The Experience. Cuma satu hari untuk membawakan seluruh lagu di album tersebut. Padahal album tersebut baru saja rilis.

Selain itu ada juga yang mendedikasikan hidupnya dengan membentuk satu band hanya untuk meng-cover salah satu band. Tribute act. Beberapa contoh:

  • Beatallica: Menyanyikan lagu-lagu The Beatles dengan gaya Metallica.
  • The Iron Maidens: Membawakan lagu-lagu Iron Maiden. Tapi personilnya cewek semua.
  • Gabba: Membawakan lagu-lagu ABBA bergaya The Ramones dengan vokalis seorang Elvis Impersonator.
  • G-Pluck: Dibacanya jiplak. Tukang bawain lagu The Beatles dari Indonesia. Sudah sampai ke Liverpool mereka. Bahkan muka personilnya pun mirip. Cuma quiet Beatle aja yang gak mirip.

Tapi tidak begitu banyak yang melakukannya dan hasilnya lebih bagus atau setidaknya menyamai dari versi aslinya. Banyak juga lagu cover version yang buruk sekali hasilnya tetapi tetap mendapat tempat di cafe-cafe dan mall. Semacam Sabrina dan Boyce Avenue. Atau Buble.

Itu yang akan coba urai di tulisan ketiga belas saya di Linimasa ini. Karena ini tulisan ketiga belas maka saya akan coba mengurainya menjadi 27 lagu cover version (hubungannya apa 13 dan 27?) yang lebih bagus atau setidaknya menyamai kehebatan lagu aslinya. Berikut adalah setengah dari daftar lagunya.

  • Jeff Buckley – Hallelujah (Leonard Cohen)
  • Sinead O’Connor – Nothing Compares 2 U (The Family/Prince)
  • Muse – Feeling Good (Cy Grant, Nina Simone)
  • Whitney Houston – I Will Always Love You (Dolly Parton)
  • Adele – Make You Feel My Love (Bob Dylan)
  • Nirvana – Where Did You Sleep Last Night? (Leadbelly)
  • Aretha Franklin – Respect (Otis Redding)
  • Chromatics – Into The Black (Neil Young)
  • Amy Winehouse – Valerie (The Zutons)
  • James Blake – Limit To Your Love (Feist)
  • Frente – Bizzare Love Triangle (New Order)
  • Jack White – Love is Blindness (U2)
  • Destiny’s Child  – Emotions (Bee Gees)

Semua daftar lagu bisa dilihat dan didengar di sini.

Tentunya hasilnya akan menimbulkan perdebatan. Saya tidak bisa menyenangkan semua orang. Tapi percayalah, mixtape ini saya buat dalam keadaan lapar, gajian masih lama tapi dompet menipis dan juga kedinginan karena di luar hujan tak kunjung berhenti.